GEOmet Rins
GEOmet Rins
PERENCANAAN GEOMETRIK 2
Disusun Oleh :
Dibuat Untuk Memenuhi Persyaratan Mata Kuliah Praktek Perkerasan Jalan Pada
Program Studi Perancangan Jalan Dan Jembatan
Ir. Kosim, M. T
NIP : 196210181989031002
2
KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa sehingga
penulis dapat menyelesaikan penulisan laporan ini tepat pada waktunya. Laporan
ini dibuat sebagai persyaratan untuk menyelesaikan tugas dari mata kuliah
Laboratorium Struktur.
Dalam penyusunan tugas atau materi ini, tidak sedikit hambatan penulis hadapi.
Namun penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan materi ini tidak lain
berkat bantuan, dorongan, dan bimbingan orangtua, sehingga kendala – kendala
yang penulis hadapi teratasi. Oleh karena itu penulis mengucapkan terimakasih
kepada Bapak Ir. Kosim, M.T yang telah memberikan tugas, petunjuk, kepada
penulis sehingga penulis termotivasi dan menyelesaikan tugas ini.
Semoga materi ini dapat bermanfaat dan menjadi sumbangan pemikiran bagi
pihak yang membutuhkan, khususnya bagi penulis sehingga tujuan yang
diharapkan dapat tercapai.
Akhir kata penulis mengucapkan terimakasih dan berharap semoga makalah ini
dapat bermanfaat bagi kita semua.
Penulis
DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN.............................................................ii
3
KATA PENGANTAR.....................................................................iii
DAFTAR ISI....................................................................................iv
BAB 1................................................................................................1
PENDAHULUAN............................................................................1
1.1 Latar Belakang.......................................................................................................1
1.2 Perumusan Masalah...............................................................................................2
1.3 Tujuan.....................................................................................................................2
1.4 Pembatasan Masalah..............................................................................................2
1.5 Sistematika Penulisan............................................................................................3
BAB 2................................................................................................4
TINJAUAN PUSTAKA...................................................................4
2.1 Pengertian Jalan.....................................................................................................4
2.2 Klasifikasi Jalan.....................................................................................................4
2.3 Bagian-Bagian Jalan............................................................................................17
2.4 Data Peta Topografi..............................................................................................19
BAB 3..............................................................................................29
PERHITUNGAN KONSTRUKSI................................................29
3.1 Penentuan Trase Jalan..........................................................................................29
3.2 Penentuan Parameter Perencanaan......................................................................29
3.3 Penentuan Sudut Azimuth dan Sudut Bearing......................................................34
3.4 Perhitungan SCS dan FC Pusat............................................................................38
3.5 Perhitungan Kontrol Overlapping........................................................................76
BAB 4..............................................................................................79
PENUTUP.......................................................................................79
4.1 Kesimpulan..........................................................................................................79
4.2 Saran.....................................................................................................................79
4
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
5
pemerintah membangun ruas jalan alternatif melalui wilayah Air Limau guna
memangkas waktu tempuh dan meningkatkan konektivitas antarwilayah.
Perumusan masalah yang akan dibahas dalam laporan ini adalah perencanaan
geometrik jalan, dengan pokok permasalahan sebagai berikut:
1.3 Tujuan
6
1.4 Pembatasan Masalah
Sistematika penulisan laporan ini terdiri atas beberapa bab yang disusun secara
berurutan untuk memudahkan pemahaman pembahasan. Adapun sistematika
penulisan laporan ini adalah sebagai berikut:
BAB IV PENUTUP, berisi kesimpulan dari hasil pembahasan serta saran yang
dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan pada perencanaan selanjutnya.
7
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Jalan
Oleh karena itu, perencanaan dan penyelenggaraan jalan harus dilakukan secara
terpadu, berkelanjutan, dan sesuai dengan standar teknis yang berlaku agar dapat
memberikan pelayanan lalu lintas yang aman, nyaman, dan efisien bagi seluruh
pengguna jalan (Undang-Undang Republik Indonesia, 2022).
8
ditentukan fungsi pelayanan, tingkat pelayanan, serta standar teknis geometrik
yang harus dipenuhi sesuai dengan peran jalan tersebut dalam sistem transportasi.
2. Jalan Khusus Jalan khusus adalah jalan yang dibangun dan digunakan
untuk kepentingan tertentu di luar fungsi lalu lintas umum. Jalan ini antara
lain digunakan untuk kegiatan pertambangan, perkebunan, kehutanan,
industri, pelabuhan, atau kawasan tertentu yang penggunaannya dibatasi.
Jalan khusus diselenggarakan oleh instansi atau badan usaha tertentu
sesuai dengan peruntukan dan fungsinya serta tidak diperuntukkan bagi
kepentingan lalu lintas umum.
9
status jalan ini bertujuan untuk menentukan pihak yang bertanggung jawab dalam
pengelolaan, pemeliharaan, serta pengembangan jalan sesuai dengan perannya
10
a. Jalan kolektor primer yang menghubungkan ibu kota provinsi
dengan ibu kota kabupaten/kota.
11
di wilayah desa, menghubungkan antarpermukiman desa, serta
mendukung kegiatan sosial dan ekonomi masyarakat desa. Jalan desa tidak
termasuk jalan kabupaten, jalan provinsi, dan jalan nasional.
Sistem jaringan jalan primer melayani pergerakan lalu lintas jarak jauh dan jarak
menengah dengan volume lalu lintas relatif besar serta berperan sebagai tulang
punggung sistem transportasi wilayah.
12
2. Sistem Jaringan Jalan (SJJ) Sekunder Sistem Jaringan Jalan Sekunder
merupakan sistem jaringan jalan yang melayani pergerakan lalu lintas di
dalam kawasan perkotaan dan permukiman. Sistem ini berfungsi
Sistem jaringan jalan sekunder melayani pergerakan lalu lintas jarak pendek dan
mendukung aktivitas lokal, seperti kegiatan permukiman, perdagangan,
pendidikan, dan pelayanan masyarakat di kawasan perkotaan.
a. Jalan Arteri Primer Jalan arteri primer merupakan jalan yang melayani
angkutan utama dengan ciri perjalanan jarak jauh, kecepatan rencana tinggi, serta
jumlah akses masuk yang sangat dibatasi. Jalan ini berfungsi menghubungkan
Pusat Kegiatan Nasional (PKN) dengan Pusat Kegiatan Nasional (PKN), Pusat
Kegiatan Wilayah (PKW), atau pusat kegiatan strategis nasional. Jalan arteri
primer tidak melayani perjalanan lokal. Ciri-ciri jalan arteri primer adalah sebagai
berikut:
13
1. Kecepatan rencana tinggi.
c. Jalan Lokal Primer Jalan lokal primer berfungsi melayani angkutan setempat
dengan perjalanan jarak dekat. Jalan ini menghubungkan Pusat Kegiatan Nasional
(PKN) atau Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) dengan Pusat Kegiatan Lokal (PKL)
14
serta menghubungkan antarpusat kegiatan lokal. Ciri-ciri jalan lokal primer adalah
sebagai berikut:
15
1. Kecepatan rencana sedang hingga tinggi.
16
1. Kecepatan rencana sangat rendah.
a. Jalan Bebas Hambatan (JBH) Jalan Bebas Hambatan merupakan jalan umum
yang dirancang untuk melayani lalu lintas dengan kecepatan tinggi dan volume
besar, serta pengendalian jalan masuk secara penuh.
17
6. Pagar Rumija: wajib disediakan.
b. Jalan Raya (JRY) merupakan jalan umum yang melayani pergerakan lalu lintas
jarak jauh dengan volume lalu lintas tinggi dan kecepatan relatif tinggi, namun
masih memungkinkan adanya akses terbatas.
c. Jalan Sedang (JSD) ialah jalan umum yang melayani lalu lintas jarak menengah
dengan volume dan kecepatan sedang.
d. Jalan Kecil (KCL) merupakan jalan umum yang melayani lalu lintas setempat
dengan volume lalu lintas rendah dan kecepatan rendah.
18
4. Lebar jalur: 2,75 m.
e. Jalan Lalu Lintas Rendah (JLR) diperuntukan untuk jalan umum dengan
volume lalu lintas sangat rendah, umumnya berada di kawasan permukiman atau
perdesaan.
19
Uraian dari tabel klasifikasi jalan berdasarkan kelas penggunaan jalan ialah
sebagai berikut:
2. Jalan Kelas II tergolong dalam jalan arteri dan kolektor yang melayani
angkutan dengan dimensi dan muatan kendaraan sedang. Jalan kelas II
melayani kendaraan dengan muatan sumbu terberat sampai dengan 10 ton
dan digunakan untuk perjalanan jarak menengah.
3. Jalan Kelas III ialah jalan arteri yang menjadi penghubung utama bagi
kendaraan dengan dimensi dan muatan lebih kecil. Jalan kelas III melayani
kendaraan dengan muatan sumbu terberat sampai dengan 8 ton dan
umumnya terdapat pada jalan lokal dan jalan lingkungan.
20
Uraian dari tabel klasifikasi jalan berdasarkan medan jalan ialah sebagai berikut:
21
Ruang manfaat jalan memiliki ukuran tertentu sebagai berikut:
a. Lebar ruang bebas diukur di antara dua garis vertikal pada batas terluar
bangunan pelengkap jalan, termasuk bahu jalan dan saluran samping.
b. Tinggi ruang bebas minimal 5,1 m.
c. Kedalaman ruang bebas minimal 1,5 m.
22
i. Jembatan: 100 m ke arah hilir dan hulu.
Selain itu, peta topografi juga digunakan untuk mengetahui arah aliran air, lokasi
sungai, lembah, punggungan, serta unsur alam dan buatan lainnya. Dengan
demikian, peta topografi berperan penting sebagai dasar dalam perencanaan teknis
jalan guna meminimalkan pekerjaan galian dan timbunan serta meningkatkan
efisiensi dan keselamatan perencanaan.
23
Sifat peta topografi atau garis ketinggian yang perlu diketahui antara lain sebagai
berikut:
2. Tidak akan pernah berpotongan antara satu garis kontur dengan garis
kontur lainnya.
24
pada ruas jalan yang direncanakan. Oleh karena itu, diperlukan survei lalu lintas
sebagai berikut:
2. Survei asal dan tujuan (origin and destination survey) dilakukan pada
lokasi tertentu untuk mengetahui pola pergerakan kendaraan, yaitu asal
perjalanan dan tujuan akhir kendaraan. Survei ini berguna untuk
mengetahui distribusi lalu lintas serta pergerakan kendaraan antar zona
wilayah.
Faktor laju pertumbuhan lalu lintas merupakan besaran yang digunakan untuk
memperkirakan peningkatan volume lalu lintas dari tahun ke tahun. Faktor ini
sangat penting dalam perencanaan jalan karena digunakan untuk memprediksi
volume lalu lintas rencana pada umur rencana jalan.
25
dan digunakan sebagai dasar dalam perencanaan geometrik jalan. Data
volume lalu lintas dapat dinyatakan dalam satuan kendaraan per jam atau
satuan mobil penumpang (SMP) per jam. Selain itu, volume lalu lintas
juga digunakan untuk menentukan kapasitas jalan serta tingkat pelayanan
jalan yang direncanakan.
2. Lalu Lintas Harian Rata-Rata (LHR)
Lalu Lintas Harian Rata-Rata (LHR) adalah jumlah rata-rata kendaraan
yang melintasi suatu ruas jalan selama satu hari penuh. Nilai LHR
diperoleh dari hasil pengamatan lalu lintas dan digunakan sebagai dasar
dalam analisis dan perencanaan lalu lintas jalan.
26
terjadi pada satu jam tertentu yang mewakili kondisi jam sibuk. VJR
digunakan sebagai dasar dalam perencanaan geometrik jalan agar jalan
mampu melayani arus lalu lintas pada kondisi kritis.
VJR tidak selalu merupakan volume lalu lintas tertinggi, tetapi volume yang
dipilih secara representatif sehingga perencanaan jalan tetap efisien dan ekonomis.
VJR=VLHR × K × F ¿ (2.3)
Keterangan:
K = Faktor volume lalu lintas jam sibuk
F = Faktor variasi tingkat lalu lintas per seperempat jam dalam satu jam
27
Volume lalu lintas dalam satu jam yang digunakan sebagai VJR harus
direncanakan sedemikian rupa sebagai berikut:
a. Volume tersebut tidak boleh terlalu sering terdapat pada distribusi arus lalu
lintas setiap jam untuk periode satu tahun.
b. Volume tersebut harus mewakili kondisi jam sibuk yang realistis.
c. Volume tersebut dapat digunakan sebagai dasar perencanaan geometrik
jalan tanpa menyebabkan pemborosan dimensi jalan.
d. Volume tersebut mampu memberikan tingkat pelayanan yang baik bagi
pengguna jalan.
28
4. Arus Lalu Lintas Jam Desain
Arus lalu lintas jam desain adalah arus lalu lintas yang digunakan sebagai
dasar dalam perencanaan kapasitas dan dimensi geometrik jalan pada umur
rencana tertentu. Arus ini diperoleh dari proyeksi lalu lintas harian rata-rata
tahunan dengan mempertimbangkan pertumbuhan lalu lintas.
Keterangan:
Arus lalu lintas desain (qJD) ditetapkan dari persamaan rumus berikut ini:
q JD =LHRTD × K ¿ (2.5)
29
Keterangan:
K = Faktor jam desain, nilai tipikalnya adalah 8% – 11% untuk jalan yang
melayani lalu lintas jarak jauh dan volume lalu lintas tinggi.
Nilai arus lalu lintas jam desain digunakan sebagai dasar penentuan tipe jalan dan
dimensi jalur/lajur lalu lintas, yang meliputi:
a. Bahu jalan
b. Median jalan
c. Jenis perkerasan
d. Ruang jalan
Keterangan :
C = Kapasitas segmen/segmen khusus (SMP/jam).
FCL = Faktor koreksi kapasitas akibat lebar lajur jalan yang tidak ideal.
FCPA = Faktor koreksi kapasitas akibat pemisahan arah arus lalu lintas. Faktor ini
hanya berlaku untuk jalan tak terbagi.
30
FCHS = Faktor koreksi kapasitas akibat adanya hambatan samping dan ukuran
bahu jalan yang tidak ideal.
31
Hambatan samping merupakan aktivitas di samping jalan yang mempengaruhi
kelancaran arus lalu lintas, seperti pejalan kaki, kendaraan berhenti, kendaraan
keluar masuk lahan samping, serta aktivitas pasar. Tingkat hambatan samping
diklasifikasikan berdasarkan frekuensi kejadian dan karakteristik lingkungan
sekitar jalan.
BAB 3
PERHITUNGAN KONSTRUKSI
32
data untuk memberikan alternatif yang terbaik. Sebelum melakukan perhitungan
awal dilakukan penentuan trase jalan untuk menentukan rute jalan yang akan
dibuat. Data-data yang didapatkan harus diolah dengan baik sesuai standar
perencanaan yang dipakai. Adapun perhitungan yang akan diuraikan pada bab ini
1. Perhitungan tikungan
2. Perhitungan kontrol overlapping
3. Perhitungan pelebaran perkerasan pada tikungan
4. Perhitungan kebebasan samping pada tikungan
5. Perhitungan alinyemen vertical
6. Perhitungan volume galian dan timbunan
33
Penentuan titik koordinat dilakukan berdasarkan hasil pengukuran lapangan
dan/atau interpretasi peta topografi, sehingga diperoleh titik-titik utama sepanjang
trase jalan yang meliputi titik awal, titik akhir, serta titik-titik perubahan arah.
Data koordinat ini selanjutnya digunakan dalam proses perhitungan sudut
defleksi, panjang segmen jalan, serta perencanaan tikungan horizontal.
Adapun titik koordinat dari Jalan Prabumulih–Beringin dapat dilihat pada Tabel
3.1 berikut.
34
Panjang garis tangen ditentukan berdasarkan jarak antar titik koordinat yang telah
ditetapkan sebelumnya. Perhitungan ini dilakukan menggunakan data koordinat
setiap titik sehingga diperoleh jarak sebenarnya di lapangan. Panjang garis tangen
sangat berpengaruh terhadap perencanaan tikungan karena digunakan sebagai
dasar dalam menentukan posisi awal dan akhir tikungan serta jarak antar tikungan.
√ 2 2
d A −PI = ( X b−X a ) + ( Y b−Y a ) ................................................................. (3.1)
Keterangan:
Perhitungannya:
1. Jarak titik A ke titik P1
35
√ 2
d 1= ( X PI .1− X A ) + ( Y PI .1−Y A )
2
¿ 490,348 m
√ 2
d 2= ( X PI .1 −X A ) + ( Y PI .2−Y A )
2
¿ 549,409 m
√ 2
d 3= ( X PI .3 −X PI .2 ) + ( Y PI .3 −Y PI.2 )
2
36
¿ √ ( 343799 ,11−344394 , 48 ) + ( 9542406 , 81−9542583 ,28 )
2 2
¿ 620,981 m
√ 2
d 4 = ( X PI .4− X PI .3 ) + ( Y PI .4 −Y PI .3 )
2
¿ 588,380 m
√ 2
d 5= ( X PI .5 −X PI .4 ) + ( Y PI .5−Y PI .4 )
2
¿ 409,476 m
37
√ 2
d 6 = ( X PI .4 −X PI .3 ) + ( Y PI .4 −Y PI .3 )
2
¿ 583,263 m
√ 2
d 7= ( X PI .7 −X PI .6 ) + ( Y PI .7−Y PI .6 )
2
¿ 737,201 m
38
√ 2 2
d 8 = ( X B −X PI .7 ) + ( Y B−Y PI .7 )
¿ 413,144 m
39
sudut defleksi ini, arah perubahan alinyemen jalan diperoleh dari perpotongan dua
garis tangen yang membentuk sudut tertentu pada titik potong (Point of
Intersection/PI). Nilai sudut Δ tersebut sangat berpengaruh terhadap penentuan
elemen tikungan, seperti jari-jari tikungan, panjang lengkung, serta penempatan
lengkung peralihan agar kendaraan dapat melintas dengan aman dan nyaman.
α A=arctan
( X 1−X A
Y 1−Y 2 )
(3.2 )
α A=arctan
( X A− X P 1
Y A−Y P 1 )
¿ arctan ( 9543469−9542991 ,51 )
344674−344785 ,81
∘ ∘
¿−13,145 + 180
∘
¿ 166,855
α P 1=arctan
( X P 1− X P 2
Y P 1−Y P 2 )
¿ arctan ( 9542991 ,51−9542586 , 28 )
344785 , 81−344414 , 48
∘ ∘
¿ 42,478 +180
∘
¿ 222,477
Δ 1=α A−α P 1
¿ 166,855−222,477
40
∘
¿−55,622
α P 1=arctan
( X P 1− X P 2
Y P 1−Y P 2 )
¿ arctan ( 9542991 ,51−9542586 , 28 )
344785 , 81−344414 , 48
∘ ∘
¿ 42,478 +180
∘
¿ 222,477
α P 2=arctan
( X P 2− X P 3
Y P 2−Y P 3 )
¿ arctan ( 9542586 , 28−9543400 ,81 )
344414 , 48−343819 , 11
∘ ∘
¿ 73,490 +180 ¿
∘
¿ 253,490
Δ 2=α P 1−α P 2
¿ 222,477−253,490
∘
¿−31,013
α P 2=arctan
( X P 2− X P 3
Y P 2−Y P 3 )
41
¿ arctan ( 9542586 , 28−9543400 ,81 )
344414 , 48−343819 , 11
∘ ∘
¿ 73,490 +180
∘
¿ 253,490
α P 3 =arctan
( X P 3− X P 4
Y P 3−Y P 4 )
¿ arctan ( 9543400 , 81−9542750 , 65 )
343819 , 11−343339 ,55
∘ ∘
¿−54,507 +180
∘
¿ 125,403
Δ 3=α P 2 −α P 3
¿ 253,490−125,403 ¿
∘
¿ 128,087
α P 3 =arctan
( X P 3− X P 4
Y P 3−Y P 4 )
¿ arctan ( 9543400 , 81−9542750 , 65 )
343819 , 11−343339 ,55
∘ ∘
¿−54,507 +180
∘
¿ 125,403
α P 4=arctan
( X P 4− X P 5
Y P 4−Y P 5 )
¿ arctan ( 9542750 , 65−9543006 ,09 )
343339 ,55−343119 , 62
42
∘ ∘
¿−32,484 +180 ¿
∘
¿ 147,516
Δ 4 =α P 3−α P 4
¿ 125,403−147,516
∘
¿−22,113
α P 4=arctan
( X P 4− X P 5
Y P 4−Y P 5 )
¿ arctan ( 9542750 , 65−9543006 ,09 )
343339 ,55−343119, 62
∘ ∘
¿−32,484 +180
∘
¿ 147,516
α P 5 =arctan
( X P 5− X P 6
Y P 5−Y P 6 )
¿ arctan ( 9543006 , 09−9542989 , 42 )
343119 , 62−342546 , 20
∘ ∘
¿ 79,462 + 180
∘
¿ 259,462
Δ 5=α P 4−α P 5
¿ 147,516−259,462
∘
¿−111,946
43
6. Sudut ∆ pada titik PI.6
α P 5 =arctan
( X P 5− X P 6
Y P 5−Y P 6 )
¿ arctan ( 9543006 , 09−9542989 , 42 )
343119 , 62−342546 , 20
∘ ∘
¿ 79,462 + 180
∘
¿ 259,462
α P 6 =arctan
( X P 6 −X P 7
Y P 6 −Y P 7 )
¿ arctan ( 342546
9542989 , 42−9542287 )
, 20−342322 , 27
∘ ∘
¿ 176 , 75 + 180
∘
¿ 197,675
Δ 6=α P 5−α P 6
¿ 259,462−197,675
∘
¿ 61,787
α P 6 =arctan
( X P 6 −X P 7
Y P 6 −Y P 7 )
¿ arctan ( 342546
9542989 , 42−9542287 )
, 20−342322 , 27
∘ ∘
¿ 176 , 75 + 180
44
∘
¿ 197,675
α P 7 =arctan
( X P 7 −X B
Y P 7 −Y B )
¿ arctan ( 342322
9542287−9541922, 16 )
,27−342516 , 30
∘ ∘
¿−27,993 + 180
∘
¿ 152,007
Δ 7=α P 6−α P 7
¿ 197,675−152,007
∘
¿ 44,668
dengan interval ±10 m pada setiap STA. Selanjutnya, kemiringan medan dihitung
berdasarkan selisih elevasi melintang terhadap jarak pengukuran sebesar 100 m.
Nilai kemiringan yang diperoleh merupakan nilai pendekatan yang digunakan
sebagai dasar dalam penentuan kelas medan jalan. Adapun hasil perhitungan
kemiringan medan dan penentuan kelas medan jalan disajikan pada tabel berikut.
45
STA Elevasi Kanan (m) Elevasi Kiri (m) Kemiringan (%)
2+000 432,6 421,8 10,8
2+200 424,3 408,9 15,4
2+400 415,7 394,6 21,1
2+600 404,8 384,1 20,7
2+800 396,2 375 21,2
3+000 387,5 366,4 21,1
3+200 378,9 357,2 21,7
3+400 369,8 349 20,8
3+600 360,4 340,1 20,3
3+800 351,6 331,2 20,4
4+000 343,2 322 21,2
4+200 334,5 313,6 20,9
4+400 325,7 304,8 20,9
4+600 316,9 296,1 20,8
4+800 307,8 286,5 21,3
5+000 298,6 277,2 21,4
5+200 289,9 268,1 21,8
5+400 281,4 260,3 21,1
5+600 272,6 251 21,6
5+800 263,8 242,5 21,3
6+000 254,7 233,9 20,8
6+200 246,3 231 15,3
Jumlah 18,4
46
pembuangan air permukaan jalan. Pada perencanaan alinemen horizontal
digunakan jari-jari tikungan minimum sebesar 1100 m, yang ditentukan
berdasarkan kecepatan rencana, superelevasi, serta faktor keselamatan lalu lintas.
Kriteria perencanaan tersebut digunakan sebagai acuan dalam perencanaan
alinemen horizontal, alinemen vertikal, dan elemen geometrik jalan lainnya pada
trase yang direncanakan.
47
Penyelesaian:
1) ∆2 = 31,013
( )
1
T c =R ⋅tan Δ2
2
Ec =T c ⋅tan( 14 Δ )2
¿ 0,034 → 3 , 4 %
48
49
2) ∆4 = 22,113
T c =R ⋅tan( 12 Δ )
4
Ec =T c ⋅tan ( 14 Δ )
4
50
3) ∆7 = 44,668
51
T c =R ⋅tan( 12 Δ )
7
Ec =T c ⋅tan ( 14 Δ )
7
52
2. Perhitungan tikungan Spiral Circle Spiral (SCS)
a. Vr = 80 Km/jam
53
b. eMaks = 10%
c. en = 2%
d. R = 1100m
e. ∆1 = 55,623°
f. ∆3 = 51,913°
g. ∆5 = 68,070°
h. ∆6 = 61,787°
i. [Link] = 0,192-0,00065 x Vr
= 0,192-0,00065 x 80
= 0,14
Penyelesaian:
1) ∆1 = 55,623°
-Koefisien Gesek (fm)
F m=0 , 192−0,000652 V
F m=0,192−0,000652× 80 km / jam
F m=0,13984
2
V
Rmin =
127 ( e max +f m )
2
80
¿
127 ( 0 ,10+ 0 ,14 )
¿ 210 m
181913 , 53 ( e max +f max )
Dmax = 2
V
181913 ,53 ( 0 , 10+0 , 14 )
¿ 2
80
¿ 6 , 82
1432 , 39
D=
R
1432, 39
¿
1100
54
¿ 1,302
e p=−
( e max
D
2
max
×D +
2
)( 2 e max
D max
×D
)
e p=−
( 610, 82% ×1,302 )+( 2×6 ,1082% ×1,302)
2
2
e p=0,035=3 , 5 %
-Berdasarkan waktu tempuh maksimum 3 detik:
VR
Ls = ×T
3 ,6
80
¿ ×3
3 ,6
¿ 66,667 m
-Berdasarkan antisipasi gaya sentrifugal:
( ) V ⋅e p
( )
3
V
Ls =0,022 −2,727
R ⋅C C
( ) ( )
3
80 80 ×3 , 5 %
¿ 0,022 −2,727
210 ×0 , 4 0 ,4
¿ 17,413 m
Berdasarkan tingkat pencapaian kelandaian:
( em −e n )
Ls = ×V
3 , 6 ϕe
( 0 ,10−0 , 02 )
¿ × 80
3 , 6 ×0,025
¿ 71 ,11 m
Menentukan sudut lengkung bagian spiral
90 × Ls
θ s=
π ×R
90 ×71 ,11
¿
π ×210
¿ 9,701
Menentukan sudut lengkung bagian circle
55
Δ c =Δ−2 θs
¿ 55 , 62−( 2 ×9,701 )
¿ 36,220
Menentukan p, k, Lc, L, Ts dan Es
2
Ls
p= −R ( 1−cos θs )
6 Rc
2
71 ,11
¿ −210 ( 1−cos 9,701 )
6 ×210
¿ 1,010 m
2
Ls
k =Ls− 2
−R sin θ s
40 R
2
71 , 11
¿ 71 ,11− −210 sin 9,701
40 ×210
¿ 35,122
Δ
Lc = × 2 πR
180
55 ,62
¿ × 2 π ×210
360
¿ 203,865 m
¿ 146,427
( R+ p )
E s= −R
cos
Δ
2 ( )
( 210+1,010 )
¿ −210
cos( 55 , 62
2 )
¿ 28,429 m
Menentukan absis titik SC pada garis tangen / jarak titik TS ke titik SC
56
( )
2
Ls
X s=Ls 1−
40 R2
( )
2
71 ,11
¿ 71 ,11 1− 2
40 × 210
¿ 70,906 m
Menentukan koordinat titik SC pada garis tegak lurus tangen
2
Ls
Y s= 2
6R
2
71 , 11
¿ 2
6 ×210
¿ 0,019
Ltotal =Lc +2× Ls
¿ 203,865+ ( 2 ×71 , 11)
¿ 346,085 m
57
2) ∆3 = 51,913
-Koefisien Gesek (fm)
F m=0 , 192−0,000652 V
F m=0,192−0,000652× 80 km / jam
F m=0,13984
2
V
Rmin =
127 ( e max +f m )
2
80
¿
127 ( 0 ,10+ 0 ,14 )
¿ 210 m
181913 , 53 ( e max +f max )
Dmax = 2
V
181913 ,53 ( 0 , 10+0 , 14 )
¿ 2
80
¿ 6 , 82
1432 , 39
D=
R
58
1432, 39
¿
1100
¿ 1,302
e p=−
( e max
D
2
max
×D +
2
)( 2 e max
D max
×D
)
e p=−
( 610, 82% ×1,302 )+( 2×6 ,1082% ×1,302)
2
2
e p=0,035=3 , 5 %
-Berdasarkan waktu tempuh maksimum 3 detik:
VR
Ls = ×T
3 ,6
80
¿ ×3
3 ,6
¿ 66,667 m
-Berdasarkan antisipasi gaya sentrifugal:
Ls =0,022 ( )
V3
R ⋅C
−2,727
V ⋅e p
C ( )
( ) ( )
3
80 80 ×3 , 5 %
¿ 0,022 −2,727
210 ×0 , 4 0 ,4
¿ 17,413 m
Berdasarkan tingkat pencapaian kelandaian:
( em −e n )
Ls = ×V
3 , 6 ϕe
( 0 ,10−0 , 02 )
¿ × 80
3 , 6 ×0,025
¿ 71 ,11 m
Menentukan sudut lengkung bagian spiral
θ s=1,852
59
¿ 51,913− ( 2× 1,852 )
¿ 48,209
Menentukan p, k, Lc, L, Ts dan Es
2
Ls
p= −R ( 1−cos θs )
6 Rc
2
71 ,11
¿ −210 ( 1−cos 1,852 )
6 ×210
¿ 0,192 m
2
Ls
k =Ls− 2
−R sin θ s
40 R
2
71 , 11
¿ 71 ,11− −210 sin1,852
40 ×210
¿ 35,560
Δ
Lc = × 2 πR
180
51,913
¿ ×2 π ×210
360
¿ 190,348 m
¿ 137,924
( R+ p )
E s= −R
cos
Δ
2 ( )
( 210+0,192 )
¿ −210
cos( 51,913
2 )
¿ 23 , 81 m
60
( )
2
Ls
X s=Ls 1−
40 R2
( )
2
71 ,11
¿ 71 ,11 1− 2
40 × 210
¿ 71,102 m
Menentukan koordinat titik SC pada garis tegak lurus tangen
Y s =0,000695 m
Ltotal =Lc +2× Ls
¿ 190,348+ ( 2 ×71 , 11)
¿ 332,568 m
61
3) ∆5 = 68,070°
-Koefisien Gesek (fm)
F m=0 , 192−0,000652 V
F m=0,192−0,000652× 80 km / jam
F m=0,13984
2
V
Rmin =
127 ( e max +f m )
2
80
¿
127 ( 0 ,10+ 0 ,14 )
¿ 210 m
181913 , 53 ( e max +f max )
Dmax = 2
V
181913 ,53 ( 0 , 10+0 , 14 )
¿ 2
80
¿ 6 , 82
62
1432 , 39
D=
R
1432, 39
¿
1100
¿ 1,302
e p=−
( e max
D
2
max
×D +
2
)( 2 e max
D max
×D
)
e p=−
( 10 %
6 , 82
2
2
×1,302 +
2× 10 %
6 , 82)(
×1,302 )
e p=0,035=3 , 5 %
-Berdasarkan waktu tempuh maksimum 3 detik:
VR
Ls = ×T
3 ,6
80
¿ ×3
3 ,6
¿ 66,667 m
-Berdasarkan antisipasi gaya sentrifugal:
( ) V ⋅e p
( )
3
V
Ls =0,022 −2,727
R ⋅C C
( ) ( )
3
80 80 ×3 , 5 %
¿ 0,022 −2,727
210 ×0 , 4 0 ,4
¿ 17,413 m
Berdasarkan tingkat pencapaian kelandaian:
( em −e n )
Ls = ×V
3 , 6 ϕe
( 0 ,10−0 , 02 )
¿ × 80
3 , 6 ×0,025
¿ 71 ,11 m
Menentukan sudut lengkung bagian spiral
θ s=1,852
63
Δ c =Δ−2 θs
¿ 68,030−( 2× 1,852 )
¿ 64,326
Menentukan p, k, Lc, L, Ts dan Es
2
Ls
p= −R ( 1−cos θs )
6 Rc
2
71 ,11
¿ −210 ( 1−cos 1,852 )
6 ×210
¿ 0,192 m
2
Ls
k =Ls− 2
−R sin θ s
40 R
2
71 , 11
¿ 71 ,11− −210 sin1,852
40 ×210
¿ 35,560
Δ
Lc = × 2 πR
180
68,030
¿ ×2 π ×210
360
¿ 249,443 m
¿ 177,4396
( R+ p )
E s= −R
cos
Δ
2 ( )
( 210+0,192 )
¿ −210
cos( 68,030
2 )
¿ 43,855 m
64
( )
2
Ls
X s=Ls 1−
40 R2
( )
2
71 ,11
¿ 71 ,11 1− 2
40 × 210
¿ 71,102 m
Menentukan koordinat titik SC pada garis tegak lurus tangen
Y s =0,000695 m
Ltotal =Lc +2× Ls
¿ 190,348+ ( 2 ×71 , 11)
¿ 332,568 m
65
4) ∆6 = 61,787°
-Koefisien Gesek (fm)
F m=0 , 192−0,000652 V
F m=0,192−0,000652× 80 km / jam
F m=0,13984
2
V
Rmin =
127 ( e max +f m )
2
80
¿
127 ( 0 ,10+ 0 ,14 )
¿ 210 m
181913 , 53 ( e max +f max )
D max = 2
V
181913 ,53 ( 0 , 10+0 , 14 )
¿ 2
80
¿ 6 , 82
66
1432 , 39
D=
R
1432, 39
¿
1100
¿ 1,302
e p=−
( e max
D
2
max
×D +
2
)( 2 e max
D max
×D
)
e p=−
( 10 %
6 , 82
2
2
×1,302 +
2× 10 %
6 , 82)(
×1,302 )
e p=0,035=3 , 5 %
-Berdasarkan waktu tempuh maksimum 3 detik:
VR
Ls = ×T
3 ,6
80
¿ ×3
3 ,6
¿ 66,667 m
-Berdasarkan antisipasi gaya sentrifugal:
( ) V ⋅e p
( )
3
V
Ls =0,022 −2,727
R ⋅C C
( ) ( )
3
80 80 ×3 , 5 %
¿ 0,022 −2,727
210 ×0 , 4 0 ,4
¿ 17,413 m
Berdasarkan tingkat pencapaian kelandaian:
( em −e n )
Ls = ×V
3 , 6 ϕe
( 0 ,10−0 , 02 )
¿ × 80
3 , 6 ×0,025
¿ 71 ,11 m
Menentukan sudut lengkung bagian spiral
θ s=1,852
67
Δ c =Δ−2 θs
¿ 61,787−( 2× 1,852 )
¿ 58,083
Menentukan p, k, Lc, L, Ts dan Es
2
Ls
p= −R ( 1−cos θs )
6 Rc
2
71 ,11
¿ −210 ( 1−cos 1,852 )
6 ×210
¿ 0,192 m
2
Ls
k =Ls− 2
−R sin θ s
40 R
2
71 , 11
¿ 71 ,11− −210 sin1,852
40 ×210
¿ 35,560
Δ
Lc = × 2 πR
180
61,787
¿ × 2 π ×210
360
¿ 266,552 m
¿ 161,255
( R+ p )
E s= −R
cos
Δ
2 ( )
( 210+0,192 )
¿ −210
cos( 61,787
2 )
¿ 34,979 m
68
Menentukan absis titik SC pada garis tangen / jarak titik TS ke titik SC
( )
2
Ls
X s=Ls 1−
40 R2
( )
2
71 ,11
¿ 71 ,11 1− 2
40 × 210
¿ 71,102 m
Menentukan koordinat titik SC pada garis tegak lurus tangen
Y s =0,000695 m
Ltotal =Lc +2× Ls
¿ 226,552+ ( 2 ×71 ,11 )
¿ 368,772 m
69
3.5 Perhitungan Kontrol Overlapping
Untuk mengetahui apakah hasil perencanaan geometrik alinyemen horizontal
tidak terjadi overlapping, maka diperlukan perhitungan kontrol overlapping antara
lengkung horizontal yang satu dengan lengkung horizontal berikutnya.
Jarak bebas antar lengkung = 30 m
a. Pertemuan antara titik A dan Tikungan 1 (SCS)
A - PI .1=T s 1+30 m ≤ d 1
¿ 146,427+30 m≤ 490,338 m
¿ 176,427 m ≤ 490,388 m ( OK )
70
¿ 534,129 m ≤549,431 m ( OK )
¿ 525,626 m≤ 620,975 m ( OK )
¿ 432,219 m ≤588,386 m ( OK )
PI .5 - PI .6=T s 5+ T s 6+ 30 m≤ d 6
¿ 368,692 m≤ 583,257 m ( OK )
71
BAB 4
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Namun demikian, pada tahap pengecekan jarak antar tikungan, terdapat satu
segmen yang menunjukkan bahwa jarak tangen yang tersedia lebih kecil
dibandingkan dengan jarak minimum yang dipersyaratkan. Kondisi ini
menyebabkan terjadinya konflik antar tikungan sehingga perencanaan trase jalan
secara keseluruhan dinyatakan tidak memenuhi syarat dan memerlukan
penyesuaian desain.
Dengan demikian, hasil perencanaan geometrik jalan ini belum dapat dijadikan
sebagai desain akhir dan masih memerlukan evaluasi serta perbaikan pada bagian
tertentu dari trase jalan.
4.2 Saran
Berdasarkan hasil perencanaan dan kesimpulan yang diperoleh, beberapa saran
yang dapat diberikan adalah sebagai berikut:
1. Perlu dilakukan penyesuaian ulang terhadap posisi titik PI atau elemen
tikungan pada segmen yang tidak memenuhi syarat agar jarak antar
tikungan dapat memenuhi ketentuan perencanaan geometrik.
2. Alternatif perbaikan dapat dilakukan dengan mengubah jari-jari tikungan,
tipe tikungan, atau kecepatan rencana pada segmen tertentu tanpa
mengurangi aspek keselamatan dan kenyamanan pengguna jalan.
72
3. Disarankan untuk melakukan simulasi beberapa alternatif trase guna
memperoleh konfigurasi geometrik jalan yang paling optimal dan
memenuhi seluruh persyaratan teknis.
4. Pada tahap perencanaan lanjutan, perlu dilakukan survei lapangan yang
lebih detail untuk memastikan bahwa hasil perencanaan yang telah
diperbaiki sesuai dengan kondisi eksisting di lapangan.
73