0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan20 halaman

Rks Primer Perintis

Diunggah oleh

Andik Sugara
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan20 halaman

Rks Primer Perintis

Diunggah oleh

Andik Sugara
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

m PEMERINTAH KOTA BALIKPAPAN

DINAS PEKERJAAN UMUM


JL. RUHUI RAHAYU I TELP. 874084
BALIKPAPAN

DOKUMEN SPESIFIKASI TEKNIS PEKERJAAN KONSTRUKSI

PAKET PENGADAAN : SALURAN PRIMER PERINTIS


PPK : FARIDAH
ID RUP : 43579327

SPESIFIKASI FUNGSI UMUM Menghasilkan saluran dengan rencana sekitar 2.800 meter

SPESIFIKASI BANGUNAN Lulus uji mutu beton minimal K-250

A. Uraian Spesifikasi Teknis


1. Spesifikasi Bahan Bangunan Konstruksi:
a. Beton saluran mutu K-250 menggunakan readymix
b. Besi saluran menggunakan baja tulangan U-24 dengan diameter sesuai gambar. Baja
tulangan harus merupakan besi beton yang baru atau belum pernah digunakan
sebelumnya.
c. Kayu ulin ukuran minimal 8 cm x 8 cm x 400 cm. Kayu ulin untuk tiang pancang harus dari
kualitas baik, kering udara, tidak cacat/ tidak pecah.
d. Bekisting menggunakan multiplek 9 mm dengan kondisi baik.
e. Plastik cor dengan ketebalan sekitar 0,05 s.d 0,10 mm dengan kualitas yang baik, tidak
cacat/robek dan belum pernah digunakan sebelumnya.

2. Spesifikasi Peralatan Konstruksi dan Peralatan Bangunan:


Peralatan Konstruksi yang dibutuhkan dalam pekerjaan ini adalah :
a. Excavator 80-140 HP, kapasitas 0,9 m3 sebanyak 1 unit.
b. Dump Truck 6 ton minimal 2 unit.
c. Jack hammber sebanyak 1 unit.
d. Concrete vibrator sebanyak 1 unit.

3. Spesifikasi Proses/Kegiatan:
a. Umum
Standar-standar yang berlaku.
Persyaratan teknis yang tertera dalam Persyaratan Normalisasi Indonesia (NI) dan
peraturan-peraturan setempat
- [Link].T-15-1991-03
- Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung
- [Link]-04-1989-F
- [Link]-05-1989-F
- [Link]-06-1989-F
- Tentang Spesifikasi Bahan Bangunan
- American Society For Testing & Materials (ASTM)
- Standar Industri Indonesia (SII)
- AV 1941/SU 41 : Algemene Voorwarden Voor De Uitvoering Bij Aanneming Van
Openbare Werken.
- American Institute of Steel Construction (AISC)
- American Welding Society (AWS)
Untuk pekerjaan-pekerjaan yang belum termasuk dalam standar-standar yang tersebut
diatas, maupun standar-standar Nasional lainnya maka diberlakukan standar Internasional
yang berlaku atas pekerjaan-pekerjaan tersebut atau setidak-tidaknya berlaku standar-
standar persyaratan teknis dari negara-negara asal bahan pekerjaan yang bersangkutan.

Pada prinsipnya semua material yang akan digunakan harus mendapat izin/persetujuan
tertulis dari Direksi/Konsultan Pengawas yang diaplikasikan dalam bentuk “Surat
Persetujuan Bahan”. Material yang masuk tanpa persetujuan Direksi/Konsultan Pengawas
adalah tanggung jawab Kontraktor dan Direksi berhak untuk menolak atau memerintahkan
pembongkaran dan tidak diprogress.

Semua material yang masuk kedalam area proyek (digudang dan dilapangan terbuka) tidak
bisa dikeluarkan dari area proyek tanpa izin dari Direksi Proyek/Konsultan Pengawas.
Semua pekerjaan hanya bisa dilaksanakan atas izin dari Direksi / Konsultan Pengawas yang
diaplikasikan dalam bentuk “Surat Ijin Kerja”. Pekerjaan yang dilaksanakan tanpa izin
Direksi/Konsultan Pengawas adalah tanggung jawab Kontraktor dan tidak akan diprogress.

b. Ukuran dan Patokan


Ukuran-ukuran dalam pekerjaan ini menggunakan sistem metrik, sebagai peil + 0,00
(datum line) dari pekerjaan ini mengikuti peil yang telah ditentukan. Apabila BM yang
dipasang berubah letak atau rusak maka dibawah pengawasan Konsultan Pengawas,
Kontraktor wajib membuat BM yang baru, dimana BM yang dibuat harus kokoh/kuat dan
tidak bergerak selama masa pelaksanaan. Kontraktor wajib menambahkan jika diperlukan
oleh Direksi/Konsultan Pengawas

c. Papan Nama Proyek


Papan Nama Proyek dipasang sesuai dengan petunjuk Direksi dan menjadi beban
Kontraktor dan telah diperhitungkan dalam penawaran Kontraktor.

Papan proyek minimal berisikan informasi sebagai berikut :


- Nama kegiatan
- Nama pekerjaan
- Nomor kontrak
- Waktu pelaksanaan
- Nilai kontrak
- Nama pemyedia jasa
- Nama konsultan supervisi
- Sumber dana

d. Pekerjaan Persiapan
1. Sebelum Pekerjaan Dimulai.
Kontraktor harus melaksanakan pembersihan lapangan sebelum memulai pekerjaan
sehingga semua kotoran, puing-puing, sampah, rumput, batang kayu dan lain-lain tidak
ada lagi di Job Site. Dengan demikian seluruh Job Site terlihat denga jelas. Demikian pula
seluruh bekas akar, tanggul pohon harus dicabut/dibersihkan.

2. Setelah Pekerjaan Selesai.


Setelah pekerjaan selesai sebelum diadakan penyerahan pekerjaan kepada PPKm,
Kontraktor harus membersihkan seluruh site dari segala macam kotoran baik didalam
maupun diluar saluran, puing-puing dan semua peralatan yang digunakan selama masa
konstruksi. Kotoran-kotoran tersebut harus dikeluarkan dari lokasi pekerjaan sehingga
bila hal ini belum diselesaikan secara tuntas, maka pekerjaan tidak akan dianggap selesai
100%.

3. Selama Pekerjaan Berlangsung.


- Kontraktor bertanggung jawab atas kebersihan job site selama pekerjaan
berlangsung.
- Kontraktor bertanggung jawab atas kebersihan jalan raya yang dilalui oleh kendaraan
yang mengangkut material dari dan ke job site.
- Kontraktor bertanggung jawab atas kelancaran lalu lintas umum di sekitar job site.
- Kontraktor bertanggung jawab atas kerusakan jalan raya di sekitar job site yang jelas-
jelas diakibatkan oleh kegiatan Kontraktor.

4. Kebersihan yang dimaksud dalam pasal ini meliputi :


- Kebersihan terhadap kotoran-kotoran yang ditimbulkan oleh sisa-sisa pembuangan
berbagai jenis sampah.
- Kebersihan terhadap jenis kotoran-kotoran yang disebabkan oleh sampah sisa-sisa
bahan bangunan, pecahan- pecahan batu bata dan serpihan kayu, dll.
- Kebersihan dalam arti kata kerapihan pengaturan material dan peralatan sehingga
menunjang mobilisasi pelaksanaan di job site.

5. Direksi Keet dan Barak Kerja.


Kontraktor harus menyediakan keet untuk Pengawas dan Direksi dengan perlengkapan
minimal :

6. Gudang Material.
Kontraktor wajib membuat gudang material dan peralatan. Gudang tersebut terutama
dimaksudkan untuk penyimpanan material dan peralatan yang memerlukan
perlindungan dari alam ataupun terhadap pencurian.

7. Generator Set & Penyediaan Air Sementara.


Untuk keperluan perlengkapan pada malam hari dan untuk keperluan bekerja,
Kontraktor wajib menyediakan dan mengoperasikan satu set Generator dengan
kapasitas yang disesuai.

e. Metode Pelaksanaan dan Gambar Kerja


1. Metode Pelaksanaan.
Sebelum memulai pelaksanaan pekerjaan, Kontraktor yang diwakili oleh Site Manager
harus memberikan rencana tertulis mengenai Metode Pelaksanaan. Metode pelaksanaan
harus dipresentasikan dihadapan Direksi, Konsultan Perencana dan konsultan
pengawas. Hasil dari presentasi metode pelaksanaan setelah disetujui bersama oleh
Direksi, Konsultan Perencana, Konsultan Pengawas merupakan keputusan yang
mengikat didalam pelaksanaan pekerjaan ini.

2. Gambar Kerja.
Kontraktor wajib membuat gambar kerja/shop drawing atas rencana pekerjaan yang
akan dilaksanakan. Direksi pekerjaan dan Konsultan Pengawas, berhak untuk
memerintahkan Kontraktor untuk membuat gambar kerja (shop drawing) atas bagian-
bagian pekerjaan yang memerlukan penjelasan lebih detail. Pelaksanaan pekerjaan yang
dimaksud baru bisa dilaksanakan jika shop drawing telah disetujui oleh Direksi
Pekerjaan/Konsultan Pengawas, yang ditandai dengan “tanda tangan” diatasnya.

f. Pekerjaan Urugan Tanah dan Pemadatan


1. Umum
a. Uraian
 Pekerjaan ini mencakup pengambilan, pengangkutan, penghamparan dan
pemadatan tanah atau bahan berbutir yang disetujui untuk konstruksi timbunan
atau untuk timbunan umum yang diperlukan untuk membuat bentuk dimensi
timbunan, antara lain ketinggian yang sesuai dengan persyaratan atau
penampang melintangnya.
 Segala perubahan dari spesifikasi ini harus dikonsultasikan secara tertulis
kepada Konsultan dan harus mendapat persetujuan terlebih dahulu dari
Konsultan untuk memulai pekerjaan.
 Timbunan yang dicakup oleh ketentuan dalam pasal ini harus dibagi menjadi dua
jenis, yaitu timbunan biasa dan timbunan pilihan. Timbunan pilihan akan
digunakan di daerah berair dan lokasi serupa dimana material yang plastis sulit
untuk dipadatkan dengan baik. Timbunan pilihan dapat juga digunakan untuk
stabilisasi lereng atau pekerjaan pelebaran jika diperlukan, lereng yang curam
karena keterbatasan ruang, dan untuk pekerjaan timbunan lainnya dimana
kekuatan timbunan adalah faktor yang kritis.
 Pekerjaan timbunan dengan material yang dipasang sebagai landasan pada
saluran beton, juga tidak termasuk material drainase berpori yang dipakai untuk
maksud drainase bawah permukaan atau untuk mencegah hanyutnya butir halus
akibat filtrasi.

b. Survei
 Sebelum pekerjaan timbunan dimulai, harus dilakukan survei topografi. Level
yang disepakati harus dicatat dan ditandatangani oleh Konsultan dan Kontraktor.
 Kontraktor harus membuat hasil survei dalam bentuk gambar tampak dan
penampang dengan skala yang disetujui oleh konsultan. Gambar penampang
harus pada interval 10 m. Konsultan harus memverifikasi dan memeriksa
gambar tampak dan penampang.

c. Peralatan
 Kontraktor harus mengajukan metoda kerja termasuk output kerja harian,
jumlah, tipe dan kapasitas peralatan yang akan dioperasikan kepada Konsultan.
 Pemilihan peralatan harus mempertimbangkan kondisi lapangan dan
lingkungan.

2. Pekerjaan Timbunan
a. Lingkup Pekerjaan
 Pekerjaan ini terdiri dari pengambilan, pengangkutan, penempatan dan
pemadatan tanah atau bahan-bahan butiran yang disetujui untuk timbunan atau
pengurugan kembali pada lokasi yang akan ditimbun. Galian dan urugan atau
timbunan, pada umumnya diperlukan sesuai garis kelandaian dan ketinggian
dari penampang melintang yang telah disetujui.
 Timbunan/urugan kering memakai material seperti yang disyaratkan dan
memenuhi kepadatan yang disyaratkan pada spesifikasi ini.

b. Toleransi Dimensi
 Kelandaian dan ketinggian yang diselesaikan setelah pemadatan tidak akan
melebihi tinggi 10 mm atau 20 mm lebih rendah dari yang ditentukan atau
disetujui.
 Semua permukaan timbunan akhir yang tidak terlindung harus cukup halus dan
rata serta mempunyai kemiringan yang cukup untuk menjamin pengaliran bebas
dari air permukaan.
 Permukaan lereng timbunan yang selesai tidak akan berbeda dari garis profil
yang ditentukan dengan melebihi 100 mm dari ketebalan yang dipadatkan.
 Timbunan tidak boleh dihamparkan dalam ketebalan lapisan yang dipadatkan
melebihi 300 mm.

c. Standar Rujukan
 Kontraktor harus menyelesaikan semua pengujian di bawah pengawasan
Konsultan dan harus mengajukan laporan dalam waktu 1 (satu) minggu setelah
masing-masing pengujian dilaksanakan.
 Pengujian mencakup:
1) Analisis Saringan : AASHTO T 88 - 78, ASTM D422
2) Pemadatan Lapangan : AASHTO T 99 - 74, ASTM D698, D1557
3) Penetapan Batas Cair Tanah : AASHTO T 89 - 68, ASTM D423
4) Penetapan Batas Plastis dan Index Plastisitas Tanah : AASHTO T 90 - 70,
ASTM D424
5) CBR.: AASHTO T 193-72, ASTM D1883-73
6) Sand cone.: ASTM D-1556
7) Test Mineralogi
d. Pengajuan Persetujuan Pekerjaan
 Kontraktor harus mengajukan hal-hal berikut kepada Konsultan sebelum suatu
persetujuan untuk memulai pekerjaan dapat diberikan oleh Konsultan, yakni :
1) Gambar penampang melintang terinci yang menunjukkan permukaan yang
dipersiapkan bagi timbunan yang akan ditempatkan.
2) Hasil pengujian kepadatan yang memberikan hasil pemadatan yang baik dari
permukaan yang dipersiapkan dimana timbunan itu akan ditempatkan.
 Kontraktor harus mengajukan hal-hal berikut pada konsultan sekurang-
kurangnya 14 (empat belas) hari sebelum tanggal yang diusulkan dari
penggunaan bahan-bahan yang diajukan untuk digunakan sebagai timbunan,
yang meliputi :
1) Dua contoh masing-masing seberat 50 kg dari bahan-bahan, salah satu akan
ditahan oleh konsultan untuk rujukan selama periode kontrak.
2) Pernyataan tentang asal dan komposisi dari setiap bahan-bahan yang
diusulkan untuk digunakan sebagai timbunan bersama dengan data
pengujian laboratorium yang membuktikan bahwa bahan-bahan tersebut
memenuhi sifat yang ditentukan.
 Kontraktor harus mengajukan hal berikut secara tertulis kepada Konsultan
segera setelah penyelesaian setiap bagian pekerjaan dan sebelum setiap
persetujuan diberikan untuk penempatan bahan-bahan lain di atas timbunan,
yakni :
1) Hasil pengujian kepadatan.
2) Hasil pengujian pengukuran permukaan dan data pengukuran membuktikan
bahwa permukaan berada dalam toleransi yang ditentukan.

e. Kondisi Tempat Kerja


 Kontraktor harus menjamin lahan pekerjaan selalu kering sebelum dan selama
pekerjaan pemadatan.
 Timbunan harus mempunyai kemiringan yang cukup untuk menunjang sistem
drainase dari aliran air hujan dan pekerjaan yang diselesaikan mempunyai
drainase yang baik. Air dari tempat kerja harus dikeluarkan ke dalam sistem
drainase permanen. Penjebak lumpur harus disediakan pada sistem drainase
sementara yang mengalirkan ke dalam sistem drainase permanen.
 Kontraktor harus menjamin pada tempat kerja suatu persediaan air yang cukup
untuk pengendalian kelembaban timbunan selama operasi pemadatan.

f. Perbaikan Pekerjaan yang tidak Memenuhi Syarat


 Timbunan akhir yang tidak sesuai dengan penampang melintang yang
ditentukan atau disetujui atau dengan toleransi perm
 ukaan yang ditentukan, harus diperbaiki dengan menggaruk permukaan tersebut
dan membuang atau menambah bahan-bahan sebagaimana diperlukan, disusul
dengan pembentukan pemadatan kembali.
 Timbunan yang terlalu kering untuk pemadatan dalam batas kadar air yang
ditentukan atau sebagaimana diarahkan oleh konsultan, harus dikoreksi dengan
menggaruk bahan-bahan disusul dengan penyiraman dengan jumlah air
secukupnya dan mencampur secara keseluruhan dengan sebuah mesin perata
(grader) atau peralatan lain yang disetujui.
 Timbunan yang terlalu basah untuk pemadatan dalam batas kadar air yang
ditetapkan atau sebagaimana diarahkan oleh Konsultan, harus dikoreksi dengan
menggaruk bahan-bahan disusul dengan pengerjaan dengan mesin perata
berulang-ulang atau peralatan lainnya yang disetujui, dengan selang istirahat
antara pekerjaan, di bawah kondisi cuaca kering. Kalau tidak atau bila
pengeringan yang cukup tak dapat dicapai dengan pengerjaan dan membiarkan
bahan terlepas, maka Konsultan dapat memerintahkan agar bahan-bahan
tersebut dikeluarkan dari pekerjaan dan diganti dengan bahan-bahan kering
yang memadai.
 Timbunan yang menjadi jenuh karena hujan atau banjir atau sebaliknya setelah
dipadatkan secara memuaskan sesuai dengan spesifikasi ini, pada umumnya tak
akan memerlukan pekerjaan perbaikan asalkan sifat bahan-bahan dan kerataan
permukaan masih memenuhi persyaratan dari spesifikasi ini.
 Perbaikan timbunan yang tidak memenuhi persyaratan sifat atau kepadatan
bahan-bahan dari spesifikasi ini sebagaimana yang diarahkan oleh Konsultan,
harus dilakukan pemadatan tambahan, penggarukan kemudian disusul dengan
pengaturan kadar air dan pemadatan kembali atau pembuangan dan
penggantian bahan-bahan.

g. Pemulihan Pekerjaan Setelah Pengujian


Semua lubang pada pekerjaan akhir yang dibuat oleh pengujian kepadatan atau
lainnya harus ditimbun kembali oleh Kontraktor tanpa penundaan dan dipadatkan
sampai persyaratan toleransi permukaan dan kepadatan dari spesifikasi ini

h. Pembatasan Cuaca
Timbunan tidak boleh ditempatkan, dihampar atau dipadatkan sewaktu hujan turun,
dan tak ada pemadatan yang boleh dilakukan setelah hujan atau sebaliknya bila
kadar air bahan-bahan material berada di luar batas yang ditentukan

i. Royalti Bahan-Bahan
Bila bahan-bahan timbunan didapat dari luar daerah milik, Kontraktor harus
membuat semua pengaturan yang diperlukan dan membayar semua biaya dan
royalti kepada pemilik tanah dan pejabat sebelum mengeluarkan bahan-bahan

j. Bahan-Bahan
1. Sumber Bahan-Bahan
Bahan-bahan timbunan harus dipilih dari sumber yang disetujui.
2. Bahan Timbunan
a. Bahan timbunan terdiri dari timbunan tanah yang digali dan disetujui oleh
Konsultan sebagai bahan-bahan yang memenuhi syarat untuk penggunaan
dalam pekerjaan permanen. Material yang digunakan adalah material silty
clay yang memenuhi klasifikasi USCS sebagai material CL, ML, atau SM
(khusus untuk timbunan di bawah muka air tanah). Clay fraction (< 0.002
mm) bahan-bahan timbunan harus memenuhi minimal 25% yang
ditunjukkan dari hasil analisis saringan.
b. Tanah yang mempunyai sifat mengembang (shrinkage) sangat tinggi yang
mempunyai suatu nilai aktivitas lebih besar daripada 1,0 atau suatu derajat
pengembangan yang digolongkan oleh AASHTO T 258 sebagai sangat tinggi
atau ekstra tinggi, tidak akan digunakan sebagai bahan timbunan. Nilai
Aktivitas harus diukur sebagai Indeks Plastisitas, IP (AASHTO T90) dan
Persentase Ukuran Tanah Liat (AASHTO T88).
c. Indeks Plastisitas, IP (AASHTO T90) dari material timbunan harus lebih kecil
dari 15 % dan batas cair, LL harus lebih kecil dari 45% (AASHTO T90).
d. Bahan-bahan timbunan tidak mengandung mineral Montmorillonite yang
ditunjukkan dari hasil test mineralogi.
e. Material yang telah dipadatkan menurut Modified Proctor, harus memiliki:
 Undrained Shear Strength (Cu) untuk sample tanah yang dijenuhkan
lebih besar dari 60 kPa atau sample tanah kering setelah dipadatkan >
120 kPa.
 Specific Grafity (Gs) lebih besar dari 2,6
 Kepadatan kering minimum harus mencapai kepadatan minimal 95 %
Modified Proctor maximum density untuk bahan timbunan umum, dan 98
% Modified Proctor maximum density untuk bahan timbunan subgrade
jalan.
‘g. Pekerjaan Beton Bertulang
1. Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan beton bertulang dilaksanakan untuk pekerjaan saluran yang
ditunjukkan dalam gambar.

2. Persyaratan Material
a. Referensi
SKBI-2.3.53.1987
SNI 03-1727-1989
SNI 03-1728-1989
SNI 03-1736-1989
SNI 03-1750-1990
SNI 03-1756-1990
SNI 03-2461-1991
SNI 03-2495-1991
SNI 03-2834-1992
SNI 03-2847-1992
SNI 03-2854-1992
SNI 03-2914-1992
SNI 03-3976-1995
SK SNI S-36–1990–03
SK SNI T-28-1991-03
SK SNI T-15-1992-03

b. Portland Cement (PC)


Semua PC yang digunakan harus PC dengan merk standar yang disetujui oleh
badan yang berwenang dan memenuhi persyaratan PC tipe I sesuai spesifikasi
yang termuat dalam SNI dan harus sesuai dengan kondisi di lapangan. Semua
pekerjaan harus menggunakan satu macam merk PC, PC harus disimpan
dengan baik, dihindarkan dari kelembaban sampai tiba saatnya untuk dipakai.
PC yang telah mengeras atau membatu tidak boleh digunakan, PC harus
disimpan sedemikan rupa sehingga mudah untuk diperiksa dan diambil
contohnya.
c. Batu Split/kerikil dan Pasir
Batu split/krikil dan pasir harus keras, tahan lama dan bersih serta tidak
mengandung bahan yang merusak dalam bentuk ataupun jumlah yang cukup
banyak, yang dapat memperlemah kekuatan beton. Split/krikil harus
memenuhi syarat-syarat yang terdapat pada SNI 1734-1989, atau daftar
berikut ini:

Split/Kerikil Pasir
% Lewat Ayakan Ayakan % Lewat Ayakan
Ayakan
(Berat Kering) (Berat Kering)
30 mm 100 10 mm 100

25 mm 90 – 100 5 mm 90 – 100

15 mm 25 – 60 2.5 mm 80 – 100

5 mm 0 – 10 1.2 mm 50 – 90

2.5 mm 0–5 0.6 mm 25 – 60

0.3 mm 10 – 30

0.15 mm 2 – 10
d. Air
Air harus bersih dan bebas dari bahan organik, alkali, garam, asam dan
sebaiknya air tersebut dapat diminum.

e. Bahan Pembantu (Admixture)


Atas pilihan Kontraktor atau permintaan Direksi/Konsultan Pengawas, bahan
pembantu boleh ditambahkan pada campuran beton untuk mengatur
pengerasan beton, efek penggunaan air atau penambahan mutu beton, biaya
penambahan bahan pembantu ditanggung oleh Kontraktor.
Bahan pembantu yang digunakan harus berkualitas baik dan dapat diterima
dan disetujui oleh Direksi/Konsultan Pengawas, dan penggunaannya sesuai
dengan petunjuk penggunaan dari produk tersebut dan yang disyaratkan
dalam “BAHAN PEMBANTU” sesuai dengan SNI 03-2495-1991.
Jumlah penggunaan PC dalam adukan adalah tetap dan tidak tergantung ada
atau tidak adanya penggunaan bahan pembantu dan pencampurannya harus
sesuai dengan petunjuk dari pabrik.

f. Tulangan Baja
Tulangan baja harus mempunyai diameter yang sesuai dengan gambar rencana
dan bebas dari karat. Untuk tulangan baja dengan semua menggunakan Baja
Tulangan Polos (BjTP 24), atau sesuai persyaratan yang di tunjukkan pada
gambar dan dokumen lainnya dan dapat ditunjukkan dengan sertifikasi dari
pabrik. Harus dilakukan pengujian minimum 2 sampel untuk tiap macam
diameter dari setiap 20 ton besi. Pengujian ini dilakukan pada laboratorium
yang telah disetujui oleh Konsultan Pengawas atas biaya Kontraktor. Semua
pembengkokan, penyambungan dan panjang penyaluran harus sesuai dengan
SK SNI T-15-1992-03.

3. Kualitas Beton yang diinginkan


Mutu beton/kuat tekan beton yang diinginkan adalah K-250, dengan menggunakan
sistem beton siap pakai (ready mix concrete) yang terlebih dahulu memberikan
data spesifikasi mutu beton yang dikehendaki kepada Konsultan Pengawas
sebelum pekerjaan pengecoran dilaksanakan.

‘h. Plastik Cor


Plastik cor memiliki kegunaan yang penting untuk aplikasi pelapis lantai di atas tanah / slab
on ground. Plastik cor memiliki ketebalan yang cukup, sekitar 0.05 – 0.1mm agar tidak
mudah robek bila terinjak-injak pada saat memasang tulangan pelat ataupun wiremesh.

i. Bekisting
Papan bekisting harus terbuat dari plywood, papan yang diserut/diketam rata dan halus,
dalam keadaan baik sebagaimana dikehendaki untuk menghasilkan permukaan yang
sempurna seperti terperinci dalam spesifikasi ini.

‘j. Pancang Kayu Ulin


 Pekerjaan harus dilaksanakan oleh tenaga yang cukup ahli dan berpengalaman dalam
bidang tersebut.
 Pemancangan harus menggunakan mesin pancang dengan berat hammer minimal 800
kg dan tinggi jatuh hammer rata-rata 4 meter. Pada akhir pemancangan untuk setiap
titik pancang diharuskan dipancang dengan tinggi jatuh hammer maximal (tinggi layar
yang ada).
 Selama pemancangan bagian kayu yang ditumbuk harus dilindungi dengan topi besi.
 Tiap layar untuk mesin pancang harus benar-benar tegak lurus.
‘k. Pengecatan
a. Lingkup Pekerjaan
Termasuk dalam pekerjaan ini meliputi pengadaan bahan, penyediaan tenaga kerja,
peralatan dan alat-alat bantu lainnya yang digunakan dalam pelaksanaannya, sehingga
dapat tercapai hasil pekerjaan yang bermutu baik. Pekerjaan pengecatan ini meliputi
pengecatan tiang pagar, pipa railing dan leuneng dan dilakukan pada bagian seluruh
detail yang disebutkan/ditunjukkan dalam gambar. Jenis finishing : finishing cat.

b. Ketentuan-ketentuan
Pemakaian :
 Bahan cat yang dipakai untuk tiap jenis finishing sesuai dengan yang sudah
disetujui oleh Pemberi tugas.
 Bahan cat yang digunakan harus ramah lingkungan dan tidak mengandung bahan-
bahan yang berbahaya bagi manusia.

Pekerjaan pengecatan ini harus dikerjakan oleh tenaga ahli yang cukup berpengalaman
dalam bidangnya. Standard dan peraturan yang berlaku adalah :
 PUBBI 1982
 Peraturan Umum Bangunan Nasional
 SII
 ASTM

Sebelum pekerjaan dimulai, pelaksana diharuskan untuk menyerahkan contoh bahan


yang akan dipakai di dalam pelaksanaan terutama terkait warna dan tekstur. Semua
contoh diserahkan kepada Konsultan Pengawas guna pemeriksaan dan persetujuan
pemakaian atau pelaksanaannya.

c. Pemakaian bahan/material
Finishing cat minyak
 Semua bahan yang digunakan adalah produk kualitas terbaik, merk yang
digunakan adalah dulux.
 Pengendalian seluruh pekerjaan ini, harus memenuhi ketentuan-ketentuan dari
pabrik yang bersangkutan dan memenuhi persyaratan dari PUBI 1982 dan NI-4.
 Bahan lain yang diperlukan guna kelengkapan pelaksanaan pekerjaan pengecatan
seperti cat dasar, dempul dan lain-lain harus sesuai dengan rekomendasi dari
pabrik cat yang dipakai
 Pelaksanaan pekerjaan dilakukan dilapangan dengan tenaga ahli dan peralatan
lengkap guna mendapatkan hasil yang maksimal.

‘l. Pekerjaan Pondasi Bore Pile Manual.


d. Pengukuran/Penentuan Titik Bor
Titik pusat dari pile disurvey dan ditandai dengan patok kayu. Penentuan titik lubang
bor dilakukan oleh surveyor dan setiap saat harus dilakukan pengecekan berulang kali
karena kondisi lahan yang rusak akibat pengeboran. Penempatan alat bor pada posisi
yang telah ditentukan, kemudian dilakukan pengecekan posisi vertical dan horizontal
apakah sudah memenuhi persyaratan.

e. Setting Alat Bor Manual (Strauss Pile)


Siapkan semua peralatan alat-alat yang nantinya digunakan dengan masing-masing
fungsinya, antara lain mata bor memiliki fungsi pembeda diameter lubang pengeboran,
stang bor yaitu berfungsi untuk memutar mata bor yang disambung dengan pipa bor,
pipa yang fungsinya untuk menyalurkan tenaga putar dari stang bor, kunci-kunci dll.
Setelah semua perangkat sudah komplit maka dirangkai menjadi satuan alat yang bisa
digunakan untuk proses selanjutnya yaitu pengeboran.
4. Spesifikasi Metode Konstruksi/Metode Pelaksanaan/Metode Kerja
a. Penempatan dan Pemadatan Timbunan
1. Persiapan Tempat Kerja
a) Sebelum menempatkan timbunan pada suatu daerah maka semua operasi
pembersihan dan pembongkaran, termasuk penimbunan lubang yang tertinggal
pada waktu pembongkaran akar pohon harus telah diselesaikan dan bahan-bahan
yang tidak memenuhi syarat harus telah dikeluarkan sebagaimana telah
diperintahkan oleh Konsultan. Seluruh areal harus diratakan secukupnya sebelum
penimbunan dimulai.
b) Di mana ukuran tinggi timbunan adalah satu meter atau kurang, maka daerah
pondasi timbunan tersebut harus dipadatkan secara penuh (termasuk penggarukan
dan pengeringan atau pembasahan bila diperlukan) sampai lapisan atas 150 mm dari
tanah memenuhi persyaratan kepadatan yang ditentukan untuk timbunan yang akan
ditempatkan di atasnya.
c) Bila timbunan tersebut akan dibangun di atas tepi bukit atau ditempatkan pada
timbunan yang ada, maka lereng-lereng yang ada harus dipotong untuk membentuk
terasering dengan ukuran lebar yang cukup untuk menampung peralatan pemadatan
sewaktu timbunan ditempatkan dalam lapisan horisontal.

2. Penempatan Timbunan
a) Timbunan harus ditempatkan pada permukaan yang dipersiapkan dan disebarkan
merata serta bila dipadatkan akan memenuhi toleransi ketebalan lapisan yang
diberikan. Di mana lebih dari satu lapisan yang akan ditempatkan, maka lapisan
tersebut harus sedapat mungkin sama tebalnya.
b) Timbunan tanah harus dipindahkan segera dari daerah galian tambahan ke
permukaan yang dipersiapkan dalam keadaan cuaca kering. Penumpukan tanah
timbunan tidak akan diizinkan selama musim hujan, dan pada waktu lainnya hanya
dengan izin tertulis dari Konsultan.
c) Dalam penempatan timbunan di atas atau pada selimut pasir atau bahan-bahan
drainase porous lainnya, maka harus diperhatikan untuk menghindari pencampuran
adukan dari kedua bahan-bahan tersebut. Dalam hal pembentukan drainase vertikal,
maka suatu pemisah yang luas antara kedua bahan-bahan tersebut harus dijamin
dengan menggunakan acuan sementara dari lembaran baja tipis yang secara
bertahap akan ditarik sewaktu penempatan timbunan dan bahan drainase porous
dilaksanakan.
d) Di mana timbunan akan diperlebar, maka lereng timbunan yang ada harus
dipersiapkan dengan mengeluarkan semua tumbuhan permukaan dan harus dibuat
terasering sebagaimana diperlukan sehingga timbunan yang baru terikat pada
timbunan yang ada hingga disetujui oleh Konsultan. Timbunan yang diperlebar
kemudian harus dibangun dalam lapisan horisontal sampai pada ketinggian tanah
dasar. Tanah dasar harus ditutup dengan sepraktis dan secepat mungkin dengan
lapis pondasi bawah sampai ketinggian permukaan jalan yang ada untuk mencegah
pengeringan dan kemungkinan peretakan permukaan.
e) Sebelum sebuah timbunan ditempatkan, seluruh rumput dan tumbuhan harus
dibuang dari permukaan atas di mana timbunan tersebut ditempatkan dan
permukaan yang sudah dibersihkan dihancurkan dengan pembajakan atau
pengupasan sampai kedalaman minimum 20 cm.

3. Pemadatan
a) Segera setelah penempatan dan penghamparan timbunan maka setiap lapisan harus
dipadatkan secara menyeluruh dengan alat pemadat yang cocok dan layak serta
disetujui oleh Konsultan sampai suatu kepadatan yang memenuhi persyaratan yang
ditentukan.
b) Pemadatan tanah timbunan akan dilakukan hanya bila kadar air bahan-bahan berada
dalam batas antara 2 % lebih daripada kadar air optimum (wet of optimum). Kadar
air optimum tersebut harus ditentukan sebagai kadar air di mana kepadatan kering
maksimum diperoleh bila tanah tersebut dipadatkan sesuai dengan AASHTO T-180.
c) Semua timbunan batuan harus ditutup dengan lapisan dengan tebal 200 mm dari
bahan-bahan yang bergradasi baik yang berisi batu-batu tidak lebih besar dari 50
mm dan mampu mengisi semua sela-sela bagian atas timbunan batuan. Lapisan
penutup ini harus dibangun sesuai dengan persyaratan untuk timbunan tanah.
d) Setiap lapisan timbunan yang ditempatkan harus dipadatkan sebagaimana
ditentukan, diuji untuk kepadatan dan diterima oleh Konsultan sebelum lapisan
berikutnya ditempatkan.
e) Timbunan harus dipadatkan dimulai dari tepi luar dan dilanjutkan ke arah sumbu
areal reklamasi dengan suatu cara yang sedemikian rupa sehingga setiap bagian
menerima jumlah pemadatan yang sama.
f) Timbunan pada lokasi yang tidak dapat dicapai/dimasuki oleh alat pemadat biasa,
harus ditempatkan dalam lapisan horisontal dari bahan-bahan lepas tidak lebih dari
150 mm tebal dan seluruhnya dipadatkan dengan menggunakan alat pemadat
tangan mekanis (mechanical tamper) yang disetujui. Perhatian khusus harus
diberikan guna menjamin pemadatan yang memuaskan di bawah dan di tepi pipa
untuk menghindari rongga-rongga dan guna menjamin bahwa pipa ditunjang
sepenuhnya.

4. Perlindungan Timbunan Yang Sudah Dipadatkan


a) Kontraktor harus menjaga dan melindungi timbunan yang sudah dipadatkan dari
segala pengaruh yang merusak mutu timbunan.
b) Kontraktor harus memelihara talud dan timbunan terhadap terjadinya longsoran
lokal pada talud. Apabila terjadi kelongsoran lokal pada talud, maka Kontraktor
harus memperbaikinya dalam waktu 24 jam setelah ada instruksi dari Direksi
Teknik/Konsultan. Semua biaya perbaikan talud yang diperlukan menjadi
tanggungan Kontraktor.
c) Apabila Direksi Teknik memandang perlu, maka Direksi Teknik berhak
memerintahkan pengujian tambahan pada sebagian atau keseluruhan timbunan
yang sudah diuji dan diterima. Apabila terbukti bahwa timbunan tersebut mengalami
penurunan mutu sehingga tidak memenuhi Spesifikasi Teknik ini, maka Kontraktor
wajib atas biayanya sendiri memperbaiki timbunan tersebut sampai memenuhi
Spesifikasi Teknik ini, maka Kontraktor wajib atas biayanya sendiri memperbaiki
timbunan tersebut sampai memenuhi Spesifikasi Teknik ini dan menanggung biaya
pengujian yang diperintahkan Direksi Teknik.

5. Jaminan Kualitas
a) Pengawasan Kualitas Bahan
 Jumlah data penunjang untuk hasil pengujian yang diperlukan untuk persetujuan
awal kualitas bahan-bahan harus sebagaimana diarahkan oleh Konsultan, tetapi
harus termasuk semua pengujian yang relevan yang telah ditentukan, sekurang-
kurangnya tiga contoh yang mewakili sumber bahan-bahan yang diajukan yang
terpilih untuk mewakili serangkaian kualitas bahan-bahan yang akan diperoleh
dari sumber tersebut.
 Menyusul persetujuan mengenai kualitas bahan-bahan timbunan yang diajukan,
maka pengujian kualitas bahan-bahan tersebut harus diulangi lagi atas
kebijaksanaan tenaga Konsultan, dalam hal mengenai perubahan yang diamati
pada bahan-bahan tersebut atau pada sumbernya.
 Suatu program rutin pengujian pengawasan mutu bahan-bahan harus
dilaksanakan untuk mengendalikan keanekaragaman bahan yang dibawa ke
tempat proyek. Jangkauan pengujian tersebut harus sebagaimana diarahkan oleh
Konsultan tetapi untuk setiap 1000 meter kubik timbunan yang diperoleh dari
setiap sumber.

b) Persyaratan Pemadatan untuk Timbunan Tanah


Ketebalan hamparan untuk setiap lapisan yang akan dipadatkan adalah 300 mm.
Pemadatan setiap lapis (lift) yang telah ditentukan harus mencapai kepadatan
minimal 95 % Modified Proctor maximum density pada kadar air optimum + 2%.
Lapisan yang lebih dari 300 mm di atas ketinggian elevasi muka air rata-rata harus
dipadatkan sampai 95 % dari standar maksimum kepadatan kering yang
ditentukan sesuai dengan AASHTO T-180. Untuk tanah yang mengandung lebih
dari 10 % bahan-bahan yang tertahan pada ayakan 3/4 inch, kepadatan kering
maksimum yang dipadatkan harus disesuaikan untuk bahan-bahan yang
berukuran lebih besar sebagaimana diarahkan oleh Tenaga Ahli/Insinyur.

6. Percobaan Pemadatan
a) Kontraktor harus bertanggung jawab untuk pemilihan peralatan dan metoda untuk
mencapai tingkat pemadatan yang ditentukan. Dalam hal bahwa Kontraktor tidak
mampu untuk mencapai kepadatan yang disyaratkan, maka pemadatan berikutnya
belum boleh dilaksanakan, kecuali dengan seizin Konsultan Pengawas.
b) Suatu percobaan lapangan harus dilaksanakan dengan jumlah lintasan alat
pemadat dan kadar air harus diubah-ubah sampai kepadatan yang ditentukan
tercapai dan disetujui Konsultan. Hasil percobaan lapangan ini kemudian harus
digunakan untuk menentukan jumlah lintasan yang disyaratkan, jenis alat pemadat
dan kadar air untuk semua pemadatan yang selanjutnya.

Pengukuran dan Pembayaran


 Timbunan akan diukur sebagai jumlah meter kubik bahan-bahan yang dipadatkan yang
diterima lengkap di tempat. Volume yang diukur harus didasarkan pada gambar
penampang melintang yang disetujui dari profil tanah atau profil galian sebelum suatu
timbunan ditempatkan serta pada garis, kelandaian dan ketinggian dari pekerjaan
timbunan akhir yang ditentukan dan disetujui. Metoda perhitungan volume bahan-
bahan harus merupakan metoda luas bidang ujung rata-rata, dengan menggunakan
penampang melintang dari pekerjaan yang berjarak tidak lebih dari 25 meter.
 Timbunan yang ditempatkan di luar garis dan penampang melintang yang disetujui,
termasuk setiap tambahan timbunan yang diperlukan sebagai akibat pekerjaan
terasiring atau pengikatan timbunan pada lereng yang ada atau sebagai akibat
penurunan pondasi, tidak akan diukur untuk pembayaran, kecuali:
a. Timbunan diperlukan untuk mengganti bahan-bahan yang kurang sesuai atau lunak
atau untuk mengganti bahan-bahan batuan atau keras lainnya.
b. Tambahan timbunan diperlukan untuk membetulkan pekerjaan yang kurang
memuaskan atau kurang stabil atau gagal dalam hal bahwa Kontraktor tidak
dianggap bertanggung jawab.
 Pekerjaan timbunan kecil yang menggunakan timbunan biasa dinyatakan sebagai
bagian dari pos pekerjaan tanah tidak akan diukur untuk pembayaran sebagai
timbunan di bawah bab ini.
 Timbunan yang digunakan di luar batas kontrak dari konstruksi timbunan atau untuk
mengubur bahan-bahan yang tidak memenuhi syarat atau tidak terpakai, tidak akan
dimasukkan dalam pengukuran timbunan.
 Bila bahan-bahan galian yang digunakan untuk timbunan, maka bahan-bahan ini akan
dibayar sebagai timbunan di bawah bab ini.
 Jumlah hasil kerja yang diukur dengan cara di atas akan dibayarkan berdasarkan mata
pembiayaan di bawah ini. Biaya tersebut sudah termasuk pekerjaan persiapan,
penyelesaian dan penempatan material, keuntungan jasa kontraktor serta semua
kegiatan untuk mencapai hasil kerja yang sebaik-baiknya.
 Jumlah timbunan yang diukur akan dibayar untuk setiap meter kubik timbunan.
 Timbunan yang telah disetujui dan diterima oleh Konsultan sebagi drainase porous
akan diukur dan tidak akan dimasukkan ke dalam pengukuran timbunan di dalam bab
ini.
 Pembayaran untuk urugan tanah kembali harus dilakukan berdasarkan harga
satuan seperti tercantum dalam daftar kuantitas dan harga dan termasuk
penyediaan seluruh tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan, alat bantu dan
sebagainya untuk menyelesaikan pekerjaan dan dengan teknik pelaksanaan terbaik
dan sepenuhnya sesuai dengan semua persyaratan yang ditentukan dalam
spesifikasi ini.
b. Pekerjaan Pembongkaran.
Selama pekerjaan pembongkaran Kontraktor Pelaksana harus menjamin agar lalu
lintas tidak terganggu. Semua pembongkaran harus menggunakan cara dan alat-alat
khusus yang tidak akan merusak bagian-bagian yang tidak diisyaratkan di bongkar.
Pembongkaran harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak merusak bagian lain yang
seharusnya tidak perlu dibongkar.

Kontraktor Pelaksana wajib memperbaiki atau mengganti dengan yang baru apabila
ada bagian – bagian bangunan yang rusak akibat pembongkarantersebut dengan semua
biaya ditanggung Kontraktor Pelaksana. Material bekas bongkaran yang tidak terpakai
harus segera dikeluarkan dari lokasi pekerjaan maksimal 2 x 24 jam. Lokasi
pembuangan harus dikoordinasikan terlebih dahulu dengan Direksi Pekerjaan dan
Konsultan Supervisi.

Pengukuran dan Pembayaran


 Pengukuran termasuk pembongkaran, pemotongan, pengangkutan dan
pembuangan akan dilakukan berdasarkan volume dalam meter kubik dari hasil
bongkaran material sampai batas- batas permukaan dan ketinggian- ketinggian
sebagaimana tercantum dalam gambar-gambar yang telah disahkan oleh Direksi
Pekerjaan dan Konsultan Supervisi.
 Tidak ada pengukuran yang akan dilakukan untuk kelebihan pembongkaran,
termasuk kelebihan pembongkaran yang dilakukan dengan sengaja, kecuali hal
tersebut dibuat bedasarkan perintah dari Direksi Pekerjaan dan Konsultan
Supervisi.

c. Pekerjaan Pancang Kayu Ulin.


Kontraktor Pelaksana harus menunjukkan contoh kayu terlebih dahulu agar mendapat
persetujuan Konsultan Supervisi sebelum mulai dipasang. Padatkan dan bersihkan
tanah dasar yang dapat mengganggu pelaksanaan. Tentukan tempat kedudukan tiang-
tiang cerucuk yang akan dipancang dan diberi tanda dengan menggunakan patok-patok.
Runcingkan bagian ujung bawah pancang kayu agar mudah rnenembus ke dalam tanah.
Lakukan pemukulan/penekanan kepala tiang dengan menggunakan alat berat
(excavator) sampai kedalaman rencana. Ratakan bagian ujung tiang yang rusak
akibat pukulan/tekanan dari peralatanyang digunakan

Pengukuran dan Pembayaran


 Pengukuran untuk pembayaran pekerjaan pancang kayu harus dilakukan berdasarkan
jumlah panjang kayu yang terpasang (M’) seperti yang ditunjukkanmdalam gambar
yang telah disetujui Direksi Pekerjaan dan Konsultan Supervisi.
 Pembayaran untuk pekerjaan pekerjaan pancang kayu harus dilakukan berdasarkan
harga satuan seperti tercantum dalam daftar kuantitas dan harga, dan termasuk
seluruh kompensasi untuk penyediaan seluruh tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan,
alat bantu dan sebagainya untuk menyelesaikan pekerjaan dan dengan teknik
pelaksanaan terbaik dan sepenuhnya sesuai dengan semua persyaratan yang
ditentukan dalam spesifikasi ini.

d. Pekerjaan Begesting
Bekisting atau perancah harus digunakan bila diperlukan untuk membatasi adukan beton
dan membentuk adukan beton menurut garis dan permukaan yang diinginkan. Kontraktor
harus bertanggungjawab atas perencanaan yang memadai untuk seluruh bekisting. Pada
bagian tertentu Konsultan Pengawas akan memerintahkan Kontraktor untuk membuat shop
drawing dari bekisting. Semua bahan yang akan digunakan/dipasang harus mendapat
persetujuan dari Konsultan Pengawas.
Toleransi yang diijinkan adalah  3 mm untuk garis dan permukaan. Bekisting harus
demikian kuat dan kaku terhadap beban dan lendutan adukan beton yang masih basah dan
getaran terhadap beban konstruksi. Bekisting harus tetap menurut garis dan permukaan
yang disetujui oleh Konsultan Pengawas sebelum pengecoran.
Bekisting harus kedap air, sehingga dijamin tidak akan timbul sirip atau adukan kelur dari
sambungan.
Pembongkaran dilakukan setelah beton telah mencapai kekuatan setara dengan umur beton
28 hari dan harus dengan persetujuan tertulis dari Konsultan Pengawas. Pembongkaran
dilaksanakan dengan statis, tanpa goncangan atau kerusakan pada beton.

Pengukuran dan Pembayaran


 Pengukuran untuk pembayaran pekerjaan begesting harus dilakukan berdasarkan
luas permukaan cetakan beton dalam meter persegi (m2), ditentukan oleh dimensi
dari struktur- struktur beton sebagaimana ditunjukkan pada gambar atau atas petunjuk
Direksi Pekerjaan dan Konsultan Supervisi dan syarat-syarat dalam spesifikasi.
 Pembayaran harus dilakukan untuk jumlah meter persegi (m2) yang dihasilkan dari
pengukuran seperti syarat-syarat diatas, untuk masing-masing harga satuan
permeter persegi yang dinyatakan dalam Daftar Kuantitas dan Harga, dan harus
disetujui dan sudah termasuk untuk penyediaan semua tenaga kerja, bahan-bahan,
perlengkapan, alat-alat dan sebagainya untuk menyelesaikan pekerjaan.

e. Pekerjaan Plastik Cor


 Fungsi plastik adalah untuk menjaga agar permukaan dasar beton tidak langsung
berhubungan dengan tanah yang memiliki kelembaban. Sehingga kemungkinan air /
uap air masuk ke dalam pori-pori beton menjadi lebih kecil, dan tulangan terhindar dari
karat / korosi. Korosi selain merusak tulangan juga akan memberikan warna karat pada
permukaan beton. Pada pelat beton di atas tanah, biasanya tulangan hanya diletakkan
di bagian atas dengan tebal selimut beton atas sekitar 30mm.
 Umur plastik yang tidak bertahan lama akan menyebabkan bagian bawah beton tidak
terdapat lapisan pelindung dikemudian hari.

Pengukuran dan Pembayaran


 Pengukuran untuk pembayaran pekerjaan plastik cor harus dilakukan berdasarkan luas
permukaan cetakan beton dalam meter persegi (m2), ditentukan oleh dimensi dari
struktur- struktur beton sebagaimana ditunjukkan pada gambar atau atas petunjuk
Direksi Pekerjaan Konsultan Supervisi.
 Pembayaran harus dilakukan untuk jumlah meter persegi (m2) yang dihasilkan dari
pengukuran seperti syarat-syarat diatas, untuk masing-masing harga satuan per meter
persegi yang dinyatakan dalam daftar kuantitas dan harga dan sudah termasuk untuk
penyediaan semua tenaga kerja, bahan-bahan, perlengkapan, alat-alat dan sebagainya
untuk menyelesaikan pekerjaan.

f. Pekerjaan Pembesian
Pengujian atau pengetesan besi beton / baja tulangan
1. Pengujian minimal meliputi diameter besi beton, berat besi beton permeter, dan Uji
Tarik untuk mengetahui tegangan lelehnya (fy).
2. Hasil pengujian besi tersebut harus mencantumkan kode pabrikan sebagai
identitas dari besi tersebut
3. Biaya pengujian besi beton ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab kontraktor
pelaksana

Pengukuran dan Pembayaran


 Pengukuran untuk pembayaran baja tulangan (besi beton) harus dilakukan
berdasarkan berat besi yang sebenar-benarnya terpasang dalam metrik kilogram (kg)
yang dihitung dari panjang dan jumlah batang seperti tampak dalam gambar atau atas
petunjuk Direksi Pekerjaan dan Konsultan Supervisi diubah ke berat untuk ukuran
batang yang terdaftar dengan mengalikan satuan berat per linier meter. Besi overlap
yang ditunjukkan dalam gambar atau diminta oleh Direksi harus dibayar sesuai
dengan harga satuandalam kontrak. Bila ada tambahan besi dalam overlap melebihi
yang diperlukan untuk kemudahan kerja Penyedia Jasa maka tidak akan ada
pembayaran tambahan.
 Pembayaran harus dilakukan untuk jumlah metrik kilogram (kg) yang
dihasilkan dari pengukuran seperti syarat-syarat di atas untuk masing-masing harga
satuan kontrak per metrik kilogram yang dinyatakan dalam daftar kuantitas dan
harga, dan telah mendapat pengesahan dari Direksi dan Konsultan Supervisi,
termasuk untuk penyediaan semua tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan, alat-alat
dan sebagainya untuk menyelesaikan pekerjaan, sesuai dengan perintah dari Direksi
dan Konsultan Supervisi.

g. Pekerjaan Beton
Syarat Pelaksanaan dan Pengecoran.
Semua persyaratan bahan dan pelaksanaan harus memenuhi standar yang berlaku di
Indonesia dan merupakan pemilihan bahan yang terbaik dengan pengawasan yang ketat
dari Direksi/Konsultan Pengawas. Pemilihan bahan dan pelaksanaan pekerjaan yang sesuai
dengan standar pelaksanaan akan mendapatkan hasil yang sempurna.

Rencana Kerja, Metode Pelaksanaan dan Ijin Pengecoran.


Kontraktor harus menyerahkan secara tertulis rencana kerja dan metode pelaksanaan
pengecoran caping beam kepada Konsultan Pengawas untuk mendapat persetujuan tertulis,
sebelum pekerjaan pengecoran dimulai. Sebelum dilaksanakan pengecoran, dilaksanakan
pemeriksaan bersama Kontraktor dan Konsultan Pengawas dan apabila telah memenuhi
syarat ijin pengecoran dapat dikeluarkan.

Trial Mix Design dan Perbandingan Adukan


Sebelum dilaksanakan pekerjaan pengecoran, Kontraktor harus melaksanakan rencana
pengadukan beton/trial mix design untuk mendapatkan mutu beton yang dikehendaki.
Untuk itu Kontraktor perlu melakukan pengujian material di laboratorium yang telah
disetujui oleh Konsultan Pengawas untuk semua material beton. Berdasarkan analisa dan
hasil tes sampel tersebut, laboratorium akan merencanakan suatu campuran beton (mix
design) dengan slump yang telah disyaratkan.
Sebagai kontrol suatu campuran beton, data-data yang harus tertulis dalam laporan mix
design mencakup:
- Tipe dan gradasi material agregat
- Asal agregat
- Hasil pengujian material air dan agregat (berat jenis dan berat isi agregat, modulus
halus butir pasir, kadar lumpur, dll.
- Tipe dan merk PC
- Tipe, merk dan komposisi bahan additives (apabila digunakan)
- Komposisi takaran beton dalam 1 m3
- Keterangan tentang beton (kemudahan pekerjaan, segregasi kohesi dan lain-lain
- Hasil tes silinder/kubus beton

Faktor air semen dari beton (tidak terhitung air yang terhisap oleh agregat) tidak boleh
melampaui 0.50 (perbandingan berat). Perbandingan campuran tersebut dapat diubah jika
diperlukan untuk mendapatkan mutu beton yang dikehendaki dengan kepadatan,
kekedapan, keawetan dan kekuatan yang lebih baik dengan persetujuan dari Konsultan
Pengawas. Kontraktor tidak berhak atas penambahan kompensasi yang disebabkan oleh
perubahan tersebut di atas.

Percobaan kekuatan beton di lapangan dalam N/mm2 (MPa) atau Kg/cm2 (K) dibuat dengan
percobaan beton silinder ( 15 cm tinggi 30 cm) atau kubus 15x15x15 atau 20x20x20.
Jumlah silinder/kubus percobaan yang dibuat harus sesuai dengan SNI 03-2834-1992. Copy
hasil tes harus diserahkan kepada Konsultan Pengawas.

Percobaan yang dilakukan di lapangan, pengambilan contoh campuran dan pengujian harus
mengundang dan disaksikan oleh Konsultan Pengawas.

Suatu kali jika kekuatan beton umur 7 hari kekuatannya kurang dari 70% dari beton umur
28 hari, maka Konsultan Pengawas berhak untuk memerintahkan Kontraktor untuk
menambah PC ke dalam campuran beton. Dan apabila terdapat beton dengan umur 28 hari
yang tidak mencapai mutu beton yang dikehendaki, maka pengecoran selanjutnya harus
dihentikan sampai persoalan tersebut dapat diselesaikan oleh Kontraktor dan Konsultan
Pengawas.

Banyaknya air yang digunakan dalam adukan beton harus cukup. Waktu pengadukan beton
harus tetap dan normal sehingga menghasilkan beton yang homogen tanpa adanya bahan-
bahan yang terpisah satu dengan yang lainnya. Jumlah air dapat diubah sesuai dengan
keperluannya dengan melihat perubahan keadaan cuaca atau kelembaban bahan adukan
(agregat) untuk mempertahankan hasil yang homogen, kekentalan dan kekuatan beton yang
dikehendaki.

Pengujian kekentalan adukan beton (slump) dan pelaksanaannya sesuai dengan SNI-3976-
1995. Slump yang digunakan dalam proyek ini adalah 8 – 12 cm sesuai yang ditetapkan oleh
Konsultan Pengawas. Untuk maksud dan alasan tertentu, dengan persetujuan Konsultan
Pengawas dapat dipakai nilai slump yang menyimpang dari ketentuan di atas asal dipenuhi
hal-hal sebagai berikut:
- Mutu beton yang disyaratkan tetap terpenuhi
- Tidak terjadi pemisahan dari adukan
- Beton yang dapat dikerjakan dengan baik (workability).

Pemadatan dan Penggetaran


Setiap lapisan beton harus dipadatkan sampai mencapai kepadatan maksimum sehingga
bebas dari kantong/sarang krikil dan menutup rapat pada semua permukaan dari cetakan
dan material yang melekat.

Semua beton harus dipadatkan dengan vibrator dengan kekecepatan minimum 7000 rpm
yang bergetar pada bagian dalam (dari jenis alat “tenggelam”) dalam waktu maksimal 10
detik setiap kali dibenamkan. Pada waktu yang sama dilakukan pengetukan pada dinding
bekisting sampai betul-betul mengisi pada bekisting atau lubang galian dan menutupi
seluruh permukaan bekisting.

Penggunaan vibrator harus dilakukan dengan benar atau dengan petunjuk dari Konsultan
Pengawas dan tidak boleh mengenai bekisting maupun penulangan.

Perawatan Beton
Beton yang selesai dicetak harus dijaga dalam keadaan basah selama sekurang-kurangnya
14 hari setelah dicor, yaitu dengan cara penyiraman air, karung goni basah, atau cara-cara
lain yang ditentukan oleh Konsultan Pengawas.

Pengukuran dan Pembayaran


 Pengukuran untuk pembayaran pekerjaan beton harus dilakukan berdasarkan volume
beton yang sebenar-benarnya dicor dalam meter kubik (m3) sesuai garis batas
struktur seperti yang ditunjukkan dalam gambar atau seperti yang telah
ditentukan oleh Direksi Pekerjaan dan Konsultan Supervisi.
 Pembayaran untuk pekerjaan beton harus dilakukan berdasarkan harga satuan seperti
tercantum dalam Daftar Kuantitas dan Harga dan sudah termasuk seluruh kompensasi
untuk penyediaan seluruh tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan, alat bantu dan
sebagainya untuk menyelesaikan pekerjaan dan dengan teknik pelaksanaan terbaik dan
sepenuhnya sesuai dengan semua persyaratan yang ditentukan dalam spesifikasi ini.

h. Pekerjaan Pengecatan.
a. Pelaksana harus menyerahkan/mengirimkan contoh bahan dari beberapa macam hasil
prduk dengan warna sesuai tabel atau petunjuk konsultan perencana atau konsultan
pengawas, selanjutnya akan diputuskan jenis bahan dan warna yang akan digunakan.
b. Contoh bahan yang digunakan harus lengkap dengan label pabrik pembuatnya. Dibuat
rangkap 3 dan dibuat diatas kertas putih ukuran 30 cm x 30 cm serta dimintakan
persetujuannya ke konsultan pengawas.
c. Contoh bahan yang telah disetujui, dipakai sebagai standar untuk
pemeriksaan/penerimaan bahan yang dikirim oleh pelaksana pekerjaan ke tempat
pekerjaan. Percobaan-percobaan bahan dan warna harus dilakukan oleh Pelaksana
Pekerjaan untuk mendapatkan persetujuan konsultan pengawas sebelum pekerjaan
dimulai/dilakukan, serta pengerjaan sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang
diisyaratkan oleh pabrik yang bersangkutan.
d. Persiapan permukaan bidang :
Untuk leuneng dan tiang pagar jembatan :
 Leuneng harus benar-benar rata, tidak ada cacat (retak, lubang dan pecah-pecah)
 Diperlukan cat dasar wall sealer water base.
e. Pengecatan
 Prosedur dan tahapan pengecatan harus menunjuk pada petunjuk yang dikeluarkan
pabrik. Untuk pelaksanaannya, pelaksana diminta untuk meminta pengawasan atau
supervisi tenaga ahli dari pabrik.
 Setiap lapis pengecatan harus dilaksanakan dengan tata cara dan dengan peralatan
yang direkomendasi oleh pabrik.
 Pelaksanaan pengerjaan pengecatan harus dilaksanakan dengan seksama dan hati-
hati dengan mempertimbangkan gangguan/kotor yang mungkin timbul sebagai
akibat kegiatan pelaksanaan pekerjaan pengecatan ini.
 Pengecatan tidak dapat dilakukan selama masih ada perbaikan pekerjaan pada
bidang pengecatan.
 Semua bidang pekerjaan yang akan dicat harus bersih dari kotor minyak, gemuk,
lapisan organis atau kotoran lainnya yang dapat mempengaruhi daya lekat atau
mutu kelas pengecatan.
 Permukaan bidang yang akan dicat harus dalam keadaan kering dengan kelembaban
maksimum 4% diukur dengan menggunakan peralatan ukur kelembaban.
 Pekerjaan pengecatan baru dapat dimulai bilamana semua bidang sudah benar-
benar bersih serta kering (tidak lembab) yang ditunjukkan dengan meteran
pengukur.
 Ukur kelembaban permukaan bidang yang akan dicat sehingga memenuhi ketentuan
yang disyaratkan oleh pabrik.
 Semua lubang, retak dan kerusakan lain pada bidang yang akan dicat harus
diperbaiki terlebih dahulu hingga rata dan harus menggunakan bahan pengisi
berupa dempul. Bahan dempul yang boleh dipakai adalah bahan-bahan yang
mendapat rekomendasi dari pabrik.
 Pengecatan dilakukan setelah mendapat persetujuan dari Konsultan Pengawas serta
pekerjaan instalasi didalamnya telah sesuai dengan sempurna.
f. Hasil Pengecatan.
 Hasil pekerjaan harus baik, warna dan pola tekstur merata, tidak terdapat noda-
noda pada permukaan pengecatan. Harus dihindarkan terjadinya kerusakan akibat
dari pekerjaan-pekerjaan lain.
 Pelaksana pekerjaan harus bertanggungjawab atas kesempurnaan dalam pengerjaan
dan perawatan/keberhasilan pekerjaan sampai penyerahan pekerjaan.
 Bila terjadi ketidaksempuranaan atau kerusakan dalam pengerjaan, pelaksana harus
memperbaiki/mengganti bahan yang sama mutunya tanpa adanya tambahan biaya.
 Pelaksana harus menggunakan tenaga kerja terampil dan berpengalaman dalam
pelaksanaan pekerjaan pengecatan tersebut sehingga dapat tercapainya mutu
pekerjaan yang baik dan sempurna.

Pengukuran dan Pembayaran


 Pengukuran untuk pembayaran pekerjaan pengecatan harus dilakukan berdasarkan
panjang pekerjaan pengecatan yang dilakukan dan pengukuran pekerjaan pengecatan
berdasarkan luasan cat yang terpasang (m2) seperti yang ditunjukkan dalam gambar.
 Pembayaran untuk pekerjaan pengecatan harus dilakukan berdasarkan harga satuan
seperti yang tercatum dalam Daftar Kuantitas dan Harga dan harus sudah termasuk
unutk penyediaan seluruh tenaga kerja, bahan, peralatan, alat bantu dan sebagainya
untuk menyelesaikan pekerjaan dan dengan teknik pelaksanaan terbaik dan
sepenuhnya sesuai dengan semua persyaratan yang ditentukan dalam spesifikasi ini.
i. Pekerjaan Pondasi Bore Pile Manual (Strauss Pile).
a. Proses Pengeboran
Pada proses atau pelaksanaannya untuk pembuatan lubang pengeboran sampai dengan
kedalaman yang direncanakan maka untuk satu alat bor pile manual dikerjakan oleh 2
orang. Cara memutar mata bor menggunakan pegangan stang bor yang sudah dirangkai
dengan pipa sambil diberi tekanan dengan maksud agar mata bor bisa masuk ke lapisan
tanah, setelah itu mata bor diangkat apabila serasa sudah dipenuhi dengan tanah dan
dibuang keluar. Proses pengeboran tersebut dilakukan secara berulang-ulang sampai
ketemu dengan kedalaman yang sudah direncanakan.

b. Pemasangan Pembesian
Membuat tulangan spiral yang fungsinya untuk cincin pengikat besi pokok, kemudian
memotong besi pokok yang panjang besinya dilebihkan daripada kedalaman lubang
yang sebagaimana fungsinya untuk stek tiang pile cap nantinya. Setelah rangkai kedua
jenis besi tersebut dan dirangkai menggunakan kawat beton hingga menjadi satuan
tulangan besi dan lalu dimaksukkan ke dalam lubang pengeboran strauss pile.

c. Proses Pengecoran
Pengecoran mulai beroperasi memlalui pipa tremie. Pengecoran dengan pipa metode
tremie dilanjutkan sampai tingkatan beton kira-kira 0.5 to 1.0 m diatas tingkat cutoff.
Panjang tremie semakin berkurang dalam pengecoran beton. Pengecoran beton
dilakukan dengan pipa tremie yang masuk sampai dengan dasar lubang, panjang pipa
adalah 3 m dan dapat disambung dengan drat sehingga pada saat pengecoran air dan
lumpur dapat terdorong ke atas. Pengecoran beton harus dilakukan segera setelah besi
tulangan dan pipa tremie telah siap dan dilakukan secara continue sampai dengan
panjang yang ditetapkan. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi kembali 20 pengendapan
lumpur dan terjadi pengerasan beton. Mengingat pipa tremie harus digerakkan terus
naik turun untuk menjamin beton masuk kedalam lubang dan tidak keropos.
Pengecoran menggunakan beton K-225 untuk mendapat beton dengan workabilitas
yang tinggi sehingga memudahkan dalam proses pengecoran, pengecoran dilakukan
sampai dengan level/kedalaman yang ditentukan.

d. Pekerjaan Pemeriksaan
Untuk menjamin pelaksanaan pengecoran bejalan baik, dilakukan dengan
membandingkan volume beton minimal harus sama dengan volume tanah yang dibor.
Sebelum beton pertama kali dicor ke dalam pipa corong tremie, pada corong pipa
tremie telah disiapkan kantong plastik (bisa juga dengan kawat nyamuk) berisi fresh
concrete yang akan dijatuhkan bersama saat beton dituang untuk pertama kalinya pada
tiang lubang, tujuannya agar beton dalam kantung plastik tersebut dapat mendorong
air lumpur keluar dari pipa tremie dan sehingga beton tidak tercampur dengan lumpur.
Jika terjadi kemacetan tremie pada proses pengecoran, maka tremie akan segera
diangkat sebagian, untuk melanjutkan pengecoran tremie dimasukkan kembali dengan
cara menutup ujung tremie dengan plat tipis unpermanen. Setiap sampel diberi tanggal
pengecoran, nomor pile dan nomor pengecoran. Laporan pembuatan bore pile dibuat
dengan menyatakan : nomor dan diameter tiang, dalamnya lubang, diameter dan
jumlah tulangan. Gangguan lingkungan berupa lumpur, diantisipasi dengan membuat
sistem pengumpulan/pengendapan lumpur untuk kemudian air dibuang ke saluran
sekitarnya.

Pengukuran dan Pembayaran


 Pengukuran untuk pembayaran pekerjaan bore pile harus dilakukan berdasarkan
panjang pekerjaan yang dilakukan dan pengukuran dilakukan berdasarkan
panjang/kedalaman yang terpasang (m).
 Pembayaran untuk pekerjaan bore pile harus dilakukan berdasarkan harga satuan
seperti yang tercatum dalam Daftar Kuantitas dan Harga dan harus sudah termasuk
unutk penyediaan seluruh tenaga kerja, bahan, peralatan, alat bantu dan sebagainya
untuk menyelesaikan pekerjaan dan dengan teknik pelaksanaan terbaik dan
sepenuhnya sesuai dengan semua persyaratan yang ditentukan dalam spesifikasi ini
7. Spesifikasi Jabatan Kerja Konstruksi
Jabatan yang dibutuhkan pada pekerjaan ini adalah :

Pendidikan Pengalaman
No Jabatan Jumlah SKA
(minimal) (minimal)

SKT Tukang Cor


1. S1 Teknik
Pelaksana 1 orang Beton/Concretor/Concrete 2 tahun
Sipil
Operations (TS013)

2. Petugas K3 1 orang S1 Sertifikat Petugas K3 0 tahun

B. Keterangan Gambar (Terlampir)


Gambar-gambar untuk pelaksanaan pekerjaan harus ditetapkan oleh Pejabat Pembuat
Komitmen (PPK) secara terinci, lengkap dan jelas, antara lain :
1. Lay out
2. Potongan memanjang
3. Potongan melintang
4. Detail-detail konstruksi

C. Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMKK)


Untuk mengantisipasi terjadinya kecelakaan kerja harus ditindaklanjuti dengan penyediaan
kelengkapan K3 yang meliputi alat pelindung diri (APD) dan alat pengaman kerja (APK).
Penyusunan kebutuhan perlengkapan K3 dibuat sesuai dengan kondisi kerja sehingga pada saat
akan mulai melaksanakan pekerjaan, perlengkapan K3 tersebut dapat dipakai atau digunakan
sesuai prosedur.
Kelengkapan APD dan APK yang digunakan dalam pekerjaan ini antara lain topi pelindung (safety
helmet), sarung tangan (safety gloves), sepatu keselamatan (safety shoes dan safety rubber, rompi
keselamatan (safety vest) dan rambu-rambu.

Adapun tingkat resiko yang kemungkinan ditimbulkan akibat pekerjaan ini meliputi:

Jenis / Tipe Pekerjaan


No Identifikasi Bahaya Tingkat Resiko

1. Pekerjaan Persiapan Terluka terinjak benda tajam 2 = resiko kecil


Tersandung, terjatuh, terpeset 2 = resiko kecil

2. Pekerjaan Galian Tertimbun tanah 4 = resiko kecil


Terpeleset. 2 = resiko kecil
Terluka kena alat kerja. 3 = resiko kecil

3. Pekerjaan Drainase Tergores besi, terluka kena alat kerja. 3 = resiko kecil
Terluka kena cor beton. 3 = resiko kecil

D. Kriteria Kinerja Produk (output performance)


Output performance yang diinginkan adalah meningkatnya kapasitas/daya tampung saluran.
E. Lingkup Pekerjaan
Lingkup Pekerjaan
a. Menyediakan tenaga kerja yang ahli, material, peralatan sesuai persyaratan dan alat bantu
lainnya.
b. Melakukan pengamanan, pengawasan dan pemeliharaan terhadap material yang akan
digunakan, peralatan dan alat kerja maupun hasil pekerjaan selama masa pelaksanaan pekerjaan
hingga pekerjaan selesai dengan baik.
c. Melakukan pembersihan dan pengamanan sebelum pelaksanaan pekerjaan dan setelah
pekerjaan pembangunan selesai.
d. Pekerjaan yang dilaksanakan adalah
 Pekerjaan Persiapan.
 Pekerjaan Drainase
 Pekerjaan Gorong-Gorong
 Pekerjaan Jembatan
 Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi.

OUTPUT - Bangunan Fisik dengan rencana panjang saluran sekitar 2.800 meter

INFORMASI LAINNYA - Jangka Waktu Pengerjaan 180 (seratus delapaan puluh) hari kalender
sejak terbit SPMK
- Masa Pemeliharaan 180 (seratus delapan puluh) hari kalender
terhitung sejak dilakukan serah terima pertama (PHO)

Ditetapkan di Balikpapan, 09 Mei 2023

Pejabat Pembuat Komitmen

FARIDAH

Anda mungkin juga menyukai