0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan46 halaman

Skripsi Nesya - R3

Dokumen ini adalah usulan penelitian mengenai peranan Jaksa Agung Payakumbuh dalam penyidikan tindak pidana korupsi pengadaan perlengkapan siswa di Kabupaten Lima Puluh Kota. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pelaksanaan penyidikan, kendala yang dihadapi, serta upaya yang dilakukan oleh Kejaksaan Agung dalam menangani kasus korupsi tersebut. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoritis dan praktis dalam pengembangan hukum pidana di Indonesia.

Diunggah oleh

tkasuhanibu
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan46 halaman

Skripsi Nesya - R3

Dokumen ini adalah usulan penelitian mengenai peranan Jaksa Agung Payakumbuh dalam penyidikan tindak pidana korupsi pengadaan perlengkapan siswa di Kabupaten Lima Puluh Kota. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pelaksanaan penyidikan, kendala yang dihadapi, serta upaya yang dilakukan oleh Kejaksaan Agung dalam menangani kasus korupsi tersebut. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoritis dan praktis dalam pengembangan hukum pidana di Indonesia.

Diunggah oleh

tkasuhanibu
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PERANAN JAKSA AGUNG PAYAKUMBUH DALAM PENYIDIKAN

TINDAK PIDANA KORUPSI PENGADAAN PERLENGKAPAN SISWA

SEKOLAH DASAR SE-KABUPATEN LIMA PULUH KOTA

Usulan Penelitian

Diajukan untuk disetujui oleh Program Studi S1 Ilmu Hukum

Konsentrasi : Hukum Pidana

OLEH:

GANESYA SURYADI

21100001

PROGRAM STUDI ILMU HUKUM

SEKOLAH TINGGI ILMU HUKUM PUTRI MAHARAJA

PAYAKUMBUH

2024

1
DAFTAR ISI

BAB I............................................................................................................................3

PENDAHULUAN........................................................................................................3

1.1. Latar Belakang Masalah.................................................................................3

1.2. Rumusan Masalah...........................................................................................9

1.3 Tujuan Penelitian.................................................................................................9

1.4. Manfaat Penelitian............................................................................................10

1.4.1 Manfaat Teoritis................................................................................10

1.4.2 Manfaat Praktis.................................................................................10

BAB II.........................................................................................................................11

TINJAUAN PUSTAKA............................................................................................11

2.1 Penelitian Sebelumnya yang Relevan...........................................................11

2.2 Landasan Teori..............................................................................................13

2.2.1 Kejaksaan......................................................................................................13

[Link] Pengertian Kejaksaan Republik Indonesia......................................13

[Link] Fungsi dan Peran Kejaksaan Republik Indonesia...........................13

[Link] Tugas dan Wewenang Kejaksaan Republik Indonesia...................13

[Link] Pengertian Penyidikan....................................................................13

2.2.2 Pengertian Tindak Pidana Korupsi...................................................13

[Link] Pengertian Tindak Pidana...............................................................13

2
[Link] Korupsi............................................................................................13

[Link] Undang-undang Korupsi.................................................................14

2.2.3 Pengadaan Perlengkapan Siswa...................................................14

[Link] Pengertian Perlengkapan Siswa...................................................14

BAB III.......................................................................................................................14

METODE PENELITIAN..........................................................................................14

3.1. Pendekatan Penelitian.......................................................................................14

3.2. Sumber Data Penelitian.....................................................................................14

3.2. Teknik Pengumpulan Data................................................................................15

3.4. Populasi dan Sampel dan Teknik sampling......................................................15

DAFTAR KEPUSTAKAAN.....................................................................................17

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Negara Indonesia ialah negara hukum yang berdasarkan Pancasila

dan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945, negara

Indonesia juga merupakan negara demokrasi yang menjunjung tinggi falsafah

dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.

Dalam mewujudkan Indonesia sebagai negara hukum yang Adil dan

Makmur maka semua lapisan masyarakat, baik itu warga negara atau aparat

pemerintahan harus bertanggung jawab atas perannya sebagai warga negara

yang baik maka, wajib hukum nya mematuhi aturan yang ada. Karena hukum

merupakan tatanan atau kaidah yang harus dijunjung tinggi oleh rakyat di

dalam suatu negara agar tujuan dari negara bisa tercapai.

Tujuan negara tidak akan terwujud jika segelintir orang yang

memiliki kuasa dan akses kepada kebijakan masih menyalah gunakan kuasa

meraka. Oleh karena itu dalam mewujudkan suatu tatanan hukum yang adil

dan Makmur, maka equality before the law harus di tegakan, dengan

demikian pemerintah, negara beserta aparatnya harus melaksanakan

kekuasaannya berlandaskan hukum, sehingga dalam kehidupan berbangsa

harus dijunjung tinggi nilai-nilai substansial yang menjiwai hukum dan

menjadi tuntutan masyarakat.

4
Korupsi bagaikan lingkaran setan yang hampir telah masuk ke dalam

sistem perekonomian, sistem politik, dan sistem penegakan hukum. Semakin

masif kampanye untuk melawan korupsi namun justru semakin banyak

terkuak kasus korupsi yang menjerat para pejabat, baik pejabat di daerah

hingga level pemerintahan. Negara yang dalam hal ini pemerintah Indonesia

telah berusaha untuk memberikan penanganan yang maksimal untuk

permasalahan tindak pidana korupsi melalui perangkat hukum yang dibuat

yakni undang-undang, namun seperti yang diketahui bersama masyarakat luas

masih menganggap negara membutuhkan obat mujarab untuk mengobati

penyakit masyarakat Indonesia yang bernama korupsi. 1

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang

Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, yang telah diubah dengan Undang-

Undang Nomor 20 Tahun 2001, korupsi didefinisikan sebagai:

“ Setiap perbuatan yang memperkaya diri sendiri atau orang lain atau

suatu korporasi dengan cara melawan hukum yang dapat merugikan

keuangan negara atau perekonomian negara. ”

Maraknya korupsi di Indonesia disinyalir terjadi di semua bidang

dan sektor pembangunan, mulai dari pusat hingga ke daerah, bahkan sampai

ke tingkat yang lebih rendah.2

Korupsi secara universal menimbulkan persepsi negatif karena

kaitannya dengan penyalahgunaan wewenang untuk keuntungan pribadi atau


1
. Dimas Arya Aziza “Penerapan Delik Jabatan Dalam Pasal 3 dan Pasal 11 Undang-
Undang Nomor 3 Tahun 1999 Jo Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan
Tindak Pidana Korupsi” Binamulia Hukum 7, no. 2 (2018):
169,[Link]
2
Shanti Dwi Kartika et al., Korupsi dan KPK dalam Perspektif Hukum, Ekonomi, dan
Sosial., ( P3DI Setjen DPR RI dan Azza Grafika 2015 ) Hlm V.

5
merugikan orang lain. Hilangnya kepercayaan pada lembaga, hambatan

kemajuan ekonomi, dan potensi dampak sosial dan politik yang mendalam

menjadi ciri dampak buruknya.

Pada Indeks Persepsi Korupsi (CPI) 2023, yang diluncurkan

oleh Transparency International pada Januari 2024, menunjukkan bahwa

Indonesia terus mengalami tantangan serius dalam melawan korupsi. “CPI

Indonesia tahun 2023 berada di skor 34/100 dan berada di peringkat 115 dari

180 negara yang disurvei. Skor ini 34/100 ini sama dengan skor CPI 2022

lalu.” ungkap Wawan Suyatmiko, Deputi Sekretaris Jenderal Transparency

International Indonesia.3

Dalam rangka penegakan hukum tindak pidana korupsi, Negara

Indonesia memiliki 65 peraturan perundang-undangan terkait dengan

pemberantasan tindak pidana korupsi4. Salah satu peraturan perundang-

undangan yang mengatur tentang pemberantasan tindak pidana korupsi

adalah Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak

Pidana Korupsi jo Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan

UndangUndang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana

Korupsi. Dalam peraturan perundang-undangan tersebut terdapat jenis

penjatuhan pidana yang dilakukan oleh hakim terhadap tindak pidana korupsi,

3
Transparency International Indonesia, diakses 7 September 2024, tersedia di
[Link]
4
Rizkika Maharani Loventa, “Analisis Putusan Pengadilan Negeri Kasus Tindak Pidana
Korupsi oleh Kepolisian Republik Indonesia (Studi Kasus Putusan Nomor
01/[Link]/2017/[Link]),” Jurnal Combines 1, no. 1 (Februari 2021): Universitas
Internasional Batam.

6
seperti pidana penjara seumur hidup, pidana penjara dengan waktu yang telah

ditentukan, denda dan pidana mati.5

Dalam rangka penegakan hukum tindak pidana korupsi, Negara

Indonesia memiliki penegak hukum yang memiliki kewenangan untuk

memeriksa, mengadili dan memutus perkara tindak penyalahgunaan

wewenang yang dilakukan oleh pejabat negara atau badanbadan negara guna

menciptakan keadilan, ketentraman dan ketertiban dalam negara dan

masyarakat. Untuk mencapai keberhasilan penegakan hukum atas tindak

pidana korupsi.

Berdasarkan sistem hukum Indonesia, penyidikan dan penyelidikan

korupsi dilakukan oleh penyidik polisi. Namun, setelah masuk pada era

reformasi dimana tindak pidana korupsi semakin merajalela, maka

dibentuklah Komisi Pemberantasan Korupsi. Komisi Pemberantasan Korupsi

memiliki hubungan kewenangan dengan Penyidik Kepolisian dan Jaksa

Penentut Umum yaitu melakukan penyidikan, penyeledikan dan penuntutan

terhadap tindak pidana korupsi. Hubungan kewenangan antara ketiga institusi

tersebut tidak memiliki pembagian khusus. Ketiganya melakukan tindakan

hukum terhadap pelaku tindak pidana korupsi berdasarkan laporan dugaan

korupsi6. Dalam menjalankan tugasnya, apabila terbukti ada yang melakukan

tindak pidana korupsi dan terbukti melawan hukum, maka penegak hukum

wajib memproses perbuatan tersebut dengan hukuman yang ada sesuai

5
Gradios Nyoman Tio Rae, Good Governance dan Pemberantasan Korupsi (Jakarta:
Saberro Inti Persada, 2020).
6
Faisal Santiago, “Penegakan Hukum Tindak Pidana Korupsi oleh Penegak Hukum
untuk Terciptanya Ketertiban Hukum,” Jurnal Pagaruyuang Law 1, no. 1 (Juli 2017): Universitas
Muhammadiyah Sumatera Barat

7
dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku tanpa memandang status

dan jabatannya7 .

Kebanyakan kasus korupsi yang terjadi saat ini dilakukan oleh

aparatur negara baik pegawai negeri ataupun pejabat negara. Lebih

memprihatinkan lagi, kini korupsi merambah ke bidang pendidikan,

khususnya pada pengadaan bantuan seragam sekolah yang Sumber

pembiayaan program ini berasal dari APBD (DAU) melalui Dinas

Pendidikan.

Dana Alokasi Umum atau DAU adalah dana yang bersumber dari

APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) yang penggunaannya

untuk mendanai kegiatan fisik dan/atau nonfisik bidang-bidang yang sudah

ditentukan seperti Pendidikan, Kesehatan, dan Pekerjaan Umum.8

Pada kenyatan nya, penggunaan APBD (DAU) ini, tidak selalu

seperti apa yang diharapkan oleh pemerintah. Adanya oknum yang tidak

bertanggung jawab yang mengambil kesempatan dalam kesempitan pada

penggunaan anggaran ini membuat tujuan awal dari bantuan yang di berikan

tidak tercapai.

Pada berita yang beredar di media social baru-baru ini menyebutkan

bahwa terdapat Kontroversi dalam Bantuan Pengadaan Seragam Sekolah

Senilai 8 Miliar di daerah Kawasan Lima Puluh Kota yang mana anggaran

yang di gunakan merupakan dana yang bersumber dari APBD (DAU).


7
Oksidelfa Yanto, “Efektivitas Putusan Pemidanaan Maksimal Bagi Pelaku Tindak
Pidana Korupsi dalam Rangka Pengetasan Kemiskinan” Jurnal Hukum 1, no. 2 (Agustus 2017):
Universitas Pamulang.
8
Kementerian Keuangan RI Direktorat Jenderal Pembendaharaan, diakses 8 September
2024, [Link]
[Link]

8
Selain itu dalam pengadaan bantuan ini masyarakat beranggapan

bahwa adanya unsur politik terselubung oleh aparat pemerintah yang sedang

menjabat yang pada tahun bantuan ini di realisasikan bertepatan dengan

habisnya masa jabatan kepala daerah di Kabupaten Lima Puluh Kota.

Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis tertarik untuk

mengangkat masalah ini dalam bentuk skripsi yang berjudul : Peranan Jaksa

Agung Payakumbuh dalam Penyidikan Tindak Pidana Korupsi

Pengadaan Kelengkapan Siswa Sekolah Dasar se-Kabupaten Lima

Puluh Kota.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang

diangkat dalam penelitian ini adalah:

1. Bagaimana pelaksaan penyidikan oleh Kejaksaan Agung Payakumbuh

terhadap Tindak Pidana Korupsi dalam pengadaan kelengkapan siswa

sekolah dasar se-Kabupaten Lima Puluh Kota.

2. Apa kendala dalam pelaksaan penyidikan oleh Kejaksaan Agung

Payakumbuh terhadap Tindak Pidana Korupsi dalam pengadaan

kelengkapan siswa sekolah dasar se-Kabupaten Lima Puluh Kota?

3. Bagaimana upaya pelaksaan penyidikan oleh Kejaksaan Agung

Payakumbuh terhadap Tindak Pidana Korupsi dalam pengadaan

kelengkapan siswa sekolah dasar se-Kabupaten Lima Puluh Kota?

1.3 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

9
1. Untuk mengetahui dan menganalisa pelaksaan penyidikan oleh

Kejaksaan Agung Payakumbuh terhadap Tindak Pidana Korupsi

dalam pengadaan kelengkapan siswa sekolah dasar se-Kabupaten

Lima Puluh.

2. Untuk mengetahui dan menganalisa kendala pelaksaan penyidikan

oleh Kejaksaan Agung Payakumbuh terhadap Tindak Pidana Korupsi

dalam pengadaan kelengkapan siswa sekolah dasar se-Kabupaten

Lima Puluh Kota.

3. Untuk mengetahui dan menganalisa upaya yang dilakukan dalam

pelaksaan penyidikan oleh Kejaksaan Agung Payakumbuh terhadap

Tindak Pidana Korupsi dalam pengadaan kelengkapan siswa sekolah

dasar se-Kabupaten Lima Puluh Kota.

1.4. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang didapat dari penelitian ini adalah:

1.4.1 Manfaat Teoritis


a. Memberikan sumbangan pemikiran bagi pengembangan hukum pada

umumnya dan hukum pidana khususnya serta menambah

pengetahuan tentang peran Kejaksaan dalam menangangi kasus

korupsi.

b. Merupakan salah satu sarana penulis untuk mengumpulkan data

sebagai untuk mengumpulkan sebagai bahan dalam penyususn

penulisan hukum guna melengkapi persyaratan tugas.

10
1.4.2 Manfaat Praktis
a. Untuk memperoleh informasi yang jelas tentang tugas dan peranan

Kejaksaan Negri dalam menangani kasus Pidana Kusus.

11
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Penelitian Sebelumnya yang Relevan


Penelitian yang relevan dalam penelitian ini adalah hasil dari

penelitian Dewi Novrita Saputri Utami (2017) dengan judul “ Peranan Jaksa

dalam Penyidikan Tindak Pidana Korupsi Anggaran Dana Bantuan

Operasional Sekolah. (Studi pada Kejaksaan Negeri Sukadana Lampung

Timur) Fakultas Hukum, Universitas Lampung, Bandar Lampung. Dalam

penelitian ini yang menjadi rumusan masalah adalah: 1. Bagaimanakah

peranan jaksa Negeri Sukadana Lampung Timur dalam penyidikan tindak

pidana korupsi anggaran dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS)?, 2.

Apakah faktor penghambat upaya Kejaksaan Negeri Sukadana Lampung

Timur dalam Penyidikan tindak pidana korupsi dana Bantuan Operasional

Sekolah (BOS)?

Dari rumusan masalah diatas bisa diambil kesimpulan bahwa: Peran

jaksa sebagai penyidik terhadap tindak pidana korupsi dana bantuan

operasional sekolah tertuang dalam Undang-Undang No.16 Tahun 2004

tentang Kejaksaan Republik Indonesia dan Pasal 284 ayat (2) KUHAP.

Aparat penyidik kejaksaan telah melakukan tugas dan fungsinya dengan baik.

Berdasarkan tugas dan wewenang kejaksaan yang tertuang dalam undang-

undang.

Faktor-faktor yang menghambat penerapan penyidikan tindak pidana

korupsi antara lain karna; Faktor hukumnya sendiri, bahwa aturan yang ada

saat ini dalam penanggulangan korupsi mempersempit kewenangan kejaksaan

12
dalam melakukan penyidikan karena ada lembaga lain yang berwenang

melakukan penyidikan yaitu Kepolisian. Namun bisa diatasi dengan adanya

koordinasi yang berkelanjutan. Faktor penegak hukum, kurangnya personel

dari penyidik kejaksaan dalam menangani perkara tindak pidana korupsi.

Selain itu juga SDM dari penyidik yang masih perlu ditingkatkan

karena biasanya pelaku tindak pidana korupsi mempunyai intelektual yang

tinggi. Hal lain yang dirasa kurang adalah tidak adanya personel lain yang

mempunyai keahlian di bidang ilmu lain dalam proses penyidikan seperti

Ahli Psikologi Kriminal yang dirasa kurang.

Faktor sarana atau fasilitas yang mendukung, selain masalah biaya

operasional, Modus operandi tindak pidana korupsi yang canggih tentu

membutuhkan penanganan yang lebih canggih pula. Seharusnya dengan

sarana yang canggih pula seperti untuk melakukan penyadapan maupun

peralatan lain yang diperlukan untuk melakukan penyidikan. Agar penyidik

terhindar dari ancaman suap.

Faktor masyarakat, hal yang menjadi penghambat penyidik adalah

saksi yang belum terbuka dan masih menutupi suatu kasus yang mereka

ketahui. Padahal keterangan saksi sangat penting perihal penyidikan yang

dilakukan oleh kejaksaan.

Faktor kebudayaan, yakni sebagai hasil karya, cipta dan rasa yang

didasarkan pada karsa manusia di dalam pergaulan hidup. Dalam penerapan

penyidikan terhadap tindak pidana korupsi, banyak masyarakat menolak

melaporkan suatu kasus korupsi di wilayahnya.

13
Faktor penghambat dari masyarakat biasanya adalah kurang terbuka

terhadap lingkungan dan aktifitas yang terjadi di lingkungan itu sendiri.

Karena takut terbongkarnya suatu aib di lingkungannya.

Faktor wilayah geografis, fator wilayah penyidikan yang luas dan

kondisi geografis alam di wilayah lampung timur bisa menghambat

terciptanya asas penyidikan yang cepat, sederhana dan biaya ringan.

2.2 Landasan Teori


2.2.1 Kejaksaan
[Link] Pengertian Kejaksaan Republik Indonesia
Kejaksaan Republik Indonesia adalah lembaga pemerintahan

yang berfungsi menjalankan kekuasaan negara di bidang penuntutan.

Tugas dan fungsinya mencakup penanganan perkara pidana, baik itu

proses penuntutan, pelaksanaan keputusan hukum, serta fungsi

penegakan hukum lainnya. 9

Menurut Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang

Kejaksaan Republik Indonesia, “Kejaksaan Negeri (Kejari) merupakan

lembaga pemerintahan yang melaksanakan kekuasaan negara di bidang

penuntutan serta kewenangan lain berdasarkan undang-undang yang

berlaku.“

Jaksa adalah pejabat fungsional yang diberi wewenang oleh

undang-undang untuk bertindak sebagai penuntut umum dan pelaksana

9
Handayani, D., “Independensi Kejaksaan dalam Penegakan Hukum di Indonesia,”
Jurnal Hukum dan Keadilan 5, no. 1 (2018): 123-135.

14
putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum serta

wewenang lain berdasarkan undang-undang. 10

[Link] Fungsi dan Peran Kejaksaan Republik Indonesia

Kejaksaan memiliki fungsi utama dalam proses penuntutan, di

mana kejaksaan menjadi pemegang kendali penuh atas proses hukum

sejak penyelidikan hingga pengadilan. Fungsi kejaksaan juga meliputi

pengawasan terhadap pelaksanaan keputusan pengadilan dan pemberian

bantuan hukum kepada pemerintah. Peran kejaksaan sebagai

“pengendali proses penuntutan” sangat penting untuk memastikan

adanya keseimbangan antara hak-hak terdakwa dan kepentingan

masyarakat.11

[Link] Tugas dan Wewenang Kejaksaan Republik Indonesia

Kejaksaan Republik Indonesia memiliki tugas yang luas, yang

mencakup penuntutan, pelaksanaan putusan pengadilan, dan

pengawasan terhadap pelaksanaan keputusan hukum yang telah

berkekuatan hukum tetap.12

Tugas dan wewenang jaksa dalam pemeriksaan suatu perkara

pidana adalah melakukan penuntutan, melaksanakan penetapan hakim

dan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap,

serta melakukan pengawasan terhadap pelepasan bersyarat serta

10
Josua D. W. Hutapea, “Tugas dan Wewenang Jaksa dalam Pemeriksaan Tindak Pidana
Korupsi,” E-Jurnal Unsrat, hlm. 60.
11
. T. Nugroho, “Peran Kejaksaan dalam Sistem Peradilan Pidana di Indonesia,” Jurnal
Penegakan Hukum 8, no. 2 (2019): 67-82.
12
Hari Sasangka “Penyidikan, Penahanan, Penuntutan, dan Praperadilan dalam Teori
dan Praktik (Bandung: Maju Mundur, 2007), hlm. 22.

15
melakukan penyidikan terhadap tindak pidana tertentu seperti tindak

pidana korupsi.

Kejaksaan Republik Indonesia sebagai lembaga negara

pemerintahan yang melaksanakan kekuasaan negara di bidang

penuntutan harus bebas dari pengaruh kekuasaan pihak manapun, yakni

dilaksanakan secara merdeka terlepas dari pengaruh kekuasaan

pemerintah dan pengaruh kekuasaan lainnya. Kejaksaan sebagai salah

satu lembaga penegak hukum dituntut lebih berperan dalam

menegakkan supremasi hukum, perlindungan kepentingan umum,

penegakan hak asasi manusia serta pemberantasan Korupsi, Kolusi, dan

Nepotisme (KKN).

Di dalam Pasai 1 butir 6 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981

Tentang Kitab UndangUndang Hukum Acara Pidana (KUHAP)

disebutkan bahwa :

a. Jaksa adalah pejabat yang diberi wewenang oleh undang-undang

ini untuk bertindak sebagai penuntut umum serta melaksanakan

putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum

tetap.

b. Penuntut umum adalah Jaksa yang diberi wewenang oleh undang-

undang ini untuk melakukan penuntutan dan melaksanakan

penetapan hakim.

Ketentuan di atas memberi pengertian bahwa penuntut umum

harus seorang Jaksa. Dan tugas Jaksa Penuntut Umum untuk

16
melakukan penuntutan dan melaksanakan penetapan hakim.

Sebagaimana juga disebutkan dalam Pasal 13 KUHAP bahwa

penuntut umum adalah Jaksa yang diberi wewenang oleh undang-

undang ini untuk melakukan penuntutan dan melaksanakan penetapan

hakim.

Secara garis besar setelah berlakunya, KUHAP, tugas Jaksa

adalah sebagai berikut ;

1. Sebagai penuntut umum;

2. Pelaksana putusan pengadilan yang telah mempunyai

kekuatan hukum tetap (eksekutor).

Dalam tugasnya sebagai penuntut umum, Jaksa mempunyai tugas :

1. Melakukan penuntutan.

2. Melaksanakan penetapan hakim.

Dua tugas tersebut dilakukan oleh penuntut umum dalam

proses persidangan pidana yang sedang berjalan. Tugas Jaksa

sebagai penuntut umum diatur dalam Pasal 13 KUHAP dan

dipertegas dalam Pasal 137 KUHAP. Penuntut umum berwenang

melakukan penuntutan terhadap siapapun yang didakwa melakukan

suatu tindak pidana dalam daerah hukumnya dengan melimpahkan

perkara ke pengadilan yang berwenang mengadilinya.13

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004 Pasal 30

Menyebutkan bahwa tugas dan wewenang Kejaksaan yaitu ;


13
E-Jurnal Unsrat Josua D. W. Hutapea,”Tugas dan Wewenang Jaksa dalam
Pemeriksaan Tindak Pidana Korupsi”, Hal 60.

17
1. Bidang Pidana : Kejaksaan bertugas melaksanakan kekuasaan

negara dalam bidang penuntutan, termasuk melakukan

penyidikan terhadap tindak pidana tertentu, misalnya tindak

pidana korupsi, pelanggaran HAM berat, dan terorisme.

Kejaksaan juga bertugas mengeksekusi putusan pengadilan

yang sudah berkekuatan hukum tetap.

2. Bidang Perdata dan Tata Usaha Negara: Kejaksaan dapat

bertindak sebagai pengacara negara dalam perkara perdata dan

tata usaha negara demi kepentingan negara atau pemerintah. Ini

berarti kejaksaan bisa mewakili pemerintah dalam menghadapi

kasus hukum di bidang tersebut.

3. Bidang Ketertiban dan Ketenteraman Umum: Kejaksaan

bertugas untuk mendukung penegakan hukum, memberikan

penyuluhan dan penerangan hukum, serta mengawasi

peredaran barang cetakan, termasuk mendukung kegiatan

pemeliharaan keamanan dan ketertiban umum.

4. Peningkatan Kesadaran Hukum Masyarakat: Kejaksaan

memiliki tugas untuk memberikan edukasi kepada masyarakat

terkait hukum agar tercipta masyarakat yang taat hukum.

Wewenang kejaksaan juga dijelaskan dalam undang-

undang yang sama, antara lain:

18
1. Melakukan Penuntutan: Kejaksaan memiliki wewenang untuk

melakukan penuntutan terhadap pelaku tindak pidana di

pengadilan.

2. Melaksanakan Penetapan Hakim dan Putusan Pengadilan:

Setelah putusan pengadilan memiliki kekuatan hukum tetap,

kejaksaan berwenang untuk melaksanakannya, termasuk

eksekusi hukuman pidana.

3. Melakukan Penyidikan Tindak Pidana Tertentu: Dalam kasus

tertentu, seperti tindak pidana korupsi dan pelanggaran HAM

berat, kejaksaan memiliki wewenang untuk melakukan

penyidikan.

4. Melakukan Pembinaan: Kejaksaan juga memiliki wewenang

untuk melakukan pembinaan terhadap aparat penegak hukum

lainnya dan masyarakat.

5. Pengawasan Terhadap Aliran Kepercayaan: Kejaksaan

memiliki wewenang untuk mengawasi aliran-aliran

kepercayaan yang dapat membahayakan ketertiban umum dan

stabilitas negara.

6. Pengawasan Barang Cetakan dan Media: Kejaksaan mengawasi

barang-barang cetakan yang dianggap membahayakan

ketertiban umum.

Ketentun lebih lanjut yang menjabarkan undang-undang

kejaksaan khususnya tentang tugas dan wewenang jaksa dalam

19
penegakan hukum tindak pidana korupsi terdapat dalam Keputusan

Presiden Nomor 86 tahun 1999 tentang susunan organisasi dan tata

kerja kejaksaan republik indonesia sebagai berikut :

Pasal 17 :

Jaksa Agung muda tindak pidana khusus mempunyai

tugas dan wewenang melakukan penyelidikan, penyidikan dan

pemeriksaan tambahan, penuntutan, pelaksanaan putusan hakim

dan putusan pengadilan, pengawasan terhadap pelaksanaan

keputusan lepas bersyarat dan tindakan hukum lain mengenai

tindak pidana ekonomi,tindak pidana korupsi dan tindak pidana

khusus lainnya berdasarkan peraturan perundang-undangnan dan

kebijaksanaan yang ditetapkan oleh jaksa agung.

Pasal 18 :

Untuk melaksanakan tugas dan wewenang sebagaimana

dimaksud dalam pasal 17, jaksa agung muda tindak pidana khusus

menyelenggarakan fungsi :

a. perumusan kebijaksanaan tekhnis kegiatan yustisial pidana khusus

berupa pemberian bimbingan dan pembinaan dalam bidang

tugasnya;

b. perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian kegiatan penyelidikan,

penyidikan, pemeriksaan tambahan, penuntutan, eksekusi atau

melaksanakan penetapan hakim, dan putusan pengadilan,

pengawasan terhadap pelaksanaan keputusan lepas bersyarat dan

tindakan hukum lain serta pengadministrasiannya;

20
c. pembinaan kerja sama, pelaksanaan koordinasi dan pemberian

bimbingan serta petunjuk teknis dalam penanganan perkara tindak

pidana khusus 23 dengan instansi dan lembaga terkait mengenai

penyelidikan dan penyidikan berdasarkan peraturan perundang-

undangan dan kebijaksanaan yang ditetapkan oleh Jaksa Agung;

d. pemberian saran, konsepsi tentang pendapat dan/atau pertimbangan

hukum Jaksa Agung mengenai perkara tindak pidana khusus dan

masalah hukum lainnya dalam kebijaksanaan penegakan hukum;

e. pembinaan dan peningkatan kemampuan, keterampilan dan

integritas kepribadian aparat tindak pidana khusus di lingkungan

Kejaksaan;

f. pengamanan teknis atas pelaksanaan tugas dan wewenang

Kejaksaan di bidang tindak pidana khusus berdasarkan peraturan

perundang-undangan dan kebijaksanaan yang ditetapkan oleh Jaksa

Agung;

g. pemberian saran pertimbangan kepada Jaksa Agung dan

pelaksanaan tugas-tugas lain sesuai dengan petunjuk Jaksa Agung.14

Berdasarkan ketentuan perturan perundang-undangan di

atas dapat dikatakan tugas dan wewenang kejaksaan dalam

penegakan hukum pemberantasan tindak pidana korupsi adalah

melakukan penyelidikan, penyidikan, penuntutan, melaksanakan

penetapan hakim dan putusan pengadilan serta mengadakan

tindakan-tindakan hukum lainnya. Oleh karena itu, peranan yang

14
[Link]

21
seharusnya adalah sesuai dengan tugas dan wewenang kejaksaan

dibidang penegakan hukum tindak pidana korupsi yaitu melakukan

penyelidikan, penyidikan, penuntutan, melaksanakan penetapan

hakim dan putusan pengadilan serta tindakan-tindakan hukum

lainnya.

“ Serangkaian tindakan penyidikan dalam hal dan menurut cara

yang diatur dalam undang-undang ini untuk mencari serta

mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang

tentang tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan

tersangkanya”.

Sebagaimana diatur dalam pasal 1 ayat (2) KUHAP di atas

menjelaskan bahwa penyidikan adalah setiap tindakan penyidik

untuk mencari bukti-bukti yang dapat meyakinkan atau

mendukung keyakinan bahwa perbuatan pidana atau perbuatan

yang dilarang oleh ketentuan pidana itu benar-benar terjadi.

Pengumpulan bahan keterangan untuk mendukung keyakinan

bahwa perbuatan pidana itu telah terjadi, harus dilakukan dengan

cara mempertimbangkan dengan saksama makna dari kemauan

hukum sesungguhnya, dengan parameter apakah perbuatan atau

tinjuperistiwa pidana (kriminal) itu bertentangan dengan nilai-nilai

yang hidup pada komunitas yang di masyarakat setempat, misalnya

22
perbuatan itu nyata-nyata merugikan pihak lain di peristiwa

tersebut.15

[Link] Pengertian Penyidikan

Penyidikan suatu istilah yang dimaksudkan sejajar dengan

pengertian opsporing (Belanda) dan investigation (Inggris) atau

penyiasatan atau siasat (Malaysia).16 Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang

Nomor 8 Tahun 1981 Tentang KUHAP, penyidik adalah pejabat polisi

negara Republik Indonesia atau pejabat pegawai negeri sipil tertentu

yang diberi wewenang khusus oleh undang-undang untuk melakukan

penyidikan.

Pasal 1 ayat (2) Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik

Indonesia Tentang Manajemen Penyidikan Tindak Pidana, memberi

definisi penyidikan sebagai berikut ;17

Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2010 pada Pasal 2A

ayat (1), dirumuskan penyidik adalah : Untuk dapat diangkat sebagai

pejabat penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagaimana

dimaksud dalam Pasal 2 huruf a, calon harus memenuhi syarat :

a. Berpangkat paling rendah Inspektur Dua Polisi dan

berpendidikan paling rendah sarjana strata satu atau yang

setara;

15
Hari Sasangka, “ Penyidikan, Penahanan, Penuntutan, Dan Praperadilan Dalam Teori
Dan Persktek, Maju Mundur”, Bandung, 2007, hlm. 22
16
Andi Hamzah, “Hukum Acara Pidana Indonesia”, Sinar Grafika, Jakarta, 2008, hlm.
120.
17
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia

23
b. Bertugas di bidang fungsi penyidikan paling singkat 2 (dua)

tahun;

c. Mengikuti dan lulus pendidikan pengembangan spesialisasi

fungsi reserse kriminal;

d. Sehat jasmani dan rohani yang dibuktikan dengan surat

keterangan dokter; dan

e. Memiliki kemampuan dan integritas moral yang tinggi

Selain terdapat penyidik seperti yang telah dijelaskan diatas

berdasarkan Pasal 10 KUHAP terdapat pula penyidik pembantu.

Penyidik pembantu berdasarkan Pasal 10 ayat (1) KUHAP adalah

pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia yang diangkat oleh

Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia, berdasarkan syarat

kepangkatan dalam ayat (2) Pasal ini disebutkan bahwa syarat

kepangkatan diatur dengan peraturan pemerintah.

Undang-Undang Nomor 2 tahun 2002 Tentang Kepolisian

Republik Indonesia, terdapat ketentuan yang secara khusus mengatur

tentang penyidikan, penuntutan, dan pemertiksaan disidang pengadilan

yang tidak diatur didalam kitab undangundang hukum acara pidana

(KUHAP) dan hal ini merupakan relevansi asas hukum pidana (Lex

Specialist Derogat lex Generalist) secara sosiologi, kewenangan polisi

dalam proses pemeriksaan pendahuluan ini dilihat sebagai kedudukan

(Status) dan peranan (Rule).

24
Menurut M. Yahya Harahap, pengertian penyidikan adalah suatu

tindakan lanjut dari kegiatan penyelidikan dengan adanya suatu

terjadinya peristiwa tindak pidana. Persyaratan dan pembatasan yang

ketat dalam penggunaan upaya paksa setelah pengumpulan bukti

permulaan yang cukup guna membuat terang suatu peristiwa yang patut

diduga merupakan tindak pidana.18

Menurut De Pinto, menyidik (opsporing) berarti “pemeriksaan

permulaan oleh pejabat-pejabat yang untuk itu ditunjuk oleh undang-

undang segera setelah mereka dengan jalan apa pun mendengar kabar

yang sekedar beralasan, bahwa ada terjadi sesuatu pelanggaran

hukum”.19

Pengertian Tindak Pidana Korupsi


[Link] Pengertian Tindak Pidana

Pidana berasal dari kata straf (Belanda), yang pada dasarnya

dapat diartikan sebagai suatu penderitaan (nestapa) yang sengaja

dikenakan/ dijatuhkan kepada seseorang yang telah terbukti bersalah

melakukan suatu tindak pidana. Para ahli hukum di Indonesia

membedakan istilah hukuman dengan pidana. Istilah hukuman adalah

istilah umum yang dipergunakan untuk semua jenis sanksi baik dalam

ranah hukum perdata, administratif, disiplin dan pidana, sedangkan

18
M Yahya Harahap, Pembahasan Permasalahan Dan Penerapan KUHAP : Penyidikan Dan
Penuntutan, Sinar Grafika, Jakarta, 2006, hlm. 210.
19
[Link] diunduh
tanggal 18 November 2024 Pukul 22:55 WIB.

25
istilah pidana diartikan secara sempit yaitu hanya sanksi yang berkaitan

dengan hukum pidana .20

Pidana dalam konteks hukum pidana Indonesia adalah sanksi

yang diberikan kepada seseorang yang terbukti melakukan tindakan

yang melanggar hukum. Pidana memiliki berbagai bentuk, mulai dari

hukuman penjara, denda, hingga pidana mati untuk pelanggaran berat.

Menurut Arifin (2019), tujuan dari pidana adalah untuk mencegah

terjadinya kejahatan dan melindungi masyarakat dengan memberikan

efek jera kepada pelaku serta memperbaiki ketertiban sosial yang

terganggu akibat kejahatan tersebut.21

Ketentuan hukum pidana dapat dikategorikan menjadi hukum

pidana umum (ius commune) dan hukum pidana khusus (ius singulare,

ius speciale, atau bijzonder strafrecht). Ketentuan hukum pidana umum

dimaksudkan berlaku secara umum, seperti termaktub dalam KUHP,

sedangkan yang dimaksud dengan ketentuan hukum pidana khusus

menurut Pompe A. Nolten, Sudarto, dan E.Y. Kanter diartikan sebagai

ketentuan hukum pidana yang mengatur kekhususan subyek dan

perbuatan yang khusus (bijzonder lijk feiten). Tindak pidana korupsi

sebagai bagian dari tindak pidana khusus juga memiliki kekhususan

dalam hukum acaranya.22

20
Ibit, Hlm. 80.
21
^[Arifin, A. (2019). “Konsep Pidana dan Tujuannya dalam Hukum Pidana
Indonesia.” Jurnal Hukum Pidana dan Kriminologi, 7(1), 89-105.]

22

26
Tindak pidana merupakan pengertian dasar dalam hukum

pidana. Tindak pidana merupakan suatu pengertian yuridis, lain halnya

dengan istilah perbuatan jahat atau kejahatan. Secara yuridis formal,

tindak kejahatan meupakan bentuk tingkah laku yang melanggar

undang-undang pidana. Oleh sebab itu setiap perbuatan yang dilarang

oleh undang-undang harus dihindari dan barang siapa melanggarnya

maka akan dikenakan pidana. Jadi larangan-larangan dan kewajiban-

kewajiban tertentu yang harus ditaati oleh setiap warga Negara wajib

dicantukan dalam undang-undang maupun peraturan-peraturan

pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah.23

Pengertian tindak pidana dalam Kitab Undang-Undang Hukum

Pidana (KUHP) dikenal dengan istilah stratbaar feit dan dalam

kepustakaan tentang hukum pidana sering mempergnakan istilah delik,

sedangkan pembuat undang-undang merumuskan suatu undang-undang

mempergunakan istilah peristiwa pidana atau perbuatan pidana atau

tindak pidana.

Menurut Moeljatno, perbuatan pidana adalah perbuatan yang

dilarang oleh suatu aturan hukum larangan mana disertai ancaman

(sanksi) yang berupa pidana tertentu, bagi barang siapa melanggar

larangan tersebut.24 Sedangkan menurut Poernomo perbuatan pidana

adalah suatuperbuatan yang oleh suatu aturan hukum pidana dilarang

23
P.A.F. Lamintang, 1996, Dasar-Dasar Hukum Pidna Indonesia, PT. Citra Aditya Bakti,
Bandung, Hlm 7
24
Poernomo,Bambang,1992,Asas-Asas Hukum Pidana, Ghalia Indonesia, Jakarta, Hlm
130

27
dan diancam dengan pidana bagi barang siapa yang melanggar larangan

tersebut.25

Selain itu ada pendapat beberapa ahli tentang Tindak pidana ;

Menurut Simons, menyatakan tindak pidana ialah suatu tindakan atau

perbuatan yang diancam dengan pidana oleh Undang-undang Hukum

Pidana, bertentangan dengan hukum pidana dan dilakukan dengan

kesalahan oleh seseorang yang mampu bertanggung jawab.26

Menurut E. Utrecht menyatakan tindak pidana ialah dengan

istilah peristiwa pidana yang sering juga ia sebut delik, karena peristiwa

itu merupakan suatu perbuatan atau sesuatu yang melalaikan maupun

akibatnya (keadaan yang ditimbulkan karena perbuatan melalaikan

itu).27

Sementara itu, menurut Moeljatno, perbuatan tindak pidana

ialah perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana, terhadap

siapa saja yang melanggar larangan tersebut. Perbuatan tersebut harus

juga dirasakan oleh masyarakat sebagai suatu hambatan tata pergaulan

yang dicita-citakan oleh masyarakat.28

[Link] Korupsi

Dari segi semantik korupsi berasal dari bahasa Inggris yaitu

corrupt, yang berasal dari bahasa Latin corruptio atau corruptos dalam

25
Laden Marpaung,2005,Asas-Teori-Praktek Hukum Pidana,Sinar Grafika,Jakarta,Hlm
31
26
Zainal Abidin, 2007,Hukum Pidana 1, Sinar Grafika , Jakarta, Hlm. 223.
27
Muhammad Ekaputra dan Abdul Kahir, 2010, Sistem Pidana di Dalam KUHP dan
Pengaturannya Menurut Konsep KUHP Baru, Usu Press, Medan, Hlm. 80.
28
Moeljatno, 2005, Asas-asas Hukum Pidana, Bina Aksara, Jakarta, Hlm. 20.

28
bahasa Yunani. Istilah ini kemudian berkembang dalam bahasa Inggris

dan Prancis menjadi corruption, bahasa Belanda koruptie dan dalam

bahasa Indonesia yaitu korupsi. Arti dari kata korupsi itu adalah

kebusukan, keburukan, kebejatan, ketidakjujuran, dapat disuap, tidak

bermoral menyimpang dari kesucian. 29

Dalam Kamus umum Bahasa Indonesia, korupsi adalah

perbuatan yang buruk seperti penggelapan uang, penerimaan uang

sogok dan sebagainya. Dalam kamus besar Bahasa Indonesia korupsi

adalah : “penyelewengan atau penggelapan uang negara atau

perusahaan, dan sebagainya untuk kepentingan pribadi atau orang lain”.

Sedangkan dalam The Lexicon Webster Dictionary dimuat arti kata

corrupt korupsi) antara lain : “penyelewengan atau penggelapan uang

negara atau perusahaan, dan sebagainya untuk kepentingan pribadi atau

orang lain”.

Pasal 1 butir 3 Undang-undang No.28 tahun 1999 tentang

Penyelenggaraan Negara yang bersih dan bebas dari Kolusi, Korupsi,

dan Nepotisme, menyatakan bahwa yang dimaksud dengan korupsi

adalah sebagai berikut: tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam

ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai

tindak pidana korupsi.

Menurut Transparancy International korupsi adalah ”perilaku

pejabat publik, baik politis maupun pegawai negeri, yang secara tidak

29
W.J.S. Poerwadaminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 1989,
hal. 1230.

29
wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya mereka yang

dekat dengannya dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang

dipercayakan kepadanya.30

Definisi korupsi banyak sekali, dalam arti luas, korupsi berarti

menggunakan jabatan untuk keuntungan pribadi. Jabatan adalah

kedudukan kepercayaan. Seseorang diberi wewenang atau kekuasaan

untuk bertindak atas nama lembaga. Lembaga itu bisa lembaga swasta,

lembaga pemerintah, atau lembaga nirlaba. Korupsi berarti memungut

uang bagi layanan yang sudah seharusnya diberikan, atau menggunakan

wewenang untuk mencapai tujuan yang tidak sah. Korupsi adalah tidak

melaksanakan tugas karena lalai atau sengaja.31

Korupsi juga bisa dinyatakan sebagai suatu pemberian, dalam

prakteknya korupsi lebih dikenal sebagai menerima uang yang ada

hubungan dengan jabatan tanpa ada catatan administrasinya. Secara

hukum pengertian korupsi adalah tindak pidana sebagaimana dimaksud

dalam ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang

tindak pidana korupsi. Pengertian korupsi dalam penulisan ini lebih

ditekankan pada perbuatan yang merugikan kepentingan publik atau

masyarakat luas untuk kepentingan pribadi atau golongan. Sedangkan

Menurut Muhammad Ali, korupsi adalah perbuatan busuk seperti

penggelapan uang, penerima uang sogok32

30
Emmy Hafild, Transparancy International Annual Report, Transparancy International, Jakarta
2004, hal. 4
31
Robert Kligaard, Penuntun Pemberantasan Korupsi dalam Pemerintahan Daerah, Yayasan
Obor Indonesia, Jakarta,2005, hal. 3
32
Andi Hamzah, “Korupsi Dalam Proyek Pembangunan”, Akademi Pressindo, Jakarta, 1984

30
Pengertian Korupsi secara yuridis adalah sebagaimana di atur

dalam beberapa pasal Undang-Undang No.31 Tahun 1999 jo Undang-

Undang No.20 Tahun 2001 antara lain :

Pasal 2 :

Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan

memperkaya diri sendiri atau orang lain atau korporasi yang dapat

merugikan keuangan negara/perekonomian negara, dipidana

penjara dengan penjara seumur hidup atau pidana penjara paling

singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 tahun dan denda paling

sedikit Rp.200.000.000,- (dua ratus juta) dan paling banyak

Rp.[Link],- (satu milyar rupiah)

Pasal 3 :

Setiap orang yang dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau

orang lain atau suatu korporasi, menyalahgunakan kewenangan,

kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau

kedudukan yang dapat merugikan keuangan negara atau

perekonomian negara, dipidana dengan penjara seumur hidup atau

pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 20

(dua puluh) tahun dan atau denda paling sedikit Rp.50.000.000,-

(lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp.[Link],-

(satu milyar rupiah)

31
Pengertian korupsi secara sosiologis dapat dilihat dari

beberapa pendapat para pakar dibawah ini : Syed Husein Alatas

mengatakan bahwa yang disebut korupsi apabila seorang pegawai

negeri menerima pemberian yang disodorkan oleh seorang swasta

dengan maksud mempengaruhinya agar memberikan perhatian

istimewa pada kepentingan-kepentingan si pemberi.33

Menurut Santoso (2020), korupsi di Indonesia merupakan

hambatan utama bagi pembangunan ekonomi dan sosial, karena praktik

korupsi sering kali terjadi di berbagai level pemerintahan, dari pusat

hingga daerah.34

Juniadi Soewartojo merumuskan korupsi secara singkat;

bahwa korupsi pada hakekatnya merupakan tingkah laku/tindakan

seesorang yang melanggar norma-norma dengan tujuan memperoleh

keuntungan pribadi dan merugikan keuangan negara/masyarakat baik

langsung atau tidak.35

Baharuddin Lopa merumuskan korupsi adalah suatu tindak

pidana yang berhubungan dengan penyuapan, manipulasi dan

perbuatan-perbuatan lainnya sebagai perbuatan melawan hukum yang

merugikan atau dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian

negara, merugikan kesejahteraan atau kepentingan rakyat umum.

33
Syed Husein Alatas, “Sosiologi Korupsi Sebuah Penjelajahan Dengan Data
Kontemporer,LP3ES, Jakarta, 1981, Hal 30
34
^[Santoso, D. (2020). “Dampak Korupsi terhadap Pembangunan Ekonomi di Indonesia.” Jurnal
Ekonomi dan Hukum, 15(3), 210-225.]
35
Juniadi Soewartojo, Korupsi Pola Kegiatan dan Penindakan Serta Peran Pengawasan Dalam
Penanggulangan, Restu Agung, Jakarta, 1992, Hal 14.

32
Perbuatan yang merugikan keuangan dan perekonomian negara adalah

korupsi di bidang materiil, sedangkan korupsi di bidang politik dapat

terwujud berupa manipulasi pemungutan suara dengan cara penyuapan,

intimidasi, paksaan dan/atau campur tangan yang dapat mempengaruhi

kebebasan memilih komersialisasi pemungutan suara pada lembaga

legislatif atau pada putusan yang bersifat administrasi di bidang

pelaksanaan pemerintahan.

Berdasarkan definisi korupsi yang dikemukakan oleh para

ahli, maka dapat disimpulkan bahwa korupsi merupakan perbuatan

memperkaya diri atau orang-orang yang memiliki kedekatan, yang

dilakukan dengan mempergunakan kewenangan ataupun kekuasaan

yang ada padanya karena jabatan yang dimiliki olehnya dan perbuatan

tersebut merugikan keuangan negara atau perekonomian negara tetapi

juga merusak moralitas dan kepercayaan publik.

[Link] Undang-undang Korupsi

Berdasarkan ketentuan-ketentuan yang mengatur tentang tindak

pidana korupsi, dapat diamati bahwa sebenarnya perangkat hukum yang

telah dibuat oleh pemerintah bersama-sama dengan pihak legislatif

untuk menangani masalah tindak pidana korupsi sudah cukup untuk

menjerat pelaku tindak pidana korupsi.

Untuk mencegah terjadinya tindak pidana korupsi, pemerintah

bersama-sama dengan pihak legislatif telah menyusun berbagai

peraturan mengenai tindak pidana korupsi, antara lain sebagai berikut :

33
1. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan

Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepostime

(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75,

Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 3851).

2. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan

Tindak Pidana Korupsi (Lembaran Negara Republik Tahun 1999

Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia

3874) yang telah mengubah Undang-Undang Nomor 3 Tahun

1971.

3. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas

UndangUndang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan

Tindak Pidana Korupsi (Lembaran Negara Republik Indonesia

Tahun 2001 Nomor 134, Tambahan Lembaran Negara Republik

Indonesia Nomor 4150).

4. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi

Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Lembaran Negara

Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 137, Tambahan Lembaran

Negara Republik Nomor 4250).

5. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2019 tentang Perubahan Kedua

atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi

Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

34
6. TAP MPR Nomor XI/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Negara

yang Bersih dan Bebas KKN. Inpres Nomor 11 Tahun 2005

tentang Tim Koordinasi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

7. Inpres Nomor 11 Tahun 2005 tentang Tim Koordinasi

Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Pengadaan Perlengkapan Siswa


[Link] Pengertian Perlengkapan Siswa

Pengadaan perlengkapan siswa adalah proses perencanaan,

pengadaan, dan distribusi berbagai kebutuhan yang mendukung

kegiatan belajar siswa. Perlengkapan siswa mencakup barang-barang

seperti seragam, buku pelajaran, alat tulis, tas, sepatu, dan kebutuhan

lain yang relevan untuk mendukung pembelajaran di sekolah.

Pengadaan ini biasanya dilakukan oleh pihak sekolah,

pemerintah, atau lembaga terkait, baik untuk memenuhi kebutuhan

individu siswa maupun sebagai bagian dari program bantuan

pendidikan. 36

Dalam manajemen fasilitas pendidikan, pengadaan

perlengkapan siswa dirancang secara sistematis melalui tahap

perencanaan kebutuhan, analisis prioritas, hingga distribusi yang tepat

guna. Proses ini biasanya didasarkan pada kebutuhan spesifik siswa di

masing-masing sekolah serta ketersediaan anggaran.

Tujuan pengadaan perlengkapan siswa adalah memastikan

setiap siswa memiliki akses terhadap perlengkapan yang memadai

36

35
sehingga dapat belajar dengan optimal tanpa hambatan akibat

kurangnya fasilitas.37

Tahapan dalam pengadaan perlengkapan siswa meliputi:

1. Identifikasi kebutuhan: Menentukan jenis dan jumlah perlengkapan

yang diperlukan.

2. Perencanaan anggaran: Mengalokasikan dana untuk memenuhi

kebutuhan tersebut.

3. Pemilihan penyedia: Menggunakan mekanisme tertentu (seperti

lelang atau pembelian langsung) untuk mendapatkan barang

dengan kualitas dan harga terbaik.

4. Distribusi: Menyalurkan perlengkapan kepada siswa yang

membutuhkan.

5. Evaluasi: Memastikan perlengkapan yang disediakan sesuai dengan

kebutuhan dan standar kualitas.38

Pengadaan perlengkapan siswa di Indonesia diatur dalam

berbagai regulasi yang mendukung pendidikan, terutama yang berkaitan

dengan pengelolaan anggaran dan pengadaan barang dan jasa di sektor

pendidikan. Berikut beberapa undang-undang dan peraturan terkait:

1. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan

Nasional

 Mengatur prinsip-prinsip dasar pendidikan, termasuk tanggung

jawab pemerintah dalam menyediakan fasilitas pendidikan


37
Nasrudin dan Maryadi, “Manajemen Sarana dan Prasarana Pendidikan,” Universitas
Muhammadiyah Surakarta.
38
Kemendikbud ”Manajemen Fasilitas Pendidikan” Platform LMS SPADA.

36
untuk memastikan pemerataan akses belajar bagi seluruh

peserta didik.

2. Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2018 tentang Pengadaan

Barang/Jasa Pemerintah.

 Mengatur tata cara pengadaan barang dan jasa, termasuk

pengadaan perlengkapan siswa oleh lembaga pemerintah

seperti sekolah yang didanai oleh APBN/APBD.

3. Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2021 tentang Standar

Nasional Pendidikan

 Menyebutkan pentingnya sarana dan prasarana yang sesuai

dengan standar pendidikan nasional sebagai bagian dari upaya

meningkatkan mutu pendidikan.

4. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 19 Tahun

2020 tentang Petunjuk Teknis BOS Reguler

 Mengatur alokasi dana BOS, yang sebagian dapat digunakan

untuk pengadaan perlengkapan siswa, seperti buku pelajaran,

alat tulis, atau perangkat belajar lainnya.

5. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara

 Mengatur pengelolaan anggaran negara yang digunakan untuk

pembiayaan pendidikan, termasuk pengadaan barang untuk

siswa.

6. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan

Daerah

37
 Menyatakan bahwa pemerintah daerah bertanggung jawab

dalam menyediakan layanan pendidikan, termasuk sarana dan

prasarana.

38
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Pendekatan Penelitian

Pendekatan yang dipergunakan dala penelitian ini menggunakan

pendekatan yurudis empiris, pendekatan yang digunakan dalam pendekatan

ini yaitu dengan meneliti dan mengumpulkan data primer yang diperoleh

secara lansung terhadap objek penelitian melalui observasi dan wawancara

dengan responden atau narasumber yang berhubungan dengan permasalahan

yang akan dibahas dalam penelitian ini.

3.2. Sumber Data Penelitian

Data yang diperlukan dalam penelitian ini diperoleh penulis dari dua

jenis data yaitu:

1. Data Primer

Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari hasil wawancara

dengan pihak terkait sehubungan dengan penelitian ini.

2. Data Sekunder

Data sekunder adalah sekumpulan informasi yang telah ada sebelumnya

dan dengan sengaja dikumpulkan oleh peneliti yang digunakan untuk

melengkapi kebutuhan data penelitian. Biasanya data-data ini berupa

diagram, grafik, atau tabel sebuah informasi penting. Data sekunder dalam

penelitian ini adalah data pengadaan perlengkapan siswa sekolah dasar se-

kabupaten lima puluh kota.

39
3.2. Teknik Pengumpulan Data

Untuk mengadakan penelitian dalam memperoleh data, maka

diperlukan suatu metode yang tepat dan sesuai dengan tujuan penelitian

sehingga penulis memiliki metode yang jelas mengenai mekanisme perolehan

data atau jawaban yang diperlukan. Dengan demikian, untuk memperoleh

data yang sesuai dengan tujuan penelitian, maka penulis menggunakan

metode kepustakaan (library research) dan metode penelitian lapangan (field

research) yang dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Studi kepustakaan (library research), merupakan penyelidikan

melalui buku-buku kepustakaan dan berbagai sumber bacaan dengan

mengkaji teori-teori yang ada.

2. Penelitian lapangan (field research), merupakan penelitian yang

mengharuskan penulis untuk turun langsung kelapangan atau objek

penelitian guna memperoleh data- data yang berkaitan dengan

penyidikan kejaksaan dalam mengatasi korupsi.

3.4. Populasi dan Sampel dan Teknik sampling

Penelitian ini menggunakan teknik sampling, yaitu dengan

menggunakan sampel yang diambil dari populasi yang ada, dimana sampel

tersebut dapat mewakili keseluruhan dari objek penelitian yaitu semua

responden yang berkaitian dengan pelaksanaan untuk mendapatkan sampel

guna mendapatkan data untuk memecahkan permasalahan penelitian ini.

Narasumber dalam penelitian ini adalah kejaksaan payakumbuh.

a. Analisis Data

40
Setelah memperoleh data primer dan data sekunder seperti

tersebut diatas, maka untuk menyeleseikan sebuah karya tulis yang

terpadu dan sistematis, maka digunakan suatu sistem analisis data

yaitu analisis kualitatif dan deskriptif, yaitu dengan cara

menyelaraskan dan menggambarkan keadaan yang nyata mengenai

peran jaksa dalam mengatasi tindak pidana korupsi. Hasil

wawancara dan studi kepustakaan tersebut kemudian diolah dan

dianalisis secara kualitatif untuk menghasilkan data yang bersifat

deskriptif.

41
42
DAFTAR KEPUSTAKAAN

Buku :

Alatas, Syed Husein – Sosiologi Korupsi: Sebuah Penjelajahan Dengan Data

Kontemporer (Jakarta: LP3ES, 1981), hlm. 30.

Hamzah, Andi – Hukum Acara Pidana Indonesia (Jakarta: Sinar Grafika, 2008),

hlm. 120.

Hamzah, Andi – Korupsi Dalam Proyek Pembangunan (Jakarta: Akademi

Pressindo, 1984).

Harahap, M. Yahya – Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP:

Penyidikan dan Penuntutan (Jakarta: Sinar Grafika, 2006), hlm. 210.

Hafild, Emmy – Transparency International Annual Report (Jakarta:

Transparency International, 2004), hlm. 4.

Kligaard, Robert – Penuntun Pemberantasan Korupsi dalam Pemerintahan Daerah

(Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2005), hlm. 3.

Lamintang, P.A.F. – Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia (Bandung: PT. Citra

Aditya Bakti, 1996), hlm. 7.

Marpaung, Laden – Asas-Teori-Praktek Hukum Pidana (Jakarta: Sinar Grafika,

2005), hlm. 31.

Moeljatno – Asas-Asas Hukum Pidana (Jakarta: Bina Aksara, 2005), hlm. 20.

Poernomo, Bambang – Asas-Asas Hukum Pidana (Jakarta: Ghalia Indonesia,

1992), hlm. 130.

43
Rae, Gradios Nyoman Tio – Good Governance dan Pemberantasan Korupsi

(Jakarta: Saberro Inti Persada, 2020).

W.J.S. Poerwadaminta – Kamus Umum Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka,

1989), hlm. 1230.

Jurnal :

Hutapea, Josua D. W. – “Tugas dan Wewenang Jaksa dalam Pemeriksaan Tindak

Pidana Korupsi,” E-Jurnal Unsrat, hlm. 60.

Kartika, Shanti Dwi et al. – Korupsi dan KPK dalam Perspektif Hukum,

Ekonomi, dan Sosial (P3DI Setjen DPR RI dan Azza Grafika, 2015), v.

Loventa, Rizkika Maharani – “Analisis Putusan Pengadilan Negeri Kasus Tindak

Pidana Korupsi oleh Kepolisian Republik Indonesia (Studi Kasus Putusan

Nomor 01/[Link]/2017/[Link]),” Jurnal Combines 1, no. 1

(Februari 2021): Universitas Internasional Batam.

Nugroho, T. – “Peran Kejaksaan dalam Sistem Peradilan Pidana di Indonesia,”

Jurnal Penegakan Hukum 8, no. 2 (2019): 67-82.

Santoso, D. – “Dampak Korupsi terhadap Pembangunan Ekonomi di Indonesia,”

Jurnal Ekonomi dan Hukum 15, no. 3 (2020): 210-225.

Handayani, D. – “Independensi Kejaksaan dalam Penegakan Hukum di

Indonesia,” Jurnal Hukum dan Keadilan 5, no. 1 (2018): 123-135.

Soewartojo, Juniadi – Korupsi: Pola Kegiatan dan Penindakan Serta Peran

Pengawasan dalam Penanggulangan (Jakarta: Restu Agung, 1992), hlm.

14.

44
Peraturan Perundang-Undangan :

Peraturan Presiden No. 86 Tahun 1999 – diakses melalui

[Link]

Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 – Tentang Kepolisian Negara Republik

Indonesia.

Website, dan Lain-lain

Aziza, Dimas Arya – “Penerapan Delik Jabatan Dalam Pasal 3 dan Pasal 11

Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1999 Jo Undang-Undang Nomor 20

Tahun 2001 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi,” Binamulia

Hukum 7, no. 2 (2018): 169, [Link]

Blog Kementerian Keuangan RI Direktorat Jenderal Pembendaharaan – diakses

pada 8 September 2024,

[Link]

[Link].

Transparency International Indonesia – diakses 7 September 2024,

[Link]

kembali-ke-titik-nol/.

[Link] pdf ,

diunduh tanggal 18 November 2024, pukul 22:55 WIB.

45
46

Anda mungkin juga menyukai