0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan13 halaman

Problem Based Learning Inquiri: HISTORIKA, Vol. 20, No. 1 Tahun 2017

Penelitian ini mengkaji pengaruh model pembelajaran Problem Based Learning, Inquiry, dan Konvensional terhadap prestasi belajar sejarah siswa di SMA Negeri se-Kabupaten Bima. Hasil menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan antara model pembelajaran yang digunakan dan prestasi belajar, serta perbedaan antara siswa dengan minat belajar tinggi dan rendah, tetapi tidak ada interaksi signifikan antara model pembelajaran dan minat belajar. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan sampel 84 siswa dari tiga kelas yang berbeda.

Diunggah oleh

Rosdiana
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan13 halaman

Problem Based Learning Inquiri: HISTORIKA, Vol. 20, No. 1 Tahun 2017

Penelitian ini mengkaji pengaruh model pembelajaran Problem Based Learning, Inquiry, dan Konvensional terhadap prestasi belajar sejarah siswa di SMA Negeri se-Kabupaten Bima. Hasil menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan antara model pembelajaran yang digunakan dan prestasi belajar, serta perbedaan antara siswa dengan minat belajar tinggi dan rendah, tetapi tidak ada interaksi signifikan antara model pembelajaran dan minat belajar. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan sampel 84 siswa dari tiga kelas yang berbeda.

Diunggah oleh

Rosdiana
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

HISTORIKA, Vol. 20, No.

1 Tahun 2017

PENGARUH PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM


BASED LEARNING, INQUIRI DAN KONVENSIONAL TERHADAP
PRESTASI BELAJAR SEJARAH DITINJAU DARI MINAT
BELAJAR SISWA (Studi Eksperimental Kelas
XI SMA Negeri Se-Kabupaten Bima Tahun
Pelajaran 2015/2016)

Oleh:
Rosdiana, Djono, Akhmad Arif Musadad
S2 Pendidikan Sejarah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret

ABSTRACT

This research aims to find out: (1) The difference of effect between Problem Based
Learning, Inquiry, and Conventional model on learning achievement history, (2) The
difference effect between students who have high interest and low interest of learning
achievement history, (3) the interaction effect between the uses of learning model with
interest in learning achievement [Link] research is quantitative research with
experimental method. The populations in this study are all students of SMA Negeri in
Bima regency NTB in 2015/2016 Academic Year. Sampling was done by cluster random
sampling technique. The research sample are 84 students, they are: 30 students of
experiment class Problem Based Learning, 24 students of experimental class Inquiry in
SMA Negeri 1 Madapangga and 30 Conventional control class in SMA Negeri 1 Bolo.
The instrument uses to collect the data are questionnaires interest and learning
achievement history [Link] Hypothesis test is use two-way analysis of variance 3x2
with different cells. The results of the research show that: (1) There is differences
between the effects of the use of learning model Problem Based Learning (PBL), Inquiry
learning model, and conventional learning on the learning achievement history. This is
evidenced by Fcount >Ftable(5.562 > 2.33) at the 5% significance level.(2) The difference
effect between students who have high interest and low interest of learning achievement
[Link] is evidenced by Fcount > Ftable(103.243 > 2.33) at the 5% significance level.(3)
There is no significant interaction between the learning model and interest in learning
achievement of history. This is evidenced by Fcount> Ftable(1.577 < 2.33) at the 5%
significance level.

Keywords: Problem Based Learning, Inquiry, Conventional, Learning Achievement


history, Interest in Learning.

42
HISTORIKA, Vol. 20, No. 1 Tahun 2017

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) perbedaan efek antara masalah
berbasis belajar, permintaan, dan konvensional model belajar sejarah prestasi, (2) efek
perbedaan antara siswa yang memiliki bunga tinggi dan rendah minat belajar sejarah
prestasi, (3) efek interaksi antara penggunaan belajar model dengan minat dalam
mempelajari sejarah prestasi. Penelitian ini adalah kuantitatif penelitian dengan metode
eksperimental. Populasi dalam studi ini adalah seluruh siswa SMA Negeri di Kabupaten
Bima NTB pada tahun 2015/2016 tahun akademik. Sampling dilakukan oleh klaster
teknik sampel acak. Sampel penelitian mahasiswa 84, mereka adalah: 30 siswa
percobaan kelas Problem Based Learning, 24 siswa dari eksperimental kelas
penyelidikan di SMA Negeri 1 Madapangga dan kelas kontrol konvensional 30 di SMA
Negeri 1 Bolo. Instrumen untuk mengumpulkan data adalah kuesioner dan tes sejarah
prestasi belajar. Tes hipotesis ini menggunakan analisis dua arah. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa: (1) ada perbedaan antara efek dari pemanfaatan pembelajaran
model masalah Based Learning (PBL), model pembelajaran permintaan dan
konvensional belajar pada belajar sejarah prestasi. Hal ini dibuktikan oleh F count > F
table(5.562 > 2.33) di tingkat kepentingan 5%. (2) pengaruh perbedaan antara siswa
yang memiliki nilai tinggi dan nilai yang rendah. Hal ini dibuktikan oleh F count > Ft
able(103.243 > 2.33) di tingkat kepentingan 5%. (3) ada interaksi tidak signifikan antara
model pembelajaran dan minat dalam mempelajari pencapaian sejarah. Hal ini dibuktikan
oleh F count > F table(1.577 < 2.33) di tingkat kepentingan 5%.

Keywords: Problem Based Learning, Inquiry, Conventional, Learning Achievement


history, Interest in Learning.

A. PENDAHULUAN
Di Indonesia pendidikan Sejarah merupakan salah satu
merupakan sarana paling penting dan bidang studi yang kurang diminati siswa
efektif untuk membekali siswa dalam dan keberadaannya dianggap kurang
menghadapi masa depan. Proses pentingdi mata siswa, orang tua dan
pembelajaran yang bermakna sangat sekolah. Pengajaran sejarah disekolah
menentukan sumber daya manusia yang memunculkan kesan tidak menarik,
berkualitas. Sumber daya manusia bahkan cenderung membosankan
berkualitas yang dimaksud adalah karena dalam pembelajaran guru masih
manusia yang beriman dan bertaqwa menggunakan model konvensional
kepada Tuhan Yang Maha Esa, (metode ceramah, tanya jawab dan
berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, pemberian tugas). Hal ini menyebabkan
kreatif, mandiri, berdaya saing, menjadi siswa tidak aktif dalam proses
warga negara yang demokratis dan pembelajaran. Model pembelajaran
peka terhadap tantangan zaman. Oleh konvensional kurang memfasilitasi
karena itu, pendidikan merupakan kerjasama tim antar siswa satu dengan
kegiatan yang dilakukan dengan yang lain, sehingga siswa cenderung
sengaja agar anak didik memiliki sikap individual di dalam pembelajaran dan
dan kepribadian yang baik. kurang mempersiapkan materi

43
HISTORIKA, Vol. 20, No. 1 Tahun 2017

pembelajaran, serta siswa kurang yang sedang belajar, salah satu faktor
berminat pada pelajaran. ekstern siswa adalah model
Di sekolah minat memegang pembelajaran. Dengan demikian, faktor
peranan penting dalam belajar karena intern dan faktor ekstern tersebut sangat
minat merupakan unsur yang berpengaruh dalam menentukan
mengerakkan motivasi seseorang kualitas prestasi belajar siswa.
sehingga orang tersebut dapat Salah satu faktor yang
berkosentrasi terhadap suatu benda mempengaruhi rendahnya prestasi
atau kegiatan tertentu. Dengan adanya belajar sejarah siswa adalah proses
unsur minat belajar pada siswa, maka pembelajaran yang merupakan inti dari
siswa akan memusatkan perhatiannya proses pendidikan format di sekolah
pada kegiatan belajar tersebut. Dengan yang di dalamnya terdapat interaksi
demikian, minat merupakan faktor yang antara guru, materi dan siswa. Proses
sangat penting untuk menunjang pembelajaran sejarah masih kurang
kegiatan belajar siswa. Kenyataan ini efektif karena belum ada kerjasama
juga diperkuat oleh pendapat Sardiman yang baik antara guru dan siswa. Guru
yang menyatakan bahwa proses belajar masih menggunakan ketuntasan materi
akan berjalan lancar kalau disertai dan kurang mengoptimalkan aktivitas
dengan minat. belajar siswa. Siswa hanya menerima
Oleh karena itu, faktor minat penjelasan dari guru dan kurang aktif
merupakan faktor yang akan dalam pembelajaran. Hal ini
berpengaruh secara signifikan terhadap mengakibatkan pembelajaran sejarah
keberhasilan belajar (Susanto, 2013:66- hanya terfokus pada kegiatan menghafal
67). Keberhasilan proses pembelajaran konsep, sehingga penguasaan dan
dapat dilihat dari prestasi siswa yang pemahaman siswa rendah. Hal ini
bersangkutan. Prestasi belajar siswa menyebabkan prestasi belajar siswa
dalam pembelajaran dipengaruhi oleh cenderung rendah.
beberapa faktor. Slameto (2013:54-71), Prestasi yang dicapai oleh peserta
menyatakan bahwa faktor-faktor yang didik setelah mengikuti kegiatan
mempengaruhi belajar siswa dapat pembelajaran sejarah pada umumnya
digolongkan menjadi dua golongan saja, dijadikan tolak ukur keberhasilan
yaitu faktor intern dan faktor ekstern. pembelajaran sejarah. Sampai saat ini
Faktor intern adalah faktor yang ada kondisi pengajaran sejarah memang
dalam diri induvidu yang sedang belajar, belum seperti yang diharapkan. Hal ini
salah satu faktor intern siswa adalah ditandai dengan rendahnya prestasi
minat belajar. Sedangkan faktor ekstern belajar siswa. Berdasarkan observasi
adalah faktor yang ada di luar induvidu awal yang dilakukan peneliti di kelas XI

44
HISTORIKA, Vol. 20, No. 1 Tahun 2017

SMA Negeri se-Kabupaten Bima tahun mengembangkan kemampuan berpikir


pelajaran 2015/2016, menunjukkan rata- secara berkesinambungan. Oleh karena
rata nilai ulangan akhir semester (UAS) itu, diharapkan melalui model Problem
sejarah masih rendah, yaitu nilainya Based Learning prestasi belajar sejarah
cenderung di bawah kriteria ketuntasan siswa lebih baik dan meningkat.
minimal (KKM) yang ditetapkan oleh Sintaks dalam pembelajaran Problem
sekolah. Hal ini terbukti masih banyak Based Learning, yaitu berorientasi siswa
siswa yang mendapat nilai terendah pada masalah, mengorganisasi siswa
yaitu 65, sedangkan target KKM 75. untuk belajar, membimbing pengalaman
Oleh karena itu, prestasi siswa kelas XI individual/kelompok, mengembangkan
dalam mata pelajaran sejarah belum dan menyajikan hasil karya dan
maksimal. menganalisis dan mengevaluasi proses
Berkaitan dengan permasalahan di pemecahan masalah. Melalui penerapan
atas, perlu diupayakan suatu bentuk Problem Based Learning dalam proses
pembelajaran yang mampu pembelajaran mampu meningkatkan
mengaktifkan siswa dengan penyajian minat belajar siswa, baik minat belajar di
materi sejarah yang lebih menarik agar dalam maupun di luar kelas dan mampu
dapat membantu siswa mengatasi meningkatkan pemahaman siswa.
kesulitan belajar dan menghilangkan Problem Based Learning juga
persepsi buruk siswa terhadap pelajaran meningkatkan motivasi belajar siswa,
sejarah. Salah satu usaha untuk dimana siswa dapat membangun
mengatasi permasalahan tersebut pemahaman dan pengetahuan mereka
adalah dengan menggunakan model sendiri (Magdalena, dkk, 2014:163).
pembelajaran Problem Based Learning Model pembelajaran inquiri dapat
dan Inquiri. Model Problem Based melatih siswa berpikir ilmiah, kreatif dan
Learning merupakan salah satu mandiri. Menurut Kuhlthau, Maniotes &
pembelajaran inovatif yang dapat Caspari (2007:2), menyatakan bahwa
memberikan kondisi belajar aktif kepada inquiriadalah sebuah pendekatan dalam
siswa dalam kondisi dunia nyata dimana pembelajaran yang mengharapkan
siswa dituntut untuk belajar melalui peserta didik menemukan dan
pengalaman langsung berdasarkan menggunakan berbagai sumber
masalah (Yamin, 2013:136). Dalam informasi dan ide-ide untuk
pembelajaran ini kemampuan berpikir meningkatkan pemahaman tentang
siswa betul-betul dioptimalisasi melalui topik masalah-masalah atau
kerja kelompok atau tim yang sistematis membutuhkan lebih banyak lagi dari
sehingga siswa dapat memberdayakan, sekedar menjawab pertanyaan atau
mengasah, menguji, dan mendapatkan jawaban yang benar. Hal

45
HISTORIKA, Vol. 20, No. 1 Tahun 2017

ini harus didukung oleh investigasi, dapat menumbuhkan sikap percaya diri
eksplorasi, pencarian dan penyelidikan. (selfbelief). Ketiga, tujuan dari
Menurut Madjid (2014:222), penggunaan strategi pembelajaran
menyatakan bahwa strategi inquiri adalah mengembangkan
pembelajaran inquiri merupakan kemampuan intelektual sebagai bagian
rangkaian kegiatan pembelajaran yang dari proses mental, akibatnya dalam
menekankan pada proses berpikir kritis pembeajaran inquiri siswa tidak hanya
dan analitis untuk mencari dan dituntut agar menguasai pelajaran, akan
menemukan sendiri jawaban dari suatu tetapi bagaimana mereka dapat
masalah yang dipertanyakan. Melalui menggunakan potensi yang dimilikinya
inquiri diharapkan prestasi belajar (Anwar, dkk, 2014:238).
sejarah dapat lebih baik dan meningkat. Peran guru dalam pembelajaran
Hal tersebut mengacu pada hasil inquiriadalah sebagai motivator,
penelitian yang dilakukan oleh Ali Abdi fasilitator, penanya, administrator,
(2014:37-41) yang menyatakan bahwa pengarah, manajer, dan rewarder.
siswa yang diajarkan melalui Sintaks dalam pembelajaraninquiri, yaitu
pembelajaran Inquiry-based Learning menyajikan pertanyaan/masalah,
mencapai prestasi yang lebih tinggi membuat hipotesis, merancang
dibandingkan siswa yang diajarkan percobaan, melakukan percobaan untuk
dengan metode tradisional memperoleh informasi, mengumpulkan
Sanjaya (2008) menyatakan bahwa ada dan menganalisis data, dan membuat
beberapa hal yang menjadi ciri utama kesimpulan. Diharapkan dengan
strategi pembelajaran inquiri. Pertama menggunakan model pembelajaran ini
strategi inquiri menekankan kepada dapat meningkatkan partisispasi dan
aktifitas siswa secara maksimal untuk prestasi belajar sejarah siswa. Selain itu
mencari dan menemukan, artinya diharapkan bisa membantu siswa dalam
pendekatan inquiri menempatkansiswa memahami suatu pelajaran sehingga
sebagai subjek belajar. Kemudian dalam output yang dihasilkan menjadi output
proses pembelajaran, siswa tidak hanya yang berkualitas, baik dalam ranah
berperan sebagai penerima pelajaran kognitif, afektif dan psikomotor.
melalui penjelasan guru secara verbal, Penelitian ini bertujuan untuk
tetapi mereka berperan untuk mengetahui (1) Ada tidaknya perbedaan
menemukan sendiri inti dari materi pengaruh antara penggunaan model
pelajaran. Kedua, seluruh aktivitas yang pembelajaran Problem Based Learning,
dilakukan diarahkan untuk mencari dan Inquiridan Konvensional terhadap
menemukan sendiri dari sesuatu yang prestasi belajar sejarah. (2) Ada
dipertanyakan, sehingga diharapkan tidaknya perbedaan pengaruh antara

46
HISTORIKA, Vol. 20, No. 1 Tahun 2017

siswa yang memiliki minat belajar tinggi menggunakan desain faktorial 3x2
dan minat belajar rendah terhadap (factorial design).
prestasi belajar sejarah. (3) Ada Populasi dalam penelitian ini
tidaknya interaksi pengaruh penggunaan adalah seluruh siswa SMA Negeri Se-
model pembelajaran dengan minat Kabupaten Bima-NTB tahun ajaran
belajar terhadap prestasi belajar 2015/2016. Pengambilan sampel
sejarah. dilakukan dengan teknik cluster random
Berdasarkan penjelasan di atas sampling. Sampel penelitian ini
dapat dirumuskan hipotesis sebagai berjumlah 84 siswa, dengan rincian 30
berikut: (1) Terdapat perbedaan siswa kelas eksperimen Problem Based
pengaruh antara penggunaan model Learning, 24 siswa kelas eksperimen
pembelajaran Problem Based Learning, Inquiry di SMA Negeri 1 Madapangga
Inquiri dan konvensional terhadap dan 30 siswa kelas kontrol Konvensional
prestasi belajar sejarah pada siswa di di SMA Negeri 1 Bolo.
SMA Negeri se-Kabupaten Bima-NTB. Variabel dalam penelitian ini ada
(2) Terdapat perbedaan pengaruh dua, yaitu variabel terikat dan variabel
antara siswa yang memiliki minat belajar bebas. Variabel terikatnya adalah
tinggi dan minat belajar rendah terhadap prestasi belajar sejarah dan variabel
prestasi belajar sejarah pada siswa di bebasnya adalah model pembelajaran
SMA Negeri se-Kabupaten Bima-NTB. dan minat belajar siswa. Penelitian ini
(3) Terdapat interaksi pengaruh antara menggunakan model pembelajaran
model pembelajaran dengan minat Problem Based Learning untuk
belajar terhadap prestasi belajar sejarah eksperimen pertama, inquiry untuk
pada siswa di SMA Negeri se- eksperimen kedua,dan Konvensional
Kabupaten Bima-NTB. untuk kelas kontrol. Teknik
pengumpulan data dalam penelitian ini
B. METODE PENELITIAN berupa teknik non tes (angket) untuk
Penelitian ini dilaksanakan di SMA mencari data mengenai tingkat minat
Negeri se-Kabupaten Bima Propinsi belajar siswa dan teknik tes untuk
Nusa Tengara Barat tahun ajaran mengukur prestasi belajar sejarah.
2015/2016. Waktu penelitian dilakukan Adapun teknik analisis data yang
pada semester 1selama 3 bulan yaitu digunakan untuk menguji hipotesis
bulan Oktober sampai bulan Desember. dalam penelitian ini adalah analisis
Penelitian ini merupakan penelitian variansi dua jalan dengan sel tak sama.
kuantitatif dengan menggunakan Sebelum kelas diberikan perlakuan,
metode eksperimen. Rancangan analisis terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat
terhadap data kemampuan awal siswa

47
HISTORIKA, Vol. 20, No. 1 Tahun 2017

meliputi uji normalitas menggunakan belajar kelompok model Problem Based


one sample Kolmogorov smirnov dan uji Learning, Inquiry dan Konvensional
homogenitas menggunakan uji dengan nilai Fhitung= 2,414 selanjutnya
Levene’s. Selanjutnya dilakukan uji dikonsultasikan dengan Ftabel dengan
keseimbangandengan menggunakan uji dkpenyebut 81-2. Taraf signifikansinya
anava satu arah untuk mengetahui 0,05. Diperoleh 3,11, jadi Fhitung< Ftabel =
apakah sampel penelitian berasal dari 2,414 <3,11. Begitu juga dengan hasil
populasi yang setara pada masing- perbandingan antar kelompok minat
masing kelompok eksperimen I, belajar dengan nilai Fhitung= 0,817
eksperimen II dan kelompok kontrol. selanjutnya dikonsultasikan dengan
Ftabel dengan dkpenyebut 81-2. Taraf
C. HASIL PENELITIAN signifikansi 0,05 diperoleh 3,11, jadi
Uji Normalitas Fhitung<Ftabel 0,817 <3,11. Dengan
Uji Normalitas digunakan untuk demikian, secara statistik variansi data
menguji data yang diperoleh antar kelompok sampel dinyatakan
berdistribusi normal. Berdasarkan hasil homogen.
uji normalitas Data Posttest dengan Uji Hipotesis
Kolmogorov-Smirnov, didapatkan angka Uji hipotesis menggunakan uji
signifikansi (sig) dengan model Problem analisis variansi dua jalan sel tak sama.
Based Learningsebesar 0,697, model Berdasarkan hasil uji hipotesis dapat
Inquirysebesar 0,830, dan model disimpulkan sebagai berikut:
Konvensionalsebesar 0,318, kelompok 1. Pengaruh Penggunaan Model
siswa yang tingkat minat belajar tinggi Pembelajaran Problem Based
sebesar 0,464 dan kelompok siswa yang Learning, Inquiri dan Konvensional
tingkat minat belajar rendahsebesar terhadap Prestasi Belajar Sejarah.
0,094 nilai signifikansinya lebih besar Untuk menguji hipotesis yang
dari 0,05, maka hipotesis H0 diterima. menyatakan ada perbedaan
Dengan demikian, dapat disimpulkan pengaruh yang signifikan antara
bahwa prestasi belajar sejarah dan penggunaan model pembelajaran
minat belajar siswa secara keseluruhan Problem Based Learning (PBL),
berasal dari data dengan populasi Inquiri dan Konvensional terhadap
normal. prestasi belajar digunakan analisis
Uji Homogenitas varians dua jalan. Berdasarkan
Uji homogenitas variansi dalam perhitungan diperoleh Fhitung> Ftabel =
penelitian ini menggunakan rumus 5,562 > 2,33 dengan taraf signifikansi
Levene’s test. Berdasarkan nilai 0,05 berarti HOA ditolak, sehingga
signifikansi hasil pengujian prestasi ada perbedaan pengaruh model

48
HISTORIKA, Vol. 20, No. 1 Tahun 2017

pembelajaran Problem Based Pengaruh penggunaan model


Learning, Inquiri dan Konvensional pembelajaran Problem Based Learning
terhadap prestasi belajar sejarah. (PBL), Inquiri dan konvensional terhadap
2. Pengaruh Minat Belajar Siswa
prestasi belajar sejarah
terhadap Prestasi Belajar Sejarah.
Berdasarkan kesimpulan hasil
Untuk menguji hipotesis yang
analisis variansi dua jalan hipotesis nol
menyatakan ada perbedaan
ditolak sehingga hipotesis pertama
pengaruh yang signifikan antara
dalam penelitian ini diterima. Dengan
siswa yang memiliki minat tinggi
demikian, hasil penelitian menunjukkan
dengan siswa yang memiliki minat
bahwa ada perbedaan pengaruh yang
rendah terhadap prestasi belajar
positif antara penggunaan model
sejarah digunakan analisis varians
pembelajaran Problem Based Learning
dua jalan. Berdasarkan perhitungan
(PBL), Inquiri dan konvensional
diperoleh Fhitung> Ftabel= 103,243 >
terhadap prestasi belajar sejarah pada
2,33 dengan taraf signifikansi 0,05
siswa kelas XI SMAN se-Kabupaten
berarti HOB ditolak, sehingga ada
Bima-NTB. Hal ini dapat terlihat pada
perbedaan pengaruh signifikan
kelas Problem Based Learning diperoleh
antara siswa yang memiliki minat
nilai rata-rata prestasi belajar sejarah
tinggi dengan siswa yang memiliki
sebesar 80,10. Pada kelas inquiry
minat rendah.
diperoleh nilai rata-rata prestasi belajar
3. Pengaruh Interaksi Model
sejarah sebesar 76,90 sedangkan pada
Pembelajaran dan Minat belajar
kelas konvensional diperoleh nilai rata-
terhadap Prestasi Belajar Sejarah.
rata prestasi belajar sejarah sebesar
Untuk menguji hipotesis yang
73,24. Dengan demikian, dapat
menyatakan ada interaksi pengaruh
disimpulkan bahwa rata-rata prestasi
antara model pembelajaran dan
belajar sejarah siswa dengan model
minat siswa terhadap prestasi belajar
Problem Based Learningdan Inquiri
sejarah digunakan analisis varians
(eksperimen) lebih baik daripada siswa
dua jalan. Berdasarkan perhitungan
yang menggunakan model
diperoleh Fhitung< Ftabel= 1,577 < 2,33
konvensional.
dengan taraf signifikansi 0,05 berarti
Problem Based Learning
HOAB diterima, sehingga tidak ada
merupakan salah satu model
interaksi pengaruh antara model
pembelajaran inovatif yang dapat
pembelajaran dan minat siswa
memberikan kondisi aktif kepada siswa
terhadap prestasi belajar sejarah.
untuk mengembangkan pengetahuan
mereka sendiri dalam kondisi dunia
nyata. Pembelajaran Problem Based

49
HISTORIKA, Vol. 20, No. 1 Tahun 2017

Learning ini digunakan untuk serta memberikan dukungan dalam


meningkatkan derajat berfikir siswa upaya meningkatkan temuan dan
ketingkat yang lebih tinggi karena perkembangan intelektual siswa.
kemampuan berpikir siswa benar-benar Penerapan model pembelajaran
dioptimalisasikan melaui kerja kelompok Problem Based Learning memiliki
atau tim yang sistematis, sehingga beberapa keunggulan, diantaranya (1)
siswa dapat memberdayakan, pemecahan masalah merupakan teknik
mengasah, dan mengembangkan yang cukup bagus untuk lebih
kemampuan berpikir secara memahami isi pelajaran, sehingga
berkesinambungan. Fokus pembelajaran akan lebih bermakna. (2)
pembelajaran PBL terletak pada pemecahan masalah menantang
masalah yang dipilih sehingga siswa kemampuan siswa dan memberikan
tidak hanya mempelajari konsep-konsep kepuasan menemukan pengetahuan
yang berhubungan dengan masalah baru bagi siswa. (3) pemecahan
tetapi juga metode ilmiah untuk masalah dapat meningkatkan aktivitas
memecahkan masalah tersebut. pembelajaran siswa. (4) pemecahan
Masalah dalam Problem Based masalah membantu siswa bagaimana
Learning adalah masalah terbuka mentransfer pengetahuan siswa untuk
dimana jawaban dari masalah tersebut memahami masalah kehidupan nyata.
belum pasti. Setiap siswa, bahkan guru (5) pemecahan masalah membantu
dapat mengembangkan kemungkinan siswa untuk mengembangkan
jawaban. Dengan demikian, model pengetahuan barunya dan bertanggung
Problem Based Learning memberikan jawab dalam pembelajaran yang
kesempatan kepada siswa atau dilakukan. (6) melalui pemecahan
kelompok untuk bereksplorasi masalah bisa memperlihatkan kepada
mengumpulkan dan menganalisis data siswa bahwa setiap mata pelajaran pada
secara lengkap untuk memecahkan dasarnya merupakan cara berpikir, dan
masalah yang dihadapi. sesuatu yang harus dimengerti oleh
Dalam model Problem Based siswa, bukan hanya sekedar dari
Learning ini guru lebih banyak berperan guru/buku saja. (7) pemecahan masalah
sebagai fasilitator, pembimbing dan dianggap lebih menyenangkan dan
motivator. Guru mengajukan masalah disukai siswa. (8) pemecahan masalah
otentik/mengorientasi siswa kepada dapat mengembangkan kemampuan
permasalahan nyata (read world), siswa untuk berpikir kritis dan
memfasilitasi/membimbing proses menyesuaikan dengan pengetahuan
penyelidikan, memfasilitasi dialog antar baru.
siswa, menyediakan bahan ajar siswa

50
HISTORIKA, Vol. 20, No. 1 Tahun 2017

Model pembelajaran Problem sumber belajar, waktu dan organisasi


Based Learning tidak jauh berbeda kelas. 7) Rewarder, memberikan
dengan inquiri. Pembelajaran penghargaan pada prestasi yang telah
menggunakan model inquiri, dicapai siswa (Zuldafrial, 2012:126). Hal
memberikan kesempatan kepada siswa ini berbeda dengan pembelajaran
untuk berusaha mencari dan konvensional.
menemukan sendiri jawaban dari Sedangkan pembelajaran
masalah yang dipertanyakan, sehingga konvensional merupakan pembelajaran
pemahaman siswa pada suatu konsep yang dilakukan dengan
lebih baik. Hal ini disebabkan mengkombinasikan bermacam-macam
pembelajaran Inquiri merupakan salah metode yang berupa ceramah,
satu bentuk model pembelajaran yang pemberian tugas dan tanya jawab.
menekankan pada partisipasi dan Pembelajaran ini lebih banyak berpusat
aktivitas siswa untuk mencari sendiri pada guru yang mentransfer ilmu,
informasi pelajaran yang akan dipelajari sementara siswa hanya pasif
melalui bahan-bahan tersedia. Oleh mendengarkan penjelasan materi dari
karena itu, Inquiri merupakan suatu guru dan mengerjakan tugas sesuai
pembelajaran yang terjadi melalui dengan materi yang diberikan.
penemuan konsep-konsep atau materi Komunikasi yang dilakukan satu arah
oleh siswa sendiri. Pada pelaksanaan dari guru ke siswa dan peran guru
pembelajaran inquiri siswa dihadapkan dalam proses belajar mengajar di dalam
pada suatu masalah, mengajak siswa kelas terlihat dominan. Pembelajaran ini
untuk menginvestigasi masalah dan lebih mengutamakan hafalan dari pada
memecahkan masalah tersebut melalui pengertian, sehingga banyak siswa yang
serangkaian metodologi. mampu menyajikan tingkat hafalan yang
Peran guru dalam model baik namun tidak diikuti dengan
pembelajaran Inquiri adalah 1) pemahaman secara mendalam terhadap
motivator, memberikan rangsangan agar materi yang diterimanya.
siswa aktif dan bergairah berfikir. 2)
Fasilitator, menunjukkan jalan keluar jika Perbedaan pengaruh minat belajar
siswa mengalami kesulitan. 3) Penanya, tinggi dan minat belajar rendah
menyadarkan siswa dari kekeliruan yang terhadap prestasi belajar sejarah.
telah mereka buat. 4) Administrator, Berdasarkan hasil perhitungan
bertanggung jawab terhadap seluruh analisis Two-Way Anova diketahui
kegiatan kelas. 5) Pengarah, memimpin terdapat perbedaan pengaruh yang
kegiatan siswa untuk mencapai tujuan signifikan antara siswa yang memiliki
yang diharapkan. 6) Manajer, mengelola minat tinggi dengan siswa yang memiliki

51
HISTORIKA, Vol. 20, No. 1 Tahun 2017

minat rendah terhadap prestasi belajar dicontohkan dengan siswa yang


sejarah dengan nilai Fhitung=24.491 lebih memiliki minat besar terhadap pelajaran
besar dari Ftabel=3,960 dan nilai sejarah akan memusatkan perhatiannya
signifikansi sebesar 0,00 lebih kecil dari lebih banyak dari pada siswa lainnya.
0,05, maka H0B ditolak artinya siswa Pemusatan perhatian lebih intensif
dengan minat belajar tinggi mempunyai tersebut memungkinkan siswa belajar
prestasi belajar lebih baik dibandingkan lebih giat, sehingga mencapai prestasi
dengan siswa yang mempunyai minat yang diinginkan.
belajar rendah. Minat merupakan salah satu faktor
Minat adalah kecenderungan yang penting yang berpengaruh pada prestasi
tetap untuk memperhatikan dan belajar siswa. Siswa yang kurang
mengenang beberapa kegiatan. Winkel berminat untuk belajar walaupun
(2004:188) mengungkapkan bahwa didukung oleh berbagai faktor akan
minat dapat diartikan sebagai berpengaruh sekali terhadap prestasi
“Kecenderungan subyek yang menetap, belajarnya. Siswa yang memiliki minat
untuk tertarik pada bidang studi atau belajar tinggi mempunyai kesempatan
pokok bahasan tertentu dan merasa mencapai prestasi belajar lebih baik
senang mempelajari materi itu” besar sedangkan siswa yang mempunyai
kecilnya minat akan mempengaruhi minat belajar rendah akan mendapatkan
keberhasilan dari setiap aktivitas prestasi belajar yang kurang bagus.
manusia. Dalam hal belajar, minat Sehingga tingkat minat siswa dalam
sangat besar pengaruhnya terhadap belajar sangat berpengaruh terhadap
proses belajar tersebut. Jika seseorang kelangsungan dan keberhasilan belajar
yang tidak berminat untuk mempelajari siswa. Untuk itu faktor minat ini perlu
suatu pelajaran, maka harapan untuk diperhitungkan sebagai faktor yang ikut
berhasil pun kecil. Indikator minat ada mempengaruhi prestasi belajar siswa
empat, yaitu 1) perhatian, 2) kesadaran, secara integral. Dengan demikian, dapat
3) kesenangan, dan 4) kemauan. disimpulkan bahwa minat belajar siswa
Sedangkan konsep minat yang mempengaruhi prestasi belajar sejarah,
diungkapkan oleh Muhibbin Syah sehingga siswa yang memiliki minat
(2014:133-134), berarti “kecenderungan yang tinggi lebih baik dari siswa yang
dan kegairahan yang tinggi atau memiliki minat belajar rendah.
keinginan yang besar terhadap
sesuatu”. Beliau juga berpendapat
bahwa minat dapat mempengaruhi
kualitas pencapaian hasil belajar siswa
dibidang tertentu, dalam hal ini

52
HISTORIKA, Vol. 20, No. 1 Tahun 2017

Interaksi pengaruh antara model intern dan faktor ekstern. faktor intern
pembelajaran dengan minat belajar adalah faktor yang ada dalam diri
terhadap prestasi belajar sejarah. induvidu yang sedang belajar yang
Berdasarkan hasil perhitungan terdiri dari faktor jasmaniah, faktor
analisis Two-Way Anova diperoleh nilai psikologis dan faktor kelelahan,
Fhitung<Ftabel = 1,577 < 2,33 dan nilai sedangkan faktor ekstern adalah faktor
signifikansi sebesar 0,213 lebih besar yang ada di luar induvidu terdiri dari
dari 0,05, maka H0AB diterima, sehingga faktor keluarga, faktor sekolah dan
tidak ada interaksi antara model faktor masyarakat (Slameto, 2013:54-
pembelajaran dengan minat belajar 71). Dengan demikian, banyak indikator
terhadap prestasi belajar sejarah. Hal ini rupanya yang mempengaruhi prestasi
berarti, perbandingan antara belajar siswa dalam pembelajaran
penggunaan model pembelajaran sejarah.
Problem Based Learning, inquiry dan Tidak adanya interaksi dikarenakan
konvensional untuk setiap tingkat minat realitas pembelajaran sejarah di
belajar siswa mengikuti perbandingan lapangan, dimana guru belum terbiasa
marginalnya. Dengan memperhatikan menggunakan metode inovatif dan
rataan masing-masing sel dan rataan mengandalkan metode konvensional
marginalnya dapat disimpulkan bahwa dalam pembelajaran sejarah, sehingga
penggunaan Problem Based Learning siswa cenderung pasif. Para guru
dan inquiry menghasilkan hasil belajar sejarah terbiasa menggunakan metode
sejarah yang lebih baik dibandingkan konvensional sehingga berdampak pada
dengan penggunaan model siswa yang kurang bersemangat ketika
pembelajaran konvensional, baik secara dituntut untuk aktif mengkonstruk
umum maupun untuk tingkat minat pengetahuan sendiri.
belajar. Dengan demikian, siswa dengan
minat tinggi mempunyai hasil belajar D. KESIMPULAN
sejarah yang lebih baik dibandingkan Berdasarkan hasil analisis data dan
dengan siswa yang mempunyai tingkat pembahasan hasil penelitian, maka
minat belajar rendah. dapat diambil beberapa kesimpulan
Tidak adanya interaksi antara sebagai berikut:
model pembelajaran dan minat terhadap 1. Terdapat perbedaan pengaruh antara
prestasi belajar disebabkan oleh penggunaan model pembelajaran
beberapa hal. Diantaranya disebabkan Problem Based Learning, Inquiri dan
karena keberhasilan belajar mengajar konvensional terhadap prestasi
untuk meningkatkan prestasi belajar itu belajar sejarah pada siswa di SMA
dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor Negeri se-kabupaten Bima-NTB.

53
HISTORIKA, Vol. 20, No. 1 Tahun 2017

Hasil belajar siswa pada mata lebih baik daripada siswa yang
pelajaran sejarah dengan model memiliki minat belajar rendah.
Problem Based Learning, dan 3. Tidak terdapat interaksi antara model
Inquirilebih baik daripada siswa yang pembelajaran dan minat belajar
menggunakan model konvensional. terhadap prestasi belajar sejarah
2. Terdapat perbedaan pengaruh antara pada siswa di SMA Negeri se-
siswa yang memiliki minat belajar kabupaten Bima-NTB. Karena tidak
tinggi dan minat belajar rendah ada interaksi antara model
terhadap prestasi belajar sejarah pembelajaran dan minat belajar
pada siswa di SMA Negeri se- siswa, maka model Problem Based
kabupaten Bima-NTB. Hasil belajar Learning (PBL), dan Inquiri lebih
siswa pada mata pelajaran sejarah efektif dibandingkan dengan model
yang memilki minat belajar tinggi pembelajaran konvensional.

REFERENSI

Kuhlthau, C.C., Maniotes, L.K & Caspari A.K. 2007. Guided Inquiry Learning in the 21st
Century. United States of America: Greenwood Publishing Group, Inc.

Majid, Abdul. 2014. Strategi Pembelajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Syah, Muhibbin. 2014. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: Remaja
Rosdakarya.

Susanto, Ahmad. 2013. Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar. Jakarta:
Prenadamedia Group.

Slameto. 2013. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi. Jakarta: Rineka Cipta.

Winkel WS. 2004. Psikologi Pengajaran. Jakarta: Grasindo.

Yamin, Martinis. 2013. Paradigma Baru Pembelajaran. Jakarta: Referensi.

Zuldafrial. 2012. Strategi Belajar Mengajar. Surakarta: Cakrawala Media.

Ali Abdi. 2014. The Efect of Inquiry-based Learning Method on Students’ Academic
Achievemen in Science Course. Universal Journal of Educational Research, 2(1).

Anwar, dkk. 2014. Penerapan Problem Based Learning (PBL) dan Inkuiri Untuk
Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis dan Sikap Keperdulian Lingkungan
Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Aceh. Jurnal EduBio
Tropika. Vol. 2, No. 2.

Magdalena, Octaviany, dkk. 2014. Pengaruh Pembelajaran Model Problem Based


Learning dan inquiri terhadap Prestasi Belajar Siawa Ditinjau Dari Kreativitas Verbal
Pada Materi Hukum Dasar Kimia Kelas X SMAN 1 Boyolali Tahun Pelajaran
2013/2014. Jurnal Pendidikan Kimia (JPK). Vol 3 No. 4:163.

54

Anda mungkin juga menyukai