0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan28 halaman

Bab I Pendahuluan

Dokumen ini membahas pentingnya nutrisi ibu hamil, khususnya terkait Kekurangan Energi Kronik (KEK), yang memiliki dampak signifikan terhadap kesehatan ibu dan janin. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat pengetahuan ibu hamil mengenai gizi dengan kejadian KEK di Puskesmas Kota Palopo. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan program gizi yang lebih efektif dan mendukung pencapaian target kesehatan ibu dan anak.

Diunggah oleh

Nuraini Rani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan28 halaman

Bab I Pendahuluan

Dokumen ini membahas pentingnya nutrisi ibu hamil, khususnya terkait Kekurangan Energi Kronik (KEK), yang memiliki dampak signifikan terhadap kesehatan ibu dan janin. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat pengetahuan ibu hamil mengenai gizi dengan kejadian KEK di Puskesmas Kota Palopo. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan program gizi yang lebih efektif dan mendukung pencapaian target kesehatan ibu dan anak.

Diunggah oleh

Nuraini Rani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Nutrisi ibu hamil merupakan aspek krusial dalam kesehatan
masyarakat karena masa kehamilan termasuk dalam periode 1000 hari
pertama kehidupan yang sangat menentukan kualitas kesehatan ibu, janin,
serta tumbuh kembang anak di masa mendatang (Zhou & Xu, 2023). Pada
masa ini, kebutuhan gizi mencakup gizi makro yaitu energi, protein, lemak
serta karbohidrat, dan gizi mikro meningkat pesat untuk menunjang
pertumbuhan jaringan janin dan perubahan fisiologis tubuh ibu (Andarwulan
et al., 2022). Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menekankan bahwa
intervensi gizi pada periode ini memiliki dampak jangka panjang terhadap
kecerdasan, produktivitas, dan risiko penyakit tidak menular di kemudian hari
(Tomlinson et al., 2021). Oleh karena itu, perhatian terhadap status gizi ibu
hamil menjadi salah satu indikator penting keberhasilan program kesehatan
ibu dan anak di tingkat nasional maupun global.
Secara global, World Health Organization (WHO) melaporkan bahwa
malnutrisi pada ibu hamil baik berupa kekurangan energi, protein, maupun
mikronutrien seperti zat besi, asam folat, dan seng masih menjadi masalah
serius di negara maju maupun berkembang. Malnutrisi maternal tidak hanya
meningkatkan morbiditas dan mortalitas ibu, tetapi juga berkontribusi
terhadap tingginya angka kematian bayi serta anak di bawah lima tahun
(Bank & Organization, 2024). Dalam jangka panjang, bayi yang lahir dari ibu
dengan status gizi buruk memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan
pertumbuhan dan penyakit metabolik di usia dewasa (Akselrod et al., 2023).
Dengan demikian, peningkatan status gizi ibu hamil menjadi prioritas global
dalam upaya pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya
dalam menurunkan angka kematian ibu dan anak serta mencegah stunting
secara berkelanjutan (Heidkamp et al., 2021).

1
Salah satu masalah nutrisi yang penting adalah Kekurangan Energi
Kronik (KEK) atau Chronic Energy Deficiency (CED) pada ibu hamil, yaitu
kondisi ketika asupan energi dan/atau protein jangka panjang tidak
mencukupi kebutuhan tubuh selama kehamilan (Siregar et al., 2025).
Kekurangan Energi Kronis (KEK) pada ibu hamil merupakan kondisi gizi
kurang yang berlangsung dalam jangka waktu lama dan ditandai oleh
rendahnya cadangan energi tubuh (Meilinasari et al., 2024). Penilaian status
gizi ibu hamil dengan risiko KEK umumnya dilakukan melalui beberapa
indikator antropometri, yang paling utama adalah lingkar lengan atas (LILA)
(Rosadi & Setiawan, 2025). Ibu hamil dikategorikan mengalami KEK apabila
memiliki LILA kurang dari 23,5 cm, yang menunjukkan rendahnya cadangan
lemak dan massa otot akibat kekurangan energi dan protein dalam waktu
lama (Harna & Rahmawati, 2024). Selain itu, indeks massa tubuh (IMT) juga
digunakan untuk menilai status gizi sebelum kehamilan, di mana nilai IMT
< 18,5 kg/m² menunjukkan risiko KEK (Lorenza et al., 2025). Kenaikan berat
badan selama kehamilan yang tidak sesuai dengan usia gestasi, serta asupan
energi dan protein yang tidak mencukupi, dapat menjadi indikator tambahan
yang mendukung diagnosis KEK (Wati et al., 2024). Dengan demikian,
kombinasi antara pengukuran LILA, IMT, dan pemantauan berat badan
selama kehamilan memberikan gambaran komprehensif mengenai status gizi
ibu dan risiko terjadinya Kekurangan Energi Kronis. Dalam konteks negara
berkembang, KEK menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang
memerlukan pendekatan komprehensif melalui edukasi gizi dan intervensi
berkelanjutan (Siregar et al., 2025). Oleh karena itu, identifikasi dini dan
pemantauan status gizi ibu hamil merupakan langkah strategis dalam
menurunkan prevalensi KEK.
Data WHO tahun 2019 menunjukan prevalensi KEK pada kehamilan
berkisar antara 35% sampai 75% diseluruh dunia. Sedangkan di negara
berkembang, prevalensi ibu hamil kurang energi kronik (KEK) berkisar
antara 25% hingga 43,1% (Al Maeka & Kartasurya, 2025). Di Indonesia,
berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, prevalensi KEK

2
pada ibu hamil usia 15-49 tahun mencapai 17,3% (Ca et al., 2024).
Berdasarkan data laporan rutin tahun 2022 yang dikumpulkan dari 34
provinsi terdapat 283.833 ibu hamil dengan Lingkar lengan Atas (LILA) <
23,5 cm dari jumlah ibu hamil yang diukur LILA sebanyak 2.443.494 orang
(Kesmas, 2023). Sedangkan di Kota Palopo berdasarkan data Dinas
Kesehatan bahwa ibu hamil KEK tahun 2024 sebanyak 271 orang dan tahun
2025 bulan Januari sampaiAgustus berjumlah 189 orang.
Kekurangan Energi Kronis (KEK) pada ibu hamil merupakan salah
satu masalah gizi yang berdampak luas terhadap kesehatan ibu dan janin.
Kondisi ini dapat menimbulkan berbagai komplikasi, seperti anemia,
persalinan dengan komplikasi, kelahiran prematur, dan berat badan lahir
rendah (BBLR), yang selanjutnya meningkatkan risiko terjadinya stunting,
gangguan perkembangan, serta penurunan kemampuan kognitif pada anak
(Seid et al., 2023). Faktor penyebab KEK bersifat multifaktorial, meliputi
kemiskinan, pola konsumsi yang tidak seimbang, pengetahuan gizi yang
rendah, serta keterbatasan akses terhadap pelayanan kesehatan (Abubakar et
al., 2025; Wati et al., 2024). Di beberapa daerah pedesaan, masih
menganggap kebutuhan makan selama kehamilan sama dengan sebelum
hamil, padahal kekurangan energi dan protein selama masa kehamilan
berisiko menghambat pertumbuhan janin dan meningkatkan risiko komplikasi
kehamilan (Wati et al., 2024).
Dengan demikian, tema Kekurangan Energi Kronik (KEK) pada ibu
hamil menjadi salah satu isu strategis dalam upaya peningkatan kesehatan
maternal dan anak di Indonesia. Permasalahan ini menyentuh berbagai
dimensi, mulai dari hak kesehatan ibu dan anak, hingga kontribusinya
terhadap pencapaian target pembangunan berkelanjutan (SDGs) di bidang
kesehatan (Heidkamp et al., 2021). Intervensi yang tepat diharapkan dapat
menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu serta bayi, sekaligus
meningkatkan kualitas generasi mendatang. Upaya ini membutuhkan
kolaborasi lintas sektor antara tenaga kesehatan, pemerintah, dan masyarakat.
Salah satu pendekatan penting adalah dengan meningkatkan pengetahuan ibu

3
hamil tentang gizi dan kesehatan kehamilan sebagai langkah preventif
terhadap KEK. Oleh karena itu, penelitian tentang hubungan tingkat
pengetahuan ibu hamil dengan kejadian KEK menjadi sangat relevan untuk
mendukung kebijakan kesehatan berbasis bukti.
Prevalensi Kekurangan Energi Kronik (KEK) pada ibu hamil masih
tergolong tinggi meskipun berbagai program intervensi gizi telah
dilaksanakan. Upaya seperti pemberian tablet tambah darah, makanan
tambahan (PMT), pemantauan lingkar lengan atas (LILA), serta penyuluhan
gizi belum menunjukkan efektivitas optimal dalam menurunkan angka KEK,
yang mencerminkan adanya kesenjangan antara kebijakan nasional dan
implementasi di lapangan. Faktor sosial ekonomi, kebiasaan makan, dan
kualitas edukasi kesehatan menjadi determinan penting yang sering diabaikan
(Rosadi & Setiawan, 2025).
Meskipun program antenatal care (ANC) dan suplementasi gizi rutin
telah berjalan, tingkat pengetahuan ibu hamil tentang gizi, pola makan, dan
risiko nutrisi masih rendah, sehingga banyak yang belum memahami
pentingnya pemeriksaan kehamilan dan konsumsi makanan bergizi seimbang.
Rendahnya pengetahuan ini berimplikasi pada perilaku konsumsi yang tidak
sesuai dengan kebutuhan fisiologis kehamilan, di mana sebagian ibu masih
memegang tabu makanan yang menghambat pemenuhan nutrisi, hal tersebut
menunjukkan kuatnya pengaruh budaya terhadap pola makan dan risiko
defisiensi mikronutrien. Oleh karena itu, peningkatan pengetahuan gizi ibu
hamil melalui pendekatan edukatif yang sistematis, terintegrasi, dan
berkelanjutan dalam pelayanan ANC menjadi strategi kunci untuk
memperbaiki perilaku konsumsi dan menurunkan prevalensi KEK secara
efektif.
Selain faktor individu seperti pengetahuan dan perilaku, faktor-faktor
struktural juga memiliki peranan besar terhadap kejadian KEK pada ibu
hamil. Kondisi sosial ekonomi yang rendah sering kali menghambat
kemampuan ibu untuk membeli makanan bergizi atau mengakses layanan
kesehatan berkualitas. Selain itu, kehamilan yang terlalu sering atau jarak

4
kelahiran yang pendek dapat menguras cadangan energi tubuh ibu,
meningkatkan risiko KEK. Pendekatan multidimensional yang melibatkan
aspek edukasi, ekonomi, dan pelayanan kesehatan sangat diperlukan untuk
mengurangi prevalensi KEK secara berkelanjutan (Akbarini & Siswina,
2022). Strategi partisipatif dan berbasis komunitas perlu diterapkan guna
meningkatkan keterjangkauan, efektivitas, dan keberlanjutan program,
sehingga upaya penurunan angka KEK dapat berjalan lebih optimal dan
sesuai dengan konteks sosial masyarakat setempat.
Penelitian kuantitatif mengenai hubungan antara tingkat pengetahuan
ibu hamil sebagai variabel independen dan kejadian Kekurangan Energi
Kronik (KEK) sebagai variabel dependen masih relatif terbatas, padahal
variasi sosial, ekonomi, dan budaya di Indonesia sangat memengaruhi
bagaimana pengetahuan ibu diterapkan dalam perilaku konsumsi sehari-hari.
Pemahaman yang baik mendorong ibu untuk memilih makanan bergizi,
mematuhi anjuran gizi, dan memanfaatkan layanan kesehatan secara optimal,
sedangkan pengetahuan yang rendah dapat menyebabkan pola makan tidak
seimbang serta meningkatkan risiko KEK (Fitriani et al., 2024).
Meskipun berbagai program intervensi seperti antenatal care (ANC),
suplementasi gizi, dan penyuluhan telah berjalan, rendahnya pengetahuan gizi
serta kurangnya kesadaran untuk memanfaatkan layanan ANC secara teratur
masih menjadi hambatan utama dalam pencegahan KEK (Narra J, 2024).
Akses terhadap edukasi gizi dan layanan kesehatan yang berkualitas juga
berperan penting dalam menurunkan prevalensi KEK, menunjukkan bahwa
masalah ini tidak hanya bersumber dari faktor individu, tetapi juga dari faktor
struktural seperti ekonomi dan akses layanan (Anggriani Harahap, D. Afrinis.,
N., Lasepa, W. et al., 2025; Rachmi et al., 2024).
Berbagai temuan tersebut menegaskan bahwa pengetahuan ibu hamil
merupakan determinan penting dalam pencegahan KEK, namun sering kali
belum dijadikan fokus utama dalam penelitian kuantitatif. Sebagian besar
studi hanya menempatkan pengetahuan sebagai variabel sekunder tanpa
analisis mendalam terhadap pengaruhnya bersama faktor lain seperti

5
pendidikan, pendapatan, frekuensi ANC, dan pola makan. Padahal,
pemahaman ibu tentang kebutuhan gizi dan risiko KEK sangat berpengaruh
terhadap perilaku konsumsi dan status gizi selama kehamilan. Kurangnya
fokus terhadap variabel pengetahuan ini dapat mengaburkan pemahaman
mengenai akar penyebab KEK di tingkat masyarakat. Oleh karena itu,
penelitian dengan pendekatan empiris yang menempatkan pengetahuan
sebagai variabel utama sangat dibutuhkan untuk memberikan gambaran yang
lebih jelas tentang peran edukasi gizi dalam mencegah KEK.
Penelitian ini memiliki nilai strategis dalam memperkaya data ilmiah
dan memperkuat kebijakan kesehatan berbasis bukti (evidence based),
khususnya dalam perencanaan program gizi ibu hamil di tingkat daerah.
Dengan mengukur tingkat pengetahuan menggunakan instrumen yang relevan
dan menganalisis pengaruhnya terhadap kejadian KEK setelah
mempertimbangkan faktor pendidikan, ekonomi, frekuensi ANC, pola makan,
dan budaya pangan. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan
pemahaman kontekstual mengenai determinan KEK. Hasilnya dapat menjadi
dasar bagi pengembangan intervensi gizi yang lebih efektif, partisipatif, dan
sesuai karakteristik masyarakat setempat. Berdasarkan pertimbangan tersebut,
peneliti melakukan study pada ibu hamil KEK di Puskesmas Kota Palopo
yang mana hasil pengambilan data awal menunjukan bahwa prevalensi ibu
hamil KEK di Puskesmas Kota Palopo masih tinggi. Secara keseluruhan,
penelitian ini diharapkan berkontribusi terhadap peningkatan kualitas
program gizi kehamilan di tingkat lokal, penurunan prevalensi KEK, serta
mendukung pencapaian target kesehatan ibu dan anak, termasuk
pencegahan BBLR dan stunting, melalui penguatan edukasi gizi berbasis
pengetahuan ibu hamil.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka rumusan masalah
penelitian ini adalah sebagai berikut:

6
1. Bagaimana tingkat pengetahuan ibu hamil KEK mengenai gizi kehamilan
di wilayah Puskesmas Kota Palopo?
2. Bagaimana gambaran kejadian Kekurangan Energi Kronik (KEK) pada
ibu hamil di wilayah Puskesmas Kota Palopo?
3. Bagaimana hubungan antara tingkat pengetahuan ibu hamil dengan
kejadian KEK?
4. Seberapa besar pengaruh tingkat pengetahuan ibu hamil terhadap
kejadian KEK setelah dikontrol oleh faktor-faktor seperti pendidikan
formal, ekonomi rumah tangga, frekuensi ANC, dan pola konsumsi
pangan?

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum

2. Tujuan Khusus
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian
ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui tingkat pengetahuan ibu hamil mengenai gizi kehamilan di
wilayah [nama kabupaten/kota/provinsi Anda].
2. Menggambarkan prevalensi atau tingkat kejadian Kekurangan Energi
Kronik (KEK) pada ibu hamil di wilayah tersebut.
3. Menganalisis hubungan antara tingkat pengetahuan ibu hamil dengan
kejadian KEK.
4. Menganalisis pengaruh tingkat pengetahuan ibu hamil terhadap kejadian
KEK setelah mempertimbangkan faktor pendidikan formal, ekonomi
rumah tangga, frekuensi ANC, dan pola konsumsi pangan.

D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan
kontribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan di bidang gizi

7
masyarakat dan kesehatan ibu dan anak, khususnya dalam memahami
peran tingkat pengetahuan ibu hamil terhadap kejadian Kekurangan
Energi Kronik (KEK). Hasil penelitian ini dapat memperkaya literatur
mengenai hubungan antara faktor kognitif (pengetahuan) dengan status
gizi kehamilan dalam konteks lokal di Indonesia. Selain itu, temuan
empiris penelitian ini dapat digunakan sebagai dasar pengembangan
model edukasi gizi berbasis pengetahuan dan perilaku ibu hamil, yang
relevan untuk diterapkan dalam kebijakan kesehatan masyarakat.
2. Manfaat Praktis
Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan memberikan
manfaat sebagai berikut:
a. Menjadi dasar bagi Puskesmas, Dinas Kesehatan, dan program gizi
ibu hamil dalam menyusun strategi edukasi gizi yang lebih efektif
dan kontekstual.
b. Memberikan acuan bagi tenaga kesehatan (bidan, nutrisionis,
penyuluh) untuk menyesuaikan materi edukasi sesuai tingkat
pengetahuan ibu hamil.
c. Membantu pengambil kebijakan daerah dalam merancang intervensi
berbasis bukti untuk menekan angka KEK melalui peningkatan
pengetahuan dan perilaku gizi.
d. Menjadi referensi akademik bagi penelitian selanjutnya yang ingin
mengembangkan kajian kuantitatif terkait faktor determinan KEK
dan pengetahuan gizi ibu hamil.

8
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Teori Pengetahuan Ibu Hamil


1. Pengertian Pengetahuan
Pengetahuan (knowledge) merupakan hasil dari proses
penginderaan manusia terhadap suatu objek yang diperoleh melalui
pengalaman dan pembelajaran yang berlangsung terus-menerus.
Menurut Notoatmodjo (2012), pengetahuan adalah hasil tahu seseorang
setelah melakukan penginderaan terhadap suatu objek melalui
pancaindra, khususnya mata dan telinga. Informasi yang diterima melalui
pancaindra akan diolah di dalam otak, disimpan, dan kemudian dapat
digunakan untuk membentuk sikap maupun tindakan.
Secara kognitif, (Bloom (1956) dalam taksonominya
menempatkan pengetahuan sebagai salah satu ranah utama dalam domain
pembelajaran yang berhubungan dengan aspek intelektual, mulai dari
kemampuan mengingat, memahami, hingga mengevaluasi suatu
informasi. Pengetahuan merupakan dasar yang membentuk perubahan
sikap dan perilaku seseorang, terutama dalam konteks kesehatan.
Dalam konteks ibu hamil, pengetahuan mencakup pemahaman
tentang pentingnya gizi selama kehamilan, kebutuhan zat gizi makro dan
mikro, tanda bahaya kehamilan, serta cara mencegah komplikasi seperti
Kekurangan Energi Kronik (KEK). Pengetahuan yang baik
memungkinkan ibu untuk membuat keputusan gizi yang tepat,
memanfaatkan layanan kesehatan, dan menjaga keseimbangan konsumsi
pangan sehari-hari.
2. Teori yang Mendasari

9
Pengetahuan merupakan komponen kognitif yang berperan
penting dalam pembentukan perilaku kesehatan. Salah satu teori yang
menjelaskan hubungan antara pengetahuan dan perilaku adalah Teori
Perilaku Kesehatan (Health Belief Model / HBM). Menurut teori ini,
perilaku kesehatan seseorang dipengaruhi oleh persepsi individu terhadap
ancaman penyakit dan keyakinan akan manfaat dari tindakan pencegahan
yang dilakukan.
Dalam konteks ibu hamil, peningkatan pengetahuan tentang gizi
kehamilan dan risiko KEK dapat memperkuat persepsi terhadap manfaat
perilaku sehat (perceived benefit), meningkatkan kesadaran akan
kerentanan terhadap KEK (perceived susceptibility), dan menurunkan
hambatan untuk berperilaku sehat (perceived barrier). Khoramabadi et
al. (2015) serta Diddana et al. (2018) menunjukkan bahwa edukasi gizi
berbasis teori HBM mampu meningkatkan pengetahuan, sikap, dan
perilaku gizi ibu hamil secara signifikan, sehingga menurunkan risiko
KEK.
Dengan demikian, teori HBM menegaskan bahwa pengetahuan
merupakan tahap awal yang sangat penting dalam proses perubahan
perilaku gizi ibu hamil menuju praktik makan yang sehat dan seimbang.
3. Dimensi Pengetahuan Menurut Bloom
Menurut Bloom (1956), pengetahuan memiliki enam dimensi utama yang
mencerminkan jenjang kemampuan kognitif seseorang, yaitu:
a. Tahu (Knowledge)
Kemampuan mengingat kembali informasi yang telah dipelajari,
seperti pengertian KEK, fungsi zat gizi, dan tanda-tanda kekurangan
gizi.
b. Memahami (Comprehension)
Kemampuan menjelaskan makna suatu konsep, misalnya
menjelaskan hubungan antara gizi yang tidak seimbang dengan
risiko bayi lahir berat rendah (BBLR) dan stunting.
c. Aplikasi (Application)

10
Kemampuan menggunakan informasi yang telah dipelajari dalam
situasi nyata, contohnya menerapkan pola makan gizi seimbang
selama kehamilan.
d. Analisis (Analysis)
Kemampuan menguraikan suatu permasalahan menjadi bagian-
bagian penyebabnya, misalnya menganalisis faktor-faktor penyebab
KEK pada dirinya atau orang lain.
e. Sintesis (Synthesis)
Kemampuan menyusun atau merancang tindakan baru berdasarkan
informasi yang telah dipelajari, seperti menyusun rencana menu
harian yang bergizi seimbang.
f. Evaluasi (Evaluation)
Kemampuan menilai dan mengambil keputusan berdasarkan kriteria
tertentu, misalnya mengevaluasi kecukupan gizi atau menilai
manfaat konsumsi suplemen zat besi dan asam folat selama
kehamilan.
Dimensi ini penting digunakan untuk menilai sejauh mana pengetahuan
ibu hamil tidak hanya bersifat hafalan, tetapi juga sampai pada tingkat
pemahaman, penerapan, dan penilaian terhadap perilaku gizi yang benar.
4. Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2014), pengetahuan tidak terbentuk secara
spontan tetapi dipengaruhi oleh berbagai faktor internal dan eksternal.
Beberapa faktor yang memengaruhi tingkat pengetahuan ibu hamil antara
lain:
a. Pendidikan
Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, semakin mudah dalam
menerima dan memahami informasi kesehatan. Pendidikan formal
memengaruhi kemampuan kognitif dalam menyerap informasi
tentang gizi dan kesehatan kehamilan.
b. Usia

11
Tingkat kematangan usia dapat memengaruhi kemampuan berpikir
dan menilai informasi. Ibu yang berusia dewasa umumnya memiliki
kemampuan berpikir lebih rasional dan bijak dalam mengambil
keputusan gizi.
c. Sumber Informasi
Akses terhadap sumber informasi, seperti tenaga kesehatan, media
massa, internet, dan penyuluhan gizi, memengaruhi luas dan
kedalaman pengetahuan ibu tentang KEK.
d. Budaya dan Kepercayaan
Nilai-nilai budaya, kepercayaan lokal, serta tabu makanan tertentu
dapat memengaruhi cara ibu memaknai dan menerapkan
pengetahuan gizi.
e. Pengalaman Pribadi
Pengalaman kehamilan sebelumnya atau pengalaman melihat kasus
KEK pada lingkungan sekitar dapat meningkatkan kesadaran dan
pengetahuan ibu.
Temuan terbaru Nastiti et al. (2025) juga menegaskan bahwa selain
pendidikan dan sumber informasi, frekuensi interaksi dengan tenaga
kesehatan (melalui kunjungan ANC) dan dukungan keluarga berperan
penting dalam membentuk tingkat pengetahuan gizi ibu hamil, terutama
di wilayah pedesaan dengan keterbatasan akses informasi.
5. Indikator Variabel Pengetahuan Ibu Hamil
Berdasarkan teori dan hasil penelitian terdahulu, indikator untuk
mengukur tingkat pengetahuan ibu hamil tentang gizi kehamilan
meliputi:
a. Pengetahuan tentang kebutuhan gizi selama kehamilan, termasuk
jenis dan jumlah zat gizi makro (karbohidrat, protein, lemak) dan
mikro (zat besi, asam folat, kalsium).
b. Pengetahuan tentang risiko Kekurangan Energi Kronik
(KEK) dan dampaknya terhadap kehamilan, seperti risiko BBLR,
prematuritas, dan stunting.

12
c. Pengetahuan tentang pola konsumsi makanan bergizi seimbang,
termasuk keragaman pangan dan porsi makan harian.
d. Pengetahuan tentang pemeriksaan kehamilan (ANC), pentingnya
kontrol rutin, serta suplementasi zat gizi seperti tablet Fe dan asam
folat.
e. Pengetahuan tentang faktor risiko dan pencegahan komplikasi
gizi, seperti menghindari pantangan makanan yang tidak berdasar
dan meningkatkan asupan energi sesuai usia kehamilan.
Indikator tersebut dapat digunakan untuk mengembangkan instrumen
kuesioner pengetahuan ibu hamil yang reliabel dan valid dalam penelitian
kuantitatif mengenai hubungan antara tingkat pengetahuan dan kejadian
KEK.
B. Teori Kekurangan Energi Kronik (KEK)
1. Pengertian KEK
Kekurangan Energi Kronik (KEK) pada ibu hamil merupakan
salah satu masalah gizi utama di negara berkembang yang berdampak
besar terhadap kesehatan ibu dan janin. KEK didefinisikan sebagai
kondisi di mana tubuh mengalami defisit energi yang berlangsung lama
akibat ketidakseimbangan antara asupan energi dan kebutuhan tubuh,
terutama selama masa kehamilan. Menurut Kementerian Kesehatan RI
(2018), KEK pada ibu hamil secara operasional diidentifikasi
apabila Lingkar Lengan Atas (LILA) < 23,5 cm. Ukuran ini digunakan
karena mencerminkan cadangan lemak dan otot tubuh yang menjadi
indikator status energi jangka panjang.
Definisi ini juga sejalan dengan World Health Organization
(WHO, 2024) yang menegaskan bahwa KEK (Chronic Energy
Deficiency / CED) merupakan manifestasi kekurangan gizi makronutrien
(energi dan protein) yang terjadi secara kronik, sering kali disertai
kekurangan mikronutrien penting seperti zat besi dan asam folat. Kondisi
ini menggambarkan tidak hanya kekurangan pangan, tetapi juga

13
ketidakmampuan tubuh dalam memenuhi kebutuhan metabolik yang
meningkat selama kehamilan.
Dalam konteks kehamilan, kebutuhan energi meningkat sekitar
300–400 kkal per hari dibandingkan kondisi normal, dan jika kebutuhan
ini tidak terpenuhi secara berkelanjutan, tubuh ibu akan menggunakan
cadangan energi otot dan lemak, yang pada akhirnya menurunkan LILA
dan berat badan. Oleh karena itu, KEK menjadi indikator penting dalam
menilai status gizi ibu hamil yang berisiko mengalami komplikasi
obstetrik dan janin yang tumbuh tidak optimal.
2. Penyebab KEK
Penyebab KEK pada ibu hamil bersifat multifaktorial, mencakup faktor
biologis, sosial, ekonomi, dan perilaku. Berdasarkan Indriyani et al.
(2023), beberapa penyebab utama KEK antara lain:
a. Asupan energi dan protein yang rendah, baik karena ketersediaan
pangan terbatas maupun karena pola makan yang tidak seimbang.
Ibu hamil yang tidak mengonsumsi makanan sumber energi
(karbohidrat dan lemak) serta sumber protein hewani dan nabati
dalam jumlah cukup berisiko tinggi mengalami KEK.
b. Anemia dan infeksi kronik, seperti malaria, tuberkulosis, atau
infeksi saluran kemih, dapat mengganggu metabolisme dan
penyerapan zat gizi, memperparah kondisi kekurangan energi.
c. Jarak kehamilan yang pendek, terutama kurang dari dua tahun,
dapat mengakibatkan cadangan energi dan zat gizi tubuh belum pulih
dari kehamilan sebelumnya, sehingga meningkatkan risiko KEK
pada kehamilan berikutnya.
d. Pendidikan dan pengetahuan gizi yang rendah, menyebabkan ibu
kurang memahami pentingnya asupan gizi seimbang dan kebutuhan
energi tambahan selama kehamilan.
e. Status ekonomi rendah dan keterbatasan akses pangan bergizi,
yang berimplikasi pada rendahnya daya beli terhadap bahan pangan
bergizi seperti daging, telur, dan susu.

14
f. Faktor sosial budaya, termasuk pantangan makanan tertentu bagi
ibu hamil, juga dapat menghambat pemenuhan kebutuhan gizi
harian.
Selain itu, faktor lingkungan seperti sanitasi buruk dan kurangnya
dukungan keluarga dalam penyediaan makanan juga memperburuk
kondisi KEK. Kombinasi dari berbagai faktor ini menjadikan KEK
sebagai masalah kompleks yang memerlukan pendekatan
multidimensional untuk penanggulangannya.
3. Dampak KEK
Kekurangan Energi Kronik memiliki konsekuensi serius terhadap
kesehatan ibu, janin, dan bayi yang akan dilahirkan. Menurut Wati et al.
(2024), KEK berdampak langsung pada proses fisiologis kehamilan,
persalinan, dan pertumbuhan janin, baik dalam jangka pendek maupun
panjang. Dampak KEK dapat dibedakan menjadi dua kelompok besar:
a. Dampak pada Ibu
1) Anemia gizi besi, akibat rendahnya cadangan zat besi dan
protein untuk membentuk hemoglobin.
2) Persalinan lama (distosia), karena kekuatan otot rahim dan
energi ibu menurun.
3) Peningkatan risiko perdarahan postpartum, akibat kontraksi
uterus yang lemah.
4) Penurunan daya tahan tubuh, sehingga ibu mudah mengalami
infeksi.
5) Peningkatan risiko mortalitas maternal, terutama akibat
komplikasi obstetrik dan infeksi sekunder.
b. Dampak pada Janin dan Bayi
1) Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR), yang merupakan salah satu
dampak paling umum dari KEK.
2) Prematuritas, karena pertumbuhan janin yang tidak optimal
menyebabkan kelahiran lebih awal.

15
3) Stunting dan pertumbuhan terganggu, baik dalam kandungan
maupun pascakelahiran.
4) Peningkatan risiko kematian neonatal, karena bayi dengan
berat badan rendah memiliki daya tahan tubuh lemah.
Dampak jangka panjang dari KEK juga meliputi rendahnya kualitas
generasi mendatang, peningkatan risiko penyakit metabolik di usia
dewasa, serta penurunan produktivitas ekonomi. Oleh karena itu,
pencegahan KEK menjadi prioritas strategis dalam program kesehatan
ibu dan anak di tingkat nasional.
4. Indikator KEK
Dalam penelitian gizi masyarakat, pengukuran KEK pada ibu hamil
menggunakan berbagai indikator yang menggambarkan kondisi energi
tubuh dan asupan gizi. Berdasarkan pedoman Kementerian Kesehatan
RI (2018) dan literatur lain, indikator yang umum digunakan antara lain:
a. Lingkar Lengan Atas (LILA) < 23,5 cm, yang menunjukkan
bahwa ibu memiliki cadangan energi tubuh rendah dan berisiko
mengalami KEK. LILA dipilih karena relatif mudah diukur, tidak
dipengaruhi oleh usia kehamilan, dan mencerminkan status energi
kronik.
b. Indeks Massa Tubuh (IMT) < 18,5 kg/m², menggambarkan berat
badan yang tidak proporsional dengan tinggi badan dan
menunjukkan status gizi kurang.
c. Penurunan berat badan atau tidak adanya kenaikan berat
badan selama kehamilan, yang menandakan asupan energi tidak
mencukupi kebutuhan metabolik tubuh.
d. Asupan energi < 70% dari kebutuhan harian, berdasarkan
perhitungan kebutuhan energi total selama kehamilan (kebutuhan
dasar + tambahan kehamilan)
e. Frekuensi konsumsi makanan sumber karbohidrat, protein, dan
lemak yang tidak sesuai rekomendasi gizi seimbang, misalnya

16
konsumsi nasi tanpa lauk-pauk bergizi atau jarang mengonsumsi
makanan hewani.
Indikator-indikator ini penting digunakan dalam penelitian untuk
mengidentifikasi prevalensi KEK dan menguji hubungan dengan faktor-
faktor risiko seperti tingkat pengetahuan, pendidikan, dan pola makan ibu
hamil. Dengan pengukuran yang tepat, hasil penelitian dapat memberikan
dasar kuat bagi intervensi kebijakan dan edukasi gizi yang lebih efektif di
tingkat lokal maupun nasional.

C. Teori Hubungan Pengetahuan dan Status Gizi (KEK)


1. Teori Perilaku Kesehatan (Health Belief Model – HBM)
Teori Health Belief Model (HBM) pertama kali dikembangkan
oleh Rosenstock (1974) dan hingga kini menjadi salah satu kerangka
teoritis yang paling banyak digunakan dalam bidang promosi dan
pendidikan kesehatan. Teori ini menjelaskan bahwa seseorang akan
melakukan perilaku pencegahan atau perawatan kesehatan bila ia
memiliki persepsi tertentu terhadap ancaman penyakit dan manfaat
tindakan pencegahan tersebut. HBM menekankan bahwa perilaku
kesehatan tidak hanya dipengaruhi oleh pengetahuan, tetapi juga oleh
persepsi psikologis individu terhadap risiko, manfaat, dan hambatan
dalam bertindak.
Secara konseptual, HBM memiliki lima komponen utama:
a. Perceived Susceptibility (Kerentanan yang Dirasakan) – sejauh
mana seseorang menyadari dirinya berisiko terhadap penyakit atau
kondisi tertentu.
b. Perceived Severity (Keparahan yang Dirasakan) – sejauh mana
individu menilai tingkat bahaya dari penyakit tersebut terhadap
kesehatannya.
c. Perceived Benefits (Manfaat yang Dirasakan) – keyakinan bahwa
tindakan tertentu akan memberikan manfaat untuk menurunkan
risiko atau keparahan penyakit.

17
d. Perceived Barriers (Hambatan yang Dirasakan) – persepsi
individu terhadap hambatan fisik, ekonomi, sosial, atau psikologis
dalam melakukan tindakan kesehatan.
e. Cues to Action (Isyarat untuk Bertindak) – faktor internal
maupun eksternal yang memicu individu untuk mengambil tindakan,
seperti saran tenaga kesehatan, kampanye media, atau pengalaman
pribadi.
Dalam konteks Kekurangan Energi Kronik (KEK) pada ibu hamil, teori
ini sangat relevan. Pengetahuan ibu hamil tentang gizi dan risiko KEK
berperan penting dalam membentuk persepsi kerentanan (susceptibility)
dan keparahan (severity) terhadap dampak kekurangan gizi selama
kehamilan. Semakin baik pengetahuan ibu tentang risiko KEK seperti
kemungkinan melahirkan bayi berat lahir rendah (BBLR), stunting, dan
komplikasi kehamilan semakin tinggi kesadarannya untuk mengubah
perilaku makan.
Khoramabadi et al. (2015) dan Diddana et al.
(2018) menunjukkan bahwa edukasi gizi berbasis HBM efektif dalam
meningkatkan perilaku konsumsi pangan ibu hamil dan menurunkan
risiko KEK melalui peningkatan pengetahuan dan persepsi risiko.
Temuan terbaru dari Beressa et al. (2024) juga menegaskan bahwa
penerapan HBM dalam konseling gizi berpengaruh positif terhadap
kepatuhan ibu hamil dalam konsumsi makanan bergizi dan suplementasi
zat besi.
Dengan demikian, HBM memberikan dasar teoretis yang kuat
bahwa pengetahuan berperan sebagai precursor (pemicu awal) dari
pembentukan persepsi, sikap, dan perilaku yang pada akhirnya
memengaruhi status gizi ibu hamil.
2. Indikator Perilaku Gizi Ibu Hamil Berdasarkan HBM
Dalam penerapan teori Health Belief Model pada konteks KEK, perilaku
gizi ibu hamil dapat dianalisis berdasarkan beberapa indikator berikut:

18
a. Perceived Susceptibility (Kerentanan yang Dirasakan)
Kesadaran ibu hamil akan risiko mengalami KEK apabila pola
makan yang dikonsumsi tidak mencukupi kebutuhan energi dan
protein selama kehamilan.
b. Perceived Severity (Keparahan yang Dirasakan)
Pemahaman ibu hamil bahwa KEK dapat menyebabkan komplikasi
serius, seperti anemia, BBLR, prematuritas, bahkan kematian
maternal atau perinatal.
c. Perceived Benefits (Manfaat yang Dirasakan)
Keyakinan ibu bahwa menerapkan pola makan bergizi seimbang,
meminum tablet Fe, dan melakukan pemeriksaan kehamilan rutin
akan meningkatkan kesehatan dirinya dan janin.
d. Perceived Barriers (Hambatan yang Dirasakan)
Hambatan yang dihadapi ibu dalam menerapkan perilaku gizi sehat,
seperti keterbatasan ekonomi, preferensi rasa, kepercayaan budaya
(pantangan makan), serta kurangnya dukungan keluarga.
e. Cues to Action (Isyarat untuk Bertindak)
Faktor pendorong yang memotivasi ibu untuk bertindak, seperti
penyuluhan dari bidan, kampanye gizi, media sosial kesehatan,
maupun pengalaman pribadi terkait komplikasi gizi.
Penerapan indikator HBM ini membantu menjelaskan mengapa ibu hamil
dengan pengetahuan tinggi cenderung memiliki persepsi positif terhadap
manfaat perilaku sehat dan lebih mampu mengatasi hambatan dalam
pemenuhan gizi harian.

D. Hubungan Antar Variabel


1. Hubungan Pengetahuan Ibu Hamil dengan KEK
Pengetahuan merupakan unsur kognitif yang menjadi dasar
terbentuknya sikap dan perilaku seseorang. Dalam konteks kesehatan ibu
hamil, pengetahuan tentang gizi berperan penting dalam menentukan
perilaku konsumsi makanan, pemanfaatan pelayanan antenatal, serta

19
kepatuhan terhadap suplementasi gizi. Ibu hamil yang memiliki
pengetahuan gizi baik lebih mampu mengatur asupan energi dan protein
harian, memantau berat badan selama kehamilan, serta memahami
pentingnya kunjungan rutin ke fasilitas kesehatan.
Selain itu, pengetahuan juga berpengaruh terhadap pengambilan
keputusan konsumsi pangan dalam rumah tangga, seperti memilih
bahan makanan yang lebih bernilai gizi meskipun sederhana, serta
menghindari pantangan makanan yang tidak sesuai dengan rekomendasi
medis. Dengan demikian, pengetahuan berperan sebagai faktor protektif
terhadap risiko KEK.
Hasil penelitian Nurhamidi & Rifqa (2022) menunjukkan bahwa
pengetahuan gizi ibu hamil berhubungan signifikan dengan kejadian
KEK (p < 0,05). Penelitian tersebut menemukan bahwa ibu hamil dengan
tingkat pengetahuan baik memiliki kemungkinan 2,3 kali lebih rendah
untuk mengalami KEK dibandingkan ibu yang pengetahuannya rendah.
Temuan serupa dikemukakan oleh Abubakar et al. (2025), yang
melaporkan bahwa peningkatan skor pengetahuan gizi berkorelasi negatif
dengan risiko KEK, setelah dikontrol oleh variabel usia, pendidikan, dan
pendapatan rumah tangga.
Hubungan ini dapat dijelaskan secara konseptual melalui model
berikut: Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil → Perilaku Gizi Sehat →
Status Gizi (KEK). Model tersebut menggambarkan bahwa pengetahuan
berperan sebagai determinan awal (predisposing factor) yang
memengaruhi pembentukan perilaku gizi sehat. Semakin tinggi
pengetahuan ibu hamil mengenai kebutuhan gizi dan risiko KEK,
semakin besar kecenderungannya untuk melakukan perilaku konsumsi
yang sehat, sehingga menurunkan kemungkinan terjadinya KEK.
Secara teoritis, hubungan ini sejalan dengan Health Belief
Model yang menempatkan pengetahuan dan persepsi sebagai dasar
perubahan perilaku. Oleh karena itu, peningkatan pengetahuan ibu hamil
melalui edukasi gizi dan konseling antenatal diharapkan mampu

20
memberikan dampak positif terhadap status gizi ibu, serta mendukung
pencapaian target penurunan prevalensi KEK dan peningkatan kesehatan
maternal secara berkelanjutan.

E. Penelitian Terdahulu

No Nama Judul Jurnal / Metode Hasil Gap


Peneliti Penelitian Publikasi Penelitia Utama Penelitian
(Tahun) n
1 Oon Upaya Edukasi Mestaka, Kuantitat Edukasi Belum
Fatonah Ibu Hamil 2024 if pre- meningkatk menganalisis
Akbarini, Dalam (10.58184/ post an hubungan
Asmaurika Mengenali mestaka.v3i edukasi pengetahua pengetahuan
Pramuwidy Kurang Energi 4.345) n ibu dan dengan
a, L. Lepita Kronis (KEK) kemampuan kejadian
(2024) Melalui Faktor deteksi KEK secara
Risiko KEK. statistik
inferensial.
2 Deya Nadya The Jurnal Riset Cross- 72,8% ibu Tidak
Istiqomah, Relationship Pangan dan sectional hamil KEK menjelaskan
Yasir Between The Gizi, 2025 memiliki faktor
Farhat, Level of (10.31964/jr pengetahua pengganggu
Rahmani Nutritional - n gizi seperti
(2025) Knowledge... panzi.v6i2.2 rendah pendapatan
With The 26) (hubungan atau
Incidence of signifikan). pendidikan.
KEK
3 Maulidina Hubungan Jurnal Cross- Ada Belum
Humairoh, Pengetahuan, Ilmiah sectional hubungan menganalisis
Siti Aisyah Jarak Univ. signifikan pengaruh
Hamid, Kehamilan, dan Batanghari antara simultan
Rizki Paritas dengan Jambi pengetahua antar
Pratiwi Kejadian KEK (10.33087/ji n dan KEK variabel.
Amalia ubj.v23i2.3 (p=0.008).
(2023)
4 Sri Sulastri, Hubungan KEK MAHESA, Cross- Tidak bahas Tidak
Reni dan Tingkat 2023 sectional pengetahua menguji

21
Hariyanti, Pendidikan (10.33024/ n; fokus peran
Silvia dengan Kejadian mahesa.v3i KEK dan pengetahuan
Mariana Anemia 11.11252) anemia. dalam
(2023) kejadian
KEK.
5 Wahida Hubungan JGKI, 2022 Cross- Tidak ada Tidak
Putri, Pengetahuan, (10.37887/j sectional hubungan mendalamka
Lisnawaty, Pantangan gki.v1i3.23 pengetahua n aspek
Rizki Eka Makan, dan Pola 367) n dengan kualitas
Sakti (2022) Konsumsi KEK edukasi atau
terhadap KEK (p=0.564). akses
informasi.
6 Uswatun Hubungan MAHESA, Cross- Hubungan Tidak
Hasanah, Pendidikan dan 2023 sectional signifikan meneliti
Olivia Tri Pekerjaan (10.33024/ pekerjaan pengetahuan
Monica, dengan KEK mahesa.v3i dengan sebagai
Desy pada Ibu Hamil 8.10832) KEK; variabel
Susanti pendidikan kognitif
(2023) tidak. utama.
7 Angga Gambaran Jurnal Deskripti 69% ibu Hanya
Arsesiana, Pengetahuan Ibu Surya f berpengetah deskriptif
Ni Kadek Hamil tentang Medika uan kurang; tanpa uji
Diah (2022) KEK di (10.33084/j berpotensi hubungan
Puskesmas sm.v8i1.344 meningkatk statistik.
Pahandut 4) an KEK.
8 Ramadhani Factors Promotor, Cross- Ada Tidak menilai
S. Nasution, Affecting the 2024 sectional hubungan dimensi
Ika Susanti, Incidence of (10.32832/p signifikan pengetahuan
Zuraidah Chronic Lack ro.v7i3.736) antara spesifik (gizi
Nasution Energy (SEZ) in pengetahua makro/mikro)
(2024) Pregnant n dan KEK. .
Women
9 Ni Wayan Hubungan Jurnal Cross- Ada Tidak
Sueni Pengetahuan Ibu Medika sectional korelasi menjelaskan
(2025) Hamil Dengan Usada, 2025 signifikan pengaruh
Kejadian KEK (10.54107/ (p=0.03, faktor sosial
di Puskesmas medikausad r=0.647). ekonomi
Marga I a.v8i1.386) terhadap
Tabanan hubungan.
10 Rahayu G. Hubungan KEK Saintekes, Cross- KEK Tidak

22
Dwi dengan Stunting 2023 sectional berhubunga mengaitkan
Setyorini, pada Bayi Baru (10.55681/s n dengan faktor
Yessy N.I. Lahir aintekes.v2i stunting pengetahuan
Sary, Tutik 4.160) ibu.
H (2023)
11 Hasriantiris Relationship Jurnal Cross- Ada Tidak menilai
na (2023) Between Pelamonia sectional hubungan faktor
Knowledge and Makassar, signifikan perilaku
the Incidence of 2023 antara pendukung
KEK in (10.56338/j pengetahua (makan,
Pregnant php.v3i1.41 n dan KEK ANC).
Women 67) (p=0.043).
12 Lely Analysis of JKM Cross- Faktor Tidak
Sulistianing Factors Related Malahayati, sectional signifikan: meneliti
rum, to CED in 2024 paritas, aspek edukasi
Amrina Pregnant (10.33024/j infeksi; atau perilaku
Octaviana, Women km.v10i8.1 pengetahua gizi.
Risneni 6928) n tidak
(2024) dikaji.
13 Nadila Pengetahuan Ibu Deleted Cross- Hubungan Tidak
Safirah Hamil dengan Journal sectional signifikan menjelaskan
Alim, Andi Kejadian KEK (10.32382/ (p=0.018; konteks
Syintha Ida, di Puskesmas mkeb.v3i1.7 OR=182). sosial dan
Ros Antang 44) intervensi
Rahmawati Perumnas edukasi.
(2024)
14 Leony Faktor-Faktor Jurrike, Cross- Tidak ada Tidak
Lorenza, yang 2025 sectional hubungan menganalisis
Usi Lanita, Berhubungan (10.55606/j pengetahua variabel
Silvia M. dengan KEK urrike.v4i1. n dan KEK intervening
Perdana pada Ibu Hamil 4428) (p=0.359). seperti
(2025) perilaku gizi.
15 Ida Sumiati, Meta Analysis: IJSRP, 2020 Meta- Faktor Tidak
Nia Kania, Risk Factors (10.29322/I analisis utama: usia, menganalisis
Syamsul Related to KEK JSRP.11.01. pendidikan, variabel
Arifin in Pregnant 2021.P1097 pekerjaan. pengetahuan
(2020) Women 5) sebagai
faktor
dominan.
16 Miftakhul Hubungan Jurnal Cross- Hubungan Belum

23
Zanah, Pengetahuan Kesehatan sectional signifikan menjelaskan
Prasetyanin dan Sikap Jompa, pengetahua interaksi
gsih (2025) dengan KEK 2025 n–KEK sikap dan
pada Ibu Hamil (10.57218/j (p=0.024). perilaku
kj.vol4.iss1) konsumsi.
17 Aisyah Hubungan Jurnal Cross- Hubungan Belum
Vitariani Antara Tingkat Ilmiah sectional signifikan; menilai
Garendi, Pengetahuan Ibu Kedokteran mayoritas sumber
Selvia, Sitti Dengan dan pengetahua informasi dan
Nur Intang Kejadian KEK Kesehatan, n cukup akses
(2023) 2023 (43,34%). edukasi.
(10.55606/k
linik.v2i2.1
278)
18 Endah Faktor yang Surya Cross- Pengetahua Tidak
Mulyani, Mempengaruhi Medika, sectional n menjelaskan
Luluk KEK pada Ibu 2020 berhubunga dimensi
Yuliati, Hamil (10.32504/s n signifikan kognitif
Diani O. m.v16i2.47 (p=0.012). (pemahaman,
Handajani 5) aplikasi).
(2020)
19 Esti YulianiKnowledge, Majalah Cross- Pengetahua Belum
(2023) Education, and Obstetri dan sectional n signifikan mengukur
Information Ginekologi terhadap efektivitas
Affect Chronic Surabaya, KEK intervensi
Energy 2023 (Exp(B)=2. edukatif.
Deficiency (10.20473/ 677).
among Pregnant mog.v31i12
Mothers 023.1-10)
20 Meliani S. Pembelajaran Jurnal Sago Kuasi- Kelas ibu Tidak
Harahap, Kelas Ibu Hamil Gizi dan eksperim meningkatk meneliti
Lina Mar terhadap Kesehatan, en an dampak
Lina, Nora Pengetahuan 2023 pengetahua langsung
Veri (2023) dan Sikap (10.30867/g n dan sikap terhadap
tentang ikes.v4i2.11 positif. kejadian
Pencegahan 76) KEK.
KEK

24
DAFTAR PUSTAKA

Abubakar, N., Safitri, R., & Keswara, N. W. (2025). The Relationship Between
Pregnant Women’s Knowledge About Pregnancy Nutrition and the Incidence
of Chronic Energy Deficiency (CED).
Akbarini, O. F., & Siswina, T. (2022). Factors affecting the incidence of chronic
energy deficiency ( CED ) in pregnant women. 10(5).
Akselrod, S., Banerjee, A., Collins, T. E., & Acharya, S. (2023). Integrating
maternal, newborn, child health and non-communicable disease care in the
Sustainable Development Goal era. Frontiers in Public Health, 11.
[Link]
fpubh.2023.1183712/full
Al Maeka, S. M., & Kartasurya, M. I. (2025). Impact of Maternal Chronic Energy
Deficiency on Newborns in Developing Countries: A Scoping Review.
Journal of Health and Nutrition Science, 12(2).
[Link]
Andarwulan, S., Anjarwati, N., Alam, H. S., Aryani, N. P., Afrida, B. R.,
Bintanah, S., Citrawati, N. K., Erlinawati, N. D., Susilawati, D., Arlym, L.
T., Jauharany, F. F. C. K., & Nilakesuma, N. F. (2022). Gizi Pada Ibu Hamil
(M. Martini (Ed.)). CV. Media Sains Indonesia.
Anggriani Harahap, D. Afrinis., N., Lasepa, W., & A. F. F., Women, P., In, L.,
Areas, R., & Study, B. (2025). Manarang PREGNANT WOMEN LIVING
IN RURAL AREAS , INDONESIA : A COMMUNITY. 11(April), 118–124.
Bank, W., & Organization, W. H. (2024). Investment Framework for Nutrition
2024. World Bank Group.
[Link]
a1433ec08ab9/download

25
Ca, R. H., Dewi, V. K., Hipni, R., & Kirana, R. (2024). Jurnal Kebidanan Bestari ,
Volume 8 ( 1 ), Tahun 2024 . EISSN : 2656-2251 Available online at :
[Link] Faktor Yang
Berhubungan Dengan Kejadian Kekurangam Energi Kronik ( KEK ) Pada
Ibu Hamil Di Wilayah Kerja Puskesmas Martapura 1 ( Factors Associated
With Chronic Energy Deficiency ( CED ) In Pregnant Women In The
Working Area Of Martapura 1 Health Center ) Abstrak Kekurangan Energi
Kronik merupakan salah satu gangguan gizi pada ibu hamil yang paling
sering terjadi adalah Kurang Energi Kronik ( KEK ). Kekurangan energi
kronik pada ibu hamil merupakan kondisi dimana ibu kurangnya protein dan
energi selama kehamilan sehingga dapat mengakibatkan gangguan kesehatan
pada ibu dan janin ( Teguh , dkk . 2019 : 507 ). Menurut World Health
Organization ( 2020 ) melaporkan terdapat 287 . 000 perempuan saat hamil
dan melahirkan pada tahun 2020 , hal ini menunjukkan bahwa angka
kematian ibu masih sangat tinggi . Kematian ibu menyumbang sekitar 95 %
dari seluruh di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah ke bawah
. Sekitar 808 wanita di seluruh dunia meninggal setiap hari akibat komplikasi
terkait kehamilan atau persalinan . Anemia dan KEK selama kehamilan
merupakan penyebab 40 % kematian ibu di negara-negara berkembang
( Susanti , dkk . 2024 : 67 ). Ibu hamil yang beresiko terkena KEK dapat
mengalami berbagai masalah baik pada ibu maupun janinnya . Kurang energi
kronis pada ibu hamil juga dapat diartikan sebagai keadaan dimana ibu
mengalami kekurangan protein dan energi selama kehamilan , sehingga dapat
menimbulkan gangguan kesehatan baik bagi ibu maupun janinya ( Herawati ,
dkk . 2024 : 518 ). Meningkatnya angka kejadian KEK pada ibu hamil
dipengaruhi oleh berbagai faktor yang terjadi pada ibu hamil . Kekurangan
energi kronik pada ibu hamil dapat disebabkan karena faktor karakteristik ibu
hamil ( Suryani , dkk . 2021 : 312 ). Menurut Simbolon ( 2018 dalam Susanti
, 2024 ), menyatakan bahwa faktor- faktor yang mempengaruhi KEK
diantaranya sosial ekonomi yang meliputi pendapatan keluarga , pendidikan
ibu , pengetahuan ibu , faktor biologis yang meliputi usia ibu hamil , paritas ,

26
jarak kehamilan , serta faktor lain yang meliputi riwayat penyakit infeksi dan
Asupan makan . Data WHO tahun 2019 menunjukkan bahwa prevalensi
KEK pada kehamilan berkisar antara 35 % sampai 75 % di seluruh dunia .
Kejadian di negara berkembang. 8(1), 11–20.
Fitriani, F., Yarmaliza, Y., & Farisni, T. N. (2024). Analyzing the level of
knowledge, food consumption diversity, and nutritional intake on chronic
energy deficiency among pregnant women in stunting prevention.
Harna, H., & Rahmawati, R. (2024). Prevalence and Determinant Factors of
Chronic Energy Deficiency (CED) in Pregnant Women. Jurnal Gizi Dan
Pangan. [Link]
Heidkamp, R. A., Piwoz, E., Gillespie, S., & Keats, E. C. (2021). Mobilising
evidence, data, and resources to achieve global maternal and child
undernutrition targets and the Sustainable Development Goals: an agenda for
action. The Lancet, 397(10282), 1400–1418. [Link]
6736(21)00568-7
Kesmas, D. (2023). Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)
Tahun 2022. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
[Link]
Lorenza, L., Lanita, U., Perdana, S. M., Asparian, A., & Siregar, S. A. (2025).
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kekurangan Energi Kronik (KEK)
pada Ibu Hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Putri Ayu Kota Jambi. Jurnal
Riset Rumpun Ilmu Kedokteran, 4(1), 61–71.
[Link]
Meilinasari, M., Marbun, R. M., & Sa’diah, M. K. (2024). The Relationship
Between Energy, Nutrient Intake, And Occupational Status With Chronic
Energy Deficiency (CED) In Pregnant Women. Jurnal Manajemen Pelayanan
Kesehatan. [Link]
narra j. (2024). 1–8.
Rachmi, R., Marjan, A. Q., Sufyan, D. L., & Wahyuningsih, U. (2024). Factors
Affecting Chronic Energy Deficiency among Pregnant Women in East Nusa
Tenggara Province , Indonesia. 19(28), 95–104.

27
Rosadi, D., & Setiawan, M. I. (2025). Factors Associated with Chronic Energy
Deficiency ( CED ) in Pregnant Women : An Analysis of the 2018
Indonesian Basic Health Survey ( Riskesdas ) Data for. 1–10.
[Link]
Seid, A., Dugassa Fufa, D., Weldeyohannes, M., Tadesse, Z., Fenta, S. L., Bitew,
Z. W., & Dessie, G. (2023). Inadequate dietary diversity during pregnancy
increases the risk of maternal anemia and low birth weight in Africa: A
systematic review and meta-analysis. Food Science and Nutrition, 11(7),
3706–3717. [Link]
Siregar, N., Indriasari, R., Salmah, U., Jafar, N., Arsyad, M., Sudirman, J., Hadi,
A. J., Ahmad, H., Sani, H. A., & Harahap, H. (2025). Interventions Of
Chronic Energy Deficiency (Ced) In Pregnant Women: A Review OfCurrent
Evidance. The Review of Diabetic Studies, 12–20.
Tomlinson, M., Skeen, S., Hunt, X., Desmond, C., Morgan, B., Murray, L.,
Cooper, P. J., Rathod, S. D., Marlow, M., & Fearon, P. (2021). First 1 , 000
days : enough for mothers but not for children ? Long-term outcomes of an
early intervention on maternal depressed mood and child cognitive
development : follow-up of a randomised controlled trial.
[Link]
Wati, E. K., Murwani, R., Kartasurya, M. I., & Sulistiyani, S. (2024).
Determinants of chronic energy deficiency (CED) incidence in pregnant
women: A cross-sectional study in Banyumas, Indonesia.
Zhou, Y., & Xu, Y. (2023). Nutrition and Metabolism in the First 1000 Days of
Life. In Nutrients (Vol. 15, Issue 11). [Link]

28

Anda mungkin juga menyukai