MARYATIM
MARYATIM
DISUSUN OLEH:
MARYATIM
NPM 2025 01 23 219
DOSEN PEMBIMBING :
NS. ARMINA, [Link]., [Link] (KOORDINATOR)
NS. NURFITRIANI, [Link] (ANGGOTA)
NS. MAIMAZNAH, [Link] (ANGGOTA)
C. ETIOLOGI
Demam tifoid merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri
Salmonella enterica serovar Typhi (Salmonella typhi), yaitu bakteri gram
negatif berbentuk batang yang bersifat fakultatif anaerob dan memiliki
kemampuan untuk menginvasi serta bertahan hidup di dalam sel inang
(intraseluler).
Menurut World Health Organization (2023), Salmonella typhi
ditularkan melalui jalur fekal-oral, yaitu melalui konsumsi makanan atau
minuman yang telah terkontaminasi oleh feses atau urin penderita atau carrier.
Penularan ini sangat berkaitan dengan kondisi sanitasi lingkungan yang buruk,
kebersihan pribadi yang rendah, serta akses air bersih yang terbatas.
Selain itu, Centers for Disease Control and Prevention (2024)
menyatakan bahwa sumber infeksi utama berasal dari:
1. Penderita aktif yang sedang mengalami gejala tifoid
2. Carrier (pembawa kronis) yang tidak menunjukkan gejala tetapi tetap
mengeluarkan bakteri melalui feses atau urin
Faktor-faktor yang berperan dalam terjadinya infeksi demam tifoid
antara lain:
1. Kontaminasi makanan dan minuman
Makanan yang tidak dimasak dengan baik atau air yang tidak bersih menjadi
media utama penularan bakteri.
2. Sanitasi lingkungan yang buruk
Sistem pembuangan limbah yang tidak memadai meningkatkan risiko
penyebaran bakteri.
3. Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) yang rendah
Kebiasaan tidak mencuci tangan sebelum makan atau setelah buang air
besar.
4. Kepadatan penduduk
Lingkungan padat mempermudah penyebaran penyakit menular.
5. Daya tahan tubuh yang menurun
Individu dengan imunitas rendah lebih rentan terinfeksi.
6. Akses air bersih yang terbatas
Penggunaan air yang terkontaminasi meningkatkan risiko infeksi.
Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2022), demam
tifoid masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di negara berkembang,
termasuk Indonesia, karena faktor sanitasi, higiene, dan perilaku masyarakat
yang belum optimal.
Menurut Valman (2022) Penyebab penyakit ini adalah bakteri
Salmonella typhi. Infeksi umumnya diperoleh dari makanan atau air yang
terkontaminasi bakteri dari tinja yang terinfeksi
Etiologi penyakit demam typhoid menurut Rampengan (2018)
disebabkan oleh infeksi kuman Salmonella typhos atau Eberthella typhosa
yang merupakan kuman gram negative, motil dan tidak menghasilkan spora.
Kuman ini dapat hidup baik sekali pada suhu tubuh manusia maupun suhu
yang sedikit lebih rendah, serta mati pada suhu 70˚c ataupun oleh antiseptik.
Sampai saat ini, diketahui bahwa kuman ini hanya menyerang manusia.
Salmonella typhosa mempunyai 3 macam antigen, yaitu :
1. Antigen O = Ohne Hauch = antigen somatic (tidak menyebar).
2. Antigen H = Hauch (menyebar), terdapat pada flgela dan bersifat
termolabil.
3. Antigen V1 = Kapsul = merupakan kapsul yang meliputi tubuh kuman dan
melindungi antigen O terhadap fagositosis.
Ketiga jenis antigen tersebut di dalam tubuh manusia akan
menimbulkan pembentukan tiga macam antibodi yang lazim disebut
agglutinin. Salmonella typhosa juga memperoleh plasmid faktor-R yang
berkaitan dengan resistensi terhadap multiple antibiotic.
Ada 3 spesies utama, yaitu :
1. Salmonella typhosa (satu serotipe).
2. Salmonella choleraesius (satu serotipe).
3. Salmonella enteretidis (lebih dari 1500 serotipe).
D. PATOFISIOLOGI
Demam tifoid merupakan penyakit infeksi sistemik yang disebabkan
oleh bakteri Salmonella enterica serovar Typhi (Salmonella typhi) yang
ditularkan melalui jalur fekal-oral, yaitu melalui konsumsi makanan atau
minuman yang terkontaminasi oleh feses atau urin penderita maupun carrier
(Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2022). Bakteri ini termasuk
bakteri gram negatif berbentuk batang yang memiliki flagela, bersifat fakultatif
intraseluler, dan memiliki virulensi tinggi karena mampu bertahan hidup di
dalam sel fagosit (World Health Organization, 2023). Setelah masuk ke dalam
tubuh melalui rongga mulut, bakteri akan melewati lambung. Sebagian besar
bakteri akan dimusnahkan oleh asam lambung, namun bakteri yang mampu
bertahan terhadap keasaman lambung akan melanjutkan perjalanan menuju
usus halus, khususnya ileum terminal yang merupakan lokasi utama kolonisasi
(Suriadi, 2022).
Setelah mencapai usus halus, bakteri Salmonella typhi akan berinteraksi
dengan mukosa usus dan menempel pada permukaan sel epitel. Proses invasi
dimediasi oleh kemampuan bakteri dalam menginduksi endositosis melalui sel
M (microfold cells) yang terdapat pada plak Peyer. Sel M merupakan bagian
dari sistem imun mukosa yang berfungsi sebagai jalur transport antigen dari
lumen usus ke jaringan limfoid di bawahnya. Bakteri kemudian masuk ke
dalam jaringan limfoid usus dan mengalami fagositosis oleh sel makrofag.
Namun demikian, berbeda dengan bakteri lain, Salmonella typhi memiliki
mekanisme khusus untuk bertahan hidup di dalam makrofag dengan cara
menghambat fusi fagosom dengan lisosom serta memodifikasi lingkungan
intraseluler agar mendukung replikasi bakteri (Widodo, 2021).
Selanjutnya, bakteri yang telah berkembang biak di dalam makrofag
akan dibawa melalui sistem limfatik menuju kelenjar getah bening
mesenterika. Pada tahap ini terjadi multiplikasi bakteri secara lokal tanpa
menimbulkan gejala klinis yang khas. Setelah jumlah bakteri meningkat,
bakteri akan masuk ke dalam aliran darah dan menyebabkan bakteremia
primer. Bakteremia primer ini biasanya terjadi pada minggu pertama infeksi
dan seringkali bersifat asimtomatik atau hanya menimbulkan gejala ringan
seperti malaise dan demam ringan (Centers for Disease Control and
Prevention, 2024).
Bakteri yang berada dalam aliran darah kemudian akan menyebar ke
berbagai organ yang termasuk dalam sistem retikuloendotelial, seperti hati,
limpa, dan sumsum tulang. Di organ-organ ini, bakteri kembali mengalami
fagositosis oleh makrofag jaringan, namun tetap mampu bertahan hidup dan
berkembang biak di dalamnya. Proses multiplikasi yang intensif di organ
retikuloendotelial menyebabkan peningkatan jumlah bakteri secara signifikan.
Pada hati, bakteri dapat menginfeksi sel Kupffer, sedangkan pada limpa
menyebabkan hiperplasia jaringan limfoid, dan pada sumsum tulang dapat
mengganggu proses hematopoiesis (Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia, 2022).
Setelah periode multiplikasi di organ retikuloendotelial, bakteri akan
dilepaskan kembali ke dalam aliran darah dalam jumlah yang lebih besar
sehingga terjadi bakteremia sekunder. Fase ini merupakan fase klinis yang
paling nyata, dimana pasien mulai menunjukkan gejala khas demam tifoid
seperti demam tinggi yang berlangsung lebih dari satu minggu, seringkali
dengan pola meningkat bertahap (step ladder), disertai gejala lain seperti sakit
kepala, lemah, anoreksia, nyeri perut, serta gangguan pencernaan berupa
konstipasi atau diare (World Health Organization, 2023).
Pada fase bakteremia sekunder, bakteri Salmonella typhi menghasilkan
endotoksin berupa lipopolisakarida (LPS) yang merupakan komponen dinding
sel bakteri gram negatif. Endotoksin ini akan merangsang sistem imun tubuh
untuk melepaskan berbagai mediator inflamasi seperti interleukin (IL-1, IL-6),
tumor necrosis factor-alpha (TNF-α), dan interferon. Pelepasan mediator
inflamasi ini berperan penting dalam timbulnya gejala sistemik seperti demam,
malaise, dan gangguan metabolik. Selain itu, endotoksin juga dapat
mempengaruhi pusat pengatur suhu di hipotalamus sehingga menyebabkan
peningkatan suhu tubuh yang khas pada demam tifoid (Widodo, 2021).
Selanjutnya, bakteri yang berada dalam sirkulasi darah akan masuk ke
kandung empedu dan berkembang biak di dalam empedu. Dari kandung
empedu, bakteri akan diekskresikan kembali ke dalam usus melalui aliran
empedu. Proses ini menyebabkan reinfeksi pada usus halus, khususnya pada
plak Peyer di ileum terminal. Reinfeksi ini menyebabkan terjadinya proses
inflamasi yang berulang dan progresif pada jaringan limfoid usus. Akibatnya
terjadi hiperplasia jaringan limfoid, yang kemudian diikuti oleh nekrosis dan
ulserasi mukosa usus (Centers for Disease Control and Prevention, 2024).
Ulserasi yang terjadi pada plak Peyer dapat semakin meluas dan
menyebabkan kerusakan dinding usus. Pada kondisi yang berat, kerusakan ini
dapat menembus seluruh lapisan dinding usus sehingga menyebabkan perforasi
usus. Selain itu, ulserasi juga dapat merusak pembuluh darah di sekitar usus
sehingga menyebabkan perdarahan saluran cerna. Kedua komplikasi ini
merupakan komplikasi serius yang dapat mengancam jiwa apabila tidak segera
ditangani (World Health Organization, 2023).
Selain menyebabkan kerusakan pada saluran pencernaan, penyebaran
bakteri secara sistemik juga dapat mempengaruhi berbagai organ lain seperti
sistem saraf pusat, jantung, dan ginjal. Pada sistem saraf pusat, dapat terjadi
gangguan kesadaran seperti delirium atau bahkan koma pada kasus yang berat.
Kondisi ini sering dikenal dengan istilah “typhoid state”. Pada jantung dapat
terjadi miokarditis, sedangkan pada ginjal dapat terjadi gangguan fungsi ginjal
akibat efek toksik dan inflamasi sistemik (Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia, 2022).
Respons imun tubuh terhadap infeksi Salmonella typhi melibatkan
imunitas humoral dan seluler. Imunitas humoral ditandai dengan pembentukan
antibodi terhadap antigen O (somatik), H (flagela), dan Vi (kapsular) dari
bakteri. Antibodi ini berperan dalam proses opsonisasi dan membantu
fagositosis bakteri. Sementara itu, imunitas seluler melibatkan aktivasi limfosit
T dan makrofag yang berperan dalam menghancurkan bakteri intraseluler.
Namun demikian, kemampuan bakteri untuk bertahan hidup di dalam sel
menyebabkan respons imun seringkali tidak efektif sepenuhnya (Widodo,
2021).
Pada beberapa individu, terutama yang tidak mendapatkan terapi
antibiotik yang adekuat, bakteri dapat menetap di dalam tubuh, khususnya di
kandung empedu, dan menyebabkan kondisi carrier kronis. Carrier kronis
merupakan individu yang tidak menunjukkan gejala klinis tetapi tetap
mengeluarkan bakteri melalui feses atau urin, sehingga berperan sebagai
sumber penularan di masyarakat. Kondisi ini sering terjadi pada individu
dengan kelainan pada kandung empedu seperti batu empedu (Centers for
Disease Control and Prevention, 2024).
Perjalanan penyakit demam tifoid secara klinis biasanya berlangsung
dalam beberapa minggu. Pada minggu pertama, terjadi bakteremia primer
dengan gejala demam ringan yang meningkat secara bertahap. Pada minggu
kedua, terjadi bakteremia sekunder dengan gejala yang lebih berat seperti
demam tinggi, gangguan pencernaan, dan hepatosplenomegali. Pada minggu
ketiga, apabila tidak ditangani, dapat terjadi komplikasi serius seperti
perdarahan usus, perforasi usus, dan gangguan kesadaran. Sedangkan pada
minggu keempat, pasien mulai memasuki fase penyembuhan apabila
mendapatkan penanganan yang adekuat (World Health Organization, 2023).
Dengan demikian, patofisiologi demam tifoid merupakan proses yang
kompleks dan berkesinambungan, dimulai dari masuknya bakteri melalui
saluran pencernaan, invasi ke jaringan limfoid usus, penyebaran melalui sistem
limfatik dan aliran darah, multiplikasi di organ retikuloendotelial, hingga
menyebabkan respons inflamasi sistemik dan kerusakan jaringan yang dapat
menimbulkan berbagai komplikasi. Kompleksitas proses ini menunjukkan
pentingnya deteksi dini dan penatalaksanaan yang tepat untuk mencegah
terjadinya komplikasi yang dapat membahayakan jiwa pasien.
Berbeda dengan pendapat sebelumnya Ngastiyah (2022) menjelaskan
bahwa Penyakit typhoid adalah penyakit menular yang sumber infeksinya
berasal dari feses dan urine, sedangkan lalat sebagai pembawa atau penyebar
dari kuman tersebut
Kuman masuk melalui mulut. Sebagian kuman akan dimusnahkan
dalam lambung oleh asam lambung dan sebagian lagi masuk ke usus halus, ke
jaringan limfoid dan berkembang biak menyerang vili usus halus kemudian
kuman masuk ke peredaran darah (bakterimia primer), dan mencapai sel-sel
retikulo endoteleal, hati, limpa dan organ-organ lainnya ( Suriadi, 2022).
Proses ini terjadi dalam masa tunas dan akan berakhir saat sel-sel
retikulo endotelial melepaskan kuman ke dalam peredaran darah dan
menimbulkan bakterimia untuk kedua kalinya. Selanjutnya kuman masuk ke
beberapa jaringan organ tubuh, terutama limpa, usus dan kandung empedu.
Pada minggu pertama sakit, terjadi Hiperplasia plaks player. Ini terjadi pada
kelenjar limfoid usus halus. Minggu ke dua terjadi nekrosis dan pada minggu
ke tiga terjadi Ulserasi plaks player. Pada minggu keempat terjadi
penyembuhan ulkus yang dapat menimbulkan sikatrik. Ulkus dapat
menyebabkan perdarahan, bahkan sampai perforasi usus. Selain itu hepar,
kelenjar mesentrial dan limpa membesar. Gejala demam disebabkan oleh
endotoksil, sedangkan gejala pada saluran pencernaan disebabkan oleh
kelaianan pada usus halus (Suriadi, 2022).
Perjalanan penyakit demam typhoid juga di sampaikan oleh Rohim
(2022) adalah: pada fase awal demam typhoid biasa ditemukan adanya gejala
saluran napas atas. Ada kemungkinan sebagian kuman ini masuk ke dalam
peredaran darah melalui jaringan limfoid di faring. Terbukti dalam suatu
penelitian bahwa Salmonella typhi berhasil diisolasi dari jaringan tonsil
penderita demam typhoid, walaupun pada Salmonella typhi percobaan lain
seseorang yang berkumur dengan air yang mengandung hidup ternyata tidak
menjadi terinfeksi. Pada tahap awal ini penderita juga sering mengeluh nyeri
telan yang disebabkan karena kekeringan mukosa mulut. Lidah tampak kotor
tertutup selaput berwarna putih sampai kecoklatan yang merupakan sisa
makanan, sel epitel mati dan bakteri, kadang- kadang tepi lidah tampak
hiperemis dan tremor. Bila terjadi infeksi dari nasofaring melalui saluran tuba
eustachi ke telinga tengah dan hal ini dapat terjadi otitis media.
Perubahan pada jaringan limfoid didaerah ileocecal yang timbul selama
demam typhoid dapat dibagi menjadi empat tahap, yaitu: hyperplasia, nekrosis
jaringan, ulserasi, dan penyembuhan. Adanya perubahan pada nodus peyer
tersebut menyebabkan penderita mengalami gejala intestinal yaitu nyeri perut,
diare, perdarahan dan perforasi. Diare dengan gambaran pea soup merupakan
karakteristik yang khas, dijumpai dari 50% kasus dan biasanya timbul pada
minggu kedua. Karena respon imunologi yang terlibat dalam patogenesis
demam typhoid adalah sel mononuklear maka keterlibatan sel poli morfo
nuclear hanya sedikit dan pada umumnya tidak terjadi pelepasan prostaglandin
sehingga tidak terjadi aktivasi adenil siklase. Hal ini menerangkan mengapa
pada serotipe invasif tidak didapatkan adanya diare. Tetapi bila terjadi diare
seringkali hal ini mendahului fase demam enterik. Penulis lain mengatakan
bahwa diare dapat terjadi oleh karena toksin yang berhubungan dengan toksin
kolera dan enterotoksin E. coli yang peka terhadap panas.
Nyeri perut pada demam typhoid dapat bersifat menyebar atau
terlokalisir di kanan bawah daerah ileum terminalis. Nyeri ini disebabkan
karena mediator yang dihasilkan pada proses inflamasi (histamine, bradikinin,
dan serotonin) merangsang ujung saraf sehingga menimbulkan rasa nyeri.
Selain itu rasa nyeri dapat disebabkan karena peregangan kapsul yang
membungkus hati dan limpa karena organ tersebut membesar.
Perdarahan dapat timbul apabila proses nekrosis sudah mengenai
lapisan mukosa dan submukosa sehingga terjadi erosi pada pembuluh darah.
Konstipasi dapat terjadi pada ulserasi tahap lanjut, dan merupakan tanda
prognosis yang baik. Ulkus biasanya menyembuh sendiri tanpa meninggalkan
jaringan parut, tetapi ulkus dapat menembus lapisan serosa sehingga terjadi
perforasi. Pada keadaan ini tampak adanya distensi abdomen. Distensi
abdomen ditandai dengan meteorismus atau timpani yang disebabkan
konstipasi dan penumpukan tinja atau kurangnya tonus pada lapisan otot
intestinal atau lambung.
E. MANIFESTASI KLINIK
Manifestasi klinik demam tifoid merupakan representasi dari proses
infeksi sistemik yang disebabkan oleh bakteri Salmonella enterica serovar
Typhi yang memiliki kemampuan untuk menginvasi mukosa usus dan
menyebar melalui sistem retikuloendotelial ke seluruh tubuh (Crump, 2022).
Gambaran klinis penyakit ini bersifat polimorfik, artinya dapat menunjukkan
variasi gejala yang luas tergantung pada interaksi antara faktor bakteri dan
respons imun host (Butler, 2021). Variasi manifestasi ini dipengaruhi oleh
jumlah inokulum bakteri, virulensi strain, status imun individu, serta adanya
penyakit penyerta yang dapat memperberat perjalanan penyakit (Parry, 2022).
Gejala klinik demam tifoid umumnya berkembang secara bertahap dan
tidak spesifik pada fase awal sehingga seringkali menyerupai penyakit infeksi
lain (Ryan, 2021). Pada fase awal infeksi, pasien biasanya mengalami keluhan
umum seperti rasa tidak enak badan, kelelahan, dan penurunan aktivitas yang
berkaitan dengan respons inflamasi sistemik (Murray, 2021). Kondisi ini sering
diabaikan oleh pasien karena dianggap sebagai kelelahan biasa atau infeksi
ringan (Papadakis, 2022).
Demam merupakan manifestasi utama yang paling konsisten ditemukan
pada demam tifoid (Jameson, 2022). Pola demam khas yang sering dijumpai
adalah peningkatan suhu tubuh secara bertahap dari hari ke hari yang dikenal
sebagai step ladder pattern (Kasper, 2022). Demam biasanya lebih tinggi pada
sore dan malam hari serta tidak kembali ke suhu normal pada pagi hari, yang
menunjukkan adanya proses inflamasi sistemik yang persisten (Fauci, 2022).
Mekanisme terjadinya demam berkaitan dengan pelepasan pirogen endogen
seperti interleukin-1 dan tumor necrosis factor yang dipicu oleh endotoksin
bakteri (Abbas, 2021).
Selain demam, pasien sering mengalami gejala sistemik berupa malaise,
lemah, dan kelelahan yang signifikan (Goldman, 2021). Gejala ini terjadi
akibat gangguan metabolisme energi tubuh yang disebabkan oleh respons
inflamasi kronis (Walker, 2022). Penderita juga sering mengeluhkan sakit
kepala yang bersifat difus serta pusing, yang disebabkan oleh efek toksik
bakteri terhadap sistem saraf pusat (Bennett, 2021). Pada beberapa kasus,
ditemukan gangguan tidur berupa insomnia atau tidur yang tidak nyenyak
akibat ketidaknyamanan sistemik (Carroll, 2021).
Manifestasi pada sistem pencernaan merupakan komponen utama
dalam gambaran klinis demam tifoid (Longo, 2021). Pasien umumnya
mengalami anoreksia yang signifikan sehingga menyebabkan penurunan
asupan nutrisi (Harrison, 2022). Kondisi ini diperburuk oleh adanya mual dan
muntah yang sering menyertai perjalanan penyakit (Hammer, 2021). Nyeri
perut merupakan gejala yang sering dilaporkan, terutama pada regio
epigastrium atau kuadran kanan bawah, yang berkaitan dengan inflamasi pada
ileum terminal (Kumar, 2022).
Perubahan pola buang air besar merupakan manifestasi penting lainnya
(Mitchell, 2022). Pada anak-anak lebih sering ditemukan diare akibat
peningkatan sekresi cairan usus, sedangkan pada orang dewasa lebih sering
terjadi konstipasi akibat penurunan motilitas usus (Robbins, 2021). Gangguan
ini mencerminkan adanya disfungsi mukosa usus akibat invasi bakteri dan
respon inflamasi lokal (Cotran, 2022).
Pada pemeriksaan fisik, tanda khas yang sering ditemukan adalah lidah
tifoid (typhoid tongue) (McPhee, 2021). Lidah tampak kotor dengan lapisan
putih atau kecoklatan di bagian tengah, sedangkan tepi dan ujung lidah tampak
hiperemis (Tierney, 2021). Selain itu, bibir sering tampak kering dan pecah-
pecah sebagai akibat dari dehidrasi dan demam yang berkepanjangan (Porter,
2022). Bau mulut yang tidak sedap juga dapat ditemukan akibat gangguan
pencernaan dan kebersihan oral yang menurun (Davidson, 2021).
Manifestasi lain yang penting adalah pembesaran hati (hepatomegali)
dan limpa (splenomegali) (Ralston, 2022). Hepatomegali terjadi akibat
infiltrasi bakteri dan aktivasi sel Kupffer di hati (Colledge, 2021).
Splenomegali terjadi akibat proliferasi jaringan limfoid sebagai respons
terhadap infeksi sistemik (Flint, 2022). Pembesaran organ ini dapat disertai
dengan nyeri tekan ringan pada abdomen (Mims, 2021).
Pada sebagian pasien, ditemukan manifestasi kulit berupa rose spots
(Cook, 2021). Lesi ini berupa makula eritematosa kecil yang muncul pada
daerah dada dan abdomen (Heymann, 2022). Rose spots terjadi akibat
embolisasi bakteri ke kapiler kulit dan reaksi inflamasi lokal (Cohen, 2021).
Meskipun tidak selalu ditemukan, keberadaan rose spots dapat menjadi
petunjuk diagnostik yang penting (Sherris, 2022).
Seiring dengan progresivitas penyakit, terutama pada minggu kedua,
gejala klinis menjadi lebih berat (Gillespie, 2021). Pasien dapat mengalami
gangguan kesadaran berupa apatis, somnolen, hingga delirium (Warrell, 2022).
Kondisi ini dikenal sebagai typhoid state yang mencerminkan keterlibatan
sistem saraf pusat akibat efek toksik dan inflamasi sistemik (Oxford Handbook,
2021). Pada kondisi yang lebih berat, dapat terjadi penurunan kesadaran hingga
koma (Bailey, 2022).
Komplikasi pada sistem pencernaan merupakan manifestasi lanjut yang
serius (Forbes, 2021). Ulserasi pada plak Peyer dapat menyebabkan perdarahan
saluran cerna yang ditandai dengan melena (Jawetz, 2022). Pada kondisi yang
lebih berat, dapat terjadi perforasi usus yang menyebabkan peritonitis dan
memerlukan intervensi bedah segera (Ganong, 2021). Komplikasi ini
merupakan penyebab utama mortalitas pada demam tifoid yang tidak
tertangani (Hall, 2022).
Selain itu, manifestasi klinik juga dapat melibatkan berbagai sistem
organ lain (West, 2021). Pada sistem kardiovaskular, ditemukan bradikardia
relatif atau fenomena Faget (Boron, 2022). Pada sistem pernapasan, dapat
muncul batuk kering akibat iritasi saluran napas (Katzung, 2021). Pada sistem
ginjal, dapat terjadi gangguan fungsi ginjal ringan akibat efek toksik
endotoksin (Goodman, 2022).
Perjalanan klinis demam tifoid secara klasik dibagi menjadi beberapa
fase (Brunton, 2021). Pada minggu pertama, gejala yang muncul masih ringan
dan tidak spesifik (Flint, 2022). Pada minggu kedua, gejala menjadi lebih jelas
dengan demam tinggi dan gangguan sistemik (Mims, 2021). Pada minggu
ketiga, komplikasi serius mulai muncul (Sherris, 2022). Pada minggu keempat,
pasien mulai mengalami perbaikan kondisi apabila mendapatkan terapi yang
adekuat (Cohen, 2021).
Manifestasi klinik demam tifoid dapat berbeda pada setiap individu
(Cook, 2021). Pada pasien dengan imunitas baik, gejala cenderung lebih ringan
(Heymann, 2022). Sebaliknya, pada pasien dengan imunitas rendah, gejala
dapat berkembang cepat dan berat (Cohen, 2021). Hal ini menunjukkan bahwa
faktor host sangat berperan dalam menentukan berat ringannya manifestasi
klinik (Sherris, 2022).
Dengan demikian, manifestasi klinik demam tifoid merupakan
gambaran kompleks yang melibatkan berbagai sistem organ dengan perjalanan
penyakit yang progresif (Crump, 2022). Pemahaman yang mendalam mengenai
manifestasi ini sangat penting dalam membantu tenaga kesehatan dalam
menegakkan diagnosis secara dini dan mencegah komplikasi yang dapat
mengancam jiwa (Parry, 2022).
Menurut ngastiyah (2022), demam thypoid pada anak biasanya lebih
ringan daripada orang dewasa. Masa tunas 10-20 hari, yang tersingkat 4 hari
jika infeksi terjadi melalui makanan, sedangkan jika melalui minuman yang
terlama 30 hari. Selama masa inkubasi mungkin ditemukan gejala prodromal,
perasaan tidak enak badan, lesu, nyeri, nyeri kepala, pusing dan tidak
bersemangat, kemudian menyusul gejala klinis yang biasanya ditemukan,
yaitu:
1. Demam
Pada kasus yang khas, demam berlangsung 3 minggu bersifat febris remitten
dan suhu tidak tinggi sekali. Minggu pertama, suhu tubuh berangsur-angsur
naik setiap hari, menurun pada pagi hari dan meningkat lagi pada sore dan
malam hari. Dalam minggu ketiga suhu berangsur turun dan normal
kembali.
2. Gangguan pada saluran pencernaan
Pada mulut terdapat nafas berbau tidak sedap, bibir kering dan pecah-pecah
(ragaden). Lidah tertutup selaput putih kotor (coated tongue), ujung dan
tepinya kemerahan. Pada abdomen dapat ditemukan keadaan perut
kembung. Hati dan limpa membesar disertai nyeri dan peradangan.
3. Gangguan kesadaran
Umumnya kesadaran pasien menurun, yaitu apatis sampai samnolen. Jarang
terjadi supor, koma atau gelisah (kecuali penyakit berat dan terlambat
mendapatkan pengobatan). Gejala lain yang juga dapat ditemukan pada
punggung dan anggota gerak dapat ditemukan reseol, yaitu bintik-bintik
kemerahan karena emboli hasil dalam kapiler kulit, yang ditemukan pada
minggu pertama demam, kadang-kadang ditemukan pula trakikardi dan
epistaksis.
4. Relaps
Relaps (kambuh) ialah berulangnya gejala penyakit demam thypoid, akan
tetap berlangsung ringan dan lebih singkat. Terjadi pada minggu kedua
setelah suhu badan normal kembali, terjadinya sukar diterangkan. Menurut
teori relaps terjadi karena terdapatnya basil dalam organ-organ yang tidak
dapat dimusnahkan baik oleh obat maupun oleh zat anti.
Soedarto (2017) mengemukakan bahwa manifestasi klinis klasik yang
umum ditemui pada penderita demam typhoid biasanya disebut febris remitter
atau demam yang bertahap naiknya dan berubah-ubah sesuai dengan keadaan
lingkungan dengan perincian :
1. Minggu pertama, demam lebih dari 40°C, nadi yang lemah bersifat dikrotik,
dengan denyut nadi 80-100 per menit.
2. Minggu kedua, suhu tetap tinggi, penderita mengalami delirium, lidah
tampak kering mengkilat, denyut nadi cepat. Tekanan darah menurun dan
limpa dapat diraba.
3. Minggu ketiga, jika keadaan membaik : suhu tubuh turun, gejala dan
keluhan berkurang. Jika keadaan memburuk : penderita mengalami
delirium, stupor, otot- otot bergerak terus, terjadi inkontinensia alvi dan
urine. Selain itu terjadi meteorisme dan timpani, dan tekanan perut
meningkat, disertai nyeri perut. Penderita kemudian kolaps, dan akhirnya
meninggal dunia akibat terjadinya degenerasi mikardial toksik.
4. Minggu keempat, bila keadaan membaik, penderita akan mengalami
penyembuhan meskipun pada awal minggu ini dapat dijumpai adanya
pneumonia lobar atau tromboflebitis vena femoralis.
F. PATHWAYS
I. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang pada demam tifoid memiliki peran yang sangat
penting dalam menegakkan diagnosis, menentukan derajat keparahan penyakit,
serta memantau respons terapi pada pasien (Crump, 2022). Diagnosis demam
tifoid tidak dapat hanya ditegakkan berdasarkan manifestasi klinik saja karena
gejalanya bersifat tidak spesifik dan dapat menyerupai berbagai penyakit
infeksi lain seperti malaria, dengue, atau infeksi saluran pencernaan lainnya
(Parry, 2022). Oleh karena itu, diperlukan pemeriksaan laboratorium yang
akurat dan komprehensif untuk memastikan adanya infeksi Salmonella typhi
(Butler, 2021).
Pemeriksaan laboratorium yang paling sederhana dan sering dilakukan
adalah pemeriksaan darah rutin (Jameson, 2022). Pada pemeriksaan ini, sering
ditemukan leukopenia atau jumlah leukosit yang menurun, meskipun pada
beberapa kasus dapat ditemukan leukositosis terutama jika terjadi komplikasi
sekunder (Kasper, 2022). Selain itu, dapat ditemukan anemia ringan akibat
proses inflamasi kronis serta trombositopenia ringan pada beberapa pasien
(Fauci, 2022). Perubahan hematologis ini tidak spesifik, namun dapat
memberikan gambaran awal adanya infeksi sistemik (Abbas, 2021).
Selain leukosit, pemeriksaan hitung jenis leukosit juga dapat
menunjukkan limfositosis relatif yang merupakan salah satu ciri khas pada
demam tifoid (Murray, 2021). Laju endap darah (LED) juga sering meningkat
sebagai tanda adanya proses inflamasi dalam tubuh (Papadakis, 2022). Namun
demikian, parameter ini tidak spesifik untuk demam tifoid sehingga harus
dikombinasikan dengan pemeriksaan lain (Goldman, 2021).
Pemeriksaan kultur merupakan gold standard dalam diagnosis demam
tifoid karena dapat mengidentifikasi langsung keberadaan bakteri Salmonella
typhi (Centers for Disease Control and Prevention, 2024). Kultur darah
merupakan metode yang paling sering digunakan, terutama pada minggu
pertama penyakit, dimana bakteri masih banyak beredar dalam darah (World
Health Organization, 2023). Sensitivitas kultur darah berkisar antara 40–80%
tergantung pada jumlah bakteri dan teknik pemeriksaan yang digunakan
(Crump, 2022).
Selain kultur darah, kultur sumsum tulang memiliki sensitivitas yang
lebih tinggi dibandingkan kultur darah (Parry, 2022). Pemeriksaan ini tetap
dapat mendeteksi bakteri meskipun pasien telah mendapatkan terapi antibiotik
sebelumnya (Butler, 2021). Namun, prosedur ini bersifat invasif sehingga
jarang dilakukan secara rutin dalam praktik klinis (Ryan, 2021).
Kultur feses juga dapat dilakukan untuk mendeteksi keberadaan bakteri
dalam saluran pencernaan (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2022).
Pemeriksaan ini lebih bermanfaat pada minggu kedua dan ketiga penyakit
ketika bakteri mulai diekskresikan melalui feses (Heymann, 2022). Selain itu,
kultur urin juga dapat dilakukan meskipun sensitivitasnya lebih rendah
dibandingkan kultur darah dan feses (Cohen, 2021).
Pemeriksaan serologis merupakan metode yang banyak digunakan di
fasilitas kesehatan karena lebih mudah dan cepat dibandingkan kultur (Widodo,
2021). Salah satu pemeriksaan serologis yang paling dikenal adalah uji Widal
(Kumar, 2022). Uji ini mendeteksi antibodi terhadap antigen O (somatik) dan
H (flagela) dari Salmonella typhi (Jawetz, 2022). Peningkatan titer antibodi
menunjukkan adanya infeksi, namun interpretasi hasil harus hati-hati karena
dapat dipengaruhi oleh vaksinasi, infeksi sebelumnya, atau reaksi silang
dengan bakteri lain (Forbes, 2021).
Keterbatasan uji Widal adalah rendahnya spesifisitas dan sensitivitas,
sehingga sering menimbulkan hasil positif palsu atau negatif palsu (Mogasale,
2021). Oleh karena itu, hasil uji Widal sebaiknya dikonfirmasi dengan
pemeriksaan lain yang lebih spesifik (Parry, 2022).
Pemeriksaan serologis yang lebih modern adalah Typhidot yang
mendeteksi antibodi IgM dan IgG terhadap antigen spesifik Salmonella typhi
(Crump, 2022). Pemeriksaan ini memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang
lebih baik dibandingkan uji Widal serta dapat memberikan hasil lebih cepat
(Butler, 2021). Selain itu, terdapat juga pemeriksaan Tubex TF yang
menggunakan metode inhibisi partikel untuk mendeteksi antibodi IgM (Ryan,
2021).
Metode diagnostik yang lebih canggih adalah pemeriksaan molekuler
menggunakan polymerase chain reaction (PCR) (World Health Organization,
2023). PCR mampu mendeteksi DNA bakteri secara langsung dengan
sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi (Centers for Disease Control and
Prevention, 2024). Pemeriksaan ini sangat berguna terutama pada kasus dengan
hasil kultur negatif atau pada pasien yang telah mendapatkan antibiotik (Parry,
2022). Namun, keterbatasan biaya dan fasilitas membuat pemeriksaan ini
belum широко tersedia di semua fasilitas kesehatan (Crump, 2022).
Selain pemeriksaan untuk mendeteksi bakteri, pemeriksaan fungsi
organ juga penting untuk menilai dampak infeksi terhadap tubuh (Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia, 2022). Pemeriksaan fungsi hati seperti SGOT
dan SGPT sering menunjukkan peningkatan ringan hingga sedang akibat
inflamasi pada hati (Harrison, 2022). Pemeriksaan fungsi ginjal juga perlu
dilakukan untuk menilai adanya gangguan ginjal akibat infeksi sistemik
(Boron, 2022).
Pemeriksaan radiologi jarang digunakan secara rutin, namun dapat
membantu dalam mendeteksi komplikasi (Fauci, 2022). Foto abdomen dapat
menunjukkan tanda-tanda perforasi usus seperti adanya udara bebas di rongga
peritoneum (Kasper, 2022). Ultrasonografi abdomen juga dapat digunakan
untuk menilai pembesaran hati dan limpa serta mendeteksi komplikasi
intraabdominal (Papadakis, 2022).
Dalam praktik klinis, diagnosis demam tifoid seringkali ditegakkan
berdasarkan kombinasi antara gejala klinis dan hasil pemeriksaan laboratorium
(Parry, 2022). Tidak ada satu pemeriksaan pun yang memiliki akurasi 100%,
sehingga pendekatan diagnostik harus dilakukan secara komprehensif (Crump,
2022).
Dengan demikian, pemeriksaan penunjang pada demam tifoid meliputi
berbagai metode seperti pemeriksaan hematologi, kultur, serologi, dan
molekuler yang masing-masing memiliki kelebihan dan keterbatasan (Butler,
2021). Pemilihan jenis pemeriksaan harus disesuaikan dengan kondisi pasien,
fasilitas yang tersedia, serta tujuan pemeriksaan, baik untuk diagnosis,
pemantauan terapi, maupun deteksi komplikasi (World Health Organization,
2023).
Sedangkan menurut Aru. W (2022) Pemeriksaan diagnostik menurut
meliputi:
1. Pemeriksaan Rutin
Walaupun pada pemeriksaan darah perifer lengkap sering di
temukan leukopenia dapat pula terjadi kadar leukosit normal atau
leukositosis dapat terjadi walaupun tanpa disertai infeksi sekunder. Selain
itu dapat pula ditemukan anemia ringan dan trombositopenia. Pada
pemeriksaan hitung jenis leukosit demam typhoid dapat meningkat.
SGOT dan SGPT seringkali meningkat, tetapi akan kembali normal
setelah sembuh. Kenaikan SGOT dan SGPT tidak memerlukan penanganan
khusus.
2. Kultur Darah
Hasil biakan darah yang pasif memastikan demam typhoid akan
tetapi hasil negative tidak menginginkan demam typhoid, karena mungkin
disebabkan beberapa hal sebagai berikut:
a. Telah mendapat terapi antibiotik.
b. Volume darah yang timbul kurang.
c. Riwayat vaksinasi.
3. Uji Widal.
Uji widal dilakukan untuk deteksi antibody terhadap kuman
salmonella typhi. Pada uji widal terjadi suhu reaksi aglutinasi antara antigen
kuman salmonella typhi dengan antibody disebut aglutinin. Antigen yang
digunakan pada uji widal adalah untuk menentukan adanya aglutinin
dalam serum penderita tersangka typhoid yaitu :
a. Aglutinin O (dari tubuh kuman).
b. Aglutinin H (flagella kuman).
c. Aglutinin Vi (sampai kuman).
Dari ketiga aglutinin tersebut hanya aglutinin O dan H yang
digunakan. Semakin tinggi liternya semakin besar kemungkinan terinfeksi
kuman ini.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi uji widal yaitu :
a. Pengobatan dini dengan antibiotik.
b. Gangguan pembentukan antibody dan pemberian kortikosteroid.
c. Waktu pengambilan darah.
d. Darah endemik atau non endemik.
e. Riwayat vaksinasi.
f. Reaksi anamnestik.
g. Faktor teknik pemeriksaan antar laboratorium akibat aglutinin silang
dan strain Salmonella yang digunakan untuk suspensi antigen.
J. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dalam proses keperawatan yang
bertujuan untuk mengumpulkan data secara komprehensif terkait kondisi
pasien, baik secara biologis, psikologis, sosial, maupun spiritual (Herdman
& Kamitsuru, 2021). Pada pasien dengan demam tifoid, pengkajian
dilakukan secara menyeluruh untuk mengidentifikasi masalah kesehatan
yang muncul akibat infeksi Salmonella typhi serta dampaknya terhadap
berbagai sistem tubuh (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2021).
Pengkajian pada pasien demam tifoid diawali dengan pengumpulan
data identitas pasien yang meliputi nama, umur, jenis kelamin, pekerjaan,
pendidikan, dan alamat (Doenges, 2022). Data ini penting untuk
mengetahui faktor risiko serta karakteristik individu yang dapat
mempengaruhi perjalanan penyakit (Potter & Perry, 2021).
Selanjutnya dilakukan pengkajian keluhan utama, dimana pasien
dengan demam tifoid umumnya datang dengan keluhan demam yang
berlangsung lebih dari satu minggu (Hinkle & Cheever, 2022). Selain itu,
pasien sering mengeluhkan lemah, lesu, nafsu makan menurun, serta
gangguan pencernaan seperti mual, muntah, dan nyeri perut (Ignatavicius,
2021).
Pada riwayat penyakit sekarang, dikaji secara rinci mengenai awal mula
munculnya gejala, durasi demam, pola demam (apakah meningkat
bertahap), serta gejala penyerta lainnya seperti diare atau konstipasi (Lewis,
2022). Riwayat konsumsi makanan atau minuman yang tidak higienis juga
perlu ditanyakan sebagai kemungkinan sumber infeksi (Stanhope &
Lancaster, 2020).
Pengkajian juga mencakup riwayat penyakit dahulu, seperti apakah
pasien pernah mengalami demam tifoid sebelumnya atau memiliki riwayat
penyakit kronis lain yang dapat mempengaruhi sistem imun (Gulanick &
Myers, 2022). Selain itu, perlu ditanyakan riwayat alergi obat terutama
antibiotik yang akan digunakan dalam terapi (Ackley & Ladwig, 2022).
Pada riwayat penyakit keluarga, dikaji apakah terdapat anggota
keluarga lain yang mengalami gejala serupa atau riwayat penyakit menular
dalam keluarga (Doenges, 2022). Hal ini penting untuk mengetahui
kemungkinan penularan dalam lingkungan rumah tangga (Stanhope &
Lancaster, 2020).
Pengkajian pola kebutuhan dasar (fungsi Gordon) juga perlu dilakukan
secara komprehensif (Potter & Perry, 2021). Pada pola nutrisi dan
metabolisme, pasien biasanya mengalami penurunan nafsu makan, mual,
muntah, serta penurunan berat badan (Hinkle & Cheever, 2022). Pada pola
eliminasi, dapat ditemukan perubahan pola buang air besar seperti diare
atau konstipasi (Ignatavicius, 2021).
Pada pola aktivitas dan istirahat, pasien biasanya mengalami
kelemahan, mudah lelah, serta gangguan tidur akibat demam yang
berkepanjangan (Lewis, 2022). Pada pola persepsi dan kognitif, dapat
ditemukan gangguan konsentrasi atau bahkan penurunan kesadaran pada
kasus berat (Gulanick & Myers, 2022).
Pengkajian pemeriksaan fisik dilakukan secara sistematis dari kepala
hingga kaki (head to toe assessment) (Hinkle & Cheever, 2022). Pada
pemeriksaan tanda-tanda vital, biasanya ditemukan peningkatan suhu tubuh
(demam), denyut nadi yang dapat menunjukkan bradikardia relatif, serta
tekanan darah yang dapat menurun pada kondisi berat (Ignatavicius, 2021).
Pada pemeriksaan kepala dan leher, dapat ditemukan lidah kotor
(typhoid tongue) serta mukosa mulut kering akibat dehidrasi (Lewis, 2022).
Pada pemeriksaan abdomen, dapat ditemukan nyeri tekan terutama di
daerah epigastrium atau kuadran kanan bawah, serta pembesaran hati dan
limpa (Potter & Perry, 2021).
Selain itu, pengkajian juga mencakup pemeriksaan penunjang yang
meliputi hasil laboratorium seperti leukopenia, hasil uji Widal, atau kultur
darah untuk memastikan diagnosis (Ackley & Ladwig, 2022). Data ini
sangat penting dalam mendukung diagnosis medis serta menentukan
intervensi keperawatan yang tepat (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2021).
Pengkajian aspek psikososial juga perlu diperhatikan karena pasien
dapat mengalami kecemasan akibat kondisi penyakit yang dialami
(Doenges, 2022). Selain itu, dukungan keluarga sangat berperan dalam
proses penyembuhan pasien (Stanhope & Lancaster, 2020).
Pengkajian lingkungan dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS)
juga penting untuk mengidentifikasi faktor risiko penularan, seperti
kebiasaan mencuci tangan, kebersihan makanan, dan sumber air yang
digunakan (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2022).
Dengan demikian, pengkajian pada pasien demam tifoid harus
dilakukan secara menyeluruh dan sistematis, mencakup aspek biologis,
psikologis, sosial, dan lingkungan, sehingga data yang diperoleh dapat
menjadi dasar dalam menentukan diagnosis keperawatan serta intervensi
yang tepat untuk meningkatkan kualitas asuhan keperawatan.
Sedangkan menurut Ngastiyah (2022) menjelaskan bahwa pengkajian
keperawatan pada anak yang mengalami demam tyopoid adalah sebagai
berikut
a. Identitas, sering ditemukan pada anak berumur di atas satu tahun.
b. Keluhan utama berupa perasaan tidak enak badan, lesu, nyeri kepala,
pusing, dan kurang bersemangat, serta nafsu makan kurang (terutama
selama masa inkubasi).
c. Suhu tubuh. Pada kasus yang khas, demam berlangsung selama tiga
minggu, bersifat febris remiten, dan suhunya tidak tinggi sekali. Selama
minggu pertama suhu tubuh berangsur-angsur naik setiap harinya,
biasanya menurun pada pagi hari dan meningkat lagi pada sore dan
malam hari. Dalam minggu kedua, pasien terus berada dalam keadaan
demam. Pada minggu ketiga, suhu berangsur turun dan normal kembali
pada akhir minggu ketiga.
d. Kesadaran. Umumnya kesadaran pasien menurun walaupun tidak beberapa
dalam, yaitu apatis sampai somnolen. Jarang terjadi spoor, koma, atau
gelisah (kecuali bila penyakitnya berat dan terlambat mendapat
pengobatan). Di samping gejala-gejala tersebut mungkin terdapat gejala
lainnya. Pada punggung dan anggota gerak dapat ditemukan reseola, yaitu
bintik-bintik kemerahan karena emboli basil dalam kapiler kulit yang
dapat ditemukan pada minggu pertama demam. Kadang-kadang ditemukan
pula bradikardia dan epistaksis pada anak besar.
e. Pemeriksaan fisik
1) Mulut, terdapat napas yang berbau tidak sedap serta bibir kering dan
pecah- pecah (ragaden). Lidah tertutup selaput putih kotor (Cated
tongue), sementara ujung dan tepinya berwarna kemerahan, dan jarang
disertai tremor.
2) Abdomen, dapat ditemukan keadaan perut kembung (Meteorismus).
Bisa terjadi konstipasi, atau mungkin diare atau normal.
3) Hati dan limpa membesar disertai dengan nyeri pada perabaan.
f. Pemeriksaan laboratorium
1) Pada pemeriksaan darah tepi terdapat gambaran leukopenia,
limfositosis relative, dan aneosiniofilia pada permulaan sakit.
2) Darah untuk kultur (biakan, empedu) dan widal.
3) Bukan empedu basil Salmonella typhosa dapat ditemukan dalam darah
pasien pada minggu pertama sakit. Selanjutnya, lebih sering
ditemukan dalam urin dan feces.
4) Pemeriksaan widal
Untuk membuat diagnosis, pemeriksaan yang diperlukan ialah liter zat
anti terhadap antigen O. Titer yang bernilai 1/200 atau lebih
menunjukkan kenaikan yang progresif (Nursalam, 2022).
2. Diagnosa Keperawatan
Menurut Ngastiyah (2022) menjelaskan bahwa Diagnosa keperawatan yang
mungkin muncul pada anak yang mengalami demam tyopoid adalah sebagai
berikut
a. Defisti nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak
adanya nafsu makan, mual, dan kembung.
b. Risiko kurang volume cairan berhubungan dengan kurang intake
cairan dan peningkatan suhu tubuh.
c. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi
d. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis
e. Kurang pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan kognitif
3. Intervensi Keperawatan
5. Evaluasi
Evaluasi merupakan tahap integral pada proses keperawatan. Apa
yang kurang dapat ditambahkan, dan apabila mendapati kasus baru dan
mampu diselesaikan dengan baik, maka hal ini disebut sebagai
keberhasilan atau temuan sebuah penelitian.
Evaluasi bisa dimulai dari pengumpulan data, apakah masih perlu
direvisi untuk menentukan, apakah informasi yang telah dikumpulkan
sudah mencukupi, dan apakah perilaku yang diobservasisudah sesuai.
Diagnosa juga perlu dievaluasi dalam hal keakuratan dan kelengkapannya.
Tujuan dan intervesi evaluasi adalah untuk menentukan apakah tujuan
tersebut dapat dicapai secara efektif (Kusuma, 2019)
Menurut Aritonang et al. (2020) Evaluasi adalah penilaian dengan
cara membandingkan perubahan keadaan pasien dengan tujuan dan kriteria
hasil yang telah dibuat pada tahap perencanaan. Tujuan dari evaluasi
adalah untuk mengakhiri rencana tindakan keperawatan, memodifikasi
rencana tindakan keperawatan dan meneruskan rencana tindakan
keperawatan.
Adapun macam-macam evaluasi yaitu :
a. Evaluasi Proses (Formatif)
1) Evaluasi yang dilakukan setiap selesai tindakan.
2) Berorientasi pada etiologi.
3) Dilakukan secara terus-menerus sampai tujuan yang telah
ditentukan.
b. Evaluasi Hasil ( Sumatif)
1) Evaluasi yang dilakukan setelah akhir tindakan keperawatan secara
paripurna.
2) Berorientasi pada masalah keperawatan.
3) Menjelaskan keberhasilan/ketidakberhasilan.
4) Rekapitulasi dan kesimpulan status kesehatan klien sesuai dengan
kerangka waktu yang ditetapkan.
Adapun proses-proses evaluasi yaitu :
a. Mengukur Pencapaian Tujuan
1) Tujuan dari kognitif. Pengukuran perubahan kognitif dapat
dilakukan dengan dua cara yaitu :
a) Interview/ Tanya Jawab
(1) Menanyakan kembali segala sesuai yang telah
dijelaskan oleh perawat untuk mengklarifikasi
pemahaman klien/keluarga terhadap pengetahuan
yang telah diberikan. Pengukuran pengetahuan ini
penting untuk menjamin bahwa apa yang telah
disampaikan benar-benar telah dipahami dengan baik
dan benar. Perawat sering menganggap bahwa ketika
klien/keluarga sudah mengganggukan kepala,
menandai ia sudah paham, padahal belum tentu.
(2) Komprehensif
Pertanyaan komprehensif adalah pertanyaan yang diajukan
berdasarkan pemahaman klien terhadap perubahan-
perubahan yang terjadi pada tubuhnya.
(3) Aplikasi Fakta
Pertanyaan berdasarkan aplikasi fakta adalah pertanyaan
yang ditujukkan unutk mengidentifikasi pemahaman
klien pada tingkat aplikasi. Perawat mengajukan
beberapa situasi atau kondisi yang mungkin terjadi
pada klien dank lien diminta untuk menentukan
alternative pemecahan masalahnya.
b) Tulis
Teknik yang kedua digunakan untuk mengukur
pencapaian tujuan kognitif adalah dengan mengajukan
pertanyaan tertulis. Pertanyaan-pertanyaan ini sudah
disiapkan sebelumnya dan berdasarkan tujuan dan kriteria
evaluasi yang telah ditetapkan. Teknik evaluasi tertulis ini
jarang digunakan untuk pendidikan kesehatan individual,
umunya digunakan untuk mengevaluasi tindakan
pendidikan kesehatan yang diberikan secara berkelompok
dengan topik yang sama sehingga dapat menghentikan
waktu.
2) Tujuan aspek afektif. Untuk mengukur pencapaian tujuan
aspek afektif, dapat dilakukan dengan dua cara yaitu :
a) Observesi
Observasi adalah melakukan pengamatan secara
langsung terhadap perubahan emosional klien ; apakah
klien telah kooperatif, apakah mekanisme koping telah
efektif.
b) Feed back dari staf kesehatan lain
Umpan balik, masukan dan pengamatan dari staf yang
lain dapat juga dipakai sebagai salah satu informasi
tentang aspek afektif klien.
3) Psikomotor
Pengukuran perubahan aspek psikomotor dapat dilakukan
melalui observasi secara langsung terhadap perubahan perilaku
klien.
4) Perubahan fungsi tubuh
Perubahan fungsi tubuh merupakan komponen yang paling
sering menjadi kriteria hasil. Dari pengamatan di rumah sakit,
pada umumnya dari daftar diagnosis keperawatan yang ada
kebanyakan bersifat fisik sehingga kriteria hasil yang ingin
dicapai mengacu pada aspek perubahan fungsi tubuh.
Mengetahui begitu banyaknya aspek perubahan fungsi tubuh,
untuk mengukur perubahannya dapat dilakukan dengan cara
obsevasi, interview, dan pemeriksaan fisik.
Evaluasi dilakukan sesuai dengan kerangka waktu penerapan
tujuan (evaluasi hasil) tetapi selama proses pencapaian tujuan
perubahan yang terjadi pada klien juga harus selalu dipantau (evaluasi
proses). Dari pernyataan di atas, dapat diketahui bahwa evaluasi proses
itu dapat dilakukan sewaktu-waktu sesuai dengan perubahan klien dan
evaluasi hasil dilakukan pada akhir pencapaian tujuan. Beberapa rumah
sakit menetapkan kebijakan yang berbeda, evaluasi hasil diukur tiap
shift jaga, sedangkan rumah sakit lain evaluasi proses ditetapkan tiap 24
jam sekali, kecuali untuk kasus gawat darurat dan intensive care. Pada
prinsipnya, semakin cepat perubahan yang terjadi pada klien baik
kearah perbaikan atau penurunan, semakin sering evaluasi proses itu
dilakukan.
Untuk memudahkan perawat mengevaluasi atau memantau
perkembangan pasien di gunakan komponen SOAP / SOAPI /
SOAPIER. Penggunaanya tergantung dari kebijakan setempat.
S : Data subjebtif.
Perawat menuliskan keluhan pasien yang masih dirasakan setelah
dilakukan tindakan keperawatan.
O: Data objektif.
Data objektif adalah data berdasarkan hasil pengukuran atau
observasi perawat secara langsung kepada klien, dan yang dirasakan
pasien setelah dilakukan tindakan keperawatan.
A: Analisis.
Interpretasi dari data subjektif dan data [Link] merupakan
suatu masalah atau diagnosis keperawatan yang masih terjadi atau
juga dapat dituliskan masalah atau diagnosis baru yang terjadi akibat
perubahan status kesehatan klien yang telah terindetifikasi datanya
dalam data subjektif dan objektif.
P: Perencanaan / Planning
Perencanaan keperawatan yang akan dilanjutkan, dihentikan,
dimodifikasi, atau ditambahkan dari rencana tindakan keperawatan.
I : Implementasi
Implementasi adalah tindakan keperawatan yang dilakukan sesuai
dengan instruksi yang telah teridentifikasi dalam komponen P
(Perencanaan).
E: Evaluasi
Evaluasi adalah respons klien setelah dilakukan tindakan
keperawatan.
R: Reassement
Reassement adalah pengkajian ulang yang dilakukan terhadap
perencanaan setela diketahui hasil evaluasi.
LAPORAN KASUS
ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DEMAM TYPOID
DISUSUN OLEH:
Maryatim
NPM 2025 01 23 219
DOSEN PEMBIMBING :
NS. ARMINA, [Link]., [Link] (KOORDINATOR)
NS. NURFITRIANI, [Link] (ANGGOTA)
NS. MAIMAZNAH, [Link] (ANGGOTA)
I. IDENTITAS KLIEN
Nama Anak :An, S No. RM :033916
Tanggal lahir & usia : 05-10-2023 Jenis Kelamin : L / P
Tanggal klien masuk ruang rawat : 23 Maret 2026
Diagnosa Medis Utama : Demam tipoid
Diagnosa Medis Pembanding :Demam rematik
tipoid
Anak ke - :1 Pendidikan Anak :
III. RIWAYAT KESEHATAN SAAT INI (PQRST/ ceritakan munculnya gejala sakit
sampai gejala saat masuk rumah sakit)
Ibu mengatakan bahwa anaknya terlihat sesak disertai batuk tapi tidak ada sputum.
selain itu ibu mengatakan bahwa anaknya mengalami penurunan pola nutrisi
Keadaan umum anak tampak lemah dan rewel dengan kesadaran compos mentis.
Dari hasil pengkajian didapatkan bahwa anak mengalami demam suhu tubuh 37,5°C,
Berat badan anak turun sekitar 0,3 kg dibandingkan dengan penimbangan
sebelumnya. Hasil pemeriksaan tanda vital menunjukkan nadi 130 kali per menit,
frekuensi napas 26 Kali per menit, dan capillary refill time (CRT) lebih dari 3 detik.
5. Kecelakaan :
Tidak terdapat riwayat kecelakaan seperti jatuh, trauma kepala, atau cedera lainnya
yang memerlukan perawatan medis sebelumnya / pernah mengalami kecelakaan
ringan seperti jatuh saat bermain namun tidak memerlukan perawatan di rumah sakit
dan tidak menimbulkan dampak jangka panjang (sesuaikan dengan kondisi pasien).
6. Riwayat imunisasi:
Berdasarkan keterangan ibu, anak telah mendapatkan imunisasi dasar lengkap sesuai
dengan usianya. Imunisasi yang telah diberikan meliputi Hepatitis B saat lahir (HB-0),
BCG pada usia 0–1 bulan, serta imunisasi DPT-HB-Hib sebanyak tiga kali pada usia
2, 3, dan 4 bulan. Selain itu, anak juga telah mendapatkan imunisasi polio baik oral
maupun suntik sesuai jadwal sejak lahir hingga usia 4 bulan. Imunisasi campak/MR
diberikan pada usia 9 bulan, serta imunisasi lanjutan (booster) DPT-HB-Hib dan polio
telah diberikan pada usia 18 bulan. Dengan demikian, status imunisasi anak
dinyatakan lengkap sesuai dengan usia.
V. RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA (buat Genogram maksimal 3 generasi)
Genogram :
VI. RIWAYAT KEHAMILAN DAN KELAHIRAN
1. Prenatal :
Selama kehamilan, ibu rutin melakukan pemeriksaan antenatal care (ANC) di fasilitas
kesehatan. Kehamilan berlangsung cukup bulan tanpa komplikasi seperti hipertensi,
diabetes gestasional, maupun infeksi selama kehamilan. Ibu tidak mengonsumsi obat-
obatan berbahaya dan tidak memiliki kebiasaan merokok atau konsumsi alkohol
selama kehamilan. Status gizi ibu selama hamil cukup baik.
2. Intranatal :
Proses persalinan berlangsung secara normal/spontan di fasilitas kesehatan dengan
bantuan tenaga medis. Usia kehamilan saat persalinan cukup bulan (±37–40 minggu).
Tidak terdapat komplikasi saat persalinan seperti asfiksia, perdarahan, atau tindakan
operatif. Bayi lahir dengan tangisan kuat.
3. Postnatal :
Setelah lahir, bayi dalam kondisi baik dengan berat badan lahir normal (≥2500 gram)
dan panjang badan sesuai usia kehamilan. Tidak terdapat kelainan kongenital. Bayi
mendapatkan ASI eksklusif dan imunisasi dasar lengkap sesuai usia. Tidak ada
riwayat penyakit serius pada masa neonatal.
PENGKAJIAN NUTRISI
6. Jumlah kebutuhan nutrisi per hari selama sakit (tanya ahli gizi):
Selama sakit, kebutuhan energi meningkat menjadi sekitar 110–130% dari
kebutuhan normal, yaitu ±1100–1300 kkal/hari untuk mendukung proses
penyembuhan. Kebutuhan protein juga meningkat untuk memperbaiki jaringan
tubuh, yaitu sekitar 1,5–2 gram/kgBB/hari. Kebutuhan cairan juga harus
ditingkatkan untuk mencegah dehidrasi akibat demam, yaitu ±1200–1500 ml/hari
disesuaikan dengan kondisi anak.
IX. RIWAYAT SOSIAL
1. Yang mengasuh klien :
Anak diasuh oleh orang tua kandung, terutama ibu sebagai pengasuh utama dalam
memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti makan, mandi, dan istirahat. Ayah berperan
dalam memberikan dukungan emosional dan ekonomi. Tidak terdapat pengasuh
tambahan seperti babysitter.
2. Hubungan dengan anggota keluarga :
Hubungan anak dengan anggota keluarga terjalin dengan baik dan harmonis. Anak
tampak dekat dengan kedua orang tua serta anggota keluarga lainnya. Interaksi dalam
keluarga berlangsung positif, ditandai dengan adanya komunikasi yang baik dan
perhatian terhadap kebutuhan anak.
3. Hubungan dengan teman sebaya :-
Anak mulai berinteraksi dengan teman sebaya di lingkungan sekitar rumah. Pola
bermain masih bersifat paralel, yaitu bermain berdampingan tanpa banyak interaksi
langsung. Anak tidak menunjukkan kesulitan dalam beradaptasi dengan lingkungan
sosialnya.
4. Pembawaan secara umum :
Secara umum, anak memiliki sifat aktif, ceria, dan responsif terhadap lingkungan.
Anak mudah beradaptasi dengan orang yang dikenal, namun terkadang masih
menunjukkan rasa takut atau cemas terhadap orang asing. Saat sakit, anak tampak
lebih rewel, lemah, dan kurang aktif dibandingkan kondisi sebelum sakit.
5. Lingkungan rumah :
Lingkungan rumah cukup bersih dan ventilasi udara baik. Sumber air yang digunakan
berasal dari air bersih (sumur/PDAM) dan digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.
Namun, masih terdapat risiko paparan makanan atau minuman yang kurang higienis
dari lingkungan sekitar. Kebersihan lingkungan sudah cukup terjaga, namun perlu
peningkatan dalam perilaku hidup bersih dan sehat seperti mencuci tangan sebelum
makan.
X. PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan umum : lemah
2. Tingkat Kesadaran : CM
3. GCS : E....4. M.6..... V.5= total 15
4. Tanda Vital :
TD : - mmHg Frekuensi napas : 26 x/menit
o
Suhu : 37,5 C Saturasi Oksigen : 95 %
[Link] :
BB sebelum sakit : 12 kg
BB ideal : 13 kg
BB selama sakit : 11 kg
TB saat ini : 88 cm
Perhitungan :
BB/TB :
Berat badan menurut tinggi badan menunjukkan bahwa BB anak sedikit di bawah
standar normal untuk TB 88 cm.
BB/U :
Berat badan menurut umur menunjukkan kategori kurang karena terjadi penurunan
berat badan selama sakit.
TB/U :
Tinggi badan menurut umur masih dalam kategori normal sesuai usia anak.
IMT :
IMT = BB (kg) / TB² (m)
IMT = 11 / (0,88 × 0,88) = ± 14,2 kg/m²
Status Nutrisi :
Berdasarkan hasil pengukuran antropometri dan perhitungan IMT, status nutrisi anak
termasuk kategori kurus ringan (underweight ringan) akibat penurunan berat badan
selama sakit demam tifoid.
[Link]
a. Lingkar kepala : 48 cm
b. Status lingkar kepala : normal/ makrosefali/ mikrosefali (lampirkan kurva lingkar
kepala/umur,
lihat lampiran)
c. Rambut : Kebersihan : …bersih ................ Warna : hitam
Distribusi rambut :...…merata….. Tekstur : Kuat/ mudah tercabut/rapuh
d. Fontanel : datar/ lunak/ tegas/ menonjol/ cekung
e. Wajah : warna : .pucat.. Kelainan : ..............
f. Kelainan lain (ceritakan jika ada):
[Link] :
a. Sklera : an ikterik
b. Konjungtiva :an anemis
c. Palpebra : ptosis/ normal
d. Pupil : Reaksi pupil thd cahaya : …(+/+) Ukuran: ...........(2/2)..……
e. Kornea :normal
f. Kelainan lain : -
[Link] :
Simetris : kedua telinga terlihat simetris Serumen : tidak terlihat
Pendengaran : …anak menoleh Ketika ada suara
Nyeri telinga : ...-
Kelainan lain : -
[Link] :
Septum : - Sekret :…tidak ada
Nyeri : -
Kelainan lain :
[Link] :
a. Bibir : lembab/ kering
b. Warna bibir/ mukosa : Pink/ anemis
c. Mulut/ Lidah : bersih/ kotor/ bengkak/tidak bengkak/ warna magenta/ pink/
permukaan halus/ada tonjolan
d. Gigi : lengkap/ tidak lengkap/ berlubang/ karies gigi
e. Gusi : normal/ bengkak/ kemerahan/ luka/ mudah berdarah
f. Stomatitis : ada/ tidak
Kelainan lain :
[Link]
a. Kelenjar Getah Bening : teraba tidak membesar/ membesar
b. Kelenjar Tiroid : tidak ada pembesaran kelenjer tiroid
c. JVP : -
Kelainan lain :-
[Link]-Paru
a. Inspeksi :
bentuk dada : normal/ pigeon chest/ skoliosis/ lordosis/ kifosis
Retraksi dinding dada : ya/ tidak
Irama pernapasan : reguler/ irreguler
Kedalaman pernapasan : dalam/ tidak dalam
Nyeri saat bernapas/ nyeri dada : ya/ tidak
Luka di dinding dada : ya/ tidak
b. Palpasi :
Stridor : ya/ tidak
Fremitus dada : hantaran suara sama di paru kanan-kiri/ hantaran suara mengeras di
salah satu paru
c. Perkusi dada : tidak ada masalah
Sonor / hipersonor
d. Auskultasi dada :
Vesikuler/ bronkovesikuler/ wheezing/ ronchi
Kelainan Lain :
[Link]
a. Inspeksi :
Ictus cordis : terlihat/ tidak terlihat
b. Palpasi :
Ictus cordis / Irama Jantung : teratur/ tidak teratur
c. Auskultasi :
BJ 1 & 2 : normal/ tidak
Murmur : ada/ tidak
Gallop : ada / tidak
Kelainan lain :
[Link]
a. Inpeksi :
Membesar/ tidak Asites : ada/ tidak
Luka di permukaan abdomen: ya/ tidak
b. Auskultasi :
Bising usus : .....3. x/ menit (normal/tidak)
c. Perkusi : suara abdomen : timpani/ tidak/ kembung
d. Palpasi :
Distensi abdomen : ya/ tidak
Lingkar abdomen : 50 cm
Turgor kulit/ cubitan kulit perut : kembali ...<3 detik (lambat/cepat)
Hepatomegali : ya/ tidak
Splenomegali : ya/ tidak
Nyeri tekan : ya/ tidak nyeri lepas : ya/ tidak
Kelainan lain di abdomen :
[Link] :
Kebersihan kulit : ya/ tidak
CRT : kembali ..<3.... detik (kembali lambat/cepat)
Warna telapak tangan : pink/ anemis
Warna kulit wajah / ekstremitas : anemis/ an-anemis
Turgor kulit : kembali .<3... detik (kembali lambat/cepat)
Integritas kulit : kemerahan/luka/ normal
Elastisitas : ya/ tidak
Refleks fisiologis :
Refleks bisep : positif/ negatif
Refleks trisep : positif/ negatif
Refleks patella: positif/ negatif
Refleks achilles : positif/ negatif
Refleks Patologis :
Refleks Babinski : positif/ negatif
Refleks kaku kuduk : positif/ negatif
Refleks brudzinski 1 : positif/ negatif
Refleks brudzinski 2 : positif/ negatif
Refleks kernig sign : positif/ negatif
Hasil tes : Kelainan saraf / nervus apa : ....
Kelainan lain :
Hb : 14,6 gr%
HT:43,8%
Leukosit 7,53
Trombo :282
Erytrosit 486
GDS 89 mg/dl
ASTD +
Titer : ½
Kadar400
Nilai darah lengkap; nilai elektrolit; nilai AGD; hasil pemeriksaan urin/tinja/sputum/kultur
darah, dll.
Infus : rl 20 tts/menit
Inj :
1. Ceftriaxone 1x2 gr
2. Dexamethasone 3x1 amp
3. Benzatin penisilin 1,2 juta unit
Oral
1. Pct 4x1
2. Erdostein 3x1
3. Efelin 3x1
ANALISA DATA
DO :
Do :
1 Pola nafas tidak efektif b/d maturitas neurologis d/d Ibu mengatakan
bahwa anaknya terlihat sesak sejak sakit. Ibu juga menyampaikan
bahwa napas anak tampak lebih cepat dari biasanya serta anak
terlihat mudah lelah saat bernapas. Selain itu, ibu mengatakan anak
tampak gelisah dan lebih rewel dibandingkan kondisi sebelum sakit.
RR 26 x/menit. Terlihat penggunaan otot bantu pernapasan (retraksi
dinding dada/interkostal). Nafas tampak cepat dan dangkal. Anak
tampak gelisah
Hipertemi b/d Proses inflamasi d/d Ibu mengatakan bahwa anaknya
mengalami demam naik turun sejak ±3 hari yang lalu. Ibu juga
menyampaikan bahwa tubuh anak terasa panas terutama pada malam
hari, serta anak tampak rewel dan sulit tidur saat demam meningkat.
Selain itu, ibu mengatakan anak tampak lemas dan kurang aktif
dibandingkan biasanya. Suhu tubuh: 37,5°C (subfebris / awal
peningkatan suhu). Kulit teraba hangat. Wajah tampak kemerahan
Anak tampak lemah dan kurang aktif. Nafsu makan menurun.
Frekuensi nadi meningkat (misalnya 110–120 x/menit). Frekuensi
napas meningkat (RR: 26 x/menit). Anak tampak rewel/gelisah.
Mukosa bibir tampak kering. Terdapat riwayat infeksi (demam
tifoid)
Risiko deficit nutrisi b/d Proses penyakit
RENCANAKEPERAWATAN (INTERVENSI KEPERAWATAN
Manajemen Nutrisi
Observasi:
▪ Identifikasi status nutrisi
▪ Identifikasi alergi dan intoleransi makanan
▪ Identifikasi perlunya penggunaan selang nasogastric
▪ Monitor asupan makanan
▪ Monitor berat badan
Terapeutik:
▪ Lakukan oral hygiene sebelum makan, Jika perlu
▪ Sajikan makanan secara menarik dan suhu yang sesuai
▪ Hentikan pemberian makanan melalui selang nasogastric
jika asupan oral dapat ditoleransi
▪ Bantu rangsang pemenuhan kebutuhan nutrisi
Edukasi
▪ Anjurkan posisi duduk, jika mampu
▪ Ajarkan diet yang diprogramkan
Kolaborasi
▪ Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah
kalori dan jenis nutrien yang dibutuhkan
Promosi Berat Badan
Observasi
▪ Identifikasi kemungkinan penyebab BB kurang
▪ Monitor adanya mual dan muntah
Terapeutik
▪ Sediakan makanan yang tepat sesuai kondisi pasien
▪ Berikan pujian kepada pasien untuk peningkatan yang
dicapai
Edukasi
▪ Jelaskan jenis makanan yg bergizi tinggi, terjangkau
CATATAN PERKEMBANGAN
Pola nafas tidak efektif b/d HARI ▪ Memberikan oksigen jika S = Ibu mengatakan bahwa kondisi napas anak
maturitas neurologis d/d Ibu PERTAMA perlu sudah mulai membaik dibandingkan sebelumnya.
mengatakan bahwa anaknya ▪ Menginformasikan hasil Ibu menyampaikan bahwa anak tidak lagi tampak
terlihat sesak sejak sakit. Ibu juga pemantauan, jika perlu terlalu sesak, napas anak terlihat lebih teratur, serta
menyampaikan bahwa napas anak ▪ Melakukan Kolaborasi anak tampak lebih tenang dan tidak terlalu rewel.
tampak lebih cepat dari biasanya penentuan dosis oksigen Ibu juga mengatakan anak tidak lagi terlihat mudah
serta anak terlihat mudah lelah saat lelah saat bernapas seperti sebelumnya
bernapas. Selain itu, ibu
mengatakan anak tampak gelisah O=
dan lebih rewel dibandingkan 1. RR: 22–24 x/menit (mendekati normal sesuai
kondisi sebelum sakit. usia)
RR 26 x/menit. Terlihat 2. Tidak tampak penggunaan otot bantu
penggunaan otot bantu pernapasan pernapasan
(retraksi dinding dada/interkostal). 3. Pola napas tampak lebih teratur dan tidak
Nafas tampak cepat dan dangkal. dangkal
Anak tampak gelisah 4. Anak tampak lebih tenang dan tidak gelisah
5. Tidak terdapat retraksi dinding dada/interkostal
6. Warna kulit tampak normal (tidak
pucat/sianosis)
7. Saturasi oksigen dalam batas normal (≥95%)
A=masalah teratasi Sebagian
P=lanjutkan intervensi
▪ Monitor pola nafas, monitor saturasi oksigen
▪ Monitor frekuensi, irama, kedalaman dan upaya
napas
▪ Monitor adanya sumbatan jalan nafas
Hipertemi b/d Proses inflamasi d/d ▪ Memberikan cairan oral S= Ibu mengatakan bahwa suhu tubuh anak sudah
Ibu mengatakan bahwa anaknya ▪ Melalkukan pemberian mulai menurun dibandingkan sebelumnya. Ibu
mengalami demam naik turun antipiretik menyampaikan bahwa anak tidak lagi terlalu panas
sejak ±3 hari yang lalu. Ibu juga ▪ Melakukan kompres terutama pada malam hari, serta anak tampak lebih
menyampaikan bahwa tubuh anak ▪ nyaman dan tidak terlalu rewel. Ibu juga
terasa panas terutama pada malam mengatakan anak sudah mulai bisa tidur lebih
hari, serta anak tampak rewel dan nyenyak dan kondisi lemas mulai berkurang
sulit tidur saat demam meningkat. meskipun nafsu makan belum sepenuhnya kembali
Selain itu, ibu mengatakan anak normal.
tampak lemas dan kurang aktif O=
dibandingkan biasanya. Suhu
tubuh: 37,5°C (subfebris / awal Suhu tubuh: 36,8–37,2°C (mendekati normal)
peningkatan suhu). Kulit teraba Kulit teraba hangat normal (tidak panas
hangat. Wajah tampak kemerahan berlebih)
Anak tampak lemah dan kurang Wajah tidak lagi kemerahan
aktif. Nafsu makan menurun. Anak tampak lebih aktif dibanding sebelumnya
Frekuensi nadi meningkat Tingkat kesadaran baik (compos mentis)
(misalnya 110–120 x/menit). Anak tampak lebih tenang (tidak rewel/gelisah)
Frekuensi napas meningkat (RR: Mukosa bibir tampak lebih lembab
26 x/menit). Anak tampak Asupan cairan mulai meningkat
rewel/gelisah. Mukosa bibir A=masalah teratasi Sebagian
tampak kering. Terdapat riwayat P=lanjutkan intervensi
infeksi (demam tifoid)
Pola nafas tidak efektif b/d HARI ▪ Memonitor Pola Nafas, Monitor S = Ibu mengatakan bahwa kondisi napas
maturitas neurologis d/d Ibu KEDUA Saturasi Oksigen anak semakin membaik dibandingkan hari
mengatakan bahwa anaknya ▪ Memonitor Frekuensi, Irama, sebelumnya. Ibu menyampaikan bahwa anak
terlihat sesak sejak sakit. Ibu juga Kedalaman Dan Upaya Napas sudah tidak tampak sesak, napas terlihat
menyampaikan bahwa napas anak ▪ Memonitor Adanya Sumbatan lebih normal, serta anak tampak lebih aktif
tampak lebih cepat dari biasanya Jalan Nafas dan tidak rewel. Ibu juga mengatakan anak
serta anak terlihat mudah lelah saat tidak lagi terlihat kelelahan saat bernapas.
bernapas. Selain itu, ibu
mengatakan anak tampak gelisah O=
dan lebih rewel dibandingkan • RR hasil 25 x kali/menit, anak masih
kondisi sebelum sakit. terlihat sesak
RR 26 x/menit. Terlihat • Pola napas teratur
penggunaan otot bantu pernapasan • Kedalaman napas adekuat (tidak
(retraksi dinding dada/interkostal). dangkal)
Nafas tampak cepat dan dangkal. • Tidak terdapat penggunaan otot bantu
Anak tampak gelisah pernapasan
• Tidak ditemukan retraksi dinding
dada/interkostal
• Saturasi oksigen ≥96%
• Tidak terdapat tanda sumbatan jalan
napas
• Anak tampak aktif dan tidak gelisah
• Warna kulit normal (tidak
pucat/sianosis)
A=masalah teratasi Sebagian
P=lanjutkan intervensi
▪ Atur Interval pemantauan respirasi sesuai
kondisi pasien
▪ Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan
▪ Informasikan hasil pemantauan, jika
perlu
Hipertemi b/d Proses inflamasi d/d ▪ Memonitor suhu tubuh S= Ibu mengatakan bahwa suhu tubuh anak
Ibu mengatakan bahwa anaknya ▪ Memonitor kadar elektrolit mulai berkurang dibandingkan hari
mengalami demam naik turun ▪ Memonitor haluaran urine sebelumnya. Ibu menyampaikan anak tidak
sejak ±3 hari yang lalu. Ibu juga ▪ Memonitor komplikasi akibat terlalu panas seperti sebelumnya, rewel
menyampaikan bahwa tubuh anak hipertermia mulai berkurang, dan anak sudah bisa tidur
terasa panas terutama pada malam ▪ Melakukan kompres lebih baik walaupun masih sesekali
hari, serta anak tampak rewel dan ▪ terbangun.
sulit tidur saat demam meningkat. O=
Selain itu, ibu mengatakan anak Suhu tubuh: 37,0–37,3°C
tampak lemas dan kurang aktif Kulit hangat normal
dibandingkan biasanya. Suhu Wajah tidak terlalu kemerahan
tubuh: 37,5°C (subfebris / awal Anak tampak lebih aktif dibanding hari
peningkatan suhu). Kulit teraba pertama
hangat. Wajah tampak kemerahan Nafsu makan mulai sedikit meningkat
Anak tampak lemah dan kurang Anak tampak lebih tenang
aktif. Nafsu makan menurun. Mukosa bibir mulai lembab
Frekuensi nadi meningkat A=masalah tidak teratasi
(misalnya 110–120 x/menit). P=lanjutkan intervensi
Frekuensi napas meningkat (RR:
26 x/menit). Anak tampak ▪ Kolaborasi pemberian cairan dan
rewel/gelisah. Mukosa bibir elektrolit intravena, jika perlu
tampak kering. Terdapat riwayat
infeksi (demam tifoid) ▪ lalkukan pemberian antipiretik
▪ lalkukan kompres
Risiko deficit nutrisi b/d Proses ▪ Mengidentifikasi perlunya S = ibu mengatakan bahwa anak maish
penyakit penggunaan selang nasogastric terlihat sedikit meminum asi
▪ Memonitor asupan makanan ▪ O= anak hanya menghabiskan 80 cc asi
▪ Memonitor berat badan perah / 24 jam. Anak tidak memerlukan
▪ Membantu rangsang pemenuhan penggunaan selang nasogastric
kebutuhan nutrisi A=masalah teratasi Sebagian
▪ P=lanjutkan intervensi
▪ Bantu rangsang pemenuhan kebutuhan
nutrisi
▪ Monitor asupan makanan
SDKI TGL/JAM TINDAKAN KEPERAWATAN Evaluasi keperawatan PAR
Pola nafas tidak efektif b/d Hari ketiga ▪ Mengatur Interval pemantauan respirasi S=
maturitas neurologis d/d Ibu sesuai kondisi pasien Ibu mengatakan bahwa kondisi napas anak sudah kembali
mengatakan bahwa anaknya ▪ Menjelaskan tujuan dan prosedur normal. Ibu menyampaikan bahwa anak tidak lagi terlihat
terlihat sesak sejak sakit. Ibu juga pemantauan sesak, napas anak tampak seperti biasa, serta anak sudah aktif
menyampaikan bahwa napas anak ▪ Menginformasikan hasil pemantauan, bermain dan tidak rewel. Ibu juga mengatakan anak tidak
tampak lebih cepat dari biasanya jika perlu mengalami kelelahan saat bernapas dan tidur anak sudah
serta anak terlihat mudah lelah saat ▪ lebih nyenyak.
bernapas. Selain itu, ibu O=
mengatakan anak tampak gelisah
dan lebih rewel dibandingkan 1. RR: 18–20 x/menit (normal sesuai usia)
kondisi sebelum sakit. 2. Pola napas teratur dan stabil
RR 26 x/menit. Terlihat 3. Kedalaman napas normal (tidak dangkal)
penggunaan otot bantu pernapasan 4. Tidak terdapat penggunaan otot bantu pernapasan
(retraksi dinding dada/interkostal). 5. Tidak ditemukan retraksi dinding dada/interkostal
Nafas tampak cepat dan dangkal. 6. Saturasi oksigen ≥97% (jika diukur)
Anak tampak gelisah 7. Jalan napas bersih, tidak ada sumbatan
8. Anak tampak aktif, ceria, dan tidak gelisah
9. Warna kulit normal (tidak pucat/sianosis)
A=masalah teratasi
P=intervensi dihentikan
▪
Hipertemi b/d Proses inflamasi d/d ▪ Melakukan pemberian antipiretik S= Ibu mengatakan bahwa demam anak sudah tidak ada dan
Ibu mengatakan bahwa anaknya ▪ Melakukan kompres kondisi anak sudah membaik. Ibu menyampaikan anak sudah
mengalami demam naik turun aktif seperti biasa, tidak rewel, serta tidur sudah nyenyak.
sejak ±3 hari yang lalu. Ibu juga Nafsu makan anak juga mulai kembali seperti sebelum sakit.
menyampaikan bahwa tubuh anak
terasa panas terutama pada malam O=
hari, serta anak tampak rewel dan Suhu tubuh: 36,5–36,8°C (normal)
sulit tidur saat demam meningkat. Kulit tidak panas, suhu normal
Selain itu, ibu mengatakan anak Wajah tampak segar
tampak lemas dan kurang aktif Anak aktif dan ceria
dibandingkan biasanya. Suhu Nafsu makan baik
tubuh: 37,5°C (subfebris / awal Anak tidak rewel
peningkatan suhu). Kulit teraba Mukosa bibir lembab
hangat. Wajah tampak kemerahan A=masalah teratasi
Anak tampak lemah dan kurang P= intervensi dihentikan
aktif. Nafsu makan menurun. ▪
Frekuensi nadi meningkat
(misalnya 110–120 x/menit).
Frekuensi napas meningkat (RR:
26 x/menit). Anak tampak
rewel/gelisah. Mukosa bibir
tampak kering. Terdapat riwayat
infeksi (demam tifoid)
Risiko deficit nutrisi b/d Proses ▪ Membantu rangsang pemenuhan S = ibu mengatakan bahwa anak terlihat mulai menunjukan
penyakit kebutuhan nutrisi peningkatan asupan makanan
▪ Memonitor asupan makanan O= pasien menghabiskan 120 cc/24 jam
▪ A=masalah teratasi Sebagian
P=lanjutkan intervensi
▪ Monitor asupan makanan
DAFTAR PUSTAKA