0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan46 halaman

Input Component

Dokumen ini menjelaskan tentang komponen input dalam sistem kontrol elektronik, termasuk jenis-jenis komponen seperti switch, sender, dan sensor, serta prinsip kerja dan diagnosa yang diperlukan untuk troubleshooting. Keunggulan sistem elektronik dibandingkan mekanikal juga diuraikan, seperti kemudahan dalam troubleshooting dan penyimpanan data. Pelatihan ini bertujuan agar siswa memahami perbedaan jenis komponen input dan dapat melakukan diagnosa terhadap peralatan tersebut.

Diunggah oleh

resgymahdiniegy
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan46 halaman

Input Component

Dokumen ini menjelaskan tentang komponen input dalam sistem kontrol elektronik, termasuk jenis-jenis komponen seperti switch, sender, dan sensor, serta prinsip kerja dan diagnosa yang diperlukan untuk troubleshooting. Keunggulan sistem elektronik dibandingkan mekanikal juga diuraikan, seperti kemudahan dalam troubleshooting dan penyimpanan data. Pelatihan ini bertujuan agar siswa memahami perbedaan jenis komponen input dan dapat melakukan diagnosa terhadap peralatan tersebut.

Diunggah oleh

resgymahdiniegy
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

INPUT COMPONENT CONTROLLER

INPUT COMPONENT
Tujuan Training :

Setelah mengikuti training ini siswa mampu :

1. Memahami Jenis Jenis Input component


2. Menjelaskan tentang perbedaan Type Input Component dan Prinsip Kerja

Component .

3. Dapat Melakukan Diagnose terhadap Peralatan Input Component

Komponen-Komponen Yang Dikontrol Secara Elektronik


Dewasa ini banyak machine yang menggunakan komponen-komponen elektronik yang
dikontrol secara elektronik. Alasan penggunaan teknologi tersebut adalah sistem tersebut
memiliki banyak keunggulan dibanding dengan sistem yang dikontrol secara mekanikal

Keunggulan-keunggulan tersebut antara lain:


• Menghilangkan hubungan lingkage secara mekanikal, sehingga lebih praktis.

• Memudahkan serviceman melakukan troubleshooting.

• Data-datanya bisa disimpan secara komputerisasi sehingga dapat dengan mudah


digunakan lagi pada waktu yang berlainan untuk pendeteksian masalah yang ada.

• Proses untuk merubah ke standard yang lebih tinggi (upgrade) dapat dengan mudah yaitu
dengan pemograman secara komputerisasi.

• Dalam melakukan kalibrasi dan penyetelan bisa secara komputerisasi

BLK Sangatta Page 1


INPUT COMPONENT CONTROLLER

BLK Sangatta Page 2


INPUT COMPONENT CONTROLLER

Technician harus memahami langsung perbedaan pada type type daripada peralatan input
dan output. Dan dalam hal ini untuk dapat melakukan diagnostic pada proses
troubleshooting (pemecahan masalah) yang dihubungkan pada masing masing control.

Adapun sistem pengontrolan secara elektronik ini menggunakan tiga syarat utama yaitu
harus ada input, kontrol dan output yang masing-masing menjalankan fungsinya sehingga
sistemnya bekerja dengan baik. Seorang serviceman harus mengerti sistem dari masing-
masing pengontrol tersebut karena banyak jenis pengontrol yang dipakai oleh masing-
masing machine.

Setiap Electronic control membutuhkan type tertentu pada peralatan input untuk
memberikan masukan dan informasi ke controller sebagai pengolah data. Proses
pengendaliannya dilakukan dengan memberi informasi dari input dan kemudian
mengirimkan signal electronic yang tepat ke bermacam macam peralatan output atau
actuator (penggerak), Seperti solenoide, lampu indicator alarm dan lain lain. Technician
hanya perlu meng indentifikasi bermacam macam macam control yang digunakan pada
mesin. Pada umumnya controller merupakan buatan pabrik, sehingga akses ke bagian
dalam elctronic component tidak terlalu dibutuhkan.

Type dari Component Input

• Switch
• Sender
• Sensor

BLK Sangatta Page 3


INPUT COMPONENT CONTROLLER

Kebanyakan peralatan atau component input yang digunakan pada mesin electronic sistem
adalah switches, sender atau sensor. Technician harus dapat meng identifikasi masing
masing peralatan ini, memahami cara kerjanya dan mengetahui cara men diagnostic dan
melakukan test peralatan ini , untuk dapat menganalisa cara kerja yang benar pada masing
masing component. Contoh dari masing masing peralatan input akan dibahas pada section
ini.

SWITCH
Monitoring sistem pada mesin menggunakan beberapa type switch yang berbeda untuk
memonitor kondisi mesin. Kesemuanya memiliki kesamaan fungsi dan sering mengacu pada
“two state” atau dua kondisi yaitu “ON dan OFF”. Semuanya menyediakan input terbuka
atau ground input pada electronic control. Pada monitoring sistem yang lama
menggunakan type type component seperti ini. Monitoring sistem yang baru juga masih
banyak menggunakan component ini dengan menambahkan peralatan input yang baru, dan
akan dibahas pada modul ini.

Jenis Jenis Switch:


• Uncommited Switch
Switch ini memberikan informasi input kepada kontrolnya untuk mengaktifkan lampu
indicator pada panel dengan cara kerjanya close ke ground pada kondisi normalnya, dan
membuka hubungan ke ground pada kondisi abnormal. Biasanya switch ini dipakai untuk
memonitor tekanan, suhu, aliran dan ketinggian dari parameter-parameter yang dibutuhkan

BLK Sangatta Page 4


INPUT COMPONENT CONTROLLER

oleh sistemnya. Contoh switch ini adalah: oil pressure switch, water temperature switch,
coolant flow switch dan fuel level switch.

[Link] Switch [Link] pressure Switch

Panah pada gambar di atas menunjukkkan Engine oil pressure switch yang terletak pada
block engine , biasanya type switch ini adalah normally open (saat engine belum running)
atau kontak switch tidak akan terhubung (terbuka) saat engine belum running. Ketika
engine running dan pressure (tekanan) oli dalam range yang di inginkan telah tercapai
sesuai dengan spesifikasi enginering, kontak akan terhubung (closed) ,dan operator akan di
beri informasi saat kondisi ada peringatan (warning) tentang pressure engine, biasanya
switch pada monitoring sistem menggunakan kondisi closed/terhubung pada kondisi normal
engine running. Jika terjadi kasus kerusakan wire atau cable pada switch , input akan
menampilkan rangkaian terbuka (open circuit) dan memberikan peringatan pada monitoring
sistem. Warning kategori akan dibicarakan secara detail pada bahasan berikutnya.

BLK Sangatta Page 5


INPUT COMPONENT CONTROLLER

1. Liquid level Switch


2. Symbol Liquid level

BLK Sangatta Page 6


INPUT COMPONENT CONTROLLER

LIMIT SWITCH

1. Limit Switch
2. Symbol limit Switch

Terdiri dari dua kondisi dalam hubungannya dengan control Normally open dan
Normally closed.

Coolant level Switch

BLK Sangatta Page 7


INPUT COMPONENT CONTROLLER

1. Switch
2. Schematic Symbol
3. Sleeve

Gambar diatas menunjukkan Electronic switch yang kadang kadang digunakan untuk
memonitor engine coolant level (level air radiator). Switch ini di desain dan bekerja berbeda
dengan jenis jenis switch yang lainnnya. Switch ini membutuhkan +8 Volt input dari module
display utama untuk ber operasi.

Selama operasi normal , level dari cairan pendingin (coolant) berada disekitar selongsong
plastik (plastik sleeve) pada switch dan switch menyediakan ground signal pada rangkaian
ke module/controller menjaga level alert (isyarat kondisi kecukupan) tetap mengindikasikan
Off. Hal ini sangat penting untuk diperhatikan pada switch jenis ini yang memiliki plastik
pembungkus pada penghubungnya. Jika Plastik pembungkus rusak dan terbuka, maka rod
atau batang penghubung didalam switch tidak akan berfungsi dengan baik.

BLK Sangatta Page 8


INPUT COMPONENT CONTROLLER

Untuk dapat melalkukan troubleshooting dan diagnosa pada switch dan switch input secara
efektif, hal ini sangat penting untuk para teknisi memahami prinsip dasar pada switch input
dalam sebuah electronic control, pada gambar tampak contoh switch type input.

Electronic control menggunakan pengaturan tegangan internal berdasarkan Pull-up


Voltage (tegangan acuan) . Nilai tegangannya bervariasi dan kemungkinan sekitar 5+V,8+V
atau mungkin 12+V. Meskipun pada beberapa control memiliki nilai yang berbeda, tetapi
konsepnya tetap sama. Pull-up voltage dihubungkan dengan kabel signal melalui sebuah
resistor (biasanya sekitar 2K ohms).

Sensing Signal pada sirkuit di dalam kontrol dihubungkan secara pararel dengan resistant
pada peralatan input . Dasar analisa rangkaian electric menyatakan bahwa tegangan jatuh
(voltage drop) yang melalui peralatan input akan terbaca oleh rangkaian sensing signal di
dalam sebuah controller

Figure diatas menggambarkan Block diagram

pada switch yang dihubungkan dengan peralatan input . Ketika switch pada posisi terbuka
resistant dari kabel switch input ke ground terbaca tak terhinggga (OL) , Dasar rangkaian
terlihat seperti pembagi tegangan. Resistant yang melewati switch terlalu besar
sehingga+5V Pull – up voltage dapat di ukur melalui switch.

BLK Sangatta Page 9


INPUT COMPONENT CONTROLLER

Pada gambar diatas menunjukkan sikuit yang sama dengan posisi switch closed
(terhubung).ketika switch pada posisi terhubung, resistance dari kabel signal ke ground
sanagt rendah (hampir mendekati nilai nol) . Sekarang Dasar rangkaian pembagi tegangan
telah memiliki nilai yang berubah. Resistant pada resistor di dalam rangkaian control secara
signifikan lebih besar dibandingkan resistant pada switch yang telah terhubung.

Resistant yang melewati resistor sangat besar yaitu +5 Pull-up Voltage (tegangan acuan)
yang dapat di ukur melewati resistor. Tegangan Jatuh (voltage drop) yang melewati switch

dengan kondisi tertutup pada dasarnya +0V. Sensing signal pada sirkuit pada electronic
control juga menyensing tegangan +0V atau +5V,(secara digital Low atau high), Sejak
Control menyediakan pull-up voltage , adanya Voltage drop yang mungkin terjadi pada
wiring harness dikarenakan karena buruknya sambungan atau panjangnya kabel tidak
berpengaruh pad a signal tinggi pada tegangan acuan controller . Harness Voltage drop
dapat ditemukan hasil pengukuran tegangannya pada switch dibawah +5V. Karena control
menggunakan tegangan acuan , sensor tidak memiliki sumber arus yang dibutuhkan untuk
mengendalikan signal untuk harness yang panjang.

• Programming Switch
Switch ini dipergunakan untuk merubah program kontrolnya, dengan merubah hubungan ke
ground menjadi open atau sebaliknya pada konektor-konektor yang disediakan untuk itu.
Sehingga kontrol tersebut bisa mengetahui model konfigurasi unit yang dipasangnya, hal ini
perlu karena untuk membedakan karakteristik unit satu dengan lainnya. Contoh switch ini
adalah: harness code switch, unit switch dll.

• Service Switch
Switch ini diperlukan untuk melakukan perubahan mode operasi, atau untuk melihat kode-
kode problem yang ada serta menghapusnya jika sudah di logged-kan oleh ECM nya.
Contohnya adalah: Service connector switch yang dihubungkan ke service tool untuk
mengakses data-datanya dari kontrol tersebut.

BLK Sangatta Page 10


INPUT COMPONENT CONTROLLER

Pada gambar ditunjukkan type Rocker switch yang dipasang pada panel di cabin . terutama
sekali switch ini digunakan oleh operator untuk mode operational tertentu pada display
pada module monitoring sistem. Switch sesaat sebagai ON switch dan kontak switch adalah
normally [Link] switch diaktifkan (ditekan)akan memberikan signal melalui cable
menuju control module dan memberikan operator akses untuk memilih mode tertentu.

SENDER
Sistem monitoring Mesin menggunakan dua tipe sender sebagai input untuk informasinya
kepada kontrol. Dua tipe sender itu adalah:

BLK Sangatta Page 11


INPUT COMPONENT CONTROLLER

• Sender 0 sampai 240 Ohm


Sender ini mengirim perubahan output dari nilai tahanan yang diakibatkan dari
perubahan nilai parameter yang dipantaunya. Parameter yang menggunakan sender ini
adalah: fuel level sender. Module main display menghitung nilai tahanan dari outputnya
sender tersebut dan merubahnya menjadi display informasi pada module gauge
clusternya atau alert indicator atau kedua-duanya.

Pada gambar diatas , sender digunakan sebagai Fuel level (pengukur kapasitas bahan bakar).
Sender ditempatkan pada bagian atas tangki bahan bakar dan mengukur kedalaman dari
bahan bakar didalam tangki. Dua type dari yang biasa terdapat dalam monitoring system.
Salah satu sender memiliki sebuah internal resistant yang rangenya diantara 0 _ 90 ohms
dan type yang lain kisaran antara 33 _ 240 ohms.

Kedalaman fuel pada fuel tank menunjukkan posisi dari float (pelampung) akan bergerak
naik atau turun pada batang spiral (spiral rod) dan bergerak berputar. Sender diletakkan
pada bagian atas dari compenent assy dan bermagnet yang terpasang pada rotating rod
(batang berputar). Resistant dari sender akan berubah seiring dari perputaran batang dan
diukur oleh main display modul/controll dan ditampilkan pada fuel gauge di monitor.

BLK Sangatta Page 12


INPUT COMPONENT CONTROLLER

1. Mekanisme Fuel level sender


2. Symbol Fuel Level Sender
Pelampung akan bergerak naik turun dan akan memberikan signal perubahan
resistant ke controll.

• Sender 70 Ohm sampai 800 Ohm


Sender ini juga mengirim perubahan nilai tahanan ke kontrolnya atas dasar dari
perubahan parameter yang dipantaunya, biasanya untuk memonitor temperature.
Sender ini juga disebut NTC (negative temperature coefisient) atau perubahan nilai
maksimum dan minimum-nya dari nilai tahanannya berbanding terbalik dengan
pembacaan temperature nya. Bentuk fisik dari sender tersebut bisa dilihat di bawah ini:

1. Sender Temperature 2. Symbol Temperature sender

BLK Sangatta Page 13


INPUT COMPONENT CONTROLLER

Temperature sensor biasanya untuk mendeteksi temperature air, oli dan fuel. Jika sensor
mendeteksi perubahan temperature maka tahanannya akan berubah sesuai dengan
karakteristik jenis sender ini. Jika Temperature tinggi tahanan/resistannya akan turun, 70
ohms pada temperature 110 derajat celcius dan 300 ohms pada temperature 25 derajat
celcius.

Terminal sender dengan single wire / satu kabel tergantung mounting/ pengikat yang
digunakan ground mesin untuk melengkapi rangkaian signal. Karena hal ini sangat penting
untuk mendapatkan koneksi yang bagus diantara bagian dari sender dan metal pengikat
yang terhubung didalamnya. Penggunaan dari Type Teflon untuk pelindung bertujuan agar
dapat melindungi electrical conductivity pada sambungan. Pada umumnya sender
menggunakan washer bukan dari bahan penghantar yang menjaga kabel terhubung ke
tengah terminal dari short/terhubung singkat dengan Sender Housing.
Jika terjadi kesalahan pada rangkaian sender. Pada monitor akan memberikan tanda kepada
peringatan operator kategori 2. Hal paling mungkin terjadi disebabkan oleh
• Sender Rusak
• Ground yang terbuka
• Signal short ke battery
• Kabel Signal terbuka

BLK Sangatta Page 14


INPUT COMPONENT CONTROLLER

SENSOR

Jenis Jenis Sensor :

• Sensor Frequency
• PWM (Digital)
• Analog
• Analog to Digital
Sensor mengukur parameter secara fisik seperti kecepatan, temperature, tekanan dan
posisi. Sebuah sensor elektronik merubah parameternya secara fisik menjadi sinyal
elektronik, sinyal ini proporsional terhadap kondisi parameternya.

Pada sistem elektronik , sensor digunakan untuk memantau sistem-sistem yang ada di
machinenya dengan perubahan yang tetap. Sinyal elektronik ini mewakili perubahan yang
diukur, sinyal ini dimodulasikan dalam tiga cara yaitu:

• Modulasi frekwensi mewakili parameter dari tingkat frekwensi


• Modulasi PWM mewakili parameter duty cycle
• Modulasi analog mewakili parameter dari tingkat tegangannya

Di dalam bagian ini akan dijelaskan tipe-tipe dari sensor input: frekwensi, analog, digital
dan kombinasi analog ke digital.

BLK Sangatta Page 15


INPUT COMPONENT CONTROLLER

• Sensor frequency

Sistem pengontrolan elektronik menggunakan bermacam-macam komponen untuk


mengukur kecepatan. Yang paling banyak adalah dipakai dua tipe yaitu tipe sensor
magnetic dan hall effect.

BLK Sangatta Page 16


INPUT COMPONENT CONTROLLER

• Sensor tipe magnetic

Dalam sistem yang tidak terlalu terpengaruh terhadap kecepatan rendah (dibawah 500 rpm)
bisa menggunakan tipe ini. Sensor ini memberikan informasi kecepatan di atas 600 rpm
secara akurat tetapi tidak di bawah 600 rpm, sehingga main display menggunakannya untuk
tachometer engine atau ECM transmisi untuk mengetahui kecepatan gear intermediate dari
output transmissi dan keperluan yang lain lain. Sensor ini termasuk sensor pasif karena tidak
membutuhkan tegangan input untuk memproses sinyalnya. Dan juga sensor tersebut
merubah gerakan mekanikal menjadi tegangan AC, karena didalamnya terdapat coil, core
dan magnet sehingga hampir menyerupai generator kecil. Cara kerjanya yaitu saat gear
memotong medan magnet permanent di dalam sensor terbangkitlah tegangan AC dalam
coil dan diikuti oleh frekwensinya. Frekwensi tersebut proporsional terhadap kecepatan dan
ECM menggunakan frekwensi tersebut untuk membandingkan dengan data yang tersimpan
dalam ECM. Untuk mengetahui kondisi baik dan tidaknya sensor tersebut kita bisa
mengukurnya secara statis dan dinamis, yaitu pada saat dilepas dari harnessnya dan engine
dalam keadaan mati kita bisa mengukur nilai tahanan coilnya antara 100 sampai 500-Ohm
sesuai besar kecilnya sensor. Dan pada saat tersambung dengan harnesnya dengan engine
dalam keadaan hidup dengan menggunakan probe tester kita bisa mengukur tegangan AC
nya dan frekwensinya yang timbul antara terminal 1 dan 2.

Pengambilan medan magnet pada sensor sangat tergantung dari jarak antara ujung dari pick
up/pengambil magnet pada sensor dan pemotongan gigi gigi pada gear untuk mendapatkan
sistem operasi yang tepat. Tipikal dari sensor ini ketika pick up dipasang, diputar sampai
membuat kontak dengan bagian puncak gear dan kemudian diputar kembali/keluar sesuai
putaran sebelumnya / sesuai spesifikasi manual book dan kemudian dikunci dengan lock nut

BLK Sangatta Page 17


INPUT COMPONENT CONTROLLER

yang terikat pada sensor. Sangatlah penting untuk memeriksa spesifikasi ketika memasang
sensor ini untuk memastikan jarak pemasangan yang paling tepat.

• Sensor Tipe Hall Effect

Pada sistem dimana kecepatan rendah sangat berpengaruh oleh informasi ECM maka
digunakanlah tipe hall effect. ECM transmission dan engine menggunakannya untuk
mendeteksi kecepatan tiap posisi dan timing. Kedua sensor sama-sama mempunyai hall cell
di kedua ujung kepalanya.

Cara kerjanya yaitu sewaktu gear memotong medan magnet yang terdapat di hall cell
terbangkitlah sinyal yang kecil, lalu sinyal tersebut dikirim ke amplifier yang terdapat di

BLK Sangatta Page 18


INPUT COMPONENT CONTROLLER

sensor itu juga dan menjadi sinyal PWM yang cukup kuat dan seterusnya dikirim ke kontrol
untuk diproses. Karena sinyalnya berpulsa maka terdapat duty cycle dan disebut sinyal
digital.

Sesuai dengan namanya maka output sensor ini yang berupa frekwensi yang sebagai acuan
dalam referensi oleh kontrolnya untuk kecepatan sedangkan duty cycle dipakai untuk
menentukan timing. Sensor ini sangat akurat dalam mendeteksi kecepatan karena
outputnya tidak tergantung oleh kecepatan, dan dapat mendeteksi kecepatan mulai dari 0
rpm dalam temperature yang bervariasi. Hall effect sensor ini dapat memberikan output
yang baik jika dalam pemasangannya tanpa ada celah di gearnya. Untuk mendiagnosa
sensor tersebut harus melakukan beberapa tahapan yaitu:

• Ukur tegangan inputnya antara pin A dan pin B _ +10V (speed timing sensor = 12,7
Volt sedangkan transmission output sensor = 8 Volt)
• Ukur outputnya antara pin C dan pin B harus terdapat duty cycle antara 5% sampai
95 %, dan terdapat frekwensi antara 4,5 kHz sampai 5,5 kHz.

• Speed Timing Sensor

Speed Sensor pada Engine Electronic control mengukur kecepatan dan timing (waktu injeksi
fuel). Kecepatan dari gear di sensing oleh pengukuran perubahan medan magnet ketika gigi
gigi gear melewati sensor. Engine timing saling berhubungan dengan ujung dari gigi gear.

Speed timing sensor dibuat spesial untuk “ timing” injeksi engine electronic. Karena controll
yang digunakan untuk “ timing” sangatlah penting pada electronic control untuk
mengetahui waktu yang tepat gigi gear melewati slip head (ujung kepala sensor).

Pada gambar diatas menunjukkan timing wheel sensor. Seperti halnya masing masing gigi
gear nya melewati cell/ slip head, elemen sensingnya akan mengirimkan signal yang kecil ke
sebuah amplifier(penguat). Kemudian signal rata rata pada component electronic dibagian

BLK Sangatta Page 19


INPUT COMPONENT CONTROLLER

dalamnya mengirimkan signal ke comparator (pembanding). Jika signal dibawah rata rata
(celah/gap) maka outputnya akan Low(rendah) , tapi jika signal diatas rata rata (gigi
mengenai cell) output nya akan tinggi. Rangkaian didalam Speed timing sensor spesial
dibuat sesuai standar agar ECM engine dapat menunjukkan posisi yang tepat untuk gear
penggerak pada engine.

BLK Sangatta Page 20


INPUT COMPONENT CONTROLLER

NE Revolution Sensor (Engine - Crank angle Sensor) _HD785-7


G revolution Sensor (Cylinder Judgement Sensor)

BLK Sangatta Page 21


INPUT COMPONENT CONTROLLER

Pada Engine yang menggunakan sistem injeksi secara electronic, pola yang unik
terdapat pada gigi gigi gearnya sebagai referensi untuk timing nya dan membantu
electronic control untuk menunjukkan posisi crankshaft, arah putaran dan RPM.
Electronic control akan menghitung masing masing pulsa dan menunjukkan
kecepatan, mengingat pola pada pulsa yang diterima dan membandingkan pola
tersebut untuk mendesain standar penunjukkan posisi crankshaft dan arah putaran
engine.

• Sensor Digital

BLK Sangatta Page 22


INPUT COMPONENT CONTROLLER

Sensor digital menggunakan metoda modulasi lebar pulsa sinyalnya untuk memberikan
sinyal elektronik yang berubah-ubah kepada kontrolnya. Perbandingan sinyal on dan off
berubah pada frekwensi yang tinggi dan dapat mengikutinya terus secara mekanis. Hasil
rata-rata dari on dan off pulsa tadi menyebabkan perubahan tegangan dan arus yang akan
diterjemahkan oleh kontrol sesuai dengan kebutuhannya.

BLK Sangatta Page 23


INPUT COMPONENT CONTROLLER

Rangkaian Sensor Digital


Tipe sensor ini banyak dipakai untuk memantau posisi, aliran, tekanan dan temperature.
Secara fisik sensor ini lebih besar dari sensor analog karena di dalamnya terdapat
komponen-komponen elektronik antara lain Oscillator yang menyediakan input frekwensi
yang berkisar antara 5 Khz, Comparator yang membandingkan dua sinyal yang berbeda
untuk menghasilkan sinyal digital dan transistor NPN yang mengatur output dari sensor atas
dasar output Comparator dalam menyediakan sinyal digital dan sebuah Thermistor yang
memantau parameter dengan merubah tahanannya.

Troubleshooting sinyal digital


Untuk mengetahui bagus tidaknya suatu sensor harus dilakukan pengetesan, yang
sebelumnya harus disediakan kebutuhan tool-toolnya yaitu: 9U7330 Fluke digital
multimeter, 7X1710 probe group dan sensor harus terhubung di harnessnya.

BLK Sangatta Page 24


INPUT COMPONENT CONTROLLER

SENSOR DIGITAL

Langkah-langkah pengetesannya sebagai berikut:


Sisipkan probe ke konektor pada sensor sesuaikan dengan label huruf-hurufnya.
• Pin A ke pin C ada tegangan suplainya = 8 atau 24 Volt
• Pin C ke pin B terdapat tegangan DC 0,7 sampai 7,9 Volt
• Pin C ke pin B terdapat frekwensi 4,5 sampai 5,5 kHz
• Pin C ke pin B terdapat duty cycle antara 5 % sampai 95 % J

Jika pada saat pengukuran di luar standar yang di atas bisa dipastikan sensornya ada
kerusakan. Gambar fisik sensor tersebut adalah seperti berikut ini.

Sensor Digital

BLK Sangatta Page 25


INPUT COMPONENT CONTROLLER

TERMINOLOGY
SUPPLY Tegangan input dibutuhkan untuk pengoprasian sensor dapat di list dengan
berbagai berbagai bentuk pernyataan , sebagai berikut:
B+, +B, +Battery = Supply tegangan ke sensor di kirimkan oleh Battery pada
mesin.
+8 = mengindikasikan bahwa sensor menerima potensial tegangan 8 volt.
Tegangan ini digunakan sebagai salah contoh pada control. Beberapa control
menyediakan tegangan dengan level yang berbeda.
V+ = suplly tegangan ke sensor dikirim dari sumber yang lain yang bukan dari
battery mesin. Teknisi harus menelusuri sumber yang dikirimkan , yaitu dari
salah satu control electronic untuk menunjukkan tegangan supply untuk
sensor.
GROUND Terminology penggunaan “ground” didalam schematic sensor merupakan
sesuatu yang sanagt signifikan bagi teknisi. Digital sensor biasanya
grounded/ground terhubung dengan frame/rangka mesin , dan biasanya leih
mendekati dengan sensor itu sendiri. Hal ini juga menunjukkan identifikasi
untuk type sensor yang digunakan. Beberapa digital sensor grounded/
ground terhubung ke digital return pada ECM (ground dari ECM).
SIGNAL pengertian untuk signal mengidentifikasikan output/keluaran kabel pada
sensor . kabel signal menyuplai parameter informasi ke electronic control
module untuk diprosess

• Sensor Analog

Sensor tipe ini sangat berbeda dengan yang digital bukan hanya bentuk fisiknya tetapi juga
cara kerja dan fungsinya serta mengerluarkan sinyal analog. Definisi dari sinyal analog

BLK Sangatta Page 26


INPUT COMPONENT CONTROLLER

adalah sinyal yang perubahannya secara perlahan dan terus menerus juga proposional
(Linear) yang dipantaunya, seperti gambar di samping ini.

Sensor Analog

Output dari sensor analog hanya berupa tegangan DC, biasanya antara 0 sampai 5 Volt.
Konstruksi bagian dalamnya hanya terdapat thermistor dan amplifier yang memperoses
sunyal outputnya 0,2 sampai 4,8 Volt DC secara proporsional dengan temperature
normalnya.

BLK Sangatta Page 27


INPUT COMPONENT CONTROLLER

Skematik Sensor Analog Untuk Temperatur

Troubleshooting sensor analog juga sama dengan yang digital yaitu memerlukan 9U7330
DMM dan 7X1710 probe group. Dan juga kunci kontak dalam keadaan on, karena sensornya
termasuk tipe aktif. Pengetesannya cukup mudah kita hanya mengukur inputnya yaitu pin A
ke pin B = 5 Volt DC, serta sinyalnya dari pin C ke pin B = 1,99 sampai 4, 46 Volt DC. Dari
kedua tipe sensor tadi , mesin juga memberikan indikasi pada kabel sinyal sensornya yaitu
jika kabelnya putus kontrolnya akan mengeluarkan tegangan yang disebut dengan build–up
voltage. Untuk sensor digital biasanya sekitar 8 Volt dan sensor analog untuk build–up
voltage = 6,3 Volt.

• Sensor Analog ke Digital

Sensor tipe ini menggunakan bagian analognya untuk mengukur parameternya dan
mengirimkan sinyal tersebut ke sebuah converter dan di dalam converter sinyal tersebut
dirubah menjadi digital ( PWM ) menuju ke kontrol elektronik. Troubleshooting sensor tipe
ini sama dengan sensor digital. Di bawah ini terdapat contoh gambar sensor analog ke
digital untuk sensor tekanan brake.

Sensor Analog ke Digital Untuk Brake

BLK Sangatta Page 28


INPUT COMPONENT CONTROLLER

Fuel Level Sensor (ULTRASONIC)

Fuel Level sensor (4) memberi reaksi kepada level didalam fuel tank. Fuel level sensor (4)
memancarkan Signal ultrasonic. Signal yang akan diberikan melalui Guide tube / tabung
pemandu (3). Signal ultrasonic memantulkan piringan metal di dasar dari pelampung (2)dan
signal kembali ke sensor. Sensor mengukur waktu yang diperlukan signal ultrasonic untuk
berjalan dari sensor ke pelampung dan balik ke sensor yang di konversikan juga oleh sensor
untuk mengukur level dari fuel/bahan bakar. Open Status/ kondisi terbuka atau gounded

BLK Sangatta Page 29


INPUT COMPONENT CONTROLLER

status ke kontak nomer 3 menyatakan signal sensor apakah signal diposisi bagian terdalam
tangki atau signal sensor berada di bagian tangki yang dangkal. Kontak 3 terbuka jika
kedalaman maximum dari tangki sekitar 2286 mm (90 inch). Kontak 3 akan terhubung
dengan ground jika kedalaman dari sensor sekitar 1150mm (45 inch). Sensor akan menerima
power pengoprasian dari sistem electric pada mesin. Display utama pada module akan
menerima PWM signal dari sensor . Signal akan berubah sesuai dengan perubahan level dari
fuel. Display utama mengukur duty cycle pada signal sensor yang dalam hal ini untuk
menentukan persentasi level dari fuel/bahan bakar.

Engine Oil Temperature Sensor (785-5 KOMATSU)

Sensor ini dipasang ke engine oil filter, dan perubahan temperature sebagai input sesuai
dengan perubahan resistant pada thermistor kemudian dikirimkan ke VHMS control modul.

BLK Sangatta Page 30


INPUT COMPONENT CONTROLLER

Transmission Oil Temperature Sensor (HD785-5 KOMATSU)

[Link] [Link] [Link]

Fungsi.
Sensor ini dipasang pada transmission filter, dan perubahan temperaturenya di ikuti juga
dengan perubahan resistan di dalam thermistor kemudian signal ini dikirim ke controller.

ENGINE SPEED SENSOR (KOMATSU)

[Link] 2. Magnet 3. Terminal [Link] [Link]


Fungsi
• Engine Speed sensor dipasang pada bagian ring gear flywheel. Sensor ini menghitung
secara electrical jumlah dari gigi gigi gear yang melewati bagian depan dari sensor ,
dan mengirimkan signal ke governor engine dan pump control.
• Deteksi ini dibawa oleh kemagnetan, dan sebuah arus electric yang dihasilkan
setiap gigi gigi gear melewati kemagnetan sensor.

BLK Sangatta Page 31


INPUT COMPONENT CONTROLLER

Fill Switch (HD785-5 KOMATSU)

[Link] [Link] [Link] [Link]

Fungsi.
Switch ini dipasang di sisi depan dari ujung valve flow sensor pada ECMV. Ketika Clucth
terhubung (engaged), ujung dari spool valve terhubung dengan terminal pada switch dan
mengaktifkan switch (ON).Signal pengisian telah komplet kemudian dikirim ke shift
controller.

Accelerator Potensiometer (HD785-5 KOMATSU)

[Link] [Link] [Link]

BLK Sangatta Page 32


INPUT COMPONENT CONTROLLER

Prinsip Kerja.
• Alat ini dipasang di bawah operator cabin .Accelerator pedal dan accelerator
sensor dihubungkan denagn saling bertautan. Ketika accelerator pedal ditekan ,
dan pergerakannya melewati linkage dan memutar shaft pada potensiometer
didalam accelerator sensor. Dan menghasilkan perubahan resistan. Tegangan
yang tetap mempengaruhi diantara pin no 1 _3 pada potensiometer. Tegangan
signal saling berhubungan dengan sudut yang dibentuk oleh accelerator pedal
yang dikirimkan oleh pin 2 ke transmission controller.

BLK Sangatta Page 33


INPUT COMPONENT CONTROLLER

DECELERATOR POTENSIOMETER

[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]

BLK Sangatta Page 34


INPUT COMPONENT CONTROLLER

• Decelerator potensiometer di pasang pada bagian bawah depan cabin


operator dan dihubungkan dengan decelerator pedal yang menggunakan
linkage
• Ketika Decelerator pedal di aktifkan. Shaft pada throttle potensiometer
berputar melalui linkage dan nilai resistantnya pun berubah. Tegangan yang
tetap diberikan diantara Pin A ke C dari potensiometer dan tegangan signal
yang cocok dengan pergerakan potensiometer pada decelerator pedal
dikirimkan dari pin B ke engine controller.

Flow Switch

[Link] [Link] [Link] [Link] pin [Link] [Link]


[Link] Switch

BLK Sangatta Page 35


INPUT COMPONENT CONTROLLER

Ketika oli mengalir sesuai


dengan spesifik level

Ketika Oli
mengalir
dibawah
spesifik level.

Suspension Pressure Sensor

Prinsip Kerja
• Pressure Sensor di pasang di bagian
ujung dasar dari Cylinder Suspensi dan
bekerja untuk mengukur tekanan pada
Bagian Dasar Cylinder.
• Ketika mengganti Pressure Sensor (1),
Biarkan Valve terpasang di suspensi dan

BLK Sangatta Page 36


INPUT COMPONENT CONTROLLER

hanya lepaskan sensornya saja(1). Ketika melepaskan atau memasang sensor (1),
hati hati jangan sampai valve nya terputar (2). Ketika melepaskan sensor(1),
pergerakan Valve core (3) mencegah pressure pada suspensi turun atau
berkurang.

Engine Oil level Switch

1. Flow
2. Switch
3. Connector

Fungsi

• Engine Oil Level Switch dipasang pada bagan depan dari Engine oil pan (tangki oli).
Jika oli berkurang dari spesifik level, pelampung akan turun dan switch dalam kondisi
OFF. Abnormal akan terbaca pada display untuk memperingatkan operator.

BLK Sangatta Page 37


INPUT COMPONENT CONTROLLER

Brake Oil Level Sensor

[Link]
[Link]
[Link]

Fungsi
• Brake oil level Switch dipasang dibagian depan brake oil tank. Jika oil turun / kurang
dari spesifik level, switch akan menjadi OFF . Abnormal informasi kan terbacca pada
display dan akan memberi peringatan (warning) kepada operator.

Hydraulic dan Retarder Oil level switch.

1. Connector
2. Bracket
3. Float
4. Switch

BLK Sangatta Page 38


INPUT COMPONENT CONTROLLER

Fungsi
• Hydraulic oil level switch dan retarder oil level switch dipasang pada bagian depan
Brake coling oil tank. Jika oil bergerak dibawah spesifik level, maka switch akan OFF.
Abnormal display akan terbaca dan akan memberi peringatan kepada operator.

Air Cleaner Clogging Switch ( Kebuntuan filter /pembersih udara)

1. Hose
2. Connector
3. Case
4. Diaphragm
5. Guide
6. Spring
7. Terminal
8. Filter
9. Boss

Fungsi

• Switch pengecek kebuntuan air cleaner (filter pembersih udara) dipasang pada
bagian keluaran dari ait cleaner. Jika Air Cleaner terjadi kebuntuan dan spesifik
tekanan udara (negatif) tercapai, maka diaphragm akan bergerak dan switch akan
OFF . Kondisi Abnormal ini akan terbaca pada display dan akan memberikan
peringatan kepada Operator.

BLK Sangatta Page 39


INPUT COMPONENT CONTROLLER

Retarder Brake Wear Switch

1. Shaft
2. Cylinder
3. Spring
4. Bushing
5. Magnet
6. Switch
7. Body
8. Connector

Fungsi
• Retarder brake wear switch (ke ausan brake retarder) dipasang di brake belakang.
Shaft selalu dalam kondisi tertekan melawan brake piston. Ketika brake diaktifkan,
jika shaft bergerak melewati titik pergerakan penyebab keausan dari brake, maka
switch akan OFF. Kondisi Abnormal ini akan terbaca pada display dan akan
memberikan peringatan kepada Operator.

Hydraulic dan Retarder Oil Filter Switch

1. Body
2. Tube
3. Connector
A. Low Pressure Pick-up port (bagian bertekanan rendah)
B. High Pressure Pick-up port (bagian bertekanan tinggi)

BLK Sangatta Page 40


INPUT COMPONENT CONTROLLER

Fungsi
• Hydraulic filter switch dan retarder filter switch dipasang pada filter. Jika filter
terjadi kebuntuan dan perbedaan tekanan pada sisi low (rendah) dan high (tinggi)
mencapai tekanan spesifik, maka switch akan OFF. Kondisi Abnormal ini akan
terbaca pada display dan akan memberikan peringatan kepada Operator.

Full Flow Filter Switch

1. Spring
2. Spring
3. Contact
4. Contact
A. High Pressure Pick-up Port (bagian bertekanan rendah)
B. Low Pressure Pick-up Port (bagian bertekanan tinggi)

Fungsi
• Full flow filter switch dipasang pada full flow filter. terjadi kebuntuan dan perbedaan
tekanan pada sisi low (rendah) dan high (tinggi) mencapai tekanan spesifik, maka
switch akan OFF. Flash Display (panel berkedip kedip) akan tampak pada
maitenance monitor untuk meberi peringatan kepada operator.

BLK Sangatta Page 41


INPUT COMPONENT CONTROLLER

Electrolyte Battery level Switch

1. Body
2. Connector
3. Filter
4. Packing
5. Pin

Fungsi

• Battery Electrolyte level switch dipasang pada battery . Jika Battery Electrolyte
berada dibawah spesifik level, kemudian ujung bagian sensing yang menonjol ke
electrolyte terpapar oleh udara. Maka Voltage signal akan dikirimkan ke PMC (panel
Monitor Controll) dan Kondisi Abnormal ini akan terbaca pada display dan akan
memberikan peringatan kepada Operator.

Fuel Controll Dial

1. Knob
2. Dial
3. Spring
4. Ball
5. Potensiometer
6. Connector

BLK Sangatta Page 42


INPUT COMPONENT CONTROLLER

Fungsi
• Fuel control dial dipasang pada
bagian bawah monitor panel.
Sebuah Potensiometer dipasang
dibawah knob, dan ketika knob
diputar, maka akan terhubung
dengan shaft rotator /pemutar
potensiometer. Ketika shaft
berputar, resistan dari variable
resistor didalam potensiometer
akan berubah, dan memutuskan
untuk memberikan signal ke
governor engine dan controll pompa. Perbedaan Luas penampang pada Graphic di
gambar sebelah kanan adalah pembacaan area yang tidak normal dan engine speed
di set pada posisi low idle (putaran rendah).

BLK Sangatta Page 43


INPUT COMPONENT CONTROLLER

PPC Hydraulic switch

1. Plug
2. Switch
3. Connector

Specifikasi

Composisi Point : NO Point (normally point)


Prinsip Kerja (ON) Pressure:
0.5 + - 0.1 Mpa (5.0 + - kg/cm2)
Reset (OFF) Pressure : 0.3 + - 0.05 Mpa (3.0 + - kg/cm2 )

Fungsi
• Terdapat 8 switch yang terpasang pada PPC shuttle valve. Kondisi operational untuk
masing masing actuator pun terdeteksi dari PPC pressure, dan signal ini dikirim ke
governor dan pump controll.

BLK Sangatta Page 44


INPUT COMPONENT CONTROLLER

Pump Pressure Sensor

Fungsi

Sensor ini dipasang pada rangkaian inlet


port pada control valve. Sensor akan meng
konversikan Pump discharge pressure
menjadi sebuah tegangan dn
mengirimkannya ke governor dan pump
controller.

BLK Sangatta Page 45


INPUT COMPONENT CONTROLLER

Coolant Level Sensor

1. Subtank
2. Float
3. Sensor
4. Connector

BLK Sangatta Page 46

Anda mungkin juga menyukai