MODUL FIELDTRIP
MK. MANAJEMEN AGROEKOSISTEM
ASPEK TANAH
DEPARTEMEN TANAH
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2023
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ...................................................................................... i
PELAKSANAAN FIELDTRIP .............................................................. ii
PEMBAGIAN KELOMPOK .............................................................. iv
SUSUNAN DOSEN DAN ASISTEN PRAKTIKUM ............................... v
PENANGGUNG JAWAB MATERI .................................................... vi
1. DESKRIPSI LOKASI DAN TEKNIS PELAKSANAAN
FIELDTRIP.............................................................................1
2. MATERI 1: MANAJEMEN LAHAN DI BERBAGAI MACAM
TUTUPAN/PENGGUNAAN LAHAN YANG ADA DI
DALAM SUATU BENTANG LAHAN YANG SAMA ...................5
3. MATERI 2: PRAKTIK KARAKTERISASI LAHAN DAN
ANALISIS BIOFISIK............................................................. 11
i
PELAKSANAAN FIELDTRIP
Tempat dan Waktu Pelaksanaan
Lokasi Sabtu, 18 Maret Minggu, 19 Maret
2023 2023
Dusun Borogragal, Kelas : J, K, L, M, Kelas : A, B, C, D, E,
Desa Tawangargo N, O, P, Q, R F, G, H, I
Dusun Buntoro, Desa Kelas : J, K, L, M, Kelas : A, B, C, D, E,
Ngenep N, O, P, Q, R F, G, H, I
Rundown Pelaksanaan Fieldtrip
Hari 1 (Sabtu, 18 Maret 2023)
Kloter 1
Jam Kelas P Kelas Q Kelas R
7.20 - 7.50 HPT BP TANAH
7.55 - 8.25 TANAH HPT BP
8.30 - 9.00 BP TANAH HPT
9.05 - 9.35 Wawancara petani
Kloter 2
Jam Kelas M Kelas N Kelas O
10.05 - 10.35 HPT BP TANAH
10.40 - 11.10 TANAH HPT BP
11.15 - 11.45 BP TANAH HPT
11.50 - 12.20 Wawancara petani
Kloter 3
Jam Kelas J Kelas K Kelas L
12.50 - 13.20 HPT BP TANAH
13.25 - 13.55 TANAH HPT BP
14.00 - 14.30 BP TANAH HPT
14.35 - 15.05 Wawancara petani
ii
Hari 2 (Minggu, 19 Maret 2023)
Kloter 1
Jam Kelas G Kelas H Kelas I
7.20 - 7.50 HPT BP TANAH
7.55 - 8.25 TANAH HPT BP
8.30 - 9.00 BP TANAH HPT
9.05 - 9.35 Wawancara petani
Kloter 2
Jam Kelas D Kelas E Kelas F
10.05 - 10.35 HPT BP TANAH
10.40 - 11.10 TANAH HPT BP
11.15 - 11.45 BP TANAH HPT
11.50 - 12.20 Wawancara petani
Kloter 3
Jam Kelas A Kelas B Kelas C
12.50 - 13.20 HPT BP TANAH
13.25 - 13.55 TANAH HPT BP
14.00 - 14.30 BP TANAH HPT
14.35 - 15.05 Wawancara petani
iii
PEMBAGIAN KELOMPOK
Kelompok tugas yang telah terbentuk sebelumnya (4
kelompok dalam 1 kelas) dibagi lagi menjadi kelompok
pengamatan (AFMK, AFMS, AFPK, AFPS, dan TS).
Lahan Kel. 1 Kel. 2 Kel. 3 Kel. 4 Ket.
AFMK 1. 1. 1. 1. Lokasi: Dsn.
2. 2. 2. 2. Buntoro, Ds.
AFMS 1. 1. 1. 1. Ngenep
2. 2. 2. 2.
AFPK 1. 1. 1. 1. Lokasi: Dsn.
2. 2. 2. 2. Borogragal,
AFPS 1. 1. 1. 1. Ds.
2. 2. 2. 2. Tawangargo
TS 1. 1. 1. 1.
2. 2. 2. 2.
iv
SUSUNAN DOSEN DAN ASISTEN PRAKTIKUM
Kls Dosen Asisten Praktikum
A Dr. Ir. Budi Prasetya, M.P. Shinta Marcellina
B Dr. Ir. Retno Suntari, M.S. Adiva Zulaika Azalia Siahaan
Gabryna Auliya Nugroho, S.P.,
C Muhammad Rifqi Al Jauhary
M.P., [Link].
D Rizki Maulana Ishaq, S.P., M.P. Utik Tri Wulan Cahya
E Dr. Reni Ustiatik, S.P., M.P. Achmad Adhyaksa
F Dr. Ir. Yulia Nuraini, M.S. Melati Julia Rahma
Rizkyana Noerishynta
G Nina Dwi Lestari, S.P., [Link].
Damayanti
H Dr. Lenny Sri Nopriani, S.P., M.P. Novrianty Rizqi Azis
I Prof. Dr. Ir. Kurniatun Hairiah Ghufron Faqieh
J Dr. Ir. Budi Prasetya, M.P. Muhammad Ilyas
Rizkyana Noerishynta
K Nina Dwi Lestari, S.P., [Link].
Damayanti
Gabryna Auliya Nugroho, S.P.,
L Aisyah Valentini Sonia
M.P., [Link].
M Rizki Maulana Ishaq, S.P., M.P. Muhammad Rifqi Al Jauhary
N Dr. Reni Ustiatik, S.P., M.P. Sa'adah Shofiati
O Dr. Ir. Yulia Nuraini, M.S. Achmad Rafli Pambudi
P Nina Dwi Lestari, S.P., [Link]. Fathia Meidy Nurindriana
Q Dr. Lenny Sri Nopriani, S.P., M.P. Lusia Delia
R Prof. Dr. Ir. Kurniatun Hairiah Dinda Mahartian Yunita
v
PENANGGUNG JAWAB MATERI
Penanggung jawab umum : Dr. Ir. Yulia Nuraini, M.S.
Penanggung jawab praktikum : Nina Dwi Lestari, S.P., [Link].
Penanggung jawab materi : 1. Prof. Dr. Ir. Kurniatun Hairiah
2. Rizki Maulana Ishaq, S.P., M.P.
3. Nina Dwi Lestari, S.P., [Link].
Tim pendukung:
1. Muhammad Rifqi Al Jauhary
2. Fathia Meidy Nur Indriana
3. Aisyah Valentini Sonia
vi
1. DESKRIPSI LOKASI DAN TEKNIS PELAKSANAAN FIELDTRIP
Fieldtrip Manajemen Agroekosistem pada semester genap 2022-
2023 ini akan dilaksanakan di dua lokasi, yaitu di Dusun Borogragal, Desa
Tawangargo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang dan di Dusun
Buntoro, Desa Ngenep, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang.
Kedua dusun tersebut terletak di dalam Kawasan Hutan dengan Tujuan
Khusus (KHDTK) UB Forest yang terletak di kaki Gunung Arjuno-Welirang
(Gambar 1). Lokasi ini dipilih karena sesuai dengan kriteria yang
dibutuhkan, yaitu memiliki keragaman agroekosistem dengan pohon
sebagai tegakannya dalam satu plot maupun lanskap.
Gambar 1. Letak KHDTK-UB Forest di kaki Gunung Arjuno-Welirang
(Sumber: Sudarto et al., 2016)
Secara administrasi, luasan lahan KHDTK-UB adalah seluas 544,74
hektare yang terletak di kawasan pegunungan vulkanik tua di lereng
bawah Gunung Arjuno-Welirang yang memiliki relief berombak dengan
kemiringan lereng yang beragam mulai dari kelas miring hingga sangat
curam dengan nilai tingkat kemiringan lahan dari 15% hingga >60%.
Status lahan KHDTK-UB Forest adalah hutan produksi yang dikelola
oleh Perum Perhutani dengan tegakan utama adalah pohon pinus dan
mahoni, dengan tanaman bawah tegakan adalah kopi, sayuran, jagung,
2
cabai, talas, tanaman obat-obatan serta berbagai jenis tanaman pakan
(rumput-rumputan, Tithonia/paitan, Chromolaena/krinyu, dan vegetasi
liar lainnya). Sebaran sistem penggunaan lahan hutan produksi di dalam
KHDTK-UB Forest dapat dilihat dalam Gambar 2.
Pada lokasi ini dipilih 5 macam agroekosistem dengan tingkat
tutupan tanahnya yang berbeda-beda dari tingkat rapat, sedang, hingga
rapat dengan susunan komponennya adalah mahoni+kopi (AFMK),
mahoni+tanaman semusim (AFMS), pinus+kopi (AFPK), pinus+tanaman
semusim (AFPS), dan tanaman semusim (TS). Adapun ilustrasi lokasi dan
ketampakan macam-macam agroekosistem disajikan pada Gambar 3.
Gambar 2. Sebaran sistem penggunaan lahan hutan produksi di
kawasan UB Forest
3
Gambar 3. Macam-macam agroekosistem yang terdapat di kawasan UB
Forest
Fieldtrip Manajemen Agroekosistem ini dilaksanakan dalam dua
hari. Dalam satu hari, terdapat 3 kloter yang masing-masing terdiri dari
3 kelas berbeda. Dalam sekali pelaksanaannya, terdapat 3 (tiga) kelas
yang akan melakukan pengamatan di setiap lokasi di masing-masing
lahan sesuai pembagian anggota kelompok. Kegiatan fieldtrip ini
merupakan kegiatan integrasi mata kuliah Manajemen Agroekosistem,
sehingga dalam pelaksanaannya, mahasiswa akan melakukan analisis
ekosistem pertanian baik dari aspek perlindungan tanaman, agronomi,
maupun manajemen sumber daya lahan. Adapun gambaran rute
perjalanan dari kampus Universitas Brawijaya menuju lokasi fieldtrip
ditunjukkan oleh Gambar 4, sedangkan tautan MyMaps untuk menuju
titik-titik penting dalam fieldtrip ini dapat diakses di
[Link]/fieldtripMAES2023 .
4
Gambar 4. Lokasi fieldtrip yang terdapat di dalam kawasan UB Forest
(Lokasi 1: Dusun Borogragal, Desa Tawangargo, Lokasi 2: Dusun
Buntoro, Desa Ngenep, Kecamatan Karangploso
2. MATERI 1: MANAJEMEN LAHAN DI BERBAGAI MACAM
TUTUPAN/PENGGUNAAN LAHAN YANG ADA DI DALAM SUATU
BENTANG LAHAN YANG SAMA
Sub Capaian Pembelajaran
1. Mahasiswa memahami arti penting kualitas tanah yang hanya
dapat dicapai dengan manajemen agroekosistem pertanian
2. Mahasiswa mampu mengevaluasi kualitas tanah dari berbagai
macam penggunaan lahan
Tujuan
1. Mahasiswa dapat mengenali berbagai macam agroekosistem yang
ada di kawasan UB Forest, dengan jalan mengidentifikasi dan
karakterisasi kondisi masing-masing tutupan/penggunaan lahan
bila ditinjau dari 4 prinsip pengelolaan tanah yang sehat
2. Mahasiswa memahami adanya fungsi ekologis dari berbagai
komponen yang ada di masing-masing agroekosistem
Di era perubahan iklim saat ini, manajemen lahan pertanian yang
dibutuhkan tidak hanya sekedar menanam tanaman, memupuk dan
mengairi serta mengontrol serangan hama dan penyakit agar diperoleh
produksi tanaman yang optimal. Saat ini masyarakat lebih juga
membutuhkan manajemen lahan yang dapat mempertahankan produksi
tanaman dalam waktu yang lama dengan tingkat ketergantungan kepada
masukan dari luar yang rendah, sehingga kualitas lingkungan tanah, air
dan udara di sekitarnya tetap terjaga. Menjaga tanah yang berkualitas
(sehat) merupakan kunci utama untuk mencapai pertanian yang
berkelanjutan.
Pada bagian manajemen tanah ini, aktivitasnya ditujukan untuk
meningkatkan pemahaman mahasiswa tentang perubahan-perubahan
yang terjadi dalam tanah (perubahan proses-proses dan layanan
lingkungan dalam tanah) sebagai akibat adanya tindakan manajemen
yang dilakukan. Luaran ini sangat penting untuk membantu mahasiswa
6
dalam merancang dan pengambilan keputusan manajemen lahan
pertanian yang ramah lingkungan.
Berdasarkan uraian tersebut di atas, seorang manajer (pengelola)
suatu agroekosistem harus menguasai empat prinsip pengelolaan lahan
pertanian yang dapat menjaga kualitas tanah, yaitu 1) menjaga
kerapatan tutupan lahan dan tanah, 2) menghindari ketergantungan
pada sumber daya dari luar, 3) mempertahankan kondisi iklim mikro
(suhu yang sejuk), dan 4) menjaga kualitas bahan organik yang
dikembalikan ke dalam tanah (misalnya dengan menjaga pakan ternak
agar diperoleh kotoran ternak yang berkualitas baik).
Berdasarkan tingkat tutupan tanahnya, maka dipilih lima macam
penggunaan lahan yang berbeda-beda di UB Forest (Gambar 3) yang
akan dijadikan objek pembelajaran. Lahan yang dipilih berada di Desa
Tawangargo dan di Desa Ngenep, Kecamatan Karangploso, Kabupaten
Malang. Karakteristik lahan dapat dilihat dalam Tabel 1 dan Tabel 2.
2.1. Tingkat Kerapatan Pohon
Tingkat kerapatan pohon diketahui dari pengukuran dan
pengamatan populasi berbagai pohon yang ada di sistem penggunaan
lahannya meliputi total dari jumlah pohon utama dan jumlah pohon
dominan dengan jalan mengukur diameter batang dari setiap jenis
pohon yang ada (Tabel 1 dan Tabel 2).
Tabel 1. Karakteristik di beberapa sistem penggunaan lahan di UB Forest
(Hairiah et al., 2017)
Total Jenis
LBD LBD pohon Jenis Jumlah
populasi pohon
Lahan total dominan/total pohon jenis
pohon utama
dominan pohon
m2 ha-1 % ha-1 ha-1
AFMK 24,7 97,5 108 51 Mahoni 2
AFMS 35,8 98,2 106 106 Mahoni 1
AFPK 13,7 99,8 118 28,3 Pinus 2
AFPS 19,9 92,7 34 34,7 Pinus 1
7
TS 0 0 0 0 Sayuran 0
Keterangan: LBD = luas bidang dasar; AFMK = agroforestri mahoni+kopi,
AFMS = agroforestri mahoni+tanaman semusim, AFPK = agroforestri
pinus+kopi, AFPS = agroforestri pinus+tanaman semusim, TS = tanaman
semusim
Tabel 2. Persentase sebaran diameter pohon rata-rata dari berbagai
sistem penggunaan lahan
Lahan 5-20 cm 20-30 cm >30 cm Total
AFMK 23 0,5 12 69,7
AFMS 0 4,8 95 11,3
AFPK 66,8 0 7,6 99,3
AFPS 4,2 9,7 86 7,3
TS 0 0 0 0
2.2. Tingkat Tutupan Kanopi Tanaman
Tingkat kerapatan penutupan permukaan tanah dapat dilihat dari
tingkat tutupan kanopi pohon (Gambar 5), ketebalan serasah yang
didukung oleh data berat kering serasah (Tabel 3), berat massa
tumbuhan bawah (Tabel 4). Pengamatan tingkat tutupan kanopi pohon
dapat dilakukan dengan cara mengukur menggunakan aplikasi Canopeo
yang dapat dioperasikan pada ponsel pintar.
Gambar 5. Persentase tutupan kanopi tanaman di beberapa sistem
penggunaan lahan
8
2.3. Tingkat Tutupan Serasah di Permukaan Tanah
Ketebalan serasah dalam lahan pertanian sangat penting untuk
menjaga ekosistem tanah (Tabel 3). Ketebalan serasah di permukaan
tanah diukur dengan menggunakan penggaris, yang kemudian biomassa
serasah dan tumbuhan bawahnya diambil menggunakan gunting rumput
yang berada di dalam frame berukuran 0,5×0,5 meter. Selanjutnya hasil
pengamatan dicatat ke dalam Tabel 3 atau lembar pengamatan.
Tabel 3. Produksi Biomassa serasah pada beberapa jenis penggunaan
lahan di UB Forest
Biomassa Tebal Estimasi biomassa
No. Lahan serasah (B) serasah (T) serasah (T/B)
-1
Mg ha cm cm/Mg ha-1
1 AFMK 3,33 ... ...
2 AFMS 2,63 ... ...
3 AFPK 2,93 ... ...
4 AFPS 0,80 ... ...
5 TS 0,69 ... ...
Keterangan: Mg = megagram (ton)
2.4. Tumbuhan Bawah (Understorey)
Di lahan-lahan pertanian banyak dijumpai tumbuhan
bawah/understorey yang dalam pertanian disebut sebagai gulma atau
tanaman pengganggu. Biomassa gulma dari masing-masing lahan dapat
dilihat di Gambar 6.
9
Gambar 6. Biomassa understorey/tumbuhan bawah pada berbagai
penggunaan lahan di UB Forest
2.5. Karakteristik Tanah
Tanah yang ada di beberapa penggunaan lahan yang dipilih yang
ada di UB Forest termasuk dalam jenis tanah Inceptisol dengan
karakteristik tanah ditampilkan dalam Tabel 4.
Tabel 4. Karakteristik Tanah di berbagai sistem penggunaan lahan pada
kedalaman 0-30 cm
AFMK AFMS AFPK AFPS TS
C org (%) 3,98 4,66 5,96 4,90 2,69
N total (%) 0,27 0,43 0,45 0,24 0,26
pH H2O 5,43 5,37 4,87 5,07 5,23
pH KCl 5,43 6,00 5,42 5,49 5,89
-3
BI (g cm ) 0,64 0,67 0,72 0,74 0,88
BJ (g cm-3) 2,08 2,19 2,08 1,97 2,29
RPT (%) 0,64 0,66 0,69 0,66 0,61
Pasir 22,38 19,41 31,66 32,37 17,92
Debu 61,98 60,83 50,38 39,27 57,13
Liat 15,65 19,77 17,96 28,36 24,95
Keterangan: C org = karbon organik, BI = berat isi, BJ = berat jenis, RPT =
ruang pori total
10
2.6. Kelimpahan Cacing Tanah
Adanya variasi tutupan lahan di UB Forest telah menciptakan
berbagai kondisi habitat organisme tanah, salah satunya adalah cacing
tanah. Jumlah cacing tanah yang ditemukan (populasi) dan biomassanya
yang ditemukan di setiap penggunaan lahan ditampilkan dalam Gambar
7.
Gambar 7. (A) Populasi cacing tanah, (B) Biomassa cacing tanah di
setiap penggunaan lahan yang diamati di UB Forest
Keterangan: g ind m2 = gram individu dalam 1 m2
3. MATERI 2: PRAKTIK KARAKTERISASI LAHAN DAN ANALISIS
BIOFISIK
3.1. Mengukur Understorey, Nekromassa, dan Tebal Serasah
3.1.1. Alat dan Bahan
1. Penggaris
2. Frame serasah (50×50 cm)
3. Cetok
4. Gunting rumput
5. Plastik dan karet
6. Alat tulis
3.1.2. Cara Kerja
1. Siapkan alat dan bahan yang digunakan.
2. Tentukan titik pengambilan sampel dan letakan frame
serasah (kuadran) yang telah disediakan.
3. Tekan permukaan serasah dengan tangan, dan tancapkan
penggaris dan ukurlah ketebalan lapisan serasah yang ada
(cm).
4. Kumpul serasah yang terdapat di dalam kuadran dan
masukkan ke dalam kantong kertas, beri label sesuai dengan
kode plot pengambilan sampelnya.
5. Timbang berat basah serasah, dan catat beratnya.
6. Ambil sub-sampel tanaman dari masing-masing biomassa
daun dan batang sekitar 100-300 gram. Bila biomassa
sampel yang didapatkan hanya sedikit (< 100 gram), maka
timbang semuanya dan jadikan sebagai sub-sampel.
7. Keringkan sub-sampel biomassa tanaman yang telah
diambil dalam oven pada suhu 80°C selama 48 jam.
8. Timbang berat keringnya dan catat dalam tabel
pengamatan.
12
3.1.3. Tabel Pengamatan
Tabel 5. Tabel pengamatan ketebalan serasah
Lahan: AFMK / AFMS / AFPK / AFPS / TS
Kuadran frame serasah Ketebalan serasah (cm)
1 ...
2 ...
Tabel 6. Tabel pengamatan massa serasah, nekromassa, dan understorey
Lahan: AFMK / AFMS / AFPK / AFPS / TS
BB BB sub BK sub
Total BK
Jenis Kuadran total sampel sampel
g g g g/0,25 m2 g/m2
1 ... ... ... ... ...
Serasah
2 ... ... ... ... ...
1 ... ... ... ... ...
Nekromassa
2 ... ... ... ... ...
1 ... ... ... ... ...
Understorey
2 ... ... ... ... ...
Total ...
Keterangan: BB = berat basah, BK = berat kering
3.2. Populasi Fauna Tanah
3.2.1. Alat dan Bahan
1. Penggaris
2. Botol fial/botol UC1000 (1-2 botol/lahan)
3. Timbangan
13
4. Cetok
5. Alkohol 70%
6. Air/akuades
7. Frame serasah (50×50 cm)
8. Alat tulis
3.2.2. Cara Kerja
1. Menentukan titik pengambilan sampel cacing tanah sesuai
dengan titik pengambilan sampel tanah BI.
2. Meletakkan frame yang berukuran 50×50 cm dan digali
dengan kedalaman 0-10 cm dari atas permukaan tanah.
3. Kemudian melakukan pengambilan cacing tanah secara
manual dengan menggunakan metode hand sorting.
4. Sampel cacing yang sudah dipisahkan dengan tanah dicuci
dengan air kemudian hitung dan timbang jumlah cacing
dalam 1 frame tersebut untuk mendapatkan biomassa
cacing tanah.
5. Amatilah organisme tanah lain yang terdapat dalam 1 frame
tersebut seperti semut, rayap, lipan, dan lain-lain (lakukan
hal yang sama seperti pada poin 4).
3.2.3. Tabel Pengamatan
Tabel 7. Tabel pengamatan kelimpahan fauna tanah
Lahan: AFMK / AFMS / AFPK / AFPS / TS
Jenis Jumlah Biomassa Nisbah
organisme (ekor/cm2) (g/cm2) (jumlah/biomassa)
Cacing ... ... ...
... ... ... ...
... ... ... ...
14
3.3. Berat Isi Tanah
3.3.1. Alat dan Bahan
1. Cawan
2. Timbangan
3. Pisau lapang/cetok
4. Oven
5. Jangka sorong
6. Ring sampel
7. Ring master
8. Buku dan alat tulis
9. Sampel tanah utuh
3.3.2. Cara Kerja Pengambilan Sampel Tanah Utuh
1. Tentukan titik pengambilan sampel disesuaikan dengan titik
pengambilan sampel serasah di dalam frame serasah.
2. Sampel tanah diambil pada titik pengambilan sampel tanah
hindari tempat-tempat yang telah mengalami gangguan
(jalan, lokasi yang telah terinjak, dan berdekatan dengan
perakaran tanaman).
3. Siapkan ring sampel, ring master, balok penekan, dan palu.
4. Letakkan ring sampel pada titik pengamatan yang telah
ditentukan.
5. Benamkan ring sampel dengan bantuan balok penekan dan
palu, hingga tanah memenuhi ¾ bagian ring sampel.
6. Letakkan ring master di atas ring sampel. Benamkan kedua
ring tersebut hingga tanah memenuhi ring.
7. Hancurkan tanah di sekitar ring dengan bantuan pisau
lapangan/ cetok dan ambil ring beserta sampel tanah secara
perlahan.
8. Pisahkan sampel dalam ring sampel dengan ring master.
9. Rapikan sisi ring sampel tanpa merusak sampel.
15
10. Tutup kedua sisi ring sampel dengan plastik dan beri label.
3.3.3. Cara Kerja Analisis Berat Isi Tanah
1. Siapkan alat dan bahan analisis berat isi.
2. Lakukan penimbangan sampel tanah kotor (tanah beserta
ring) = massa sampel tanah total (Mt) + massa ring (Mr).
3. Keluarkan tanah dari ring dan bersihkan dari sisa tanah.
4. Ukur tinggi (t) dan diameter dalam ring (d) untuk hitung
volume total tanah (Vt) serta massa ring (Mr).
5. Timbang cawan kosong (K) dan berat basah sub-sampel +
cawan (Tb+K).
6. Beri label cawan dan cawan yang telah diisi sub-sampel ke
dalam oven (24 jam, suhu 105°C).
7. Timbang sub-sampel untuk mendapatkan berat kering sub-
sampel + cawan (To+K).
8. Catat hasil dan lakukan perhitungan.
3.3.4. Tabel Pengamatan
Tabel 8. Tabel analisis berat isi tanah
Lahan: AFMK / AFMS / AFPK / AFPS / TS
Ring KA sub sampel
Mt + Mr Mt Mr
Sampel d t Tb + K Tk + K K
cm cm g g g g g g
1 ... ... ... ... ... ... ... ...
2 ... ... ... ... ... ... ... ...
Lanjutan Tabel 8.
KA sub sampel Vt Mp BI
Sampel
% g g g/cm3
1 ... ... ... ...
2 ... ... ... ...
16
Keterangan: d = diameter ring, t = tinggi ring, Mt = massa tanah basah,
Mr = massa ring, KA = kadar air, Tb = massa tanah basah sub sampel, Tk
= massa tanah kering sub sampel, K = kaleng atau cawan, Vt = volume
tanah, Mp = massa padatan, BI = berat isi tanah
3.4. Pengambilan Sampel Tanah Hancuran
3.4.1. Alat dan Bahan
1. Cetok
2. Plastik dan karet
3. Alat tulis
3.4.2. Cara Kerja
1. Tentukan titik pengambilan sampel (diagonal, zig-zag, atau
acak).
2. Sampel tanah diambil pada titik pengambilan sampel tanah
yang telah ditentukan, hindari tempat-tempat yang telah
mengalami gangguan (jalan, lokasi yang telah terinjak dan
berdekatan dengan perakaran tanaman).
3. Ambil sampel tanah hancuran secara komposit dari setiap
titik pengamatan dan pada masing-masing kedalaman (0-10
cm; 10-20 cm) dengan menggunakan bantuan cetok.
4. Masukkan sampel ke dalam plastik yang sama pada setiap
plot dan beri label sebagai penanda.