BAB II
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
2.1. Konsep Koping
Koping adalah mekanisme untuk mengatasi perubahan yang dihadapi
atau beban yang diterima tubuh dan beban tersebut menimbulkan respon tubuh
yang sifatnya nonspesifik yaitu stres. Apabila mekanisme koping ini berhasil,
seseorang akan dapat beradaptasi terhadap perubahan atau beban tersebut
(Ahyar, 2010). Individu dapat mengatasi stres dengan menggerakkan sumber
koping di lingkungan. Ada lima sumber koping yaitu: aset ekonomi,
kemampuan dan keterampilan individu, teknik-teknik pertahanan, dukungan
sosial dan dorongan motivasi (Hidayat, 2008).
Koping adalah cara yang dilakukan individu dalam menyelesaikan
masalah, menyesuaikan diri dengan perubahan, respons terhadap situasi yang
mengancam. Upaya individu dapat berupa perubahan cara berfikir (kognitif)
perubahan perilaku atau perubahan lingkungan yang bertujuan untuk
menyelesaikan stres yang dihadapi. Koping yang efektif akan menghasilkan
adaptasi.
Koping dapat diidentifikasi melalui respons, manifestasi (tanda dan
gejala) dan pertanyaan klien dalam wawancara. (Keliat. B, A 2013) Koping juga
dapat diartikan sebagai respon terhadap stres, yaitu apa yang dirasakan,
dipikirkan dan dilakukan oleh individu untuk mengontrol, mentolerir dan
mengurangi efek negatif dari situasi yang dihadapi (Fleming dkk, 2009)
7
8
Berdasarkan definisi maka yang dimaksud koping adalah cara yang digunakan
individu dalam menyelesaikan masalah, mengatasi perubahan yang terjadi dan
situasi yang mengancam baik secara kognitif maupun perilaku.
2.1.1. Jenis- Jenis Koping
Menurut (Sarafino dalam Smet, 2011), menyatakan bahwa dalam
menghadapi stressor ada dua jenis koping yang digunakan, yaitu :
1. Emotional focus Coping, digunakan untuk mengatur respon emosional
terhadap stres. Pengaturan ini melalaui perilaku individu, seperti
penggunaan alcohol, bagaimana meniadakan fakta - fakta yang tidak
menyenangkan, melalui strategi kognitif. Bila individu tidak mampu
mengubah kondisi yang “stresfull” individu akan cenderung untuk
mengatur emosinya.
2. Problem focus Coping, digunakan untuk mengurangi stressor, individu
akan menagtasi dengan mempelajari cara-cara atau keterampilan-
keterampilan yang baru. Individu akan cenderung menggunakan strategi
ini, bila yakin akan dapat menubah situasi.
2.1.2. Metode koping
Menurut (Rasmun, 2013), ada dua metode koping yang digunakan
oleh individu dalam mengatasi masalah psikologis yaitu: metode koping
jangka panjang dan metode koping jangka pendek. Metode koping jangka
panjang bersifat konstruktif dan merupakan cara yang efektif dan realitas
dalam menangani masalah psikologis untuk kurun waktu yang lama, hal ini
9
seperti; berbicara dengan orang lain, teman, keluarga atau profesi tentang
masalah yang sedang dihadapi, mencoba mencari informasi yang lebih
banyak tentang masalah yang sedang dihadapi, menghubungkan situasi atau
masalah yang sedang dihadapi dalam kekuatan supra natural, melakukan
latihan fisik untuk mengurangi ketegangan/masalah, membuat berbagai
alternatif tindakan untuk mengurangi situasi, mengambil pelajaran dari
peristiwa atau pengalaman masalalu.
Sedangkan metode koping jangka pendek digunakan untuk mengurangi
stres/ketegangan psikologis dan cukup efektif untuk waktu sementara, tetapi
tidak efektif jika digunakan dalam jangka panjang contohnya adalah;
mengunakan alkohol, melamun fantasi, mencoba melihat aspek humor dari
situasi yang tidak menyenangkan, tidak ragu, dan merasa yakin bahwa semua
akan kembali stabil, banyak tidur, banyak merokok, menangis, beralih pada
aktifitas lain agar dapat melupakan masalah.
Pada tingkat keluarga koping yang dilakukan dalam menghadapi
masalah seperti yang dikemukakan oleh ([Link] 2009, dalam Rasmun,
2013) adalah; mencari dukungan sosial seperti minta bantuan keluarga,
tetangga, teman, atau keluarga jauh, reframing yaitu mengkaji ulang
kejadian masa lalu agar lebih dapat menanganinya dan menerima,
menggunakan pengalaman masa lalu untuk mengurangi stres/kecemasa,
mencari dukungan spiritual, berdoa, menemui pemuka agama atau aktif pada
pertemuan ibadah, menggerakkan keluarga untuk mencari dan menerima
bantuan, penilaian secara pasif terhadap peristiwa.
10
2.1.3. Mekanisme Koping dan Strategi Koping
Menurut (Keliat 2006, dalam Suliswati, 2014), mekanisme koping
adalah cara yang dilakukan individu dalam menyelesaikan masalah,
menyesuaikan diri dengan perubahan, serta respon terhadap situasi yang
mengancam. Mekanisme koping terbentuk melalui proses belajar dan
mengingat, yang dimulai sejak awal timbulnya stressor dan saat mulai disadari
dampak stressor tersebut. Kemampuan belajar ini tergantung pada kondisi
eksternal dan internal, sehingga yang berperan bukan hanya bagaimana
lingkungan membentuk stressor tetapi juga kondisi temperamen individu,
persepsi, serta kognisi terhadap stressor tersebut.
Mekanisme koping bersumber dari ego, sering di sebut sebagai
mekanisme pertahanan mental, yaitu yang terdiri dari; denial (menyangkal)
menghindarkan realitas ketidaksetujuan dengan mengabaikan atau menolah
untuk mengenalinya, projeksi yaitu mekanisme perilaku dengan menempatkan
sifat-sifat batin sendiri pada objek di luar diri atau melemparkan kekurangan
diri sendiri pada orang lain, regresi yaitu menghindarkan stres terhadap
karakteristik perilaku dari tahap perkembangan yang lebih awal, displacement
(mengisar) yaitu mengalihkan emosi yang seharusnya diarahkan pada orang
atau benda tertentu ke benda atau orang yang netral atau tidak membahayakan,
mencari dukungan sosial seperti keluarga mencari dukunga atau bantuan dari
kelurga, tetangga, teman atau keluarga jauh, reframing yaitu mengkaji ulang
kejadian stres agar lebih dapat menanganinya dan menerimanya, mencari
dukungan spiritual seperti mencari dan berusaha secara spiritual, berdoa,
11
menemui pemuka agama atau aktif pada pertemuan ibadah, dan yang terakhir
adalah menggerakkan keluarga untuk dapat menerima bantuan, keluarga
berusaha mencari sumber- sumber komunitas dan menerima bantuan orang
lain.
Sedangkan mekanisme koping yang berorientasi pada tugas, digunakan
untuk menyelesaikan masalah, menyelesaikan konflik dan memenuhi
kebutuhan dasar. Terdapat 3 macam reaksi yang berorientasipada tugas yaitu;
prilaku menyerang (Fight), prilaku menarik diri, dan kompromi. Pada prilaku
menyerang, individu menggunakan energinya untuk melakukan perlawanan
dalam rangka mempertahankan integritas pribadinya. Perilaku yang di
tampilkan dapat merupakan tindakan konstruktif maupun destruktif yaitu
tindakan agresif (menyerang) terhadap obyek, dapat berupa benda, barang,
orang lain atau bahkan terhadap diri sendiri. Sedangkan tindakan konstruktif
adalah upaya individu dalam menyelesaikan masalah secara asertif, yaitu
dengan kata-kata terhadap rasa ketidak senangannya. Seperti kompromi juga
merupakan tindakan konstruktif yang dilakukan oleh individu untuk
menyelesaikan masalah. Lazimnya kompromi dilakukan dengan cara
bermusyawarah atau negosiasi untuk menyelesaikan masalah yang sedang
dihadapi (Rasmun, 2013).
2.1.4. Penggolongan Mekanisme Koping
Mekanisme koping berdasarkan penggolongannya dibagi menjadi 2
(dua) (Stuart dan Sundeen, 2010) yaitu :
12
1. Mekanisme koping adaptif
Mekanisme koping yang mendukung fungsi integrasi, pertumbuhan,
belajar dan mencapai tujuan. Kategorinya adalah berbicara dengan orang
lain, memecahkan masalah secara efektif, teknik relaksasi, latihan seimbang
dan aktivitas konstruktif.
2. Mekanisme koping mal adaptif
Mekanisme koping yang menghambat fungsi integrasi, memecah
pertumbuhan, menurunkan otonomi dan cenderung menguasai lingkungan.
Kategorinya adalah makan berlebihan /tidak makan, bekerja berlebihan,
menghindar.
Koping dapat dikaji melalui berbagai aspek, salah satunya adalah
aspek psikososial (Herawati, 2012), yaitu :
a). Reaksi Orientasi Tugas
Berorientasi terhadap tindakan untuk memenuhi tuntutan dari situasi
stress secara realistis, dapat berupa konstruktif atau destruktif. Misal:
Perilaku menyerang (agresif) biasanya untuk menghilangkan atau
mengatasi rintangan untuk memuaskan kebutuhan.
Perilaku menarik diri digunakan untuk menghilangkan sumber-sumber
ancaman baik secara fisik atau psikologis. Perilaku kompromi
digunakan untuk merubah cara melakukan, merubah tujuan atau
memuaskan aspek kebutuhan pribadi seseorang. Mekanisme pertahanan
diri, yang sering disebut sebagai mekanisme pertahanan mental.
Adapun mekanisme pertahanan diri adalah sebagai berikut :
13
b). Kompensasi
Kompensasi merupakan proses dimana seseorang memperbaiki
penurunan citra diri dengan secara tegas menonjolkan
keistimewaan/kelebihan yang dimilikinya.
c). Penyangkalan (denial)
Ketidaksetujuan terhadap realitas dengan mengingkari realitas tersebut.
Mekanisme pertahanan ini adalah paling sederhana dan primitif.
d). Pemindahan (displacement)
Pemindahan pengalihan emosi yang semula ditujukan pada
seseorang/benda lain yang biasanya netral atau lebih sedikit
mengancam dirinya.
e). Disosiasi
Pemisahan suatu kelompok proses mental atau perilaku dari kesadaran
atau identitasnya. Identifikasi proses dimana seseorang untuk menjadi
seseorang yang ia kagumi berupaya dengan mengambil atau menirukan
pikiran-pikiran, perilaku dan selera orang tersebut
f). Intelektualisasi
Intelektualisasi merupakan pengguna logika dan alasan yang berlebihan
untuk menghindari pengalaman yang mengganggu perasaannya.
g). Rasionalisasi
Mengemukakan penjelasan yang tampak logis dan dapat diterima
masyarakat untuk menghalalkan impuls, perasaan perilaku, dan motif
yang tidak dapat diterima.
14
h). Sublimasi
Penerimaan suatu sasaran pengganti yang mulia artinya dimata
masyarakat untuk suatu dorongan yang mengalami halangan dalam
penyalurannya secara normal.
i). Supresi
Suatu proses yang digolongkan sebagai mekanisme pertahanan tetapi
sebetulnya merupakan analog represi yang disadari; pengesampingan
yang disengaja tentang suatu bahan dari kesadaran seseorang; kadang-
kadang dapat mengarah pada represi yang berikutnya.
2.2. Kecemasan
Kecemasan atau dalam Bahasa Inggrisnya “anxiety” berasal dari Bahasa
Latin “angustus” yang berarti kaku, dan “ango, anci” yang berarti mencekik.
Kecemasan merupakan perasaan individu dan pengalaman subjektif yang
tidak dapat diamati secara langsung dan perasaan tanpa objek yang spesifik
dipacu oleh ketidaktahuan dan didahului oleh pengalaman baru (Stuart and
Sundeen, 2010).
Peneliti berpendapat bahwa cemas adalah segala sesuatu yang membuat
individu mengalami perasaan-perasaan seperti rasa takut, gelisah, sulit
menyelesaikan masalah, sikap pesimis (menduga sesuatu yang tidak nyata),
ancaman dari luar.
Cemas merupakan respon individu terhadap suatu keadaan yang tidak
menyenangkan dan dialami oleh semua makhluk hidup dalam kehidupan sehari-
hari. Kecemasan pada individu merupakan pengalaman yang subjektif, dapat
15
memberikan motivasi untuk mencapai sesuatu dan sumber penting dalam usaha
memelihara keseimbangan hidup (Suliswati, 2012 ).
2.2.1. Faktor Pencetus Kecemasan
Menurut peneliti faktor pencetus kecemasan adalah suatu perasaan
yang menimbulkan cemas salah satunya berupa ancaman parah atau tidak
terhadap penyakit yang dideritainya, rasa ketidaktauan tentang prosedur
operasi, dan jenis operasi. Menurut (Stuart and Sundeen 2011), pencetus
timbulnya kecemasan dapat disebabkan oleh berbagai sumber yaitu sumber
internal maupun sumber eksternal, hal tersebut dibedakan menjadi:
1. Ancaman terhadap integritas fisik
Merupakan ketidakmampuan fisiologis atau penurunan kapasitas
seseorang untuk melakukan aktifitas sehari-hari, meliputi sumber eksternal
bisa disebabkan oleh infeksi virus atau bakteri, polusi, lingkungan,
ancaman keselamatan, injuri, sedangkan sumber internal merupakan
kegagalan mekanisme fisik seseorang seperti jantung, sistem imun,
termoregulator menurun, perubahan biologis normal seperti kehamilan.
2. Ancaman terhadap self esteem
Merupakan sesuatu yang terjadi yang dapat merusak identitas
harapan diri dan integritas fungsi sosial, meliputi sumber eksternal yaitu
berbagai kehilangan seperti kehilangan orang tua, teman dekat, perceraian,
perubahan status pekerjaan, pindah rumah, tekanan sosial; sedangkan
sumber internal yaitu kesulitan dalam hubungan interpersonal didalam
rumah, di tempat kerja, dan di dalam masyarakat.
16
2.2.2. Tingkat Kecemasan
Opini peniliti tingkat kecemasan merupakan tahapan cemas seperti,
cemas ringan, sedang, berat. Hal ini sama dengan pendapat (Suliswati, 2012),
tingkat kecemasan dibagi 4 (empat), yaitu:
1. Kecemasan Ringan
Berhubungan dengan ketegangan akan peristiwa kehidupan
sehari-hari. Individu akan berhati-hati dan waspada serta lahan persepsi
meluas, belajar menghasilkan pertumbuhan dan kreativitas. Respon cemas
ringan seperti sesekali bernafas pendek, nadi dan tekanan darah naik,
gejala ringan pada lambung, muka berkerut dan bergetar, telinga
berdengung, waspada, lapang persepsi meluas, sukar konsentrasi pada
masalah secara efektif, tidak dapat duduk tenang dan tremor halus pada
tangan.
2. Kecemasan Sedang
Pada tingkat ini, merupakan persepsi terhadap masalah menurun.
Individu telah berfokus pada hal-hal yang penting saat itu dan
mengesampingkan hal-hal yang lain. Respon cemas sedang seperti sering
nafas pendek, nadi dan tekanan darah naik, mulut kering, muka merah dan
pucat, anoreksia, gelisah, lapang pandang menyempit, rangsangan luar
mampu diterima, bicara banyak dan lebih cepat, susah tidur dan perasaan
tidak enak, firasat buruk.
3. Kecemasan Berat
Pada tingkat ini, lapangan persepsi individu sangat sempit.
17
Seseorang cenderung hanya memikirkan hal kecil saja dan mengabaikan
hal yang penting. Tidak mampu berpikir berat lagi dan membutuhkan lebih
banyak pengarahan atau tuntutan. Responnya meliputi nafas pendek, nadi
dan tekanan darah meningkat, rasa tertekan pada dada, berkeringat dan
sakit kepala, mula-mual, gugup, lapang persepsi sangat sempit, tidak
mampu menyelesaikan masalah, verbalisasi cepat, takut pikiran sendiri dan
perasaan ancaman meningkat dan seperti ditusuk-tusuk.
4. Panik
Pada tingkat ini, lapangan persepsi individu telah terganggu
sehingga tidak dapat mengendalikan diri lagi dan tidak dapat melakukan
apa-apa, walaupun telah diberi pengarahan. Respon panik seperti napas
pendek, rasa tercekik dan palpitasi, penglihatan kabur, hipotensi,
lapang persepsi sempit, mudah tersinggung, tidak dapat berpikir logis,
agitasi, mengamuk, marah, ketakutan, berteriak-teriak, kehilangan kendali
dan persepsi kacau, menjauh dari orang.
2.2.3. Faktor Penyebab Kecemasan
Menurut peneliti faktor penyebab cemas meliputi, keparahan penyakit,
lingkungan sosial yang tidak baik, kurang pengetahuan tentang operasi dan
jenis operasi. Menurut (Carpenito, 2011) faktor-faktor yang mempengaruhi
munculnya kecemasan yaitu :
1. Patofisiologis, yaitu setiap faktor yang berhubungan dengan kebutuhan
dasar manusia akan makanan, air, kenyamanan dan keamanan.
18
2. Situasional (orang dan lingkungan). Berhubungan dengan ancaman konsep
diri terhadap perubahan status, adanya kegagalan, kehilangan benda yang
dimiliki dan kurang penghargaan dari orang lain.
3. Berhubungan dengan kehilangan orang terdekat karena kematian,
perceraian, tekanan budaya, perpindahan, dan adanya perpisahan sementara
atau permanen.
4. Berhubungan dengan ancaman integritas biologis : yaitu penyakit, terkena
penyakit mendadak, sekarat, dan penanganan-penanganan medis terhadap
sakit.
5. Berhubungan dengan perubahan dalam lingkungannya misalnya :
pencemaran lingkungan, pensiun, dan bahaya terhadap keamanan.
6. Berhubungan dengan perubahan status sosial ekonomi, misalnya
pengangguran, pekerjaan baru, dan promosi jabatan.
7. Berhubungan dengan kecemasan orang lain terhadap individu.
2.2.4. Gejala-Gejala Fisiologis Kecemasan
Peneliti mengatakan gejala fisiologis kecemasan yaitu, jantung
berdebar-debar, wajah pucat dan kemerahan, tidak konsentasi terhadap
kegiatan yang lain, tubuh merasa lemas, kesulitan tidur. Menurut Carpenito,
(2011) secara fisiologis gejala-gejala tersebut meliputi :
1. Peningkatan frekuensi jantung
2. Peningkatan tekanan darah
3. Peningkatan frekuensi pernafasan
4. Gelisah
19
5. Gemetar
6. Berdebar-debar
7. Sering berkemih
8. Insomnia
9. Keletihan dan kelemahan
10. Pucat atau kemerahan
11. Mulut kering, mual dan muntah
12. Sakit dan nyeri tubuh
13. Pusing atau mau pingsan
14. Ruam panas atau dingin
15. Anoreksia
2.2.5. Ukuran Skala Kecemasan
Ukuran skala kecemasan rentang respon kecemasan dapat ditentukan
dengan gejala yang ada dengan menggunakan Hamilton anxietas rating scale
(Stuart & Sundeen, 2012) dengan skala HARS terdiri dari 14 komponen yaitu :
1. Perasaan Cemas meliputi Cemas, takut, mudah tersinggung dan firasat
buruk
2. Ketegangan meliputi lesu, tidur tidak tenang, gemetar, gelisah, mudah
terkejut dan mudah menangis
3. Ketakutan meliputi akan gelap, ditinggal sendiri, orang asing, binatang
besar, keramaian lalulintas, kerumunan orang banyak
4. Gangguan Tidur meliputi sukar tidur, terbangun malam hari, tidak puas,
bangun lesu, sering mimpi buruk, dan mimpi menakutkan
20
5. Gangguan kecerdasan meliputi daya ingat buruk
6. Perasaan depresi meliputi kehilangan minat, sedih, bangun dini hari,
berkurangnya kesenangan pada hobi, perasaan berubah-ubah sepanjang
hari
7. Gejala somatik meliputi nyeri otot kaki, kedutan otot, gigi gemertak, suara
tidak stabil
8. Gejala sensorik meliputi tinnitus, penglihatan kabur, muka merah dan
pucat, merasa lemas, perasaan di tusuk-tusuk
9. Gejala kardiovakuler meliputi tachicardi, berdebar-debar, nyeri dada,
denyut nadi mengeras, rasa lemas seperti mau pingsan, detak jantung
hilang sekejap
10. Gejala pernapasan meliputi rasa tertekan di dada, perasaan tercekik,
merasa napas pendek atau sesak, sering menarik napas panjang
11. Gejala saluran Pencernaan makanan meliputi sulit menelan, mual, muntah,
enek, konstipasi, perut melilit, defekasi lembek, gangguan pemcernaan,
nyeri lambung sebelum dan sesudah makan, rasa panas di perut, berat
badan menurun, perut terasa panas atau kembung
12. Gejala urogenital meliputi sering kencing, tidak dapat menahan kencing
13. Gejala vegetatif atau otonom meliputi mulut kering, muka kering, mudah
berkeringat , sering pusing atau sakit kepala, bulu roma berdiri
14. Perilaku sewaktu wawancara meliputi gelisah, tidak tenang, jari gemetar,
mengerutkan dahi atau kening, muka tegang, tonus otot meningkat, napas
pendek dan cepat, muka merah
21
Kecemasan dapat diukur dengan pengukuran tingkat kecemasan
menurut alat ukur kecemasan yang disebut HARS (Hamilton Anxiety Rating
Scale) Untuk mengukur Kecemasan pada pasien pre operasi dengan
menggunakan kriteria sebagai berikut:
Adapun cara penilaiannya adalah dengan sistem scoring yaitu :
Nilai 0 = Tidak ada gejala
Nilai 1 = Bila gejala ada
Nilai 2 = Bila separuh dari gejala yang ada
Nilai 3 = Bila Lebih dari separuh gejala yang ada
Nilai 4 = Bila semua gejala ada
Penentuan derajat kecemasan dengan cara menjumlah nilai skor dan item
1-14 dengan hasil:
1. Skor kurang dari 6 = tidak ada kecemasan.
2. Skor 7 – 14 = Kecemasan ringan.
3. Skor 15 – 27 = Kecemasan sedang.
4. Skor lebih dari 27 = Kecemasan berat.
2.3. Konsep Gagal Ginjal
Penyakit gagal ginjal adalah suatu penyakit dimana fungsi organ ginjal
mengalami penurunan hingga akhirnya tidak lagi mampu bekerja sama sekali
dalam hal penyaringan pembuangan elektrolit tubuh, menjaga keseimbangan
cairan dan zat kimia tubuh seperti sodium dan kalium didalam darah atau
produksi urin. Penyakit gagal ginjal berkembang secara perlahan kearah yang
semakin buruk dimana ginjal sama sekali tidak lagi mampu bekerja
22
sebagaimana fungsinya. Dalam dunia kedokteran dikenal 2 macam jenis gagal
ginjal yaitu gagal ginjal akut dan gagal ginjal kronis (Wilson, 2010).
Menurut (Nursalam 2011), gagal ginjal kronis (chronic renal failure)
adalah kerusakan ginjal progresif yang berakibat fatal dan ditandai dengan
uremia (urea dan limbah nitrogen lainnya yang beredar dalam darah serta
komplikasinya jika tidak dilakukan dialisis atau transplantasi ginjal. Gagal ginjal
kronis (GGK) atau penyakit ginjal tahap akhir merupakan gangguan fungsi
ginjal yang progresif dan ireversibel dimana kemampuan tubuh gagal untuk
mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit,
menyebabkan uremia (retensi urea dan sampah nitrogen lainnya dalam darah.
Menurut (Brunner & Suddarth 2012), gagal ginjal kronis atau
penyakit renal tahap akhir merupakan gangguan fungsi renal yang progresif
dan irreversibel. Dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan
metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit, menyebabkan uremia
(retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah).
Menurut The Kidney Disease Outcomes Quality Initiative (K/DOQI) of
the National Kidney Foundation (NKF) pada tahun 2009, mendefenisikan gagal
ginjal kronis sebagai suatu kerusakan ginjal dimana nilai dari GFR nya kurang
2
dari 60 mL/min/1.73 m selama tiga bulan atau lebih. Dimana yang
mendasari etiologi yaitu kerusakan massa ginjal dengan sklerosa yang
irreversibel dan hilangnya nephrons ke arah suatu kemunduran nilai dari GFR.
Tahapan penyakit gagal ginjal kronis berlangsung secara terus-menerus
dari waktu ke waktu. The Kidney Disease Outcomes Quality Initiative
23
(K/DOQI) mengklasifikasikan gagal ginjal kronis sebagai berikut:
1. Stadium 1: kerusakan masih normal (GFR >90 mL/min/1.73 m2)
2. Stadium 2: ringan (GFR 60-89mL/min/1.73 m2)
3. Stadium 3: sedang (GFR 30-59 mL/min/1.73 m2)
4. Stadium 4: gagal berat (GFR 15-29 mL/min/1.73 m2)
2
5. Stadium 5: gagal ginjal terminal (GFR <15 mL/min/1.73 m )
Pada gagal ginjal kronis tahap 1 dan 2 tidak menunjukkan tanda-tanda
kerusakan ginjal termasuk komposisi darah yang abnormal atau urin yang
abnormal (Arora, 2013).
2.3.1. Etiologi Gagal Ginjal Kronis
Angka Perjalanan ESRD hingga tahap terminal dapat bervariasi
dari 2-3 bulan hingga 30-40 tahun.
Tabel 2.1
Penyebab Gagal Ginjal Kronik Berdasarkan Tujuh Kelas
No Klasifikasi Penyakit Penyakit
1 Penyakit infeksi tubulointerstitial Pielonefritis kronis dan refluks
nefropati
2 Penyakit peradangan Glomerulonefritis
3 Penyakit vaskuler hipertensi Nefrosklerosis benign,
Nefrosklerosis
4 Gangguan kongenital dan Penyakit ginjal polikistik dan
asidosis tumulus ginjal
5 Penyakit metabolic Diabetes mellitus, gout,
hiperparatiroidisme dan
amiloidosis.
6 Nefropati toksik Penyalahgunaan analgesik dan
nefropati timah
24
7 Nefropati obstruktif Batu, neoplasma, fibrosis
retroperitoneal, hipertropi prostat,
striktur urethra.
Baru-baru ini, diabetes dan hipertensi bertanggung jawab terhadap
proporsi gagal ginjal tahap akhir (ESRD) yang paling besar, terhitung
secara berturut- turut sebesar 34 % dan 21 % dari total kasus.
Glomerulonefritis adalah penyebab ESRD tersering yang ketiga (17 %).
Infeksi nefritis tubulointerstisial (pielonefritis kronis atau nefropati
refluks) dan penyakit gagal ginjal polikistik. masing-masing terhitung
sebanyak 3,4 %. Dua puluh satu persen penyebab ESRD sisanya relatif
tidak sering terjadi yaitu uropati obstruktif, lupus eritematosis sistemik
(LES) (Sylvia & Lorraine, 2010).
2.3.2. Manifestasi Klinis Gagal Kronis.
Pada gagal ginjal kronis setiap sistem tubuh dipengaruhi oleh
kondisi uremia, oleh karena itu pasien akan memperlihatkan sejumlah
tanda dan gejala. Keparahan tanda dan gejala tergantung pada bagian
dan tingkat kerusakan ginjal, kondisi lain yang mendasari adalah usia
pasien. Berikut ini merupakan tanda dan gejala gagal ginjal kronis
(Brunner & Suddarth, 2012).
1. Kardiovaskuler yaitu yang ditandai dengan adanya hipertensi, pitting
edema (kaki, tangan, sacrum), edema periorbital, friction rub
pericardial, serta pembesaran vena leher.
2. Integumen yaitu yang ditandai dengan warna kulit abu-abu mengkilat,
kulit kering dan bersisik, pruritus, ekimosis, kuku tipis dan rapuh serta
25
rambut tipis dan kasar.
3. Pulmoner yaitu yang ditandai dengan krekeis, sputum kental dan
liat, napas dangkal seta pernapasan kussmaul.
4. Gastrointestinal yaitu yang ditandai dengan napas berbau ammonia,
ulserasi dan perdarahan pada mulut, anoreksia, mual dan muntah,
konstipasi dan diare, serta perdarahan dari saluran gastroentestinal.
5. Neurologi yaitu yang ditandai dengan kelemahan dan keletihan,
konfusi, disorientasi, kejang, kelemahan pada tungkai, rasa panas
pada telapak kaki, serta perubahan perilaku.
6. Muskuloskletal yaitu ditandai dengan kram otot, kekuatan otot
hilang, fraktur tulang serta foot drop.
7. Reproduktif yaitu yang ditandai dengan amenore dan atrofi testikuler.
Sedangkan menurut Nursalam (2011), manifestasi klinis penyakit gagal
ginjal kronis yang terjadi yaitu:
1. Gastrointestinal, ulserasi saluran pencernaan dan perdarahan.
2. Kardiovaskuler, hipertensi, perubahan EKG, perikarditis, efusi
pericardium, tamponade pericardium.
3. Respirasi, edema paru, efusi pleura, pleuritis.
4. Neuromuskular, lemah, gangguan tidur, sakit kepala, letargi, gangguan
muskular, neuropati perifer, bingung dan koma.
5. Metabolik atau endokrin, inti glukosa, hiperlipidemia, gangguan hormon
seks menyebabkan penurunan, libido, impoten dan ammenore.
26
6. Cairan-elektrolit, gangguan asam basa menyebabkan, kehilangan sodium
sehingga terjadi dehidrasi, asidosis, hiperkalemia, hipermagnesemia,
hipokelemia.
7. Dermatologi, pucat, hiperpigmentasi, pluritis, eksimosis, uremia frost.
8. Abnormal skeletal, osteodistrofi ginjal menyebabkan osteomalaisia.
9. Hematologi, anemia, defek kualitas flatelat, perdarahan meningkat.
10. Fungsi psikososial, perubahan kepribadian dan perilaku serta gangguan
proses kognitif.
2.4. Konsep Hemodialisa
Hemodialisa merupakan suatu membran atau selaput semi permiabel.
Membran ini dapat dilalui oleh air dan zat tertentu atau zat sampah. Proses ini
disebut dialisis yaitu proses berpindahnya air atau zat, bahan melalui membran
semi permiabel. Terapi hemodialisa merupakan teknologi tinggi sebagai terapi
pengganti untuk mengeluarkan sisa-sisa metabolisme atau racun tertentu dari
peredaran darah manusia seperti air, natrium, kalium, hidrogen, urea, kreatinin,
asam urat, dan zat-zat lain melalui membran semi permiabel sebagai pemisah
darah dan cairan dialisat pada ginjal buatan dimana terjadi proses difusi,
osmosis dan ultra filtrasi (Brunner & Suddarth, 2011).
Hemodialisa merupakan suatu proses yang digunakan pada pasien dalam
keadaan sakit akut dan memerlukan terapi dialisys jangka pendek (beberapa
hari hingga beberapa minggu) atau pasien dengan penyakit ginjal stadium
akhir atau end stage renal disease (ESRD) yang memerlukan terapi jangka
panjang atau permanen. Tujuan hemodialisa adalah untuk mengeluarkan zat-zat
27
nitrogen yang toksik dari dalam darah dan mengeluarkan air yang berlebihan
(Suharyanto dan Madjid, 2013).
Menurut (Nursalam, 2011) hemodialisa adalah proses pembersihan darah
oleh akumulasi sampah buangan. Hemodialisa digunakan bagi pasien dengan
tahap akhir gagal ginjal atau pasien berpenyakit akut yang membutuhkan dialisis
waktu singkat. Bagi penderita gagal ginjal kronis, hemodialisa akan mencegah
kematian. Namun demikian, hemodialisa tidak menyembuhkan atau
memulihkan penyakit ginjal dan tidak mampu mengimbangi hilangnya aktivitas
metabolik atau endokrin yang dilaksanakan ginjal dan dampak dari gagal ginjal
serta terapinya terhadap kualitas hidup pasien.
Tujuan dari hemodialisa adalah untuk mengambil zat-zat nitrogen yang
toksik dari dalam darah pasien ke dializer tempat darah tersebut dibersihkan dan
kemudian dikembalikan ketubuh pasien. Ada tiga prinsip yang mendasari kerja
hemodialisa yaitu difusi, osmosis dan ultrafiltrasi. Bagi penderita gaga l ginjal
kronis, hemodialisa akan mencegah kematian. Namun demikian, hemodialisa
tidak menyebabkan penyembuhan atau pemulihan penyakit ginjal dan tidak
mampu mengimbangi hilangnya aktivitas metabolik atau endokrin yang
dilaksanakan ginjal dan tampak dari gagal ginjal serta terapinya terhadap
kualitas hidup pasien (Cahyaningsih, 2012).
Hemodialisis merupakan suatu mesin buatan (alat hemodialisis) terutama
terdiri dari mebran semipermeabel dengan darah disatu sisi dan cairan dialysis
disisi lain. Ada dua tipe dasar alat dialisis yang dipergunakan sekarang ini. Alat
dialisis lempeng parallel, terdiri dari dua lapisan Cuprophane yang dijepit oleh
28
dua penyokong yang kaku untuk membentuk suatu amplop. Dua amplop atau
lebih diatur secara paraler. Darah mengalir melalui lapisan-lapisan membrane,
dan cairan dialisis dapat mengalir dalam darah arah yang sama seperti darah,
atau dengan arah berlawanan, alat yang sering digunakan adalah hollow fiber
atau capillary dialyzer terdiri dari ribuan serabut kapiler halus yang tersusun
paraler (Silvia, 2013).
Sirkuit darah dari sistem dialisis mula-mula di lengkapi dengan larutan
garam atau darah sebelum dihubungkan dengan sirkuit penderita. Tekanan darah
penderita mungkin cukup untuk meluncurkan darah melalui sirkuit di luar tubuh,
atau mungkin juga memerlukan pompa darah untuk membantu aliran sikitar
(200 sampai 400ml/menit merupakan kecepatan aliran yang baik). Heparin
secara terus-menerus dimasukkan pada jalur arteri melalui infus lambat untuk
mencegah pembekuan. Perangkap pembekuan darah atau gelembung udara
dalam jalur vena akan menghalangi udara atau bekuan darah kembali kedalam
aliran darah penderita. Untuk menjamin keamanan penderita, maka alat
hemodialisis modern dilengkapi dengan alat pemantau yang dimiliki alarm untuk
berbagai parameter. Sel konduktivitas memantau komposisi kimia dari cairan
dialisis. Cairan dialisis pada suhu tubuh akan meningkatkan kecepatan difusi,
tetapi suhu yang terlalu tinggi menyebabkan hemodialisis sel-sel darah merah
sehingga kemungkinan penderita akan meninggal. Robekan pada membran
dialisis yang menyebabkan kebocoran kecil atau massif dapat deteksi oleh foto
sel pada aliran keluar dialisat (Lorraine M, 2009).
Menurut (Silvia dan Lorraene, 2013) ada tiga akses dalam hemodialisis
29
adalah sebagai berikut:
1. Akses vascular Hemodialisis
Untuk melakukan hemodialisis interminten jangka panjang, maka
perlu ada jalan masuk ke sistem vascular penderita yang dapat diandalkan.
Darah harus keluar dan masuk tubuh penderita dengan kecepatan 200 sampai
400 ml/menit. Kotak 48-3 memutar daftar tehnik akses vaskuler yang
diklasifikasi sebagai internal akses (biasanya sementara) dan internal
(permanen). akses vascular merupakan aspek yang paling peka pada
hemodialisis karena banyak komplikasi dan kegagalannya.
2. Akses Vaskuler Ekternal (Sementara)
Pirau arteriovenosa (AV) eksternal atau sistem kanula diciptakan
dengan menempatkan ujung kanula dari Teflon dalam arteri (biasanya arteri
radialis atau tibialis posterior) dan sebuah vena yang berdekatan. Ujung-ujung
kanula dihubungkan dengan slang karet silikon dan suatu sambungan Teflon
yang melengkapi silikon. Pada waktu yang dilakukan dialisis, maka slang
pirau eksternal dipisahkan dan dibuat hubungan dengan alat dialisis. Darah
kemudian mengalir dari jalur arteri, melalui alat dialisis dan ke vena. Sistem
kanula mula-mula dirancang pada tahun 1960, dan memungkinkan dilkukan
dialisis interminten kronik untuk pertama kalinya.
3. Akses Vaskuler Internal (Permanen)
Fistula AV diperkenalkan oleh (Camino dan Breskia 1962 dalam
Silvia, 2013) sebagai respon terhadap banyaknya komplikasi yang
ditimbulkan pirau AV. Fistula AV dibuat melalui anastomosis arteri secara
30
langsung ke vena (biasanya arteri radialis dan vena safalika pergelangan
tangan) pada lengan yang tidak dominan. Darah dipirau dari dari arteri ke
vena, sehingga vena membesar (“matang”) setelah beberapa minggu, fugsi
vena vena dengan jarum yang besar menjadi mudah dilakukan dan mampu
mencapai aliran darah pada tekanan arterial.
2.4.1. Prinsip-prinsip Hemodialisa
Menurut (Brunner & Suddarth, 2011), ada tiga prinsip yang
mendasari kerja dari hemodialisa yaitu:
1. Difusi,
2 . Osmosis
3 . dan ultrafiltrasi.
Toksin dan zat limbah yang berada didalam darah dikeluarkan
melaui proses difusi dengan cara bergerak dari darah, yang memiliki
konsentrasi tinggi, kecairan dialisat dengan konsentrasi yang lebih rendah
(Brunner & Suddarth, 2011). Air yang berlebihan dikeluarkan dari dalam
tubuh melalui proses osmosis. Pengeluaran air tersebut dapat dikendalikan
dengan menciptakan gradient tekanan, Gradien ini dapat ditingkatkan melalui
penambahan tekanan negatif yang dikenal sebagai ultrafiltrasi pada mesin
dialisis. Karena pasien tidak dapat mengekskresikan air, kekuatan ini
diperlukan untuk mengeluarkan cairan hingga tercapai isovelemia
(keseimbangan cairan) (Brunner & Suddarth, 2011).
Sistem dapar (buffer sisite) tubuh dipertahankan dengan penambahan
asetat yang akan berdifusi dari cairan dialisat ke dalam darah pasien dan
31
mengalami metabolisme untuk membentuk bikarbonat. Darah yang sudah
dibersihkan kemudian dikembalikan ke dalam tubuh melalui pembuluh
darah vena (Brunner & Suddarth, 2011).
2.4.2. Penatalaksanaan Hemodialisa pada Pasien
Jika kondisi ginjal sudah tidak berfungsi diatas 75 % (gagal ginjal
terminal atau tahap akhir), proses cuci darah atau hemodialisa merupakan
hal yang sangat membantu penderita. Proses tersebut merupakan tindakan
yang dapat dilakukan sebagai upaya memperpanjang usia penderita.
Hemodialisa tidak dapat menyembuhkan penyakit gagal ginjal yang diderita
pasien tetapi hemodialisa dapat meningkatkan kesejahteraan kehidupan
pasien yang gagal ginjal (Wijayakusuma, 2014).
Diet merupakan faktor penting bagi pasien yang menjalani
hemodialisa mengingat adanya efek uremia. Apabila ginjal yang rusak tidak
mampu mengekskresikan produk akhir metabolisme, substansi yang bersifat
asam ini akan menumpuk dalam serum pasien dan bekerja sebagai racun dan
toksin. Gejala yang terjadi akibat penumpukan tersebut secara kolektif
dikenal sebagai gejala uremia dan akan mempengaruhi setiap sistem tubuh.
Diet rendah protein akan mengurangi penumpukan limbah nitrogen dan
dengan demikian meminimalkan gejala (Brunner & Suddarth, 2011).
Penumpukan cairan juga dapat terjadi dan dapat mengakibatkan gagal
jantung kongestif serta edema paru. Dengan demikian pembatasan cairan juga
merupakan bagian dari resep diet untuk pasien. Dengan penggunaan
hemodialisis yang efektif, asupan makanan pasien dapat diperbaiki
32
meskipunbiasanya memerlukan beberapa penyesuaian dan pembatasan
pada asupan protein, natrium, kalium dan cairan (Brunner & Suddarth, 2011).
Banyak obat yang diekskresikan seluruhnya atau sebagian melalui
ginjal. Pasien yang memerlukan obat-obatan (preparat glikosida jantung,
antibiotik, antiaritmia dan antihipertensi) harus dipantau dengan ketat sehingga
dapat untuk memastikan agar kadar obat-obat ini dalam darah dan jaringan
dapat dipertahankan tanpa menimbulkan akumulasi toksik dalam darah
(Brunner & Suddarth, 2011).
2.4.3. Indikasi dan Komplikasi Terapi Hemodialisa
Menurut (Al-hilali, 2010), walaupun hemodialisa sangat penting untuk
menggantikan fungsi ginjal yang rusak tetapi hemodialisa juga dapat
menyebabkan komplikasi umum berupa hipertensi (20-30% dari dialisis),
kram otot (5-20% dari dialisis), mual dan muntah (5-15% dari dialisis), sakit
kepala (5% dari dialisis), nyeri dada (2-5% dialisis), sakit tulang belakang
(2-5% dari dialisis), rasa gatal (5% dari dialisis) dan demam pada anak-
anak (<1% dari dialisis). Sedangkan komplikasi serius yang paling sering
terjadi adalah sindrom disequilibrium, arrhythmia, tamponade jantung,
perdarahan intrakaranial, hemodialisis dan emboli paru.
Menurut (Shardjono dkk, 2010), pada umumya indikasi dari terapi
hemodialisa pada gagal ginjal kronis adalah laju filtrasi glomerulus (LFG)
sudah kurang dari 5 mL/menit, sehingga dialisis dianggap baru perlu dimulai
bila dijumpai salah satu dari hal tersebut dibawah :
1. Keadaan umum buruk dan gejala klinis nyata
33
2. K serum > 6 mEq/L
3. Ureum darah > 200 mg/Dl
4. PH darah < 7,1
5. Anuria berkepanjangan ( > 5 hari )
6. Fluid overloaded
2.5. Landasan Teori
Berdasarkan teori yang telah diuraikan maka dapat dijabarkan
landasan teori sebagai berikut:
34
Mekanisme Koping individu
Tingkat Kecemasan
Adaptif
1. Kecemasan Ringan
2. Kecemasan Sedang Pasien gagal
3. Kecemasan Berat ginjal
Mal adaptif
Gagal Ginjal
Kronis
Unit
Hemodialisa
Gagal ginjal
akut
Gambar 2.1 Kerangka Teoritis modifikasi dari Stuart & Suddeen (2010)
Brunner & Suddarth, (2011).
2.6. Kerangka Konsep
Berdasarkan hasil dari tinjauan teoritis maka kerangka konsep dapat
dikembangkan sebagai berikut:
Variabel Independen Variabel Dependen
35
Mekanisme Koping Tingkat Kecemasan
Gagal ginjal Kronis
1. Koping Adaptif
2. Koping 1. Ringan
Maladaptif 2. Sedang
3. Berat
Gambar 2.2 Kerangka Konsep Penelitian