JURNAL IKA : IKATAN ALUMNI PGSD UNARS P-ISSN : 2338-3860
Vol. 16 No. 1. Juni 2025 E-ISSN : 2656-4459
[Link]
KURIKULUM LAMA VS KURIKULUM BARU: TANTANGAN DAN PELUANG
DALAM PEMBELAJARAN SD
Sumianto1, Lutfiah Tul Jannah Yonita2, Miranda3 , Nur Sarah4
1,2,3,4
PGSD, Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai
Email : sumianto@[Link].id1, min519694@gmail.com2,
mirandamir0205@gmail.com3, rahh2338@gmail.com4
Abstrak
Perubahan kurikulum di Indonesia dari Kurikulum 2013 ke Kurikulum Merdeka membawa
dampak besar terhadap praktik pembelajaran di sekolah dasar. Penelitian ini bertujuan
untuk mendeskripsikan perbedaan implementasi kedua kurikulum serta mengidentifikasi
tantangan dan peluang yang dihadapi guru dalam proses pembelajaran di UPT SDN 003
Bangkinang Kota. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, dengan teknik
pengumpulan data berupa observasi langsung terhadap pembelajaran kelas IV dan
wawancara mendalam dengan guru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kurikulum
Merdeka lebih fleksibel, berpusat pada siswa, dan menekankan pembelajaran kontekstual
serta projek, berbeda dengan Kurikulum 2013 yang lebih terstruktur dan berpusat pada
guru. Guru merasa lebih leluasa namun dihadapkan pada tantangan berupa kesiapan
mengajar, keterbatasan fasilitas, dan pengelolaan waktu. Meskipun demikian, Kurikulum
Merdeka memberikan peluang besar untuk meningkatkan keterlibatan siswa, kreativitas,
serta penguatan karakter melalui Profil Pelajar Pancasila. Kesimpulannya, Kurikulum
Merdeka memiliki potensi positif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran, namun
memerlukan dukungan dan pendampingan yang berkelanjutan bagi guru dan sekolah.
Kata kunci: Kurikulum 2013, Kurikulum Merdeka, Tantangan dan Peluang
Abstract
The curriculum shift in Indonesia from the 2013 Curriculum to the Merdeka Curriculum
has significantly impacted teaching practices in primary schools. This study aims to
describe the differences in implementation between the two curricula and to identify the
challenges and opportunities faced by teachers during the learning process at UPT SDN
003 Bangkinang Kota. A descriptive qualitative method was used, with data collected
through classroom observations in Grade IV and in-depth interviews with the
homeroom teacher. The findings reveal that the Merdeka Curriculum is more flexible,
student- centered, and emphasizes contextual and project-based learning, in contrast to
the more structured and teacher-centered 2013 Curriculum. While teachers feel more
1 JURNAL IKA VOL. 16 NO.1 JUNI 2025
freedom in
2 JURNAL IKA VOL. 16 NO.1 JUNI 2025
designing lessons, they also face challenges such as readiness to teach, limited facilities,
and time management. Nevertheless, the Merdeka Curriculum offers great potential for
increasing student engagement, creativity, and character development through the
Profile of Pancasila Students. In conclusion, the Merdeka Curriculum shows positive
potential in enhancing the quality of learning, but its success requires consistent support
and guidance for teachers and schools.
Keywords : Curriculum 2013, Merdeka Curriculum, Challenges, and Opportunities
Pendahuluan
Pendidikan dasar merupakan fondasi penting dalam membentuk karakter dan
kemampuan dasar peserta didik. Kualitas pendidikan di jenjang ini sangat dipengaruhi
oleh sistem kurikulum yang berlaku dan bagaimana kurikulum tersebut
diimplementasikan oleh guru di dalam kelas. Di Indonesia, beberapa kali telah terjadi
perubahan kurikulum, dari Kurikulum 2006 (KTSP), Kurikulum 2013, hingga yang
terbaru yaitu Kurikulum Merdeka. Perubahan ini bertujuan untuk menyesuaikan sistem
pendidikan dengan perkembangan zaman, kebutuhan siswa, serta tuntutan global.
Menurut (Nurhasanah et al., 2021) kurikulum adalah rencana tertulis dan terstruktur
yang mengarahkan proses pembelajaran serta pengembangan pengetahuan, sikap, dan
keterampilan siswa. Oleh karena itu, implementasi kurikulum harus benar-benar
memperhatikan kesiapan guru, sarana prasarana, serta kondisi sosial dan budaya
setempat.
Kurikulum 2013 yang telah lama digunakan memiliki karakteristik yang cukup
terstruktur dengan pendekatan tematik integratif. Kurikulum ini menekankan pada
penguatan kompetensi inti seperti sikap spiritual, sosial, pengetahuan, dan keterampilan
yang dirancang secara linier dan sistematis. Namun dalam pelaksanaannya, banyak guru
merasa terbebani oleh padatnya materi serta keharusan menyelesaikan target kurikulum
dalam waktu yang terbatas. Guru pun cenderung lebih berperan sebagai pusat
pembelajaran, sedangkan siswa hanya sebagai penerima informasi. Hal ini
berseberangan dengan pendekatan pembelajaran aktif yang disarankan oleh Vygotsky
yang menyatakan bahwa pembelajaran akan efektif jika siswa terlibat aktif dalam proses
membangun pengetahuan melalui interaksi sosial. Maka dari itu, muncul kebutuhan
untuk menghadirkan kurikulum baru yang lebih fleksibel dan adaptif terhadap kondisi
belajar siswa (Lestari et al., 2023).
Kurikulum Merdeka hadir sebagai bentuk evaluasi dan penyempurnaan dari
3 JURNAL IKA VOL. 16 NO.1 JUNI 2025
kurikulum sebelumnya. Kurikulum ini menawarkan konsep pembelajaran
berdiferensiasi, berbasis projek, dan memberikan keleluasaan kepada guru untuk
mengembangkan materi ajar sesuai konteks lokal. Di samping itu, Kurikulum Merdeka
juga berfokus pada penguatan karakter siswa melalui Profil Pelajar Pancasila yang
mencakup nilai-nilai gotong royong, kemandirian, bernalar kritis, dan kreatif. Menurut
(Purwowidodo & Zaini, 2023) pembelajaran berdiferensiasi memungkinkan guru
mengakomodasi keragaman peserta didik berdasarkan kesiapan belajar, minat, dan gaya
belajar mereka. Hal ini tentunya memberi peluang baru dalam mewujudkan
pembelajaran yang lebih manusiawi, menyenangkan, dan relevan dengan kehidupan
siswa. Namun, pelaksanaannya tidak terlepas dari berbagai tantangan, terutama di
satuan pendidikan dasar yang masih mengalami keterbatasan sumber daya.
Parakter di lapangan, implementasi Kurikulum Merdeka belum sepenuhnya
berjalan lancar. Banyak guru mengaku masih belum memahami secara utuh konsep
kurikulum ini, serta kesulitan dalam mengubah kebiasaan mengajar yang selama ini
berorientasi pada buku teks. Guru juga dituntut untuk memiliki kemampuan dalam
merancang modul ajar, melakukan asesmen autentik, serta mengelola pembelajaran
berbasis projek dengan keterlibatan aktif siswa. Hal ini tentu menjadi tantangan
tersendiri, terutama di sekolah-sekolah yang belum memiliki dukungan fasilitas
memadai. Perubahan kurikulum tidak akan berhasil tanpa adanya perubahan budaya
sekolah, pelatihan yang tepat, serta komitmen dari seluruh pihak (Umami & Wahyudi,
2025). Oleh karena itu, penting untuk mengkaji secara langsung bagaimana praktik
pembelajaran di kelas berubah sejak peralihan kurikulum dilakukan.
Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini dilakukan untuk menggali
secara mendalam bagaimana perbedaan implementasi Kurikulum 2013 dan Kurikulum
Merdeka di UPT SDN 003 Bangkinang Kota. Penelitian ini menggunakan teknik
observasi langsung terhadap proses pembelajaran serta wawancara dengan guru kelas
IV untuk memahami tantangan dan peluang yang dihadapi. Hasil penelitian diharapkan
dapat menjadi bahan refleksi bagi guru, kepala sekolah, dan pemangku kebijakan dalam
merancang strategi pendampingan dan pelatihan kurikulum yang tepat. Selain itu, hasil
kajian ini juga diharapkan mampu memberikan kontribusi terhadap pengembangan
praktik pendidikan yang lebih kontekstual dan sesuai dengan kebutuhan siswa. Dengan
memahami praktik di lapangan secara nyata, implementasi kurikulum dapat terus
4 JURNAL IKA VOL. 16 NO.1 JUNI 2025
disempurnakan agar lebih berdampak pada kualitas pembelajaran. Maka dari itu, kajian
ini menjadi relevan dan penting untuk dilakukan pada masa transisi kurikulum yang
sedang berlangsung.
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk
menggambarkan perbedaan implementasi Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka
serta tantangan dan peluang yang dihadapi guru dalam pembelajaran. Teknik
pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung terhadap proses pembelajaran
di kelas IV dan wawancara dengan guru kelas. Lokasi penelitian adalah UPT SDN 003
Bangkinang Kota, dengan subjek penelitian seorang guru kelas IV yang telah
berpengalaman mengajar pada dua kurikulum tersebut. Data yang diperoleh dianalisis
secara kualitatif melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan
sesuai model Miles dan Huberman. Pendekatan ini digunakan agar peneliti dapat
memperoleh gambaran nyata dan mendalam mengenai praktik pembelajaran di masa
transisi kurikulum.
Hasil dan Pembahasan
Kurikulum Lama vs Kurikulum Baru di UPT SDN 003 Bangkinang Kota
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan dua teknik utama, yaitu observasi
langsung saat proses pembelajaran di kelas IV berlangsung serta wawancara mendalam
dengan guru kelas IV. Tujuan dari teknik ini adalah untuk memperoleh gambaran yang
utuh tentang bagaimana perbedaan implementasi Kurikulum 2013 dan Kurikulum
Merdeka berlangsung secara nyata di ruang kelas. Berdasarkan hasil pengamatan dan
wawancara, ditemukan sejumlah perbedaan yang cukup signifikan antara kedua
kurikulum tersebut, baik dari segi metode mengajar, keterlibatan siswa, penilaian,
maupun materi ajar. Hasil ini menunjukkan bahwa transisi dari kurikulum lama ke
kurikulum baru memberikan dampak yang signifikan terhadap praktik pembelajaran di
sekolah dasar. Guru yang diamati tampak berusaha menyesuaikan pendekatan
pembelajaran sesuai dengan semangat Kurikulum Merdeka meskipun masih menghadapi
berbagai keterbatasan.
Observasi dilakukan saat guru kelas IV mengajar materi Ilmu Pengetahuan Alam
dan Sosial (IPAS). Hasil pengamatan menunjukkan perbedaan yang cukup signifikan
5 JURNAL IKA VOL. 16 NO.1 JUNI 2025
antara pola pembelajaran pada saat menggunakan Kurikulum 2013 dan pendekatan yang
kini digunakan dalam Kurikulum Merdeka. Dalam Kurikulum 2013, guru lebih dominan
6 JURNAL IKA VOL. 16 NO.1 JUNI 2025
dalam kegiatan belajar mengajar, dengan metode ceramah dan penggunaan buku teks
serta lembar kerja siswa (LKS) sebagai sumber utama. Sebaliknya, dalam Kurikulum
Merdeka, guru tampak lebih memberikan kebebasan kepada siswa untuk bereksplorasi
dan berdiskusi, serta menggunakan pendekatan berbasis projek dan konteks kehidupan
nyata. Penggunaan alat peraga sederhana dan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar
menjadi lebih menonjol. Hal ini berdampak positif terhadap peningkatan partisipasi dan
rasa ingin tahu siswa selama proses pembelajaran.
Keterlibatan siswa dalam Kurikulum Merdeka terlihat lebih aktif dibandingkan
dengan saat menggunakan Kurikulum 2013. Siswa tidak lagi hanya mendengarkan
instruksi guru, tetapi mulai berani bertanya, berdiskusi, dan mengemukakan pendapat. Ini
sejalan dengan prinsip pembelajaran aktif menurut teori Vygotsky (1978) yang
menyatakan bahwa interaksi sosial penting dalam perkembangan kognitif anak (Putri &
Nukman, 2024). Sementara itu, pada Kurikulum 2013, siswa cenderung menunggu
arahan dan mengerjakan tugas dengan pola yang seragam. Dalam hal penilaian,
Kurikulum 2013 lebih fokus pada hasil akhir atau nilai ulangan, sedangkan Kurikulum
Merdeka mengedepankan asesmen formatif yang menilai proses belajar siswa secara
menyeluruh. Materi yang diajarkan pun terasa lebih relevan dalam Kurikulum Merdeka,
karena dikaitkan dengan konteks kehidupan siswa sehari-hari. Secara umum, observasi
menunjukkan bahwa Kurikulum Merdeka memberi ruang lebih luas untuk pengembangan
potensi siswa secara utuh.
Selain observasi, peneliti juga melakukan wawancara dilakukan dengan guru
kelas IV bernama Ibu Ademarini, yang telah memiliki pengalaman mengajar lebih dari
sepuluh tahun. Dalam percakapannya, beliau menjelaskan bahwa selama menggunakan
Kurikulum 2013, proses pembelajaran terasa sangat padat dan terburu-buru. Banyak
materi yang harus disampaikan dalam waktu terbatas, sehingga guru sering kali
harus mengorbankan kedalaman materi demi mengejar target kurikulum. Akibatnya,
siswa kurang diberi kesempatan untuk memahami konsep secara mendalam, dan
lebih diarahkan untuk menghafal atau menyelesaikan soal-soal latihan. Guru juga
mengakui bahwa model pembelajaran pada masa itu sangat bergantung pada buku
paket dan LKS, serta masih minim variasi metode. Hal ini berdampak pada
rendahnya partisipasi siswa dalam pembelajaran dan lemahnya keterkaitan antara
materi ajar dengan kehidupan nyata mereka. Namun, sejak mulai menerapkan Kurikulum
7 JURNAL IKA VOL. 16 NO.1 JUNI 2025
Merdeka, guru merasa lebih bebas dan
8 JURNAL IKA VOL. 16 NO.1 JUNI 2025
fleksibel dalam mengatur strategi pembelajaran. Ia menyatakan bahwa dirinya kini dapat
menyesuaikan metode dan materi dengan kebutuhan serta kemampuan siswa di kelasnya.
Hal ini sejalan dengan prinsip diferensiasi yang menjadi ciri khas Kurikulum Merdeka,
sebagaimana dikemukakan oleh (Riwayanto, 2024) yang menyatakan bahwa
pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang menyesuaikan dengan kesiapan,
minat, dan gaya belajar siswa. Guru juga menyebutkan bahwa ia kini lebih kreatif dalam
menyusun kegiatan pembelajaran yang berbasis projek dan observasi langsung.
Meskipun demikian, ia mengakui bahwa tantangan terbesar adalah dalam hal waktu,
karena merancang kegiatan yang bermakna membutuhkan persiapan yang lebih panjang.
Selain itu, tidak semua siswa memiliki akses terhadap teknologi atau fasilitas belajar di
rumah, sehingga perlu strategi khusus agar semua siswa tetap terfasilitasi secara adil.
Guru juga masih dalam tahap belajar dan menyesuaikan diri dengan perubahan pola pikir
dan peran baru dalam kurikulum ini. Tantangan Implementasi Kurikulum Merdeka
1. Kesiapan Guru dalam Mengubah Pola Ajar
Salah satu tantangan paling mendasar dalam implementasi Kurikulum Merdeka
adalah kesiapan guru untuk beralih dari pembelajaran yang berpusat pada guru ke
pembelajaran yang berpusat pada siswa. Berdasarkan observasi, masih banyak guru yang
terbiasa dengan metode ceramah, menggunakan buku teks sebagai satu-satunya sumber
belajar. Perubahan ke arah pembelajaran berdiferensiasi dan berbasis projek menuntut
guru untuk lebih adaptif dan reflektif terhadap kebutuhan siswa. Guru yang efektif adalah
mereka yang mampu memilih pendekatan sesuai dengan kondisi kelas, bukan hanya
berdasarkan kebiasaan (Arviansyah & Shagena, 2022). Dalam wawancara, guru mengaku
masih merasa kesulitan untuk menerapkan strategi pembelajaran yang fleksibel karena
kurangnya pelatihan teknis. Oleh karena itu, pendampingan dan pelatihan menjadi hal
yang krusial agar guru siap mengelola perubahan kurikulum secara optimal.
Selain aspek pedagogis, kesiapan guru juga mencakup kemampuan menyusun
perangkat ajar sesuai dengan prinsip Kurikulum Merdeka. Guru tidak lagi hanya
mengacu pada silabus pusat, melainkan diminta menyusun modul ajar yang relevan
dengan konteks lokal dan karakter siswa. Hal ini membutuhkan keterampilan dalam
merancang kegiatan yang variatif, bermakna, dan menumbuhkan karakter siswa. Menurut
Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, guru profesional adalah
guru yang mampu merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran. Maka jika
9 JURNAL IKA VOL. 16 NO.1 JUNI 2025
guru tidak dibekali
10 JURNAL IKA VOL. 16 NO.1 JUNI 2025
kemampuan tersebut, implementasi kurikulum tidak akan berjalan dengan optimal.
Dengan demikian, kesiapan guru adalah aspek fundamental yang sangat menentukan
keberhasilan pelaksanaan Kurikulum Merdeka (Anggraini et al., 2022).
2. Keterbatasan Sarana dan Prasarana Penunjang
Kurikulum Merdeka menekankan pembelajaran berbasis pengalaman dan projek,
namun hal ini tidak mudah diterapkan tanpa dukungan sarana dan prasarana yang
memadai. Dari hasil pengamatan, fasilitas seperti alat peraga, bahan praktik, dan media
digital masih sangat terbatas di UPT SDN 003 Bangkinang Kota. Guru yang ingin
melaksanakan projek seperti eksperimen sains atau praktik lingkungan harus berinovasi
dengan alat seadanya. Menurut teori pembelajaran konstruktivistik Piaget, siswa akan
lebih mudah membangun pengetahuan melalui pengalaman langsung. Sayangnya, tanpa
alat bantu, pengalaman itu sulit terwujud secara maksimal. Maka keterbatasan fasilitas
dapat menghambat potensi pembelajaran kontekstual yang diharapkan dalam Kurikulum
Merdeka.
Di sisi lain, keterbatasan ini juga berdampak pada kesenjangan pembelajaran antar
siswa. Tidak semua siswa memiliki akses terhadap perangkat teknologi atau bahan belajar
di rumah, sehingga upaya diferensiasi belajar menjadi tidak merata. Padahal, salah satu
prinsip Kurikulum Merdeka adalah memberi ruang keadilan bagi semua siswa untuk
berkembang sesuai potensinya. (Fitriyah & Wardani, 2022) menekankan pentingnya
scaffolding atau bantuan yang tepat agar setiap siswa mencapai zona perkembangan
terdekatnya. Tanpa dukungan fasilitas, guru akan kesulitan memberikan scaffolding yang
sesuai. Oleh sebab itu, peningkatan sarana dan prasarana merupakan syarat penting dalam
mendukung keberhasilan kurikulum baru ini.
3. Pengelolaan Waktu dan Perencanaan Pembelajaran
Guru dihadapkan pada tantangan dalam mengatur waktu secara efektif untuk
menyusun modul ajar, melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi, serta melakukan
asesmen autentik. Berbeda dengan Kurikulum 2013 yang cenderung linear dan
terstruktur, Kurikulum Merdeka lebih fleksibel namun memerlukan perencanaan yang
mendalam. Menurut hasil wawancara, guru merasa terbebani karena harus membuat
perangkat ajar sendiri sekaligus mendesain kegiatan projek yang memakan waktu. Dalam
teori manajemen waktu oleh (Ardianti & Amalia, 2022), kemampuan mengelola waktu
sangat mempengaruhi produktivitas kerja, termasuk dalam konteks pendidikan. Tanpa
11 JURNAL IKA VOL. 16 NO.1 JUNI 2025
perencanaan yang matang, guru dapat mengalami kelelahan dan stres yang berdampak
pada
12 JURNAL IKA VOL. 16 NO.1 JUNI 2025
mutu pembelajaran. Oleh karena itu, dukungan administratif dan pembagian tugas yang
proporsional sangat dibutuhkan.
Selain itu, proses asesmen dalam Kurikulum Merdeka bukan hanya mengukur
hasil akhir, tetapi juga menilai proses belajar siswa. Guru harus terus mengamati
perkembangan siswa, memberi umpan balik, dan menyesuaikan strategi pengajaran
sesuai kebutuhan. Hal ini tentu memakan waktu yang lebih banyak dibandingkan
asesmen formatif biasa. Dalam kerangka assessment for learning yang dikemukakan oleh
asesmen berfungsi sebagai alat untuk meningkatkan proses belajar, bukan hanya sebagai
alat ukur (Ariesanti et al., 2023). Oleh karena itu, keberhasilan Kurikulum Merdeka tidak
cukup hanya dengan perubahan kurikulum, tetapi juga harus didukung oleh waktu dan
beban kerja guru yang wajar.
Peluang dari Kurikulum Merdeka
1. Pembelajaran Lebih Kontekstual dan Relevan
Kurikulum Merdeka memberikan ruang kepada guru untuk menyesuaikan materi
pembelajaran dengan kondisi lokal dan realitas kehidupan siswa. Hal ini sejalan dengan
teori pembelajaran kontekstual oleh (Afriani et al., 2023) yang menyatakan bahwa
pembelajaran akan lebih bermakna jika dikaitkan dengan lingkungan nyata siswa.
Berdasarkan hasil observasi, beberapa guru mulai mengajak siswa mengamati lingkungan
sekitar sebagai bagian dari proses belajar, seperti mengenali jenis-jenis sampah di sekitar
sekolah. Pendekatan ini menjadikan siswa tidak hanya mendengar dan mencatat, tetapi
juga mengalami langsung proses belajar. Hasil wawancara juga mengungkap bahwa
siswa lebih antusias ketika materi dikaitkan dengan pengalaman mereka sehari-hari. Ini
membuktikan bahwa pembelajaran kontekstual membuka peluang untuk meningkatkan
motivasi belajar siswa.
Lebih lanjut, kurikulum ini juga memberikan fleksibilitas bagi guru untuk
mengatur alur materi sesuai tingkat kesiapan kelas. Tidak ada keharusan menyelesaikan
semua materi dalam tempo tertentu, selama capaian kompetensi dasar tercapai. Menurut
(Afriani et al., 2023), siswa belajar lebih efektif ketika informasi disajikan dalam struktur
spiral, di mana materi disampaikan secara bertahap dan berulang sesuai tingkat
perkembangan siswa. Fleksibilitas ini memberi kesempatan kepada guru untuk
mengakomodasi kebutuhan belajar siswa yang beragam. Dengan demikian, Kurikulum
Merdeka bukan hanya mengubah isi materi, tetapi juga pendekatan dan cara berpikir
13 JURNAL IKA VOL. 16 NO.1 JUNI 2025
dalam pembelajaran.
2. Meningkatkan Kreativitas Guru dan Siswa
14 JURNAL IKA VOL. 16 NO.1 JUNI 2025
Salah satu peluang besar dari Kurikulum Merdeka adalah terbukanya ruang
kreativitas dalam pembelajaran, baik untuk guru maupun siswa. Guru tidak lagi terikat
pada satu sumber belajar, melainkan bebas memilih media, strategi, dan metode sesuai
dengan konteks kelasnya. Dalam hasil wawancara, guru menyampaikan bahwa mereka
lebih leluasa mengembangkan ide-ide pembelajaran seperti membuat mini proyek,
presentasi kelompok, atau permainan edukatif. Hal ini sejalan dengan pandangan (Nazar
et al., 2024) yang menyatakan bahwa bahwa kreativitas adalah kemampuan menghasilkan
ide-ide baru dan orisinal dalam memecahkan masalah. Jika difasilitasi dengan baik,
kreativitas akan berkembang secara alami dalam proses belajar. Dengan demikian,
Kurikulum Merdeka menciptakan iklim pembelajaran yang lebih dinamis dan variatif.
Kreativitas siswa pun terdorong karena mereka diberi kebebasan untuk
mengeksplorasi ide dan mengekspresikan pendapatnya. Dalam salah satu pembelajaran
yang diamati, siswa membuat poster ajakan menjaga lingkungan sesuai imajinasi mereka
masing-masing, lalu dipresentasikan. Kegiatan ini tidak hanya menumbuhkan
kemampuan berpikir kritis, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri. Menurut (Alfikri
et al., 2024) lingkungan belajar yang memberi kebebasan dan penghargaan terhadap ide
siswa akan memicu perkembangan kreativitas secara optimal. Melalui pendekatan projek
dan kolaborasi, siswa belajar untuk menyampaikan ide dan menghargai pendapat teman.
Oleh karena itu, kurikulum ini memberikan peluang besar dalam mengembangkan
potensi kreativitas secara holistik.
3. Penguatan Karakter Melalui Profil Pelajar Pancasila
Salah satu kekuatan utama Kurikulum Merdeka adalah integrasi nilai-nilai
karakter dalam setiap kegiatan pembelajaran. Kurikulum ini dirancang untuk membentuk
profil pelajar Pancasila yang beriman, mandiri, bernalar kritis, kreatif, gotong royong,
dan berkebhinekaan global. Dalam observasi pembelajaran, terlihat bahwa nilai gotong
royong dan tanggung jawab mulai ditanamkan melalui kerja kelompok dan kegiatan
kebersamaan. Hal ini sejalan dengan teori pendidikan karakter oleh (Nandawati et al.,
2025) yang menekankan bahwa karakter dapat ditanamkan melalui pembiasaan dalam
lingkungan belajar. Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya berorientasi pada
akademik, tetapi juga membentuk sikap dan perilaku positif siswa. Pendekatan ini sangat
penting dalam membentuk generasi yang unggul dan beretika.
Guru juga diberi peran penting untuk menjadi teladan dan fasilitator nilai-nilai
15 JURNAL IKA VOL. 16 NO.1 JUNI 2025
tersebut dalam pembelajaran sehari-hari. Dalam wawancara, guru menyatakan bahwa
pendekatan tematik dan projek memberi ruang lebih besar untuk menyisipkan nilai
karakter dalam konteks nyata. Misalnya, ketika membahas bencana alam, siswa tidak
hanya mempelajari penyebabnya, tetapi juga diajak berdiskusi tentang kepedulian sosial.
Dengan pendekatan ini, nilai karakter tidak diajarkan secara verbal, tetapi dihidupkan
dalam pengalaman belajar. Seperti yang ditegaskan oleh Ki Hadjar Dewantara,
pendidikan sejati adalah yang mengembangkan budi pekerti bersama ilmu. Maka
Kurikulum Merdeka menjadi peluang strategis dalam menghidupkan kembali pendidikan
karakter secara menyeluruh.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang telah dilakukan, dapat
disimpulkan bahwa terdapat perbedaan mendasar antara Kurikulum 2013 dan
Kurikulum Merdeka dalam proses pembelajaran di UPT SDN 003 Bangkinang Kota,
khususnya di kelas IV. Kurikulum 2013 cenderung berpusat pada guru, materi ajar
padat, dan penilaian lebih menekankan pada hasil akhir, sedangkan Kurikulum Merdeka
lebih fleksibel, berpusat pada siswa, dan mengutamakan pembelajaran kontekstual serta
asesmen formatif. Dalam Kurikulum Merdeka, siswa tampak lebih aktif dan terlibat
dalam proses belajar melalui diskusi, observasi, dan projek sederhana yang relevan
dengan kehidupan sehari-hari.
Namun demikian, implementasi Kurikulum Merdeka tidak lepas dari berbagai
tantangan, di antaranya kesiapan guru, keterbatasan sarana dan prasarana, serta
pengelolaan waktu dan perencanaan pembelajaran yang lebih kompleks. Guru dituntut
untuk lebih kreatif dan reflektif dalam merancang pembelajaran berdiferensiasi dan
berbasis projek. Meski demikian, kurikulum ini juga membuka peluang besar untuk
meningkatkan kualitas pembelajaran, mengembangkan kreativitas, dan memperkuat
nilai-nilai karakter siswa melalui Profil Pelajar Pancasila.
Dengan demikian, transisi dari kurikulum lama ke kurikulum baru memerlukan
dukungan yang kuat dalam bentuk pelatihan berkelanjutan, penyediaan fasilitas, dan
kolaborasi antar pendidik. Perubahan kurikulum tidak hanya sebatas pergantian
dokumen, tetapi juga menuntut perubahan pola pikir, budaya belajar, dan cara pandang
terhadap siswa sebagai subjek pembelajaran. Kurikulum Merdeka pada dasarnya
memberi ruang yang lebih luas untuk menciptakan pembelajaran yang bermakna,
16 JURNAL IKA VOL. 16 NO.1 JUNI 2025
namun keberhasilannya
17 JURNAL IKA VOL. 16 NO.1 JUNI 2025
sangat bergantung pada kesiapan semua pihak yang terlibat dalam dunia pendidikan.
Daftar Pustaka
Afriani, R., Mulawarman, W. G., & Nurlaili, N. (2023). Implementasi Kurikulum
Merdeka Dalam Pembelajaran Di Smp Patra Dharma 2 Balikpapan. Jurnal Ilmu
Manajemen Dan Pendidikan, 3, 123–132.
Alfikri, M. Y., Handayani, S., & Chanifudin, C. (2024). Tantangan Dan Peluang
Implementasi Kurikulum Merdeka Di Madrasah: Menuju Madrasah Unggul Yang
Berdaya Saing. Journal Of Humanities Education Management Accounting And
Transportation, 1(2), 698–702.
Anggraini, D. L., Yulianti, M., Nurfaizah, S., & Pandiangan, A. P. B. (2022). Peran Guru
Dalam Mengembangan Kurikulum Merdeka. Jurnal Ilmu Pendidikan Dan Sosial,
1(3), 290–298.
Ardianti, Y., & Amalia, N. (2022). Kurikulum Merdeka: Pemaknaan Merdeka Dalam
Perencanaan Pembelajaran Di Sekolah Dasar. Jurnal Penelitian Dan
Pengembangan Pendidikan, 6(3), 399–407.
Ariesanti, D., Mudiono, A., & Arifin, S. (2023). Analisis Implementasi Kurikulum
Merdeka Dan Perencanaan Pembelajaran Di Sekolah Dasar. Sentri: Jurnal Riset
Ilmiah, 2(6), 1896–1907.
Arviansyah, M. R., & Shagena, A. (2022). Efektivitas Dan Peran Guru Dalam Kurikulum
Merdeka Belajar. Lentera: Jurnal Ilmiah Kependidikan, 17(1), 40–50.
Fitriyah, C. Z., & Wardani, R. P. (2022). Paradigma Kurikulum Merdeka Bagi Guru
Sekolah Dasar. Scholaria: Jurnal Pendidikan Dan Kebudayaan, 12(3), 236–243.
Lestari, D., Asbari, M., & Yani, E. E. (2023). Kurikulum Merdeka: Hakikat Kurikulum
Dalam Pendidikan. Journal Of Information Systems And Management (Jisma),
2(6), 85–88.
Nandawati, A., Suprijono, A., & Segara, N. B. (2025). Penanaman Sikap Gotong Royong
Melalui Pembelajaran Ips Pada Siswa Kelas Viii Di Smpn 1 Karangrejo
Kabupaten Magetan. Jurnal Dialektika Pendidikan Ips, 5(1), 225–234.
Nazar, E. R., Nasir, N., & Bagea, I. (2024). Peluang Dan Tantangan Implementasi
Kurikulum Merdeka Belajar: Sebuah Studi Interview Di Sekolah Penggerak Dan
Mandiri Berubah. Kelola: Jurnal Manajemen Pendidikan, 11(1), 18–31.
Nurhasanah, A., Pribadi, R. A., & Nur, M. D. (2021). Analisis Kurikulum 2013.
Didaktik: Jurnal Ilmiah Pgsd Stkip Subang, 7(02), 484–493.
Purwowidodo, A., & Zaini, M. (2023). Teori Dan Praktik Model Pembelajaran
Berdiferensiasi Implementasi Kurikulum Merdeka Belajar. In Yogyakarta:
Penebar Media Pustaka.
18 JURNAL IKA VOL. 16 NO.1 JUNI 2025
Putri, N. A., & Nukman, M. (2024). Peran Guru Dalam Implementasi Kurikulum
Merdeka Di Sekolah Dasar. Muallimuna: Jurnal Madrasah Ibtidaiyah, 10(1),
109–123.
Riwayanto, R. (2024). Implementasi Pembelajaran Berdiferensiasi Dan Assesmen Pada
Kurikulum Merdeka Di Sekolah Dasar Se-Kecamatan Sindang Kelingi,
Kabupaten Rejang Lebong. Dhammavicaya: Jurnal Pengkajian Dhamma, 7(2),
59–74.
Umami, S., & Wahyudi, K. (2025). Strategi Kepemimpinan Transformasional Dalam
Menghadapi Tantangan Kurikulum Merdeka Belajar Di Sekolah. Jiip-Jurnal
Ilmiah Ilmu Pendidikan, 8(3), 3550–3559.
19 JURNAL IKA VOL. 16 NO.1 JUNI 2025