Tentu, kali ini kita coba genre Horor/Mystery yang bermain dengan psikologi dan suasana yang
mencekam.
JUDUL: KAMAR 104
Genre: Horor / Misteri
Durasi Estimasi: 10 Menit
HALAMAN 1
INT. LOBBY HOTEL TUA - MALAM
Hujan deras di luar. ARDI (30), tampak basah kuyup, berdiri di depan meja resepsionis yang kosong. Hotel
ini bergaya kolonial, dengan karpet merah yang sudah memudar dan aroma kayu lembap.
Seorang RESEPSIONIS TUA muncul dari balik kegelapan. Wajahnya datar, gerakannya sangat lambat.
RESEPSIONIS
Hanya sisa satu kamar. Kamar 104. Di ujung lorong.
ARDI
Terserah saja. Saya butuh tidur sebelum rapat besok pagi.
Resepsionis itu menyerahkan kunci kuningan yang berat.
RESEPSIONIS
Satu aturan di sini, Tuan. Jika ada yang mengetuk dari dalam lemari... jangan dijawab.
Ardi tertawa tipis, menganggap itu hanya banyolan untuk menakuti turis.
HALAMAN 2
INT. LORONG HOTEL - MALAM
Lampu lorong berkedip-kedip. Ardi berjalan melewati pintu-pintu kayu yang tertutup rapat. Suasana
sangat sunyi, hanya suara langkah kakinya yang bergema.
Dia sampai di pintu bertuliskan emas yang sudah mengelupas: 104.
Ardi memasukkan kunci, memutarnya, dan pintu terbuka dengan suara derit yang panjang.
HALAMAN 3
INT. KAMAR 104 - MALAM
Kamar itu luas namun menyesakkan. Di tengah ruangan, ada sebuah lemari pakaian kayu jati yang sangat
besar dan gelap. Ardi melemparkan tasnya ke tempat tidur.
Dia masuk ke kamar mandi, mencuci muka. Saat dia bercermin, dia melihat pantulan pintu lemari di
belakangnya terbuka sedikit.
Ardi menoleh cepat. Pintu lemari itu tertutup rapat.
ARDI
(Berbisik)
Hanya lelah, Di. Fokus.
HALAMAN 4
INT. KAMAR 104 - TENGAH MALAM
Ardi terbangun karena suara aneh.
Tuk... Tuk... Tuk...
Suara itu berasal dari dalam lemari. Sangat pelan, tapi berirama. Ardi duduk tegak, keringat dingin
mengucur. Dia ingat ucapan resepsionis tadi.
ARDI
Halo? Siapa di sana?
Ketukan itu berhenti. Hening total.
HALAMAN 5
INT. KAMAR 104 - TENGAH MALAM
Ardi mencoba kembali tidur, tapi sebuah suara bisikan terdengar dari arah lemari.
SUARA (O.S)
Ardi... tolong... di sini dingin...
Ardi terbelalak. Itu suara ISTRINYA yang sudah meninggal setahun lalu.
ARDI
(Suara gemetar)
Maya? Tidak mungkin... ini tidak nyata.
SUARA (O.S)
Buka pintunya, Sayang. Aku hanya ingin memelukmu sekali lagi.
HALAMAN 6
INT. KAMAR 104 - TENGAH MALAM
Ardi berdiri perlahan. Logikanya mengatakan jangan, tapi rindunya jauh lebih kuat. Dia berjalan mendekati
lemari raksasa itu. Tangannya gemetar saat meraih gagang pintu lemari.
ARDI
Maya? Kau benar di dalam?
Tuk! Sebuah ketukan keras dari dalam lemari membuat Ardi tersentak.
HALAMAN 7
INT. KAMAR 104 - TENGAH MALAM
Ardi menarik pintu lemari itu hingga terbuka lebar.
Kosong. Hanya ada beberapa gantungan baju tua dan bau kapur barus yang menyengat. Ardi menghela
napas lega, namun kecewa.
Tiba-tiba, dia menyadari sesuatu. Di dinding bagian dalam lemari, ada goresan kuku yang sangat banyak.
Dan di sudut bawah, ada sebuah ponsel.
Ponsel milik Ardi sendiri.
HALAMAN 8
INT. KAMAR 104 - TENGAH MALAM
Ardi bingung. Bagaimana ponselnya bisa ada di dalam lemari? Dia mengambil ponsel itu. Layarnya
menyala. Ada satu pesan masuk dari nomor "Rumah".
Pesan itu dikirim satu menit yang lalu. Isinya: "Jangan menoleh ke belakang."
Bulu kuduk Ardi berdiri. Dia merasakan hembusan napas dingin di tengkuknya.
HALAMAN 9
INT. KAMAR 104 - TENGAH MALAM
Ardi perlahan-lahan melihat ke arah tempat tidur melalui pantulan cermin di pintu lemari. Di sana, di atas
tempat tidur, dia melihat dirinya sendiri sedang tidur dengan tenang.
Dia sadar sekarang. Dia tidak sedang berdiri di depan lemari.
Dia ditarik ke dalam.
Sebuah tangan pucat dan panjang keluar dari kegelapan di dalam lemari, mencengkeram bahu Ardi dan
menariknya masuk dengan kekuatan luar biasa.
HALAMAN 10
INT. LOBBY HOTEL TUA - PAGI
Sinar matahari masuk melalui celah jendela. Hotel terlihat bersih dan normal, tidak seperti malam
sebelumnya.
Ardi yang "asli" turun ke lobby, membawa tasnya. Dia tampak segar.
ARDI
Ini kuncinya. Kamar yang nyaman.
Resepsionis itu—kali ini seorang pemuda ramah—menerima kunci itu.
RESEPSIONIS MUDA
Terima kasih, Tuan. Semoga perjalanan Anda menyenangkan.
Ardi keluar hotel dan masuk ke mobilnya. Namun, saat dia melihat ke kaca spion tengah, "Ardi" yang ada
di cermin tidak tersenyum. "Ardi" di cermin justru mengetuk kaca dari dalam dengan ekspresi ketakutan.
Ardi yang asli hanya tersenyum dingin dan memacu mobilnya pergi.
FADE OUT.
TAMAT