STMB Fix 3
STMB Fix 3
Oleh
KELOMPOK II
1. Rosa Anandia F (142110101009)
2. Fitria Khusnul Fadila (142110101029)
3. Denti Tarwiyanti (142110101044)
4. Isminingsih (142110101075)
5. Kevanda Kania E (142110101085)
6. Aisyah Amin (142110101109)
7. Ika Wulandari (142110101127)
8. Faik Hotul Hikmah (142110101152)
9. Puji Dwi Noratikasari (152110101014)
10. Desti Puji Lestari (152110101062)
11. Shinta Dwi N (152110101121)
12. Eva Nikmatul Laily (152110101162)
13. Najihatus Sa’adah (152110101198)
i
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan
hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas Makalah dengan judul
“Implementasi Metode Transek dan Mapping Program Sanitasi Total Berbasis
Masyarakat (STBM) di Kabupaten Lumajang”. Makalah ini akan membahas
tentang Implementasi Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) yang
merupakan bagian dari materi mata kuliah Pengembangan dan Pengorganisasian
Masyarakat.
Penulisan makalah ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena
itu, kami ingin mengucapkan terima kasih kepada:
1. Allah SWT, Tuhan semesta alam;
2. Ibu Mury Ririanty, SKM., M. Kes., ibu Iken Nafikadini, SKM., [Link], dan Dr.
Elfian Zulkarnain, [Link], [Link]. selaku dosen pengajar mata kuliah
Pengembangan & Pengorganisasian Masyarakat kelas B.
4. Orang tua kami, atas segala restu dan dukungannya dalam bentuk apapun;
5. Teman-teman yang tidak dapat disebutkan satu persatu, atas segala bentuk
bantuannya. Penulis menyadari makalah ini masih jauh dari kesempurnaan.
Oleh karena itu, berbagai sumbang saran yang bertujuan untuk
penyempurnaan makalah ini dengan ikhlas penulis terima sebagai umpan balik
untuk bahan evaluasi. Semoga makalah ini dapat memberikan sumbang pikir yang
positif dan bermanfaat.
Penulis
i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR..............................................................................................i
DAFTAR ISI............................................................................................................ii
BAB 1. PENDALUHUAN......................................................................................1
1.3 Tujuan........................................................................................................3
1.4 Manfaat......................................................................................................3
BAB 3. PENUTUP................................................................................................19
3.1 Kesimpulan..............................................................................................19
3.2 Saran........................................................................................................20
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................21
ii
BAB 1. PENDALUHUAN
1
Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) adalah pendekatan yang
digunakan untuk merubah perilaku hygine dan sanitasi melaui pemberdayaan
masyarakat dengan metode pemicuan. Sanitasi total adalah meniadakan subsidi
untuk fasilitas sanitasi dasar dengan pokok kegiatan menggali potensi yang ada
dimasyarakat untuk membangun saranan sanitasi sendiri dan mengembangkan
solidaritas sosial. Dalam Kemenkes RI Nomor 852/Menkes/SK/IX/2008 tentang
Strategi Nasional Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) disebutkan peran
dan tanggung jawab pemangku kepentingan seperti di tingkat
RT/Dusun/Kampung memiliki peran dan tanggung jawab mempersiapkan
masyarakat untuk berpatisipasi aktif di tingkat desa dan bertanggung jawab dalam
membentuk tim fasilitator desa atau kader pemicu STBM untuk memfasilitasi
gerakan masyarakat dan pada tingkat kecamatan pemerintah kecamatan berperan
dan bertanggung jawab berkoordinasi dengan Badan Pemerintah yang lain dan
memberi dukungan bagi Kader pemicu STBM.
Pemberdayaan masyarakat bisa menjadi alat untuk meningkatkan
pengetahuan dan keterampilan masyarakat, sehingga masyarakat dapat memahami
tentang Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) dan pentingnya pemeliharaan
sanitasi yang baik untuk kesehatan. Menurut Rapport (1987) dalam Hikmat
(2013:3), pemberdayaan masyarakat diartikan sebagai pemahaman individu
terhadap keadaan sosial, kekuatan politik, dan hak-haknya menurut undang-
undang. Menurut Madekhan Ali (2007:86), pemberdayaan masyarakat sebagai
bentuk dari partisipasi masyarakat untuk membebaskan diri mereka dari
ketergantungan mental dan fisik. Oleh karena itu, pemberdayaan bisa menjadi alat
yang digunakan guna memberikan pengetahuan mengenai Sanitasi Total Berbasis
Masyarakat (STBM).
Pentingnya pendidikan dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan
masyarakat, oleh karena itu pemerintah Indonesia telah membagi pada tiga jalur
pendidikan nasional. Jalur pendidikan nasional yang tertuang dalam Undang-
Undang Sisdiknas Nomo 20 tahun 2003 pasal 13 ayat 1 yaitu pendidikan formal,
pendidikan non formal dan pendidikan informal. Pendidikan tersebut dapat
diselenggatakan oleh lembaga pemerintah, lembaga swasta, masyarakat, ataupun
oleh keluarga. Dengan banyaknya cara untuk menyelenggarakan pendidikan
2
tersebut, diharapkan masyarakat mampu meningkatkan dalam pengetahuan dan
keterampilan yang mereka miliki.
Teknik mapping dan transek adalah pengamatan langsung terhadap kondisi
sumberdaya alam dan lingkungan serta sumberdaya sosial, dengan menggunakan
cara menelusuri wilayah desa melalui suatu lintasan tertentu yang telah disepakati
bersama dalam kelompok. Dalam teknik mapping dan transek ini, masyarakat
dilibatkan secara langsung dalam proses pembelajaran untuk mengetahui potensi
sumber daya alam dan sumber daya manusia yang ada di wilayahnya, sehingga
akan meningkatkan pengetahuan dan kreatifitas masyarakat untuk membangung
lingkungan yang lebih sehat dari sebelumnya
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui tentang dengan program Sanitasi Total Berbasis
Masyarakat (STBM)
2. Untuk mengetahui peran PRA transek dan mapping dalam program
Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM)
3. Untuk mengetahui dampak setelah adanya program Sanitasi Total
Berbasis Masyarakat (STBM)
1.4 Manfaat
1. Untuk masyarakat
a. Masyarakat dapat menambah pengetahuan dan wawasan tentang Sanitasi
Total Bebasis Masyarakat (STBM), sehingga akan memicu untuk
berperilaku hidup bersih dan sehat khususnya tentang sanitasi.
3
b. Masyarakat dapat ikut serta berperan aktif dalam program Sanitasi Total
Berbasih Masyarakat (STBM), dengan begitu masyarakat akan
menegetahui kondisi sanitasi di wilayah mereka.
2. Untuk pembaca
Dapat menambah pengetahuan dan wawasan mengenai program Sanitasi
Total Berbasis Masyarakat (STBM) dan metode pemberdayaan
masyarakat Mapping dan trasek, sehingga diharapkan dapat diaplikasikan
ke masyarakat agar masyarakat dapat hidup bersih dan sehat.
4
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
5
dasar pemikiran tersebut, maka sangat dimungkinkan pemanfaatan dana BOK
untuk program STBM.
6
memberikan respon yang beragam terhadap adanya program STBM ini. Sebagian
masyarakat merespon dengan baik, namun tidak sedikit pula yang memberikan
penolakan. Keterlibatan masyarakat dalam pelaksanaan program STBM menjadi
salah satu kunci kesuksesan penyelenggaraan program dengan baik.
Program STBM merupakan program yang berbasis masyarakat dan
ditujukan kepada masyarakat, oleh karena itu peran masyarakat sangatlah
diperlukan. Dibutuhkan pula pedoman pelaksanaan sehingga pelaksana memiliki
acuan untuk melakukan tindakan yang mendukung keberhasilan program tersebut.
Namun, pedoman dalam bentuk fisik seperti buku acuan atau SOP tidak ada
dalam pelaksanaan program STBM di desa Gucialit. Pelaksanaan program STBM
memiliki tujuan agar masyarakat sadar dan mampu memfasilitasi akses sanitasi
mereka sendiri terutama kepemilikan jamban dan menggunakan hanya dijamban
sehat saja, yang akan berdampak pada kesehatan masyarakat sendiri
2.1.1 Definsi
Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) adalah pendekatan untuk
mengubah perilaku sanitasi dan hygiene melalui pemberdayaan masyarakat
dengan metode pemacuan (Kemenkes RI, 2014). STBM ditetapkan sebagai
kebijakan nasional berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 852/MENKES/SK/IX/2008 untuk mempercepat pencapaian MDGs tujuan
7C, yaitu mengurangi hingga setengah penduduk yang tidak memiliki akses
terhadap air bersih dan sanitasi pada tahun 2015. Tahun 2014, Kepmenkes ini
diganti dengan Peraturan Menteri Kesehatan No.3 Tahun 2014 tentang STBM.
7
Maharasthra telah mengadopsi pendekatan CLTS ke dalam program pemerintah
secara massal yang disebut dengan program Total Sanitation Campaign (TSC).
Beberapa negara lain seperti Cambodia, Afrika, Nepal, dan Mongolia juga telah
menerapkan CLTS.
Pendekatan ini berawal dari sebuah penilaian dampak partisipatif air bersih
dan sanitasi yang telah dijalankan selama 10 tahun oleh Water Aid. Salah satu
rekomendasi dari penilaian tersebut adalah perlunya mengembangkan sebuah
strategi untuk secara perlahan-lahan mencabut subsidi pembangunan toilet. Ciri
utama pendekatan ini adalah tidak adanya subsidi terhadap infrastruktur (jamban
keluarga), dan tidak menetapkan model standar jamban yang nantinya akan
dibangun oleh masyarakat.
8
Seluruh komponen masyarakat terlibat dalam analisa permasalahan-
perencanaan-pelaksanaan serta pemanfaatan dan pemeliharaan. Keputusan
masyarakat dan pelaksanaan secara kolektif adalah kunci keberhasilan STBM.
9
untuk air minum, serta untuk menerapkan prinsip hygiene sanitasi pangan
dalam proses pengelolaan makanan di rumah tangga.
4. Pengamanan Sampah Rumah Tangga
Melakukan kegiatan pengolahan sampah di rumah tangga dengan mengedepankan
prinsip mengurangi, memakai ulang, dan mendaur ulang
5. Pengamanan Limbah Cair Rumah Tangga.
Melakukan kegiatan pengolahan limbah cair di rumah tangga yang berasal dari
sisa kegiatan mencuci, kamar mandi dan dapur yang memnuhi standar baku
mutu kesehatan lingkungan dan persyaratan kesehatan yang mampu
memutusa mata rantai penularan penyakit.
10
terkait di desa mengenai tujuan dan prinsip pelaksanaan program STBM. Dinas
Kesehatan, Puskesmas setempat, Kepala Desa dan lain- lain merupakan pihak-
pihak yang akan diinformasikan untuk memperoleh dukungannya. Koordinasi
juga perlu dilakukan dengan Kepala Desa untuk mempersiapkan masyarakatnya
agar dapat mengikuti pertemuan dalam rangka kegiatan Pemicuan. Persiapan
lainnya adalah mengetahui kondisi dasar lingkungan di desa terkait seperti jumlah
cakupan jamban, ketersediaan air, kondisi sanitasi lingkungan dan tempat-tempat
yang biasa digunakan oleh masyarakat untuk BAB.
2) Tahap Pengkajian (Assessment)
Pada tahap pengkajian, seluruh komponen masyarakat (pria, wanita, tua
muda) dalam satuan terkecil akan dikumpulkan dan diajak menganalisa
lingkungannya dengan menggunakan alat-alat Participatory Rural Appriasial
(PRA) dalam STBM seperti pemetaan/mapping, transect walk untuk melakukan
penghitungan jumlah tinja, simulasi air terkontaminasi, alur kontaminasi dan
kondisi sanitasi terkait desa tersebut. Ketika masyarakat telah melihat dan
menganalisa kondisi lingkungannya, masyarakat akan dipicu dengan pertanyaan-
pertanyaan yang akan memancing rasa jijik, malu dan rasa bersalah dengan
kondisi sekitarnya. Masyarakat yang telah terpicu kemudian diajak untuk
membangun komitmen perubahan yang disaksikan oleh semua orang dan
disepakati bersama. Pada tahap ini diharapkan akan lahir natural leader dari
masyarakat yang memiliki motivasi dan kapasitas unutk memimpin perubahan di
masyarakatnya.
Program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) lebih menekankan
pada perubahan perilaku kelompok masyarakat yaitu dengan meningkatkan
kesadaran masyarakat terhadap lingkungan mereka dengan metode pemicuan,
yaitu melalui para tenaga kesehatan atau kader (kelompok anggota dermawan)
yang memberikan pemaparan dan sebagai fasilitator masyarakat dalam upaya
memperbaiki keadaan sanitasi di lingkungan mereka khususnya pada masalah
Buang Air Besar Sembarangan (BABS).
a) Metode Transek
Dalam pendekatan partisipatif, teknik penelusuran lokasi (transek)
merupakan teknik PRA untuk melakukan pengamatan langsung lingkungan dan
11
sumberdaya masyarakat, dengan cara berjalan menelusuri wilayah desa mengikuti
suatu lintasan tertentu yang disepakati. Hasil pengamatan dan lintasan tersebut,
kemudian dituangkan ke dalam bagan atau gambar irisan muka bumi untuk
didiskusikan lebih lanjut. (BLP, 2013:1).
Desa Gucialit merupakan desa yang memiliki jumlah penduduk yang paling
besar yakni sebanyak 5,089 jiwa yang terbagi atas 1,512 Kepala Kelaurga (KK).
Selain itu, desa Gucialit merupakan salah satu desa dengan progres kepemilikan
jamban sehat paling cepat jika dibandingkan dengan desa [Link] dari letak
geografisnya, desa Gucialit terletak pada ketinggian 453 mdpl di daerah lereng
bukit semeru. Sebagian besar wilayahnya adalah tanah perkebunan dan daerah
persawahan, sehingga mayoritas penduduknya memiliki mata pencaharian sebagai
petani. Dengan latar belakang tipologi yang ada di desa Gucialit, kurangnya
kesadaran untuk hidup bersih dan sehat sangat memungkinkan apabila penduduk
setempat masih berperilaku buang air besar sembarangan terutama karena
daerahnya berupa perkebunan dan persawahan sehingga banyak warga yang BAB
di kebun, sawah ataupun sungai (Nugraha, 2015:45). Berdasarkan hasil
pengamatan dilapangan, kualitas jamban hasil swadaya masyarakat sebagian
belum memenuhi standar kesehatan. Jamban yang dibangun masyarakat sebagian
merupakan tipe Cemplung dalam bentuk galian tanah tanpa pasangan batu bata
atau semen, juga tanpa septic tank, sehingga belum mampu memutus mata rantai
penularan penyakit dan bau yang tidak sedap, sebagai salah satu syarat jamban
sehat.
Dari latar belakang tersebut pemerintah membentuk program STBM dengan
prinsip Pemerintah tidak memberikan subsidi atau bantuan terhadap masyarakat
(pendekatan CLTS atau Community Led Total Sanitation). Program ini
dilaksanakan dengan menggunakan metode pemicuan agar masyarakat dapat
merubah perilaku higienis dan peningkatan akses sanitasi mereka sendiri terutama
kepemilikan jamban dan menggunakan hanya dijamban sehat saja.
12
b) Metode pemetaan/mapping
13
11,25%, sedangkan praktik open defecation masih tercatat sebanyak
19,52%.
b. Jumlah Desa ODF sebanyak 66 desa (32.20%) dari total 205 desa yang
ada. Sedangkan di Propinsi Jawa Timur jumlah Desa ODF baru tercatat
sebanyak 8.04%.
c. Pada komunitas ODF, akses pada jamban unimproved sebanyak
13.20% dan akses pada jamban sharing 4,49%.
3) Tahap Penyusunan Rencana Tindak Lanjut dan Pendampingan (designing)
Pada tahap ini, masyarakat yang telah membangun komitmen untuk
melakukan perubahan prilaku memerlukan pendampingan untuk dapat menyusun
Rencana Tindak Lanjut (RTL) di desanya. RTL tersebut disusun untuk mengawal
perubahan tersebut dan mencapai target kondisi open defecation free (ODF) di
desanya yang mereka sepakati dan siapa yang akan bertugas memonitornya.
Keterlibatan dan peran aktif dari tokoh masyarakat dan natural leader yang lahir
ketika proses pemicuan dan penyusunan RTL ini akan sangat berpengaruh pada
keberhasilan program ini. Oleh karena itu pendampingan terhadap para tokoh dan
motivator di masyarakast ini penting dilakukan untuk mempertahankan semangat
perubahan di masyarakat.
4) Tahap Monitoring dan Verifikasi Sarana Sanitasi
Pada tahap ini, pemantauan perkembangan perubahan prilaku dan
perkembangan sarana jamban dan sarana sanitasi yang telah dibangun akan
dilakukan oleh masyarakat dengan didampingi oleh fasilitator STBM. Mekanisme
pemantauan akan direncanakan dan dilaksanakan sendiri oleh masyarakat sesuai
dengan indikator-indikator yang mereka sepakati dengan tetap mengacu pada
standar kondisi sanitasi yang baik. Dalam tahap monitoring, juga dilakukan proses
verifikasi mengenai keadaan sarana sanitasi yang sehat dan terjadinya perubahan
prilaku di tingkat rumah tangga, dimana semuanya juga akan dilakukan oleh
masyarakat sendiri dengan dampingan dari fasilitator STBM.
5) Evaluasi
Setelah melalui proses pelaksanaan program STBM, tentunya diharapkan
program tersebut dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap masyarakat.
Selain itu, program tersebut juga diharapkan mampu memberikan solusi terhadap
14
permasalahan yang sebelumnya telah di identifikasi oleh pembuat kebijakan.
Lebih jauh lagi, program yang telah dilaksanakan diharapkan dapat memberikan
dampak terhadap kesehatan yang lebih baik bagi kelompok sasaran maupun
kelompok bukan sasaran karena permasalahan kesehatan berbasis lingkungan
dampaknya tidak hanya mencakup individu, namun lebih luas daripada itu. Tentu
saja pelaksanaan program yang berbasis masyarakat tidak semuanya akan berjalan
sesuai dengan tujuan yang telah direncanakan. Kesuksesan program STBM
ditentukan oleh kesadaran dan kemampuan masyarakat karena ini menyangkut
perilaku dan kebiasaan masyarakat. Pencapaian program tersebut dapat dilihat
dari perbedaan antara kondisi sebelum pelaksanaan program dengan kondisi
sesudah pelaksanaan program.
Dengan menggunakan evaluasi/penilaian single program before-after akan
menjadi alat ukur pelaksanaan program STBM sesuai indikator penilaian
masyarakat Open Defecation Free (ODF) yang ada dalam indikator penilaian
masyarakat ODF oleh Puskesmas Gucialit. Berikut adalah indikator-indikator
STBM pilar pertama yaitu stop buang air besar sembarangan (Stop BABS),
(Nugraha, 2015:48). :
- Semua masyarakat telah BAB hanya di jamban sehat dan membuang
kotoran bayi hanya ke jamban sehat.
- Tidak terlihat kotoran manusia di lingkungan sekitar.
- Ada penerapan sanksi atau aturan oleh masyarakat untuk mencegah
kegiatan BAB sembarang tempat
- Ada mekanisme monitoring yang dibuat masyarakat mencapai 100%
rumah tangga mempunyai dan menggunakan jamban sehat
15
sanitasi mereka melalui proses pemicuan yang pada akhirnya dapat menimbulkan
semangat mengubah lingkungan mereka. Mereka juga disadarkan bahwa masalah
lingkungan yang dialami adalah masalah bersama sehingga harus dipecahkan
secara bermufakat.
Program STBM merupakan metode untuk memicu kesadaran masyarakat
tentang dampak dari sanitasi yang buruk dapat mempengaruhi kesehatan mereka
sehingga masyarakat sadar untuk memperbaiki akses sanitasi mereka sendiri tanpa
ada subsidi atau bantuan dari pemerintah. Pelaksanaan program STBM memiliki
tujuan agar masyarakat sadar dan mampu memfasilitasi akses sanitasi mereka
sendiri terutama kepemilikan jamban dan menggunakan hanya dijamban sehat
saja, yang akan berdampak pada kesehatan masyarakat sendiri. Pencapaian
program tersebut dapat dilihat dari perbedaan antara kondisi sebelum pelaksanaan
program dengan kondisi sesudah pelaksanaan program.
Adanya program STBM ini memberikan dampak secara fisik, lingkungan,
sosial, kesehatan dan budaya bagi masyarakat sasaran. Berikut adalah jenis
dampak yang dilihat dari program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat:
1. Dampak Fisik
Program STBM memberikan pengaruh nyata bagi keberadaan jamban di
wilayah kabupaten lumajang. Sebelumnya, jamban yang ada di rumah warga
pada beberapa daerah terutama daerah yang jauh dari kota merupakan jamban
cemplung. Jamban ini memiliki kondisi yang tidak sehat, seperti kondisi
bangunan yang tidak kokoh (hanya terbuat dari bambu atau bahkan tanpa
penopang sama sekali), bangunan tempat jamban tidak disertai atap, dan tidak
ada air di dalam jamban. Setelah dilaksanakannya program STBM, kondisi
jamban menjadi lebih baik. Masyarakat sudah memiliki jamban dalam bentuk
kloset yang dibangun dengan bangunan tertutup dan kokoh sehingga tidak
mengkontaminasi lingkungan sekitar. Selain itu, jamban kloset merupakan
jamban yang dilengkapi air di dalamnya. Dengan demikian, dampak fisik telah
dirasakan secara signifikan oleh masyarakat sasaran.
2. Dampak Lingkungan
Lingkungan di beberapa wilayah kabupaten masih tergolong kotor sebelum
adanya program tersebut. Masih dijumpai kotoran manusia di sekitar mereka
16
utamanya pada wilayang desa yang jauh dari pemerintahan yang
mengakibatkan terjadinya pencemaran lingkungan. Pencemaran lingkungan ini
menimbulkan bau yang tidak sedap yang tentunya sangat mengganggu
kelangsungan hidup masyarakat. Selain itu, sebelum program STBM
dijalankan, ada beberapa daerah yang mengalami kesuliatan dalam mengakses
air bersih. Dengan adanya program ini, lingkungan sekitar menjadi lebih bersih
dengan tidak ditemukannya kotoran manusia yang dapat menimbulkan bau
tidak sedap. Lebih jauh lagi, beberapa daerah yang sebelumnya mengalami
kesulitan dalam mengakses air bersih saat ini menjadi semakin mudah.
Program STBM yang dijalankan oleh pemerintah memberikan dampak positif
bagi keindahan lingkungan kabupaten Lumajang.
3. Dampak Sosial
Dalam proses pelaksanaan program STBM (Sanitasi Total Berbasis
Masyarakat), masyarakat mengalami peningkatan dalam hal berinteraksi
sesama warga. Hal ini dapat dilihat melalui perilaku gotong royong yang
ditunjukkan oleh masyarakat untuk melaksanakan program tersebut. Interaksi
terjadi ketika warga saling bahu membahu dalam membuat jamban sehat.
Bantuan yang diberikan oleh masyarakat berupa fisik (bahan bangunan)
maupun non-fisik (tenaga). Meskipun sebelumnya masyarakat memang sudah
saling berinteraksi dalam melakukan sesuatu terkait dengan kepentingan
bersama, kehadiran program STBM ini tentunya meningkatkan interaksi yang
sudah terjalin. Apabila dilihat dari namanya, program STBM merupakan
sebuah program yang berbasis masyarakat sehingga pemicuan yang dilakukan
oleh para pelaksana program dapat menghidupkan partisipasi masyarakat dan
meningkatkan interaksi dengan sesama dalam mencapai tujuan program. Oleh
karena itu, dapat dikatakan bahwa hubungan masyarakat menjadi semakin
harmonis dan terjalin dengan lebih baik dengan adanya program STBM ini.
4. Dampak Kesehatan
Di Kabupaten Lumajang, beberapa penyakit yang ditimbulkan oleh kondisi
lingkungan yang tidak sehat bermunculan sebelum adanya program STBM.
Banyak warga masyarakat yang terserang penyakit seperti diare dan penyakit
kulit. Penyakit diare dalam hal ini berhubungan dengan kondisi lingkungan
17
yang tercemar, sehingga banyak virus dan bakteri yang menyebar. Seperti
halnya diare, lingkungan yang tidak sehat akibat kotoran manusia juga
menimbulkan berbagai macam penyakit kulit. Melalui program STBM,
masyarakat dipacu untuk meningkatkan kesadarannya dalam menjaga
kebersihan lingkungan mereka. Dengan tidak mencemari lingkungan dengan
membuang kotoran di sembarang tempat, masyarakat akan menjadi lebih sehat.
Penyakit-penyakit yang muncul akibat kondisi lingkungan yang kurang sehat
dapat dihindari oleh masyarakat melalui kemunculan program STBM ini.
5. Dampak Budaya
Budaya sebagian masyarakat Lumajang sebelum adanya program STBM
adalah membuang air besar di sembarang tempat seperti kebun dan pekarangan
utamanya pada wilayang yang jauh dari perkotaan. Program STBM memiliki
indikator bahwa masyarakat sasaran diharapkan dapat membuang kotoran
hanya di jamban sehat. Dan hal ini sudah terwujud melalui pelaksanaan
program STBM. Masyarakat memiliki kebiasaan yang menjadi budaya untuk
BAB hanya di jamban yang sehat saja dari yang sebelumnya BAB di jamban
cemplung. Selain itu, sebelum pelaksanaan program STBM, masyarakat
kurang memiliki kesadaran bahwa perilaku BAB sembarangan dapat
mempengaruhi kesehatan mereka. Dengan memicu masyarakat untuk
menjadikan BAB hanya di jamban sehat sebagai budaya, secara langsung
program ini telah menanamkan kesadaran yang dibentuk secara tidak sadar
bahwa kebiasaan BAB sembarangan merupakan kebiasaan yang kurang baik
karena dapat menimbulkan beberapa penyakit dan masalah lingkungan lainnya.
18
BAB 3. PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1) Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) adalah pendekatan untuk
mengubah perilaku sanitasi dan hygiene melalui pemberdayaan masyarakat
dengan metode pemacuan. STBM bertujuan untuk mewujudkan perilaku
masyarakat yang higienis dan saniter secara mandiri dalam rangka
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. STBM
memiliki lima pilar yaitu stop buang air besar sembarangan, cuci tangan
pakai sabun, pengelolaan air minum dan makanan rumah tangga,
pengamanan sampah rumah tangga dan pengamanan limbah cair rumah
tangga.
2) Dilihat dari letak geografisnya, desa Gucialit terletak pada ketinggian 453
mdpl di daerah lereng bukit semeru. Sebagian besar wilayahnya adalah
tanah perkebunan dan daerah persawahan, sehingga mayoritas penduduknya
memiliki mata pencaharian sebagai petani. Dengan latar belakang tipologi
yang ada di desa Gucialit, kurangnya kesadaran untuk hidup bersih dan
sehat sangat memungkinkan apabila penduduk setempat masih berperilaku
buang air besar sembarangan terutama karena daerahnya berupa perkebunan
dan persawahan.
3) Dampak STBM di Kabupaten Lumajang terdiri atas
a) Dampak fisik
Setelah dilaksanakannya program STBM, kondisi jamban menjadi lebih
baik. Masyarakat sudah memiliki jamban dalam bentuk kloset yang
dibangun dengan bangunan tertutup dan kokoh sehingga tidak
mengkontaminasi lingkungan sekitar.
b) Dampak Lingkungan
Dengan adanya program ini, lingkungan sekitar menjadi lebih bersih
dengan tidak ditemukannya kotoran manusia yang dapat menimbulkan bau
tidak sedap.
c) Dampak Sosial
19
Program STBM merupakan sebuah program yang berbasis masyarakat
sehingga pemicuan yang dilakukan oleh para pelaksana program dapat
menghidupkan partisipasi masyarakat dan meningkatkan interaksi dengan
sesama dalam mencapai tujuan program.
d) Dampak Kesehatan
Melalui program STBM, masyarakat dipacu untuk meningkatkan
kesadarannya dalam menjaga kebersihan lingkungan mereka. Dengan tidak
mencemari lingkungan dengan membuang kotoran di sembarang tempat,
masyarakat akan menjadi lebih sehat.
e) Dampak Budaya
Melalui pelaksanaan program STBM. Masyarakat memiliki kebiasaan
yang menjadi budaya untuk BAB hanya di jamban yang sehat saja dari yang
sebelumnya BAB di jamban cemplung
3.2 Saran
1) Dalam pendampingan pemberdayaan oleh fasilitator lebih ikut terlibat
dengan warga yang lebih luas, Agar masyarakat lebih teredukasi
mengenai program yang akan dilaksanakan. Karena kebanyakan warga
hanya kut-ikutan tanpa mengetahui pentingnya program tersebut.
2) Pengembangan sanitasi diharapkan tidak hanya pengembangan
sederhana saja, tetapi juga dioptimalkan juga. Tak hanya pengoptimalan,
evaluasi dan monitoring sangat perlu untuk di intensifkan sehingga
pengoptimalan pengembangan sanitasi dapat berjalan lebih baik lagi.
3) Diharapkan adanya kerjasama lintas sektoral dan masyarakat untuk
mengoptimalkan program tersebut.
4) Diharapkan adanya program berkelanjutan pemantauan wilayah secara
continue.
20
DAFTAR PUSTAKA
21