BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Pengetahuan
1. Definisi pengetahuan
Pengetahuan dapat diperoleh seseorang secara alami atau
diintervensi baik langsung maupun tidak langsung. Perkembangan
teori pengetahuan telah berkembang sejak lama. Filsuf pengetahuan
yaitu Plato menyatakan pengetahuan sebagai “kepercayaan sejati yang
dibenarkan (valid)” (justified true belief). Menurut Notoatmojo
(2018), pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah
orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Dalam
Kamus Besar Bahasa Indonesia (2017), pengetahuan adalah sesuatu
yang diketahui berkaitan dengan proses pembelajaran. Proses belajar
ini dipengaruhi berbagai factor dari dalam, seperti motivasi dan factor
luar berupa sarana informasi yang tersedia, serta keadaan social
budaya. Pengetahuan adalah informasi atau maklumat yang diketahui
atau disadari oleh seseorang (Budiman, 2018).
2. Jenis pengetahuan
1) Pengetahuan Implisit
Pengetahuan implisit adalah pengetahuan yang masih
tertanam dalam bentuk pengalaman seseorang dan berisi faktor-
faktor yang tidak bersifat nyata seperti keyakinan pribadi,
perspektif, dan prinsip.
8
9
2) Pengetahuan Eksplisit
Pengetahuan eksplisit adalah pengetahuan yang telah
didokumentasikan atau disimpan dalam wujud nyata, bisa dalam
wujud perilaku kesehatan. Pengetahuan nyata dideskripsikan
dalam tindakan-tindakan yang berhubungan dengan kesehatan
(Budiman, 2018).
3. Tahapan pengetahuan
Tahapan pengetahuan menurut Benjamin S. Bloom (1956) ada 6
tahapan, yaitu sebagai berikut.
a. Tahu (know)
Berisikan kemampuan untuk mengenali dan mengingat
peristilahan, definisi, fakta-fakta, gagasan, pola, urutan,
metodologi, prinsip dasar, dan sebagainya.
b. Memahami (comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk
menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan
dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar.
c. Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk
menggunakan materi tersebut secara benar.
d. Analisis (analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan
materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi
10
masih di dalam satu struktur organisasi dan masih ada kaitannya
satu sama lain.
e. Sintesis (synthesis)
Sintesis merujuk pada suatu kemampuan untuk
meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu
bentuk keseluruhan yang baru.
f. Evaluasi (evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk
melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau
objek (Budiman, 2018).
4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang,
yaitu:
a. Pendidikan
Pendidikan adalah suatu usaha untuk mengembangkan
kepribadian dan kemampuan di dalam dan di luar sekolah dan
berlangsung seumur hidup. Pendidikan mempengaruhi proses
belajar, makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah orang
tersebut untuk menerima informasi. Dengan pendidikan tinggi
seseorang akan cenderung untuk mendapatkan informasi, baik
dari orang lain maupun dari media massa. Semakin banyak
informasi yang masuk semakin banyak pula pengetahuan yang
didapat tentang kesehatan. Pengetahuan sangat erat kaitannya
11
dengan pendidikan di mana diharapkan seseorang dengan
pendidikan tinggi, maka orang tersebut akan semakin luas pula
pengetahuannya.
b. Massa media/informasi
Informasi yang diperoleh baik dari pendidikan formal
maupun non-formal dapat memberikan pengaruh jangka pendek
(immediate impact) sehingga menghasilkan perubahan atau
peningkatan kemajuan. Majunya teknologi akan tersedia
bermacam-macam media massa yang dapat mempengaruhi
pengetahuan masyarakat tentang inovasi baru. Sebagai sarana
komunikasi, berbagai bentuk media massa seperti televisi, radio,
surat kabar, majalah dan lain-lain. Dalam penyampaian
informasi sebagai tugas pokoknya, media massa membawa pula
pesan-pesan yang berisi sugesti yang dapat mengarahkan opini
seseorang. Adanya informasi baru mengenai sesuatu hal
memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya
pengetahuan terhadap hal tersebut.
c. Social budaya dan ekonomi
Kebiasaan dan tradisi yang dilakukan orang-orang tanpa
melalui penalaran apakah yang dilakukan baik atau buruk.
Dengan demikian seseorang akan bertambah pengetahuannya
walaupun tidak melakukan. Status ekonomi seseorang juga akan
menentukan tersedianya suatu fasilitas yang diperlukan untuk
12
kegiatan tertentu, sehingga status sosial ekonomi ini akan
mempengaruhi pengetahuan seseorang.
d. Lingkungan
Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar
individu, baik lingkungan fisik, biologis, maupun sosial.
Lingkungan berpengaruh terhadap proses masuknya
pengetahuan ke dalam individu yang berada dalam lingkungan
tersebut. Hal ini terjadi karena adanya interaksi timbal balik
ataupun tidak yang akan direspon sebagai pengetahuan oleh
setiap individu.
e. Pengalaman
Pengalaman sebagai sumber pengetahuan adalah suatu
cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan dengan cara
mengulang kembali pengetahuan yang diperoleh dalam
memecahkan masalah yang dihadapi masa lalu. Pengalaman
belajar dalam bekerja yang dikembangkan memberikan
pengetahuan dan keterampilan professional serta pengalaman
belajar selama bekerja akan dapat mengembangkan kemampuan
mengambil keputusan yang merupakan manifestasi satu
keterpaduan menalar secara ilmiah dan etik yang bertolak dari
masalah nyata dalam bidang kerjanya.
13
f. Usia
Usia mempengaruhi terhadap daya tangkap dan pola pikir
seseorang. Semakin bertambah usia semakin berkembang pula
daya tangkap dan pola pikirnya, sehingga pengetahuan yang
diperolehnya semakin membaik. Pada usia madya, individu akan
lebih berperan aktif dalam masyarakat dan kehidupan social
serta lebih banyak melakukan persiapan demi suksesnya upaya
menyesuaikan diri menuju usia tua, selain itu orang usia madya
akan lebih banyak menggunakan banyak waktu untuk membaca.
5. Pengukuran tingkat pengetahuan
Menurut Skinner, bila seseorang mampu menjawab mengenai
materi tertentu baik secara lisan maupun tulisan, maka dikatakan
seseorang tersebut mengetahui bidang tersebut. Sekumpulan jawaban
yang diberikan tersebut dinamakan pengetahuan. Pengukuran bobot
pengetahuan seseorang ditetapkan menurut hal-hal sebagai berikut:
a. Bobot I : tahap tahu dan pemahaman
b. Bobot II : tahap tahu, pemahaman, aplikasi dan analisis
c. Bobot III : tahap tahu, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis,
dan evaluasi.
Pengukuran dapat dilakukan dengan wawancara atau angket
yang menanyakan isi materi yang diukur dari subjek penelitian atau
responden.
14
Arikunto (2018) membuat kategori tingkat pengetahuan
seseorang menjadi tiga tingkatan yang didasarkan pada nilai
presentase yaitu sebagai berikut:
a. Tingkat pengetahuan kategori Baik jika nilainya ≥75%
b. Tingkat pengetahuan kategori Cukup jika nilainya 56-74%.
c. Tingkat pengetahuan kategori Kurang jika nilainya ≤55%
Dalam membuat kategori tingkat pengetahuan bisa juga
dikelompokkan menjadi dua kelompok jika yang diteliti masyarakat
umum, yaitu sebagai berikut:
a. Tingkat pengetahuan kategori Baik jika nilainya ≥50%
b. Tingkat pengetahuan kategori Kurang Baik jika nilainya ≤50%
(Budiman, 2018).
B. Perawatan Tali Pusat
1. Pengertian tali pusat
Tali pusat dalam istilah medisnya disebut dengan umbilical
cord. Merupakan saluran kehidupan bagi janin selama ia di dalam
kandungan, sebab selama dalam rahim, tali pusat ini lah yang
menyalurkan oksigen dan makanan dari plasenta ke janin yang berada
di dalam nya. Begitu janin dilahirkan, ia tidak lagi membutuhkan
[Link] ibunya, karena bayi mungil ini sudah dapat bernafas
sendiri melalui hidungnya. Karena sudah tak diperlukan lagi maka
saluran ini harus dipotong dan dijepit, atau diikat (Sodikin, 2019).
15
Diameter tali pusat antara 1cm hingga 2,5cm, dengan rentang
panjang antara 30cm hingga 100cm, rata-rata 55cm, terdiri atas
alantoin yang rudimenter, sisa-sisa omfalo mesenterikus, dilapisi
membran mukus yang tipis, selebihnya terisi oleh zat seperti agar-agar
sebagai jaringan penghubung mukoid yang disebut jeli whartor.
Setelah tali pusat lahir akan segera berhenti berdenyut, pembuluh
darah tali pusat akan menyempit tetapi belum obliterasi, karena itu tali
pusat harus segera dipotong dan diikat kuat-kuat supaya pembuluh
darah tersebut oklusi serta tidak perdarahan (Farrer, 2017).
2. Tujuan Perawatan Tali Pusat
Perawatan tali pusat adalah perbuatan merawat atau memelihara
pada tali pusat bayi setelah tali pusat dipotong atau sebelum puput
(WHO, 2018). Perawatan tali pusat adalah pengobatan dan pengikatan
tali pusat yang menyebabkan pemisahan fisik terakhir antara ibu bayi,
kemudian tali pusat dirawat dalam keadaan steril, bersih, kering, puput
dan terhindar dari infeksi tali pusat (Hidayat, 2019).
Tujuan perawatan tali pusat adalah mencegah terjadinya
penyakit tetanus pada bayi baru lahir, agar tali pusat tetap bersih,
kuman-kuman tidak masuk sehingga tidak terjadi infeksi pada tali
pusat bayi. Penyakit tetanus ini disebabkan oleh clostridium tetani
yaitu kuman yang mengeluarkan toksin (Racun), yang masuk melalui
luka tali pusat, karena perawatan atau tindakan yang kurang bersih
(Suririnah, 2018).
16
Menurut Sears dkk (2019), perawatan tali pusat bertujuan untuk
menjaga agar tali pusat tetap kering dan bersih, mencegah infeksi pada
bayi baru lahir, membiarkan tali pusat terkena udara agar cepat kering
dan lepas.
3. Penatalaksanaan Perawatan Tali Pusat (Hamilton, 2019)
a. Peralatan Yang Dibutuhkan:
1) 2 Air DTT hangat: 1 untuk membasahi dan menyabuni
dan 1 untuk membilas.
2) Washlap kering dan basah.
3) Sabun bayi.
4) Kassa steril.
5) 1 set pakaian bayi.
b. Prosedur Perawatan Tali Pusat:
1) Cuci tangan.
2) Dekatkan alat.
3) Siapkan 1 set baju bayi yang tersusun rapi, yaitu: celana,
baju, bedong yang sudah digelar.
4) Buka bedong bayi.
5) Lepas bungkus tali pusat.
6) Bersihkan atau ceboki dengan washlap 2-3x dari bagian
muka sampai kaki/ atas ke bawah.
7) Pindahkan bayi ke baju dan bedong yang bersih.
17
8) Bersihkan tali pusat, dengan cara:
a) Pegang bagian ujung.
b) Basahi dengan washlap dari ujung melingkar ke
batang.
c) Disabuni pada bagian batang dan pangkal.
d) Bersihkan sampai sisa sabunnya hilang.
e) Keringkan sisa air dengan kassa steril.
f) Tali pusat tidak dibungkus.
9) Pakaikan popok, ujung atas popok dibawah tali pusat, dan
talikan di pinggir. Keuntungan: Tali pusatnya tidak
lembab, jika pipis tidak langsung mengenai tali pusat,
tetapi ke bagian popok dulu.
10) Bereskan alat.
11) Cuci tangan.
4. Manfaat Perawatan Tali Pusat
Dampak positif dari perawatan tali pusat adalah bayi akan sehat
dengan kondisi tali pusat bersih dan tidak terjadi infeksi serta tali
pusat pupus lebih cepat yaitu antara hari ke 5-7 tanpa ada komplikasi
(Djamaludin dan Eveline, 2019).
Apabila tali pusat tidak dirawat dengan baik, kuman-kuman bisa
masuk sehingga terjadi infeksi yang mengakibatkan penyakitTetanus
neonatorum. Penyakit ini adalah salah satu penyebab kematian bayi
yang terbesar di Asia Tenggara dengan jumlah 220.000 kematian bayi,
18
sebab masih banyak masyarakat yang belum mengerti tentang cara
perawatan tali pusat yang baik dan benar (WHO, 2018).
5. Cara Pencegahan Infeksi Tali Pusat
Cara penanggulangan atau pencegahan infeksi pada tali pusat
meliputi: (Hidayat, 2019).
a. Penyuluhan bagi ibu pasca melahirkan tentang merawat tali
pusat.
b. Memberikan latihan tentang perawatan tali pusat pada ibu pasca
persalinan.
c. Instruksikan ibu untuk selalu memantau keadaan bayinya.
d. Lakukan perawatan tali pusat setiap hari dan setiap kali basah
atau kotor.
Infeksi tali pusat pada dasarnya dapat dicegah dengan
melakukan perawatan tali pusat yang baik dan benar, yaitu dengan
prinsip perawatan kering dan bersih. Pemakaian antimikrobial topikal
pada perawatan tali pusat dapat mempengaruhi waktu pelepasan tali
pusat, yaitu merusak flora normal sekitar tali pusat sehingga
memperlambat pelepasan tali pusat (Suririnah, 2018).
Pemberian antiseptik pada tali pusat tidak diperlukan, karena
resiko terjadinya kontaminasi adalah kecil, yang penting terjaga
kebersihannya. Berbeda dengan bayi yang dirawat di rumah
sakit,penggunaan antiseptik mungkin diperlukan untuk mengurangi
terjadinya infeksi pada tali pusat (Sodikin, 2019).
19
Perawatan praktis lainnya yang mungkin dapat mengurangi
timbulnya resiko terjadinya infeksi tali pusat adalah dengan cara rawat
gabung dan kontak langsung kulit bayi dan ibunya mulai lahir agar
bayi mendapatkan pertumbuhan flora normal dari ibunya yang
sifatnya patogen. Pemberian air susu ibu yang dini dan sering akan
memberikan antibodi kepada bayi untuk melawan infeksi. Pemberian
antiseptik pada tali pusat tidak diperlukan, karena resiko terjadinya
kontaminasi adalah kecil, yang penting terjaga kebersihannya.
Berbeda dengan bayi yang dirawat di rumah sakit, penggunaan
antiseptik mungkin diperlukan untuk mengurangi terjadinya infeksi
pada tali pusat (Maryunanik, 2018).
20
C. KerangkaTeori
Perawatan Tali Pusat
1. Pengetahuan
Gambar 2.1 Kerangka teori sumber : Budiman (2018), Arikunto (2018).