Revisi Raras
Revisi Raras
Abstrak
Sengketa pencabutan izin usaha pertambangan PT Tambang Mas Sangihe (PT TMS) menjadi perhatian publik karena
menyangkut legalitas tindakan administratif pemerintah, perlindungan lingkungan hidup, serta pemenuhan hak masyarakat
di wilayah pulau kecil yang rentan secara ekologis. Penelitian ini bertujuan menganalisis dasar pertimbangan hakim dalam
Putusan Mahkamah Agung Nomor 650 K/TUN/2022 dan menelaah akibat hukumnya terhadap kewenangan Kementerian
Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta status izin usaha PT TMS. Metode yang digunakan adalah yuridis normatif
dengan pendekatan perundang-undangan, pendekatan kasus, serta pendekatan konseptual. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa Mahkamah Agung menguatkan putusan judex facti karena menemukan cacat prosedural yang signifikan dalam proses
penerbitan izin. Cacat tersebut meliputi tidak dilibatkannya masyarakat terdampak dalam penyusunan AMDAL, tidak
terpenuhinya persyaratan pengelolaan pulau kecil sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Pengelolaan Wilayah Pesisir
dan Pulau-Pulau Kecil, serta ketiadaan rekomendasi wajib dari Kementerian Kelautan dan Perikanan. Dalam
pertimbangannya, hakim menerapkan prinsip kehati-hatian (precautionary principle) dan keadilan ekologis untuk menilai
potensi kerusakan lingkungan yang dapat terjadi di Pulau Sangihe. Implikasi hukum dari putusan ini adalah kewajiban bagi
Kementerian ESDM untuk melakukan pemulihan administratif, memperbaiki mekanisme evaluasi izin, dan memperketat
implementasi asas legalitas dalam seluruh proses perizinan tambang. Sementara itu, izin operasi PT TMS dinyatakan batal
baik secara formal maupun substantif sehingga tidak dapat dipulihkan. Apabila PT TMS berniat melanjutkan kegiatan,
perusahaan tersebut hanya dapat mengajukan permohonan perizinan baru melalui prosedur yang sepenuhnya sesuai
ketentuan perundang-undangan.
1. Latar Belakang
Pencabutan izin usaha pertambangan merupakan salah satu isu krusial dalam tata kelola pertambangan di
Indonesia karena menyangkut kewenangan pemerintah, kepastian hukum bagi investor, perlindungan
masyarakat, dan keberlanjutan lingkungan. Izin usaha pertambangan (IUP) serta keputusan administratif terkait
peningkatan tahap operasi produksi merupakan bentuk Keputusan Tata Usaha Negara (KTUN) yang selalu
berpotensi menimbulkan sengketa apabila dianggap melanggar asas legalitas, prosedur administratif, atau
kepentingan masyarakat. Dalam konteks inilah Peradilan Tata Usaha Negara (PTUN) menjadi instrumen penting
untuk menguji apakah tindakan pejabat pemerintahan, khususnya Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral
(ESDM), telah dilakukan sesuai dengan ketentuan hukum administrasi negara. Salah satu perkara yang menjadi
perhatian publik adalah sengketa antara masyarakat Sangihe dan PT Tambang Mas Sangihe (TMS) terkait
Keputusan Menteri ESDM Nomor 163.K/MB.04/DJB/2021 mengenai persetujuan peningkatan tahap kegiatan
operasi produksi yang menguatkan putusan banding sebelumnya dan menolak kasasi yang diajukan oleh Menteri
ESDM dan PT Tambang Mas Sangihe atas pencabutan izin produksi kontrak karya perusahaan tersebut. Putusan
ini mencerminkan bagaimana pengadilan administratif menilai kewenangan eksekutif dalam mencabut izin
pertambangan dan memperlihatkan konsekuensi yuridis yang signifikan bagi status izin serta kewenangan
pemerintah di bidang pertambangan
Analisis Yuridis Pertimbangan Hakim dalam Putusan Nomor 650 K/Tun/2022 dalam Sengketa Pencabutan Izin
Usaha PT. Tambang Mas Sangihe
4107
Raras Santika Arianti, Deva Anasthalia, Lintang Savana, Keysya Aurelia Putri Zakiyyati, Moh. Imam Gusthomi
Journal of Artificial Intelligence and Digital Business (RIGGS) Volume 4 Nomor 4, 2025
Konflik ini bermula dari gugatan masyarakat Sangihe yang menentang Keputusan Menteri ESDM Nomor
163.K/MB.04/DJB/2021 tentang persetujuan peningkatan tahap kegiatan operasi produksi kontrak karya PT
Tambang Mas Sangihe. Dalam tingkat pertama, PTUN Jakarta menolak gugatan, namun pada tingkat banding
(PTTUN Jakarta) putusan berbalik: hakim mewajibkan Menteri ESDM mencabut keputusan tersebut. Kemudian,
di tingkat kasasi, MA melalui Putusan 650 K/TUN/2022 menolak kasasi dan mengukuhkan kewajiban
pencabutan.
Sengketa ini bergulir dari PTUN Jakarta, lalu ke PTTUN Jakarta, hingga akhirnya diputus di tingkat kasasi
melalui Putusan Mahkamah Agung Nomor 650 K/TUN/2022 yang menolak permohonan kasasi Menteri ESDM
dan PT TMS serta menguatkan perintah pencabutan izin tersebut. Putusan ini menunjukkan bagaimana hakim
dalam sistem peradilan administrasi melakukan pengujian terhadap tindakan pemerintah dengan mengedepankan
prinsip legalitas, asas kehati-hatian, serta perlindungan masyarakat terhadap dampak lingkungan.
Beberapa penelitian terdahulu menunjukkan bahwa permasalahan pencabutan atau penerbitan IUP memang
kerap menjadi objek sengketa di peradilan TUN karena sering kali terdapat cacat prosedural. Penelitian oleh
Caren April Ashley Theressa Sangki, menegaskan bahwa berdasarkan UU Minerba, pencabutan IUP harus
melalui tahapan administratif yang ketat, mulai dari pemberitahuan hingga evaluasi pelanggaran. Penelitian lain
mengenai perkara PT Mantimin Coal Mining (PT MCM) dalam Putusan PTUN Jakarta No.
241/G/LH/2018/[Link] menunjukkan bahwa pengadilan pernah membatalkan izin karena ditemukan
ketidaksesuaian prosedur dan kurangnya pelibatan masyarakat, yang menjadi preseden penting dalam menguji
legalitas izin pertambangan. Selain itu, penelitian oleh Kurnia Fitri Rahma Dani dan Sang Ayu Putu Rahayu
(Jurnal Ilmiah Nusantara) mengungkap bahwa pencabutan IUP tanpa prosedur yang transparan dapat
menimbulkan ketidakpastian hukum bagi investor, sehingga menuntut pemerintah untuk bertindak hati-hati dan
selaras dengan asas good governance. Kajian lain dalam Kertha Semaya juga menyoroti pentingnya
perlindungan hukum bagi investor ketika izin dicabut, terutama terkait hak kepastian hukum dan mekanisme
pengujian administratif. Lebih jauh, penelitian terbaru mengenai Putusan PTUN No. 244/G/2024 menunjukkan
bahwa persoalan implementasi putusan PTUN masih menjadi tantangan, karena pejabat pemerintah sering tidak
segera melaksanakan perintah pencabutan izin meskipun putusan telah berkekuatan hukum tetap.
Berdasarkan konteks tersebut, Putusan Mahkamah Agung Nomor 650 K/TUN/2022 menjadi relevan untuk dikaji
secara yuridis karena putusan ini tidak hanya menguji legalitas KTUN yang diterbitkan Menteri ESDM, tetapi
juga mengandung implikasi penting terhadap batas kewenangan pemerintah dalam pengelolaan pertambangan.
Putusan ini menunjukkan bahwa kewenangan administratif menteri bukanlah kewenangan absolut, tetapi tunduk
pada pengawasan yudisial untuk memastikan bahwa setiap keputusan memenuhi asas-asas pemerintahan yang
baik, prosedur administratif, serta tidak mengabaikan hak-hak masyarakat. Selain itu, putusan ini memiliki akibat
hukum terhadap status izin usaha PT Tambang Mas Sangihe dan berpotensi memengaruhi iklim investasi di
sektor pertambangan. Oleh karena itu, diperlukan analisis mendalam mengenai dasar pertimbangan hukum
hakim dalam putusan tersebut serta akibat hukumnya bagi kewenangan pemerintah maupun status izin usaha
pertambangan yang disengketakan. Analisis ini penting tidak hanya bagi pengembangan ilmu hukum
administrasi negara, tetapi juga bagi praktik perizinan pertambangan di Indonesia yang semakin menuntut
transparansi, akuntabilitas, dan kepastian hukum.
2. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif, yaitu penelitian yang menitikberatkan pada pengkajian
terhadap norma hukum, asas hukum, serta putusan pengadilan yang relevan dengan isu yang diteliti. Fokus
utama penelitian diarahkan pada analisis terhadap Pertimbangan Hakim dalam Putusan Nomor 650 K/TUN/2022
yang berkaitan dengan sengketa pencabutan izin usaha PT. Tambang Mas Sangihe. Pendekatan yang digunakan
meliputi pendekatan perundang-undangan, dengan menelaah Undang-Undang Administrasi Pemerintahan,
Undang-Undang Minerba, serta peraturan terkait perizinan pertambangan dan kewenangan pejabat administrasi
negara; pendekatan kasus, melalui penelaahan struktur putusan, kronologi perkara, argumentasi para pihak, serta
dasar pertimbangan hukum majelis hakim; dan pendekatan konseptual, untuk memahami konsep-konsep yang
berkaitan dengan kewenangan, keabsahan keputusan tata usaha negara, serta asas-asas umum pemerintahan yang
baik (AUPB).
Sumber bahan hukum yang digunakan terdiri dari bahan hukum primer, yaitu putusan pengadilan dan peraturan
perundang-undangan yang menjadi dasar analisis; bahan hukum sekunder, meliputi buku, jurnal, serta pendapat
para ahli yang relevan; dan bahan hukum tersier sebagai pendukung, seperti kamus hukum dan ensiklopedia.
DOI: [Link]
Lisensi: Creative Commons Attribution 4.0 International (CC BY 4.0)
4108
Raras Santika Arianti, Deva Anasthalia, Lintang Savana, Keysya Aurelia Putri Zakiyyati, Moh. Imam Gusthomi
Journal of Artificial Intelligence and Digital Business (RIGGS) Volume 4 Nomor 4, 2025
Pengumpulan bahan hukum dilakukan melalui studi dokumen dengan menelusuri berbagai putusan, regulasi, dan
literatur ilmiah baik dari sumber cetak maupun digital. Seluruh bahan hukum yang diperoleh dianalisis
menggunakan analisis deskriptif-kualitatif, yaitu dengan menguraikan fakta hukum, mengidentifikasi norma
yang berhubungan dengan persoalan, membandingkan pertimbangan hakim dengan ketentuan hukum yang
berlaku, serta menarik kesimpulan mengenai kesesuaian putusan dengan prinsip-prinsip hukum administrasi
negara dan hukum pertambangan.
1. Dasar Pertimbangan Hukum Hakim dalam Putusan Nomor 650 K/TUN/2022 terhadap Sengketa
Pencabutan Izin Usaha Pertambangan PT. Tambang Mas Sangihe
Hakim pada Pengadilan Tata Usaha Negara diwajibkan mencantumkan argumentasi atau dasar pemikiran dalam
setiap putusan yang dijatuhkannya. Dalam menyusun pertimbangan hukum tersebut, hakim harus berpikir secara
teliti, tersusun dengan sistematis, serta menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Penyusunan pertimbangan yang cermat berarti bahwa pertimbangan hukum harus disusun secara lengkap dan
komprehensif, mencakup uraian mengenai fakta dan peristiwa, penetapan fakta hukum, serta perumusan dan
penerapan norma hukum, baik yang bersumber dari hukum positif, hukum kebiasaan, yurisprudensi, maupun
teori-teori hukum lain yang dijadikan alasan atau dasar hukum dalam putusan tersebut.
Menurut Sudikno Mertokusumo, pertimbangan hukum harus disusun secara sistematis, yaitu tersusun secara
runtut mulai dari penjelasan mengenai kewenangan pengadilan hingga pada penetapan pihak yang menanggung
biaya perkara. Sejalan dengan itu, M. Yahya Harahap menerangkan bahwa:
“Dapat dikatakan Pertimbangan hakim merupakan jiwa dan intisari putusan. Pertimbangan berisi analisis,
argumentasi, pendapat atau kesimpulan hukum dari hakim yang memeriksa perkara”.
Pertimbangan hakim merupakan penilaian mengenai layak atau tidaknya suatu keadaan untuk menetapkan
putusan, baik oleh hakim di Mahkamah Agung maupun di peradilan tingkat bawah, yang dituangkan dalam
putusan tertulis. Pertimbangan tersebut mencakup pemikiran hakim tentang faktor-faktor yang meringankan atau
memberatkan pelaku. Setiap hakim wajib memuat pertimbangan atau pendapatnya secara tertulis dalam setiap
perkara yang diperiksa, dan hal itu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari putusan.
Dalam perkara sengketa tata usaha negara yang melibatkan pencabutan Izin Usaha Pertambangan (IUP) PT
Tambang Mas Sangihe (PT TMS), hakim di Mahkamah Agung telah menjatuhkan putusan dalam perkara kasasi
dengan Nomor 650 K/TUN/2022, yang dibacakan pada 12 Januari 2023. Sebelum menguraikan pertimbangan
hukum majelis hakim dalam perkara ini, penting terlebih dahulu memahami petitum atau permohonan yang
diajukan oleh para pemohon kasasi. Petitum merupakan bagian akhir dalam suatu gugatan atau permohonan
yang berisi secara jelas dan terperinci tuntutan apa yang diminta oleh penggugat atau pemohon kepada
pengadilan untuk diputuskan.
Dalam Putusan Mahkamah Agung Nomor 650 K/TUN/2022, Pemohon Kasasi terdiri atas dua pihak, yaitu
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Pemohon I) dan PT Tambang Mas Sangihe (Pemohon II). Pada
memori kasasinya, para pemohon menyampaikan petitum yang pada dasarnya meminta Majelis Hakim Kasasi:
a. Menerima permohonan kasasi dan Memori Kasasi dari Pemohon Kasasi untuk seluruhnya;
b. Membatalkan Putusan Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Jakarta Nomor 140/B/2022/[Link].,
tertanggal 31 Agustus 2022;
c. Atau apabila Majelis Hakim Agung tingkat kasasi yang memeriksa perkara ini berpendapat lain, mohon
putusan yang seadil-adilnya (ex aequo et bono);
Setelah mempertimbangkan seluruh dalil kasasi para pemohon dan menilai kembali pertimbangan hukum pada
tingkat judex facti, Mahkamah Agung kemudian menjatuhkan putusan sebagai berikut:
DOI: [Link]
Lisensi: Creative Commons Attribution 4.0 International (CC BY 4.0)
4109
Raras Santika Arianti, Deva Anasthalia, Lintang Savana, Keysya Aurelia Putri Zakiyyati, Moh. Imam Gusthomi
Journal of Artificial Intelligence and Digital Business (RIGGS) Volume 4 Nomor 4, 2025
a. Menolak permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi I: MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA
MINERAL REPUBLIK INDONESIA dan Pemohon Kasasi II: PT. TAMBANG MAS SANGIHE;
b. Menghukum Pemohon Kasasi I dan Pemohon Kasasi II membayar biaya perkara pada tingkat kasasi
sejumlah Rp500.000,00 (lima ratus ribu Rupiah);
Untuk menjamin terpenuhinya nilai-nilai putusan yang dijatuhkan oleh hakim yang meliputi kepastian hukum,
prinsip keadilan (ex aequo et bono), serta kemanfaatan bagi seluruh pihak yang bersengketa, respons terhadap
pertimbangan hukum hakim harus diberikan secara saksama, tepat, dan proporsional. Apabila pertimbangan
tersebut tidak disusun secara utuh, logis, dan tepat sasaran, maka Pengadilan Tinggi maupun Mahkamah Agung
berwenang membatalkan putusan tersebut karena dianggap tidak memenuhi standar penilaian yudisial yang
benar..
Bukti memegang peranan penting dalam proses pemeriksaan perkara oleh hakim, karena hasil pemeriksaan
itulah yang menjadi dasar dalam merumuskan putusan. Tahap pembuktian merupakan bagian yang paling krusial
dalam persidangan. Penyajian alat bukti bertujuan untuk memperoleh putusan yang benar dan adil dengan
menunjukkan, tanpa menimbulkan keraguan yang wajar, bahwa peristiwa atau fakta yang didalilkan terbukti
benar adanya. Sebelum hakim menetapkan terdapat hubungan hukum di antara pihak-pihak terkait, ia harus
terlebih dahulu memperoleh keyakinan bahwa peristiwa atau fakta yang dipersoalkan memang terjadi dan
kebenarannya telah terbukti.
Sehubungan dengan amar putusan hakim tersebut diatas, menjelis menguraikan pertimbangan hukumnya.
Berdasarkan hal-hal sebagai berikut, Mahkamah Agung telah menetapkan bahwa alasan-alasan kasasi tersebut
tidak dapat dibenarkan, karena Judex Facti Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Jakarta telah tepat dan hukum
telah diterapkan dengan benar:.
Majelis hakim telah menetapkan bahwa putusan yang merupakan KTUN dan memenuhi persyaratan Pasal 1
angka 9 UU PTUN juncto Pasal 87 UU Administrasi Pemerintahan ini merupakan kelanjutan dari Kontrak
Karya antara Pemerintah Republik Indonesia yang diwakili oleh Menteri Pertambangan dan Energi (Pemohon
Kasasi I) dengan PT. Tambang Mas Sangihe (Pemohon Kasasi II). Kontrak tersebut telah disetujui pada tanggal
17 Maret 1997, sesuai dengan surat Presiden Republik Indonesia (Nomor 143/Pres/3/1997, tanggal 17 Maret
1997). Masyarakat pemilik rumah beserta sarana penunjangnya, lahan pertanian, dan lahan perkebunan yang
berada di dalam wilayah Izin Usaha Pertambangan (IUP) harus dilibatkan sebagai kearifan lokal dan aspirasi
masyarakat. Hal ini didukung oleh Para Penggugat (Tergugat Kasasi I) dan Para Penggugat Intervensi (Tergugat
Kasasi II).
Dalam Putusan Nomor 650 K/TUN/2022, Majelis Hakim Mahkamah Agung menegaskan bahwa objek sengketa
berupa Keputusan Persetujuan Peningkatan Tahap Operasi Produksi PT Tambang Mas Sangihe merupakan
keputusan tata usaha negara (KTUN) yang sah untuk diuji melalui Peradilan Tata Usaha Negara. Keputusan
tersebut dinilai memenuhi unsur KTUN sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986.
Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009, sehingga Mahkamah Agung memiliki kewenangan menilai legalitas
tindakan administratif pejabat pemerintah. Dalam pertimbangannya, Mahkamah Agung menguatkan temuan
PTUN Jakarta dan PT TUN Jakarta bahwa proses penerbitan izin tersebut mengandung cacat prosedur
administratif, terutama terkait ketidaksesuaian penyusunan dokumen AMDAL, ketidaklengkapan proses
konsultasi publik, serta indikasi tidak terpenuhinya standar penilaian oleh Komisi Penilai AMDAL. Salah satu
temuan penting adalah bahwa kearifan lokal dan masukan masyarakat tidak dicantumkan dalam AMDAL dalam
Izin Lingkungan Kegiatan Pertambangan Emas PT Tambang Mas Sangihe. Ini bertentangan dengan ketentuan
dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, yang
DOI: [Link]
Lisensi: Creative Commons Attribution 4.0 International (CC BY 4.0)
4110
Raras Santika Arianti, Deva Anasthalia, Lintang Savana, Keysya Aurelia Putri Zakiyyati, Moh. Imam Gusthomi
Journal of Artificial Intelligence and Digital Business (RIGGS) Volume 4 Nomor 4, 2025
mensyaratkan pemenuhan prosedur ketat dalam penilaian kelayakan lingkungan hidup dan Pasal 26 A Nomor 1
Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah
Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Bahwa Dr. H. Yosran, S.H., [Link]., anggota Panel 2, dalam pertimbangan
Majelis Hakim menyampaikan pendapat berbeda sebagai berikut: Bahwa Judex Facti PTUN Jakarta telah keliru
dalam menggunakan hukum. Berdasarkan analisis PTUN Jakarta terhadap Pasal 2 huruf a Undang-Undang
Nomor 9 Tahun 2004 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha
Negara, sengketa Keputusan Tata Usaha Negara tersebut berawal dari adanya perjanjian kerja kedudukan yang
sederajat antara Pemerintah dengan PT. Tambang Mas Sangihe. Oleh karena itu, gugatan tersebut tidak dapat
diajukan ke pengadilan ini.
Sesuai dengan Pasal 169 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009, seluruh perjanjian kerja dan perjanjian operasi
pertambangan batubara yang telah ada sebelumnya tetap berlaku sampai dengan berakhirnya jangka waktu
perjanjian. Artinya, perjanjian kerja yang telah ada tersebut tetap berlaku sampai dengan berakhirnya jangka
waktu perjanjian semula.
Perjanjian pemerintah dengan PT. Tambang Mas Sangihe tidak dapat digolongkan sebagai izin, melainkan
sebagai kontrak kerja, berdasarkan fakta persidangan, karena kontrak tersebut belum berakhir pada saat gugatan
quo diajukan. Berdasarkan hal tersebut di atas, Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta harus memutuskan bahwa
gugatan penggugat tidak berdasar.
Bahwa Majelis Hakim telah memutuskan untuk menolak permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi I dan II
dengan suara terbanyak, sesuai dengan Pasal 97 ayat (3) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang
Peradilan Tata Usaha Negara, Pasal 30 ayat (3) Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah
Agung sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004 dan perubahan kedua dengan
Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009, karena adanya perbedaan pendapat di antara Majelis Hakim dan upaya
sungguh-sungguh untuk mencapai mufakat belum tercapai.
Selain itu, alasan-alasan tersebut berkisar pada penilaian alat bukti yang pada hakikatnya bersifat fakta, yang
tidak dapat dijawab dalam pemeriksaan tingkat kasasi. Hal ini dikarenakan pemeriksaan kasasi hanya dapat
memeriksa masalah yang berkaitan dengan tidak diterapkannya atau tidak tepatnya suatu undang-undang
sebagaimana yang tercantum dalam Pasal 30 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung
sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004 dan Undang-Undang Nomor 3 Tahun
2009.
Dengan mempertimbangkan hal-hal tersebut, putusan Judex Facti Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Jakarta
tidak melanggar atau tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. Sehingga, permohonan kasasi
ditolak, dan Pemohon Kasasi I serta Pemohon Kasasi II harus menanggung biaya perkara kasasi. Peraturan
perundang-undangan yang perlu diperhatikan adalah: Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang
Kekuasaan Kehakiman, Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung sebagaimana telah
diubah dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004 dan telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun
2009, Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara sebagaimana telah diubah
dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004 dan telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009,
dan peraturan perundang-undangan lain yang ada kaitannya dengan pokok bahasan ini.
Pertimbangan hakim Mahkamah Agung dalam putusan ini tidak hanya berlandaskan pada norma hukum positif,
tetapi juga mencerminkan nilai-nilai filosofis yang menjadi dasar penyelenggaraan hukum administrasi negara,
yaitu keadilan, kemanfaatan, dan kepastian hukum. Hakim menempatkan kepentingan masyarakat lokal dan
kelestarian lingkungan sebagai nilai utama yang harus dijaga di atas kepentingan investasi dan keuntungan
ekonomi semata.
Penguatan konstitusional menegaskan bahwa kegiatan pertambangan tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial
dan lingkungan sekitarnya, termasuk nilai-nilai kearifan masyarakat hukum adat. Partisipasi masyarakat adat
diperlukan dalam seluruh tahapan pengelolaan pertambangan, mulai dari penyusunan regulasi, pemenuhan
kewajiban seperti sosialisasi perizinan, perizinan, pelaksanaan kegiatan usaha, pengawasan, hingga penyelesaian
sengketa lingkungan di wilayah tambang.
DOI: [Link]
Lisensi: Creative Commons Attribution 4.0 International (CC BY 4.0)
4111
Raras Santika Arianti, Deva Anasthalia, Lintang Savana, Keysya Aurelia Putri Zakiyyati, Moh. Imam Gusthomi
Journal of Artificial Intelligence and Digital Business (RIGGS) Volume 4 Nomor 4, 2025
Namun, regulasi yang ada cenderung mengutamakan kepentingan investor, peningkatan pendapatan daerah, serta
penerapan hak negara atas sumber daya alam. Hal ini menjadikan pertambangan lebih bersifat eksploitasi dan
menempatkan negara dalam paradigma antroposentris. Berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah
pusat dan daerah, pelaku usaha, masyarakat umum, serta kesatuan masyarakat hukum adat, memiliki
kepentingan yang berbeda terhadap sumber daya tambang, sehingga menimbulkan interaksi di antara mereka.
Dalam kondisi ini, terjadilah perjumpaan antara dua sistem hukum dalam kerangka pluralisme hukum: hukum
negara melalui kebijakan pertambangan nasional, dan kearifan masyarakat hukum adat yang berlandaskan
prinsip, filosofi, serta paradigma keadilan ekologis.
MA secara tegas menunjukkan bahwa pendekatan hukum yang hanya berorientasi pada pembuktian kerusakan
nyata sering membuat pelaku pencemaran atau kegiatan berisiko tinggi termasuk perusahaan tambang dapat
menghindar dari pertanggungjawaban hukum. Oleh karena itu, hakim dalam putusan ini mengadopsi pendekatan
yang lebih progresif melalui penerapan asas tanggung jawab lingkungan (environmental liability) dan prinsip
kehati-hatian (precautionary principle). Dalam pertimbangannya, hakim menilai bahwa potensi risiko kerusakan
yang sangat tinggi pada pulau kecil, yang memiliki daya dukung dan daya tampung lingkungan terbatas, sudah
cukup menjadi alasan untuk membatalkan izin operasi produksi PT Tambang Mas Sangihe. Ini sejalan dengan
prinsip precautionary, yaitu bahwa ketidakpastian ilmiah mengenai besarnya dampak tidak boleh dijadikan
alasan untuk tetap menjalankan aktivitas yang berpotensi membahayakan lingkungan dan masyarakat.
Selain itu, penerapan environmental liability terlihat dari penegasan bahwa pemerintah dan pemegang izin tidak
dapat melepaskan diri dari tanggung jawab atas potensi pencemaran dan kerusakan lingkungan. Dengan
membatalkan izin tersebut, hakim menempatkan tanggung jawab perlindungan lingkungan sebagai kewajiban
kolektif yang melibatkan negara, masyarakat, dan pelaku usaha. Tanggung jawab ini mencakup bukan hanya
akibat nyata dari kegiatan usaha, tetapi juga risiko inheren dari aktivitas pertambangan di wilayah ekologis yang
rentan seperti Kepulauan Sangihe. Pendekatan ini konsisten dengan Pasal 10 ayat (2) huruf d dan e UU PPLH
yang mewajibkan pemerintah mempertimbangkan daya dukung daya tampung serta partisipasi masyarakat, dan
juga dengan Pasal 28H ayat (1) UUD 1945 yang menjamin hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat.
Secara filosofis, putusan ini menunjukkan orientasi hukum pada prinsip keadilan ekologis (ecological justice).
Hakim menilai bahwa setiap keputusan pemerintah yang memberikan izin eksploitasi sumber daya alam harus
selaras dengan tujuan konstitusional sebagaimana termuat dalam Pasal 33 ayat (3) UUD 1945, yakni bahwa
bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-
besarnya untuk kemakmuran rakyat. Dalam konteks ini, hakim memandang bahwa izin operasi produksi PT
Tambang Mas Sangihe yang tidak melibatkan masyarakat lokal dan tidak memperhatikan kearifan lokal justru
bertentangan dengan semangat kemakmuran rakyat, karena berpotensi menimbulkan kerusakan ekologis dan
ketimpangan sosial.
Selain itu, filosofi pembangunan berkelanjutan (sustainable development) juga tercermin dalam pertimbangan
hakim. Keputusan tata usaha negara (KTUN) yang menjadi objek sengketa dianggap tidak memenuhi prinsip
keberlanjutan karena mengabaikan hak-hak masyarakat dalam menentukan arah pembangunan di wilayahnya
sendiri. Hakim melihat bahwa kebijakan publik yang hanya berorientasi pada kepentingan ekonomi tanpa
memperhitungkan keberlanjutan lingkungan dan sosial tidak sejalan dengan cita hukum (rechtsidee) Indonesia
yang menempatkan keadilan sosial dan keseimbangan ekologis sebagai fondasi kehidupan berbangsa.
Pertimbangan sosiologis dalam putusan ini menitikberatkan pada konteks sosial masyarakat Kepulauan Sangihe
yang menjadi wilayah tambang. Dalam pertimbangan Mahkamah Agung, disebutkan bahwa para penggugat
adalah warga yang memiliki rumah tinggal, lahan pertanian, dan kebun di wilayah izin usaha pertambangan
(IUP) PT Tambang Mas Sangihe. Mereka adalah masyarakat lokal yang memiliki hubungan sosial, budaya, dan
ekonomi langsung dengan tanah dan lingkungan tempat tinggalnya. Hakim menilai bahwa pelibatan masyarakat
lokal dalam setiap proses perizinan tambang bukan hanya formalitas administratif, melainkan merupakan
perwujudan hak partisipasi masyarakat sebagaimana diatur dalam Pasal 65 ayat (2) Undang-Undang Nomor 32
Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Dengan tidak melibatkan masyarakat
dalam penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), pemerintah dianggap telah mengabaikan
prinsip partisipasi publik, transparansi, dan akuntabilitas.
Dari sisi sosial, hakim mempertimbangkan bahwa eksploitasi tambang di wilayah kepulauan kecil berpotensi
besar menimbulkan disrupsi sosial dan ekologis, termasuk hilangnya sumber mata pencaharian, kerusakan lahan
DOI: [Link]
Lisensi: Creative Commons Attribution 4.0 International (CC BY 4.0)
4112
Raras Santika Arianti, Deva Anasthalia, Lintang Savana, Keysya Aurelia Putri Zakiyyati, Moh. Imam Gusthomi
Journal of Artificial Intelligence and Digital Business (RIGGS) Volume 4 Nomor 4, 2025
pertanian, gangguan terhadap sumber air, serta rusaknya sistem sosial masyarakat adat dan lokal yang selama ini
hidup bergantung pada sumber daya alam sekitar. Oleh karena itu, pertimbangan sosiologis hakim mengarah
pada perlindungan hak masyarakat untuk hidup di lingkungan yang baik dan sehat, sebagaimana merupakan hak
asasi manusia yang dijamin oleh Pasal 28H ayat (1) UUD 1945. Hakim juga menyoroti bahwa masyarakat
Sangihe memiliki kearifan lokal (local wisdom) dalam menjaga keseimbangan alam di wilayah kepulauan.
Dengan tidak dilibatkannya masyarakat ini dalam proses AMDAL dan pemberian izin, maka keputusan
pemerintah telah melanggar hak masyarakat adat untuk menentukan nasib dan masa depan wilayahnya sendiri.
Maka dari itu, pertimbangan sosiologis menjadi dasar kuat bagi hakim untuk menyatakan bahwa keputusan
pemberian izin operasi produksi kepada PT Tambang Mas Sangihe bertentangan dengan prinsip-prinsip sosial
dan moral kemasyarakatan Indonesia.
Secara materiil, Mahkamah Agung menilai bahwa keputusan Menteri ESDM No. 163.K/MB.04/DJB/2021
tentang Persetujuan Peningkatan Tahap Kegiatan Operasi Produksi PT Tambang Mas Sangihe merupakan
KTUN yang sah untuk diuji oleh peradilan TUN, karena memenuhi unsur Pasal 1 angka 9 UU No. 5 Tahun 1986
jo. UU No. 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan yaitu keputusan tertulis, dikeluarkan oleh pejabat
TUN, dan menimbulkan akibat hukum bagi masyarakat. Hal ini menegaskan bahwa pemerintah tidak dapat
berlindung di balik dalih “kontrak karya” untuk menghindari pengawasan hukum administrasi.
Hakim juga menegaskan bahwa pelaksanaan izin operasi produksi di wilayah Kepulauan Sangihe bertentangan
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi, antara lain:
a. Pasal 10 ayat (2) huruf d dan e UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan
Hidup, karena izin tersebut tidak memperhatikan daya dukung dan daya tampung lingkungan serta
mengabaikan hak masyarakat untuk berpartisipasi dalam perlindungan lingkungan hidup;
b. Pasal 26A angka 1 UU No. 1 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, yang
mewajibkan adanya izin/rekomendasi dari Menteri Kelautan dan Perikanan sebelum kegiatan pertambangan
dilakukan di pulau kecil.
Selain itu, dari aspek materiil, Mahkamah Agung menilai bahwa pelaksanaan izin operasi produksi di pulau kecil
seperti Sangihe secara faktual menimbulkan potensi kerusakan ekologis dan tidak sesuai dengan asas
kemanfaatan umum. Maka, izin tersebut harus dibatalkan karena melanggar prinsip kehati-hatian (precautionary
principle) dalam pengelolaan sumber daya alam.
2. Akibat hukum Putusan Nomor 650 K/TUN/2022 terhadap kewenangan pemerintah (ESDM) dan
terhadap status hukum izin usaha pertambangan PT. Tambang Mas Sangihe.
Putusan Mahkamah Agung Nomor 650 K/TUN/2022 yang telah berkekuatan hukum tetap membawa
konsekuensi langsung terhadap pelaksanaan kewenangan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral
(ESDM) serta instansi teknis lain yang berperan dalam penerbitan maupun pencabutan Izin Usaha Pertambangan
(IUP) PT. Tambang Mas Sangihe. Dalam perspektif hukum administrasi negara, penguatan atau pembatalan
putusan PTUN oleh Mahkamah Agung menegaskan bahwa kewenangan pejabat administrasi tetap berada dalam
batas legalitas, namun implementasinya wajib diselaraskan dengan amar putusan. Doktrin administrasi negara
menegaskan bahwa apabila suatu Keputusan Tata Usaha Negara (KTUN) dinyatakan tidak sah, pejabat penerbit
keputusan memiliki kewajiban untuk melakukan tindakan pemulihan administratif (restitutio in integrum),
termasuk menata ulang keadaan hukum sesuai putusan. Dengan demikian, ESDM tetap memegang kewenangan
substantif untuk mengatur, menerbitkan, dan mencabut izin pertambangan, tetapi kewenangan tersebut harus
dijalankan secara cermat dan berdasarkan koreksi terhadap cacat prosedural maupun substansi yang telah
diidentifikasi oleh pengadilan.
Implikasi hukum yang utama dari putusan ini adalah kewajiban ESDM untuk menindaklanjuti putusan yang
telah berkekuatan hukum tetap melalui penataan kembali administrasi perizinan PT. Tambang Mas Sangihe.
Langkah tersebut mencakup pembenahan register perizinan, pencabutan atau pengubahan keputusan yang
dinyatakan tidak sah, serta tindakan administratif lain yang diperlukan. Doktrin hukum administrasi menegaskan
bahwa keputusan yang dibatalkan dianggap tidak pernah ada (never existed in the eyes of law), sehingga pejabat
administrasi wajib menghapus seluruh akibat hukum yang telah ditimbulkan. Prinsip ini sejalan dengan Asas-
Asas Umum Pemerintahan yang Baik (AUPB), terutama asas kepastian hukum, kecermatan, serta larangan
penyalahgunaan kewenangan, yang wajib dipatuhi oleh ESDM dalam menjalankan seluruh kewenangannya.
DOI: [Link]
Lisensi: Creative Commons Attribution 4.0 International (CC BY 4.0)
4113
Raras Santika Arianti, Deva Anasthalia, Lintang Savana, Keysya Aurelia Putri Zakiyyati, Moh. Imam Gusthomi
Journal of Artificial Intelligence and Digital Business (RIGGS) Volume 4 Nomor 4, 2025
Dalam konteks ini, putusan Mahkamah Agung secara praktis mempersempit ruang diskresi ESDM karena setiap
tindakan perizinan ke depan harus sepenuhnya memenuhi asas legalitas, mengikuti prosedur yang benar, serta
mempertimbangkan standar evaluasi lingkungan dan sosial yang memadai untuk menghindari pembatalan
kembali oleh pengadilan.
Selain konsekuensi administratif, putusan tersebut juga berpengaruh pada pola koordinasi antar-instansi,
khususnya pemerintah daerah, Dinas ESDM provinsi, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK),
dan instansi pertanahan. Hal ini karena status hukum IUP tidak hanya terkait kewenangan perizinan ESDM,
tetapi juga mempengaruhi berbagai aspek seperti penataan ruang, izin lingkungan, kewajiban reklamasi, hingga
izin-izin turunan lainnya. Literatur hukum pertambangan menegaskan bahwa ketika izin pertambangan
dibatalkan atau status hukumnya terganggu oleh putusan pengadilan, seluruh perizinan sektoral yang bergantung
pada izin tersebut turut terimbas secara hukum.
Konsekuensinya, ESDM bersama instansi terkait wajib menata ulang akibat administratif yang timbul, termasuk
penghentian kegiatan operasional, pengawasan pasca-pencabutan, hingga penyelesaian kewajiban lingkungan
yang belum dipenuhi oleh perusahaan.
Putusan Mahkamah Agung Nomor 650 K/TUN/2022 juga menimbulkan akibat hukum yang sangat signifikan
terhadap status hukum izin usaha pertambangan PT. Tambang Mas Sangihe (TMS). Melalui putusan ini,
Mahkamah Agung menolak kasasi dari Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan PT TMS,
sehingga menguatkan putusan Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Jakarta yang telah menyatakan batal
Keputusan Menteri ESDM Nomor 163.K/MB.04/DJB/2021 tentang Persetujuan Peningkatan Tahap Kegiatan
Operasi Produksi Kontrak Karya PT Tambang Mas Sangihe. Putusan pengadilan tata usaha negara bersifat
mengikat umum (erga omnes), maka kekuatan putusan pengadilan tata usaha negara tersebut sama dengan
kekuatan peraturan perundang-undangan. Dengan demikian, izin operasi produksi yang menjadi dasar hukum
kegiatan pertambangan PT TMS secara hukum telah kehilangan keabsahan dan tidak lagi memiliki kekuatan
hukum mengikat.
Selain kehilangan keabsahan secara formal, izin operasi produksi PT TMS juga dinilai cacat secara substansial.
Mahkamah Agung menilai bahwa dalam penerbitan izin tersebut tidak terdapat pelibatan masyarakat dan
kearifan lokal dalam penyusunan AMDAL, serta tidak adanya rekomendasi dari Kementerian Kelautan dan
Perikanan (KKP), padahal kegiatan pertambangan dilakukan di wilayah pulau kecil. Kondisi ini bertentangan
dengan ketentuan Pasal 10 ayat (2) huruf d dan e Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan
dan Pengelolaan Lingkungan Hidup serta Pasal 26A ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang
Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Dengan adanya pelanggaran tersebut, izin PT TMS bukan
hanya batal secara administratif, tetapi juga tidak sah secara substansial karena bertentangan dengan prinsip
kehati-hatian (precautionary principle) dan asas partisipasi publik dalam hukum lingkungan hidup. Oleh sebab
itu, izin tersebut tidak dapat diperbaiki atau diaktifkan kembali melalui mekanisme administratif biasa,
melainkan dianggap batal secara total. Jika PT TMS ingin beroperasi lagi, maka harus mengajukan izin baru
melalui prosedur dari awal yang memenuhi seluruh syarat lingkungan, tata ruang, pulau kecil, partisipasi publik,
rekomendasi KKP, dan lain sebagainya, bukan dengan memulihkan izin yang lama.
Pembatalan izin ini juga mengakibatkan kontrak karya antara Pemerintah Indonesia dan PT Tambang Mas
Sangihe kehilangan efektivitasnya secara hukum publik. Meskipun kontrak karya tetap ada sebagai perjanjian
perdata, pelaksanaannya bergantung pada izin administratif yang telah dibatalkan. Akibatnya, kontrak tersebut
tidak dapat dijalankan tanpa dasar hukum baru, dan investor tidak dapat menggunakan kontrak tersebut untuk
menuntut hak operasional. Karena sejatinya suatu Perjanjian tidak boleh bertentangan dengan perundang-
undangan, ketertiban umum, kebiasaan dan kesusilaan yang berlaku. Dengan kata lain, kontrak karya yang
semula menjadi payung investasi pertambangan emas di Sangihe kini tidak dapat diberlakukan secara sah karena
pelaksanaannya akan bertentangan dengan hukum lingkungan dan tata ruang.
DOI: [Link]
Lisensi: Creative Commons Attribution 4.0 International (CC BY 4.0)
4114
Raras Santika Arianti, Deva Anasthalia, Lintang Savana, Keysya Aurelia Putri Zakiyyati, Moh. Imam Gusthomi
Journal of Artificial Intelligence and Digital Business (RIGGS) Volume 4 Nomor 4, 2025
4. Kesimpulan
Putusan Mahkamah Agung Nomor 650 K/TUN/2022 menegaskan bahwa pencabutan Izin Usaha Pertambangan
PT Tambang Mas Sangihe telah sesuai dengan hukum karena proses penerbitan izin mengandung cacat
administratif, terutama pada penyusunan AMDAL, ketidaklengkapan konsultasi publik, dan pengabaian kearifan
lokal masyarakat Sangihe. Mahkamah Agung menilai bahwa keputusan Menteri ESDM merupakan KTUN yang
sah untuk diuji dan terbukti bertentangan dengan UU PPLH, UU Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau
Kecil, serta prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan lingkungan. Pertimbangan hukum hakim mengintegrasikan
aspek yuridis, filosofis, dan sosiologis, dengan menempatkan perlindungan lingkungan, hak masyarakat lokal,
serta prinsip keadilan ekologis sebagai prioritas. Mahkamah Agung menyimpulkan bahwa penerbitan izin
operasi produksi PT Tambang Mas Sangihe bertentangan dengan peraturan perundang-undangan, asas-asas
umum pemerintahan yang baik, dan prinsip perlindungan lingkungan hidup. Oleh sebab itu, permohonan kasasi
oleh Menteri ESDM dan PT TMS ditolak, dan putusan judex facti yang membatalkan izin tersebut dinyatakan
tepat serta telah diterapkan sesuai norma hukum yang berlaku. Putusan ini sekaligus menjadi preseden penting
dalam penguatan perlindungan lingkungan, pengakuan kearifan lokal, dan penerapan prinsip pembangunan
berkelanjutan dalam hukum administrasi Indonesia. Putusan Mahkamah Agung Nomor 650 K/TUN/2022 yang
telah berkekuatan hukum tetap menegaskan batas-batas kewenangan Kementerian Energi dan Sumber Daya
Mineral (ESDM) serta instansi teknis lainnya dalam proses penerbitan maupun pencabutan Izin Usaha
Pertambangan (IUP) PT. Tambang Mas Sangihe. Kendati ESDM tetap memiliki kewenangan material untuk
mengatur, menerbitkan, dan mencabut izin pertambangan, pelaksanaannya wajib disesuaikan dengan amar
putusan, sehingga pejabat administrasi harus melakukan pemulihan administratif (restitutio in integrum) dan
menata ulang keadaan hukum sebagaimana ditentukan oleh putusan tersebut. Dengan demikian, ruang diskresi
ESDM menjadi lebih terbatas karena setiap tindakan perizinan selanjutnya harus sepenuhnya tunduk pada asas
legalitas dan Asas-Asas Umum Penyelenggaraan Pemerintahan yang Baik (AUPB), terutama asas kecermatan,
kepastian hukum, serta ketaatan pada prosedur dan standar evaluasi lingkungan maupun sosial guna mencegah
terjadinya pembatalan ulang oleh peradilan tata usaha negara. Putusan ini juga menuntut penataan administratif,
meliputi pembaruan register perizinan, pencabutan atau koreksi keputusan yang telah dinyatakan tidak sah, serta
penguatan koordinasi lintas-instansi seperti Dinas ESDM Provinsi, KLHK, KKP, hingga instansi pertanahan
untuk menyelaraskan implikasi sektoral terkait penataan ruang, perizinan lingkungan, dan kewajiban reklamasi.
Bagi status hukum IUP PT. Tambang Mas Sangihe, putusan Mahkamah Agung membawa konsekuensi
hilangnya keabsahan izin operasi produksi sebagai dasar legal kegiatan pertambangan. Izin tersebut dibatalkan
tidak hanya secara formal, tetapi juga secara substantif karena dinilai mengandung cacat dalam pemenuhan
prosedur partisipasi publik, pelibatan masyarakat adat dan kearifan lokal, serta ketidaksesuaian dengan
rekomendasi instansi teknis seperti KKP sebagaimana dipersyaratkan dalam regulasi lingkungan dan
pengelolaan wilayah pesisir. Akibatnya, izin yang telah dibatalkan tidak dapat diperbaiki melalui mekanisme
administratif biasa, sehingga pemulihan izin lama tidak dimungkinkan. Jika PT. Tambang Mas Sangihe
berkehendak melanjutkan kegiatan pertambangan, perusahaan harus mengajukan permohonan baru serta
memenuhi sepenuhnya persyaratan lingkungan, tata ruang, dan rekomendasi teknis yang relevan. Pembatalan
IUP ini juga berdampak pada keberlakuan kontrak karya sebagai instrumen investasi publik; meskipun kontrak
sebagai perjanjian perdata tetap ada, pelaksanaannya tidak dapat dijalankan tanpa dasar perizinan administratif
yang sah. Dengan demikian, kontrak karya kehilangan efektivitas operasionalnya hingga izin yang sesuai
diperoleh kembali melalui prosedur yang benar.
Referensi
1. Asep, M., A., Hilmi, M., N., A., Najmi, R. (2023). KEKUATAN EKSEKUTORIAL PUTUSAN PTUN (ANALISIS
PELAKSANAAN PUTUSAN PTUN PADA KASUS PERIZINAN PERTAMBANGAN PT. TMS). Jurnal Dinamika Hukum, 24(2).
[Link]
2. Agracecia, E., T., Yevanya, S., P., S. (2024). ANALISIS YURIDIS IZIN USAHA PERTAMBANGAN : STUDI KASUS
[Link] COAL MINING NOMOR PERKARA 241/G/LH/2018/[Link]. Jurnal Ilmiah Kajian Multidisipliner, 8(12).
2118-7302.
3. Caren, A., A., T.,S. (2024). TINJAUAN YURIDIS MENGENAI PENCABUTAN IZIN USAHA PERTAMBANGAN PADA
PERUSAHAAN TAMBANG. Jurnal Lex Privatum, 13(2).
4. Harahap, Y. (2004). Hukum Acara Perdata. Jakarta: Sinar Grafika
5. Ilyas, Sri Rahayu, Sahra Roba, & Sri Wahyuti. (2024). PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM PENERAPAN HUKUM
DAN KEARIFAN BUDAYA LOKAL PADA KEGIATAN USAHA PERTAMBANGAN DAN PERLINDUNGAN LINGKUNGAN
HIDUP. Ekasakti Jurnal Penelitian Dan Pengabdian, 4(2), 510–528. Retrieved from [Link]
[Link]/EJPP/article/view/1141
6. Lyandra Fadila Okta, Moh Muhibbin, and Noorhuda Muchsin. "Penetapan Pengadilan Agama Nomor 85/Pdt. P/2023/PA. Pn Tentang
Pertimbangan Hakim Menolak Permohonan Dispensasi Kawin." Dinamika, Vol. 30, No. 2, (2024), h. 10092.
7. Mertokusumo, S. (2009). Hukum Acara Perdata Indonesia. Yogyakarta: Liberty.
DOI: [Link]
Lisensi: Creative Commons Attribution 4.0 International (CC BY 4.0)
4115
Raras Santika Arianti, Deva Anasthalia, Lintang Savana, Keysya Aurelia Putri Zakiyyati, Moh. Imam Gusthomi
Journal of Artificial Intelligence and Digital Business (RIGGS) Volume 4 Nomor 4, 2025
8. Mukti Arto, (2004), Praktek Perkara Perdata pada Pengadilan Agama, cet. V, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
9. Sinaga, Niru Anita. (2019). Implementasi Hak Dan Kewajiban Para Pihak Dalam Hukum Perjanjian. Jurnal Ilmiah Hukum Dirgantara:
Fakultas Hukum Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma. Volume 10 No. 1. Hlm. 1. DOI: [Link]
10. Soleh, Mohammad Afifudin. (2018). Eksekusi Terhadap Putusan Pengadilan Tata Usaha Negara yang Berkekuatan Hukum Tetap.
Mimbar Keadilan Jurnal Ilmu Hukum. DOI: [Link]
11. Sriwahyu Ningsi Hengki, Fenty U. Puluhulawa, & Jufryanto Puluhulawa. (2023). Analisis Putusan Hakim Dalam Tindak Pidana
Lingkungan Hidup Oleh Korporasi. Jurnal Begawan Hukum (JBH), 2(1), 89–100. [Link]
12. Asshiddiqie, Jimly. Pengantar Ilmu Hukum Tata Negara. Jakarta: Konstitusi Press.
13. Hadjon, Philipus M. Pengantar Hukum Administrasi Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
14. Mahkamah Agung Republik Indonesia. Putusan Nomor 650 K/TUN/2022.
15. Rachman, Ilyas Ismail. “Tinjauan Yuridis Pencabutan Izin Usaha Pertambangan.” Jurnal Lex Privatum Vol. 10 No. 3 (UNSRAT).
16. Universitas Hasanuddin. “Implikasi Hukum atas Pencabutan Izin Usaha Pertambangan.” Tesis Pascasarjana, 2024.
DOI: [Link]
Lisensi: Creative Commons Attribution 4.0 International (CC BY 4.0)
4116