Prolog
Aku tidak tahu… apakah ini dunia nyata atau hanya sisa mimpi yang belum mau mati.
Tapi aku sadar akan satu hal: Tubuhku terbakar.
Rasa sakit itu bukan rasa yang datang tiba-tiba, melainkan sesuatu yang telah tinggal terlalu lama. Seolah
nyeri itu telah menjadi bagian dari aku — bagian yang tidak bisa lagi dipisahkan.
Aku ingin menggerakkan tangan. Tidak bisa. Ingin membuka mata. Tidak kuat. Aku mencium bau… logam,
darah, dan… ozon?
Aku mendengar langkah kaki. Cepat. Terburu. Suara sepatu beradu dengan permukaan keras.
Suara lain menyusul. Tergesa, gugup.
“Napasnya masih ada! Oh Tuhan, dia masih hidup!”
“Lukanya... ini mustahil. Bagaimana bisa dia masih—”
Mereka berbisik cepat. Terlalu cepat.
Aku hanya bisa melihat bayangan mereka lewat kelopak mata yang setengah terbuka. Wajah-wajah asing,
siluet, tertutup cahaya putih yang menyilaukan.
Aku tidak tahu siapa mereka. Aku bahkan tidak tahu siapa aku.
Tidak ada nama di kepalaku. Tidak ada usia. Tidak ada masa lalu.
Aku hanya tahu satu hal: Aku sekarat.
Dan… entah kenapa, aku merasa… aku sudah pernah mati sebelumnya.
***
Kota Aethra tidak pernah tidur. Tapi hari ini… kota itu menahan napasnya.
Di pusat distrik, layar raksasa menggantung di antara gedung kaca. Wajah pembaca berita muncul di balik
latar merah berdenyut.
“BERITA UTAMA PAGI INI — Seorang remaja pria ditemukan dalam kondisi kritis dan penuh luka parah
di Zona-3, kawasan paling steril dan termonitor di seluruh kota.”
Seorang pria paruh baya menghentikan langkahnya. Di belakangnya, dua pelajar remaja berhenti tertawa.
Semua mata mengarah pada satu titik: sosok anak laki-laki, tertangkap samar oleh kamera drone medis.
“Diperkirakan berusia 18 tahun. Tubuhnya mengalami trauma menyeluruh: luka terbuka, pendarahan
dalam, jaringan otot robek. Namun yang paling menggemparkan bukan kondisi fisiknya—melainkan
identitasnya.”
“Tidak ada chip. Tidak ada DNA terdaftar. Tidak ada data biologis. Dia tidak ada dalam sistem.”
“Di dunia seperti sekarang ini, ketidakterdaftaran berarti satu hal: ketidakmungkinan.”
“Tidak masuk akal…” bisik seorang ibu muda, menggenggam tangan anak perempuannya erat.
“Itu... mustahil,” gumam pria tua dengan nada kosong. “Kita semua sudah tercatat bahkan sebelum lahir.”
“Menurut tim medis, tubuh remaja itu tidak menunjukkan tanda peningkatan biologis seperti yang biasa
dimiliki warga—tidak ada implan kekuatan, tidak ada pelat baja tulang. Tubuhnya lemah, kecil, rapuh.”
“Tapi luka-lukanya… seperti korban ledakan perang.”
Seorang wanita berbaju dinas Mnemosyne muncul di layar. Wajahnya pucat. Matanya gelap.
“Kami mendeteksi gangguan dalam jaringan memori kolektif di area itu. Ada kekosongan. Sebuah
lubang. Anomali.”
“Kami menyebutnya: Null Subject.”
Suasana mulai mencekam. Beberapa warga mundur. Seseorang mencoba mematikan siaran di pada jam
tangannya.
“Null?” bisik salah satu pelajar. “Kayak dalam teori—”
“—tentang manusia yang dihapus dari realitas?” potong temannya.
“Atau mungkin,” bisik pria tua tadi, matanya tidak lepas dari layar, “Dia bukan dari sini. Bukan dari waktu ini.
Bukan dari dunia ini.”
Layar menampilkan satu cuplikan terakhir.
Gambar yang disamarkan, kabur, tapi cukup jelas untuk membekas di retina: Seorang remaja laki-laki,
tubuhnya mungil, terbaring di jalan kosong, dengan darah menyebar seperti simbol purba. Wajahnya…
tidak bisa dikenali.
“Pemerintah belum memberikan pernyataan resmi. Mnemosyne telah mengisolasi lokasi. Penemuan ini…
bisa mengubah segalanya.”
Layar gelap. Tapi ketakutan… sudah menyala di seluruh kota.
Bab 1 — Yang Terbangun Tanpa Nama
Sudut pandang Detektif Darian Voss
Langit pagi di atas Aethra terlihat palsu. Seperti segala sesuatu di kota ini—warna, suara, bahkan sinar
matahari pun seperti hasil manipulasi. Terlalu terang untuk menjadi nyata, tapi terlalu dingin untuk memberi
kehangatan.
Aku berjalan melewati koridor utama Rumah Sakit Mnemosyne—tempat segala yang tak bisa dijelaskan
dikurung, dirawat, dan diawasi. Langkah kakiku berat tapi mantap. Usia tak membuatku lemah, hanya
membuatku lebih tahu mana yang patut diamati lebih lama.
Di tanganku, dua kaleng minuman berkarbonasi. Rasa mint. Elion menyukainya. Atau mungkin hanya
menerimanya karena tidak menolak—aku belum bisa membedakan.
Aku keluar ke taman kecil di sisi timur gedung. Udara pagi diatur untuk terasa sejuk. Burung digital
berkicau dari pohon buatan. Semua dibuat untuk memberi rasa hidup. Tapi aku tahu, semua ini tetap tak
bisa menipu seseorang yang belum tahu siapa dirinya.
Dan di sanalah dia.
Duduk.
Diam.
Membisu seperti arca yang dibuat dari luka-luka.
Elion.
Tubuhnya masih dibalut perban di beberapa bagian—pergelangan, leher, sebagian dada. Bahkan setelah
setahun, luka itu belum benar-benar hilang. Tapi bukan hanya tubuhnya yang terluka. Yang paling parah
adalah apa yang tak terlihat: pikirannya yang kosong, ingatannya yang hilang, dan identitas yang tak
pernah dimilikinya.
Aku mendekat, perlahan, agar tidak membuyarkan kesunyiannya.
“Pagi, Elion.”
Tidak ada respons.
Aku menyodorkan kaleng minuman itu. Ia memandang sebentar, kemudian mengulurkan tangan dan
menerimanya. Gerakannya lambat, kaku, seperti seseorang yang baru belajar menjadi manusia.
Aku duduk di sampingnya. Tak terlalu dekat, tapi cukup dekat agar bisa berbagi diam yang sama.
“Kondisimu membaik,” kataku sambil membuka minumanku sendiri.
“Laporan medis bilang, kamu makin stabil. Tubuhmu sembuh lebih cepat dari prediksi. Tapi, ya… kamu
masih harus di sini. Belum ada tempat untuk kembali, kan?”
Dia tetap diam. Tapi tidak terasa kosong. Lebih seperti... menahan sesuatu.
Aku mengangkat bahu. “Yah, tak masalah. Diam itu bukan dosa. Kadang dunia terlalu bising untuk
dipahami.”
Angin buatan bertiup pelan. Beberapa daun plastik bergoyang. Dan kami hanya duduk, berdua. Aku dan
bocah tak bernama yang dunia coba abaikan.
Tapi bagiku, dia bukan ‘bocah tak dikenal’. Dia adalah alasan aku masih bertugas.
Jam tanganku bergetar. Panggilan masuk. Tugas berikutnya menungguku di Zona-9. Aku berdiri perlahan,
tapi sebelum sempat melangkah.
“…Terima kasih.”
Suaranya... parau. Dalam. Patah-patah. Tapi nyata.
Aku membeku di tempat. Jantungku—yang sudah lelah oleh usia dan kematian yang terlalu sering—
berdetak cepat.
Aku berbalik, menatap wajahnya. Mata itu... kosong, tapi kali ini ada retakan kecil di permukaannya.
Aku kembali duduk, lalu berlutut di hadapannya.
“Elion…” bisikku.
Tanganku meraih tangannya. Kedinginan. Tapi menggenggam balik—lemah, tapi ada.
“Kau tahu,” kataku, suara sedikit bergetar, “aku yang memberi nama itu padamu.”
“Elion. Artinya… cahaya yang naik. Bintang yang belum bersinar, tapi akan bersinar. Mungkin tidak hari
ini. Mungkin tidak di dunia ini. Tapi akan.”
“Karena saat aku pertama kali melihatmu… kau adalah bukti bahwa ada sesuatu yang lebih besar sedang
terjadi. Sesuatu yang belum bisa dijelaskan, tapi tidak boleh dilupakan.”
“Nama itu... bukan hadiah. Tapi harapan.”
Dia hanya menatap. Tapi kali ini, aku merasa dia mendengar.
Jamku bergetar lagi. Lebih keras. Tugas tak bisa ditunda lebih lama. Aku berdiri, menghela napas.
“Aku harus pergi, Elion. Tapi aku akan kembali. Kali berikutnya, kita bicara lebih lama. Mungkin… kau akan
ceritakan siapa kau sebenarnya.”
Aku tidak mengharapkan jawaban. Tapi ketika aku berjalan menjauh, aku tahu satu hal:
Anak itu sedang bangun.
Dan ketika cahaya itu menyala… dunia ini tak akan lagi sama.
***
Sudut pandang Uriel
Langkahku terdengar jelas memantul di sepanjang koridor — ritmis, terburu. Lorongnya terlalu panjang,
lampunya terlalu putih. Dan udara? Terlalu dingin. Seolah tak ingin satu pun dari kami lupa bahwa ini bukan
tempat untuk merasa hidup… hanya tempat untuk tetap bertahan.
Aku berlari kecil, seragam susterku berkibar tipis. Di tangan, lembaran data medis yang belum sempat
kubaca. Tapi bukan itu yang membuatku terburu.
Dia. Elion. Tidak ada dikamarnya.
“Uriel!”
Suara menghentikanku.
Suster Aria, berdiri di simpang lorong, memandangku dengan alis terangkat.
“Kau buru-buru sekali. Ada apa?”
Aku menarik napas cepat. “Aku mencari pasien dari sektor 9. Yang... itu.”
Wajah Aria berubah paham. “Remaja misterius itu?”
Aku mengangguk. “Dia tidak ada di ruangannya.”
Aria menunjuk ke arah jendela panjang di sisi timur. “Aku lihat dia di taman tadi. Duduk sendirian.”
“Terima kasih,” bisikku, dan kembali berlari.
Taman rumah sakit seharusnya menjadi tempat istirahat. Tapi di tempat ini, semuanya terasa... palsu.
Rumput sintetis. Burung digital. Angin buatan. Namun dia memilih duduk di sana. Setahun dalam diam, dan
baru hari ini... dia pergi ke luar kamar sendiri.
Elion.
Sosok kurus itu duduk membelakangi cahaya matahari buatan. Punggungnya masih membungkuk sedikit,
seperti bahunya belum bisa lepas dari rasa sakit lama.
Aku berhenti beberapa langkah darinya, jantungku berdetak pelan-pelan. Ada sesuatu dalam
keheningannya yang membuat waktu ikut melambat.
Sudah satu tahun aku merawatnya. Satu tahun sejak dia ditemukan dalam kondisi yang tak seharusnya
bisa diselamatkan.
Luka robek, patah, dan darah yang nyaris membuat tubuhnya tenggelam.
Tapi dia bertahan. Dan aku ada di sana — saat dia menjerit diam-diam ketika perban diganti, saat setiap
tetes obat membuat tubuhnya menggeliat seperti terbakar dari dalam.
Aku tahu rasa sakitnya. Entah bagaimana… aku merasakan itu juga.
Mungkin itu sebabnya aku tak pernah bisa meninggalkannya.
Aku duduk di sampingnya perlahan, tanpa suara. Wajahnya menatap lurus ke kolam tenang yang
memantulkan cahaya langit buatan. Tak ada yang keluar dari bibirnya, seperti biasa.
“Elion,” kataku, suara setenang mungkin. “Kau membuatku khawatir. Aku mencarimu ke seluruh lantai.”
Tak ada jawaban. Tapi tak perlu. Karena untukku, cukup melihat dia di sini. Keluar dari kamar. Duduk di
tempat terbuka. Itu sudah seperti keajaiban.
Aku memandangi wajahnya sejenak. Mata kelamnya tak pernah bisa kutebak. Mereka seperti menyimpan
langit malam yang kehilangan bintang-bintangnya.
“Sudah lama sejak pertama kali aku dipanggil untuk merawatmu.”
“Kau bahkan tak bisa bergerak waktu itu. Tubuhmu lebih mirip puing dari manusia. Tapi sekarang…”
Suaraku melemah.
“Sekarang kau duduk di sini, menyentuh udara pagi. Meski kau tak bicara, aku tahu kau mendengar.”
“Dan aku…”
Aku menunduk, menatap jemariku yang mengepal di atas rok seragamku.
“Aku selalu ada di sini. Karena entah kenapa, aku tahu… kau bukan luka biasa. Bukan anak biasa.”
Ia menoleh sedikit. Sangat sedikit. Tapi cukup untuk membuat dadaku menghangat.
“Terima kasih,” bisikku—meski aku tahu dia tak akan menjawab.
“Terima kasih karena tetap bertahan.”
Dan untuk sesaat, hanya angin senyap yang menemani kami. Aku tidak tahu siapa dia. Tidak tahu dari
mana dia datang. Tapi aku tahu satu hal pasti:
Cahaya itu belum padam. Hanya tersembunyi. Menunggu waktu untuk menyala.
Setelah beberapa menit duduk Bersama elion, aku harus membawanya ke ruangannya untuk meneteskan
obat yang menyakitkan itu lagi.
“Ayo,” bisikku lembut. Tanganku terulur, tidak memaksa, hanya memberi arah.
Ia menatapku sejenak, lalu perlahan berdiri. Tubuhnya masih terasa rapuh, meski telah melewati ratusan
hari perawatan. Tapi langkahnya… Langkah itu adalah yang pertama.
Hari ini adalah pertama kalinya Elion keluar dari ruangannya. Selama satu tahun, ia hanya tahu empat
dinding putih di kamar Sektor 9. Tak pernah menginjak taman. Tak pernah menyentuh cahaya.
Semua karena luka. Semua karena tubuhnya pernah menjadi medan perang dari sesuatu yang bahkan
dunia ini tak bisa jelaskan.
Dan kini, ia berdiri di bawah sinar buatan, dengan angin artifisial membelai wajahnya yang dingin.
Aku menggenggam perasaan haru itu dalam-dalam, tak ingin memperlihatkan betapa nyaris menangisnya
aku hanya karena ia berjalan.
Kami berjalan perlahan menyusuri koridor. Pintu otomatis terbuka dengan desis pelan, mengantar kami ke
dalam dunia yang lebih dingin. Dan di sanalah… dunia menunggu.
Aku tahu apa yang akan terjadi. Sudah terlalu sering.
Tatapan.
Bisikan.
Penilaian dari mata-mata yang hanya melihat dari permukaan.
Aku berjalan lebih dekat padanya. Lalu menutup telinganya dengan kedua tanganku.
Lembut. Hangat. Melindungi.
“Maaf, Elion…”
“Aku hanya tidak ingin kau dengar apa pun hari ini. Dunia ini… belum siap untukmu.”
“Dan aku tidak akan membiarkan satu kata pun melukaimu lagi.”
Karena selama setahun ini, dunia hanya tahu Elion dari monitor, dari laporan medis, dari berita.
Bocah tanpa identitas. Muncul entah dari mana. Tidak terekam di sistem mana pun. Tidak dikenali oleh
teknologi biometrik apa pun. Dan itu menakutkan bagi dunia ini—dunia yang menyukai keteraturan, logika,
dan kepastian.
“Bisa jadi dia proyek gagal.”
“Kalau bukan manusia? Bagaimana kalau replikator liar?”
Mereka membicarakannya seolah ia bukan… manusia.
Tapi saat kami melangkah ke dalam lorong utama… Aku merasa ada yang berubah.
Tidak ada ejekan. Tidak ada tanya sinis. Hanya keheningan… yang anehnya, bukan karena ketakutan.
Melainkan karena terpukul.
“Tuhan… lihat tubuhnya.”
“Perbannya masih penuh… dia bahkan bisa berjalan?”
“Bagaimana bocah seperti itu bisa masih hidup setelah luka seperti itu?”
“Dia pasti sangat menderita…”
Aku membeku sejenak. Orang-orang… Tidak lagi membicarakan siapa Elion. Mereka membicarakan
rasa sakitnya.
Dan untuk pertama kalinya, mereka tidak menghindarinya karena takut. Mereka menghindar karena tidak
tahan melihat luka-luka itu.
Aku menarik tanganku dari telinganya perlahan. Elion menoleh, sedikit bingung. Matanya bertanya: Apa
yang berubah?
Aku hanya tersenyum kecil.
“Mereka melihatmu, Elion…dan mereka mulai mengerti rasa sakit itu nyata.”
Perjalanan ke kamar terasa berbeda. Langkah kami terasa lebih ringan. Seolah lorong yang dulu menjadi
penjara pandang telah berubah menjadi jembatan diam-diam menuju… pengakuan.
Setibanya di ruangan, aku membantunya duduk di kasur. Ia tak protes, tak mengeluh. Sudah biasa.
Tapi tetap saja, tubuhnya menegang setiap kali aku membuka perban di lengan dan dadanya. Luka-luka
yang seakan tak kunjung selesai… terbuka sedikit demi sedikit.
Aku mengambil botol kecil dari tempat pendingin — cairan biru bening dengan suhu sangat rendah.
“Maaf ya, ini akan sedikit sakit.”
Dan seperti biasa… Saat tetesan pertama menyentuh luka, tubuhnya menegang hebat. Jemarinya
mencengkeram seprai. Nafasnya tertahan. Tapi tak satu suara pun keluar dari mulutnya.
Aku menggigit bibir. Ingin sekali berteriak untuknya.
“Aku tahu, Elion… aku tahu ini sakit. Tapi kau sudah sejauh ini.”
Setetes. Dua tetes lagi. Tanganku gemetar sedikit. Tapi aku menyelesaikannya.
Setelah semua selesai, aku menyelimuti tubuhnya dengan hati-hati. Wajahnya mulai tenang. Napasnya
melambat. Mata itu… perlahan menutup.
Ia tertidur.
Dalam diam yang dalam, ia kembali ke dunia yang mungkin hanya dia yang tahu. Dunia yang tak bisa
kucapai.
Aku berdiri perlahan. Melangkah keluar. Menatapnya sekali lagi sebelum pintu tertutup otomatis.
Hari ini… dia berjalan. Hari ini… dia dilihat. Dan untuk hari ini saja, itu sudah cukup.
Aku berjalan di koridor putih itu dengan langkah ringan… dan sebuah senyum kecil yang tak bisa
kusembunyikan.
Sudut pandang Falken Varell
Aethra Broadcast Core | Lantai 49 | Zona Barat | Pukul 10:23 SST
Pintu kantor terbuka otomatis begitu mengenali sidik mataku, tapi seperti biasa—suaranya tetap kasar.
Sensor pintu mungkin belum diperbarui sejak lima tahun lalu. Tak ada yang peduli. Kantor berita terbesar di
Aethra, tapi dalamnya masih lebih mirip kapal karam penuh peretas yang kehabisan kopi.
Aku melangkah masuk, membawa bau malam dan lembaran data yang tak sempat dibaca.
“Falken datang!” Suara itu samar, tapi nyaris selalu muncul setiap pagi.
Aku tak menggubris.
Meja-meja holografik menyala, sebagian menampilkan feed politik dari Senat Virtual, sebagian lagi masih
stagnan di iklan neural-cast dan debat sosial buatan. Biasanya kantor ini gaduh dengan suara campur
aduk para editor—tapi pagi ini…
Semua suara terkonsentrasi di satu sudut.
Ruang siaran utama. Tiga puluh orang mengerumuni satu layar penuh rekaman. Tak ada jeda. Tidak ada
yang duduk. Tak ada yang bercanda.
Aku mengernyit, lalu bertanya setengah malas pada asisten dokumentasi di pinggir:
“Apa? Ada yang meledak?”
Ia menoleh cepat, wajahnya campur panik dan antusias.
“Falken, dia keluar.”
“Siapa?”
“Remaja tanpa identitas. Yang dari Rumah Sakit Pemerintah Zona-3. Yang ditemukan tahun lalu.”
Langkahku terhenti. Jantungku — yang biasanya hanya berdetak saat deadline — bergetar pelan.
“Ulangi.”
“Baru saja terjadi. Beberapa Jam lalu. Dia keluar dari ruangannya. Jalan kaki. Ke taman sektor timur.
sendiri.”
Aku mendekat. Di layar, tayangan kamera pengawas—diedit langsung dari sistem rumah sakit—diputar
tanpa suara. Resolusinya tinggi. Rumah sakit itu kelas utama. Dan di tengah taman, dalam siluet matahari
buatan pukul 07:48, terlihat sosok itu:
Seorang remaja. Tinggi. Kurus. Seluruh tubuh dibungkus perban putih, menyisakan sedikit kulit di leher
dan wajah. Langkahnya pelan, tapi stabil.
“Pertama kalinya dia keluar kamar sejak ditemukan,” kata seseorang.
“Setahun lebih. Dan lihat kondisinya…”
“Mereka bilang kondisinya membaik selama ini. Tapi kalau ‘membaik’ seperti itu... maka luka awalnya pasti
neraka.”
“Tidak ada ID biometrik. Tidak ada rekaman lahir. Tidak masuk dalam sistem global.”
“Tidak ada nama. Tapi dia hidup. Dia bergerak.”
“Dan luka-luka itu… bukan luka biasa. Teknologi regeneratif Aethra tidak seharusnya gagal semacam itu.”
Aku berdiri diam. Menyerap semuanya. Wajahnya—meski setengah tertutup perban—menyimpan
keheningan yang berbeda. Matanya tidak bingung. Tidak lemah. Tapi… kosong seperti ruang yang
belum dipetakan.
Elion.
Mereka memberinya nama itu, 'bintang yang akan bersinar'. Tapi aku tahu… sesuatu seperti itu tidak lahir
tanpa alasan.
Aku membuka jalur internal lewat neuralpad di pergelangan tangan.
“Aiden,” panggilku.
Suara langsung muncul di telinga. “Ya, Tuan Varell?”
“Kita ke Zona-3. Sekarang.”
“Eh, maksud Anda—ke rumah sakit Mnemosyne?”
Aku sudah mengambil jaket kulit optikku dan file memo suara.
“Ya. Bawa dua rekorder suara. Jangan lupa lisensi investigasi. Dan aktifkan mode non-broadcast. Kita tidak
mau Jurnalis lain mencium ini lebih dulu.”
Kerumunan menoleh padaku. Mereka heran. Aku tahu. Falken Varell—sang hantu ruang redaksi. Jarang
turun langsung. Terakhir kali aku menyentuh lapangan, presiden Aethra masih organik.
“Kau... tertarik dengan berita ini?” tanya seorang kolega.
Aku hanya menatap layar sekali lagi.
“Ini bukan berita…Ini... anomali. Dan anomali adalah awal dari kebenaran yang disembunyikan.”
Aku berjalan keluar, mendengar suara langkah Aiden di belakangku—masih kebingungan. Mobil udara
sudah menunggu di dermaga atas.
Di langit Aethra yang artifisial dan biru sempurna, aku menatap gedung rumah sakit Mnemosyne yang
makin dekat.
Mobil udara kami meluncur turun ke dermaga atap Rumah Sakit Pemerintah Mnemosyne, jantung medis
dari Zona 3. Struktur bangunannya tinggi, bersih, berlapis logam krom seperti disterilkan dari semua
ingatan manusia.
Di Aethra, rumah sakit bukan tempat penderitaan—ia adalah museum teknologi, tempat algoritma
menyembuhkan tubuh lebih cepat dari waktu itu sendiri.
Namun pagi ini… udara di sini terasa lebih dingin dari biasanya.
Turun dari kendaraan, aku dan Aiden langsung disambut kerumunan.
Puluhan jurnalis berjejal di balik garis keamanan optis, drone liputan melayang di atas kepala, semuanya
menunggu satu hal: Pernyataan resmi.
Tapi wajah-wajah itu sama seperti setiap kali aku melihat mereka: sibuk, tapi hampa. Mereka datang bukan
karena mengerti pentingnya peristiwa hari ini. Mereka datang karena semua orang datang.
“Jadi ini… bocah itu?” gumam Aiden.
Aku tidak menjawab. Pandanganku tetap menyapu halaman depan yang dipenuhi antena, sensor, dan
keheningan yang terlalu rapi.
Pukul 13:45 tepat, seperti dijadwalkan, pintu balkon lantai tiga terbuka. Seorang direktur rumah sakit
muncul, mengenakan jas berlapis cahaya medis dan earpiece putih perak. Ekspresinya steril seperti
seluruh tempat ini.
Suara diperbesar lewat speaker sistemik:
“Sehubungan dengan tayangan visual yang beredar mengenai pasien anonim yang sebelumnya dirawat di
fasilitas ini, kami menyampaikan bahwa tidak akan ada konferensi pers yang diadakan. Pasien dalam
pertimbangan privasi maksimal, dan saat ini masih dalam proses pemulihan intensif. Kami meminta kerja
sama semua pihak untuk tidak menyebarkan informasi tidak terverifikasi. Terima kasih.”
Pintu kembali tertutup. Suara langkah robotik terdengar, dan selesai.
Desah kecewa memenuhi udara. Jurnalis mulai membereskan peralatan, menghapus cache, dan
membagikan headline biasa:
“Mnemosyne Bungkam Soal remaja Misterius”
“Remaja Tanpa Identitas Tak Akan Dijelaskan”
Sama. Dangkal. Dingin.
“Kita pulang?” tanya Aiden, ragu-ragu.
Aku tidak menjawab. Langkahku membawa tubuh ke sisi gedung, menghindari kamera publik, mata tetap
terpaku ke jendela-jendela buram bangunan medis yang menjulang itu.
“Mereka tidak paham…” gumamku lebih untuk diriku sendiri.
“Tidak ada satu pun dari mereka yang paham apa yang sedang mereka saksikan.”
“Apa maksud Anda?” Aiden mendekat.
Aku menoleh perlahan.
“Aiden, selama ratusan tahun terakhir, tak pernah ada satu manusia pun yang gagal diidentifikasi oleh
sistem Aethra. Tak pernah ada luka yang tak bisa dipetakan, tak ada sel yang tak bisa dibaca, tak ada anak
yang muncul begitu saja tanpa riwayat digital. Tapi Elion—dia adalah anomali pertama yang tak bisa
dijelaskan oleh peradaban ini.”
Aiden terdiam. Untuk pertama kalinya sejak kami meninggalkan kantor, dia terlihat gugup.
“Lalu… kita menunggu di sini?”
Aku mengangguk.
“Kita tidak cari berita. Kita cari retakan. Dan jika aku sabar… retakan itu akan memperlihatkan apa yang
selama ini ditutup.”
Sekarang aku hanya bertanya tanya di dalam kepalaku.
“Siapa kamu sebenarnya, Elion…”