PPGRF 3
PPGRF 3
Effect of NPK Fertilizer Dosage and Bio-fertilizer Types on Growth and Yield
of Shallot (Allium ascalonicum L.)
ABSTRAK
Bawang merah (Allium ascalonicum L.) merupakan salah satu komoditas sayuran unggulan yang
digunakan sebagai bumbu penyedap makanan dan obat tradisional. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui pengaruh pemberian berbagai dosis pupuk NPK dan jenis pupuk hayati terhadap
pertumbuhan dan produksi tanaman bawang merah. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak
Kelompok (RAK) yang disusun secara faktorial (4x2). Faktor pertama adalah dosis pupuk NPK yang
terdiri dari empat taraf yaitu: N0= 0% (tanpa pupuk NPK), N1= 50% (25 g/m2), N2= 100% (50 g/m2),
dan N3= 150% (75 g/m2). Faktor kedua adalah jenis pupuk hayati yang terdiri dari dua taraf yaitu: H1=
Pupuk Grikulan plus dan H2= EM4. Hasil penelitian menujukkan bahwa perlakuan dosis pupuk NPK
sampai dengan dosis 75g/m2 memberikan hasil terbaik pada pertumbuhan dan perkembangan tanaman
yaitu meliputi jumlah daun, tinggi tanaman, bobot umbi segar per tanaman, bobot umbi kering angin
per tanaman, dan bobot umbi kering angin per m2. Pertumbuhan dan perkembangan tanaman bawang
merah dengan aplikasi pupuk hayati Grikulan plus lebih baik dibandingkan dengan pupuk hayati EM4.
Perlakuan dosis pupuk NPK 150% atau setara dengan 75 g/m2 disertai dengan aplikasi pupuk Grikulan
plus menghasilkan produksi tertinggi yaitu bobot umbi kering angin per m2 mencapai 1674,33 g atau
setara dengan 11,72 ton/ha.
ABSTRACT
Shallots (Allium ascalonicum L.) is one of the leading vegetable commodities used as food seasoning
and traditional medicine. This study aims to see the effect of providing various doses of NPK fertilizer
and types of biological fertilizers on the growth and production of shallot plants. This study used a
randomized block design (RAK) arranged in a factorial (4 x 2). The first factor is the NPK fertilizer
dosage which consists of four levels, namely: N0= 0% (without NPK fertilizer), N1= 50% (25 g/m2),
N2= 100% (50 g/m2), and N3= 150% (75 g/m2). The second factor is the type of biological fertilizer
which consists of two levels, namely: H1= Grikulan plus fertilizer and H2= EM4. The results showed
that the NPK fertilizer dosage treatment up to a dose of 75g/m2 gave the best results on plant growth
and development, including the number of leaves, plant height, fresh tuber weight per plant, wind dry
tuber weight per plant, and wind dry tuber weight per m2. The growth and development of shallot plants
with the application of Grikulan biological fertilizers were better than those of EM4 biological
fertilizers. Treatment of NPK fertilizer dosage of 150% or equivalent to 75 g / m2 supplemented with
the application of Grikulan plus fertilizer results in higher production, namely the weight of dry tubers
per m2 reaching 1674.33 g or equivalent to 11.72 tonnes/ha.
110
Hendarto et al: Pengaruh Dosis Pupuk NPK dan Jenis Pupuk Hayati …
Jurnal Agrotropika Vol. 20 No. 2, 2021: 110-119
kedua, dan umbi berukuran kecil yaitu 6,5 kg. Pupuk tersebut ditebarkan diatas
dengan diameter kurang dari atau sama bedengan secara merata di permukaan tanah
dengan 1,5 cm pada kelompok ketiga. kemudian ditutup kembali dengan tanah.
Faktor pertama yaitu dosis pupuk Jarak tanam bawang merah yaitu 0,15 × 0,15
majemuk NPK Mutiara (N) dan faktor kedua m. Selanjutnya dilakukan pemasangan
yaitu aplikasi pupuk hayati (H). Faktor mulsa plastik perak untuk mengurangi
pertama terdiri dari empat taraf yaitu N0 = tumbuhnya gulma.
0% (tanpa pupuk NPK), N1 = 50% (25 g/m2), Bibit ditanam dengan cara
N2 = 100% (50 g/m2), dan N3 = 150% (75 menancapkan satu siung bawang merah ke
g/m2). Faktor kedua terdiri dari dua taraf tanah hingga setengah bagian umbi masuk
yaitu H1 = Pupuk Grikulan plus dan H2 = ke dalam tanah. Umbi ditanam sesuai
EM4. Grikulan plus mengandung sejumlah dengan ukuran umbi, umbi yang berukuran
bakteri yaitu Azotobacter sp., Azospirillum besar pada kelompok 1, berukuran sedang
sp., Pseudomonas sp., dan Bacillus sp., EM4 umbi berukuran sedang pada kelompok 2,
mengandung mikroorganisme fermentasi dan umbi berukuran kecil pada kelompok 3.
dan sintetik yang terdiri dari bakteri asam Pengambilan sampel tanaman bawang
laktat (Lactobacillus sp.), bakteri merah dilakukan dengan sistem pengacakan.
fotosintetik (Rhodopseudomons sp.), jamur Masing-masing petak terdiri dari 48 tanaman
fermentasi (Saccharomyces sp.), dan dan 6 tanaman sebagai sampel, sehingga
Actinomycete. total sampel pada ketiga ulangan yaitu 144
Terdapat 8 kombinasi perlakuan yang tanaman. Pemeliharaan rutin yang dilakukan
diulang sebanyak 3 kali sehingga diperoleh meliputi kegiatan penyiraman yaitu dengan
24 satuan percobaan. Terdapat 48 tanaman menggunakan gembor atau dengan cara
dalam satu satuan percobaan dan 6 tanaman pemberian air hingga setengah bagian
dipilih secara acak sebagai tanaman sampel. bedengan terisi air yaitu menggunakan
Homogenitas ragam data yang diperoleh sistem “leb”.
diuji menggunakan Uji Barlett, sedangkan Umbi bawang merah dipanen setelah
Uji Additivitas dilakukan dengan Uji Tukey. sebagian daun tanaman mulai rebah 60%-
Jika data dinyatakan homogen dan bersifat 90% yaitu pada umur 65 hari setelah tanam.
menambah maka data dianalisis dengan Panen dilakukan dengan cara mencabut
analisis ragam dan dilakukan pengujian seluruh bagian tanaman dengan hati-hati
perbedaan nilai tengah dengan Uji Beda agar umbi tidak rusak maupun tertinggal.
Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 5%. Umbi yang telah dipanen kemudian
dibersihkan, diikat, dan dikeringkan.
Pelaksanaan Penelitian Peubah yang diamati meliputi tinggi
Penyiapan lahan diawali dengan tanaman, jumlah daun, bobot umbi segar per
membersihkan gulma dan sisa tanaman yang tanaman, bobot umbi kering angin per
ditanami sebelumnya. Selanjutnya tanaman, dan bobot umbi kering angin per
dilakukan pengolahan tanah. Pengolahan m2 . Tinggi tanaman diukur dari permukaan
tanah dilakukan secara mekanik tanah hingga ujung daun terpanjang.
menggunakan cangkul. Tanah dibentuk Pengukuran tinggi tanaman dan jumlah daun
bedengan berukuran 1 × 12 m dengan tinggi dilakukan pada saat tanaman berumur 1 mst
25 cm sebanyak 3 bedengan. Satu bedengan sampai 7 mst. Bobot umbi segar diperoleh
terdapat 8 satuan percobaan yang ditentukan pada saat panen dengan cara menimbang
menggunakan sistem pengacakan. Setiap umbi setelah panen agar umbi masih dalam
petak satuan percobaan berukuran 1 x 2 m. keadaan segar. Umbi yang ditimbang
Selanjutnya masing-masing bedengan dibersihkan dari akar, daun, dan tanah yang
tersebut diberikan kapur dolomit sebanyak melekat pada umbi. Bobot kering angin
10 kg dan pupuk kandang kambing sebanyak umbi diperoleh dari penimbangan umbi
112
Hendarto et al: Pengaruh Dosis Pupuk NPK dan Jenis Pupuk Hayati …
Jurnal Agrotropika Vol. 20 No. 2, 2021: 110-119
setelah dikeringanginkan selama satu pupuk hayati tidak berpengaruh nyata pada
minggu. tinggi tanaman 6 mst. Perlakuan N3 yaitu
NPK dengan dosis 75 g/m2 menghasilkan
Aplikasi Perlakuan tinggi tanaman tertinggi yaitu 38,48 cm
Aplikasi pupuk NPK Mutiara dibandingkan dengan perlakuan lainnya
dilakukan sebanyak tiga kali yaitu pada 1 (Tabel 3). Perlakuan tanpa menggunakan
minggu setelah tanam (mst), 3 mst, dan 5 pupuk NPK menghasilkan tinggi tanaman
mst. Aplikasi pupuk majemuk NPK paling rendah yaitu 30,62 cm namun tidak
diberikan dengan dosis yaitu N0 tanpa pupuk berbeda nyata dengan perlakuan N1 (NPK 25
NPK, N1 sebanyak 25 g/m2, N2 sebanyak 50 g/m2), dan N2 (NPK 50 g/m2).
g/m2, dan N3 sebanyak 75 g/ m2 (Tabel 1).
Pupuk NPK ditaburkan ke permukaan tanah Tabel 2. Rekapitulasi pengaruh dosis pupuk
di sekililing tanaman. Aplikasi pupuk hayati NPK, jenis pupuk hayati, dan
yaitu pupuk Grikulan plus dan EM4 interaksinya pada variabel
pengamatan
diberikan pada tanah dengan konsentrasi 20
ml/l per m2. Aplikasi pupuk hayati Grikulan
plus dan EM4 dilakukan sebanyak tiga kali Perlakuan
Variabel Jenis
yaitu 1 mst, 3 mst, dan 5 mst dengan cara Dosis Interaksi
Pengamatan Pupuk
menyiramkan larutan pupuk hayati ke NPK
Hayati
seluruh permukaan tanah di sekililing
Tinggi Tanaman
tanaman. Larutan pupuk hayati diberikan ** tn tn
(cm)
sebanyak 41,7 ml/tanaman. Jumlah Daun ** tn tn
Bobot Umbi
Tabel 1. Takaran pemberian dosis pupuk NPK ** ** *
Segar (g)
pada setiap perlakuan
Bobot Umbi
** ** *
Kering Angin (g)
Dosis NPK Umur Tanaman Bobot Umbi
No
(g/ m2) 1 mst 3 mst 5 mst Kering Angin per ** ** *
1. 0 (N0) 0 0 0 m2 (g/m2)
2. 25 (N1) 10 10 5
3. 50 (N2) 20 20 10 Keterangan:
4. 75 (N3) 30 30 15 tn = tidak berbeda nyata
* = berbeda nyata pada α 5%
** = berbeda nyata pada α 1%
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tabel 3. Pengaruh pemberian dosis pupuk NPK
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tinggi tanaman bawang merah
dosis pupuk NPK, jenis pupuk hayati, dan
interaksi dosis pupuk NPK dengan jenis Tinggi Tanaman
Dosis NPK
Minggu ke-6
pupuk hayati berpengaruh nyata terhadap
0 (N0) 30,62 c
beberapa variabel pengamatan. Hasil 25 (N1) 33,34 bc
rekapitulasi analisis ragam pada variabel 50 (N2) 35,45 b
pengamatan disajikan pada Tabel 2. 75 (N3) 38,48 a
BNT 5% 2,91
Tinggi Tanaman
Perlakuan berbagai dosis pupuk NPK Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang
berpengaruh nyata pada tinggi tanaman 6 sama tidak berbeda nyata pada
mst. Namun perlakuan jenis pupuk hayati taraf 5%
dan interaksi pupuk NPK dengan jenis
113
Hendarto et al: Pengaruh Dosis Pupuk NPK dan Jenis Pupuk Hayati …
Jurnal Agrotropika Vol. 20 No. 2, 2021: 110-119
114
Hendarto et al: Pengaruh Dosis Pupuk NPK dan Jenis Pupuk Hayati …
Jurnal Agrotropika Vol. 20 No. 2, 2021: 110-119
Grikulan plus (H1) menghasilkan bobot perlakuan pupuk hayati EM4 (H2). Namun,
umbi kering angin per tanaman lebih berat pada perlakuan NPK dosis 25 g/m2 (N0) dan
yaitu 59,11 g dibandingkan dengan tanpa pupuk NPK dengan aplikasi pupuk
perlakuan aplikasi pupuk hayati EM4 (H2) hayati Grikulan plus (H1) dan EM4 (H2)
yaitu 40,50 g per tanaman. tidak berbeda nyata. Perlakuan pemberian
Pada perlakuan pupuk hayati EM4, pupuk NPK dengan dosis 75 g/m2 (N3)
perlakuan NPK 75 g/m2 (N3) menghasilkan menghasilkan bobot umbi per m2 lebih berat
bobot umbi kering angin per tanaman lebih dibandingkan dengan perlakuan lainnya.
tinggi dibandingkan dengan perlakuan Perlakuan tanpa pupuk NPK menghasilkan
lainnya. Pada perlakuan pupuk hayati bobot umbi per m2 lebih ringan
Grikulan plus, perlakuan N3 menghasilkan dibandingkan dengan perlakuan lainnya.
bobot umbi kering angin per tanaman lebih Namun perlakuan N2 (NPK 50 g/m2) dan N1
tinggi dibandingkan dengan perlakuan N0 (NPK 25 g/m2) pada aplikasi pupuk hayati
dan N1 namun tidak berbeda nyata dengan EM4 menghasilkan bobot umbi per m2 yang
perlakuan N2 . tidak berbeda nyata. Pada perlakuan pupuk
hayati EM4, perlakuan NPK 75 g/m2 (N3)
Tabel 6. Pengaruh pemberian dosis pupuk menghasilkan bobot umbi kering angin per
NPK dan jenis pupuk hayati m2 lebih tinggi dibandingkan dengan
terhadap bobot umbi kering angin perlakuan lainnya. Pada perlakuan pupuk
per tanaman (g) hayati Grikulan plus, perlakuan N3
menghasilkan bobot umbi kering angina per
Jenis Pupuk Hayati m2 tertinggi dibandingkan dengan perlakuan
Dosis NPK Grikulan lainnya.
EM4 (H2)
plus (H1)
0 (N0) 37,56 A 32,78 A Tabel 7. Pengaruh dosis pupuk NPK dan
c c jenis pupuk hayati terhadap bobot
46,94 A 41,56 A umbi kering angin per m2 (g/m2)
25 (N1)
b b
59,11 A 40,50 B Jenis Pupuk Hayati
50 (N2)
a b Dosis NPK Grikulan
EM4 (H2)
60,22 A 54,22 A plus (H1)
75 (N3)
a a 0 (N0) 901,40 A 786,67 A
BNT 7,62 d c
1126,67 A 997,33 A
25 (N1)
Keterangan: Angka sebaris pada yang diikuti c b
huruf besar yang sama dan angka sekolom 1418,67 A 972,00 B
50 (N2)
yang diikuti huruf kecil yang sama b b
menunjukkan tidak berbeda nyata pada taraf 1674,33 A 1301,33 B
75 (N3)
5%. a a
BNT 167,73
Bobot Umbi Kering Angin per m2
Bobot umbi kering angin bawang Keterangan: Angka sebaris pada yang diikuti
merah dipengaruhi oleh interaksi antara huruf besar yang sama dan angka sekolom
aplikasi pupuk NPK dan pupuk hayati. yang diikuti huruf kecil yang sama
Berdasarkan hasil uji lanjut (Tabel 7), menunjukkan tidak berbeda nyata pada taraf
perlakuan pupuk hayati Grikulan plus (H1) 5%.
pada pupuk NPK dengan dosis 50 g/m2 (N2),
dan dosis 75 g/m2 (N3) menghasilkan bobot
umbi yang lebih berat dibandingkan dengan
115
Hendarto et al: Pengaruh Dosis Pupuk NPK dan Jenis Pupuk Hayati …
Jurnal Agrotropika Vol. 20 No. 2, 2021: 110-119
116
Hendarto et al: Pengaruh Dosis Pupuk NPK dan Jenis Pupuk Hayati …
Jurnal Agrotropika Vol. 20 No. 2, 2021: 110-119
117
Hendarto et al: Pengaruh Dosis Pupuk NPK dan Jenis Pupuk Hayati …
Jurnal Agrotropika Vol. 20 No. 2, 2021: 110-119
tersebut telah mencapai potensi Badan Pusat Statistik. 2017. Statistik Tanaman
produktivitas tanaman bawang merah Sayuran dan Buah-buahan Semusim.
varietas Bima Brebes yaitu 9,9 ton/ha dan [Link] Diakses pada 15
telah mencapai potensi produktivitas Agustus 2020.
bawang merah Provinsi Lampung yaitu 8,03 Bassiony, A.M.2006. Effect of Potassium
ton/ha. Hal tersebut menunjukkan bahwa Fertilization on Growth, Yield, and
pemberian pupuk NPK dengan pupuk hayati Quality of Onion Plants. J. Appl. Scie.
dapat mengefisiensikan penggunaan pupuk Res. 2(10): 780-785.
NPK dalam pembentukkan dan Dermiyati. 2015. Sistem Pertanian Organik
perkembangan umbi. Pupuk hayati juga Berkelanjutan. Penerbit Plantaxia.
berperan dalam memperbaiki kesuburan Yogyakarta. 121 hlm.
tanah sehingga perakaran tanaman dapat Dianita, R dan Abdullah. 2011. Effect of
dengan baik menyerap unsur hara di dalam Nitrogen Fertilizer on Growth
tanah. Dengan demikian pertumbuhan dan Characteristics and Productivity of
produksi tanaman bawang merah semakin Creeping Forage Plants for Tree Pasture
meningkat. Integreted System. Jurnal of Agricultural
Science and Technology. 3(1): 1118-1121.
KESIMPULAN Djuarnani, N., Kristian., dan S.S. Budi. 2005.
Cara Cepat Membuat Kompos. Agro
Dari hasil penelitian ini dapat Media Pustaka. Depok. 74 hlm.
disimpulkan bahwa:
Eviati dan Sulaiman. 2009. Analisis Kimia
1. Pemberian pupuk NPK dosis 75g/m2 Tanah, Tanaman, Air, dan Pupuk. Balai
memberikan hasil terbaik pada Penelitian Tanah. Jawa Barat. 143 hlm.
pertumbuhan dan perkembangan
tanaman yaitu meliputi jumlah daun, Firmansyah, I., L. Khaririyatun., dan Yufdy.
2015. Pertumbuhan dan Hasil Bawang
tinggi tanaman, bobot umbi segar per
Merah dengan Aplikasi Pupuk Organik
tanaman, bobot umbi kering angin per dan Pupuk Hayati pada Tanah Alluvial. J.
tanaman, dan bobot umbi kering angin Hort. 25 (2):133-141.
per m2;
2. Pemberian pupuk hayati Grikulan plus Fitria, E.L., W.S.D. Yamika., dan M. Santosa.
2017. Pengaruh Biourin, EM4 dan Pupuk
memberikan hasil lebih baik pada
terhadap Pertumbuhan dan Hasil Bawang
seluruh parameter pertumbuhan Merah (Allium Ascalonicum L.) pada
tanaman bawang merah dibandingkan Kondisi Ternaungi. Jurnal Produksi
dengan penggunaan pupuk hayati EM4; Tanaman. 5 (3): 475-483.
3. Pengaruh pupuk NPK bergantung pada
Gunarto, L. 2015. Bio Max Grow. Kementerian
jenis pupuk hayati yang digunakan,
Pertanian Republik Indonesia. Jakarta.
dosis pupuk NPK 75 g/m2 dan pupuk
hayati Grikulan plus menghasilkan Gunawan, D. 2010. Budidaya Bawang Merah.
produksi yang lebih tinggi yaitu bobot Agritek. Jakarta. [Link]
umbi kering angin per m2 mencapai [Link]. Diakses pada 14 Agustus
1674,33 g atau setara dengan 11,72 2020.
ton/ha. Hardjowigeno, S. 2003. Ilmu Tanah. Akademika
Pressindo. Bogor. Hlm 66-70.
DAFTAR PUSTAKA Hasibuan, B.E. 2004. Pupuk dan Pemupukan.
Universitas Sumatera Utara. Medan.
Badan Pusat Statistik. 2016. Produksi Bawang Jurnal Online Agroekoteknologi. 3(3) :
Merah Provinsi Tahun 2011-2015. 1219 – 1225. Diakses pada 16 Juni 2020.
[Link] Diakses pada
15 Agustus 2020.
118
Hendarto et al: Pengaruh Dosis Pupuk NPK dan Jenis Pupuk Hayati …
Jurnal Agrotropika Vol. 20 No. 2, 2021: 110-119
Hasibuan, B.E. 2006. Pupuk dan Pemupukan. Setiawati, M.R., E.T. Sofyan, dan Z. Mutaqin.
Universitas Sumatera Utara. Medan. 74 2016. Pengaruh Pupuk Hayati Padat
hlm. terhadap Serapan N dan P Tanaman,
Komponen Hasil dan Hasil Padi Sawah
Hidayat, A. dan R. Rosliani 1996. Pengaruh
(Oryza Sativa L.). Jurnal Agroekotek. 8
Pemupukan N, P, dan K pada
(2): 120-130.
Pertumbuhan dan Produksi Bawang
Merah Kultivar Sumenep. J. Hort. Siagian, T.V., F. Hidayat, dan S.Y. Tyasmoro.
5(5):39-43. 2019. Pengaruh Pemberian Dosis Pupuk
NPK dan Hayati terhadap Pertumbuhan
Husna. 2013. Pemanfaatan Pupuk Hayati
dan Hasil Tanaman Bawang Merah
(Pseudomonas flourescens) untuk
(Allium ascalonicum L.). Jurnal Produksi
Meningkatkan Efisiensi Pemupukan pada
Tanaman. 7 (11): 2151-2160.
Tanaman Tomat. Skripsi. Fakultas
Pertanian Universitas Lampung. Simanungkalit, R.D.M., Saraswati R., Hastuti
R.D., dan Husen E. 2006. Pupuk Organik
Isnaini, M. 2006. Pertanian Organik. Penerbit
dan Pupuk Hayati. Balai Besar Penelitian
Kreasi Wacana. Yogyakarta.
dan Pengembangan Sumberdaya Lahan
Marlina, N., N. Amir., dan B. Palmasari. Pertanian. Jawa Barat. 113 hlm.
Pemanfaatan Berbagai Jenis Pupuk
Sumarni, N. dan R. Rosliani. 2002. Pengaruh
Organik Hayati terhadap Produksi
Kerapatan Tanaman dan Konsentrasi
Bawang Merah (Allium ascalonicum L.)
Larutan NPK 15-15-15 terhadap Produksi
di Tanah Pasang Surut Tipe Luapan C
Umbi Bawang Merah Mini dalam Kultur
Asal Banyuurip. Jurnal Lahan
Agregat Hidroponik. J. Hort. 12(1):11-16.
Suboptimal. 7 (1): 74-79.
Sumarni, N. dan Hidayat. 2005. Budidaya
Musnamar. 2003. Pupuk Organik : Cair dan
Bawang Merah. Balai Penelitian Tanaman
Padat, Pembuatan, Aplikasi. Penebar
Sayuran. Jakarta. 31 hlm.
Swadaya. Jakarta.
Sumarni, N., R. Rosliani, dan R.S. Basuki. 2012.
Napitupulu, D. dan L. Winarto. 2010. Pengaruh
Respons Pertumbuhan, Hasil Umbi, dan
Pemberian Pupuk N dan K terhadap
Serapan Hara NPK Tanaman Bawang
Pertumbuhan dan Produksi Bawang
Merah terhadap Berbagai Dosis
Merah. J. Hort. 20(1): 27-35.
Pemupukan NPK pada Tanah Alluvial. J.
Rana, R., M.R.. Setiawati, dan Suriadikusumah. Hort. 22(4): 366-375.
2018. Pengaruh Pupuk Hayati dan
Sumiati, E. dan O. S. Gunawan. 2007. Aplikasi
Anorganik terhadap Populasi Bakteri
Pupuk Hayati Mikoriza untuk
Pelarut Fosfat, Kandungan Fosfat (P), dan
Meningkatkan Efisiensi Serapan Unsur
Hasil Tomat Hidroponik. Jurnal Biodjati.
Hara NPK serta Pengaruhnya terhadap
3(1): 15-22.
Hasil dan Kualitas Umbi Bawang Merah.
Rosliani, R. dan Hilman. 2002. Pengaruh Pupuk J. Hort. 17(1): 34-42.
Urea Hayati dan Pupuk Organik
Penambat Nitrogen terhadap
Pertumbuhan dan Hasil Bawang Merah.
J. Hort. 12(1): 17-27.
119