TUGAS TUTORIAL 3
Model-model Pembelajaran Inovatif
Nama : RATNA SARI
Semester : VII (Tujuh)
NIM : 857361836
UPBJJ-UT : Bogor
Pokjar : Kota Wisata
Masa Registrasi : 2022.2
PROGAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS TERBUKA
BOGOR
2025
RENCANA INOVASI PEMBELAJARAN BERBASIS TIK
Kasus 1 – SMA di Surabaya
1. Pendahuluan
Perkembangan teknologi digital menuntut sekolah untuk mengintegrasikan Teknologi
Informasi dan Komunikasi (TIK) secara lebih bermakna dalam pembelajaran. Berdasarkan
laporan Kemendikbudristek (2024), banyak guru masih memanfaatkan teknologi secara
minimal, seperti hanya menampilkan slide PowerPoint tanpa memanfaatkan multimedia
interaktif. Hal ini juga terjadi pada salah satu SMA di Surabaya yang telah memiliki
laboratorium TIK, tetapi belum mampu meningkatkan keterlibatan siswa secara signifikan.
Evaluasi pembelajaran juga masih berfokus pada hafalan sehingga tidak mengukur
keterampilan berpikir kritis, kreativitas, maupun keterampilan abad 21. Oleh karena itu, inovasi
pembelajaran berbasis TIK perlu dirancang agar proses belajar menjadi lebih interaktif,
aplikatif, dan berorientasi pada pengembangan kemampuan siswa secara komprehensif.
2. Analisis Masalah
a. Pemanfaatan TIK yang terbatas
Guru memanfaatkan TIK hanya sebagai media presentasi satu arah menggunakan slide
PowerPoint. Pemanfaatan fitur interaktif seperti simulasi, kuis digital, dan aplikasi interaktif
belum dilakukan. Siswa pun tidak mengoperasikan perangkat TIK secara mandiri sehingga
pembelajaran bersifat pasif.
b. Multimedia interaktif belum digunakan
Multimedia interaktif seperti video interaktif, simulasi, dan modul digital mampu
meningkatkan eksplorasi konsep siswa. Namun guru lebih banyak menggunakan multimedia
non-interaktif seperti slide standar dan video pasif yang tidak melibatkan respons siswa.
c. Evaluasi pembelajaran tidak komprehensif
Penilaian yang dilakukan masih fokus pada ranah kognitif tingkat rendah (hafalan).
Instrumen nontes seperti rubrik, observasi, jurnal refleksi, dan penilaian proyek belum
digunakan sehingga aspek afektif dan psikomotor tidak terukur dengan baik.
d. Keterlibatan siswa rendah
Karena pembelajaran berpusat pada guru, siswa tidak banyak terlibat dalam proses diskusi,
analisis, atau kegiatan praktis berbasis teknologi. Motivasi belajar pun cenderung rendah
karena pembelajaran tidak menarik atau interaktif.
3. Rancangan Inovasi Pembelajaran
a. Model Pembelajaran: Flipped Classroom Berbasis TIK
Model flipped classroom dipilih karena mampu memaksimalkan penggunaan multimedia
interaktif. Materi dasar diberikan melalui video dan aktivitas digital di rumah, sedangkan
waktu di kelas difokuskan pada analisis, pemecahan masalah, dan diskusi kolaboratif.
b. Penggunaan Multimedia Interaktif & Non-Interaktif
Multimedia Interaktif
1. Video interaktif menggunakan Edpuzzle/YouTube dengan pertanyaan refleksi.
2. Simulasi digital (PhET HTML5 atau aplikasi interaktif lain).
3. Kuis interaktif menggunakan Kahoot atau Quizizz untuk meningkatkan motivasi.
Multimedia Non-Interaktif
1. PowerPoint yang lebih kaya infografik, bukan hanya teks.
2. Artikel digital & e-book untuk pendalaman materi.
Integrasi TIK dalam alur pembelajaran
1. Pra-Kelas: siswa menonton video interaktif + kuis formatif.
2. Dalam Kelas: diskusi kelompok, analisis kasus, dan eksplorasi simulasi digital.
3. Pasca-Kelas: siswa membuat mind map digital (Canva/MindMeister) sebagai refleksi.
c. Strategi Evaluasi Hasil Belajar
Evaluasi Tes
1. Tes formatif digital (Google Forms, Quizizz).
2. Tes sumatif berupa uraian untuk menilai analisis dan pemahaman mendalam.
Evaluasi Nontes
1. Rubrik observasi penggunaan multimedia & keterlibatan siswa.
2. Jurnal refleksi digital untuk mengukur afektif.
3. Proyek mini berupa infografis digital untuk menilai kreativitas dan pemahaman
konsep.
4. Potensi Dampak Inovasi
1. Keterlibatan siswa meningkat melalui media interaktif dan aktivitas kolaboratif.
2. Pemahaman konsep lebih dalam karena siswa mengeksplorasi materi melalui simulasi
digital.
3. Guru berperan sebagai fasilitator, bukan pusat informasi.
4. Evaluasi lebih komprehensif, mencakup ranah kognitif, afektif, dan psikomotor.
5. Keterampilan abad 21 berkembang, terutama literasi digital, kolaborasi, dan
kreativitas.
Rubrik Penilaian
Aspek Penilaian Kriteria Deskripsi Penilaian Skor
Analisis sangat mendalam, kontekstual, dan
Analisis Masalah Sangat
berbasis data; mengkaitkan permasalahan TIK, 25–30
(30%) Baik
multimedia, dan evaluasi.
Baik Analisis cukup baik namun kedalaman terbatas. 20–24
Analisis dangkal, hanya menjelaskan permukaan
Cukup 10–19
masalah.
Kurang Tidak ada analisis. 0–9
Rancangan Inovasi Sangat Rancangan inovatif, aplikatif, kreatif, sesuai
30–35
(35%) Baik model pembelajaran.
Baik Rancangan cukup inovatif namun belum 20–29
Aspek Penilaian Kriteria Deskripsi Penilaian Skor
optimal.
Cukup Rancangan standar dan minim kreativitas. 10–19
Kurang Tidak ada rancangan. 0–9
Integrasi TIK & Sangat Integrasi multimedia interaktif & non-interaktif
20–25
Evaluasi (25%) Baik sangat jelas; evaluasi tes–nontes komprehensif.
Baik Integrasi cukup baik. 15–19
Cukup Integrasi minim. 5–14
Kurang Tidak ada integrasi. 0–4
Bahasa & Sangat Bahasa akademik, rapi, referensi APA 7
8–10
Referensi (10%) Baik lengkap.
Baik Bahasa baik, referensi memadai. 6–7
Cukup Bahasa umum, referensi minim. 3–5
Tidak sesuai kaidah bahasa dan tidak ada
Kurang 0–2
referensi.
5. Daftar Pustaka (APA 7)
Basori, B. (2021). Integrasi teknologi dalam pembelajaran interaktif. Prenada Media.
Kemendikbudristek. (2024). Laporan pemanfaatan TIK dalam pembelajaran di sekolah
Indonesia. Direktorat Jenderal PAUD, Dikdas, dan Dikmen.
Sukardi, D., & Pratama, R. (2022). Efektivitas model flipped classroom dalam meningkatkan
hasil belajar siswa SMA. Jurnal Teknologi Pendidikan, 24(3), 155–167.
Wijayanti, A., & Lestari, F. (2023). Pemanfaatan multimedia interaktif untuk meningkatkan
motivasi belajar. Jurnal Inovasi Pembelajaran, 18(2), 101–112