0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan27 halaman

STUDI1

Dokumen ini membahas perancangan Surakarta Mental Health Care Center dengan konsep stress-reducing design berdasarkan psikologi lingkungan untuk mendukung penyembuhan pasien gangguan jiwa. Melalui analisis kualitatif, diusulkan elemen desain yang mengurangi stres dan menciptakan lingkungan yang damai, serta meningkatkan etos kerja petugas kesehatan. Hasil perancangan diharapkan dapat memenuhi standar layanan kesehatan mental yang lebih baik di Kota Surakarta.

Diunggah oleh

rhmatjo
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan27 halaman

STUDI1

Dokumen ini membahas perancangan Surakarta Mental Health Care Center dengan konsep stress-reducing design berdasarkan psikologi lingkungan untuk mendukung penyembuhan pasien gangguan jiwa. Melalui analisis kualitatif, diusulkan elemen desain yang mengurangi stres dan menciptakan lingkungan yang damai, serta meningkatkan etos kerja petugas kesehatan. Hasil perancangan diharapkan dapat memenuhi standar layanan kesehatan mental yang lebih baik di Kota Surakarta.

Diunggah oleh

rhmatjo
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

SURAKARTA MENTAL HEALTH CARE CENTER DENGAN KONSEP

STRESS-REDUCING DESIGN BERBASIS ENVIRONMENTAL


PSYCHOLOGY

Disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan Program


Studi Strata I pada Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik

Oleh:
NUR RAAFIKA SARI
D 300 180 024

PROGRAM STUDI ARSITEKTUR


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2022
i
ii
1
SURAKARTA MENTAL HEALTH CARE CENTER DENGAN KONSEP
STRESS-REDUCING DESIGN BERBASIS ENVIRONMENTAL
PSYCHOLOGY

Abstrak
Istilah Mental Health Care Center atau pusat kesehatan jiwa merupakan penyedia
layanan yang mendukung dan merawat orang dengan gangguan jiwa. Bukan hanya
dalam bidang medis, namun juga mampu mendukung dan merawat melalui
lingkungan kawasan yang ada. Sebuah lingkungan penyedia layanan kesehatan
mental harus mampu memberikan ketenangan, kedamaian, serta harapan untuk
terus sehat. Faktor-faktor tersebut dapat diwujudkan dengan konsep stress-reducing
design berbasis environmental psychology dengan cara mengurangi gangguan
jiwa/stres/keagresifan pada penderita gangguan jiwa dengan dilakukannya
pengurangan-pengurangan stresor dan pemberian distraksi positif. Perencanaan
Mental Health Care Center dengan konsep tersebut bertujuan agar menghasilkan
suatu desain atau usulan rancangan bangunan Mental Health Care Center dengan
standar yang telah ditetapkan, namun dengan desain yang dapat mengurangi stres
serta mampu membantu penyembuhan. Dengan menggunakan metode deskriptif
kualitatif, melalui survei, studi literatur, dan studi komparasi, sehingga dapat
disimpulkan bahwa orang dengan gangguan jiwa harus dijauhkan dengan elemen-
elemen penimbul stres dan diberikan distraksi positif. Hal ini berkaitan dengan
teori-teori Environmental Psychology, yang berdasarkan teori-teori tersebut
disimpulkan elemen-elemen Stress-Reducing Design yaitu berupa reduction of
environmental stress, stress reducing positive distraction, serta design for
observation and security. Melalui ketiga elemen utama tersebut, perancangan
Mental Health Care Center ini diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang
mampu memberikan pengaruh kedamaian, ketengangan, dan membantu
keberhasilan dalam kesembuhan bagi penderita gangguan jiwa, serta dapat
meningkatkan etos kerja petugas kesehatan dan pegawai.
Kata Kunci : Mental Health Care Center, Konsep Stress-Reducing Design,
Environmental Psychology.

Abstract
The term Mental Health Care Center is a service provider that supports and cares
for people with mental disorders. Not only in medical factors, but also being able
to support and care for people with mental disorders through the existing
environment. An environment of mental health service providers must be able to
provide calm, peace, and hope for people with mental disorders to continue to be
healthy. These factors can be realized with the concept of stress-reducing design
based on environmental psychology by reducing mental
disorders/stress/aggression in people with mental disorders by reducing stressors
and providing positive distractions. Mental health care center planning with this
concept aims to produce a Mental Health Care Center design with predetermined

2
standard, but with a design that can reduce stress and be able to help healing. By
using qualitative descriptive methods, through various surveys, literature studies,
and comparative studies, so it can be concluded that people with mental disorders
should be kept away from stress-causing elements and given positive distractions.
This is related to the theories of Environmental Psychology, based on these
theories, it is concluded that the elements of Stress-Reducing Design are in the form
of reduction of environmental stress, stress reducing positive distraction, and
design for observation and security. Through these three elements, the design of the
Mental Health Care Center is expected to create an environment that is able to
provide the effect of peace, tranquility, and help success in healing for people with
mental disorders, and can improve the work ethic of health workers and employees.
Keywords : Mental Health Care Center, Stress-Reducing Design concept,
Environmental Psychology.

1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.1.1 Tingginya Angka Kasus Penderita Gangguan Jiwa di Kota Surakarta
Menurut data kunjungan Rumah Sakit Jiwa Daerah dr. Arif Zainuddin
Surakarta, pada tahun 2015, jumlah kunjungan penderita gangguan jiwa baik dari
klinik rawat jalan, rawat inap, serta Instalasi Gawat Darurat, rata-rata jumlah
kunjungan adalah sebanyak 25.884 jiwa. Kemudian pada tahun 2016, rata-rata
jumlah kunjungan penderita gangguan jiwa (klinik rawat jalan, rawat inap, dan
IGD) adalah sebanyak 27.887 jiwa. Pada tahun 2017, rata-rata jumlah kunjungan
penderita gangguan jiwa (klinik rawat jalan, rawat inap, dan IGD) adalah sebanyak
29.878 jiwa. Pada tahun 2018, rata-rata jumlah kunjungan sebanyak 30.301 jiwa.
Dan yang terakhir, pada tahun 2019, rata-rata jumlah kunjungan sebanyak 16.404
jiwa. Sehingga, pada tahun 2015 hingga tahun 2018, angka penderita gangguan jiwa
di Kota Surakarta terus mengalami kenaikan yang signifikan sedangkan pada tahun
2019, angka tersebut turun hingga lebih dari setengah jumlah penderita gangguan
jiwa tahun 2018.

1.1.2 Kurang Meratanya Penyedia Layanan Kesehatan Jiwa di Kota


Surakarta
Menurut data Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya
(BPPSDMK) Kementrian Kesehatan, terdapat 17 unit puskesmas di Kota

3
Surakarta, dan keseluruhan unit tersebut sama sekali belum menyediakan layanan
jiwa, baik itu dokter spesialis psikiatri atau dokter kejiwaan maupun psikolog.

Terdapat satu unit Rumah Sakit Jiwa, yaitu Rumah Sakit Jiwa Daerah
(RSJD) dr. Arif Zainudin yang sudah menyediakan 9 psikiater dan 1 orang psikiatri
anak. Selain itu, terdapat pula layanan psikiatri serta layanan psikolog yang tersebar
di beberapa Rumah Sakit Umum yang ada di Kota Surakarta. Sisanya, terdapat
kurang lebih 15 buah layanan praktik psikolog/praktik psikiater/biro konsultan
yang tersebar di beberapa tempat di Surakarta.

Singkatnya, untuk jenis layanan kesehatan cakupan daerah kecil


(puskesmas untuk tiap kecamatan atau kelurahan) belum tersedia layanan kesehatan
jiwa baik psikiater maupun psikolog. Melainkan, hanya terdapat satu buah layanan
Rumah Sakit Jiwa Daerah yang layanan tersebut menampung berbagai jenis
gangguan jiwa mulai gangguan jiwa ringan hingga berat. Sedangkan untuk layanan
psikolog dan psikiater yang berada di rumah sakit umum dan praktik
psikolog/psikiatri belum terlalu merata tersebar di Kota Surakarta.

1.1.3 Permasalahan Penyedia Layanan Kesehatan Jiwa di Kota Surakarta


dan Pendekatan yang Dipilih
Kurang maksimalnya desain, penataan ruang, serta kurang maksimalnya
sarana dan prasarana yang tersedia. Seperti beberapa contoh kurang maksimalnya
desain, sarana, dan prasarana pada Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Surakarta:

Tabel 1. Permasalahan Penyedia Layanan Kesehatan Jiwa di RSJD Surakarta


Elemen bangunan/sarana/prasarana RSJD Surakarta yang kurang Maksimal
Kurangnya peralatan CCTV pada RSJD Tingkat kenyamanan ruang yang kurang.
Surakarta
Kondisi tempat parkir RSJD Surakarta yang Penataan ruang kantor dan bangsal yang tidak
panas dan tidak terdapat peneduh strategis dan tidak dikelompokkan sesuai fungsi dan
kebutuhannya.
Desain lorong yang belum maksimal. Penggunaan material yang kurang aman bagi pasien.
Bentuk bangunan RSJD Surakarta yang Penataan furnitur yang kurang mendukung pada
monoton dan tampak sama. keamanan dan kenyamanan pasien.
Penggunaan anak tangga dan ramp yang cukup
banyak serta curam.
(Sumber: Analisis Pribadi, 2022)

4
2. METODE
2.1 Metode Pembahasan
2.1.1 Pengumpulan Data
Dalam merencanakan dan merancang sebuah bangunan dibutuhkan
bermacam-macam data yang relevan. Data-data yang dibutuhkan dibedakan
menjadi:
a. Data primer
Merupakan data pokok yang menjadi bahan dasar dalam perencanaan
dan perancangan Mental Health Care Center.
b. Data sekunder
Merupakan data tambahan yang diguakan sebagai data pendukung. Data
yang dikumpulkan adalah hasil dari hal-hal berikut:
 Survei
Metode survei merupakan kemandirian penulis dengan tujuan untuk
mendapatkan data yang dibutuhkan.
 Studi Literatur
Studi literatur dilakukan untuk mendapatkan data melalui media
seperti buku, jurnal, situs internet, maupun peraturan regulasi.
 Studi Komparasi
Studi komparasi dilakukan dengan melakukan survei secara
langsung pada sebuah objek bangunan yang memiliki fungsi yang sama
dengan topik yang diambil sehingga dapat dijadikan pembanding.

2.1.2 Analisis Data


Setelah data-data yang dibutuhkan terkumpul, kemudian dilakukan
pengolahan terhadap data-data tersebut. Jenis analisa yang dilakukan adalah
sebagai berikut:

a. Analisa site, yaitu apakah lokasi yang digunakan untuk perancangan objek
sudah sesuai dengan persyaratan atau kriteria pemilihan site, persyaratan, dan
program ruang dalam bangunan mental health care center.

5
b. Analisa fungsional, yaitu setelah site ditentukan, kemudian bagaimana
menciptakan suatu lokasi mental health care center yang dapat menciptakan
keharmonisan antara aktivitas pengguna dan kebutuhan pengguna.
c. Analisa arsitektural dan analisa utilitas bangunan, yaitu bagaimana
menciptakan suatu mental health care center yang elemennya mampu
memberikan kenyamanan, dan berpengaruh kepada proses penyembuhan dan
ketenangan pasien.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN


3.1 Lokasi Site Terpilih

Gambar 1. Alternatif Site 2


(Sumber: Analisis Pribadi melalui google earth, 2022)

Site terletak di Jalan Ringroad, Mojosongo, Kec. Jebres, Kota Surakarta,


Jawa Tengah dengan luasan kurang lebih 80.000 m².

3.2 Analisis Fasilitas dan Pelayanan


3.2.1 Pelayanan Utama
Pelayanan utama yang dimaksud adalah pelayanan medis maupun non
medis yang ditujukan bagi pasien dan pengunjung dengan kondisi gangguan jiwa
atau kondisi tertentu. Jenis pelayanan utama tersebut adalah:

Tabel 2. Pelayanan Utama


Jenis Pelayanan Kategori
Pelayanan Utama Pelayanan Darurat
Pelayanan Rawat Inap
Pelayanan Rawat Jalan
Pelayanan Rehabilitasi
Pelayanan Telehealth
Pelayanan Berbasis Komunitas
(Sumber: Analisis Pribadi, 2022)

6
3.2.2 Pelayanan Penunjang
Pelayanan penunjang yang dimaksud adalah pelayanan non medis yang
bertujuan untuk mendukung pelayanan utama. Jenis pelayanan penunjang tersebut
adalah:

Tabel 3. Pelayanan penunjang


Jenis Pelayanan Kategori
Pelayanan penunjang Pelayanan pendaftaran
Pelayanan informasi publik (customer service)
Pelayanan laboratorium
Pelayanan Radiologi
Pelayanan pengaduan
Pelayanan keluarga dan Pengunjung
Akses dan fasilitas disabilitas
Pelayanan Perpustakaan
Pelayanan laundry/binatu
Instalasi gizi
Pemeliharaan sarana dan prasarana / utilitas
Pusat Keagamaan (Mushola)
Kantin/Dapur
(Sumber: Analisis Pribadi, 2022)

3.3 Analisis dan Konsep Ruang


3.3.1 Analisis Pengguna
Berdasarkan kajian pada perencanaan dan perancangan ini, yaitu kajian
mengenai Mental Health Care Center dengan Konsep Stress-Reducing Design
berbasis environmental psychology, pengguna dikelompokkan menjadi 5 kelompok
pengguna dan dapat dijabarkan sebagai berikut:

Gambar 2. Klasifikasi Kelompok Pengguna


(Sumber: Analisis Pribadi, 2022)

7
3.3.2 Rekapitulasi Besaran Ruang
Berdasarkan penjabaran kebutuhan ruang, maka dapat disimpulkan total
besaran ruang yang dibutuhkan adalah sebagai berikut:
Tabel 4. Rekapitulasi Besaran Ruang
No Kelompok Ruang Total Luas (m²)
1 Area Pengelola 381,136
2 Unit Pelayanan darurat 286,692
3 Unit Pelayanan rawat jalan 556,472
Pelayanan
utama

Unit Pelayanan rawat inap 1.463,336


4 Unit Pelayanan rehabilitasi 812,448
5 Unit Pelayanan telehealth 291,536
6 Unit Pelayanan penyembuhan berbasis komunitas 276,976
7 Pelayanan Informasi Publik 30,8
8 Pelayanan Pengaduan 30,8
9 Pelayanan Laboratorium 90,3
Pelayanan Penunjang

10 Pelayanan radiologi 57,4


11 Pelayanan farmasi 69,3
12 Pelayanan keluarga dan pengunjung 89,376
13 Perpustakaan 365,036
14 Laundry/binatu 176,176
15 Pemeliharaan sarana dan prasarana/utilitas 215,6
16 Pusat keagamaan 246,876
17 Kantin/dapur & instalasi gizi 371,976
18 Pos satpam 36
Total Area Indoor 5.848,236
19 Lap Serbaguna 375
Space
Open

20 Parkir dan sirkulasi 2.852,5

Total Area Outdoor 3.227,5


Total Area Indoor dan Outdoor 9.075,736
(Sumber: Analisis Pribadi, 2022)

3.3.3 Perhitungan Luas Massa Bangunan dan Lantai Bangunan


Diketahui =
Luas Lahan = 48.990,17 m²
KDB = 85%
KLB = 3.6
KDH = 10%
Maka, perhitungan luas dasar bangunan, luas lantai bangunan, dan jumlah lantai
adalah sebagai berikut:

Tabel 5. Perhitungan Luas Massa Bangunan dan Lantai Bangunan


Luas Dasar Bangunan Luas Lantai Bangunan Jumlah Lantai Area Ruang Terbuka
(RTH)
Luas Dasar Bangunan = Luas Lantai Bangunan = Jumlah Lantai = KLB / Area Ruang Terbuka
KDB x Luas Lahan KLB x Luas Lahan KDB (RTH) = KDH x Luas
Lahan
= 85% x 48.990,17 m² = 3,6 x 48.990,17 m² = 176.364,6 m² /
41.641,64 m² = 10% x 48.990,17 m²

8
= 41.641,64 m² = 176.364,6 m²
= 4,2 (4 lantai) = 4.899,017 m²
Sehingga, area lahan Sehingga, luas lantai
yang dapat dibangun bangunan yang dapat Sehingga, jumlah lantai Sehingga, luas ruang
adalah maksimal seluas dibangun adalah bangunan yang dapat terbuka (RTH) yang
41.641,64 m². maksimal 176.364,6 m². dibangun adalah harus dibangun adalah
maksimal sebanyak 4 minimal seluas
lantai. 4.899,017 m².
(Sumber: Analisis Pribadi, 2022)

3.4 Analisis dan Konsep Site


3.4.1 Analisis dan Konsep Pencapaian

Gambar 3. Respon terhadap Analisis Pencapaian


(Sumber: Analisis Pribadi, 2022)

Pencapaian utama menuju site adalah dari arah utara yaitu dari Jalan Ring
Road, yang lalu jalur keluar site berada di arah barat laut. Jalur utama pada site ini
nantinya akan menjadi jalur utama menuju area perawatan darurat.

3.4.2 Analisis dan Konsep Eksisting

Gambar 4. Analisis dan Konsep Vegetasi


(Sumber: Analisis Pribadi, 2022)

Keterangan :

A – Site Eksisting D – Drainase Eksisting


B & F – Area Permukiman G – Sungai Bengawan Solo
C & E – Tanah Peruntukan Hutan Kota H – Gd. Galeri ISI Surakarta
Jenis vegetasi yang berada di site dan sekitaran site dapat digunakan untuk
menunjang konsep stress-reducing design yaitu untuk mengurangi kebisingan.
Selain itu, sistem drinase eksisting diharapkan dapat menjadi saluran pembuangan

9
yang aman untuk lingkungan. Keberadaan permukiman, sekolah, dan universitas
diharapkan mampu dimanfaatkan sebagai pendukung program kemitraan untuk
pelayanan mental health care center.

3.4.3 Analisis dan Konsep View

Gambar 5. Analisis View (kiri) dan Responnya (kanan)


(Sumber: Analisis Pribadi, 2022)

Keterangan :
+ : view kurang baik
++ : view cukup baik
+++ : view baik
Arah utara akan menjadi arah utama dan akan menjadi pintu masuk utama
menuju site, mengingat bahwa arah tersebut memiliki view paling baik karena
menghadap langsung pada jalan raya utama serta agar bangunan mudah dicapai.

3.4.4 Analisis dan Konsep Klimatologi


1) Hasil Penerapan Analisis Matahari
Site menghadap ke arah utara dengan bangunan menghadap ke arah
utara-selatan dengan ruang-ruang kamar pasien diletakkan secara berjajar (dari
timur ke barat) sehingga seluruh kamar mendapatkan pencahayaan alami dari
matahari secara merata. Untuk bangunan atau ruang yang membutuhkan sinar
matahari secara minimal, diperlukan shading dan vegetasi untuk mengurangi
cahaya panas dari matahari sore. Shading dapat berupa elemen arsitektur seperti
vertical blind, maupun penambahan vegetasi memanfaatkan roof garden.

10
Gambar 6. Respon terhadap Analisis Matahari
(Sumber: Analisis Pribadi, 2022)

Gambar 7. Vertical Louvre (kiri) dan Penggunaan void untuk pencahayaan dan penghawaan
(kanan)
(Sumber: Analisis Pribadi, 2022)
Selain itu, pada hampir seluruh bangunan ditambahkan elemen bukaan
dan void untuk pemaksimalan pencahayaan alami dan sebagai sirkulasi udara
masuk menuju massa bangunan.
2) Hasil Penerapan Analisis Angin
Tidak membuat massa bangunan dengan bentuk massa gemuk atau yang
mampu menghalangi sirkulasi angin melainkan membuat beberapa massa
bangunan yang lebih kecil dengan memberikan celah antar bangunan untuk
sirkulasi angin.

Gambar 8. Respon terhadap Analisis Angin


(Sumber: Analisis Pribadi, 2022)
3) Hasil Analisis Kelembaban Udara
Kelembaban udara di lokasi site termasuk dalam kategori kelembaban
normal (Relative Humidity / RH) dengan skor 45% - 65%. Untuk meningkatkan
kelembaban udara di sekitar site, akan memanfaatkan vegetasi sebagai
penghasil oksigen dan penyimpan air serta kenyamanan ruang.

11
3.4.5 Analisis dan Konsep Kebisingan

Gambar 9. Analisis dan Konsep Kebisingan


(Sumber: Analisis Pribadi, 2022)

1) Menambahkan vegetasi sebagai peredam kebisingan.


2) Menempatkan ruang-ruang yang membutuhkan tingkat ketenangan yang tinggi
di area belakang site, seperti taman terapi, area rehabilitasi, pusat peribadatan,
dll.

3.4.6 Analisis dan Konsep Kontur

Gambar 10. Analisis dan Konsep Kontur


(Sumber: Analisis Pribadi, 2022)

1) Menambahkan sirkulasi tapak yang aman dan nyaman bagi pengguna.


2) Menambahkan penampungan air dengan sistem danau / kolam pada area site
kontur terendah yang berfungsi sebagai sumber air sekunder dan untuk
kelembaban area.

3.5 Konsep
3.5.1 Konsep Tata Lanskap dan Gubahan Massa
1. Respon Site terhadap KDB Kota Surakarta

12
Gambar 11. Respon 1
(Sumber: Analisis Pribadi, 2022)

2. Filosofi Bentuk Bangunan

Gambar 12. Respon 2


(Sumber: Analisis Pribadi, 2022

3. Respon Site dan Bangunan terhadap Jenis Tata Massa, Analisis Matahari,
serta Konsep Bangunan The Holey Building

Gambar 13. Respon 3


(Sumber: Analisis Pribadi, 2022)

4. Respon Site dan Bangunan terhadap Sirkulasi Angin dan Sirkulasi


Pengguna dalam Site

13
Gambar 14. Respon 4
(Sumber: Analisis Pribadi, 2022)

5. Respon Site terhadap peraturan KLB Surakarta dan Sirkulasi Pengguna


dalam Bangunan

Gambar 15. Respon 5


(Sumber: Analisis Pribadi, 2022)

6. Respon Bentuk Bangunan terhadap Penghawaan dan Pencahayaan Alami

Gambar 16. Respon 6


(Sumber: Analisis Pribadi, 2022)

7. Zonifikasi Site dan Massa Bangunan

Gambar 17. Zonifikasi Site dan Massa Bangunan


(Sumber: Analisis Pribadi, 2022)

Kemudian, dari hasil penataan massa serta penataan lanskap tersebut,


maka didapatkan hasil zoning site seperti yang sudah terlihat pada gambar 20.
Penataan bangunan serta penataan lanskap tersebut juga mempertimbangkan
hal-hal berikut:

14
Tabel 6. Pertimbangan Zonifikasi Site
Pertimbangan Zonifikasi Site
Penentuan konsep massa bangunan dimulai dengan Area Unit Rawat Inap dibuat menghadap ke arah
pemetaan zonasi ruang yang diklasifikasikan utara dan selatan (berjajar dari arah timur hingga ke
berdasarkan zona Instalasi Gawat Darurat (IGD), barat) sehingga setiap kamar mendapatkan
Unit Rawat Jalan, Unit Rehabilitasi, Unit Rawat pencahayaan matahari secara merata.
Inap, Pusat Komunitas, Mushola, Area Penunjang
(Perpustakaan, Kantin, dll), serta Area Pengelola.
Bangunan Instalasi Gawat Darurat (IGD) yang Area penunjang seperti mushola, kantin/dapur, serta
mudah dicapai dan memiliki jalur kendaraan fasilitas pelayanan seperti perpustakaan mini, ruang
tersendiri. laktasi dan area bermain berada berdekatan dengan
unit rawat inap.
Area Unit Rawat Jalan dan area Unit Rawat Inap Area unit rehabilitasi dan area unit rawat inap
dibuat berdekatan dengan area IGD. dijauhkan dari sumber kebisingan.
Meminimalkan adanya alternatif jalur. Penerapan bentuk bangunan the holey building
(seperti yang sudah disebutkan pada BAB II)
dengan area taman berada di tengah-tengah site dan
dikelilingi oleh bangunan.
(Sumber: Analisis Pribadi, 2022)

3.5.2 Konsep Tampilan Arsitektur


a. Interior
 Pencahayaan
Konsep pencahayaan alami yang digunakan dibedakan menjadi dua
tipe, yaitu pencahayaan vertikal (melalui dinding) dan hotizontal (berasal
dari void/courtyard).

Gambar 18. Penerapan void / courtyard untuk pencahayaan vertikal (atas) dan
pencahayaan horizontal (bawah)
(Sumber: Analisis Pribadi, 2022)

 Penghawaan
Teknik cross ventilation, single ventilation, dan stack ventilation
yang masing-masing penerapannya didasarkan pada ruang-ruang yang
diperbolehkan untuk penerapan penghawaan alami.

Gambar 19. Penerapan Cross Ventilation pada area Courtyard


(Sumber: Analisis Pribadi, 2022)

15
 Material dan Warna
Pada elemen dinding, lantai, dan langit-langit, menerapkan jenis
material dan warna yang disesuaikan dengan suasana yang ingin diciptakan
serta menurut fungsi ruang, dengan mempertimbangkan standar yang sudah
ditetapkan. Selain itu penerapan warna dinding dan lantai yang kontras
dapat memudahkan pengguna dengan gangguan pengelihatan.

Gambar 20. Penerapan Konsep Material dan Warna pada Ruang Pelayanan Darurat (kiri
atas), Penerapan Konsep Material dan Warna pada Area Lorong (kanan atas), dan
Penerapan Konsep Material dan Warna pada Ruang Kantor Pengelola (bawah)
(Sumber: Analisis Pribadi, 2022)
b. Eksterior
 Konsep tata lanskap yang diterapkan adalah pembagian zona lanskap
menjadi beberapa area (lihat gambar 17), seperti:
1) Zona green roof
2) Zona olahan
Pada zona olahan termasuk zona taman terapi, lapangan, area parkir,
dan area terbuka lain. Sedangkan zona green roof terdapat pada beberapa
salah satu massa bangunan serta zona transisi terdapat pada zona pelayanan
rawat inap, rawat jalan, dan pusat rehabilitasi.
 Penerapan vegetasi pada site selain difungsikan untuk unsur estetika, juga
digunakan untuk peredam kebisingan dan pemecah angin. Sehingga, selain
tetap menerapkan vegetasi yang sudah ada pada tapak, juga digunakan
beberapa pilihan jenis vegetasi, sepertil bunga soka, rembosa mini, sutra
bombai, dragon tree, lili paris, palem bambu, pucuk merah, ketapang

16
kencana, pohon palem, pohon angsana, pohon beringin, dan tanaman
merambat lainnya.
 Fasad bangunan
Pada fasad bangunan mental health care center akan diterapkan
beberapa unsur elemen, seperti:

Tabel 7. Elemen yang diterapkan pada Fasad Bangunan


Elemen yang diterapkan pada Fasad Bangunan
Dinding dengan material alami dan natural seperti Penerapan unsur lokal berupa penggunaan material-
penggunaan material terakota, dinding batu, atau material lokal (kayu dan batu produksi lokal) baik
kayu. untuk fasad luar maupun ornamen-ornamen pada
bangunan.
Dinding dengan warna natural dan bersih, seperti Penerapan bukaan jendela yang dapat dibuka dan
warna cokelat (warna alami) atau warna putih ditutup sesuai kebutuhan untuk pemaksimalan
(natural dan bersih) pencahayaan alami dan penghawaan alami.
Penerapan selasar yang terbuka yang mampu
bersinggungan langsung dengan alam.
(Sumber: Analisis Pribadi, 2022)

Gambar 21. Penerapan material kayu pada dinding (kiri) dan Penerapan jendela
yang dapat dibuka dan ditutup (kanan)
(Sumber: [Link], [Link]/c/TED)

3.5.3 Konsep Struktur


a. Upper Structure atau Struktur Atap
Struktur atap utama yang diterapkan pada sebagian besar bangunan
mental health care center ini adalah menggunakan struktur atap space frame
single layer yang menggunakan material baja kemudian dilapisi oleh pelapis
kayu.

17
Gambar 22. Detail Struktur Atap yang diterapkan
(Sumber: Analisis Pribadi, 2022)

Struktur atap yang diterapkan selanjutnya adalah menggunakan atap dak


beton. Pada beberapa massa bangunan juga diterapkan roof garden (atap
bertanaman ekologis) untuk menambah estetika dan kesan asri.

b. Supper Structure atau Struktur Penopang Vertikal Bangunan

Struktur penopang vertikal bangunan yang dimaksud adalah termasuk


struktur plat lantai, kolom dan balok. Sistem struktur bangunan yang diterapkan
adalah struktur rangka dengan material struktur beton bertulang.
c. Sub Struktur sebagai Pondasi
Struktur pondasi yang digunakan pada bangunan Surakarta Mental
Health Care Center ini adalah pondasi tiang pancang dan pondasi footplat
karena bangunan yang akan dibangun direncanakan memiliki ketinggian 2
lantai.

3.5.4 Konsep Utilitas


a. Instalasi Jaringan Air Bersih

Gambar 23. Skema Air Bersih pada Mental Health Care Center
(Sumber: Analisis Pribadi, 2022)
b. Limbah
 Limbah Padat
Sisa limbah organik akan diolah kembali untuk dimanfaatkan untuk
pupuk melalui proses biodigester. Sedangkan limbah anorganik akan
ditampung untuk sementara waktu untuk kemudian didistribusikan ke pihak
pengolahan sampah daerah setempat.
 Limbah Cair

18
Limbah cair terdiri dari grey water dan black water. Grey water
berasal dari hasil buangan kamar mandi dan cucian. Sedangkan Black water
merupakan buangan limbah cair yang tidak dapat digunakan kembali, yang
langsung diarahkan ke septictank bangunan, umumnya berasal dari air
bekas BAB manusia.

Gambar 24. Skema Pengolahan Limbah Cair Mental Health Care Center
(Sumber: Analisis Pribadi, 2022)
c. Sistem Proteksi Kebakaran
 Smoke detector dan heat detector
Jarak radius capaian untuk detektor asap adalah 7,5 m dan 5,3 m
untuk detektor panas. Tata pemasangan antar detektor asap adalah 10 meter
dengan radius yang berpotongan 2,5 m sementara detektor panas sekitar 7
m dengan radius yang berpotongan 1,7 m.
 Hidran
Hidran yang diaplikasikan yaitu terdapat dua tipe, yaitu hydrant
pillar dan hydrant box. Jarak maksimal tiap titik hydrant pillar adalah 25 –
28 meter dengan panjang selang 30 meter dan radius jarak sembur 5 meter.
Sementara untuk jarak tiap titik hydrant box adalah 25 meter untuk hydrant
box dengan panjang selang 20 meter dan 25 meter untuk selang 30 meter.
 Sprinkler
Dalam pemasangan sprinkler, tiap titiknya harus diperhatikan jarak
standar yang ditetapkan. Jarak pemasangan sprinkler untuk kebakaran
ringan adalah sejauh 4,6 m dan untuk proteksi kebakaran sedang adalah 3,4
m, sedangkan untuk standar keamanan rumah sakit antar titik sprikler
adalah sejauh 3 m.

19
 Fire extinghuiser/APAR
Penempatan APAR dalam bangunan harus memperhatikan
pedoman. Jarak maksimal APAR adalah sejauh 25 m dan terdapat 1 APAR
dalam tiap 250 m².
d. Instalasi Transportasi
 Transportasi horizontal
Konsep transportasi horizontal bangunan berpedoman pada aturan
pemerintah dalam pedoman teknis bangunan rumah sakit/bangunan
penyedia layanan kesehatan, dengan ketentuan sebagai berikut:
- Ukuran koridor untuk pasien dan brankar maksimal 2,4 m
- Pengaplikasian double pintu untuk semua akses keluar masuk
 Transportasi vertikal
- Ramp : ketentuan kemiringan ramp tidak lebih dari 7° dan panjang ramp
tidak melebihi 9 meter, dan lebar ramp 1,2 m
- Tangga : tangga memiliki ketinggian tanjakan maksimal 17 cm dengan
kemiringan tidak melebihi 60°.

4. PENUTUP
Mental Health Care Center sebagai penyedia layanan kesehatan mental
harus mampu secara maksimal dalam menunjang kesembuhan. Penyedia layanan
kesehatan mental tersebut harus memberikan segala jenis aspek yang mampu
memberikan penyembuhan terhadap pasien, baik dari faktor medis maupun faktor
lingkungan. Peran lingkungan yang dimaksud adalah faktor arsitektur dan faktor
alam, di mana bagaimana elemen-elemen pada bangunan tidak menimbulkan stres
yang berlebih dan memberikan distraksi positif, serta bagaimana elemen-elemen
alam yang tersedia mampu turut serta memberikan ketenangan dan kedamaian bagi
pasien. Keberhasilan dalam membentuk faktor-faktor tersebut adalah ditunjang
dengan penerapan konsep Stress-Reducing Design berbasis Environmental
Psychology. Dengan adanya penerapan konsep ini diharapkan mampu menciptakan
Mental Health Care Center secara maksimal dalam berbagai aspek.

20
DAFTAR PUSTAKA
Ackerman, Courtney. 2021. “What is Environmental Psychology”. Diakses pada 9
April 2022. [Link]
Adnani, Nitish. 2018. “Suhu Lingkungan dan Kesehatan Mental, Adakah
Kaitannya?”. Klikdokter. Diakses pada 22 April 2022.
[Link]
dan-kesehatan-mental-adakah-kaitannya.
Architizer. 2022. “Ostra Psychiatry Hospital”. Diakses 22 Maret 2022.
[Link]
Badan Pusat Statistik. (2019). Kota Surakarta dalam Angka 2019. Surakarta: Tidak
diketahui.
Badan Pusat Statistik. (2020). Kota Surakarta dalam Angka 2019. Surakarta: Tidak
diketahui.
Badan Pusat Statistik. (2021). Kota Surakarta dalam Angka 2019. Surakarta: Tidak
diketahui.
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah. (2019). Buku Profil Kesehatan tahun 2019.
Semarang: Tidak diketahui.
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah. (2019). Buku Saku Kesehatan Triwulan 3
Tahun 2019. Semarang: Tidak diketahui.
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah. (2020). Buku Profil Kesehatan tahun 2019.
Semarang: Tidak diketahui.
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah. (2020). Buku Saku Kesehatan Triwulan 3
Tahun 2019. Semarang: Tidak diketahui.
Fadila, Ihda. 2021. “Memahami Apa itu Kesehatan Mental Hingga Cara
Menjaganya”. Diakses pada 22 April 2022.
[Link]
Helmi, Avin. 1999. “Beberapa Teori Psikologi Lingkungan”. Buletin Psikologi,
vol. 7, no. 2, h. 7- 18. Diakses 22 Maret 2022.
[Link]
Idaini, Sri dan Riyadi, Edduwar. 2018. “Sistem Kesehatan Jiwa di Indonesia:
Tantangan untuk Memenuhi Kebutuhan”. Jurnal Penelitian dan
Pengembangan Pelayanan Kesehatan, vol. 2, no. 2, h. 70-80. Diakses pada
7 April 2022.
[Link]

21
JDIH BPK RI. (2016). Peraturan Daerah (PERDA) tentang Bangunan Gedung.
Jakarta: Direktorat Utama Pembinaan dan Pengembangan Hukum
Pemeriksaan Keuangan Negara.
JDIH BPK RI. (2021). Peraturan Daerah (PERDA) tentang Rencana Tata Ruang
Wilayah Kota Surakarta. Jakarta: Direktorat Utama Pembinaan dan
Pengembangan Hukum Pemeriksaan Keuangan Negara.
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. (2009). Pedoman Pelayanan
Kesehatan Jiwa Komunitas. Jakarta: Direktorat Bina Pelayanan Kesehatan
Jiwa.
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. (2010). Klasifikasi Rumah Sakit. Tidak
diketahui: Tidak diketahui.
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. (2016). Persyaratan Teknis Bangunan
dan Prasarana Rumah Sakit. Jakarta: Tidak diketahui.
Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. (2019). Profil Kabupaten /
Kota Surakarta Jawa Tengah. Tidak diketahui: Direktorat Jendral Cipta
Karya.
Khadijah, Siti. 2020. Pengaruh Spiritual Problem Solving Berbasis Web terhadap
Pencegahan Risiko Bunuh Diri pada Mahasiswa di Surakarta. Surabaya:
Universitas Airlangga. Diakses 25 Maret 2022.
[Link]
.
Mental Health Center of Denver. 2022. “Access Services”. Diakses 22 Maret 2022.
[Link]
Ministry of Health, Wellness and the Environment. 2022.”Medical & Health Care”.
Diakses pada 8 Maret 2022. [Link]
health-centre.
North Texas Help. 2022. “Types of Mental Health Treatment Settings and Levels of
Care”. Diakses pada 21 Maret 2022.
[Link]
Nuryati & Kresnowati, L. 2018. Klasifikasi dan Kodefikasi Penyakit dan Masalah
Terkait III. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Obradovich, N., Migliorini, R., Mednick, S., dan Fowler, J. 2017. “Nighttime
temperature and human sleep loss in a changing climate”. National Library
of Medicine, vol. 3, no. 5. Diakses 22 April 2022.
[Link]

22
Oktaputy, Galuh. 2006. Pengaruh Bukaan Ruang terhadap Keamanan dan
Keselamatan Pasien Mental Study Kasus: Unit Perawatan Bangsal
Perempuan P2 RS Grhasia Yogyakarta. Yogyakarta: Universitas Islam
Indonesia. Diakses 22 April 2022.
[Link]
Pusat Pengembangan Kawasan Perkotaan – Badan Pengembangan Infrastruktur
Wilayah. 2017. “Profil Kota Surakarta”. Diakses pada 3 Maret 2022.
[Link]
Rianty, M. 2010. Pemaknaan Significant Localities dalam Wayfinding. Depok:
Universitas Indonesia. Diakses 22 Maret 2022.
[Link]
Rinawati, Fajar dan Alimansur, Moh. 2016. “Analisa Faktor-faktor Penyebab
Gangguan Jiwa Menggunakan Pendekatan Model Adaptasi Stres Stuart”.
Jurnal Ilmu Kesehatan. vol. 5, no. 1, h. 34-38. Diakses 25 Maret 2022.
[Link]
Rokom. 2021. “Kemenkes Beberkan Masalah Permasalahan Kesehatan Jiwa di
Indonesia”. Diakses pada 25 Maret 2022.
[Link]
media/20211007/1338675/kemenkes-beberkan-masalah-permasalahan-
kesehatan-jiwa-di-indonesia/.
Rumah Sakit Jiwa Daerah dr. Arif Zainudin Surakarta. (2020). Profil Kinerja tahun
2020. Surakarta: Tidak diketahui.
Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta. 2022. “Daftar Praktek Dokter RSJD
Surakarta”. Diakses pada 25 Maret 2022. [Link]
[Link]/jadwal-dokter-rsjd-surakarta/.
Scalzo, Stefano. 2016. Design for Mental Health Towards an Australian Approach.
Australia: Huber Staudt Architekter.
Tambunan, S. 2020. Perancangan Rumah Sakit Khusus Jiwa Kelas C di Pandeyan,
Yogyakarta dengan Pnedekatan Stress-Reducing Design. Yogyakarta:
Universitas Islam Indonesia. Diakses 22 Maret 2022.
[Link]
U.S. Department of Veterans Affairs. 2018. Mental Health Outpatient Services
Design Guide. United State: WBDG Whole Building Design Guide.
Ulrich, R., Bogren, L., Gardiner, S., dan Lundin, S. 2018. “Psychiatric ward design
can reduce aggresive behavior”. Journal of Environmental Psychology, vol.

23
57, h. 53-66. Diakses 26 Maret 2022.
[Link]
:text=The%20model%20posits%20that%20environmental,%2C%20%26
%20Lundin%2C%202012).

World Health Organization. 2022. “Mental Health”. Diakses pada 3 Maret 2022.
[Link]
Yusuf, Ah. 2017. Stigma Masyarakat tentang Gangguan Jiwa. Surabaya:
Repository Unair.

24

Anda mungkin juga menyukai