0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan12 halaman

Transcript AQD 201 Module 21

Modul ini membahas tentang pelonggaran hukum dalam agama Islam yang dibawa oleh Nabi Isa dan bagaimana hal tersebut tidak menghapus hukum dasar yang ada. Selain itu, dijelaskan juga tentang berbagai golongan dalam teologi Islam, seperti Mu'tazilah dan Antrofomorfis, serta pandangan mereka terhadap keadilan dan sifat Allah. Penekanan diberikan pada pentingnya memahami prinsip-prinsip dasar dalam keimanan dan menolak pemikiran yang menyimpang dari Ahli Sunnah Wal Jama'ah.

Diunggah oleh

energipositif
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan12 halaman

Transcript AQD 201 Module 21

Modul ini membahas tentang pelonggaran hukum dalam agama Islam yang dibawa oleh Nabi Isa dan bagaimana hal tersebut tidak menghapus hukum dasar yang ada. Selain itu, dijelaskan juga tentang berbagai golongan dalam teologi Islam, seperti Mu'tazilah dan Antrofomorfis, serta pandangan mereka terhadap keadilan dan sifat Allah. Penekanan diberikan pada pentingnya memahami prinsip-prinsip dasar dalam keimanan dan menolak pemikiran yang menyimpang dari Ahli Sunnah Wal Jama'ah.

Diunggah oleh

energipositif
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Islamic Online University Aqidah 201

Modul 21
Video 21a

Segala puji bagi Allah. Semoga sholawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi
kita, Nabi Muhammad. Dan kepada mereka yang mengikuti jalan kebenaran sampai Hari
Akhir. Topik yang terakhir yang akan dibahas di semester ini. pertanyaan, ya.
Baiklah, pertanyaan dari ikhwan tentang apa yang dikatakan, bukan kita yang
mengatakan namun Allah yang mengatakan. Tentang Nabi Isa yang datang dan
melonggarkan sebagian hukum. Bagaimana kita merekonsiliasinya dengan pernyataan yang
telah kita kutip dari Injil. Yaitu Yesus yang menyatakan dia tidak datang untuk
menghapuskan hukum namun untuk melengkapinya. Padahal umat Nasrani sendiri telah
menolak klaim pemenuhan ini dalam arti menegakan hukum.
Inti dasarnya adalah dalam pelonggaran tidak ada penghapusan. Hukum tidak dihapus
jika kamu dilonggarkan karena hukumnya masih ada. Tidak, pokok persoalannya adalah,
apakah penghapusan suatu hukum misalnya saja hukum dasar, hukum pelarangan makanan
tetap tidak berubah. dalam arti tidak boleh makan daging babi, harus berkurban untuk Tuhan
dan bukan untuk berhala.
Semua itu adalah hukum dasar. Namun, dalam hal pembatasan bagian daging apa yang
bisa dimakan. Maksud saya daging yang dulunya terbatas pada daging yang tidak melekat
pada tulang. Namun, sekarang daging yang melekat pada tulang juga ditambahkan. Jadi
kelonggaran itu adalah tambahan untuk suatu hukum yang sejalan dengan hukum yang sudah
ada. Namun, larangan untuk darah hewan tetap tidak berubah. Larangan untuk daging babi
pun tidak berubah. Dalam hal tingkatan kelonggaran hukum itu kita tidak mengetahuinya.
Kita tidak tahu pasti.
Jika harus detail sebagaimana hukum itu dilonggarkan, yang kita tahu adalah Allah
menyebutkan bahwa Nabi Isa (Yesus) datang dengan dispensasi dari Allah. Dia datang untuk
melonggarkan beberapa hukum yang telah diberlakukan pada mereka karena kebandelan
mereka. Namun, hukum dasarnya tetap sama. Seperti yang dikuatkan dalam Kitab Suci,
dalam Qur'an yang dibawa Rasulullah. Jadi, yang bisa kita lihat dalam Qur'an, suatu afirmasi
(penguatan).
Jadi, tidak ada keraguan bahwa hal yang mendasar, yang dulu ada pada hukumnya Nabi
Musa (Taurat), yang mengafirmasi hukumnya Nabi Muhammad, sudah pasti diafirmasi juga
dalam hukumnya Yesus. Penyesuaian itu dibuat di suatu tempat antara hukum tambahan yang
dulu sudah ada di masa Nabi Musa dengan hukum yang ada di masa Nabi Muhammad.
Kelonggaran itu ada di antara keduanya, namun kita tidak tahu detailnya.
Jadi, kita tidak memperdebatkan poin itu. kita hanya ada pada ranah di mana mereka
memperdebatkan bahwa, mengapa sekarang ini hukum Islam memperbolehkan berbagai hal
yang dulu dilarang dalam hukum Yahudi? Mengapa? Yang bisa kita jelaskan adalah sebagian
dari hal yang dilarang itu bukan hal yang mendasar. Hal yang mendasar tetap sama. Misalnya
hukum rajam bagi pezina, menghukum mati pembunuh, semua hukum dasar itu tetap sama.
Namun, beberapa hukum tertentu, sebagian dari mereka dikoreksi, seperti hukum tentang
riba yang pada awalnya diperbolehkan untuk non-Yahudi namun tidak untuk Yahudi. Saat

1
Islamic Online University Aqidah 201

Islam datang, Islam mengoreksi hukum itu. Larangan riba diberlakukan untuk semua orang
baik Yahudi maupun non-Yahudi. sebagian hukum lainnya yang diberlakukan untuk mereka,
sebagai hukuman atas kebandelan mereka. Agama Islam yang dilonggarkan di masa Nabi Isa,
Islam mengkonfirmasi pelonggaran itu. Jadi, kita hanya menggunakannya dalam konteks
argumen itu. Insya Allah.
Apakah ada pertanyaan dari pihak akhwat tentang pembahasan materi kita sebelumnya
yang intinya menelaah konsep agama Allah yang esa. Dan itu adalah tentang jalan tengah
antara kedua jalan yang ekstrim. Baik itu ekstrim dalam hal agama yang di sekitar Islam yang
ada di masa sekarang. Atau jalan ekstrim dalam arti pandangan orang lain terhadap Islam.
Jalan tengah tetap di posisi tengah di antara semua jalan tadi. Tidak ada pertanyaan dari pihak
akhwat?
Mari kita lanjutkan Poin nomor 114. Pada intinya yang kita bahas pada sesi ini yaitu
tentang golongan utama yang telah menyuarakan tentang poin yang berbeda pada kuliah ini,
Seperti saya sebutkan sebelumnya, Para Antrofomorfis. Dari pernyataan Imam Tahawi, "ini
adalah keimanan kita dan agama kita". Kita membahas tentang agama kita yang satu dan
jalan yang tengah. ini adalah keimanan kita dan ini adalah agama kita. Kami tidak ada
kaitannya dengan mereka yang berbeda. Dari pernyataan kami dan menguraikannya. Kami
berdoa kepada Allah, semoga Dia mengukuhkan kami dalam keimanan dan meninggal
dengan iman. Menyelamatkan kami dari pemikiran ironi dan doktrin yang menyesatkan.
seperti Antrofomorfis, Musyabbihah, Mu'tazilah, Jahmiyyah, Determinist atau Jabriyyah,
Free Willers atau Qadariyah dan golongan lainnya yang telah berbeda dari Ahli Sunnah Wal
Jama'ah yang telah jatuh pada kesalahan.
Kami tidak ada kaitan dengan mereka dalam pandangan kami, pemikiran mereka telah
sesat dan pelaku kezaliman. Dan hanya kepada Allah-lah kami memohon petunjuk dan
keselamatan. Itulah pernyataan terakhir yang dinyatakan oleh Imam Tahawi Dalam
pernyataan ini. yang menutup dan mengukuhkan tentang keimanan para Ahli Sunnah. Dia
menolak berbagai golongan, seperti yang saya sebutkan di sepanjang studi kita pada semester
ini.
Kita pun sudah membahas sebelumnya. Yang pertama, dia membahas Musyabbihah, lalu
tentang para Antrofomorfis. Kami jelaskan mereka adalah orang-orang yang memberikan
sifat Allah atau menjadikan sifat Allah serupa dengan sifat manusia. Kami menjelaskan
Yahudi adalah mereka yang mirip dengan Antrofomorfis. Lalu, Ibn Abil Izz memberikan
sebuah contoh Dawud Al-Jawaribi sebagai salah satu penentang utama dari pandangan ini.
Akan tetapi, pertama, kalian harus menemukan informasi yang detail tentang orang ini.
Karena dia jarang disebutkan sebagai seorang tokoh. Akan tetapi, pandangannya
Antrofomorfis. Muncul di golongan lain, dari sudut pandang lain seperti golongan yang
muncul kemudian, yaitu Mu'tazilah.
Pada dasarnya, mereka mewakili golongan falsafah yang terbesar atau golongan teologis
yang terbesar. Sebelum mereka, ada golongan Khawarij. Lalu, Khawarij terpecah dan lebih
bertumpu pada dasar politis. Sama halnya dengan golongan Syiah lebih bertumpu pada dasar
Teologis. Golongan Khawarij di masa Ali bin Abi Thalib terpecah dalam persoalan politik.
Apakah harus bernegosiasi dengan Muawiyah atau memeranginya Mereka mengambil
pendapat untuk memerangi Muawiyah dan membiarkan Tuhan yang menilai. Jadi, mereka
terpecah dari kubu Ali dan menyatakan bahwa Ali dan Muawiyah sebagai orang kafir guna

2
Islamic Online University Aqidah 201

membenarkan serangan mereka pada kedua kemah itu Lebih pada gerakan politik mereka
mengincar kekuasaan untuk diri mereka sendiri. Mereka menggunakan takfir untuk
membenarkan tindakan mereka. Lalu, dari titik itulah berkembanglah Teologi karena para
pengikut pun membuat kesepakatan di antara mereka. Inilah yang harus kita lakukan dan
tidak boleh dilakukan.
Kemudian pemikiran mereka mengendap dalam suatu sekte dan berkembang. Sama
halnya dengan Syiah, Ada sebagian orang yang lebih mengunggulkan keluarganya Ali ibn
Abi Thalib dan merespon mereka yang telah mendukung Muawiyah. Mereka memanggil
Husain ke Irak untuk memimpin pemberontakan mereka melawan putera Muawiyah. Lalu
Husain dibunuh. Mereka menyerah bahkan sebelum Husain dibunuh dan kembali pada seruan
dan klaim mereka. Namun, setelah Husain terbunuh pemikiran mereka kemudian
berkembang pada dasar kesyahidan. Yang berubah dalam bentuk, bisa dikatakan pada
pemahaman mereka menafsirkan ayat dengan cara yang berbeda. dan mereka juga dicekoki
oleh sebagian dari pemikiran Esktrimis terdahulu yang berkembang dari kecintaan terhadap
Ali. Lalu, sekte Syiah mulai terbangun sebagai pihak yang melawan, sebagai golongan lain.
Berupa golongan politik yang berlawanan dengan Bani Ummayah. Mereka memberontak
bawah tanah dan mengunakan isu keluarga Nabi sebagai seruan untuk memberontak. pada
akhirnya seruan mereka berkembang menjadi pada ranah teologi.
Namun, golongan Mu'tazilah tidak ada pemberontakan politik yang dilibatkan dalam
perkembangan mereka. Mereka adalah golongan yang murni dalam tataran falsafah dengan
mempertanyakan dan memperdebatkan dalil. Itulah cara mereka berkembang. Amr Ibn Ubaid
dianggap sebagai salah satu pendiri dengan Wasl Ibn Atha. Mereka berdua dianggap sebagai
pendiri utama. Amr Ibn Ubaid adalah salah satu muridnya Hasan Al-Basri. Hasan Al-Basri
adalah salah satu ulama kenamaan di kalangan Salaf. Salah satu murid dari Tabi'in yang bisa
dianggap sebagai tabiut tabiin. Itulah julukannya. Namun, Hasan Al-Basri adalah salah satu
ulama ternama.
Banyak juga pengikut Sufi mencoba memasukan dia ke lingkaran Sufi karena
keunggulannya. Namun, sebagai ulama dia bukanlah seorang Sufi. Dia adalah seorang zahid
yang hidup sangat sederhana dan tidak melekatkan diri pada kenikmatan dunia. Jadi, mereka
melihat dia sebagai model dan menjadikan dia sebagai pembenaran atas sebagian tindakan
mereka. Sejumlah pemikiran yang dipromosikan oleh Wasil tetap sebagai pemikiran karena
mereka muncul di masa Bani Umayyah. Tetap menjadi pemikiran utama mereka sampai
masa menjelang keruntuhan Bani Umayyah. Muncul Bani Abbasiyah sampai masa Bani
Abbasiyah. Kejayaan pemerintahan Bani Ummayah berlangsung selama 100 tahun. Jadi,
semua pemikirna utama mereka yang pada awalnya dipromosikan oleh Wasil dan Amr, Ada
sebagian pemikiran yang tetap mengendap sampai 400 tahun yang tetap mereka anut sampai
masa Bani Abbasiyah.

Video 21b

Terjadi di rezim Harun Al-Rasyid yaitu salah satu penjelas dari pemikiran ini yang
bernama Abul Hudail. Dia menulis dua buku yang menjelaskan pemikiran tersebut dan
merangkumnya menjadi aqidah. Sebagaimana Imam Tahawi yang mengidentifikasi aqidah

3
Islamic Online University Aqidah 201

Ahli Sunnah, dia mengindentifikasi prinsip-prinsip seputar mereka dan sebagainya. Abul
Hudail juga menulis menjelaskan lebih lanjut prinsip mendasar dari mazhab Mu'tazilah.
Prinsip mendasar itu berdasarkan lima tujuan yaitu keadilan, keesaan Allah atau Tauhid,
Keadilan atau adil istilah bahasa Arabnya, penegakan hukuman yang tegas, posisi antara
kedua posisi, serta kewajiban memerintahkan kebajikan dan melarang kebatilan. Itulah
kelima tujuan mereka. Yang pertama yaitu keadilan, yang kedua yaitu Tauhid atau keesaan
Allah, yang ketiga penegakan hukuman yang tegas. yang keempat posisi antara kedua posisi.
Dan yang kelima kewajiban untuk memerintahkan kebajikan dan melarang kebatilan.
Sebagian dari istilah ini mungkin ada yang berkomentar, keadilan memang adil, Islam
tentunya mendukung keadilan. Ke-esaan Allah tentunya Tauhid. Penegakan hukuman yang
tegas. Agak sedikit samar, apa yang dimaksud dengan tujuan ini? Posisi antara kedua posisi.
Jika kamu bisa mengingat kita pernah membahas tentang ini dan kita akan mengulasnya
lagi. Karena istilah ini terdengar aneh, "posisi antara kedua posisi", al-manzila bainal
manzilatain, itulah istilah bahasa Arabnya. kewajiban amar ma'ruf dan nahi mungkar,
tentunya semua orang akan berkomentar "saya sudah paham yang satu itu". Namun, yang
mereka maksudkan adalah hal yang berbeda. Bukan seperti yang kita pahami dari prinsip-
prinsip ini. Jika kita kembali menelaah semua prinsip itu secara bersamaan. Yang bisa kalian
temukan dalam semua prinsip mereka adalah campuran antara kebenaran dan kebohongan.
Ada elemen kebenaran di dalamnya. seperti kami sebutkan, di dalam semua pandangan
ekstrim, ada dasar kebenaran diarahkan pada ekstrim. sama halnya dalam hal ini. Ada elemen
kebenaran namun mereka telah memperluas dan mengembangkan pemahaman. Dan malah
sampai pada simpulan yang keliru. Diawali dengan akar kebenaran. Namun dalam penafsiran
dan dalam penjelasan mereka, mereka malah sampai pada kebenaran yang palsu. Sebagai
contoh, dalam hal keadilan sebagai prinsip yang pertama. Apa yang mereka maksud dengan
keadilan? mereka mengatakan bahwa pada dasarnya Allah berlaku adil. dan pastinya Dia adil.
Sifat keadilan ini seperti diharuskan pada Allah. Tentunya Allah itu adil dan Dia juga
menyerukan keadilan. Tidak ada yang salah. Namun persoalannya, bagaimana kita
menentukan apa yang adil dan apa yang tidak adil. Apakah ditentukan menurut persepsi kita
tentang keadilan? artinya adil bagi manusia apakah pastinya adil untuk tuhan? ataukah
ditentukan berdasarkan penilaian tuhan? Apapun yang Dia nilai adalah adil, baik dari
perspektif manusia, kita menganggapnya adil ataupun tidak. Bisa dipahami intinya?
Dari sudut pandang mereka, mereka meyakini bahwa, apapun yang manusia anggap adil,
tuhan pun haru menganggapnya adil. Apapun yang manusia anggap tidak adil, tuhan pun
harus menganggapnya tidak adil. Pada tingkatan tertentu memang terdengar masuk akal,
Ketika kita berargumen ini pastinya tidak adil, Jika Allah melakukannya kita akan menilainya
tidak adil, karena sudut pandang kita menganggapnya tidak adil. Suatu hal akan dianggap
tidak adil bagi Allah jika menciptakan kita tanpa pilihan. Mengharuskan melakukan kebatilan
dan menghukum karena kebatilan itu. Maka kita bisa menilai inilah yang tidak adil.
Pada suatu kadar tertentu, apa yang kita identifikasi tidak adil bagi Allah kita juga
menganggapnya tidak adil. Namun, perbedaan antara yang mereka katakan dan yang kita
katakan. Yang kita katakan berdasarkan apa yang dikatakan oleh Allah, Yaitu Allah tidak
akan menghukum siapapun sampai seorang utusan dikirimkan pada mereka. Artinya kalian
sudah punya pilihan. apa kalian paham yang dimaksud penjelasan saya? Allah berfirman,
Aku tidak akan menghukum siapapun sampai seorang utusan datang pada kalian. Artinya

4
Islamic Online University Aqidah 201

Seorang Utusan pastinya mengabarkan kebenaran Dan kamu harus memilih antara kebenaran
yang dibawa utusan dengan kekeliruan yang kamu nilai. Karena jika ia tidak bermakna
demikian, jika yang Dia maksud hanyalah mengirimkan utusan, namun kamu masih dipaksa
melakukan yang sudah Dia putuskan, lalu apa gunanya dikirimnya utusan. Menjadi tidak
bermakna.
Fakta yang ada bahwa Dia tidak akan menghukum kalian, sampai dikirimnya seorang
utusan pada kalian. Ketika utusan (Nabi) datang dan tidak ada pengaruhnya atas perbuatan
kalian, maka buat apa dikirim utusan bukankah begitu? Itulah sebabnya kita mengatakan
bahwa dalam kasus ini, fakta bahwa manusia punya pilihan sangatlah penting. Agar penilaian
menjadi adil, karena kalian tidak punya pilihan, bagaimana kalian bisa menilai? perkataan
mereka, apapun yang dianggap manusia adil, mereka mengawalinya dari manusia, lalu
diterapkan kepada Allah, sedangkan kita memulainya dari Allah dan menerapkannya pada
manusia.
Kita tidak secara terbuka mengatakan, Apapun yang dinilai manusia. Tidak. karena
misalnya saja contoh yang diberikan Ibn Abil Izz, Jika seorang manusia, misalnya saja, dia
menemukan pelayan laki-lakinya tengah berzina dengan pelayan wanitanya. Namun dia tidak
menghentikan mereka melakukan zina. Maka tindakan ini bermakna dua hal. Bisa bermakna
dia menyetujui perzinaan itu atau dia tidak mampu menghentikannya. Bagi seorang manusia
jika dia melihat dosa di depan matanya, maka tindakan dia bisa bermakna salah satu dari dua
hal ini. Bisa jadi dia menyetujuinya, tidak masalah. Atau karena dia tidak bisa
menghentikannya.
Jika kita menggunakan prinsip yang sama dan menerapkannya pada Allah, Di mana
durhaka muncul pada makhluk. maka apa artinya? Bisa berarti Allah menyetujui kedurhakaan
itu ataukah artinya Dia tidak bisa menghentikannya. Maka ada masalah dengan pemikiran
kita. Kita tidak bisa menerapkan prinsip lintas lini. Tidak dalam semua kasus. Dalam
sebagian kasus yang Allah mengidentifikasi dari sudut pandang-Nya. Ya, kita bisa
menyetujui, itulah cara-Nya. Namun, fakta bahwa Allah mengizinkan dosa' kemunkaran
terjadi dalam pencitaan-Nya, fakta itu bukan karena Dia menyetujuinya, namun karena Dia
tidak menyetujuinya. dan bukan pula karena Dia tidak mampu menghentikannya, karena Dia
bisa menghentikannya. Namun, Dia telah mengizinkan dosa terjadi meskipun Dia tidak
menyetujuinya. Karena adanya kebajikan yang berasal dari dosa tersebut yang melebihi
kemunkaran yang ada di dalamnya. Itulah intinya, hanya dipadankan, tidak seperti penilaian
kita sebagai manusia.
Jadi, kita tidak mendukung pendapat tersebut seperti yang mereka tafsirkan, dengan
mendefinisikan keadilan bagi Tuhan menurut keadilan dalam sudut pandang manusia. Yang
telah mereka lakukan adalah mereka telah memanusiakan Allah, dalam hal ini. Bukan dalam
hal bagaimana wujud Allah, kita tidak membahas tentang wujud Allah, namun dalam hal
bagaimana Allah bertindak. Jadi, ini bukanlah pemanusiaan dari sudut pandang wujud fisik
Allah dengan memberikan Dia wujud fisik. Namun dalam hal bagaimana tindakan-Nya yang
dipersepsi dalam pengertian manusia. Jadi ada unsur pemanusiaan disini. itulah sebabnya,
Antrofomorfis, meskipun mereka tidak muncul di kalangan umat saat ini sebagai suatu
Pergerakan atau sekte Namun, elemen Antroformisme (pemanusiaan) muncul dalam
penafsiran atas tindakan Allah.

5
Islamic Online University Aqidah 201

Persoalan ini telah dibahas saat membahas tentang Qadar, di semester lalu. Kita
membahas tentang bagaimana orang-orang itu mencoba untuk menafsirkan persoalan Qadar.
Bahwa pada faktanya mereka menurunkan ilmu-Nya Allah pada ilmunya manusia. Prinsip
yang kedua adalah keesaan Allah. Tentunya kita setuju dengan prinsip Tauhid itu. Namun,
apa yang mereka maksud dengan Tauhid? Yang mereka maksudkan adalah sebagian dari
yang kita katakan. Namun, mereka memasukan tambahan pada konsep Tauhid. Penyangkalan
terhadap Qadar. Bagaimana mereka bisa sampai kesana? Mereka mengatakan bahwa Allah
tidak menciptakan kemunkaran maupun menetapkannya. Dia tidak menciptakannya dan Dia
pun tidak menakdirkannya. Jika Dia menciptakannya, lalu menghukum manusia karena telah
melakukannya, maka Allah akan tidak adil.
Itulah klaim mereka, namun Allah itu adil dan tidak bisa melakukan ketidakadilan.
Dengan demikian, pastinya dalam kerajaan-Nya yang mereka simpulkan adalah apa yang
tidak Dia kehendaki Pastinya ada dalam dominion-Nya, segala hal yang tidak Dia kehendaki.
Apakah kalian bisa dipahami bagaimana mereka sampai berpikir demikian? Karena tidak
mungkin jika Dia menghendaki sesuatu dan tidak menjadi ada. Masih ingatkah? kita
membagi kehendak Allah menjadi kehendak penciptaan dan kehendak Syariah. Namun,
mereka hanya melihat kehendak Allah sebagai satu unit. Segalanya hanya berupa kehendak
penciptaan-Nya, mereka tidak membuat pembedaan (untuk kehendak Allah). Dari sinilah
awal datangnya kebingungan itu, karena jika kalian melihat segala sesuatunya sebagai
penciptaan, Maka yang kamu maksud adalah Allah menghendaki kemunkaran. Dia
menghendaki kemunkaran dan Dia menginginkannya Itulah sebabnya mereka
memperdebatkan persoalan tentang keadilan dan menyimpulkan bahwa tidak adil jika Allah
menciptakan kemunkaran dan menghukum manusia karena telah melakukannya.

Video 21c

Dalam konteks Tauhid yang sama, mereka menggunakan suatu argumen untuk
membantah sifat Qur'an yang tidak diciptakan. Karena merekalah yang menggagas pemikiran
bahwa Qur'an itu diciptakan. Mereka berargumen, jika Qur'an tidak diciptakan maka artinya
kalian punya dua sosok yang tidak diciptakan. Yang satu, Allah tidak diciptakan dan Qur'an
pun tidak diciptakan. Namun, intinya adalah ketika kita menegaskan bahwa Qur'an tidak
diciptakan, Tidak membahas tentang teks Qur'an itu sendiri yang ditulis oleh manusia, tulisan
mushaf yang ditulis manusia. Namun, yang kita bahas disini adalah kata-kata dalam Qur'an
itu sendiri. Dan semua kata ini berasal dari Allah. Mereka tidak terpisah dari Allah. Artiya
Qur'an adalah suatu hal yang diciptakan Allah yang berbeda dari Diri-Nya. Mereka (kata-
kata) berasal dari Allah dan berasal dari yang tidak diciptakan. Jadi, dari sudut pandang itulah
Qur'an dinilai tidak diciptakan Namun, dalam konsep Tauhid mereka, kalian tidak bisa
memiliki dua sosok yang tidak diciptakan. Makanya mereka membantah sifat Qur'an yang
tidak diciptakan. Dengan dasar itulah, kalian bisa melihat konsep Tauhid mereka.
Kita memang sepakat dengan prinsip Tauhid. Namun, ada persoalan yang tidak kita
sepakati. Mereka menggunakannya untuk membela dan mempromosikan hal tersebut. Prinsip
yang ketiga yang tadi kami sebutkan, penegakan hukuman yang tegas. Artinya, jika Allah
sudah memberitahu kalian, "ini adalah hukuman jika kamu melakukan dosa ini", Itulah

6
Islamic Online University Aqidah 201

penegasan. "Jika kamu melakukan dosa ini maka inilah hukumannya". Maka Allah tidak bisa
menarik kembali hukuman itu. Setelah Dia menetapkan hukuman itu maka pasti akan terjadi.
setelah Dia mengikrarkan janji, pasti akan terjadi. Tidak ada penarikan kembali. Dengan kata
lain, tidak ada pengampunan Semua yang telah Dia perintahkan untuk tidak dilakukan maka
hukuman akan ditimpakan, tidak ada pengampunan. kamu sudah melakukan yang Dia
perintahkan dan Dia menjanjikan balasan atas apa yang telah kamu perbuat. Dia tidak bisa
menarik kembali dengan mengabaikan kebaikan. Karena sudah dijanjikan, maka akan terjadi.
Itulah yang mereka maksud. penegakan hukuman yang tegas yaitu janji-janji Allah.
Tentunya, ini bertentangan dengan pendapat yang dianut oleh Ahlus Sunnah wal Jamaah
tentang pengampunan. Allah mengampuni siapa saja yang Dia kehendaki. Dia menjanjikan
hukuman, namun Dia bisa mengampuni manusia. Mereka melakukan kebaikan lainnya, dan
bertaubat, maka Allah akan mengampuni mereka. Jadi, dalam pengertian mereka memiliki
pemikiran yang sama dengan umat Nasrani. Dosa Adam dan Hawa yang telah makan buah
dari pohon terlarang, tidak ada pengampunan bagi mereka. Mereka tidak diampuni.
Doktrin keempat, yaitu posisi antara kedua posisi, Ini ada kaitannya dengan orang-orang
yang berbuat dosa besar, yaitu pelaku dosa besar. Tidak menjadi orang kafir, dia tidak
menjadi orang kafir. Namun dia berada di antara kekafiran dan keimanan. Dia berada di
antara posisi kekafiran dan keimanan. Dia tidak akan dipanggil seorang mu'min, namun, dia
tetap dipanggil seorang muslim. Jika dia mati maka dia akan masuk neraka. Jadi, pada
akhirnya mereka mirip dengan Khawarij yang menyatakan jika kamu berbuat dosa besar,
maka kamu menjadi orang kafir. Tamat. Pada akhirnya kamu akan masuk neraka. Ini juga
pendapat yang mirip dengan yang dianut Syiah terhadap para ahlus Sunnah. Mereka
mengangap para ahli Sunnah sebagai muslim namun tidak sebagai mu'min. Dan hanya
mu'min yang akan masuk surga. itulah cara mereka menanganinya, cara mereka menghadapi
kita, "kita adalah muslim, namun bukan mu'min". Karena jika kalian ingin menjadi mu'min,
maka kalian harus yakin kepada para imam. Tanpa meyakini para imam, maka kamu bukan
mu'min.
Doktrin yang terakhir, yaitu tentang memerintahkan kebajikan dan melarang
kemunkaran. Rasulullah bersabda, jika kita meihat kemunkaran maka kita harus
menghentikannya dengan tangan, jika tidak bisa, maka lantang menyuarakan protes, jika
tidak bisa maka membencinya di dalam hati. Apa yang mereka maksud dengan doktrin ini?
Yang mereka maksud adalah apapun yang diperintahkan pada kita, maka kita berkewajiban
untuk memerintah pada orang lain untuk melakukan hal serupa. Dan tujan lainnya untuk ini,
mereka membenarkan pemberontakan melawan pemerintah. Jika kita melihat mereka
melakukan kesalahan, maka kita harus memerintahkan mereka untuk tidak melakukannya.
oleh sebab itu kita bersatu untuk memberontak dan mencoba memaksa kepemimpinan yang
sah melakukan yang dianggap benar.
Tentunya ini berlawanan dengan pendapat dari umat Islam yang umum. Rasulullah telah
melarang memberontak melawan pemimpin. Sekte Mu'tazilah juga dikenal sebagai
Rasionalis, kami sebutkan sebelumnya, prinsip kunci mereka adalah memberikan
pengutamaan pada nalar dibanding wahyu. Mereka menggunakan wahyu untuk mendukung
nalar atau argumen mereka. Mereka merasa tidak harus bergantung padanya hadits dan ayat
Qur'an, mereka mungkin menggunakannya untuk meyakinkan orang-orang ahli Sunnah
Ketika mereka bergerak ke wilayah mereka. Membawa beberapa hadits untuk mendukung

7
Islamic Online University Aqidah 201

argumen. Namun, tidak memandangnya sebagai hal yang utama. Karena yang utama bagi
mereka adalah akal menurut mereka. Akal ada sebelum wahyu. Sebelum diturunkannya
wahyu ada beberapa hal tertentu yaitu nalar, logika dan pemahaman manusia, mengenal hal-
hal itu sebagai kebaijikan dan kebatilan. Sedangkan wahyu datang untuk menguatkan akal.
Itulah cara pandang mereka. Sedangkan pemahaman kita wahyu yang mendahului akal.
Ketika wahyu datang kepada Adam, wahyu yang disampaikan untuk Adam tentang apa yang
benar dan salah. Wahyu di dalam hati. Setiap ruh manusia diberikan kesadaran terhadap yang
baik dan batil, yang disampaikan melalui wahyu dari Allah. Itulah yang membuktikan jika
wahyu datang terlebih dahulu.
Golongan utama yang ketiga yang disebutkan di buku ini adalah sekte Jahmiyyah yang
dibentuk oleh Jahm Ibn Safwan As-Samarqandi. Dan Jahm dikenal karena telah menolak
sifat-sifat Allah. Dia mempelajarinya dari tokoh yang bernama Ja'ad Ibn Dirham. Yang
disebutkan sebelumnya yang dikurbankan di Hari Raya Idul Adha oleh gubernur tempat dia
tinggal dulu. di Hari Raya Idul Adha dia mengumumkan kepada masyarakat setelah sholat Id,
"Setelah masyarakat berkurban, semoga Allah menerima kurban mereka, sedangkan saya
akan mengurbankan Ja'ad Ibn Dirham". Dia (Ja'ad Ibn Dirham) berkata, bahwa Ibrahim tidak
menganggap Ibrahim sebagai teman-Nya dan Allah pun tidak berbicara pada Musa. dengan
kata lain, dia menyangkal Qur'an dan menolak menarik kembali pernyataannya. Padahal
Allah sudah menyatakan tentang Nabi Musa. Lalu gubernur itu turun dari mimbar dan
memenggal kepala Ja'ad.
Tentunya keputusan itu diambil setelah konsultasi dengan para ulama dari wilayahnya
dia. Lalu, Jahm terus menghidupkan pemikiran Ja'ad yang berasal dari wilayah yang ratusan
kilometer dari Khurasan. Dia pun telah jatuh ke dalam pemikiran Ja'ad dengan mengikuti
debat dengan golongan Politheisme, yang sebenarnya adalah golongan Hindu atau para filsuf
India. Dia terlibat dalam diskusi dengan mereka. Mereka termasuk ke dalam mazhab yang
bergantung pada persepsi manusia. "Apapun yang diluar persepsi manusia, tidak ada".
Makanya, mereka bertanya kepada Jahm, "apakah tuhan yang kamu sembah bisa dilihat
dirasa dan disentuh?". tentunya dia menjawab: "tidak". Lalu mereka berkata, "maka tuhan
kamu tidak ada". "buktikan jika Dia itu ada". Makanya dia tertegun, dia tidak punya
jawabannya. makanya dia berhenti sholat selama 40 hari. Lalu, dia mencari-cari jawabannya.
dan akhirnya dia mengambil pemikirannya Ja'ad yang menyangkal sifat-sifat Allah. Lalu, dia
datang kembali pada mereka dengan pemikiran tentang tuhan. Namun dengan tuhan yang
tidak punya sifat tuhan. Yang merupakan suatu sosok yang lahir dari imajinasinya.
Pemikiran dia tersebar luas yang sebagian diantaranya mengendap pada pemikiran
Mu'tazilah. Namun tidak pada pandangan yang ekstrim seperti yang dia anut. Dia juga punya
beberapa pandangan ekstrim yang sebagian besar tidak sama dengan Mu'tazilah. Dia
berpendapat bahwa Surga dan Neraka pada akhirnya akan sirna. Bahwa keimanan tidak lain
adalah pengetahuan, dan jika tidak punya iman adalah kejahilan. Karena keimaan sebagai
lawannya adalah keadaan yang berilmu. dia juga meyakini, Tidak ada orang yang melakukan
apapun karena segalanya dilakukan oleh Allah. Tidak ada manusia yang melakukkan apapun
karena Allah-lah satu-satunya yang melakukan segala hal.
Ada orang lain yang berkata demikian bukan? siapa yang berpendapat demikian di
zaman kita? Ya, Harun Yahya. itu sama persis dengan pernyataan Harun Yahya. "Kita tidak
melakukan apapun, segala sesuatunya dilakukan oleh Allah". dengan mengunakan ayat yang

8
Islamic Online University Aqidah 201

sama yang digunakan oleh Jahm. Engkau tidak melempar saat engkau melempar namun
Allah-lah yang melempar.
Meskipun kita melihat pemikiran itu begitu bersejarah di masa lalu dan mengira itu
sudah benar, mengapa perlu mempelajarinya lagi? Karena di masa sekarang, ada sebagian
orang yang menggaungkan pemikiran itu, dan mengulangi pendahulu mereka. Mereka tidak
berpikir jika orang lain akan setuju dengan kamu. mereka telah mengulangi berkali-kali
pemikiran yang sama, mengulangi pola yang sama. Seperti para orang terdahulu yang sesat
dari asal mula cabang-cabang Islam. Karena orang-orang dahulu telah sesat. Lalu, mereka
muncul dengan pemikiran pada pendahulu mereka yang sesat, yang sama dan diulang
kembali. Dan berbagi dengan kelompok sesat lainnya, Membangkitkan kembali yang sudah
lama sekarat, kemudian dibangkitkan kembali dengan nama lain. Dengan tampilan lain
dengan pencitraan dan julukan lain. Agar pemikiran yang sama yang dulu sudah sesat, namun
mereka sematkan terminilogi Islami yang baru. Agar lebih mudah diterima oleh masyarakat
sekarang.
Namun, faktanya, ini masih pemikiran yang sama. Sebenarnya, dua golongan terakhir
telah kita bahas di sesi sebelumnya Yaitu sekte Jabriyah atau Determinis dan Qadariyah atau
kebebasan kehendak. Mereka yang meyakini bahwa manusia punya kehendak yang mutlak.
Ada beberpa haditst yang membahas tentang Qadariyah, bahwa mereka adalah golongan dari
umat Islam. Jangan membesuk ketika mereka sakit atau mengikuti pemakaman mereka ketika
mati. Namun ini bukan hadits shahih, yang mengatakan mereka sebagai golongan. Namun,
ada beberapa pernyataan yang bisa dikatakan sebagai pernyataan dari sahabah dan pihak
lainnya yang membuat pernyataan itu. Namun bukan berasal dari Rasulullah. Sedangkan
pernyataan tentang Khawarij ada pernyataan yang serupa yang membahas tentang Khawarij
dalam haditst shahih. jadi kita tidak menyamakan keduanya.

Video 21d

Poin terakhir yang akan saya bahas, tentang cara Ibnul Abi Izz dalam menelaah berbagai
golongan ini. Yang ditekankan yaitu mereka saling menghasilkan golongan satu sama lain.
Jika salah satunya menjadi pembenci Ali dan membenci Ali dengan berlebihan, yaitu sekte
Khawarij, menyatakan Ali sebagai kafir. Maka tanggapan untuk itu adalah sekte Syiah yang
mencintai Ali yang berlebihan dalam mencintai dia. Sampai-sampai mereka menyatakan Ali
sebagai Tuhan. Maka yang bisa kalian temukan adalah, sejalan perkembangan, semua sekte
sesat ini terus bermunculan.
Tanggapan bagi mereka adalah kesesatan yang lebih jauh dari sisi lainnya. Tentunya,
umat Muslim secara umum, tetap di jalan tengah. Para ulama yang umum berupaya
mengindari setiap jalan yang ekstrim. Namun yang paling banyak, bisa kita lihat sebagai
bentukan dari tanggapan-tanggapan tersebut. Namun, sebagai tanggapan yang tidak seimbang
terhadap kesesatan yang ada.
Ibnul Abi Izz kemudian menutup teksnya, dengan menyatakan "sekte-sekte sesat
memperlakukan wahyu dalam dua cara". Yaitu dua cara mendasar yang mereka gunakan
dalam mendekati teks kitab suci. Yang pertama yaitu mereka mengubah makna teks. Itulah
cara yang pertama. Pendekatan yang satu lagi, mereka memandang Nabi sebagai sosok yang

9
Islamic Online University Aqidah 201

jahil/bodoh. Itulah kedua dasar yang mereka gunakan untuk mendekati teks wahyu. Dengan
mengubah makna teks wahyu dengan penyalahartian. Mengubah teks menjadi simbolisme.
Mereka memberikan pada teks makna yang mereka inginkan. Sama halnya saat kita
membahas tentang Sufi, sebelumnya. mereka adalah sekte yang menafsirkan dalil, yang
artinya Allah menjadikan gunung sebagai pasak. Mereka mengklaim sebenarnya mengacu
pada Autad. yaitu sang Rijalul Ghaib sosok yang tak terlihat yang tetap menjaga dunia
berputar Jika mereka tidak ada, maka dunia akan berhenti berputar. Teks yang biasa dipahami
secara umum oleh semua orang Itulah pehamanan umumnya, bahkan Jika kita lihat dikatakan
sebagai salah satu keajaiban ilmiah dari Qur'an.
Allah mendeskripsikan gunung sebagai pasak. Seperti halnya pasak tenda. Yang
menahan tenda. Namun mereka mengatakan ini merujuk pada sosok yang tak terlihat sebagai
administrasi yang menjalankan dunia. Dalam melakukan cara itu saat mereka mengatakan
bahwa Nabi tidak berniat untuk menyampaikan makna yang jelas dari semua kata itu.
Para nabi hanya menyampaikan kebenaran yang bisa kami temukan melalui akal. Ada
makna jelas yang disampaikan Nabi seperti yang dinyatakan Qur'an. Namun, mereka malah
mengatakan bukan ini makna sebenarnya yang dimaksud. Ada makna dalam dan luar. Makna
luar adalah yang disampaikan para Nabi namun, bukan itu makna yang sebenarnya. Lalu, apa
yang mereka tuduhkan tentang para Nabi? apa yang sudah mereka sampaikan? Mereka tidak
menilai jika para nabi itu salah, namun mereka menilai bahwa para Nabi itu jahil. Mereka
sendiri jahil makanya memberikan klarifikasi tentang makna dalam. Makanya mereka
muncul untuk memberikan penjelasan.
Pembahasan sebelumnya tentang Ibn Arabi, Kita membahas tentang batu bata perak dan
batu bata emas Nabi Muhammad sebagi batu bata perak dan dia (Ibn Arabi) sebagai batu bata
emas. Makna dalam itulah yang merupakan nilai sebenarnya. Itulah konsekuensi dari klaim
mereka. Tentunya, masih ingat apa pendapat mereka tentang para sahabah? yang tidak
memiliki pemahaman seperti mereka. Lagi-lagi para sahabah pun dicap jahil. Mereka tidak
tahu apa yang dimaksud dengan perkataan Rasulullah. mereka memahaminya dengan keliru.
Syiah ini lebih baik dari para sahabat. Semua pernyataan Rasul bahwa sahabat adalah
generasi terbaik dan semacamnya, Bagi mereka, semua itu tidak ada maknanya.
Inilah kedua poin atau kedua prinsip cara yang digunakan sekte sesat dalam memahami
teks wahyu. Di satu sisi, mereka mengubah makna teks guna disesuaikan dengan pemikiran
apapun yang ingin mereka gagas. Di sisi lainnya mereka pun menuding Nabi sebagai sosok
yang jahil.
Itulah poin simpulan yang penting. saya telah menekankannya dua kali dan tidak ada
satupun yang akan muncul di ujian. Apakah ada pertanyaan? Saya harus memeriksa
silabusnya. Sudah ada disana. Namun, saya tdak begitu yakin, makanya saya haru memeriksa
silabusnya dan melihat apa yang tercantum disana. Insya Allah.
Ada pernyataan dari ikhwan, tentang Hamzah Yusuf yang mengumumkan penjelasannya
tentang Aqidah Tahawiyah yang baru saja terbit. Apa posisi kita semestinya berkenaan
dengan buku penjelasnya (syarah) itu? Seperti saya katakan sebelumnya, biarkanlah buku itu
terbit dan kita lihat apa pendapat dia. Karena, terkadang dia terkadang membuat pernyataan
yang solid dan bisa dipertanggungjawabkan dan diterima. Dia juga bisa menafsirkannya
dalam suatu cara yang membuat kamu heran dan berkata: "hei, tampaknya bagus".
"Tampaknya dia di jalur yang benar". Namun, di saat yang sama dia juga punya penjelasan

10
Islamic Online University Aqidah 201

terhadap Qasidatul Burdah. Yang berisikan syirik dari awal sampai akhir. Yang biasanya
dibacakan dalam perayaan maulid Nabi Muhammad. Jadi, di satu sisi, dia punya buku itu
untuk tetap menjaga timnya bahagia. Lalu, dia sengaja menulis buku satunya lagi. Yang diisi
lain, digunakan untuk menunjukkan bahwa dia berada di kubu ortodoks. Jadi, dia bisa
memainkan akhir dari kedua game itu. Dan lagi, saya tidak bermaksud mempengaruhi. Saya
hanya mencoba memberi masukan tentang perkara itu. Mungkin dia menuliskan tafsir atau
suatu penjelasan yang menunjukkan jati dirinya dengan sangat jelas. Kita bisa melihatnya,
Insya Allah.
Apa ada pertanyaan lagi? atau ada komentar? Ada pertanyaan yang merujuk kembali
pada persoalan incest yang dulu diperbolehkan di masanya Nabi Adam. Bisakah ini menjadi
pembenaran bagi kasus incest yang tejadi di kalangan para Nabi, setelah Adam. Di Perjanjian
Lama, ada beberapa pasal hukum berbeda yang membahas tentang hubungan ayah dan
puterinya dan hubungan sedarah lainnya. Yang pertama dan utama incest yang disebutkan di
Perjanjian Lama, diluar pembahasan, saudara dan saudari menjadi ayah dan puterinya Kami
menyatakan bahwa bentuk incest itu tidak diperbolehkan untuk terus berkembang. Hubungan
incest yang diperbolehkan di antara suadara dan saudari dan sebelum masa peradaban
manusia berkembang. Hukum incest sudah ditegakkan, hukum incest sudah diberlakukan.
Yang bisa kita pahami tentang incest yang disebutkan pada Perjanjian Lama, semua
hukum itu di luar batasan waktu itu. Lama setelah hukum diberlakukan. Itulah sebabnya kita
menolak hukum itu sebagai perbuatan hukum para Nabi. Pertanyaan yang kedua tentang
umat Yahudi sebagai kaum yang terpilih. Bagaimana mereka bisa terpilih? Allah telah
memilih mereka untuk diutus para Nabi di kalangan mereka sebagian berkah yang Dia
berikan kepada Nabi Ibrahim melalui Nabi Ishak. Dulu ada berkah yang Allah pilihkan Nabi
untuk diutus kepada mereka. Makanya, kita bisa mengatakan bahwa pengutusan sejumlah
Nabi, memang di satu sisi merupakan berkah. Namun, di sisi lain ia juga merupakan sebagai
indikasi kebandelan mereka dan keengganan mereka untuk berserah diri pada para Nabi.
Karena kbersama dengan berkah itu mereka membunuh para Nabi.
Jadi, fakta bahwa Allah telah mengutus Nabi dari kaum Yahudi bukan semata-mata
sebuah kehormatan bagi mereka. Merupakan kehormatan bagi Nabi Ibrahim dan
keturunannya. namun hanya sebagian yang bertakwa. Yang tidak bertakwa, pengiriman
utusan itu hanya menunjukkan sifat mereka yang bandel dan memberontak terhadap Tuhan.
Jadi, itu bukan suatu hal yang sekedar bisa dibanggakan. Mereka menggunakannya sebagai
argumen bahwa mereka adalah kaum terpilih. Artinya hanya mereka yang dijamin masuk
Surga, yang lainnya tidak. Surga hanya milik mereka sama halnya dengan Tuhan yang hanya
tuhan mereka.
Bahkan di Talmud dinyatakan bahwa kaum manusia lainnya sebenarnya adalah binatang,
yang telah Allah tempatkan wujud manusia guna memudahkan para Yahudi untuk berurusan
dengan mereka. Dalam hal ini mereka menganggap akan susah jika berbicara dengan keledai
atau kuda yang tampak janggal. Makanya Allah memberi wujud manusia pada binatang itu
agar lebih nyaman bagi Yahudi.
Pertanyaan yang ketiga tentang izin Allah atas terjadinya dosa. Apakah pelaku dosa itu
yang telah Allah izinkan untuk berbuat dosa dihukum atas dosanya itu? Jawabannya: "ya".
Maksud saya, fakta bahwa Allah telah mengizinkan dosa terjadi tidak mengubah ia dari
statusnya sebagai dosa. Dan orang yang melakukannya sebagai pendosa dan tentunya bisa

11
Islamic Online University Aqidah 201

dihukum. Jika dia bertaubat tentunya Allah bisa mengampuni dia. Jika sebaliknya, maka itu
bertentangan dengan Allah, Dia bisa menerima taubatnya di dunia dan akhirat, atau di dunia
dan tidak di akhirat. atau hanya di akhirat, semuanya terserah Allah bagaimana cara Dia
menghukum Dia atas dosanya.

12

Anda mungkin juga menyukai