0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan2 halaman

Document

Dalam sebuah kelas, sekelompok siswa menghadapi dilema saat tugas harus dikumpulkan, tetapi banyak dari mereka belum siap. Ketika salah satu siswa menawarkan jawaban yang didapat dari kakak kelas, perdebatan muncul tentang menyontek versus kejujuran. Akhirnya, mereka memilih untuk mengerjakan tugas dengan usaha sendiri, belajar bahwa kejujuran adalah pilihan yang benar meskipun sulit.

Diunggah oleh

khaeruzanizzul
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan2 halaman

Document

Dalam sebuah kelas, sekelompok siswa menghadapi dilema saat tugas harus dikumpulkan, tetapi banyak dari mereka belum siap. Ketika salah satu siswa menawarkan jawaban yang didapat dari kakak kelas, perdebatan muncul tentang menyontek versus kejujuran. Akhirnya, mereka memilih untuk mengerjakan tugas dengan usaha sendiri, belajar bahwa kejujuran adalah pilihan yang benar meskipun sulit.

Diunggah oleh

khaeruzanizzul
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Judul: Pilihan yang Sulit

Tokoh: Narator, Haris, Izzul, Lintang, Fauzi, Syifa, Innasya, Iza, Dewi.

Narator: Di dalam sebuah kelas, suasana terlihat tenang seperti biasa. Namun, di balik
ketenangan itu ada kegelisahan yang mulai muncul. Hari itu adalah hari pengumpulan tugas, dan
tidak semua dari mereka siap.

Haris: Eh, kalian sudah siap belum buat tugas hari ini?
Lintang: Jujur saja, aku belum selesai.
Fauzi: Sama, aku juga baru mengerjakan setengah.

Narator: Beberapa dari mereka mulai saling berpandangan. Rasa panik perlahan muncul.

Syifa: Kenapa kita malah menunda kemarin?


Iza: Iya, sekarang jadi keteteran.

Izzul: Sekarang menyesal juga percuma. Waktu tidak bisa diulang.

Narator: Ucapan itu membuat suasana semakin berat.

Dewi: Lalu sekarang kita harus bagaimana?

Narator: Tiba-tiba Innasya membuka tasnya dan mengeluarkan beberapa lembar kertas.

Innasya: Aku punya sesuatu. Ini jawaban tugas, aku dapat dari kakak kelas. Katanya ini sudah
pasti benar.

Narator: Semua terdiam. Tawaran itu terdengar seperti solusi, tetapi juga berisiko.

Fauzi: Serius? Ini bisa menyelamatkan kita.


Lintang: Tapi itu berarti kita menyontek, kan?

Narator: Perdebatan mulai muncul di antara mereka.

Syifa: Aku tidak yakin, rasanya tidak enak.


Haris: Tapi kalau tidak pakai itu, nilai kita bisa jelek.

Narator: Iza dan Dewi terlihat bimbang.

Iza: Aku takut, tapi juga tidak mau nilai hancur.


Dewi: Ini benar-benar pilihan sulit.

Izzul: Kalian serius mau ambil jalan itu?


Fauzi: Lalu kita harus bagaimana?
Izzul: Kalau kita pakai itu, berarti kita bohong pada diri sendiri. Nilai bagus tapi bukan hasil
sendiri bukan sesuatu yang bisa dibanggakan.

Narator: Suasana kembali hening. Kata-kata itu mulai menyentuh mereka.

Syifa: Aku lebih memilih jujur.


Iza: Aku juga, walaupun nilainya kecil.
Dewi: Yang penting kita berusaha sendiri.

Narator: Fauzi menghela napas panjang, lalu mengangguk.

Fauzi: Baiklah, aku ikut.

Narator: Haris tersenyum kecil.

Haris: Kita hadapi bersama saja.


Lintang: Iya, semampu kita.

Narator: Semua kini melihat ke arah Innasya.

Innasya: Maaf, aku kira ini cara terbaik untuk membantu.


Syifa: Niat kamu baik.
Iza: Tapi kita pilih cara yang benar.

Narator: Innasya perlahan menyimpan kembali kertas itu.

Innasya: Aku mengerti sekarang.

Narator: Waktu semakin sedikit. Mereka mulai mengerjakan tugas dengan kemampuan mereka
sendiri.

Haris: Yang penting kita berusaha.


Lintang: Dan tidak menyerah.

Narator: Bel berbunyi, guru akan segera datang.

Fauzi: Deg-degan juga.


Izzul: Sudah terlanjur, hadapi saja.

Narator: Mereka saling mengangguk, mencoba menguatkan satu sama lain.

Semua: Siap.

Narator: Hari itu mereka belajar bahwa kejujuran memang tidak selalu mudah, tetapi selalu
benar.

Anda mungkin juga menyukai