Perencanaan Tebal Perkerasan pada Ruas Jalan Tol Gempol –
Pasuruan STA 13+900 sampai dengan STA 20+500 dengan
Metode Manual Desain Perkerasan Jalan Tahun 2017 1
Pavement Design Thickness of Gempol – Pasuruan Toll Road STA 13+900 until STA
20+900 using Manual Desain Perkerasan 2017
Kamila Wahidaturrohmah a, Akhmad Hasanuddin a, Willy Kriswardhana a, 2
a
Program Studi Sarjana Teknik Sipil, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Jember,
Jl. Kalimantan 37 Jember
b
Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Jember, Jl. Kalimantan 37 Jember
ABSTRACT
Gempol – Pasuruan toll road from STA 13+900 until STA 20+500, is one of the packages of the Trans Java
Toll Road. This toll road was built to facilitate access to land transportation in the Java region. It has 6,6 km
with a width of 4,6 meters on the right side and 4,6 meters on the left side section, each consisting of 2 lanes
in 1 direction. The method used to design the pavement thickness is Manual Desain Perkerasan Jalan 2017.
From the calculation results, knowing that the traffic volume is 3.165.089 ESA4 so that two types of
pavement chosen, namely rigid pavement and flexible pavement. The calculation results of flexible pavement
construction obtained a 40 mm AC WC, 60 mm AC BC, 80 mm AC Base 80, 380 mm grade-A aggregate
foundation, 450 mm grade B aggregate foundation thickness, with a cost of discounted life cycle
[Link],70 rupiahs. For rigid, continuous without reinforced pavement with 290 mm plate thickness,
100 mm lean concrete, using tie bar (threaded) BJTU 24 length 70 cm D16 and dowel (plain) length 45 cm
D36, with discounted life cycle cost is [Link] rupiahs. So the type of pavement based on the lowest
discounted life cycle cost is using the rigid pavement.
Keywords: flexible pavement, rigid pavement, discounted life cycle cost
ABSTRAK
Jalan Tol Gempol – Pasuruan STA 13+900 s/d STA 20+500 merupakan salah satu paket Jalan Tol Trans
Jawa yang dibangun untuk mempermudah akses transportasi darat di wilayah Jawa, sepanjang 6,6 km dengan
lebar jalan 4,6 meter ruas kanan dan 4,6 meter ruas kiri masing-masing terdiri dari 2 lajur 1 arah. Metode
yang digunakan untuk perencanaan tebal perkerasan adalah Manual Desain Perkerasan Jalan Tahun 2017.
Dari hasil perhitungan diketahui volume lalu lintas 3.165.089 ESA4 sehingga dipilih dua jenis perkerasan
yaitu perkerasan kaku dan perkerasan lentur. Hasil perhitungan konstruksi perkerasan lentur diperoleh tebal
AC WC 40 mm, tebal AC BC 60 mm, tebal AC Base 80 mm, tebal Lapis Pondasi Agregat kelas A 380 mm,
dan tebal Lapis Pondasi Agregat kelas B 450 mm, dengan nilai discounted life cycle cost Rp.
[Link],70. Untuk perkerasan kaku bersambung tanpa tulangan dengan tebal pelat beton 290 mm,
tebal lean concrete 100 mm, menggunakan tie bar (ulir) BJTU 24 panjang 70 cm D16 dan dowel (polos)
panjang 45 cm D36, dengan nilai discounted life cycle cost adalah Rp. [Link]. Sehingga jenis
perkerasan berdasarkan nilai discounted life cycle cost terendah adalah menggunakan perkerasan kaku.
Kata kunci: perkerasan lentur, perkerasan kaku, discounted life cycle cost.
1
Info artikel: Received 16 Mei 2019, Received in revised from 21 Mei 2019, Accepted 12 Desember 2019.
2
Corresponding author: akhmadhasanuddin11@[Link] (A. Hasanuddin)
Wahidaturrohmah, Hasanuddin, Kriswardhana │ 93
Jurnal Rekayasa Sipil dan Lingkungan, ISSN 2548-9518
Vol. 3, No. 1, Tahun 2019, p.93-103
PENDAHULUAN
Jalan Tol merupakan salah satu infrastruktur yang dibangun untuk mewujudkan
pemerataan pembangunan dan keseimbangan dalam pengembangan wilayah sehingga
dapat meningkatkan efisiensi pelayanan jasa distribusi sebagai penunjang pertumbuhan
ekonomi (Pasal 2 UU No. 11, 2005). Di sisi lain, perencanaan konstruksi perkerasan
merupakan hal yang sangat penting untuk dipertimbangkan. Saat ini pembangunan struktur
jalan tol di Indonesia sudah banyak yang menggunakan jenis perkerasan kaku, mengingat
jenis perkerasan kaku lebih mampu mendukung beban kendaraan berat dan lebih tahan
terhadap genangan air dibandingkan jenis perkerasan lentur.
Pada tahun 2016 terjadi perencanaan ulang tebal perkerasan Jalan Tol Karanganyar – Solo
dengan metode Manual Desain Perkerasan Jalan Tahun 2013 dengan hasil perencanaan
tebal lapis pondasi bawah dan tebal perkerasan beton lebih tebal dibandingkan dengan
metode sebelumnya yaitu metode AASHTO 1993 (Putranto dan Ridwansyah, 2016).
Jalan Tol Gempol – Pasuruan Seksi 2 Rembang – Pasuruan meupakan salah satu paket
pembangunan jalan Trans Jawa yang dibangun untuk memudahkan akses transportasi darat
yang menghubungkan antar daerah di wilayah Jawa. Jalan Tol Gempol – Pasuruan Seksi 2
Rembang – Pasuruan dimulai dari STA 13+900 s/d STA 20+500. Pada penelitian ini
metode yang digunakan untuk merencanakan tebal perkerasan adalah Manual Desain
Perkerasan Jalan Tahun 2017, metode ini berbeda dengan metode sebelumnya yaitu
AASHTO 1993 dimana dalam metode ini perlu mempertimbangkan nilai discounted life
cycle cost terendah untuk memilih jenis perkerasan yang lebih efisien.
Data yang diperlukan untuk merencakan tebal perkerasan adalah data CBR tanah yang
diperoleh dari korelasi data sondir dari pihak pelaksana proyek, data lalu lintas harian rata-
rata yang diperoleh dari data jembatan timbang Rejoso dan jembatan timbang Sedarum.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode Manual Desain Perkerasan Jalan Tahun 2017 untuk
menghitung tebal perkerasan dengan umur rencana 40 tahun dengan panjang jalan 6,6 km
dan lebar jalan 11,7 meter. Penentuan tebal lapis perkerasan harus sesuai prosedur
perencanaan dan harus memenuhi beberapa parameter sesuai metode yang digunakan.
Sebelum perhitungan tebal plat jalan, perlu diketahui data LHR, nilai CBR, nilai VDF, dan
peta lokasi penelitian (Gambar 1).
Gambar 1 Peta lokasi penelitian
94 │ Perencanaan Tebal Perkerasan …
Jurnal Rekayasa Sipil dan Lingkungan, ISSN 2548-9518
Vol. 3, No. 1, Tahun 2019, p.93-103
Persyaratan Teknis Perhitungan Tebal Lapis Perkerasan Kaku
Prosedur perencanaan tebal lapis perkerasan kaku dengan metode Manual Desain
Perkerasan Jalan 2017 adalah sebagai berikut :
1. Penentuan umur rencana
2. Penentuan volume kelompok sumbu kendaraan niaga
3. Penentuan struktur pondasi jalan
4. Penentuan daya dukung efektif tanah dasar menggunakan solusi tanah normal atau
tanah lunak
5. Penentuan struktur lapisan perkerasan (Tabel 1. dan Tabel 2. – bagan 4 atau bagan
4A).
6. Penentuan jenis sambungan (umumnya berupa sambungan dengan dowel).
7. Penentuan jenis bahu jalan (biasanya menggunakan bahu beton
8. Penentuan detail desain yang meliputi dimensi plat beton, penulangan plat, posisi
dowel & tie bar, ketentuan sambungan dan sebagainya. (Pd T-14-2003)
9. Penentuan kebutuhan daya dukung tepi perkerasan
Tabel 1 Desain perkerasan kaku untuk jalan dengan beban lalu lintas berat (bagan desain 4)
(persyaratan desain perkerasan kaku dengan sambungan dan ruji (dowel) serta
bahu beton (tied shoulder), dengan atau tanpa tulangan distribusi retak)
Struktur Perkerasan R1 R2 R3 R4 R5
Kelompok sumbu kendaraan berat (overloaded) (10E6) <4,3 <8,6 <25,8 <43 <86
Dowel dan bahu beton Ya
Struktur pekerasan (mm)
Tebal pelat beton 265 275 285 295 305
Lapis Fondasi LMC 100
Lapis drainase (dapat mengalir dengan baik) 150
(Sumber : Manual Desain Perkerasan Jalan, 2017)
Tabel 2 Desain perkerasan kaku untuk jalan dengan beban lalu lintas rendah (bagan desain 4a)
Tanah Dasar
Tanah Lunak dengan
Dipadatkan Normal
Lapis Penopang
Bahu pelat beton (tied shoulder) Ya Tidak Ya Tidak
Tebal Pelat Beton
Akses terbatas hanya mobil penumpang dan motor 160 175 135 150
Dapat diakses oleh truk 180 200 160 175
Ya jika daya dukung
Tulangan Distribusi retak Ya
podasi tidak seragam
Dowel Tidak dibutuhkan
LMC Tidak dibutuhkan
Lapis Pondasi Kelas A (ukuran butir nominal
125 mm
maksimum 30 mm)
Jarak sambungan melintang 4 meter
(Sumber : Manual Desain Perkerasan Jalan, 2017)
Wahidaturrohmah, Hasanuddin, Kriswardhana │ 95
Jurnal Rekayasa Sipil dan Lingkungan, ISSN 2548-9518
Vol. 3, No. 1, Tahun 2019, p.93-103
Persyaratan Teknis Perhitungan Tebal Lapis Perkerasan Lentur
Prosedur perencanaan tebal lapis perkerasan lentur dengan metode Manual Desain
Perkerasan Jalan 2017 adalah sebagai berikut :
1. Penentuan umur rencana
2. Penentuan nilai ESA4 dan atau ESA5 sesuai umur rencana yang dipilih
3. Penentuan tipe perkerasan berdasarkan pertimbangan biaya (analisis discounted life
cycle cost)
4. Penentuan segmen tanah dasar dengan daya dukung yang seragam
5. Penentuan struktur pondasi perkerasan
6. Penentuan struktur perkerasan yang memenuhi syarat (Tabel 3. – bagan 3B)
7. Penentuan tebal perkerasan (Pt T-01-2002-B)
8. Penentuan kebutuhan daya dukung tepi perkerasan
9. Penentuan kebutuhan pelapisan (sealing) bahu jalan
Tabel 3 Desain perkerasan lentur - aspal dengan lapis pondasi berbutir (bagan desain 3B)
FFF1 FFF2 FFF3 FFF4 FFF5 FFF6 FFF7 FFF8 FFF9
Solusi yang dipilih Lihat catatan 2
Kumulatif beban sumbu
≥2 - >4 - >7 – >10 – >20 – >30 – >50 – >100
20 tahun pada lajur rencana <2
4 7 10 20 30 50 100 - 200
(106 ESA5)
AC WC 40 40 40 40 40 40 40 40 40
AC BC 60 60 60 60 60 60 60 60 60
AC base 0 70 80 105 145 160 180 210 245
LPA Kelas A 400 300 300 300 300 300 300 300 300
Catatan 1 2 3
Namun untuk umur rencana 40 tahun perlu dilakukan kontrol terhadap kekuatan relative
masing-masing lapisan perkerasan mengacu pada pedoman Pt T-01-2002-B bahwa nilai
ITP harus sama atau lebih besar dari nilai SN.
Persamaan yang digunakan untuk menghitung ITP sebagai berikut :
(1)
HASIL DAN PEMBAHASAN
Analisis Lalu Lintas Harian Rata-Rata
Laju pertumbuhan lalu lintas rata – rata di Pulau Jawa untuk tipe jalan arteri dan perkotaan
adalah sebesar 4,8%. (Manual Desain Perkerasan Jalan, 2017)
96 │ Perencanaan Tebal Perkerasan …
Jurnal Rekayasa Sipil dan Lingkungan, ISSN 2548-9518
Vol. 3, No. 1, Tahun 2019, p.93-103
Tabel 4 Hasil perhitungan beban lalu lintas pada lajur rencana
LHR Satu
ESA4
Tipe Kendaraan Arah VDF4
2018 '18 - '38
(1) (2) (3) (4)
1.2L 213 0,8 1.610.905
1.2H 50 0,9 425.415
1.22 6 7,6 431.087
1.2+2.2 2 36,9 697.681
CESAL4 3.165.089
Keterangan : (4) = (2) x (3) x 365 x R(20)
R(20) = 32,38
Dari data LHR pada Tabel 3 dicari nilai ESA4 pada tahun 2018 – 2038 diperoleh jumlah
ESA4 adalah sebesar 3,1,E+06. Sehingga apabila melihat dari tabel pemilihan struktur
perkerasan jalan pada buku pedoman Manual Desain Perkerasan Jalan 2017, maka terpilih
perkerasan kaku dengan lalu lintas rendah (daerah pedesaan dan perkotaan) dan perkerasan
lentur AC atau HRS tipis di atas lapis pondasi berbutir.
Nilai CBR
Perhitungan nilai CBR dicari dengan cara uji sondir pada 122 titik di kedalaman 1 meter.
Dari nilai qc (Kg/cm2) dan nilai fs (%) diperoleh nilai CBR tanah sebesar 1,2%. Karena
nilai CBR kurang dari 2% maka perlu digunakan CBK dengan tebal 100 mm.
Perencanaan tebal perkerasan lentur
Penentuan tebal perkerasan lentur diperoleh dari perhitungan nilai Equivalent Single Axle
Load (ESAL) pangkat 5 selama umur rencana 20 tahun dilihat pada tabel 4.
Tabel 5 Hasil perhitungan ESA5
LHR Satu
ESA5 ESA5
Tipe Kendaraan Arah VDF5
2018 18 - '38 18-'58
(1) (2) (3) (4) (5)
1.2L 213 0,8 1.610.905 5.725.203
1.2H 50 0,8 378.147 1.343.944
1.22 6 11,2 635.287 2.257.827
1.2+2.2 2 90,4 1.709.224 6.074.628
CESAL5 4.333.562 15.401.602
Keterangan : (4) = (2) x (3) x 365 x R(20)
(5) = (2) x (3) x 365 x R(40)
R(20) = 32,38
R(40) = 115,06
Wahidaturrohmah, Hasanuddin, Kriswardhana │ 97
Jurnal Rekayasa Sipil dan Lingkungan, ISSN 2548-9518
Vol. 3, No. 1, Tahun 2019, p.93-103
Dari tabel 4 diketahui CESAL5 = 15.401.602 sehingga untuk umur rencana 40 tahun dapat
ditentukan S0 = 0,4, IP0 = 4, IPt = 2,5, W18 = 15.401.602, MR = 3750, ∆PSI = 1,5, sehingga
diperoleh nilai SN = 6,5 inch (dicari menggunakan nomogram SN dalam pedoman Pt T-
01-2002-B). Sedangkan struktur perkerasan dipilih berdasarkan tabel 3 yaitu tebal AC WC
40 mm, AC BC 60 mm, AC Base 80 mm dan LPA 300 mm., kemudian dilakukan kontrol
terhadap kekuatan relatif masing-masing lapisan perkerasan dengan pendekatan
menggunakan persamaan 1 bahwa ITP harus sama atau lebih besar dari nilai SN. Untuk
menghitung ITP dicoba tebal D1 = 180 mm (7,08 inch) , D2 = 380 mm (14,96 inch), D3 =
450 mm (17,71 inch), a1 = 0,3, a2 = 0,14, dan a3 = 0,13 Sehingga nilai ITP dapat dicari
dengan persamaan 1.
ITP = a1D1 + a2D2 + a3D3
= (0,3x7,08) + (0,14x14,96) + (0,13x17,71)
= 6,52
Hasil dari perhitungan ITP = 6,52 lebih besar dari nilai SN sehingga digunakan tebal AC
WC 40 mm, AC BC 60 mm, AC Base 80 mm, lapis pondasi agregat kelas A 380 mm, dan
lapis pondasi agregat kelas B 450 mm.
Perencanaan Tebal Perkerasan Kaku
Analisa Heavy Vehicle Axle Group (HVAG )
Klasifikasi sebaran proporsi sumbu kendaraan niaga menggunakan data hasil survey
jembatan timbang Rejoso. Hasil perhitungan analisa HVAG dilihat pada tabel 5.
Tabel 6 Perhitungan jumlah sumbu kendaraan berdasarkan jenis kendaraan dan beban kendaraan
Konfigurasi Beban Sumbu Jumlah Jumlah Jumlah STRT STRG STdRG
Jenis (ton) Kendaraan Sumbu per Sumbu
Kendaraan (bh) Kendaraan Total BS JS BS JS BS JS
RD RB RGD RGB (bh) (bh) (ton) (bh) (ton) (bh) (ton) (bh)
1.2 L 2,81 5,45 - - 213 2 426 2,81 213 - - - -
- - 5,45 213 - -
1.2 H 5,13 9,96 - - 50 2 100 5,13 50 9,96 50 - -
1.22 6,06 18,19 - - 6 3 18 6,06 6 - - 18,19 6
1.2+2.2 4,6 7,14 6,88 6,88 2 4 8 4,6 2 - - 7,14 2
- - 6,88 2 - -
- - 6,88 2 - -
Total 552 18,6 271 29,17 267 25,33 8
Menghitung Jumlah Sumbu Kendaraan Niaga (JSKN)
Jumlah sumbu kendaraan niaga (JSKN) dihitung dengan persamaan sebagai berikut
JSKN = JSKNH x 365 x R x C (2)
= 552 x 365 x115,06 x 0,4
= 9.273.216
98 │ Perencanaan Tebal Perkerasan …
Jurnal Rekayasa Sipil dan Lingkungan, ISSN 2548-9518
Vol. 3, No. 1, Tahun 2019, p.93-103
Dari nilai JSKN 9,2 x 106 maka tebal perkerasan kaku direncanakan sesuai tabel 1
perkerasan R3 dengan kelompok sumbu kendaraan berat <25,8 x 10 6 yaitu perkerasan kaku
dengan menggunakan dowel dan bahu beton, tebal pelat beton 285 mm dan tebal lean
concrete 100 mm.
Menghitung repetisi sumbu
Repetisi sumbu dihitung sebelum melakukan analisa fatik dan erosi dengan mengacu pada
nilai JSKN. Hasil perhitungan dapat dilihat pada tabel 6.
Tabel 7 Hasil perhitungan repetisi sumbu
Beban Jumlah Proporsi Proporsi Lalu-Lintas Repetisi yang
Jenis Sumbu
Sumbu (ton) Sumbu (bh) Beban Sumbu Rencana Terjadi
STRT 2,81 213 0,79 0,50 9273216 3617573
5,13 50 0,18 0,50 9273216 849196
6,06 6 0,02 0,50 9273216 101903
4,6 2 0,01 0,50 9273216 33968
Jumlah 271 1
STRG 5,45 213 0,80 0,49 9273216 3617573
9,96 50 0,19 0,49 9273216 849196
6,88 2 0,01 0,49 9273216 33968
6,88 2 0,01 0,49 9273216 33968
Jumlah 267 1
STdRG 9273216 101903
18,19 6 0,75 0,01 9273216 33968
7,14 2 0,25 0,01
9273216 3617573
Jumlah 8 1 9273216 849196
Kumulatif 9239248
Analisa fatik dan erosi
Analisa fatik dan erosi dihitung untuk mengetahui apakah tebal perkerasan tersebut bisa
digunakan atau tidak dengan cara mencari nilai CBR tanah dasar efektif berdasarkan tebal
pondasi bawah yang direncanakan dan jumlah repetisi sumbu kendaraan niaga dapat dilihat
pada gambar 2 dan gambar 3.
Wahidaturrohmah, Hasanuddin, Kriswardhana │ 99
Jurnal Rekayasa Sipil dan Lingkungan, ISSN 2548-9518
Vol. 3, No. 1, Tahun 2019, p.93-103
Gambar 2 Nilai CBR tanah dasar
(Sumber : Pd T-14-2003)
Gambar 3 Nilai CBR tanah dasar efektif (Sumber : Pd T-14-2003)
Sehingga nilai tegangan ekivalen dan faktor erosi dapat dilihat pada tabel 7
Tabel 8 Interpolasi nilai tegangan ekivalen dan faktor erosi
CBR Tegangan Setara Faktor Erosi dengan Dowel
Tebal
Efektif
(mm) STRT STRG STdRG STRT STRG STdRG
(%)
290 15 0,5 0,82 0,73 1,33 1,92 2,1
290 17 0,496 0,816 0,726 1,326 1,92 2,092
290 20 0,49 0,81 0,72 1,32 1,92 2,08
100 │ Perencanaan Tebal Perkerasan …
Jurnal Rekayasa Sipil dan Lingkungan, ISSN 2548-9518
Vol. 3, No. 1, Tahun 2019, p.93-103
Kemudian hasil perhitungan analisa fatik dan erosi dapat dilihat pada tabel 8
Tabel 9 Hasil analisa fatik dan erosi
Beban Analisa Fatik Analisa Erosi
Beban Repetisi Faktor
Jenis Rencana
Sumbu yang Tegangan Repetisi Persen Repetisi Persen
Sumbu per Roda
(kN) Terjadi dan Erosi Ijin Rusak Ijin Rusak
(kN)
STRT 28,1 12,77 3617573 TE = 0,496 TT 0 TT 0
51,3 23,32 849196 FRT = 0,124 TT 0 TT 0
60,6 27,55 101903 FE = 1,326 TT 0 TT 0
46 20,91 33968 TT 0 TT 0
STRG 54,5 12,39 3617573 TE = 0,816 TT 0 TT 0
99,6 22,64 849196 FRT = 0,204 TT 0 TT 0
68,8 15,64 33968 FE = 1,92 TT 0 TT 0
88,8 20,18 33968 TT 0 TT 0
STdRG 181,9 20,67 101903 TE = 0,726 TT 0 TT 0
71,4 8,11 33968 FRT = 0,182 TT TT 0
FE = 2,09
0% < 0% <
Total Kerusakan
100% 100%
Faktor rasio tegangan dihitung dengan persamaan
FRT = (3)
= 0,124
Karena persen rusak fatik dan erosi <100% maka digunakan tebal pelat beton 290 mm,
dengan tie bar (ulir) D16 panjang 70 cm dan dowel (polos) D36 panjang 45 cm.
Biaya Life Cycle Cost Perkerasan Lentur dan Perkerasan Kaku
Biaya life cycle cost merupakan keseluruhan biaya konstruksi yang diperlukan selama
umur rencana. Total biaya konstruksi perkerasan lentur adalah Rp. [Link].
sedangkan total biaya konstruksi perkerasan kaku adalah Rp. [Link].
Biaya Discounted Life Cycle Cost Perkerasan Lentur
Biaya pemeliharaan rutin untuk perkerasan lentur diambil 2,2% dari biaya konstruksi
dilakukan setiap tahun Rp [Link], dan biaya berkala dilakukan overlay HRS tipis
setiap 3 tahun sekali Rp. [Link]. Sedangkan untuk pemeliharaan peningkatan
dilakukan rekonstruksi lapis AC WC, AC BC dan AC Base setiap 12 tahun sekali Rp.
[Link]. Untuk menghitung nilai persent worth digunakan suku bunga 6% dengan
persamaan 2 sebagai berikut
Wahidaturrohmah, Hasanuddin, Kriswardhana │ 101
Jurnal Rekayasa Sipil dan Lingkungan, ISSN 2548-9518
Vol. 3, No. 1, Tahun 2019, p.93-103
P = F[ ] (2)
= [Link] [ ]
= [Link]
Sehingga diperoleh nilai total discounted life cycle cost untuk perkerasan lentur Rp.
[Link],70.
Biaya Discounted Life Cycle Cost Perkerasan Kaku
Biaya pemeliharaan rutin untuk perkerasan kaku diambil 0,3% dari biaya konstruksi
dilakukan setiap tahun Rp 597.350.770, dan biaya berkala dilakukan setiap 20 tahun sekali
diambil 42% dari biaya konstruksi Rp. [Link]. Untuk menghitung nilai persent
worth digunakan suku bunga 6% dengan persamaan sebagai berikut
1. Menghitung uniform series present worth factor biaya pemeliharaan rutin dengan
rumus 3 berikut :
P = A[ ] (3)
= 597.350.770 [ ]
= [Link]
2. Menghitung present worth factor biaya pemeliharaan berkala dengan rumus 4 :
P = F[ ] (4)
= [Link][ ]
= [Link]
Sehingga diperoleh nilai discounted life cycle cost untuk perkerasan kaku Rp.
[Link].
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan perhitungan perencanaan tebal perkerasan dengan umur rencana 40 tahun,
perkerasan kaku direncanakan bersambung tanpa tulangan dengan tebal pelat beton 290
mm, tebal lapis lean concrete 100 mm, panjang tie bar (ulir BJTU 24) 700 mm diameter
16 mm, dan panjang dowel (polos) 450 mm diameter 36 mm dengan biaya konstruksi Rp.
[Link] dan tebal perkerasan lentur lentur lapis AC WC (Asphalt Concrete
Wearing Course) 40 mm, lapis AC BC (Asphalt Concrete Binder Course) 60 mm, lapis
AC Base (Asphalt Concrete Base) 80 mm, lapis pondasi agregat kelas A 380 mm, dan lapis
pondasi agregat kelas B 450 mm dengan biaya konstruksi Rp. [Link]. Kemudian
dari perhitungan discounted life cycle cost diperoleh biaya untuk perkerasan kaku Rp.
[Link], sedangkan biaya untuk perkerasan lentur Rp. [Link],70.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa jenis perkerasan kaku memiliki nilai discounted life
cycle cost lebih rendah dibandingkan perkerasan lentur.
102 │ Perencanaan Tebal Perkerasan …
Jurnal Rekayasa Sipil dan Lingkungan, ISSN 2548-9518
Vol. 3, No. 1, Tahun 2019, p.93-103
Saran
Saran yang dapat diberikan berdasarkan hasil perhitungan dan analisis dalam penelitian ini
adalah merencanakan jenis perkerasan kaku menerus dengan tulangan dan menghitung
rencana anggaran biaya menggunakan analisa harga satuan berdasarkan analisa harga
satuan pekerjaan yang telah diperbarui.
Selain itu, juga disarankan menghitung tarif kendaraan yang menggunakan Jalan Tol
Gempol – Pasuruan Seksi 2 Rembang – Pasuruan untuk menilai kelayakan investasi
pembangunan jalan tol tersebut..
DAFTAR PUSTAKA
Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah. (2002). Pedoman Perencanaan Tebal
Perkerasan Lentur. Pt T-01-2002-B
Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah. (2003). Perencanaan Tebal Perkerasan
Jalan Beton Semen. Pd T-14-2003.
Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Direktorat Jenderal Bina Marga.
(2017). Manual Desain Perkerasan Jalan. Nomor 04/SE/Db/2017 (Revisi Juni
2017).
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia. (2015). Tentang Jalan Tol. Nomor 15. Jakarta.
Putranto, Yonandika Pandu, dan A.M. Ridwansyah. (2016). “Perencanaan Tebal
Perkerasan Kaku (Rigid Pavement) pada Ruas Jalan Tol Karanganyar Solo”.
SKRIPSI. Malang : Fakultas Teknik Universitas Brawijaya.
Wahidaturrohmah, Hasanuddin, Kriswardhana │ 103
Jurnal Rekayasa Sipil dan Lingkungan, ISSN 2548-9518
Vol. 3, No. 1, Tahun 2019, p.93-103
This page is blank.
104 │ Perencanaan Tebal Perkerasan …