BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Air Susu Ibu (ASI)
1. Pengertian
Air Susu Ibu (ASI) adalah cairan yang diciptakan khusus yang
keluar langsung dari payudara seorang ibu untuk bayi. ASI merupakan
makanan bayi yang paling sempurna, praktis, murah dan bersih karena
langsung diminum dari payudara ibu. ASI mengandung semua zat gizi
dan cairan yang dibutuhkan bayi untuk memenuhi kebutuhan gizi di 6
bulan pertamanya. Jenis ASI terbagi menjadi 3 yaitu kolostrum, ASI
masa peralihan dan ASI mature. Kolostrum adalah susu yang keluar
pertama, kental, berwarna kuning dengan mengandung protein tinggi
dan sedikit lemak (Walyani, 2019).
ASI merupakan suatu cairan yang terbentuk dari campuran dua
zat yaitu lemak dan air yang terdapat dalam lauratn protein, laktosa
dan garam-garam anorganik yang dihasilkan oleh kelenjar payudara
ibu, dan bermanfaat sebagai makanan bayi. ASI sebagai makanan
pertama yang alami untuk bayi. ASI menyediakan semua energi dan
nutrisi yang dibutuhkan bayi untuk bulan-bulan pertama kehidupan.
(Maryunani,anik, 2018).
8
9
2. Tahapan ASI
ASI yang dihasilkan oleh ibu memiliki tahapan dan kandungan
yang berbeda-beda, terdapat 3 tahapan ASI yang diproduksi oleh ibu:
a. Kolostrum
Kolostrum adalah cairan yang pertama kali disekresi oleh
kelenjar mammae berwarna kekuning-kuningan yang diproduksi
pada hari pertama hingga keempat dengan kandungan protein
dan zat antiinfeksi yang tinggi serta berfungsi sebagai
pemenuhan gizi dan proteksi bayi baru lahir (Astutik Yuli, R.
2018).
b. ASI peralihan
ASI peralihan adalah air susu ibu yang keluar setelah
kolostrum. ASI peralihan diproduksi 8-20 hari dengan kadar
lemak, lakotosa dan vitamin larut air yang lebih tinggi,dan kadar
protein, mineral lebih rendah (Widuri, H. 2017).
c. ASI matang
ASI matang adalah air susu ibu yang dihasilkan sekitar 21
hari setelah melahirkan dengan kandungan sekitar 90% air untuk
hidrasi bayi dan 10% karbohidrat, protein dan lemak untuk
perkembangan bayi (Widuri, H. 2017). ASI matang memiliki 2
tipe yaitu foremilk dan hindmilk. Foremilk diproduksi pada awal
menyusui dengan kandungan tinggi protein, laktosa dan nutrisi
lainnya namun rendah lemak, serta komposisi lebih encer.
10
Sedangkan hindmilk diproduksi menjelang akhir menyusui
dengan kandungan tinggi lemak (Astutik Yuli, R. 2018).
3. Kandungan ASI
ASI merupakan makanan paling ideal dan seimbang bagi
bayi,menurut Astutik Yuli, R (2018), zat gizi yang terkandung dalam
ASI adalah :
a. Nutrien
1) Lemak
Lemak merupakan sumber kalori utama dalam ASI
yang mudah diserap oleh bayi. Asam lemak essensial
dalam ASI akan membentuk asam lemak tidak jenuh
rantai panjang decosahexaenoic acid (DHA) dan
arachidoicacid (AA) yang berfungsi untuk pertumbuhan
otak anak.
2) Karbohidrat
Laktosa merupakan karbohidrat utama dalam ASI
yang bermanfaat untuk meningkatkan absorbs kalsium dan
merangsang pertumbuhan lactobacillus bifidus.
3) Protein
Protein dalam ASI yaituwhey, kasein, sistin, dan
taurin. Sistindan taurin merupakan asam amino yang tidak
dapat ditemukan pada susu sapi. Sistin diperlukan untuk
pertumbuhan somatic dan taurin untuk pertumbuhan anak.
11
4) Garam dan mineral
Kandungan garam dan mineral pada ASI relative
rendah karena ginjal bayi belum dapat mengonsentrasikan
air kemih dengan baik. Kandungan garam dan mineral
pada ASI kalsium, kaliun,natrium, tembaga, zat besi, dan
mangan.
5) Vitamin
Vitamin pada ASI diantaranya vitamin D,E, dan Kb,
Zat Protektif1, Lactobasillus bifidus. Lactobasillus bifidus
berfungsi mengubah laktosa ,menjadi asamlaktat dan asam
asetat yang menyebabkan saluran pencernaan menjadi
lebih asam untuk menghambat pertumbuhan
mikroorganisme. Laktoferin berikatan dengan zat besi
untuk menghambat pertumbuhan kuman tertentu seperti
coli dan menghambat pertumbuhan jamur kandida.
b. Zat protektif
1) Lactobasillus bifidus
Lactobasillus bifidus berfungsi mengubah laktosa
menjadi asam laktak dan asam asetat yang menyebabkan
saluran pencernaan menjadi lebih asam untuk
menghambat pertumbuhan mikroorganisme.
12
2) Laktoferin
Laktoferin berikatan dengan zat besi untuk
menghambat pertumbuhan kuman tertentu seperti E. coli
dan menghambat pertumbuhan jamur kandida.
3) Lisozim
Lisozim merupakan faktor protektif terhadap
serangan bakteri pathogen serta penyakit diare.
Komplemen C3 dan C4 Komplemen C3 dan C4 berfungsi
sebagai daya opsonik, anafilaktoksik, dan kemotaktik.
Faktor antistreptokokus melindungi bayi terhadap infeksi
kuman steptokokus. Antibodi dalam ASI dapat bertahan di
dalam saluran pencernaan bayi dan membuat lapisan pada
mukosanya sehingga mencegah bakteri pathogen atau
enterovirus masuk kedalam mukosa [Link] Seluler
Imunitas seluler berfungsi membunuh dan memfagositosis
mikroorganisme, membentuk C3, C4, lisozim, serta
laktoferin. Tidak menimbulkan Alergi Sistem Ig E pada
bayi belum sempurna, sehingga bayi yang diberikan susu
formula akan merangsang aktivasi system Ig Edan
menimbulkan alergi.
4) Komplemen C3 dan C4
Komplemen C3 dan C4 berfungsi sebagai daya
opsonik, anafilaktoksik, dan kemotaktik.
13
5) Faktor antistreptokokus
Antistreptokokus melindungi bayi terhadap infeksi
kuman steptokokus.
6) Antibodi
Antibodi dalam ASI dapat bertahan didalam saluran
pencernaan bayi dan membuat lapisan pada mukosanya
sehingga mencegah bakteri pathogen atau enterovirus
masuk kedalam mukosa usus.
7) Imunitas seluler
Imunitas seluler berfungsi membunuh dan
memfagositosis mikroorganisme, membentuk C3, C4,
lisozim, serta laktoferin.
8) Tidak menimbulkan alergi
Sistem IgE pada bayi yang belum sempurna,
sehingga bayi yang diberikan susu formula akan
merangsang aktivitas sistem IgE dan menimbulkan alergi.
4. Manfaat ASI
a. Manfaat ASI bagi bayi
1) ASI meningkatkan daya tahan tubuh bayi
ASI adalah cairan hidup yang mengandung zat
kekebalan yang akan melindugi bayi dari berbagai
penyakit infeksi bakteri, virus, parasit dan jamur.
14
2) ASI sebagai nutrisi
ASI merupakan sumber gizi yang sangat ideal
dengan komposisi yang seimbang dengan kebutuhan
pertumbuhan bayi.
3) ASI meningkatkan jalinan kasih sayang
Kontak kulit dini akan berpengaruh terhadap
perkebangan bayi. Walaupun seorang ibu dapat
memberikan kasih saying dengan memberikan susu
formula, tetapi menyusui sendiri akan memberikan efek
psikologis yang besar. Perasaan aman sangat penting
untuk membangun dasar kepercayaan bayi yaitu dengan
mulai mempercayai orang lain (ibu), maka selanjutnya
akan timbul rasa percaya diri pada anak.
4) Mengupayakan pertumbuhan yang baik
Bayi yang mendapat ASI mempunyai kenaikan berat
badan yang baik setelah lahir, pertumbuhan setelah
periode perinatal yang baik dan mengurangi kemungkinan
[Link] menyusu yang sering juga dibuktikan
bermanfaat karena volume ASI yang dihasilkan lebih
banyak sehingga penurunan berat badan bayi hanya
sedikit.
15
b. Manfaat Menyusui bagi Ibu
1) Mengurangi kejadian kanker payudara
Pada saat menyusui hormone esterogen mengalami
penurunan, sementara itu tanpa aktivitas menyusui, kadar
hormone esterogen tetap tinggi dan inilah yang menjadi
salah satu pemicu kanker payudara karena tidak adanya
keseimbangan hormone esterogen dan progesterone.
2) Mencegah perdarahan pasca persalinan
Perangsangan pada payudara ibu oleh hisapan bayi
akan diteruskan ke otak dank e kelenjar hipofisis yang
akan merangsang terbentunya hormone oksitosin.
Oksitosin membantu mengkontraksikan kandungan dan
mencegah terjadinya perdarahan paca persalinan.
3) Mempercepat pengecilan kandungan
Sewaktu menyusui terasa perut ibu mulas yang
menandakan kandungan berktraksi da degan demikian
pengecilan kandunga teradi lebih cepat.
4) Dapat digunakan sebagai metode KB sementara
Meyusui secara eksklusif dapat mejarangkan
kehamilan. Rata-rata jarak kelahira ibu yag meyusui
adalah 24 bulan sedangkan yang tidak menyusui adalah 11
bulan.
16
Hal yang mempertahankan laktasi bekera meekan
hrm untuk ovulasi, sehingga dapat menunda kembalinya
kesuburan. ASI yang digunakan sebagai meted KB
sementara dengan syarat : bayi belum berusia 6 bulan, ibu
belum haid kembali da ASI diberikan secara eksklusif.
5) Mempercepat kembali ke berat badan semula
Selama hamil, ibu meimbun lemak dibawak kulit.
Lemak ini akan terpakai utuk membetuk ASI, sehigga
apabila ibu tidak menyusui, lemak tersebut akan tetap
tertimbu di dalam tubuh.
6) Steril, aman dari pencemaran kuman
7) Selalu tersedia dengan suhu yang sesuai dengan bayi
8) Megandung antibody yang dapat menghambat
pertumbuhan virus
9) Tidak ada bahaya alergi
c. Manfaat ASI untuk keluarga
1) Praktis
ASI selalu tersedia dimanapun ibu berada dan slalu
dalam kondisi steril, sedangkan pemberian susu formula
yang harusmencuci dan mensterilkan botol sebelum
digunakan.
17
2) Menghemat biaya
ASI diproduksi ibu setiap hari sehingga tidak perlu
biaya seperti membelikan susu formula. Pemberian ASI
dapat menyehatkan bayi sehingga mengehmat pengeluaran
keluarga untuk berobat.
d. Manfaat ASI bagi Negara
1) Menurukan angka kesakitan dan kematian anak
2) Mengurangi subsidi untuk Rumah Sakit
3) Mengurangi devisa untuk membeli susu formula
4) Meningkatkan kualitas generasi penerus bangsa
(Kementerian Kesehatan RI, 2017)
5. Sepuluh langkah menuju keberhasilan menyusui menurut perinasia
(2010), dalam Astuti Yuli Renik (2019).
Program ini adalah ringkasan praktik maternitas yang diperlukan
untuk mendukung menyusui, adapun 10 langkah tersebut meliputi:
a. Mempunyai kebijakan tertulis tentang menyusui
b. Melatih semua tenaga pelayanan kesehatan dengan keterampilan
untuk menerangkan kebijakan tersebut.
c. Menjelaskan kepada semua bumil tentang manfaat dan
manajemen laktasi
d. Membantu ibu-ibu mulai menyusui bayi dalam waktu 30 menit
setelah melahirkan
18
e. Memperlihatkan kepada ibu-ibu bagaimana cara menyusui dan
cara mempertahankannya
f. Tidak memberikan makanan atau minuman apapun selain ASI
kepada bayi baru lahir
g. Melaksanakan rawat gabung
h. Mendukung pemberian ASI kepada bayi tanpa dijadwalkan
i. Tidak memberikan dot atau kempeng
j. Membentuk dan membantu pengembangan kelompok
pendukung ibu menyusui.
6. ASI Eksklusif
Menurut World Health Organization (WHO), ASI Eksklusif
merupakan pemberian ASI selama 6 bulan tanpa memberikan
makanan tambahan yang lain seperti cairan, susu formula, air putih,
madu ataupun makanan tambahan lain sampai usianya 6 bulan
(Astutik Yuli R, 2019).
ASI Eksklusif adalah ASI yang diberikan kepada bayi selama 6
bulan dan tanpa diberikan makanan tambahan lainnya seperti susu
formula, madu, jeruk, air teh, dan air putih serta makanan padat
lainnya (Septikasari, M. 2018).
7. Faktor-faktor yang mempengaruhi praktik pemberian ASI Eksklusif
Faktor-faktor yang mempengaruhi praktik pemberian ASI
eksklusif menurut Teori Lawrence Green (Notoatmodjo, 2018)
dibedakan menjadi tiga faktor yaitu faktor pemudah (predisposing
19
factors), faktor pendukung (enabling factors), dan faktor pendorong
(reinforcing factors).
a. Faktor pemudah (Predisposing Factors)
1) Umur ibu
Produksi ASI berubah seiring dengan perubahan
umur. Ibu yang berumur 19-23 tahun umumnya memiliki
produksi ASI yang lebih cukup dibandingkan dengan ibu
yang berusia lebih tua. Hal ini terjadi karena adanya
pembesaran payudara setiap siklus ovulasi mulai awal
terjadinya menstruasi sampai umur 30 tahun, namun
terjadi degenerasi payudara setelah umur 30 tahun. Hasil
penelitian Novita dkk, (2019) menunjukkan bahwa ibu
yang lebih banyak memberikan ASI Eksklusif ada di
kelompok umur 17-25 tahun.
Umur adalah lamanya usia ibu yang terhitung mulai
saat dilahirkan sampai berulang tahun. Semakin cukup
umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan
lebih matang dalam berpikir dan bekerja. Hal ini sebagian
dari pengalaman dan kematangan jiwa. Masa reproduksi
wanita dibagi menjadi 2 periode:
a) Reproduksi (20-35 tahun)
b) Tidak reproduksi (< 20 dan > 35 tahun)
20
Salah satu faktor yang mempengaruhi pemberian
ASI eksklusif adalah umur ibu 20-35 tahun. Umur
seseorang erat kaitannya dengan pengetahuan. Dimana
semakin cukup umur seseorang, tingkat pengetahuannya
akan lebih matang dalam berfikir dan bertindak. Umur
mempengaruhi bagaimana ibu menyusui mengambil
keputusan dalarn pemberian ASI eksklusif, semakin
bertambah umur maka pengalaman dan pengetahuan
semakin bertambah. Selain itu, umur ibu sangat
menentukan kesehatan maternal dan berkaitan dengan
kondisi kehamilan, persalinan dan nifas serta cara
mengasuh dan menyusui bayinya. Ibu yang berumur 20-35
tahun disebut sebagai "masa dewasa" dan disebut juga
masa reproduksi, di mana pada masa ini diharapkan orang
telah marnpu untuk memecahkan masalah-masalah yang
dihadapi dengan tenang secara emosional, terutama dalarn
menghadapi kehamilan, persalinan, nifas dan merawat
bayinya nanti.
2) Tingkat pendidikan
Pendidikan dapat membuat seseorang terdorong
untuk ingin tahu, mencari pengalaman, dan
mengorganisasikan pengalaman sehingga informasi yang
diterima dapat menjadi pengetahuan. Tingkat pendidikan
21
mempengaruhi pemberian ASI eksklusif, dimana ibu yang
berpendidikan tinggi dapat lebih mudah menerima ide
baru dibandingkan dengan ibu yang berpendidikan rendah.
Informasi tentang ASI eksklusif yang diberikan oleh
petugas kesehatan atau dari media informasi dapat mudah
diterima dan dilaksanakan oleh ibu yang memiliki tingkat
pendidikan tinggi (Untari, 2017).
Menurut PP-No-13-Tahun-2015 tentang perubahan
kedua atas peraturan pemerintah nomor 19 tahun 2005
tentang standar nasional pendidikan, indikator tingkat
pendidikan terdiri dari jenjang pendidikan dan kesesuaian
jurusan serta Peraturan Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan Nomor 21 Tahun 2016 menjelaskan bahwa
jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang
ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta
didik, tujuan yang akan dicapai, dan kemampuan yang
dikembangkan, yaitu terdiri dari:
a) Pendidikan dasar: Jenjang pendidikan awal selama 9
(sembilan) tahun pertama masa sekolah anak-anak
yang melandasi jenjang pendidikan menengah yang
dimulai dari SD-SMP.
b) Pendidikan tinggi: Jenjang pendidikan lanjutan dari
pendidikan dasar yaitu SMA sampai perguruan
22
tinggi yang mencakup program sarjana, magister,
doktor, dan spesialis yang diselenggarakan oleh
perguruan tinggi.
Orang yang berpendidikan tinggi akan memberikan
respon yang lebih rasional terhadap informasi yang datang
dan alasan berfikir sejauh mana keuntungan yang mungkin
akan mereka peroleh dari gagasan tersebut. Ibu memiliki
tingkat pendidikan yang lebih tinggi, akan lebih mudah
mengadopsi informasi, makin tinggi pendidikan seseorang
maka makin mudah pula untuk menerima informasi,
misalnya informasi pemberian ASI eksklusif yang baik.
Sebaliknya ibu yang dengan tingkat pendidikan yang
rendah mudah terpengaruh oleh berbagai informasi yang
menjadi hambatan dalam pemberian ASI ekslusif misalnya
pengaruh promosi susu formula. Pendidikan yang dimiliki
oleh orang dewasa akan mempengaruhi perubahan
kemampuan, penampilan, atau perilaku serta tindakannya
karena orang dewasa sudah memiliki pengetahuan, sikap,
keterampilan tertentu yang sudah bertahun-tahun
dipelajarinya jika pengetahuan, sikap, dan sesuatu
tindakan yang belum mereka yakini maka akan sulit
mereka menerima. Olehnya itu pendidikan orang dewasa
dapat efektif menghasilkan perubahan perilaku atau
23
tindakan apabila memiliki tingkatan pendidikan yang
cukup baik.
3) Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini
terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap
suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui
pancaindra manusia, yakni indera penglihatan,
pendengaran penciuman, rasa, dan raba. Sebagian besar
pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.
Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting
dalam membentuk tindakan seseorang (Notoatmodjo,
2018).
Budimana dan Riyanto (2017) juga membuat
karangka teori tingkat pengetahuam seseorang menjadi
dua tingkatan yaitu didasarkan pada nilai presentase yaitu
sebagai berikut :
a) Tingkat pengetahuan katagori Baik jika nilainya
>50%.
b) Jika pengetahuan katagori kurang jika nilainya
<50%.
Informasi maupun pengalaman yang didapat
seseorang terakait pemberian ASI Eksklusif dapat
mempengaruhi perilaku orang tersebut dalam memberikan
24
ASI Eksklusif. Hal ini telah dibuktikan oleh Asmijati
dalam penelitiannya, yaitu ibu yang memiliki pengetahuan
yang baik memiliki kemungkinan 5,47 kali lebih besar
untuk menyusui secara Eksklusif dari ibu yang memiliki
pengetahuan rendah (Pertiwi, P. 2018).
Ketidakpahaman ibu mengenai colostrum yakni ASI
yang keluar pada hari pertama hingga kelima atau ketujuh.
Colostrum merupakan cairan jernih kekuningan yang
mengandung zat putih telur atau protein dengan kadar
tinggi serta zat infeksi atau zat daya tahan tubuh
(Immunoglubin) dalam kadar yang lebih tinggi ketimbang
ASI mature yaitu ASI yang berumur lebih dari tiga hari.
Kebiasaan membuang colostrum merupakan susu basi lalu
menggantinya dengan susu formula atau makanan lainnya
(Prasetyono, 2018).
4) Sikap ibu
Menurut Notoatmodjo (2018), sikap adalah reaksi
atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap
suatu stimulus atau objek. Sikap merupakan kesiapan atau
kesediaan untuk bertindak dan bukan merupakan
pelaksanaan motif tertentu. Sikap belum merupakan suatu
tindakan atau aktivitas, tetapi merupakan predisposisi
tindakan suatu perilaku. Dalam arti lain, sikap masih
25
merupakan reaksi tertutup, bukan merupakan reaksi
terbuka atau tingkah laku yang terbuka.
Sikap sebagai bentuk kesiapan untuk bereaksi
terhadap objek di lingkungan tertentu sebagai suatu
penghayatan terhadap objek. Terbentuknya sebuah sikap
dipengaruhi oleh pengetahuan, pikiran, keyakinan, dan
emosi. Dalam berpikir ini, komponen emosi dan
keyakinan ikut bekerja sehingga ibu tersebut berniat
memberikan ASI Eksklusif kepada bayinya selama 0-6
bulan untuk mencegah supaya anaknya tidak terkena gizi
kurang, Ibu mempunyai sikap tertentu terhadap objek (ASI
eksklusif) yang dapat berperan dalam pencegahan gizi
kurang.
Sikap dapat pula bersifat positif dan dapat pula
bersifat negatif, antara lain:
a) Sikap positif kecenderungan tindakan adalah
mendekati, menyenangi, mengharapkan objek
tertentu.
b) Sikap negatif terdapat kecenderungan untuk
menjauhi, menghindari, membenci, tidak menyukai
objek tertentu.
26
5) Paritas
Paritas adalah jumlah kehamilan yang mampu
menghasilkan janin yang mampu hidup diluar rahim (28
minggu). Paritas dapat dibedakan menjadi:
a) Primipara (satu kali melahirkan)
b) Multipara (> satu kali melahirkan)
Berdasarkan teori yang ada, ibu multipara
berpeluang besar untuk memberikan ASI eksklusif karena
sudah mempunyai pengalaman dengan anak pertama atau
sebelumya. Dari hasil analisa data menunjukkan
responden dengan multipara tidak memberikan ASI
eksklusif dikarenakan minimnya pengetahuan (latar
belakang pendidikan rendah), tidak bekerja dan ekonomi
yang rendah. Ibu multipara tidak memberikan ASI
eksklusif karena ibu kurangnya motivasi dari suami dan
keluarga. Pada seorang ibu yang mengalami laktasi kedua
dan seterusnya cenderung untuk lebih baik daripada
pertama. Laktasi yang kedua yang dialami ibu berarti telah
memiliki pengalaman dalam memberikan ASI eksklusif.
Sedangkan pada laktasi yang pertama ibu belum
mempunyai pengalaman dalam menyusui. Prevalensi
menyusui ekslusif meningkat dengan bertambahnya
jumlah anak dimana anak ke tiga atau lebih akan banyak
27
disusui secara eksklusif dibandingkan dengan anak ke dua
atau pertama. Tingkat paritas telah banyak menentukan
perhatian dalam kesehatan ibu dan anak. Dikatakan
demikian karena terdapat kecenderungan kesehatan ibu
berparitas tinggi lebih baik daripada ibu berparitas rendah.
Di dalam teori Green (1991) menyebutkan bahwa paritas
merupakan salah satu faktor pencetus yang dapat
mempengaruhi perilaku kesehatan.
6) Status pekerjaan
Pekerjaan adalah kegiatan ekonomi yang dilakukan
oleh seseorang dengan maksud memperoleh pendapatan
atau keuntungan (Badan Pusat Statistik, 2018). Ibu yang
bekerja adalah ibu yang memiliki peran ganda yaitu
sebagai ibu rumah tangga dan sebagai wanita pekerja.
Salah satu hambatan pemberian ASI yaitu karena ibu tidak
mempunyai waktu. Ibu yang sibuk bekerja dalam mencari
nafkah baik untuk kehidupan dirinya maupun untuk
membantu keluarga, maka kesempatan untuk pemberian
ASI masih kurang dibandingkan dengan ibu yang tidak
bekerja (Paramita, 2019). Karateristik pekerjaan sebagai
berikut :
a) Tidak bekerja : jika ibu tidak memiliki kesibukan
(IRT)
28
b) Bekerja : jika ibu mempunyai kesibukan (PNS,
wiraswasta, guru, penjahit, petani, dll)
Langkah pemerintah untuk pemberian ASI juga
tertuang dalam Pasal 2 Peraturan Bersama Menteri Negara
Pemberdayaan Perempuan, Menteri Tenaga Kerja
Transmigrasi dan Menteri Kesehatan
no.48/[Link]/XII/2008,PER.27/MEN/XII/2008.
Peraturan Daerah Kota Yogyakarta No. 1 tahun 2014
tentang pemberian ASI eksklusif tercantumkan pada pasal
6, 10, 16 ayat 1, 17 ayat 2 dan [Link], tetap dapat
memberikan bayinya ASI secara eksklusif karena ditempat
kerja sudah disediakan ruang pojok ASI. Oleh sebab itu
ibu yang bekerja di luar rumah dapat lebih praktis
mempompa ASI untuk anaknya diruang pojok ASI. Ibu
yang Perlu dilakukan usaha untuk memberikan informasi
dan motivasi menyusui pada ibu yang tidak bekerja
maupun ibu yang bekerja tentang prinsip pemberian ASI
eksklusif baik secara langsung maupun tidak langsung.
Menyusui sebenarnya tidak saja memberi keesempatan
pada bayi untuk menjadi manusia yang sehat secara fisik
saja, tapi juga lebih cerdas, mempunyai emosional yang
stabil, perkembangan spiritual yang baik, serta
perkembangan sosial yang baik. Selain itu, pada ibu yang
29
bekerja, singkatnya masa cuti hamil atau melahirkan
mengakibatkan sebelum masa pemberian ASI eksklusif
berakhir sudah harus kembali bekerja. Hal ini
mengganggu upaya pemberian ASI eksklusif. ASI
eksklusif harus dijalani selama 6 bulan tanpa intervensi
makanan dan minuman lain, sedangkan cuti hamil dan
melahirkan hanya diberikan selama 3 bulan.
b. Faktor Pemungkin (Enabling Factors)
1) Pendapatan keluarga
Pendapatan keluarga merupakan penghasilan yang
diperoleh oleh suami istri dari berbagai kegiatan ekonomi
sehari-hari, misalnya gaji yang dapat digunakan untuk
memenuhi kebutuhan keluarga (Maulida dkk, 2019).
Keluarga yang mempunyai cukup pangan dapat lebih
tinggi dalam memberi ASI eksklusif dari pada ibu yang
tidak mempunyai cukup pangan, karena kualitas ASI
menjadi baik jika ibu mengonsumsi makanan yang bergizi.
Hal ini menunjukkan bahwa pendapatan keluarga
memiliki hubungan dengan pemberian ASI eksklusif
(Haryono dan Setianingsih, 2018).
2) Kesehatan ibu
Kondisi kesehatan ibu sangat berpengaruh terhadap
pemberian ASI eksklusif. Menurut Proverawati dan
30
Rahmawati (2018), kondisi kesehatan ibu yang tidak dapat
memberikan ASI eksklusif karena harus mendapatkan
perawatan antara lain:
a) Ibu yang terinfeksi HIV/AIDS.
b) Ibu dengan penyakit TBC tidak diobati dan masih
aktif.
c) Ibu yang menggunakan obat-obatan terlarang atau
alkohol dalam jumlah berlebihan.
d) Ibu dengan penyakit herpes yang aktif pada
payudara.
e) Ibu dengan penyakit varisella (cacar).
3) Promosi susu formula
Promosi merupakan bentuk dari komunikasi
pemasaran dalam bentuk serangkaian aktivitas-aktivitas
yang menyeluruh untuk memasarkan sesuatu baik untuk
tujuan finansial. Susu formula adalah susu yang dibuat
khusus untuk bayi yang kandungannya menyerupai
dengan kandungan air susu ibu (ASI), tetapi tidak seluruh
zat gizi yang terkandung didalamnya dapat diserap oleh
bayi. Susu formula dibuat dengan menggunakan ASI
sebagai patokan nutrisi bergizi dan diproduksi secara
komersial.
31
Keberhasilan ASI eksklusif tidak pernah terjadi
apabila iklan susu formula baik dimedia masa maupun
media elekronik lainnya masih mempengaruhi tenaga
kesehatan dan ibu untuk memberikan susu formula kepada
bayi (Astuti, I. 2017).
Bayi yang mengonsumsi ASI dinilai memiliki
komposisi tubuh yang berbeda dengan bayi yang
mengonsumsi susu formula (Pertiwi, P. 2018).
Menurut Prasetyono (2018) menyebutkan ada beberapa
faktor yang membuat sebagian ibu tidak menyusui
anaknya. Salah satunya adalah promosi yang terlampau
gencar dari pihak produsen susu dan makanan
pendamping ASI. Inilah yang membuat peran ibu
terpengaruh untuk menggantikan ASI sebagai makanan
utama bayi dengan susu formula. Promosi ini sangat
mempengaruhi pemikiran ibu yang kurang memiliki
pengetahuan yang luas tentang ASI. Dengan adanya
promosi tersebut, para ibu dibujuk agar mempercayai
ucapan mereka dan mulai menggunakan susu formula
sebagai pengganti ASI. Bagi peran ibu menggunakan susu
formula dianggap lebih mendatangkan semacam
kelonggaran karena mereka tidak perlu selalu siap sedia
memberikan ASI kepada bayinya (Prasetyono, 2018).
32
c. Faktor Penguat (Reinforcing Factors)
1) Dukungan keluarga
Dukungan keluarga adalah sikap, tindakan dan
penerimaan keluarga dalam mendukung ibu untuk
menyusui dan selalu siap untuk memberikan bantuan jika
ibu membutuhkan. Dukungan dari keluarga termasuk
suami, orang tua, atau saudara lainnya sangat berperan
penting dalam keberhasilan ibu menyusui karena pengaruh
keluarga berdampak pada emosi ibu sehingga secara tidak
langsung mempengaruhi produksi ASI (Tiyas, 2017).
2) Dukungan petugas kesehatan
Petugas kesehatan merupakan komponen utama
yang turut berperan dan memberikan kontribusi terhadap
berhasilnya upaya promosi pemberian ASI eksklusif
karena mereka yang selalu kontak langsung dan dipercaya
oleh masyarakat serta mempunyai kesempatan yang
banyak dan memungkinkan untuk memberikan penjelasan
dan penyuluhan tentang ASI (Rahmawati, 2018).
Dukungan yang diberikan petugas kesehatan dapat berupa
peningkatan pemberian edukasi tentang pentingnya ASI
eksklusif, langkah memberikan ASI kepada bayi, makanan
yang mendukung produksi ASI, dan topik lain yang
33
mendukung ibu untuk memberikan ASI eksklusif
(Wulandari dan Pramono, 2018).
34
B. Kerangka Teori
Faktor predisposisi
1. Umur ibu
2. Tingkat pendidikan
3. Pengetahuan
4. Sikap ibu
5. Paritas
6. Status pekerjaan
Faktor pemungkin
1. Pendapatan keluarga Perubahan
2. Kesehatan ibu perilaku
3. Promosi susu formula
Keterangan :
Faktor penguat
Yang di teliti
1. Dukungan keluarga
2. Dukungan petugas
kesehatan Tidak di teliti
Gambar 2.1 kerangka teori sumber : Notoatmodjo (2018), Untari
(2017), Riyanto (2017), Pertiwi, P (2018), Prasetyono (2018),
Paramita (2019), Maulida dkk (2019), Haryono dan Setianingsih
(2018), Rahmawati (2018), Astuti, I (2017), Tiyas (2017),
Rahmawati (2018), Wulansari dan Pramono (2018).
35
C. Kerangka Konsep
Faktor predisposisi
(Predisposing factors) :
- Umur ibu Pemberian ASI
- Tingkat pendidikan eksklusif
- Pengetahuan
- Status pekerjaan
Gambar 2.2 : Kerangka Konsep
36
D. Hipotesis penelitian
Hipotesis adalah jawaban sementara penelitian, patokan duga, atau
dalil sementara yang kebenaranya akan di buktikan dalam penelitian
(Notoatmojo, 2018). Hipotesis dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut :
1. Ada hubungan umur ibu terhadap pemberian ASI Eksklusif pada bayi
di Wilayah Kerja Puskesmas Mpunda Kota Bima Tahun 2022.
2. Ada hubungan tingkat pendidikan terhadap pemberian ASI Eksklusif
pada bayi di Wilayah Kerja Puskesmas Mpunda Kota Bima Tahun
2022.
3. Ada hubungan pengetahuan terhadap pemberian ASI Eksklusif pada
bayi di Wilayah Kerja Puskesmas Mpunda Kota Bima Tahun 2022.
4. Ada hubungan status pekerjaan terhadap pemberian ASI Eksklusif
pada bayi di Wilayah Kerja Puskesmas Mpunda Kota Bima Tahun
2022.