Bab Ii Tinjauan Pustaka: Drainage
Bab Ii Tinjauan Pustaka: Drainage
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Umum
2.2. Drainase
2.2.1 Pengertian Drainase
Kata drainase berasal dari bahasa Inggris drainage yang berarti menguras,
membuang, mengalirkan atau mengalirkan air. Sedangkan drainase secara umum
diartikan sebagai suatu tindakan teknis untuk meminimalisir kelebihan air, baik
yang berasal dari rembersan, air hujan, maupun kelebihan air irigasi dari suatu
daerah dan atau lahan sehingga fungsi kawasan tersebut tidak terganggu. Drainase
dapat juga didefinisikan sebagai usaha untuk mengatur kualitas air tanah dalam
kaitannya dengan salinitas. Oleh karena itu, drainase tidak hanya terkait air
permukaan tetapi juga air tanah (Suripin, 2004).
Kiat drainase dulu adalah untuk membuang limpasan air hujan secepat
mungkin dengan jalur sependek mungkin. Pada saat ini kiat drainase digolongkan
menjadi 2 golongan, yaitu (Hardjosuprapto, 1998):
Bangunan sistem drainase terdiri dari badan air penerima (receiving water),
saluran induk (main drain), saluran pembawa (conveyor drain), saluran pengumpul
(collector drain) dan saluran penerima (interceptor drain). Selain itu di sepanjang
sistem drainase sering dijumpai bangunan lainnya, seperti stasiun pompa, bangunan
terjun, pelimpah, siphon, gorong-gorong (Suripin, 2004).
3. Menurut konstruksi
Jenis kontruksi drainase yang dibuat perlu diketahui terlebih dahulu dalam
merancang sebuah drainase, berikut ini adalah jenis drainase menurut
konstruksinya:
a. Saluran tertutup, yakni saluran yang konstruksi bagian atasnya tertutup
dan saluran ini tidak berhubungan dengan udara luar. Saluran ini sering
Institut Teknologi Nasional
11
digunakan untuk aliran air kotor atau untuk saluran yang terletak di
tengah kota.
b. Saluran terbuka, yakni saluran yang konstruksi bagian atasnya terbuka
dan berhubungan dengan udara luar. Saluran ini lebih sesuai untuk
drainase hujan yang terletak di daerah yang mempunyai luasan yang
cukup, ataupaun drainase non-hujan yang tidak membahayakan
kesehatan/ mengganggu lingkungan.
4. Menurut fungsi drainase
Drainase berfungsi mengalirkan air dari tempat yang tinggi ke tempat yang
rendah, berikut ini jenis drainase menurut fungsinya :
a. Multi Purpose
Multi Purpose yaitu saluran yang berfungsi mengalirkan beberapa jenis
air buangan baik secara bercampur maupun bergantian, misalnya
mengalirkan air buangan rumah tangga dan air hujan secara bersamaan.
b. Single Purpose
Single Purpose yaitu saluran yang berfungsi mengalirkan satu jenis air
buangan, misalnya air hujan saja atau jenis air buangan yang lain.
Drainase mikro ini direncanakan untuk hujan dengan masa ulang 2, 5 atau
10 tahun tergantung pada tata guna lahan yang ada.
2. Sistem Drainase Mayor
Sistem drainase mayor yaitu sistem saluran atau badan air yang menampung
dan mengalirkan air dari suatu daerah tangkapan air hujan (Catchment
Area). Sistem drainase mayor ini umumnya disebut juga sebagai sistem
saluran pembuangan utama (major system) atau drainase primer. Sistem
jaringan ini menampung aliran yang berskala besar dan luas seperti saluran
drainase primer, kanal-kanal atau sungai-sungai. Perencanaan drainase
makro ini umumnya dipakai dengan periode ulang antara 5 sampai 10 tahun
dan pengukuran topografi yang detail mutlak diperlukan dalam perencanaan
sistem drainase ini.
1. Memenuhi kebutuhan dasar (basic need) drainase bagi kawasan hunian dan
kota.
2. Menunjang kebutuhan pembangunan (development need) dalam menunjang
terciptanya skenario pengembangan kota untuk kawasan andalan dan
menunjang sektor unggulan yang berpedoman pada Rencana Umum Tata
Ruang Kota. Sedangkan arahan dalam pelaksanaannya adalah :
a. Mengalirkan air hujan ke badan sungai yang terdekat.
b. Memanfaatkan semaksimal mungkin saluran yang ada.
c. Pelaksanaannya tidak menimbulkan dampak sosial yang berat.
d. Jaringan drainase harus mudah pengoperasian dan pemeliharaannya.
e. Harus dapat diatasi dengan biaya ekonomis.
f. Dapat dilaksanakan dengan teknologi sederhana.
3. Penataan sistem jaringan drainase primer, sekunder dan tersier melalui
normalisasi maupun rehabilitasi saluran guna menciptakan lingkungan yang
aman dan baik terhadap genangan, luapan sungai, banjir kiriman, maupun
hujan lokal. Berdasarkan masing-masing jaringan dapat didefinisikan
sebagai berikut :
a. Jaringan primer merupakan saluran yang memanfaatkan sungai dan
anak sungai.
b. Jaringan sekunder merupakan saluran yang menghubungkan saluran
tersier dengan saluran primer (dibangun dengan beton/plesteran
semen).
c. Jaringan tersier merupakan saluran untuk mengalirkan ke saluran
sekunder, berupa plesteran, pipa dan tanah.
1. Jaring-jaring
Pola jaringan drainase jaring-jaring memiliki saluran-saluran pembuang
yang mengikuti arah jalan raya dan cocok untuk daerah dengan topografi
datar. Pola jaringan drainase jaring-jaring dapat dilihat pada Gambar 2.3
sebagai berikut.
2. Radial
Pola jaringan drainase radial ada pada daerah berbukit, sehingga pola
saluran memencar ke segala arah dan dapat dilihat pada Gambar 2.4
sebagai berikut.
3. Grid Iron
Pola jaringan drainase grid iron diperuntukkan untuk daerah yang dimana
sungainya terletak di pinggir kota, sehingga saluran-saluran cabang
dikumpulkan dahulu pada saluran pengumpulan. Pola jaringan drainase grid
iron dapat dilihat pada Gambar 2.5 sebagai berikut.
4. Pararel
Pola jaringan drainase paralel saluran utamanya terletak sejajar dengan
saluran cabang, dengan saluran cabang (sekunder) yang cukup banyak dan
pendek-pendek. Apabila terjadi perkembangan kota, saluran-saluran akan
Institut Teknologi Nasional
15
dapat menyesuaikan diri. Pola jaringan drainase pararel dapat dilihat pada
Gambar 2.6. sebagai berikut.
5. Siku
Pola jaringan drainase siku dibuat pada daerah yang mempunyai topografi
sedikit lebih tinggi dari pada sungai. Sungai sebagai saluran pembuang akhir
berada akhir berada di tengah kota. Pola jaringan drainase siku dapat dilihat
pada Gambar 2.7. sebagai berikut.
6. Alamiah
Pola jaringan drainase alamiah sama seperti pola jaringan drainase siku.
Perbedaannya hanya pada beban sungai pada pola alamiah lebih besar yang
lebih besar daripada pola siku. Pola jaringan drainase alamiah dapat dilihat
pada Gambar 2.8
1. Prinsip Pengaliran
Sistem drainase yang direncanakan dapat memberikan suatu hasil yang
memuaskan atau sesuai dengan yang diharapkan dengan
mempertimbangkan dan memperhatikan beberapa faktor sebagai berikut :
a. Pada daerah tertentu dilengkapi oleh perlengkapan drainase. Untuk
jenis perlengkapan drainase disesuaikan dengan kebutuhan yang
meliputi street inlet, gorong-gorong, transition, terjunan, dll.
b. Langkah untuk menghindari terjadinya penggerusan pada konstruksi
saluran air hujan maka kecepatan aliran di saluran tidak boleh terlalu
tinggi, serta tidak boleh terlalu rendah agar tidak terjadi pengendapan.
Kemiringan saluran pada daerah yang kondisi permukaan tanahnya
terjal maka dasar saluran drainase didasarkan atas kecepatan maksimum
yang diijinkan, sedangkan untuk yang kemiringnnya kecil diusahakan
untuk mengikuti permukaan tanah. Daerah yang tanahnya relatif datar
didasarkan atas kecepatan minimum yang diijinkan untuk terjadinya
swa-bersih (self cleansing).
c. Limpasan air hujan pada awal saluran hendaknya ditahan/disumbat agar
kesempatan untuk terjadinya infiltrasi supaya maksimal, sehingga debit
limpasan ke hilir saluran dan dimensi saluran berkurang. Selain itu juga
berfungsi untuk konservasi air tanah.
d. Untuk menghindari terjadinya luapan (over load) pada saluran, air yang
masuk ke saluran air hujan harus secepatnya mencapai badan air
penerima.
e. Membagi saluran menjadi beberapa kelas seperti :
- Saluran Tersier ADAS ≤ 5 Ha, termasuk saluran tepi jalan.
- Saluran Sekunder 5-100 Ha, termasuk saluran irigasi dan sungai
kecil.
- Saluran Primer > 100 Ha, untuk sungai yang besar dan merupakan
badan air penerima.
2. Daerah Perencanaan
Daerah perencanaan merupakan luas wilayah yang direncanakan dan
diperhitungkan untuk perancangan sistem drainase baik secara mikro
maupun makro. Penentuan debit pengaliran pada daerah perencanaan
dipermudah dengan membuat blok-blok daerah pelayanan sehingga
penentuan dimensi seluruhnya dapat diketahui perhitungannya. Dalam
penentuan blok pelayanan ini harus memperhatikan keadaan tinggi tanah,
jalan-jalan yang ada, ruang yang tersedia, besarnya aliran alaminya, besar
kontribusi daerah serta keseragaman dimensi saluran.
3. Parameter Dasar Sistem Perencanaan
Dalam menentukan arah jalur air hujan yang direncanakan terdapat batasan-
batasan yang harus diperhatikan diantaranya sebagai berikut:
a. Menghindari banyaknya perlintasan saluran pada jalan, sehingga
menghindari penggunaan gorong-gorong.
b. Pemanfaatan sungai atau anak sungai sebagai badan air penerima dari
outfall yang direncanakan.
c. Arah pengaliran dalam saluran sebaiknya mengikuti garis ketinggian,
sehingga air yang dapat mengalir secara gravitasi, dengan demikin
dapat menghindari pemompaan.
Sistem peresapan buatan seperti sumur, bidang dan parit rembesan adalah
salah satu alternatif yang dapat diusulkan untuk menangani masalah seperti
bencana banjir yang banyak melanda daerah perkotaan serta masalah krisis
air tanah yang terjadi pada waktu musim kemarau. Pembuatan sistem
rembesan buatan dapat dipengaruhi beberapa hal, diantaranya :
- Kemiringan tanah
- Higrologi
- Hidrogeologi
- Luas bidang tanah
- Koefisien infiltrasi
- Jenis tanah,dll
umum yang harus dipenuhi dalam tata cara perencanaan sistem drainase adalah
sebagai berikut:
c. Tipologi kota/wilayah
Tipologi kota mempengaruhi beberapa aspek dalam sistem drainase
perkotaan diantaranya yaitu luasan daerah tangkapan air dan besaran
limpasan air yang terjadi. Kota metropolitan dan kota besar
penduduknya padat dan daerah huniannya tidak mempunyai daerah
resapan air, akibatnya limpasan hujan (run off) akan menjadi lebih
besar. Besarnya kota maka akan semakin besar pula aktifitas
perekonomiannya, apabila daerah itu aktifitasnya terhambat oleh
adanya banjir/genangan, maka semakin besar pula kerugian
ekonominya, oleh sebab itu kota metropolitan dan kota besar sebaiknya
direncanakan mempunyai kejadian banjir/genangan dengan waktu kala
ulang yang panjang.
d. Kondisi lingkungan, sosial, ekonomi, dan kearifan lokal
Partisipasi masyarakat yang berbasis pada kearifan lokal.
e. Konservasi air
Perencanaan sistem drainase harus memperhatikan kelestarian
lingkungan hidup perkotaan terkait dengan ketersediaan air tanah
maupun air permukaan. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya
konservasi air agar ketersediaan air tanah dan air permukaan tetap
terjaga.
(interflow). Sebagian akan turun dan masuk ke dalam air tanah yang sedikit demi
sedikit dan masuk ke dalam sungai sebagai aliran bawah tanah (groundwater flow)
(Soemarto, 1995).
bendung, bangunan pelimpah, tanggul penahan banjir, dan sebagainya. Ukuran dan
karakter bangunan-bangunan tersebut sangat tergantung dari tujuan pembangunan
dan informasi yang diperoleh dari analisis hidrologi. Sebelum informasi yang jelas
tentang sifat-sifat dan besaran hidrologi diketahui, hampir tidak mungkin dilakukan
analisis untuk menetapkan berbagai sifat dan besaran hidrauliknya. Demikian juga
pada dasarnya bangunan- bangunan tersebut harus dirancang berdasarkan suatu
standar perancangan yang benar sehingga diharapkan akan dapat menghasilkan
rancangan yang memuaskan (Soemarto, 1995).
Dalam kaitannya dengan analisis hujan, maka ada 5 besaran pokok yang
perlu dikaji dan dipelajari, yaitu (Soemarto, 1995):
b. Lama waktu atau durasi (t), adalah lamanya curah hujan terjadi dalam menit
atau jam.
c. Luas, adalah daerah tangkapan curah hujan (A), dalam km2
d. Intensitas (i), adalah laju curah hujan yaitu tinggi air persatuan waktu,
misalnya mm/menit, mm/jam, mm/hari.
e. Tinggi hujan (d), adalah banyaknya atau jumlah hujan yang dinyatakan
dalam ketebalan air di atas permukaan datar, dalam mm.
Data curah hujan yang hilang dapat diestimasi apabila disekitarnya terdapat
stasiun penakar hujan (minimal 2 stasiun) yang lengkap datanya atau stasiun
penakar yang datanya hilang diketahui hujan rata-rata tahunnya (Soewarno, 1995)..
Menghadapi keadaan ini, terdapat dua langkah yang dapat dilakukan yaitu:
1. Membiarkan saja data yang hilang tersebut, karena dengan cara apapun data
tersebut tidak akan diketahui dengan tepat.
Institut Teknologi Nasional
26
Salah satu metode yang dapat digunakan untuk menghitung data curah hujan
yang hilang yaitu metode rata-rata aljabar. Metode rata-rata aljabar adalah metode
yang paling praktis digunakan untuk mencari data curah hujan yang hilang.
Pengukuran yang dilakukan di beberapa stasiun dalam waktu yang bersamaan
dijumlahkan dan kemudian dibagi dengan jumlah stasiun, stasiun yang digunakan
dalam hitungan biasanya masih saling berdekatan (Soewarno, 1995).
𝑝1 + 𝑝2 + 𝑝3 + ⋯ 𝑝𝑛
𝑝= (Persamaan 2. 1)
𝑛
Keterangan:
𝑝 = Curah hujan yang hilang
𝑝1, 𝑝2, 𝑝3 … 𝑝𝑛 = Hujan di stasiun 1,2,3,...,n
n = Jumlah stasiun hujan
Metode ini memberikan nilai bobot pada tiap stasiun dengan memberi
batasan berupa poligon. Poligon pembatas ini dibuat dengan menarik garis berat
atas garis yang menghubungkan setiap stasiun digunakan jika titik-titik pengamatan
di dalam daerah kajian tidak tersebar merata. Metode ini mengabaikan efek
topografi dan satu poligon mewakili oleh satu stasiun penakar hujan (Soemarto,
1995).
Metode ini memberikan proporsi luasan daerah pengaruh pos penakar hujan
untuk mengakomodasi ketidakseragaman jarak. Walaupun belum dapat
memberikan bobot yang tepat sebagai sumbangan satu stasiun hujan untuk hujan
Institut Teknologi Nasional
27
daerah, metode ini telah memberikan bobot tertentu kepada masing-masing stasiun
sebagai fungsi jarak stasiun hujan. Curah hujan rata-rata dihitung dengan
mempertimbangkan pengaruh tiap-tiap stasiun pengamatan, yaitu dengan cara
menggambar garis tegak lurus dan membagi dua sama panjang garis penghubung
dari dua stasiun pengamatan curah hujan di dalam dan sekitar wilayah yang
bersangkutan (Soemarto, 1995)..
Metode poligon thiessen ini akan memberikan hasil yang lebih teliti
daripada cara aritmatik, akan tetapi penentuan stasiun pengamatan dan pemilihan
ketingggian akan mempengaruhi ketelitian hasil. Metode ini termasuk memadai
untuk menentukan curah hujan suatu wilayah, tetapi hasil yang baik akan ditentukan
oleh sejauh mana penempatan stasiun pengamatan hujan mampu mewakili daerah
pengamatan. Metode ini cocok untuk daerah dataran dengan luas DAS 500-5.000
km2 (Soemarto, 1995).
Cara ini selain memperhatikan tebal hujan dan jumlah stasiun, juga
memperkirakan luas wilayah yang diwakili oleh masing-masing stasiun untuk
digunakan sebagai salah satu faktor dalam menghitung hujan rata-rata daerah yang
bersangkutan. Poligon dibuat dengan cara menghubungkan garis-garis berat
diagonal terpendek dari para stasiun hujan yang ada. Cara ini bardasar rata-rata
timbang (weighted average). Metode ini sering digunakan pada analisis hidrologi
karena lebih teliti dan obyektif dibanding metode lainnya, dan dapat digunakan
pada daerah yang memiliki titik pengamatan yang tidak merata. Cara ini adalah
dengan memasukkan faktor pengaruh daerah yang mewakili oleh stasiun hujan
yang disebut faktor pembobotan atau Koefisien Thiessen. Untuk pemilihan stasiun
hujan yang dipilih harus meliputi daerah aliran sungai yang akan dibangun.
Besarnya Koefisien Thiessen tergantung dari luas daerah pengaruh stasiun hujan
yang dibatasi oleh poligon-poligon yang memotong tegak lurus pada tengah-tengah
garis penghubung stasiun. Setelah luas pengaruh tiap-tiap stasiun didapat, maka
Koefisien Thiessen dapat dihitung dengan persamaan di bawah ini, rumus yang
digunakan (Hardjosuprapto, 1998):
𝐴 𝑅 +𝐴2 𝑅2 +𝐴3 𝑅3 +⋯+𝐴𝑛 𝑅𝑛
𝑅̅ = 1 1 𝐴 +𝐴 (Persamaan 2. 2)
1 2+𝐴 +⋯+𝐴
3 𝑛
Keterangan :
A = luas areal
R = tinggi curah hujan di pos 1,2,3, …n
R1,R2,… Rn = tinggi curah hujan pada pos penakar 1,2,3,…n
A1,A2,… An = luas daerah di areal 1,2,3,…n
Satu seri data hujan untuk satu stasiun tertentu memungkinkan memiliki
sifat yang tidak konsisten (Inconsistence). Data semacam ini tidak dapat langsung
dianalisis, karena sebenarnya data didalamnya berasal dari populasi data yang
berbeda. Tidak konsistensinya data kumulatif rata-rata curah hujan pada stasiun-
stasiun pembanding dapat terjadi yang disebabkan oleh:
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh para ahli, data curah hujan
akan memiliki kecenderungan untuk menuju suatu gambaran tertentu yang biasa
disebut dengan pola/trend. Data yang menunjukan perbedaan dari pola atau trend
yang ada disarankan untuk tidak digunakan. Analisis hidrologi harus mengikuti
trend, dan jika terdapat perubahan harus dilakukan koreksi. Untuk melakukan
pengecekan pola atau trend tersebut dilakukan dengan menggunakan teknik kurva
massa ganda, yang menggunakan prinsip bahwa setiap pencatatan data yang berasal
dari populasi yang sekandung akan memberikan pola yang konsisten sedangkan
yang tidak sekandung akan tidak konsisten, dan akan menimbulkan penyimpangan
pola/trend (Soewarno, 1995).
1. Sejumlah stasiun tertentu dalam wilayah iklim yang sama diseleksi sebagai
stasiun dasar (pembanding). Rata-rata aritmetik dari semua stasiun dasar
dihitung untuk setiap metode yang sama. Rata-rata hujan tersebut
diakumulasikan mulai dari periode awal pengamatan
𝑡𝑎𝑛 𝛼
𝐻𝑧 =
𝑡𝑎𝑛 𝛼0 (Persamaan 2. 3)
𝒕𝒂𝒏 𝜶
𝑭𝒌 = 𝒕𝒂𝒏 𝜶 = faktor koreksi
𝟎
Keterangan :
Hz = Curah hujan yang diperkirakan
tan α = Slope sebelum perubahan
tan ᾳ0 = Slope setelah perubahan
H0 = Curah hujan hasil pengamatan
Dari pengujian kurva masa ganda (double mass curve analysis) tersebut
dapat diketahui apakah terjadi perubahan lingkungan atau perubahan cara menakar.
Jika hasil uji menyatakan data hujan disuatu stasiun konsisten berarti pada daerah
pengaruh sistem tersebut tidak terjadi perubahan lingkungan dan tidak terjadi
perubahan cara menakar selama pencatatan data tersebut dan sebaliknya (Soemarto,
1995).
Berdasarkan analisis regional, data hujan dari beberapa stasiun yang diambil
perlu dilakukan uji homogenitas. Uji homogenitas dilakukan dengan menerapkan
metoda untuk menganalisis banjir atau hujan regional, yang juga digunakan
(Soemarto, 1995).
Prinsip perhitungan ini adalah perhitungan secara statistik terhadap data dari
beberapa stasiun hujan, dengan lama pengamatan tidak harus sama, yang dilakukan
berdasarkan distribusi ekstrim. Range variasi pada standar deviasi dari reduced
variate untuk perioda ulang 10 tahun adalah 95 % . Alasan dipilihnya perioda ulang
10 tahun dalam tes ini karena hal ini memiliki interval kejadian terpanjang yang
dapat diandalkan (Soemarto, 1995).
Jika seluruh stasiun hujan setelah diplotkan dalam kurva tersebut, jika
terletak di dalam lengkung pengontrol berarti seluruh stasiun tersebut dikatakan
homogen, artinya untuk seluruh regional tersebut dapat diwakili dengan harga rata-
rata dari seluruh stasiun tersebut. Sebaliknya jika ada stasiun yang berada di luar
lengkung pengontrol, maka stasiun tersebut tidak homogen dengan stasiun lainnya,
untuk keperluan analisis regional stasiun tersebut boleh diabaikan. Jika terjadi hal
seperti itu disebabkan karena adanya perubahan mendadak pada sistem lingkungan
hidrologis, pemindahan tempat stasiun pengukur hujan atau pemindahan alat
pengukur, dan perubahan cara pengukuran (Soemarto, 1995).
Uji homogenitas dilakukan dengan memplot harga (N, Tx) pada Grafik Tes
Homogenitas pada Gambar 2.11.
𝑋10
𝑇𝑥 = ( ) . 𝑇𝑥𝑟 (Persamaan 2. 4)
𝑋𝑟
Keterangan:
𝑋10 = Curah hujan tahunan dengan PUH 10 tahun
𝑋𝑟 = Curah hujan tahunan rata-rata dalam suatu array data
𝑇𝑥 = PUH untuk curah hujan tahunan rata-rata
Dapat menggunakan persamaan Gumbel Modifikasi dengan rumus sebagai berikut:
𝑇𝑟
𝑋 = 𝑋𝑟 − (0.78 ln + 0.45) . 𝑆𝑥 (Persamaan 2. 5)
𝑇𝑟−1
34
Gambar 2.12. Grafik Tes Homogenitas
Sumber : Hardjosuprapto, 1998
35
2.3.4 Analisis Frekuensi Curah Hujan Harian Maksimum
Analisis frekuensi adalah suatu analisis data hidrologi dengan menggunakan
statistika yang bertujuan untuk memprediksi suatu besaran hujan atau debit dengan
masa ulang tertentu. Tujuan analisis frekuensi data hidrologi adalah berkaitan
dengan besaran peristiwa-peristiwa ekstrim yang berkaitan dengan frekuensi yang
kejadiannya melalui penerapan distribusi kemungkinan. Data hidrologi yang
dianalisis diasumsikan tidak bergantung (independent) dan terdistribusikan secara
acak dan bersifat statistik (Harto, 1993).
Analisis frekuensi diperlukan seri data hujan yang diperoleh dari pos
penakar hujan, baik yang manual maupun yang otomatis. Analisis frekuensi di
dasarkan pada sifat statistik data kejadian yang telah lalu untuk memperoleh
probabilitas besaran hujan dimasa yang akan datang, dengan asumsi bahwa sifat
36
37
statistik kejadian hujan yang akan datang masih sama dengan sifat statistik kejadian
hujan masa lalu (Suripin, 2004).
𝑥+𝑏 (Persamaan 2. 7)
𝜻 = 𝑐 log
𝑥0 + 𝑏
Keterangan :
log (x + b) = Xor adalah harga rata-rata dari log (Xi + b)
𝜻 = Harga Kemungkinan (Pada Tabel 2.3)
x = Data curuh hujan (mm)
b = Koefisien distribusi log normal (Suryono, 2003).
Tabel 2.3. Variabel 𝜻 (kemungkinan terlampaui) yang sesuai pada W(x) Utama
T W(x) = 1/T 𝜻 T W(x) = 1/T 𝜻
500 0,00200 2,0352 30 0,03333 1.2297
400 0,00250 1,9840 25 0,04000 1,2379
300 0,00333 1,9227 20 0,05000 1,1631
250 0,00400 1,8753 15 0,0667 1,0614
200 0,00500 1,8214 10 0,1000 0,9062
150 0,00667 1,7499 8 0,1250 0,8134
100 0,01000 1,6450 5 0,2000 0,5951
80 0,01250 1,5851 4 0,2500 0,4769
60 0,01667 1,5049 3 0,3333 0,3045
50 0,02000 1,4522 2 0,5000 0,0000
40 0,02500 1,3859
Sumber: Suryono, 2003
Keterangan :
Xi = Harga pengamatan nomor urutan (m) dari yang terbesar
Xt = Harga pengamatan nomor urutan (m) dari yang terkecil
n = Banyaknya data
m = n/10
T = Periode Ulang
1) Menyusun data hujan mulai dari harga yang terbesar sampai yang terkecil.
2) Merubah jumlah n data hujan kedalam besaran logaritma, sehingga menjadi log
R1, log R2…log Rn. Lalu dinyatakan Ri = log R
3) Menghitung besarnya harga rata-rata besaran logaritma, pada persamaan
sebagai berikut:
∑ Ri (Persamaan 2. 12)
Rr =
n
Keterangan :
Rr = Rata-rata besaran logaritma
R = Rata-rata data curah hujan (mm)
Ri = Log (R)
n = Jumlah data
4) Menghitung besarnya harga deviasi rata-rata dari besaran logaritma tersebut,
pada persamaan sebagai berikut
1⁄ (Persamaan 2. 13)
∑(Ri − Rr )2 2
σR = Ri−Rr2n−1 σR = [ ]
n−1
Berdasarkan harga Cs (skew koefisien) yang diperoleh dan harga periode ulang
(T) tang ditentukan, hitung nilai Kx (variabel standar x) dengan menggunakan
tabel karakteristik nilai Kx distribusi Log Pearson Type III pada Tabel 2.4.
𝑋𝑡 = 𝑋𝑟 + 𝐾𝑥 . 𝜎𝑅 (Persamaan 2. 15)
Nilai Kx yang diperoleh dapat digunakan untuk menghitung curah hujan harian
maksimum rencana metoda Log Pearson Type III.
Keterangan :
Rk = Rentang keyakinan (mm/24 jam)
a = Confidence probability
Se = Probability error (deviasi)
t(a) = Fungsi a, Untuk : a = 90%, t(a) = 1,640
Keterangan :
σR = Standar deviasi
n = Jumlah data
b = Koefisien probability
Yt = Reduce variated untuk PUH t tahun (Suripin, 2003)
Sn = Reduced standard deviation berdasarkan sampel n (Pada Tabel 2.5)
Yn = Reduce mean berdasarkan sampel n (Pada Tabel 2.6)
N 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9
25 0,5362 0,5371 0,5380 0,5388 0,8396 0,5403 0,5410 0,5418 0,5424 0,5436
30 0,5436 0,5442 0,5448 0,5453 0,5458 0,5463 0,5468 0,5473 0,5477 0,5481
40 0,5485 0,5489 0,5493 0,5497 0,5501 0,5504 0,5508 0,5511 0,5515 0,5518
50 0,5521 0,5524 0,5527 0,5530 0,5533 0,5535 0,5538 0,5540 0,5543 0,5545
60 0,5548 0,5550 0,5552 0,5555 0,5557 0,5559 0,5561 0,5563 0,5565 0,5567
70 0,5569 0,5570 0,5572 0,5574 0,0558 0,5578 0,5580 0,5581 0,5583 0,5585
80 0,5586 0,5587 0,5589 0,5591 0,5592 0,5593 0,5595 0,5596 0,5598 0,5599
90 0,5600 0,5602 0,5603 0,5604 0,5606 0,5607 0,5608 0,5609 0,5610 0,5611
100 0,4952 0,4996 0,5035 0,5070 0,5100 0,5128 0,5157 0,5181 0,5202 0,5220
Sumber : Suripin, 2004
∑ 𝐶𝑖. 𝐴𝑖
𝐶𝑟 = (Persamaan 2. 20)
𝐴𝑖
Keterangan:
Cr = Harga rata-rata angka pengaliran
Ci = Koefisien pengaliran pada tiap-tiap daerah
Ai = luas pada masing-masing daerah (Ha)
𝐼𝑇1
𝐶𝑇2 = 1 − (1 − 𝐶𝑇1 )√ (Persamaan 2. 21)
𝐼𝑇2
Keterangan:
CT1, CT2 = Harga C pada PUH T1 dan T2 berturutan
IT1, IT2 = Harga 1 pada PUH T1 dan T2 Berturutan
mengalir sebagai limpasan dalam permukaan tanah tertentu. Untuk setiap daerah
yang memiliki koefisien yang bermacam-macam maka akan diambil rata-rata dari
koefisien dikalikan luas wilayahnya sehingga dalam pemodelan hanya dipakai satu
angka yang mewakili. Berikut tabel beberapa nilai-nilai koefisien limpasan dalam
Tabel 2.8 dan Tabel 2.9.
No Untuk Daerah/Permukaan C
- Pinggiran kota 0,25 - 0,40
- Apartemen 0,50 - 0,70
3 Industri
- Ringan 0,50 - 0,78
- Berat 0,60 - 0,90
4 Taman, kuburan, hutan lindung 0,10 - 0,30
5 Lapangan Bermain 0,20 - 0,35
6 Pekarangan rel kereta api 0,20 - 0,40
7 Daerah tak terbangun 0,10 - 0,30
8 Jalan
- Aspal 0.70 – 0.95
- Beton 0.80 – 0.95
- Bata 0.70 – 0.85
9 Halaman parkir dan pejalan kaki/trotoar 0.75 – 0.85
10 Atap 0.75 – 0.95
11 Pekarangan dengan tanah pasir
- Dasar 2% 0.05 – 0.10
- Reratan (2-7)% 0.10 – 0.15
- Terjal 7% 0.15 – 0.20
12 Pekarangan dengan tanah keras
- Dasar 2% 0.13 – 0.17
- Reratan (2-7)% 0.18 – 0.22
- Terjal 7% 0.25 – 0.35
13 Tanah gundul 0.70 – 0.80
14 Lahan galian pasir 0.05 – 0.15
Sumber: Hardjosuprapto, 1998
𝑄 = 𝐹. 𝐶𝑠 . 𝐶. 𝐴. 𝐼 = 𝐹. 𝐶𝑠 (∑ 𝐶𝑖 . 𝐴𝑖 ) 𝐼 (Persamaan 2. 25)
Keterangan :
Q = Debit puncak (L/detik atau m3/detik)
F = Faktor konversi, F = 1/360 (m3/detik)
Cs = Koefisien storasi
C = Koefisien limpasan
A = Luas DPS (Ha)
I = Intensitas hujan (mm/jam)
i = setiap tata guna lahan
(Persamaan 2. 26)
Q= CxIxA
Keterangan:
Pada persamaan ini, harga I, besarnya sangat berubah dari setiap perubahan
t. Maka dari itu, persamaan I terhadap variabel t diusahakan dengan bentuk
persamaan yang sederhana, yang umumnya memakai bentuk persamaan Talbot,
Sherman Ishiguro.
𝑎′
𝐼= (Persamaan 2. 27)
𝑡+𝑏
Rumus ini dikemukakan oleh Professor Talbot dalam tahun 1981 dan disebut Jenis
Talbot. Rumus ini banyak digunakan karena mudah diterapkan, dimana tetapan-
tetapan a dan b ditentukan dengan harga-harga yang diukur.
𝑎
𝐼= (Persamaan 2. 28)
𝑡𝑛
Rumus diatas dikemukakan oleh professor Sherman dalam tahun 1905 dan disebut
jenis Sherman. Sedangkan rumus dibawah ini mungkin sesuai untuk jenis waktu
curah hujan yang lamanya lebih dari 2 jam.
𝑎
𝐼= (Persamaan 2. 29)
𝑡+𝑏
Keterangan:
I = Intensitas hujan (mm/jam)
t = durasi hujan (jam)
a, b, n = konstanta yang tergantung lamanya curah hujan yang terjadi di daerah
aliran.
Keteranagan:
I = intensitas curah hujan (mm/jam);
t = lamanya curah hujan (jam);
a,b = konstanta yang tergantung lamanya curah hujan yang terjadi di daerah
aliran.
Kala ulang (return period) diartikan sebagai waktu di mana hujan atau debit
dengan satuan besaran tertentu rata-rata akan disamai atau dilampaui sekali
dalam jangka waktu tersebut. Dalam hal ini tidak berarti bahwa selama jangka
waktu ulang itu (misalnya T tahun) hanya sekali kejadian yang menyamai atau
melampaui, tetapi merupakan perkiraan bahwa hujan atau debit tersebut akan
disamai atau dilampaui K kali dalam jangka panjang L tahun, dimana K/L kira-kira
sama dengan 1/T (Harto, 1993).
Kurva IDF aliran biasanya dibuat dengan cara mengukur langsung debit
aliran dan tinggi muka air yang terjadi di sungai yang ditinjau. Hal ini dilakukan
dalam proses kalibrasi model terhadap kondisi saluran yang sebenarnya. Lengkung
aliran digunakan untuk mencari debit aliran maksimum yang dapat ditampung oleh
saluran. Kurva lengkung aliran akan dibuat berdasarkan tren yang terjadi untuk
debit-debit yang dimasukkan ke dalam model, kemudian dari kurva tersebut
ditentukan nilai tinggi alirannya sehingga akan diperoleh debit aliran maksimum
yang dapat ditampung pada saluran tersebut.
7) Ruang bebas saluran (freeboard) berkisar antara 0,30 sampai dengan 1,20 m
tergantung dari dalam dan lebarnya.
8) Kecepatan minimum yang diizinkan adalah kecepatan yang paling rendah yang
akan mencegah pengendapan dan tidak menyebabkan berkembangnya
tanaman-tanaman air. Kecepatan ditentukan oleh kekasaran dinding dan dasar.
9) Saluran dengan berbagai lapisan adalah saluran yang dilapis dengan beton, batu
kali dan lapisan lainnya, sedangkan dasar saluran dari tanah.
Q = A. V (Persamaan 2. 31)
Keterangan :
Q = Debit pengaliran (m3/detik)
V = Kecepatan rata-rata dalam saluran (m/detik)
A = Luas penampang basah (m2)
Pengaliran Sungai (DPS) untuk mengalir masuk menuju suatu titik atau profil
melintang saluran tertentu yang ditinjau. Jika nilainya lebih kecil dari waktu durasi
hujan atau te, maka dalam perhitungan intensitas hujannya dianggap sama dengan
waktu durasi hujannya, yaitu tc = te. Sehingga Ic = Ie. Untuk nilai te dapat dicari
menggunakan persamaan sebagai berikut (Hardjosuprapto, 1998):
Bila panjang rayapan, L > 300 m, maka untuk mencari nilai to menggunakan
rumus (Hardjosuprapto, 1998):
td atau waktu mengalir di saluran atau yang memiliki satuan menit, ialah
waktu yang diperlukan untuk air mengalir dari saluran permulaan menuju ke suatu
profil melintang saluran tertentu yang ditinjau. Mencari nilai td menggunakan
persamaan sebagai berikut (Hardjosuprapto, 1998):
𝐿𝑑𝑎 (Persamaan 2. 35)
𝑡𝑑 = 60 𝑉𝑑
Keterangan:
td = Waktu mengalir dalam saluran (menit)
Lda = Panjang saluran aktual yang ditinjau (m)
Vd = Kecepatan rata-rata dalam saluran (m/detik)
tc = to + td (Persamaan 2. 36)
Bahan nd
Saluran beton 0,013
Bata dilapis mortar 0,015
Pasangan batu disemen 0,025
Saluran tanah bersih 0,022
Saluran tanah 0,030
Saluran dengan dasar batu dan tebing rumput 0,040
Saluran pada galian batu padas 0,040
Sumber : Permen PU RI Nomor 12 PRT/M/2014
a. Inlet time (to) yaitu waktu yang diperlukan oleh air untuk mengalir di atas
permukaan tanah menuju saluran drainase.
b. Conduit time (Ltd) yaitu waktu yang diperlukan oleh air untuk mengalir di
sepanjang saluran sampai titik kontrol yang ditentukan di bagian hilir
(Suripin, 2004).
𝐿𝑖 (Persamaan 2. 39)
𝑡𝑐 =
𝑉𝑟
Perencanan talud saluran tergantung pada ada atau tidaknya perkerasan
pada saluran, yakni:
Kecepatan aliran dalam saluran biasanya sangat bervariasi dari satu titik ke
titik lainnya. Hal ini disebabkan adanya tegangan geser di dasar dan dinding saluran
dan keberadaan permukaan bebas memperlihatkan distribusi kecepatan pada
beberapa tipe potongan saluran. Kecepatan aliran mempunyai tiga komponen arah
menurut koordinat kartesius. Namun, komponen arah vertikal dan lateral biasanya
kecil dan dapat diabaikan. Sehingga, hanya kecepatan aliran yang searah dengan
aliran yang diperhitungkan. Komponen kecepatan ini bervariasi terhadap
kedalaman dari permukaan air. Tipikal variasi kecepatan terhadap kedalaman air
diperlihatkan dalam gambar sebagai berikut.
Harga C tergantung pada kekasaran dasar saluran dan kedalaman aliran atau
jari-jari hidrolik. Berbagai rumus di kembangkan untuk memperoleh harga C
antara lain:
• Gangultef Aut Kulter (1869)
0.00281 1.811
41.65 + + 𝑛
𝐶= 3 (Persamaan 2. 42)
0.0281 𝑛
1 + (41.65 + 𝑆 )
√𝑅
Keterangan:
n = koefisien kekasaran dasar dan dinding saluran
R = jari-jari hidrolik
S = kemiringan dasar saluran
• Bazin (1897)
87 (Persamaan 2. 43)
𝐶=
1 + 𝑔𝐵/√𝑅
Keterangan:
C = koefisien bazin
gB = koefisien yang tergantung pada kekasaran dinding
R = jari-jari hidrolik
Nilai gB untuk beberapa jenis dinding saluran dapat dilihat dalam tabel
sebagai berikut
Tabel 2.16. Koefisien Kekasaran Bazin
Jenis Dinding gB
Dinding sangat halus (semen) 0.06
Dinding halus (papan, batu, bata) 0.16
Dinding batu pecah 0.46
Dinding tanah sangat teratur 0.85
Saluran tanah dengan kondisi biasa 1.3
Saluran tanah dengan dasar batu pecah dan tebing 1.75
rumput
Sumber: Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.12 Tahun 2014
Keterangan:
V = Kecepatan aliran (m/s)
n = angka kekasaran Manning
R = Jari-jari hidrolik (m)
S = Kemiringan memanjang saluran (m/m)
𝐼𝑓 = Kemiringan garis energi (m/m)
Nilai koefisien kekasaran manning (n) pada Tabel 2.17. sampai dengan Tabel
2.18.
Tabel 2.17. Koefisien Kekasaran Manning, n
Koefisien
Koefisien
Bahan Bahan Manning,
Manning, n
n
Besi tuang dilapis 0,014 Saluran tanah bersih 0,022
Kaca 0,010 Saluran tanah 0,030
Saluran beton 0,013 Saluran dengan dasar
0,040
Bata dilapis mortar 0,015 batu dan tebing rumput
Pasangan batu 0,025 Saluran pada galian
0,040
disemen batu padas
Sumber: Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.12 Tahun 2014
Tabel 2.18. Harga n Persamaan Manning
Bagus
Jenis Saluran Bagus Cukup Jelek
sekali
A. SALURAN BUATAN
1. Saluran tanah, lurus teratur 0.017 0.020 0.023 0.025
2. Saluran tanah, digali alat besar 0.023 0.028 0.030 0.040
3. Seperti 1, tetapi dibatuan 0.023 0.030 0.030 0.035
4. Seperti 3, tidak lurus, tak teratur 0.035 0.040 0.045 -
5. Seperti 4, dengan ledakan, sisi
0.025 0.030 0.035 0.040
vegetasi
6. Dasar tanah, sisi batu belah 0.028 0.030 0.033 0.035
7. Saluran berbelok-belok, v rendah 0.020 0.025 0.028 0.030
B. SALURAN ALAMI
1. Bersih, lurus, tanpa onggokan pasir
0.025 0.028 0.030 0.033
dan tanpa lubang
2. Seperti 1, sedikit vegetasi dan kerikil 0.030 0.033 0.035 0.040
Bagus
Jenis Saluran Bagus Cukup Jelek
sekali
3. Belok-belok, bersih, sedikit
0.033 0.040 0.040 0.045
onggokan pasir dan lubang
4. Seperti 3, dangkal, kurang teratur 0.040 0.045 0.040 0.055
5. Seperti 3, sedikit vegetasi dan batu 0.035 0.040 0.045 0.050
6. Seperti 4, sedikit ada penampang
0.045 0.050 0.055 0.060
batuan
7. Lambat, banyak vegetasi dan lubang
0.050 0.060 0.070 0.080
dalam
8. Banyak vegetasi tinggi dan lebat 0.075 0.100 0.125 0.150
C. SALURAN PASANGAN
1. Pasangan batu kosong 0.025 0.030 0.033 0.035
2. Seperti 1, dengan adukan 0.017 0.020 0.025 0.030
3. Beton tumbuk 0.014 0.016 0.019 0.021
4. Beton, sangat halus 0.010 0.011 0.012 0.013
5. Beton biasa, cetakan baja 0.013 0.014 0.014 0.015
6. Seperti 5, cetakan kayu 0.015 0.016 0.016 0.018
Sumber: Hardjosuprapto, 1998
Rentang
No Jenis Peruntukan dan Keterangan
harga n
0.030-
a. Sedikit rumput/liar, sedikit/tanpa semak
0.035
0.035-
b. Rumput liar lebat, dair < hrumput
0.050
2 Tak teratur, berlubang , sedikit meander
0.040-
a. Sedikit rumput/liar, sedikit/tanpa semak
0.055
0.050-
b. Rumput liar lebat, dair < hrumput
0.070
Saluran bukit, tanpa vegetasi, tebing terjal , pohon dan semak
3
sepanjang tebing tenggelam selama banjir besar
0.040-
a. Dasar kerikil, batu dan sedikit batu besar
0.050
0.050-
b. Dasar batu dengan banyak batu besar
0.070
B Bantaran banjir (dekat saluran alami)
1 Padang rumput, tanpa semak:
0.030-
a. Rumput pendek
0.035
0.035-
b. Rumput Tinggi
0.050
0.035-
2 Daerah Bercocok tanam
0.045
0.050-
3 Rumput liar lebat, semak menyebar
0.070
0.060-
4 Semak dan pepohonan kecil
0.080
0.100-
5 Vegetasi medium sampai lebat
0.120
6 Lahan bersih dengantunggul pohon (250-625 bt/ha)
0.040-
a. Tanpa anak-anak pohon
0.050
0.060-
b. Dengan anak pohon lebat
0.080
0.100-
7 Tonggak kayu lebat, sedikit tumbang /tumbuh
0.120
0.028-
C Saluran mayor (Bair banjir > 30 m), teratur, bersih
0.330
Sumber: Hardjosuprapto, 1998
Faktor-faktor yang mempengaruhi harga kekasaran manning, n, adalah:
1 2⁄ (Persamaan 2. 45)
𝐶 √𝑅. 𝐼𝑓 = 𝑅 3 √𝐼𝑓
𝑛
1 1 (Persamaan 2. 46)
𝐶 = 𝑅 ⁄6
𝑛
𝑉𝑐ℎ𝑒𝑧𝑦 = 𝑉𝑚𝑎𝑛𝑛𝑖𝑛𝑔
Kecepatan aliran air yang diizinkan berdasarkan jenis material pada Tabel 2.21.
Tabel 2.21. Kecepatan aliran air yang diizinkan berdasarkan jenis material
Kecepatan Aliran Air yang
Jenis Bahan
diizinkan (m/s)
Pasir Halus 0.45
Lempung Kepasiran 0.5
Lanau Alluvial 0.6
Kerikil Halus 0.75
Lempung Kokoh 0.75
Lempung Padat 1.1
Kerikil Kasar 1.2
Bau-batu Besar 1.5
Pasangan Bat 1.5
Beton 1.5
Beton Bertulang 1.5
Sumber: SNI 03 - 3424 – 1994
tampung yang tidak memadai. Potongan melintang saluran yang paling ekonomis
adalah saluran yang dapat melewatkan debit maksimum untuk luas penampang
basah, kekasaran, dan kemiringan tertentu.
Dari rumus Manning maupun Chezy dapat dilihat bahwa untuk kemiringan
dan dasar saluran tetap, kecepatan maksimum dicapai bila jari-jari hidraulik, R,
maksimum. Selanjutnya, untuk luas penampang tetap, jari-jari hidraulik maksimum
jika keliling basah P minimum. Kondisi diatas memungkinkan untuk menentukan
dimensi penampang melintang saluran yang ekonomis untuk berbagai macam
bentuk seperti:
3. Segitiga
Luas profil basah berbentuk segitiga dapat dinyatakan sebagai berikut:
1 (Persamaan 2. 49)
𝐴 = 𝑥𝑇𝑥ℎ
2
Keterangan:
A = Luas profil basah (m2)
h = Tinggi air di dalam saluran (m)
T = (B+mh+th)
4. Lingkaran
Luas profil basah berbentuk lingkaran dapat dinyatakan sebagai berikut:
𝜑 − 180 (Persamaan 2. 50)
𝑎 = 𝑟. 𝑠𝑖𝑛 ( )
2
Keterangan:
a = tinggi air (dalam m).
Ф= sudut ketinggian air (dalam radial)=y
r = jari-jari lingkaran (m).
A = luas profil basah (m2)
P = keliling basah (m)
𝐴 𝐵. ℎ (Persamaan 2. 51)
𝑅= = =ℎ
𝑃 𝐵
Debit aliran adalah volume air yang mengalir melalui suatu penampang tiap
satuan waktu dan simbol/notasi yang digunakan adalah Q.
𝑄 = 𝐴. 𝑉 (Persamaan 2. 52)
Keterangan:
Q = debit aliran (m3/s)
A = luas penampang (m2)
V = kecepatan (m/s)
Keterangan :
1. Street Inlet
Street inlet merupakan lubang/buangan disisi-sisi jalan yang berfungsi untuk
menampung dan menyalurkan limpasan air hujan yang berada disepanjang
jalan menuju kedalam saluran. Pada jenis penggunaan saluran terbuka tidak
diperlukan street inlet karena ambang saluran yang ada merupakan bukaan
bebas (kecuali untuk jalan dengan trotar jalan terbangun) (Hardjosuprapto,
1998).
Peletakan street inlet mempunyai ketentuan-ketentuan sebagai berikut:
- Diletakan pada tempat yang tidak memberikan gangguan terhadap
lalulintas jalan maupun pejalan kaki.
- Ditempatkan pada daerah yang rendah dimana limpasan air hujan menuju
ke arah tersebut.
- Air yang masuk street inlet harus secepatnya menuju ke dalam saluran.
- Jumlah street inlet harus cukup untuk menangkap limpasan air hujan pada
jalan yang bersangutan, dengan persamaan sebagai berikut
(Hardjosuprapto, 1998).
280√𝑆
D= (Persamaan 2. 54)
𝑊
Keterangan:
D : Jarak antar street inlet (m), D < 50 m
S : Kemiringan (%)
W : Lebar jalan (m)
a. Gutter Inlet
Gutter inlet adalah bukaan horizontal dimana air jatuh ke dalamnya.
Kapasitas gutter inlet dapat dihitung dengan menggunakan modifikasi
persamaan Manning untuk aliran dalam saluran yang sangat dangkal, yaitu
(Hardjosuprapto, 1998):
Q = 0.56 (z/n) S0.5 dc8/3 (Persamaan 2. 55)
Keterangan :
Q = kapasitas gutter inlet (m3/dt)
z = kemiringan potongan melintang jalan (m/m)
n = koefisien kekasaran Manning = 0.016
S = kemiringan longitudinal Gutter (m/m)
dc = kedalam aliran didalam gutter (m) = ¼ zw + d
b. Crub Inlet
Curb inlet adalah bukaan vertikal dimana air masuk kedalamnya. Kapasitas
dihitung terhadap panjang bukaan missal penambahan legokan (depression).
Kapasitas curb inlet dapat dihitung dengan rumus empiris sebagai berikut
(Hardjosuprapto, 1998):
british unit
Q/L = 0.2gd 3/2 (Persamaan 2. 56)
metric unit
Keterangan:
Q = Kapasitas curb inlet (cfs, m3/dt)
L = Lebar buakaan curb (ft, m)
g = Gravitasi (m3/dt)
d = Kedalama total air dalam gutter (ft, m)
Tinggi air pada permukaan jalan dekat gutter/curb dapat didekati dengan
rumus (Hardjosuprapto, 1998):
d = 0.0474 (DI)0.5/S0.2 (Persamaan 2. 58)
Keterangan:
d = Kedalam air (mm) pada lebar ¼ lebar jalan
2. Gorong-Gorong
Gorong-gorong adalah saluran yang memotong jalan atau media lain. Bentuk
gorong-gorong terdiri dari: bentuk lingkaran yang terbuat dari pipa beton dan
bentuk segiempat dari beton bertulang (Hasmar, 2002).
Gorong-gorong mempunyai potongan melintang yang lebih kecil dari pada luas
basah saluran hulu maupun hilir. Sebagian dari potongan melintang mungkin
berada di atas muka air dalam hal ini gorong-gorong berfungsi sebagai saluran
terbuka dengan aliran bebas (Hasmar, 2002).
Pada gorong-gorong aliran bebas, benda-benda yang hanyut dapat lewat dengan
mudah, tetapi biaya pembuatannya umunyan lebih mahal dibandng gorong-
gorong tenggelam. Untuk maksud pemeliharaan dimana gorong-gorong harus
terbebas dari endapan lumpur,dengan bataswan kecepatan dalam gorong-
gorong harus lebih besar atau sama dengan kecepatan self cleansing.
Kehilangan tekanan oleh pengaliran di dalam gorong-gorong dapat dihitung
dengan persamaan:
Δh = (V2/2g) (1+a+b (lр/4A)) (3-124) (Persamaan 2. 59)
Keterangan:
Δh = Perbedaan tinggi muka air di muka dan di belakang gorong-gorong (m)
v = Kecepatan air dalam gorong-gorong (m/detik)
g = Gaya gravitasi (m/detik2)
l = Panjang gorong-gorong
p = Keliling basah gorong-gorong
A = Luas penampang basah gorong-gorong
a = Koefisien kontraksi pada perlengkapan gorong-gorong.
3. Bangunan Terjunan
Bangunan Pelengkap adalah bangunan air yang melengkapi sistem drainase
berupa gorong-gorong, bangunan pertemuan, bangunan terjunan, siphon,
talang, tali air/street inlet, pompa dan pintu air. Bangunan terjunan diperlukan
jika kemiringan permukaan tanah lebih curam dari pada kemiringan maksimum
saluran yang diizinkan. Selain itu bangunan ini berfungsi untuk mencegah
terjadinya penggerusan pada badan saluran akibat kecepatan dalam saluran telah
melebihi kecepatan maksimum yang diijinkan (Hasmar, 2002).
Bangunan ini mempuyai empat bagian fungsional yang masing-masing
mempunyai sifat perencanaan yang khas. Keempat bagian tersebut adalah:
- Bagian hulu pengontrol, yaitu bagian dimana aliran menjadi superkritis.
- Bagian dimana air dialirkan ke elevasi yang lebih rendah.
- Bagian tepat disebelah hilir potongan U, yaitu tempat energi diredam.
- Bagian peralihan saluran memerlukan lindungan untuk mencegah erosi
(Hasmar, 2002).
Keterangan:
Yc = Kedalaman air kritis (m)
h = Kedalaman air normal (m)
Q = Debit aliran (m3/detik)
b = Lebar saluran
q = Debit persatuan lebar ambang
g = Gaya gravitsi
Y1 = Kedalaman sebelum terjadi lompatan (m)
Y2 = Kedalaman setelah terjadi lompatan (m)
Yp = Kedalaman terjunan
Ld = Panjang terjunan
Lj = Panjang lompatan air (m)
Lt = Panjang total
a = 0.15 H H/z
Keterangan 2:
H = Tinggi energi (m)
h1 = Kedalaman air di hilir
h2 = Kedalaman kritis (m)
s = Ketinggian air pada bagian yang miring (m)
z = Beda tinggi air sebelum dan sesudah terjunan (m)
a. Persyaratan Umum
- Sumur resapan air hujan di tempatkan pada lahan yang relatif datar,
mempunyai beda ketinggian antara 0.03 atau 3%
- Air yang masuk ke dalam sumur resapan adalah air hujan yang tidak
tercemar
- Penempatan sumur resapan air hujan harus mempertingkan keamanan
bangunan sekitarnya
- Harus memperhatikan peraturan daerah setempat
- Hal-hal yang tidak memenuhi ketentuan ini harus disetujui instansi yang
berwenang (SNI 8456:2017).
b. Persyaratan Teknis
- Kedalaman air tanah
Kedalaman air tanah minimum 1,5 m pada musim hujan
- Permeabilitas tanah
Struktur tanah yang dapat digunakan harus mempunyai nilai permeabilitas
tanah ≥ 2 cm/jam dengan klasifikasi sebagai berikut:
- Permeabilitas tanah sedang (geluh kelanauan, 2 – 3,6 cm/jam atau 0,48 –
0,864 m3/m2/hari)
- Permeabilitas tanah agak cepat (pasir halus, 3,6 – 36 cm/jam atau 0,864 –
8,64 m3/m2/hari)
- Permeabilitas tanah cepat (pasir kasar, lebih besar 36 cm/jam atau 8,64
m3/m2/hari)
- Jarak terhadap bangunan
Jarak penempatan sumur resapan air hujan terhadap bangunan, dapat dilihat
Tabel 2.25 (SNI 8456:2017).
Tabel 2.25. Jarak Minimum Sumur Resapan Air Hujan Terhadap Bangunan
Jarak Minimum dari Sumur
No. Jenis Bangunan
Resapan Air Hujan (m)
Sumur resapan air
1 3
hujan/smur air bersih
2 Pondasi bangunan 1
Bidang resapan/sumur
3 5
resapan tangki septik
Sumber: SNI 8456:2017
Keterangan:
𝐼 = Intensitas curah hujan (mm/jam)
𝑡 = Lamanya curah hujan/durasi curah hujan (jam)
𝑅24 = Curah hujan rencana dalam suatu periode ulang, yang nilainya
didapat dari tahapan sebelumnya (tahapan analisis frekuensi)
Keterangan:
• Harga ω = 2, untuk sumur kosong berdinding kedap air atau sumur
tanpa dinding dengan batu pengisi.
• Harga ω = 5, untuk sumur kosong berdinding porus.
H = kedalaman sumur (m)
r = radius sumur (m)
K = koefisien permeabilitas tanah (m/jam)
Q = debit andil banjir (Q = C.I.A) (m3/jam)
3) Debit Andil Banjir digunakan rumus sebagai berikut:
𝑄= 𝐶𝑥𝑖𝑥𝐴 (Persamaan 2. 81)
air hujan mengalir ke daerah yang lebih rendah dan membiarkannya terserap ke
dalam tanah melalui lubang resapan tersebut. Yang menjadi salah satu faktor
penyebab banjir adalah air hujan yang mengguyur wilayah hulu tidak bisa diserap
dengan baik karena berkurangnya pepohonan dan banyaknya bangunan, sehingga
wilayah hilir kebanjiran. Dinamakan teknologi biopori atau mulsa vertikal karena
teknologi ini mengandalkan jasa hewan-hewan tanah seperti cacing dan rayap untuk
membentuk pori-pori alami dalam tanah, dengan bantuan sampah organik, sehingga
air bisa terserap dan struktur tanah diperbaiki (Brata dan Nelistya, 2008).
Di kawasan perumahan yang 100 persen kedap air, teknologi lubang serapan
biopori ini diterapkan dengan membuat lubang di saluran air ataupun di areal yang
sudah terlanjur diperkeras dengan semen dengan alat bor. Kemudian ke dalam
lubang berdiameter 10 cm dengan kedalaman 80 cm atau maksimal satu meter
tersebut, dimasukkan sampah organik yang bisa berupa daun atau ranting kering
serta sampah rumah tangga. Keberadaan sampah organik ini berfungsi untuk
membantu menghidupkan cacing tanah dan rayap yang nantinya akan membuat
biopori (Brata dan Nelistya, 2008)
menjadi kompos, yang ditandai perubahan struktur menjadi lebih halus dan
warna menjadi coklat kehitaman. Pemanenan kompos sebaiknya dilakukan
pada musim kemarau di mana kondisi tanah tidak dalam keadaan basah
(Brata dan Nelistya, 2008).
Keterangan :
Q = debit limpasan rencana (m3 /detik).
Air hujan yang jatuh ke atap pada saat awal terjadinya hujan memiliki
kualitas buruk akibat dari akumulasi debu, sedimen, kotoran hewan dan
burung, daun serta puing-puing dari daerah sekitarnya. Maka dari itu,
diperlukan penggelontoran sejumlah air hujan yang jatuh ke atap (first flush)
untuk meningkatkan kualitas air panen yang akan dipergunakan.
Komponen- komponen utama konstruksi tampungan air hujan seperti yang
digambarkan dalam Gambar 5, terdiri dari : atap rumah, saluran pengumpul
(collector channel), filter untuk menyaring daun-daun atau kotoran lainnya
yang terangkut oleh air, dan bak penampung air hujan.