Bulan pertama di Akademi Akasa berlalu dengan cepat, membentuk
sebuah ritme yang ketat namun produktif bagi kelompok Loid. Setelah
gejolak minggu pertama, mereka semua menetap dalam jadwal latihan
pribadi mereka, mengulangi aktivitas yang sama setiap hari Sabtu dan
Minggu selama empat minggu berikutnya, sembari menjalani kelas wajib
dan pilihan mereka di hari-hari lainnya.
Bagi Nero, Oreki, Fuji, dan Taku, Aula Lima Elemen menjadi rumah kedua
mereka di akhir pekan. Setiap hari Sabtu dan Minggu, mereka akan
berkumpul di sana, membayar poin kontribusi mereka, dan menyebar ke
aula masing-masing.
Nero semakin tenggelam dalam misteri Api Nirvana. Berminggu-minggu di
aula Api, ia tak hanya terbiasa dengan lingkungan lahar yang
menenangkan, tetapi juga mulai memahami harmoni antara ketujuh api
di inti aula. Setiap kali ia bermeditasi di dekatnya, sirkuit sihirnya terasa
semakin melebar, dan inti api teratainya berdenyut lebih kuat. Ia tak lagi
hanya mengendalikan api dinginnya, tapi juga mengendalikan api ilusi
dan api kehidupan di saat yang sama, semakin Nero mengamati pusaran
7 api itu semakin Nero penasaran, apakah pusaran api ini memiliki
hubungan dengan api nirvana miliknya karena Nero ingat jika semua
kelopak sudah terbuka langkah selanjutnya adalah melakukan
pengabungan kedelapan karakteristik api yang berbeda dengan api
Nirvana yang berada di tengah dalam beberapa hal ini sama dengan
pusaran 7 api itu, semakin lama Nero berlatih di sana semakin mahir pula
Nero mengendalikan 3 api miliknya jika sebelumnya Nero hanya bisa
mengunakan 1 karakteristik api saja dan tidak bisa mengunakannya
secara bersamaan tapi sekarang bisa mengunakan 2 karakteristik api
miliknya di saat yang sama Nero bahkan mencobanya langsung di
ruangan latihan yang ada di aula itu dan hasilnya mengejutkan dengan
kombinasi api dingin dan api ilusi yang di gunakan di saat yang sama dia
bisa membuat lawannnya tidak berkutik tapi yang menjadi beban Nero
adalah pengunaan sihirnya yang terlalu boros Nero harus bisa
mengatasinya jika tidak dia tidak akan bertahan lama di pertarungan
nantinya
Oreki terus menghadapi tantangan kecepatan di Aula Petir. Elang petir
ungu itu menjadi musuh bebuyutannya. Minggu demi minggu, ia mencoba
berbagai formasi petir hitam, mulai dari jaring penangkap hingga kilatan
area luas. Ia belajar bahwa meskipun petir hitamnya memiliki daya hancur
luar biasa, presisi dan kecepatan adalah kunci untuk mengenai target
yang lincah. Setelah banyak kekalahan dan frustrasi, ia mulai memahami
cara memadukan petir hitamnya dengan teori yang dibuatnya selama
pertarungan sebelumnya oreki terus memperbarui informasi miliknya jika
sudah selesai bertanding yang awalnya butuh waktu setengah jam tapi
sekarang oreki hanya butuh sepuluh menit saja, tapi tentunya itu masih
belum memuaskan hasrat oreki dia terus mencari berbagai cara agar
petirnya bisa mengeluarkan kekuatan maksimalnya
Fuji menghabiskan waktunya di Aula Tanah, dengan tekun mempelajari
gundukan tanah cokelat keruh yang ia temukan. Ia menyerap mana dari
gundukan itu, merasakan struktur kepadatan yang ekstrem, dan mencoba
mereplikasi fondasi itu pada sihir tanahnya sendiri. Awalnya, usahanya
selalu menghasilkan tanah yang rapuh atau terlalu kaku. Namun, setelah
berminggu-minggu bereksperimen, Fuji mulai bisa memanipulasi
kepadatan tanahnya dengan lebih baik, menciptakan perisai yang tak
hanya tebal tapi juga memiliki lapisan-lapisan kekerasan yang berbeda. Ia
bahkan mulai mencoba membuat serangan sihir tanahnya memiliki
dampak yang lebih berat dan menghantam seperti palu, memanfaatkan
prinsip ‘fondasi yang tak tergoyahkan’.
Taku terus menguji batas kendali anginnya di tengah badai di Aula Angin.
Setelah arahan misterius profesor di minggu pertama, ia mulai fokus pada
“melihat putaran angin”. Butuh waktu, tapi ia akhirnya bisa merasakan
pola aliran angin di dalam badai, dan perlahan, ia belajar untuk
menyelaraskan mana anginnya dengan pusaran tersebut. Gerakannya di
tengah badai menjadi lebih stabil, ia tak lagi terlempar begitu saja.
Kemudian, ia mencoba “berfikir ke arah sebaliknya” seperti saran
profesor. Ia mulai bereksperimen dengan menciptakan ‘pusaran balik’
atau ‘counter angin’ di dalam badai, menggunakan sihirnya bukan hanya
untuk menahan, tetapi untuk memanipulasi badai itu sendiri, mengubah
arah putarannya atau bahkan meredakannya dari dalam. Ini adalah
pemahaman yang membuka jalan baginya untuk memaksimalkan kontrol
penuh terhadap sihir anginnya, bukan hanya untuk kecepatan lari, tetapi
untuk manipulasi lingkungan.
Haruka dan Rina secara konsisten kembali ke Aula Gravitasi. Pengalaman
minggu pertama yang membuat mereka kelelahan tidak memadamkan
semangat mereka, justru membakar tekad.
Haruka dengan gigih melatih Telekinesisnya di bawah gravitasi 20 kali
lipat. Awalnya, setiap gerakan terasa mustahil. Namun, dengan latihan
berulang, ia mulai menemukan ‘celah’ dalam tekanan gravitasi, cara
untuk menyalurkan mana Kosmiknya dengan lebih efisien. Ia merasakan
setiap ototnya menguat, dan yang lebih penting, kendali mananya
menjadi sangat presisi. Ia belajar menggerakkan objek dengan hanya
sedikit usaha mana, memanfaatkan resonansi kosmiknya untuk
‘mengangkat’ atau ‘mendorong’ objek melalui jaring-jaring energi, bukan
hanya dengan kekuatan kasar. Sensitivitasnya terhadap mana di
sekitarnya juga meningkat drastis.
Rina menghadapi tantangan yang lebih brutal di bawah gravitasi 25 kali
lipat. Mengaktifkan ‘Pembunuhan Eksistensi’ di sana adalah tugas yang
hampir mustahil, karena gravitasi tampaknya menekan esensi keberadaan
itu sendiri. Berkali-kali ia gagal, bayangan tipisnya menghilang sebelum
sempat terbentuk sempurna. Namun, Rina menolak menyerah. Ia mulai
bereksperimen dengan kehalusan mana, mencoba menyalurkan
‘Pembunuhan Eksistensi’ dengan sangat minim, hampir tidak terlihat,
untuk mengelabui tekanan gravitasi. Ia berfokus pada gerakan yang
sehalus mungkin, menghindari gesekan, dan memanfaatkan momen-
momen mikro. Meskipun belum sepenuhnya menguasai, ia mulai
merasakan celah kecil, potensi untuk ‘memotong’ keberadaan secara
instan, meskipun hanya untuk sesaat dan dalam skala kecil, yang akan
sangat berguna dalam pertarungan.
Loid menghabiskan setiap akhir pekan di Perpustakaan, tak pernah lelah
mengkaji buku-buku. Nasihat Putri Seraphina tentang “mengalir seperti
udara” telah menjadi titik balik baginya. Ia tak lagi hanya mencari teknik
yang “meniadakan”, tetapi juga teknik yang “fleksibel” dan “mengalir”. Ia
membaca buku-buku tentang seni bela diri yang melibatkan kecepatan
tinggi, gerakan tak terduga, dan bahkan teknik penyihir angin.
Loid mulai menyatukan konsep Penyerapan dan Pemurnian sihir
kehampaannya dengan ide-ide baru ini. Ia membayangkan dirinya
bergerak, tidak hanya melewati ruang, tetapi “meniadakan” resistensi
udara di sekitarnya, meluncur tanpa gesekan. Dia memvisualisasikan
bagaimana ia bisa “menyerap” serangan lawan, tidak dalam arti
mengambil kekuatannya, tetapi meniadakan keberadaan serangan itu dari
jalannya, seperti ilusi, atau bahkan membuat serangan lawan “lewat”
tanpa menyentuhnya. Dia juga mulai menggabungkan konsep
Pembusukan dengan gagasan menciptakan ‘celah’ singkat dalam
keberadaan, memungkinkan dia untuk muncul dan menghilang dengan
cepat, membuat musuh bingung. Sebulan penuh kajian telah memberinya
fondasi teoritis yang kuat untuk mengembangkan gaya bertarungnya
sendiri, sebuah “Teknik Kehampaan” yang unik, tak terlihat, tak terduga,
dan sangat sulit diprediksi.
Kai dan Pangeran Aerion secara konsisten berhadapan di Arena Bela Diri
setiap hari Sabtu pagi. Pertarungan mereka menarik banyak penonton,
karena keduanya terus menunjukkan pertumbuhan yang eksplosif.
Pangeran Aerion semakin mengasah “Cahaya Suci: Ribuan Sinar Surya”
dan “Cahaya Suci: Ledakan Cahaya” miliknya, memadukannya dengan
gerakan pedang yang semakin sulit ditebak. Ia belajar lebih banyak
tentang “akurasi yang aneh” dan “serangan yang tidak mengarah
langsung” yang mengejutkan Kai di pertemuan pertama.
Kai, setelah kekalahan pertamanya, menjadi lebih fleksibel. Ia belajar
untuk tidak hanya mengandalkan kekuatan Pedang Cahaya
Terkonsentrasinya, tetapi juga kecepatan dan variasi serangan. Ia mulai
memadukan serangannya dengan gerakan kaki yang lebih lincah,
mencoba meniru fleksibilitas angin yang Seraphina sebutkan pada Loid.
Dia bereksperimen dengan mengubah kepadatan pedang cahayanya
secara instan, membuat tebasan ringan menjadi berat, dan sebaliknya.
Pertarungan mereka menjadi semakin ketat. Meskipun Kai masih belum
bisa mengalahkan Pangeran Aerion, jarak kekuatan mereka semakin
menipis. Setiap minggu, Kai akan kembali ke asrama dengan lebam baru
dan pelajaran berharga yang diperoleh dari sparring intensif.
Setelah sebulan penuh latihan mandiri ini, semua anggota kelompok Loid
merasa bahwa mereka telah melampaui batas kemampuan mereka
sebelumnya. Mereka telah menemukan kelemahan dan kekuatan baru
dalam diri mereka, memahami sihir mereka lebih dalam, dan memperkuat
tekad mereka. Akademi Akasa bukan hanya tempat mereka belajar, tetapi
tempat mereka ditempa. Minggu-minggu berikutnya akan membawa
tantangan yang lebih besar lagi, dan mereka merasa siap.
i
i