MSDM
MSDM
MANUSIA
Ende
Deddy Sulaimawan
Diah Sastaviana
Marsudi Lestariningsih
Mira Rozanna
Asma Mario
Siti Mahmudah
Emanuel Michael Bayudhirgantara
René Johannes
Filiae Marry
Habib Priyono
Edi Pranyoto
i
MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA
Penulis : Ende
Deddy Sulaimawan
Diah Sastaviana
Marsudi Lestariningsih
Mira Rozanna
Asma Mario
Siti Mahmudah
Emanuel Michael Bayudhirgantara
René Johannes
Filiae Marry
Habib Priyono
Edi Pranyoto
ISBN : 978-623-151-498-1
ii
All right reserved
iii
KATA PENGANTAR EDITOR
iv
KATA PENGANTAR
Penulis
v
DAFTAR ISI
vi
BAB 5 MANAJEMEN KINERJA ................................................... 38
A. Pengertian dan Tujuan Manajemen Kinerja ................. 38
B. Proses dan Teknik Manajemen Kinerja ......................... 40
C. Evaluasi dan Feedback dalam Manajemen Kinerja........ 50
D. Isu dan Tantangan dalam Manajemen Kinerja ............ 51
BAB 6 KOMPENSASI DAN BENEFIT......................................... 53
A. Pengertian Kompensasi dan Benefit ............................. 53
B. Prinsip dan Komponen dalam Kompensasi dan
Benefit .............................................................................. 54
C. Manajemen dan Strategi Kompensasi ........................... 55
D. Isu dan Tantangan dalam Kompensasi dan Benefit .... 56
BAB 7 MANAJEMEN HUBUNGAN KARYAWAN ................... 58
A. Pengertian dan Tujuan Manajemen Hubungan
Karyawan......................................................................... 58
B. Strategi Meningkatkan Hubungan Karyawan ............. 60
C. Peran Komunikasi dalam Hubungan Karyawan ......... 61
D. Isu dan Tantangan dalam Manajemen Hubungan
Karyawan......................................................................... 62
BAB 8 KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA ............... 64
A. Pengertian Kesehatan Dan Keselamatan Kerja ............ 64
B. Peran dan Fungsi Kesehatan dan Keselamatan Kerja . 67
C. Metode dan Strategi Meningkatkan Kesehatan dan
Keselamatan Kerja .......................................................... 71
D. Isu dan Tantangan Dalam Kesehatan dan
Keselamatan Kerja .......................................................... 74
BAB 9 PENGEMBANGAN KARIER DAN SUKSESI ................ 77
A. Pengertian Pengembangan Karier dan Suksesi ............ 78
B. Proses dan Strategi Pengembangan Karier dan
Suksesi.............................................................................. 80
C. Peran Manajer dalam Pengembangan Karier dan
Suksesi.............................................................................. 84
D. Isu dan Tantangan dalam Pengembangan Karier dan
Suksesi.............................................................................. 86
BAB 10 MANAJEMEN PERUBAHAN DAN INOVASI .............. 90
A. Pengertian Manajemen perubahan dan Iovasi ............ 90
B. Proses dan Strategi Manajemen Perubahan dan
Inovasi .............................................................................. 94
vii
C. Peran Manajemen Sumber Daya Manusia Dalam
Peubahan dan Inovasi ................................................... 103
D. Isu dan Tantangan Manajemen Perubahan dan
Inovasi ............................................................................ 104
BAB 11 BUDAYA PERUSAHAAN ................................................ 107
A. Pengertian dan Fungsi Budaya Perusahaan ............... 107
B. Cara Membangun dan Mempertahankan Budaya
Perusahaan ..................................................................... 111
C. Dampak Budaya Perusahaan terhadap Karyawan .... 116
D. Isu dan Tantangan dalam Menerapkan Budaya
Perusahaan ..................................................................... 117
BAB 12 MANAJEMEN KONFLIK ................................................ 120
A. Pengertian dan Sumber Konflik di Tempat Kerja ...... 120
B. Strategi dan Teknik Penyelesaian Konflik .................. 127
C. Peran Manajemen Sumber Daya Manusia dalam
Manajemen Konflik ....................................................... 132
D. Isu dan Tantangan dalam Manajemen Konflik .......... 134
BAB 13 KEPEMIMPINAN DAN MOTIVASI ............................. 136
A. Pengertian Kepemimpinan dan Motivasi ................... 136
B. Gaya Kepemimpinan dan Dampaknya terhadap
Motivasi Karyawan ....................................................... 137
C. Teknik Motivasi dalam Manajemen Sumber Daya
Manusia .......................................................................... 142
D. Isu dan Tantangan dalam Kepemimpinan dan
Motivasi .......................................................................... 143
BAB 14 DIVERSITAS DI TEMPAT KERJA ................................ 151
A. Pengertian dan Pentingnya Diversitas di Tempat
Kerja ................................................................................ 151
B. Manajemen Diversitas dalam Sumber Daya
Manusia .......................................................................... 157
C. Dampak Diversitas terhadap Kinerja Tim .................. 163
D. Isu dan Tantangan dalam Manajemen Diversitas ...... 164
BAB 15 ETIKA DAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL
DALAM MANAJEMEN SUMBER DAYA
MANUSIA .......................................................................... 166
A. Pengertian Etika dan Tanggung Jawab Sosial dalam
Manajemen SDM ........................................................... 166
viii
B. Praktek-praktek Etis dalam Manajemen SDM ........... 167
C. Implementasi Tanggung Jawab Sosial dalam
Manajemen SDM ........................................................... 168
D. Isu dan Tantangan Etika dan Tanggung Jawab Sosial
dalam Manajemen SDM ............................................... 170
BAB 16 MASA DEPAN MANAJEMEN SUMBER DAYA
MANUSIA .......................................................................... 172
A. Trend dan Prediksi Masa Depan Manajemen SDM ... 172
B. Pengaruh Teknologi terhadap Manajemen SDM ....... 173
C. Peran SDM dalam Era Digital dan Industri 4.0 .......... 175
D. Kompetensi yang Dibutuhkan SDM di Masa Depan 176
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................... 178
TENTANG PENULIS ..................................................................... 188
ix
MANAJEMEN SUMBER DAYA
MANUSIA
Ende
Deddy Sulaimawan
Diah Sastaviana
Marsudi Lestariningsih
Mira Rozanna
Asma Mario
Siti Mahmudah
Emanuel Michael Bayudhirgantara
René Johannes
Filiae Marry
Habib Priyono
Edi Pranyoto
x
BAB PENDAHULUAN
1
MANAJEMEN SUMBER
DAYA MANUSIA
PENDAHULUAN MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA
1
profesional dan adil sesuai dengan porsi masing-masing
pegawai. MSDM berorientasi pada penciptaan SDM yang
handal. Tanpa SDM yang handal, pengelolaan, penggunaan, dan
pemanfaatan sumber daya lainnya jadi tidak berdaya guna dan
berhasil guna (Siagian, 2018).
2
Masalah-masalah politik berkaitan dengan semakin
tingginya perhatian terhadap Hak Asasi Manusia (HAM),
keberadaan organisasi buruh yang perlu penanganan serius, dan
faktor campur tangan pemerintah. Sedangkah masalah-masalah
sosial berkaitan dengan adanya pergeseran nilai dalam
masyarakat, berkurangnya kebanggaan terhadap hasil
pekerjaan, meningkatnya pekerja wanita, serta kebutuhan
manusia yang semakin beraneka ragam.
Pada intinya, MSDM akan senantiasa berkembang dari
waktu kewaktu sesuai dengan perubahan lingkungan,
teknologi, budaya, regulasi, dan peradaban. Tingkat persaingan
juga sangat berdampak pada perkembangan keilmuan MSDM.
3
Pengarahan saja tidak cukup, karyawan harus dikendalikan
agar karyawan menaati peraturan-peraturan dan ketentuan
perusahaan.
Fungsi MSDM selanjutnya adalah fungsi pengadaan.
Fungsi ini dimaksudkan untuk mendapatkan karyawan yang
sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Karyawan sebagai
asset dan penggerak organsisasi harus senantiasa
ditingkatkan kemampuannya agar mampu menghadapi
tantangan jaman. Fungsi ini disebut fungsi MSDM sebagai
pengembangan.
Fungsi kompensasi berhubungan dengan pemberian
balas jasa langsung atau tidak langsung, uang atau barang
sebagai imbalan balas jasa karyawan terhadap perushaan.
Fungsi pengintegrasian berhubungan dengan kegiatan untuk
mempersatukan kepentingan perusahaan dan kebutuhan
karyawan. Pengintegasian akan menciptakan sinergi yang
harmonis antara perusahaan dan karyawan. Fungsi MSDM
yang tidak kalah pentingnya adalah fungsi pemeliharaan.
Pemeliharaan adalah kegiatan untuk menjaga kondisi fisik,
mental, dan loyalitas karyawan agar mereka mau bekerja
sama sampai pensiun.
Dua fungsi MSDM terakhir adalah kedisiplinan dan
pemberhentian. Kedisiplinan adalah kesadaran karyawan
untuk menaati peraturan-peraturan perusahaan dan norma-
norma social. Dan fungsi terakhir adalah fungsi
pemberhentian. Kebijakan pemberhentian harus
memperhatikan hak-hak karyawan seperti uang pensiun,
uang penghargaan, dan lain-lain.
2. Peran MSDM
MSDM memiliki peran yang sangat dominan dalam
perusahaan. Pentingnya peran MSDM dikarenakan
mayoritas aktifitas manajemen berhubungan dengan orang
atau manusia. Peran-peran manajemen sumber daya
manusia terdiri dari (Kasmir, 2019):
4
a. Analisis Jabatan (Job Analysis)
b. Perencanaan Sumber Daya Manusia (Human Resource
Planning)
c. Penarikan Pegawai (Recruitment)
d. Seleksi Pegawai (Selection)
e. Pelatihan dan Pengembangan (Training and Development)
f. Evaluasi Kinerja (Performance Evaluation)
g. Kompensasi (Compensation)
h. Jenjang Karir (Carrier Path)
i. Keselamatan dan Kesehatan (Safety and Health)
j. Hubungan Industrial (Industrial Relation)
k. Hubungan Kerja (Separation)
5
pegawai dari luar perusahaan atau menarik pegawai dari
dalam perusahaan.
Peran yang keempat adalah seleksi pegawai. Langkah
ini dilakukan setelah diperoleh calon pegawai hasil
rekrutmen pegawai. Melalui tahap seleksi diharapkan
mendapatkan tenaga kerja yang sesuai dengan kualitas yang
dibutuhkan. Pada umumnya, rangkaian seleksi dimulai dari
tes tertulis, wawancara, sampai tes kesehatan.
Peran yang kelima adalah pelatihan dan
pengembangan. Kegiatan ini dilakukan untuk meningkatkan
kemampuan pegawai agar relevan dengan kebutuhan saat
ini. Kegiatan pelatihan dilakukan untuk meningkatkan
kemampuan teknis pegawai. Sedangkan pengembangan
dilakukan dalam rangka meningkatkan kemampuan non
teknis atau disebut soft skill pegawai seperti kepemimpinan,
kreativitas, inovasi, dan lain-lain.
Pegawai dalam pelaksanaan tugasnya perlu dinilai
hasil kerjanya melalui serangkaian kegiatan Evaluasi Kinerja.
Pegawai membutuhkan umpan balik terhadap kinerjanya
sebaga pemibimbing sikap untuk dimasa yang akan datang
(Lubis et al., 2018). Penilaian kerja dilakukan sebagai langkah
administratif dan pengembangan (Suwatno & Juni Priansa,
2018). Secara adminstratif, perusahaan dapat menjadikan
penilaian kinerja sebagai acuan dalam membuat keputusan
berkenaan dengan kondisi kerja karyawan termasuk untuk
promosi, demosi, rotasi, maupun pemutusan hubungan
kerja. Sedangkan secara pengembangan, penilaian kinerja
dilakukan sebagai salah satu cara memotivasi dan
meningkatkan keterampilan kerja termasuk pemberikan
konseling.
Kompensansi adalah segala sesuatu yang diterima
oleh karyawan sebagai balas jasa kerja mereka
(Sedarmayanti, 2020). Pemberian kompensasi berdampak
pada keadaan materi, ketentraman batin, ketekunan, serta
inisiatif pegawai (Sutrisno, 2009). Organisasi yang tidak
mampu memberikan kompensansi yang memadai akan
6
berdampak pada ketidakpuasan pegawai, kegoncangan pada
organisasi, dan berpeluang pada terjadinya aksi demo
(Priansa, 2018).
Jenjang karir merupakan proses berkesinambungan
yang dilalui individu melalui upaya-upaya pribadi dalam
rangka mewujudkan tujuan perencanaan karirnya yang
disesuaikan dengan kondisi organisasi (Busro, 2018).
Organisasi yang besar memungkinkan tersedianya jenjang
karir yang luas dikarenakan tersedia posisi jabatan yang
banyak. Karir karyawan diberikan melalui perencanaan karir
bagi seluruh karyawan yang dilakukan secara transparan
dan jelas. Karir seorang karyawan dapat meningkat
(promosi), diturunkan (demosi) atau dipindahkan ke jabatan
lain yang levelnya sama (rotasi)
Keselamatan dan kesehatan merupakan peran MSDM
yang sangat penting untuk diperhatikan dan dilaksanakan.
Keselamatan dan kesehatan kerja mengacu pada kondisi
pekerja dan kondisi lingkungan kerja. Keduanya harus
memenuhi standar yang ditetapkan. Keselamatan dan
kesehatan kerja mengacu pada kondisi-kondisi fisik dan
mental yang disebabkan oleh lingkungan kerja.
Hubungan industrial adalah peran MSDM yang
digunakan untuk menjembatani kepentingan dan keinginan
pihak karyawan dan manajemen perusahaan. Pihak
karyawan diwakili serikat pekerja. peran hubungan
industrial berkaitan dengan penyelesaian perselisihan pihak
pekerja dan manajemen perusahaan. Penyelesaian
perselisihan dilakukan dengan menghadirkan serikat
pekerja, perusahaan, dan pemerintah.
Pemerhentian adalah putusanya hubungan keerja
seseorang dari suatu perusahan atau lembaga (Hasibuan,
2017). Pemberhentian ini disebabkan oleh keinginan
karyawan, keinginan perusahaan, kontrak kerja berakhir,
pensiun, dan sebab -sebab lainnya. Pemutusan hubunga kerja
harus dengan cara yang baik mengingat saat karyawan
masuk pun diterima dengan baik (Badriyah, 2015).
7
D. Tantangan dan Isu dalam Manajemen Sumber Daya
Manusia
MSDM merupakan kajian yang dinamis dan akan selalu
dihadapkan pada berbagai tantangan. Terdapat dua tantangan
yang dihadapi MSDM saat ini yaitu tantangan internal dan
tantangan eksternal (Sedarmayanti, 2017).
Tantangan Internal
1. Karakter Organisasi/Perusahaan
Setiap perusahaan memiliki karakteristik unik dalam
melaksanakan kegiatan usahanya. Karakter organisasi
merupakan ciri organisasi dengan orang-orangnya,
tujuannya, teknologinya, peraturannya, dan kebijakannya.
2. Serikat Pekerja
Tantangan yang dihadapi divisi SDM dari serikat pekerja
yang dibentuk dalam perusahaan. Setiap perjanjian kerja
yang mengatur persyaratan kerja ditandatangani manajemen
dan serikat pekerja.
3. Sistem Informasi
Divisi SDM memerlukan informasi rinci. Kemampuan
memperbaiki informasi merupakan tantangan departemen.
Oleh karena itu, perusahaan harus mengembangkan sistem
informasi SDM berbasis computer agar mampu merekam,
menyimpan, dan menyiapkan informasi SDM sesuai dengan
kebutuhan.
4. Perbedaan Individu Pegawai dan Sistem Nilai
SDM dalam perusahaan memiliki perbedaan sikap, perasaan,
dan fikiran serta karakteristik. Kepribadian SDM yang
berbeda harus diperhatikan manajemen khususnya
departemen SDM agar tidak terjadi konflik dalam
perusahaan.
5. Produktifitas SDM
Produktifitas adalah ukuran tingkat kemampuan karyawan
secara individual dalam menghargai hasil kerja dan
partisipasinya dalam menghasilkan barang/jasa.
Penghargaan dilihat dari kualitas dan kuantitas keluaran
8
memberi keuntungan bagi perusahaan dan memuaskan
masyarakat.
9
fasilitas yang tersedia serta bisa dengan mudah dan murah
dijangkau karyawan dan masyarakat.
6. Kondisi Pasar Tenaga Kerja
Reputasi perusahaan merupakan masalah pokok yang
tercermin pada kemampuan perusahaan dalam memuaskan
kebutuhan karyawannya untuk jangka pendek dan jangka
panjang. Hal ini tercermin dari kebijakan kompensasi,
kesejahteraan karyawan, pengakuan perusahaan terhadap
karyawannya. Langkanya SDM terampil yang memiliki
kualifikasi tertentu menuntut peningkatan upah/gaji.
7. Pesaing
Perusahaan pesaing dalam mendapatkan SDM berkualitas
terkadang mengambil jalan pintas, mudah, dan murah, serta
membajak karyawan terampil.
8. Globalisasi
Saat ini sedang memasuki era global, bisnis global, dan
perdagangan bebas. Kondisi ini berdamapak pada keharusan
mempersiapkan SDM yang unggul, berkualitas, dan mampu
bersaing.
10
BAB PERENCANAAN
2
SUMBER DAYA
MANUSIA
PERENCANAAN SUMBER DAYA MANUSIA
11
3. Audit SDM
Audit ini melibatkan penilaian keterampilan dan
kemampuan karyawan saat ini di organisasi. Tujuannya
adalah untuk mengetahui apa yang saat ini dimiliki oleh
organisasi dan apa yang diperlukan untuk masa depan.
4. Pembuatan Rencana Aksi
Setelah kebutuhan dan sumber daya manusia yang ada
diidentifikasi, organisasi kemudian membuat rencana aksi
untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Rencana aksi ini dapat
mencakup rekrutmen, pelatihan, pengembangan,
penggantian, atau pemutusan hubungan kerja.
5. Implementasi Rencana
Ini adalah tahap pelaksanaan rencana yang telah dibuat. Ini
melibatkan pengaturan berbagai aktivitas dan program
seperti program rekrutmen dan seleksi, program pelatihan
dan pengembangan, dan program retensi karyawan.
6. Evaluasi dan Kontrol
Ini adalah tahap terakhir di mana efektivitas perencanaan
SDM dievaluasi. Ini melibatkan pemantauan dan
penyesuaian rencana jika diperlukan.
12
2. Teknologi
Kemajuan teknologi dapat mempengaruhi jumlah dan jenis
karyawan yang diperlukan oleh organisasi. Misalnya, adopsi
teknologi baru mungkin memerlukan karyawan dengan
keterampilan atau pengetahuan khusus.
3. Perubahan Demografis
Faktor ini mencakup perubahan dalam komposisi umur, jenis
kelamin, pendidikan, dan asal-usul etnis dari tenaga kerja.
Misalnya, penuaan populasi dapat mempengaruhi
ketersediaan tenaga kerja dan keterampilan yang tersedia.
4. Hukum dan Regulasi
Undang-undang dan regulasi pemerintah, baik pada tingkat
nasional maupun lokal, dapat mempengaruhi perencanaan
SDM. Misalnya, undang-undang tentang hak pekerja,
keselamatan kerja, dan diskriminasi dapat mempengaruhi
bagaimana organisasi merencanakan dan mengelola SDM
mereka.
5. Kondisi Ekonomi
Kondisi ekonomi, seperti tingkat pengangguran, inflasi, dan
pertumbuhan ekonomi, juga dapat mempengaruhi
perencanaan SDM. Misalnya, dalam kondisi ekonomi yang
sulit, organisasi mungkin perlu merencanakan pengurangan
tenaga kerja.
6. Perubahan Lingkungan Bisnis
Perubahan dalam lingkungan bisnis, seperti persaingan
pasar, perubahan dalam permintaan konsumen, dan
perubahan dalam rantai pasokan, dapat mempengaruhi
kebutuhan organisasi untuk karyawan dengan keterampilan
dan pengetahuan tertentu.
7. Ketersediaan Sumber Daya
Ketersediaan sumber daya, termasuk keuangan, juga dapat
mempengaruhi perencanaan SDM. Misalnya, jika organisasi
memiliki sumber daya keuangan yang terbatas, ini mungkin
membatasi kemampuan mereka untuk merekrut atau melatih
karyawan baru.
13
Semua faktor ini harus dipertimbangkan dalam proses
perencanaan sumber daya manusia untuk memastikan bahwa
organisasi memiliki tenaga kerja yang tepat untuk mencapai
tujuannya.
14
karyawan dalam hal jumlah atau keterampilan, dan
membantu organisasi merencanakan strategi rekrutmen,
pelatihan, dan pengembangan yang diperlukan.
15
jumlah dan jenis karyawan dengan perubahan permintaan
atau kondisi bisnis.
4. Strategi Suksesi dan Perencanaan Karier
Strategi ini melibatkan perencanaan untuk penggantian
karyawan penting dan pengembangan jalur karir untuk
karyawan. Ini membantu memastikan kelancaran transisi
kepemimpinan dan membantu memotivasi dan
mempertahankan karyawan.
5. Strategi Retensi
Strategi ini melibatkan upaya untuk mempertahankan
karyawan berbakat melalui program seperti peningkatan
kompensasi dan manfaat, peningkatan kepuasan kerja, dan
penciptaan lingkungan kerja yang positif.
16
BAB
PEREKRUTAN DAN
3 SELEKSI
PEREKRUTAN DAN SELEKSI
A. Pengertian Perekrutan
Perekrutan atau proses rekrutmen merupakan suatu
proses untuk menarik orang-orang yang merupakan kandidat
atau calon karyawan di waktu yang tepat, jumlah yang sesuai
perencanaan, dan syarat yang sesuai untuk mengisi posisi atau
jabatan yang kosong di suatu perusahaan atau organisasi
(Mondy, 2008). Pada hakikatnya, rekrutmen juga merupakan
suatu proses untuk menentukan dan menarik kandidat atau
calon karyawan yang memiliki kemampuan untuk bekerja pada
posisi tertentu di sebuah perusahaan (Gaol, 2014). Artinya,
rekrutmen dilakukan ketika perusahaan membutuhkan sumber
17
daya manusia untuk mengisi atau mengantisipasi kekosongan
jabatan tertentu.
Rekrutmen merupakan suatu proses yang dilakukan
untuk mengisi kekosongan sumber daya manusia di dalam
sebuah organisasi. Rekrutmen merupakan usaha untuk
mendapatkan sumber daya manusia baru yang akan menjadi
bagian dalam organisasi. Rekrutmen ini menekankan pada
proses perekrutan sumber daya manusia yang dimulai dengan
melakukan identifikasi akan kebetuhan sumber daya manusia
yang ada dalam sebuah organisasi. Rekrutmen merupakan
faktor penentu utama dalam proses seleksi untuk mendapatkan
kandidat yang sesuai dengan apa yang diinginkan oleh
organisasi (Dessler, 2017).
Perekrutan sumber daya menusia merupakan salah satu
proses untuk mencari potensi individu-individu yang melamar
dalam sebuah organisasi. Rekruitmen yang baik diawali dengan
analisis jabatan sehingga organisasi dapat memahami apa yang
dikerjakan dalam jabatan tertentu sehingga dapat mencari
karakteristik calon pekerja sesuai dengan apa yang dibutuhkan
(Riggio, 2013). Oleh karena itu, perekrut perlu melakukan
analisis pekerjaan, dekrispsi pekerjaan, dan spesifikasi
pekerjaan. Proses rekrutimen yang dikatakan sukses yaitu dapat
menarik banyaknya pelamar yang memiliki kualifikasi yang
diingiinkan oleh perusahaan.
18
sedangkan rekrutmen eksternal dapat berupa iklan, job fair dan
lain-lain (Aamodt, 2013).
Perekrutan internal dimulai dengan peninjauan pada
perencanaan sumber daya manusia terkait mutasi dan promosi
untuk mengidentifikasi kemungkinan adanya sumber daya
manusia yang dapat dipersiapkan menduduki posisi yang
kosong atau yang lebih tinggi. Perekrutan eksternal dilakukan
untuk mendapatkan kompetensi-kompetensi baru yang dapat
mengisi kekosongan posisi tertentu (Sunyoto, 2015). Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa sumber rekrutmen ada dua,
yaitu rekrutmen internal perusahaan dan eksternal perusahaan.
Kedua sumber rekrutmen memiliki kelebihan dan
kelemahannya masing-masing sehingga pemilihan sumber yang
akan digunakan perlu dipertimbangkan dan direncanakan
dengan baik.
Kelebihan dari perekrutan internal adalah biaya yang
diperlukan lebih kecil, memelihara loyalitas karyawan dan
mendorong usaha yang lebih besar karyawan, dapat mengetahui
kelebihan dan kelemahan karyawan, serta calon karyawan
sudah terbiasa dengan suasana perusahan, sedangkan
kelemahannya adalah bakat-bakat baru tidak terdeteksi,
mengurangi peluang dan dapat meningkatkan perasaan puas
diri dari karyawan. Sedangkan kelebihan rekrutmen eksternal
adalah mendapatkan sumber daya manusia dengan kompetensi
yang baru dan ide atau inovasi baru, dan menambah sumber
daya manusia sesuai kebutuhan perusahaan. Kelemahannya
adalah biaya yang dikeluarkan untuk proses rekrutmen lebih
mahal, biaya untuk gaji karyawan baru lebih besar
dibandingkan karyawan promosi (Cascio & Aguinis, 2014)
Berbagai macam metode yang dapat digunakan untuk
menarik pelamar yaitu dapat menggunakan sosial media,
menggunakan jasa iklan lowongan kerja, surat kabar, majalah,
iklan televisi maupun radio, papan reklame, dan lain-lain. Jika
perusahaan menargetkan mahasiswa-mahasiswa yang baru
lulus dari peruguruan tinggi untuk menjadi calon pegawai,
maka perusahaan dapat menjalin kerjasama dengan universitas-
19
unversitas yang unggul. Selain itu, dalam proses rekrutmen
terdapat metode yang disebut dengan walk in, dimana walk-in
merupakan rekomendasi yang berasal dari karyawan yang telah
bekerja didalam perusahaan. Pelamar yang direkomendasikan
biasanya akan lebih menunjukkan motivasi dibandingkan
dengan pelamar yang berasal dari iklan lowongan kerja (Riggio,
2013).
C. Alternatif-Alternatif Rekrutmen
Perekrutan atau proses rekrutmen sumber daya manusia
untuk mengisi kekosongan jabatan atau posisi tertentu di
perusahaan, tidak selalu berjalan dengan lancer sesuai
perencanaan. Terdapat berbagai kendala yang dapat dialami,
sehingga diperlukan alternatif rekrutmen yang dapat
dipertimbangkan jika proses rekrutmen tidak berjalan dengan
baik. Alternatif yang dapat digunakan, seperti kerja lembur
(overtime), alih daya (outsourcing), kontrak jangka pendek, dan
persewaan karyawan (Mondy, 2008 ;(Gaol, 2014).
Kerja lembur (overtime) dapat dijadikan sebagai alternatif
rekrutmen jika perusahaan mengalami tuntutan kerja jangka
pendek, sehingga tidak perlu penambahan sumber daya
manusia tetapi menambah jumlah jam kerja karyawan yang ada
dengan memberikan gaji tambahan sesuai jam lembur. Alih daya
(outsourcing) adalah cara yang dapat dilakukan untuk
menambah sumber daya manusia di perusahaan atau organisasi
dengan menggunakan vendor atau perusahaan eksternal,
dimana perusahaan alih daya akan memasok karyawan sesuai
kebutuhan perusahaan. Kontrak jangka pendek dapat menjadi
alternatif rekrutmen dengan mempekerjakan karyawan pada
saat dibutuhkan saja dan dapat segera mengakhiri kontrak
ketika pekerjaan tidak membutuhkan. Alternatif lainnya adalah
persewaan karyawan yang dilakukan dengan cara bekerjasama
dengan perusahaan lain sehingga ketika membutuhkan
karyawan tambahan, maka perusahaan dapat menyewa
karyawan dari perusahaan lain berdasarkan kesepakatan kedua
perusahaan (Mondy, 2008 ;(Gaol, 2014).
20
D. Pengertian Seleksi
Seleksi adalah kegiatan yang dilakukan sebagai
tindaklanjut dari proses rekrutmen, sehingga dilaksanakan
setelah rekrutmen selesai dilaksanakan (Gaol, 2014). Seleksi
merupakan proses yang dilakukan untuk mencocokkan
kemampuan seseorang dengan jabatan atau pekerjaan tertentu,
sehingga dalam proses seleksi diperlukan pengambilan
keputusan yang tepat terkait sumber informasi yang relevan
(Cascio & Aguinis, 2014). Seleksi sumber daya manusia dalam
sebuah organisasi merupakan hal yang sangat penting agar
mendapatkan sumber daya manusia yang professional. Dengan
demikian, sumber daya manusia tersebut nantinya dapat
bermanfaat bagi pengembangan sebuah organisasi.
Seleksi adalah proses awal yang dilakukan untuk
membangun kualitas sumber daya manusia dalam organisasi.
Proses seleksi disebut sebagai jantung dari program
pengembangan sumber daya manusia di organisasi (Sunyoto,
2015). Seleksi merupakan proses yang sistematis dalam sebuah
perusahaan untuk memutuskan individu mana yang akan
mengisi kekosongan posisi yang ada didalam organisasi
(Muryani dkk, 2022). Seleksi merupakan kegiatan yang
dilakukan untuk dapat menentukan apakah calon karyawan
akan diterima dalam suatu pekerjaan atau tidak. Proses seleksi
memiliki calon karyawan dari sekelompok pelamar yang sudah
memenuhi kriteria untuk sebuah posisi dalam suatu
perusahaan.
Seleksi memiliki peran penting dalam meningkatkan
kinerja sumber daya manusia di perusahaan, jika seleksi yang
dilaksanakan tepat akan sangat efektif untuk menyaring calon
karyawan yang sesuai dengan kualifikasi yang diinginkan.
Proses seleksi adalah langkah yang akan dilalui oleh para calon
karyawan mulai dari mengajukan lamaran hingga memperoleh
keputusan ditolak atau diterima oleh pihak perusahaan sebagai
karyawan baru. Proses seleksi akan berbeda-beda tiap
perusahaan tergantung dari jenis perusahaan dan jabatan
ditambah lagi dengan perkembangan zaman (Aamodt, 2013).
21
Tujuan dilaksanakannya seleksi yaitu untuk mencocokan
seseorang dengan pekerjaan dan organisasi. Seseorang dengan
kualifikasi yang melebihi persyaratan (overqualified), persyaratan
yang kurang (underqualified) dan tidak adanya kecocokan
dengan pekerjaan atau budaya organisasi, maka akan
menimbulkan kinerja yang tidak efektif serta dapat berakibat
pada turnover (Mondy, 2008). Apabila proses pelaksanaan seleksi
tidak optimal maka dapat berdampak negatif, seperti adanya
keluhan karena tidakpuasan pelanggan, penurunan kuantitas
dan kualitas produk, dan masalah lainnya sehingga pelaksanaan
seleksi harus dipersiapkan dengan baik (Gaol, 2014).
22
Terdapat pendekatan dalam proses pelaksanaan seleksi
dalam sebuah organisasi yang dapat mempengaruhi kualitas
hasil seleksi yang telah dilakukan, (Darsana, & Sukaarnawa,
2023):
1. Pendekatan successive hurdles
Pendekatan ini merupakan pendekatan yang paling banyak
digunakan, yaitu menekankan pada pelamar kerja yang
berhasil dalam proses seleksi. Pelamar atau calon karyawan
yang diterima oleh suatu organisasi, telah dinyatakan lulus
dari berbagai persyaratan yang telah ditentukan secara
bertahap oleh organisasi. Misalnya dimulai dari seleksi surat
lamaran, blangko lamaran, pemeriksaan lamaran,
wawancara pendahuluan, tes tertulis, tes psikologi, tes
kesehatan, dan pernyataan diterima. Semua tes tersebutlah
yang disebut dengan hurdles, dimana harus lulus dengan
hasil baik secara berurutan.
2. Pendekatan compensantory
Pendekatan ini merupakan pendekatan yang jarang
digunakan karena didasarkan pada anggapan terhadap suatu
kekurangan pada satu faktor tertutupi oleh faktor lainnya
yang cukup baik. Misalnya seorang kandidat diterima
menjadi bagian dalam sebuah organisasi berdasarkan hasil
tes secara menyeluruh yang telah dilakukan. Pada tes
tersebut terdapat salah satu bagian yang memiliki nilai yang
agak kurang tetapi pada bagian tes lainnya kandidat tersebut
memiliki nilai yang sangat baik. Sehingga bagian tes yang
memiliki nilai kurang tersebut tertutupi oleh bagian tes
lainnya yang memiliki nilai yang sangat baik. Hal tersebut
didapatkan dari jumlah hasil akhir yang dicapai memenuhi
syarat penerimaan agar dapat bergabung dalam organisasi.
23
dilaksanakan dalam setiap tahapan pelaksanaan proses seleksi,
mulai dari seleksi administrasi, seleksi tertulis (tes psikologi),
seleksi wawancara, seleksi keterampilan, tes kesehatan serta tes
lainnya yang berkaitan dengan jabatan tertentu (Riggio, 2013);
(Cascio, W & Aguinis, 2014); (Prahendratno dkk, 2023):
a. Seleksi administrasi
Pada seleksi administrasi ini merupakan awal dari proses
seleksi lainnnya. Pada tahap ini, calon karyawan atau
pelamar mempersiapkan dan mengirimkan berkas-berkas
yang diperlukan oleh perusahaan sesuai dengan yang ada
pada persyaratan lowongan kerja. Persyaratan umum
tersebut yaitu itu berupa surat lamaran, ijazah, akta
kelahiran, CV, KTP, dan lain-lain. Terdapat juga persyaratan
khusus yaitu seperti portofolio, sertifikat-sertifikat tertentu,
dan lain-lain.
b. Seleksi tertulis
Pada seleksi tertulis, calon karyawan diberikan tes berupa tes
kognitif dan tes kepribadian. Tes kognitif digunakan untuk
melihat kemampuan verbal, spasial, dan numerik, sedangkan
tes kepribadian digunakan untuk mengetahui bagaiana
karakter, sifat, hingga sisi emosional kandidat tersebut.
c. Seleksi wawancara
Proses wawancara sebagai bagian dari tahapan seleksi,
dilakukan dengan dua tahapan. Tahapan pertama dilakukan
untuk memverifikasi hasil dari tes kepribadian. Pada tahapan
pertama kandidat atau calon karyawan juga diberikan
kesempatan untuk bertanya seputar perusahaan. Tahapan
kedua biasanya disebut dengan wawancara user, dimana
wawancara tersebut merupakan penentuan apakah kandidat
akan diterima atau tidak. Tujuan dari wawancara user ini
yaitu untuk mengetes pengetahuan dari kandidat berkaitan
dengan area kerja ketika diterima.
24
G. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Seleksi
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pelaksanaan
proses seleksi, yaitu sebagai berikut, (Riggio, 2013); (Dessler,
2017):
1. Hasil rekruitmen
Hasil rekruitmen yang dimaksud yaitu semisal perusahaan
butuh 1 karyawan maka perusahaan harus menyeleksi dan
melakukan proses rekrutmen kepada 3 orang untuk
pembanding kompetensi calon karyawan satu sama lain
2. Penawaran tenaga kerja
Banyak tipe lowongan pekerjaan yang sama diperusahaan
lain sehingga perusahaan perlu memilih dengan cermat dan
jangan sampai perusahaan menyia-nyiakan calon karyawan
yang memiliki kemampuan.
3. Tantangan etis
Tantangan etis yang dimaksud adalah bagaimana hal etik
dalam seleksi seperti calon karyawan memalsukan identitas,
kegagalan dalam tes, dan membayar, atau dalam memilih
dan memutuskan calon karyawan yang akan diterima
4. Tantangan organisasi
Terdapat tantangan organisasi dalam melakukan proses
seleksi yaitu kekurangan biaya, kekurangan sarana dan
prasarana misalnya perusahaan mau melakukan rekruitmen
tetapi tidak ada yang bisa menggunakan alat tes dan lain-lain.
5. Kesamaan kesempatan calon karyawan
Kesamaan kesempatan calon karyawan yang dimaksudkan
adalah misalnya jikalau perusahaan memiliki kandidat yang
komptensinya sama sehingga user akan bingung untuk
memilih dan mementukan siapa yang akan dipilih
6. Kompetensi tim seleksi
Kompetensi tim seleksi menjelaskan bagaimana kemampuan
skill tim seleksi yang dapat menunjang proses hingga
pemilihan calon karyawan. Dimana bisa saja tim seleksi yang
kurang dapat mengali informasi-informasi yang ada pada
calon karyawan dan bukan karena calon karyawan tersebut
tidak baik
25
7. Jenis, tahap, dan proses seleksi merupakan sebuah penilaian
subjektif.
Untuk menyeleksi atau melaksanakan proses seleksi
sumber daya manusia diperlukan ketelitian, dan ketelitian
tersebut bergantung pada beberapa faktor (Darsana &
Sukaarnawa, 2023):
a. Perkiraan-perkiraan dan konsekuensi seleksi yang tidak tepat
sesuai perhitungan serta perencanaan yang tidak tepat sesuai
rencana awal.
b. Kebijakan dan sikap dari manajemen sangat mempengaruhi
berhasil tidaknya sebuah proses seleksi, seperti dukungan
fasilitas, dan lain-lain.
c. Lamanya waktu yang tersedia untuk mengambil keputusan
seleksi.
d. Berbagai macam pendekatan dalam seleksi disesuaikan
dengan kekosongan posisi-posisi yang ada didalam
perusahaan. Misalnya dalam mengisi kekosongan posisi
manager dan staff akan berbeda dalam proses seleksinya.
26
BAB PENGEMBANGAN DAN
4
PELATIHAN
SUMBERDAYA MANUSIA
PENGEMBANGAN DAN PELATIHAN SUMBERDAYA MANUSIA
27
Pengembangan manajemen (Management development)
adalah semua usaha dalam rangka meningkatkan kinerja
manajerial dengan memberikan pengetahuan, mengubah sikap
serta meningkatkan ketrampilan (Dessler, 2015). Pengembangan
manajemen sumber daya manusia merupakan upaya
perusahaan untuk memperbaiki efisiensi dan efektivitas kerja
karyawan dalam melaksanakan dan mencapai sasaran program-
program kerja yang telah ditetapkan, dengan cara meningkatkan
ketrampilan karyawan, pengetahuan karyawan, dan
membentuk sikap karyawan terhadap tugas yang telah
diberikan. Pengembangan / pendidikan lebih bersifat fisiologis
dan teoritis dibandingkan dengan training / pelatihan, dan lebih
diarahkan kepada manager.
Pelatihan adalah kegiatan yang direncanakan, sistematis
dan menghasilkan tingkat peningkatan ketrampilan,
pengetahuan dan kompetensi yang dimiliki oleh karyawan agar
agar dapat melakukan pekerjaan nya dengan efektif dan optimal
sesuai kebutuhan organisasi (Sultana, et al., 2012). Pelatihan
diperlukan oleh organisasi, agar terjadi kesesuaian antara
pekerjaan yang harus dilakukan dengan ketrampilan yang
dimiliki oleh karyawan, sehingga mendapatkan hasil yang
sesuai dengan harapan perusahaan. Dengan diberikan
pelatihan, karyawan merasa percaya diri dalam memulai kerja
dan dapat bekerja dengan efisien dan efektif sehingga mampu
berkontribusi bagi perusahaan dalam mencapai tujuan
perusahaan. Sasaran pelatihan dalam hal ini diberikan kepada
karyawan khususnya karyawan baru dapat dilakukan sebagai
orientasi karyawan. Pelatihan juga dapat diberikan pada
karyawan lama yang diharapkan dapat melakukan pekerjaan
sesuai dengan kondisi dan keadaan, sesuai dengan individu
untuk dapat melakukan pekerjaan sesuai dengan standar
dimana prestasi kerfja individu dan efektifitas program yang
dapat diukur.
28
Tujuan Pengembangan dan Pelatihan Sumber Daya Manusia
Pelatihan dapat diberikan kepada karyawan baru
maupun karyawan lama
Tujuan Pelatihan bagi karyawan baru:
1. Untuk memberikan rasa nyaman bagi karyawan dalam
memulai kerja ditempat yang baru.
2. Untuk memberikan arahan dan informasi bagi karyawan
baru tentang keadaan perusahaan
3. Untuk memberikan kepercayaan diri karena telah menjadi
bagian dari tim dalam melakukan aktifitas di perusahaan
4. Untuk mendapatkan informasi positip tentang perusahaan
5. Untuk mengetahui visi dan misi perusahaan
6. Untuk mengenal lebih dekat, pegawai melakukan pekerjaan
7. Untuk membantu karyawan baru dalam memahami
organisasi perusahaan dalam berbagai bidang antara lain:
sejarah organisasi, budaya organisasi, kebijakan, waktu
bekerja, tunjangan personil, dan kewajiban sebagai pegawai
atau karyawan dalam perusahaan.
29
7. Untuk membantu karyawan dalam meningkatkan prestasi
kerja
8. Untuk membantu karyawan dalam meningkatkan kepuasan
kerja
9. Untuk meningkatkan kemampuan karyawan dalam
mengkomunikasikan pekerjaan dan bersosialisasi antar
karyawan maupun pada pimpinan
10. Membantu karyawan mengurangi rasa takut dalam
berinovasi dan mencoba hal hal baru dalam melakukan
pekerjaan nya
11. Membantu karyawan untuk mencapai tujuan-tujuan
organisasi.
12. Mengurangi biaya operasional akibat adanya kesalahan yang
dilakukan oleh karyawan dalam melakukan pekerjaannya.
13. Menjadi sarana promosi bagi karyawan, karena dengan
pelatihan dapat membantu meningkatkan kinerja sehingga
dapat dipromosikan pada jenjang yang lebih tinggi.
14. Meningkatkan kemampuan karyawan dalam melakukan
pekerjaannya sehingga lebih professional.
15. Dengan pelatihan yang efektif dan efisien dapat
meningkatkan standart meningkatkan standart dan kwalitas
pekerjaan.
30
a. Menguraikan pekerjakan atau jabatan dengan
pengetahuan dan ketrampilan yang dibutuhkan
karyawan
b. Melakukan analisis prestasi yang dimiliki karyawan
dengan melihat kekurangan dan penyimpangan yang
terjadi ditempat kerja, apa penyebabnya apakah karena
kemampuan karyawan yang kurang atau ketrampilan
yang tidak memadahi.
c. Menganalisis identitas karyawan dengamn melihat
beberapa catatan setiap individu yang meliputi: Latar
belakang pendidikan, hasil tes saat seleksi karyawan,
pelatihan yang telah diikuti, promosi, demosi, rotasi dan
penilaian karyawan, kegagalan yang pernah dialami.
d. Melakukan analisis terhadap laporan yang ada pada
perusahaan yang dapat digunakan sebagai acuan dan
salah satu pedoman dalam melakukan pengembangan
dan pelatihan.
e. Melakukan analisis terhadap reaksi perusahaan lain yang
terkait dengan perusahaan yang meliputi keluhan
pelanggan, keluhan karyawan, tingkat kehadiran, tingkat
kecelakaan, tingkat kerusakan mesin yang dari hasil
evalusai tersebut dapat mengidentifikasi kebutuhan dan
menentukan topic yang akan diberikan kepada karyawan
dalam melakukan pengembangan dan pelatihan.
31
c. Program harus sesuai dengan kebutuhkan dalam
pengembangan dan pelatihan
d. Mempertimbangkan fasilitas yang akan digunakan
dalam pengembangan dan pelatihan SDM
e. Mempertimbangkan kemempuan peserta pengembangan
dan pelatihan SDM
f. Mempertimbangkan kemampuan dan kesesuaian bidang
dari nara sumber
g. Mempertimbangkan prinsip- prinsip dalam
pembelajaran.
32
e. Pengajaran merupakan cara yang cepat memberikan
pengetahuan kepada sekelompok karyawan.
f. Pemberian pelajaran secara terprogram (Programmed
learning)
g. Pelatihan dengan menggunakan Audio visual dengan
menggunakan Power Point, film, DVD untuk
menstimulasi permasalahan dan reaksi terhadap keluhan
pelanggan.
h. Pelatihan dengan menggunakan system simulasi
i. Konverensi Video
j. Pelatihan berbasis komputer, menggunakan sistem
interaktif, e-learning, sehingga karyawan dapat
meningkatkan kemampuan dan ketrampilan.
k. Pembelajaran berbasis internet dengan memberikan
pembelajaran melalui internet, e-learning secara online.
l. Off the job training merupakan metode dengan teknik
presentasi informasi dan metode simulasi.
33
4. Mengimplementasikan pengembangan dan pelatihan
kepada karyawan
Ada beberapa proses yang dapat membantu mencapai
keberhasilan dan kesuksesan dalam pengembangan dan
pelatihan meliputi beberapa tahapan yaitu:
a. Pembelajaran harus dipersiapkan dengan baik sesuai
dengan kebutuhan karyawan .
b. Berikan pengarahan apa yang harus dilakukan dengan
jelas, presentasikan pelaksanaan kerja sesuai dengan
kebutuhan karyawan yang diselaraskan dengan tujuan
perusahaan.
c. Lakukan Uji coba
1) Dengan meminta karyawan yang telah melakukan
pengembangan dan pelatihan mengerjakan
pekerjaannya dengan menjelaskan setiap langkah apa
yang dikerjakan
2) Perlu dilakukan koreksi apabila terjadi kesalahan,
dengan melakukan pengujian beberapa kali, perlu
dilakukan beberapa langkah kegiatan yang susah
untuk dilakukan
3) Lakukan pekerjaan dengan kecepatan standard dan
normal
4) Meminta karyawan melakukan pekerjaan dengan
perlahan
5) Untuk meningkatkan ketrampilan dan kecepatan
karyawan dapat melakukan pekerjaan nya, harus
diberikan bimbingan, contoh yang jelas dan jangan
meninggalkan karyawan sendiri, khususnya untuk
karyawan baru yang sedang mencoba alat-alat baru,
tetapi tetap dilakukan pengawasan.
6) Perlu diberikan informasi kepada karyawan yang
sedang melakukan pembelajaran kepada siapa harus
meminta bantuan apabila terjadi kesalahan dalam
melakukan pekerjaannya.
7) Secara bertahap kurangi pengawasan, lakukan
pengecekan pekerjaan dari waktu ke waktu.
34
8) Lakukan evaluasi dan apabila ada pola kerja yang
tidak sesuai dengan standar segera dikoreksi sehingga
tidak menjadi kebiasaan dalam melakukan kesalahan.
9) Berikan penjelasan tentang metode kerja yang baik
sesuai dengan standart yang telah ditetapkan.
10) Berikan reward apabila karyawan bekerja dengan
bagus dan dapat mencapai produksi yang meningkat.
11) Berikan pemahan dan penjelasan mengapa
pengembangan dan pelatihan perlu dilakukan
35
meningkatnya produksi, kenyamanan dalam organisasi
keuntungan perusahaan,
36
Berbagai macam perubahan yang harus diupayakan agar
sukses dan mendapat dukungan pada organisasi antara lain:
1. Mengubah strategi, budayateknologi, sikap dan ketrampilan
karyawan pada organisasi
2. Perlu melakukan konsolidasi dengan karwanan agar dapat
mendukung kebijakan yang dilakukan oleh perusahaan
3. Meningkatkan komitmen karyawan pada organisai
4. Menciptakan koalisi antar bagian pada organisasi
5. Mengkomunikasikan visi dan misi perusahaan
6. Membantu karyawan melakukan perubahan
7. Mengonsolidasikan keuntungan
8. Menguatkan cara baru untuk bekerja
9. Memantau dan menilai kemajuan
37
BAB
5
MANAJEMEN KINERJA
MANAJEMEN KINERJA
38
Tujuan dari manajemen kinerja, adalah sebagai berikut:
1. Meningkatkan Kinerja: Salah satu tujuan utama dari
manajemen kinerja adalah untuk membantu individu, tim,
dan seluruh organisasi mencapai tingkat kinerja yang lebih
tinggi.
2. Pengembangan Profesional: Manajemen kinerja membantu
dalam identifikasi kebutuhan pelatihan dan pengembangan,
dan membantu karyawan dalam pengembangan karier dan
peningkatan kompetensi profesional mereka.
3. Peningkatan Komunikasi: Proses manajemen kinerja
mendorong terjadi proses komunikasi berkelanjutan yang
mendukung hubungan kemitraan antara pegawai dan
manager. Memastikan bahwa harapan dan tujuan jelas, dan
memberikan platform untuk umpan balik dan diskusi,
sehingga produktivitas dan motivasi kerja pegawai
meningkat.
4. Pengambilan Keputusan: Tersedianya data dan informasi
yang dapat digunakan untuk berbagai proses dan aktivitas di
bidang sumber daya manusia, serta keputusan
organisasional yaitu:
a. Memfasilitasi pengambilan keputusan promosi, terminasi
pegawai agar bijaksana dan obyektif.
b. Identifikasi top talent untuk dikembangkan dengan lebih
baik.
c. Memberikan dasar dalam pengambilan keputusan terkait
remunerasi dan kompensasi pegawai.
5. Engagement dan Motivasi Karyawan: Proses ini juga
membantu dalam meningkatkan engagement dan motivasi
karyawan dengan memberikan pengakuan dan penghargaan
untuk kinerja yang baik, dan memberikan dukungan dan
bimbingan untuk mereka yang membutuhkannya.
6. Pencapaian Tujuan Organisasi: Secara keseluruhan,
manajemen kinerja berfokus pada pencapaian tujuan
organisasi melalui perencanaan, pengawasan, evaluasi, dan
penghargaan kinerja individu dan tim, meningkatkan
budaya selaras serta dengan visi dan misi organisasi .
39
B. Proses dan Teknik Manajemen Kinerja
Proses Manjemen Kinerja, terdiri dari perencanaan
kinerja (goal setting), pemantauan (performance monitoring),
penilaian kinerja (performance apraisal), pengembangan
(development planning) dan penghargaan atas prestasi kerja
(reward), sebagaimana pada gambar dibawah ini :
40
Relevan, dan Berbatas Waktu) adalah alat yang efektif
untuk membantu menetapkan tujuan yang jelas dan dapat
diukur..
c. Melibatkan Karyawan dalam Proses Perencanaan:
Karyawan harus terlibat secara aktif dalam proses
perencanaan kinerja dan memiliki kesempatan untuk
memberikan masukan tentang tujuan serta harapan kerja,
sehingga mereka berkomitmen dan berkontribusi dalam
pencapaian tujuan .
d. Menyelaraskan Tujuan dengan Strategi Organisasi:
Tujuan yang ditetapkan dalam proses perencanaan
kinerja harus selaras dengan strategi dan tujuan
organisasi secara keseluruhan.
41
untuk dapat menciptakan rasa urgensi yang mendorong
motivasi untuk mencapai tujuan tersebut.
42
Pelacakan dan pemantauan yang efektif dapat
membantu memastikan bahwa tujuan tercapai dan
memberikan pimpinan dan karyawan kesempatan untuk
mengoreksi jalur jika diperlukan.
Berikut adalah beberapa aspek yang penting yang
dilakukan pimpinan dalam pemantauan yang efektif:
a. Pemantauan Kemajuan: Untuk mengetahui apakah
tujuan sedang dicapai, pimpinan perlu melacak kemajuan
secara berkala.
b. Memberikan Umpan Balik: Manajer harus memberikan
umpan balik yang konstruktif dan tepat waktu kepada
karyawan tentang kinerja mereka, baik itu pujian untuk
pekerjaan yang baik atau saran untuk peningkatan.
c. Mengidentifikasi dan Mengatasi Masalah: Jika ada
masalah atau hambatan dalam mencapai tujuan, manajer
harus bekerja dengan karyawan untuk mengidentifikasi
dan mengatasi masalah tersebut. .
d. Menggunakan Teknologi: Teknologi, seperti sistem
manajemen kinerja atau alat Pemantauan proyek, bisa
sangat membantu dalam pemantauan.
e. Dengan pemantauan yang efektif, manajer dan karyawan
dapat bekerja sama untuk mencapai tujuan dan
meningkatkan kinerja.
43
tujuan kerja mereka dan memenuhi Key Performance
Indicators (KPIs).
c. Identifikasi Kekuatan dan Area yang Memerlukan
Peningkatan: Salah satu tujuan utama evaluasi kinerja
adalah untuk mengidentifikasi area di mana karyawan
unggul dan area di mana mereka memerlukan
peningkatan. Informasi ini kemudian dapat digunakan
untuk merencanakan pelatihan dan pengembangan, serta
untuk menentukan promosi atau penugasan ulang
pekerjaan.
d. Umpan Balik: Evaluasi kinerja harus mencakup umpan
balik yang konstruktif dan berdasarkan fakta, baik positif
maupun negatif.
e. Penyusunan Rencana Pengembangan: Berdasarkan hasil
evaluasi kinerja, manajer dan karyawan biasanya akan
merencanakan tindakan pengembangan yang diperlukan
untuk membantu karyawan meningkatkan kinerja
mereka dalam mencapai tujuan kerja mereka.
44
c. Dialog Dua Arah: Proses evaluasi harus melibatkan
dialog dua arah antara manajer dan karyawan untuk
mendiskusikan masalah, tantangan, atau hambatan yang
mungkin mereka hadapi.
d. Rencana Tindakan: Berdasarkan penilaian dan umpan
balik, manajer dan karyawan harus merumuskan rencana
tindakan untuk meningkatkan kinerja, mencakup
langkah-langkah konkret yang akan diambil, sumber
daya yang dibutuhkan, dan batas waktu untuk
pencapaian.
45
5. Penghargaan (Reward):
Pengakuan dan penghargaan merupakan bagian
penting dalam memotivasi karyawan dan menunjukkan
apresiasi terhadap kontribusi mereka. Penghargaan kepada
karyawan untuk kinerja yang baik bisa berupa pujian verbal,
bonus finansial, atau bentuk penghargaan lainnya.
Menghargai dan mengakui kontribusi karyawan sangat
penting dalam manajemen kinerja. Pengakuan dapat
memotivasi karyawan dan memperkuat perilaku positif.
Pengakuan merupakan bagian penting dalam manajemen
kinerja dan bisa menjadi alat yang sangat efektif untuk
memotivasi karyawan dan mendorong kinerja yang lebih
baik. Berikut ini beberapa aspek kunci dari penghargaan
kinerja :
a. Menghargai Prestasi: Mengakui dan merayakan prestasi,
baik besar maupun kecil, bisa sangat berarti bagi
karyawan.
b. Pengakuan yang Tepat Waktu: Pengakuan yang diberikan
segera setelah prestasi dicapai cenderung memiliki
dampak yang lebih besar daripada pengakuan yang
ditunda.
c. Pengakuan yang Spesifik: Pengakuan yang spesifik dan
detail tentang apa yang dilakukan karyawan dan
mengapa itu penting atau berharga lebih efektif daripada
pengakuan yang umum dan tidak spesifik.
d. Pengakuan yang Tulus: Pengakuan harus tulus dan
otentik untuk memiliki dampak yang signifikan.
e. Pengakuan Publik dan Privat: Beberapa karyawan
mungkin lebih suka pengakuan publik, seperti pujian di
depan rekan kerja atau penghargaan dalam rapat tim,
sementara yang lain mungkin lebih suka pengakuan
privat, seperti catatan pujian pribadi atau percakapan
satu-satu.
46
Teknik dalam Manajemen Kinerja
Ada berbagai teknik yang dapat digunakan dalam
manajemen kinerja, tergantung pada kebutuhan dan struktur
organisasi tertentu. Beberapa teknik yang umum digunakan
termasuk:
1. Penilaian 360 Derajat:
Dalam penilaian ini, karyawan dinilai oleh rekan kerja,
bawahannya, manajernya, dan kadang-kadang oleh klien
atau pelanggan juga. Ini memberikan gambaran yang lebih
lengkap tentang kinerja karyawan. Penilaian 360 derajat, juga
dikenal sebagai penilaian multi-sumber atau penilaian multi-
rater, adalah metode penilaian kinerja yang melibatkan
penilaian karyawan oleh berbagai orang yang berinteraksi
dengannya dalam konteks kerja. Berikut adalah beberapa
aspek penting dari penilaian 360 derajat:
a. Pemahaman Holistik:
Penilaian 360 derajat memberikan pemahaman yang lebih
holistik tentang kinerja karyawan. Karyawan bukan
hanya dinilai oleh atasan mereka, tetapi juga oleh orang
lain yang berinteraksi dengannya secara reguler.
b. Penilaian Soft Skills:
Metode penilaian ini sangat efektif dalam menilai "soft
skills" atau kompetensi interpersonal, seperti kemampuan
komunikasi, kepemimpinan, dan kerja sama tim.
c. Identifikasi Kekuatan dan Kelemahan:
Penilaian 360 derajat membantu mengidentifikasi
kekuatan dan kelemahan karyawan dari berbagai
perspektif, yang mungkin tidak terlihat jika penilaian
hanya dilakukan oleh atasan langsung.
d. Peningkatan Self-Awareness:
Penilaian ini juga dapat meningkatkan kesadaran diri
karyawan. Dengan menerima umpan balik dari berbagai
sumber, karyawan dapat memahami bagaimana mereka
dipandang oleh orang lain di tempat kerja dan area mana
yang perlu mereka tingkatkan.
47
e. Peluang untuk Perbaikan:
Hasil dari penilaian 360 derajat dapat digunakan untuk
merencanakan pelatihan dan pengembangan yang
spesifik, berdasarkan kebutuhan individu karyawan.
48
Pengaturan tujuan dan perjanjian kinerja adalah alat yang
efektif untuk meningkatkan kinerja karyawan dan
membantu mereka mengembangkan keterampilan dan
kemampuan mereka.
3. Manajemen berdasarkan Sasaran (Management by
Objectives, MBO): Dalam teknik ini, manajer dan karyawan
menetapkan tujuan bersama dan kemudian mengevaluasi
kinerja berdasarkan pencapaian terhadap tujuan tersebut.
4. Umpan Balik Berkelanjutan: Teknik ini melibatkan
memberikan umpan balik reguler kepada karyawan tentang
kinerja mereka, bukan hanya pada saat penilaian kinerja
formal untu membantu dalam memperbaiki masalah dan
meningkatkan kinerja secara real-time.
5. Balance Scorecard.
Balanced Scorecard (BSC) adalah suatu kerangka kerja yang
digunakan untuk mengukur dan mengelola kinerja suatu
organisasi dengan pendekatan yang seimbang. Konsep ini
pertama kali diperkenalkan oleh Robert Kaplan dan David
Norton pada tahun 1992.
Dalam Balanced Scorecard, kinerja organisasi diukur melalui
empat perspektif utama yang saling terkait, yaitu:
a. Perspektif Keuangan: Memperhatikan indikator
keuangan seperti pendapatan, laba bersih, dan
pengembalian modal.
b. Perspektif Pelanggan: Fokus pada kepuasan pelanggan
dan kemampuan organisasi untuk memenuhi kebutuhan
dan harapan pelanggan.
c. Perspektif Proses Internal: Menyoroti efisiensi dan
efektivitas proses internal organisasi, dengan indikator
kunci berkaitan dengan proses-proses yang menghasilkan
produk atau layanan, termasuk inovasi, kualitas, dan
produktivitas.
d. Perspektif Pembelajaran dan Pertumbuhan: Mengukur
kemampuan organisasi untuk belajar, beradaptasi, dan
meningkatkan kapabilitasnya, mencakup aspek
49
pengembangan karyawan, manajemen pengetahuan, dan
kemampuan inovasi.
50
d. Berikan umpan balik yang jujur, tetapi juga sensitif dan
menghargai perasaan karyawan.
e. Berikan saran atau rencana tindakan untuk perbaikan.
f. Dengarkan dan pertimbangkan perspektif karyawan.
g. Fokus pada masa depan, bukan hanya pada masa lalu.
51
juga dapat menyebabkan tantangan. Misalnya, manajer dan
karyawan mungkin perlu dilatih untuk menggunakan
perangkat lunak manajemen kinerja, serta memperhatikan
privasi dan keamanan data.
6. Budaya Perusahaan: Budaya perusahaan yang tidak
mendukung umpan balik terbuka dan komunikasi dua arah
dapat menghambat efektivitas manajemen kinerja.
52
BAB
KOMPENSASI DAN
6
BENEFIT
53
B. Prinsip dan Komponen dalam Kompensasi dan
Benefit
Prinsip-prinsip dalam Kompensasi dan Benefit:
1. Keadilan Internal dan Eksternal: Kompensasi dan benefit
harus adil baik secara internal (antara karyawan dalam
organisasi) dan eksternal (dibandingkan dengan apa yang
ditawarkan oleh perusahaan lain dalam industri yang sama).
2. Prestasi dan Hasil Kerja: Kompensasi dan benefit harus
mendorong kinerja yang baik dan menghargai hasil kerja. Ini
bisa melalui skema bonus, komisi, atau insentif lainnya yang
berbasis pada kinerja individu atau tim.
3. Kesetaraan dan Non-diskriminasi: Semua karyawan harus
diberikan kompensasi dan benefit yang sama untuk
pekerjaan yang sama, tanpa memandang gender, ras, usia,
atau status lainnya.
4. Transparansi: Karyawan harus diberitahu tentang
bagaimana kompensasi dan benefit mereka ditentukan dan
bagaimana mereka dapat meningkatkannya.
5. Kepatuhan Hukum: Kompensasi dan benefit harus
mematuhi semua hukum dan regulasi yang berlaku,
termasuk minimum upah, pembayaran lembur, dan
persyaratan lainnya.
54
4. Tunjangan dan Benefit: Ini adalah bentuk kompensasi non-
tunai yang dapat mencakup asuransi kesehatan, tunjangan
pensiun, cuti dibayar, tunjangan pendidikan, dan lainnya.
5. Opsi Saham atau Saham: Beberapa perusahaan menawarkan
opsi saham atau saham sebagai bagian dari paket
kompensasi, yang memungkinkan karyawan memiliki
bagian dari perusahaan dan berpotensi mendapatkan
keuntungan jika nilai saham perusahaan naik.
55
4. Fleksibilitas: Menyediakan fleksibilitas dalam paket
kompensasi, seperti opsi untuk memilih antara berbagai
manfaat atau menyesuaikan jadwal kerja.
5. Kesetaraan dan Keadilan: Memastikan bahwa semua
karyawan dibayar secara adil untuk pekerjaan yang sama
dan bahwa kompensasi mencerminkan tingkat keterampilan,
pengalaman, dan tanggung jawab.
6. Komunikasi: Menjelaskan secara jelas dan transparan kepada
karyawan bagaimana kompensasi mereka ditentukan dan
bagaimana mereka dapat meningkatkannya.
56
mempertahankan karyawan dengan kebutuhan untuk
mengendalikan biaya bisa menjadi tantangan.
4. Mempertahankan Karyawan Berbakat: Dalam pasar kerja
yang kompetitif, perusahaan mungkin menemui kesulitan
untuk menarik dan mempertahankan karyawan berbakat jika
mereka tidak dapat menawarkan paket kompensasi dan
benefit yang kompetitif.
5. Perubahan dalam Kebijakan dan Praktek: Perubahan dalam
kebijakan dan praktek kompensasi dan benefit, seperti
peralihan dari gaji tetap ke kompensasi berbasis kinerja, bisa
menjadi sulit untuk dikelola dan bisa mempengaruhi
kepuasan dan retensi karyawan.
6. Manajemen dan Administrasi: Mengelola dan
mengadministrasikan sistem kompensasi dan benefit yang
kompleks bisa menjadi tugas yang memakan waktu dan
sumber daya, terutama untuk perusahaan besar.
57
BAB
MANAJEMEN
7
HUBUNGAN KARYAWAN
58
Tujuan dari manajemen hubungan karyawan adalah untuk:
1. Meningkatkan Kepuasan Kerja:
Karyawan yang merasa dihargai dan diperlakukan dengan
adil cenderung lebih puas dengan pekerjaan mereka, yang
dapat meningkatkan produktivitas dan retensi karyawan.
2. Mencegah dan Menyelesaikan Konflik:
Dengan mengelola dan menyelesaikan konflik secara efektif,
perusahaan dapat menjaga moral karyawan dan mencegah
gangguan pada operasi kerja.
3. Meningkatkan Komunikasi:
Komunikasi yang baik antara manajemen dan karyawan
adalah penting untuk memahami dan memenuhi kebutuhan
dan harapan karyawan, dan untuk memastikan bahwa
karyawan memahami tujuan dan harapan perusahaan.
4. Mempromosikan Kesejahteraan Karyawan:
Dengan fokus pada kesejahteraan dan perkembangan
karyawan, perusahaan dapat mempromosikan
keseimbangan kerja-hidup yang baik dan membantu
karyawan mencapai potensi penuh mereka.
5. Meningkatkan Retensi Karyawan:
Karyawan yang merasa dihargai dan puas dengan pekerjaan
mereka lebih mungkin untuk tetap bekerja di perusahaan,
yang bisa menghemat biaya rekrutmen dan pelatihan dan
mempertahankan pengetahuan dan keterampilan berharga.
6. Menciptakan Budaya Kerja yang Positif:
Dengan mempromosikan keadilan, penghargaan,
komunikasi terbuka, dan kesejahteraan karyawan,
perusahaan dapat menciptakan budaya kerja yang positif
dan inklusif yang menarik bagi karyawan dan kandidat
potensial.
59
B. Strategi Meningkatkan Hubungan Karyawan
Meningkatkan hubungan antara karyawan dan
perusahaan membutuhkan strategi yang efektif dan terus-
menerus. Berikut adalah beberapa strategi yang dapat
digunakan:
1. Komunikasi Efektif:
Mempromosikan komunikasi terbuka dan jujur dalam
organisasi dapat meningkatkan hubungan antara karyawan
dan manajemen. Ini bisa berarti membagikan informasi
tentang keputusan perusahaan, menyelenggarakan rapat
reguler, atau menyediakan platform di mana karyawan dapat
berbagi pemikiran dan ide mereka.
2. Penghargaan dan Pengakuan:
Mengakui dan menghargai kontribusi karyawan dapat
membantu mereka merasa dihargai dan meningkatkan
motivasi mereka. Ini bisa berupa pujian verbal, penghargaan
formal, atau insentif lainnya.
3. Pelatihan dan Pengembangan:
Menyediakan peluang untuk pengembangan profesional dan
pertumbuhan karier dapat meningkatkan kepuasan kerja dan
komitmen karyawan terhadap perusahaan.
4. Lingkungan Kerja yang Positif:
Menciptakan lingkungan kerja yang positif, di mana
karyawan merasa dihargai, didukung, dan aman, dapat
membantu meningkatkan hubungan antara karyawan dan
perusahaan.
5. Keseimbangan Kerja-Hidup:
Menghargai kebutuhan karyawan untuk keseimbangan
antara kehidupan kerja dan pribadi mereka dapat membantu
mencegah kelelahan dan mempertahankan motivasi dan
produktivitas mereka.
6. Penanganan Konflik yang Adil:
Menyelesaikan konflik atau perselisihan kerja dengan cara
yang adil dan tepat waktu dapat membantu mencegah
ketegangan dan mempertahankan hubungan kerja yang
positif.
60
7. Partisipasi Karyawan:
Membuat karyawan merasa terlibat dalam pengambilan
keputusan dan perencanaan dapat meningkatkan rasa
kepemilikan dan keterikatan mereka dengan perusahaan.
61
perkembangan, serta membuat karyawan merasa dihargai
dan didengarkan.
5. Membangun Budaya Kerja:
Komunikasi yang positif dan konstruktif dapat membantu
menciptakan budaya kerja yang kolaboratif, inklusif, dan
mendukung. Ini dapat mencakup komunikasi tentang nilai-
nilai dan tujuan perusahaan, serta penghargaan dan
penguatan perilaku yang mendukung budaya tersebut.
62
3. Diversitas dan Inklusivitas:
Dalam organisasi yang beragam, memastikan bahwa semua
karyawan merasa dihargai, diterima, dan termasuk bisa
menjadi tantangan. Manajemen harus berusaha untuk
mencegah diskriminasi dan mempromosikan lingkungan
kerja yang inklusif.
4. Manajemen Konflik:
Konflik di tempat kerja bisa merusak hubungan antara
karyawan dan perusahaan jika tidak ditangani dengan baik.
Manajemen harus memiliki strategi dan proses yang efektif
untuk mendeteksi dan menyelesaikan konflik dengan adil
dan tepat.
5. Perubahan Organisasi:
Perubahan besar dalam organisasi, seperti restrukturisasi
atau merger, bisa menciptakan ketidakpastian dan stres bagi
karyawan. Manajemen harus berkomunikasi secara efektif
tentang perubahan tersebut dan bagaimana mereka
mempengaruhi karyawan.
6. Peningkatan Harapan Karyawan:
Karyawan modern memiliki harapan yang tinggi tentang
lingkungan kerja, termasuk keseimbangan kerja-hidup,
peluang untuk pengembangan, dan iklim kerja yang positif.
Memenuhi harapan ini bisa menjadi tantangan, tetapi sangat
penting untuk mempertahankan dan menarik talenta.
63
BAB
KESEHATAN DAN
8
KESELAMATAN KERJA
64
ketenagakerjaan yang bertujuan untuk mencegah penyakit
yang timbul akibat kerja dan mempertahankan dan
meningkatkan kesehatan para pekerja/buruh untuk
meningkatkan kinerja mereka.
Hartatik (2014:315) mengemukakan bahwa “kesehatan
kerja merupakan suatu kondisi kesehatan yang bertujuan agar
pekerja memperoleh derajat kesehatan setinggi-tingginya, baik
jasmani, rohani, maupun sosial, dengan usaha pencegahan dan
pengobatan terhadap penyakit atau gangguan kesehatan yang
disebabkan oleh pekerjaan dan lingkungan kerja maupun
penyakit umum”. Sedangkan pengertian keselamatan kerja
menurut (Suma’mur, 2007:104) keselamatan kerja merupakan
rangkaian usaha untuk menciptakan suasana kerja yang aman
dan tentram bagi para karyawan yang berkerja di perusahaan
yang bersangkutan. Menurut Wirawan (2015:543)
mengemukakan bahwa “Keselamatan kerja adalah kondisi
dimana para pekerja selamat, tidak mengalami kecelakaan
dalam melaksanakan tugas dan pekerjaannya. Sedangkan
menurut Anwar Prabu Mangkunegara (2009: 161),
mengemukakan bahwa: “Keselamatan kerja menunjukkan
pada kondisi yang aman atau selamat dari penderitaan,
kerusakan atau kerugian di tempat kerja”. Mondy (2014: 15),
keselamatan kerja adalah perlindungan karyawan dari cidera
yang disebabkan oleh kecelakaan yang berkaitan dengan
pekerjaan. Keselamatan kerja berkaitan juga dengan mesin,
pesawat, alat kerja, bahan dan proses pengolahan, landasan
kerja dan lingkungan kerja serta cara-cara melakukan
pekerjaan dan proses produksi. Sutrisno (2007:7)
mengemukaakan bahwa “Keselamatan kerja adalah sebagian
ilmu pengetahuan yang penerapannya sebagai unsurunsur
penunjang seorang kayawan agar selamat saat sedang bekerja
dan setelah mengerjakan pekerjaannya”
Seperti yang dijelaskan sebelumnya perlindungan atas
kesehatan kerja perlu dilakukan dan dijaga, sehingga seluruh
karyawan yang bekerja tetap sehat dan baik fisik maupun
mentalnya. Kesehatan kerja yang perlu diperhatikan terutama
65
selama bekerja dan berada dalam lingkungan kerja karyawan .
Kesehatan kerja juga mengacu pada kebebasan dari penyakit
fisik maupun emosional. Masalah- masalah dalam bidang –
bidang bisa secara serius memengaruhi produktivitas dan
kualitas kehidupan kerja karyawan. Hal-hal tersebut bisa
dramatis menurunkan efektivitas perusahaan dan semangat
kerja kerja karyawan.
Sebenarnya, cedera dan penyakit yang berkaitan dengan
pekerjaan lebih sering terjadi daripada yang kebanyakan orang
sadari. Begitu pula dengan keselamatan kerja karyawan
ataupun buruh haruslah diutamakan oleh setiap perusahaan
Berbagai cara telah dilakukan untuk melindungi seluruh
karyawan yang terlibat.
Kesehatan dan keselamatan kerja (KKK) akan
menciptakan terwujudnya pemeliharaan karyawan yang baik.
KKK ini harus ditanamkan pada diri masing-masing individu
karyawan, dengan penyuluhan dan pembinaan yang baik agar
mereka menyadari pentingnya keselamatan kerja bagi dirinya
maupun untuk perusahaan. Apabila terjadi banyak kecelakaan
karyawan banyak yang menderita, absensi meningkat,
produksi menurun, dan biaya pengobatan semakin besar. Ini
semua akan menimbulkan kerugian bagi karyawan maupun
perusahaan. Kesehatan dan keselamatan kerja menunjuk
kepada kondisi-kondisi fisikologis- fisikal dan fisikologis
tenaga kerja yang diakibatkan oleh lingkungan kerja yang
disediakan oleh perusahaan. Jika perusaan melaksanakan
tindakan-tindakan kesehatan dan keselamatan yang efektif,
maka lebih sedikit pekerja yang menderita cedera atau
penyakit jangka pendek maupunpanjang sebagai akibat dari
pekerjaan mereka di perusahaan tersebut.
66
B. Peran dan Fungsi Kesehatan dan Keselamatan Kerja
1. Pentingnya kesehatan keselamatan kerja, yaitu
a. Manfaat Lingkungan Kerja yang aman dan sehat
Jika perusahaan dapat menurunkan tingkat dan
beratnya kselakaan-kecelakaan kerja, penyakit, dan hal-
hal yang berkaitan dengan stres, serta mampu
meningkatkan kualitas kehidupan kerja para pekerjanya,
perusahaan akan efektif. Peningkatan-peningkatan
terhadap hal ini akan menghasilkan (1) meningkatkan
prododuktivitas karna menurunya jumlah hari kerja
yang hilang, (2) Meningkatnya efesiensi dan kualitas
pekerja yang lebih berkomitmen, (3) Menurunnya biaya-
biaya keselamatan dan asuransi, (4) Tingkat kopensiensi
pekerja dan pembayaran langsung yang lebih rendah
karena menurunnya pengajuan klaim, (5) fleksibilitas
dan adaptabilitas yang lebih besar sebagai akibat dari
meningkatnnya partisipasi dan rasa kepemilikan (6)
rasio seleksi tenaga kerja yang lebih baik karena
meningkatnya citra perusahaan. Perusahaan kemudian
dapat meningkatkan keuntungannya secara substansi.
b. Kerugian Lingkungan Kerja yang tidak aman dan tidak
sehat
Jumlah biaya yang besar sering muncul karena ada
kerugian-kerugian akibat kematian dan kecelakaan di
tempat kerja dan keerugian menderita penyakit-
penyakit yang berkaitan dengan pekerjaan. Selain itu,
ada juga yang berkautan dengan kondii-kondisi
psikologis, perasaan-perasaan pekerja yang mengangap
dirinya tidak berakti dan rendahnya keterlibatannya
dalam pekerjaan, barangkali lebih sulit dihitung secara
kuantitatif, seperti juga gejala-gejala stres dan kehidupan
yang bermutu rendah. Sebenarnya banyak tujuan yang
diharapkan perusahaan dan karyawan dengan adanya
program kesehatan dan keselamatan kerja. Dalam
praktiknya berikut ini tujuan dari program kesehatan
dan keselamatan kerja yaitu:
67
1) Membuat Karyawan Merasa Aman
Artinya dengan demikian prosedur kerja dan adanya
peralatan kerja yang memadai maka akan membuat
karyawan merasa lebih aman dan nyaman dalam
bekerja. Perasaan was-was Atau rasa takut dapat
diminimalkan, sehingga karyawan serius dan
sungguh-sungguh dalam melakukan aktivitas
pekerjaannya. Membuat karyawan merasa nyaman
akan dapat meningkatkan produktivitas kerja
karyawan.
2) Memperlancar proses kerja
Artinya dengan adanya program kesehatan dan
keselamatan kerja maka kecelakaan kerja Dapat
diminimalkan kemudian dengan kesehatan kerja
karyawan yang terjamin baik secara fisik maupun
mental, maka karyawan dapat beraktivitas secara
normal. Sehingga hasil yang didapatkan menjadi
lebih baik kemudian proses kerja yang dijalankan
tidak terganggu, apalagi dalam hal waktu kerja atau
produk yang dihasilkan akan menjadi lebih baik.
3) Agar karyawan berhati- hati dalam bekerja
Maksudnya adalah karyawan dalam hal ini setiap
melakukan pekerjaannya sudah dengan paham dan
mengerti akan aturan kerja yang tetap telah
ditetapkan. Karya juga akan mengikuti prosedur
kerja yang telah ditetapkan. Kepada seluruh
karyawan diwajibkan menggunakan peralatan kerja
dengan sebaik-baiknya, sehingga hal ini akan
menjadikan karyawan lebih waspada dan berhati-
hati dalam melakukan aktivitasnya.
4) Mematuhi aturan dan rambu-rambu kerja
Artinya perusahaan akan memasang rambu-rambu
kerja yang telah ada dan dipasang di berbagai tempat
sebagai tanda dan peringatan. Dengan adanya aturan
dan rambu tersebut akan ikut mengingatkan
karyawan dalam bekerja. Penempatan rambu-rambu
68
kerja harus mudah dilihat dan jelas tanpa ada
hambatan atau halangan.
5) Tidak mengganggu proses kerja
Artinya dengan adanya program kesehatan dan
keselamatan kerja diharapkan tindakan karyawan
tidak akan mengganggu aktivitas karyawannya.
Sebagai contoh penggunaan peralatan keselamatan
kerja sekalipun ribet namun tidak akan mengganggu
proses kerja atau aktivitas kerja karyawan. Karyawan
perlu diberikan sosialisasi atau pelatihan untuk
menggunakan peralatan kerja sebelum digunakan
bahkan untuk peralatan tertentu harus dimiliki
sertifikasi tertentu, misalnya untuk mobil harus ada
surat izin mengendara atau (SIM) yang sesuai dengan
tingkatannya.
6) Menekan biaya
Maksudnya perusahaan berupaya menekan biaya
dengan adanya program kesehatan dan keselamatan
kerja. Hal ini disebabkan dengan adanya program
kesehatan dan keselamatan kerja, maka diterapkan
kerja dapat diminimalkan. Oleh karena itu, karyawan
harus menggunakan peralatan dan pengamanan
kerja imbasnya tentu kepada biaya kecelakaan kerja
menjadi relatif kecil dan dapat diminimalkan,
sehingga mengurangi biaya pengobatan dan
kesempatan kerja, karyawan yang hilang.
7) Menghindari kecelakaan kerja
Artinya kepatuhan karyawan pada aturan kerja
termasuk memperhatikan rambu-rambu yang telah
dipasang. Kemudian karyawan harus menggunakan
peralatan kerja dengan sebaik-baiknya sesuai aturan
yang telah ditetapkan, sehingga kecelakaan kerja
Dapat diminimalkan. Biasanya kecelakaan akan
terjadi karena karyawan lalai menggunakan prosedur
dan peralatan kerja, seperti tidak memakai peralatan
pengaman dalam bekerja.
69
8) Menghindari tuntutan pihak-pihak tertentu
Artinya jika terjadi sesuatu pada kecelakaan kerja
yang sering kali disalahkan adalah pihak perusahaan
dengan adanya program kesehatan dan keselamatan
kerja ini maka tuntutan karyawan akan kesehatan
dan keselamatan kerja diminimalkan, karena
karyawan sudah menyetujui terhadap aturan yang
berlaku di perusahaan tersebut, sehingga sudah tahu
risiko yang akan dihadapinya.
70
C. Metode dan Strategi Meningkatkan Kesehatan dan
Keselamatan Kerja
Bila penyebabnya sudah diidentifikasi, strategi-strategi
dapat dikembangkan untuk menghilangkan atau mengurangi
bahaya bahaya kerja. Untuk menentukan apakah suatu strategi
efektif atau tidak perusahaan dapat membandingkan insiden,
kegawatan, dan frekuensi penyakit-penyakit dan kecelakaan
sebelum sesudah strategi tersebut diberlakukan.
1. Memantau tingkat kesehatan dan keselamatan kerja
Mewajibkan perusahaan-perusahaan untuk
menyimpan catatan insiden-insiden kecelakaan dan kasus
penyakit yang terjadi dalam perusahaan. Perusahaan juga
mencatat tingkat kegawatan dan frekuensi setiap
kecelakaan atau kasus penyakit tersebut.
71
menjadi sumber motivasi intrinsik (dari dalam diri) dan
penghargaan yang sangat berarti. Jika kesempatan untuk
mengendalikan tidak mempunyai seseorang karyawan
dan karyawan merasa terjebak dalam suatu lingkungan
yang tidak dapat dikendalikan maupun diramalkan,
kondisi psikologis maupun fisik karyawan
kemungkinan besar akan terganggu.
b. Strategi-strategi manajemen stres pribadi. Manajemen
waktu dapat merupakan strategi yang efektif dalam
mengatasi stres pekerjaan strategi ini sebagian besar
didasarkan atas identifikasi awal tujuan-tujuan pribadi
pekerja. Strategi strategi lain yang harus menjadi bagian
manajemen stres perorangan meliputi pola makan yang
sehat olahraga yang teratur pemantauan kesehatan fisik,
dan membentuk kelompok pendukung sosial. Banyak
perusahaan besar mendorong pekerjaan-pekerjaannya
untuk mendaftarkan diri program latihan olahraga yang
diatur di mana kebugaran dan kesehatan mereka
dipantau secara seksama.
72
menghilangkan peristiwa kecelakaan kerja di kalangan
karyawan sesuai kondisi perusahaan. Strategi perusahaan tsb
mencakup :
a. Pihak manajemen harus memutuskan perlindungan
untuk karyawan dalam menghadapi peristiwa kecelakaan
kerja. Contohnya karena alasan finansial, kesadaran
karyawan mengenai keselamatan kerja serta tanggung
jawab perusahaan serta karyawan maka perusahaan
mungkin saja mempunyai tingkat perlindungan yang
minimum bahkan juga maksimum.
b. Pihak manajemen bisa memastikan apakah ketentuan
mengenai keselamatan kerja berbentuk resmi atau
informal. Secara resmi ditujukan setiap ketentuan
dinyatakan dengan cara tertulis, dikerjakan serta
dikontrol sesuai ketentuan. Sementara dengan cara
informal dinyatakan tidak tertulis atau
c. Pihak manajemen perlu pro aktif serta reaktif dalam
pengembangan prosedur serta gagasan mengenai
keselamatan serta kesehatan kerja karyawan. Pro aktif
berarti pihak manajemen perlu melakukan perbaikan
terus menerus prosedur serta gagasan sesuai dengan
keperluan perusahaan serta karyawan.
d. Pihak manajemen bisa memakai tingkat derajad
keselamatan serta kesehatan kerja yang rendah menjadi
aspek promosi perusahaan ke khalayak luas. Berarti
perusahaan sangat peduli dengan keselamatan serta
kesehatan kerja.
73
Gunanya untuk memastikan karakter karyawan spesifik
yang diprediksikan mungkin terkait dengan peristiwa
keselamatan kerja : (1) aspek usia ; apakah karyawan yang
usianya lebih tua cenderung lebih aman saat bekerja (2)
Karakteristik seorang karyawan seperti potensi
pendengaran serta penglihatan cenderung terkait derajad
kecelakaan karyawan yang kritis, serta (3) tingkat
pengetahuan serta kesadaran karyawan mengenai
pentingnya pencegahan serta penyelamatan dari
kecelakaan kerja. Dengan tahu tanda-tanda personal itu
maka perusahaan bisa memperkirakan siapapun
karyawan yang mungkin untuk mengalami kecelakaan
kerja. Lalu sejak awal perusahaan bisa mempersiapkan
upaya-upaya pencegahannya.
- Sistem Insentif
Insentif yang diberikan pada karyawan bisa berbentuk
uang serta bahkan karir. Apabila berbentuk uang, maka
bisa dikerjakan lewat kompetisi antarunit mengenai
keselamatan kerja terendah dalam kurun waktu spesifik,
contohnya selama enam bulan sekali. Karyawan yang
dapat menekan kecelakaan kerja hingga sampai titik
terendah akan diberikan penghargaan.
- Pelatihan Keselamatan Kerja
Pelatihan keselamatan kerja untuk karyawan biasa
dikerjakan oleh perusahaan. Fokus pelatihan biasanya
pada segi-segi bahaya atau kemungkinan dari pekerjaan,
ketentuan serta ketentuan keselamatan kerja, serta
perilaku kerja yang aman serta berbahaya.
- Ketentuan Keselamatan Kerja
74
1. Kesehatan mental di tempat kerja: Kesehatan mental
karyawan menjadi isu yang semakin diperhatikan. Stres,
tekanan kerja yang tinggi, konflik antar rekan kerja, dan
kurangnya keseimbangan antara kehidupan kerja dan
kehidupan pribadi dapat berdampak negatif pada
kesejahteraan mental karyawan. Organisasi perlu
menyediakan dukungan yang memadai dan
mempromosikan lingkungan kerja yang sehat secara
psikologis.
2. Keamanan cyber dan privasi data: Dalam era digital,
keamanan cyber dan privasi data merupakan isu penting.
Organisasi harus melindungi data karyawan dan pelanggan
mereka dari serangan siber, kebocoran data, dan
penyalahgunaan informasi. Pelatihan keamanan cyber dan
kebijakan privasi yang ketat perlu diterapkan untuk
mengurangi risiko ini.
3. Ergonomi dan postur kerja: Pekerjaan yang melibatkan
penggunaan komputer atau posisi kerja yang statis dapat
menyebabkan masalah muskuloskeletal dan cedera yang
berhubungan dengan ergonomi. Organisasi perlu
memastikan bahwa lingkungan kerja dan peralatan
ergonomis telah disediakan untuk mengurangi risiko ini.
Pelatihan tentang postur kerja yang benar dan penggunaan
peralatan yang ergonomis juga perlu diberikan kepada
karyawan.
4. Penyalahgunaan zat dan kecanduan: Penyalahgunaan zat
dan kecanduan, baik itu alkohol, narkoba, atau obat-obatan
tertentu, dapat memiliki dampak serius pada kesehatan dan
keselamatan kerja. Organisasi harus memiliki kebijakan yang
jelas terkait penyalahgunaan zat dan menyediakan program
dukungan serta sumber daya bagi karyawan yang
memerlukan bantuan.
5. Keselamatan fisik di tempat kerja: Meskipun telah ada
peningkatan dalam keselamatan kerja selama beberapa
dekade terakhir, kecelakaan dan cedera fisik masih terjadi di
berbagai sektor industri. Tantangan ini meliputi risiko jatuh,
75
kebakaran, kontaminasi bahan kimia, kecelakaan alat berat,
dan lainnya. Organisasi perlu melaksanakan tindakan
pencegahan yang efektif, seperti pelatihan keselamatan,
pemeliharaan peralatan yang teratur, dan penerapan
protokol keselamatan yang ketat.
6. Perubahan demografi dan keberagaman: Tenaga kerja
semakin beragam dalam hal usia, gender, budaya, dan latar
belakang. Hal ini dapat menimbulkan tantangan dalam
memenuhi kebutuhan kesehatan dan keselamatan yang
berbeda. Organisasi harus memastikan bahwa kebijakan dan
praktik mereka mencakup kebutuhan dan perspektif semua
karyawan
76
BAB
PENGEMBANGAN
9
KARIER DAN SUKSESI
77
4. Fleksibilitas dan Kewirausahaan: Fleksibilitas dalam bekerja dan
beradaptasi dengan perubahan lingkungan kerja akan menjadi
penting. Selain itu, semakin banyak orang yang akan beralih
menjadi pekerja lepas atau berwirausaha. Kemampuan untuk
mengelola waktu dan proyek sendiri serta mengambil inisiatif
akan menjadi keterampilan yang dihargai.
5. Kesadaran Sosial dan Lingkungan: Perhatian terhadap isu-isu
sosial dan lingkungan akan semakin meningkat di masa depan.
Organisasi akan mencari individu yang memiliki kesadaran
sosial yang tinggi dan mampu berkontribusi pada keberlanjutan
dan tanggung jawab sosial.
78
program sumber daya manusia yang ada secara maksimal
dengan mengintegrasikan kegiatan yang memilih, menugaskan,
mengembangkan, dan mengelola karier individu dengan
rencana organisasi.
Suksesi: Suksesi dalam konteks karier merujuk pada
proses pemindahan tanggung jawab dan peran kepemimpinan
dari satu individu ke individu lain dalam organisasi (Rothwell,
2016). Suksesi seringkali terkait dengan posisi-posisi kunci di
tingkat manajemen dan kepemimpinan dalam organisasi, dan
bertujuan untuk memastikan kelangsungan dan keberhasilan
organisasi di masa depan. Hal ini melibatkan identifikasi,
pengembangan, dan persiapan individu yang berpotensi untuk
mengisi posisi-posisi strategis dan penting di masa depan.
Suksesi yang efektif melibatkan perencanaan jangka panjang,
pengenalan bakat potensial, dan pelatihan yang tepat untuk
mempersiapkan individu untuk mengambil alih tanggung
jawab penting ketika diperlukan.
Secara konseptual suksesi kepemimpinan dalam
organisasi menekankan pada tiga perspektif, pertama adalah
pendekatan berbasis sumber daya untuk penyelarasan sumber
daya manusia melalui penyebaran sumber daya, kemampuan,
dan kompetensi. Kedua, praktik manajemen sumber daya
manusia tertentu dapat meningkatkan kinerja organisasi ketika
mereka diselaraskan satu sama lain dan tujuan strategis
organisasi. Ketiga, fokus pada penggunaan sumber daya
internal organisasi untuk perencanaan suksesi kepemimpinan
(Siambi, 2022).
Terdapat beberapa alasan pentingnya suksesi dalam
organisasi, yaitu: 1) Kontinuitas kepemimpinan: Suksesi yang
baik memastikan adanya kelajutan kepemimpinan yang stabil
dalam organisasi, di mana calon pemimpin yang potensial dapat
dilatih dan diidentifikasi sehingga dapat mengurangi risiko
kekosongan kepemimpinan yang tiba-tiba dan menjaga
kontinuitas opersasional; 2) Pengembangan bakat internal, di
mana suksesi membantu dalam mengembangkan bakat internal
yang ada di dalam organisasi dan memberikan kesempatan
79
kepada karyawan yang berbakat dan berpotensi untuk tumbuh
dan berperan mengisi kepemimpinan di masa depan. Selain itu,
karyawan merasa dihargai dan termotivasi untuk berkontribusi
lebih banyak; 3) Peningkatan retensi karyawan: Ketika
karyawan melihat adanya peluang untuk meningkatkan
kariernya dalam organisasi maka karyawan akan lebih terikat
dan enggan pindah ke tempat kerja lain; 4) Minimalkan
ketidakpastian: Suksesi yang terencana membantu organisasi
mengantisipasi dan mengurangi ketidakpastian di masa depan,
di mana organisasi memiliki rencana cadangan untuk
menghadapi perubahan mendadak dalam kepemimpinan,
seperti adanya pensiun atau pergeseran tiba-tiba; dan 5)
Kelangsungan organisasi: Suksesi yang baik adalah kunci untuk
menjaga kelangsungan organisasi jangka panjang, di mana
dengan memiliki pemimpin yang kompeten dan terlatih di
setiap tingkat maka organisasi dapat terus beradaptasi dengan
perubahan lingkungan eksterna; dan mempertahankan posisi
yang kompetitif.
Pengembangan karier dan suksesi adalah dua konsep
yang saling terkait. Pengembangan karier membantu individu
mempersiapkan diri untuk tanggung jawab dan peran yang
lebih tinggi di masa depan, yang pada gilirannya dapat
mempengaruhi suksesi organisasi. Melalui pengembangan
karier yang baik, individu dapat mengembangkan keterampilan
dan kemampuan yang diperlukan untuk mengisi posisi-posisi
kunci dalam suksesi organisasi. Dalam hal ini, pengembangan
karier berfungsi sebagai landasan yang kuat untuk suksesi yang
sukses di masa depan.
80
sebaiknya dilakukan dalam pengembangan karier dan suksesi
dari sisi organisasi:
1. Penilaian Kebutuhan: Organisasi harus melakukan penilaian
kebutuhan pengembangan karier baik secara individu
maupun keseluruhan. Ini melibatkan mengidentifikasi
keterampilan, pengetahuan, dan kompetensi yang
dibutuhkan untuk mencapai tujuan organisasi dan
mengantisipasi perubahan masa depan. Penilaian ini dapat
dilakukan melalui evaluasi kinerja, analisis gap
keterampilan, survei kebutuhan pengembangan, dan dialog
dengan karyawan.
2. Rencana Pengembangan: Berdasarkan penilaian kebutuhan,
organisasi harus membuat rencana pengembangan karier
yang jelas dan terstruktur. Rencana ini harus mencakup
tujuan karier individu, jalur pengembangan yang spesifik,
langkah-langkah pengembangan yang harus diambil, serta
sumber daya dan dukungan yang tersedia. Rencana ini harus
dikomunikasikan dengan jelas kepada karyawan terkait.
3. Pelatihan dan Pendidikan: Organisasi harus menyediakan
pelatihan dan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan
pengembangan karier. Ini dapat mencakup pelatihan
internal, program pengembangan kepemimpinan, workshop,
seminar, atau program pendidikan formal. Pelatihan dapat
disesuaikan dengan keterampilan yang dibutuhkan untuk
peran saat ini dan masa depan, serta teknologi atau tren
industri yang relevan.
4. Pembinaan dan Mentoring: Organisasi dapat menyediakan
program pembinaan dan mentoring bagi karyawan yang
ingin mengembangkan karier mereka. Ini melibatkan
pasangan karyawan dengan mentor yang berpengalaman
dan berpengetahuan luas dalam bidang yang relevan. Mentor
dapat memberikan panduan, saran, dan dukungan dalam
pengembangan karier individu.
5. Pekerjaan Khusus dan Proyek: Organisasi dapat memberikan
kesempatan kepada karyawan untuk bekerja pada proyek
khusus atau tugas tambahan yang memungkinkan
81
pengembangan keterampilan dan pengalaman baru. Ini
dapat membantu karyawan mendiversifikasi portofolio
keterampilan mereka dan memperluas pengetahuan mereka
di berbagai bidang.
6. Evaluasi dan Umpan Balik: Evaluasi berkala dan umpan
balik merupakan bagian penting dalam pengembangan
karier. Organisasi harus menyediakan mekanisme untuk
mengevaluasi perkembangan karyawan dan memberikan
umpan balik yang konstruktif. Ini dapat mencakup evaluasi
kinerja, sesi umpan balik satu lawan satu, dan rencana tindak
lanjut untuk pengembangan lebih lanjut.
7. Kesempatan Kenaikan Jabatan dan Mobilitas: Organisasi
seharusnya memberikan kesempatan kenaikan jabatan dan
mobilitas bagi karyawan yang berprestasi dan memiliki
potensi. Ini termasuk pemetaan jalur karier yang jelas,
pengumuman posisi yang tersedia secara internal, dan proses
seleksi yang adil untuk kenaikan jabatan atau perpindahan
departemen.
82
ini akan membantu Anda mengidentifikasi jalur karier yang
sesuai dan area pengembangan yang perlu ditingkatkan.
2. Penetapan Tujuan Karier: Tetapkan tujuan jangka pendek
dan jangka panjang yang spesifik, terukur, terjangkau,
relevan, dan berbatasan waktu. Tujuan yang jelas akan
memberikan arah dan motivasi dalam mengembangkan
karier Anda.
3. Pendidikan dan Pelatihan: Identifikasi keterampilan,
pengetahuan, atau sertifikasi yang diperlukan untuk
mencapai tujuan karier Anda. Ikuti pelatihan, program
pendidikan, seminar, atau workshop yang relevan untuk
meningkatkan kompetensi dan meningkatkan nilai Anda di
pasar kerja.
4. Mencari Pengalaman Kerja: Carilah kesempatan untuk
mendapatkan pengalaman kerja yang beragam dan
menantang. Ajukan diri untuk proyek-proyek khusus, tugas
tambahan, atau pekerjaan sukarela yang dapat memperluas
keterampilan dan jaringan Anda.
5. Jalin Hubungan dan Mentoring: Bangun hubungan yang
kuat dengan rekan kerja, atasan, dan profesional di bidang
yang Anda minati. Cari mentor yang dapat memberikan
panduan dan dukungan dalam pengembangan karier Anda.
Suksesi:
1. Identifikasi Bakat: Identifikasi individu yang memiliki
potensi untuk mengisi peran penting di masa depan.
Perhatikan kinerja, keterampilan, dan karakteristik
kepemimpinan yang diinginkan.
2. Pembinaan dan Pengembangan: Berikan pelatihan,
pendampingan, dan kesempatan pengembangan kepada
individu yang berpotensi. Beri mereka tanggung jawab yang
lebih besar dan tugas yang menantang untuk membantu
mereka tumbuh dan berkembang.
3. Perencanaan Suksesi: Buat rencana suksesi yang jelas dan
terstruktur. Identifikasi peran yang kritis dan siapa yang
akan menggantikan posisi tersebut ketika diperlukan.
83
Pertimbangkan faktor seperti keterampilan, pengalaman,
dan kesesuaian individu dengan posisi tersebut.
4. Komunikasi yang Efektif: Komunikasikan rencana suksesi
secara terbuka dan jelas kepada individu yang terlibat.
Berikan umpan balik yang konstruktif dan dorong partisipasi
aktif dalam proses suksesi.
5. Evaluasi dan Pemantauan: Selalu pantau perkembangan
individu yang berada dalam jalur suksesi. Evaluasi secara
teratur dan identifikasi area pengembangan yang perlu
ditingkatkan. Berikan umpan balik dan dorong perbaikan
yang berkelanjutan.
84
yang lebih tinggi. Selanjutnya, manajer dapat memberikan
pelatihan, pembinaan, dan kesempatan pengembangan yang
sesuai untuk membantu karyawan mengoptimalkan potensi
mereka.
3. Pemetaan Jalur Karier: Manajer dapat membantu karyawan
dalam memetakan jalur karier yang jelas dan terstruktur.
Mereka dapat membantu karyawan dalam mengidentifikasi
langkah-langkah yang perlu diambil, keterampilan yang
perlu ditingkatkan, dan pengalaman yang perlu diperoleh
untuk mencapai tujuan karier mereka. Manajer juga dapat
memberikan wawasan tentang peran dan tanggung jawab
yang diharapkan di berbagai tingkatan dalam organisasi.
4. Peluang Pekerjaan dan Peningkatan Tanggung Jawab:
Manajer dapat memberikan peluang pekerjaan dan
peningkatan tanggung jawab kepada karyawan yang
berpotensi. Ini dapat mencakup proyek-proyek khusus, tugas
tambahan, atau rotasi pekerjaan yang dapat memberikan
pengalaman yang berharga dan memperluas keterampilan
karyawan. Dengan memberikan tantangan yang tepat,
manajer dapat membantu karyawan mengembangkan diri
dan mempersiapkan mereka untuk peran yang lebih tinggi di
masa depan.
5. Perencanaan Suksesi: Manajer memiliki peran penting dalam
perencanaan suksesi organisasi. Mereka dapat terlibat dalam
identifikasi bakat potensial dan mempersiapkan individu
untuk mengisi posisi strategis di masa depan. Manajer juga
dapat memberikan pelatihan dan pembinaan kepada calon
pengganti agar mereka siap untuk mengambil alih tanggung
jawab penting ketika diperlukan.
85
D. Isu dan Tantangan dalam Pengembangan Karier
dan Suksesi
Dari Sisi Organisasi
Pengembangan karier dan suksesi dalam organisasi
seringkali dihadapkan pada beberapa isu dan tantangan.
Berikut ini adalah beberapa di antaranya:
1. Kurangnya Keterlibatan dan Dukungan Organisasi: Salah
satu isu utama adalah kurangnya keterlibatan dan dukungan
dari organisasi terkait pengembangan karier dan suksesi. Jika
organisasi tidak memberikan perhatian yang cukup terhadap
pengembangan karier karyawan, hal ini dapat menghambat
motivasi dan keterlibatan karyawan, serta mempengaruhi
kemampuan organisasi untuk mempersiapkan suksesi yang
sukses.
2. Kurangnya Rencana Pengembangan Karier yang Jelas: Tidak
adanya rencana pengembangan karier yang jelas dalam
organisasi dapat menjadi tantangan. Karyawan
membutuhkan pemahaman yang jelas tentang jalur karier
yang tersedia, kriteria kenaikan jabatan, dan peluang
pengembangan yang tersedia. Tanpa arah yang jelas,
karyawan mungkin merasa bingung atau tidak termotivasi
untuk mengembangkan karier mereka.
3. Keterbatasan Sumber Daya: Isu lain adalah keterbatasan
sumber daya yang dapat mempengaruhi pengembangan
karier dan suksesi dalam organisasi. Sumber daya seperti
anggaran, waktu, dan personel dapat menjadi faktor
pembatas dalam menyediakan pelatihan, pendampingan,
dan kesempatan pengembangan yang memadai bagi
karyawan.
4. Tantangan dalam Identifikasi dan Pengembangan Bakat:
Identifikasi bakat yang akurat dan pengembangan bakat
menjadi tantangan tersendiri. Identifikasi bakat yang tepat
membutuhkan penilaian yang objektif dan sistematis,
sedangkan pengembangan bakat memerlukan program
pembinaan, pelatihan, dan kesempatan pengalaman yang
berharga. Organisasi perlu memiliki sistem yang efektif
86
untuk mengidentifikasi dan mengembangkan bakat dalam
rangka mempersiapkan suksesi yang sukses.
5. Persaingan yang Ketat: Lingkungan bisnis yang kompetitif
sering kali menghadirkan persaingan yang ketat dalam
pengembangan karier dan suksesi. Karyawan harus bersaing
dengan rekan-rekan mereka untuk mendapatkan
kesempatan kenaikan jabatan atau promosi. Hal ini dapat
menimbulkan tekanan dan ketegangan di antara karyawan
dan mempengaruhi motivasi serta hubungan kerja.
6. Perubahan Lingkungan Kerja yang Cepat: Perubahan
teknologi, tren industri, dan dinamika bisnis yang cepat
dapat menjadi tantangan dalam pengembangan karier dan
suksesi. Karyawan harus mampu beradaptasi dengan
perubahan ini, mengembangkan keterampilan baru, dan
mengantisipasi kebutuhan masa depan. Organisasi harus
siap untuk memberikan dukungan dan pelatihan yang
diperlukan agar karyawan dapat beradaptasi dengan
perubahan ini.
7. Kesenjangan Keterampilan: Kesenjangan keterampilan
antara yang diminta oleh organisasi dan yang dimiliki oleh
karyawan dapat menjadi isu dalam pengembangan karier
dan suksesi. Jika organisasi tidak mampu mengatasi
kesenjangan ini melalui pelatihan dan pengembangan yang
sesuai, karyawan mungkin menghadapi kesulitan dalam
mengembangkan karier mereka dan mencapai potensi penuh
mereka.
87
Dari Sisi Individu
Pengembangan karier dan suksesi dalam era kecerdasan
buatan (artificial intelligence) menghadapi beberapa isu dan
tantangan. Berikut ini adalah beberapa diantaranya:
1. Perubahan Keterampilan yang diperlukan: Perkembangan
teknologi, termasuk kecerdasan buatan, dapat mengubah
kebutuhan keterampilan di pasar kerja. Karyawan harus siap
menghadapi perubahan ini dengan mengembangkan
keterampilan baru yang relevan, seperti pemahaman tentang
AI, analisis data, pengembangan perangkat lunak, dan
kemampuan beradaptasi dengan teknologi baru.
2. Kompetisi dengan Teknologi: Kecerdasan buatan dapat
menggantikan beberapa pekerjaan manusia dalam beberapa
bidang. Karyawan harus mampu bersaing dengan teknologi
ini dengan mengembangkan keahlian yang unik yang sulit
digantikan oleh mesin, seperti kemampuan berpikir kritis,
kreativitas, kepemimpinan, dan kemampuan berkolaborasi.
3. Pendidikan dan Pelatihan yang Diperlukan: Meningkatnya
penggunaan kecerdasan buatan membutuhkan upaya yang
lebih besar dalam pendidikan dan pelatihan untuk
menghasilkan tenaga kerja yang siap menghadapi era
teknologi ini. Institusi pendidikan dan organisasi harus
menyediakan pelatihan dan program pembelajaran yang
relevan untuk mempersiapkan individu dalam menghadapi
tantangan dan peluang yang datang dengan kecerdasan
buatan.
4. Etika dan Privasi: Penerapan kecerdasan buatan juga
menimbulkan isu etika dan privasi. Perusahaan harus
memastikan bahwa penggunaan kecerdasan buatan
dilakukan dengan mempertimbangkan etika dalam
pengambilan keputusan, penggunaan data yang
bertanggung jawab, dan melindungi privasi individu.
5. Adaptasi dan Pembelajaran Berkelanjutan: Perubahan cepat
dalam teknologi dan kecerdasan buatan menuntut karyawan
untuk terus beradaptasi dan belajar secara berkelanjutan.
Kemampuan untuk belajar baru dan terus mengembangkan
88
keterampilan akan menjadi penting agar karyawan tetap
relevan dan mampu bersaing dalam pasar kerja yang terus
berkembang.
6. Pengelolaan Perubahan: Pengenalan kecerdasan buatan dan
teknologi baru dapat mempengaruhi struktur organisasi,
tugas, dan peran karyawan. Manajer harus mampu
mengelola perubahan ini dengan baik, menyediakan
dukungan, dan membantu karyawan dalam menghadapi
perubahan yang terjadi.
89
BAB MANAJEMEN
10
PERUBAHAN DAN
INOVASI
MANAJEMEN PERUBAHAN DAN INOVASI
90
Beberapa ahli mendefinisikan manajemen perubahan
sebagai berikut:
• Manajemen perubahan adalah pendekatan yang terstruktur
dan digunakan untuk membantu tim, individu ataupun
organisasi untuk perubahan dari kondisi sekarang ke kondisi
yang lebih baik (Coffman, Karen dan Lutes, 2007).
• Manajemen perubahan adalah suatu usaha yang dilakukan
oleh manajer untuk mengelola perubahan secara lebih efektif,
yang di dalamnya memerlukan pengetahuan terkait
motivasi, kelompok, kepemimpinan, konflik, dan
komunikasi (Winardi, 2011).
• Manajemen perubahan adalah suatu proses yang dibuat
secara sistematis dalam menerapkan sarana, sumber daya
dan pengetahuan yang dibutuhkan dalam memengaruhi
perubahan pada mereka yang akan terkena efek dari proses
tersebut (Wibowo, 2012).
• Manajemen perubahan adalah suatu proses, teknik, dan alat
yang digunakan untuk mengelola proses perubahan pada sisi
individu untuk mencapai suatu hasil yang dibutuhkan dan
untuk menerapkan perubahan secara lebih efektif dengan
agen perubahan, sistem, dan tim yang lebih luas (Nauheimer,
2007).
91
terwujud dalam bentuk pengetahuan, sikap dan tindakan.
Perilaku merupakan respon/reaksi seorang individu terhadap
stimulus yang berasal dari luar maupun dari dalam dirinya
(Notoatmodjo, 2010). Dari penjelasan ini terlihat bahwa perilaku
adalah tindakan atau reaksi objek atau organisme yang biasanya
berhubungan dengan lingkungan. Perilaku dapat terjadi dalam
keadaan sadar atau tidak sadar, tertutup atau terbuka, dan
sukarela atau keterpaksaan. Perilaku juga merujuk pada
tanggapan dari individu, kelompok, atau spesies terhadap
lingkungannya, atau reaksi yang dapat bersifat sederhana
maupun bersifat kompleks (Azwar, 2000). Menurut Wiwoho,
perilaku merupakan setiap tindakan, gerakan dan kata-kata
seseorang apakah itu di rumah, di kantor, di depan umum,
internal maupun eksternal (Wiwoho, 2004).
Menurut Girl, ada tiga tipe perilaku. Pertama, perilaku
metodologis (metodological behaviorism), yaitu sebuah teori
normatif mengenai tindakan-tindakan ilmu pengetahuan
psikologi. Menurut perilaku metodologis, acuan terhadap
kondisi mental, seperti kehendak binatang, tidak menambahkan
apakah psikologi dapat dan seharusnya memahami sumber
perilakunya. Kondisi mental merupakan unsur pribadi yang
tidak membentuk objek yang tepat dari studi empiris. Kedua,
perilaku psikologis (psychological beheviorism). Perilaku
psikologis merupakan program-program penelitian dalam
psikologi yang berisi penjelasan perilaku manusia dan hewan
dalam konteks dorongan fisik eksternal, tanggapan, sejarah
pembelajaran, dan penguatan. Ketiga, perilaku analitis atau logis
(analytical or logical behaviorism), yaitu sebuah teori dalam filsafat
mengenai arti atau ilmu semantik mental atau konsep. Teori ini
menegaskan bahwa ide kondisi mental merupakan ide sebuah
disposisi perilaku atau keluarga kecenderungan perilaku (Girl,
2009).
Selanjutnya yaitu dibahas mengenai pengertian inovasi.
Ireland, Hoskisson dan Hitt mendefinisikan inovasi sebagai
“innovation refer to the process of creating a commercial product from
invention.”(Ireland D, Robert E. Hoskisson, 2011) Inovasi adalah
92
proses menciptakan produk komersial melalui invesi. Invensi
dalam hal ini adalah tindakan menciptakan atau
mengembangkan produk atau proses baru. Kemudian
Rubenstein yang dikutip White dan Bruton mendefinisikan
inovasi sebagai “innovation defined as the process whereby new and
improved products, process, materials, and services are developed and
transferred to a plant and/or market where they are
appropriate.”(Bruton, 2007) Definisi ini menunjukkan bahwa
inovasi adalah proses dimana produk, proses, material, dan
pelayanan dikembangkan dan ditransfer menuju pasar yang
sesuai.
Kemudian Drucker yang dikutip oleh Ireland, Hoskisson
dan Hitt menjelaskan:
Innovation is the specific fuction of entrepreneurship, whether in an
existing business, a public service institution, or a new venture started
by a lone individual. Innovations is the means by which the
entrepreneur either creates new wealth-producing resources or endows
existing resources with enhanced potential for creating wealth (Hitt,
Michael, Ireland, R. Duane, [Link], 2001).
Pengertian tersebut menunjukkan pengertian bahwa
inovasi adalah fungsi khusus dari kewirausahan, baik itu dalam
bisnis yang telah ada, institusi pelayanan publik, atau usaha
yang baru dimulai individu seorang diri. Inovasi juga berarti
pengusaha yang menciptakan kekayaan baru, yaitu
menghasilkan sumber daya atau memberikan sumber daya yang
telah ada dengan meningkatkan potensi untuk menciptakan
kekayaan.
Berdasarkan uraian tentang perilaku inovatif di atas,
maka dapat disintesiskan bahwa perilaku inovatif adalah
tindakan indvidu yang diarahkan untuk menghasilkan,
memperkenalkan atau mengaplikasikan temuan baru baik
berupa ide maupun solusi yang menguntungkan pada setiap
tingkatan organisasi. Indikator-indikatornya adalah:
membangkitkan ide, mencari peluang, mencari dukungan,
memperjuangkan ide, dan menerapkan ide
93
B. Proses dan Strategi Manajemen Perubahan dan
Inovasi
Terdapat delapan strategi sukses dalam proses
membangun manajemen perubahan pada suatu organisasi,
yaitu sebagai berikut (Kotter, 1996):
1. Establishing a Sense of Urgency (membangun rasa
urgensi). Tahapan ini adalah tahapan untuk membangun
motivasi, dengan mengkaji realitas pasar dan kompetisi,
mengidentifikasi dan membahas krisis, potensi krisis atau
peluang besar, sehingga timbul alasan yang baik untuk
melakukan sesuatu yang berbeda.
2. Creating the Guiding Coalition (menciptakan koalisi
penuntun). Pada tahapan ini dibentuk sebuah koalisi untuk
memulai perubahan sebagai sebuah tim yang terdiri dari
orang-orang yang memiliki kekuasaan yang cukup untuk
memimpin perubahan. Tim tersebut tidak harus mencakup
dari semua orang yang memiliki kekuasaan atau yang
menduduki kedudukan pada struktur organisasi, tetapi
setidaknya orang-orang yang yang memiliki pengaruh dan
kekuasaan, keahlian, kredibilitas dan jiwa pemimpin untuk
memulai perubahan.
3. Developing a Vision and Strategy (merumuskan visi dan
strategi). Pada tahapan ini perlunya dibuat sebuah visi untuk
membantu mengarahkan upaya perubahan dan
merumuskan strategi untuk mencapai visi.
4. Communicating the Change Vision (mengkomunikasikan visi
perubahan). Pada tahapan ini perlunya mengkomunikasikan
visi dan strategi perubahan pada seluruh elemen organisasi
secara terus menerus dengan menggunakan setiap
kesempatan yang ada, dan menjadikan koalisi penuntun
sebagai model perilaku yang diharapkan dari pegawai.
5. Empowering Broad-Based Action (memberdayakan tindakan
yang menyeluruh). Pada tahapan ini dilakukan kegiatan-
kegiatan dengan melibatkan keseluruhan elemen organisasi
untuk menyingkirkan rintangan, mengubah sistem atau
struktur yang merusak visi perubahan, dan mendorong
94
keberanian mengambil resiko serta ide, aktivitas dan
tindakan non-tradisional.
6. Generating Short Term Wins (menghasilkan kemenangan
jangka pendek). Orang belum tentu akan mengikuti proses
perubahan selamanya bila tidak melihat hasil nyata dari
usahanya selama ini. Pada tahapan ini dilakukan
perencanaan untuk meningkatkan kinerja sebagai hasil dari
perubahan/kemenangan yang dapat dilihat, dan juga
memberi pengakuan dan penghargaan yang dapat dilihat
kepada orang-orang yang memungkinkan tercapainya
kemenangan tersebut.
7. Consolidating Gains and Producing More Change
(mengkonsolidasikan hasil dan mendorong perubahan yang
lebih besar). Pada tahapan ini dilakukan kegiatan-kegiatan
untuk membuat proses perubahan tersebut semakin besar
dengan menggunakan kredibilitas yang semakin meningkat
untuk mengubah semua sistem, struktur dan kebijakan yang
tidak cocok dan tidak sesuai dengan visi transformasi,
mengangkat, mempromosikan dan mengembangkan orang-
orang yang dapat mengimplementasikan visi perubahan dan
meremajakan proses perubahan dengan proyek, tema dan
agen perubahan yang baru.
8. Anchoring New Approaches in the Culture (menambatkan
pendekatan baru dalam budaya). Dalam tahapan akhir ini,
semua hasil perubahan yang telah dilakukan dijadikan
budaya kerja yang baru dengan menciptakan kinerja yang
lebih baik melalui perilaku yang berorientasi pada pelanggan
dan produktivitas, kepemimpinan yang lebih baik, serta
manajemen yang lebih efektif, mengartikulasikan hubungan
antara perilaku baru dan kesuksesan organisasi serta
mengembangkan berbagai cara untuk menjamin
perkembangan kepemimpinan dan sukses.
95
Terdapat beberapa fase yang dapat ditempuh dalam
melakukan manajemen perubahan, yaitu (Haines, 2005):
• Fase A: Positioning Value (menentukan posisi strategis). Fase
ini adalah tahapan dalam suatu sistem berpikir dimana apa
yang menjadi tujuan atau posisi strategis perusahaan bisa
dijelaskan secara gamblang. Posisi ini yang akan dicapai
dalam suatu perubahan perusahaan atau organisasi.
• Fase B: Measures Goals (mengukur tujuan). Fase ini akan
menentukan berbagai ukuran dan mekanisme yang
diperlukan untuk menilai apakah tujuannya bisa atau telah
tercapai.
• Fase C: Assessment Strategy (Strategi Asesmen). Dalam fase ini
akan ditentukan kesenjangan antar situasi terkini dengan
situasi yang memang diinginkan, sehingga dapat ditentukan
kebijakan untuk mencapai seluruh situasi dan kondisi secara
lebih baik.
• Fase D: Actions Level-level (aktivitas perubahan). Fase ini
adalah fase penerapan dan penjelasan strategi yang
selanjutnya akan diintegrasikan seluruh kegiatan, proses,
hubungan dan perubahan yang diperlukan untuk bisa
mengurangi kesenjangan atau untuk menerapkan tujuan
yang sudah ditetapkan pada fase A.
• Fase E: Environment Scan (identifikasi lingkungan eksternal).
Fase ini akan melakukan seluruh identifikasi lingkungan
eksternal yang mampu memengaruhi perubahan. Hasil dari
identifikasi akan memberikan arah dan perubahan yang
kelak akan dilakukan.
96
program dan komponen fisik seperti: alat, bahan atau mesin atau
merupakan campuran ke 2 (dua) komponen tersebut. Kemudian
dalam Hyperdictionary disebutkan bahwa keinovatifan atau
“innovativeness is originality by virtue of introducing new
ideas.”(Rogers, 1995). Dengan demikian, inovasi berarti
memperkenalkan ide-ide baru yang masih asli.
Menurut Robbins, di dalam inovasi terdapat ide baru
yang dapat diaplikasikan untuk menghasilkan atau
memperbaiki sebuah produk, proses atau servis (Robbins, 1997).
Dengan kata lain, menurut Crosby, suatu ide, gagasan atau
produk yang baru pertama kali diketahui oleh seseorang dapat
dikatakan sebagai inovasi bagi orang itu, tetapi kemungkinan
ide, gagasan, atau produk itu bahkan merupakan sesuatu yang
baru di tempat lain. Hal ini tidak menggugurkan sebagai inovasi,
karena inovasi tidak mengharuskan sesuatu yang baru sama
sekali, sehingga penerapan konsep atau gagasan apapun yang
berbeda dari yang sudah ada atau yang pernah dilakukan
sebelumnya dengan tujuan meningkatkan efisiensi, efektivitas
kerja dan pencapaian keuntungan dan tujuan organisasi dapat
dikategorikan inovasi (Crosby, 1968).
Secara internal, perusahaan menghasilkan dua inovasi,
yaitu inovasi inkremental dan radikal. Inovasi yang paling
banyak dilakukan adalah inkremental, yaitu membangun atas
dasar pengetahuan yang telah ada dan mengadakan
peningkatan kecil pada lini produk saat ini. Sementara inovasi
inkremental bersifat evolusioner dan linear. Kondisi pasar untuk
inovasi inkremental didefinisikan dengan baik, karakteristik
produk dipahami dengan baik, margin keuntungan cenderung
lebih rendah, teknologi produksi efisien, dan kompetisi
merupakan basis utama penentuan harga. Sebaliknya, inovasi
radikal biasanya menunjukkan terobosan teknologi yang
signifikan dan menciptakan pengetahuan baru (Ireland D,
Robert E. Hoskisson, 2011).
Menurut Sundbo, Orfila-Sintes, dan Sørensen, inovasi
yang terjadi pada suatu organisasi secara hirarkhis terjadi dalam
tiga tingkatan, yaitu:
97
Pertama, inovasi pada tingkat perusahaan (firm level). Pada
tingkat perusahaan, inovasi secara tradisional diatribusikan
untuk imajinasi individu dan untuk pengembangan dan
penelitian yang dilakukan individu di dalam organisasi.
Schumpeter menekanan peran imajinatif individu memproduksi
ide-ide dan memperkenalkannya ke dalam kehidupan ekonomi,
yaitu wirausahawan. Inovasi secara mendasar merupakan hasil
dari aktivitas organisasi yang terorganisasi dan merupakan
domain dari perusahaan monopolistik dan oligopolistik besar
yang memiliki sumber daya penting.
Kedua, inovasi pada tingkat jaringan (network level). Pada
teori inovasi akhir-akhir ini, dianggap bahwa jaringan
merupakan sebuah faktor penting untuk inovasi. Jaringan terdiri
dari hubungan formal dan informal antara perusahaan yang
dilibatkan dalam transfer material atau sumber daya non
material. Jaringan mendukung inovasi karena memudahkan
transfer informasi, pembelajaran, dan koordinasi produksi dan
aktivitas pengembangan produk.
Ketiga, inovasi pada tingkat sistem (system level). Inovasi
jaringan fokus pada hubungan di antara perusahaan, sedangkan
inovasi pada tingkat sistem mencakup sistem lebih luas yang
diharapkan mempengaruhi keinovatifan perusahaan. Teori
sistem inovasi jaringan dimaksudkan untuk mengidentifikasi
semua faktor yang mempengaruhi proses inovasi (Sundbo, Jon.
Francina Orfila-Sintes, 2007).
Inovasi yang terjadi di dalam organisasi melalui sebuah
proses tertentu yang melibatkan banyak aspek. Aspek-aspek
yang terlibat dalam proses inovasi seperti tujuan perusahaan,
informasi internal dan eksternal, kemampuan menyerap dan
mentransformasikan informasi, dan teknlogi. Aspek-aspek
tersebut selanjutnya akan mempengarhuhi tipe inovasi yang
dilakukan oleh perusahaan. Proses inovasi ditunjukkan oleh
Galende dan de la Fuente dalam Gambar 1.
98
Gambar 2. Model Proses Inovasi
Sumber: Galende dan de la Fuente (2007: 721)
99
Gambar 3. Proses Inovasi
Sumber: Galende dan de la Fuente (2007: 722)
100
application of benefecial novelty at any organization level. Such
benefecial novelty might include the development of new product ideas
or technologies, changes in administratifve procedures aimed at
improving work relations or the application of new ideas or
technologies to work processes intended to significantly enhance their
efficiency and effectiveness (Kleysen, 2001).
Perilaku inovatif berarti tindakan indvidu yang diarahkan
untuk menghasilkan, memperkenalkan atau mengaplikasikan
temuan baru yang menguntungkan pada setiap tingkatan
organisasi. Temuan baru seperti meliputi pengembangan ide
produk baru atau teknologi, mengubah prosedur administratif
yang ditujukan untuk meningkatkan hubungan kerja atau
mengaplikasikan ide atau teknologi baru untuk proses kerja
yang ditujukan untuk meningkatkan secara signifikan efisien
dan efektivitas.
Penegertian lainnya ditunjukkan oleh Carmeli, Meitar dan
Weisberg:
Innovative behavior is defined here as a multiple-stage process in
which an individual recognizes a problem for which she or he generates
new (novel or adopted) ideas and solutions, works to promote and build
support for them, and produces an applicable prototype or model for
the use and benefit of the organization or parts within it (Carmeli,
Abraham, 2006).
Perilaku inovatif berarti proses bertahap yang mana
individu mengenali sebuah masalah untuk menurunkan ide-ide
dan solusi baru, bekerja untuk memajukan dan membangun
dukungan untuknya, dan menghasilkan prototipe yang
diaplikasikan atau model untuk digunakan serta
menguntungkan organisasi atau bagian di dalamnya. Dengan
merujuk pada definisi Carmeli, Meitar dan Weisberg, maka
perilaku inovatif individu setidaknya melibatkan tiga tahapan.
Pertama, individu mengenali masalah dan muncul dengan
solusi dan ide baru, baik berupa ide/solusi baru atau hasil
adopsi. Tahap kedua, individu mencari cara untuk
mempromosikan solusi atau idenya, dan membangun legimitasi
dan dukungan baik dari dalam maupun dari luar organisasi.
Langkah ketiga yaitu individu merealisasikan ide atau solusinya
101
dengan memproduksi prototipe atau model inovasi yang dapat
diaplikasikan atau digunakan di dalam organisasi.
Perilaku inovatif merupakan inovasi yang dilakukan
secara individual. Menurut Scott dan Bruce yang dikutip Cingöz
dan Akdo, inovasi individual dimulai dengan penurunan ide,
yaitu produksi dan penggunaan ide-ide baru dalam beberapa
domain. Tahapan proses inovasi selanjutnya adalah promosi ide
terhadap penggabungan potensial. Sekali individu
menghasilkan ide, maka individu tersebut terika ke dalam
aktivitas sosial menemukan teman, pendukung, dan sponsor
atau membangun koalisi dari pendukung yang memberikan
kekuatan penting untuk merealisasikan ide. Tugas terakhir dari
proses inovasi berhubungan realisasi ide dengan memproduksi
sebuah prototipe atau model inovasi yang dapat dirasakan dan
puncaknya diaplikasikan dalam peran kerja, kelompok, atau
organisasi secara keseluruhan (Cingöz, 2011).
Scott dan Bruce yang dikutip Jansen, dalam mengukur
perilaku inovatif menggunakan tiga dimensi. Pertama, yaitu
membangkitkan ide (ide generation), yaitu memproduksi ide-ide
baru dan berguna pada berbagai domain. Kedua,
mempromosikan ide (ide promotion), yaitu setelah individu
menghasilkan ide, selanjutnya terlibat dalam aktivitas sosial
untuk menemukan teman, penyokong, dan sponsor atau
membangun koalisi pendukung yang memiliki kekuatan
penting untuk mewujudkan ide. Ketiga, merealisasikan ide (idea
realization), yaitu menyediakan prototipe atau model inovasi
yang dapat ditampilkan dan akhirnya diaplikasikan dalam
pekerjaan, kelompok, atau organisasi secara keseluruhan
(Janssen, 2004).
Sementara Kleysen dan Street dari hasil pembuatan skala
perilaku inovatif yang dilakukan dengan menggunakan analisis
faktor menghasilkan lima dimensi untuk mengukur perilaku
inovatif, yaitu:
Pertama, eksplorasi peluang (opportunity exploration).
Berdasarkan penelusuran pada beberapa literatur, eksplorasi
peluang mencakup menaruh perhatian pada sumber peluang,
102
mencari peluang untuk inovasi, mengenali peluang, dan
mengumpulkan informasi tentang peluang.
Kedua, generativitas (generativity). Generativitas
berhubungan dengan perilaku yang diarahkan untuk
menghasilkan perubahan yang menguntungkan untuk tujuan
pertumbuhan organisasi, orang, produk, proses, dan jasa.
Generativitas meliputi tiga perilaku pokok, yaitu menghasilkan
ide atau solusi untuk peluang, menghasilkan representasi atau
kategori peluang, dan menghasilkan aosiasi dan kombinasi ide
dan informasi.
Ketiga, investigasi informatif (informative investigation).
Dimensi ini berhubungan dengan memberikan bentuk dan
mengeluarkan ide, solusi dan opini serta mencobanya melalui
investigasi. Perilaku umum yang ditunjukkan meliputi
memformulasikan ide dan solusi, memperagakan ide dan solusi,
mengevaluasi ide dan solusi.
Keempat, memperjuangkan (championing).
Memperjuangkan meliputi perilaku sosial politik yang
melibatkan proses inovasi dan penting untuk merealisasikan
solusi, ide dan inovasi potensial. Perilaku umum yang
ditunjukkan yaitu memobilisasi sumber daya, membujuk dan
mempengaruhi, mendorong dan bernegoisiasi, menantang dan
mengambil risiko.
Kelima, aplikasi (application). Perilaku yang ditunjukkan
dalam dimensi ini adalah mengimplementasikan, memodifikasi,
dan membiasakan (Kleysen, 2001).
103
diperlukan dengan sukses dengan cara yang terorganisasi dan
denga metode melalui pengelolaan dampak perubahan pada
orang yang terlibat didalamnya. Sementara itu perubahan selalu
dimulai dengan inisiatif pandangan pada hasil positif.
Hambatan paling umum untuk keberhasilan perubahan adalah
resistensi manusia.
104
memiliki kebutuhan akan rasa aman relatif tinggi, maka potensi
menolak perubahan pun besar. Penerapan e-government
menimbunlkan ketakutan bagi sebagian pegawai, yang merasa
tidak yakin bisa berhasil menyesuaikan diri dengan sistem kerja
baru. Merasa terganggu dan takut gagal dalam bekerja, yang
bisa mempengaruhi jabatannya, menjadi faktor penolakan
implementasi e-government. Dalam pekerjaan, bisnis atau
pemerintahan, sebetulnya sama saja.
Kebanyakan orang lebih memilih untuk diam daripada
berubah, membiarkan semua berjalan seperti sebelumnya,
walaupun sudah menuju pada jurang kehancuran. Selama
manusia sudah merasa puas dan nyaman, perubahan akan
sangat sulit diwujudkan. Dan orang-orang yang melakukan
perubahan akan dihadapi dengan berbagai halangan. Faktor
ekonomi. Faktor lain sebagai sumber penolakan atas perubahan
adalah soal menurunnya pendapatan. Implementasi e-
government membawa perubahan proses dan prosedur
pelayanan masyarakat yang lebih singkat dan sederhana.
Perbedaan proses dan pengurangan prosedur pelayanan publik
bisa mengakibatkan menurunya sumber-sumber pendapatan
pegawai pemerintahan, baik resmi maupun tidak.
Ketidakpastian. Sebagian besar perubahan tidak mudah
diprediksi hasilnya.
Oleh karena itu muncul ketidak pastian dan keragu-
raguan. Kalau kondisi sekarang sudah pasti dan merasa tidak
ada permasalahan besar, penerapan e-government akan
membawa kekhawatiran tentang sesuatu yang belum pasti.
Dengan alasan ini pegawai akan cenderung memilih kondisi
sekarang dan menolak perubahan. Persepsi negatif. Persepsi
negatif dan cara pandang individu terhadap dunia sekitarnya.
Cara pandang ini mempengaruhi sikap. Perubahan dengan
berbasis e-government tidak akan luput dari komentar-
komentar dari orang-orang yang berpikiran negatif yang selalu
berargumentasi bahwa perubahan yang dilakukan salah dan
menyimpang. Orang-orang yang berpikir negatif akan selalu
105
menciptakan halangan-halangan dan menunjukkan sikap
negatif. (Prayitno, 2008).
106
BAB
11
BUDAYA PERUSAHAAN
BUDAYA PERUSAHAAN
René Johannes
Universitas Bakrie
107
mengambil risiko dan bereksperimen, dan ada penekanan
kuat pada ino-vasi.
d. Budaya Fokus pada Pelanggan (Customer-Focused
Culture):
Jenis budaya ini ditandai dengan fokus pada penyediaan
layan-an pelanggan yang sangat baik. Karyawan
didorong untuk be-kerja ekstra agar dapat memenuhi
kebutuhan pelanggan, dan ada penekanan kuat pada
kepuasan pelanggan. Faktor pelang- gan menjadi penentu
keberlanjutan usaha.
108
creating a corporate culture that attracts the best employees.
(Lussier & Hendon, 2017).
d. Meningkatkan Inovasi:
Budaya yang kuat dapat mendorong inovasi, yaitu
memiliki sikap kreatif yang memberikan nilai tambah.
Karyawan lebih cenderung memunculkan ide dan solusi
baru ketika mereka merasa menjadi bagian dari
lingkungan yang mendukung kon-disi kolaboratif. Dalam
hal ini “Twitter” sangat memerhatikan factor tersebut. A
focus on creativity and innovation. Twitter is a company that is
constantly looking for new ways to improve its products and
services. Employees are encouraged to come up with new ideas
and to be creative.
109
Nilai-nilai perusahaan adalah prinsip panduan yang
membentuk budaya perusahaan dan me-nentukan
identitasnya. Hal itu adalah fondasi dimana misi, visi, dan
tujuan perusahaan dibangun. Nilai-nilai perusahaan harus
aspiratif, tetapi dapat terwujud, dan itu harus menjadi
sesuatu yang dapat dicapai oleh karyawan.
Beberapa Contoh Nilai dalam Perusahaan:
a. Integritas:
Lakukan sesuatu yang benar, walaupun dalam situasi
yang sulit. Merupakan gambaran diri setiap karyawan
dalam suatu organisasi yang terlihat dari perilaku dan
tindakan sehari-hari.
b. Kejujuran:
Bersikap jujur dan transparan dalam semua urusan.
c. Saling Memercayai:
Membangun dan memelihara hubungan kerja
berdasarkan rasa saling menghormati dan percaya diri.
d. Akuntabilitas:
Mengambil tanggung jawab atas tindakan seseorang dan
tin-dakan tim secara keseluruhan.
e. Inovasi:
Mencari cara baru dan lebih baik untuk melakukan
sesuatu.
f. Keunggulan:
Berjuang untuk mencapai standar kinerja tertinggi.
g. Fokus kepada Pelanggan:
Menempatkan kepuasan pelanggan sebagai hal yang
utama.
h. Kerjasama Tim:
Menjaga kekompakan tim untuk mencapai tujuan
bersama.
i. Keberagaman:
Merangkul berbagai perspektif unik dan pengalaman
yang dimiliki semua karyawan.
110
j. Keberlanjutan:
Beroperasi dengan cara yang melindungi lingkungan dan
planet ini.
111
di sana, dan itu bisa berdampak besar pada kesuksesan
perusahaan. Berikut adalah beberapa tips tentang cara
mengembangkan budaya perusahaan yang kuat:
a. Definisikan Nilai-nilai Perusahaan.
Apa hal terpenting bagi perusahaan…? Apa yang
diperjuang-kan perusahaan…? Setelah pemilik dan/atau
manajemen mengetahui nilai-nilai yang diperlukan, maka
dapat mulai menciptakan budaya yang
mencerminkannya.
b. Lakukan Secara Konsisten.
Nilai-nilai perusahaan harus tercermin dalam semua yang
dilakukan, mulai dari praktik perekrutan hingga layanan
yang terbaik kepada pelanggan. Jika tidak dilakukan
dengan konsis-ten, karyawan akan bingung dan budaya
akan menjadi lemah.
c. Bersikap Transparan.
Karyawan perlu tahu apa yang terjadi di perusahaan,
pada kondisi baik atau buruk. Saat bersikap transparan,
sebenarnya perusahaan sedang membangun kepercayaan
dan menciptakan lingkungan kerja yang lebih positif.
Termasuk untuk kemam- puan dan kompetensi setiap
karyawan di dalam menjalankan tugas pokok dan
fungsinya.
d. Rayakan Semua Kesuksesan.
Ketika karyawan melakukan pekerjaan dengan baik,
pastikan untuk memberi tahu mereka. Merayakan
kesuksesan adalah cara yang bagus untuk meningkatkan
moral dan men-ciptakan budaya kerja tim.
e. Terbuka untuk Umpanbalik.
Tidak ada yang sempurna, dan budaya perusahaan
tertentu juga tidak terkecuali. Bersikaplah terbuka
terhadap umpanbalik dari setiap karyawan dan gunakan
itu untuk menjadikan budaya lebih baik. Termasuk
informasi dari ‘peniup peluit’ yang melaporkan adanya
penyimpangan, pelanggaran, bahkan penggelapan yang
bisa merugikan perusahaan secara kese-luruhan.
112
Whistleblowing is an act to report and expose wrongdoings,
with varying defnitions regarding the scope and nature of
wrongdoing and the choice of reporting channel. (Cheema
dkk., 2021).
113
Dengan mengikuti semua tips ini, budaya perusahaan
dapat dibangun menjadi kuat sehingga akan membantu
kesuksesan perusahaan dalam segala bidang. The importance
of role model behavior for the development of a aspired corporate
culture. (Herget, 2023). Dikenal frase ing ngarso sung tulodo
yang menunjukkan bahwa atasan atau pimpinan harus
memberikan teladan yang ter-baik.
2. Cara Mempertahankan Budaya Perusahaan
Budaya perusahaan adalah kepribadiannya. Itulah
yang membuat perusahaan unik dan menarik serta
mempertahankan talenta terbaik. Namun, seiring
pertumbuhan perusahaan, mung-kin sulit untuk
mempertahankan budaya tersebut. Berikut adalah beberapa
tips untuk mempertahankan budaya perusahaan:
(Zumarraga, 2021)
a. Jalani Nilai Perusahaan.
Cara terbaik untuk membuat karyawan percaya pada
nilai-nilai perusahaan adalah dengan menjalankannya
sendiri. Ini berarti memodelkan perilaku yang ingin
dilihat pada karyawan.
b. Ketika karyawan mencapai sesuatu prestasi yang hebat,
rayakan kesuksesan mereka. Hal ini akan menunjukkan
kepada mereka bahwa kerja keras mereka dihargai dan
perusahaan menghargai kontribusi mereka.
a. Memberikan Kesempatan untuk Berkembang.
Membantu karyawan Anda tumbuh dan
mengembangkan kete-rampilan mereka. Ini akan
membuat mereka lebih berharga bagi perusahaan dan
juga akan membantu mereka tetap ter-libat dalam
berbagai pemecahan masalah yang dihadapi, baik yang
sifatnya ringan maupun berat.
b. Jadilah Fleksibel.
Seiring pertumbuhan perusahaan, manajemen harus
bersikap fleksibel dengan kebijakan dan prosedur yang
ada. Ini akan membantu perusahaan beradaptasi dengan
114
perubahan dan menjaga budaya perusahaan tetap
tangguh.
115
C. Dampak Budaya Perusahaan terhadap Karyawan
Budaya perusahaan adalah seperangkat nilai, keperca-
yaan, dan norma bersama yang membentuk cara perusahaan
beroperasi. Ini dapat berdampak besar pada karyawan, meme-
ngaruhi kepuasan kerja, produktivitas, dan perputaran mereka.
Beberapa cara yang perlu diterapkan agar budaya peru-
sahaan dapat memengaruhi semangat karyawan: (Strathausen,
2015)
1. Memberikan Kepuasan Kerja:
Karyawan yang selaras dengan budaya perusahaan mereka
cenderung lebih puas dengan pekerjaan mereka. Ini karena
me-reka merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar
dari diri mereka sendiri dan bahwa pekerjaan mereka
bermak-na.
2. Produktivitas:
Karyawan yang bahagia dan terlibat dalam pekerjaan mereka
lebih mungkin menjadi produktif. Ini karena mereka lebih
cenderung termotivasi dan bangga dengan pekerjaan
mereka.
3. Perputaran Karyawan:
Karyawan yang tidak senang dengan budaya perusahaan
me-reka cenderung keluar. Ini bisa mahal bagi perusahaan,
karena bisa mahal untuk merekrut dan melatih karyawan
baru.
4. Membangun Rasa Memiliki:
Karyawan perlu untuk merasakan bahwa mereka adalah
bagian dari tim dan dihargai oleh para kolega mereka.
Dengan demikian semuanya akan berjalan sesuai rencana
yang disiap- kan perusahaan dalam mencapai target yang
diinginkan.
116
greater demands on employee commitment and tighter systems for
performance management are likely to further the interests of the
organisation, its owners and investors at the expense of employees.
(Beardwell & Thompson, 2017). Makin tinggi harapan terhadap
komitmen karyawan dan sistem yang makin ketat, akan
menyebabkan perhatian organisasi, pemi- lik, dan investor
untuk memberikan kompensasi yang lebih baik. Semua ini dapat
berjalan sesuai perencanaan keuangan yang baik dan terarah.
117
a. Bertahan untuk Tidak Berubah:
Manusia adalah makhluk yang memiliki kebiasaan, dan
mereka sering menolak perubahan, bahkan jika itu
menjadi lebih baik. Ini bisa menjadi tantangan ketika
mencoba menerapkan budaya perusahaan baru, karena
karyawan mungkin enggan untuk melepaskan cara lama
mereka dalam melakukan sesuatu.
b. Kurang Kejelasan:
Penting bagi karyawan untuk memahami apa budaya
peru-sahaan itu dan apa yang diharapkan dari mereka.
Jika ada ketidakjelasan, karyawan mungkin tidak tahu
bagaimana harus bersikap atau apa yang dianggap dapat
diterima.
c. Kurangnya Kepemimpinan:
Seorang pemimpin yang kuat sangat penting untuk
menerap-kan budaya perusahaan yang baru. Pemimpin
harus mampu mengartikulasikan nilai dan visi
perusahaan, dan mereka harus bersedia meminta
pertanggungjawaban karyawan untuk mene-gakkan
budaya secara berkesinambungan.
d. Kurangnya Sumber Daya:
Menerapkan budaya perusahaan baru bisa mahal, baik
dalam hal waktu maupun uang. Perusahaan mungkin
tidak memiliki sumber daya untuk berinvestasi dalam
pelatihan, pengem-bangan, atau inisiatif lain yang
diperlukan untuk mendukung budaya baru.
e. Waktu:
Butuh waktu untuk mengimplementasikan budaya
perusahaan yang baru. Itu bukan sesuatu yang bisa
dilakukan dalam se-malam. Perusahaan harus sabar dan
gigih, dan mereka harus bersedia membuat komitmen
jangka panjang untuk berubah.
118
menciptakan tempat kerja yang pro-duktif, inovatif, dan
bermanfaat bagi karyawan.
Beberapa tips untuk mengatasi tantangan penerapan
budaya peru-sahaan: (Sullivan, 2016)
a. Dapatkan Dukungan dari Kepemimpinan:
Langkah pertama adalah mendapatkan dukungan dari
kepe-mimpinan. CEO dan pemimpin senior lainnya harus
ber-komitmen pada budaya baru dan mereka harus
bersedia mendukungnya. (Strathausen, 2015)
b. Komunikasikan Budaya Baru:
Begitu kepemimpinan ada di ‘podium’, penting untuk
meng-komunikasikan budaya baru kepada karyawan.
Hal ini dapat dilakukan melalui pelatihan, buku
pegangan karyawan, dan saluran komunikasi lainnya.
c. Tetapkan Ekspektasi yang Jelas:
Karyawan perlu mengetahui apa yang diharapkan dari
mereka dalam budaya baru. Ini termasuk hal-hal seperti
gaya berpa-kaian, gaya berkomunikasi, dan perilaku.
d. Memberikan Pelatihan dan Pengembangan:
Karyawan mungkin memerlukan pelatihan dan
pengembangan untuk membantu mereka beradaptasi
dengan budaya baru. Pelatihan ini dapat membantu
mereka mempelajari keteram-pilan baru, memahami
nilai-nilai perusahaan, dan mengem-bangkan perilaku
baru.
e. Bersabarlah dan Bersikap Gigih:
Butuh waktu untuk mengimplementasikan budaya
perusahaan yang baru. Perusahaan harus sabar dan gigih,
dan mereka harus bersedia membuat komitmen jangka
panjang untuk berubah.
119
BAB
12
MANAJEMEN KONFLIK
MANAJEMEN KONFLIK
120
sudah disebutkan bahwa, setiap individu tentu memiliki
tujuan yang ingin di raih, nilai-nilai yang dibawa dan
dikembangkan dalam diri, serta sasaran-sasaran yang
menjadi dasar penggerak aktivitas individu tersebut, di
tempat kerja, tujuan, nilai dan sasaran tersebut, dipadukan
juga dengan adanya perubahan yang secara konstan terjadi,
dapat menjadi pemicu konflik yang potensial.
Jadi, berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan
bahwa yang dimaksud dengan Konflik di Tempat Kerja
adalah gesekan
atau benturan antar dua kepentingan atau lebih di
tempat kerja, dimana kepentingan tersebut dapat berupa
berupa tujuan yang ingin di raih, nilai-nilai yang dibawa dan
dikembangkan dalam diri, serta sasaran-sasaran yang
menjadi dasar penggerak aktivitas individu, yang terjadi,
manakala kepentingan-kepentingan tersebut menuju kearah
yang berbeda, atau menuju kearah yang sama namun
membawa muatan yang berbeda. Muatan yang dimaksud
disini, dapat berupa Visi atau Cara Pandang dan Idealisme,
serta hal-hal lain yang diperjuangkan.
2. Sumber Konflik di Tempat Kerja
Tempat kerja adalah kondisi dimana beberapa atau
sekelompok individu bertemu secara konstan,
bersinggungan, baik dalam bentuk korelasi maupun
koordinasi, berdinamika dalam arus perubahan, demi
tercapainya suatu tujuan bersama. Perjumpaan antar
individu yang terjadi secara konstan ini, dan diwarnai juga
dengan adanya perubahan, seringkali menjadi sumber yang
menimbulkan konflik. Secara garis besar dapat dikatakan
bahwa hal yang menjadi Sumber Konflik adalah Perbedaan.
Adanya perbedaan antar individu, baik secara perorangan
maupun kelompok, membuat konflik menjadi suatu hal yang
tidak terhindarkan. Kegiatan sehari-hari yang dilakukan oleh
individu, yang berhubungan dengan individu lainnya atau
dengan kelompok individu memunculkan potensi timbulnya
Konflik. Secara mendalam, perbedaan-perbedaan yang
121
menjadi Sumber Konflik tersebut dapat dirinci sebagai
berikut :
a. Perbedaan SARA (Suku, Agama, Ras, Antar Golongan)
Salah satu isu utama penyebab timbulnya konflik
adalah Perbedaan Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan
atau yang sering disingkat SARA. Isu SARA ini, terutama
di negara-negara berkembang dan negara-negara dunia
ketiga merupakan isu yang masih sangat mempengaruhi
gerak dan pemikiran masyarakat. Perbedaan adat istiadat
dan kebudayaan yang dimiliki tiap suku, kepercayaan
bahwa agama yang dianut merupakan agama yang
terbaik dengan cara yang ekstrem sehingga sampai
dengan memandang rendah agama lain, keyakinan
berlebihan bahwa rasnya adalah yang paling unggul
sedang ras yang lain kurang baik, dan kesetiaan berlebih
pada golongan, dengan latar belakang apapun, seringkali
membuat individu atau kelompok individu menjadi
eksklusif.
Bayangkan bila hal-hal semacam ini dibawa ke
tempat kerja, tuntutan pekerjaan yang mengharuskan
beberapa atau sekelompok individu bekerjasama demi
tercapainya tujuan bersama menjadi tidak dapat terwujud
karena adanya perbedaan ini. Bahkan pada tingkat
ekstrim, konflik yang timbul akibat perbedaan SARA di
tempat kerja dapat berkembang luas dan melibatkan
pihak luar.
b. Perbedaan Ide dan Gagasan
Konflik yang timbul akibat adanya perbedaan ide
dan gagasan adalah jenis konflik yang seringkali muncul
di tempat kerja. Sebagaimana sudah disinggung diatas,
tempat kerja adalah tempat untuk mengaktualisasi diri,
seringkali individu atau sekelompok individu meyakini
atau mendukung sebuah ide dan gagasan, dan ingin agar
ide serta gagasannya diakui dan diterima oleh individu
atau kelompok individu lainnya. Akan timbul gesekan
atau benturan, apabila individu atau kelompok individu
122
lainnya juga memiliki ide dan gagasan, serta ingin ide dan
gagasannya tersebut diterima dan diakui juga oleh
individu atau kelompok individu lainnya. Dua muatan
atau lebih yang berbeda, yang diusung oleh individu atau
kelompok individu ini dapat menjadi penyebab
timbulnya konflik. Konflik karena perbedaan ide dan
gagasan ini dapat bersifat konstruktif karena memberi
ruang bagi munculnya kreatifitas adalam bentuk ide dan
gagasan yang lebih baik setelah melalui perdebatan.
c. Perbedaan Kemampuan Pribadi Menyikapi Perubahan
Hal yang juga dapat menjadi Sumber Konflik di
Tempat Kerja berikutnya adalah Perbedaan Kemampuan
Pribadi Menyikapi Perubahan. Sebagaimana telah
dinyatakan sebelumnya, Perubahan adalah hal yang
secara konstan terjadi di tempat kerja. Perubahan tersebut
dapat berupa :
• Perubahan Kepemimpinan atau Manajemen
Perubahan Kepemimpinan atau Manajemen adalah
salah satu perubahan besar yang dapat tejadi di tempat
kerja. Pemimpin yang baru pastinya akan memiliki
pola kepemimpinan yang juga baru, yang bisa jadi
akan sangat berbeda dengan pola kepemimpinan yang
lama. Sebagai individu yang berada dalam stuktur
kepemimpinan, tentu saja semua diharapkan dapat
melakukan penyesuaian. Manajemen berfungsi untuk
mengatur agar semua individu yang terlibat di
dalamnya dapat berfungsu dengan baik sesuai dengan
bagiannya masing-masing, demi tercapainya tujuan
bersama. Perubahan Kepemimpinan atau Manajemen
ini mungkin sekali menjadi sumber timbulnya konflik,
terutama apabila perubahan lain yang terjadi seiring
dengan perubahan Kepemimpinan dan Manajemen ini
sangatlah besar dan beberapa individu yang terlibat
dalam struktur memiliki kemampuan yang kurang
besar untuk mengimbangi perubahan tersebut. Salah
satu contoh kasus dari Konflik yang mungkin timbul
123
karena Perubahan Kepemimpinan atau Manajemen
adalah sebagai berikut :
Dalam suatu perusahaan, Manajer yang ada
digantikan oleh orang lain karena sesuatu dan lain hal
sesuai dengan hasil keputusan para pemegang saham.
Manajer yang baru adalah orang yang lebih disiplin,
sehingga beberapa perubahan dibuat untuk
meningkatkan kedisiplinan karyawan. Beberapa
karyawan merasa bahwa lingkungn kerja menjadi
tidak kondusif karena adanya perubahan ini, beberapa
bahkan berkata bahwa masa kepemimpinan yang lama
lebih baik karna lebih menekankan pada prestasi kerja
bukan hanya sekedar kedisiplinan seperti yang terjadi
pada masa kepemimpinan Manajer baru ini. Yang
dibicarakan oleh sebagian orang tersebut sebenarnya
juga bukan hal yang salah, karena akibat terlalu
fokusnya pada peningkatan kedisiplinan, manajer
baru menjadi kurang fokus pada peningkatan prestasi
kerja karyawan. Lingkungan Kerja menjadi terbagi
menjadi kubu-kubu dengan pendapat dan
keyakinannya masing-masing. Kalau tidak
diwaspadai, keadaan semacam ini dapat berubah
menjadi situasi konflik besar yang bisa mengganggu
jalannya perusahaan, karena mereka yang memiliki
ketidakpuasan akan mungkin sekali melakukan hal-
hal lain yang menghambat lajunya gerak perusahaan.
• Perubahan Situasi Kerja
Perubahan lain yang dapat terjadi adalah perubahan
Situasi Kerja. Perubahan Situasi Kerja dapat terjadi
karena beberapa hal, misalnya : adanya Rolling atau
Rotasi Kerja, terjadinya Mutasi Kerja, adanya Promosi
Jabatan yang diterima seseorang atau beberapa
individu dalam perusahaan dan lain sebagainya.
Karena adanya Perbedaan Kemampuan Pribadi untuk
menyikapi Perubahan, maka perubahan Situasi Kerja
tersebut diatas dapat menjadi Sumber timbulnya
124
konflik. Ketidakmampuan atau kesulitan untuk
beradaptasi dengan tugas baru ketika mengalami
Rolling Kerja, perasaan marah atau tidak terima ketika
di Mutasi, khususnya ketika di mutasi dengan tingkat
jabatan yang lebih rendah dan ke tempat yag tidak
diinginkan, rasa iri ketika ada rekan yang mendapat
Promosi jabatan yang diincar atau diinginkan, dapat
menjadi sumber-sumber konflik yang berbahaya.
125
• Nilai-nilai yang dibawa dan dikembangkan dalam diri.
Setiap individu berasal dari latar belakang yang
berbeda-beda. Latar belakang berbeda yang
membentuk kehidupan individu tentu membuat
setiap individu juga memiliki keunikan nilai-nilai
yang dibawa dan dikembangkan dalam diri. Nilai
adalah kemampuan untuk menimbang baik buruk,
benar salah dalam diri manusia. Nilai-nilai inilah yang
membentuk dan melandasi peilaku setiap individu.
Nilai menjadi tolak ukur, dan pertimbangan dalam
menentukan siap dan tindakan seorang individu.
Adanya perbedaan nilai yang melatarbelakangi
perilaku individu ini juga merupakan sumber konflik.
Nilai-nilai ini dapat berupa nilai kebenaran, nilai
kejujuran, nilai kesopanan, nilai moral, nilai etika dan
lain sebagainya.
• Sasaran-sasaran yang menjadi dasar penggerak
aktivitas individu
Selain tujuan, sebagaimana yang telah diuraikan
diatas, ada juga sasaran-sasaran yang menjadi dasar
penggerak aktivitas individu, sasaran merupakan
poin-poin realistik dari pencapaian tujuan yang
sifatnya lebih universal. Sasaran merupakan langkah
demi langkah konkret individu dengan jangka waktu
yang lebih pendek dan target yang lebih dekat.
Contohnya, seorang individu yang bertujuan untuk
menjadi manajer di tempat kerja, menentukan sasaran-
sasaran demi tercapainya tujuan tersebut. Mengapa
sasaran juga bisa menjadi sumber konflik? Karena, di
tempat kerja, seringkali sasaran-sasaran yang dibuat
oleh individu bersinggungan atau bahkan bertabrakan
dengan sasaran-sasaran yang dimiliki oleh individu
lainnya.
126
e. Perbedaan Visi atau Cara Pandang dan Idealisme
Berikutnya, di tempat kerja juga dapat terjadi
konflik yang bersumber dari perbedaan Visi atau Cara
Pandang dan Idealisme. Visi atau Cara Pandang dan
Idealisme adalah muatan yang melatarbelakangi interaksi
antar individu atau antara individu dengan kelompok.
Bagaimana individu melihat, menilai dan memaknai
keberadaannya di tengah individu lainnya, ditopang
dengan tujuan dan sasaran serta nilai yang menjadi
penggerak, sebagainama telah dibahas sebelumnya,
disempurnakan dengan Idealisme yang tumbuh dalam
diri individu, membuat masing-masing individu menjadi
unik dan berbeda satu sama lain. Perbedaan ini, yang
seringkali membuat relasi antar individu, maupun antara
individu dengan kelompok individu menjadi unik. Dalam
arti yang ekstrim, keunikan ini dapat menjadi sumber
pemicu konflik.
Intinya, setelah kita bicara panjang lebar mengenai
banyaknya perbedaan yang ada, baik dalam diri seorang
individu, mupun yang ada di dalam kelompok individu,
yang dapat menjadi sumber konflik, terutama konflik di
tempat keja, hal yang paling penting dipikirkan
selanjutnya adalah bagaimana strategi dan teknik apa saja
yang harus dilakukan untuk menyelesaikan konflik yang
ada tersebut, agar konflik yang ada tidak menghalangi
tercapainya tujuan bersama.
127
mungkin terjadi. Dalam ilmu manajemen, seringkali kita
dengar bahwa konflik-konflik kecil di tempat kerja
adakalanya perlu ada, untuk membuat lingkungan kerja
menjadi lebih “hidup” dan setiap individu terdorong untuk
menunjukkan potensinya yang maksimal. Faktanya, konflik
kecil yang tercipta dan dapat dimanage dengan baik di
tempat kerja mampu menciptakan pola komunikasi yang
semakin sehat antar individu yang terlibat di dalamnya.
Sejak jaman dulu, konflik selalu diibaratkan sebagai
Api. Ungkapan : “Api kecil kawan dan api besar lawan”
seringkali dipakai untuk menggambarkan kehadiran konflik
di dalam kelompok individu. Sebagaimana api sangat
penting dan berguna dalam kehidupan, demikian juga
konflik dalam interaksi antar individu. Namun perlu
diwaspadai, agar konflik yang terjadi di tempat kerja tidak
membesar dan meluas, sebagaimana api yang besar
kemudian dapat menjadi lawan yang membumihanguskan
semuanya.
Setiap orang perlu mempelajari dan mengembangkan
kemampuan untuk menghadapadi konflik. Manajer di
tempat keja harus memiliki keterampilan ini guna
memastikan bahwa setiap individu yang dimanagenya dapat
bekerja dengan maksimal dan konflik yang ada tidak menjadi
sesuatu yang merugikan. Strategi yang harus digunakan dan
dikuasai oleh seorang individu atau khususnya manajer
dalam penyelesaian konflik adalah : Bukan Menidakan
Konflik tapi Memanage Konflik menjadi Sesuatu yang
Menguntungkan, khususnya dalam upaya untuk
Peningkatan Kreatifitas dan Potensi yang maksimal.
Sebelum kita lanjut pada Teknik Penyelesaian Konflik
sebagai langkah konkret untuk mewujudnyatakan Strategi
Penyelesian Konflik, lebih dahulu mari kita lihat, ada
beberapa kemampuan yang harus dikuasai oleh Manajer
untuk untuk mendukung Strategi Penyelesaian Konflik.
Kemampuan tersebut adalah sebagai berikut :
128
a. Kemampuan untuk Mendengarkan
Setiap pihak yang berkonflik perlu didengar
pendapatnya, dan perlu menyampaikan “Kebenaran”
berdasarkan versinya. Akan menjadi tidak adil apabila
ada satu pihak yang didengarkan sementara pihak lain
diabaikan hanya karena praduga awal tentang siapa yang
benar dan siapa yang salah.
b. Kemampuan untuk Mengatur Emosi
Mengatur Emosi, artinya bisa dengan tepat
menampakkan emosi sesuai dengan kebutuhan.
Adakalanya perlu diam dan menahan diri agar dapat
mendengar dan menimbang dengan baik, akan tetapi
mungkin disuatu kasus tertentu kemarahan juga dapat
menjadi emosi pilihan untuk ditampilkan. Sekali lagi,
yang menjadi penekanan adalah, menampilkan emosi
yang tepat disaat yang tepat,
c. Kemampuan untuk Berbicara dengan Bijak
Kemampuan untuk berbicara dengan bijak adalah
hal berikut yang harus dikuasai dalam penyelesaian
konflik, tentu saja untuk dapat berbicara dengan bijak,
individu harus memenuhi dirinya dengan pengetahuan
yang cukup. Membaca dan mempelajari kasus-kasus
mengenai penyelesaian konflik, baik dari tulisan maupun
berbicara langsung dengan Nara Sumber yang kompeten
dapat membantu seseorang untuk dapat berbicara dengan
lebih bijak saat menghadapi konflik.
d. Kemampuan untuk Tidak Memihak,
Adil adalah kunci, setiap individu yang ada dalam
konflik pasti beharap dapat diperlakukan dengan adil,
sehingga apabila solusi pada akhirnya didapat, semua
individu yang telibat didalamnya dapat menerima solusi
tersebut dengan lapang dada, pun misalnya dia atau
mereka tidak berada dalam posisi “Menang”.
e. Kemampuan untuk Mengambil Keputusan dengan Tepat
Hal terakhir yang harus dipelajari adalah
Kemampuan untuk Mengambil Keputusan dengan Tepat.
129
Apapun keputusan yang diambil, harus dapat dilihat oleh
semua pihak yang berkonflik sebagai hal yang terbaik
demi kepentingan bersama dan tepat untuk semua pihak.
130
c. Akomodasi (Accomodating)
Teknik Akomodasi (Accomodating) adalah Teknik
Penyelesaian Konfik yang dilakukan sebagai hasil dari
negosiasi atau perundingan dengan cara membuat
individu-individu atau kelompok individu yang
bertentangan untuk menghentikan segala kegiatannya
yang dapat membuat konflik menjadi semakin lebar dan
berkelanjutan. Sifatnya dapat sementara atau selamanya,
tergantung bagaimana kepatuhan masing-masing pihak
yang berkonflik. Sisi lemahnya, sedikit saja salah satu
pihak menunjukkan ketidakpatuhannya akan keputusan
bersama ini, maka pihak lain akan segera melakukan
tindakan balasan dan kemudian konflik akan kembali
mengemuka.
d. Kompetisi (Competiting), dan
Teknik Kompetisi (Competing) adalah Teknik
Penyelesaian Konflik yang “Membiarkan” pihak-pihak
yang berkonflik meneruskan konfliknya sampai pada
akhirnya terpilih satu pihak yang menjadi “Pemenang”.
Idealisme yang dimiliki oleh pemenang inilah yang
kemudian akan dipakai sebagai idealisme keseluruhan.
Idealisme yang dimaksud disini adalah hal-hal yang
berhubungan dengan pokok pikiran, ide dan gagasan.
e. Penghindaran (Avoiding)
Teknik Penghindaran (Avoiding) adalah Teknik
Penyelesaian Konflik yang dilakukan dengan cara sejak
awal menghindari timbulnya konflik, dengan
menyingkirkan hal-hal yang dapat menjadi Sumber dan
pemicu konflik. Ditempat kerja, Teknik Penghindaran
dapat dilakukan dengan memberlakukan aturan yang
jelas dan baku, dengan sanksi yang tegas untuk berbagai
hal yang mengatur interaksi antar individu di dalam
kelompok. Aturan yang tegas dapat membuat setiap
individu yang ada di tempat kerja, mengetahui dengan
jelas batasan-batasan yang ada dan sifatnya mengikat.
Teknik Penyelesaian Konflik dengan Penghindaran
131
memang mingkin tidak dapat menghapuskan atau
menghilangkan konflik sama sekali, sebab, sebagaimana
telah kita pelajari sebelumnya, akan menjadi sangat tidak
mungkin bahwa perjumpaan antar individu dalam
kelompok tidak mengalami gesekan-gesekan, akan tetapi
setidaknya teknik ini dapat meminimalisir jumlah konflik
yang mungkin timbul.
132
“Ah, aku capek! Sekarang giliran kamu untuk mencoba, kita
lihat, apa kamu bisa menjatuhkan monyet itu, sedang aku saja
tidak mampu!”. “Baik!” kata Angin Sepoi-sepoi. Dan dia pun
mulai bertiup dengan tenang, mengombang-ambingkan monyet
yang sedang berpegang dengan erat di dahan. Merasa nyaman
dengan angin yang berubah menjadi tenang, monyet mulai
mengendurkan pegangannya dan duduk dengan lebih santai di
dahan. Ia menjadi rileks dan semakin lama semakin mengantuk.
Dipejamkannya matanya sambil menikmati hembusan angin
yang membuai, dan tiba2…pluk!...pegangannya terlepas dan dia
jatuh ke tanah dengan kagetnya!
Di era Disruptif, dengan perubahan yang terjadi secara
terus menerus, Para penanggungjawab dan pihak-pihak yang
berkepentingan dalam pengelolaan Sumber Daya Manusia
(SDM), membutuhkan individu-individu yang memiliki
kemampuan untuk menangani dan mengelola konflik, demi
tercapainya tujuan bersama yang telah ditentukan sebelumnya.
Individu yang dibutuhkan ini, bukan hanya yang mampu
mengatasi Konflik, namun juga harus mampu mengubah
Konflik menjadi sesuatu yang bersifat membangun
(Konstruktif). Sebagaimana yang sudah digambarkan dalam
ilustrasi diatas, mari mengandaikan kedua sosok angin tersebut
adalah Konflik. Saat Konflik yang besar melanda, kita seringkali
dengan serta merta bertindak, melakukan pertahanan dan
penguatan disana-sini, sampai keadaan kembali terkendali,
tetapi ketika yang muncul adalah Konflik kecil, kita kadang
menjadi lengah, membiarkan atau menunda penyelesaian,
hingga kemudian tanpa kita sadar, konflik kecil itu sudah
menjalar kamana-mana dan akhirnya…pluk!...bisnis kita jatuh
dan hancur!
Jadi, dalam Manajemen Konflik, Manajemen Sumber
Daya Manusia berperan untuk menemukan dan menempatkan
Individu-individu yang memiliki kemampuan untuk mengelola
dan memanage konflik ini pada tempat yang tepat. Mereka
harus diberi ruang yang seluas-luasnya untuk mengembangkan
keterampilan mereka dalam mengelola konflik dan
133
mengubahnya dari sesuatu yang bersifat negatit menjadi sesuatu
yang bersifat positif demi tercapainya tujuan bersama.
134
b. Sifat Individualistik Manusia yang semakin tinggi.
Manusia adalah mahluk sosial, benar, akan tetapi pada
kenyataannya sebagian besar manusia di saat ini memiliki
tingkat individualistic yang tinggi. Tentu saja hal ini
membuat potensi timbulnya konflik juga semakin tinggi,
akan tetapi, sebagaimana yang telah dijelaskan
sebelumnya, sifat individualistic manusia masa kini
berbeda bentuknya dengan individualistic manusia masa
yang telah lalu, hal ini tentu menjadi tantangan tersendiri
bagi Manajemen Konflik.
135
BAB
KEPEMIMPINAN DAN
13 MOTIVASI
KEPEMIMPINAN DAN MOTIVASI
136
Perlu diperhatikan bahwa kepemimpinan dan motivasi
seringkali berjalan beriringan. Pemimpin yang baik biasanya
juga pandai memotivasi orang lain. Selain itu, tingkat motivasi
yang tinggi dalam suatu tim atau organisasi biasanya
mencerminkan kualitas kepemimpinan yang baik. Hubungan
antara kepemimpinan dan motivasi sangat erat dan saling
mempengaruhi.
Pemimpin yang efektif biasanya mampu memahami apa
yang memotivasi anggota tim mereka, dan mereka
menggunakan pemahaman ini untuk merangsang produktivitas
dan kinerja yang lebih tinggi. Misalnya, pemimpin mungkin
memberikan penghargaan atau pengakuan atas kerja keras,
memberikan tantangan dan peluang baru, atau menciptakan
lingkungan kerja yang mendukung dan menghargai kerja sama
tim dan inovasi.
Sebaliknya, tingkat motivasi yang tinggi dalam tim atau
organisasi seringkali mencerminkan kepemimpinan yang baik.
Ketika anggota tim merasa termotivasi dan bersemangat tentang
pekerjaan mereka, ini seringkali karena mereka merasa dihargai,
didukung, dan diberdayakan oleh pemimpin mereka.
Namun, penting juga untuk diingat bahwa motivasi juga
dapat datang dari dalam diri individu itu sendiri, bukan hanya
dari luar. Ini dikenal sebagai motivasi intrinsik, dan mencakup
hal-hal seperti keinginan untuk belajar, berprestasi, atau merasa
bahwa pekerjaan yang mereka lakukan memiliki makna dan
tujuan. Pemimpin yang baik akan berusaha untuk
menumbuhkan baik motivasi ekstrinsik (misalnya, melalui
penghargaan dan insentif) dan intrinsik dalam tim mereka.
137
1. Kepemimpinan Transaksional
Gaya kepemimpinan transaksional berfokus pada
pemberian penghargaan atau hukuman kepada karyawan
berdasarkan pencapaian atau pelanggaran aturan. Pemimpin
transaksional menetapkan harapan yang jelas dan mengatur
sistem reward dan punishment. Di sini adalah beberapa poin
kunci tentang gaya kepemimpinan ini:
a. Harapan yang Jelas: Pemimpin transaksional membuat
harapan yang jelas tentang apa yang diharapkan dari
pengikut mereka. Ini bisa berupa tujuan atau target yang
harus dicapai, atau standar perilaku tertentu yang harus
dipatuhi.
b. Sistem Reward dan Punishment: Pemimpin transaksional
sering menggunakan sistem reward (penghargaan) dan
punishment (hukuman) untuk memotivasi pengikut. Jika
pengikut mencapai target atau mematuhi standar, mereka
mungkin diberi penghargaan dengan pujian, promosi,
atau insentif lainnya. Sebaliknya, jika mereka tidak
memenuhi harapan, mereka mungkin dihukum, misalnya
dengan kritik, pemotongan gaji, atau sanksi lainnya.
c. Manajemen Kinerja: Gaya kepemimpinan transaksional
berfokus kuat pada manajemen kinerja. Pemimpin
transaksional cenderung melakukan pemantauan kinerja
secara rutin dan memberikan feedback langsung dan
spesifik kepada pengikut mereka.
138
oleh pemimpin sebagai imbalan atas pencapaian kinerja
yang baik.
b. Ketergantungan pada kontrol eksternal: Karyawan
mungkin cenderung mengandalkan pengawasan dan
pengarahan eksternal untuk mempertahankan motivasi
mereka.
2. Kepemimpinan Transformasional
Gaya kepemimpinan transformasional berfokus pada
mempengaruhi, menginspirasi, dan mengembangkan
karyawan untuk mencapai potensi maksimal mereka.
Pemimpin transformasional mendorong karyawan untuk
mengadopsi visi yang lebih besar dan memberikan
dukungan dan pelatihan yang dibutuhkan. Berikut adalah
beberapa karakteristik utama dari pemimpin
transformasional:
a. Inspirasi dan Motivasi: Pemimpin transformasional
berusaha menginspirasi dan memotivasi pengikut mereka
dengan membangun visi yang menarik dari masa depan.
Mereka menggunakan komunikasi yang kuat dan
karisma untuk membantu orang lain melihat dan merasa
bersemangat tentang visi ini.
b. Pengembangan Individu: Pemimpin transformasional
berinvestasi dalam pengembangan individu pengikut
mereka. Mereka memberikan dukungan, pelatihan, dan
bimbingan yang dibutuhkan untuk membantu orang lain
tumbuh dan berkembang secara profesional.
c. Pemecahan Masalah Kreatif: Pemimpin transformasional
mendorong pengikut mereka untuk berpikir secara kreatif
dan inovatif dalam mencari solusi atas masalah. Mereka
mendorong pengambilan risiko dan belajar dari
kegagalan, daripada menghukumnya.
d. Model Peran: Pemimpin transformasional berusaha
menjadi model peran bagi pengikut mereka. Mereka
berperilaku dengan cara yang mencerminkan nilai-nilai
139
dan standar etika yang tinggi, dan mereka berharap
pengikut mereka akan melakukan hal yang sama.
3. Kepemimpinan Demokratis
Gaya kepemimpinan demokratis melibatkan
partisipasi karyawan dalam pengambilan keputusan dan
pemberian masukan. Pemimpin demokratis mendorong
diskusi terbuka dan kolaborasi. Berikut beberapa aspek
penting dari gaya kepemimpinan demokratis:
a. Pengambilan Keputusan Bersama: Dalam gaya
kepemimpinan demokratis, pemimpin melibatkan
anggota tim dalam pengambilan keputusan. Mereka
mungkin meminta masukan atau saran dari anggota tim
sebelum membuat keputusan penting.
b. Diskusi Terbuka: Pemimpin demokratis biasanya
mendorong diskusi terbuka dan kolaborasi. Mereka
menghargai berbagai sudut pandang dan ide, dan mereka
berusaha untuk membuat semua anggota tim merasa
bahwa suara mereka didengar dan dihargai.
c. Pemberdayaan: Pemimpin demokratis berusaha untuk
memberdayakan anggota tim mereka. Mereka sering kali
140
memberikan otonomi dan kepercayaan kepada anggota
tim untuk mengelola pekerjaan mereka sendiri dan
membuat keputusan sendiri.
d. Kolaborasi: Gaya kepemimpinan demokratis mendorong
kerja sama tim dan kolaborasi. Pemimpin demokratis
melihat diri mereka sebagai bagian dari tim, bukan hanya
sebagai orang yang memerintah.
141
C. Teknik Motivasi dalam Manajemen Sumber Daya
Manusia
Dalam manajemen sumber daya manusia (SDM), terdapat
beberapa teknik motivasi yang dapat digunakan untuk
meningkatkan semangat kerja dan kinerja karyawan. Berikut ini
adalah beberapa teknik motivasi yang umum digunakan:
1. Pengakuan dan Penghargaan
Memberikan pengakuan dan penghargaan kepada karyawan
yang berprestasi merupakan salah satu cara yang efektif
untuk meningkatkan motivasi. Ini bisa berupa apresiasi
secara langsung, pemberian pujian, penghargaan berupa
sertifikat, atau hadiah lainnya. Penting bagi pemimpin dan
manajer untuk secara teratur mengenali dan memuji
karyawan atas kontribusi mereka.
2. Peningkatan Komunikasi
Meningkatkan komunikasi antara manajer dan karyawan
serta antar karyawan dapat membangun iklim kerja yang
positif. Komunikasi yang terbuka dan jelas dapat membantu
karyawan merasa dihargai, mendapatkan umpan balik yang
konstruktif, serta memahami ekspektasi dan tujuan
perusahaan dengan lebih baik. Hal ini dapat meningkatkan
motivasi dan keterlibatan karyawan.
3. Peluang Pengembangan Karir
Memberikan peluang pengembangan karir kepada karyawan
dapat menjadi motivator yang kuat. Ini dapat mencakup
pelatihan dan pengembangan keterampilan, program
mentorship, atau kesempatan promosi internal. Ketika
karyawan merasa bahwa ada peluang untuk pertumbuhan
dan kemajuan karir, mereka akan lebih termotivasi untuk
bekerja dengan baik.
4. Keseimbangan Kerja dan Kehidupan Pribadi
Menciptakan keseimbangan yang sehat antara pekerjaan dan
kehidupan pribadi sangat penting dalam mempertahankan
motivasi karyawan. Dukungan kebijakan yang fleksibel,
seperti jam kerja yang lebih fleksibel, bekerja dari rumah, cuti
142
yang memadai, dan promosi kesejahteraan karyawan, dapat
membantu meningkatkan motivasi dan kepuasan kerja.
5. Delegasi Tanggung Jawab
Memberikan karyawan tanggung jawab yang signifikan dan
memberi mereka kebebasan dalam mengambil keputusan
dapat meningkatkan motivasi dan rasa memiliki. Ini
memperlihatkan kepercayaan pada karyawan dan memberi
mereka kesempatan untuk mengembangkan keterampilan
kepemimpinan mereka sendiri.
6. Tujuan yang Jelas dan Tantangan yang Memotivasi
Menetapkan tujuan yang jelas dan menantang, serta
memberikan tugas yang menantang kepada karyawan, dapat
meningkatkan motivasi. Ketika karyawan merasa ada
tantangan yang membangkitkan semangat dan tujuan yang
jelas untuk dicapai, mereka cenderung lebih termotivasi
untuk bekerja dengan baik.
7. Timbang Rasa dan Keadilan
Memastikan adanya keadilan dan timbang rasa dalam
perlakuan terhadap karyawan sangat penting. Ini mencakup
pembagian tugas dan tanggung jawab yang adil, pengakuan
yang konsisten, promosi yang berdasarkan prestasi, serta
kebijakan kompensasi yang transparan. Karyawan yang
merasa diperlakukan secara adil akan lebih termotivasi dan
terlibat
143
teratur. Mereka juga harus mampu mendengarkan dengan
baik, memahami kebutuhan dan masalah anggota tim, dan
mengkomunikasikan harapan dan tujuan dengan jelas.
2. Perbedaan Individu
Setiap individu memiliki perbedaan dalam nilai-nilai,
kebutuhan, minat, dan gaya kerja. Pemimpin perlu
memahami perbedaan ini dan mampu mengelola keragaman
dalam tim. Hal ini melibatkan kemampuan untuk
memberikan pengakuan dan dukungan yang sesuai kepada
setiap individu, serta menciptakan lingkungan yang inklusif
dan saling menghormati.
3. Perubahan dan Ketidakpastian
Perubahan adalah bagian yang tak terhindarkan dari
lingkungan bisnis yang dinamis. Pemimpin perlu mampu
mengelola perubahan dan ketidakpastian dengan baik, serta
membantu karyawan mengatasi ketidaknyamanan dan
kecemasan yang mungkin muncul. Pemimpin yang efektif
harus mampu mengomunikasikan visi, memfasilitasi
adaptasi, dan memberikan dukungan dalam menghadapi
perubahan.
4. Pengelolaan Konflik
Konflik dapat timbul di antara anggota tim karena perbedaan
pendapat, kepentingan, atau sumber daya. Pemimpin perlu
memiliki keterampilan dalam mengidentifikasi dan
mengatasi konflik dengan cara yang konstruktif. Mereka
harus mampu memfasilitasi dialog, mencari solusi yang
memuaskan semua pihak, dan membangun kerjasama yang
baik di antara anggota tim.
5. Kelelahan dan Stres
Tantangan yang tinggi, beban kerja yang berat, dan tekanan
yang konstan dapat menyebabkan kelelahan dan stres pada
karyawan. Pemimpin perlu memperhatikan kesejahteraan
karyawan dan mendorong keseimbangan antara pekerjaan
dan kehidupan pribadi. Mereka harus menyediakan
dukungan, mempromosikan kegiatan yang meningkatkan
kesehatan dan kesejahteraan, serta mengenali tanda-tanda
144
kelelahan dan stres untuk mengambil langkah-langkah yang
tepat.
6. Pembangunan dan Peningkatan Keterampilan
Pemimpin perlu terus mengembangkan keterampilan
kepemimpinan dan motivasi mereka sendiri. Ini melibatkan
peningkatan pemahaman tentang teori dan praktik
kepemimpinan, belajar dari pengalaman, serta mencari
peluang untuk melatih dan mengasah keterampilan yang
diperlukan untuk menjadi pemimpin yang efektif.
145
motivasi ini. Ini mungkin melibatkan memberikan tantangan,
memberikan otonomi, memberikan pengakuan, dan
memberikan insentif yang sesuai.
4. Penanganan Kinerja yang Rendah
Ketika ada karyawan dengan kinerja yang rendah, pemimpin
harus menghadapi tantangan tersebut dengan pendekatan
yang tepat. Ini melibatkan pengidentifikasian akar masalah,
memberikan umpan balik yang konstruktif, menyusun
rencana perbaikan kinerja, dan memberikan dukungan yang
diperlukan. Pemimpin harus memastikan bahwa karyawan
merasa didukung dan diberikan kesempatan untuk
memperbaiki kinerja mereka.
5. Perubahan Teknologi dan Perubahan Industri
Perkembangan teknologi dan perubahan di industri dapat
menjadi tantangan bagi pemimpin dan motivasi karyawan.
Pemimpin perlu tetap beradaptasi dengan perubahan ini dan
membantu karyawan mengembangkan keterampilan yang
relevan. Mereka harus memastikan bahwa karyawan merasa
didukung dalam menghadapi perubahan dan mendorong
penggunaan teknologi untuk meningkatkan efisiensi dan
kinerja.
6. Etika dan Nilai
Pemimpin harus menjadi teladan dalam hal etika dan nilai-
nilai yang baik. Mereka harus mempertahankan integritas,
kejujuran, dan keadilan dalam kepemimpinan mereka.
Memastikan keselarasan antara nilai-nilai organisasi dan
tindakan sehari-hari adalah penting untuk membangun
kepercayaan dan motivasi karyawan.
146
1. Diversitas dan Inklusi
Kepemimpinan yang efektif harus menghargai dan
mengelola keragaman dalam tim. Pemimpin perlu
menciptakan lingkungan yang inklusif di mana setiap
individu merasa dihargai dan diberikan kesempatan yang
sama. Mempromosikan keragaman, memahami perspektif
yang berbeda, dan mendorong kolaborasi adalah penting
dalam memotivasi karyawan.
2. Krisis dan Tantangan Mendesak
Pemimpin seringkali dihadapkan pada situasi krisis atau
tantangan mendesak yang dapat mempengaruhi motivasi
karyawan. Pada saat-saat seperti ini, pemimpin perlu
mempertahankan ketenangan, memberikan arahan yang
jelas, dan memberikan dukungan emosional kepada
karyawan. Kemampuan untuk mengelola situasi krisis
dengan efektif dapat membantu menjaga motivasi dan
kinerja karyawan.
3. Pengembangan Keterampilan Komunikasi
Komunikasi yang baik adalah kunci dalam kepemimpinan
dan motivasi. Pemimpin perlu terus mengembangkan
keterampilan komunikasi mereka, termasuk kemampuan
mendengarkan aktif, memberikan umpan balik yang
konstruktif, dan menyampaikan pesan dengan jelas. Dengan
komunikasi yang efektif, pemimpin dapat membangun
hubungan yang kuat dengan karyawan dan meningkatkan
motivasi mereka.
4. Pemimpin yang Inspiratif
Pemimpin yang mampu menginspirasi dan memotivasi
karyawan dapat menciptakan lingkungan kerja yang positif.
Pemimpin perlu mampu mengkomunikasikan visi yang jelas,
memberikan inspirasi, dan memotivasi karyawan untuk
mencapai tujuan bersama. Mereka juga harus menjadi contoh
yang baik dan mendorong karyawan untuk mengembangkan
potensi mereka.
147
5. Perubahan Budaya Organisasi
Memperkenalkan perubahan budaya dalam organisasi dapat
menjadi tantangan yang signifikan. Pemimpin perlu mampu
memimpin perubahan, mengkomunikasikan alasan di balik
perubahan, dan melibatkan karyawan dalam proses tersebut.
Membangun budaya yang mendukung inovasi, kolaborasi,
dan pertumbuhan dapat meningkatkan motivasi dan kinerja
karyawan.
6. Menghadapi Konflik Antara Tuntutan Bisnis dan
Kesejahteraan Karyawan
Terkadang, pemimpin dihadapkan pada konflik antara
tuntutan bisnis yang ketat dan kesejahteraan karyawan.
Pemimpin perlu menemukan keseimbangan yang tepat
antara mencapai tujuan organisasi dan memastikan
kesejahteraan karyawan. Memprioritaskan keseimbangan
kerja-kehidupan, mendukung kesehatan dan kesejahteraan,
serta memberikan dukungan dalam mengatasi beban kerja
yang berat dapat membantu menjaga motivasi karyawan.
148
mengembangkan keterampilan dan meningkatkan kinerja
mereka. Umpan balik harus jelas, spesifik, dan disampaikan
dengan sikap yang mendukung. Pemimpin juga harus
membuka kesempatan bagi karyawan untuk memberikan
umpan balik balik kepada mereka, sehingga menciptakan
saling pengertian dan perbaikan yang berkelanjutan.
3. Mengelola Perubahan dan Ketidakpastian
Perubahan adalah bagian tak terpisahkan dari lingkungan
bisnis yang cepat berubah. Pemimpin perlu mampu
mengelola perubahan dan ketidakpastian dengan
fleksibilitas dan kepemimpinan yang adaptif. Hal ini
melibatkan kemampuan untuk mengkomunikasikan tujuan
perubahan, mengatasi resistensi, memfasilitasi adaptasi, dan
mengelola ketidakpastian dengan memberikan arahan yang
jelas.
4. Membangun Budaya Kepercayaan
Kepercayaan adalah fondasi dalam hubungan antara
pemimpin dan karyawan. Pemimpin perlu membina budaya
kepercayaan di dalam tim dengan menjadi konsisten,
transparan, dan jujur. Mereka harus memenuhi janji-janji,
menjaga kerahasiaan informasi yang sensitif, dan
membangun hubungan yang saling menguntungkan. Dalam
budaya kepercayaan yang kuat, motivasi karyawan dapat
tumbuh secara signifikan.
5. Kesempatan Pembelajaran dan Pengembangan
Pemimpin perlu menyediakan kesempatan bagi karyawan
untuk belajar dan mengembangkan keterampilan mereka. Ini
dapat dilakukan melalui pelatihan, mentoring, atau proyek-
proyek khusus yang memberikan tantangan baru. Dengan
memberikan kesempatan ini, pemimpin mendorong
pertumbuhan pribadi dan profesional karyawan, yang dapat
meningkatkan motivasi dan keterlibatan mereka.
6. Menjaga Keseimbangan Antara Tujuan Individu dan
Organisasi
Pemimpin perlu memperhatikan kebutuhan dan tujuan
individu karyawan, sambil tetap memastikan bahwa tujuan
149
organisasi juga tercapai. Membangun keselarasan antara
tujuan individu dan tujuan organisasi dapat meningkatkan
motivasi karyawan. Pemimpin harus berkomunikasi dengan
karyawan, memahami keinginan dan ambisi mereka, dan
mencari cara untuk mengintegrasikan.
150
BAB
DIVERSITAS DI TEMPAT
14 KERJA
DIVERSITAS DI TEMPAT KERJA
151
berbagai pengetahuan dan keterampilan untuk
menghasilkan solusi yang lebih kreatif dan inovatif.
b. Meningkatkan Pemecahan Masalah
Tim yang beragam sering kali lebih baik dalam
pemecahan masalah. Dengan adanya variasi dalam cara
berpikir, tim lebih mungkin untuk melihat masalah dari
berbagai sudut pandang dan menemukan solusi yang
unik dan efektif.
c. Mendorong Pembelajaran dan Pertumbuhan
Karena anggota tim yang beragam memiliki pengetahuan
dan pengalaman yang berbeda, mereka bisa belajar satu
sama lain dan memperluas pemahaman mereka sendiri.
Ini bisa mendorong pertumbuhan pribadi dan
profesional, serta inovasi.
d. Meningkatkan Adaptabilitas
Tim yang beragam lebih mungkin untuk beradaptasi
dengan perubahan, karena mereka lebih mampu
memahami dan merespons berbagai situasi dan
tantangan. Ini penting dalam dunia bisnis yang cepat
berubah dan sangat kompetitif.
152
a. Merefleksikan Pasar Konsumen
Dalam banyak kasus, konsumen datang dari berbagai
latar belakang demografis dan budaya. Tim yang beragam
lebih mungkin untuk merefleksikan keberagaman ini, dan
oleh karena itu memiliki pemahaman yang lebih baik
tentang berbagai segmen pasar.
b. Memahami Kebutuhan Konsumen yang Beragam
Anggota tim dari berbagai latar belakang mungkin
memiliki pemahaman yang lebih baik tentang kebutuhan
dan keinginan konsumen dari latar belakang yang sama.
Mereka mungkin juga mampu mengidentifikasi peluang
baru dan tren yang mungkin terlewat oleh tim yang
kurang beragam.
c. Meningkatkan Komunikasi dan Pemasaran
Tim yang beragam mungkin lebih efektif dalam
mengomunikasikan dan memasarkan produk atau jasa
kepada konsumen yang beragam. Mereka mungkin
memiliki pemahaman yang lebih baik tentang cara
berkomunikasi yang akan resonan dengan berbagai
audiens.
d. Meningkatkan Reputasi
Organisasi yang mempromosikan dan mempertahankan
keberagaman dalam tim mereka sering kali dianggap
lebih inklusif dan terbuka terhadap berbagai sudut
pandang. Hal ini dapat meningkatkan reputasi organisasi
dan memperkuat hubungan mereka dengan pelanggan.
153
berperan dalam meningkatkan kinerja tim dan organisasi
secara [Link] adalah beberapa alasan mengapa ini
terjadi:
a. Kreativitas dan Inovasi
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, tim yang
beragam biasanya lebih kreatif dan inovatif. Mereka dapat
menawarkan berbagai perspektif, yang dapat membantu
dalam menciptakan solusi yang lebih efektif dan
memecahkan masalah secara lebih efisien.
b. Pengambilan Keputusan yang Lebih Baik
Tim yang beragam biasanya lebih efektif dalam
pengambilan keputusan. Dengan berbagai sudut
pandang, tim biasanya dapat mempertimbangkan lebih
banyak opsi dan memilih yang terbaik.
c. Meningkatkan Pemahaman Pasar
Tim yang beragam biasanya memiliki pemahaman yang
lebih baik tentang pasar dan konsumen. Ini dapat
membantu organisasi merespons lebih cepat dan lebih
efektif terhadap perubahan di pasar.
d. Meningkatkan Kepuasan Karyawan
Diversitas dan inklusi dalam tim dapat meningkatkan
kepuasan dan retensi karyawan. Karyawan yang merasa
dihargai dan dihormati biasanya lebih termotivasi dan
berkomitmen terhadap organisasi mereka.
154
meningkatkan reputasi dan citra mereka di mata publik.
Komitmen terhadap diversitas dan inklusi memiliki potensi
untuk memberikan dampak positif yang signifikan terhadap
reputasi dan citra perusahaan.
Berikut adalah beberapa alasan mengapa ini bisa terjadi:
a. Menunjukkan Komitmen terhadap Keadilan dan
Kesetaraan
Perusahaan yang berinvestasi dalam keberagaman dan
inklusi menunjukkan bahwa mereka berkomitmen
terhadap nilai-nilai seperti keadilan dan kesetaraan. Ini
dapat meningkatkan citra perusahaan dan membuat
mereka lebih menarik bagi pelanggan, karyawan, dan
pemangku kepentingan lainnya.
b. Menarik dan Mempertahankan Talenta
Perusahaan yang dianggap inklusif dan beragam
seringkali lebih mampu menarik dan mempertahankan
talenta. Ini bisa meningkatkan reputasi perusahaan
sebagai tempat kerja yang diinginkan.
c. Meningkatkan Loyalitas Pelanggan
Banyak konsumen lebih memilih untuk mendukung
perusahaan yang berbagi nilai dan keyakinan mereka.
Oleh karena itu, perusahaan yang berkomitmen terhadap
keberagaman dan inklusi dapat menarik dan
mempertahankan pelanggan yang berpikiran sama.
d. Kesadaran Sosial dan Tanggung Jawab
Perusahaan yang menunjukkan komitmen terhadap
keberagaman dan inklusi seringkali dianggap lebih sadar
sosial dan bertanggung jawab. Ini bisa meningkatkan
reputasi perusahaan dan menciptakan citra positif di mata
publik.
155
inklusi di semua tingkatan dan dalam semua aspek
operasional mereka.
156
mendorong pemikiran yang lebih kreatif dan inovatif,
karena berbagai perspektif dan pengalaman dapat
membantu individu melihat masalah dan peluang dari
sudut pandang yang berbeda.
157
bekerja sama dengan organisasi atau perguruan tinggi
yang berfokus pada kelompok-kelompok tertentu.
b. Mempertimbangkan Kebutuhan dan Keinginan Kandidat
yang Beragam
Selain menargetkan kandidat yang beragam, organisasi
juga harus memastikan bahwa mereka menawarkan
lingkungan kerja dan manfaat yang menarik bagi
kandidat tersebut. Ini mungkin mencakup fleksibilitas
waktu kerja, dukungan untuk kebutuhan khusus, dan
lingkungan kerja yang inklusif dan mendukung.
c. Menghindari Bias dalam Proses Seleksi
Organisasi harus memastikan bahwa proses seleksi
mereka bebas dari bias. Ini mungkin mencakup
penggunaan teknik seleksi yang objektif dan
terstandarisasi, seperti wawancara berstruktur atau tes
kemampuan, serta pelatihan untuk manajer perekrutan
tentang bias tidak sadar dan cara menghindarinya.
d. Mempromosikan Kebijakan Keberagaman dan Inklusi
Organisasi harus jelas tentang komitmen mereka terhadap
keberagaman dan inklusi dalam iklan pekerjaan dan
materi perekrutan lainnya. Mereka harus menunjukkan
bahwa mereka menghargai dan mendorong keberagaman
dan bahwa mereka berkomitmen untuk menciptakan
lingkungan kerja yang inklusif dan mendukung.
158
kepentingan dan nilai dari keragaman, mereduksi prasangka
dan diskriminasi, dan membangun keterampilan yang
dibutuhkan untuk berkolaborasi secara efektif dalam tim
yang memiliki keberagaman. Dalam hal mendukung dan
mendorong keragaman dan inklusi di tempat kerja, peran
pelatihan dan pengembangan menjadi sangat [Link]
beberapa poin penting tentang pelatihan dan pengembangan
dalam konteks ini:
a. Pelatihan Kesadaran Diversitas
Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman
dan apresiasi terhadap perbedaan individu. Hal ini dapat
mencakup pelatihan tentang bagaimana menghargai
perbedaan budaya, etnis, gender, usia, agama, orientasi
seksual, dan lainnya.
b. Pelatihan Bias Tak Sadar
Bias tak sadar merujuk pada prasangka atau stereotip
yang kita miliki namun kita tidak menyadarinya.
Pelatihan ini bertujuan untuk membantu individu
mengenali dan mengatasi bias mereka sendiri, yang pada
gilirannya dapat membantu menciptakan lingkungan
kerja yang lebih inklusif.
c. Pelatihan Keterampilan Komunikasi Antarbudaya
Keterampilan ini penting dalam tim yang beragam untuk
memastikan bahwa semua anggota tim dapat
berkomunikasi secara efektif dan menghargai perbedaan
dalam cara berkomunikasi.
d. Pengembangan Kepemimpinan Inklusif
Pelatihan ini biasanya ditujukan untuk manajer dan
pemimpin dalam organisasi, dengan fokus pada
bagaimana memimpin tim yang beragam dan
menciptakan lingkungan yang mendukung semua
karyawan.
e. Pelatihan tentang Hukum dan Kebijakan
Antidiskriminasi
Penting bagi karyawan untuk memahami hukum dan
kebijakan yang ada mengenai diskriminasi dan pelecehan
159
di tempat kerja. Pelatihan ini bertujuan untuk memastikan
bahwa semua karyawan tahu tentang hak dan kewajiban
mereka.
160
dan bebas dari bias. Semua karyawan harus memiliki
kesempatan yang sama untuk mendapatkan penghargaan
dan promosi berdasarkan prestasi kerja mereka, bukan
berdasarkan faktor-faktor yang tidak relevan seperti ras,
jenis kelamin, usia, atau orientasi seksual.
d. Fleksibilitas Waktu Kerja dan Keseimbangan Hidup Kerja
Organisasi mungkin juga perlu mempertimbangkan
kebijakan yang mendukung keseimbangan antara
pekerjaan dan kehidupan pribadi, seperti fleksibilitas
waktu kerja atau cuti keluarga. Hal ini bisa mendukung
keberagaman dengan memungkinkan karyawan dari
berbagai latar belakang kehidupan untuk berkontribusi
penuh dalam organisasi.
e. Komitmen Manajemen
Manajemen harus menunjukkan komitmen yang kuat
terhadap keberagaman dan inklusi, dan ini harus
tercermin dalam kebijakan dan praktek organisasi.
Manajemen harus menjadi role model dalam menghargai
dan mendukung keberagaman, dan mereka harus
berkomitmen untuk menangani masalah atau tantangan
yang mungkin muncul.
161
pengawasan dan penilaian terhadap kebijakan manajemen
keragaman secara berkelanjutan, organisasi dapat
memastikan bahwa mereka selalu menuju ke arah tujuan
keragaman dan inklusi mereka serta melakukan perubahan
sepanjang waktu untuk meningkatkan efisiensi mereka.
Berikut adalah beberapa metode dan metrik yang mungkin
digunakan:
a. Komposisi Demografis Karyawan
Mengamati dan melacak komposisi demografis karyawan
dapat memberikan gambaran tentang sejauh mana
organisasi beragam. Hal ini bisa mencakup usia, jenis
kelamin, etnis, orientasi seksual, status kecacatan, dan
faktor-faktor demografis lainnya.
b. Survei Kepuasan Karyawan
Survei kepuasan karyawan dapat digunakan untuk
mengukur sejauh mana karyawan merasa dihargai,
didukung, dan termotivasi di tempat kerja. Survei ini
dapat dibagi berdasarkan kelompok demografis untuk
mengidentifikasi masalah atau kebutuhan khusus.
c. Pelaporan dan Penanganan Kasus Diskriminasi atau
Pelecehan
Organisasi harus melacak dan melaporkan kasus
diskriminasi atau pelecehan di tempat kerja. Mereka juga
harus memantau efektivitas respons mereka terhadap
kasus tersebut.
d. Pencapaian dan Promosi
Melacak siapa saja yang mendapatkan penghargaan atau
promosi dapat membantu menunjukkan apakah ada bias
atau hambatan terhadap kemajuan dalam organisasi.
e. Partisipasi dalam Pelatihan dan Pengembangan
Memonitor partisipasi dan hasil dari pelatihan dan
pengembangan diversitas dapat membantu menunjukkan
sejauh mana karyawan merasa didukung untuk tumbuh
dan berkembang dalam organisasi.
162
Dengan memonitor dan mengevaluasi upaya
manajemen diversitas secara berkelanjutan, organisasi dapat
memastikan bahwa mereka terus bergerak ke arah tujuan
diversitas dan inklusi mereka dan membuat penyesuaian
seiring berjalannya waktu untuk meningkatkan efektivitas
mereka.
163
inklusi, serta pembentukan norma dan harapan yang jelas
tentang bagaimana anggota tim harus berinteraksi satu sama
lain.
164
yang mendalam tentang peraturan hukum, budaya
organisasi, dan dinamika individu dan tim.
165
BAB ETIKA DAN TANGGUNG
JAWAB SOSIAL DALAM
15 MANAJEMEN SUMBER
DAYA MANUSIA
ETIKA DAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL DALAM MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA
166
bagi karyawan, serta berpartisipasi dalam inisiatif
masyarakat. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa
organisasi memiliki dampak positif pada karyawan,
masyarakat, dan lingkungan secara keseluruhan.
167
kerja, dan penanganan pelecehan atau perilaku tidak pantas
di tempat kerja.
5. Kompensasi yang Adil:
Gaji dan manfaat yang diberikan kepada karyawan
harus adil dan sebanding dengan pekerjaan yang dilakukan.
Ini juga harus sesuai dengan standar industri dan undang-
undang upah minimum.
6. Mendukung Pengembangan Karyawan:
Organisasi harus mendukung pengembangan
profesional karyawan mereka, baik melalui pelatihan dan
pengembangan, maupun melalui peluang karir dan promosi.
7. Menghormati Hak Karyawan:
Organisasi harus menghormati hak-hak karyawan,
seperti hak untuk berorganisasi dan berunding kolektif, dan
hak untuk bebas dari diskriminasi dan pelecehan.
168
2. Pendidikan dan Pelatihan:
Organisasi dapat memberikan peluang pendidikan
dan pelatihan kepada karyawan untuk membantu mereka
mengembangkan keterampilan dan pengetahuan mereka. Ini
tidak hanya bermanfaat bagi organisasi dalam hal
produktivitas dan retensi karyawan, tetapi juga bermanfaat
bagi karyawan dalam hal pertumbuhan karir dan kepuasan
kerja.
3. Pekerjaan yang Adil dan Kompensasi:
Organisasi harus berkomitmen pada praktik pekerjaan
yang adil, termasuk menyediakan gaji yang adil, manfaat
yang sesuai, dan peluang karir yang merata. Mereka juga
harus menghormati hak-hak karyawan, seperti hak untuk
berorganisasi dan berunding kolektif.
4. Praktik Ramah Lingkungan:
Organisasi dapat mengambil langkah-langkah untuk
mengurangi dampak lingkungan mereka, misalnya dengan
mengurangi limbah, menghemat energi, atau menggunakan
bahan yang berkelanjutan. Ini dapat termasuk praktik seperti
recycling atau penggunaan energi terbarukan.
5. Keterlibatan Masyarakat:
Organisasi dapat menunjukkan tanggung jawab sosial
mereka dengan berkontribusi terhadap masyarakat lokal,
misalnya melalui program-program sukarela, sumbangan
kepada amal, atau mendukung inisiatif lokal.
6. Keseimbangan Hidup-Kerja:
Organisasi harus mempromosikan keseimbangan
kerja-hidup yang baik, misalnya dengan memberikan
fleksibilitas dalam jam kerja, menyediakan dukungan untuk
karyawan dengan tanggung jawab keluarga, atau
mendorong karyawan untuk mengambil waktu istirahat
yang cukup.
169
dapat memperbaiki kinerja dan produktivitas mereka dengan
mendukung kesejahteraan dan kepuasan karyawan.
170
atau kondisi kerja yang buruk. Ada juga isu tentang
ketidakadilan dalam hal promosi atau peluang karir.
6. Dampak Lingkungan:
Seiring dengan semakin meningkatnya perhatian
terhadap isu-isu lingkungan, perusahaan juga ditantang
untuk mengurangi dampak lingkungan mereka. Ini bisa
berarti mencari cara untuk mengurangi limbah, menghemat
energi, atau menggunakan bahan yang berkelanjutan.
171
BAB MASA DEPAN
16
MANAJEMEN SUMBER
DAYA MANUSIA
MASA DEPAN MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA
172
4. Peningkatan Diversitas dan Inklusivitas
Diversitas dan inklusivitas akan menjadi prioritas
utama. Perusahaan akan berusaha untuk menciptakan
lingkungan kerja yang lebih inklusif dan mendorong
keanekaragaman dalam semua aspek.
5. Pembelajaran dan Pengembangan Berkelanjutan
Perusahaan akan semakin fokus pada pengembangan
keterampilan dan pembelajaran berkelanjutan bagi karyawan
mereka. Dengan cepatnya perubahan teknologi, perusahaan
perlu memastikan bahwa karyawan mereka tetap terkini.
6. Penggunaan Data dalam Pengambilan Keputusan SDM
Data dan analitik akan berperan lebih besar dalam
pengambilan keputusan SDM. Perusahaan akan
menggunakan data untuk menginformasikan strategi
perekrutan, retensi, dan pengembangan karyawan.
173
2. Pelatihan dan Pengembangan
Teknologi e-learning memungkinkan perusahaan
untuk memberikan pelatihan dan pengembangan kepada
karyawan mereka tanpa batasan geografis. Ini termasuk
webinars, kursus online, dan realitas virtual.
3. Manajemen Kinerja
Perangkat lunak manajemen kinerja memungkinkan
perusahaan untuk melacak dan mengelola kinerja karyawan
secara real-time. Ini juga memberikan platform untuk feedback
yang transparan dan berkelanjutan.
4. Administrasi SDM
Teknologi telah membantu mengotomatiskan berbagai
tugas administratif SDM seperti absensi, gaji, manfaat, dan
lainnya. Hal ini mengurangi beban kerja administratif dan
memungkinkan tim SDM untuk fokus pada tugas strategis.
5. Data dan Analitik
Teknologi telah memungkinkan perusahaan untuk
mengumpulkan dan menganalisis data SDM dengan cara
yang belum pernah ada sebelumnya. Analitik SDM dapat
digunakan untuk mendapatkan wawasan tentang retensi
karyawan, kepuasan kerja, dan banyak lagi.
6. Kerja Remote
Teknologi telah memungkinkan fleksibilitas tempat
kerja yang belum pernah ada sebelumnya. Alat kolaborasi
online memungkinkan karyawan bekerja dari lokasi
manapun, memberikan fleksibilitas kepada karyawan dan
memungkinkan perusahaan untuk merekrut bakat terbaik
tanpa batasan geografis.
174
C. Peran SDM dalam Era Digital dan Industri 4.0
Era digital dan Industri 4.0 telah mengubah cara kerja organisasi
dan peran SDM (Sumber Daya Manusia) telah berkembang
sesuai dengan ini. Berikut adalah beberapa peran penting SDM
dalam konteks ini:
1. Pembinaan Keterampilan Digital
Dalam era digital, keterampilan digital menjadi sangat
penting. Tim SDM bertanggung jawab untuk memastikan
bahwa karyawan memiliki keterampilan yang diperlukan
untuk bekerja dalam lingkungan digital. Ini mungkin
melibatkan pelatihan dan pengembangan dalam hal
teknologi baru dan alat digital.
2. Pengelolaan Transformasi Digital
SDM berperan penting dalam membantu organisasi
beradaptasi dengan teknologi baru dan perubahan proses
kerja yang datang dengan transformasi digital. Ini termasuk
mengelola perubahan, membantu karyawan beradaptasi
dengan teknologi baru, dan mendorong budaya inovasi.
3. Pendekatan Berbasis Data
Dengan semakin banyak data yang tersedia, SDM
perlu mengadopsi pendekatan yang berbasis data untuk
pengambilan keputusan. Ini termasuk analisis data karyawan
untuk mendapatkan wawasan tentang retensi, kepuasan
karyawan, dan produktivitas.
4. Manajemen Remote dan Fleksibel
Industri 4.0 telah memungkinkan lebih banyak
fleksibilitas dalam cara dan tempat kerja. SDM perlu
mengelola tantangan baru yang datang dengan kerja remote
dan fleksibel, termasuk menjaga keterlibatan dan
produktivitas karyawan, serta mempertahankan budaya
organisasi.
5. Peningkatan Pengalaman Karyawan
Dalam era digital, pengalaman karyawan menjadi
semakin penting. SDM perlu memastikan bahwa teknologi
digunakan untuk meningkatkan pengalaman karyawan,
bukan merusaknya.
175
6. Meningkatkan Keamanan dan Privasi
Dengan meningkatnya penggunaan teknologi, SDM
juga harus mempertimbangkan isu-isu seperti keamanan
data dan privasi. Ini mungkin melibatkan pelatihan
karyawan tentang praktik keamanan yang baik dan
memastikan bahwa teknologi digunakan dengan cara yang
mematuhi peraturan privasi.
176
organisasi dan karyawan mereka beradaptasi dengan
perubahan dan merangkul inovasi.
4. Keterampilan Soft
Keterampilan komunikasi, empati, dan kepemimpinan
akan tetap menjadi sangat penting. Dalam konteks kerja
remote, misalnya, keterampilan komunikasi virtual dan
membangun hubungan jarak jauh menjadi semakin penting.
5. Pemahaman Bisnis
Profesional SDM perlu memahami bisnis mereka dan
bagaimana SDM berkontribusi terhadap tujuan bisnis.
Mereka perlu dapat berbicara bahasa bisnis dan membuat
argumen yang didukung oleh data untuk inisiatif SDM.
6. Mendorong Diversitas dan Inklusivitas
Profesional SDM perlu memahami bagaimana
mendukung dan mendorong lingkungan kerja yang inklusif
dan beragam. Mereka perlu mampu menavigasi dan
merangkul perbedaan individu, dan mempromosikan
keadilan dan kesetaraan di tempat kerja.
177
DAFTAR PUSTAKA
178
Busro, M. (2018). Teori-Teori: Manajemen Sumber Daya Manusia.
Prenadamedia Group.
179
International Journal of social Science & Interdisciplinary
Research 1(7):202
180
Grote, D. (2002). Performance appraisal. Executive Excellence,
19(12), 12-13.
181
Jagero, N. H.V. Komba dan M.N. Mlingi. 2012. Relationship
between on the Job trainings and Employee’s performance
in courier companies in Daressalam, Tanzania. International
Journal of Humanities and Social Science 2 (22) 114-120 .
Lubis, Y., Hemanto, B., & Edison, E. (2018). Manajemen Dan Riset
Sumber Daya Manusia. Penerbit Alpabeta.
182
Maron, S. (2018). Pengaruh Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
Terhadap Kinerja Karyawan . Jurnal administrasi Bisnis (JAB)
VoL. 60 , No. 1 : 187-194.
Noe, R.A., Hollenbeck, J.R., Gerhart, B., & Wright, P.M. (2014).
Human Resource Management. (5th ed). Singapore:
McGraw-Hill Irwin.
183
Notoatmodjo. (2010). Ilmu Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka
Cipta.
184
Rivai, V., & Basri, A. F. M. (2005). Performance Appraisal: Sistem
yang tepat untuk menilai kinerja karyawan dan
meningkatkan daya saing perusahaan. PT Raja Grafindo
Persada.
Rue, L.W., Nabil, A.I., & Lloyd L.B. (2016). Human Resource
Management. (11th ed). New York: McGraw Hill Education.
185
Siagian, S. P. (2018). Manajemen Sumber Daya Manusia. PT Bumi
Aksara.
186
Wibowo. (2012). Manajemen Perubahan. Jakarta: Rajawali Press.
Zainal , V. R., Ramli, M., Mutis, T., & Arafah, W. (2014). Manajemen
Sumber Daya Manusia. Jakarta: PT RajaGrafindo Prada.
187
TENTANG PENULIS
188
MC, Duber, Liason Officer, Fasilitator Outbond, Actor Film, Singer
& Public Speaker. Deddy Sulaimawan [Link] sekarang aktif
menjadi Brand Ambassador beberapa brand lokal & nasional dan
mulai aktif menulis buku. Email : deddykochun@[Link]
189
Dr. Ir. Marsudi Lestariningsih, [Link]
Merupakan Dosen Perguruan Tinggi
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia
(STIESIA) Surabaya. Beliau S1 lulusan
dari Ekonomi Produksi Universitas
Gadjah Mada, S2 Ilmu Manajemen dari
kampus Universitas Airlangga dan S3
Ilmu Manajemen dari kampus Universitas Airlangga. e-mail:
marsudilestariningsih@[Link]
190
Asmamario, SE., MM ,S1 dari
Universitas Sriwijaya Palembang, telah
mengajar di Unversitas IBA Palembang
sejak tahun 1997 dan melanjutkan S2 di
Unversitas Tridinanti Palembang dengan
konsentrasi Manajemen Sumber Daya
Manusia. Mengajar di beberapa
Univeristas di Palembang (sebagai dosen
LB) suatu pengalaman yang tak terhingga dan melihat bagaimana
mengatur Sumber Daya Manusia di setiap PT, dan sampai sekarang
sekarang masih dipercaya menduduki Ketua Program Studi di
Fakultas Ekonomi Universitas IBA Palembang dengan status
sebagai dosen tetap. Email; asmamario10@[Link]
191
DR. Michael Emanuel Bayudhirgantara,
Msi. Beliau ini S1 sarjana ekonomi dari
Universitas Sebelas Maret, S2 Magister
dalam Ilmu Administrasi dari Universitas
Indonesia dan S3 Program Studi Ilmu
Manajemen Konsentrasi pada Manajemen
Sumber Daya Manusia dari Universitas
Negeri jakarta. Sejak Lulu S2 aktif
mengajar sebagai Dosen hingga saat ini, pertama kali mengajar di
STIPAN Abdi Negara, beliau pernah menjadi dosen dibeberapa
perguruan tinggi seperti: STAN, Universitas Mercu Buana, STIE
IGI, Universitas Wikara
192
Filiae Marry, [Link], M.M menyelesaikan
pendidikan S1nya pada Jurusan Ilmu
Pemerintahan di Fakultas Ilmu Sosial dan
Ilmu Politik (FISIP), Universitas Lampung
(Unila) dan pendidikan S2 Magister
Manajemennya, dengan Konsentrasi
Manajemen Sumber Daya Manusia di
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE)
Widyadjayakarta. Saat ini, selain aktif
sebagai Dosen Tetap untuk Program Studi Manajemen di Sekolah
Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Gentiaras di Bandar Lampung, penulis
juga merupakan Ketua Dewan Pengurus Yayasan Pangudi Luhur
Bandar Lampung, dan juga aktif sebagai pengurus di beberapa
Organisasi, baik Organisasi Politik maupun Organisasi Sosial
Kemasyarakatan. Penulis memiliki ketertarikan yang besar untuk
mempelajari tentang bagaimana memanage Sumber Daya Manusia
yang ada di dalam Organisasi atau Perusahaan, beserta berbagai hal
yang terkait, termasuk bagaimana memanage Konflik yang timbul
didalamnya, untuk mendukung karier dan tugas sebagai Pengajar
baik di Sekolah maupun di Kampus. Motto Hidup Penulis :
“Apabila perahu yang kau tunggu tidak berlabuh di pantai tempat
kau berdiri menanti…BERENANGLAH MENGHAMPIRINYA!”
193
mendapat certifikat Qualified Internal Auditor (QIA) pada Yayasan
Pendidikan Internal Auditor. Saat ini aktif bekerja di Rumah Sakit
Palang Merah Indonesia (RS PMI) di Bogor di Bidang Humas dan
Pemasaran, beliau juga menjadi tim penanggulangan bencana
Palang Merah Indonesia (PMI) yang berpengalaman dalam
penugasan baik bencana nasional maupun internasional,
pengalaman penugsana seperti gempa bumi Bantul tahun 2006,
cyclone nargis di Myamar tahun 2008, gempa bumi Pangalengan
tahun 2009, gempa bumi di Haiti di Amerika latin tahun 2010, dan
berbagai bencana di Indonesia, beliau juga tergabung dalam tim
Emergency Medical Team (EMT) Indonesia yang bertugas
memberikan bantuan kemanusian saat gempa di Turki tahun 2023.
Saat ini beliau juga menjadi dosen tetap di Sekolah Tinggi Ilmu
Kesehatan (STIKes) An Nasher Cirebon. Beliau memiliki
ketertarikan di dunia auditor internal, Kemumasan dan Pemasaran
rumah saki dan juga penanggulangan bencana, dan psikologi
bencana. Email : [Link]@[Link]
194
pemerintah daerah. Penulis dapat dihubungi melalui Email:
edipranyoto@[Link].
195
TENTANG EDITOR
Hidayatullah,SE.,[Link].,[Link]., M.H.,
Ak., CA., CPA., CIISA., CDMP
Beliau merupakan seorang Akademisi dan
Praktisi Akuntan Publik. Beliau lulus S1
Akuntansi (2007) dari Universitas Trisakti,
PPAK (2008) dari Universitas Trisakti, S2
Akuntansi (2010) dari Magister Ilmu
Akuntansi Universitas Trisakti, S2 Komputer (2015) dari Magister
Ilmu Komputer Universitas Budi Luhur, S2 Hukum di Magister
Ilmu Hukum Universitas Lampung (2023) dan sedang melanjutkan
S3 Akuntansi di Program Doktoral Ilmu Ekonomi Universitas
Lampung. Beliau mengajar di Kampus sejak 2006 di berbagai
perguruan tinggi seperti Universitas Trisakti, STIE trisakti, BINUS
University, Universitas Mercubuana, Universitas Bandar Lampung,
Akademi Akuntansi Lampung dan IIB Darmajaya Lampung. Beliau
Aktif di Dunia Akuntan Publi sejak tahun 2007 hingga saat ini
menjadi Associat Parterner di KAP Bambang Sutopo dan Rekan di
Bintaro. Beliau mendirikan beberpa Lembaga seperti Yayasan
Pendidikan Auditor Indonesia, PT Lembaga Riset Indonesia, Bina
Tani Indonesia, Bina UMKM Indonesia dan PT Auditor Indonesia
Newtwork.
E-mail : [Link]@[Link],
website : [Link]
196