0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan23 halaman

HAMMMM

Dokumen ini membahas definisi, evolusi, dan justifikasi hukum Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia dari masa Presiden Soekarno hingga Prabowo. Meskipun HAM diakui secara formal, implementasinya masih menghadapi tantangan serius, termasuk pelanggaran oleh negara dan aktor non-negara. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perkembangan hukum HAM dan menguji asumsi konseptual dalam konteks sosiopolitik Indonesia.

Diunggah oleh

mahara sayoga
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan23 halaman

HAMMMM

Dokumen ini membahas definisi, evolusi, dan justifikasi hukum Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia dari masa Presiden Soekarno hingga Prabowo. Meskipun HAM diakui secara formal, implementasinya masih menghadapi tantangan serius, termasuk pelanggaran oleh negara dan aktor non-negara. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perkembangan hukum HAM dan menguji asumsi konseptual dalam konteks sosiopolitik Indonesia.

Diunggah oleh

mahara sayoga
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

TUGAS MAKALAH HUKUM HAM

DEFINISI, EVOLUSI DAN JUSTIFIKASI HUKUM HAM DI INDONESIA DARI


MASA PRESIDEN SOEKARNO SAMPAI PRESIDEN PRABOWO

Oleh:
Mahara Sayoga
(2403201010065)

Dosen Pembimbing:
Muhammad Ya’kub Aiyub Kadir, [Link]., LL.M., Ph.D.

PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU HUKUM


UNIVERSITAS SYIAH KUALA
FAKULTAS HUKUM
2025
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Hak Asasi Manusia (HAM) merupakan prinsip universal yang melekat pada setiap
individu berdasarkan martabatnya sebagai manusia. Dalam konstruksi negara hukum
demokratis, penghormatan, perlindungan, dan pemenuhan HAM bukan hanya menjadi
tanggung jawab moral, melainkan kewajiban hukum yang melekat pada negara. Penegakan
HAM merupakan elemen konstitutif dalam demokrasi konstitusional dan menjadi indikator
utama keberhasilan suatu negara dalam menjamin kebebasan dan keadilan bagi warga
negaranya. Indonesia sebagai negara hukum yang demokratis, sebagaimana ditegaskan dalam
Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945, secara eksplisit mengakui dan menjunjung
tinggi HAM sebagai bagian dari sistem hukum dan politik nasional.

Namun, meskipun HAM telah memperoleh pengakuan formal di Indonesia,


implementasinya di lapangan masih menghadapi tantangan yang kompleks. Realitas
menunjukkan adanya ketimpangan antara norma dan praktik. Hak-hak warga negara masih
sering dilanggar, baik oleh aparat negara maupun oleh aktor non-negara. Kasus-kasus
pelanggaran HAM, baik yang terjadi di masa lalu seperti peristiwa 1965, Timor Timur,
Tragedi Trisakti, maupun kasus kontemporer seperti konflik agraria, kekerasan berbasis
agama, dan pelanggaran terhadap kebebasan berekspresi, menjadi bukti bahwa penegakan
HAM masih jauh dari ideal.

Perkembangan hukum HAM di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari dinamika politik
dan rezim pemerintahan yang silih berganti. Di masa Orde Lama, HAM belum menjadi
wacana dominan dalam hukum maupun kebijakan negara. Wacana HAM cenderung dibaca
dalam konteks kolektivisme bangsa dan perjuangan melawan imperialisme. Sementara itu,
masa Orde Baru ditandai oleh kuatnya kontrol negara terhadap kebebasan sipil dan politik di
bawah narasi stabilitas nasional dan pembangunan ekonomi. Pemerintahan pasca reformasi
membuka ruang demokratisasi dan pelembagaan HAM, seperti dibentuknya Komnas HAM,
pengesahan UU No. 39 Tahun 1999 tentang HAM, dan UU No. 26 Tahun 2000 tentang
Pengadilan HAM. Namun demikian, transisi menuju negara demokrasi yang menjunjung
HAM belum sepenuhnya tuntas.
Dalam konteks konseptual, persoalan HAM di Indonesia juga menghadapi perdebatan
mendasar tentang universalitas dan partikularitas. Pertanyaan tentang apakah HAM bersifat
universal ataukah harus dikontekstualisasikan sesuai dengan nilai-nilai lokal, agama, dan
budaya menjadi wacana yang relevan dalam memahami dinamika HAM di Indonesia. Jeremy
Waldron misalnya, mempertanyakan validitas dignity (martabat) sebagai satu-satunya fondasi
HAM, dan menggarisbawahi bahwa konsep tersebut dapat bersifat abstrak dan tidak selalu
operasional dalam berbagai konteks sosial dan hukum. 1 Marie-Bénédicte Dembour lebih jauh
membagi pendekatan terhadap HAM ke dalam empat mazhab: natural law school,
deliberative school, protest school, dan discourse school. 2 Keempat pendekatan ini
menampilkan perbedaan cara pandang terhadap asal-usul, justifikasi, dan fungsi HAM, yang
sangat relevan untuk memahami bagaimana HAM dimaknai dan diterapkan di Indonesia

Oleh karena itu, kajian tentang definisi, evolusi, dan justifikasi hukum HAM di Indonesia
dari masa Presiden Soekarno hingga Presiden Prabowo menjadi sangat penting, tidak hanya
untuk memahami dinamika perkembangan normatif hukum HAM, tetapi juga untuk
menggambarkan bagaimana praktik kekuasaan membentuk, membatasi, atau mendorong
penghormatan terhadap hak-hak asasi manusia..

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, penelitian ini merumuskan pertanyaan-pertanyaan


pokok sebagai berikut:

1. Bagaimana definisi dan justifikasi hak asasi manusia diterapkan dan berkembang
dalam konteks Indonesia dari masa ke masa
2. Bagaimana capaian dan tantangan penegakan hukum HAM di bawah masing-masinG
rezim pemerintahan di Indonesia?
3. Bagaimana posisi dan validitas enam asumsi pokok mengenai HAM dalam kerangka
pemikiran dan praktik hukum di Indonesia?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah:

1
Jeremy Waldron, “Is Dignity the Foundation of Human Rights? New York University School of Law,
Public Law & Legal Theory Research Paper Series”, Working Paper No. 12-73, 2012, hlm. 4–7.
2
Marie-Bénédicte Dembour, “Who Believes in Human Rights? Reflections on the European Convention”
Cambridge University Press, 2006.
1. Untuk menganalisis secara reflektif dan kritis perkembangan hukum HAM di
Indonesia dari masa ke masa, dengan menelaah pengaruh politik, hukum, dan ideologi
dalam tiap periode pemerintahan.
2. Untuk menguji validitas enam asumsi konseptual mengenai HAM dalam konteks
sosiopolitik dan hukum Indonesia, serta menggali kemungkinan pendekatan alternatif
terhadap pengembangan HAM yang lebih kontekstual dan relevan secara lokal.

D. Metode Pendekatan

Metode analisis yang digunakan adalah metode penelitian kepustakaan (library


research), penelitian kepustakaan (library research) ini mengumpulkan dan mencari suatu
data dari sebuah referensi buku, jurnal dan makalah yang relavan tentang. Dan juga penelitian
ini menggunakan pendekatan yuridis-normatif untuk menganalisis peraturan perundang-
undangan yang berkaitan dengan HAM, baik yang bersumber dari hukum nasional maupun
hukum internasional.

E. Sistematika Penulisan
Dalam penulisan makalah ini, penulis membagi ke dalam 5 ( lima) bab dengan sistematis
sebagai berikut:
Bab I: Berisi Pendahuluan yang mencakup latar belakang, rumusan masalah, tujuan
penelitian, metodologi penelitian, dan sistematika pembahasan.
Bab II: Berisi kerangka Konseptual dan teoritis Hak Asasi Manusia
Bab III: Berisi Perkembangan Hukum HAM di Indonesia dari Masa Soekarno hingga
Prabowo
Bab IV: Berisi Justifikasi Hukum HAM dalam Sistem Hukum Nasional
Bab V: Berisi Penutup yang berisi Kesimpulan dan saran

BAB II
KERANGKA KONSEPTUAL HAK ASASI MANUSIA

A. Konsep Universal HAM dan Asal-Usul Filosofisnya

Hak Asasi Manusia (HAM) secara konseptual merupakan gagasan normatif yang berakar
pada pandangan moral tentang martabat manusia yang melekat dan tidak dapat dicabut
(inalienable). Konsep ini menjadi dasar dalam pembentukan instrumen internasional seperti
Universal Declaration of Human Rights (UDHR) 1948. Salah satu pendasar filosofis HAM
modern adalah gagasan tentang martabat manusia (dignity).

Waldron berargumen bahwa dignity telah berkembang dari ide aristokratis tentang
kehormatan menuju pemahaman egaliter tentang nilai semua manusia. Namun, dalam
implementasinya, klaim tentang dignity sering kali tidak teruji secara substantif. Di sinilah
pentingnya refleksi filosofis agar gagasan moral tersebut dapat diterjemahkan dalam
kebijakan dan norma hukum yang konkret.

Sementara itu, Marie-Bénédicte Dembour menawarkan pemetaan epistemologis terhadap


wacana HAM melalui empat mazhab pemikiran:

1. Natural School: Menganggap HAM sebagai hak kodrati yang melekat pada manusia
sejak lahir, bersifat absolut dan tidak tergantung pengakuan negara.
2. Deliberative School: Memahami HAM sebagai hasil konsensus rasional dalam proses
demokratis, misalnya melalui konstitusi atau perjanjian internasional.
3. Protest School: Melihat HAM sebagai alat perjuangan terhadap ketidakadilan dan
represi, sehingga lebih menekankan pengalaman konkret korban.
4. Discourse School: Memandang HAM sebagai konstruksi sosial yang dibentuk oleh
bahasa dan praktik kekuasaan, yang selalu bisa dinegosiasi ulang.3

Keempat pendekatan ini tidak saling menegasikan, melainkan memperkaya pemahaman


kita tentang HAM dalam konteks sosial dan politik yang berbeda. Dalam konteks Indonesia,
pemahaman terhadap HAM tampak berfluktuasi di antara keempat pendekatan tersebut,
tergantung pada konfigurasi kekuasaan, budaya, dan ideologi yang dominan dalam tiap era
pemerintahan.

B. HAM dalam Perspektif Nasional Indonesia

3
Marie-Bénédicte Dembour, “What are Human Rights? Four Schools of Though”t, Open
Democracy,2010.
Indonesia secara formal telah mengakui dan mengadopsi prinsip-prinsip HAM ke dalam
sistem hukumnya, baik melalui konstitusi maupun legislasi nasional. Pasal 28A sampai 28J
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945) pascareformasi
mengatur secara eksplisit hak-hak sipil, politik, ekonomi, sosial, dan budaya warga negara.
Selain itu, UU No. 39 Tahun 1999 tentang HAM menjadi landasan hukum utama dalam
pelaksanaan dan perlindungan HAM di Indonesia.

Selanjutnya, pengesahan UU No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM


memperlihatkan komitmen negara dalam menangani pelanggaran HAM berat seperti
kejahatan terhadap kemanusiaan dan genosida. Meskipun implementasi pengadilan HAM
masih mengalami banyak hambatan, keberadaan perangkat hukum ini menunjukkan bahwa
HAM telah menjadi bagian dari kerangka hukum positif Indonesia.

Namun demikian, konseptualisasi HAM di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari


pengaruh nilai-nilai Pancasila, adat istiadat lokal, dan keagamaan. Pancasila sebagai dasar
negara menekankan prinsip kemanusiaan yang adil dan beradab serta keadilan sosial, yang
secara implisit mengandung nilai-nilai HAM. Tetapi, penafsiran HAM melalui Pancasila
sering kali digunakan secara selektif dalam praktik kenegaraan, terutama untuk membatasi
ekspresi politik tertentu yang dianggap bertentangan dengan "keutuhan bangsa".

Selain itu, nilai-nilai adat dan agama sering kali digunakan sebagai dasar pembatasan
terhadap hak-hak tertentu. Misalnya, dalam isu kebebasan beragama atau hak-hak minoritas
seksual, tafsir keagamaan dan budaya lokal sering kali digunakan untuk menjustifikasi
pelanggaran atau pembatasan hak. Di sinilah muncul ketegangan antara nilai universal HAM
dan partikularitas lokal Indonesia.

BAB III
PERKEMBANGAN HUKUM HAM DI INDONESIA DARI MASA SOEKARNO
HINGGA PRABOWO

1. Masa Soekarno (1950–1966): Revolusi dan Pengabaian Hak Sipil

Pada era Soekarno, narasi besar yang mendominasi adalah revolusi nasional dan anti-
imperialisme. Dalam kerangka ini, hak asasi manusia (HAM) sering dianggap sebagai produk
ideologis Barat yang tidak cocok diterapkan secara mentah di Indonesia.⁷ Fokus utama negara
adalah mempertahankan persatuan dan menyelesaikan konflik internal, termasuk
pemberontakan daerah dan pergolakan ideologi. Dalam situasi ini, kebebasan sipil seperti
kebebasan pers, berkumpul, dan berpendapat dikorbankan demi stabilitas nasional.4

Konsep HAM tidak mendapat tempat dalam konstruksi hukum formal, dan instrumen
internasional seperti UDHR hanya menjadi rujukan retoris tanpa implementasi konkret.
Kebijakan seperti Demokrasi Terpimpin (1959–1966) justru memperkuat otoritarianisme
dengan menghapus multipartai dan mengendalikan media. Justifikasi lokal atas HAM sering
digunakan untuk menghindari komitmen terhadap prinsip-prinsip universal, dengan dalih
kontekstualisasi budaya dan ideologi Pancasila. Legitimasi konsep HAM pada masa
pemerintahan Soekarno sebenarnya sudah ada sejak sebelum Indonesia merdeka, hal ini
ditantai oleh bangsa Indonesia yang ingin memiliki kemerdekaan, keadilan serta kemanusiaan
yang bermartabat. Namun secara konstitusional konsep HAM masuk secara legalisasi pada
pembahasan di sidang BPUPKI. Kemudian pada tanggal 16 Juli 1945 memuat kesepakatan
mengenai konsep HAM di dalam UUD 1945 dan pada tanggal 18 Agustus disahkan lah
pertama kali dasar hukum konstitusi negara yaitu UUD 1945.

Walaupun pada saat itu Indonesia mengalami perubahan konsep negara federal yang
dimana UUD 1945 di rubah menjadi Konstitusi RIS dan dirubah lagi menjadi UUDS dan
yang terakhir kembali lagi pada konsep dasar konstitusi pertama yaitu UUD 1945 yang
dimana beberapa substansinya memuat hak-hak asasi manusia. Namun, penerapan Demokrasi
Terpimpin pada 1959 menunjukkan kemunduran drastis dalam kebebasan sipil dan politik.
Pengaruh PKI, peristiwa G30S/PKI, dan pelanggaran HAM besar-besaran menyebabkan
hilangnya legitimasi konstitusional dan kepercayaan publik terhadap rezim Soekarno.5

4
Dembour, What are Human Rights? Four Schools of Thought, op. cit
5
Muhammad Ashri, Hak Asasi Manusia, (Makassar: CV. Social Politic Genius “SIGn”, 2018),
hlm. 1.
2. Masa Soeharto (1966–1998): Pembangunan dan Represi

Pada masa Orde Baru, HAM tidak dipandang sebagai elemen mendasar dalam
kehidupan bernegara, melainkan dianggap sebagai potensi gangguan terhadap stabilitas
nasional. Pemerintah Soeharto memosisikan keamanan dan ketertiban umum sebagai prioritas
tertinggi, dan demi alasan inilah banyak kebijakan represif diberlakukan. Segala bentuk kritik
terhadap pemerintah kerap diberangus dengan tuduhan subversif, anti-Pancasila, atau bahkan
dituding sebagai simpatisan komunis. Kebebasan berpendapat, berserikat, dan berkumpul
dibatasi secara ketat melalui regulasi maupun operasi militer dan intelijen. Pelanggaran HAM
dalam pemerintahan Soeharto berlangsung dalam tiga pola besar. Pertama, terjadi
pengekangan sistematis terhadap hak-hak sipil dan politik masyarakat. Kedua, terjadi reduksi
terhadap makna HAM itu sendiri—yakni dengan menempatkan hak-hak individu di bawah
kepentingan negara. Ketiga, kekuasaan dijalankan dengan pendekatan militeristik, di mana
lembaga keamanan seperti TNI dan intelijen berperan dominan dalam mengontrol kehidupan
sipil. Semua pelanggaran HAM di atas dibenarkan oleh pemerintah Orde Baru melalui narasi
“demi keamanan nasional” dan “untuk menjaga stabilitas negara.” Pemerintah menggunakan
trauma kolektif akibat G30S/PKI sebagai dalih untuk menindak siapa pun yang dianggap
membahayakan kekuasaan. Hukum dijadikan alat kekuasaan, bukan sebagai sarana keadilan.
Produk hukum represif seperti Undang-Undang Subversi memungkinkan penahanan tanpa
pengadilan, dan media massa dikontrol ketat oleh Departemen Penerangan. Pelanggaran
HAM selama Orde Baru tidak hanya melukai jutaan korban dan keluarganya, tetapi juga
merusak fondasi sistem hukum Indonesia. Prinsip akuntabilitas diabaikan, lembaga peradilan
tidak independen, dan budaya impunitas tumbuh subur. Hingga kini, banyak pelaku
pelanggaran HAM masa Orde Baru yang tidak pernah dihukum, sementara korban dan
keluarganya masih menanti keadilan yang tak kunjung tiba. Meski Orde Baru telah berakhir,
warisan represifnya masih membayangi sistem hukum dan politik Indonesia. Penanganan
kasus HAM masa lalu stagnan, dan belum ada rekonsiliasi atau pengakuan yang menyeluruh
dari negara terhadap para korban. Masa Orde Baru menjadi cermin kelam ketika negara gagal
menyeimbangkan antara pembangunan dan penghormatan terhadap martabat manusia. Ini
menjadi pelajaran penting bahwa stabilitas tidak boleh ditebus dengan hilangnya kebebasan
dan keadilan.

Pemerintahan Orde Baru yang dibangun oleh Soeharto berlandaskan pada stabilitas politik
dan pertumbuhan ekonomi. Narasi “pembangunan” menjadi legitimasi utama negara dalam
membatasi hak-hak sipil dan politik.6 Penindasan terhadap oposisi politik, kontrol ketat
terhadap pers, serta praktik-praktik penghilangan paksa dan penyiksaan marak terjadi,
terutama dalam kasus Timor Timur, Papua, dan aktivis prodemokrasi.

3. Masa Transisi Habibie (1998–1999): Awal Reformasi HAM

Pemerintahan Presiden B.J. Habibie menandai titik balik penting dalam sejarah pemajuan
dan perlindungan Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia. Setelah tiga dekade kekuasaan
Orde Baru yang otoriter dan represif, Habibie menjadi simbol transisi menuju era Reformasi
yang lebih demokratis dan terbuka terhadap hak-hak dasar warga negara. Meskipun masa
pemerintahannya relatif singkat (1998–1999), warisan pemikirannya terhadap HAM sangat
signifikan. Pemerintahan B.J. Habibie menjadi momen peralihan penting dalam sejarah HAM
Indonesia. Dari negara yang dibekap represi dan sensor selama Orde Baru, Indonesia mulai
membangun kerangka hukum dan kelembagaan untuk melindungi hak warganya.

Dalam waktu yang sangat singkat, Habibie menanamkan prinsip-prinsip demokrasi dan
keadilan dalam sistem kenegaraan Indonesia sebuah warisan yang hingga kini menjadi
fondasi perjuangan HAM yang lebih adil dan bermartabat. jika rezim Orde Baru
menempatkan HAM dalam posisi subordinat terhadap kekuasaan negara, maka Habibie
membalik pendekatan tersebut. Ia memandang HAM sebagai hak kodrati, bagian tak
terpisahkan dari martabat manusia, yang harus dihormati, dilindungi, dan dipenuhi oleh
negara. Dalam pidato-pidatonya, Habibie menegaskan bahwa pembangunan nasional tidak
cukup hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari jaminan atas kebebasan dan
perlindungan hak-hak rakyat. Pasca kejatuhan Soeharto pada Mei 1998, pemerintahan transisi
di bawah BJ Habibie menandai titik balik penting dalam sejarah HAM Indonesia. Habibie
merespons tuntutan reformasi dengan cepat, salah satunya melalui pengesahan UU No. 39
Tahun 1999 tentang HAM dan UU No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM, yang
menjadi tonggak hukum utama dalam penegakan HAM.

4. Masa Abdurrahman Wahid (1999–2001): Pluralisme dan Rekonsiliasi

Pemerintahan Abdurrahman Wahid atau Gus Dur merupakan salah satu momen paling
progresif dalam sejarah perlindungan dan pemajuan hak asasi manusia (HAM) di Indonesia.

6
Harold Crouch, The Army and Politics in Indonesia, Cornell University Press, 1978..
Di tengah transisi pasca-Orde Baru, Gus Dur tampil sebagai sosok yang tidak hanya
berkomitmen pada demokrasi, tetapi juga mempraktikkan prinsip-prinsip HAM secara nyata
dalam kebijakan kenegaraan. Pendekatannya terhadap HAM mencerminkan sintesis antara
nilai-nilai universal dan nilai-nilai spiritual Islam yang humanistik dan inklusif. Gus Dur
merupakan presiden yang menjadikan HAM sebagai napas utama dalam praktik kenegaraan.
Ia tidak sekadar berbicara tentang keadilan, melainkan mewujudkannya dalam kebijakan
konkret yang menghapus diskriminasi, menumbuhkan toleransi, dan membuka ruang dialog.
Meskipun masa pemerintahannya tidak lama, warisan pemikirannya tetap menjadi fondasi
penting dalam perjuangan HAM di Indonesia hingga hari ini. Berbeda dari presiden
sebelumnya, Gus Dur tidak memandang HAM sekadar sebagai agenda hukum atau politik,
tetapi sebagai bagian dari nilai-nilai moral dan spiritual yang menyatu dalam jati diri bangsa.
Baginya, agama (khususnya Islam) bukanlah alat pembenaran kekuasaan, melainkan fondasi
untuk menjunjung tinggi keadilan, martabat manusia, dan pluralisme.

Ia secara tegas menolak pandangan keagamaan yang eksklusif dan diskriminatif.


Pemikiran-pemikirannya tentang HAM tidak hanya terinspirasi oleh nilai-nilai Islam
rahmatan lil alamin, tetapi juga terbuka terhadap gagasan-gagasan dari Barat seperti
demokrasi, keadilan sosial, dan emansipasi. Adapun kebijakan progresif dalam penegakan
HAM ialah: penghapusan kebijakan diskriminasi terhadap etnis tionghoa, pembubaran
lembaga represif bakorstanas, pendekatan damai terhadap konflik aceh dan papua,
pembubaran terhadap minoritas dan kebebasan beragama, upaya rekonsiliasi nasional.

5. Masa Megawati Soekarnoputri (2001–2004): Stagnasi dan Konservatisme

Pemerintahan Megawati Soekarnoputri berlangsung dalam periode penting transisi


demokrasi pasca-Orde Baru, ketika ekspektasi publik terhadap penegakan Hak Asasi Manusia
(HAM) sangat tinggi. Sebagai presiden perempuan pertama di Indonesia, Megawati
menghadapi tekanan politik untuk mempercepat reformasi, sekaligus tuntutan untuk
menyelesaikan berbagai kasus pelanggaran HAM berat yang terjadi di masa lalu. Meskipun
secara formal menunjukkan komitmen terhadap penghormatan HAM, pendekatan
pemerintahan Megawati terhadap isu ini lebih bersifat administratif dan legalistik daripada
transformative. Pemerintahan Megawati mencatat kemajuan dalam aspek formal dan
kelembagaan HAM, terutama melalui pembentukan regulasi dan lembaga baru. Namun,
penegakan HAM dalam arti substantif yakni pengakuan, pemulihan, dan keadilan bagi korban
belum terwujud secara nyata. Tidak ada mekanisme keadilan transisional yang memadai, dan
pendekatan negara terhadap pelanggaran HAM masih bersifat reaktif dan simbolik.

Dengan demikian, warisan HAM pada era Megawati dapat dikatakan bersifat ambigu:
memperkuat struktur hukum, tetapi gagal menuntaskan keadilan. Komitmen terhadap HAM
tampak di atas kertas, namun belum menyentuh akar ketidakadilan sejarah dan struktur
impunitas yang mengakar sejak Orde Baru.

6. Masa Susilo Bambang Yudhoyono (2004–2014): Diplomasi HAM dan Kritik Internal

Masa pemerintahan SBY menunjukkan kemajuan dalam norma dan kelembagaan HAM,
serta keberhasilan dalam penyelesaian damai konflik Aceh yang sering dijadikan contoh baik.
Namun, dalam hal penegakan keadilan, pengungkapan kebenaran, dan pemenuhan hak korban
pelanggaran HAM berat, pemerintahan SBY gagal memenuhi harapan masyarakat sipil.
Penanganan intoleransi juga memperlihatkan kelemahan negara dalam melindungi kelompok
rentan.

SBY menunjukkan komitmen formal terhadap HAM dengan tetap menjaga peran
lembaga-lembaga negara yang telah dibentuk pascareformasi, seperti Komnas HAM, Komnas
Perempuan, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), dan Mahkamah Konstitusi.
Pemerintahannya juga mengesahkan berbagai undang-undang yang mendukung perlindungan
hak-hak dasar, antara lain:

- UU No. 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis


- UU No. 11 Tahun 2005 tentang Pengesahan Kovenan Internasional Hak Ekosob
(ICESCER)
- UU No. 12 Tahun 2005 tentang Pengesahan Kovenan Internasional Hak Sipol (ICCPR)

SBY menunjukkan kemajuan penting dalam penanganan konflik di Aceh


melalui penandatanganan Nota Kesepahaman Helsinki (MoU Helsinki) pada 2005 antara
pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Perjanjian ini menandai akhir dari
konflik bersenjata panjang dan membuka jalan bagi pelaksanaan otonomi khusus dan
pemilihan kepala daerah secara demokratis di Aceh. Proses ini dianggap sebagai salah
satu keberhasilan resolusi damai berbasis HAM di era pascareformasi.
Namun, di Papua, pendekatan HAM masih belum optimal. Kekerasan oleh aparat keamanan
terhadap masyarakat sipil dan kriminalisasi aktivis pro-demokrasi tetap berlangsung,
sementara pemerintah lebih mengutamakan pendekatan pembangunan dan keamanan
ketimbang pendekatan kultural dan hak sipil.

Dengan demikian, HAM dalam masa SBY dapat dinilai sebagai masa konsolidasi
normatif yang tidak diiringi oleh keberanian politik untuk menuntaskan akar ketidakadilan
struktural, khususnya warisan kelam Orde Baru. Namun, di dalam negeri, SBY dikritik karena
gagal menuntaskan kasus pelanggaran HAM masa lalu, serta lemahnya perlindungan terhadap
kelompok minoritas agama seperti Ahmadiyah dan Syiah. Serangan terhadap kebebasan
beragama dan berkeyakinan meningkat, namun penegakan hukum tetap minim.

7. Masa Joko Widodo (2014–2024): Janji Politik yang Tidak Terpenuhi

Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi), sejak pertama kali menjabat sebagai Presiden RI
pada tahun 2014 hingga periode keduanya saat ini, membawa harapan besar terhadap
kemajuan demokrasi dan perlindungan Hak Asasi Manusia (HAM). Berasal dari latar
belakang sipil dan bukan dari kalangan elite militer atau partai politik besar, Jokowi
dipandang sebagai simbol perubahan pemimpin rakyat yang diharapkan mampu
menyelesaikan warisan kelam pelanggaran HAM masa lalu dan memperkuat perlindungan
HAM di masa kini. Namun, kenyataannya, perjalanan HAM pada masa pemerintahan Jokowi
adalah perjalanan yang kompleks dan paradoksal. Di satu sisi, terdapat langkah-langkah
positif dalam pembangunan sosial dan inklusi kelompok rentan; tetapi di sisi lain, terjadi
berbagai praktik pembatasan kebebasan sipil, represi terhadap kritik, dan stagnasi dalam
penyelesaian kasus pelanggaran HAM berat.

Pada tahun 2022, Jokowi membentuk Tim Penyelesaian Non-Yudisial Pelanggaran HAM
Berat Masa Lalu (PPHAM) melalui Keppres No. 17 Tahun 2022. Tim ini diberi mandat untuk
menyelidiki dan merekomendasikan langkah-langkah pemulihan terhadap korban pelanggaran
HAM berat. Langkah ini ditindaklanjuti dengan pengakuan resmi Jokowi pada awal 2023
bahwa terdapat 12 peristiwa pelanggaran HAM berat yang benar terjadi, dan pemerintah
menyatakan penyesalan serta janji pemulihan.
Meskipun hal ini menjadi langkah maju dalam aspek simbolik, namun banyak pihak menilai
bahwa pendekatan non-yudisial tidak cukup memberikan keadilan sejati bagi korban dan
keluarga mereka, terutama karena tidak ada proses hukum terhadap pelaku pelanggaran.

Laporan Universal Periodic Review (UPR) PBB periode 2022 mencatat bahwa Indonesia
menerima banyak rekomendasi terkait kebebasan sipil, hak masyarakat adat, dan kekerasan
oleh aparat keamanan. Respons pemerintah terhadap rekomendasi ini sering bersifat normatif
dan belum menyentuh aspek struktural dari persoalan HAM. Pemerintahan Joko Widodo
mencatat sejumlah kemajuan penting dalam perlindungan HAM di bidang sosial dan
pembangunan inklusif. Namun, kegagalan dalam menyelesaikan pelanggaran HAM berat
secara yudisial, pembatasan ruang sipil, serta pendekatan militeristik di Papua dan daerah
konflik lainnya menjadi catatan serius yang mencoreng komitmen awal pemerintah terhadap
nilai-nilai HAM. Dengan demikian, HAM di era Jokowi bergerak di antara dua kutub: antara
afirmasi terhadap hak-hak dasar dalam kebijakan sosial, dan kemunduran dalam kebebasan
sipil serta keadilan masa lalu.

Secara keseluruhan, penegakan HAM di masa Jokowi bersifat ambigu dan penuh
kompromi politik. Di satu sisi, ia mengakomodasi agenda sosial-ekonomi yang melindungi
kelompok rentan; di sisi lain, pemerintahannya cenderung tidak konsisten terhadap prinsip-
prinsip keadilan dan akuntabilitas, khususnya dalam isu kebebasan sipil dan pelanggaran
HAM berat. Koalisi masyarakat sipil menilai bahwa pemerintahan Jokowi lebih
banyak mengutamakan stabilitas politik dan ekonomi, dengan mengorbankan ruang
partisipasi publik dan keadilan transisional.

8. Masa Prabowo Subianto (2024–): Tantangan dan Harapan Awal

Pemerintahan Prabowo, yang baru dimulai pada 2024, menghadapi ekspektasi tinggi
sekaligus skeptisisme mendalam, terutama karena rekam jejaknya sebagai tokoh militer yang
dikaitkan dengan dugaan pelanggaran HAM di masa lalu.7

Namun demikian, terdapat peluang untuk membuktikan komitmen terhadap HAM


melalui institusionalisasi kebijakan berbasis perlindungan sipil dalam kerangka keamanan
nasional yang demokratis. Langkah awal seperti penguatan kelembagaan dan partisipasi

7
Amnesty International, Indonesia: Investigate Role of Military Officials in Past Abuses, 2014.
publik dalam kebijakan keamanan dapat menjadi indikator awal arah pemerintahan Prabowo
dalam isu HAM.

BAB IV

JUSTIFIKASI HUKUM HAM DALAM SISTEM HUKUM NASIONAL

1. Apakah Justifikasi HAM di Indonesia Berbeda dengan HAM Barat?

Justifikasi HAM di Indonesia memang berbeda dari justifikasi HAM di Barat, terutama
dalam hal landasan filosofis, konteks budaya, dan pendekatan terhadap keseimbangan antara
hak dan kewajiban. Perbedaan ini tidak serta-merta membuat Indonesia menolak prinsip-
prinsip HAM universal, tetapi menunjukkan bahwa HAM harus dipahami secara kontekstual
dan tidak bisa dilepaskan dari akar budaya dan ideologi bangsa. Pendekatan ini merupakan
bentuk pluralisme hukum dan dapat menjadi model alternatif dalam pengembangan HAM di
dunia Global Selatan.

HAM dalam tradisi Barat didasarkan pada rasionalisme, humanisme, dan


individualisme, yang berkembang sejak era Pencerahan (Enlightenment). Tokoh-tokoh
seperti John Locke dan Jean-Jacques Rousseau menekankan bahwa hak asasi melekat secara
alamiah pada setiap individu karena ia adalah manusia yang rasional dan merdeka. Dalam
konsep ini, negara hadir untuk melindungi hak-hak individu dari pelanggaran, bahkan oleh
negara itu sendiri. 8

Sementara itu, justifikasi HAM di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari nilai-nilai
Pancasila, budaya kolektif, dan agama, yang menjadi fondasi kehidupan berbangsa. HAM di
Indonesia dipahami bukan hanya sebagai hak individual, tetapi juga harus selaras dengan
kewajiban sosial serta tanggung jawab terhadap masyarakat dan negara.

8
Donnelly, Jack. Universal Human Rights in Theory and Practice. Cornell University Press, 2013.
Dalam Pasal 28J UUD 1945, disebutkan bahwa dalam menjalankan hak dan
kebebasannya, setiap orang wajib menghormati hak orang lain dan tunduk kepada pembatasan
yang ditetapkan demi kepentingan umum, moralitas, dan ketertiban umum. Ini menunjukkan
bahwa HAM di Indonesia dibatasi oleh nilai-nilai komunal dan harmoni sosial, berbeda
dengan pendekatan Barat yang lebih absolut terhadap kebebasan individu. Selain itu, agama
dan adat istiadat memegang peran penting dalam pembentukan konsep HAM di Indonesia.
Misalnya, dalam banyak masyarakat adat, hak-hak komunal atas tanah lebih ditekankan
dibanding hak perseorangan.9

2. Apakah HAM di Indonesia Masih dalam Masa Perkembangan?

HAM di Indonesia masih dalam masa perkembangan, ditandai oleh keberhasilan pada
aspek normatif, tetapi dibayangi oleh tantangan besar pada aspek implementasi dan kesadaran
struktural maupun kultural. Tugas besar ke depan adalah memastikan bahwa perlindungan
HAM tidak berhenti di atas kertas, tetapi benar-benar dirasakan oleh seluruh warga negara,
terutama kelompok rentan. Untuk itu, diperlukan reformasi hukum yang serius, penegakan
hukum yang adil, dan perubahan budaya hukum yang berpihak pada keadilan dan martabat
manusia.

Asumsi kedua menilai bahwa HAM di Indonesia masih dalam tahap perkembangan dan
belum matang secara institusional maupun normatif. Hal ini dibuktikan dengan evolusi
hukum HAM yang baru benar-benar mengalami percepatan pasca-reformasi 1998, terutama
dengan pengesahan UU HAM dan pembentukan lembaga terkait. Sejarah pembentukan
lembaga-lembaga HAM dan ratifikasi instrumen internasional menunjukkan dinamika yang
memperlihatkan fase transisi dari pengabaian menuju penerimaan dan penegakan. Namun,
ketimpangan antara norma hukum dan praktik di lapangan masih menjadi kendala besar.
Pelanggaran HAM berat masa lalu belum sepenuhnya dituntaskan, dan perlindungan terhadap
minoritas masih terbatas. Perkembangan HAM di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari
dinamika politik dan sosial yang terus berubah, sehingga dapat dikatakan bahwa HAM
memang masih dalam proses pembentukan yang berkelanjutan.

3. Dapatkah HAM Dibenarkan Melalui Nilai-Nilai Lokal?

Pertanyaan berikutnya adalah apakah HAM dapat dibenarkan dan dikonstruksi


berdasarkan nilai-nilai lokal, seperti adat dan kearifan lokal yang kuat dalam masyarakat
Indonesia. Dalam konteks ini, sistem hukum adat (customary law) dan nilai-nilai musyawarah
9
Jimly Asshiddiqie. Pengantar Hukum Hak Asasi Manusia. Rajawali Pers, 2005.
mufakat memang menjadi pilar sosial yang berpengaruh dalam praktik kehidupan
masyarakat.10

Pancasila sebagai dasar negara secara eksplisit mengandung nilai-nilai yang mendukung
HAM, seperti pengakuan terhadap kemanusiaan yang adil dan beradab (Sila Kedua), serta
prinsip keadilan sosial (Sila Kelima). Di Indonesia, banyak nilai lokal yang sejalan dengan
prinsip-prinsip HAM, seperti:

- Gotong royong, yang mencerminkan solidaritas dan hak atas perlindungan sosial.
- Musyawarah untuk mufakat, yang mencerminkan partisipasi dan penghormatan
terhadap pendapat orang lain.
- Hukum adat (living law), yang seringkali mengatur keseimbangan antara hak dan
kewajiban, serta perlindungan terhadap hak kolektif masyarakat adat atas tanah dan
sumber daya alam.

HAM dapat dibenarkan melalui nilai-nilai lokal, sepanjang nilai-nilai tersebut tidak
bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar kemanusiaan. Justifikasi ini penting agar HAM
tidak dipahami sebagai nilai asing yang dipaksakan, tetapi sebagai bagian dari kebudayaan
bangsa yang hidup dan berkembang secara kontekstual. Pendekatan ini
memperkuat legitimasi moral dan sosial HAM, serta menjadikannya lebih efektif dalam
implementasi nyata di masyarakat Indonesia.

4. Dapatkah HAM Dibenarkan Melalui Nilai-Nilai Islam?.

“Dan sungguh telah Kami muliakan anak-anak Adam…” (QS. Al-Isra: 70)

Ayat ini menjadi landasan teologis bahwa Islam secara eksplisit mengakui hak-hak dasar
manusia, termasuk hak untuk hidup, kebebasan, kehormatan, dan keadilan.

Dalam Islam, hak asasi tidak berdiri sendiri, tetapi selalu diiringi dengan tanggung jawab
moral dan sosial (taklif). HAM dalam Islam bukan berbasis pada kebebasan absolut individu,
melainkan berbasis pada kewajiban terhadap Allah, sesama manusia, dan alam. Pendekatan
ini disebut “right-duty balance”. Misalnya: Hak atas kebebasan berpendapat diakui, tetapi

10
Lucas, A. Hukum Adat dan Hak Asasi Manusia di Indonesia, Komnas HAM, 2015.
tidak boleh mencederai kehormatan orang lain atau memicu fitnah, dan Hak atas kekayaan
pribadi diakui, namun harus digunakan secara adil dan tidak merugikan pihak lain.

HAM dapat dibenarkan melalui nilai-nilai Islam, karena prinsip-prinsip Islam secara
substantif menjunjung tinggi keadilan, kesetaraan, dan martabat manusia. Islam tidak
bertentangan dengan HAM, selama pemahamannya bersifat kontekstual, terbuka, dan berbasis
pada maqashid al-syariah. Oleh karena itu, Islam bukan hanya dapat digunakan untuk
membenarkan HAM, tetapi juga dapat menjadi landasan spiritual dan etis yang memperkuat
penerimaan HAM di tengah masyarakat Muslim.

5. Apakah HAM Harus Terus Diperjuangkan?

HAM harus terus diperjuangkan karena ia tidak pernah final, melainkan merupakan
proses yang berkelanjutan. Ancaman terhadap HAM bisa datang kapan saja, dari negara,
pasar, budaya, maupun teknologi. Perjuangan HAM adalah bentuk komitmen terhadap nilai-
nilai kemanusiaan yang adil, setara, dan bermartabat, serta menjadi penanda bahwa suatu
masyarakat benar-benar demokratis dan beradab.

HAM tidak otomatis hadir hanya karena sudah diatur dalam konstitusi atau undang-
undang. Kenyataannya, banyak pelanggaran HAM tetap terjadi bahkan di negara yang secara
hukum telah menjaminnya.

HAM harus terus diperjuangkan karena realitas sosial dan ekonomi kita masih dipenuhi
oleh ketimpangan dan ketidakadilan struktural. Contohnya:

- Hak atas pendidikan masih belum merata, terutama di wilayah 3T (Tertinggal,


Terdepan, dan Terluar).
- Hak atas tanah dan lingkungan sering dilanggar, seperti dalam konflik agraria dan
pembangunan infrastruktur yang menggusur masyarakat adat.
- Kelompok rentan seperti perempuan, anak, disabilitas, dan minoritas agama masih
menghadapi diskriminasi sistemik.

Indonesia masih menghadapi sejumlah kasus pelanggaran HAM yang belum


terselesaikan, serta tantangan dalam menjamin kebebasan berpendapat, perlindungan
minoritas, dan hak-hak sosial-ekonomi. Oleh sebab itu, perjuangan HAM harus dilihat
sebagai usaha berkelanjutan yang melibatkan pemerintah, masyarakat sipil, dan komunitas
internasional.
6. Apakah HAM Tidak Diperlukan di Indonesia?

HAM sangat diperlukan di Indonesia dan tidak bisa diabaikan. Sebagai negara
demokratis berdasarkan konstitusi, Indonesia memiliki kewajiban hukum, politik, dan moral
untuk menjamin hak asasi setiap warga negara. Hal ini ditegaskan dalam UUD 1945 Pasal
28A–28J, yang menjamin hak untuk hidup, kebebasan, keadilan, hingga perlindungan dari
penyiksaan.

Faktanya, pelanggaran HAM masih sering terjadi. Komnas HAM mencatat lebih dari
3.600 aduan pelanggaran HAM sepanjang tahun 2023, mencakup kekerasan aparat, konflik
agraria, diskriminasi terhadap kelompok rentan, dan pelanggaran hak masyarakat adat. Ini
menunjukkan bahwa HAM bukan hanya diperlukan, tetapi sangat mendesak untuk terus
11
ditegakkan. Secara sosiologis, HAM juga menjadi alat koreksi terhadap kekuasaan negara
dan ketimpangan sosial. Dalam negara plural seperti Indonesia, HAM menjadi jaminan hidup
bersama secara damai di tengah keberagaman agama, budaya, dan suku bangsa. Tanpa HAM,
kekerasan struktural dan diskriminasi akan semakin tak terkendali.

11
Komnas HAM RI. (2023). Laporan Tahunan Komnas HAM
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia merupakan bagian penting dari dinamika
negara hukum yang demokratis, namun penerapannya masih menghadapi tantangan serius.
Sejak masa Presiden Soekarno hingga pemerintahan Prabowo, perkembangan HAM
diwarnai oleh fluktuasi antara pengakuan formal dan realitas implementasi yang belum
konsisten. Meskipun Indonesia telah memiliki perangkat hukum seperti UUD 1945 Pasal
28A–28J, UU No. 39 Tahun 1999, serta telah meratifikasi berbagai instrumen internasional,
pelanggaran HAM tetap terjadi, baik oleh negara maupun non-negara.

Justifikasi HAM di Indonesia berkembang secara kontekstual, berbeda dari pendekatan


Barat yang liberal-individualistik. Di Indonesia, HAM diselaraskan dengan nilai-nilai lokal
seperti Pancasila, agama, dan adat, yang meskipun dapat memperkuat penerimaan
masyarakat, juga berpotensi menjadi alat pembatasan ketika ditafsirkan secara sempit. Oleh
karena itu, HAM di Indonesia saat ini masih berada dalam fase perkembangan, yang
menuntut perjuangan berkelanjutan dari semua elemen bangsa, demi memastikan bahwa
prinsip keadilan, kebebasan, dan martabat manusia bukan hanya menjadi norma hukum,
tetapi realitas yang dirasakan seluruh rakyat.
B. Saran

1. negara harus memperkuat implementasi HAM secara konsisten, tidak hanya berhenti
pada aspek normatif. Penegakan hukum terhadap pelanggaran HAM, khususnya kasus
berat masa lalu, harus menjadi prioritas untuk mengakhiri impunitas yang membekas
dalam sejarah bangsa.
2. pemahaman HAM harus ditanamkan secara edukatif dan inklusif, dengan memperkuat
pendidikan HAM berbasis kontekstual menggabungkan nilai-nilai universal dengan
akar budaya lokal dan nilai-nilai keagamaan progresif.
3. peran masyarakat sipil, media, dan lembaga independen seperti Komnas HAM perlu
terus diperkuat, agar fungsi kontrol terhadap negara tetap berjalan. Dalam iklim
demokrasi, perlindungan HAM bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi kerja
kolektif seluruh warga negara.
4. reformasi hukum dan kelembagaan harus diarahkan pada keadilan substantif, bukan
hanya prosedural, agar korban pelanggaran HAM mendapatkan pemulihan yang adil,
menyeluruh, dan bermartabat.

Dengan demikian, perjuangan HAM di Indonesia tidak boleh berhenti. Ia harus terus
dijaga, diperjuangkan, dan dikembangkan dalam kerangka negara yang berdaulat, adil,
dan berperikemanusiaan.
No Masa Definisi HAM Justifikasi Kemajuan Tantangan Referensi
Pemerintahan Dominan
1 Soekarno Hak subordinat Nasionalisme, Wacana awal Represi politik, Komnas
(1950–1966) terhadap revolusi anti- HAM di pembungkaman HAM
dan anti- kolonialisme sidang PBB oposisi (2023);
imperialisme Waldron
(2002)
2 Soeharto HAM dibatasi Pembangunan Pembentuka Impunitas UU No.
(1966–1998) demi stabilitas ekonomi, n Komnas militer, 39/1999;
dan stabilitas politik HAM (1993) pelanggaran Dembour
pembangunan HAM berat (2010)
nasional pasca-1965
3 Habibie Hak inheren dan Demokrasi, Lahirnya UU Keterbatasan UU No.
(1998–1999) setara, dalam tekanan No. 39/1999 waktu 26/2000;
kerangka internasional dan UU No. pemerintahan UPR
reformasi 26/2000; untuk reformasi Indonesia
ratifikasi struktural (2023)
ICCPR &
ICESCR
4 Abdurrahman HAM sebagai Nilai Perlindungan Oposisi dari Komnas
Wahid jaminan keagamaan, minoritas, kelompok HAM
(1999–2001) pluralisme dan multikulturalism rekonsiliasi konservatif, (2023);
kebebasan e pascakonflik keterbatasan Dembour
beragama kewenangan (2010)
5 Megawati HAM dalam Stabilitas Stabilitas Stagnasi State Dept
(2001–2004) kerangka hukum pemerintahan institusional penuntasan (2021);
formal namun pasca-transisi kasus HAM Komnas
pasif berat HAM (2022)
6 SBY (2004– HAM sebagai Kebutuhan Penguatan Impunitas UPR
2014) bagian dari reputasi Komnas pelaku Indonesia
diplomasi dan internasional HAM, pelanggaran, (2017);
kebijakan diplomasi diskriminasi Komnas
pembangunan HAM minoritas HAM (2014)
berkelanjutan agama
7 Joko Widodo HAM dijanjikan Nawacita, Komitmen Pelanggaran UPR (2022);
(2014–2024) sebagai prioritas kesejahteraan pada UPR, HAM agraria, Conectas
pembangunan berbasis hak perluasan Papua, (2021);
manusia partisipasi kriminalisasi Hukumonline
digital aktivis digital (2023)
8 Prabowo HAM dalam Kepentingan Proyeksi: Riwayat Prediksi
Subianto konteks nasional, integrasi pelanggaran berdasar
(2024– ) keamanan keamanan, HAM dalam masa lalu, rekam jejak;
nasional dan reputasi global reformasi skeptisisme Komnas
stabilitas politik TNI/Polri publik HAM; State
demokratis Dept (2021)

DAFTAR PUSTAKA
Amnesty International, Indonesia: Investigate Role of Military Officials in Past Abuses, 2014.

Donnelly, Jack. Universal Human Rights in Theory and Practice. Cornell University Press,
2013.

Dembour, What are Human Rights? Four Schools of Thought, op. cit

Harold Crouch, The Army and Politics in Indonesia, Cornell University Press, 1978..

Jeremy Waldron, “Is Dignity the Foundation of Human Rights? New York University School
of Law, Public Law & Legal Theory Research Paper Series”, Working Paper No. 12-
73, 2012, hlm. 4–7.
Jimly Asshiddiqie. Pengantar Hukum Hak Asasi Manusia. Rajawali Pers, 2005.

Lucas, A. Hukum Adat dan Hak Asasi Manusia di Indonesia, Komnas HAM, 2015.

Komnas HAM RI. (2023). Laporan Tahunan Komnas HAM Muhammad Ashri, Hak Asasi
Manusia, (Makassar: CV. Social Politic Genius “SIGn”, 2018), hlm. 1.

Marie-Bénédicte Dembour, “Who Believes in Human Rights? Reflections on the European


Convention” Cambridge University Press, 2006.
Marie-Bénédicte Dembour, “What are Human Rights? Four Schools of Though”t, Open
Democracy,2010.

Anda mungkin juga menyukai