0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan10 halaman

PPGRF 3

Penelitian ini mengeksplorasi pengaruh dosis pupuk NPK dan jenis pupuk hayati terhadap pertumbuhan dan produksi bawang merah. Hasil menunjukkan bahwa dosis NPK 75 g/m2 dan penggunaan pupuk hayati Grikulan plus menghasilkan pertumbuhan dan produksi terbaik. Produksi tertinggi tercatat mencapai 11,72 ton/ha dengan aplikasi pupuk Grikulan plus pada dosis NPK 150%.

Diunggah oleh

muhamadalfidzarnoor
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan10 halaman

PPGRF 3

Penelitian ini mengeksplorasi pengaruh dosis pupuk NPK dan jenis pupuk hayati terhadap pertumbuhan dan produksi bawang merah. Hasil menunjukkan bahwa dosis NPK 75 g/m2 dan penggunaan pupuk hayati Grikulan plus menghasilkan pertumbuhan dan produksi terbaik. Produksi tertinggi tercatat mencapai 11,72 ton/ha dengan aplikasi pupuk Grikulan plus pada dosis NPK 150%.

Diunggah oleh

muhamadalfidzarnoor
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Hendarto et al: Pengaruh Dosis Pupuk NPK dan Jenis Pupuk Hayati …

Jurnal Agrotropika Vol. 20 No. 2, 2021: 110-119

PENGARUH PEMBERIAN DOSIS PUPUK NPK DAN JENIS PUPUK HAYATI


TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN
BAWANG MERAH (Allium ascalonicum L.)

Effect of NPK Fertilizer Dosage and Bio-fertilizer Types on Growth and Yield
of Shallot (Allium ascalonicum L.)

Kus Hendarto1, Setyo Widagdo1, Sri Ramadiana1, Fitria Sita Meliana2


1
Jurusan Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung
2
Jurusan Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung
Jl. Sumantri Brojonegoro No 1 Gedung Meneng, Bandar Lampung 35145
*E-mail korespondensi: [Link]@[Link]

ABSTRAK

Bawang merah (Allium ascalonicum L.) merupakan salah satu komoditas sayuran unggulan yang
digunakan sebagai bumbu penyedap makanan dan obat tradisional. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui pengaruh pemberian berbagai dosis pupuk NPK dan jenis pupuk hayati terhadap
pertumbuhan dan produksi tanaman bawang merah. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak
Kelompok (RAK) yang disusun secara faktorial (4x2). Faktor pertama adalah dosis pupuk NPK yang
terdiri dari empat taraf yaitu: N0= 0% (tanpa pupuk NPK), N1= 50% (25 g/m2), N2= 100% (50 g/m2),
dan N3= 150% (75 g/m2). Faktor kedua adalah jenis pupuk hayati yang terdiri dari dua taraf yaitu: H1=
Pupuk Grikulan plus dan H2= EM4. Hasil penelitian menujukkan bahwa perlakuan dosis pupuk NPK
sampai dengan dosis 75g/m2 memberikan hasil terbaik pada pertumbuhan dan perkembangan tanaman
yaitu meliputi jumlah daun, tinggi tanaman, bobot umbi segar per tanaman, bobot umbi kering angin
per tanaman, dan bobot umbi kering angin per m2. Pertumbuhan dan perkembangan tanaman bawang
merah dengan aplikasi pupuk hayati Grikulan plus lebih baik dibandingkan dengan pupuk hayati EM4.
Perlakuan dosis pupuk NPK 150% atau setara dengan 75 g/m2 disertai dengan aplikasi pupuk Grikulan
plus menghasilkan produksi tertinggi yaitu bobot umbi kering angin per m2 mencapai 1674,33 g atau
setara dengan 11,72 ton/ha.

Kata kunci: Bawang merah, EM4, Grikulan plus, Pupuk NPK

ABSTRACT

Shallots (Allium ascalonicum L.) is one of the leading vegetable commodities used as food seasoning
and traditional medicine. This study aims to see the effect of providing various doses of NPK fertilizer
and types of biological fertilizers on the growth and production of shallot plants. This study used a
randomized block design (RAK) arranged in a factorial (4 x 2). The first factor is the NPK fertilizer
dosage which consists of four levels, namely: N0= 0% (without NPK fertilizer), N1= 50% (25 g/m2),
N2= 100% (50 g/m2), and N3= 150% (75 g/m2). The second factor is the type of biological fertilizer
which consists of two levels, namely: H1= Grikulan plus fertilizer and H2= EM4. The results showed
that the NPK fertilizer dosage treatment up to a dose of 75g/m2 gave the best results on plant growth
and development, including the number of leaves, plant height, fresh tuber weight per plant, wind dry
tuber weight per plant, and wind dry tuber weight per m2. The growth and development of shallot plants
with the application of Grikulan biological fertilizers were better than those of EM4 biological
fertilizers. Treatment of NPK fertilizer dosage of 150% or equivalent to 75 g / m2 supplemented with
the application of Grikulan plus fertilizer results in higher production, namely the weight of dry tubers
per m2 reaching 1674.33 g or equivalent to 11.72 tonnes/ha.

Key words : EM4, Grikulan plus, shallots,NPK, yield

110
Hendarto et al: Pengaruh Dosis Pupuk NPK dan Jenis Pupuk Hayati …
Jurnal Agrotropika Vol. 20 No. 2, 2021: 110-119

PENDAHULUAN organik menurun, kerusakan struktur tanah,


dan pencemaran lingkungan (Isnaini, 2006).
Bawang merah (Allium ascalonicum
Pupuk hayati merupakan suatu alternatif
L.) merupakan salah satu komoditas sayuran
untuk memanfaatkan mikroorganisme
unggulan yang digunakan sebagai bumbu
tertentu dalam jumlah banyak untuk
penyedap makanan dan obat tradisional.
meningkatkan kesuburan tanah,
Industri pengolahan makanan yang
menyediakan hara, membantu pertumbuhan
diusahakan oleh masyarakat meningkat
tanaman dengan cara menambat unsur N
setiap tahunnya sehingga kebutuhan bawang
yang cukup besar dari udara, dan dapat
merah di dalam negeri juga semakin
melarutkan unsur P dan K dalam keadaan
meningkat. Hal ini yang menjadikan
yang tidak dapat diserap oleh tanaman
komoditas bawang merah memiliki nilai
menjadi dapat diserap oleh tanaman
ekonomi yang tinggi (Sumarni dan Hidayat,
(Hasibuan, 2006). Sumarni dkk. (2012)
2005).
menyatakan bahwa penggunaan pupuk NPK
Kebutuhan bawang merah di Indonesia
dengan dosis 600 kg/ha memberikan
dari tahun ke tahun untuk konsumsi dan bibit
pengaruh terbaik pada produksi bawang
dalam negeri mengalami peningkatan
merah.
sebesar 5%. Penghasil utama bawang merah
Pupuk hayati digunakan untuk
pada 2017 secara berturut-turut yaitu
meningkatkan efisiensi serapan hara yang
Provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa
terkandung dalam pupuk NPK. Oleh karena
Tenggara Barat, Jawa Barat, Sulawesi
itu, dengan banyaknya manfaat yang
Selatan, dan Sumatera Barat. Pada tahun
terkandung dalam pupuk NPK ditambah
2019 produksi bawang merah di Provinsi
dengan pupuk hayati maka dilakukan
Lampung hanya mencapai 2104,8 ton
penelitian ini dengan tujuan untuk
dengan luas panen sebesar 262 ha yaitu
mengetahui pengaruh interaksi pupuk NPK
setara dengan 8,03 ton/ha (Badan Pusat
dan jenis pupuk hayati yang sesuai yang
Statistik, 2019).
dapat meningkatkan pertumbuhan dan
Produktivitas bawang merah nasional
produksi tanaman bawang merah.
tahun 2015 mengalami penurunan sebesar
0,39 % dibandingkan dengan tahun 2014.
METODE PENELITIAN
Pada tahun 2014 produktivitas nasional
bawang merah mencapai 10,14 ton/ha,
sedangkan pada tahun 2015 hanya mencapai Penelitian ini dilaksanakan di Desa
10,06 ton/ha. Penurunan produksi bawang Sukabanjar, Kecamatan Gedong Tataan,
merah disebabkan oleh faktor kesuburan Kabupaten Pesawaran, Lampung. Bahan
tanah (Badan Pusat Statistik, 2016). yang digunakan adalah bibit bawang merah
Salah satu upaya untuk meningkatkan varietas Bima Brebes, pupuk NPK Mutiara,
kandungan unsur hara dan kesuburan tanah pupuk kandang kambing dan pupuk hayati
untuk meningkatkan produktivitas bawang (Grikulan plus dan EM4).
merah yaitu dengan cara pemupukan. Pupuk
NPK Mutiara mengandung tiga unsur hara Rancangan Percobaan
yang sangat dibutuhkan oleh tanaman, yaitu Penelitian ini menggunakan Rancangan
N, P, dan K dengan perbandingan unsur Acak Kelompok (RAK) yang disusun secara
setara yaitu 16:16:16. Masing-masing unsur faktorial (4x2) dengan tiga ulangan.
hara tersebut dibutuhkan tanaman bawang Pengelompokkan berdasarkan diameter
merah dalam proses pertumbuhan vegetatif umbi bibit yang akan ditanam. Umbi
dan generatif tanaman. berukuran besar memiliki diameter lebih
Pemupukan anorganik dalam jangka dari 1,8 cm pada kelompok pertama, umbi
panjang menyebabkan kandungan bahan berukuran sedang memiliki diameter 1,5
sampai dengan 1,8 cm pada kelompok
111
Hendarto et al: Pengaruh Dosis Pupuk NPK dan Jenis Pupuk Hayati …
Jurnal Agrotropika Vol. 20 No. 2, 2021: 110-119

kedua, dan umbi berukuran kecil yaitu 6,5 kg. Pupuk tersebut ditebarkan diatas
dengan diameter kurang dari atau sama bedengan secara merata di permukaan tanah
dengan 1,5 cm pada kelompok ketiga. kemudian ditutup kembali dengan tanah.
Faktor pertama yaitu dosis pupuk Jarak tanam bawang merah yaitu 0,15 × 0,15
majemuk NPK Mutiara (N) dan faktor kedua m. Selanjutnya dilakukan pemasangan
yaitu aplikasi pupuk hayati (H). Faktor mulsa plastik perak untuk mengurangi
pertama terdiri dari empat taraf yaitu N0 = tumbuhnya gulma.
0% (tanpa pupuk NPK), N1 = 50% (25 g/m2), Bibit ditanam dengan cara
N2 = 100% (50 g/m2), dan N3 = 150% (75 menancapkan satu siung bawang merah ke
g/m2). Faktor kedua terdiri dari dua taraf tanah hingga setengah bagian umbi masuk
yaitu H1 = Pupuk Grikulan plus dan H2 = ke dalam tanah. Umbi ditanam sesuai
EM4. Grikulan plus mengandung sejumlah dengan ukuran umbi, umbi yang berukuran
bakteri yaitu Azotobacter sp., Azospirillum besar pada kelompok 1, berukuran sedang
sp., Pseudomonas sp., dan Bacillus sp., EM4 umbi berukuran sedang pada kelompok 2,
mengandung mikroorganisme fermentasi dan umbi berukuran kecil pada kelompok 3.
dan sintetik yang terdiri dari bakteri asam Pengambilan sampel tanaman bawang
laktat (Lactobacillus sp.), bakteri merah dilakukan dengan sistem pengacakan.
fotosintetik (Rhodopseudomons sp.), jamur Masing-masing petak terdiri dari 48 tanaman
fermentasi (Saccharomyces sp.), dan dan 6 tanaman sebagai sampel, sehingga
Actinomycete. total sampel pada ketiga ulangan yaitu 144
Terdapat 8 kombinasi perlakuan yang tanaman. Pemeliharaan rutin yang dilakukan
diulang sebanyak 3 kali sehingga diperoleh meliputi kegiatan penyiraman yaitu dengan
24 satuan percobaan. Terdapat 48 tanaman menggunakan gembor atau dengan cara
dalam satu satuan percobaan dan 6 tanaman pemberian air hingga setengah bagian
dipilih secara acak sebagai tanaman sampel. bedengan terisi air yaitu menggunakan
Homogenitas ragam data yang diperoleh sistem “leb”.
diuji menggunakan Uji Barlett, sedangkan Umbi bawang merah dipanen setelah
Uji Additivitas dilakukan dengan Uji Tukey. sebagian daun tanaman mulai rebah 60%-
Jika data dinyatakan homogen dan bersifat 90% yaitu pada umur 65 hari setelah tanam.
menambah maka data dianalisis dengan Panen dilakukan dengan cara mencabut
analisis ragam dan dilakukan pengujian seluruh bagian tanaman dengan hati-hati
perbedaan nilai tengah dengan Uji Beda agar umbi tidak rusak maupun tertinggal.
Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 5%. Umbi yang telah dipanen kemudian
dibersihkan, diikat, dan dikeringkan.
Pelaksanaan Penelitian Peubah yang diamati meliputi tinggi
Penyiapan lahan diawali dengan tanaman, jumlah daun, bobot umbi segar per
membersihkan gulma dan sisa tanaman yang tanaman, bobot umbi kering angin per
ditanami sebelumnya. Selanjutnya tanaman, dan bobot umbi kering angin per
dilakukan pengolahan tanah. Pengolahan m2 . Tinggi tanaman diukur dari permukaan
tanah dilakukan secara mekanik tanah hingga ujung daun terpanjang.
menggunakan cangkul. Tanah dibentuk Pengukuran tinggi tanaman dan jumlah daun
bedengan berukuran 1 × 12 m dengan tinggi dilakukan pada saat tanaman berumur 1 mst
25 cm sebanyak 3 bedengan. Satu bedengan sampai 7 mst. Bobot umbi segar diperoleh
terdapat 8 satuan percobaan yang ditentukan pada saat panen dengan cara menimbang
menggunakan sistem pengacakan. Setiap umbi setelah panen agar umbi masih dalam
petak satuan percobaan berukuran 1 x 2 m. keadaan segar. Umbi yang ditimbang
Selanjutnya masing-masing bedengan dibersihkan dari akar, daun, dan tanah yang
tersebut diberikan kapur dolomit sebanyak melekat pada umbi. Bobot kering angin
10 kg dan pupuk kandang kambing sebanyak umbi diperoleh dari penimbangan umbi

112
Hendarto et al: Pengaruh Dosis Pupuk NPK dan Jenis Pupuk Hayati …
Jurnal Agrotropika Vol. 20 No. 2, 2021: 110-119

setelah dikeringanginkan selama satu pupuk hayati tidak berpengaruh nyata pada
minggu. tinggi tanaman 6 mst. Perlakuan N3 yaitu
NPK dengan dosis 75 g/m2 menghasilkan
Aplikasi Perlakuan tinggi tanaman tertinggi yaitu 38,48 cm
Aplikasi pupuk NPK Mutiara dibandingkan dengan perlakuan lainnya
dilakukan sebanyak tiga kali yaitu pada 1 (Tabel 3). Perlakuan tanpa menggunakan
minggu setelah tanam (mst), 3 mst, dan 5 pupuk NPK menghasilkan tinggi tanaman
mst. Aplikasi pupuk majemuk NPK paling rendah yaitu 30,62 cm namun tidak
diberikan dengan dosis yaitu N0 tanpa pupuk berbeda nyata dengan perlakuan N1 (NPK 25
NPK, N1 sebanyak 25 g/m2, N2 sebanyak 50 g/m2), dan N2 (NPK 50 g/m2).
g/m2, dan N3 sebanyak 75 g/ m2 (Tabel 1).
Pupuk NPK ditaburkan ke permukaan tanah Tabel 2. Rekapitulasi pengaruh dosis pupuk
di sekililing tanaman. Aplikasi pupuk hayati NPK, jenis pupuk hayati, dan
yaitu pupuk Grikulan plus dan EM4 interaksinya pada variabel
pengamatan
diberikan pada tanah dengan konsentrasi 20
ml/l per m2. Aplikasi pupuk hayati Grikulan
plus dan EM4 dilakukan sebanyak tiga kali Perlakuan
Variabel Jenis
yaitu 1 mst, 3 mst, dan 5 mst dengan cara Dosis Interaksi
Pengamatan Pupuk
menyiramkan larutan pupuk hayati ke NPK
Hayati
seluruh permukaan tanah di sekililing
Tinggi Tanaman
tanaman. Larutan pupuk hayati diberikan ** tn tn
(cm)
sebanyak 41,7 ml/tanaman. Jumlah Daun ** tn tn
Bobot Umbi
Tabel 1. Takaran pemberian dosis pupuk NPK ** ** *
Segar (g)
pada setiap perlakuan
Bobot Umbi
** ** *
Kering Angin (g)
Dosis NPK Umur Tanaman Bobot Umbi
No
(g/ m2) 1 mst 3 mst 5 mst Kering Angin per ** ** *
1. 0 (N0) 0 0 0 m2 (g/m2)
2. 25 (N1) 10 10 5
3. 50 (N2) 20 20 10 Keterangan:
4. 75 (N3) 30 30 15 tn = tidak berbeda nyata
* = berbeda nyata pada α 5%
** = berbeda nyata pada α 1%
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tabel 3. Pengaruh pemberian dosis pupuk NPK
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tinggi tanaman bawang merah
dosis pupuk NPK, jenis pupuk hayati, dan
interaksi dosis pupuk NPK dengan jenis Tinggi Tanaman
Dosis NPK
Minggu ke-6
pupuk hayati berpengaruh nyata terhadap
0 (N0) 30,62 c
beberapa variabel pengamatan. Hasil 25 (N1) 33,34 bc
rekapitulasi analisis ragam pada variabel 50 (N2) 35,45 b
pengamatan disajikan pada Tabel 2. 75 (N3) 38,48 a
BNT 5% 2,91
Tinggi Tanaman
Perlakuan berbagai dosis pupuk NPK Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang
berpengaruh nyata pada tinggi tanaman 6 sama tidak berbeda nyata pada
mst. Namun perlakuan jenis pupuk hayati taraf 5%
dan interaksi pupuk NPK dengan jenis

113
Hendarto et al: Pengaruh Dosis Pupuk NPK dan Jenis Pupuk Hayati …
Jurnal Agrotropika Vol. 20 No. 2, 2021: 110-119

perbedaan yang nyata. Namun aplikasi


pupuk NPK dengan dosis 50 g/m2 (N2)
dengan aplikasi pupuk hayati Grikulan plus
(H1) menghasilkan bobot umbi segar per
tanaman nyata lebih berat dibandingkan
dengan pupuk hayati EM4 (Tabel 5).
Pada perlakuan pupuk hayati EM4,
perlakuan NPK 75 g/m2 (N3) menghasilkan
bobot umbi segar lebih tinggi dibandingkan
dengan perlakuan lainnya. Pada perlakuan
pupuk hayati Grikulan plus, perlakuan N3
menghasilkan bobot umbi segar lebih tinggi
Gambar 1. Pertumbuhan tanaman dibandingkan dengan perlakuan N0 dan N1
namun tidak berbeda nyata dengan
Jumlah Daun perlakuan N2.
Hasil penelitian menunjukkan
perlakuan jenis pupuk hayati dan interaksi Tabel 5. Pengaruh dosis pupuk NPK dan jenis
pupuk NPK dan jenis pupuk hayati tidak pupuk hayati terhadap bobot umbi
berpengaruh nyata terhadap jumlah daun segar per tanaman (g)
pada 6 mst. Namun, perlakuan berbagai
dosis pupuk NPK berpengaruh nyata Jenis Pupuk Hayati
terhadap jumlah daun tanaman bawang Dosis NPK Grikulan
EM4 (H2)
merah. Perlakuan dosis pupuk NPK 75 g/m2 plus (H1)
(N3) menghasilkan jumlah daun yang lebih 0 (N0) 40,34 A 35,79 A
banyak dibandingkan dengan perlakuan N1 c b
dan N0 (Tabel 4). 50,31 A 45,20 A
25 (N1)
b b
62,66 A 43,22 B
Tabel 4. Pengaruh dosis pupuk NPK terhadap 50 (N2)
a b
jumlah daun per tanaman
63,45 A 58,67 A
75 (N3)
a a
Dosis NPK Jumlah Daun BNT 7,52
0 (N0) 26,22 c
25 (N1) 28,44 bc
Keterangan: Angka sebaris pada yang diikuti
50 (N2) 31,56 ab
75 (N3) 36,22 a huruf besar yang sama dan angka sekolom
yang diikuti huruf kecil yang sama
BNT 5% 4,84
menunjukkan tidak berbeda nyata pada taraf
5%.
Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang
sama tidak berbeda nyata pada
taraf 5% Bobot Umbi Kering Angin per Tanaman
Bobot umbi kering angin bawang
Bobot Umbi Segar merah dipengaruhi oleh interaksi antara
Peubah bobot umbi segar bawang aplikasi pupuk NPK dan pupuk hayati. Hasil
merah menunjukkan adanya interaksi antara uji lanjut (Tabel 6) menunjukkan bahwa
aplikasi pupuk NPK dan pupuk hayati. perlakuan NPK dengan dosis 25 g/m2 (N1),
Perlakuan NPK dengan dosis 25 g/m2 (N1), dosis 75 g/m2 (N3), dan tanpa pupuk NPK
dosis 75 g/m2 (N3), dan tanpa pupuk NPK dengan aplikasi pupuk hayati Grikulan plus
dengan aplikasi pupuk hayati Grikulan plus (H1) dan EM4 (H2) tidak berpengaruh nyata.
(H1) dan EM4 (H2) tidak menunjukkan Namun, aplikasi pupuk NPK dengan dosis
50 g/m2 (N2) dengan aplikasi pupuk hayati

114
Hendarto et al: Pengaruh Dosis Pupuk NPK dan Jenis Pupuk Hayati …
Jurnal Agrotropika Vol. 20 No. 2, 2021: 110-119

Grikulan plus (H1) menghasilkan bobot perlakuan pupuk hayati EM4 (H2). Namun,
umbi kering angin per tanaman lebih berat pada perlakuan NPK dosis 25 g/m2 (N0) dan
yaitu 59,11 g dibandingkan dengan tanpa pupuk NPK dengan aplikasi pupuk
perlakuan aplikasi pupuk hayati EM4 (H2) hayati Grikulan plus (H1) dan EM4 (H2)
yaitu 40,50 g per tanaman. tidak berbeda nyata. Perlakuan pemberian
Pada perlakuan pupuk hayati EM4, pupuk NPK dengan dosis 75 g/m2 (N3)
perlakuan NPK 75 g/m2 (N3) menghasilkan menghasilkan bobot umbi per m2 lebih berat
bobot umbi kering angin per tanaman lebih dibandingkan dengan perlakuan lainnya.
tinggi dibandingkan dengan perlakuan Perlakuan tanpa pupuk NPK menghasilkan
lainnya. Pada perlakuan pupuk hayati bobot umbi per m2 lebih ringan
Grikulan plus, perlakuan N3 menghasilkan dibandingkan dengan perlakuan lainnya.
bobot umbi kering angin per tanaman lebih Namun perlakuan N2 (NPK 50 g/m2) dan N1
tinggi dibandingkan dengan perlakuan N0 (NPK 25 g/m2) pada aplikasi pupuk hayati
dan N1 namun tidak berbeda nyata dengan EM4 menghasilkan bobot umbi per m2 yang
perlakuan N2 . tidak berbeda nyata. Pada perlakuan pupuk
hayati EM4, perlakuan NPK 75 g/m2 (N3)
Tabel 6. Pengaruh pemberian dosis pupuk menghasilkan bobot umbi kering angin per
NPK dan jenis pupuk hayati m2 lebih tinggi dibandingkan dengan
terhadap bobot umbi kering angin perlakuan lainnya. Pada perlakuan pupuk
per tanaman (g) hayati Grikulan plus, perlakuan N3
menghasilkan bobot umbi kering angina per
Jenis Pupuk Hayati m2 tertinggi dibandingkan dengan perlakuan
Dosis NPK Grikulan lainnya.
EM4 (H2)
plus (H1)
0 (N0) 37,56 A 32,78 A Tabel 7. Pengaruh dosis pupuk NPK dan
c c jenis pupuk hayati terhadap bobot
46,94 A 41,56 A umbi kering angin per m2 (g/m2)
25 (N1)
b b
59,11 A 40,50 B Jenis Pupuk Hayati
50 (N2)
a b Dosis NPK Grikulan
EM4 (H2)
60,22 A 54,22 A plus (H1)
75 (N3)
a a 0 (N0) 901,40 A 786,67 A
BNT 7,62 d c
1126,67 A 997,33 A
25 (N1)
Keterangan: Angka sebaris pada yang diikuti c b
huruf besar yang sama dan angka sekolom 1418,67 A 972,00 B
50 (N2)
yang diikuti huruf kecil yang sama b b
menunjukkan tidak berbeda nyata pada taraf 1674,33 A 1301,33 B
75 (N3)
5%. a a
BNT 167,73
Bobot Umbi Kering Angin per m2
Bobot umbi kering angin bawang Keterangan: Angka sebaris pada yang diikuti
merah dipengaruhi oleh interaksi antara huruf besar yang sama dan angka sekolom
aplikasi pupuk NPK dan pupuk hayati. yang diikuti huruf kecil yang sama
Berdasarkan hasil uji lanjut (Tabel 7), menunjukkan tidak berbeda nyata pada taraf
perlakuan pupuk hayati Grikulan plus (H1) 5%.
pada pupuk NPK dengan dosis 50 g/m2 (N2),
dan dosis 75 g/m2 (N3) menghasilkan bobot
umbi yang lebih berat dibandingkan dengan

115
Hendarto et al: Pengaruh Dosis Pupuk NPK dan Jenis Pupuk Hayati …
Jurnal Agrotropika Vol. 20 No. 2, 2021: 110-119

Pembahasan dalam sintesis protein dan karbohidrat, serta


Hasil penelitian menunjukkan bahwa meningkatkan translokasi fotosintat ke
pemberian pupuk NPK dengan dosis 75 g/m2 seluruh bagian [Link] fase generatif.
(N3) memberikan hasil terbaik pada seluruh Bassiony (2006) menyatakan bahwa unsur K
parameter pertumbuhan tanaman. Hal ini berperan dalam meningkatkan bobot kering
diduga karena unsur N, P, dan K yang bawang merah. Unsur P merupakan salah
diberikan pada perlakuan N3 yaitu NPK satu unsur penyusun Adenosin Trifosfat
dengan dosis 75 g/m2 mampu meningkatkan (ATP) dalam tanaman yang berperan
pertumbuhan vegetatif tanaman sehingga penting dalam fotosintesis dan
pertumbuhan generatif tanaman bawang perkembangan akar (Ginting et al., 2006).
merah optimal. Semakin baik hasil fotosintesis maka
Pemberian pupuk NPK dengan dosis semakin besar pula umbi yang terbentuk
75 g/m2 diduga telah mampu meningkatkan (Siagian et al., 2019).
ketersediaan unsur N pada tanah. Aplikasi pupuk hayati berpengaruh
Meningkatnya ketersediaan unsur N pada nyata terhadap parameter bobot umbi segar
tanah mampu meningkatkan pertumbuhan per tanaman, bobot umbi kering angin,
vegetatif tanaman bawang merah. Hal ini tanaman, dan bobot umbi kering angin per
didukung oleh Napitulu dan Winarto (2010) m2. Mikroba dan zat pengatur tumbuh yang
bahwa unsur N dapat meningkatkan sintesis terkandung dalam pupuk hayati diduga
protein dan pembentukan klorofil. mampu meningkatkan pertumbuhan dan
Ketersediaan unsur N dalam jumlah yang perkembangan tanaman. Hal ini didukung
cukup dapat melancarkan proses oleh Husna (2014) yang menyatakan bahwa
metabolisme tanaman yang akan pupuk hayati yang mengandung Azotobacter
mempengaruhi pertumbuhan organ-organ sp., dan Azospirillum sp. dapat
tanaman seperti batang, daun, dan akar. menghasilkan zat-zat pengatur tumbuh yang
Dianita dan Abdullah (2011) juga dapat mempercepat pertumbuhan tanaman.
menyatakan bahwa ketersediaan unsur N Hormon-hormon pertumbuhan yang
yang cukup pada pertumbuhan vegetatif dihasilkan oleh mikroba pada pupuk hayati
tanaman mampu membentuk asam amino yaitu hormon auksin, sitokinin, dan
menjadi protein. Protein yang terbentuk giberelin. Pupuk hayati juga
digunakan dalam proses fotosintesis mengkolonisasi perakaran tanaman yang
kemudian akan membentuk bagian-bagian mempengaruhi perpanjangan akar tanaman
vegetatif dengan cepat. Jaringan meristem sehingga penyerapan nutrisi dapat
akan mengalami pembelahan sel, berlangsung dengan baik (Rana et al., 2018).
pembesaran, dan pemanjangan sel-sel baru Hal ini dapat menyebabkan proses
sehingga pertumbuhan tanaman berlangsung pembentukan umbi menjadi lebih baik, dan
baik. Deden dan Umiyati (2020) juga berpengaruh terhadap kualitas umbi yang
menyatakan bahwa tanaman bawang merah dihasilkan.
akan aktif membelah membentuk anakan Perlakuan NPK dengan dosis 75 g/m2
setelah fase pertumbuhan vegetatif yang (N3) disertai dengan pupuk hayati Grikulan
telah dicapai. plus (H1) memberikan hasil terbaik yaitu
Pemberian pupuk NPK dengan dosis bobot umbi segar, bobot umbi kering angin,
75 g/m2 (N3) menghasilkan bobot umbi dan bobot umbi per petak. Hal ini diduga
segar per tanaman, bobot kering angin, dan bahwa unsur P dan K, serta peran bakteri
bobot umbi kering angin per m2 yang lebih yang terdapat dalam pupuk hayati Grikulan
berat dibandingkan dengan perlakuan plus seperti mikroba pelarut fosfat dapat
lainnya. Kalium mempunyai peranan bekerja dengan baik. Hal tersebut didukung
penting sebagai aktivator enzim dalam oleh Siagian et al. (2012) yang menyatakan
metabolisme tanaman, kalium berperan bahwa fosfor berfungsi dalam perbaikan

116
Hendarto et al: Pengaruh Dosis Pupuk NPK dan Jenis Pupuk Hayati …
Jurnal Agrotropika Vol. 20 No. 2, 2021: 110-119

kandungan karbohidrat, dan pembentukan menambat N dari udara dan menghasilkan


akar serta meningkatkan hasil umbi-umbian. hormon pertumbuhan seperti auksin,
Pupuk hayati Grikulan plus yang sitokinin, dan giberelin (Dermiyati, 2015).
mengandung bakteri Pseudomonas sp., Unsur N tersedia dengan adanya bantuan
berfungsi sebagai pelarut fosfat (P) oleh bakteri Azospririllum sp. yang memiliki
memproduksi antibiotik pelindung penyakit, enzim nitrogenase yang dapat mengubah N2
merangsang pembentukan hormon ZPT dari hasil fiksasi menjadi NH4+ (Marlina et
auksin, sitokinin, dan giberelin, serta al., 2018). Nitrogen bebas yang difiksasi
menghambat etilen. Bakteri Pseudomonas secara hayati akan membantu peningkatan
sp., akan menghasilkan asam organik yang fotosintesis selanjutnya fotosintat dalam
akan membentuk senyawa-senyawa bentuk karbohidrat akan ditranslokasikan
komplek dengan ion Fe dan Al sehingga keseluruh jaringan tanaman dan selanjutnya
unsur fosfat akan dapat tersedia bagi akan digunakan untuk menunjang
tanaman (Dermiyati, 2015). pertumbuhan dan perkembangan organ
Berdasarkan hasil penelitian, tanaman (Gunarto, 2015). Dengan adanya
pemberian pupuk hayati Grikulan plus bakteri tersebut mampu meningkatkan
memberikan hasil yang lebih baik ketersediaan unsur N di dalam tanah dan
dibandingkan dengan EM4 pada seluruh hormon yang dihasilkan dapat merangsang
parameter pertumbuhan generatif tanaman. pertumbuhan tanaman bawang merah,
Hal tersebut diduga bahwa pada kedua jenis meningkatkan penyerapan unsur hara
pupuk hayati tersebut mengandung beberapa sebagai penunjang pertumbuhan dan
mikroorganisme yang berbeda. Effective produksi tanaman bawang merah.
Mikroorganism (EM4) belum memberikan Pengaplikasian pupuk NPK yang
hasil yang optimal pada parameter dikombinasikan dengan pupuk hayati
pertumbuhan generatif tanaman disebabkan Grikulan plus kombinasi pupuk NPK dan
karena EM4 lebih berfungsi sebagai pupuk hayati sangat menguntungkan dalam
dekomposer. Dengan demikian dapat proses budidaya tanaman. Pupuk hayati
diartikan bahwa EM4 hanya berperan yang diaplikasikan pada tanah secara terus-
sebagai bahan pembenah tanah bagi menerus dan berkesinambungan akan
pengomposan bahan organik. Hal tersebut memberikan manfaat dalam pemakaian
didukung oleh Djuarnani et al. (2005) yang jangka panjang dan memberikan keuntungan
menyatakan bahwa EM4 merupakan dalam budidaya tanaman. Pupuk hayati
bioaktivator yang mengandung banyak bersifat multi fungsi yang mampu
mikroorganisme pemecah bahan memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi
organiksalah satunya yaitu bakteri asam tanah. Mustari (2004) juga menyebutkan
laktat. Fitria et al. (2017) juga menyatakan bahwa penggunaan pupuk anorganik dengan
bahwa pada parameter bobot umbi per pupuk hayati dapat digunakan untuk
tanaman maupun bobot umbi kering meningkatkan produksi dan produktivitas
matahari bahwa perlakuan yang tanaman.
menggunakan kombinasi pupuk hayati EM4 Hasil penelitian menunjukkan bahwa
dan pupuk tanpa kombinasi memberikan pertumbuhan tanaman dan hasil produksi
hasil yang lebih rendah. bawang merah terbaik yaitu pada dosis NPK
Grikulan plus yang diaplikasikan pada sebesar 75 g/m2 atau setara dengan 600 kg
tanah mengandung sejumlah bakteri yaitu NPK/ha disertai dengan aplikasi pupuk
Azotobacter sp., Azospirillum sp., hayati Grikulan plus. Hasil produksi bawang
Pseudomonas sp., Bacillus sp., dan mikroba merah dengan perlakuan tersebut
pelarut fosfat (Gunarto, 2015). Azospirillum memberikan hasil bobot umbi kering angin
sp. dan Azotobacter sp. merupakan mikroba per m2 terbaik yaitu mencapai 1674,33 g
yang berfungsi sebagai mikroba yang dapat atau setara dengan 11,72 ton/ha. Produksi

117
Hendarto et al: Pengaruh Dosis Pupuk NPK dan Jenis Pupuk Hayati …
Jurnal Agrotropika Vol. 20 No. 2, 2021: 110-119

tersebut telah mencapai potensi Badan Pusat Statistik. 2017. Statistik Tanaman
produktivitas tanaman bawang merah Sayuran dan Buah-buahan Semusim.
varietas Bima Brebes yaitu 9,9 ton/ha dan [Link] Diakses pada 15
telah mencapai potensi produktivitas Agustus 2020.
bawang merah Provinsi Lampung yaitu 8,03 Bassiony, A.M.2006. Effect of Potassium
ton/ha. Hal tersebut menunjukkan bahwa Fertilization on Growth, Yield, and
pemberian pupuk NPK dengan pupuk hayati Quality of Onion Plants. J. Appl. Scie.
dapat mengefisiensikan penggunaan pupuk Res. 2(10): 780-785.
NPK dalam pembentukkan dan Dermiyati. 2015. Sistem Pertanian Organik
perkembangan umbi. Pupuk hayati juga Berkelanjutan. Penerbit Plantaxia.
berperan dalam memperbaiki kesuburan Yogyakarta. 121 hlm.
tanah sehingga perakaran tanaman dapat Dianita, R dan Abdullah. 2011. Effect of
dengan baik menyerap unsur hara di dalam Nitrogen Fertilizer on Growth
tanah. Dengan demikian pertumbuhan dan Characteristics and Productivity of
produksi tanaman bawang merah semakin Creeping Forage Plants for Tree Pasture
meningkat. Integreted System. Jurnal of Agricultural
Science and Technology. 3(1): 1118-1121.
KESIMPULAN Djuarnani, N., Kristian., dan S.S. Budi. 2005.
Cara Cepat Membuat Kompos. Agro
Dari hasil penelitian ini dapat Media Pustaka. Depok. 74 hlm.
disimpulkan bahwa:
Eviati dan Sulaiman. 2009. Analisis Kimia
1. Pemberian pupuk NPK dosis 75g/m2 Tanah, Tanaman, Air, dan Pupuk. Balai
memberikan hasil terbaik pada Penelitian Tanah. Jawa Barat. 143 hlm.
pertumbuhan dan perkembangan
tanaman yaitu meliputi jumlah daun, Firmansyah, I., L. Khaririyatun., dan Yufdy.
2015. Pertumbuhan dan Hasil Bawang
tinggi tanaman, bobot umbi segar per
Merah dengan Aplikasi Pupuk Organik
tanaman, bobot umbi kering angin per dan Pupuk Hayati pada Tanah Alluvial. J.
tanaman, dan bobot umbi kering angin Hort. 25 (2):133-141.
per m2;
2. Pemberian pupuk hayati Grikulan plus Fitria, E.L., W.S.D. Yamika., dan M. Santosa.
2017. Pengaruh Biourin, EM4 dan Pupuk
memberikan hasil lebih baik pada
terhadap Pertumbuhan dan Hasil Bawang
seluruh parameter pertumbuhan Merah (Allium Ascalonicum L.) pada
tanaman bawang merah dibandingkan Kondisi Ternaungi. Jurnal Produksi
dengan penggunaan pupuk hayati EM4; Tanaman. 5 (3): 475-483.
3. Pengaruh pupuk NPK bergantung pada
Gunarto, L. 2015. Bio Max Grow. Kementerian
jenis pupuk hayati yang digunakan,
Pertanian Republik Indonesia. Jakarta.
dosis pupuk NPK 75 g/m2 dan pupuk
hayati Grikulan plus menghasilkan Gunawan, D. 2010. Budidaya Bawang Merah.
produksi yang lebih tinggi yaitu bobot Agritek. Jakarta. [Link]
umbi kering angin per m2 mencapai [Link]. Diakses pada 14 Agustus
1674,33 g atau setara dengan 11,72 2020.
ton/ha. Hardjowigeno, S. 2003. Ilmu Tanah. Akademika
Pressindo. Bogor. Hlm 66-70.
DAFTAR PUSTAKA Hasibuan, B.E. 2004. Pupuk dan Pemupukan.
Universitas Sumatera Utara. Medan.
Badan Pusat Statistik. 2016. Produksi Bawang Jurnal Online Agroekoteknologi. 3(3) :
Merah Provinsi Tahun 2011-2015. 1219 – 1225. Diakses pada 16 Juni 2020.
[Link] Diakses pada
15 Agustus 2020.

118
Hendarto et al: Pengaruh Dosis Pupuk NPK dan Jenis Pupuk Hayati …
Jurnal Agrotropika Vol. 20 No. 2, 2021: 110-119

Hasibuan, B.E. 2006. Pupuk dan Pemupukan. Setiawati, M.R., E.T. Sofyan, dan Z. Mutaqin.
Universitas Sumatera Utara. Medan. 74 2016. Pengaruh Pupuk Hayati Padat
hlm. terhadap Serapan N dan P Tanaman,
Komponen Hasil dan Hasil Padi Sawah
Hidayat, A. dan R. Rosliani 1996. Pengaruh
(Oryza Sativa L.). Jurnal Agroekotek. 8
Pemupukan N, P, dan K pada
(2): 120-130.
Pertumbuhan dan Produksi Bawang
Merah Kultivar Sumenep. J. Hort. Siagian, T.V., F. Hidayat, dan S.Y. Tyasmoro.
5(5):39-43. 2019. Pengaruh Pemberian Dosis Pupuk
NPK dan Hayati terhadap Pertumbuhan
Husna. 2013. Pemanfaatan Pupuk Hayati
dan Hasil Tanaman Bawang Merah
(Pseudomonas flourescens) untuk
(Allium ascalonicum L.). Jurnal Produksi
Meningkatkan Efisiensi Pemupukan pada
Tanaman. 7 (11): 2151-2160.
Tanaman Tomat. Skripsi. Fakultas
Pertanian Universitas Lampung. Simanungkalit, R.D.M., Saraswati R., Hastuti
R.D., dan Husen E. 2006. Pupuk Organik
Isnaini, M. 2006. Pertanian Organik. Penerbit
dan Pupuk Hayati. Balai Besar Penelitian
Kreasi Wacana. Yogyakarta.
dan Pengembangan Sumberdaya Lahan
Marlina, N., N. Amir., dan B. Palmasari. Pertanian. Jawa Barat. 113 hlm.
Pemanfaatan Berbagai Jenis Pupuk
Sumarni, N. dan R. Rosliani. 2002. Pengaruh
Organik Hayati terhadap Produksi
Kerapatan Tanaman dan Konsentrasi
Bawang Merah (Allium ascalonicum L.)
Larutan NPK 15-15-15 terhadap Produksi
di Tanah Pasang Surut Tipe Luapan C
Umbi Bawang Merah Mini dalam Kultur
Asal Banyuurip. Jurnal Lahan
Agregat Hidroponik. J. Hort. 12(1):11-16.
Suboptimal. 7 (1): 74-79.
Sumarni, N. dan Hidayat. 2005. Budidaya
Musnamar. 2003. Pupuk Organik : Cair dan
Bawang Merah. Balai Penelitian Tanaman
Padat, Pembuatan, Aplikasi. Penebar
Sayuran. Jakarta. 31 hlm.
Swadaya. Jakarta.
Sumarni, N., R. Rosliani, dan R.S. Basuki. 2012.
Napitupulu, D. dan L. Winarto. 2010. Pengaruh
Respons Pertumbuhan, Hasil Umbi, dan
Pemberian Pupuk N dan K terhadap
Serapan Hara NPK Tanaman Bawang
Pertumbuhan dan Produksi Bawang
Merah terhadap Berbagai Dosis
Merah. J. Hort. 20(1): 27-35.
Pemupukan NPK pada Tanah Alluvial. J.
Rana, R., M.R.. Setiawati, dan Suriadikusumah. Hort. 22(4): 366-375.
2018. Pengaruh Pupuk Hayati dan
Sumiati, E. dan O. S. Gunawan. 2007. Aplikasi
Anorganik terhadap Populasi Bakteri
Pupuk Hayati Mikoriza untuk
Pelarut Fosfat, Kandungan Fosfat (P), dan
Meningkatkan Efisiensi Serapan Unsur
Hasil Tomat Hidroponik. Jurnal Biodjati.
Hara NPK serta Pengaruhnya terhadap
3(1): 15-22.
Hasil dan Kualitas Umbi Bawang Merah.
Rosliani, R. dan Hilman. 2002. Pengaruh Pupuk J. Hort. 17(1): 34-42.
Urea Hayati dan Pupuk Organik
Penambat Nitrogen terhadap
Pertumbuhan dan Hasil Bawang Merah.
J. Hort. 12(1): 17-27.

119

Anda mungkin juga menyukai