0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan86 halaman

Skripsi Dian Rani

rrrrrrrrrr

Diunggah oleh

bidanantitsugiharti
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan86 halaman

Skripsi Dian Rani

rrrrrrrrrr

Diunggah oleh

bidanantitsugiharti
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

SKRIPSI

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN IBU HAMIL TRIMESTER II


DENGAN KEJADIAN PREEKLAMSIA BERAT DI PUSKESMAS SUKAJAYA
TAHUN 2024

Disusun Oleh :
DIAN RANI
NPM : 2404052293483

PROGRAM STUDI KEBIDANAN PROGRAM SARJANA


FAKULTAS ILMU KESEHATAN DAN SAINS
UNIVERSITAS BHAKTI PERTIWI INDONESIA
TAHUN AKADEMIK 2024/2025
HALAMAN JUDUL

SKRIPSI
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN IBU HAMIL TRIMESTER II
DENGAN KEJADIAN PREEKLAMSIA BERAT DI PUSKESMAS SUKAJAYA
TAHUN 2024

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar [Link] Pada Program Studi Kebidanan
Program Sarjana ([Link]) Universitas Bhakti Pertiwi Indonesia

Disusun Oleh :
DIAN RANI
NPM : 2404052293483

PROGRAM STUDI KEBIDANAN PROGRAM SARJANA FAKULTAS ILMU


KESEHATAN DAN SAINS
UNIVERSITAS BHAKTI PERTIWI INDONESI
TAHUN AKADEMIK 2024/2025
PERNYATAAN TENTANG ORISINALITAS

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya:

NAMA : DIAN RANI


NIM : 240405 2293483
Program Studi : Kebidan Program Sarjana
Angkatan : 5
Jenjang : Sarjana

Menyatakan bahwa saya tidak melakukan tindakan plagiat dalam penulisan skripsi saya yang berjudul:
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN IBU HAMIL TRIMESTER II DENGAN
KEJADIAN PREEKLAMSIA BERAT DI PUSKESMAS SUKAJAYA TAHUN 2024
Apabila dikemudian hari saya terbukti melakukan tindakan plagiat, maka saya bersedia menerima sanksi
yang ditetapkan.
Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya.

Jakarta,…… Agustus 2025


Yang menyatakan,

Materai
Rp. 10.000

DIAN RANI
2404052293483
LEMBAR PERSETUJUAN

SKRIPSI

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN IBU HAMIL TRIMESTER II


DENGAN KEJADIAN PREEKLAMSIA BERAT DI PUSKESMAS SUKAJAYA
TAHUN 2024

Telah disetujui, diperiksa, dan siap diujikan dihadapan TIM Penguji Program Studi Pendidikan Prodi
Kebidanan Program Sarjana Universitas Bhaktin Pratiwi Indonesia

Jakarta, … Agustus 2025

Pembimbing I Pembimbing II

Dr. Bdn Hj. Lilik [Link].,MARS [Link] [Link]


NIDK : 8914140022 NIDN: 0325076906

Jakarta, Agustus 2025


Mengetahui
Ketua Program Studi Kebidanan Program Sarjana
Dan Program Studi Pendidikan Profesi Bidan Program Profesi

Dr. Arsita Pratiwi S. ST., [Link]. Keb


NIDN: 0314059301

LEMBAR PENGESAHAN

SKRIPSI
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN IBU HAMIL TRIMESTER II
DENGAN KEJADIAN PREEKLAMSIA BERAT DI PUSKESMAS SUKAJAYA
TAHUN 2024

Telah Diuji Dan Dipertahankan Di Depan Penguji Dan Dinyatakan Memenuhi Syarat
Jakarta, Agustus 2025

Penguji I Penguji II

Dr. Bdn [Link] [Link].,[Link] [Link] [Link]


NIDK : 8930350022 NIDN: 0325076906

Jakarta, Agustus 2025


Mengetahui
Rektor Universitas Bhakti Pertiwi Indonesia

Dr. Bd. Hj. Lilik Susilowati, [Link]., SKM, [Link], MARS


NIDK : 8914140022
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karuni-Nya, sehingga dapat menyelesaikan

skripsi dengan judul ” FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN IBU HAMIL TRIMESTER II

DENGAN KEJADIAN PREEKLAMSIA BERAT DI PUSKESMAS SUKAJAYA TAHUN 2024 ”.

skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kebidanan ([Link]) pada Program

Studi Kebidanan Program Sarjana Universitas Bhakti Pertiwi Indonesia. Bersama ini perkenankanlah

penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya dengan hati yang tulus kepada:

1. [Link] Arifianto, [Link] (OG).,SpOG.,MARS selaku Ketua Yayasan Bhakti Pertiwi Indonesia

2. Dr. Bdn. Hj. Lilik Susilowati, [Link]., SKM., [Link]., MARS selaku Rektor Universitas Bhakti

Pertiwi Indonesia dan Pembimbing I skripsi.

3. Wakil Rektor I Dr. Bdn. Hj. Ella Nurlelawati.,[Link].,SKM.,[Link] dan selakau penguji I

4. Wakil Rektor II Dr. Haura Karlina, ST.,[Link]

5. Dr. Arsita Pratiwi, [Link]., [Link] Ketua Program Studi Kebidanan Program Sarjana dan Prodi

Pendidikan Profesi Bidan Program profesi Universitas Bhakti Pertiwi Indonesia

6. Dr. Bdn. Pipih Salati [Link], MKM selaku Pembimbing II dan penguji II

7. Darwin Navis SKM. MKM Kepala Puskesmas Sukajaya

8. Para dosen dan seluruh staff yang terkait di Program Studi Sarjana

9. Suami, Anak, ibu dan bapak yang telah mendukung penuh kasih, sesalu mendoakan dan memberi

semangat

10. Rekan-rekan semua, terima kasih atas bantuan, kekompakan dan kerjasamanya slama ini, yang

tidak dapat disebutkan satu persatu, terima kasih untuk persahabatan kita.

Semoga Allah SWT membalas budi baik semua pihak yang telah memberikan kesempatan,

dukungan dan bantuan dalam menyelesaikan skripsi ini. Penulis menyadari bahwa skripsi ini jauh dari

sempurna, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk perbaikan dimasa yang

akan datang. Semoga skripsi ini dapat berguna bagi pembaca umumnya dan Program studi Pendidikan
Profesi Bidan khususnya. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita

semua.

Jakarta,Agustus 2025

DIAN RANI
UNIVERSITAS BHAKTI PERTIWI INDONESIA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PRODI KEBIDANAN PROGRAM SARJANA
KEBIDANAN

Skripsi, Agustus 2025


Dian rani
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN IBU HAMIL TRIMESTER II DENGAN
KEJADIAN
PREEKLAMSIA BERAT DI PUSKESMAS SUKAJAYA TAHUN 2024
Xiii + 79 Halaman + 9 Tabel + 2 gambar + 13 Lampiran

ABSTRAK

Pada saat ini masalah yang sering terjadi dalam kehamilan yaitu preeklampsia.
Kejadian preeklampsia pada negara berkembang berkisar antara 0,3% sampai 0,7
%, sedangkan pada negara maju angka preeklampsia yaitu berkisar antara 0,05 %
sampai 0,1 %. Angka kejadian preeklampsia berat Puskesmas Sukajaya tahun
2024 yaitu sebesar 62 kasus dari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
faktor-faktor yang berhubungan i b u h a m i l t r i m e s t e r I I dengan
kejadian preeklampsia berat di Puskesmas sukajaya tahun 2024. Jenis penelitian
ini adalah analitik dengan metode cross sectional. Populasi penelitian adalah
seluruh ibu hamil trimester II di Puskesmas Sukajaya Tahun [Link]
berjumlah 62 responden . Cara menentukan besaran sampel dengan
menggunakan total sampling Teknik pengambilan sampel menggunakan. Data
diambil dengan menggunakan data sekunder dari instalasi rekam medis
Puskesmas Sukajaya Thun 2024. Data dianalisis secara univariat dan bivariat
dengan menggunakan uji chi-square.. Hasil penelitian didapatkan sebanyak
30,6% ibu hamil mengalami preeklampsia berat, 74,2 % memiliki umur berisiko,
40,6% mengalami obesitas , 40,3 % memiliki riwayat preeklamsaia berat. Hasil
uji statistik terdapat hubungan umur (p value = 0,323) tidak terdapat hubungan
obesitas p (value=0,004 ) terdapat hubungan riwayat kehmilan terdahulu ( p
value=0,036)terdapat hubungan dengan kejdian preeklamsia berat.. Berdasarkan
analisis hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara
obesitas dan riwayat kehamilan terdahulu serta tidak adanya hubungan umur
dengan kejadian preeklampsia berat. Disarankan kepada petugas kesehatan di
Rumah sakit untuk dapat melakukan tidakan pencegahan terhadap preeklampsia
dengan memberikan edukasi mengenai pentingnya pola hidup sehat dan menjaga
berat badan terutama pada masa kehamilan. Serta mengenali faktor resiko
preeklampsia pada pasien. Selain itu memberikan konseling keluarga berencana
sehingga ibu tidak lagi hamil pada usia yang berisiko serta dengan jarak
kehamilan yang < 2 tahun.

Kata Kunci : Preeklampsia Berat, Usia, Obesitas dam , Riwayat


Preeklampsia,
Daftar Pustaka : 28
BHAKTI PERTIWI UNIVERSITY OF INDONESIA
EDUCATIONAL STUDY PROGRAM MIDWIFERY STUDY PROGRAM
BACHELOR OF MIDWIFERY PROGRAM

Thesis, August 2025


Dian Rani

FACTORS ASSOCIATED WITH THE INCIDENCE OF SEVERE


PREECLAMPSIA IN THE SECOND TRIMESTER OF PREGNANT
WOMEN AT THE SUKAJAYA PUBLIC HEALTH CENTER IN 2024
Xiii + 79 Pages + 9 Tables + 2 Figures + 13 Appendices

ABSTRACT
Currently, a common problem in pregnancy is preeclampsia. The incidence
of preeclampsia in developing countries ranges from 0.3% to 0.7%, while in
developed countries the rate ranges from 0.05% to 0.1%. The incidence of
severe preeclampsia at Sukajaya Community Health Center in 2024 was 62
cases. This study aims to determine the factors associated with the incidence
of severe preeclampsia in second-trimester pregnant women at Sukajaya
Community Health Center in 2024.. This type of research is analytical with a
cross-sectional method. The study population was all pregnant women in the
second trimester at the Sukajaya Health Center in 2024, totaling 62
respondents. The method of determining the sample size using total
sampling. The sampling technique used. Data were taken using secondary
data from the medical record installation of the Sukajaya Health Center in
2024. Data were analyzed univariately and bivariately using the chi-square
test.. The results of the study showed that 30.6% of pregnant women
experienced severe preeclampsia, 74.2% had a risky age, 40.6% were obese,
40.3% had a history of severe preeclampsia. The results of the statistical test
showed a relationship between age (p value = 0.323) and no relationship
between obesity (p value = 0.004), and a relationship between previous
pregnancy history (p value = 0.036). There was a relationship with the
occurrence of severe preeclampsia. Based on the analysis of the research
results, it can be concluded that there is a relationship between obesity and a
history of previous pregnancies, and there is no relationship between age and
the incidence of severe preeclampsia. It is recommended that healthcare
workers in hospitals take preventive measures against preeclampsia by
providing education on the importance of a healthy lifestyle and maintaining
a healthy weight, especially during pregnancy. They should also identify risk
factors for preeclampsia in patients. Furthermore, family planning
counseling should be provided to prevent future pregnancies at high-risk
ages and with pregnancies spacing less than two years apart.
Keywords: Severe preeclampsia, age, obesity, history of preeclampsia,
Bibliography: 28

i
DAFTAR ISI

SKRIPSI ..................................................................................................................1
HALAMAN JUDUL...............................................................................................2
SKRIPSI ..................................................................................................................2
PERNYATAAN TENTANG ORISINALITAS ...................................................3
LEMBAR PERSETUJUAN ..................................................................................4
SKRIPSI ..................................................................................................................4
LEMBAR PENGESAHAN ...................................................................................4
SKRIPSI ..................................................................................................................4
KATA PENGANTAR ............................................................................................6
ABSTRAK ...........................................................................................................vii
ABSTRACT..............................................................................................................vii
DAFTAR ISI ...........................................................................................................1
DAFTAR TABEL ..................................................................................................3
BAB 1 ......................................................................................................................4
PENDAHULUAN ...................................................................................................4
1.1. Latar Belakang ..............................................................................................4
1.2. Rumusan masalah ..........................................................................................6
[Link] Penelitian ............................................................................................7
1.4. Manfaat penelitian .........................................................................................8
1.5. Ruang lingkup penelitian ...............................................................................8
BAB II ...................................................................................................................10
TINJAUAN PUSTAKA .......................................................................................10
2.1 Definisi Kehamilan .......................................................................................10
2.2 Preeklamsia Berat .........................................................................................12
2.3 KERANGKA TEORI ...................................................................................31
BAB III ..................................................................................................................32
KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPRASIONAL ...............................32
3.1. KERANGKA KONSEP..............................................................................32
3.2 Defisini Oprasional .......................................................................................33

1
3.3. Hipotesis ......................................................................................................34
BAB IV ..................................................................................................................35
METODE PENELITIAN ...................................................................................35
4.1. Desain Penelitian .........................................................................................35
4.2. Popilasi dan Sampel Penelitian ...................................................................35
4.3. Lokasi dan Waktu penelitian .......................................................................36
4.4 Instrumen Penelitian .....................................................................................36
4.5 Pengumpulan Data .......................................................................................37
4.6 Analisis Data ................................................................................................39
4.7. Penyajian Data .............................................................................................42
BAB V....................................................................................................................43
HASIL DAN ANALISIS HASIL PENELITIAN ..............................................43
5.1. Pofil Tempat Penelitian ...............................................................................43
5.2. Hasil Dan Analisa Penelitian .......................................................................43
BAB VI ..................................................................................................................48
PEMBAHASAN ...................................................................................................48
6.1 Distribusi frekuensi kejadian PEB berdasarkan Usia di Puskesmas Sukajaya
Tahun 2024. ........................................................................................................48
6.2 Distribusi frekuensi kejadian PEB berdasarkan obesitas di Puskesmas
Sukajaya Tahun2024. .........................................................................................50
6.3 Distribusi frekuensi kejadian PEB berdasarkan riwayat kehamilan terdahulu
di Puskesmas Sukajaya Tahun2024....................................................................52
BAB VII ................................................................................................................55
KESIMPILAN DAN SARAN .............................................................................55
7.1. KESIMPULAN ...........................................................................................55
7.2 Saran .............................................................................................................58
DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................74
LAMPIRAN ..........................................................................................................77

2
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Tinggi Fundus Uteri sesuai Umur Kehamilan......................................11
Tabel 2.1 Batas Ambang Indeks Massa Tubuh (IMT) KATEGORI IMT…….....25

Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi kejadian preeklamsia berat Pada Ibu Hamil di

Puskesmas Sukajaya tahun 2024...........................................................................42

Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi umur Pada Ibu Hamil di Puskesmas Sukajaya

tahun 2024.............................................................................................................42

Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Obesitas Pada Ibu Hamil di Puskesmas Sukajaya

tahun 2024.............................................................................................................43

Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi Riwayat Kehamilan Terdahulu Pada Ibu Hamil di

Puskesmas Sukajaya tahun 2024...........................................................................43

Tabel 5.5 Hubungan umur ibu dengan kejadian Preeklamsia Berat di Puskesmas

Sukajaya Tahun 2024............................................................................................44

Tabel 5.6 Hubungan Obesitas dengan kejadian Preeklamsia Berat di Puskesmas

Sukajaya Tahun 2024...........................................................................................44

Tabel 5.7 Hubungan Riwayat Kehamilan Terdahulu dengan kejadian Preeklamsia

Berat di Puskesmas Sukajaya Tahun 2024............................................................45

3
BAB 1

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang

Preeklampsia merupakan salah satu masalah medis yang

menyebabkan morbiditas pada ibu serta morbiditas pada janin. Selain itu,

preeklampsia masih merupakan sumber utama penyebab kematian pada

ibu. Preeklampsia ialahpenyakit yang ditandai dengan tekanan darah tinggi

(hipertensi), pembengkakan jaringan (edema), dan ditemukannya protein

dalam urin (proteinuria) yang timbul karena kehamilan. Penyakit ini

umumnya terjadi dalam triwulan ke-3 kehamilan, tetapi dapat juga terjadi

pada trimester kedua kehamilan (Keman, 2014).

Menurut data World Health Organization (WHO) tahun 2020

diperkirakan setiap hari terdapat 934 kasus preeklampsia terjadi di seluruh

dunia. Sekitar 342.000 ibu hamil mengalami preeklampsia. Preeklmpsia

termasuk dalam tiga penyebab utama kompliksi selama kehamilan maupun

dalam persalinan, yang pertama yaitu perdarahan (30%),

preeklampsia/eklampsia (25%), dan infeksi (12%) (WHO, 2020)

Angka kejadian preeklampsia di Indonesia pada tahun 2023,

berdasarkan penelitian, menunjukkan prevalensi 9,4%. Selain itu,

penelitian lain di rumah sakit tertentu menunjukkan kasus preeklampsia

sebanyak 36,7% dan preeklampsia berat sebanyak 63,3% pada tahun 2023.

4
Preeklampsia masih banyak terjadi baik di seluruh dunia termasuk

Indonesia. Sedangkan di Indonesia prevalensi preeklampsia yaitu 9,4%

(Azizah, Rohmatin, & Farianingsih, 2023).

Kematian pada ibu di Indonesia terjadi akibat hipertensi/

preeklampsia/ eklampsia, pendarahan dan infeksi, dimana hipertensi

dan/atau preeklampsia pada kehamilan menjadi urutan pertama dari

penyebab kematian di Indonesia yaitu sebesar 33% (Kemenkes, 2021).

Di provinsi jawa barat tercatat kematian ibu sebanyak 1.188 jiwa pada

tahun 2021, meningkat dari sebelumnya 745 kematian ibu pada tahun

2020. (Kemenkes, 2021).

Angka Kematian Ibu di Provinsi Jawa Barat tahun 2023 tercatat

sebanyak 147/1000 kelahiran hidup, dengan target penurunan AKI 80-84%

dari 1.000 kelahiran hidup. (Dinkes jawa barat,2023)

Pada penelitian Djannah tahun 2010 di RSU PKU Muhammadiyah

Yogyakarta, angka kejadia PEB masih tinggi, faktor terjadinya

preeklampsia yaitu sebagian besar dari kelompok 20-35 tahun sebesar

64,4%, ibu yang memiliki paritas primigr pavida sebesar 69,5%, dan

pada ibu yang memiliki kehamilan <4 sebesar 76,3%.

Berdasarkan survey awal yang dilakukan oleh peneliti diperoleh

data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor pada bulan Januari-Agustus

tahun 2021, dari 73.322 ibu bersalin terdapat 2088 kasus yang mengalami

hipertensi, preeklampsia dan eklampsia baik saat hamil, persalinan dan

nifas. Tingginya angka preeklampsia mendorong peneliti untuk melakukan

5
penelitian tentang determinan kasus Preeklampsia pada ibu bersalin di

Wilayah Kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor Tahun 2021.

Berdasarkan data dari laporan rekam medis Puskesmas Sukajaya

2024 kasus PEB berada 10 penyakit terbanyak pasien Ibu hamil dengan

jumlah kasus abortus sebanyak 64 kasus.

Pemerintah Indonesia, melalui berbagai program dan kebijakan,

berusaha keras untuk menangani kasus preeklamsia. Upaya-upaya tersebut

meliputi deteksi dini, skrining risiko, peningkatan akses pelayanan

kesehatan, pelatihan tenaga medis, dan kampanye edukasi ke masyarakat.

Ibu hamil dianjurkan untuk memeriksakan kehamilannya secara rutin,

terutama di trimester pertama, untuk deteksi dini preeklamsia. Skrining

risiko preeklamsia dilakukan berdasarkan faktor risiko yang telah

ditetapkan, seperti riwayat preeklamsia, usia tua, obesitas, dan hipertensi

kronis. Pemeriksaan proteinuria (protein dalam urine) juga merupakan

bagian penting dari skrining dan diagnosis preeklamsia. Dan Peningkatan

Akses Pelayanan Kesehatan.

1.2. Rumusan masalah

Berdasarkan data rekam medik pada tahun 2023 angka kejadian

preeklamsia berat pada tahun 2023 mencapai ( 20% ) dan meningkat pada

tahun 2024 yaitu (28%) Berdasarkan data yang di peroleh menunjukan

angka kejadian PEB masih tinggi 2024 angka kejadia preeklamsia berat di

puskesmas sukajaya 62 orang. Berdasasarkan hal tersebut di atas maka

rumusan masalah dari penelitian ini adalah “ maka akan di lakukan

6
penelitian faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian preeklampsia

berat pada ibu hamil trimester II di puskesmas sukajaya tahun 2024”.

1.3. Tujuan Penelitian

1.1.1. Tujuan Umum

Penelitian ini di lakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang

berhubungan ibu hamil dengan kejadian PEB di Puskesmas

Sukajaya tahun 2024.

1.1.2. Tujuan Khusus

[Link]. Untuk mengetahui distribusi frekuensi kejadian PEB

dengan Ibu Hamil Trimester II di Puskesmas Sukajaya Tahun 2024

[Link]. Untuk mengetahui distribusi frekuensi kejadian PEB

berdasarkan Usia di Puskesmas Sukajaya Tahun 2024.

[Link]. Untuk mengetahui distribusi frekuensi kejadian PEB

berdasarkan Obesitas di Puskesmas Sukajaya Tahun 2024.

[Link]. Untuk mengetahui distribusi frekuensi kejadian PEB

berdasarkan Riwayat kehamilan terdahulu di Puskesmas Sukajaya

Tahun 2024

[Link]. Untuk mengetahui hubungan kejadian PEB dengan usia di

Puskesmas Sukajaya Tahun 2024

[Link]. Untuk mengetahui hubungan kejadian PEB dengan obesitas

7
di Puskesmas Sukajaya Tahun 2024

[Link]. Untuk mengetahui hubungan kejadian PEB dengan riwayat

kehamilan terdahulu di Puskesmas Sukajaya Tahun 2024

1.4. Manfaat penelitian

1.1.3. Bagi lahan penelitian

Hasil penelitian diharapkan dapat digunakan sebagai bahan

pertimbangan guna menyusun rumusan kebijakan dan strategi

dalam upaya menekan angka kajadian PEB dan menurunkan AKI (

angka kematian ibu)

1.1.4. Bagi Intitusi Pendidikan

Dapat memberikan masukan serta informasi yang dapat dijadikan

referensi bagi peneliti selanjutnya tentang kejadian PEB.

1.1.5. Bagi peneliti

Hasil penelitian ini dapat memperluas pengetahuan dan

pengalaman peneliti menganalisis peran petugas kesehatan dalam

penanganan PEB.

1.5. Ruang lingkup penelitian

Dalam penelitian ini penulis ingin mengetahui faktor-faktor

yang berhubungan dengan kejadian preeklampsia berat pada ibu

hamil trimester II di puskesmas sukajaya tahun 2024”. Responden

8
dalam penelitian ini ibu hamil trimester II di Puskesmas Sukajaya

62 orang. Variabel penelitian yaitu variabel independent dan

variabel dependen yaitu usia, obesitas ,dan riwayat kehamilan

terdahulu. Pengambilan sampel menggunakan metode total

sampling dan teknik pengumpulan data sekunder yang diperoleh

dari rekam medik Puskesmas Sukajaya Tempat penelitian di

puskesmas sukajaya, Penelitian dimulai pada tahun 2024.

9
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
7.2.1. 2.1 Definisi Kehamilan

Kehamilan adalah masa dimulai dari saat konsepsi sampai lahirnya

[Link] hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7

hari) dihitung dari hari pertama haid terakhir, kehamilan dibagi dalam 3

triwulan/trimester, yaitu triwulan/trimester pertama dimulai dari konsepsi

sampai 3 bulan, trimester kedua dari bulan keempat sampai 6 bulan,

triwulan/trimester ketiga dari bulan ketujuh sampai bulan kesembilan.

Istilah – istilah yang terkait dengan kehamilan antara lain: (1)

primigravida: wanita yang hamil untuk pertama kalinya, (2)

secundigravida: wanita yang hamil untuk kedua kalinya, (3) multigravida;

wanita hamil untuk beberapa kali (Anggita, 2015). Kehamilan matur

(cukup bulan) berlangsung kira-kira 40 minggu (280 ari) dan tidak lebih

dari 43 minggu (300 hari). Kehamilan yang berlangsung antara 28 dan 36

minggu disebut kehamilan prematur, sedangkan lebih dari 43 minggu

disebut kehamilan postmatur (Anggita, 2015).

a. Perubahan Fisiologis

Pada kehamilan terjadi beberapa perubahan fisologis,

yaitu perubahan uterus yang semakin membesar, sehingga

segmen bawah rahim lebih tipis dan lebar, serta lebih tampak

lingkaranretraksi fisiologi dinding uterus. Kepala janin turun ke

10
pintu atas panggul sehingga menyebabkan sering kencing

karena menekan vesica urinaria (Varney et al, 2006).

Otot rahim mengalami hiperplasia dan hipertrofi

menjadi lebih besar, lunak dan dapat mengikuti pembesaran

rahim karena pertumbuhan janin. Hubungan antara besarnya

rahim dan usia kehamilan penting untuk diketahui karena

kemungkinan penyimpangan kehamilan seperti hamil kembar,

hamil mola hidatidosa, hamil dengan hidramnion yang akan

teraba lebih besar (Manuaba et al, 2010).

Tabel 1.1 Tinggi Fundus Uteri sesuai Umur Kehamilan

Usia Dalam cm Tinggi fundus uteri


12 minggu - 3 jari di atas symfisis

16 minggu - Pertengahan antara


symfisis dan pusat

20 minggu 20 cm (±2 cm) 3 jari di bawah pusat

22 minggu Usai kehamilan dalam Sepusat


minggu(±2 cm)

28 minggu Usai kehamilan dalam 3 jari di atas pusat


minggu(±2 cm)

34 minggu Usai kehamilan dalam Pertengahan pusat px


minggu(±2 cm)

36 minggu Usai kehamilan dalam Setinggi px


minggu(±2 cm)

11
40 minggu Usai kehamilan dalam 3 jari di bawah px
minggu(±2 cm)

Sumber: Saifuddin, 2009

2.2 Preeklamsia Berat


a. Pengertian

Preeklampsia berat merupakan kondisi khusus dalam

kehamilan ditandai dengan peningkatan tekanan darah dan proteinuria.

Bisa berhubungan dengan kejang (eklampsia) dan gagal organ ganda

pada ibu, sementara komplikasi pada janin meliputi restriksi

pertumbuhan dan abrasio plasenta.

Preeklampsia berat merupakan komplikasi dalam kehamilan

yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah (TD), proteinuria dan

adanya sembab (oedema) pada kehamilan setelah 20 minggu atau

segera setelah persalinan. Preeklampsia berat diagnosisnya yaitu jika

tekanan darah ≥160/110 mmHg, proteinuria ≥5g/24 jam atau tes urine

dipstick ≥ +2.6 Preeklampsia berat merupakan kumpulan gejala yang

timbul pada ibu hamil, bersalin dan dalam masa nifas yang terdiri dari

trias: hipertensi, proteinuri, dan edema, yang kadang-kadang disertai

konvulsi sampai koma. Ibu tersebut tidak menunjukkan tanda tanda

kelainan-kelainan vascular atau hipertensi sebelumnya.

a. Etiologi

Penyebab dari preeklampsia berat sampai saat ini belum

diketahui secara pasti. Banyak teori-teori yang dikemukakan

12
oleh para ahli yang mencoba menjelaskan mengenai

penyebabnya. Disebut dengan “disease of theory” akan tetapi

belum ada mendapatkan jawaban yang pasti. Ada beberapa

teori yang dapat menjelaskan penyebab dari preeklampsia berat

diantaranya:

a). Penambahan jumlah primigravida, hidramnion, mola

hidatidosa, dan kehamilan kembar.

b) Bertambah tuanya usia kehamilan.

c) Terjadinya perbaikan keadaan penderita dengan

kematian janin dalam rahim.

d) Munculnya hipertensi, oedema, proteinuria, kejang, dan

koma. Kelainan lain yang dapat menyertai penyakit

preeklampsia berat yaitu:

a) Spasmus arteriola.

b) Retensi Na dan Air.

c) Koagulasi intravaskuler.

Vasopasme (penyemptan pembuluh darah) merupakan

penyebab primer dari preeklampsia berat, akan tetapi vasopasme

akan menimbulkan gejala yang menyertai eklampsia. Saat ini

banyak yang mengemukakan teori bahwa penyebab preeklampsia

berat adalah iskemia plasenta. Tetapi teori tersebut tidak dapat

menerangkan semua hal yang berhubungan dengan kejadian

preeklampsia berat. Diketahui penyebab preeklampsia berat bukan

13
dikarenakan satu faktor, melainkan banyak faktor yang muncul

sebagai penyebab preeklampsia berat.

b. Manifestasi klinis

Diagnosis preeklampsia berat ditegakkan berdasarkan

adanya dua dari tiga gejala, yaitu penambahan berat badan

yang berlebihan, oedema, hipertensi dan protenuria.

Penambahan berat badan yang berlebihan bila terjadi kenaikan

1 kg seminggu beberapa kali. Oedema terlihat sebagai

peningkatan berat badan, pembengkakan kaki, jari tangan dan

muka. Tekanan darah ≥160/110 mm hg atau tekanan sistolik

meningkat >30 mmHg atau tekanan diastolic >15 mmHg yang

diukur setelah pasien beristirahat selama 30 [Link]

preeklampsia berat didapatkan sakit kepala didaerah frontal,

skotoma, diplopia, penglihatan kabur nyeri didaerah

epigastrium, mual dan muntah-muntah. Gejala- gejala ini sering

ditemukan pada preeklamsia berat yang meningkat dan

merupakan petunjuk bahwa eklamsia akan timbul. Tekanan

darah pun meningkat lebih tinggi, oedema menjadi lebih umum

dan proteinuria bertambah banyak. Prognosis menjadi lebih

buruk dengan terdapatnya proteinuria. Gejala dan tanda

preeklamsia berat:

1. Tekanan darah Sitolik ≥ 160 mmHg

2. Tekanan darah Diastolik ≥ 110 mmHg

14
3. Peningkatan kadar enzim hati dan iterus

4. Trombosit < 100.000/mm3

5. Oliguria < 400 mm/24 jam

6. Proteinuria > 3g/ liter

7. Nyeri epigastrium

8. Skotoma dan gangguan visus atau nyeri frontal

9. Perdarahan retina

10. Edema pulmonum

11. Koma

c. Patofisiologi

Meskipun penyebab preeklampsia berat masih

belum diketahui, bukti manifestasi klinisnya mulai tampak

sejak awal kehamilan, berupa perubahan patofisiologi

tersamar yang terakumulasi sepanjang kehamilan dan

akhirnya menjadi nyata secara klinis. Preeklampsia berat

adalah gangguan multisistem dengan etiologi komplek yang

khusus terjadi selama kehamilan.

Pada penderita preeklampsia berat dapat terjadi

penurunan aliran darah. Perubahan tersebut mengakibatkan

prostaglandin plasenta menurun dan iskemia uterus.

Iskemia pada uterus akan merangsang pelepasan bahan

tropoblastik akan menyebabkan terjadinya endotheliosis

sehingga terjadi pelepasan trombo plastin. Trombo plastin

15
yang dilepaskan menimbulkan pelepasan tromboksan dan

aktivasi agregasi trombosit deposisi fibrin. Tromboksan

yang dilepaskan menyebabkan terjadinya vasopasme

sedangkan aktivasi/agregasi trombosit deposisi fibrin akan

menyebabkan koagulasi intravaskuler yang mengakibatkan

menurunnya perfusi darah dan konsumtif koagulapati.

Konsumtif koagulapati mengakibatkan trombosit dan faktor

pembekuan darah menurun dan terjadinya gangguan faal

hemostasis. Renin uterus yang dikeluarkan akan mengalir

bersama darah sampai ke hati dan bersama-sama

angiotensinogen menjadi angiotensin I kemudian menjadi

angiotensin II. Angiotensi II bersama tromboksan

merupakan penyebab timbulnya vasopasme. Vasopasme

menyebabkan lumen arteriol menyempit sehingga terjadilah

hipertensi. Selain menyebabkan vasopasme, angiotensi II

juga merangsang glandula suprarenal untuk mengeluarkan

aldosterone. Vasopasme bersama koagulasi intravascular

akan menyebabkan perfusi darah dan gangguan pada

banyak organ. Gangguan pada organ-organ meliputi:

1. Plasenta

Pada preeklampsia berat terdapat spasmus

arteriola spiralis desidua dengan akibat menurunya

aliran darah ke plasenta. Perubahan plasenta normal

16
sebagai akibat tuanya kehamilan, seperti menipisnya

sinsitium, menebalnya dinding pembuluh darah vili

karena fibrosis dan konversi mesoderm menjadi

jaringan fibrotik, dipercepat prosesnya pada

preeklampsia dan hipertensi. Pada preeklampsia yang

jelas ialah atrofi sinsitium, sedangkan pada hipertensi

menahun terdapat terutama perubahan pada pembuluh

darah dan stroma Arteri aspiralis mangalami konstriksi

dan penyempitan, akibat aterosis akut disertai

necrotizing arteriopathy.

2. Ginjal

Alat ini besarnya normal atau dapat

membengkak pada ginjal dan pada pemotongan

mungkin ditemukan perdarahan-perdarahan kecil. Pada

preeklampsia ditemukan adanya gagal ginjal.

3. Hati

Alat ini besarnya normal pada permukaan dan

pembelahan tampak tempat perdarahan yang tidak

teratur. Pada pemeriksaan mikroskopik dapat ditemukan

perdarahan dan nekrosis pada tepilobulus, disertai

trombosis pada pembuluh darah kecil, terutama

disekitar vena porta. Walaupun umumnya lokasi ialah

periportal, namun perubahan tersebut dapat di temukan

17
di tempat- tempat lain. Dalam pada itu, rupanya tidak

ada hubungan langsung antara berat penyakit dan luas

perubahan pada hati.

4. Otak

Pada penyakit yang belum lanjut hanya

ditemukan oedema dan anemia pada korteks selebri;

pada keadaan lanjut dapat ditemukan perdarahan.

5. Retina

Kelainan yang sering ditemukan pada retina

ialah spasmus pada arteriola terutama yang dekat pada

diskus optikus. vena tampak lekuk pada persimpangan

dengan arteriola. Dapat terlihat oedema pada diskus

optikus dan retina. Ablasio retina juga dapat terjadi,

tetapi komplikasi ini prognosisnya baik, karena retina

akan melekat lagi beberapa minggu postpartum.

Perdarahan dan eksudat jarang ditemukan pada

preeklampsia, biasanya kelainan tersebut menunjukkan

adanya hipertensi menahun.

6. Paru-paru

Paru-paru menunjukan berbagai tingkat oedema

dan perubahan karena bronkopneumonia sebagai akibat

aspirasi. Kadang-kadang ditemukan abses paru-paru.

18
7. Jantung

Pada sebagian besar penderita yang mati karena

eklamsia jantung biasanya mengalami perubahan

degeneratif pada miokardium. Perdarahan sub

endokardinal disebelah kiri septum interventrikular

pada kira-kira dua pertiga penderita e klamsia yang

meninggal dalam 2 hari pertama setelah timbulnya

penyakit.

8. Kelenjar adrenal

Kelenjar adrenal dapat menunjukan kelainan

berupa perdarahan dan nekrosis dalam berbagai tingkat.

d. Dampak

Preeklampsia berat adalah bentuk komplikasi paling

serius ketika ibu mengalami tekanan darah tinggi selama

kehamilan, tetapi bukan berarti penyebabnya hipertensi.

Dampak preeklampsia berat juga berpengaruh pada fungsi

ginjal ibu. Selain itu, preeklampsia berat juga bisa memicu

kejang pada ibu hamil dan ini disebut sebagai eklampsia.

Akan tetapi, bahaya terbesar dari dampak preeklampsia

berat adalah muncul sindrom HELLP (Hemilysis, Elevated

Liver Enzimes and Low Platelet Count) atau hemolisis,

peningkatan enzim hati dan jumlah trombosit yang rendah.

19
Dampak preeklampsia berat akan memberikan

resiko berbeda pada tiap janin. Dampak utama pada janin

adalah kekurangan zat gizi akibat kekurangan pasokan

darah dan makanan ke plasenta, hal ini mengarah

kegangguan pertumbuhan bayi didalam kandungan. Janin

bisa berisiko lahir cacar hingga lahir mati, akibat tidak

mendapatkan makanan yang cukup

2.1.1. Faktor – faktor yang mempengaruhi preeklamsia berat

Beberapa faktor risiko yang mempengaruhi terjadinya preeklampsia berat adalah

sebagai berikut :

a. Usia

Usia adalah umur individu terhitung mulai saat dia dilahirkan

sampai saat berulang tahun. Semakin cukup umur, tingkat kematangan dan

kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja. Usia

sangat mempengaruhi kehamilan maupun persalinan. Usia yang baik untuk

hamil atau melahirkan berkisar antara 20-35 tahun. Pada usia tersebut alat

reproduksi wanita telah berkembang dan berfungsi secara maksimal.

Sebaliknya pada wanita dengan usia dibawah 20 tahun atau diatas 35 tahun

kurang baik untuk hamil maupun melahirkan, karena kehamilan pada usia

ini memiliki resiko tinggi seperti terjadinya keguguran, atau kegagalan

persalinan, bahkan bisa menyebabkan kematian, distosia dan partus lama.

Wanita yang usianya lebih tua memiliki tingkat resiko komplikasi

melahirkan lebih tinggi dibandingkan dengan yang lebih muda. Bagi

20
wanita yang berusia 35 tahun keatas, selain fisik melemah, juga

kemungkinan munculnya berbagai resiko gangguan kesehatan, seperti

darah tinggi, diabetes dan berbagai penyakit lain.

Usia dibawah 20 tahun bukan masa yang baik untuk hamil karena

organ-organ reproduksi belum sempurna. Hal ini tentu akan menyulitkan

proses kehamilan dan persalinan. Sedangkan kehamilan diatas 35 tahun

mempunyai resiko untuk mengalami komplikasi dalam kehamilan dan

persalinan antara lain perdarahan, gestosis, atau hipertensi dalam

kehamilan.

Hipertensi dalam kehamilan paling sering mengenai wanita yang

lebih tua, yaitu bertambahnya usia menunjukkan peningkatan insiden

hipertensi kronis menghadapi resiko yang lebih besar untuk menderita

hipertensi karena kehamilan. Wanita hamil dengan usia kurang dari 20

tahun insiden preeklampsia lebih dari 3 kali lipat. Pada wanita hamil

berusia lebih dari 35 tahun dapat terjadi hipertensi laten oleh karena itu

semakin lanjut usia maka kualitas sel telur sudah berkurang hingga

berakibat juga menurunkan kualitas keturunan yang dihasilkan.

Usia reproduksi yang optimal ialah antara usia 20-35 tahun,

sebesar 38,7% angka kejadian preeklampsia berat ditemukan pada ibu

dengan usia yang beresiko dari pada usia ibu yang tidak beresiko. Tekanan

darah yang meningkat seiring dengan pertumbuhan usia khususnya pada

usia >35 tahun atau lebih rentan terjadinya berbagai penyakit dalam

bentuk hipertensi dan eklampsia. Jadi, bisa disimpulkan bahwa wanita

21
yang usianya lebih tua memiliki tingkat resiko komplikasi melahirkan

lebih tinggi dibandingkan dengan yang lebih muda.

b. Obesitas

Obesitas merupakan peningkatan berat badan melebihi batas

kebutuhan skeletal dan fisik sebagai akibat dari akumulasi lemak yang

berlebihan dalam tubuh. WHO mengemukakan bahwa obesitas merupakan

penimbunan lemak yang berlebihan di seluruh jaringan tubuh secara

merata yang mengakibatkan gangguan kesehatan dan menimbulkan

berbagai macam penyakit seperti diabetes, tekanan darah tinggi, serangan

jantung yang menyebabkan kematian.

Salah satu faktor yang berkaitan erat dengan terjadinya

preeklampsia adalah obesitas. Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada

populasi wanita hamil di Pittsburgh, didapatkan bahwa risiko preeklampsia

meningkat 3 kali lipat pada ibu hamil dengan obesitas.

Selain itu juga dijelaskan bahwa kejadian preeklampsia ringan dan

berat pada usia akhir kehamilan, lebih banyak ditemukan pada wanita

obesitas.18 Salah satu cara untuk mengidentifikasi adanya kelebihan berat

badan atau obesitas pada dewasa adalah dengan menggunakan Indeks

Masa Tubuh (IMT) yaitu dikategorikan obesitas jika IMT ≥25kg/m² untuk

wilayah Asia Pasifik.

Indeks Massa Tubuh yang berlebih dapat meningkatkan risiko pada

trimester pertama dan risiko keguguran. Pada ibu hamil dengan kelebihan

berat badan obesitas akan meningkatkan risiko kehamilan yang dapat

22
membahayakan bagi dirinya dan janinnya. Pada ibu hamil yang

mengalami obesitas dapat terjadi preeklampsia melalui mekanisme

hiperleptinemia, sindroma metabolic, reaksi inflamasi serta peningkatan

stress oksidatif yang berujung pada kerusakan dan disfungsi endotel.

Ibu hamil yang mempunyai IMT ≥25 cenderung kurang banyak

bergerak. Aktivitas fisiknya terbatas sehingga menyebabkan jumlah energi

yang masuk lebih banyak dari energi yang dikeluarkan. Kelebihan energi

ini akan disimpan dalam bentuk gula otot atau glikogen dan lemak yang

selanjutnya akan disimpan di bawah kulit dan di sekitar ginjal.

Penumpukan lemak pada glomerulus dari pasien dengan preeklampsia

disebut glomerular endotheliosis. Adanya lesi pada glomerular ini

berhubungan dengan terjadinya proteinuria. Pada kadar LDL dan

trigliserida yang tinggi juga berhubungan dengan kerusakan ginjal.

Perubahan pada metabolisme lemak dapat berperan terhadap lesi endotel

yang ditemukan pada pasien preeklampsia. Keparahan dari hipertensi dan

proteinuria mencerminkan keparahan dari kerusakan endotel yang terjadi.

Di Indonesia obesitas secara klinis dinyatakan dalam bentuk IMT

≥25 kg/m². Indeks Massa Tubuh (IMT) adalah indeks sederhana dari berat

badan terhadap tinggi badan yang digunakan untuk mengklasifikasikan

kelebihan berat badan dan obesitas pada orang dewasa. IMT didefinisikan

sebagai berat badan seseorang dalam kilogram dibagi dengan kuadrat

tinggi badan dalam meter (kg/m²). Rumus penentuan Indeks Massa Tubuh

(IMT) = sebagai berikut:

23
Tabel 2.1 Batas Ambang Indeks Massa Tubuh (IMT) KATEGORI

IMT

KATEGORI IMT

KURUS Kekurangan berat badan tingkat BERAT < 17,0

Kekuragan berat badan tingkat RINGAN 17,0 – 18,4

NORMAL 18,5 – 25,0

GEMUK Kelebihan berat badan tingkat RINGAN 25,1 – 27,0

Kelebihan berat badan tingkat BERAT ˃ 27,0

Sumber: P2PTM Kemenkes RI

c. Riwayat Preeklamsia

Riwayat preeklampsia pada kehamilan sebelumnya merupakan

faktor risiko utama. Risiko meningkat hingga tujuh kali lipat (RR 7,19

95% CI 5,85 – 8,83). Kehamilan pada wanita dengan riwayat preeklampsia

berat dan eklampsia sebelumnya berkaitan dengan tingginya kejadian

preeklampsia berat, preeklampsia onset dini dan dampak perinatal yang

buruk.

Angka kejadian preeklampsia berat akan meningkat pada ibu hamil

yang mengalami riwayat preeklampsia berat, dikarenakan pembuluh darah

24
plasenta sudah mengalami gangguan dan akan memperberat keadaan ibu.

Sehingga bagi ibu yang hamil yang memiliki riwayat preeklampsia berat

sebelumnya harus mewaspadai kemungkinan terjadinya preeklampsia

berat.

Hubungan antara riwayat preeklampsia berat sebelumnya dengan

sFlt-1 yang memang belum banyak dikaji. Teori yang paling mendukung

teori ini adalah teori splicing DNA pada mekanisme peningkatan sFlt-1

yang sifatnya menetap. Slicing merupakan mekanisme kehilangan intron

ada tahap transkripsi, sehingga untai RNA hanya terdiri dari ekson yang

siap untuk ditranslasikan menjadi protein. Perubahan model penggabungan

ekson ini menyebabkanpeningkatan sFlt-1 dan model perubahan ini

umumnya memanglah menetap.

d. Pendidikan

Pendidikan adalah proses perubahan perilaku menuju kedewasaan

dan penyempurnaan hidup. Ibu yang berpendidikan rendah cenderung

lebih banyak mengalami preeklamsi berat, kemungkinan karena

pengetahuan mereka tentang kehamilan dan risiko komplikasi kurang

memadai. ibu yang berpendidikan tinggi cenderung memiliki pengetahuan

lebih luas tentang kehamilan, termasuk gejala dan risiko preeklamsi. Hal

ini memungkinkan mereka untuk lebih cepat mendeteksi dan

mengantisipasi potensi preeklamsi, sehingga dapat mencegah terjadinya

preeklamsi berat.

25
e. Jarak Antar Kehamilan

Jarak antar kehamilan yang dianggap berisiko bagi ibu hamil

terhadap kejadian preeklampsia berat yakni selang waktu jarak antar

kehamilan yang kurang dari 2 tahun atau lebih dari 10 tahun. Risiko

preeklampsia berat dan eklampsia semakin meningkat sesuai dengan

lamanya interval dengan kehamilan pertama (1,5 setiap 5 tahun jarak

kehamilan pertama dan kedua; p<0,001. Studi melibatkan 760.901 wanita

di Norwegia, memperlihatkan bahwa wanita multipara dengan jarak

kehamilan sebelumnya 10 tahun atau lebih memiliki risiko preeklampsia

berat dan eklampsia hampir sama dengan nulipara. Jarak kelahiran

merupakan praktek periode jumlah waktu diantara kelahiran. Keuntungan

jarak kelahiran optimal sebagai kontribusi terhadap kesehatan dan fertilitas

wanita dan kualitas kehidupan yang menyeluruh, memperbaiki kehidupan

anak-anak dengan peningkatan akses mereka terhadap makanan yang

akurat, pakaian, rumah, dan pendidikan serta menurunkan beban kerja

wanita. Apabila jarak antara dua kehamilan >5 tahun, disamping usia ibu

yang sudah bertambah dan sesuai dengan penelitian yang ditemukan

bahwa ibu hamil yang bersalin cukup banyak yang usianya lebih dari 35

tahun, maka hal tersebut akan menyebabkan terjadinya proses

degenerative melemahnya kekuatan fungsi-fungsi otot uterus dan otot

panggul yang sangat berpengaruh pada proses persalinan apabila terjadi

kehamilan lagi dan juga akan terjadi kerusakan sel-sel endotel yang dapat

mengakibatkan risiko untuk terjadinya preeklampsia lebih besar. Selain

26
itu, organ reproduksi wanita juga akan mengalami penurunan fungsi

seperti halnya penurunan fungsi pada ovarium yang salah satu fungsinya

yaitu memproduksi hormone esterogen dan progesterone. Padahal hormon

estrogen sangat berpengaruh pada perkembangan seksual tubuh wanita,

salah satunya adalah mempersiapkan rahim menerima janin. Dengan

penurunan produksi estrogen maka keadaan rahim akan kurang atau tidak

siap dalam menerima janin. Sehingga si ibu masuk dalam kategori berisiko

tinggi yang salah satu nya akan menyebabkan preeklampsia berat.

Interval kehamilan yang kurang dari 2 tahun akan menyebabkan

pengembalian nutrisi ibu yang belum cukup dan akan mengurangi

pertumbuhan bayi. Selain itu, rahim dan kesehatan ibu belum pulih dengan

baik akibat kehamilan sebelumnya sehingga tubuh ibu akan memikul

beban yang lebih besar. Kehamilan dalam keadaan tersebut perlu

diwaspadai karena adanya kemungkinan terjadinya preeklampsia.

Sebaiknya jika jarak antara kehamilan>5 tahun, maka hal tersebut akan

menyebabkan terjadinya proses degenerative melemahnya kekuatan

fungsi-fungsi otot uterus dan otot panggul yang sangat berpengaruh pada

proses persalinan apabila terjadi kehamilan lagi. Risiko terjadinya

preeklampsia berat dan eklampsia sangat besar, karena dapat terjadi

kerusakan sel-sel endotel.

27
f. Paritas

Paritas adalah jumlah janin dengan berat badan ≥500 gr yang

pernah dilahirkan hidup maupun mati oleh seorang ibu. Paritas adalah

klasifikasi wanita berdasarkan banyaknya mereka melahirkan bayi yang

usia gestasinya 24 minggu. Paritas dapat diklasifikasikan menjadi 3 yaitu:

a) Primipara

Primipara adalah wanita yang telah melahirkan janin yang usia

gestasinya lebih dari 28 minggu, baik lahir hidup maupun lahir

mati.

b) Multipara

Multipara adalah ibu yang telah melahirkan sebanyak 2 kali atau

lebih.

c) Grande multipara

Grande multipara adalah ibu yang memiliki paritas tinggi, telah

melahirkan lebih dari atau sama dengan empat kali. Paritas 2-3

merupakan paritas paling aman ditinjau dari sudut kematian

maternal. Paritas 1 dan paritas tinggi (diatas 3) mempunyai angka

kematian maternal lebih tinggi. Lebih dari paritas lebih tinggi

kematian maternal. Resiko pada paritas 1 dapat ditangani dengan

asuhan obstetric lebih baik, sedangkan resiko pada paritas tinggi

dapat dikurangi atau dicegah dengan keluarga berencana. Sebagian

kehamilan pada paritas tinggi adalah tidak direncanakan.

28
Paritas tinggi menyebabkan uterus terlalu meregang

sehingga uterus kehilangan elastisitas. Pada primigravida

(kehamilan pertama) sering mengalami stress dalam menghadapi

persalinan. Stress emosi yang terjadi pada primigravida

menyebabkan peningkatan pelepasan Corticotropic-Releasing

Hormone (CRH) oleh hypothalamus, yang kemudian menyebabkan

peningkatan kortisol. Efek kortisol adalah mempersiapkan tubuh

untuk berespons terhadap semua stressor dengan meningkatkan

respons simpatis, termasuk respons yang ditujukan untuk

meningkatkan curah jantung dan mempertahankan tekanan darah.

Pada wanita dengan preeklampsia berat, tidak terjadi penurunan

sensitivitas terhadap vasopeptida-vasopeptida tersebut, sehingga

peningkatan besar volume darah langsung meningkatkan curah

jantung dan tekanan darah.

Pada primigravida/primipara terjadi gangguan imunologik

(blocking antibodies) dimana produksi antibody penghambat

berkurang. Hal ini dapat menghambat invasi arteri spiralis ibu oleh

trofoblas sampai batas tertentu hingga mengganggu fungsi

plasenta. Ketika kehamilan berlanjut, hipoksia plasenta

menginduksi proliferasi sitotrofoblas dan penebalan membran

basalis trofoblas yang mungkin mengganggu fungsi metabolic

plasenta. Sekresi vasodilator prostasiklin oleh sel-sel endorial

plasenta berkurang dan sekresi trombosan oleh trombosit

29
bertambah, sehingga timbul vasokon striksi generalisata dan

sekresi aldosterone menurun. Akibat perubahan ini terjadilah

pengurangan perfusi plasenta sebanyak 50%, hipertensi ibu,

penurunan volume plasma ibu. Jika vasopas menetap, mungkin

akan terjadi cedera sel epitel trofoblas, dan fragmen- fragmen

trofoblas dibawa ke paru-paru dan mengalami destruksi sehingga

melepaskan tromboplastin. Selanjutnya tromboplastin

menyebabkan koagulasi intravascular dan deposisi fibrin di dalam

glomeruli ginjal (endoteliosis glomerular) yang menurunkan laju

filtrasi glomerulus dan secara tidak lansung meningkatkan

vasokonstriksi. Pada kasus berat dan lanjut, deposit fibrin ini

terdapat di dalam pembuluh darah sistem saraf pusat, sehingga

menyebabkan konvulsi.

30
7.2.2. 2.3 KERANGKA TEORI

KEHAMILAN

PREEKLAMSIA BERAT ( PEB)

USIA OBESITAS RIW PENDIDIKAN JARAK PARITA


KEHAMILAN S
ANTAR
TERDAHULU
KEHAMILAN

KETERANGAN :

1. Variabel Yang di teliti

2. Variabel yang tidak di teliti

Gambar 2.1 Kerangka Teori Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian

Preeklampsia Berat pada Ibu Hamil Sumber: Cunningham et al (2006), Manuaba

(2009)

31
BAB III

KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPRASIONAL

3.1 Kerangka Konsep


Kerangka konsep penelitian yaitu kerangka hubungan antara

konsep – konsep yang akan diukur atau diamati melalui penelitian yang

akan di ukut atau diamati melalui penelitian yang dilakukan. Kerangka

konsep berisi variable yang diteliti maupun yang tidak diteliti, serta harus

sesuai dengan tujuan penelitian. (Anggreni, 2022).

Variabel Independen Variabel dependen

1. Umur
2. Obesitas
3. Riw kehamilan PREEKLAMSIA BERAT
terdahulu

32
7.2.3. 3.2 Defisini Oprasional
Variabel Definisi Cara ukur Alat Hasil ukur Sekala
oprasional ukur
Dependen
Preeklamsia Hipertensi Pengambilan Rekam 0. Ya Ordinal
berat yang biasanya data resume medis 1. Tidak
terjadi pada
minggu ke-20
atau lebih pada
ibu hamil,
tekanan darah
≥160/110
mmHg,
proteinuria
≥5g/24 jam
atau tes urine
dipstick ≥ +2
Independen
Umur Usia yang baik Pengambilan Rekam 0. Berisiko (<20 Nominal
untuk hamil data resume medis tahun dan >35
yaitu antara 20 – tahun)
35 1 Tidak Berisiko
(20-35 tahun)
Obesitas Kegemukan Pengambilan Rekam 0. Obesitas Nominal
atau kelebihan data resume medis
berat badan (IMT≥25kg/m²
yang terjadi
pada saat )
kehamilan
yang diperoleh 1. Tidak
berdasarkan
hasil IMT Obesitas (IMT

< 25 kg/m²)

Riwayat Pernah Pengambilan Rekam 0. Ya Nominal


Kehamilan mengalami data resume medis 1. Tidak
terdahulu komplikasi
kehamilan
preeklampsia
pada kehamilan
sebelumnya

33
7.2.4. 3.3. Hipotesis
Hipotesis menurut Sugiyono (2019:99), merupakan jawaban

sementara terhadap rumusan masalah penelitian yang didasarkan pada

fakta empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data yang dilakukan.

Berdasarkan rumusan masalah, tinjauan teoritis dan kerangka

konsep yang dikemukakan, maka hipotesis pada penelitian ini adalah :

1) Tidak ada nya hubungan antara usia ibu dengan kejadian

preeklampsia berat di Puskesmas sukajaya tahun 2024.

2) Adanya hubungan antara obesitas dengan kejadian

preeklampsia berat di Puskesmas sukajaya tahun 2024 .

3) Adanya hubungan antara riwayat kehamilan terdahulu

dengan kejadian preeklampsia berat di Puskesmas sukajaya

tahun 2024.

34
BAB IV

METODE PENELITIAN

7.2.5. 4.1. Desain Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini yaitu deskriptif

analitik dengan menggunakan pendekatan cross sectional yang bertujuan

untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian

preeklampsia berat pada ibu hamil trimester II di puskesmas sukajaya

tahun 2024”. Menurut study cross sectional dimana data yang menyangkut

variabel bebas dan variabel terikat diambil dalam waktu bersamaan dengan

tujuan untuk mencari hubungan antara dua variabel. Metode yang

digunakan adalah survey dengan menggunakan rekam medik

7.2.6. 4.2. Popilasi dan Sampel Penelitian

4.2.1. populasi penelitian

Populasi menurut Notoatmojo 2017, adalah seluruhan objek

penelitian atau objek yang di teliti populasi dalam penelitian adalah

seluruh ibu hamil trimester II yang terdata di rekam medis

Puskesmas Sukajaya tahun 2024 sebanyak 62 responden.

4.2.2. Sampel

Teknik sampling merupakan teknik pengambilan sampel

yang akan di teliti. Teknik sampling di lakukan agar sampel yang

35
di ambil dapat mewakili populasi nya, sehingga peneliti

mendapatkan informasi yang cukup untuk menggambarkan

populasinya. Dalam penelitian ini, teknik sampling non probability

dengan metode total sampel. Di mana teknik non probability

sampling adalah cara pengambilan sampel dengan semua objek

atau elemen dalam populasi tidak memiliki kesempatan yang sama

dengan semua objek atau elemen dalam populasi tidak memiliki

kesempatan yang sama dengan populasi.

Rumus total sampling :

n=N

Keterangan:

n: Jumlah sampel

N: Jumlah populasi

Jadi, jika populasi penelitian adalah 62 orang, maka jumlah sampel yang diambil

juga 62 orang

7.2.7. 4.3. Lokasi dan Waktu penelitian


Lokasi penelitian ini di lakukan di Puskesmas Sukajaya,

Kecamatan Sukajaya, Kabupeten Bogor, di laksanakan pada tahun 2024

7.2.8. 4.4 Instrumen Penelitian


Menurut Badriah 2015, instrument adalah alat pengumpulan data

yang telah baku atau alat pengumpul data yang digunakan dalam

penelitian lembar cheklist. Dimana lembar tersebut untuk melihat data

36
sekunder yang didapat dari master tabel berupa jumlah ibu hamil trimester

II yang pada kehamilan tahun 2024.

7.2.9. 4.5 Pengumpulan Data


Data penelitian diperoleh melalui tahapan pengumpulan data

sebagai berikut:

1. Peneliti membuat surat permohonan meminta data awal dan izin

peenlitian dari Universitas Bhakti Pertiwi Indonesia yang ditunjukkan

kepada Puskesmas Sukajaya.

2. Setelah itu menyerahkan surat izin permohonan data awal dan surat izin

kepada bagian kepala Puskesmas Sukajaya.

3. Setelah mendapatkan izin peneliti, dilanjutkan dengan melakukan studi

pendahuluan yang selanjutnya ditemukan permasalahan, kemudian

dilakukan penelitian .

4. Tahap pelaksanaan peneliti menentukan responden sesuai dengan kriteria

inklusi dan eksklusi yang telah dibuat.

5. Peneliti melakukan observasi dengan melihat data sekunder ibu yang

mengalami PEB yang didapat di poli KIA tahun 2024.

6. Melakukan pengambilan data yang didahului dengan pemilihan sampel

atau responden, dalam hal ini yang berkaitan dengan PEB.

7. Tahap mengumpulakn data dari sempel

37
Setelah data terkumpul, maka selanjutnya adalah pengolahan

data, menggunakan program computer guna mendapatkan data yang

valid sehingga saat menganalisis data tidak mendapatkan kendala.

Menurut Notoatmojo 2017, Langkah-langkah pengolahan data sebagai

berikut:

1) Editing

Pada tahapan ini melakuakn pengecekan data dan perbaikan isian

formular lembar cheklist, dipriksa Kembali oleh peneliti dengan melihat

rekam medik.

2) Coding

Pengkodean yaitu langkah yang diambil untuk memberi kode

setiap responden dan jawaban check list agar memudahkan pengolahan

data. Peneliti menggunakan kode angka untuk mempermudah analisa data.

Kode digunakan untuk mengukur berdasarkan variabel dependen kejadian

Hipertensi diberikan kode 1 jika YA, dan kode 2 jika TIDAK.

3) Processing

Pada tahapan ini data yag berupa jawaban -jawaban dari masing-

masing responden dalam bentuk kode (angka) dimasukkan ke dalam

program atau software, salah satunya SPSS IBM 25.

38
4) Cleaning

Pada tahapan ini dilakukan Kembali pengecekan pada semua data

dari setiap sumber data atau responden untuk melihat kemungkinan adanya

kesalahan-kesalahan kode, kelengkapan data atau sebagainya, kemudian

dilakukan pembetulan atau koreksi.

7.2.10. 4.6 Analisis Data


Analisis dalam penelitian ini menggunakan univariat dan bivariat.

Analisis univariat bertujuan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan

karakteristik setiap vaiabel penelitian. Bentuk analisis univariat tergantung

jenis datanya. Untuk data numerik digunakan nilai mean atau rata-rata,

median atau standar devisi. Pada umumnya dalam analisis ini hanya

menghasilkan distribusi frekuensi dan presentase dari setiap variabel

(Notoatmodjo, 2018) yaitu:

4.6.1 Analisa Univariat

Dalam penelitian ini, yaitu : usia, obesitas , riwayat

kehamilan terdahulu. Rumus yang digunakan dalam analisa

distribusi frekuensi dari setiap variabel, yaitu :

Keterangan :

P : Presentase

39
f : Frekuensi

n : Jumlah Data

4.6.2 Analisa Bivariat

Analisa bivariat yang dilakukan antara variabel yang diduga

berhubungan atau korelasi . Dalam analisis bivariat ini dilakukan

dalam beberapa tahap:

1. Analisis proporsi dan presentase dengan membandingkan

distribusi silang antara dua variabel yang bersangkutan.

2. Analisis dari hasil uji statistic (chi square test) Melihat dari

hasil uji statistic ini akan dapat disimpulkan adanya hubungan 2

variabel tersebut bermakna atau tidak bermakna.

3. Analisis keeratan hubungan antara dua variabel tersebut

dengan melihat nilai Ood Ratio. Besar kecilnya nilai OR

menunjukkan besarnya keeratan hubungan antara dua [Link]

diuji (Notoatmodjo, 2018). Dalam penelitian ini peneliti melakukan

analisis data menggunakan bantuan komputerisasi (dalam hal ini

SPSS) yang mencakup tabulasi data dan perhitungan-perhitungan

statistic (Netoatmodjo, 2018) dengan rumus:

X2 = ∑

40
Keterangan :

X2 : Chi Square

O : Nilai Pengamatan

E : Frekuensi yang diharapkan

Menentukan uji kemakmuran hubungan dengan cara

membandingkan nilai p (p value) dengan nilai α = 0,05 pada taraf

kepercayaan 95% dan derajat kebebasan = 1 dengan kaidah Keputusan

sebagai berikut:

a. Jika nilai p α < berarti ada hubungan antara variable bebas dengan

terikat.

b. Jika nilai p > berarti tidak ada hubungan antara variable terikat

dengan bebas.

Chi-Square disebut dengan Kai Kuadrat. Chi Square adalah salah

satu jenis uji kompratif non parametris yang dilakukan pada dua variable,

dimana skala data kedua variable adalah nominal, (apabila dari 2

variabel, ada1 variabel dengan skala nominal maka dilakukan uji chi

square dengan merujuk bahwa harus digunakan uji pada derajat yang

terendah). Ada beberapa syarat menurut Dahlan 2017 dimana chi square

dapat digunakan yaitu:

1. Tidak ada cell dengan nilai frekuensi kenyataan atau disebut juga actual count

(F0) sebesar 0 (nol).

41
2. Apabila bentuk table kontingensi 2x2 maka tidak boleh ada 1 cell saja yang

memiliki frekuensi harapan atau disebut juga expected count (fh) kurang dari

5 apabila tidak memenuhi syarat yaitu ada cell dengan frekuensi harapan

kurang dari 5, maka rumus harus diganti dengan “Fisher Exact Test).

3. Apabila bentuk table lebih dari 2x3 maka jumlah cell dengan frekuensi

harapan yang kurang dari 5 tidak boleh dari 20%.Apabila tidak memenuhi

syarat maka dilanjutkan test Kolmogory Smirnov. Analisis bivariat dilakukan

dengan menggunakan uji chi square melalui dua tahapan. Tahap pertama

yaitu mengetahui hubungan antara variable bebas dengan variable terikat.

Tahapan kedua yaitu mengetahui besar resiko pada penelitian ini dilakukan

dengan menghitung odds ratio, karena jenis penelitian ini adalah case control.

Odds Ratio (OR) adalah ukuran asosiasi paparan (faktor resiko) dengan

kejadian penyakit. Kriteria OR adalah:

a. OR < 1, artinya mempertinggi resiko

b. OR = 1, artinya tidak terdapat asosiasi/ hubungan.

7.2.11. 4.7. Penyajian Data


Cara penyajian data penelitian dilakukan melalui berbagai bentuk.

Pada umumnya dikelompokkan menjadi tiga yaitu penyajian dalam bentuk

teks (textular), tabel dan bentuk grafik. Dalam penelitian ini menggunakan

yang sistematik dari pada data numerik yang tersusun dalam kolom atau

jajaran dan dilengkapi dengan penyajian dalam bentuk teks tekstular

(Notoatmodjo,2018).

42
BAB V

HASIL DAN ANALISIS HASIL PENELITIAN


7.2.12. 5.1. Pofil Tempat Penelitian

UPT Puskesmas Sukajaya membawahi 2 UPF, yaitu UPF


Puskesmas Sukajaya dan UPF Puskesmas Kiarapandak. Wilayah kerja
UPT Sukajaya meliputi 11 desa. Enam (6) diantaranya berada di wilayah
kerja UPF Puskesmas Sukajaya yang tersendiri dari Desa Sukajaya,
Sipayung, Sukamulih, Jayaraharja, Pasir Madang, dan Cileuksa.
Sedangkan UPF Kiarapandak mempunyai 5 desa binaan yaitu Desa
Kiarapandak, Kiarasari, Urug, Harkatjaya, dan Cisarua.

7.2.13. 5.2. Hasil Dan Analisa Penelitian

1. hasil analisis univariat

Tabel 5.1
distribusi frekuensi kejadian PEB dengan Ibu Hamil Trimester II di Puskesmas
Sukajaya Tahun 2024
Preeklamsia berat Frequency Persentase %
Ya 19 30,6 %
tidak 43 69,4 %
Total 62 100,0 %
Berdasarkan tabel 5.1 dari 62 responden terdapat 19 responden (30,6 %)
responden yang mengalami preeklampsia berat dan 43 responden (69,4%) tidak
menglami preeklamsia berat.

43
Tabel 5.2

distribusi frekuensi kejadian PEB berdasarkan Usia di Puskesmas Sukajaya


Tahun 2024.
Umur Frequency Persentase %
Beresiko 46 74,2 %
tidak beresiko 16 25,8 %
Total 62 100,0 %

Berdasarkan tabel 5.2 dari 62 orang responden terdapat 46 responden ( 74,2 % )


responden yang umurnya berisiko dan 16 responden (25,8) tidak beresiko.
Tabel 5.3

distribusi frekuensi kejadian PEB berdasarkan obesitas di Puskesmas Sukajaya


Tahun 2024.
Obesitas Frequency Persentase %
Obesitas 29 46,8 %
Tidak obesitas 33 53,2 %
Total 62 100,0 %

Berdasarkan tabel 5.3 dari 62 responden terdapat 29 responden ( 46,8 ) yang


mengalami obesitas dan 33 responden (53,2) yang tidak obesitas.
Tabel 5.4
distribusi frekuensi kejadian PEB berdasarkan riwayat kehamilan terdahulu di
Puskesmas Sukajaya Tahun 2024.
Riwayat Kehamilan
Terdahulu Frequency Presentase %
Ya 25 40,3 %
Tidak 37 59,7 %
Total 62 100,0 %

Berdasarkan tabel 5.4 dapat dilihat bahwa dari 62 responden terdapat 25


responden ( 40,3 %) yang ada riwayat preeklampsia dan 37 responden (59,7)
responden yang tidak punya riwayat kehmailan terdahulu .

44
2. Analisa Bivariat

Tabel 5.5
hubungan kejadian Preeklamsia berat dengan usia di Puskesmas Sukajaya
Tahun 2024

Kejadian PEB Total P-Value


Umur
Ya Tidak
F % F % N %
Berisiko(<20 15 32.6 % 31 67,3 % 19 100 %
tahun dan >35
0,323
tahun)
Tidak berisiko 4 25,0 % 12 75.0 % 43 100 %
(20-35 tahun )
Jumlah 19 30,6% 43 69,5 % 20
62 100 %
Berdasarkan tabel 5.5 bahwa dari 62 responden yang mengalami kejadian

preeklamsia berat berdasarkan umur bersiko (<20 dan >35 tahun) ada 15

(32,6%)responden dan yang tidak mengalami kejadian preeklamsia ada 31

(67,3%). Sedangkan umur yang tidak beresiko ( 20-35 tahun ) yang

mengalami preeklamsia berat ada 4 (25,0%) dan yang mengalami preeklamsia

berat ada 12 ( 75,0%).

Hasil uji statistik diperoleh nilai p value = 0,323 (p > 0,05) maka dapat

disimpulkan tidak ada hubungan yang signifikan antara umur dengan kejadian

preeklampsia berat.

45
Tabel 5.6
hubungan kejadian Preeklamsia berat dengan obesitas di Puskesmas Sukajaya
Tahun 2024

Kejadian PEB Total Value


Obesitas
PEB Tidak PEB
F % F % N %
Obesitas 9 31.0 20 69,0 29 100
Tidak obesitas 10 30,3 23 69,7 33 100 0,004
Jumlah 19 30,6 43 69,5 2062 100
Berdasarkan tabel 5.6 bahwa dari 62 responden yang mengalami

kejadian preeklamsia berat berdasarkan obesitas 9 (31,0) responden dan yang

tidak mengalami kejadian preeklamsia ada 20 (69,0%). Sedangkan yang tidak

obesitas yang mengalami preeklamsia berat ada 10 (30,3%) dan yang

mengalami preeklamsia berat ada 23 ( 69,7 %).

Hasil uji statistik diperoleh nilai p value=0,004 (p < 0,05) maka dapat

disimpulkan ada hubungan yang signifikan antara Obesitas dengan kejadian

preeklampsia berat.

Tabel 5.7
hubungan kejadian Preeklamsia berat dengan riwayat kehamilan terdahulu di
Puskesmas Sukajaya Tahun 2024

Kejadian PEB Total Value


Riwayat
kehamilan PEB Tidak PEB
terdahulu F % F % N %
Ya 8 32,0 17 68,0 19 100
Tidak 11 29,7 26 70,3 43 100 0,036
Jumlah 19 30,6 43 69,4 62 100

Berdasarkan tabel 5.6 bahwa dari 62 responden yang mengalami kejadian

46
preeklamsia berat berdasarkan riwayat kehamilan terdahulu 8 (32,0)

responden dan yang tidak mengalami kejadian preeklamsia ada 17 (68,0%).

Sedangkan yang tidak riwayat kehamilan terdahulu yang mengalami

preeklamsia berat ada 10 (30,6%) dan yang mengalami preeklamsia berat

ada 26 ( 69,4%).

Hasil uji statistik diperoleh nilai p value=0,036 (p0 < 0,05) maka dapat

disimpulkan ada hubungan yang signifikan antara Obesitas dengan kejadian

preeklampsia berat.

47
BAB VI

PEMBAHASAN

7.2.14. 6.1 Distribusi frekuensi kejadian PEB berdasarkan Usia di Puskesmas


Sukajaya Tahun 2024.
Dari 62 orang responden terdapat 46 responden ( 74,2 % )

responden yang umurnya berisiko dan 16 responden (25,8) tidak

beresiko. hubungan kejadian Preeklamsia berat dengan usia di

Puskesmas Sukajaya Tahun 2024 dari 62 responden yang mengalami

kejadian preeklamsia berat berdasarkan umur bersiko (<20 dan >35

tahun) ada 15 (32,6%)responden dan yang tidak mengalami kejadian

preeklamsia ada 31 (67,3%). Sedangkan umur yang tidak beresiko (

20-35 tahun ) yang mengalami preeklamsia berat ada 4 (25,0%) dan

yang mengalami preeklamsia berat ada 12 ( 75,0%). Hasil uji statistik

diperoleh nilai p value = 0,323 (p > 0,05) maka dapat disimpulkan

tidak ada hubungan yang signifikan antara umur dengan kejadian

preeklampsia berat. Dengan nilai OR 95% CI ibu hamil trimester II

mempunyai Peluang resiko 1,452 kali mengalami kejadian preeklamsia

berat.

Hal diatas didukung oleh teori yang menyatakan bahwa saat terbaik

bagi seorang perempuan untuk hamil adalah saat berusia 20-35 tahun,

sel telur telah diproduksi sejak lahir namun baru terjadi ovulasi ketika

masa pubertas. Sel telur yang berhasil keluar hanya satu setiap bulan,

ini menunjukkan adanya unsur seleksi yang terjadi sehingga diasumsi

48
bahwa sel telur yang keluar adalah sel telur yang unggul. Oleh karena

itu semakin lanjut usia maka kualitas sel telur sudah berkurang hingga

berakibat juga menurunnya kualitas keturunan yang dihasilkan,

sementara usia dibawah 20 tahun bukan masa yang baik untuk hamil

karena organ-organ reproduksi belum sempurna yang tentu akan

menyulitkan proses kehamilan dan persalinan.

Usia adalah umur individu terhitung mulai saat dia dilahirkan

sampai saat berulang tahun. Semakin cukup umur, tingkat kematangan

dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja.

Usia sangat mempengaruhi kehamilan maupun persalinan. Usia

yang baik untuk hamil atau melahirkan berkisar antara 20-35 tahun.

Pada usia tersebut alat reproduksi wanita telah berkembang dan

berfungsi secara maksimal. Sebaliknya pada wanita dengan usia

dibawah 20 tahun atau diatas 35 tahun kurang baik untuk hamil

maupun melahirkan, karena kehamilan pada usia ini memiliki resiko

tinggi seperti terjadinya keguguran, atau kegagalan persalinan, bahkan

bisa menyebabkan kematian, distosia, preeklampsia dan partus lama.

Hal ini didukung oleh hasil penelitian Azwar Hasan tentang

Hubungan usia dan paritas ibu dengan kejadian preeklampsia di RS

Dr. M. Djamil tahun 2016 yang menyatakan bahwa dari 52 orang ibu

bersalin terdapat 16 orang (30,8%) ibu dengan usianya beresiko dengan

perincian usia <20 tahun sebanyak 3 orang dan usia >35 tahun

sebanyak 13 orang. Penelitian yang sama juga dilakukan oleh Hanum

49
tentang Faktor yang Berhubungan dengan Preeklampsia pada

Kehamilan di RSU Muhammadiyah Tahun 2011- 2013 yang

menyatakan bahwa mayoritas responden umurnya berisiko yaitu 56%

dan tidak berisiko 44%.

Peneliti berasumsi bahwa, umur yang baik atau reproduktif saat

hamil yaitu usia dengan rentang 20 – 35 tahun. Penyebab ibu

cenderung hamil pada umur yang berisiko yaitu < 20 tahun karena

salah satunya dampak dari pernikahan usia dini, sedangkan > 35 tahun

dapat dipicu karena salah satunya kegagalan program keluarga

berencana. Umur seorang ibu berkaitan dengan alat reproduksi,

apabila umur ibu terlalu muda atau kurang dari 20 tahun maka fungsi

rahim ibu belum sempurna untuk menerima kehamilan, sedang kan

saat ibu hamil diumur diatas 35 tahun maka fungsi rahim ibu akan

menurun sehingga rahim tidak mampu lagi berkontraksi dengan baik

menerima kehamilan. Umur yang berisiko memiliki peluang lebih

besar mengaljami komplikasi dalam kehamilan.

7.2.15. 6.2 Distribusi frekuensi kejadian PEB berdasarkan obesitas di


Puskesmas Sukajaya Tahun2024.
Dari 62 responden terdapat 29 responden ( 46,8 ) yang mengalami obesitas

dan 33 responden (53,2) yang tidak obesitas. bahwa dari 62 responden yang

mengalami kejadian preeklamsia berat berdasarkan obesitas 9 (31,0)

responden dan yang tidak mengalami kejadian preeklamsia ada 20 (69,0%).

Sedangkan yang tidak obesitas yang mengalami preeklamsia berat ada 10

(30,3%) dan yang mengalami preeklamsia berat ada 23 ( 69,7 %).

50
Hasil uji statistik diperoleh nilai p value=0,004 (p < 0,05) maka dapat

disimpulkan ada hubungan yang signifikan antara Obesitas dengan kejadian

preeklampsia berat. Dengan nilai OR 95% CI ibu hamil trimester II

mempunyai Peluang resiko 1,035 kali mengalami kejadian preeklamsia berat.

Obesitas merupakan peningkatan berat badan melebihi batas kebutuhan

skeletal dan fisik sebagai akibat dari akumulasi lemak yang berlebihan dalam

tubuh. WHO mengemukakan bahwa obesitas merupakan penimbunan lemak

yang berlebihan di seluruh jaringan tubuh secara merata yang mengakibatkan

gangguan kesehatan dan menimbulkan berbagai macam penyakit seperti

diabetes, tekanan darah tinggi, serangan jantung yang menyebabkan kematian.

Salah satu faktor yang berkaitan erat dengan terjadinya preeklampsia

adalah obesitas. Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada populasi wanita

hamil di Pittsburgh, didapatkan bahwa risiko preeklampsia meningkat 3

kali lipat pada ibu hamil dengan obesitas. Selain itu juga dijelaskan bahwa

kejadian preeklampsia ringan dan berat pada usia akhir kehamilan, lebih

banyak ditemukan pada wanita obesitas.

Indeks Massa Tubuh yang berlebih dapat meningkatkan risiko pada

trimester pertama dan risiko keguguran. Pada ibu hamil dengan kelebihan

berat badan obesitas akan meningkatkan risiko kehamilan yang dapat

membahayakan bagi dirinya dan janinnya. Pada ibu hamil yang mengalami

obesitas dapat terjadi preeklampsia melalui mekanisme hiperleptinemia,

sindroma metabolic, reaksi inflamasi serta peningkatan stress oksidatif yang

berujung pada kerusakan dan disfungsi endotel.

51
Penelitian yang dilakukan oleh Hanum tentang Faktor yang Berhubungan

dengan Preeklampsia pada Kehamilan di RSU Muhammadiyah Tahun 2011-

2013 yang menyatakan bahwa 45,1% responden mengalami obesitas.

Penelitian yang sama juga dilakukan oleh Yeyeh (2020) tentang Hubungan

karakteristik ibu bersalin dengan preeklampsia berat di RSU Purwakarta yang

menyatakan bahwa 56,9% responden mengalami obesitas.

Peneliti berasumsi bahwa, obesitas dapat dipengaruhi kurangnya

penerapan pola hidup sehat terutama pada masa kehamilan. Ibu yang

mengalami obesitas dipengaruhi karena tidak menjaga pola makan serta tidak

melakukan aktivitas fisik sehingga memicu terjadinya peningkatan

berat badan yang berlebihan. Salah satu faktor yang dapat memperburuk

keadaan pada saat hamil yaitu keadaan ibu dengan obesitas. Pada ibu hamil

dengan kelebihan berat badan obesitas akan meningkatkan risiko kehamilan

yang dapat membahayakan bagi dirinya dan janinnya. Pada ibu hamil yang

mengalami obesitas dapat terjadi preeklampsia melalui mekanisme

hiperleptinemia, sindroma metabolic, reaksi inflamasi serta peningkatan stress

oksidatif yang berujung pada kerusakan dan disfungsi endotel yang daopa

memicu terjadinya preeklampsia.

7.2.16. 6.3 Distribusi frekuensi kejadian PEB berdasarkan riwayat kehamilan


terdahulu di Puskesmas Sukajaya Tahun2024.
Dari 62 responden terdapat 25 responden ( 40,3 %) yang ada riwayat

preeklampsia dan 37 responden (59,7) responden yang tidak punya riwayat

kehmailan terdahulu. dari 62 responden yang mengalami kejadian preeklamsia

berat berdasarkan dengan riwayat kehamilan terdahulu 8 (32,0) responden

52
dan yang tidak mengalami kejadian preeklamsia ada 17 (68,0%). Sedangkan

yang tidak riwayat kehamilan terdahulu yang mengalami preeklamsia berat

ada 10 (30,6%) dan yang mengalami preeklamsia berat ada 26 ( 69,4%).

Hasil uji statistik diperoleh nilai p value=0,036 (p0 < 0,05) maka dapat

disimpulkan ada hubungan yang signifikan antara riwayat kehamilan

terdahulu dengan kejadian preeklampsia berat. Dengan nilai OR 95% CI ibu

hamil trimester II mempunyai Peluang resiko 1,112 kali mengalami kejadian

preeklamsia berat.

Hubungan antara riwayat preeklampsia berat sebelumnya dengan sFlt-1

yang memang belum banyak dikaji. Teori yang paling mendukung teori ini

adalah teori splicing DNA pada mekanisme peningkatan sFlt-1 yang sifatnya

menetap. Slicing merupakan mekanisme kehilangan intron ada tahap

transkripsi, sehingga untai RNA hanya terdiri dari ekson yang siap untuk

ditranslasikan menjadi protein. Perubahan model penggabungan ekson ini

menyebabkan peningkatan sFlt-1 dan model perubahan ini umumnya

memanglah menetap.

Penelitian yang dilakukan oleh Nindya faktor yang berhubungan dengan

kejadian PEB tahun 2016 menyatakan ada hubungan riwayat preeklampsia

dengan kejadian PEB dengan nilai p value 0,000. Penelitian yang sama juga

dilakukan oleh Anggia Anggia Gambaran epidemiologi kejadian

preeklampsia/ eklampsia di RSU Muhammadiyah Yogyakarta tahun 2017

yang menyatakan ada hubungan riwayat preeklampsia dengan kejadian

Preeklampsia berat dengan nilai p value 0,010 Peneliti berasumsi bahwa,

53
pada penelitian ini ada hubungan antara riwayat preeklampsia dengan

kejadian preeklampsia berat. Ibu dengan Riwayat preeklampsia fungsi endotel

sudah terganggu sehingga pada kehamilan selanjutnya akan mudah terjadi

vasodilatasi pada plasenta sehingga memicu terjadinya peningkatan tekanan

darah serta peningkatan sFlt-1 sehingga memicu terjadinya preeklampsia

berat.

54
BAB VII

KESIMPILAN DAN SARAN


7.1. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian di atas maka dapat

disimpulkan bahwa:

7.1.1. Diketahui distribusi frekuensi kejadian PEB dengan Ibu


Hamil Trimester II di Puskesmas Sukajaya Tahun 2024.

terdapat 19 responden (30,6 %) responden yang mengalami

preeklampsia berat dan 43 responden (69,4%) tidak

menglami preeklamsia berat

7.1.2. Diketahui distribusi frekuensi kejadian PEB

berdasarkan Usia di Puskesmas Sukajaya Tahun

2024 terdapat 46 responden ( 74,2 % ) responden

yang umurnya berisiko dan 16 responden (25,8)

tidak beresiko.

7.1.3. Diketahui distribusi frekuensi kejadian PEB


berdasarkan Obesitas di Puskesmas Sukajaya Tahun

2024. terdapat 29 responden ( 46,8 ) yang

mengalami obesitas dan 33 responden (53,2) yang

tidak obesitas.

7.1.4. Diketahui distribusi frekuensi kejadian PEB


berdasarkan Riwayat kehamilan terdahulu di

Puskesmas Sukajaya Tahun 2024. terdapat 25

55
responden ( 40,3 %) yang ada riwayat preeklampsia

dan 37 responden (59,7) responden yang tidak

punya riwayat kehmailan terdahulu .

7.1.5. Diketahui hubungan kejadian PEB dengan usia di


Puskesmas Sukajaya Tahun 2024 terdapat 46

responden ( 74,2 % ) responden yang umurnya

berisiko dan 16 responden (25,8) tidak beresiko.

hubungan kejadian Preeklamsia berat dengan usia

di Puskesmas Sukajaya Tahun 2024 dari 62

responden yang mengalami kejadian preeklamsia

berat berdasarkan umur bersiko (<20 dan >35 tahun)

ada 15 (32,6%)responden dan yang tidak mengalami

kejadian preeklamsia ada 31 (67,3%). Sedangkan

umur yang tidak beresiko ( 20-35 tahun ) yang

mengalami preeklamsia berat ada 4 (25,0%) dan

yang mengalami preeklamsia berat ada 12 ( 75,0%).

Hasil uji statistik diperoleh nilai p value = 0,323 (p

> 0,05) maka dapat disimpulkan tidak ada

hubungan yang signifikan antara umur dengan

kejadian preeklampsia berat

7.1.6. Dikathui hubungan kejadian PEB dengan obesitas


di Puskesmas Sukajaya Tahun 2024. terdapat 29

56
responden ( 46,8 ) yang mengalami obesitas dan 33

responden (53,2) yang tidak obesitas. bahwa dari 62

responden yang mengalami kejadian preeklamsia

berat berdasarkan obesitas 9 (31,0) responden dan

yang tidak mengalami kejadian preeklamsia ada 20

(69,0%). Sedangkan yang tidak obesitas yang

mengalami preeklamsia berat ada 10 (30,3%) dan

yang mengalami preeklamsia berat ada 23 ( 69,7 %).

Hasil uji statistik diperoleh nilai p value=0,004 (p <

0,05) maka dapat disimpulkan ada hubungan yang

signifikan antara Obesitas dengan kejadian

preeklampsia berat.

7.1.7. Diketahui hubungan kejadian PEB dengan riwayat


kehamilan terdahulu di Puskesmas Sukajaya Tahun

2024. terdapat 25 responden ( 40,3 %) yang ada

riwayat preeklampsia dan 37 responden (59,7)

responden yang tidak punya riwayat kehmailan

terdahulu. dari 62 responden yang mengalami

kejadian preeklamsia berat berdasarkan dengan

riwayat kehamilan terdahulu 8 (32,0) responden dan

yang tidak mengalami kejadian preeklamsia ada 17

(68,0%). Sedangkan yang tidak riwayat kehamilan

57
terdahulu yang mengalami preeklamsia berat ada 10

(30,6%) dan yang mengalami preeklamsia berat ada

26 ( 69,4%). Hasil uji statistik diperoleh nilai p

value=0,036 (p0 < 0,05) maka dapat disimpulkan

ada hubungan yang signifikan antara riwayat

kehamilan terdahulu dengan kejadian preeklampsia

berat.

7.2 Saran

7.2.17. Bagi Institusi Pendidikan

Sebagai salah satu media pembelajaran, sumber informasi

dan wacana kepustakaan terkait faktor yang berhubungan dengan

kejadian preeklampsia berat.

7.2.18. Bagi Instansi Kesehatan

Disarankan kepada petugas kesehatan di puskesmas untuk

dapat melakukan upaya pencegahan preeklampsia seperti

memberikan informasi atau konseling kepada ibu sebaiknya hamil

pada usia reproduktif yaitu 20 – 35 tahun dengan jarak kehamilan

sebaiknya > 2 tahun serta rencanakan program KB untuk

menjaga jumlah anak dan jarak kehamilan.

58
7.2.19. Bagi Peneliti selanjutnya

sebagai pendalaman pengetahuan tentang hubungan

primigravida dengan kejadian preeklampsia berat untuk dijadikan

bahan rujukan peneliti selanjutnya.

59
DAFTAR PUSTAKA
Asstenopia M, 2014. Pengguna K, Pt K. Faktor-Faktor Yang Berhubungan
Dengan
preklampsia pada ibu hamil. Jurnal Kesehatan, vol.2/No 1 [ sumber online] 2015
[diakses 5 Februari 2021] Tersedia dari: URL :
[Link]
World Health Organization (WHO). World Health Statistics 2017: Monitoring
Health
For The SDGs, Sustainable Development Goals. 2017. [sumber online] 2017
[diakses 5 Februari 2021] ;136(1):23-42. Tersedia dari : URL
:[Link]
Setyawati A, Widiasih R.2018. faktor-faktor yang berhubungan dengan
terjadinya
preeklampsia di Indonesia. Berdasarkan Survei Demografi digunakan Metode
cara melakukan pencarian artikel pada pencarian artikel ilmiah. VOL ; 2 (1)
: 32 – 40. [ sumber online] 2019 [diakses 5 Februari 2021] Tersedia dari:
URL:[Link]
0525
Cunningham. Obstetri William. Volume 2. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran ;
2006
Wiknjosastro, Gulardi H. Buku Ilmu Kebidanan edisi Ketiga Cetakan Ketujuh.
Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo; 2008.
Hanum, 2013. Faktor yang Berhubungan dengan Preeklampsia pada Kehamilan
di RSU
Muhammadiyah Sumatera Utara Medan Tahun 2011- 2013. Medan: Universitas
Sumatera Utara; 2013. Naskah publikasi universitas Muhammadiyah Vol 2
no3 [diakses 5 Februari 2021] Tersedia dari: URL : [Link]
Djannah, 2010. Gambaran epidemiologi kejadian preeklampsia/ eklampsia di
RSU PKU
Muhammadiyah Yogyakarta tahun 2007–2010. Buletin Penelitian Sistem
Kesehatan. 13: 378– 385 vol 7 no 3 [ sumber online] 2011 [diakses 5
Februari 2021] Tersedia dari: URL :
[Link]
Sinsin L. Seri Kesehatan Ibu Dan Anak Masa Kehamilan Dan Persalinan.
Jakarta:
PT. Elex Media Komputindo Kelompok Gramedia; 2008.
Prawirohardjo S. Ilmu Kebidanan Cetakan Ketiga. Jakarta: PT Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo; 2013.
Yeyeh A, Yolanda D, Humaeroh D. Hubungan karakteristik ibu bersalin dengan
preeclampsia berat di RSU Purwakarta. Purwakarta: Jurnal Ilmiah Kesehatan;
2020. Hal 16. [diakses 29 Juni 2021] Tersedia dari: URL :
[Link]

74
J, Kenneth L. Williams Manual Of Obstetrics. 21st ed. (Egi Komara Yudha
NBS, ed.). Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2010.
Imron R, Novadela NI. 2014. Faktor - faktor yang berhubungan dengan kejadian
pre eklampsia dan eklamsia pada ibu bersalin. Jurnal Ilmiah Komunitas
2014;X(1):15461. Vol.5 No 2 [diakses 5 Februari 2021] Tersedia dari: URL
: [Link]
Prawirohardjo S. Ilmu Kandungan. (Abdul Bari Saifuddin, Trijatmo Rachmadhi
GHW, ed.). Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono; 2010 Suherman. 2019.
Faktor yang berhubungan dengan preeklampsia berat pada ibu hamil
trimester III di RSUD Bekasi. Jurnal ilmiah. Vol 5 (3) [sumber online] 2020
[diakses 5 Februari 2021] Tersedia dari: URL [Link]
Nuril, et al. Buku Ajar Obstetri dan Mahasiswa Kebidanan. Yogyakarta : Nuha
Medika; 2011
Lusiana, Novita. 2014. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian
Preeklampsia pada Ibu Bersalin di Ruangan Camar II RSUD Arifin Achmad
Provinsi Riau. Jurnal Kesehatan Komunitas, Vol. 3, No. 1, Nopember 2015.
STIKes Hang Tuah Pekanbaru [diakses 5 Februari 2021] Tersedia dari:
URL : [Link]
Manuaba. Pengantar Kuliah Obstetri. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC;
2009
Proverawati K. Buku Ajar Gizi Untuk Kebidanan. Yogyakarta: Nuha Medika;
2009.
Kementerian Kesehatan RI. Profil Kesehatan Indonesia 2019. Jakarta: Kemenkes
RI. Diakses pada tanggal 01 Juli 2021 [sumber online]. Tersedia dari URL:
[Link]
Rufaidah A.2018. Faktor – faktor yang berhubungan dengan kejadian
preeklampsia
pada ibu hamil di rsup muhammadiyah bantul. Jurnal Kesehatan. Vol (2)1
[sumber online] 2019 [diakses 5 Februari 2021] Tersedia dari: URL :
[Link]
Rozikhan, 2007. Faktor Resiko Terjadinya Preeklampsia di Rumah Sakit.
Journal
of Publich Health .Surabaya: Pusat safemotherhood. Vol 10 No 1 [ sumber
online] 2008 [diakses 5 Februari 2021] Tersedia dari: URL :
[Link]
Soekidjo Notoadmojo. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta;
2011
Harumi, Ani Media. 2017. Hubungan primigravida dengan kejadian
preeklampsia
pada ibu hamil di Puskesmas Jagir Surabaya. Jurnal Kebidanan [Link].
Vol 4 No 2 [sumber online] 2019 [diakses 21 Juli 2021] Tersedia dari: URL
[Link]
Denantika, Oktaria. 2013. Hubungan status gravida dan usia ibu terhadap
kejadian

75
preeklampsia di RS Dr. M. Djamil Padang. Repository Universitas Andalas.
Padang; 2014 [ sumber online] [diakses 20 Juli 2021] Tersedia dari: URL :
[Link]
Hasan, Azwar. 2015. Hubungan usia dan paritas ibu dengan kejadian
preeklampsia di RS Dr. M. Djamil. Repository Universitas Andalas.
Padang; 2016 [ sumber online] [diakses 20 Juli 2021] Tersedia dari: URL :
[Link]
Ambarwati. 2018. Faktor yang berhubungan dengan kejadian preeclampsia berat
pada ibu hamil di RSUD Semarang. Jurnal of public policy and management
review. Semarang; 2019 [ sumber online] [diakses 21 Juli 2021] Tersedia
dari: URL : [Link]

76
LAMPIRAN

77
78
79
LEMBAR KONSULTASI

Nama : DIAN RANI

NIM 2404052293483

Prodi : DIV Kebidanan

Nama Pembimbing I : [Link]. Lilik Susilowati, [Link].,[Link].,MARS


Judul Proposal :FAKTOR-FAKTOR YANG
BERHUBUNGAN IBU HAMIL
TRIMESTER II DENGAN KEJADIAN
PREEKLAMSIA BERAT DI PUSKESMAS
SUKAJAYA TAHUN 2024

Bimbingan Hari / Tanggal Materi Bimbingan Tanda


ke tangan
1.

2.

3.

4.

5.

6.

80
LEMBAR KONSULTASI

Nama : DIAN RANI

NIM 2404052293483

Prodi : DIV Kebidanan

Nama Pembimbing II : Dr. Bdn. PipihSalanti,[Link]


Judul Proposal :FAKTOR-FAKTOR YANG
BERHUBUNGAN IBU HAMIL
TRIMESTER II DENGAN KEJADIAN
PREEKLAMSIA BERAT DI PUSKESMAS
SUKAJAYA TAHUN 2024

Bimbingan Hari / Tanggal Materi Bimbingan Tanda


ke tangan
1.

2.

3.

4.

5.

6.

81
MASTER TABEL
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN IBU HAMIL TRIMESTER
II DENGAN KEJADIAN PREEKLAMSIA BERAT DI PUSKESMAS
SUKAJAYA TAHUN 2024

RIWAYAT
KEHAMILA
N YANG
UMUR OBESITAS DULU PREEKLAMSIA BERAT
TIDAK TIDAK TIDAK
BERISIK BERESIK OBESIT OBESIT TIDA PREEKLAMS PREEKLAMS
No O O AS AS YA K IA BERAT IA BERAT
1 √ √ √ √
2 √ √ √ √
3 √ √ √ √
4 √ √ √ √
5 √ √ √ √
6 √ √ √ √
7 √ √ √ √
8 √ √ √ √
9 √ √ √ √
10 √ √ √ √
11 √ √ √ √
12 √ √ √ √
13 √ √ √ √
14 √ √ √ √
15 √ √ √ √
16 √ √ 1 √ √
17 √ √ √ √
18 √ √ 1 √ 1 √
19 √ √ 1 √ √
20 √ √ √ √
21 √ √ √ √
22 √ √ √ √
23 √ √ √ √
24 √ √ √ √
25 √ √ √ √
26 √ √ √ √
27 √ √ √ √
28 √ √ √ √

82
29 √ √ √ √
30 √ √ √ √
31 √ √ √ √
32 √ √ √ √
33 √ √ √ √
34 √ √ √ √
35 √ √ √ √
36 √ √ √ √
37 √ √ √ √
38 √ √ √ √
39 √ √ √ √
40 √ √ √ √
41 √ √ √ √
42 √ √ √ √
43 √ √ √ √
44 √ √ √ √
45 √ √ √ √
46 √ √ √ √
47 √ √ √ √
48 √ √ √ √
49 √ √ √ √
50 √ √ √ √
51 √ √ √ √
52 √ √ √ √
53 √ √ √ √
54 √ √ √ √
55 √ √ √ √
56 √ √ √ √
57 √ √ √ √
58 √ √ √ √
59 √ √ √ √
60 √ √ √ √
61 √ √ √ √
62 √ √ √ √

83
UMUR
umur
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid beresiko 46 74,2 74,2 74,2

tidak beresiko 16 25,8 25,8 100,0


Total 62 100,0 100,0

OBESITAS
Obestitas
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid obesitas 29 46,8 46,8 46,8
tidak obesitas 33 53,2 53,2 100,0
Total 62 100,0 100,0

RIWAYAT KEHAMILAN TERDAHULU


Riwayatkehamilanyangdulu
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid ya 25 40,3 40,3 40,3
tidak 37 59,7 59,7 100,0
Total 62 100,0 100,0

84
Case Processing Summary
Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent

umur * 62 100,0% 0 0,0% 62 100,0%


preeklamsiaberat

obestitas * 62 100,0% 0 0,0% 62 100,0%


preeklamsiaberat

riwayatkehamilanya 62 100,0% 0 0,0% 62 100,0%


ngdulu *
preeklamsiaberat

Hubungan umur dengan preeklamsia berat


Crosstab
preeklamsiaberat
tidak
preeklamsia preeklamsia
berat berat Total
umur beresiko Count 15 31 46
Expected Count 14,1 31,9 46,0

% within umur 32,6% 67,4% 100,0%


tidak beresiko Count 4 12 16
Expected Count 4,9 11,1 16,0
% within umur 25,0% 75,0% 100,0%
Total Count 19 43 62
Expected Count 19,0 43,0 62,0
% within umur 30,6% 69,4% 100,0%

85
Chi-Square Tests
Asymptotic
Significance Exact Sig. Exact Sig.
Value df (2-sided) (2-sided) (1-sided)
Pearson Chi-Square ,323a 1 ,570

Continuity ,064 1 ,800


Correctionb
Likelihood Ratio ,332 1 ,565
Fisher's Exact Test ,755 ,408

Linear-by-Linear ,318 1 ,573


Association
N of Valid Cases 62

a. 1 cells (25,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count
is 4,90.
b. Computed only for a 2x2 table

Risk Estimate
95% Confidence Interval
Value Lower Upper
Odds Ratio for umur 1,452 ,400 5,266
(beresiko / tidak beresiko)

For cohort 1,304 ,507 3,356


preeklamsiaberat =
preeklamsia berat

For cohort ,899 ,635 1,271


preeklamsiaberat = tidak
preeklamsia berat

N of Valid Cases 62

86
Hubungan obesitas dengan Preeklamsia berat
Crosstab
Preeklamsiaberat
tidak
preeklamsia preeklamsia
berat berat Total
obestitas obesitas Count 9 20 29
Expected Count 8,9 20,1 29,0

% within 31,0% 69,0% 100,0%


obestitas
tidak obesitas Count 10 23 33
Expected Count 10,1 22,9 33,0

% within 30,3% 69,7% 100,0%


obestitas
Total Count 19 43 62
Expected Count 19,0 43,0 62,0

% within 30,6% 69,4% 100,0%


obestitas

Chi-Square Tests
Asymptotic
Significance Exact Sig. Exact Sig.
Value df (2-sided) (2-sided) (1-sided)
Pearson Chi-Square ,004a 1 ,950

Continuity ,000 1 1,000


Correctionb

Likelihood Ratio ,004 1 ,950


Fisher's Exact Test 1,000 ,584

87
Linear-by-Linear ,004 1 ,951
Association

N of Valid Cases 62

a. 0 cells (0,0%) have expected count less than 5. The minimum expected
count is 8,89.
b. Computed only for a 2x2 table

Risk Estimate
95% Confidence Interval
Value Lower Upper

Odds Ratio for obestitas 1,035 ,351 3,053


(obesitas / tidak obesitas)

For cohort 1,024 ,484 2,168


preeklamsiaberat =
preeklamsia berat

For cohort ,990 ,710 1,379


preeklamsiaberat = tidak
preeklamsia berat
N of Valid Cases 62

Hubungan riwayat kehamilan terdahulu dengan preeklamsia berat


Crosstab
preeklamsiaberat
tidak
preekl
preeklamsia amsia
berat berat Total

riwayatkehamilanyang ya Count 8 17 25
dulu
Expected Count 7,7 17,3 25,0

88
% within 32,0% 68,0% 100,0%
riwayatkehamilanyang
dulu
Tidak Count 11 26 37
Expected Count 11,3 25,7 37,0

% within 29,7% 70,3% 100,0%


riwayatkehamilanyang
dulu
Total Count 19 43 62

Expected Count 19,0 43,0 62,0

% within 30,6% 69,4% 100,0%


riwayatkehamilanyang
dulu

Chi-Square Tests
Asymp
totic
Signifi
cance Exact
(2- Sig. (2- Exact Sig. (1-
Value df sided) sided) sided)

Pearson Chi- ,036a 1 ,849


Square

Continuity ,000 1 1,000


Correctionb
Likelihood Ratio ,036 1 ,849

Fisher's Exact 1,000 ,533


Test

Linear-by- ,036 1 ,850


Linear
Association
N of Valid Cases62

89
a. 0 cells (0,0%) have expected count less than 5. The
minimum expected count is 7,66.
b. Computed only for a 2x2 table
Risk Estimate
95%
Confidence
Interval
Value Lower Upper

Odds Ratio for 1,112 ,371 3,331


riwayatkehamila
nyangdulu (ya /
tidak)
For cohort 1,076 ,505 2,293
preeklamsiaberat
= preeklamsia
berat

For cohort ,968 ,688 1,361


preeklamsiaberat
= tidak
preeklamsia
berat
N of Valid Cases62

90
4

Anda mungkin juga menyukai