15 Agustus, jam menunjukan pukul 7 tepat diikuti alarm Ren yang berbunyi membangunkan nya
seperti biasa di pagi hari menggerakannya untuk berangkat ke sekolah seperti hal nya anak remaja
lain.
"Ya ampun, berangkat ke sekolah dengan pikiran penuh tugas yang belum selesai sangatlah
menyiksa, hhh...." Keluh Ren sembari bersiap mengambil sarapan dan bergegas berangkat menuju
sekolahnya.
"Aku berangkat ya bu!" Ucap Ren berpamitan kepada ibunya.
"Ya, hati-hati dan hindari ngebut! Jam masuk masih lama jangan terburu-buru!"
"Ya ya!!!"
"Hadehhhh kebiasaan..."
Ren mengayuh sepeda menuju sekolah, pemandangan normal seperti biasa yang dipandang Ren,
distrik kecil yang termasuk bagian dari Kota Besar yang terletak di lautan Pasifik yang bernama Lotus.
Berbagai etnis hidup di Kota ini, dan Pemerintahan dikelola 3 Klan besar.
Beberapa menit berlalu, Ren hampir sampai ke Sekolahnya sebelum telinga nya mendengar sesuatu
entah darimana dan siapa.
"Buka..." Suara yang tak dikenal, asing di telinga Ren.
"Eh?... siapakah?..." Bingung dan menoleh kesana kemari dan melihat siswa siswi yang juga menuju
ke Sekolah namun tak ada siapapun yang terlihat berbicara dengannya, Ren yang mengira hanya
perasaannya saja tidak menghiraukannya dan bergegas menuju Sekolahnya, mengingat waktu
hampir memasuki jam pertama pelajaran.
Entah mengapa atmosfer menjadi tak nyaman semenjak Ren mendengar suara tadi walau sempat tak
dipedulikannya, kini dia merasa bahwa dirinya diawasi oleh entitas tak dikenal meski Ren sudah
mengecek sekitarnya dan terlihat normal-normal saja seperti biasa.
"Apa yang kurasakan ini?... seakan seseorang benar-benar mengikutiku sedari aku mendengar suara
tadi..." Gumam Ren yang makin penasaran dan bingung akan suasananya.
Tak lama setelah itu entah bagaimana tiba-tiba saja lingkup sekolah berubah keadaan bagai ditutup
oleh sebuah penghalang yang terlihat cukup mistis dan hanya menyisakan Ren dan beberapa anak
saja, suara pertempuran pun terdengar dari luar.
"Apa ini?! Apa yang- ayo Ren, ini pasti mimpi!" Ucap Ren yang masih terkejut melihat keadaan
sekitar, anak-anak yang lain pun mulai panik dan berlarian. "AHHHH!!!! Apa ini!!!! Tolong!!!" Teriak
salah satu murid.
WUSHHH!
BOOMMM!!!
"Apa itu?! Pertarungan... Seorang pria?!" Ren melihat dari jendela kelas melihat seorang pria remaja
yang tampak seumurannya bertarung dengan makhluk aneh, mereka beradu 'jurus-jurus sihir' diluar
akal sehat orang. Penasaran, Ren berlari keluar kelas menuju ke tempat pertarungan, sialnya...
"Ggh! Apa?! Mereka ini... apa..." Terkejut tak hanya diluar saja yang terdapat makhluk-makhluk aneh
tersebut melainkan terdapat banyak dan tersebar di seluruh Sekolah, dan tanpa pikir panjang
makhluk-makhluk itu menyerbu Ren.
"Grrrrrr shhhhh"
Wushhh!!!
Swingggg!!!!
"Oh Tuhan, oke... entah apapun yang terjadi aku akan lari." Ren berlari secepatnya melewati
beberapa ayunan senjata makhluk-makhluk itu hingga saat sampai dia mencapai halaman sekolah...
"Sial, aku terlalu lalai... dampaknya mengenai sekolah... Spirit Technique... Unknown Hand!!!"
"Ggh?! Diluar nalar.... Pria itu... apa yang dilakukannya... sihir?" Ren melihat Pria yang sedang
bertarung itu mengeluarkan semacam teknik mengsummon tangan-tangan raksasa dari tanah dan
beradu serangan dengan Makhluk yang menyeramkan.
"Ugh!!! Uhuk!!!"
"Dia... sepertinya kehabisan tenaga..." Menyaksikan Pria itu mulai lemas Ren hendak menolongnya
namun sialnya makhluk itu melihat Ren dan bersiap menembakan sesuatu.
"Bodoh!!! Lari!!! Ggh! Uhuk!!! Sial!"
"Groaaaaaawrrr!!!"
Zap!!!
Zap!!!
Fyung!!!
"Tch! Harusnya tadi aku tak keluar kelas! Lebih baik aku lari!" Ren bergegas melarikan diri namun
apalah daya makhluk itu sudah selesai mengisi kekuatan dan meluncurkan tembakan energinya dan
mengejar Ren.
"Tidak tidak tidak! Uwoaaaahhhhhh"
"Aku harus menolongnya... arghhh!!! Spirit... Uhuk!!!"
Secepat apapun Ren berlari serangan Makhluk itu terus mengejarnya tanpa henti, di keadaan saat ini
suara itu kembali terdengar di telinga Ren dan kali ini lebih jelas dan keras.
"Buka!... Bukalah...." dan tiba-tiba....
BOOM!!!!!
Serangan nya mengenai Ren dan membuatnya terkapar dengan luka-luka disekujur badannya dan
bajunya yang terbakar.
"SIAL!!! Ini... bohong... kan... aku membiarkan orang meninggal... didepan mataku... Brengsek!!!"
Pria tersebut marah kepada dirinya sendiri atas apa yang dia lihat saat ini didepan matanya sendiri,
seorang pemuda normal yang mati mengenaskan...
Mati? Tidaklah seru jika karakter utama mati di awal cerita...
"Buka... Bukalah... Buka hati kosong itu... buka..."
Duggg!!!
Jantungnya berdetak lagi, berdetak kencang... darah nya memanas... mengeluarkan kobaran api yang
terang... rambutnya memerah... semerah darahnya... mengubah atmosfer disekitarnya seketika
menjadi jauh lebih mencekam.
"Eh?! Yang be... nar... saja..."
"HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA!!! AHAHAHAHAHAHAHA!!!!" Tawa jahat disertai aura
mencekam, Ren mulai terbangun bukan dengan dirinya yang biasanya.
BOOM!!!
"Graaaaahhhh"
'Ren' membunuh makhluk itu secara instan dalam satu jentikan dan menatap ke arah Pria tak dikenal
yang sedari tadi lemas kehabisan tenaga.
"Hey bocah, bisa bantu aku... pemanasan....? hahaha...." Senyum jahat menyeringai menyertai
wajahnya.
"Apa maksudnya... lagipula... siapa kau?! Keluar dari tubuh anak itu!"
"Kau bertanya siapa aku? Apakah mereka para Petua Exorcist tak mengajarkan legenda kepada anak-
anak? Hehemmm..."
"Jangan bilang! Pola itu... pola darah merah yang memanas... rambut merah darah... kau..."
TO BE CONTINUE