Input Component
Input Component
INPUT COMPONENT
Tujuan Training :
Component .
• Proses untuk merubah ke standard yang lebih tinggi (upgrade) dapat dengan mudah yaitu
dengan pemograman secara komputerisasi.
Technician harus memahami langsung perbedaan pada type type daripada peralatan input
dan output. Dan dalam hal ini untuk dapat melakukan diagnostic pada proses
troubleshooting (pemecahan masalah) yang dihubungkan pada masing masing control.
Adapun sistem pengontrolan secara elektronik ini menggunakan tiga syarat utama yaitu
harus ada input, kontrol dan output yang masing-masing menjalankan fungsinya sehingga
sistemnya bekerja dengan baik. Seorang serviceman harus mengerti sistem dari masing-
masing pengontrol tersebut karena banyak jenis pengontrol yang dipakai oleh masing-
masing machine.
Setiap Electronic control membutuhkan type tertentu pada peralatan input untuk
memberikan masukan dan informasi ke controller sebagai pengolah data. Proses
pengendaliannya dilakukan dengan memberi informasi dari input dan kemudian
mengirimkan signal electronic yang tepat ke bermacam macam peralatan output atau
actuator (penggerak), Seperti solenoide, lampu indicator alarm dan lain lain. Technician
hanya perlu meng indentifikasi bermacam macam macam control yang digunakan pada
mesin. Pada umumnya controller merupakan buatan pabrik, sehingga akses ke bagian
dalam elctronic component tidak terlalu dibutuhkan.
• Switch
• Sender
• Sensor
Kebanyakan peralatan atau component input yang digunakan pada mesin electronic sistem
adalah switches, sender atau sensor. Technician harus dapat meng identifikasi masing
masing peralatan ini, memahami cara kerjanya dan mengetahui cara men diagnostic dan
melakukan test peralatan ini , untuk dapat menganalisa cara kerja yang benar pada masing
masing component. Contoh dari masing masing peralatan input akan dibahas pada section
ini.
SWITCH
Monitoring sistem pada mesin menggunakan beberapa type switch yang berbeda untuk
memonitor kondisi mesin. Kesemuanya memiliki kesamaan fungsi dan sering mengacu pada
“two state” atau dua kondisi yaitu “ON dan OFF”. Semuanya menyediakan input terbuka
atau ground input pada electronic control. Pada monitoring sistem yang lama
menggunakan type type component seperti ini. Monitoring sistem yang baru juga masih
banyak menggunakan component ini dengan menambahkan peralatan input yang baru, dan
akan dibahas pada modul ini.
oleh sistemnya. Contoh switch ini adalah: oil pressure switch, water temperature switch,
coolant flow switch dan fuel level switch.
Panah pada gambar di atas menunjukkkan Engine oil pressure switch yang terletak pada
block engine , biasanya type switch ini adalah normally open (saat engine belum running)
atau kontak switch tidak akan terhubung (terbuka) saat engine belum running. Ketika
engine running dan pressure (tekanan) oli dalam range yang di inginkan telah tercapai
sesuai dengan spesifikasi enginering, kontak akan terhubung (closed) ,dan operator akan di
beri informasi saat kondisi ada peringatan (warning) tentang pressure engine, biasanya
switch pada monitoring sistem menggunakan kondisi closed/terhubung pada kondisi normal
engine running. Jika terjadi kasus kerusakan wire atau cable pada switch , input akan
menampilkan rangkaian terbuka (open circuit) dan memberikan peringatan pada monitoring
sistem. Warning kategori akan dibicarakan secara detail pada bahasan berikutnya.
LIMIT SWITCH
1. Limit Switch
2. Symbol limit Switch
Terdiri dari dua kondisi dalam hubungannya dengan control Normally open dan
Normally closed.
1. Switch
2. Schematic Symbol
3. Sleeve
Gambar diatas menunjukkan Electronic switch yang kadang kadang digunakan untuk
memonitor engine coolant level (level air radiator). Switch ini di desain dan bekerja berbeda
dengan jenis jenis switch yang lainnnya. Switch ini membutuhkan +8 Volt input dari module
display utama untuk ber operasi.
Selama operasi normal , level dari cairan pendingin (coolant) berada disekitar selongsong
plastik (plastik sleeve) pada switch dan switch menyediakan ground signal pada rangkaian
ke module/controller menjaga level alert (isyarat kondisi kecukupan) tetap mengindikasikan
Off. Hal ini sangat penting untuk diperhatikan pada switch jenis ini yang memiliki plastik
pembungkus pada penghubungnya. Jika Plastik pembungkus rusak dan terbuka, maka rod
atau batang penghubung didalam switch tidak akan berfungsi dengan baik.
Untuk dapat melalkukan troubleshooting dan diagnosa pada switch dan switch input secara
efektif, hal ini sangat penting untuk para teknisi memahami prinsip dasar pada switch input
dalam sebuah electronic control, pada gambar tampak contoh switch type input.
Sensing Signal pada sirkuit di dalam kontrol dihubungkan secara pararel dengan resistant
pada peralatan input . Dasar analisa rangkaian electric menyatakan bahwa tegangan jatuh
(voltage drop) yang melalui peralatan input akan terbaca oleh rangkaian sensing signal di
dalam sebuah controller
pada switch yang dihubungkan dengan peralatan input . Ketika switch pada posisi terbuka
resistant dari kabel switch input ke ground terbaca tak terhinggga (OL) , Dasar rangkaian
terlihat seperti pembagi tegangan. Resistant yang melewati switch terlalu besar
sehingga+5V Pull – up voltage dapat di ukur melalui switch.
Pada gambar diatas menunjukkan sikuit yang sama dengan posisi switch closed
(terhubung).ketika switch pada posisi terhubung, resistance dari kabel signal ke ground
sanagt rendah (hampir mendekati nilai nol) . Sekarang Dasar rangkaian pembagi tegangan
telah memiliki nilai yang berubah. Resistant pada resistor di dalam rangkaian control secara
signifikan lebih besar dibandingkan resistant pada switch yang telah terhubung.
Resistant yang melewati resistor sangat besar yaitu +5 Pull-up Voltage (tegangan acuan)
yang dapat di ukur melewati resistor. Tegangan Jatuh (voltage drop) yang melewati switch
dengan kondisi tertutup pada dasarnya +0V. Sensing signal pada sirkuit pada electronic
control juga menyensing tegangan +0V atau +5V,(secara digital Low atau high), Sejak
Control menyediakan pull-up voltage , adanya Voltage drop yang mungkin terjadi pada
wiring harness dikarenakan karena buruknya sambungan atau panjangnya kabel tidak
berpengaruh pad a signal tinggi pada tegangan acuan controller . Harness Voltage drop
dapat ditemukan hasil pengukuran tegangannya pada switch dibawah +5V. Karena control
menggunakan tegangan acuan , sensor tidak memiliki sumber arus yang dibutuhkan untuk
mengendalikan signal untuk harness yang panjang.
• Programming Switch
Switch ini dipergunakan untuk merubah program kontrolnya, dengan merubah hubungan ke
ground menjadi open atau sebaliknya pada konektor-konektor yang disediakan untuk itu.
Sehingga kontrol tersebut bisa mengetahui model konfigurasi unit yang dipasangnya, hal ini
perlu karena untuk membedakan karakteristik unit satu dengan lainnya. Contoh switch ini
adalah: harness code switch, unit switch dll.
• Service Switch
Switch ini diperlukan untuk melakukan perubahan mode operasi, atau untuk melihat kode-
kode problem yang ada serta menghapusnya jika sudah di logged-kan oleh ECM nya.
Contohnya adalah: Service connector switch yang dihubungkan ke service tool untuk
mengakses data-datanya dari kontrol tersebut.
Pada gambar ditunjukkan type Rocker switch yang dipasang pada panel di cabin . terutama
sekali switch ini digunakan oleh operator untuk mode operational tertentu pada display
pada module monitoring sistem. Switch sesaat sebagai ON switch dan kontak switch adalah
normally [Link] switch diaktifkan (ditekan)akan memberikan signal melalui cable
menuju control module dan memberikan operator akses untuk memilih mode tertentu.
SENDER
Sistem monitoring Mesin menggunakan dua tipe sender sebagai input untuk informasinya
kepada kontrol. Dua tipe sender itu adalah:
Pada gambar diatas , sender digunakan sebagai Fuel level (pengukur kapasitas bahan bakar).
Sender ditempatkan pada bagian atas tangki bahan bakar dan mengukur kedalaman dari
bahan bakar didalam tangki. Dua type dari yang biasa terdapat dalam monitoring system.
Salah satu sender memiliki sebuah internal resistant yang rangenya diantara 0 _ 90 ohms
dan type yang lain kisaran antara 33 _ 240 ohms.
Kedalaman fuel pada fuel tank menunjukkan posisi dari float (pelampung) akan bergerak
naik atau turun pada batang spiral (spiral rod) dan bergerak berputar. Sender diletakkan
pada bagian atas dari compenent assy dan bermagnet yang terpasang pada rotating rod
(batang berputar). Resistant dari sender akan berubah seiring dari perputaran batang dan
diukur oleh main display modul/controll dan ditampilkan pada fuel gauge di monitor.
Temperature sensor biasanya untuk mendeteksi temperature air, oli dan fuel. Jika sensor
mendeteksi perubahan temperature maka tahanannya akan berubah sesuai dengan
karakteristik jenis sender ini. Jika Temperature tinggi tahanan/resistannya akan turun, 70
ohms pada temperature 110 derajat celcius dan 300 ohms pada temperature 25 derajat
celcius.
Terminal sender dengan single wire / satu kabel tergantung mounting/ pengikat yang
digunakan ground mesin untuk melengkapi rangkaian signal. Karena hal ini sangat penting
untuk mendapatkan koneksi yang bagus diantara bagian dari sender dan metal pengikat
yang terhubung didalamnya. Penggunaan dari Type Teflon untuk pelindung bertujuan agar
dapat melindungi electrical conductivity pada sambungan. Pada umumnya sender
menggunakan washer bukan dari bahan penghantar yang menjaga kabel terhubung ke
tengah terminal dari short/terhubung singkat dengan Sender Housing.
Jika terjadi kesalahan pada rangkaian sender. Pada monitor akan memberikan tanda kepada
peringatan operator kategori 2. Hal paling mungkin terjadi disebabkan oleh
• Sender Rusak
• Ground yang terbuka
• Signal short ke battery
• Kabel Signal terbuka
SENSOR
• Sensor Frequency
• PWM (Digital)
• Analog
• Analog to Digital
Sensor mengukur parameter secara fisik seperti kecepatan, temperature, tekanan dan
posisi. Sebuah sensor elektronik merubah parameternya secara fisik menjadi sinyal
elektronik, sinyal ini proporsional terhadap kondisi parameternya.
Pada sistem elektronik , sensor digunakan untuk memantau sistem-sistem yang ada di
machinenya dengan perubahan yang tetap. Sinyal elektronik ini mewakili perubahan yang
diukur, sinyal ini dimodulasikan dalam tiga cara yaitu:
Di dalam bagian ini akan dijelaskan tipe-tipe dari sensor input: frekwensi, analog, digital
dan kombinasi analog ke digital.
• Sensor frequency
Dalam sistem yang tidak terlalu terpengaruh terhadap kecepatan rendah (dibawah 500 rpm)
bisa menggunakan tipe ini. Sensor ini memberikan informasi kecepatan di atas 600 rpm
secara akurat tetapi tidak di bawah 600 rpm, sehingga main display menggunakannya untuk
tachometer engine atau ECM transmisi untuk mengetahui kecepatan gear intermediate dari
output transmissi dan keperluan yang lain lain. Sensor ini termasuk sensor pasif karena tidak
membutuhkan tegangan input untuk memproses sinyalnya. Dan juga sensor tersebut
merubah gerakan mekanikal menjadi tegangan AC, karena didalamnya terdapat coil, core
dan magnet sehingga hampir menyerupai generator kecil. Cara kerjanya yaitu saat gear
memotong medan magnet permanent di dalam sensor terbangkitlah tegangan AC dalam
coil dan diikuti oleh frekwensinya. Frekwensi tersebut proporsional terhadap kecepatan dan
ECM menggunakan frekwensi tersebut untuk membandingkan dengan data yang tersimpan
dalam ECM. Untuk mengetahui kondisi baik dan tidaknya sensor tersebut kita bisa
mengukurnya secara statis dan dinamis, yaitu pada saat dilepas dari harnessnya dan engine
dalam keadaan mati kita bisa mengukur nilai tahanan coilnya antara 100 sampai 500-Ohm
sesuai besar kecilnya sensor. Dan pada saat tersambung dengan harnesnya dengan engine
dalam keadaan hidup dengan menggunakan probe tester kita bisa mengukur tegangan AC
nya dan frekwensinya yang timbul antara terminal 1 dan 2.
Pengambilan medan magnet pada sensor sangat tergantung dari jarak antara ujung dari pick
up/pengambil magnet pada sensor dan pemotongan gigi gigi pada gear untuk mendapatkan
sistem operasi yang tepat. Tipikal dari sensor ini ketika pick up dipasang, diputar sampai
membuat kontak dengan bagian puncak gear dan kemudian diputar kembali/keluar sesuai
putaran sebelumnya / sesuai spesifikasi manual book dan kemudian dikunci dengan lock nut
yang terikat pada sensor. Sangatlah penting untuk memeriksa spesifikasi ketika memasang
sensor ini untuk memastikan jarak pemasangan yang paling tepat.
Pada sistem dimana kecepatan rendah sangat berpengaruh oleh informasi ECM maka
digunakanlah tipe hall effect. ECM transmission dan engine menggunakannya untuk
mendeteksi kecepatan tiap posisi dan timing. Kedua sensor sama-sama mempunyai hall cell
di kedua ujung kepalanya.
Cara kerjanya yaitu sewaktu gear memotong medan magnet yang terdapat di hall cell
terbangkitlah sinyal yang kecil, lalu sinyal tersebut dikirim ke amplifier yang terdapat di
sensor itu juga dan menjadi sinyal PWM yang cukup kuat dan seterusnya dikirim ke kontrol
untuk diproses. Karena sinyalnya berpulsa maka terdapat duty cycle dan disebut sinyal
digital.
Sesuai dengan namanya maka output sensor ini yang berupa frekwensi yang sebagai acuan
dalam referensi oleh kontrolnya untuk kecepatan sedangkan duty cycle dipakai untuk
menentukan timing. Sensor ini sangat akurat dalam mendeteksi kecepatan karena
outputnya tidak tergantung oleh kecepatan, dan dapat mendeteksi kecepatan mulai dari 0
rpm dalam temperature yang bervariasi. Hall effect sensor ini dapat memberikan output
yang baik jika dalam pemasangannya tanpa ada celah di gearnya. Untuk mendiagnosa
sensor tersebut harus melakukan beberapa tahapan yaitu:
• Ukur tegangan inputnya antara pin A dan pin B _ +10V (speed timing sensor = 12,7
Volt sedangkan transmission output sensor = 8 Volt)
• Ukur outputnya antara pin C dan pin B harus terdapat duty cycle antara 5% sampai
95 %, dan terdapat frekwensi antara 4,5 kHz sampai 5,5 kHz.
Speed Sensor pada Engine Electronic control mengukur kecepatan dan timing (waktu injeksi
fuel). Kecepatan dari gear di sensing oleh pengukuran perubahan medan magnet ketika gigi
gigi gear melewati sensor. Engine timing saling berhubungan dengan ujung dari gigi gear.
Speed timing sensor dibuat spesial untuk “ timing” injeksi engine electronic. Karena controll
yang digunakan untuk “ timing” sangatlah penting pada electronic control untuk
mengetahui waktu yang tepat gigi gear melewati slip head (ujung kepala sensor).
Pada gambar diatas menunjukkan timing wheel sensor. Seperti halnya masing masing gigi
gear nya melewati cell/ slip head, elemen sensingnya akan mengirimkan signal yang kecil ke
sebuah amplifier(penguat). Kemudian signal rata rata pada component electronic dibagian
dalamnya mengirimkan signal ke comparator (pembanding). Jika signal dibawah rata rata
(celah/gap) maka outputnya akan Low(rendah) , tapi jika signal diatas rata rata (gigi
mengenai cell) output nya akan tinggi. Rangkaian didalam Speed timing sensor spesial
dibuat sesuai standar agar ECM engine dapat menunjukkan posisi yang tepat untuk gear
penggerak pada engine.
Pada Engine yang menggunakan sistem injeksi secara electronic, pola yang unik
terdapat pada gigi gigi gearnya sebagai referensi untuk timing nya dan membantu
electronic control untuk menunjukkan posisi crankshaft, arah putaran dan RPM.
Electronic control akan menghitung masing masing pulsa dan menunjukkan
kecepatan, mengingat pola pada pulsa yang diterima dan membandingkan pola
tersebut untuk mendesain standar penunjukkan posisi crankshaft dan arah putaran
engine.
• Sensor Digital
Sensor digital menggunakan metoda modulasi lebar pulsa sinyalnya untuk memberikan
sinyal elektronik yang berubah-ubah kepada kontrolnya. Perbandingan sinyal on dan off
berubah pada frekwensi yang tinggi dan dapat mengikutinya terus secara mekanis. Hasil
rata-rata dari on dan off pulsa tadi menyebabkan perubahan tegangan dan arus yang akan
diterjemahkan oleh kontrol sesuai dengan kebutuhannya.
SENSOR DIGITAL
Jika pada saat pengukuran di luar standar yang di atas bisa dipastikan sensornya ada
kerusakan. Gambar fisik sensor tersebut adalah seperti berikut ini.
Sensor Digital
TERMINOLOGY
SUPPLY Tegangan input dibutuhkan untuk pengoprasian sensor dapat di list dengan
berbagai berbagai bentuk pernyataan , sebagai berikut:
B+, +B, +Battery = Supply tegangan ke sensor di kirimkan oleh Battery pada
mesin.
+8 = mengindikasikan bahwa sensor menerima potensial tegangan 8 volt.
Tegangan ini digunakan sebagai salah contoh pada control. Beberapa control
menyediakan tegangan dengan level yang berbeda.
V+ = suplly tegangan ke sensor dikirim dari sumber yang lain yang bukan dari
battery mesin. Teknisi harus menelusuri sumber yang dikirimkan , yaitu dari
salah satu control electronic untuk menunjukkan tegangan supply untuk
sensor.
GROUND Terminology penggunaan “ground” didalam schematic sensor merupakan
sesuatu yang sanagt signifikan bagi teknisi. Digital sensor biasanya
grounded/ground terhubung dengan frame/rangka mesin , dan biasanya leih
mendekati dengan sensor itu sendiri. Hal ini juga menunjukkan identifikasi
untuk type sensor yang digunakan. Beberapa digital sensor grounded/
ground terhubung ke digital return pada ECM (ground dari ECM).
SIGNAL pengertian untuk signal mengidentifikasikan output/keluaran kabel pada
sensor . kabel signal menyuplai parameter informasi ke electronic control
module untuk diprosess
• Sensor Analog
Sensor tipe ini sangat berbeda dengan yang digital bukan hanya bentuk fisiknya tetapi juga
cara kerja dan fungsinya serta mengerluarkan sinyal analog. Definisi dari sinyal analog
adalah sinyal yang perubahannya secara perlahan dan terus menerus juga proposional
(Linear) yang dipantaunya, seperti gambar di samping ini.
Sensor Analog
Output dari sensor analog hanya berupa tegangan DC, biasanya antara 0 sampai 5 Volt.
Konstruksi bagian dalamnya hanya terdapat thermistor dan amplifier yang memperoses
sunyal outputnya 0,2 sampai 4,8 Volt DC secara proporsional dengan temperature
normalnya.
Troubleshooting sensor analog juga sama dengan yang digital yaitu memerlukan 9U7330
DMM dan 7X1710 probe group. Dan juga kunci kontak dalam keadaan on, karena sensornya
termasuk tipe aktif. Pengetesannya cukup mudah kita hanya mengukur inputnya yaitu pin A
ke pin B = 5 Volt DC, serta sinyalnya dari pin C ke pin B = 1,99 sampai 4, 46 Volt DC. Dari
kedua tipe sensor tadi , mesin juga memberikan indikasi pada kabel sinyal sensornya yaitu
jika kabelnya putus kontrolnya akan mengeluarkan tegangan yang disebut dengan build–up
voltage. Untuk sensor digital biasanya sekitar 8 Volt dan sensor analog untuk build–up
voltage = 6,3 Volt.
Sensor tipe ini menggunakan bagian analognya untuk mengukur parameternya dan
mengirimkan sinyal tersebut ke sebuah converter dan di dalam converter sinyal tersebut
dirubah menjadi digital ( PWM ) menuju ke kontrol elektronik. Troubleshooting sensor tipe
ini sama dengan sensor digital. Di bawah ini terdapat contoh gambar sensor analog ke
digital untuk sensor tekanan brake.
Fuel Level sensor (4) memberi reaksi kepada level didalam fuel tank. Fuel level sensor (4)
memancarkan Signal ultrasonic. Signal yang akan diberikan melalui Guide tube / tabung
pemandu (3). Signal ultrasonic memantulkan piringan metal di dasar dari pelampung (2)dan
signal kembali ke sensor. Sensor mengukur waktu yang diperlukan signal ultrasonic untuk
berjalan dari sensor ke pelampung dan balik ke sensor yang di konversikan juga oleh sensor
untuk mengukur level dari fuel/bahan bakar. Open Status/ kondisi terbuka atau gounded
status ke kontak nomer 3 menyatakan signal sensor apakah signal diposisi bagian terdalam
tangki atau signal sensor berada di bagian tangki yang dangkal. Kontak 3 terbuka jika
kedalaman maximum dari tangki sekitar 2286 mm (90 inch). Kontak 3 akan terhubung
dengan ground jika kedalaman dari sensor sekitar 1150mm (45 inch). Sensor akan menerima
power pengoprasian dari sistem electric pada mesin. Display utama pada module akan
menerima PWM signal dari sensor . Signal akan berubah sesuai dengan perubahan level dari
fuel. Display utama mengukur duty cycle pada signal sensor yang dalam hal ini untuk
menentukan persentasi level dari fuel/bahan bakar.
Sensor ini dipasang ke engine oil filter, dan perubahan temperature sebagai input sesuai
dengan perubahan resistant pada thermistor kemudian dikirimkan ke VHMS control modul.
Fungsi.
Sensor ini dipasang pada transmission filter, dan perubahan temperaturenya di ikuti juga
dengan perubahan resistan di dalam thermistor kemudian signal ini dikirim ke controller.
Fungsi.
Switch ini dipasang di sisi depan dari ujung valve flow sensor pada ECMV. Ketika Clucth
terhubung (engaged), ujung dari spool valve terhubung dengan terminal pada switch dan
mengaktifkan switch (ON).Signal pengisian telah komplet kemudian dikirim ke shift
controller.
Prinsip Kerja.
• Alat ini dipasang di bawah operator cabin .Accelerator pedal dan accelerator
sensor dihubungkan denagn saling bertautan. Ketika accelerator pedal ditekan ,
dan pergerakannya melewati linkage dan memutar shaft pada potensiometer
didalam accelerator sensor. Dan menghasilkan perubahan resistan. Tegangan
yang tetap mempengaruhi diantara pin no 1 _3 pada potensiometer. Tegangan
signal saling berhubungan dengan sudut yang dibentuk oleh accelerator pedal
yang dikirimkan oleh pin 2 ke transmission controller.
DECELERATOR POTENSIOMETER
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
Flow Switch
Ketika Oli
mengalir
dibawah
spesifik level.
Prinsip Kerja
• Pressure Sensor di pasang di bagian
ujung dasar dari Cylinder Suspensi dan
bekerja untuk mengukur tekanan pada
Bagian Dasar Cylinder.
• Ketika mengganti Pressure Sensor (1),
Biarkan Valve terpasang di suspensi dan
hanya lepaskan sensornya saja(1). Ketika melepaskan atau memasang sensor (1),
hati hati jangan sampai valve nya terputar (2). Ketika melepaskan sensor(1),
pergerakan Valve core (3) mencegah pressure pada suspensi turun atau
berkurang.
1. Flow
2. Switch
3. Connector
Fungsi
• Engine Oil Level Switch dipasang pada bagan depan dari Engine oil pan (tangki oli).
Jika oli berkurang dari spesifik level, pelampung akan turun dan switch dalam kondisi
OFF. Abnormal akan terbaca pada display untuk memperingatkan operator.
[Link]
[Link]
[Link]
Fungsi
• Brake oil level Switch dipasang dibagian depan brake oil tank. Jika oil turun / kurang
dari spesifik level, switch akan menjadi OFF . Abnormal informasi kan terbacca pada
display dan akan memberi peringatan (warning) kepada operator.
1. Connector
2. Bracket
3. Float
4. Switch
Fungsi
• Hydraulic oil level switch dan retarder oil level switch dipasang pada bagian depan
Brake coling oil tank. Jika oil bergerak dibawah spesifik level, maka switch akan OFF.
Abnormal display akan terbaca dan akan memberi peringatan kepada operator.
1. Hose
2. Connector
3. Case
4. Diaphragm
5. Guide
6. Spring
7. Terminal
8. Filter
9. Boss
Fungsi
• Switch pengecek kebuntuan air cleaner (filter pembersih udara) dipasang pada
bagian keluaran dari ait cleaner. Jika Air Cleaner terjadi kebuntuan dan spesifik
tekanan udara (negatif) tercapai, maka diaphragm akan bergerak dan switch akan
OFF . Kondisi Abnormal ini akan terbaca pada display dan akan memberikan
peringatan kepada Operator.
1. Shaft
2. Cylinder
3. Spring
4. Bushing
5. Magnet
6. Switch
7. Body
8. Connector
Fungsi
• Retarder brake wear switch (ke ausan brake retarder) dipasang di brake belakang.
Shaft selalu dalam kondisi tertekan melawan brake piston. Ketika brake diaktifkan,
jika shaft bergerak melewati titik pergerakan penyebab keausan dari brake, maka
switch akan OFF. Kondisi Abnormal ini akan terbaca pada display dan akan
memberikan peringatan kepada Operator.
1. Body
2. Tube
3. Connector
A. Low Pressure Pick-up port (bagian bertekanan rendah)
B. High Pressure Pick-up port (bagian bertekanan tinggi)
Fungsi
• Hydraulic filter switch dan retarder filter switch dipasang pada filter. Jika filter
terjadi kebuntuan dan perbedaan tekanan pada sisi low (rendah) dan high (tinggi)
mencapai tekanan spesifik, maka switch akan OFF. Kondisi Abnormal ini akan
terbaca pada display dan akan memberikan peringatan kepada Operator.
1. Spring
2. Spring
3. Contact
4. Contact
A. High Pressure Pick-up Port (bagian bertekanan rendah)
B. Low Pressure Pick-up Port (bagian bertekanan tinggi)
Fungsi
• Full flow filter switch dipasang pada full flow filter. terjadi kebuntuan dan perbedaan
tekanan pada sisi low (rendah) dan high (tinggi) mencapai tekanan spesifik, maka
switch akan OFF. Flash Display (panel berkedip kedip) akan tampak pada
maitenance monitor untuk meberi peringatan kepada operator.
1. Body
2. Connector
3. Filter
4. Packing
5. Pin
Fungsi
• Battery Electrolyte level switch dipasang pada battery . Jika Battery Electrolyte
berada dibawah spesifik level, kemudian ujung bagian sensing yang menonjol ke
electrolyte terpapar oleh udara. Maka Voltage signal akan dikirimkan ke PMC (panel
Monitor Controll) dan Kondisi Abnormal ini akan terbaca pada display dan akan
memberikan peringatan kepada Operator.
1. Knob
2. Dial
3. Spring
4. Ball
5. Potensiometer
6. Connector
Fungsi
• Fuel control dial dipasang pada
bagian bawah monitor panel.
Sebuah Potensiometer dipasang
dibawah knob, dan ketika knob
diputar, maka akan terhubung
dengan shaft rotator /pemutar
potensiometer. Ketika shaft
berputar, resistan dari variable
resistor didalam potensiometer
akan berubah, dan memutuskan
untuk memberikan signal ke
governor engine dan controll pompa. Perbedaan Luas penampang pada Graphic di
gambar sebelah kanan adalah pembacaan area yang tidak normal dan engine speed
di set pada posisi low idle (putaran rendah).
1. Plug
2. Switch
3. Connector
Specifikasi
Fungsi
• Terdapat 8 switch yang terpasang pada PPC shuttle valve. Kondisi operational untuk
masing masing actuator pun terdeteksi dari PPC pressure, dan signal ini dikirim ke
governor dan pump controll.
Fungsi
1. Subtank
2. Float
3. Sensor
4. Connector