Rks Primer Perintis
Rks Primer Perintis
SPESIFIKASI FUNGSI UMUM Menghasilkan saluran dengan rencana sekitar 2.800 meter
3. Spesifikasi Proses/Kegiatan:
a. Umum
Standar-standar yang berlaku.
Persyaratan teknis yang tertera dalam Persyaratan Normalisasi Indonesia (NI) dan
peraturan-peraturan setempat
- [Link].T-15-1991-03
- Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung
- [Link]-04-1989-F
- [Link]-05-1989-F
- [Link]-06-1989-F
- Tentang Spesifikasi Bahan Bangunan
- American Society For Testing & Materials (ASTM)
- Standar Industri Indonesia (SII)
- AV 1941/SU 41 : Algemene Voorwarden Voor De Uitvoering Bij Aanneming Van
Openbare Werken.
- American Institute of Steel Construction (AISC)
- American Welding Society (AWS)
Untuk pekerjaan-pekerjaan yang belum termasuk dalam standar-standar yang tersebut
diatas, maupun standar-standar Nasional lainnya maka diberlakukan standar Internasional
yang berlaku atas pekerjaan-pekerjaan tersebut atau setidak-tidaknya berlaku standar-
standar persyaratan teknis dari negara-negara asal bahan pekerjaan yang bersangkutan.
Pada prinsipnya semua material yang akan digunakan harus mendapat izin/persetujuan
tertulis dari Direksi/Konsultan Pengawas yang diaplikasikan dalam bentuk “Surat
Persetujuan Bahan”. Material yang masuk tanpa persetujuan Direksi/Konsultan Pengawas
adalah tanggung jawab Kontraktor dan Direksi berhak untuk menolak atau memerintahkan
pembongkaran dan tidak diprogress.
Semua material yang masuk kedalam area proyek (digudang dan dilapangan terbuka) tidak
bisa dikeluarkan dari area proyek tanpa izin dari Direksi Proyek/Konsultan Pengawas.
Semua pekerjaan hanya bisa dilaksanakan atas izin dari Direksi / Konsultan Pengawas yang
diaplikasikan dalam bentuk “Surat Ijin Kerja”. Pekerjaan yang dilaksanakan tanpa izin
Direksi/Konsultan Pengawas adalah tanggung jawab Kontraktor dan tidak akan diprogress.
d. Pekerjaan Persiapan
1. Sebelum Pekerjaan Dimulai.
Kontraktor harus melaksanakan pembersihan lapangan sebelum memulai pekerjaan
sehingga semua kotoran, puing-puing, sampah, rumput, batang kayu dan lain-lain tidak
ada lagi di Job Site. Dengan demikian seluruh Job Site terlihat denga jelas. Demikian pula
seluruh bekas akar, tanggul pohon harus dicabut/dibersihkan.
6. Gudang Material.
Kontraktor wajib membuat gudang material dan peralatan. Gudang tersebut terutama
dimaksudkan untuk penyimpanan material dan peralatan yang memerlukan
perlindungan dari alam ataupun terhadap pencurian.
2. Gambar Kerja.
Kontraktor wajib membuat gambar kerja/shop drawing atas rencana pekerjaan yang
akan dilaksanakan. Direksi pekerjaan dan Konsultan Pengawas, berhak untuk
memerintahkan Kontraktor untuk membuat gambar kerja (shop drawing) atas bagian-
bagian pekerjaan yang memerlukan penjelasan lebih detail. Pelaksanaan pekerjaan yang
dimaksud baru bisa dilaksanakan jika shop drawing telah disetujui oleh Direksi
Pekerjaan/Konsultan Pengawas, yang ditandai dengan “tanda tangan” diatasnya.
b. Survei
Sebelum pekerjaan timbunan dimulai, harus dilakukan survei topografi. Level
yang disepakati harus dicatat dan ditandatangani oleh Konsultan dan Kontraktor.
Kontraktor harus membuat hasil survei dalam bentuk gambar tampak dan
penampang dengan skala yang disetujui oleh konsultan. Gambar penampang
harus pada interval 10 m. Konsultan harus memverifikasi dan memeriksa
gambar tampak dan penampang.
c. Peralatan
Kontraktor harus mengajukan metoda kerja termasuk output kerja harian,
jumlah, tipe dan kapasitas peralatan yang akan dioperasikan kepada Konsultan.
Pemilihan peralatan harus mempertimbangkan kondisi lapangan dan
lingkungan.
2. Pekerjaan Timbunan
a. Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan ini terdiri dari pengambilan, pengangkutan, penempatan dan
pemadatan tanah atau bahan-bahan butiran yang disetujui untuk timbunan atau
pengurugan kembali pada lokasi yang akan ditimbun. Galian dan urugan atau
timbunan, pada umumnya diperlukan sesuai garis kelandaian dan ketinggian
dari penampang melintang yang telah disetujui.
Timbunan/urugan kering memakai material seperti yang disyaratkan dan
memenuhi kepadatan yang disyaratkan pada spesifikasi ini.
b. Toleransi Dimensi
Kelandaian dan ketinggian yang diselesaikan setelah pemadatan tidak akan
melebihi tinggi 10 mm atau 20 mm lebih rendah dari yang ditentukan atau
disetujui.
Semua permukaan timbunan akhir yang tidak terlindung harus cukup halus dan
rata serta mempunyai kemiringan yang cukup untuk menjamin pengaliran bebas
dari air permukaan.
Permukaan lereng timbunan yang selesai tidak akan berbeda dari garis profil
yang ditentukan dengan melebihi 100 mm dari ketebalan yang dipadatkan.
Timbunan tidak boleh dihamparkan dalam ketebalan lapisan yang dipadatkan
melebihi 300 mm.
c. Standar Rujukan
Kontraktor harus menyelesaikan semua pengujian di bawah pengawasan
Konsultan dan harus mengajukan laporan dalam waktu 1 (satu) minggu setelah
masing-masing pengujian dilaksanakan.
Pengujian mencakup:
1) Analisis Saringan : AASHTO T 88 - 78, ASTM D422
2) Pemadatan Lapangan : AASHTO T 99 - 74, ASTM D698, D1557
3) Penetapan Batas Cair Tanah : AASHTO T 89 - 68, ASTM D423
4) Penetapan Batas Plastis dan Index Plastisitas Tanah : AASHTO T 90 - 70,
ASTM D424
5) CBR.: AASHTO T 193-72, ASTM D1883-73
6) Sand cone.: ASTM D-1556
7) Test Mineralogi
d. Pengajuan Persetujuan Pekerjaan
Kontraktor harus mengajukan hal-hal berikut kepada Konsultan sebelum suatu
persetujuan untuk memulai pekerjaan dapat diberikan oleh Konsultan, yakni :
1) Gambar penampang melintang terinci yang menunjukkan permukaan yang
dipersiapkan bagi timbunan yang akan ditempatkan.
2) Hasil pengujian kepadatan yang memberikan hasil pemadatan yang baik dari
permukaan yang dipersiapkan dimana timbunan itu akan ditempatkan.
Kontraktor harus mengajukan hal-hal berikut pada konsultan sekurang-
kurangnya 14 (empat belas) hari sebelum tanggal yang diusulkan dari
penggunaan bahan-bahan yang diajukan untuk digunakan sebagai timbunan,
yang meliputi :
1) Dua contoh masing-masing seberat 50 kg dari bahan-bahan, salah satu akan
ditahan oleh konsultan untuk rujukan selama periode kontrak.
2) Pernyataan tentang asal dan komposisi dari setiap bahan-bahan yang
diusulkan untuk digunakan sebagai timbunan bersama dengan data
pengujian laboratorium yang membuktikan bahwa bahan-bahan tersebut
memenuhi sifat yang ditentukan.
Kontraktor harus mengajukan hal berikut secara tertulis kepada Konsultan
segera setelah penyelesaian setiap bagian pekerjaan dan sebelum setiap
persetujuan diberikan untuk penempatan bahan-bahan lain di atas timbunan,
yakni :
1) Hasil pengujian kepadatan.
2) Hasil pengujian pengukuran permukaan dan data pengukuran membuktikan
bahwa permukaan berada dalam toleransi yang ditentukan.
h. Pembatasan Cuaca
Timbunan tidak boleh ditempatkan, dihampar atau dipadatkan sewaktu hujan turun,
dan tak ada pemadatan yang boleh dilakukan setelah hujan atau sebaliknya bila
kadar air bahan-bahan material berada di luar batas yang ditentukan
i. Royalti Bahan-Bahan
Bila bahan-bahan timbunan didapat dari luar daerah milik, Kontraktor harus
membuat semua pengaturan yang diperlukan dan membayar semua biaya dan
royalti kepada pemilik tanah dan pejabat sebelum mengeluarkan bahan-bahan
j. Bahan-Bahan
1. Sumber Bahan-Bahan
Bahan-bahan timbunan harus dipilih dari sumber yang disetujui.
2. Bahan Timbunan
a. Bahan timbunan terdiri dari timbunan tanah yang digali dan disetujui oleh
Konsultan sebagai bahan-bahan yang memenuhi syarat untuk penggunaan
dalam pekerjaan permanen. Material yang digunakan adalah material silty
clay yang memenuhi klasifikasi USCS sebagai material CL, ML, atau SM
(khusus untuk timbunan di bawah muka air tanah). Clay fraction (< 0.002
mm) bahan-bahan timbunan harus memenuhi minimal 25% yang
ditunjukkan dari hasil analisis saringan.
b. Tanah yang mempunyai sifat mengembang (shrinkage) sangat tinggi yang
mempunyai suatu nilai aktivitas lebih besar daripada 1,0 atau suatu derajat
pengembangan yang digolongkan oleh AASHTO T 258 sebagai sangat tinggi
atau ekstra tinggi, tidak akan digunakan sebagai bahan timbunan. Nilai
Aktivitas harus diukur sebagai Indeks Plastisitas, IP (AASHTO T90) dan
Persentase Ukuran Tanah Liat (AASHTO T88).
c. Indeks Plastisitas, IP (AASHTO T90) dari material timbunan harus lebih kecil
dari 15 % dan batas cair, LL harus lebih kecil dari 45% (AASHTO T90).
d. Bahan-bahan timbunan tidak mengandung mineral Montmorillonite yang
ditunjukkan dari hasil test mineralogi.
e. Material yang telah dipadatkan menurut Modified Proctor, harus memiliki:
Undrained Shear Strength (Cu) untuk sample tanah yang dijenuhkan
lebih besar dari 60 kPa atau sample tanah kering setelah dipadatkan >
120 kPa.
Specific Grafity (Gs) lebih besar dari 2,6
Kepadatan kering minimum harus mencapai kepadatan minimal 95 %
Modified Proctor maximum density untuk bahan timbunan umum, dan 98
% Modified Proctor maximum density untuk bahan timbunan subgrade
jalan.
‘g. Pekerjaan Beton Bertulang
1. Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan beton bertulang dilaksanakan untuk pekerjaan saluran yang
ditunjukkan dalam gambar.
2. Persyaratan Material
a. Referensi
SKBI-2.3.53.1987
SNI 03-1727-1989
SNI 03-1728-1989
SNI 03-1736-1989
SNI 03-1750-1990
SNI 03-1756-1990
SNI 03-2461-1991
SNI 03-2495-1991
SNI 03-2834-1992
SNI 03-2847-1992
SNI 03-2854-1992
SNI 03-2914-1992
SNI 03-3976-1995
SK SNI S-36–1990–03
SK SNI T-28-1991-03
SK SNI T-15-1992-03
Split/Kerikil Pasir
% Lewat Ayakan Ayakan % Lewat Ayakan
Ayakan
(Berat Kering) (Berat Kering)
30 mm 100 10 mm 100
25 mm 90 – 100 5 mm 90 – 100
15 mm 25 – 60 2.5 mm 80 – 100
5 mm 0 – 10 1.2 mm 50 – 90
0.3 mm 10 – 30
0.15 mm 2 – 10
d. Air
Air harus bersih dan bebas dari bahan organik, alkali, garam, asam dan
sebaiknya air tersebut dapat diminum.
f. Tulangan Baja
Tulangan baja harus mempunyai diameter yang sesuai dengan gambar rencana
dan bebas dari karat. Untuk tulangan baja dengan semua menggunakan Baja
Tulangan Polos (BjTP 24), atau sesuai persyaratan yang di tunjukkan pada
gambar dan dokumen lainnya dan dapat ditunjukkan dengan sertifikasi dari
pabrik. Harus dilakukan pengujian minimum 2 sampel untuk tiap macam
diameter dari setiap 20 ton besi. Pengujian ini dilakukan pada laboratorium
yang telah disetujui oleh Konsultan Pengawas atas biaya Kontraktor. Semua
pembengkokan, penyambungan dan panjang penyaluran harus sesuai dengan
SK SNI T-15-1992-03.
i. Bekisting
Papan bekisting harus terbuat dari plywood, papan yang diserut/diketam rata dan halus,
dalam keadaan baik sebagaimana dikehendaki untuk menghasilkan permukaan yang
sempurna seperti terperinci dalam spesifikasi ini.
b. Ketentuan-ketentuan
Pemakaian :
Bahan cat yang dipakai untuk tiap jenis finishing sesuai dengan yang sudah
disetujui oleh Pemberi tugas.
Bahan cat yang digunakan harus ramah lingkungan dan tidak mengandung bahan-
bahan yang berbahaya bagi manusia.
Pekerjaan pengecatan ini harus dikerjakan oleh tenaga ahli yang cukup berpengalaman
dalam bidangnya. Standard dan peraturan yang berlaku adalah :
PUBBI 1982
Peraturan Umum Bangunan Nasional
SII
ASTM
c. Pemakaian bahan/material
Finishing cat minyak
Semua bahan yang digunakan adalah produk kualitas terbaik, merk yang
digunakan adalah dulux.
Pengendalian seluruh pekerjaan ini, harus memenuhi ketentuan-ketentuan dari
pabrik yang bersangkutan dan memenuhi persyaratan dari PUBI 1982 dan NI-4.
Bahan lain yang diperlukan guna kelengkapan pelaksanaan pekerjaan pengecatan
seperti cat dasar, dempul dan lain-lain harus sesuai dengan rekomendasi dari
pabrik cat yang dipakai
Pelaksanaan pekerjaan dilakukan dilapangan dengan tenaga ahli dan peralatan
lengkap guna mendapatkan hasil yang maksimal.
2. Penempatan Timbunan
a) Timbunan harus ditempatkan pada permukaan yang dipersiapkan dan disebarkan
merata serta bila dipadatkan akan memenuhi toleransi ketebalan lapisan yang
diberikan. Di mana lebih dari satu lapisan yang akan ditempatkan, maka lapisan
tersebut harus sedapat mungkin sama tebalnya.
b) Timbunan tanah harus dipindahkan segera dari daerah galian tambahan ke
permukaan yang dipersiapkan dalam keadaan cuaca kering. Penumpukan tanah
timbunan tidak akan diizinkan selama musim hujan, dan pada waktu lainnya hanya
dengan izin tertulis dari Konsultan.
c) Dalam penempatan timbunan di atas atau pada selimut pasir atau bahan-bahan
drainase porous lainnya, maka harus diperhatikan untuk menghindari pencampuran
adukan dari kedua bahan-bahan tersebut. Dalam hal pembentukan drainase vertikal,
maka suatu pemisah yang luas antara kedua bahan-bahan tersebut harus dijamin
dengan menggunakan acuan sementara dari lembaran baja tipis yang secara
bertahap akan ditarik sewaktu penempatan timbunan dan bahan drainase porous
dilaksanakan.
d) Di mana timbunan akan diperlebar, maka lereng timbunan yang ada harus
dipersiapkan dengan mengeluarkan semua tumbuhan permukaan dan harus dibuat
terasering sebagaimana diperlukan sehingga timbunan yang baru terikat pada
timbunan yang ada hingga disetujui oleh Konsultan. Timbunan yang diperlebar
kemudian harus dibangun dalam lapisan horisontal sampai pada ketinggian tanah
dasar. Tanah dasar harus ditutup dengan sepraktis dan secepat mungkin dengan
lapis pondasi bawah sampai ketinggian permukaan jalan yang ada untuk mencegah
pengeringan dan kemungkinan peretakan permukaan.
e) Sebelum sebuah timbunan ditempatkan, seluruh rumput dan tumbuhan harus
dibuang dari permukaan atas di mana timbunan tersebut ditempatkan dan
permukaan yang sudah dibersihkan dihancurkan dengan pembajakan atau
pengupasan sampai kedalaman minimum 20 cm.
3. Pemadatan
a) Segera setelah penempatan dan penghamparan timbunan maka setiap lapisan harus
dipadatkan secara menyeluruh dengan alat pemadat yang cocok dan layak serta
disetujui oleh Konsultan sampai suatu kepadatan yang memenuhi persyaratan yang
ditentukan.
b) Pemadatan tanah timbunan akan dilakukan hanya bila kadar air bahan-bahan berada
dalam batas antara 2 % lebih daripada kadar air optimum (wet of optimum). Kadar
air optimum tersebut harus ditentukan sebagai kadar air di mana kepadatan kering
maksimum diperoleh bila tanah tersebut dipadatkan sesuai dengan AASHTO T-180.
c) Semua timbunan batuan harus ditutup dengan lapisan dengan tebal 200 mm dari
bahan-bahan yang bergradasi baik yang berisi batu-batu tidak lebih besar dari 50
mm dan mampu mengisi semua sela-sela bagian atas timbunan batuan. Lapisan
penutup ini harus dibangun sesuai dengan persyaratan untuk timbunan tanah.
d) Setiap lapisan timbunan yang ditempatkan harus dipadatkan sebagaimana
ditentukan, diuji untuk kepadatan dan diterima oleh Konsultan sebelum lapisan
berikutnya ditempatkan.
e) Timbunan harus dipadatkan dimulai dari tepi luar dan dilanjutkan ke arah sumbu
areal reklamasi dengan suatu cara yang sedemikian rupa sehingga setiap bagian
menerima jumlah pemadatan yang sama.
f) Timbunan pada lokasi yang tidak dapat dicapai/dimasuki oleh alat pemadat biasa,
harus ditempatkan dalam lapisan horisontal dari bahan-bahan lepas tidak lebih dari
150 mm tebal dan seluruhnya dipadatkan dengan menggunakan alat pemadat
tangan mekanis (mechanical tamper) yang disetujui. Perhatian khusus harus
diberikan guna menjamin pemadatan yang memuaskan di bawah dan di tepi pipa
untuk menghindari rongga-rongga dan guna menjamin bahwa pipa ditunjang
sepenuhnya.
5. Jaminan Kualitas
a) Pengawasan Kualitas Bahan
Jumlah data penunjang untuk hasil pengujian yang diperlukan untuk persetujuan
awal kualitas bahan-bahan harus sebagaimana diarahkan oleh Konsultan, tetapi
harus termasuk semua pengujian yang relevan yang telah ditentukan, sekurang-
kurangnya tiga contoh yang mewakili sumber bahan-bahan yang diajukan yang
terpilih untuk mewakili serangkaian kualitas bahan-bahan yang akan diperoleh
dari sumber tersebut.
Menyusul persetujuan mengenai kualitas bahan-bahan timbunan yang diajukan,
maka pengujian kualitas bahan-bahan tersebut harus diulangi lagi atas
kebijaksanaan tenaga Konsultan, dalam hal mengenai perubahan yang diamati
pada bahan-bahan tersebut atau pada sumbernya.
Suatu program rutin pengujian pengawasan mutu bahan-bahan harus
dilaksanakan untuk mengendalikan keanekaragaman bahan yang dibawa ke
tempat proyek. Jangkauan pengujian tersebut harus sebagaimana diarahkan oleh
Konsultan tetapi untuk setiap 1000 meter kubik timbunan yang diperoleh dari
setiap sumber.
6. Percobaan Pemadatan
a) Kontraktor harus bertanggung jawab untuk pemilihan peralatan dan metoda untuk
mencapai tingkat pemadatan yang ditentukan. Dalam hal bahwa Kontraktor tidak
mampu untuk mencapai kepadatan yang disyaratkan, maka pemadatan berikutnya
belum boleh dilaksanakan, kecuali dengan seizin Konsultan Pengawas.
b) Suatu percobaan lapangan harus dilaksanakan dengan jumlah lintasan alat
pemadat dan kadar air harus diubah-ubah sampai kepadatan yang ditentukan
tercapai dan disetujui Konsultan. Hasil percobaan lapangan ini kemudian harus
digunakan untuk menentukan jumlah lintasan yang disyaratkan, jenis alat pemadat
dan kadar air untuk semua pemadatan yang selanjutnya.
Kontraktor Pelaksana wajib memperbaiki atau mengganti dengan yang baru apabila
ada bagian – bagian bangunan yang rusak akibat pembongkarantersebut dengan semua
biaya ditanggung Kontraktor Pelaksana. Material bekas bongkaran yang tidak terpakai
harus segera dikeluarkan dari lokasi pekerjaan maksimal 2 x 24 jam. Lokasi
pembuangan harus dikoordinasikan terlebih dahulu dengan Direksi Pekerjaan dan
Konsultan Supervisi.
d. Pekerjaan Begesting
Bekisting atau perancah harus digunakan bila diperlukan untuk membatasi adukan beton
dan membentuk adukan beton menurut garis dan permukaan yang diinginkan. Kontraktor
harus bertanggungjawab atas perencanaan yang memadai untuk seluruh bekisting. Pada
bagian tertentu Konsultan Pengawas akan memerintahkan Kontraktor untuk membuat shop
drawing dari bekisting. Semua bahan yang akan digunakan/dipasang harus mendapat
persetujuan dari Konsultan Pengawas.
Toleransi yang diijinkan adalah 3 mm untuk garis dan permukaan. Bekisting harus
demikian kuat dan kaku terhadap beban dan lendutan adukan beton yang masih basah dan
getaran terhadap beban konstruksi. Bekisting harus tetap menurut garis dan permukaan
yang disetujui oleh Konsultan Pengawas sebelum pengecoran.
Bekisting harus kedap air, sehingga dijamin tidak akan timbul sirip atau adukan kelur dari
sambungan.
Pembongkaran dilakukan setelah beton telah mencapai kekuatan setara dengan umur beton
28 hari dan harus dengan persetujuan tertulis dari Konsultan Pengawas. Pembongkaran
dilaksanakan dengan statis, tanpa goncangan atau kerusakan pada beton.
f. Pekerjaan Pembesian
Pengujian atau pengetesan besi beton / baja tulangan
1. Pengujian minimal meliputi diameter besi beton, berat besi beton permeter, dan Uji
Tarik untuk mengetahui tegangan lelehnya (fy).
2. Hasil pengujian besi tersebut harus mencantumkan kode pabrikan sebagai
identitas dari besi tersebut
3. Biaya pengujian besi beton ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab kontraktor
pelaksana
g. Pekerjaan Beton
Syarat Pelaksanaan dan Pengecoran.
Semua persyaratan bahan dan pelaksanaan harus memenuhi standar yang berlaku di
Indonesia dan merupakan pemilihan bahan yang terbaik dengan pengawasan yang ketat
dari Direksi/Konsultan Pengawas. Pemilihan bahan dan pelaksanaan pekerjaan yang sesuai
dengan standar pelaksanaan akan mendapatkan hasil yang sempurna.
Faktor air semen dari beton (tidak terhitung air yang terhisap oleh agregat) tidak boleh
melampaui 0.50 (perbandingan berat). Perbandingan campuran tersebut dapat diubah jika
diperlukan untuk mendapatkan mutu beton yang dikehendaki dengan kepadatan,
kekedapan, keawetan dan kekuatan yang lebih baik dengan persetujuan dari Konsultan
Pengawas. Kontraktor tidak berhak atas penambahan kompensasi yang disebabkan oleh
perubahan tersebut di atas.
Percobaan kekuatan beton di lapangan dalam N/mm2 (MPa) atau Kg/cm2 (K) dibuat dengan
percobaan beton silinder ( 15 cm tinggi 30 cm) atau kubus 15x15x15 atau 20x20x20.
Jumlah silinder/kubus percobaan yang dibuat harus sesuai dengan SNI 03-2834-1992. Copy
hasil tes harus diserahkan kepada Konsultan Pengawas.
Percobaan yang dilakukan di lapangan, pengambilan contoh campuran dan pengujian harus
mengundang dan disaksikan oleh Konsultan Pengawas.
Suatu kali jika kekuatan beton umur 7 hari kekuatannya kurang dari 70% dari beton umur
28 hari, maka Konsultan Pengawas berhak untuk memerintahkan Kontraktor untuk
menambah PC ke dalam campuran beton. Dan apabila terdapat beton dengan umur 28 hari
yang tidak mencapai mutu beton yang dikehendaki, maka pengecoran selanjutnya harus
dihentikan sampai persoalan tersebut dapat diselesaikan oleh Kontraktor dan Konsultan
Pengawas.
Banyaknya air yang digunakan dalam adukan beton harus cukup. Waktu pengadukan beton
harus tetap dan normal sehingga menghasilkan beton yang homogen tanpa adanya bahan-
bahan yang terpisah satu dengan yang lainnya. Jumlah air dapat diubah sesuai dengan
keperluannya dengan melihat perubahan keadaan cuaca atau kelembaban bahan adukan
(agregat) untuk mempertahankan hasil yang homogen, kekentalan dan kekuatan beton yang
dikehendaki.
Pengujian kekentalan adukan beton (slump) dan pelaksanaannya sesuai dengan SNI-3976-
1995. Slump yang digunakan dalam proyek ini adalah 8 – 12 cm sesuai yang ditetapkan oleh
Konsultan Pengawas. Untuk maksud dan alasan tertentu, dengan persetujuan Konsultan
Pengawas dapat dipakai nilai slump yang menyimpang dari ketentuan di atas asal dipenuhi
hal-hal sebagai berikut:
- Mutu beton yang disyaratkan tetap terpenuhi
- Tidak terjadi pemisahan dari adukan
- Beton yang dapat dikerjakan dengan baik (workability).
Semua beton harus dipadatkan dengan vibrator dengan kekecepatan minimum 7000 rpm
yang bergetar pada bagian dalam (dari jenis alat “tenggelam”) dalam waktu maksimal 10
detik setiap kali dibenamkan. Pada waktu yang sama dilakukan pengetukan pada dinding
bekisting sampai betul-betul mengisi pada bekisting atau lubang galian dan menutupi
seluruh permukaan bekisting.
Penggunaan vibrator harus dilakukan dengan benar atau dengan petunjuk dari Konsultan
Pengawas dan tidak boleh mengenai bekisting maupun penulangan.
Perawatan Beton
Beton yang selesai dicetak harus dijaga dalam keadaan basah selama sekurang-kurangnya
14 hari setelah dicor, yaitu dengan cara penyiraman air, karung goni basah, atau cara-cara
lain yang ditentukan oleh Konsultan Pengawas.
h. Pekerjaan Pengecatan.
a. Pelaksana harus menyerahkan/mengirimkan contoh bahan dari beberapa macam hasil
prduk dengan warna sesuai tabel atau petunjuk konsultan perencana atau konsultan
pengawas, selanjutnya akan diputuskan jenis bahan dan warna yang akan digunakan.
b. Contoh bahan yang digunakan harus lengkap dengan label pabrik pembuatnya. Dibuat
rangkap 3 dan dibuat diatas kertas putih ukuran 30 cm x 30 cm serta dimintakan
persetujuannya ke konsultan pengawas.
c. Contoh bahan yang telah disetujui, dipakai sebagai standar untuk
pemeriksaan/penerimaan bahan yang dikirim oleh pelaksana pekerjaan ke tempat
pekerjaan. Percobaan-percobaan bahan dan warna harus dilakukan oleh Pelaksana
Pekerjaan untuk mendapatkan persetujuan konsultan pengawas sebelum pekerjaan
dimulai/dilakukan, serta pengerjaan sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang
diisyaratkan oleh pabrik yang bersangkutan.
d. Persiapan permukaan bidang :
Untuk leuneng dan tiang pagar jembatan :
Leuneng harus benar-benar rata, tidak ada cacat (retak, lubang dan pecah-pecah)
Diperlukan cat dasar wall sealer water base.
e. Pengecatan
Prosedur dan tahapan pengecatan harus menunjuk pada petunjuk yang dikeluarkan
pabrik. Untuk pelaksanaannya, pelaksana diminta untuk meminta pengawasan atau
supervisi tenaga ahli dari pabrik.
Setiap lapis pengecatan harus dilaksanakan dengan tata cara dan dengan peralatan
yang direkomendasi oleh pabrik.
Pelaksanaan pengerjaan pengecatan harus dilaksanakan dengan seksama dan hati-
hati dengan mempertimbangkan gangguan/kotor yang mungkin timbul sebagai
akibat kegiatan pelaksanaan pekerjaan pengecatan ini.
Pengecatan tidak dapat dilakukan selama masih ada perbaikan pekerjaan pada
bidang pengecatan.
Semua bidang pekerjaan yang akan dicat harus bersih dari kotor minyak, gemuk,
lapisan organis atau kotoran lainnya yang dapat mempengaruhi daya lekat atau
mutu kelas pengecatan.
Permukaan bidang yang akan dicat harus dalam keadaan kering dengan kelembaban
maksimum 4% diukur dengan menggunakan peralatan ukur kelembaban.
Pekerjaan pengecatan baru dapat dimulai bilamana semua bidang sudah benar-
benar bersih serta kering (tidak lembab) yang ditunjukkan dengan meteran
pengukur.
Ukur kelembaban permukaan bidang yang akan dicat sehingga memenuhi ketentuan
yang disyaratkan oleh pabrik.
Semua lubang, retak dan kerusakan lain pada bidang yang akan dicat harus
diperbaiki terlebih dahulu hingga rata dan harus menggunakan bahan pengisi
berupa dempul. Bahan dempul yang boleh dipakai adalah bahan-bahan yang
mendapat rekomendasi dari pabrik.
Pengecatan dilakukan setelah mendapat persetujuan dari Konsultan Pengawas serta
pekerjaan instalasi didalamnya telah sesuai dengan sempurna.
f. Hasil Pengecatan.
Hasil pekerjaan harus baik, warna dan pola tekstur merata, tidak terdapat noda-
noda pada permukaan pengecatan. Harus dihindarkan terjadinya kerusakan akibat
dari pekerjaan-pekerjaan lain.
Pelaksana pekerjaan harus bertanggungjawab atas kesempurnaan dalam pengerjaan
dan perawatan/keberhasilan pekerjaan sampai penyerahan pekerjaan.
Bila terjadi ketidaksempuranaan atau kerusakan dalam pengerjaan, pelaksana harus
memperbaiki/mengganti bahan yang sama mutunya tanpa adanya tambahan biaya.
Pelaksana harus menggunakan tenaga kerja terampil dan berpengalaman dalam
pelaksanaan pekerjaan pengecatan tersebut sehingga dapat tercapainya mutu
pekerjaan yang baik dan sempurna.
b. Pemasangan Pembesian
Membuat tulangan spiral yang fungsinya untuk cincin pengikat besi pokok, kemudian
memotong besi pokok yang panjang besinya dilebihkan daripada kedalaman lubang
yang sebagaimana fungsinya untuk stek tiang pile cap nantinya. Setelah rangkai kedua
jenis besi tersebut dan dirangkai menggunakan kawat beton hingga menjadi satuan
tulangan besi dan lalu dimaksukkan ke dalam lubang pengeboran strauss pile.
c. Proses Pengecoran
Pengecoran mulai beroperasi memlalui pipa tremie. Pengecoran dengan pipa metode
tremie dilanjutkan sampai tingkatan beton kira-kira 0.5 to 1.0 m diatas tingkat cutoff.
Panjang tremie semakin berkurang dalam pengecoran beton. Pengecoran beton
dilakukan dengan pipa tremie yang masuk sampai dengan dasar lubang, panjang pipa
adalah 3 m dan dapat disambung dengan drat sehingga pada saat pengecoran air dan
lumpur dapat terdorong ke atas. Pengecoran beton harus dilakukan segera setelah besi
tulangan dan pipa tremie telah siap dan dilakukan secara continue sampai dengan
panjang yang ditetapkan. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi kembali 20 pengendapan
lumpur dan terjadi pengerasan beton. Mengingat pipa tremie harus digerakkan terus
naik turun untuk menjamin beton masuk kedalam lubang dan tidak keropos.
Pengecoran menggunakan beton K-225 untuk mendapat beton dengan workabilitas
yang tinggi sehingga memudahkan dalam proses pengecoran, pengecoran dilakukan
sampai dengan level/kedalaman yang ditentukan.
d. Pekerjaan Pemeriksaan
Untuk menjamin pelaksanaan pengecoran bejalan baik, dilakukan dengan
membandingkan volume beton minimal harus sama dengan volume tanah yang dibor.
Sebelum beton pertama kali dicor ke dalam pipa corong tremie, pada corong pipa
tremie telah disiapkan kantong plastik (bisa juga dengan kawat nyamuk) berisi fresh
concrete yang akan dijatuhkan bersama saat beton dituang untuk pertama kalinya pada
tiang lubang, tujuannya agar beton dalam kantung plastik tersebut dapat mendorong
air lumpur keluar dari pipa tremie dan sehingga beton tidak tercampur dengan lumpur.
Jika terjadi kemacetan tremie pada proses pengecoran, maka tremie akan segera
diangkat sebagian, untuk melanjutkan pengecoran tremie dimasukkan kembali dengan
cara menutup ujung tremie dengan plat tipis unpermanen. Setiap sampel diberi tanggal
pengecoran, nomor pile dan nomor pengecoran. Laporan pembuatan bore pile dibuat
dengan menyatakan : nomor dan diameter tiang, dalamnya lubang, diameter dan
jumlah tulangan. Gangguan lingkungan berupa lumpur, diantisipasi dengan membuat
sistem pengumpulan/pengendapan lumpur untuk kemudian air dibuang ke saluran
sekitarnya.
Pendidikan Pengalaman
No Jabatan Jumlah SKA
(minimal) (minimal)
Adapun tingkat resiko yang kemungkinan ditimbulkan akibat pekerjaan ini meliputi:
3. Pekerjaan Drainase Tergores besi, terluka kena alat kerja. 3 = resiko kecil
Terluka kena cor beton. 3 = resiko kecil
OUTPUT - Bangunan Fisik dengan rencana panjang saluran sekitar 2.800 meter
INFORMASI LAINNYA - Jangka Waktu Pengerjaan 180 (seratus delapaan puluh) hari kalender
sejak terbit SPMK
- Masa Pemeliharaan 180 (seratus delapan puluh) hari kalender
terhitung sejak dilakukan serah terima pertama (PHO)
FARIDAH