7
1. Fungsi alokasi. Anggaran daerah harus diarahkan untuk menciptakan
lapangan kerja atau mengurangi pengangguran dan pemborosan sumber
daya, serta meningkatkan efesiensi efektifitas perekonomian.
2. Fungsi distribusi. Anggaran daerah harus memperhatikan rasa keadilan
dan kepatutan.
3. Fungsi stabilitasi. Anggaran daerah menjadi alat untuk memelihara dan
mengupayakan keseimbangan fundamental perekonomian daerah.
2.1.3 Jenis – Jenis Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
Pasal 157 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 menyatakan, bahwa
sumber pendapatan/penerimaan daerah terdiri atas:
1. Pendapatan Asli Daerah (PAD), yang terdiri dari pajak daerah, retribusi
daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, dan lain-lain
pendapatan asli daerah yang sah.
2. Dana Perimabangan, yang terdiri dari dana bagi hasil pajak, dana bagi
hasilb bukan pajak, dana alokasi umum (DAU), dan dana alokasi khusus
(DAK).
3. Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah.
2.1.4 Pihak Yang Terlibat Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja
Daerah ( APBD)
Pihak- pihak yang terlibat dalam penyusunan Anggaran Pendapatan
dan Belanja Daerah (APBD) (V.W. Sujarweni 2015 : 60 )adalah sebagai
berikut :
8
1. Pihak Eksekutif yang terdiri dari Bupati/Walikota, Sekretaris Daerah
(Sekda), Tim Anggaran Eksekutif, Satuan Kerja Perangkat Daerah
(SKPD), Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (BAPEDA) dan
Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD)
2. Pihak Legislatif yang terdiri dari Panitia Anggaran Legislatif dan Komisi-
Komisi DPRD
3. Pihak Pengawas yang terdiri dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK),
Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) dan Badan
Pengawas Daerah (BAWASDA)
2.2 Pendapatan Asli Daerah
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2015,
Pendapatan Daerah adalah semua hak Daerah yang diakui sebagai penambah
nilai kekayaan bersih dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan.
Pendapatan asli daerah merupakan semua penerimaan daerah yang berasal
dari sumber ekonomi asli daerah. Pasal 157 Undang-Undang No. 32 Tahun 2004
tentang Pemerintahan Daerah menyebutkan bahwa kelompok PAD dipisahkan
menjadi empat jenis pendapatan, yaitu :
1. Hasil pajak daerah, yaitu pungutan yang dilakukan oleh pemerintah daerah
berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku ditetapkan
melalui peraturan daerah. Pungutan ini dikenakan kepada semua objek
seperti orang/badan dan benda bergerak/tidak bergerak, seperti pajak hotel,
pajak restoran, pajak hiburan, pajak reklame, pajak parker, dll.
9
2. Hasil retribusi daerah, yaitu pungutan daerah sebagai
pembayaran/pemakaian karena memperoleh jasa yang diberikan oleh
daerah atau dengan kata lain retribusi daerah adalah pungutan yang
dilakukan sehubungan dengan suatu jasa atau fasilitas yang diberikan
secara langsung dan nyata, seperti retribusi Pelayanan Kesehatan, retribusi
Pelayan Persampahan / Kebersihan, retribusi pelayanan pemakaman,
retribusi jasa usaha pengolahan limbah cair, dll.
3. Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, yaitu penerimaan
daerah yang berasal dari pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan,
mencakup bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik
daerah/BUMD, bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik
negara/BUMN, bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik
swasta atau kelompok usaha masyarakat.
4. Lain-lain PAD yang sah, yaitu penerimaan daerah yang berasal dari lain-
lain milik pemda, seperti hasil penjualan aset daerah yang tidak
dipisahkan, jasa giro, pendapatan bunga, dll.
2.2.1 Sumber-Sumber Pendapatan Daerah
Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan, tiap-tiap daerah di
Indonesia mempunyai hak dan kewajiban mengatur dan mengurus sendiri urusan
pemerintahannya untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan
pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat.
Adapun Sumber-Sumber pendapatan asli daerah menurut UU No.23 Tahun 2014
yaitu:
10
1. Hasil pajak daerah
Pungutan daerah menurut peraturan yang ditetapkan oleh daerah untuk
pembiayaan rumah tangganya sebagai badan hukum publik. Pajak daerah
sebagai pungutan yang dilakukan pemerintah daerah yang hasilnya
digunakan untu pengeluaran umum yang balas jasanya tidak langsung
diberikan sedang pelaksanannya bisa dapat dipaksakan.
2. Hasil retribusi daerah
Pungutan yang telah secara sah menjadi pungutan daerah sebagai
pembayaran pemakaian atau karena memperoleh jasa atau karena
memperoleh jasa pekerjaan, usaha atau milik pemerintah daerah
bersangkutan.
Retribusi daerah mempunyai sifat-sifat yaitu pelaksanaannya bersifat
ekonomis,ada imbalan langsung walau harus memenuhi persyaratan-
persyaratan formil dan materiil, tetapi ada alternatif untuk mau tidak
membayar, merupakan pungutan yang sifatnya budgetetairnya tidak
menonjol, dalam hal-hal tertentu retribusi daerah adalah pengembalian
biaya yang telah dikeluarkan oleh pemerintah daerah untuk memenuhi
permintaan anggota masyarakat.
3. Hasil perusahaan milik daerah dan hasil pengelolaan kekayaan daerah
yang dipisahkan.
Hasil perusahaan milik daerah merupakan pendapatan daerah dari
keuntungan bersih perusahaan daerah yang berupa dana pembangunan
daerah dan bagian untuk anggaran belanja daerah yang disetor ke kas
11
daerah, baik perusahaan daerah yang dipisahkan,sesuai dengan motif
pendirian dan pengelolaan, maka sifat perusahaan dareah adalah suatu
kesatuan produksi yang bersifat menambah pendapatan daerah, memberi
jasa, menyelenggarakan kemamfaatan umum, dan memperkembangkan
perekonomian daerah.
4. Lain-lain pendapatan daerah yang sah ialah pendapatan-pendapatan yang
tidak termasuk dalam jenis-jenis pajak daerah, retribusi daerah,
pendapatan dinas-dinas.
Lain-lain usaha daerah yang sah mempunyai sifat yang pembuka bagi
pemerintah daerah untuk melakukan kegiatan yang menghasilkan baik
berupa materi dalam kegitan tersebut bertujuan untuk menunjang,
melapangkan, atau memantapkan suatu kebijakan daerah disuatu bidang
tertentu.
2.3 Keuangan Daerah
Menurut Mamesh dalam Halim, “Keuangan daerah adalah semua hak dan
kewajiban yang dapat dinilai dengan uang”, demikian pula segala sesuatu
baik berupa uang maupun barang yang dapat dijadikan kekayaan daerah
sepanjang belum dimiliki atau dikuasai oleh negara atau daerah yang lebih
tinggi serta pihak-pihak lain sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan
yang berlaku.
Keuangan daerah memiliki lingkup yang terdiri atas keuangan daerah yang
dikelola langsung dan kekayaan daerah yang dipisahkan. Keuangan daerah
yang dikelola langsung adalah Anggaran Pendapatan Belanja Daerah
12
(APBD) dan barang-barang inventaris milik daerah. Keuangan daerah yang
dipisahkan meliputi Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).
Keuangan daerah dikelola melalui manajemen keuangan daerah. Jadi
manajemen keuangan daerah adalah pengorganisasian dan pengelolaan
sumber-sumber daya atau kekayaan yang ada pada suatau daerah untuk
mencapai tujuan yang dikehendaki daerah tersebut. Manajemen keuangan
daerah pengelolaannya terdiri atas pengurusan umum dan pengurusan
khusus. Pengurusan umum berkaitan dengan APBD, dan kepengurusan
khusus berkaitan dengan barang-barang inventaris kekayaan daerah.
Manajemen keuangan daerah juga dapat pula dilihat dari segi tata usaha atau
administrasi keuangan daerah.
Keuangan daerah mempunyai hak dan kewajiban. Hak-hak dari keuangan
daerah yang bersumber dari penerimaan daerah seperti pajak daerah, retribusi
daerah, hasil perusahan milik daerah, dan lain-lain, ataupun hak untuk
menerima sumber-sumber penerimaan lain.
Hak-hak tersebut akan meningkatkan keuangan daerah. Kewajiban dari
keuangan daerah yakni semua kewajiban mengeluarkan uang untuk
membayar tagihan-tagihan kepada daerah dalam rangka penyelenggaraan
fungsi pemerintahan, infrastruktur, pelayanan umum, dan pengembangan
ekonomi.
2.3.1 Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah
Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah adalah keluaran/hasil dari
kegiatan/program yang akan atau telah dicapai sehubungan dengan
13
penggunaan anggaran daerah dengan kuantitas dan kualitas yang terukur,
kemampuan daerah dapat diukur dengan menilai efisiensi atas pelayanan
yang diberikan kepada masyarakat (Hendro Sumarjo,2010).
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa Kinerja
Keuangan Pemerintah Daerah adalah tingkat capaian dari suatu hasil kerja
di bidang keuangan daerah yang meliputi anggaran dan realisasi anggaran
dengan menggunakan indikator keuangan yang ditetapkan melalui suatu
kebijakan atau ketentuan perundang-undangan selama periode anggaran.
Organisasi sektor publik yang salah satunya pemerintah merupakan
organisasi yang bertujuan memberikan pelayanan publik kepada
masyarakat dengan sebaik-baiknya, misalnya dalam bidang pendidikan,
kesehatan, keamanan, penegakan hukum, transportasi dan sebagainya.
Pelayanan publik diberikan kepada masyarakat yang merupakan salah satu
stakeholder organisasi sektor publik, oleh karena itu Pemerintah Daerah
wajib menyampaikan laporan pertanggung jawaban kepada DPRD selaku
wakil rakyat di pemerintahan. Dengan asumsi tersebut dapat dikatakan
bahwa Pemerintah Daerah membutuhkan sistem pengukuran kinerja yang
bertujuan untuk membantu manajer publik untuk menilai pencapaian suatu
strategi melalui alat ukur finansial dan non finansial. Sistem pengukuran
kinerja sendiri dapat dijadikan sebagai alat pengendalian organisasi.
Kinerja yang baik bagi Pemerintah Daerah dicapai ketika administrasi dan
penyediaan jasa oleh Pemerintah Daerah dilakukan pada tingkat yang
ekonomis, efektif dan efisien.
14
Ada beberapa kriteria yang dapat dijadikan ukuran untuk mengetahui
kemampuan pemerintah daerah dalam mengatur rumah tangganya sendiri :
1. Kemampuan Struktural Organisasinya
Struktur organisasi Pemerintah Daerah harus mampu menampung
segala aktivitas dan tugas tugas yang menjadi beban dan tanggung
jawabnya, jumlah unit-unit beserta macamnya cukup mencerminkan
kebutuhan, pembagian tugas wewenang dan tanggung jawab yang
cukup jelas.
2. Kemampuan Aparatur Pemerintah Daerah
Aparat Pemerintah Daerah harus mampu menjalankan tugasnya dalam
mengatur dan mengurus rumah tangga daerahnya. Keahlian, moral,
disiplin dan kejujuran saling menunjang tercapainya tujuan yang
diidam-idamkan oleh daerah.
3. Kemampuan Mendorong Partisipasi Masyarakat
Pemerintah Daerah harus mendorong agar masyarakat mau berperan
serta dalam kegiatan pembangunan.
4. Kemampuan Keuangan Daerah
Pemerintah Daerah harus mampu membiayai semua kegiatan
pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan sebagai pelaksanaan
pengaturan dan pengurusan rumah tangganya sendiri. Untuk itu
kemampuan keuangan daerah harus mampu mendukung terhadap
pembiayaan kegiatan pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan.
15
2.3.2 Tujuan Pengukuran Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah
Pengukuran Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah dilakukan untuk memenuhi
tiga tujuan yaitu (Mardiasmo, 2002: 121) :
1. Memperbaiki kinerja Pemerintah Daerah
2. Membantu mengalokasikan Sumber Daya dan pembuatan keputusan
3. Mewujudkan pertanggungjawaban publik dan memperbaiki komunikasi
kelembagaan
Pengukuran Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah dilakukan untuk digunakan
sebagai tolok ukur dalam (Abdul Halim 2007:230) :
1. Menilai kemandirian keuangan daerah dalam mebiayai penyelenggaraan
otonomi daerah
2. Mengukur efektivitas dan efisiensi dalam merealisasikan pendapatan
daerah
3. Mengukur sejauh mana aktivitas pemerintah daerah dalam membelanjakan
pendaptan daerahnya
4. Mengukur kontribusi masing-masig sumber pendapatan dalam
pembentukan pemerintah daerah
5. Melihat pertumbuhan atau perkembangan perolehan pendapatan dan
pengeluaran yang dilakukan selama periode waktu tertentu
2.4 Analisis Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah
Pemerintah Daerah sebagai pihak yang diberikan tugas menjalankan
pemerintahan,pembangunan dan pelayanan masyarakat wajib melaporkan
pertanggungjawaban keuangan atas sumber daya yang dihimpun dari
16
masyarakat sebagai dasar penilaian kinerja keuangannya. Salah satu alat untuk
menganalisis Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah dalam mengelola keuangan
daerahnya adalah dengan melakukan analisis keuangan terhadap APBD yang
telah ditetapkan dan dilaksanakannya (Abdul Halim, 2007: 231).
Adapun pihak-pihak yang berkepentingan dengan Rasio Keuangan Pemerintah
Daerah :
1. Pihak eksekutif sebagai landasan dalam menyusun APBD berikunya
2. Pemrintah pusat provinsi/pusat sebagai masukan dalam membina
pelaksanaan pengelolaan keuangan daerah
3. Masyarakat dan kreditur, sebagai pihak yang akan turut memiliki saham
pemerintah daerah, bersedia memberi pinjaman maupun membli obligasi
Dengan demikian setiap Pemerintah Daerah untuk mengukur Kinerja Keuangan
Daerahnya menggunakan beberapa Rasio Kinerja Keuangan Daerah yang antara
lain : Rasio Derajat Desentralisasi Fiskal, Rasio Kemandirian Keuangan Dearah,
Rasio Efektivitas PAD, Rasio Efisiensi Keuangan Daerah, dan Rasio Keserasian.
a. Rasio Derajat Desentralisasi Fiskal
Rasio Derajat Desentralisasi Fiskal dihitung berdasarkan perbandingan
antara jumlah Pendapatan Asli Daerah (PAD) dengan Total Pendapatan
Daerah. Rasio ini menunjukkan derajat kontribusi PAD terhadap Total
Pendapatan Daerah. Semakin tinggi kontribusi PAD maka semakin
17
tinggi kemampuan pemerintah daerah dalam penyelenggaraan
desentralisasi.
b. Rasio Kemandirian
Rasio Kemandirian Keuangan Daerah (RKKD) menunjukkan tingkat
kemampuan suatu daerah dalam membiayai sendiri kegiatan
pemerintah, pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat yang telah
membayar pajak dan retribusi sebagai sumber pendapatan yang
diperlukan daerah. Rasio Kemandirian Keuangan Daerah ditunjukkan
oleh besarnya Pendapatan Asli Daerah dibandingkan dengan
Pendapatan Daerah yang berasal dari sumber lain (Pendapatan Transfer)
antara lain : Bagi hasil pajak, Bagi hasil bukan pajak sumber daya alam,
Dana alokasi umum dan Alokasi khusus, Dana darurat dan pinjaman
c. Rasio Efektivitas Pendapatan Asli Daerah
Rasio Efektivitas PAD menggambarkan kemampuan pemerintah daerah
dalam merealisasikan PAD yang direncanakan dibandingkan dengan
target yang ditetapkan berdasarkan potensi riil daerah. Semakin tinggi
Rasio Efektivitas PAD, maka semakin baik kinerja pemerintah daerah.
d. Rasio Efisiensi Keuangan Daerah
Rasio Efisiensi Keuangan Daerah (REKD) menggambarkan
perbandingan antara besarnya biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh
pendapatan dengan realisasi pendapatan yang diterima. Kinerja Keuangan
Pemerintahan Daerah dalam melakukan pemungutan pendapatan
dikategorikan efisien apabila rasio yang dicapai kurang dari 1 (satu) atau
18
di bawah 100%. Semakin kecil Rasio Efisiensi Keuangan Daerah berarti
Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah semakin baik.
Untuk itu pemerintah daerah perlu menghitung secara cermat berapa
besar biaya yang dikeluarkan untuk merealisasikan seluruh pendapatan
yang diterimanya sehingga dapat diketahui apakah kegiatan pemungutan
pendapatannya tersebut efisien atau tidak. Hal itu perlu dilakukan karena
meskipun pemerintah daerah berhasil merealisasikan target penerimaan
pendapatan sesuai dengan target yang ditetapkan, namun keberhasilan itu
kurang memiliki arti apabila ternyata biaya yang dikeluarkan untuk
merealisasikan target penerimaan pendapatannya itu lebih besar daripada
realisasi pendapatan yang diterimanya