Transcript AQD 201 Module 14
Transcript AQD 201 Module 14
Modul 14
Segala puji bagi Allah. semoga sholawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi
Muhammad serta kepada mereka yang mengikuti jalan ketaatan sampai Hari Kiamat. Kita
melanjutkan pembahasan setelah ujian yaitu poin 95. Halaman 413 pada buku tambahan.
Yaitu Penjelasan dari Aqidah Tahawiyah. Sedangkan dalam Buku Aqidah Islam terdapat
pada halaman 206 sampai 209. Teks seperti yang disebutkan oleh Imam Tahawi, Kami
percaya bahwa orang mati bisa mengambil manfaat dari doa dan sedekah yang
dipersembahkan oleh orang yang masih hidup atas nama mereka. Seperti yang saya sebutkan,
topik pada bagian ini berkaitan dengan orang yang meninggal bisa memperoleh manfaat dari
orang yang masih hidup. Yaitu isu tentang jika seseorang meninggal, dalam cara apa saja kita
bisa memberi manfaat bagi mereka. Atau mereka bisa mendapat manfaat dari tindakan orang-
orang yang masih hidup.
Ada sebuah hadits fundamental yang telah disebutkan oleh Rasulullah, yang bisa
dikatakan sebagai poin utama tentang isu ini secara keseluruhan. Sebuah hadits di mana
Rasulullah bersabda: "jika seseorang mati, semua amalannya terputus". dengan pengecualian
untuk tiga amal ibadah. yang pertama adalah sedekah yang manfaatnya tetap mengalir yang
disebut shodaqoh jariyyah. yang kedua adalah adalah anak yang mendoakan dirinya. dan
yang ketiga adalah ilmu yang bermanfaat bagi orang banyak. Jika dia mewariskan ilmu yang
banyak dimanfaatkan oleh orang banyak.
Dari hadits itu, sebagian orang menganut posisi bahwa, tidak ada sesuatupun yang
ditinggalkan orang tersebut yang akan bisa memberinya manfaat, jika tidak meninggalkan
salah satunya. Karena, pahamilah hadits ini, hadits ini merujuk pada pada sedekah yang
manfaatnya terus mengalir. apakah itu ilmu yang terus mengalirkan manfaat? yaitu ilmu yang
telah dia berikan yang terus bisa memberikan manfaat. dan anak yang bertaqwa yang
mendoakan dirinya yaitu anaknya sendiri. Yang merupakan produk dari usahanya untuk
membesarkan anak yang sholeh itu.
Mereka berargumen, hadits ini mengindikasikan bahwa, tidak ada diluar yang tiga hal
tadi yang akan memberinya manfaat. Jika seseorang melakukan apapun yang merupakan
tindakan yang bukan dia sendiri yang memulainya atau mereka melakukannya karena yang
meninggal meminta mereka untuk melakukannya. Maka yang demikian itu tidak akan
memberi manfaat. jadi, mereka menolak gagasan baik itu puasa ataukah memberikan sedekah
atas nama orang itu atau perbuatan lainnya.
Isu ini akan kita telaah lebih mendalam. Inilah pokok masalahnya, bahwa posisi itu
bukanlah posisi yang dianut oleh para Ahlus Sunnah Wal Jamaah secara umum. Itu adalah
posisi yang menyimpang yang dianut oleh orang-orang bid'ah yaitu mereka yang terpecah
dari ummah. Meskipun argumen mereka memang berdasarkan hadits dan menurut
pemahaman hadits, Namun argumen mereka dibuat oleh seorang ulama dari Ahlus Sunnah.
Kita tidak akan mengatakan dia pelaku bid'ah. karena dia telah membuat argumen itu dengan
mendasarkan pada bukti dan argumennya dari hadits.
Kita akan menelaahnya. Kita akan melihat beberapa perbedaan tentang isu ini, sampai
ke level di mana semua amal ibadah ini bisa memberikan manfaat. Namun, secara
1
Islamic Online University AQD 201
fundamental, saat Imam Tahawi menyebutkan masalah ini, Dia menyebutkan bahwa kami
percaya, bahwa orang yang meninggal bisa mengambil manfaat dari doa dan sedekah yang
dipersembahkan oleh orang yang masih hidup. Doa dan sedekah yang dipersembahkan atas
nama dia. dia fokus pada dua poin.
Yang dimaksud prayers (doa) disini adalah doa bukan sholawat. Karena dalam bahasa
Inggris kita menerjemahkan doa dan sholawat sebagai prayers. jadi, saat dia membicarakan
tentang kata 'adaiyah (doa dalam jumlah jamak), Suplication (permohonan), kata yang lebih
tepat, kata yang lebih aman. Kata supplication lebih aman untuk menghindari adanya
kerancuan yang mungkin terjadi. Jadi, silakan buat catatan sendiri. Sebenarnya dalam buku
Aqidah Islam, isu itu sudah dibahas. Yaitu dengan supplication (doa) dari yang masih hidup
dan dari sedekah yang dilakukan atas nama yang sudah meninggal. Sedangkan dalam syarah
Aqidah Tahawiyah, kata yang dicantumkan hanya "prayers".
Ibnu bin Abi Izz menjelaskan bahwa para Ahlus Sunnah sepenuhnya sepakat, bahwa
orang mati bisa memperoleh manfaat dari amal ibadah keluarganya yang masih hidup. Dan
itu akan terjadi dalam dua cara. Cara yang pertama, yang diklaim oleh sekte bid'ah sebagai
satu-satunya cara. yaitu mereka memperoleh manfaat dari Hal-hal yang telah mereka
kontribusikan selama mereka masih hidup. Berupa pengetahuan dan sebagainya. Dan yang
kedua berasal dari doa orang Muslim yang mendoakan ampunan bagi mereka. Juga sedekah
jariyyah dan ibadah haji. Doa dari umat Muslim supaya dosa mereka diampuni, sedekah
jariyyah dan ibadah haji. "prayers" artinya doa memohon agar dosa mereka diampuni. Ya,
dalam bentuk doa. Untuk pengampunan dosa mereka.
Imam Tahawi hanya membahas tentang poin yang kedua, saat dia menyebutkan doa
dari yang masih hidup dan sedekah. Karena itulah isu yang mengundang perdebatan. Lalu,
mengapa dia juga menyebutkan poin yang pertama? Karena tidak ada yang
mempermasalahkan poin yang pertama yang sangat jelas dalam hadits. Yaitu dalam hadits
yang terdapat dalam Shahih Muslim. Hadits yang tak terbantahkan. Tidak ada yang
mempertanyakan poin yang pertama.
Isu yang menjadi perdebatan terdapat dalam berbagai amal ibadah yang dilakukan
orang lain yang tidak entah bagaimana dan dalam suatu cara menjadi suatu produk dari
penyakit. Meskipun Imam Abi Izz memang menyebutkan bahwa secara umum, posisi
(pendapat) dari Ahlus Sunnah yaitu orang yang sudah meninggal akan memperoleh manfaat
dari doa dari umat Muslim untuk pengampunan dosa mereka, sedekah dan ibadah haji.
Imam Muhammad Ibnu Hasan atau Syaibani yang merupakan salah satu murid utama
dari Abu Hanifah, Dia menganut posisi bahwa orang yang meninggal, bisa memperoleh
manfaat dari sedekah namun tidak dari ibadah haji. Apakah signifikansi dari posisinya itu?
signifikansinya adalah para ulama ternama dari generasi terdahulu, berbeda pendapat tentang
hal ini dengan yang lainnya. Jadi, ini bukanlah sebuah isu seputar seseorang yang menuduh
orang lain bid'ah, berdasarkan bukti atau apapun yang dia miliki. Kita bisa berkata, saya tidak
setuju denganmu karena punya bukti untuk membuktikan bahwa kamu sudah menganut
posisi yang salah. Karena tentunya posisi Muhammad Ibnu Hasan dalam hal ini adalah posisi
yang salah. Karena bukti yang ada begitu banyak.
Namun, di masa hidupnya, dia membuat argumen waktu itu dia tidak menemukan
bukti yang memadai. Ada juga yang beragumen bahwa rantai hadits ini di sekitar Natab. Ya,
memang begitu adanya. Namun, narasi dari hadits tersebut yang sampai padanya saat masih
2
Islamic Online University AQD 201
di Irak, mungkin waktu itu meragukan. dan para ulama di Irak secara umum menentapkan
syarat-syarat tertentu. Karena waktu itu Irak menjadi tempat bagi mulai tersebarnya hadits-
hadits palsu. Sehingga para ulama pada area tersebut menjadi lebih ketat pada penentuan
syarat-syarat dalam penerimaan hadits. Sehingga, mereka menentukan syarat yaitu haditsnya
harus yang mahsyur. Bukan hanya hadits yang diriwayatkan dalam rantai narasi yang sahih,
namun harus yang mahsyur atau terkenal. Sedikitnya diriwayatkan sejumlah perawi, bukan
hanya narasi tunggal. Jika rantai narasinya tunggal, mereka akan menunda keputusan dan
menerapkan sejumlah prosedur. sehingga mereka tidak langsung mengambil posisi terhadap
hadits tersebut. Mereka lebih memilih untuk mengatakan: kami tidak punya bukti untuk
hadits itu. Bukti yang memadai untuk mendukungnya
Itulah sebabnya, kalian akan mendapati seorang ulama mengambil posisi seperti itu.
Kita bisa paham, bahwa para ulama tidak serta merta mencap ulama seperti itu sebagai ulama
yang sombong atau ulama yang sesat. Yang bukunya tidak boleh dibaca. Yang kuliahnya
tidak boleh didengarkan. Karena orang-orang cenderung berpendapat ekstrim di masa kita.
dimana mereka berpendapat tentang ulama atau orang yang berilmu dan sebagianya yang
telah berbuat salah. Atau yang dipersepsikan berbuat salah.
Isu-isu tersebut, yaitu isu tentang sedekah dan ibadah haji, adalah sejumlah isu yang
tidak diragukan lagi. Akan tetapi ada perbedaan pada isu tentang amal ibadah yang
diasosiasikan dengan seseorang. seperti puasa dan doa dan membacakan Quran dan
mengingat Allah. Abu Hanifah dan Ahmad, mayoritas dari Salaf, menurut Ibnu bin Abi Izz
meyakini bahwa manfaatnya bisa sampai pada yang sudah meninggal. Namun, lain halnya
dengan pendapat Imam Syafi'i dan Imam Malik yang berpendapat sebaliknya.
Jadi, Imam Syafi'i dan Imam Malik tidak menerima puasa dan doa membacakan
Quran dan dzikir. Jadi, meskipun dalam poin yang ini, tetap ada perbedaan pendapat di
kalangan ulama. Tentu saja, pada akhirnya Kita harus menelaahnya dari perspektif bukti-
bukti yang ada. Kepada siapa bukti itu berpihak? Argumen yang menyatakan bahwa puasa
tidak bisa memberikan manfaat, berasal dari hadits yang dinisbatkan kepada Rasulullah dari
Ibnu Abbas yang diriwayatkan oleh Nasa'i yaitu dia mengutip pernyataan Rasulullah yang
berkata, Tidak ada orang yang bisa memanjatkan doa atas nama orang lain. Namun dia bisa
bersedekah segenggam gandum untuk setiap hari puasa yang diberikan kepada orang miskin,
untuk satu kali makan. tidak ada yang bisa memanjatkan doa atau melaksanakan puasa atas
nama orang lain. Namun, sebagai gantinya bisa menyedekahkan segenggam gandum untuk
setiap hari puasa yang diberikan kepada orang miskin untuk satu kali makan. Sehingga
tampaknya seperti dalil yang tegas dalam mendukung pendapat yang memperbolehkan kalian
tidak bisa berpuasa untuk orang lain.
Namun dalam masalah puasa ini, terdapat hadits dalam Sunan Nasa'i (hadits
sebelumnya). Sedangkan hadits dalam Shahih Bukhori dan Muslim yaitu saat Aisyah
Radhiallahu Anha berkata, bahwa Rasulullah telah berkata, Barangsiapa yang mati dan tidak
sempat menyelesaikan puasa dalam jumlah berapapun. Maka, kerabatnya, Walinya bisa
berpuasa atas nama dirinya. Jadi, apa yang kita miliki sekarang? Isu tentang tidak ada yang
bisa mendirikan sholat atas nama siapapun, itu sudah jelas. Tidak ada yang
memperdebatkannya. Tapi untuk puasa, kita punya dua hadits yang tampaknya saling
bertentangan jika kita telaah kembali. Satu hadits dalam Shahih Muslim. Hadits yang tak
terbantahkan. Dan di sisi lainnya ada hadits dalam Nasa'i. Jika kalian memeriksa rantai hadits
3
Islamic Online University AQD 201
dalam Nasa'i, ini adalah rantai hadits yang Maqthu', Munqathi'. Artinya tidak sepenuhnya
sampai pada Rasulullah. sedangkan hadits dari Ibnu Abbas itu sahih. Artinya ini adalah
pernyataan asli dari Ibnu Abbas. Itu adalah pendapatnya. Jadi, kita punya pendapat dari Ibnu
Abbas. dan juga pernyataan yang jelas dari Rasulullah yang diriwayatkan Aisyah. dan itulah
yang menjadi dasar dari argumen kita. Jadi, berpuasa diperbolehkan.
Kita punya bukti yang kuat Kita telah menelaah penyelesaian dari dua isu tersebut.
Dua hadits yang tampaknya saling bertentangan yang berkaitan dengan puasa. Dan kita
membuktikan bahwa hadits dari Aisyah tentang puasa yang dilakukan oleh wali, adalah bukti
yang sahih untuk masalah puasa. Sehingga, pendapat yang dipegang oleh Imam Syafi'i dan
oleh Imam Malik, bahwa puasa atas nama orang yang meninggal tidak bisa memberi manfaat
kepada mereka, dianggap tidak benar. Dan hadits ini pun mengafirmasi ulang, karena
sebelumnya kita sudah membahas pendapat dari Ibnu Abbas, sebagai bandingan dari
pendapatnya Rasulullah, kita menolak pendapat dari sahabat dalam hal itu. dan kami pun
menolak pendapat dari kedua Imam (Syafi'i & Malik) tentang masalah puasa.
Dan ini pun menunjukkan atau mengingatkan bahwa kita sedang berurusan dengan
Fiqih. Kita berurusan dengan manusia, yang karena berbagai alasan telah membuat pendapat
yang keliru. Meskipun, faktanya, kebanyakan pendapat yang telah mereka buat sebagian
besar benar. Sehebat apapun ulama, Kalian akan temukan dalam sebagian pendapat mereka
ada yang keliru. karenanya, tidak boleh kita mengikuti ulama manapun secara buta (taklid).
Satu-satunya orang yang harus kita ikuti secara taklid adalah Nabi Muhammad. Itulah bagian
dari keimanan kita untuk mengikutinya secara buta.
Berkaitan dengan bukti-bukti untuk doa untuk memohon ampunan, Ada sejumlah ayat
dalam Quran seperti dalam Surah Al-Hasyr, Dan mereka yang datang setelah mereka berkata,
Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara kami, yang telah dahulu beriman kepada-Mu
Ungkapan ini menyiratkan adanya manfaat dalam mendoakan mereka. berdoa kepada mereka
yang mendahului kami dalam beriman Jika tidak ada manfaat maka Allah tidak akan
mendeskripsikan amal sholeh atau kebaikan seperti mereka yang telah memanjatkan doa ini.
Itu sejalan dengan pendapat yang bulat dari ummah tentang manfaat dari sholat jenazah Dan
merupakan bukti yang cukup bahwa doa untuk orang yang meninggal bisa bermanfaat.
Mungkin ada yang berargumen bahwa doa itu bisa bermanfaat bagi orang yang masih
hidup. Manfaat bagi orang yang masih hidup adalah untuk mengingat kematian. dan bukan
sebenarnya untuk yang meninggal. Dia bisa berargumen atas dasar itu. Akan tetapi, argumen
itu lemah. karena sifat dari doa tersebut permohonan kepada Allah untuk mengampuni orang
yang meninggal. Jadi, hanya akan memberi manfaat bagi kita. Maka, kita malah memohon
sesuatu yang sebenarnya tidak berguna. Dan Syariah tidak mengharuskan kita untuk
melakukan doa yang tidak berguna.
Sedangkan jika ada manfaatnya bagi kita dan bukan untuk orang lain, seperti dalam
kasus dalam ibadah haji, Saat seorang wanita bertanya kepada Rasulullah, Menggendong
anaknya untuk pergi ibadah haji. Apakah hajinya untuknya? Rasulullah berkata, Ya, namun,
kamu yang mendapat pahala. Yang artinya jika tidak ada manfaat maka Syariah akan
memperjelasnya bahwa pahalanya akan diberikan pada orang tuanya. Bukan berarti bahkan
dalam kasus itu, tidak ada manfaat bagi anak yang bersangkutan. Orang tua mendapat pahala,
Manfaat bagi anak itu sendiri, mendapat pengalaman haji yang melekat pada pikiran dan
hatinya, cinta mekkah dan sebagainya.
4
Islamic Online University AQD 201
Kami pun punya hadits sahih yang terdapat dalam Sunan Abu Dawud, dimana
Ustman Ibnu Affan telah berkata bahwa, Rasulullah berdiri di samping suatu makam, dimana
ada jasad yang dikuburkan di dalamnya, dan berkata kepada orang-orang di sekitarnya,
berdoalah kepada Allah untuk mengampuni saudara kalian dan dia tidak ragu-ragu saat dia
ditanya dan itu akan terjadi sekarang Doakanlah saudara kalian berdoalah semoga Allah
mengampuni saudara kalian dan dia tidak ragu-ragu saat dia ditanya dan itu akan terjadi
sekarang. Jadi, kita punya rekomendasi dari Rasulullah yang berkaitan dengan doa.
Kita pun punya doa yang telah ditetapkan saat mengunjungi makam. Aisyah telah
bertanya kepada Rasulullah, Bagaimana dia harus berdoa untuk orang yang sudah meninggal
saat mengunjungi makam? Beliau mengajari Aisyah berdoa, semoga kedamaian menyertai
ahli kubur atau orang beriman dan Muslim yang menghuni kota, semoga Allah merahmati
mereka yang sebelum kita, dan mereka yang setelahnya. Sesungguhnya kami akan dan Allah
berkehendak untuk mengambil kamu. Jadi, di satu sisi ini adalah doa untuk orang yang ada di
dalam kubur atau orang yang meninggal. Di satu sisi, ini pun sebagai peringatan bagi yang
masih hidup bahwa giliran kita akan tiba berkaitan dengan sedekah, manfaat yang diperoleh
dari sedekah.
Kami menemukan hadits dalam Shahih Bukhori dan Muslim, seperti yang
diriwayatkan oleh Aisyah, bahwa ada seorang pria yang datang kepada Rasulullah dan
berkata, Ibu saya meninggal tiba-tiba dan tidak meninggalkan wasiat. Jika dia bisa membuat
wasiat terlebih dahulu maka dia akan mewasiatkan sebagian hartanya sebagai sedekah
Apakah dia mendapat manfaat jika saya bersedekah atas nama dirinya? Rasulullah berkata:
ya dalam hadits lainnya yang terdapat dalam Shahih Bukhori yang diriwayatkan oleh
Abdullah Ibnu Abbas, dia mengatakan bahwa ibu dari Saad Ibnu Ubadah meninggal saat dia
sedang tidak di rumah. Saad menghadap kepada Rasulullah dan berkata wahai Rasulullah,
Ibu saya sudah meninggal saat saya tidak di rumah Jika saya bersedekah atas nama dirinya,
apakah akan bermanfaat baginya? Rasulullah berkata: Ya. dikatakan kepada Saad,
bersaksilah bahwa saya telah memberikan sedekah pada rumah (Allah) atas nama dirinya
Ada pula hadits lainnya yang mengonfirmasi pemberian sedekah atas nama orang
yang sudah meninggal. Di luar sedekah, tentunya ada puasa dan kita sudah menelaah isu
tentang puasa. Ada pula isu tentang ibadah haji. Al-Bukhari, dia pun meriwayatkan hadits
dari Ibnu Abbas bahwa wanita dari Bani Juhaina, datang kepada Rasulullah dan berkata, Ibu
saya berjanji untuk beribadah haji. Namun, dia tidak mampu melaksanakannya karena dia
sudah meninggal. Bisakah saya beribadah haji untuknya? Rasulullah berkata, Ya, kamu bisa
melaksanakan haji untuknya. sekiranya dia punya hutang, apakah kamu tidak akan
membayarnya? Hutang kepada Allah harus dibayar sebelum hutang ke pihak lain
Jadi, hutang kepada Allah harus dibayar sebelum membayar hutang kepada yang
lainnya hadits ini juga menunjukkan bahwa yang meninggal, ini adalah manfaat lain yang
akan sampai pada orang yang meninggal, Jika mereka meninggalkan sejumlah hutang maka
hutang itupun bisa dibayarkan. Dan itu kategori yang lainnya dari amal ibadah yang bisa
dilakukan oleh yang masih hidup untuk memberi manfaat bagi yang meninggal. Dalam kasus
ini, yang membahas tentang haji itu sendiri, bisa dilakukan untuk orang yang sudah
meninggal yang belum sempat melaksanakannnya Pembayaran hutang, sudah diriwayatkan,
bahkan dari mereka yang yang tidak ada kaitannya. Dalam hadits sebelumnya, jika kita
5
Islamic Online University AQD 201
menelaah tentang ibadah haji dan hadits tentang puasa, dilaksanakan oleh wali, ada juga yang
menyebutkan putera dari orang yang sudah meninggal.
Akan tetapi dalam kasus hutang, ada hadits tentang Abu Qutada yang membayar dua
dinar yang dia janjikan untuk orang yang sudah meninggal Rasulullah telah berkata,sekarang
jasad tersebut sudah aman dari api neraka. Jadi, Abu Qutada sebenarnya bukan kerabat dari
orang tersebut. Sebenarnya hadits lengkapnya diriwayatkan oleh Jabir yang berkata, ada
seorang pria meninggal, kami memandikan jasadnya, mengkafani dan membawanya kepada
Rasulullah. untuk memimpin sholat jenazah baginya. Kami bertanya, Maukah engkau
memimpin sholat baginya? Lalu beliau bertanya, apakah dia masih punya hutang yang harus
dibayar? Kami menjawab: ya, ada dua dinar. Dia berkata, dirikanlah sholat jenazah untuk
sahabatmu. dan Beliau pergi.
Artinya Rasulullah tidak akan memimpin sholat jenazah karena dia masih punya
hutang. Untuk menunjukkan bahwa bukan haram untuk menyolatkan dia, tentu kita harus
menyolatkan dia. Namun, beliau tidak menyolatkan orang itu untuk menunjukkan keseriusan
akan meninggal dengan hutang. Karena dia sudah meninggal Abu Qatada mengambil
tanggungjawab untuk membayar hutangnya. dengan mengatakan, dua dinar itu adalah
tanggungjawabku. Rasulullah bertanya, akankah pemberi hutangnya menerima dan orang
yang meninggal akan dibebaskan dari hutang itu. Dia menjawab: ya. Sehingga Rasulullah
memimpin sholat jenazah untuknya Dia bertanya kepada Abu Qatada Dua dinar itu gunanya
untuk apa? dia menjawab: Bukankah dia baru meninggal kemarin ya Rasulullah? Kemudian
Rasulullah kembali lagi di hari berikutnya dan dia (Abu Qatada) kembali lagi di hari
berikutnya Lalu berkata, saya sudah melunasi semua hutangnya. Lalu Rasulullah berkata,
"sekarang kulitnya menjadi dingin" Jadi, kami punya teks yang cukup jelas, yang mendukung
doa untuk memohon ampunan bagi yang sudah meninggal.
Ada pula teks yang mendukung bersedekah atas nama orang yang sudah meninggal,
puasa serta haji. Semua teks itu mendukung amal ibadah tersebut Ibnu bin Abi Izz dengan
dasar itu, dia berkata, ini konsisten dengan prinsip dari Syariah. Kita bisa menyimpulkan dari
semua ini melalui sebuah analogi atau qiyas. Manfaat dari suatu amal ibadah adalah hak bagi
pelakunya. Jika dia ingin mentransfernya bagi saudaranya, mengapa dia harus dilarang jika
dia tidak dilarang untuk memberikan hadiah kepada seseorang dengan uangnya sendiri. atau
membayar hutang dari orang yang sudah meninggal, setelah kematiannya. Dia menetapkan
argumennya disini, manfaat dari suatu amal ibadah adalah hak untuk pelakunya Manfaat dari
suatu amal ibadah adalah hak bagi pelakunya.
Seseorang yang melakukannya akan mendapatkan pahala yang sudah dipersiakan
untuknya. sehingga pahala itu menjadi haknya karena Allah telah berjanji padanya. Jika dia
ingin mentransfer pahala itu kepada saudaranya maka itu pun pastinya hak dia untuk
melakukannya. Sama halnya dengan dia memberikan hadiah kepada seseorang dengan
uangnya sendiri. Uangnya adalah haknya. Jika kita ingin memberikan sebagian uang untuk
orang lain Maka, siapa yang boleh melarangnya? Atau jika anda ingin membayar lunas
hutang seseorang setelah kematiannya Siapa yang bisa menghentikannya? Ini adalah haknya.
Kemudian dia menambahkan dengan argumen, saat pemberi hukum atau Asy-syari'
yang artinya Allah telah menyatakan bahwa manfaat dari puasa bisa sampai pada orang yang
meninggal, Faktanya, Dia telah mengindikasikan bahwa manfaat dari membacakan Qur'an
dan amal ibadah lainnya bisa sampai pada dia (orang yang meninggal) Bisa diikuti alur
6
Islamic Online University AQD 201
argumen itu? Jika Sang Pemberi Hukum telah mengindikasikan bahwa manfaat puasa bisa
sampai pada orang yang meninggal, Maka, faktanya, Dia telah mengindikasikan bahwa
manfaat dari membacakan Qur'an dan amal ibadah lainnya juga bisa sampai pada dia. Puasa
yang dilaksanakan dengan niat yang disengaja tidak makan dan minum, Sang Pemberi
Hukum (Allah), Syari' telah menyatakan bahwa manfaat dari puasa bisa sampai pada orang
yang meninggal. Maka, tidak ada alasan bahwa manfaat dari membaca Qur'an dan amal
ibadah lainnya tidak akan sampai pada dia.
Pada dasarnya, dia berkata Mengapa membuat perbedaan antara satu amal ibadah dan
yang lainnya. Sekarang kita tahu bahwa jika ini adalah isu tentang niat. Mereka yang percaya
bahwa manfaat dari membaca Qur'an bisa sampai, karena ini sekarang menjadi isu
ketegangan. Mereka yang berpendapat dengan mengikuti sejumlah kuliah yang biasanya
diberikan sebagian besar ulama yang kita dengar di masa sekarang. Mereka telah dilarang
dalam membacakan Qur'an dan yang meminta pahala akan disampaikan pada orang yang
meninggal. Mereka yang percaya bahwa ini diperbolehkan.
Ibnu bin Abi Izz adalah salah satu ulama Salaf yang percaya bahwa ini diperbolehkan.
Dan dia membuat pernyataan bahwa ini adalah posisi yang dianut mayoritas ulama. Maksud
saya, itu adalah argumen yang menegaskan membaca Qur'an itu diperbolehkan, Mungkin
oleh mayoritas ulama di wilayahnya. apakah mayoritas dari mereka semua? Jika kita
menelaah para ulama dari Mazhab Syafi'i dan Mazhab Imam Malik, mereka tidak
menerimanya. Mazhab Syafi'i dan Malik mewakili tradisi yang besar dari Salaf. Maksud
saya, ini poin yang mesti dipertanyakan, Apakah ini benar posisi yang dianut mayoritas
ulama?
Namun, sebenarnya Mereka yang menerimanya, Mereka menolak gagasan tentang
seseorang yang dibayar untuk membacakan Qur'an. Jika anda membayar seseorang, atau jika
anda meninggalkan dalam wasiatmu, bahwa ada uang yang harus dibayarkan untuk
membayar seorang Qurra atau seorang Qari, yang akan membacakan Qur'an dan memberikan
manfaat kepada anda sebagai orang yang meninggal setelah kematianmu. Biasanya, anda bisa
membayar Qarri untuk melakukannya. Mereka sepenuhnya sepakat bahwa ini adalah bid'ah.
Dan argumen yang digunakan adalah tidak ada para pendahulu kami yang melakukannya.
Tidak ada Salaf yang melakukannya Dan tidak ada pula imam yang membenarkannya. Itulah
sebabnya orang-orang dilarang untuk membayar seseorang untuk membacakan Qur'an atas
nama mereka.
Perbedaan mendasar dalam pendapat mereka adalah tentang membayar seseorang
untuk mengajarkan Qur'an atau hal-hal lainnya yang memberikan manfaat serupa Untuk
mengajarkan Qur'an. Namun, dalam hal membacakan Qur'an bagi orang yang meninggal,
Mereka tidak menganut bahwa hal ini bisa diterima. Dan hal ini harus bersangkutan dengan
karena adanya fakta supaya manfaat itu bisa sampai pada orang yang meninggal tersebut.
Maka, niatnya harus demi Allah. Jika niatnya untuk mendapatkan uang yang akan diterima
Maka nilai dari amal ibadah itu menjadi hilang. Yang bisa anda berikan pada orang lain
menjadi hal yang tidak bisa anda berikan Dalam hal inilah mereka keberatan.
Namun, karena Ibnu bin Abi Izz berargumen dalam hal manfaat, Jadi, dalam hal
pahala Ini adalah isu yang berbeda. Pahala tidak sampai pada orang yang meninggal kecuali
amal ibadah itu dilaksanakan demi Allah. Jika orang tersebut berniat melakukannya atas
kepentingan dia sendiri berdasarkan pilihan mereka sendiri. Maka, dia berpendapat, dan
7
Islamic Online University AQD 201
mereka yang sepakat dengan dia bahwa amal ibadah itu bisa bermanfaat. Orang yang
melaksanakan ibadah haji prinsipnya sama dengan dia melaksanakan puasa. Dan dia
menghadapi argumen dari mereka yang berkeberatan, Dia berkata, Mungkin ada yang
keberatan dan berkata bagaimana bisa anda mengizinkannya? jika tidak ada ulama Salaf yang
mengamalkannya dan Rasulullah pun tidak menyarankannya. Yang artinya dia (Ibnu bin Abi
Izz) tidak familiar dengan alur argumen ini saat dia menganut posisi ini.
Tidak ada perbedaan antara amal ibadah ini dengan haji, puasa dan doa. Tidak ada
bedanya. Jika manfaat dari semua amal ibadah ini sampai pada yang meninggal maka,
manfaat dari membaca Qur'an juga bisa sampai pada orang yang meninggal. Jika para ulama
Salaf tidak melakukannya bukan berarti manfaatnya tidak akan sampai pada orang yang
meninggal. Tidak ada prinsip yang bertentangan dengan praktik ini. Inilah argumen dia.
Bagaimana menurut kalian? jika para ulama Salaf tidak melakukannya, haruskah kita
mengatakan, kita pun tidak bisa. Hal-hal yang kita coba lakukan sesuai dengan sejumlah
praktik secara umum sebagai prinsip Rasulullah dan para sahabatnya. Maka, kita pun
diperbolehkan Misalnya penggunaan loud speaker (pengeras suara) untuk mengumandangkan
adzan. Para ulama Salaf tidak melakukannya. Lalu, berbagai perubahan telah terjadi dalam
mesjid dan fungsi dan dalam struktur mesjid, dan hal-hal serupa, Yang bisa dikatakan sebagai
bentuk dari inovasi kita Namun, kita tidak menganggapnya sebagai inovasi dalam agama.
dalam arti, hanya untuk menyampaikan adzan secara lebih efektif dan didengar oleh orang
banyak. atau agar sholat misalnya seperti Mihrab atau pembacaan Qur'an yang dilakukan
pada Mihrab lebih bisa didengar oleh yang duduk di belakang. Semua ini adalah perbaikan
untuk supaya mereka lebih bisa mendengar bacaan Qur'an dengan baik.
Jadi, inilah alur argumennya. Akan tetapi, kita harus mengatakan, jika kita menelaah
pada argumen sebelumnya, Saat dia melarang membayar orang untuk membacakan Qur'an,
Argumennya untuk itu adalah Tidak ada ulama Salaf yang melakukannya dan tidak ada imam
yang membenarkannya. Itulah argumen yang digunakan. bagian dari argumen yang dia
gunakan Tentunya, Rasulullah tidak memperbolehkannya atau menyarankannya. Sehingga
kita harus mempertanyakan, mengapa anda harus menggunakan argumen tersebut untuk
mencegah, dimana dalam kasus ini mengapa anda malah menolak argumen yang sama.
Semata-mata karena para ulama Salaf tidak melakukannya maka itu tidak cukup untuk
melarang hal itu.
Dan jika anda akan mengatakan membayar seseorang untuk membacakan Qur'an, dan
memberikan pahala bagi orang yang meninggal, dengan alasan karena para ulama Salaf tidak
melakukannya. Namun, membayar seseorang untuk melaksanakan haji yang telah mereka
sepakati yaitu haji badal. yaitu membayar seseorang untuk melaksanakan haji yang mereka
sepakati sebagai hal yang sah. Tapi, membayar seseorang untuk membaca Qur'an, tidak. Tapi
membayar seseorang untuk melaksanakan haji badal itulah yang mereka sepakati. Jadi, kami
harus mengatakan bahwa argumen yang para ulama Salaf tidak melakukannya dan Rasulullah
tidak menyarankannya, Itu adalah argumen yang kuat. Isu lainnya, tentang imam yang
membenarkannya, Tentunya, mereka punya beberapa imam yang telah membenarkannya
(membayar seseorang untuk membaca Qur'an) misalnya Imam Abu Hanifah. Menurut
perkataan dia (Ibnu bin Abi Izz), Imam Ahmad pun juga memperbolehkannya.
Jadi, kalian punya fakta bahwa ada sebagian imam yang mendukung hal itu. Dia pun
menangkis elemen lainnya dari argumen tersebut. Mungkin ada yang berkata bahwa dalam
8
Islamic Online University AQD 201
kasus haji dan puasa, Kita punya hadits dari Rasulullah. Namun, kami tidak punya apapun
dari perkataan Rasul tentang membacakan Qur'an. Jawaban bahwa Rasulullah sendiri tidak
menyetujui praktik-praktik ini. Dia hanya menanggapi pertanyaan dari orang-orang, Jadi, saat
Rasulullah menganggukkan kepala artinya menyetujui pendapat dari para sahabat. Untuk
puasa tidak masalah, boleh melakukannya untuk orang yang meninggal. Ibadah haji begitu.
kalian boleh melakukannya untuk yang meninggal Jadi, dia hanya menanggapi berbagai
pertanyaan Ada pertanyaan, maka dia pun akan menjawabnya ada pertanyaan lainnya, maka
dia pun menjawab lagi. Jika ingin berargumen apapun yang tampak mirip, yang masuk dalam
kategori yang sama, maka anda tidak bisa mencantumkannya, karena dia tidak secara spesifik
mengatakannya.
Itu adalah alur argumen yang lemah. Karena jika kita menelaah kembali isu, misalnya
isu tentang zakat fitrah, dalam hal zakat fitrah, kalian tahu Saad bin Zabib yang memberikan
zakat segenggam kismis kering atau kurma. Dan dia menyebutkan beberapa kategori tertentu.
Mayoritas ulama yakin bahwa zakat tidak terbatas pada kategori ini. apakah ada yang serupa?
Ada Dawud Azzahiri salah satu ulama di zaman dahulu yang kemudian dikenal dengan
Madhab Zahiri. Abu Hasan, sebagai salah satu ulama kenamaan, dia percaya bahwa harus
sama persis dengan kategori yang disebutkan Rasulullah. yang diluar dari kategori itu, tidak
boleh. dia memahaminya secara literal, sama persis. Namun, mayoritas ulama yakin bahwa,
makanan apapun yang termasuk dalam ketegori makanan pokok yang dikonsumsi masyarakat
luas atau berupa makanan kering yang bisa disimpan dan tahan lama maka bisa
menggantikan kurma atau kismis. Mengapa kami ingin membuat pembedaan disini saat kita
menerima kategori yang umum dan apapun yang termasuk ke dalamnya yang serupa dengan
mereka. Lalu, mengapa kita tidak mencantumkannya dalam kasus Qur'an.
Ada masukan dari pihak ikhwan saat menyentuh tataran muamalat yaitu transaksi
bisnis. berbagai transaksi yang kita lakukan yang tidak ada kaitannya dengan ibadah kita
secara murni. Atau bukan ibadah yang murni. ada ibadah yang termasuk ke dalamnya yang
dilakukan sesuai dengan perintah dari Allah maka amal muamalat pun menjadi ibadah.
Namun, bukan ibadah yang fundamental amal-amal seperti itu, yang memperbolehkan kita
membuat qiyas dan ambahan, maka tidak masalah. Namun, tindakan-tindakan yang secara
spesifik termasuk ibadah yang telah ditetapkan sebagai ibadah, Ibadah yang tergolong ibadah
asli, Agar amal ibadah seperti itu bisa diterima, maka semua perbuatan ibadah tersebut
membutuhkan dalil dari Nabi Muhammad. Inilah argumen yang mereka gunakan dan
argumen itu punya dukungan. dalam arti, ada hal-hal lainnya yang tidak kita terima. Karena
Imam Ibnu bin Abi Izz tidak membahas tentang sholat.
Ada hadis dari Ibnu Abbas. namun, dia tidak menyebutkannya dalam buku ini.
Sehingga kita harus bertanya, mengapa dia tidak mencantumkan sholat. Tentunya, dia akan
berasalan karena sholat tidak didukung (dalam tataran praktik) oleh generasi terdahulu. atau
tidak dibenarkan oleh imam manapun, tidak dibenarkan oleh mereka. inilah yang akan
menjadi alur argumennya. Tidak ada imam yang membenarkan sholat (untuk orang yang
meninggal). Sedangkan untuk pembacaan Qur'an, kami punya pembenaran dari mereka. Pada
akhirnya, kami pun beragumen, Fakta bahwa ada sebagian imam yang menganut pendapat
demikian. namun, tidak dengan serta merta menjadikan amal ibadah ini bisa dilaksanakan.
Bagian pertama dari prinsip kalian adalah para ulama Salaf tidak melakukannya. Mereka
tidak mempraktikan (mengamalkannya) dan Rasulullah pun tidak merekomendasikannya.
9
Islamic Online University AQD 201
Maka kita harus berkata bahwa dengan dasar itulah, kita berhenti di titik ini. dan kita pun
akan beragumen bahwa ini (membacakan Qur'an) tidak boleh dilakukan. Argumen bahwa
ibadah haji, puasa dan sebagainya yang dicontohkan oleh Rasulullah, semua ini berdasarkan
pertanyaan.
Jadi, fakta bahwa dia tidak bertanya hal-hal lainnya, tidak menjadikan semuanya
dilarang. Tidak serta merta karena dia tidak bertanya itu tidak menjadikannya dilarang. Kita
harus menerima prinsip tersebut secara umum. Misalnya untuk hal Rasulullah dalam ibadah
haji yang ditanya tentang melakukan hal-hal tertentu sebelum melakukan hal-hal lainnya.
Misalnya berkurban sebelum melempar batu (jumrah). melakukan tawaf sebelum berkurban.
dan dia berkata, tidak jadi masalah. bisa dilakukan.
Para ulama menerima bahwa hal-hal lainnya yang tidak dia bicarakan juga temasuk ke
dalam ritual haji. meskipun dia tidak ditanyakan tentang hal-hal tersebut. Jadi, inilah prinsip,
dan ini prinsip yang benar. Jika dia (Rasul) ditanya tentang hal-hal tertentu yang termasuk ke
dalam kategori itu maka bisa dimasukan ke dalam kategori itu. Mereka bisa dimasukan ke
dalam kategori karena dia telah ditanya dan menyatakan persetujuannya atas pertanyaan
tersebut. Namun, tentunya ini terjadi dalam kesempatan tertentu dan kami punya pernyataan
dari sahabah setelah itu. bahwa tidak ada lagi yang ditanyakan kepada dia (Rasul) yang bisa
dilakukan sebelum pelaksanaan hal lainnya yang tidak dia izinkan.
Jadi, dalam pernyataan mereka mereka mengklarifikasi bahwa pada dasarnya praktik
ibadah lainnya pun tidak masalah. Jadi, itulah yang mereka pahami. Jadi, kita punya
pemahaman mereka untuk menambahkan praktik-praktik ibadah lain dari Rasulullah lainnya.
atau memasukkan praktik ibadah lainnya. Sedangkan dalam kasus amal ibadah ini kita tidak
punya pemahaman umum dari para sahabah lainnya untuk mendukung ini. Faktanya, bahkan
para sabahah sangat tegas dalam hal ini. sehingga Ibnu Abbas mengeluarkan puasa. Jika ini
adalah prinsip umum yang dipakai dan kita akan menganut paham. baiklah, pada dasarnya
amal ibadah apapun bisa dilakukan. Namun, Ibnu Abbas, dia membatalkan sholat yang
disetujui hampir semua orang. dan dia pun membatalkan zakat sekaligus haji, maaf. Maksud
saya puasa Ibnu Abbas pun menghapuskan puasa. Dia tidak membatalkan ibadah haji. Karena
dia sudah tahu hadis tentang ibadah haji dia pun tidak menghapuskan sholat jenazah karena
dia pun tahu tentang sholat jenazah tersebut. Namun dia membatalkan sholat dan saum atau
puasa karena dia tidak tahu (hadis) tentang puasa. dia tidak mendengar apapun tentang puasa
dan sama halnya dengan sholat. Jadi, itulah posisi mereka.
Mereka menolaknya. kalian tidak boleh melaksanakan ibadah itu (atas nama orang
lain). Sehingga kami harus berpendapat, Jika kita meneleaah metodologi yang digunakan
Ibnu Abbas, yaitu metodologi tersebut mendukung posisi yang menganut yang tidak
memasukan pembacaan Qur'an. Dan itu adalah perwakilan dari posisi yang dianut oleh para
sahabat. Dan pastinya jika itu adalah praktik yang memang bisa diterima (oleh Rasul).
mereka kan memang terbiasa membaca Qur'an, tilawah. dan mereka pun telah menulis teks
Qur'an dan mereka pun terbiasa membaca Qur'an Jadi, kita pun harus bertanya mengapa tidak
ada satupun diantara mereka yang memberikan pahala bagi orang yang sudah meninggal.
Karena mereka mengunjungi makam dan mereka melakukan banyak hal bagi yang
meninggal, sholat dan doa dan lainnya untuk yang meninggal.
Mengapa mereka tidak mencantumkan membaca Qur'an? Kami harus mengatakan
bagi mereka yang setelah itu mengklaim bahwa (membaca Qur'an) itu diperbolehkan. jadi,
10
Islamic Online University AQD 201
sebenarnya ini untuk mengklaim dalam arti bahwa kalian punya pemahaman yang lebih baik
daripada para sahabat. secara tidak langsung. Maksud saya Ibnu bin Abi Izz ingin
menunjukkan "Itulah sebenarnya yang kalian lakukan". Tidak, dia tidak bermaksud demikian.
itulah implikasi yang bisa disimpulkan. Ada implikasi yang mengarah kesana untuk
menunjukkan anda sudah memahami dari teks dan sumber lainnya, sedangkan para sahabah
tidak memahaminya. Karena pastinya, jika mereka sudah memahaminya mereka pun akan
mengamalkannya. karena tidak dicontohkan. Apapun yang mereka pahami dalam urusan
agama pasti mereka berusaha mengamalkannya.
Itulah sebabnya, kami akan tetap menjaga posisi. meskipun argumen dari Ibnu bin
Abi Izz sangat kuat dan persuasif. serta dilengkapi dukungan dari posisi yang dianut oleh
Imam Abu Hanifah dan yang lainnya yang mengizinkan amal ibadah ini. Kami harus
mengatakan, bahwa kami menganut posisi bahwa pembacaan Qur'an dan memohon
pahalanya untuk diberikan kepada yang meninggal, Tidak bisa diterima. Dan kami pun
menghormati pendapat yang lainnya. bahwa mereka pun mendapat dukungan, bukti dan
sebagainya. dalam isu-isu seperti itu, Kami menghadirkan argumen dan kalian pun
menghadirkan argumen. Dan kami menyarankan hal yang sebaliknya. Itulah alasan dasarnya
Isu lainnya seputar pembacaan Qur'an dan memberikan pahala kepada orang lain.
Banyak orang yang telah menetapkan hari-hari yang ke-7, hari yang ke 40.
sepenuhnya itu termasuk bid'ah. Tidak ada yang mengeluarkan hukum tentang itu. Meskipun
mereka yang membenarkannya jika melaksanakannya secara sukarela. Namun, jika sengaja
berkumpul pada waktu yang tertentu dan harus dilaksanakan di rumah seseorang, semua ini
adalah bid'ah. sudah pasti. Jadi sebagain besar yang bisa kami nisbatkan kepada para ulama,
Yaitu, jika anda sebagai individual hanya seorang diri bukan mengundang yang lainnya untuk
berkumpul, dan ini menjadi adat atau kebiasaan yang harus dilakukan untuk meminta orang-
orang sekitar dan secara rutin dilaksanakan, Silakan, jika dilakukan sendiri, kalian sendiri
yang membaca Qur'an. dan kalian menyelesaikan bacaan Qur'an. dan memohon kepada Allah
supaya pahalanya diberikan kepada siapapun Itulah pembacaan Qur'an yang diperbolehkan
Ada pertanyaan dari pihak ikhwan dalam kasus wanita (di zaman Rasul) yang melaksanakan
ibadah haji yang telah berniat melaksanakan ibadah haji itu bisa dia lakukan ada sebuah
sebab dalam kasus itu yaitu disebabkan kerabatnya yang meninggal karena untuk memenuhi
janji mendiang ibunya.
Jika kita menelaah Rasulullah, dia berkata, Jika yang meninggal itu punya hutang
yang harus dibayar dia tidak mengatakannya sebagai janji yang harus dibayar oleh yang
meninggal. Jika dia punya hutang yang harus dibayar. Jadi, Rasulullah telah menurunkannya
pada persamaan yang umum Persamaan yang umum itu adalah hutang Hutang yang harus
dibayarkan kepada Allah. yaitu ibadah haji. Haji dibayarkan kepada Allah bagi siapa saja
yang sudah mampu. Kita diizinkan dengan dasar, jika kalian akan membayar hutang yang
biasa dan dia memang harus membayar hutang untuk orang itu yang meninggal dengan
meninggalkan hutang. dan itu menjadi keharusan. Maka, dengan cara yang sama, ibadah haji
pun bisa dilakukan untuk orang tersebut. yaitu dilaksanakan untuk mereka.
Maksud saya, jika anda ingin berargumen, Bagaimana jika orang tersebut tidak punya
sarana (uang) untuk ibadah haji dan mereka keburu meninggal. Karena melaksanakannya atas
nama yang meninggal, Apakah haji itu menjadi hutang? padahal dia tidak punya sarana. Para
ulama dari generasi terdahulu, mereka telah menganut posisi bahwa ibadah haji tidak terbatas
11
Islamic Online University AQD 201
atas nama orang yang sudah meninggal. ibadah haji pun bisa dilaksanakan bagi orang lain
Karena ada haji badal yang dilaksanakan untuk orang lain. Orang lain yang kesulitan
melaksanakannya dan anda melaksanakannya untuk dia Meskipun mereka dimaklumi.
namun, mereka ingin melaksanakannya. dan pada akhirnya anda melaksanakannya untuk
mereka. Itulah yang menghilangkan isu adanya hutang kepada Allah sebagai faktor yang
diizinkan dalam kasus ibadah haji.
12