BAB II
KAJIAN TEORITIS DAN HIPOTESIS
2.1. Pemahaman Konsep
2.1.1. Definisi Pemahaman Konsep
Pemahaman konsep adalah kemampuan seseorang dalam menguasai suatu
ide atau gagasan yang bersifat abstrak melalui proses berpikir yang mendalam dan
terarah. Menurut Indriani dan Lyesmaya (2020), pemahaman konsep adalah
kemampuan peserta didik dalam mengaitkan pengetahuan baru dengan konsep
yang telah dimiliki sebelumnya sehingga dapat digunakan untuk menyelesaikan
permasalahan. Dalam konteks pembelajaran, pemahaman konsep mencerminkan
sejauh mana siswa mampu mengidentifikasi, menghubungkan, dan menerapkan
pengetahuan terhadap situasi yang berbeda.
Siti Aisyah (2023) menjelaskan bahwa pemahaman konsep tidak hanya
berkaitan dengan kemampuan mengingat materi, tetapi juga bagaimana siswa
mampu menafsirkan makna dari pembelajaran yang diterimanya. Pemahaman
konsep terjadi ketika siswa mampu menjelaskan kembali materi dengan bahasa
sendiri, memberikan contoh, serta menggunakan pengetahuan tersebut dalam
situasi baru. Dengan demikian, pemahaman konsep merupakan indikator penting
dari keberhasilan proses belajar.
Berdasarkan berbagai pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa
pemahaman konsep adalah kemampuan siswa dalam mengaitkan, menafsirkan,
dan menerapkan suatu gagasan atau pengetahuan secara bermakna. Pemahaman
ini tidak hanya sebatas pada penguasaan hafalan, melainkan menunjukkan tingkat
kemampuan berpikir yang lebih tinggi, yaitu memahami makna, hubungan, dan
penerapan konsep dalam berbagai konteks kehidupan dan pembelajaran.
2.1.2. Indikator Pemahaman Konsep
Pemahaman konsep tidak hanya ditunjukkan melalui kemampuan
mengingat suatu materi, tetapi juga terlihat dari sejauh mana siswa dapat
menjelaskan, mengaplikasikan, dan mengaitkan konsep dalam berbagai konteks
pembelajaran. Menurut Asiah dkk. 2023), indikator pemahaman konsep
mencakup: (1) kemampuan siswa dalam menyatakan ulang suatu konsep dengan
kata-katanya sendiri, (2) mengklasifikasikan objek sesuai karakteristik tertentu,
(3) memberikan contoh dan bukan contoh dari suatu konsep, serta (4)
mengaplikasikan konsep tersebut dalam pemecahan masalah.
Indriani & Lyesmaya (2020) menambahkan bahwa indikator pemahaman
konsep dapat diidentifikasi melalui beberapa aspek, yaitu: (1) kemampuan
menyebutkan kembali konsep dengan benar, (2) memahami hubungan antar
konsep, (3) menerapkan konsep dalam situasi baru, dan (4) menggunakan konsep
tersebut dalam membuat generalisasi. Aspek-aspek ini menggambarkan bahwa
pemahaman konsep melibatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi, bukan sekadar
reproduksi informasi.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa indikator
pemahaman konsep dalam penelitian ini (1) kemampuan menyatakan kembali, (2)
mengklasifikasikan, (3) memberi contoh, (4) mengaplikasikan, serta (5)
mengaitkan konsep dengan situasi baru.
2.2. Model Pembelajaran PBL
2.2.1. Definisi Pembelajaran PBL
Model Problem Based Learning (PBL) merupakan salah satu model
pembelajaran inovatif yang menekankan pada kemampuan berpikir kritis melalui
pemecahan masalah kontekstual. Menurut Auralia & Intani, (2025), PBL adalah
model pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, di mana proses belajar
dimulai dari sebuah permasalahan nyata yang relevan dengan kehidupan sehari-
hari. Melalui pendekatan ini, siswa diarahkan untuk mencari solusi secara mandiri
maupun kelompok sehingga terjadi proses konstruksi pengetahuan yang
bermakna.
Nababan dkk. (2023) menjelaskan bahwa model PBL merupakan strategi
pembelajaran yang menempatkan siswa sebagai subjek aktif dalam menemukan
pengetahuan melalui kegiatan penyelidikan. Guru berperan sebagai fasilitator
yang memandu proses berpikir siswa dalam menganalisis, menafsirkan, dan
menyimpulkan solusi atas permasalahan yang diberikan. Model ini sangat sesuai
diterapkan dalam pembelajaran tematik di sekolah dasar karena mampu
menumbuhkan kemampuan berpikir kritis, kolaboratif, dan reflektif sejak dini.
Nugraha dkk. (2023) menambahkan bahwa pembelajaran berbasis masalah
membantu meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa, sebab kegiatan
pembelajaran berpusat pada proses berpikir untuk menemukan jawaban, bukan
sekadar menerima informasi. Dengan demikian, PBL menciptakan suasana belajar
yang lebih bermakna, menantang, dan mendorong siswa untuk berpartisipasi aktif.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran
PBL adalah pendekatan pembelajaran yang menekankan pada keterlibatan aktif
siswa dalam memecahkan masalah kontekstual untuk membangun pemahaman
konsep secara mandiri dan bermakna. Melalui PBL, siswa tidak hanya
memperoleh pengetahuan, tetapi juga mengembangkan keterampilan berpikir
kritis, kerja sama, dan kemampuan menerapkan konsep dalam kehidupan sehari-
hari.
2.2.2. Langkah-Langkah Model PBL
Model pembelajaran PBL memiliki langkah-langkah sistematis yang
dirancang untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir kritis
melalui kegiatan pemecahan masalah. Menurut Novelni & Sukma, (2021),
langkah-langkah model PBL dalam pembelajaran tematik di sekolah dasar
meliputi: (1) orientasi peserta didik terhadap masalah, (2) mengorganisasi siswa
untuk belajar, (3) membimbing penyelidikan individu maupun kelompok, (4)
mengembangkan dan menyajikan hasil karya, serta (5) menganalisis dan
mengevaluasi proses pemecahan masalah. Setiap tahap menuntut keterlibatan
aktif siswa dalam menemukan solusi melalui kegiatan eksploratif dan reflektif.
Darwati dan Purana (2021) juga menjelaskan tahapan serupa, namun dengan
penekanan pada pengembangan cara berpikir kritis siswa. Langkah-langkah PBL
menurut mereka terdiri atas: (1) memberikan orientasi masalah kontekstual
kepada siswa, (2) mengorganisasikan kegiatan belajar berbasis kelompok, (3)
membantu siswa dalam mengumpulkan dan menganalisis data, (4) memfasilitasi
siswa untuk merumuskan solusi, dan (5) melakukan refleksi terhadap proses dan
hasil pembelajaran. Melalui tahapan ini, siswa didorong untuk berpikir logis dan
sistematis dalam menemukan penyelesaian masalah yang diberikan.
Berdasarkan berbagai pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa langkah-
langkah model PBL dalam penelitian ini meliputi: (1) orientasi terhadap masalah,
(2) pengorganisasian kegiatan belajar, (3) penyelidikan atau eksplorasi informasi,
(4) pengembangan dan presentasi hasil karya, serta (5) analisis dan evaluasi
proses belajar.
2.3. Microsoft Office PowerPoint
2.3.1. Pengertian PowerPoint
PowerPoint adalah program aplikasi dari Microsoft yang berfungsi untuk
membuat presentasi dalam bentuk slide. Aplikasi ini memungkinkan pengguna
untuk menyajikan informasi secara visual dengan menggabungkan teks, gambar,
grafik, audio, dan video dalam sebuah presentasi multimedia yang menarik
(Batubara et al., 2023).
2.3.2. Cara Mengembangkan Produk Microsoft Office PowerPoint
Ketika mengembangkan produk PowerPoint, beberapa upaya dapat
dioptimalkan seperti tampilan dengan menggunakan fitur designer untuk saran
desain otomatis, menggunakan template yang menarik, dan mengatur kerangka
presentasi yang jelas. Kita juga bisa menambahkan elemen visual seperti gambar
dan video yang relevan, menggunakan animasi dan transisi, serta memastikan teks
mudah dibaca dengan ukuran huruf yang sesuai dan skema warna yang kontras
(Stavinibelia et al., 2024).
1. Optimalkan desain dan tampilan gunakan designer
Fitur ini otomatis menyarankan tata letak, skema warna, dan gambar yang
relevan. Pilih tab desain kemudian designer untuk mengaktifkannya. Bisa juga
memanfaatkan template dengan cara pilih template yang sudah ada untuk
mendapatkan desain yang profesional dan menghemat waktu.
2. Tambahkan elemen visual dan interaktif dengan menyertakan gambar dan
video
Gunakan gambar dan video berkualitas tinggi untuk mendukung konten dan
membuat presentasi lebih menarik. Bisa juga menggunakan grafik dan tabel
dengan cara menyajikan data kompleks dengan lebih praktis menggunakan grafik
atau tabel agar audiens lebih mudah memahaminya. Tambahkan animasi dan
transisi yang bijak untuk menambahkan efek visual yang menarik, tapi jangan
berlebihan agar tidak mengganggu (Hamidi & Sagala, 2021).
3. Susun konten dengan baik buat kerangka yang logis
Susun presentasi dengan kerangka yang jelas seperti judul, daftar isi,
pendahuluan, isi materi, dan penutup. Kemudian, sajikan poin-poin penting untuk
setiap slide ringkas dan fokus pada poin-poin utama. Jangan menyalin seluruh isi
buku ke dalam slide. Gunakan bahasa yang sederhana dengan bahasa yang mudah
dipahami oleh audiens (Gulo & Harefa, 2022).
2.3.3. Langkah-langkah Membuat Media Microsoft Office PowerPoint yang
Dikembangkan untuk Pembelajaran
1. Menentukan Kompetensi dan Materi Pembelajaran
Mengidentifikasi KD/TP, tujuan pembelajaran, serta materi inti yang akan
disajikan dalam media PowerPoint.
2. Menyusun Alur dan Kerangka Isi
Membuat outline yang berisi urutan slide, seperti: cover, tujuan pembelajaran,
apersepsi, inti materi, aktivitas PBL, latihan/kuis, dan penutup.
3. Mengumpulkan Bahan dan Sumber Belajar
Mengumpulkan gambar, video, ikon, ilustrasi, audio, ataupun bahan bacaan
yang relevan dan sesuai kebutuhan materi PPKn.
4. Mendesain Tampilan Slide
Menentukan template, warna, jenis huruf, dan tata letak. Menggunakan fitur
Designer untuk memperbaiki estetika slide secara otomatis.
5. Memasukkan Konten Utama Pembelajaran
Menuliskan poin-poin materi secara ringkas dan jelas, serta menambahkan
ilustrasi pendukung agar siswa mudah memahami konsep.
6. Menambahkan Elemen Interaktif dan Fitur PBL
Memasukkan tombol navigasi, hyperlink antar-slide, animasi sederhana, kuis
interaktif, dan skenario pemecahan masalah sesuai model PBL.
7. Menyisipkan Media Visual dan Audio
Menambahkan gambar, grafik, video, atau narasi suara untuk memperjelas
materi dan meningkatkan minat belajar siswa.
8. Melakukan Uji Coba dan Revisi
Menguji fungsi navigasi, kelayakan konten, serta tampilan visual. Melakukan
revisi sesuai masukan dari ahli materi, ahli media, atau guru.
9. Menyimpan dan Mengekspor Media Pembelajaran
Menyimpan file dalam format PPTX dan, bila diperlukan, mengekspor ke
format video atau PDF sebagai media alternatif.
2.4. Hipotesis
Hipotesis penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Terdapat peningkatan yang signifikan dalam pemahaman konsep PPKn siswa
kelas III SD setelah menggunakan media pembelajaran PowerPoint interaktif
menggunakan model Problem Based Learning.
2. Kemampuan pemahaman konsep siswa yang menggunakan media
PowerPoint interaktif menggunakan PBL lebih baik dibandingkan dengan
siswa yang belajar menggunakan pendekatan konvensional.