BAB II
KAJIAN TEORI
A. Model Pembelajaran Inkuiri
1. Pengertian Model Pembelajaran
Model pembelajaran merupakan suatu perencanaan atau pola
yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan
pembelajaran dikelas. Sebagaimana menurut Kardi dan Nur
menjelaskan bahwa model pembelajaran mengacu pada pendekatan
pembelajaran yang digunakan, termasuk didalamnya tujuan- tujuan
pengajaran, tahaptahap dalam kegiatan pembelajaran, lingkungan
pembelajaran dan pengelolaan pembelajaran.16 Model pembelajaran
ialah kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam
melakukan pembelajaran. Model pembelajaran yaitu kerangka
konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam
mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan
belajar.17
Pembelajaran menurut Corey adalah “suatu proses dimana
lingkungan seseorang secara disengaja dikelola untuk
memungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku tertentu dalam
kondisi-kondisi khusus atau menghasilkan respon terhadap situasi
tertentu, pembelajaran merupakan subset khusus dari pendidikan”.
Lingkungan belajar hendaknya dikelola dengan baik karena
pembelajaran memiliki peranan penting dalam pendidikan. Sejalan
dengan pendapat Sagala bahwa pembelajaran adalah membelajarkan
siswa menggunakan asas pendidikan maupun teori belajar
merupakan penentu utama keberhasilan pendidikan”.
16
Dini Rosdiani,Model Pembelajaran Langsung dan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan,
(Bandung: Alfabeta,2012), 77
17
Heri Rahyubi, Teori- teori Belajar dan Aplikasi Pembelajaran Motorik, (Bandung:
Husameda, 2012), 251
16
17
Selain itu konsep model pembalajaran menurut Trianto,
menyebutkan bahwa model pembelajaran adalah suatu perencanaan
atau pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan
pembelajaran di kelas atau pembelajaran tutorial. Model
pembelajaran mengacu pada pendekatan pembelajaran yang akan
digunakan, termasuk di dalamnya tujuan-tujuan pengajaran, tahap-
tahap dalam kegiatan pembelajaran, lingkungan pembelajaran, dan
pengelolaan kelas.18
Dari beberapa pengertian yang dikemukakan tersebut dapat
disimpulkan bahwa model pembelajaran adalah bentuk
pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang
disajikan secara khas oleh seorang guru di dalam kelas. Model
pembelajaran dapat dijadikan pola pilihan, artinya para guru boleh
memilih model pembelajaran yang efektif dan efisien untuk
mencapai tujuan dalam proses pembelajaran.
2. Metode Pembelajaran Inkuiri
Metode pembelajaran Inkuiri merupakan salah satu metode
yang dapat mendorong siswa untuk aktif dalam pembelajaran.
Kunandar menyatakan bahwa pembelajaran Inkuiri adalah kegiatan
pembelajaran dimana siswa didorong untuk belajar melalui
keterlibatan aktif mereka sendiri dengan konsep-konsep dan prinsip-
prinsip, dan guru mendorong siswa untuk memiliki pengalaman dan
melakukan percobaan yang memungkinkan siswa menemukan
prinsip-prinsip untuk diri mereka sendiri.19
Menurut Meja tentang pengertian metode pembelajaran
Inkuiri adalah model pembelajaran yang menekankan keterlibatan
siswa secara aktif serta merata dalam aktivitas pendidikan, dalam
model pembelajaran ini siswa pula dituntut untuk berpikir kritis,
18
Muhamad Afandi, Evi Chamalah, Oktarina Puspita Wardani, Model Dan Metode
Pembelajaran Di Sekolah, (Semarang : Sultan Agung Press, 2013), 16
19
Aris Shoimin, 68 Model Pembelajaran INOVATIF dalam Kurikulum 2013,
(Yogyakarta : Ar-Ruzz Media, 2014), 85-87.
18
melatih mental siswa, dan melatih serta mengasah perilaku percaya
diri peserta didik.
Berdasarkan pendapat ahli yang dikemukakan di atas, dapat
disimpulkan bahwa metode pembelajaran Inkuiri adalah rangkaian
kegiatan pembelajaran yang menekankan pada keaktifan siswa
untuk memiliki pengalaman dalam menekankan pada keaktifan
siswa untuk memiliki pengalaman belajar dalam menemukan
konsep-konsep materi berdasarkan masalah yang diajukan.20
Melalui pembelajaran Inkuiri ini guru memberi bimbingan dan
arahan kepada siswa sehingga siswa dapat melakukankegiatan
penyelidikan. Kegiatan ini menuntut siswa untuk memiliki keaktifan
yang sangat tinggi dalam pembelajaran.
3. Karakteristik Metode Inkuiri
Berikut ini akan menjelaskan karakteristik yang melekat pada
metode pembelajaran Inkuiri. Sebagaimana dipahami bahwa model
ini mengundang peserta didik untuk menggali pengetahuan dengan
cara yang penuh makna dan mendalam.
Dalam penerapan Inkuiri, proses pembelajaran berpusat pada
peserta didik yang dimaksud adalah aktivitas pembelajaran
sepenuhnya dilakukan oleh peserta didik.21 Artinya, aktivitas
pembelajaran sepenuhnya dilibatkan oleh peserta didik,
menempatkan mereka sebagai subjek yang aktif dalam memahami
materi pembelajaran. dalam konteks Inkuiri, peserta didik
diharapkan untuk mencari jawaban, mengeksplorasi konsep, dan
memecahkan masalah dengan memanfaatkan seluruh kemampuan
mereka secara maksimal. Dengan demikian, Inkuiri tidak hanya
mengajarkan konsep-konsep, tetapi juga mengembangkan
20
Nurdyansyah, erni fariyatul fahyuni, INOVASI Model Pembelajaran Sesuai Kurikulum
2013. (Sidoarjo: Nizamia Learning Center, 2016), 141-142
21
Sutiah. Pengembangan Model Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. (Sidoarjo :
Nizamia Learning Center, 2018), 164
19
keterampilan berpikir kritis peserta didik.
4. Langkah-langkah Model Pembelajaran Inkuiri
Langkah – langkah tersebut diperjelas oleh hamruni yang
mengelompokkan langkah – langkah pembelajaran Inkuiri sebagai
berikut :
a. Orientasi, yaitu langkah untuk membina suasana atau iklim
pembelajaran yang responsif ;
b. Merumuskan masalah, yaitu langkah membawa siswa pada
suatupersoalan yang mengandung teka teki ;
c. Mengajukan hipotesis, yaitu langkah memberikan jawaban
sementara dari suatu permasalahan yang sedang dikaji ;
d. Mengumpulkan data, yaitu aktivitas dalam mencari informasi
yangdibutuhkan untuk menguji hipotesis yang sudah diajukan
e. Menguji hipotesis, yaitu proses menentukan jawaban yang
dianggap diterima sesuai dengan data atau informasi yang
diperoleh berdasarkan pengumpulan data.
f. Merumuskan kesimpulan, yaitu proses mendeskripsikan temuan
yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis.22
Berdasarkan berbagai pendapat diatas, maka sintaks dalam
pembelajaran Inkuiri dalam penelitian ini dapat diadaptasikan dari
pendapat hamruni. Berikut adalah tabel langkah – langkah strategi
pembelajaran Inkuiri dalam penelitian ini :
Tabel 2.1 Langkah-Langkah Strategi Inkuiri
No Langkah - langkah Aktivitas Guru
1 Orientasi • Guru mengkondisikan siswa dan menyiapkan
(Pendahuluan) kebutuhan siswa dalam pembelajaran, seperti
alat- alat percobaan.
• Guru memberikan apersepsi untuk menarik
22
Hamruni, Strategi Pembelajaran, (Yogyakarta: Insan Madani, 2012), 5-9
20
perhatian siswa dan menjelaskan topik, tujuan
dan hasil pelajaran yang diharapkan.
• Guru menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan
oleh siswa.
2 Merumuskan • Guru merumuskan masalah sebelum
masalah /identifikasi pembelajaran dimulai berupa pertanyaan yang
masalah berhubungan dengan materi yang akan dipelajari.
3 Merumuskan • Guru mendorong siswa untuk membuat hipotesis
hipotesis dan dituliskan dibuku masingmasing untuk
diujikan melalui kegiatan pembelajaran yang
akan dilaksanakan.
4 Mengumpulkan • Guru membagikan lembar kerja siswa (LKS) dan
informasi/ menguji membimbing siswauntuk menguji hipotesis/
hipotesis mengumpulkan informasi- informasi melalui
percobaan yang akan dilakukan.
• Guru memberikan kesempatan kepada siswa
5 Mengolah data
untuk mengisi dan menjawab pertanyaan-
pertanyaan yang ada di LKS.
• Guru mendorong siswa untuk menyampaikan
hasil diskusi kelompok ke dalam diskusi kelas.
• Guru memberikan kesempatan untuk bertanya
jika siswa merasa kesulitan.
6 Menarik kesimpulan • Guru mengajak siswa untuk menyimpulkan
bersama- sama hasil kegiatan yang telah
dilakukan.
21
5. Kelebihan Metode Inkuiri
Kelebihan Dari metode Pembelajaran Inkuiri Dalam
Pembelajaran Ialah Sebagai Berikut :
a. Model pembelajaran Inkuiri meningkatkan potensi intelektual
siswa.
b. Ketergantungan siswa terhadap kepuasan ekstrensik bergeser
kearah kepuasan intrinsik.
c. Siswa memperoleh pengetahuan yang bersifat penyelidikan
karena terlibat langsung dalam penemuan.
d. Belajar Inkuiri bisa memperpanjang proses ingatan.
Pengetahuan yang diperoleh dari hasil pemikiran sendiri pun
lebih mudah diingat
e. Belajar dengan Inkuiri, siswa dapat memahami konsep-konsep
sains dan ide-ide dengan baik.
f. Pengajaran menjadi terpusat pada siswa.
g. Proses pembelajaran Inkuiri dapat membentuk dan
mengembangkan konsep diri siswa.
h. Siswa memiliki keyakinan atau harapan dapat menyelesaikan
tugasnya secara mandiri berdasarkan pengalaman
penemuannya.
i. Strategi pembelajaran Inkuiri bisa mengembangkan bakat.
j. Strategi pembelajaran Inkuiri dapat menghindarkan siswa dari
belajar dengan hafalan.
k. Model pembelajaran Inkuiri memberikan kesempatan kepada
siswauntuk mencerna dan mengatur informasi yang
22
didapatkan.23
6. Kekurangan Model Pembelajaran Inkuri
Selain memiliki kelebihan, model pembelajaran inkuri juga
memiliki kekurangan, yaitu:
a. Proses pembelajaran membutuhkan waktu yang lebih lama
b. Inkuiri sering bergantung pada kemampuan matematika siswa,
kemampuan bahasa siswa, ketrampilan belajar mandiri dan
selfmanagement.
c. Siswa yang aktif mungkin tetap tidak paham atau mengenali
konsep dasar, aturan dan prinsip, serta siswa sering kesulitan
untuk membuat pendapat, membuat hipotesis, membuat
rancangan percobaan dan menarik kesimpulan.24
B. Pengertian Daya Berfikir Kritis
1. Pengertian Berfikir Kritis
Dilihat dari segi level berpikir, berpikir kritis (Critical- Thinking)
dikategorikan sebagai level berpikir di atas berpikir literal, Nurhadi
menyatakan bahwa Critical Thinking adalah proses berpikir untuk
dapat menganalisis apa yang dimaksudkan dibalik informasi yang
tersurat misalnya untuk menarik kesimpulan atau menemukan
implikasi, mengevaluasi, dan memberikan penilaian terhadap masalah
yang dihadapi.25
konsep kemampuan berpikir kritis yang dikemukakan oleh Facione
sangat sesuai dengan karakteristik tingkat berpikir tinggi. Facione
membagi kemampuan berpikir kritis menjadi beberapa elemen yaitu
23
Adi Winanto, Darma Makahube, “Implementasi Strategi Pembelajaran Inkuiri Untuk
Meningkatkan Motivasi Dan Hasil Belajar Ipa Siswa Kelas 5 Sd Negeri Kutowinangun 11 KOTA
SALATIGA”.Vol. 6 No. 2, Mei 2016, hlm.124-125.
24
Nurdyansyah, [Link]., [Link], Eni Fariyatul Fahyuni. [Link].I, INOVASI MODEL
PEMBELAJARAN Sesuai Kurikulum 2013 .(Sidoarjo : Nizamia Learning Center,2016), hlm.148-
149
25
Kusneni hadidersono, Prosiding Bahasa dan Sastra, (Purwokerto: Pibsi xxxiv, 2012),
779
23
inferensi, penjelasan, evaluasi, peraturan diri, interpretasi serta analisis.
Pembagian enam elemen dalam berpikir kritis merupakan upaya untuk
memberikan pemahaman tingkat berpikir kritis kepada pembaca dan
juga memberikan sekat yang jelas antara kemampuan berpikir kritis
dengan kemampuan berpikir lainnya26.
Menurut Ennis critical thinking is reasonable and reflective thinking
focused on deciding what to believe or do, yang artinya berpikir kritis
adalah suatu proses berpikir reflektif yang berfokus pada memutuskan
apa yang diyakini atau dilakukan. Keterampilan berpikir kritis menurut
Redecker mencakup kemampuan mengakses, menganalisis,
mensintesis informasi yang dapat dibelajarkan, dilatihkan dan
dikuasai.27
Berdasarkan beberapa pendapat tersebut peneliti
dapatmenyimpulkan bahwa berpikir kritis adalah sebuah keterampilan
berpikir yang melibatkan proses kognitif dan mengajak siswa untuk
berpikir reflektif terhadap permasalahan, yang melibatkan kemampuan
untuk mengevaluasi secara sistematis.
2. Daya Berpikir Kritis
Berpikir kritis meliputi komponen keterampilan keterampilan
menganalisis argumen, membuat kesimpulan menggunakan penalaran
yang bersifat induktif atau deduktif, penilaian atau evaluasi, dan
membuat keputusan atau memecahkan masalah.28
Ryan berpendapat bawah berfikir kritis adalah mereview ide yang
dihasilkan, membuat keputusan sementara tentang langkah apa yang
terbaik dalam menyelesaikan masalah atau memilih hal yang dapat
dipercayai dan masuk akal kemudian mengevaluasi serta mengambil
solusi yang diyakini. Ciri yang lain dalam berpikir kritis adalah murid
26
Basindo : Jurnal et al., “Aspek Berpikir Kritis Dan Kreatif Dalam Buku Teks Karya
Mahasiswa,” [Link], 2020, [Link]
27
Linda Zakiah, Berpikir Kritis Dalam Konteks Pembelajaran, ( Bogor : Erzatama Karya
Abadi, 2019), 3
28
Linda Zakiah, 3
24
dapat mengambil solusi dan sikap terhadap suatu masalah dengan baik.
Murid tersebut akan berargumen, menilai dan mengevaluasi. Selain itu,
Pemahaman berpikir kritis merupakan berpikir reflektif yang berfokus
pada memutuskan apa yang harus dipercaya dan dilakukan.29
Lebih lengkapnya critical thinking adalah istilah umum yang
diberikan untuk berbagai keterampian kognitif dan intelektual
membutuhkan:
1) Mengidentifikasi, menganalisa, dan meng-evaluasi secara efektif
2) Menemukan dan mengatasi prasangka
3) Merumuskan dan menyajikan alasan-alasan yang meyakinkan
untuk mendukung kesimpulan
4) Membuat pilihan yang cerdas dan beralasan tentang apa yang
harus dipercaya dan yang harus dilakukan30
Berdasarkan penjelasan diatas, peneliti menyimpulkan bahwa
berpikir kritis adalah kemampuan siswa dalam menganalisis ide-ide
atau gagasan lalu memilih dan mengidentifikasi untuk menghasilkan
suatu keputusan. Berpikir kritis merupakan suatu kemampuan berpikir
untuk melatih seseorang dalam memahami dan menganalisis suatu
masalah sampai dengan memecahkan masalah tersebut dan menggali
informasi dari berbagai sumber. Berpikir kritis sangat penting dalam
pembelajaran.
C. Sejarah Kebudayaan Islam (SKI)
1. Pengertian SKI
Pendidikan Agama Islam disekolah meliputi beberapa aspek Al-
Quran Hadist, keimanan, ahlak, ibadah/ muamalah dan tarihk. Di
29
Ryan Ruggiero, The Art of Thinking. A Guide To Critical and Creative Thought, (San
Fransisco: Pearson Education, Inc. 2009), 31.
30
Ryan Ruggiero, The Art of Thinking. A Guide To Critical and Creative Thought. San
Fransisco: Pearson Education, Inc. 2009. hlm
25
madrasah, aspek-aspek tersebut dijadikan sebagai sub-sub mata
pelajaran PAI yang meliputi : mata pelajaran Al quran hadist, fiqih,
akidah akhlak, dan sejarah kebudayaan Islam. Hubungan antara satu
pelajaran dengan pelajaran lain saling berkaitan dan diibaratkan sebagai
satu mata rantai.
Dari segi bahasa sejarah terbagi 2, sejarah dikenal dengan history
yang memiliki arti pengalaman masa lampau dari umat manusia. Dan
sejarah disebut tarikh yang memiliki arti ketentuan masa atau
perhitungan tahun. Sejarah Kebudayaan Islam memiliki sebuah
karakteristik yaitu menekankan pada kemampuan untuk mengambil
sebuah pengalaman (ibrah) dan hikmah (pelajaran) dari sejarah Islam,
meneladani tokoh-tokoh yang berpengaruh dalam sejarah Islam, dan
mengaitkannya dengan fenomena sosial, budaya, politik, ekonomi,
iptek dan seni, dan lain-lain yang ada dengan sejarah Islam, serta untuk
mengembangkan kebudayaan dan peradaban Islam yang terjadi
diperiode sekarang dan diperiode yang akan datang.31
Pengertian sejarah menurut epistimologi berasal dari bahasa Arab
syajarah, artinya “ pohon”. Istilah lain dalam bahasa asing disebut
histore (Perancis), geschicte (Jerman), histoire atau geschiedenis
(Belanda), dan history (Inggris). Kata history sendiri dalam
ilmu pengetehuan sebenarnya berasal dari bahasa Yunani (istoria)
yang berarti pengetahuan gejala-gejala alam, khususnya manusia yang
bersifat kronologis. Oleh karena itu sejarah dalam perspektif ilmu
pengetahuan menjadi terbatas hanya mengenai aktivitas manusia yang
berhubungan dengan kejadian-kejadian tertentu yang tersusun secara
kronologis.
Suatu kejadian bisa dikatakan sebagai sejarah jika kejadian itu
sudah lewat pada masa lampau. Untuk kejadian pada masa yang akan
datang tidak bisa dikatakan sebagai sejarah karena manusia belum
31
Lampiran Keputusan Kementrian Agama, Nomer: 165, Tahun: 2014, Tentang
Kurikulum 2013 Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab pada Madrasah, . 38
26
melewati masa itu. Jadi, sejarah itu ada kaitannya dengan masa atau
waktu.
Sedangkan Kebudayaan adalah bentuk ungkapan tentang semangat
mendalam suatu masyarakat. Menurut Koentjoroningrat, kebudayaan
paling tidak mempunyai tiga wujud: (1) wujud ideal, yaitu wujud
kebudayaan yang sebagai suatu kompleksitas ide-ide, gagasan, nilai-
nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya, (2) wujud kelakuan,
yaitu wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan
berpola dari manusia dalam masyarakat, dan (3) wujud benda, yaitu
wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya
Sejarah kebudayaan Islam dilahirkan oleh umat Islam sekalipun
tidak menggunakan istilah kebudayaan umat Islam. Islam itu bukan
budaya karena Islam adalah wahyu dari Allah, sedangkan budaya Islam
adalah hasil karya orang Islam.
Kebudayaan itu dimiliki oleh seluruh umat manusia dari segala
level, termasuk masyarakat primitifpun berbudaya. Karena kebudayaan
adalah hasil karya manusia. Sedangkan peradaban adalah
pengembangan budaya manusia dengan kemampuannya untuk
mengembangkan diri sesuai dengan pengembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi. Bagi pendidik perlu menyinggung tentang ini.
Dengan demikian, mata pelajaran sejarah kebudayaan Islam ialah
bahan ajar yang digunakan dalam pembelajaran PAI yang membahas
tentang kisah masa lampau manusia baik mengenai hasil pikiran,
totalitas pikir maupun karya orang yang hidup dan bernaung di bawah
panji-panji Islam yang didasarkan kepada pemahaman orang-orang
Islam.32
Secara substansial, mata pelajaran Sejarah Kebudayan Islam
memiliki kontribusi dalam memberikan motivasi kepada siswa untuk
32
E Rifriyanti - Al-Fikri: Jurnal Studi Dan Penelitian Pendidikan and undefined 2019,
“Variasi Metode Pembelaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) Di MTS Miftahul Ulum Weding
Bonang Demak,” [Link], accessed May 24, 2025,
[Link]
27
mengenal, memahami, menghayati sejarah kebudayaan Islam, yang
mengandung nilai-nilai kearifan yang dapat digunakan untuk melatih
kecerdasan, membentuk sikap, watak, dan kepribadian siswa. 33
2. Tujuan Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam
Tujuan pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di Madrasah
Aliyah adalah agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut:
1) Membentuk dan membangun kesadaran peserta didik tentang
urgensinya mempelajari landasan ajaran, nilai dan norma Islam yang
telah dibangun oleh Rasulullah SAW., dalam rangka
mengembangkan kebudayaan dan peradaban Islam kedepannya.
2) Membangun tingkat kesadaran para peserta didik tentang pentingnya
mengetahui waktu dan tempat yang merupakan sebuah proses dari
masa lampau, masa kini, dan masa depan.
3) Melatih daya kritis yang dimiliki peserta didik untuk memahami
kejadian fakta sejarah yang benar terjadi berdasarkan pada
pendekatan ilmiah.
4) Menumbuhkan rasa apresiasi dan penghargaan para peserta didik
terhadap peninggalan sejarah Islam sebagai tanda bukti peradaban
umat Islam di periode lampau hingga seterusnya .
5) Membangun dan mengembangkan kemampuan peserta didik dalam
mengambil berbagai ibrah dari peristiwa-peristiwa bersejarah Islam,
meneladani tokoh-tokoh berprestasi, dan mengaitkannya dengan
fenomena sosial, budaya, politik, ekonomi, iptek dan seni dan lain-
lain untuk mengembangkan Kebudayaan dan peradaban Islam.
3. Capaian Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam
33
DR Nurdin et al., “Cd Interaktif Pengenalan Sejarah Kebudayaan Islam Pada Madrasah
Ibtidaiyah,” [Link], accessed May 24, 2025,
[Link]
28
Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) merupakan catatan perkembangan
perjalanan hidup manusia dalam membangun peradaban dari masa ke
masa. Pembelajaran SKI menekankan pada kemampuan mengambil
ibrah/hikmah dari sejarah masa lalu untuk menyikapi dan menghadapi
permasalahan masa sekarang serta masa depan. Keteladanan yang baik
masa lalu menjadi inspirasi generasi penerus bangsa untuk menyikapi
dan menyelesaikan fenomena sosial, budaya, politik, ekonomi, IPTEK,
seni, dan lain-lain dalam rangka membangun peradaban di zamannya.
Belajar Sejarah Kebudayaan Islam tidak hanya sekedar mempelajari
pengetahuan, fakta, dan kronologi, tetapi juga mencakup aspek akidah,
akhlak-etik, politik, dan sosial-keagamaan. Dari aspek akidah atau
spiritual, SKI berperan dalam menjaga dan menguatkan keimanan
peserta didik, yang berimplikasi bertambahnya keimanan mereka
kepada Allah SWT. dan rasul-Nya serta meyakini keagungan Islam.
Semua materi dalam SKI dapat dikaitkan dengan dimensi religius,
seperti substansi dan strategi dakwah Rasulullah SAW. periode Mekah,
peristiwa hijrah yang dilakukan Rasulullah SAW." bahkan pada materi
tentang kebudayaan masyarakat Mekah sebelum Islam. Sehingga guru
dituntut mampu merefleksikan aspek religius untuk menanamkan
akidah pada siswa.
Selain itu materi SKI mengandung dimensi akhlak-etik. Sejarah
sangat tepat bagi pembentukan karakter peserta didik melalui telaah suri
tauladan, cinta dan berjuang untuk tanah air, berdedikasi tinggi dalam
pengabdian, tanggung jawab sosial yang besar sehingga dapat
membentuk peserta didik berkarakter kuat, memiliki kemandirian, serta
kepedulian terhadap lingkungannya. Sekaligus sebagai generasi bangsa
yang akan memiliki sikap dan perilaku kuat dalam membela Negara
Kesatuan Republik Indonesia.
Oleh karena itu, pembelajaran SKI membutuhkan sosok guru yang
mampu mendesain proses pembelajaran yang kreatif dan inovatif. Salah
29
satunya adalah dengan merespon tantangan era digital, yaitu berperan
mengembangkan talenta digital peserta didik melalui pembelajaran SKI
yang lebih menarik, menyenangkan, dan penuh tantangan untuk
mendorong prestasi akademik yang gemilang (science for science).
Guru juga harus menerapkan nilai-nilai persatuan dan kesatuan dalam
pembelajaran untuk mewujudkan perdamaian dan kedamaian umat
manusia (science for peace of society).
4. Alur Tujuan Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam
a. Periode Rasulullah SAW.
Peserta didik Mampu menganalisis kebudayaan masyarakat Makkah
dan Madinah sebelum Islam substansi dan strategi dakwah Rasulullah
Shallallahu Alaihi Wasallam periode Makkah dan Madinah, Peristiwa
hijrah yang dilakukan Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam dan para
sahabat, substansi Piagam Madinah (Miitsaq al-Madinah), Dan faktor-
faktor keberhasilan Fathu Makkah sebagai inspirasi dalam menerapkan
perilaku Mulia Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam di kehidupan
masa kini dan masa depan.
b. Periode Khulafaurrasyidin
Peserta didik Mampu menganalisis proses pemilihan Khulafaur
Rasyidin, substansi dan strategi dakwah Khulafaur Rasyidin, Sebagai
inspirasi dalam menerapkan Asas musyawarah Sikap saling
menghargai dan menghormati dalam perbedaan pendapat di kehidupan
masa kini dan masa depan.
5. Elemen Sejarah Kebudayaan Islam
Elemen Sejarah Kebudayaan Islam terdiri dari lima elemen kunci
beserta cakupan/substansinya, sebagai berikut :
1) Periode Rasulullah SAW.
Menguraikan sejarah masa kenabian Rasulullah SAW. serta
perjuangan dakwah di Mekah dan [Link] tentang
30
periode Rasulullah SAW. Diharapkan dapat menekankan pada
kemampuan mengambil hikmah dari sejarah kenabian Rasulullah
SAW. Kemudian memahami berbagai peristiwa dan menyerap
berbagai kebijaksanaan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
sertamampu meneladaninya dalam kehidupan sehari-hari terkait
fenomena sosial budaya, politik, ekonomi, IPTEK, dan seni dalam
rangka membangun peradaban di zamannya.
2) Periode Khulafaurasyidin
Menguraikan sejarah Islam dalam proses pemilihan para
Khulafaurasyidin setelah wafatnya Rasulullah SAW. yang pada
periode ini disebut sebagai masa kepemimpinan terbaik yang
demokratis setelah kepemimpinan Rasulullah SAW., selain itu juga
menguraikan catatan sejarah Islam tentang strategi dakwah para
Khulafaurasyidin yakni Abu Bakar Ash- Shiddiq, Umar bin Khattab,
Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib dalam meneruskan
kepemimpinan Rasulullah SAW. yang memiliki strategi berbeda
sesuai dengan perkembangan kondisi sosial masyarakat waktu itu.
Diharapkan peserta didik dapat mengambil Ibrah dari pembelajaran
masa kepemimpinan Khulafaurasyidin ini, sehingga mampu untuk
menjadi calon pemimpin yang handal pada zamannya.
3) Periode Klasik/Zaman Keemasan (pada Tahun 650 M)
Menguraikan sejarah Islam setelah masa Khulafaurasyidin, yakni
masa lahirnya Daulah Umayyah di Damaskus dan Andalusia serta
perkembangan peradaban dan ilmu pengetahuan pada masa Daulah
Umayyah di Damaskus dan Andalusia, lahirnya Daulah Abbasiyah
serta perkembangan peradaban dan ilmu pengetahuan pada masa
Daulah Abbasiyah. Diharapkan peserta didik dapat mengambil ibrah
dari perkembangan peradaban dan ilmu pengetahuan pada masa
periode klasik/zaman keemasan, sehingga mampu meneladani
semangat tokoh ilmuwan muslim dalam membangun peradaban Islam
31
pada zamannya.
4) Periode Pertengahan/ Zaman Kemunduran (1250 M-1800 M)
Menguraikan sejarah Islam setelah periode klasik yakni memahami
proses lahirnya Daulah Ayyubiyah, Utsmani, Mughal, dan Syafawi,
serta memahami perkembanganperadaban dan ilmu pengetahuan pada
masa Daulah Ayyubiyah, Utsmani, Mughal, dan Syafawi. Diharapkan
peserta didik dapat mengambil ibrah dari lahirnya Daulah Utsmani,
Mughal, dan Syafawi serta perkembangan ilmu pengetahuan pada
periode pertengahan tersebut. Aspek ini akan menjadi keteladanan
(ibrah) dan inspirasi generasi penerus bangsa dalam menciptakan
kehidupan yang harmonis dalam berbangsa dan bernegara.
5) Periode Modern/Zaman Kebangkitan (1800 M-sekarang)
Menguraikan sejarah Islam pada periode modern di antaranya
memahami peran umat Islam pada masa penjajahan, kemerdekaan,
dan pascakemerdekaan. Diharapkan peserta didik dapat mengambil
ibrah menjadi muslim yang berwawasan global dan adaptif terhadap
perkembangan zaman.