0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan29 halaman

Bab Ii

Dokumen ini membahas tentang Air Susu Ibu (ASI), termasuk pengertian, tahapan, kandungan, manfaat bagi bayi dan ibu, serta praktik menyusui yang baik. ASI merupakan makanan ideal bagi bayi yang mengandung nutrisi lengkap dan zat protektif yang meningkatkan daya tahan tubuh. Selain itu, menyusui juga memberikan manfaat kesehatan bagi ibu dan keluarga, serta berkontribusi pada kesehatan masyarakat secara keseluruhan.

Diunggah oleh

sulis tiani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan29 halaman

Bab Ii

Dokumen ini membahas tentang Air Susu Ibu (ASI), termasuk pengertian, tahapan, kandungan, manfaat bagi bayi dan ibu, serta praktik menyusui yang baik. ASI merupakan makanan ideal bagi bayi yang mengandung nutrisi lengkap dan zat protektif yang meningkatkan daya tahan tubuh. Selain itu, menyusui juga memberikan manfaat kesehatan bagi ibu dan keluarga, serta berkontribusi pada kesehatan masyarakat secara keseluruhan.

Diunggah oleh

sulis tiani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Air Susu Ibu (ASI)

1. Pengertian

Air Susu Ibu (ASI) adalah cairan yang diciptakan khusus yang

keluar langsung dari payudara seorang ibu untuk bayi. ASI merupakan

makanan bayi yang paling sempurna, praktis, murah dan bersih karena

langsung diminum dari payudara ibu. ASI mengandung semua zat gizi

dan cairan yang dibutuhkan bayi untuk memenuhi kebutuhan gizi di 6

bulan pertamanya. Jenis ASI terbagi menjadi 3 yaitu kolostrum, ASI

masa peralihan dan ASI mature. Kolostrum adalah susu yang keluar

pertama, kental, berwarna kuning dengan mengandung protein tinggi

dan sedikit lemak (Walyani, 2019).

ASI merupakan suatu cairan yang terbentuk dari campuran dua

zat yaitu lemak dan air yang terdapat dalam lauratn protein, laktosa

dan garam-garam anorganik yang dihasilkan oleh kelenjar payudara

ibu, dan bermanfaat sebagai makanan bayi. ASI sebagai makanan

pertama yang alami untuk bayi. ASI menyediakan semua energi dan

nutrisi yang dibutuhkan bayi untuk bulan-bulan pertama kehidupan.

(Maryunani,anik, 2018).

8
9

2. Tahapan ASI

ASI yang dihasilkan oleh ibu memiliki tahapan dan kandungan

yang berbeda-beda, terdapat 3 tahapan ASI yang diproduksi oleh ibu:

a. Kolostrum

Kolostrum adalah cairan yang pertama kali disekresi oleh

kelenjar mammae berwarna kekuning-kuningan yang diproduksi

pada hari pertama hingga keempat dengan kandungan protein

dan zat antiinfeksi yang tinggi serta berfungsi sebagai

pemenuhan gizi dan proteksi bayi baru lahir (Astutik Yuli, R.

2018).

b. ASI peralihan

ASI peralihan adalah air susu ibu yang keluar setelah

kolostrum. ASI peralihan diproduksi 8-20 hari dengan kadar

lemak, lakotosa dan vitamin larut air yang lebih tinggi,dan kadar

protein, mineral lebih rendah (Widuri, H. 2017).

c. ASI matang

ASI matang adalah air susu ibu yang dihasilkan sekitar 21

hari setelah melahirkan dengan kandungan sekitar 90% air untuk

hidrasi bayi dan 10% karbohidrat, protein dan lemak untuk

perkembangan bayi (Widuri, H. 2017). ASI matang memiliki 2

tipe yaitu foremilk dan hindmilk. Foremilk diproduksi pada awal

menyusui dengan kandungan tinggi protein, laktosa dan nutrisi

lainnya namun rendah lemak, serta komposisi lebih encer.


10

Sedangkan hindmilk diproduksi menjelang akhir menyusui

dengan kandungan tinggi lemak (Astutik Yuli, R. 2018).

3. Kandungan ASI

ASI merupakan makanan paling ideal dan seimbang bagi

bayi,menurut Astutik Yuli, R (2018), zat gizi yang terkandung dalam

ASI adalah :

a. Nutrien

1) Lemak

Lemak merupakan sumber kalori utama dalam ASI

yang mudah diserap oleh bayi. Asam lemak essensial

dalam ASI akan membentuk asam lemak tidak jenuh

rantai panjang decosahexaenoic acid (DHA) dan

arachidoicacid (AA) yang berfungsi untuk pertumbuhan

otak anak.

2) Karbohidrat

Laktosa merupakan karbohidrat utama dalam ASI

yang bermanfaat untuk meningkatkan absorbs kalsium dan

merangsang pertumbuhan lactobacillus bifidus.

3) Protein

Protein dalam ASI yaituwhey, kasein, sistin, dan

taurin. Sistindan taurin merupakan asam amino yang tidak

dapat ditemukan pada susu sapi. Sistin diperlukan untuk

pertumbuhan somatic dan taurin untuk pertumbuhan anak.


11

4) Garam dan mineral

Kandungan garam dan mineral pada ASI relative

rendah karena ginjal bayi belum dapat mengonsentrasikan

air kemih dengan baik. Kandungan garam dan mineral

pada ASI kalsium, kaliun,natrium, tembaga, zat besi, dan

mangan.

5) Vitamin

Vitamin pada ASI diantaranya vitamin D,E, dan Kb,

Zat Protektif1, Lactobasillus bifidus. Lactobasillus bifidus

berfungsi mengubah laktosa ,menjadi asamlaktat dan asam

asetat yang menyebabkan saluran pencernaan menjadi

lebih asam untuk menghambat pertumbuhan

mikroorganisme. Laktoferin berikatan dengan zat besi

untuk menghambat pertumbuhan kuman tertentu seperti

coli dan menghambat pertumbuhan jamur kandida.

b. Zat protektif

1) Lactobasillus bifidus

Lactobasillus bifidus berfungsi mengubah laktosa

menjadi asam laktak dan asam asetat yang menyebabkan

saluran pencernaan menjadi lebih asam untuk

menghambat pertumbuhan mikroorganisme.


12

2) Laktoferin

Laktoferin berikatan dengan zat besi untuk

menghambat pertumbuhan kuman tertentu seperti E. coli

dan menghambat pertumbuhan jamur kandida.

3) Lisozim

Lisozim merupakan faktor protektif terhadap

serangan bakteri pathogen serta penyakit diare.

Komplemen C3 dan C4 Komplemen C3 dan C4 berfungsi

sebagai daya opsonik, anafilaktoksik, dan kemotaktik.

Faktor antistreptokokus melindungi bayi terhadap infeksi

kuman steptokokus. Antibodi dalam ASI dapat bertahan di

dalam saluran pencernaan bayi dan membuat lapisan pada

mukosanya sehingga mencegah bakteri pathogen atau

enterovirus masuk kedalam mukosa [Link] Seluler

Imunitas seluler berfungsi membunuh dan memfagositosis

mikroorganisme, membentuk C3, C4, lisozim, serta

laktoferin. Tidak menimbulkan Alergi Sistem Ig E pada

bayi belum sempurna, sehingga bayi yang diberikan susu

formula akan merangsang aktivasi system Ig Edan

menimbulkan alergi.

4) Komplemen C3 dan C4

Komplemen C3 dan C4 berfungsi sebagai daya

opsonik, anafilaktoksik, dan kemotaktik.


13

5) Faktor antistreptokokus

Antistreptokokus melindungi bayi terhadap infeksi

kuman steptokokus.

6) Antibodi

Antibodi dalam ASI dapat bertahan didalam saluran

pencernaan bayi dan membuat lapisan pada mukosanya

sehingga mencegah bakteri pathogen atau enterovirus

masuk kedalam mukosa usus.

7) Imunitas seluler

Imunitas seluler berfungsi membunuh dan

memfagositosis mikroorganisme, membentuk C3, C4,

lisozim, serta laktoferin.

8) Tidak menimbulkan alergi

Sistem IgE pada bayi yang belum sempurna,

sehingga bayi yang diberikan susu formula akan

merangsang aktivitas sistem IgE dan menimbulkan alergi.

4. Manfaat ASI

a. Manfaat ASI bagi bayi

1) ASI meningkatkan daya tahan tubuh bayi

ASI adalah cairan hidup yang mengandung zat

kekebalan yang akan melindugi bayi dari berbagai

penyakit infeksi bakteri, virus, parasit dan jamur.


14

2) ASI sebagai nutrisi

ASI merupakan sumber gizi yang sangat ideal

dengan komposisi yang seimbang dengan kebutuhan

pertumbuhan bayi.

3) ASI meningkatkan jalinan kasih sayang

Kontak kulit dini akan berpengaruh terhadap

perkebangan bayi. Walaupun seorang ibu dapat

memberikan kasih saying dengan memberikan susu

formula, tetapi menyusui sendiri akan memberikan efek

psikologis yang besar. Perasaan aman sangat penting

untuk membangun dasar kepercayaan bayi yaitu dengan

mulai mempercayai orang lain (ibu), maka selanjutnya

akan timbul rasa percaya diri pada anak.

4) Mengupayakan pertumbuhan yang baik

Bayi yang mendapat ASI mempunyai kenaikan berat

badan yang baik setelah lahir, pertumbuhan setelah

periode perinatal yang baik dan mengurangi kemungkinan

[Link] menyusu yang sering juga dibuktikan

bermanfaat karena volume ASI yang dihasilkan lebih

banyak sehingga penurunan berat badan bayi hanya

sedikit.
15

b. Manfaat Menyusui bagi Ibu

1) Mengurangi kejadian kanker payudara

Pada saat menyusui hormone esterogen mengalami

penurunan, sementara itu tanpa aktivitas menyusui, kadar

hormone esterogen tetap tinggi dan inilah yang menjadi

salah satu pemicu kanker payudara karena tidak adanya

keseimbangan hormone esterogen dan progesterone.

2) Mencegah perdarahan pasca persalinan

Perangsangan pada payudara ibu oleh hisapan bayi

akan diteruskan ke otak dank e kelenjar hipofisis yang

akan merangsang terbentunya hormone oksitosin.

Oksitosin membantu mengkontraksikan kandungan dan

mencegah terjadinya perdarahan paca persalinan.

3) Mempercepat pengecilan kandungan

Sewaktu menyusui terasa perut ibu mulas yang

menandakan kandungan berktraksi da degan demikian

pengecilan kandunga teradi lebih cepat.

4) Dapat digunakan sebagai metode KB sementara

Meyusui secara eksklusif dapat mejarangkan

kehamilan. Rata-rata jarak kelahira ibu yag meyusui

adalah 24 bulan sedangkan yang tidak menyusui adalah 11

bulan.
16

Hal yang mempertahankan laktasi bekera meekan

hrm untuk ovulasi, sehingga dapat menunda kembalinya

kesuburan. ASI yang digunakan sebagai meted KB

sementara dengan syarat : bayi belum berusia 6 bulan, ibu

belum haid kembali da ASI diberikan secara eksklusif.

5) Mempercepat kembali ke berat badan semula

Selama hamil, ibu meimbun lemak dibawak kulit.

Lemak ini akan terpakai utuk membetuk ASI, sehigga

apabila ibu tidak menyusui, lemak tersebut akan tetap

tertimbu di dalam tubuh.

6) Steril, aman dari pencemaran kuman

7) Selalu tersedia dengan suhu yang sesuai dengan bayi

8) Megandung antibody yang dapat menghambat

pertumbuhan virus

9) Tidak ada bahaya alergi

c. Manfaat ASI untuk keluarga

1) Praktis

ASI selalu tersedia dimanapun ibu berada dan slalu

dalam kondisi steril, sedangkan pemberian susu formula

yang harusmencuci dan mensterilkan botol sebelum

digunakan.
17

2) Menghemat biaya

ASI diproduksi ibu setiap hari sehingga tidak perlu

biaya seperti membelikan susu formula. Pemberian ASI

dapat menyehatkan bayi sehingga mengehmat pengeluaran

keluarga untuk berobat.

d. Manfaat ASI bagi Negara

1) Menurukan angka kesakitan dan kematian anak

2) Mengurangi subsidi untuk Rumah Sakit

3) Mengurangi devisa untuk membeli susu formula

4) Meningkatkan kualitas generasi penerus bangsa

(Kementerian Kesehatan RI, 2017)

5. Sepuluh langkah menuju keberhasilan menyusui menurut perinasia

(2010), dalam Astuti Yuli Renik (2019).

Program ini adalah ringkasan praktik maternitas yang diperlukan

untuk mendukung menyusui, adapun 10 langkah tersebut meliputi:

a. Mempunyai kebijakan tertulis tentang menyusui

b. Melatih semua tenaga pelayanan kesehatan dengan keterampilan

untuk menerangkan kebijakan tersebut.

c. Menjelaskan kepada semua bumil tentang manfaat dan

manajemen laktasi

d. Membantu ibu-ibu mulai menyusui bayi dalam waktu 30 menit

setelah melahirkan
18

e. Memperlihatkan kepada ibu-ibu bagaimana cara menyusui dan

cara mempertahankannya

f. Tidak memberikan makanan atau minuman apapun selain ASI

kepada bayi baru lahir

g. Melaksanakan rawat gabung

h. Mendukung pemberian ASI kepada bayi tanpa dijadwalkan

i. Tidak memberikan dot atau kempeng

j. Membentuk dan membantu pengembangan kelompok

pendukung ibu menyusui.

6. ASI Eksklusif

Menurut World Health Organization (WHO), ASI Eksklusif

merupakan pemberian ASI selama 6 bulan tanpa memberikan

makanan tambahan yang lain seperti cairan, susu formula, air putih,

madu ataupun makanan tambahan lain sampai usianya 6 bulan

(Astutik Yuli R, 2019).

ASI Eksklusif adalah ASI yang diberikan kepada bayi selama 6

bulan dan tanpa diberikan makanan tambahan lainnya seperti susu

formula, madu, jeruk, air teh, dan air putih serta makanan padat

lainnya (Septikasari, M. 2018).

7. Faktor-faktor yang mempengaruhi praktik pemberian ASI Eksklusif

Faktor-faktor yang mempengaruhi praktik pemberian ASI

eksklusif menurut Teori Lawrence Green (Notoatmodjo, 2018)

dibedakan menjadi tiga faktor yaitu faktor pemudah (predisposing


19

factors), faktor pendukung (enabling factors), dan faktor pendorong

(reinforcing factors).

a. Faktor pemudah (Predisposing Factors)

1) Umur ibu

Produksi ASI berubah seiring dengan perubahan

umur. Ibu yang berumur 19-23 tahun umumnya memiliki

produksi ASI yang lebih cukup dibandingkan dengan ibu

yang berusia lebih tua. Hal ini terjadi karena adanya

pembesaran payudara setiap siklus ovulasi mulai awal

terjadinya menstruasi sampai umur 30 tahun, namun

terjadi degenerasi payudara setelah umur 30 tahun. Hasil

penelitian Novita dkk, (2019) menunjukkan bahwa ibu

yang lebih banyak memberikan ASI Eksklusif ada di

kelompok umur 17-25 tahun.

Umur adalah lamanya usia ibu yang terhitung mulai

saat dilahirkan sampai berulang tahun. Semakin cukup

umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan

lebih matang dalam berpikir dan bekerja. Hal ini sebagian

dari pengalaman dan kematangan jiwa. Masa reproduksi

wanita dibagi menjadi 2 periode:

a) Reproduksi (20-35 tahun)

b) Tidak reproduksi (< 20 dan > 35 tahun)


20

Salah satu faktor yang mempengaruhi pemberian

ASI eksklusif adalah umur ibu 20-35 tahun. Umur

seseorang erat kaitannya dengan pengetahuan. Dimana

semakin cukup umur seseorang, tingkat pengetahuannya

akan lebih matang dalam berfikir dan bertindak. Umur

mempengaruhi bagaimana ibu menyusui mengambil

keputusan dalarn pemberian ASI eksklusif, semakin

bertambah umur maka pengalaman dan pengetahuan

semakin bertambah. Selain itu, umur ibu sangat

menentukan kesehatan maternal dan berkaitan dengan

kondisi kehamilan, persalinan dan nifas serta cara

mengasuh dan menyusui bayinya. Ibu yang berumur 20-35

tahun disebut sebagai "masa dewasa" dan disebut juga

masa reproduksi, di mana pada masa ini diharapkan orang

telah marnpu untuk memecahkan masalah-masalah yang

dihadapi dengan tenang secara emosional, terutama dalarn

menghadapi kehamilan, persalinan, nifas dan merawat

bayinya nanti.

2) Tingkat pendidikan

Pendidikan dapat membuat seseorang terdorong

untuk ingin tahu, mencari pengalaman, dan

mengorganisasikan pengalaman sehingga informasi yang

diterima dapat menjadi pengetahuan. Tingkat pendidikan


21

mempengaruhi pemberian ASI eksklusif, dimana ibu yang

berpendidikan tinggi dapat lebih mudah menerima ide

baru dibandingkan dengan ibu yang berpendidikan rendah.

Informasi tentang ASI eksklusif yang diberikan oleh

petugas kesehatan atau dari media informasi dapat mudah

diterima dan dilaksanakan oleh ibu yang memiliki tingkat

pendidikan tinggi (Untari, 2017).

Menurut PP-No-13-Tahun-2015 tentang perubahan

kedua atas peraturan pemerintah nomor 19 tahun 2005

tentang standar nasional pendidikan, indikator tingkat

pendidikan terdiri dari jenjang pendidikan dan kesesuaian

jurusan serta Peraturan Menteri Pendidikan dan

Kebudayaan Nomor 21 Tahun 2016 menjelaskan bahwa

jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang

ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta

didik, tujuan yang akan dicapai, dan kemampuan yang

dikembangkan, yaitu terdiri dari:

a) Pendidikan dasar: Jenjang pendidikan awal selama 9

(sembilan) tahun pertama masa sekolah anak-anak

yang melandasi jenjang pendidikan menengah yang

dimulai dari SD-SMP.

b) Pendidikan tinggi: Jenjang pendidikan lanjutan dari

pendidikan dasar yaitu SMA sampai perguruan


22

tinggi yang mencakup program sarjana, magister,

doktor, dan spesialis yang diselenggarakan oleh

perguruan tinggi.

Orang yang berpendidikan tinggi akan memberikan

respon yang lebih rasional terhadap informasi yang datang

dan alasan berfikir sejauh mana keuntungan yang mungkin

akan mereka peroleh dari gagasan tersebut. Ibu memiliki

tingkat pendidikan yang lebih tinggi, akan lebih mudah

mengadopsi informasi, makin tinggi pendidikan seseorang

maka makin mudah pula untuk menerima informasi,

misalnya informasi pemberian ASI eksklusif yang baik.

Sebaliknya ibu yang dengan tingkat pendidikan yang

rendah mudah terpengaruh oleh berbagai informasi yang

menjadi hambatan dalam pemberian ASI ekslusif misalnya

pengaruh promosi susu formula. Pendidikan yang dimiliki

oleh orang dewasa akan mempengaruhi perubahan

kemampuan, penampilan, atau perilaku serta tindakannya

karena orang dewasa sudah memiliki pengetahuan, sikap,

keterampilan tertentu yang sudah bertahun-tahun

dipelajarinya jika pengetahuan, sikap, dan sesuatu

tindakan yang belum mereka yakini maka akan sulit

mereka menerima. Olehnya itu pendidikan orang dewasa

dapat efektif menghasilkan perubahan perilaku atau


23

tindakan apabila memiliki tingkatan pendidikan yang

cukup baik.

3) Pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini

terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap

suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui

pancaindra manusia, yakni indera penglihatan,

pendengaran penciuman, rasa, dan raba. Sebagian besar

pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.

Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting

dalam membentuk tindakan seseorang (Notoatmodjo,

2018).

Budimana dan Riyanto (2017) juga membuat

karangka teori tingkat pengetahuam seseorang menjadi

dua tingkatan yaitu didasarkan pada nilai presentase yaitu

sebagai berikut :

a) Tingkat pengetahuan katagori Baik jika nilainya

>50%.

b) Jika pengetahuan katagori kurang jika nilainya

<50%.

Informasi maupun pengalaman yang didapat

seseorang terakait pemberian ASI Eksklusif dapat

mempengaruhi perilaku orang tersebut dalam memberikan


24

ASI Eksklusif. Hal ini telah dibuktikan oleh Asmijati

dalam penelitiannya, yaitu ibu yang memiliki pengetahuan

yang baik memiliki kemungkinan 5,47 kali lebih besar

untuk menyusui secara Eksklusif dari ibu yang memiliki

pengetahuan rendah (Pertiwi, P. 2018).

Ketidakpahaman ibu mengenai colostrum yakni ASI

yang keluar pada hari pertama hingga kelima atau ketujuh.

Colostrum merupakan cairan jernih kekuningan yang

mengandung zat putih telur atau protein dengan kadar

tinggi serta zat infeksi atau zat daya tahan tubuh

(Immunoglubin) dalam kadar yang lebih tinggi ketimbang

ASI mature yaitu ASI yang berumur lebih dari tiga hari.

Kebiasaan membuang colostrum merupakan susu basi lalu

menggantinya dengan susu formula atau makanan lainnya

(Prasetyono, 2018).

4) Sikap ibu

Menurut Notoatmodjo (2018), sikap adalah reaksi

atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap

suatu stimulus atau objek. Sikap merupakan kesiapan atau

kesediaan untuk bertindak dan bukan merupakan

pelaksanaan motif tertentu. Sikap belum merupakan suatu

tindakan atau aktivitas, tetapi merupakan predisposisi

tindakan suatu perilaku. Dalam arti lain, sikap masih


25

merupakan reaksi tertutup, bukan merupakan reaksi

terbuka atau tingkah laku yang terbuka.

Sikap sebagai bentuk kesiapan untuk bereaksi

terhadap objek di lingkungan tertentu sebagai suatu

penghayatan terhadap objek. Terbentuknya sebuah sikap

dipengaruhi oleh pengetahuan, pikiran, keyakinan, dan

emosi. Dalam berpikir ini, komponen emosi dan

keyakinan ikut bekerja sehingga ibu tersebut berniat

memberikan ASI Eksklusif kepada bayinya selama 0-6

bulan untuk mencegah supaya anaknya tidak terkena gizi

kurang, Ibu mempunyai sikap tertentu terhadap objek (ASI

eksklusif) yang dapat berperan dalam pencegahan gizi

kurang.

Sikap dapat pula bersifat positif dan dapat pula

bersifat negatif, antara lain:

a) Sikap positif kecenderungan tindakan adalah

mendekati, menyenangi, mengharapkan objek

tertentu.

b) Sikap negatif terdapat kecenderungan untuk

menjauhi, menghindari, membenci, tidak menyukai

objek tertentu.
26

5) Paritas

Paritas adalah jumlah kehamilan yang mampu

menghasilkan janin yang mampu hidup diluar rahim (28

minggu). Paritas dapat dibedakan menjadi:

a) Primipara (satu kali melahirkan)

b) Multipara (> satu kali melahirkan)

Berdasarkan teori yang ada, ibu multipara

berpeluang besar untuk memberikan ASI eksklusif karena

sudah mempunyai pengalaman dengan anak pertama atau

sebelumya. Dari hasil analisa data menunjukkan

responden dengan multipara tidak memberikan ASI

eksklusif dikarenakan minimnya pengetahuan (latar

belakang pendidikan rendah), tidak bekerja dan ekonomi

yang rendah. Ibu multipara tidak memberikan ASI

eksklusif karena ibu kurangnya motivasi dari suami dan

keluarga. Pada seorang ibu yang mengalami laktasi kedua

dan seterusnya cenderung untuk lebih baik daripada

pertama. Laktasi yang kedua yang dialami ibu berarti telah

memiliki pengalaman dalam memberikan ASI eksklusif.

Sedangkan pada laktasi yang pertama ibu belum

mempunyai pengalaman dalam menyusui. Prevalensi

menyusui ekslusif meningkat dengan bertambahnya

jumlah anak dimana anak ke tiga atau lebih akan banyak


27

disusui secara eksklusif dibandingkan dengan anak ke dua

atau pertama. Tingkat paritas telah banyak menentukan

perhatian dalam kesehatan ibu dan anak. Dikatakan

demikian karena terdapat kecenderungan kesehatan ibu

berparitas tinggi lebih baik daripada ibu berparitas rendah.

Di dalam teori Green (1991) menyebutkan bahwa paritas

merupakan salah satu faktor pencetus yang dapat

mempengaruhi perilaku kesehatan.

6) Status pekerjaan

Pekerjaan adalah kegiatan ekonomi yang dilakukan

oleh seseorang dengan maksud memperoleh pendapatan

atau keuntungan (Badan Pusat Statistik, 2018). Ibu yang

bekerja adalah ibu yang memiliki peran ganda yaitu

sebagai ibu rumah tangga dan sebagai wanita pekerja.

Salah satu hambatan pemberian ASI yaitu karena ibu tidak

mempunyai waktu. Ibu yang sibuk bekerja dalam mencari

nafkah baik untuk kehidupan dirinya maupun untuk

membantu keluarga, maka kesempatan untuk pemberian

ASI masih kurang dibandingkan dengan ibu yang tidak

bekerja (Paramita, 2019). Karateristik pekerjaan sebagai

berikut :

a) Tidak bekerja : jika ibu tidak memiliki kesibukan

(IRT)
28

b) Bekerja : jika ibu mempunyai kesibukan (PNS,

wiraswasta, guru, penjahit, petani, dll)

Langkah pemerintah untuk pemberian ASI juga

tertuang dalam Pasal 2 Peraturan Bersama Menteri Negara

Pemberdayaan Perempuan, Menteri Tenaga Kerja

Transmigrasi dan Menteri Kesehatan

no.48/[Link]/XII/2008,PER.27/MEN/XII/2008.

Peraturan Daerah Kota Yogyakarta No. 1 tahun 2014

tentang pemberian ASI eksklusif tercantumkan pada pasal

6, 10, 16 ayat 1, 17 ayat 2 dan [Link], tetap dapat

memberikan bayinya ASI secara eksklusif karena ditempat

kerja sudah disediakan ruang pojok ASI. Oleh sebab itu

ibu yang bekerja di luar rumah dapat lebih praktis

mempompa ASI untuk anaknya diruang pojok ASI. Ibu

yang Perlu dilakukan usaha untuk memberikan informasi

dan motivasi menyusui pada ibu yang tidak bekerja

maupun ibu yang bekerja tentang prinsip pemberian ASI

eksklusif baik secara langsung maupun tidak langsung.

Menyusui sebenarnya tidak saja memberi keesempatan

pada bayi untuk menjadi manusia yang sehat secara fisik

saja, tapi juga lebih cerdas, mempunyai emosional yang

stabil, perkembangan spiritual yang baik, serta

perkembangan sosial yang baik. Selain itu, pada ibu yang


29

bekerja, singkatnya masa cuti hamil atau melahirkan

mengakibatkan sebelum masa pemberian ASI eksklusif

berakhir sudah harus kembali bekerja. Hal ini

mengganggu upaya pemberian ASI eksklusif. ASI

eksklusif harus dijalani selama 6 bulan tanpa intervensi

makanan dan minuman lain, sedangkan cuti hamil dan

melahirkan hanya diberikan selama 3 bulan.

b. Faktor Pemungkin (Enabling Factors)

1) Pendapatan keluarga

Pendapatan keluarga merupakan penghasilan yang

diperoleh oleh suami istri dari berbagai kegiatan ekonomi

sehari-hari, misalnya gaji yang dapat digunakan untuk

memenuhi kebutuhan keluarga (Maulida dkk, 2019).

Keluarga yang mempunyai cukup pangan dapat lebih

tinggi dalam memberi ASI eksklusif dari pada ibu yang

tidak mempunyai cukup pangan, karena kualitas ASI

menjadi baik jika ibu mengonsumsi makanan yang bergizi.

Hal ini menunjukkan bahwa pendapatan keluarga

memiliki hubungan dengan pemberian ASI eksklusif

(Haryono dan Setianingsih, 2018).

2) Kesehatan ibu

Kondisi kesehatan ibu sangat berpengaruh terhadap

pemberian ASI eksklusif. Menurut Proverawati dan


30

Rahmawati (2018), kondisi kesehatan ibu yang tidak dapat

memberikan ASI eksklusif karena harus mendapatkan

perawatan antara lain:

a) Ibu yang terinfeksi HIV/AIDS.

b) Ibu dengan penyakit TBC tidak diobati dan masih

aktif.

c) Ibu yang menggunakan obat-obatan terlarang atau

alkohol dalam jumlah berlebihan.

d) Ibu dengan penyakit herpes yang aktif pada

payudara.

e) Ibu dengan penyakit varisella (cacar).

3) Promosi susu formula

Promosi merupakan bentuk dari komunikasi

pemasaran dalam bentuk serangkaian aktivitas-aktivitas

yang menyeluruh untuk memasarkan sesuatu baik untuk

tujuan finansial. Susu formula adalah susu yang dibuat

khusus untuk bayi yang kandungannya menyerupai

dengan kandungan air susu ibu (ASI), tetapi tidak seluruh

zat gizi yang terkandung didalamnya dapat diserap oleh

bayi. Susu formula dibuat dengan menggunakan ASI

sebagai patokan nutrisi bergizi dan diproduksi secara

komersial.
31

Keberhasilan ASI eksklusif tidak pernah terjadi

apabila iklan susu formula baik dimedia masa maupun

media elekronik lainnya masih mempengaruhi tenaga

kesehatan dan ibu untuk memberikan susu formula kepada

bayi (Astuti, I. 2017).

Bayi yang mengonsumsi ASI dinilai memiliki

komposisi tubuh yang berbeda dengan bayi yang

mengonsumsi susu formula (Pertiwi, P. 2018).

Menurut Prasetyono (2018) menyebutkan ada beberapa

faktor yang membuat sebagian ibu tidak menyusui

anaknya. Salah satunya adalah promosi yang terlampau

gencar dari pihak produsen susu dan makanan

pendamping ASI. Inilah yang membuat peran ibu

terpengaruh untuk menggantikan ASI sebagai makanan

utama bayi dengan susu formula. Promosi ini sangat

mempengaruhi pemikiran ibu yang kurang memiliki

pengetahuan yang luas tentang ASI. Dengan adanya

promosi tersebut, para ibu dibujuk agar mempercayai

ucapan mereka dan mulai menggunakan susu formula

sebagai pengganti ASI. Bagi peran ibu menggunakan susu

formula dianggap lebih mendatangkan semacam

kelonggaran karena mereka tidak perlu selalu siap sedia

memberikan ASI kepada bayinya (Prasetyono, 2018).


32

c. Faktor Penguat (Reinforcing Factors)

1) Dukungan keluarga

Dukungan keluarga adalah sikap, tindakan dan

penerimaan keluarga dalam mendukung ibu untuk

menyusui dan selalu siap untuk memberikan bantuan jika

ibu membutuhkan. Dukungan dari keluarga termasuk

suami, orang tua, atau saudara lainnya sangat berperan

penting dalam keberhasilan ibu menyusui karena pengaruh

keluarga berdampak pada emosi ibu sehingga secara tidak

langsung mempengaruhi produksi ASI (Tiyas, 2017).

2) Dukungan petugas kesehatan

Petugas kesehatan merupakan komponen utama

yang turut berperan dan memberikan kontribusi terhadap

berhasilnya upaya promosi pemberian ASI eksklusif

karena mereka yang selalu kontak langsung dan dipercaya

oleh masyarakat serta mempunyai kesempatan yang

banyak dan memungkinkan untuk memberikan penjelasan

dan penyuluhan tentang ASI (Rahmawati, 2018).

Dukungan yang diberikan petugas kesehatan dapat berupa

peningkatan pemberian edukasi tentang pentingnya ASI

eksklusif, langkah memberikan ASI kepada bayi, makanan

yang mendukung produksi ASI, dan topik lain yang


33

mendukung ibu untuk memberikan ASI eksklusif

(Wulandari dan Pramono, 2018).


34

B. Kerangka Teori

Faktor predisposisi
1. Umur ibu
2. Tingkat pendidikan
3. Pengetahuan
4. Sikap ibu
5. Paritas
6. Status pekerjaan

Faktor pemungkin
1. Pendapatan keluarga Perubahan
2. Kesehatan ibu perilaku
3. Promosi susu formula

Keterangan :

Faktor penguat
Yang di teliti
1. Dukungan keluarga
2. Dukungan petugas
kesehatan Tidak di teliti

Gambar 2.1 kerangka teori sumber : Notoatmodjo (2018), Untari

(2017), Riyanto (2017), Pertiwi, P (2018), Prasetyono (2018),

Paramita (2019), Maulida dkk (2019), Haryono dan Setianingsih

(2018), Rahmawati (2018), Astuti, I (2017), Tiyas (2017),

Rahmawati (2018), Wulansari dan Pramono (2018).


35

C. Kerangka Konsep

Faktor predisposisi
(Predisposing factors) :
- Umur ibu Pemberian ASI
- Tingkat pendidikan eksklusif
- Pengetahuan
- Status pekerjaan

Gambar 2.2 : Kerangka Konsep


36

D. Hipotesis penelitian

Hipotesis adalah jawaban sementara penelitian, patokan duga, atau

dalil sementara yang kebenaranya akan di buktikan dalam penelitian

(Notoatmojo, 2018). Hipotesis dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut :

1. Ada hubungan umur ibu terhadap pemberian ASI Eksklusif pada bayi

di Wilayah Kerja Puskesmas Mpunda Kota Bima Tahun 2022.

2. Ada hubungan tingkat pendidikan terhadap pemberian ASI Eksklusif

pada bayi di Wilayah Kerja Puskesmas Mpunda Kota Bima Tahun

2022.

3. Ada hubungan pengetahuan terhadap pemberian ASI Eksklusif pada

bayi di Wilayah Kerja Puskesmas Mpunda Kota Bima Tahun 2022.

4. Ada hubungan status pekerjaan terhadap pemberian ASI Eksklusif

pada bayi di Wilayah Kerja Puskesmas Mpunda Kota Bima Tahun

2022.

Anda mungkin juga menyukai