PERANAN JAKSA AGUNG PAYAKUMBUH DALAM PENYIDIKAN
TINDAK PIDANA KORUPSI PENGADAAN PERLENGKAPAN SISWA
SEKOLAH DASAR SE-KABUPATEN LIMA PULUH KOTA
Usulan Penelitian
Diajukan untuk disetujui oleh Program Studi S1 Ilmu Hukum
Konsentrasi : Hukum Pidana
OLEH:
GANESYA SURYADI
21100001
PROGRAM STUDI ILMU HUKUM
SEKOLAH TINGGI ILMU HUKUM PUTRI MAHARAJA
PAYAKUMBUH
2024
1
DAFTAR ISI
BAB I............................................................................................................................3
PENDAHULUAN........................................................................................................3
1.1. Latar Belakang Masalah.................................................................................3
1.2. Rumusan Masalah...........................................................................................9
1.3 Tujuan Penelitian.................................................................................................9
1.4. Manfaat Penelitian............................................................................................10
1.4.1 Manfaat Teoritis................................................................................10
1.4.2 Manfaat Praktis.................................................................................10
BAB II.........................................................................................................................11
TINJAUAN PUSTAKA............................................................................................11
2.1 Penelitian Sebelumnya yang Relevan...........................................................11
2.2 Landasan Teori..............................................................................................13
2.2.1 Kejaksaan......................................................................................................13
[Link] Pengertian Kejaksaan Republik Indonesia......................................13
[Link] Fungsi dan Peran Kejaksaan Republik Indonesia...........................13
[Link] Tugas dan Wewenang Kejaksaan Republik Indonesia...................13
[Link] Pengertian Penyidikan....................................................................13
2.2.2 Pengertian Tindak Pidana Korupsi...................................................13
[Link] Pengertian Tindak Pidana...............................................................13
2
[Link] Korupsi............................................................................................13
[Link] Undang-undang Korupsi.................................................................14
2.2.3 Pengadaan Perlengkapan Siswa...................................................14
[Link] Pengertian Perlengkapan Siswa...................................................14
BAB III.......................................................................................................................14
METODE PENELITIAN..........................................................................................14
3.1. Pendekatan Penelitian.......................................................................................14
3.2. Sumber Data Penelitian.....................................................................................14
3.2. Teknik Pengumpulan Data................................................................................15
3.4. Populasi dan Sampel dan Teknik sampling......................................................15
DAFTAR KEPUSTAKAAN.....................................................................................17
3
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Negara Indonesia ialah negara hukum yang berdasarkan Pancasila
dan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945, negara
Indonesia juga merupakan negara demokrasi yang menjunjung tinggi falsafah
dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.
Dalam mewujudkan Indonesia sebagai negara hukum yang Adil dan
Makmur maka semua lapisan masyarakat, baik itu warga negara atau aparat
pemerintahan harus bertanggung jawab atas perannya sebagai warga negara
yang baik maka, wajib hukum nya mematuhi aturan yang ada. Karena hukum
merupakan tatanan atau kaidah yang harus dijunjung tinggi oleh rakyat di
dalam suatu negara agar tujuan dari negara bisa tercapai.
Tujuan negara tidak akan terwujud jika segelintir orang yang
memiliki kuasa dan akses kepada kebijakan masih menyalah gunakan kuasa
meraka. Oleh karena itu dalam mewujudkan suatu tatanan hukum yang adil
dan Makmur, maka equality before the law harus di tegakan, dengan
demikian pemerintah, negara beserta aparatnya harus melaksanakan
kekuasaannya berlandaskan hukum, sehingga dalam kehidupan berbangsa
harus dijunjung tinggi nilai-nilai substansial yang menjiwai hukum dan
menjadi tuntutan masyarakat.
4
Korupsi bagaikan lingkaran setan yang hampir telah masuk ke dalam
sistem perekonomian, sistem politik, dan sistem penegakan hukum. Semakin
masif kampanye untuk melawan korupsi namun justru semakin banyak
terkuak kasus korupsi yang menjerat para pejabat, baik pejabat di daerah
hingga level pemerintahan. Negara yang dalam hal ini pemerintah Indonesia
telah berusaha untuk memberikan penanganan yang maksimal untuk
permasalahan tindak pidana korupsi melalui perangkat hukum yang dibuat
yakni undang-undang, namun seperti yang diketahui bersama masyarakat luas
masih menganggap negara membutuhkan obat mujarab untuk mengobati
penyakit masyarakat Indonesia yang bernama korupsi. 1
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, yang telah diubah dengan Undang-
Undang Nomor 20 Tahun 2001, korupsi didefinisikan sebagai:
“ Setiap perbuatan yang memperkaya diri sendiri atau orang lain atau
suatu korporasi dengan cara melawan hukum yang dapat merugikan
keuangan negara atau perekonomian negara. ”
Maraknya korupsi di Indonesia disinyalir terjadi di semua bidang
dan sektor pembangunan, mulai dari pusat hingga ke daerah, bahkan sampai
ke tingkat yang lebih rendah.2
Korupsi secara universal menimbulkan persepsi negatif karena
kaitannya dengan penyalahgunaan wewenang untuk keuntungan pribadi atau
1
. Dimas Arya Aziza “Penerapan Delik Jabatan Dalam Pasal 3 dan Pasal 11 Undang-
Undang Nomor 3 Tahun 1999 Jo Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan
Tindak Pidana Korupsi” Binamulia Hukum 7, no. 2 (2018):
169,[Link]
2
Shanti Dwi Kartika et al., Korupsi dan KPK dalam Perspektif Hukum, Ekonomi, dan
Sosial., ( P3DI Setjen DPR RI dan Azza Grafika 2015 ) Hlm V.
5
merugikan orang lain. Hilangnya kepercayaan pada lembaga, hambatan
kemajuan ekonomi, dan potensi dampak sosial dan politik yang mendalam
menjadi ciri dampak buruknya.
Pada Indeks Persepsi Korupsi (CPI) 2023, yang diluncurkan
oleh Transparency International pada Januari 2024, menunjukkan bahwa
Indonesia terus mengalami tantangan serius dalam melawan korupsi. “CPI
Indonesia tahun 2023 berada di skor 34/100 dan berada di peringkat 115 dari
180 negara yang disurvei. Skor ini 34/100 ini sama dengan skor CPI 2022
lalu.” ungkap Wawan Suyatmiko, Deputi Sekretaris Jenderal Transparency
International Indonesia.3
Dalam rangka penegakan hukum tindak pidana korupsi, Negara
Indonesia memiliki 65 peraturan perundang-undangan terkait dengan
pemberantasan tindak pidana korupsi4. Salah satu peraturan perundang-
undangan yang mengatur tentang pemberantasan tindak pidana korupsi
adalah Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak
Pidana Korupsi jo Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan
UndangUndang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana
Korupsi. Dalam peraturan perundang-undangan tersebut terdapat jenis
penjatuhan pidana yang dilakukan oleh hakim terhadap tindak pidana korupsi,
3
Transparency International Indonesia, diakses 7 September 2024, tersedia di
[Link]
4
Rizkika Maharani Loventa, “Analisis Putusan Pengadilan Negeri Kasus Tindak Pidana
Korupsi oleh Kepolisian Republik Indonesia (Studi Kasus Putusan Nomor
01/[Link]/2017/[Link]),” Jurnal Combines 1, no. 1 (Februari 2021): Universitas
Internasional Batam.
6
seperti pidana penjara seumur hidup, pidana penjara dengan waktu yang telah
ditentukan, denda dan pidana mati.5
Dalam rangka penegakan hukum tindak pidana korupsi, Negara
Indonesia memiliki penegak hukum yang memiliki kewenangan untuk
memeriksa, mengadili dan memutus perkara tindak penyalahgunaan
wewenang yang dilakukan oleh pejabat negara atau badanbadan negara guna
menciptakan keadilan, ketentraman dan ketertiban dalam negara dan
masyarakat. Untuk mencapai keberhasilan penegakan hukum atas tindak
pidana korupsi.
Berdasarkan sistem hukum Indonesia, penyidikan dan penyelidikan
korupsi dilakukan oleh penyidik polisi. Namun, setelah masuk pada era
reformasi dimana tindak pidana korupsi semakin merajalela, maka
dibentuklah Komisi Pemberantasan Korupsi. Komisi Pemberantasan Korupsi
memiliki hubungan kewenangan dengan Penyidik Kepolisian dan Jaksa
Penentut Umum yaitu melakukan penyidikan, penyeledikan dan penuntutan
terhadap tindak pidana korupsi. Hubungan kewenangan antara ketiga institusi
tersebut tidak memiliki pembagian khusus. Ketiganya melakukan tindakan
hukum terhadap pelaku tindak pidana korupsi berdasarkan laporan dugaan
korupsi6. Dalam menjalankan tugasnya, apabila terbukti ada yang melakukan
tindak pidana korupsi dan terbukti melawan hukum, maka penegak hukum
wajib memproses perbuatan tersebut dengan hukuman yang ada sesuai
5
Gradios Nyoman Tio Rae, Good Governance dan Pemberantasan Korupsi (Jakarta:
Saberro Inti Persada, 2020).
6
Faisal Santiago, “Penegakan Hukum Tindak Pidana Korupsi oleh Penegak Hukum
untuk Terciptanya Ketertiban Hukum,” Jurnal Pagaruyuang Law 1, no. 1 (Juli 2017): Universitas
Muhammadiyah Sumatera Barat
7
dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku tanpa memandang status
dan jabatannya7 .
Kebanyakan kasus korupsi yang terjadi saat ini dilakukan oleh
aparatur negara baik pegawai negeri ataupun pejabat negara. Lebih
memprihatinkan lagi, kini korupsi merambah ke bidang pendidikan,
khususnya pada pengadaan bantuan seragam sekolah yang Sumber
pembiayaan program ini berasal dari APBD (DAU) melalui Dinas
Pendidikan.
Dana Alokasi Umum atau DAU adalah dana yang bersumber dari
APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) yang penggunaannya
untuk mendanai kegiatan fisik dan/atau nonfisik bidang-bidang yang sudah
ditentukan seperti Pendidikan, Kesehatan, dan Pekerjaan Umum.8
Pada kenyatan nya, penggunaan APBD (DAU) ini, tidak selalu
seperti apa yang diharapkan oleh pemerintah. Adanya oknum yang tidak
bertanggung jawab yang mengambil kesempatan dalam kesempitan pada
penggunaan anggaran ini membuat tujuan awal dari bantuan yang di berikan
tidak tercapai.
Pada berita yang beredar di media social baru-baru ini menyebutkan
bahwa terdapat Kontroversi dalam Bantuan Pengadaan Seragam Sekolah
Senilai 8 Miliar di daerah Kawasan Lima Puluh Kota yang mana anggaran
yang di gunakan merupakan dana yang bersumber dari APBD (DAU).
7
Oksidelfa Yanto, “Efektivitas Putusan Pemidanaan Maksimal Bagi Pelaku Tindak
Pidana Korupsi dalam Rangka Pengetasan Kemiskinan” Jurnal Hukum 1, no. 2 (Agustus 2017):
Universitas Pamulang.
8
Kementerian Keuangan RI Direktorat Jenderal Pembendaharaan, diakses 8 September
2024, [Link]
[Link]
8
Selain itu dalam pengadaan bantuan ini masyarakat beranggapan
bahwa adanya unsur politik terselubung oleh aparat pemerintah yang sedang
menjabat yang pada tahun bantuan ini di realisasikan bertepatan dengan
habisnya masa jabatan kepala daerah di Kabupaten Lima Puluh Kota.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis tertarik untuk
mengangkat masalah ini dalam bentuk skripsi yang berjudul : Peranan Jaksa
Agung Payakumbuh dalam Penyidikan Tindak Pidana Korupsi
Pengadaan Kelengkapan Siswa Sekolah Dasar se-Kabupaten Lima
Puluh Kota.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang
diangkat dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana pelaksaan penyidikan oleh Kejaksaan Agung Payakumbuh
terhadap Tindak Pidana Korupsi dalam pengadaan kelengkapan siswa
sekolah dasar se-Kabupaten Lima Puluh Kota.
2. Apa kendala dalam pelaksaan penyidikan oleh Kejaksaan Agung
Payakumbuh terhadap Tindak Pidana Korupsi dalam pengadaan
kelengkapan siswa sekolah dasar se-Kabupaten Lima Puluh Kota?
3. Bagaimana upaya pelaksaan penyidikan oleh Kejaksaan Agung
Payakumbuh terhadap Tindak Pidana Korupsi dalam pengadaan
kelengkapan siswa sekolah dasar se-Kabupaten Lima Puluh Kota?
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
9
1. Untuk mengetahui dan menganalisa pelaksaan penyidikan oleh
Kejaksaan Agung Payakumbuh terhadap Tindak Pidana Korupsi
dalam pengadaan kelengkapan siswa sekolah dasar se-Kabupaten
Lima Puluh.
2. Untuk mengetahui dan menganalisa kendala pelaksaan penyidikan
oleh Kejaksaan Agung Payakumbuh terhadap Tindak Pidana Korupsi
dalam pengadaan kelengkapan siswa sekolah dasar se-Kabupaten
Lima Puluh Kota.
3. Untuk mengetahui dan menganalisa upaya yang dilakukan dalam
pelaksaan penyidikan oleh Kejaksaan Agung Payakumbuh terhadap
Tindak Pidana Korupsi dalam pengadaan kelengkapan siswa sekolah
dasar se-Kabupaten Lima Puluh Kota.
1.4. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang didapat dari penelitian ini adalah:
1.4.1 Manfaat Teoritis
a. Memberikan sumbangan pemikiran bagi pengembangan hukum pada
umumnya dan hukum pidana khususnya serta menambah
pengetahuan tentang peran Kejaksaan dalam menangangi kasus
korupsi.
b. Merupakan salah satu sarana penulis untuk mengumpulkan data
sebagai untuk mengumpulkan sebagai bahan dalam penyususn
penulisan hukum guna melengkapi persyaratan tugas.
10
1.4.2 Manfaat Praktis
a. Untuk memperoleh informasi yang jelas tentang tugas dan peranan
Kejaksaan Negri dalam menangani kasus Pidana Kusus.
11
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Penelitian Sebelumnya yang Relevan
Penelitian yang relevan dalam penelitian ini adalah hasil dari
penelitian Dewi Novrita Saputri Utami (2017) dengan judul “ Peranan Jaksa
dalam Penyidikan Tindak Pidana Korupsi Anggaran Dana Bantuan
Operasional Sekolah. (Studi pada Kejaksaan Negeri Sukadana Lampung
Timur) Fakultas Hukum, Universitas Lampung, Bandar Lampung. Dalam
penelitian ini yang menjadi rumusan masalah adalah: 1. Bagaimanakah
peranan jaksa Negeri Sukadana Lampung Timur dalam penyidikan tindak
pidana korupsi anggaran dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS)?, 2.
Apakah faktor penghambat upaya Kejaksaan Negeri Sukadana Lampung
Timur dalam Penyidikan tindak pidana korupsi dana Bantuan Operasional
Sekolah (BOS)?
Dari rumusan masalah diatas bisa diambil kesimpulan bahwa: Peran
jaksa sebagai penyidik terhadap tindak pidana korupsi dana bantuan
operasional sekolah tertuang dalam Undang-Undang No.16 Tahun 2004
tentang Kejaksaan Republik Indonesia dan Pasal 284 ayat (2) KUHAP.
Aparat penyidik kejaksaan telah melakukan tugas dan fungsinya dengan baik.
Berdasarkan tugas dan wewenang kejaksaan yang tertuang dalam undang-
undang.
Faktor-faktor yang menghambat penerapan penyidikan tindak pidana
korupsi antara lain karna; Faktor hukumnya sendiri, bahwa aturan yang ada
saat ini dalam penanggulangan korupsi mempersempit kewenangan kejaksaan
12
dalam melakukan penyidikan karena ada lembaga lain yang berwenang
melakukan penyidikan yaitu Kepolisian. Namun bisa diatasi dengan adanya
koordinasi yang berkelanjutan. Faktor penegak hukum, kurangnya personel
dari penyidik kejaksaan dalam menangani perkara tindak pidana korupsi.
Selain itu juga SDM dari penyidik yang masih perlu ditingkatkan
karena biasanya pelaku tindak pidana korupsi mempunyai intelektual yang
tinggi. Hal lain yang dirasa kurang adalah tidak adanya personel lain yang
mempunyai keahlian di bidang ilmu lain dalam proses penyidikan seperti
Ahli Psikologi Kriminal yang dirasa kurang.
Faktor sarana atau fasilitas yang mendukung, selain masalah biaya
operasional, Modus operandi tindak pidana korupsi yang canggih tentu
membutuhkan penanganan yang lebih canggih pula. Seharusnya dengan
sarana yang canggih pula seperti untuk melakukan penyadapan maupun
peralatan lain yang diperlukan untuk melakukan penyidikan. Agar penyidik
terhindar dari ancaman suap.
Faktor masyarakat, hal yang menjadi penghambat penyidik adalah
saksi yang belum terbuka dan masih menutupi suatu kasus yang mereka
ketahui. Padahal keterangan saksi sangat penting perihal penyidikan yang
dilakukan oleh kejaksaan.
Faktor kebudayaan, yakni sebagai hasil karya, cipta dan rasa yang
didasarkan pada karsa manusia di dalam pergaulan hidup. Dalam penerapan
penyidikan terhadap tindak pidana korupsi, banyak masyarakat menolak
melaporkan suatu kasus korupsi di wilayahnya.
13
Faktor penghambat dari masyarakat biasanya adalah kurang terbuka
terhadap lingkungan dan aktifitas yang terjadi di lingkungan itu sendiri.
Karena takut terbongkarnya suatu aib di lingkungannya.
Faktor wilayah geografis, fator wilayah penyidikan yang luas dan
kondisi geografis alam di wilayah lampung timur bisa menghambat
terciptanya asas penyidikan yang cepat, sederhana dan biaya ringan.
2.2 Landasan Teori
2.2.1 Kejaksaan
[Link] Pengertian Kejaksaan Republik Indonesia
Kejaksaan Republik Indonesia adalah lembaga pemerintahan
yang berfungsi menjalankan kekuasaan negara di bidang penuntutan.
Tugas dan fungsinya mencakup penanganan perkara pidana, baik itu
proses penuntutan, pelaksanaan keputusan hukum, serta fungsi
penegakan hukum lainnya. 9
Menurut Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang
Kejaksaan Republik Indonesia, “Kejaksaan Negeri (Kejari) merupakan
lembaga pemerintahan yang melaksanakan kekuasaan negara di bidang
penuntutan serta kewenangan lain berdasarkan undang-undang yang
berlaku.“
Jaksa adalah pejabat fungsional yang diberi wewenang oleh
undang-undang untuk bertindak sebagai penuntut umum dan pelaksana
9
Handayani, D., “Independensi Kejaksaan dalam Penegakan Hukum di Indonesia,”
Jurnal Hukum dan Keadilan 5, no. 1 (2018): 123-135.
14
putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum serta
wewenang lain berdasarkan undang-undang. 10
[Link] Fungsi dan Peran Kejaksaan Republik Indonesia
Kejaksaan memiliki fungsi utama dalam proses penuntutan, di
mana kejaksaan menjadi pemegang kendali penuh atas proses hukum
sejak penyelidikan hingga pengadilan. Fungsi kejaksaan juga meliputi
pengawasan terhadap pelaksanaan keputusan pengadilan dan pemberian
bantuan hukum kepada pemerintah. Peran kejaksaan sebagai
“pengendali proses penuntutan” sangat penting untuk memastikan
adanya keseimbangan antara hak-hak terdakwa dan kepentingan
masyarakat.11
[Link] Tugas dan Wewenang Kejaksaan Republik Indonesia
Kejaksaan Republik Indonesia memiliki tugas yang luas, yang
mencakup penuntutan, pelaksanaan putusan pengadilan, dan
pengawasan terhadap pelaksanaan keputusan hukum yang telah
berkekuatan hukum tetap.12
Tugas dan wewenang jaksa dalam pemeriksaan suatu perkara
pidana adalah melakukan penuntutan, melaksanakan penetapan hakim
dan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap,
serta melakukan pengawasan terhadap pelepasan bersyarat serta
10
Josua D. W. Hutapea, “Tugas dan Wewenang Jaksa dalam Pemeriksaan Tindak Pidana
Korupsi,” E-Jurnal Unsrat, hlm. 60.
11
. T. Nugroho, “Peran Kejaksaan dalam Sistem Peradilan Pidana di Indonesia,” Jurnal
Penegakan Hukum 8, no. 2 (2019): 67-82.
12
Hari Sasangka “Penyidikan, Penahanan, Penuntutan, dan Praperadilan dalam Teori
dan Praktik (Bandung: Maju Mundur, 2007), hlm. 22.
15
melakukan penyidikan terhadap tindak pidana tertentu seperti tindak
pidana korupsi.
Kejaksaan Republik Indonesia sebagai lembaga negara
pemerintahan yang melaksanakan kekuasaan negara di bidang
penuntutan harus bebas dari pengaruh kekuasaan pihak manapun, yakni
dilaksanakan secara merdeka terlepas dari pengaruh kekuasaan
pemerintah dan pengaruh kekuasaan lainnya. Kejaksaan sebagai salah
satu lembaga penegak hukum dituntut lebih berperan dalam
menegakkan supremasi hukum, perlindungan kepentingan umum,
penegakan hak asasi manusia serta pemberantasan Korupsi, Kolusi, dan
Nepotisme (KKN).
Di dalam Pasai 1 butir 6 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981
Tentang Kitab UndangUndang Hukum Acara Pidana (KUHAP)
disebutkan bahwa :
a. Jaksa adalah pejabat yang diberi wewenang oleh undang-undang
ini untuk bertindak sebagai penuntut umum serta melaksanakan
putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum
tetap.
b. Penuntut umum adalah Jaksa yang diberi wewenang oleh undang-
undang ini untuk melakukan penuntutan dan melaksanakan
penetapan hakim.
Ketentuan di atas memberi pengertian bahwa penuntut umum
harus seorang Jaksa. Dan tugas Jaksa Penuntut Umum untuk
16
melakukan penuntutan dan melaksanakan penetapan hakim.
Sebagaimana juga disebutkan dalam Pasal 13 KUHAP bahwa
penuntut umum adalah Jaksa yang diberi wewenang oleh undang-
undang ini untuk melakukan penuntutan dan melaksanakan penetapan
hakim.
Secara garis besar setelah berlakunya, KUHAP, tugas Jaksa
adalah sebagai berikut ;
1. Sebagai penuntut umum;
2. Pelaksana putusan pengadilan yang telah mempunyai
kekuatan hukum tetap (eksekutor).
Dalam tugasnya sebagai penuntut umum, Jaksa mempunyai tugas :
1. Melakukan penuntutan.
2. Melaksanakan penetapan hakim.
Dua tugas tersebut dilakukan oleh penuntut umum dalam
proses persidangan pidana yang sedang berjalan. Tugas Jaksa
sebagai penuntut umum diatur dalam Pasal 13 KUHAP dan
dipertegas dalam Pasal 137 KUHAP. Penuntut umum berwenang
melakukan penuntutan terhadap siapapun yang didakwa melakukan
suatu tindak pidana dalam daerah hukumnya dengan melimpahkan
perkara ke pengadilan yang berwenang mengadilinya.13
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004 Pasal 30
Menyebutkan bahwa tugas dan wewenang Kejaksaan yaitu ;
13
E-Jurnal Unsrat Josua D. W. Hutapea,”Tugas dan Wewenang Jaksa dalam
Pemeriksaan Tindak Pidana Korupsi”, Hal 60.
17
1. Bidang Pidana : Kejaksaan bertugas melaksanakan kekuasaan
negara dalam bidang penuntutan, termasuk melakukan
penyidikan terhadap tindak pidana tertentu, misalnya tindak
pidana korupsi, pelanggaran HAM berat, dan terorisme.
Kejaksaan juga bertugas mengeksekusi putusan pengadilan
yang sudah berkekuatan hukum tetap.
2. Bidang Perdata dan Tata Usaha Negara: Kejaksaan dapat
bertindak sebagai pengacara negara dalam perkara perdata dan
tata usaha negara demi kepentingan negara atau pemerintah. Ini
berarti kejaksaan bisa mewakili pemerintah dalam menghadapi
kasus hukum di bidang tersebut.
3. Bidang Ketertiban dan Ketenteraman Umum: Kejaksaan
bertugas untuk mendukung penegakan hukum, memberikan
penyuluhan dan penerangan hukum, serta mengawasi
peredaran barang cetakan, termasuk mendukung kegiatan
pemeliharaan keamanan dan ketertiban umum.
4. Peningkatan Kesadaran Hukum Masyarakat: Kejaksaan
memiliki tugas untuk memberikan edukasi kepada masyarakat
terkait hukum agar tercipta masyarakat yang taat hukum.
Wewenang kejaksaan juga dijelaskan dalam undang-
undang yang sama, antara lain:
18
1. Melakukan Penuntutan: Kejaksaan memiliki wewenang untuk
melakukan penuntutan terhadap pelaku tindak pidana di
pengadilan.
2. Melaksanakan Penetapan Hakim dan Putusan Pengadilan:
Setelah putusan pengadilan memiliki kekuatan hukum tetap,
kejaksaan berwenang untuk melaksanakannya, termasuk
eksekusi hukuman pidana.
3. Melakukan Penyidikan Tindak Pidana Tertentu: Dalam kasus
tertentu, seperti tindak pidana korupsi dan pelanggaran HAM
berat, kejaksaan memiliki wewenang untuk melakukan
penyidikan.
4. Melakukan Pembinaan: Kejaksaan juga memiliki wewenang
untuk melakukan pembinaan terhadap aparat penegak hukum
lainnya dan masyarakat.
5. Pengawasan Terhadap Aliran Kepercayaan: Kejaksaan
memiliki wewenang untuk mengawasi aliran-aliran
kepercayaan yang dapat membahayakan ketertiban umum dan
stabilitas negara.
6. Pengawasan Barang Cetakan dan Media: Kejaksaan mengawasi
barang-barang cetakan yang dianggap membahayakan
ketertiban umum.
Ketentun lebih lanjut yang menjabarkan undang-undang
kejaksaan khususnya tentang tugas dan wewenang jaksa dalam
19
penegakan hukum tindak pidana korupsi terdapat dalam Keputusan
Presiden Nomor 86 tahun 1999 tentang susunan organisasi dan tata
kerja kejaksaan republik indonesia sebagai berikut :
Pasal 17 :
Jaksa Agung muda tindak pidana khusus mempunyai
tugas dan wewenang melakukan penyelidikan, penyidikan dan
pemeriksaan tambahan, penuntutan, pelaksanaan putusan hakim
dan putusan pengadilan, pengawasan terhadap pelaksanaan
keputusan lepas bersyarat dan tindakan hukum lain mengenai
tindak pidana ekonomi,tindak pidana korupsi dan tindak pidana
khusus lainnya berdasarkan peraturan perundang-undangnan dan
kebijaksanaan yang ditetapkan oleh jaksa agung.
Pasal 18 :
Untuk melaksanakan tugas dan wewenang sebagaimana
dimaksud dalam pasal 17, jaksa agung muda tindak pidana khusus
menyelenggarakan fungsi :
a. perumusan kebijaksanaan tekhnis kegiatan yustisial pidana khusus
berupa pemberian bimbingan dan pembinaan dalam bidang
tugasnya;
b. perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian kegiatan penyelidikan,
penyidikan, pemeriksaan tambahan, penuntutan, eksekusi atau
melaksanakan penetapan hakim, dan putusan pengadilan,
pengawasan terhadap pelaksanaan keputusan lepas bersyarat dan
tindakan hukum lain serta pengadministrasiannya;
20
c. pembinaan kerja sama, pelaksanaan koordinasi dan pemberian
bimbingan serta petunjuk teknis dalam penanganan perkara tindak
pidana khusus 23 dengan instansi dan lembaga terkait mengenai
penyelidikan dan penyidikan berdasarkan peraturan perundang-
undangan dan kebijaksanaan yang ditetapkan oleh Jaksa Agung;
d. pemberian saran, konsepsi tentang pendapat dan/atau pertimbangan
hukum Jaksa Agung mengenai perkara tindak pidana khusus dan
masalah hukum lainnya dalam kebijaksanaan penegakan hukum;
e. pembinaan dan peningkatan kemampuan, keterampilan dan
integritas kepribadian aparat tindak pidana khusus di lingkungan
Kejaksaan;
f. pengamanan teknis atas pelaksanaan tugas dan wewenang
Kejaksaan di bidang tindak pidana khusus berdasarkan peraturan
perundang-undangan dan kebijaksanaan yang ditetapkan oleh Jaksa
Agung;
g. pemberian saran pertimbangan kepada Jaksa Agung dan
pelaksanaan tugas-tugas lain sesuai dengan petunjuk Jaksa Agung.14
Berdasarkan ketentuan perturan perundang-undangan di
atas dapat dikatakan tugas dan wewenang kejaksaan dalam
penegakan hukum pemberantasan tindak pidana korupsi adalah
melakukan penyelidikan, penyidikan, penuntutan, melaksanakan
penetapan hakim dan putusan pengadilan serta mengadakan
tindakan-tindakan hukum lainnya. Oleh karena itu, peranan yang
14
[Link]
21
seharusnya adalah sesuai dengan tugas dan wewenang kejaksaan
dibidang penegakan hukum tindak pidana korupsi yaitu melakukan
penyelidikan, penyidikan, penuntutan, melaksanakan penetapan
hakim dan putusan pengadilan serta tindakan-tindakan hukum
lainnya.
“ Serangkaian tindakan penyidikan dalam hal dan menurut cara
yang diatur dalam undang-undang ini untuk mencari serta
mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang
tentang tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan
tersangkanya”.
Sebagaimana diatur dalam pasal 1 ayat (2) KUHAP di atas
menjelaskan bahwa penyidikan adalah setiap tindakan penyidik
untuk mencari bukti-bukti yang dapat meyakinkan atau
mendukung keyakinan bahwa perbuatan pidana atau perbuatan
yang dilarang oleh ketentuan pidana itu benar-benar terjadi.
Pengumpulan bahan keterangan untuk mendukung keyakinan
bahwa perbuatan pidana itu telah terjadi, harus dilakukan dengan
cara mempertimbangkan dengan saksama makna dari kemauan
hukum sesungguhnya, dengan parameter apakah perbuatan atau
tinjuperistiwa pidana (kriminal) itu bertentangan dengan nilai-nilai
yang hidup pada komunitas yang di masyarakat setempat, misalnya
22
perbuatan itu nyata-nyata merugikan pihak lain di peristiwa
tersebut.15
[Link] Pengertian Penyidikan
Penyidikan suatu istilah yang dimaksudkan sejajar dengan
pengertian opsporing (Belanda) dan investigation (Inggris) atau
penyiasatan atau siasat (Malaysia).16 Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang
Nomor 8 Tahun 1981 Tentang KUHAP, penyidik adalah pejabat polisi
negara Republik Indonesia atau pejabat pegawai negeri sipil tertentu
yang diberi wewenang khusus oleh undang-undang untuk melakukan
penyidikan.
Pasal 1 ayat (2) Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik
Indonesia Tentang Manajemen Penyidikan Tindak Pidana, memberi
definisi penyidikan sebagai berikut ;17
Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2010 pada Pasal 2A
ayat (1), dirumuskan penyidik adalah : Untuk dapat diangkat sebagai
pejabat penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 2 huruf a, calon harus memenuhi syarat :
a. Berpangkat paling rendah Inspektur Dua Polisi dan
berpendidikan paling rendah sarjana strata satu atau yang
setara;
15
Hari Sasangka, “ Penyidikan, Penahanan, Penuntutan, Dan Praperadilan Dalam Teori
Dan Persktek, Maju Mundur”, Bandung, 2007, hlm. 22
16
Andi Hamzah, “Hukum Acara Pidana Indonesia”, Sinar Grafika, Jakarta, 2008, hlm.
120.
17
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia
23
b. Bertugas di bidang fungsi penyidikan paling singkat 2 (dua)
tahun;
c. Mengikuti dan lulus pendidikan pengembangan spesialisasi
fungsi reserse kriminal;
d. Sehat jasmani dan rohani yang dibuktikan dengan surat
keterangan dokter; dan
e. Memiliki kemampuan dan integritas moral yang tinggi
Selain terdapat penyidik seperti yang telah dijelaskan diatas
berdasarkan Pasal 10 KUHAP terdapat pula penyidik pembantu.
Penyidik pembantu berdasarkan Pasal 10 ayat (1) KUHAP adalah
pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia yang diangkat oleh
Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia, berdasarkan syarat
kepangkatan dalam ayat (2) Pasal ini disebutkan bahwa syarat
kepangkatan diatur dengan peraturan pemerintah.
Undang-Undang Nomor 2 tahun 2002 Tentang Kepolisian
Republik Indonesia, terdapat ketentuan yang secara khusus mengatur
tentang penyidikan, penuntutan, dan pemertiksaan disidang pengadilan
yang tidak diatur didalam kitab undangundang hukum acara pidana
(KUHAP) dan hal ini merupakan relevansi asas hukum pidana (Lex
Specialist Derogat lex Generalist) secara sosiologi, kewenangan polisi
dalam proses pemeriksaan pendahuluan ini dilihat sebagai kedudukan
(Status) dan peranan (Rule).
24
Menurut M. Yahya Harahap, pengertian penyidikan adalah suatu
tindakan lanjut dari kegiatan penyelidikan dengan adanya suatu
terjadinya peristiwa tindak pidana. Persyaratan dan pembatasan yang
ketat dalam penggunaan upaya paksa setelah pengumpulan bukti
permulaan yang cukup guna membuat terang suatu peristiwa yang patut
diduga merupakan tindak pidana.18
Menurut De Pinto, menyidik (opsporing) berarti “pemeriksaan
permulaan oleh pejabat-pejabat yang untuk itu ditunjuk oleh undang-
undang segera setelah mereka dengan jalan apa pun mendengar kabar
yang sekedar beralasan, bahwa ada terjadi sesuatu pelanggaran
hukum”.19
Pengertian Tindak Pidana Korupsi
[Link] Pengertian Tindak Pidana
Pidana berasal dari kata straf (Belanda), yang pada dasarnya
dapat diartikan sebagai suatu penderitaan (nestapa) yang sengaja
dikenakan/ dijatuhkan kepada seseorang yang telah terbukti bersalah
melakukan suatu tindak pidana. Para ahli hukum di Indonesia
membedakan istilah hukuman dengan pidana. Istilah hukuman adalah
istilah umum yang dipergunakan untuk semua jenis sanksi baik dalam
ranah hukum perdata, administratif, disiplin dan pidana, sedangkan
18
M Yahya Harahap, Pembahasan Permasalahan Dan Penerapan KUHAP : Penyidikan Dan
Penuntutan, Sinar Grafika, Jakarta, 2006, hlm. 210.
19
[Link] diunduh
tanggal 18 November 2024 Pukul 22:55 WIB.
25
istilah pidana diartikan secara sempit yaitu hanya sanksi yang berkaitan
dengan hukum pidana .20
Pidana dalam konteks hukum pidana Indonesia adalah sanksi
yang diberikan kepada seseorang yang terbukti melakukan tindakan
yang melanggar hukum. Pidana memiliki berbagai bentuk, mulai dari
hukuman penjara, denda, hingga pidana mati untuk pelanggaran berat.
Menurut Arifin (2019), tujuan dari pidana adalah untuk mencegah
terjadinya kejahatan dan melindungi masyarakat dengan memberikan
efek jera kepada pelaku serta memperbaiki ketertiban sosial yang
terganggu akibat kejahatan tersebut.21
Ketentuan hukum pidana dapat dikategorikan menjadi hukum
pidana umum (ius commune) dan hukum pidana khusus (ius singulare,
ius speciale, atau bijzonder strafrecht). Ketentuan hukum pidana umum
dimaksudkan berlaku secara umum, seperti termaktub dalam KUHP,
sedangkan yang dimaksud dengan ketentuan hukum pidana khusus
menurut Pompe A. Nolten, Sudarto, dan E.Y. Kanter diartikan sebagai
ketentuan hukum pidana yang mengatur kekhususan subyek dan
perbuatan yang khusus (bijzonder lijk feiten). Tindak pidana korupsi
sebagai bagian dari tindak pidana khusus juga memiliki kekhususan
dalam hukum acaranya.22
20
Ibit, Hlm. 80.
21
^[Arifin, A. (2019). “Konsep Pidana dan Tujuannya dalam Hukum Pidana
Indonesia.” Jurnal Hukum Pidana dan Kriminologi, 7(1), 89-105.]
22
26
Tindak pidana merupakan pengertian dasar dalam hukum
pidana. Tindak pidana merupakan suatu pengertian yuridis, lain halnya
dengan istilah perbuatan jahat atau kejahatan. Secara yuridis formal,
tindak kejahatan meupakan bentuk tingkah laku yang melanggar
undang-undang pidana. Oleh sebab itu setiap perbuatan yang dilarang
oleh undang-undang harus dihindari dan barang siapa melanggarnya
maka akan dikenakan pidana. Jadi larangan-larangan dan kewajiban-
kewajiban tertentu yang harus ditaati oleh setiap warga Negara wajib
dicantukan dalam undang-undang maupun peraturan-peraturan
pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah.23
Pengertian tindak pidana dalam Kitab Undang-Undang Hukum
Pidana (KUHP) dikenal dengan istilah stratbaar feit dan dalam
kepustakaan tentang hukum pidana sering mempergnakan istilah delik,
sedangkan pembuat undang-undang merumuskan suatu undang-undang
mempergunakan istilah peristiwa pidana atau perbuatan pidana atau
tindak pidana.
Menurut Moeljatno, perbuatan pidana adalah perbuatan yang
dilarang oleh suatu aturan hukum larangan mana disertai ancaman
(sanksi) yang berupa pidana tertentu, bagi barang siapa melanggar
larangan tersebut.24 Sedangkan menurut Poernomo perbuatan pidana
adalah suatuperbuatan yang oleh suatu aturan hukum pidana dilarang
23
P.A.F. Lamintang, 1996, Dasar-Dasar Hukum Pidna Indonesia, PT. Citra Aditya Bakti,
Bandung, Hlm 7
24
Poernomo,Bambang,1992,Asas-Asas Hukum Pidana, Ghalia Indonesia, Jakarta, Hlm
130
27
dan diancam dengan pidana bagi barang siapa yang melanggar larangan
tersebut.25
Selain itu ada pendapat beberapa ahli tentang Tindak pidana ;
Menurut Simons, menyatakan tindak pidana ialah suatu tindakan atau
perbuatan yang diancam dengan pidana oleh Undang-undang Hukum
Pidana, bertentangan dengan hukum pidana dan dilakukan dengan
kesalahan oleh seseorang yang mampu bertanggung jawab.26
Menurut E. Utrecht menyatakan tindak pidana ialah dengan
istilah peristiwa pidana yang sering juga ia sebut delik, karena peristiwa
itu merupakan suatu perbuatan atau sesuatu yang melalaikan maupun
akibatnya (keadaan yang ditimbulkan karena perbuatan melalaikan
itu).27
Sementara itu, menurut Moeljatno, perbuatan tindak pidana
ialah perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana, terhadap
siapa saja yang melanggar larangan tersebut. Perbuatan tersebut harus
juga dirasakan oleh masyarakat sebagai suatu hambatan tata pergaulan
yang dicita-citakan oleh masyarakat.28
[Link] Korupsi
Dari segi semantik korupsi berasal dari bahasa Inggris yaitu
corrupt, yang berasal dari bahasa Latin corruptio atau corruptos dalam
25
Laden Marpaung,2005,Asas-Teori-Praktek Hukum Pidana,Sinar Grafika,Jakarta,Hlm
31
26
Zainal Abidin, 2007,Hukum Pidana 1, Sinar Grafika , Jakarta, Hlm. 223.
27
Muhammad Ekaputra dan Abdul Kahir, 2010, Sistem Pidana di Dalam KUHP dan
Pengaturannya Menurut Konsep KUHP Baru, Usu Press, Medan, Hlm. 80.
28
Moeljatno, 2005, Asas-asas Hukum Pidana, Bina Aksara, Jakarta, Hlm. 20.
28
bahasa Yunani. Istilah ini kemudian berkembang dalam bahasa Inggris
dan Prancis menjadi corruption, bahasa Belanda koruptie dan dalam
bahasa Indonesia yaitu korupsi. Arti dari kata korupsi itu adalah
kebusukan, keburukan, kebejatan, ketidakjujuran, dapat disuap, tidak
bermoral menyimpang dari kesucian. 29
Dalam Kamus umum Bahasa Indonesia, korupsi adalah
perbuatan yang buruk seperti penggelapan uang, penerimaan uang
sogok dan sebagainya. Dalam kamus besar Bahasa Indonesia korupsi
adalah : “penyelewengan atau penggelapan uang negara atau
perusahaan, dan sebagainya untuk kepentingan pribadi atau orang lain”.
Sedangkan dalam The Lexicon Webster Dictionary dimuat arti kata
corrupt korupsi) antara lain : “penyelewengan atau penggelapan uang
negara atau perusahaan, dan sebagainya untuk kepentingan pribadi atau
orang lain”.
Pasal 1 butir 3 Undang-undang No.28 tahun 1999 tentang
Penyelenggaraan Negara yang bersih dan bebas dari Kolusi, Korupsi,
dan Nepotisme, menyatakan bahwa yang dimaksud dengan korupsi
adalah sebagai berikut: tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam
ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai
tindak pidana korupsi.
Menurut Transparancy International korupsi adalah ”perilaku
pejabat publik, baik politis maupun pegawai negeri, yang secara tidak
29
W.J.S. Poerwadaminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 1989,
hal. 1230.
29
wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya mereka yang
dekat dengannya dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang
dipercayakan kepadanya.30
Definisi korupsi banyak sekali, dalam arti luas, korupsi berarti
menggunakan jabatan untuk keuntungan pribadi. Jabatan adalah
kedudukan kepercayaan. Seseorang diberi wewenang atau kekuasaan
untuk bertindak atas nama lembaga. Lembaga itu bisa lembaga swasta,
lembaga pemerintah, atau lembaga nirlaba. Korupsi berarti memungut
uang bagi layanan yang sudah seharusnya diberikan, atau menggunakan
wewenang untuk mencapai tujuan yang tidak sah. Korupsi adalah tidak
melaksanakan tugas karena lalai atau sengaja.31
Korupsi juga bisa dinyatakan sebagai suatu pemberian, dalam
prakteknya korupsi lebih dikenal sebagai menerima uang yang ada
hubungan dengan jabatan tanpa ada catatan administrasinya. Secara
hukum pengertian korupsi adalah tindak pidana sebagaimana dimaksud
dalam ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang
tindak pidana korupsi. Pengertian korupsi dalam penulisan ini lebih
ditekankan pada perbuatan yang merugikan kepentingan publik atau
masyarakat luas untuk kepentingan pribadi atau golongan. Sedangkan
Menurut Muhammad Ali, korupsi adalah perbuatan busuk seperti
penggelapan uang, penerima uang sogok32
30
Emmy Hafild, Transparancy International Annual Report, Transparancy International, Jakarta
2004, hal. 4
31
Robert Kligaard, Penuntun Pemberantasan Korupsi dalam Pemerintahan Daerah, Yayasan
Obor Indonesia, Jakarta,2005, hal. 3
32
Andi Hamzah, “Korupsi Dalam Proyek Pembangunan”, Akademi Pressindo, Jakarta, 1984
30
Pengertian Korupsi secara yuridis adalah sebagaimana di atur
dalam beberapa pasal Undang-Undang No.31 Tahun 1999 jo Undang-
Undang No.20 Tahun 2001 antara lain :
Pasal 2 :
Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan
memperkaya diri sendiri atau orang lain atau korporasi yang dapat
merugikan keuangan negara/perekonomian negara, dipidana
penjara dengan penjara seumur hidup atau pidana penjara paling
singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 tahun dan denda paling
sedikit Rp.200.000.000,- (dua ratus juta) dan paling banyak
Rp.[Link],- (satu milyar rupiah)
Pasal 3 :
Setiap orang yang dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau
orang lain atau suatu korporasi, menyalahgunakan kewenangan,
kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau
kedudukan yang dapat merugikan keuangan negara atau
perekonomian negara, dipidana dengan penjara seumur hidup atau
pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 20
(dua puluh) tahun dan atau denda paling sedikit Rp.50.000.000,-
(lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp.[Link],-
(satu milyar rupiah)
31
Pengertian korupsi secara sosiologis dapat dilihat dari
beberapa pendapat para pakar dibawah ini : Syed Husein Alatas
mengatakan bahwa yang disebut korupsi apabila seorang pegawai
negeri menerima pemberian yang disodorkan oleh seorang swasta
dengan maksud mempengaruhinya agar memberikan perhatian
istimewa pada kepentingan-kepentingan si pemberi.33
Menurut Santoso (2020), korupsi di Indonesia merupakan
hambatan utama bagi pembangunan ekonomi dan sosial, karena praktik
korupsi sering kali terjadi di berbagai level pemerintahan, dari pusat
hingga daerah.34
Juniadi Soewartojo merumuskan korupsi secara singkat;
bahwa korupsi pada hakekatnya merupakan tingkah laku/tindakan
seesorang yang melanggar norma-norma dengan tujuan memperoleh
keuntungan pribadi dan merugikan keuangan negara/masyarakat baik
langsung atau tidak.35
Baharuddin Lopa merumuskan korupsi adalah suatu tindak
pidana yang berhubungan dengan penyuapan, manipulasi dan
perbuatan-perbuatan lainnya sebagai perbuatan melawan hukum yang
merugikan atau dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian
negara, merugikan kesejahteraan atau kepentingan rakyat umum.
33
Syed Husein Alatas, “Sosiologi Korupsi Sebuah Penjelajahan Dengan Data
Kontemporer,LP3ES, Jakarta, 1981, Hal 30
34
^[Santoso, D. (2020). “Dampak Korupsi terhadap Pembangunan Ekonomi di Indonesia.” Jurnal
Ekonomi dan Hukum, 15(3), 210-225.]
35
Juniadi Soewartojo, Korupsi Pola Kegiatan dan Penindakan Serta Peran Pengawasan Dalam
Penanggulangan, Restu Agung, Jakarta, 1992, Hal 14.
32
Perbuatan yang merugikan keuangan dan perekonomian negara adalah
korupsi di bidang materiil, sedangkan korupsi di bidang politik dapat
terwujud berupa manipulasi pemungutan suara dengan cara penyuapan,
intimidasi, paksaan dan/atau campur tangan yang dapat mempengaruhi
kebebasan memilih komersialisasi pemungutan suara pada lembaga
legislatif atau pada putusan yang bersifat administrasi di bidang
pelaksanaan pemerintahan.
Berdasarkan definisi korupsi yang dikemukakan oleh para
ahli, maka dapat disimpulkan bahwa korupsi merupakan perbuatan
memperkaya diri atau orang-orang yang memiliki kedekatan, yang
dilakukan dengan mempergunakan kewenangan ataupun kekuasaan
yang ada padanya karena jabatan yang dimiliki olehnya dan perbuatan
tersebut merugikan keuangan negara atau perekonomian negara tetapi
juga merusak moralitas dan kepercayaan publik.
[Link] Undang-undang Korupsi
Berdasarkan ketentuan-ketentuan yang mengatur tentang tindak
pidana korupsi, dapat diamati bahwa sebenarnya perangkat hukum yang
telah dibuat oleh pemerintah bersama-sama dengan pihak legislatif
untuk menangani masalah tindak pidana korupsi sudah cukup untuk
menjerat pelaku tindak pidana korupsi.
Untuk mencegah terjadinya tindak pidana korupsi, pemerintah
bersama-sama dengan pihak legislatif telah menyusun berbagai
peraturan mengenai tindak pidana korupsi, antara lain sebagai berikut :
33
1. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan
Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepostime
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75,
Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 3851).
2. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan
Tindak Pidana Korupsi (Lembaran Negara Republik Tahun 1999
Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
3874) yang telah mengubah Undang-Undang Nomor 3 Tahun
1971.
3. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas
UndangUndang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan
Tindak Pidana Korupsi (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2001 Nomor 134, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4150).
4. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 137, Tambahan Lembaran
Negara Republik Nomor 4250).
5. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2019 tentang Perubahan Kedua
atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
34
6. TAP MPR Nomor XI/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Negara
yang Bersih dan Bebas KKN. Inpres Nomor 11 Tahun 2005
tentang Tim Koordinasi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
7. Inpres Nomor 11 Tahun 2005 tentang Tim Koordinasi
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
Pengadaan Perlengkapan Siswa
[Link] Pengertian Perlengkapan Siswa
Pengadaan perlengkapan siswa adalah proses perencanaan,
pengadaan, dan distribusi berbagai kebutuhan yang mendukung
kegiatan belajar siswa. Perlengkapan siswa mencakup barang-barang
seperti seragam, buku pelajaran, alat tulis, tas, sepatu, dan kebutuhan
lain yang relevan untuk mendukung pembelajaran di sekolah.
Pengadaan ini biasanya dilakukan oleh pihak sekolah,
pemerintah, atau lembaga terkait, baik untuk memenuhi kebutuhan
individu siswa maupun sebagai bagian dari program bantuan
pendidikan. 36
Dalam manajemen fasilitas pendidikan, pengadaan
perlengkapan siswa dirancang secara sistematis melalui tahap
perencanaan kebutuhan, analisis prioritas, hingga distribusi yang tepat
guna. Proses ini biasanya didasarkan pada kebutuhan spesifik siswa di
masing-masing sekolah serta ketersediaan anggaran.
Tujuan pengadaan perlengkapan siswa adalah memastikan
setiap siswa memiliki akses terhadap perlengkapan yang memadai
36
35
sehingga dapat belajar dengan optimal tanpa hambatan akibat
kurangnya fasilitas.37
Tahapan dalam pengadaan perlengkapan siswa meliputi:
1. Identifikasi kebutuhan: Menentukan jenis dan jumlah perlengkapan
yang diperlukan.
2. Perencanaan anggaran: Mengalokasikan dana untuk memenuhi
kebutuhan tersebut.
3. Pemilihan penyedia: Menggunakan mekanisme tertentu (seperti
lelang atau pembelian langsung) untuk mendapatkan barang
dengan kualitas dan harga terbaik.
4. Distribusi: Menyalurkan perlengkapan kepada siswa yang
membutuhkan.
5. Evaluasi: Memastikan perlengkapan yang disediakan sesuai dengan
kebutuhan dan standar kualitas.38
Pengadaan perlengkapan siswa di Indonesia diatur dalam
berbagai regulasi yang mendukung pendidikan, terutama yang berkaitan
dengan pengelolaan anggaran dan pengadaan barang dan jasa di sektor
pendidikan. Berikut beberapa undang-undang dan peraturan terkait:
1. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional
Mengatur prinsip-prinsip dasar pendidikan, termasuk tanggung
jawab pemerintah dalam menyediakan fasilitas pendidikan
37
Nasrudin dan Maryadi, “Manajemen Sarana dan Prasarana Pendidikan,” Universitas
Muhammadiyah Surakarta.
38
Kemendikbud ”Manajemen Fasilitas Pendidikan” Platform LMS SPADA.
36
untuk memastikan pemerataan akses belajar bagi seluruh
peserta didik.
2. Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2018 tentang Pengadaan
Barang/Jasa Pemerintah.
Mengatur tata cara pengadaan barang dan jasa, termasuk
pengadaan perlengkapan siswa oleh lembaga pemerintah
seperti sekolah yang didanai oleh APBN/APBD.
3. Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2021 tentang Standar
Nasional Pendidikan
Menyebutkan pentingnya sarana dan prasarana yang sesuai
dengan standar pendidikan nasional sebagai bagian dari upaya
meningkatkan mutu pendidikan.
4. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 19 Tahun
2020 tentang Petunjuk Teknis BOS Reguler
Mengatur alokasi dana BOS, yang sebagian dapat digunakan
untuk pengadaan perlengkapan siswa, seperti buku pelajaran,
alat tulis, atau perangkat belajar lainnya.
5. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara
Mengatur pengelolaan anggaran negara yang digunakan untuk
pembiayaan pendidikan, termasuk pengadaan barang untuk
siswa.
6. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan
Daerah
37
Menyatakan bahwa pemerintah daerah bertanggung jawab
dalam menyediakan layanan pendidikan, termasuk sarana dan
prasarana.
38
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Pendekatan Penelitian
Pendekatan yang dipergunakan dala penelitian ini menggunakan
pendekatan yurudis empiris, pendekatan yang digunakan dalam pendekatan
ini yaitu dengan meneliti dan mengumpulkan data primer yang diperoleh
secara lansung terhadap objek penelitian melalui observasi dan wawancara
dengan responden atau narasumber yang berhubungan dengan permasalahan
yang akan dibahas dalam penelitian ini.
3.2. Sumber Data Penelitian
Data yang diperlukan dalam penelitian ini diperoleh penulis dari dua
jenis data yaitu:
1. Data Primer
Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari hasil wawancara
dengan pihak terkait sehubungan dengan penelitian ini.
2. Data Sekunder
Data sekunder adalah sekumpulan informasi yang telah ada sebelumnya
dan dengan sengaja dikumpulkan oleh peneliti yang digunakan untuk
melengkapi kebutuhan data penelitian. Biasanya data-data ini berupa
diagram, grafik, atau tabel sebuah informasi penting. Data sekunder dalam
penelitian ini adalah data pengadaan perlengkapan siswa sekolah dasar se-
kabupaten lima puluh kota.
39
3.2. Teknik Pengumpulan Data
Untuk mengadakan penelitian dalam memperoleh data, maka
diperlukan suatu metode yang tepat dan sesuai dengan tujuan penelitian
sehingga penulis memiliki metode yang jelas mengenai mekanisme perolehan
data atau jawaban yang diperlukan. Dengan demikian, untuk memperoleh
data yang sesuai dengan tujuan penelitian, maka penulis menggunakan
metode kepustakaan (library research) dan metode penelitian lapangan (field
research) yang dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Studi kepustakaan (library research), merupakan penyelidikan
melalui buku-buku kepustakaan dan berbagai sumber bacaan dengan
mengkaji teori-teori yang ada.
2. Penelitian lapangan (field research), merupakan penelitian yang
mengharuskan penulis untuk turun langsung kelapangan atau objek
penelitian guna memperoleh data- data yang berkaitan dengan
penyidikan kejaksaan dalam mengatasi korupsi.
3.4. Populasi dan Sampel dan Teknik sampling
Penelitian ini menggunakan teknik sampling, yaitu dengan
menggunakan sampel yang diambil dari populasi yang ada, dimana sampel
tersebut dapat mewakili keseluruhan dari objek penelitian yaitu semua
responden yang berkaitian dengan pelaksanaan untuk mendapatkan sampel
guna mendapatkan data untuk memecahkan permasalahan penelitian ini.
Narasumber dalam penelitian ini adalah kejaksaan payakumbuh.
a. Analisis Data
40
Setelah memperoleh data primer dan data sekunder seperti
tersebut diatas, maka untuk menyeleseikan sebuah karya tulis yang
terpadu dan sistematis, maka digunakan suatu sistem analisis data
yaitu analisis kualitatif dan deskriptif, yaitu dengan cara
menyelaraskan dan menggambarkan keadaan yang nyata mengenai
peran jaksa dalam mengatasi tindak pidana korupsi. Hasil
wawancara dan studi kepustakaan tersebut kemudian diolah dan
dianalisis secara kualitatif untuk menghasilkan data yang bersifat
deskriptif.
41
42
DAFTAR KEPUSTAKAAN
Buku :
Alatas, Syed Husein – Sosiologi Korupsi: Sebuah Penjelajahan Dengan Data
Kontemporer (Jakarta: LP3ES, 1981), hlm. 30.
Hamzah, Andi – Hukum Acara Pidana Indonesia (Jakarta: Sinar Grafika, 2008),
hlm. 120.
Hamzah, Andi – Korupsi Dalam Proyek Pembangunan (Jakarta: Akademi
Pressindo, 1984).
Harahap, M. Yahya – Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP:
Penyidikan dan Penuntutan (Jakarta: Sinar Grafika, 2006), hlm. 210.
Hafild, Emmy – Transparency International Annual Report (Jakarta:
Transparency International, 2004), hlm. 4.
Kligaard, Robert – Penuntun Pemberantasan Korupsi dalam Pemerintahan Daerah
(Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2005), hlm. 3.
Lamintang, P.A.F. – Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia (Bandung: PT. Citra
Aditya Bakti, 1996), hlm. 7.
Marpaung, Laden – Asas-Teori-Praktek Hukum Pidana (Jakarta: Sinar Grafika,
2005), hlm. 31.
Moeljatno – Asas-Asas Hukum Pidana (Jakarta: Bina Aksara, 2005), hlm. 20.
Poernomo, Bambang – Asas-Asas Hukum Pidana (Jakarta: Ghalia Indonesia,
1992), hlm. 130.
43
Rae, Gradios Nyoman Tio – Good Governance dan Pemberantasan Korupsi
(Jakarta: Saberro Inti Persada, 2020).
W.J.S. Poerwadaminta – Kamus Umum Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka,
1989), hlm. 1230.
Jurnal :
Hutapea, Josua D. W. – “Tugas dan Wewenang Jaksa dalam Pemeriksaan Tindak
Pidana Korupsi,” E-Jurnal Unsrat, hlm. 60.
Kartika, Shanti Dwi et al. – Korupsi dan KPK dalam Perspektif Hukum,
Ekonomi, dan Sosial (P3DI Setjen DPR RI dan Azza Grafika, 2015), v.
Loventa, Rizkika Maharani – “Analisis Putusan Pengadilan Negeri Kasus Tindak
Pidana Korupsi oleh Kepolisian Republik Indonesia (Studi Kasus Putusan
Nomor 01/[Link]/2017/[Link]),” Jurnal Combines 1, no. 1
(Februari 2021): Universitas Internasional Batam.
Nugroho, T. – “Peran Kejaksaan dalam Sistem Peradilan Pidana di Indonesia,”
Jurnal Penegakan Hukum 8, no. 2 (2019): 67-82.
Santoso, D. – “Dampak Korupsi terhadap Pembangunan Ekonomi di Indonesia,”
Jurnal Ekonomi dan Hukum 15, no. 3 (2020): 210-225.
Handayani, D. – “Independensi Kejaksaan dalam Penegakan Hukum di
Indonesia,” Jurnal Hukum dan Keadilan 5, no. 1 (2018): 123-135.
Soewartojo, Juniadi – Korupsi: Pola Kegiatan dan Penindakan Serta Peran
Pengawasan dalam Penanggulangan (Jakarta: Restu Agung, 1992), hlm.
14.
44
Peraturan Perundang-Undangan :
Peraturan Presiden No. 86 Tahun 1999 – diakses melalui
[Link]
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 – Tentang Kepolisian Negara Republik
Indonesia.
Website, dan Lain-lain
Aziza, Dimas Arya – “Penerapan Delik Jabatan Dalam Pasal 3 dan Pasal 11
Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1999 Jo Undang-Undang Nomor 20
Tahun 2001 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi,” Binamulia
Hukum 7, no. 2 (2018): 169, [Link]
Blog Kementerian Keuangan RI Direktorat Jenderal Pembendaharaan – diakses
pada 8 September 2024,
[Link]
[Link].
Transparency International Indonesia – diakses 7 September 2024,
[Link]
kembali-ke-titik-nol/.
[Link] pdf ,
diunduh tanggal 18 November 2024, pukul 22:55 WIB.
45
46