0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan15 halaman

Diare

Dokumen ini membahas tentang diare, termasuk definisi, penyebab, gejala, patofisiologi, pencegahan, pengobatan, dan asuhan keperawatan yang diperlukan. Diare dapat disebabkan oleh infeksi atau non-infeksi dan dapat berakibat serius, terutama pada anak-anak dan lansia. Penanganan meliputi rehidrasi, terapi farmakologis, dan intervensi keperawatan untuk memantau dan mengelola kondisi pasien.

Diunggah oleh

2025207209261
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan15 halaman

Diare

Dokumen ini membahas tentang diare, termasuk definisi, penyebab, gejala, patofisiologi, pencegahan, pengobatan, dan asuhan keperawatan yang diperlukan. Diare dapat disebabkan oleh infeksi atau non-infeksi dan dapat berakibat serius, terutama pada anak-anak dan lansia. Penanganan meliputi rehidrasi, terapi farmakologis, dan intervensi keperawatan untuk memantau dan mengelola kondisi pasien.

Diunggah oleh

2025207209261
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


Keperawatan Anak
DIARE

Oleh :

Nama : ARISKA RAHMA SIMORANGKIR


NPM : 240103097N
Dosen Pembimbing :

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS KESEHATAN
UNIVERSITAS ASIYAH PRINGSEWU
2024/2025
LAPORAN PENDAHULUAN DIARE

A. Pengertian

Diare didefinisikan sebagai peningkatan frekuensi buang air besar (BAB)


lebih dari 3 kali sehari dengan konsistensi feses yang cair atau encer. Diare
dapat bersifat akut (kurang dari 14 hari) atau kronis (lebih dari 14 hari).
Kondisi ini dapat menyebabkan dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit,
terutama pada anak-anak dan lansia (World Health Organization, 2017).

B. Penyebab

Penyebab diare dapat dibagi menjadi beberapa kategori :


1. Infeksi
a) Bakteri (E. coli, Salmonella, Shigella, Vibrio cholerae)
(Guerrant dkk., 2019)

b) Virus (Rotavirus, Norovirus, Adenovirus) (Liu dkk., 2016)


c) Parasit (Giardia lamblia, Entamoeba histolytica) (Shirley dkk., 2018)
2. Non-Infeksi
a) Intoleransi makanan (laktosa, gluten)
b) Efek samping obat (antibiotik, antasida mengandung magnesium)
c) Penyakit kronis (Irritable Bowel Syndrome/IBS, penyakit Crohn)
d) Keracunan makanan (toksin bakteri seperti Staphylococcus aureus)
(Schiller dkk., 2017)

C. Tanda gejala

Gejala klinis diare meliputi (Perry & Potter, 2018):


1. Frekuensi BAB meningkat (>3x/hari) dengan feses cair
2. Nyeri perut atau kram
3. Mual dan muntah
4. Demam (jika disebabkan infeksi)
5. Tanda dehidrasi (haus, lemas, mata cekung, turgor kulit menurun, oliguria)
6. Pada kasus berat: hipotensi, takikardia, syok
D. Patofisiologi

Diare terjadi melalui beberapa mekanisme:


1. Osmotik
Akibat malabsorpsi zat tertentu (misalnya laktosa), menarik air ke dalam
lumen usus.
2. Sekretorik
Racun bakteri (seperti pada kolera) merangsang sekresi cairan dan
elektrolit berlebihan.
3. Inflamasi
Infeksi atau penyakit inflamasi usus menyebabkan kerusakan mukosa,
mengganggu absorpsi.
4. Motilitas Usus Meningkat
Hiperperistaltik menyebabkan transit makanan terlalu cepat.

E. Pencegahan

1. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)


 Cuci tangan pakai sabun sebelum makan dan setelah BAB.
 Konsumsi air bersih yang matang.
2. Sanitasi Lingkungan
 Pengelolaan limbah dan kebersihan makanan.
3. Imunisasi
 Vaksin Rotavirus untuk anak-anak.
4. Edukasi Gizi
 Hindari makanan terkontaminasi dan pantang laktosa jika intoleran.

F. Pengobatan

1. Rehidrasi
 Oralit (cairan rehidrasi oral/ORS) untuk mengganti cairan dan
elektrolit.
 Infus NaCl 0,9% atau Ringer Laktat pada dehidrasi berat.
2. Terapi Farmakologis
 Antibiotik (jika infeksi bakteri, seperti Ciprofloxacin untuk E. coli).
 Antidiare simptomatik (Loperamide) kontraindikasi pada diare
infeksius berat.
 Zinc supplementation (pada anak-anak untuk memperbaiki fungsi
usus).
3. Diet
 BRAT (Banana, Rice, Applesauce, Toast) untuk mengurangi iritasi
usus.
 Hindari susu dan makanan berlemak sementara.

G. Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian Keperawatan
a. Identitas Pasien:
1) Nama, umur, jenis kelamin, alamat
2) Tanggal masuk, nomor register
3) Diagnosa medis: Diare akut/kronis
b. Riwayat Kesehatan:
1) Keluhan utama: frekuensi BAB, konsistensi feses
2) Riwayat penyakit sekarang: onset, durasi, faktor pencetus
3) Riwayat penyakit dahulu: riwayat diare sebelumnya, penyakit kronis
4) Riwayat keluarga: penyakit menular dalam keluarga
c. Pemeriksaan Fisik:
1) Keadaan umum: lemah, kesadaran
2) Tanda vital: TD, nadi, suhu, pernapasan
3) Abdomen: bising usus, nyeri tekan
Tanda dehidrasi:
 Ringan: haus, turgor kulit normal
 Sedang: mata cekung, turgor menurun
 Berat: kesadaran menurun, oliguria
d. Pemeriksaan Penunjang:
1) Laboratorium: elektrolit, darah lengkap
2) Pemeriksaan feses: kultur, mikroskopis
2. Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul (DPP PPNI, 2025)
a. Diare ( D.0020 )
1) Penyebab
a) Penyebab fisiologis
 Inflamasi gastrointestinal
 Iritasi gastrointestinal
 Proses infeksi
 Malabsorpsi
b) Penyebab psikologis
 Kecemasan
 Tingkat stres tinggi
c) Penyebab Situasional
 Terpapar kontaminan
 Terpapar toksin
 Penyalahgunaan laksatif
 Penyalahgunaan zat
 Program pengobatan (agen tiroid, analgesik, pelunak feses,
ferosulfat, antasida, cimetidine, dan antibiotik)
 Perubahan air dan makanan
 Bakteri pada air
2) Tanda dan gejala
a) DS : Tidak ada
b) DO :Defekasi lebih dari tiga kali dalam 24 jam, Feses lembek
atau cair
3) Luaran
Kriteria hasil untuk membuktikan bahwa eliminasi fekal membaik
adalah:
a) Kontrol pengeluaran feses meningkat
b) Keluhan defekasi lama dan sulit menurun
c) Mengejan saat defekasi menurun
d) Konsistensi feses membaik
e) Frekuensi BAB membaik
f) Peristaltik usus membaik
4) Rencana Keperawatan
(Persatuan Perawat Nasional Indonesia, 2019)

a) Manajemen Diare (I.03101)


Tindakan yang dilakukan pada intervensi manajemen diare
berdasarkan SIKI, antara lain:
Observasi
 Identifikasi penyebab diare (mis: inflamasi gastrointestinal,
iritasi gastrointestinal, proses infeksi, malabsorpsi, ansietas,
stres, obat-obatan, pemberian botol susu)
 Identifikasi Riwayat pemberian makanan
 Identifikasi gejala invaginasi (mis: tangisan keras,
kepucatan pada bayi)
 Monitor warna, volume, frekuensi, dan konsistensi feses
 Monitor tanda dan gejala hypovolemia (mis: takikardia,
nadi teraba lemah, tekanan darah turun, turgor kulit turun,
mukosa kulit kering, CRT melambat, BB menurun)
 Monitor iritasi dan ulserasi kulit di daerah perianal
 Monitor jumlah dan pengeluaran diare
 Monitor keamanan penyiapan makanan
Terapeutik
 Berikan asupan cairan oral (mis: larutan garam gula, oralit,
Pedialyte, renalyte)
 Pasang jalur intravena
 Berikan cairan intravena (mis: ringer asetat, ringer laktat),
jika perlu
 Ambil sampel darah untuk pemeriksaan darah lengkap dan
elektrolit
 Ambil sampel feses untuk kultur, jika perlu
Edukasi
 Anjurkan makanan porsi kecil dan sering secara bertahap
 Anjurkan menghindari makanan pembentuk gas, pedas, dan
mengandung laktosa
 Anjurkan melanjutkan pemberian ASI
Kolaborasi
 Kolaborasi pemberian obat antimotilitas (mis: loperamide,
difenoksilat)
 Kolaborasi pemberian antispasmodik/spasmolitik (mis:
papaverine, ekstrak belladonna, mebeverine)
 Kolaborasi pemberian obat pengeras feses (mis: atapugit,
smektit, kaolin-pektin)
b) Pemantauan Cairan (I.03101)
Tindakan yang dilakukan pada intervensi pemantauan cairan
berdasarkan SIKI, antara lain:
Observasi
 Monitor frekuensi dan kekuatan nadi
 Monitor frekuensi napas
 Monitor tekanan darah
 Monitor berat badan
 Monitor waktu pengisian kapiler
 Monitor elastisitas atau turgor kulit
 Monitor jumlah, warna, dan berat jenis urin
 Monitor kadar albumin dan protein total
 Monitor hasil pemeriksaan serum (mis: osmolaritas serum,
hematokrit, natrium, kalium, dan BUN)
 Monitor intake dan output cairan
 Identifikasi tanda-tanda hypovolemia (mis: frekuensi nadi
meningkat, nadi teraba lemah, tekanan darah menurun,
tekanan nadi menyempit, turgor kulit menurun, membran
mukosa kering, volume urin menurun, hematokrit
meningkat, hasil, lemah, konsentrasi urin meningkat, berat
badan menurun dalam waktu singkat)
 Identifikasi tanda-tanda hypervolemia (mis: dispnea, edema
perifer, edema anasarca, JVP meningkat, CVP meningkat,
refleks hepatojugular positif, berat badan menurun dalam
waktu singkat)
 Identifikasi faktor risiko ketidakseimbagnan cairan (mis:
prosedur pembedahan mayor, trauma/perdarahan, luka
bakar, apheresis, obstruksi intestinal, peradangan pancreas,
penyakit ginjal dan kelenjar, disfungsi intestinal)
Terapeutik
 Atur interval waktu pemantauan sesuai dengan kondisi
pasien
 Dokumentasikan hasil pemantauan
Edukasi
 Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan
 Dokumentasikan hasil pemantauan
b. Risiko Ketidakseimbangan Elektrolit ( D.0037 )
1) Faktor resiko
Untuk dapat mengangkat diagnosis risiko ketidakseimbangan
cairan, Perawat harus memastikan bahwa salah satu dari risiko
dibawah ini muncul pada pasien, yaitu:
 Prosedur pembedahan mayor
 Trauma/perdarahan
 Luka bakar
 Aferesis
 Asites
 Obstruksi intestinal
 Peradangan pancreas
 Penyakit ginjal dan kelenjar
 Disfungsi intestinal
2) Luaran
Kriteria hasil untuk membuktikan bahwa keseimbangan cairan
meningkat adalah:
 Asupan cairan meningkat
 Output urin meningkat
 Membrane mukosa lembab meningkat
 Edema menurun
 Dehidrasi menurun
 Tekanan darah membaik
 Frekuensi nadi membaik
 Kekuatan nadi membaik
 Tekanan arteri rata-rata membaik
 Mata cekung membaik
 Turgor kulit membaik
3) Rencana Keperawatan
a. Manajemen Cairan (I.03098)
Tindakan yang dilakukan pada intervensi manajemen cairan
berdasarkan SIKI, antara lain:
Observasi
 Monitor status hidrasi (mis: frekuensi nadi, kekuatan nadi,
akral, pengisian kapiler, kelembaban mukosa, turgor kulit,
tekanan darah)
 Monitor berat badan harian
 Monitor berat badan sebelum dan sesudah dialisis
 Monitor hasil pemeriksaan laboratorium (mis: hematokrit,
Na, K, Cl, berat jenis urin, BUN)
 Monitor status hemodinamik (mis: MAP, CVP, PAP,
PCWP, jika tersedia)
Terapeutik
 Catat intake-output dan hitung balans cairan 24 jam
 Berikan asupan cairan, sesuai kebutuhan
 Berikan cairan intravena, jika perlu

Kolaborasi
 Kolaborasi pemberian diuretik, jika perlu
b. Pemantauan Cairan (I.03121)
Tindakan yang dilakukan pada intervensi pemantauan cairan
berdasarkan SIKI, antara lain:
Observasi
 Monitor frekuensi dan kekuatan nadi
 Monitor frekuensi napas
 Monitor tekanan darah
 Monitor berat badan
 Monitor waktu pengisian kapiler
 Monitor elastisitas atau turgor kulit
 Monitor jumlah, warna, dan berat jenis urin
 Monitor kadar albumin dan protein total
 Monitor hasil pemeriksaan serum (mis: osmolaritas serum,
hematokrit, natrium, kalium, dan BUN)
 Monitor intake dan output cairan
 Identifikasi tanda-tanda hypovolemia (mis: frekuensi nadi
meningkat, nadi teraba lemah, tekanan darah menurun,
tekanan nadi menyempit, turgor kulit menurun, membran
mukosa kering, volume urin menurun, hematokrit
meningkat, hasil, lemah, konsentrasi urin meningkat, berat
badan menurun dalam waktu singkat)
 Identifikasi tanda-tanda hypervolemia (mis: dispnea, edema
perifer, edema anasarca, JVP meningkat, CVP meningkat,
refleks hepatojugular positif, berat badan menurun dalam
waktu singkat)
 Identifikasi faktor risiko ketidakseimbagnan cairan (mis:
prosedur pembedahan mayor, trauma/perdarahan, luka
bakar, apheresis, obstruksi intestinal, peradangan pancreas,
penyakit ginjal dan kelenjar, disfungsi intestinal)

Terapeutik
 Atur interval waktu pemantauan sesuai dengan kondisi
pasien
 Dokumentasikan hasil pemantauan
Edukasi
 Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan
 Dokumentasikan hasil pemantauan
c. Risiko Hipovolemia (D.0034)
1) Faktor risiko
Untuk dapat mengangkat diagnosis risiko hipovolemia, Perawat
harus memastikan bahwa salah satu dari risiko dibawah ini muncul
pada pasien, yaitu:
 Kehilangan cairan secara aktif
 Gangguan absorpsi cairan
 Usia lanjut
 Kelebihan berat badan
 Status hipermetabolik
 Kegagalan mekanisme regulasi
 Evaporasi
 Kekurangan intake cairan
 Efek agen farmakologis
2) Luaran
Kriteria hasil untuk membuktikan bahwa status cairan membaik
adalah:
 Kekuatan nadi meningkat
 Output urin meningkat
 Membran mukosa lembab meningkat
 Ortopnea menurun
 Dispnea menurun
 Paroxysmal nocturnal dyspnea (PND) menurun
 Edema anasarka menurun
 Edema perifer menurun
 Frekuensi nadi membaik
 Tekanan darah membaik
 Turgor kulit membaik
 Jugular venous pressure membaik
 Hemoglobin membaik
 Hematokrit membaik
3) Rencana Keperawatan
a) Manajemen hipovolemia (I.03116)
Tindakan yang dilakukan pada intervensi manajemen
hipovolemia berdasarkan SIKI, antara lain:
Observasi
 Periksa tanda dan gejala hipovolemia (mis: frekuensi nadi
meningkat, nadi teraba lemah, tekanan darah menurun,
tekanan nadi menyempit, turgor kulit menurun, membran
mukosa kering, volume urin menurun, hematokrit
meningkat, haus, lemah)
 Monitor intake dan output cairan
Terapeutik
 Hitung kebutuhan cairan
 Berikan posisi modified Trendelenburg
 Berikan asupan cairan oral
Edukasi
 Anjurkan memperbanyak asupan cairan oral
 Anjurkan menghindari perubahan posisi mendadak
Kolaborasi
 Kolaborasi pemberian cairan IV isotonis (mis: NaCL, RL)
 Kolaborasi pemberian cairan IV hipotonis (mis: glukosa
2,5%, NaCl 0,4%)
 Kolaborasi pemberian cairan koloid (albumin, plasmanate)
 Kolaborasi pemberian produk darah

b) Pemantauan Cairan (I.03121)


Tindakan yang dilakukan pada intervensi pemantauan cairan
berdasarkan SIKI, antara lain:
Observasi
 Monitor frekuensi dan kekuatan nadi
 Monitor frekuensi napas
 Monitor tekanan darah
 Monitor berat badan
 Monitor waktu pengisian kapiler
 Monitor elastisitas atau turgor kulit
 Monitor jumlah, warna, dan berat jenis urin
 Monitor kadar albumin dan protein total
 Monitor hasil pemeriksaan serum (mis: osmolaritas serum,
hematokrit, natrium, kalium, dan BUN)
 Monitor intake dan output cairan
 Identifikasi tanda-tanda hypovolemia (mis: frekuensi nadi
meningkat, nadi teraba lemah, tekanan darah menurun,
tekanan nadi menyempit, turgor kulit menurun, membran
mukosa kering, volume urin menurun, hematokrit
meningkat, hasil, lemah, konsentrasi urin meningkat, berat
badan menurun dalam waktu singkat)
 Identifikasi tanda-tanda hypervolemia (mis: dispnea,
edema perifer, edema anasarca, JVP meningkat, CVP
meningkat, refleks hepatojugular positif, berat badan
menurun dalam waktu singkat)
 Identifikasi faktor risiko ketidakseimbagnan cairan (mis:
prosedur pembedahan mayor, trauma/perdarahan, luka
bakar, apheresis, obstruksi intestinal, peradangan
pancreas, penyakit ginjal dan kelenjar, disfungsi intestinal)
Terapeutik
 Atur interval waktu pemantauan sesuai dengan kondisi
pasien
 Dokumentasikan hasil pemantauan
Edukasi
 Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan
 Dokumentasikan hasil pemantauan
DAFTAR PUSTAKA

DPP PPNI. (2025). SDKI – Standart Diagnosis Keperawatan Indonesia.


[Link]

Guerrant, R. L., Walker, D. H., & Weller, P. F. (2019). Tropical Infectious Diseases
(3rd ed.). Elsevier.
Liu, L., Oza, S., Hogan, D., Perin, J., Rudan, I., Lawn, J. E., Cousens, S., Mathers, C.,
& Black, R. E. (2016). Global Burden of Diarrheal Diseases. The Lancet,
388(10053), 1459–1544. [Link]
Perry, A. G., & Potter, P. A. (2018). Clinical Nursing Skills & Techniques. Elsevier.
Persatuan Perawat Nasional Indonesia. (2019). Standar Intervensi Keperawatan
Indonesia (SIKI). PPNI.
Schiller, L. R., Pardi, D. S., & Sellin, J. H. (2017). Chronic Diarrhea: Diagnosis and
Management. Clinical Gastroenterology and Hepatology, 15(2), 182–193.
[Link]
Shirley, D.-A. T., Moonah, S. N., & Kotloff, K. L. (2018). Pathogenesis of Infectious
Diarrhea. Current Opinion in Gastroenterology, 34(1), 4–10.
[Link]
World Health Organization. (2017). Diarrhoeal Disease. [Link]
room/fact-sheets/detail/diarrhoeal-disease

Anda mungkin juga menyukai