0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan85 halaman

1 Pembangunan Bangunan Gedung

Diunggah oleh

riantitrngsih
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan85 halaman

1 Pembangunan Bangunan Gedung

Diunggah oleh

riantitrngsih
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

1 PEMBANGUNAN BANGUNAN GEDUNG

1.1 STANDAR UMUM

Perencanaan Untuk menjamin kepastian dan ketertiban hukum dalam penyelenggaraan bangunan
gedung, setiap bangunan gedung harus memenuhi persyaratan administratif dan teknis bangunan
gedung, serta harus diselenggarakan secara tertib.

Berdasarkan Undang-Undang No. 11 tahun 2020, tentang Cipta Kerja, yang dimaksud dengan:

1 Cipta Kerja adalah upaya penciptaan kerja melalui usaha kemudahan, perlindungan, dan
pemberdayaan koperasi dan usaha mikro, kecil, dan menengah, peningkatan ekosistem
investasi dan kemudahan berusaha, dan investasi Pemerintah Pusat dan percepatan proyek
strategis nasional.
2 Persetujuan Bangunan Gedung adalah perizinan yang diberikan kepada pemilik bangunan
gedung untuk membangun baru, mengubah, memperluas, mengurangi, dan/atau merawat
bangunan gedung seusai dengan standar teknis Bangunan Gedung.

1.2 STANDAR TEKNIS

Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 16 Tahun 2021, Penetapan Fungsi Bangunan Gedung
meliputi:

1. Pasal 7
1) Bangunan Gedung dengan fungsi campuran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3)
merupakan Bangunan Gedung yang dibangun dengan tujuan untuk menjalankan kegiatan
berusaha.
2) Bangunan Gedung dengan fungsi campuran sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
mengikuti seluruh Standar Teknis dari masing masing fungsi yang digabung.

2. Pasal 8
1) Bangunan Gedung dengan fungsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2) dan ayat
(3) harus didirikan pada lokasi yang sesuai dengan ketentuan RDTR.
2) Dalam hal RDTR sebagaimana dimaksud pada ayat (1) belum disusun dan/atau belum
tersedia maka fungsi Bangunan Gedung digunakan sesuai dengan peruntukan lokasi yang
diatur dalam rencana tata ruang.
2 PERSYARATAN TEKNIS PEMBANGUNAN
GEDUNG NEGARA
2.1 PERSYARATAN TEKNIS BANGUNAN GEDUNG SEDERHANA TAHAN GEMPA

Tujuan untuk mewujudkan bangunan gedung sederhana yang lebih aman terhadap dampak
kerusakan yang diakibatkan oleh bencana gempa bumi. Persyaratan pokok tahan gempa pada
bangunan Peraturan Menteri PUPR No. 22 tahun 2018, meliputi:

1) Peraturan Menteri ini dimaksudkan sebagai petunjuk pelaksanaan Pembangunan


Bangunan Gedung Negara.
2) Peraturan menteri ini bertujuan untuk:
a. mewujudkan Bangunan Gedung Negara yang sesuai dengan fungsinya;
b. memenuhi persyaratan keselamatan, kesehatan, kenyamanan, kemudahan, efisien
dalam pengunaan sumber daya, serasi dan selaras dengan lingkungannya; dan
c. mewujudkan penyelenggaraan Bengunan Gedung Negara yang tertib, efektif, dan
efisien.
3) Lingkup Peraturan Menteri ini adalah;
a. persyaratan Bangunan Gedung Negara;
b. klasifikasi, standar luas, dan standar jumlah lantai;
c. pembiayaan Pembangunan Bangunan Gedung Negara;
d. penyelanggara Pembangunan Bangunan Gedung Negara
e. tahapan Pembangunan Bangunan Gedung Negara
f. penyelenggaraan Pembangunan Tertentu Bangunan Gedung Negara;
g. Pengelolaan Teknis Pembangunan Bangunan Gedung Negara; dan
h. pembinaan dan pengawasan.

2.2 Persyaratan Teknis Bangunan Gedung Negara

Berdasarkan Peratuan Menteri PUPR Nomor 22 Tahun 2018 tentang Pembangunan Gedung
Negara, persyaratan teknis pokok pada bangunan gedung sederhana dapat dilihat pada tabel
berikut ini:

TABEL 1 Spesifikasi Teknis Bangunan Gedung Negara Gedung Kementerian/Lembaga Negara

NO URAIAN KLASIFIKASI

A PERSYARATAN TATA BANGUNAN DAN


LINGKUNGAN
[Link] Antar Bangunan minimal 4 m
[Link] Bangunan maksimum 2 lantai
[Link] Langit-langit min. 2,80 m
4. Kelengkapan Sarana dan Prasarana
a. parkir kendaraan a. minimal 1 parkir kendaraan
untuk 100 m2 luas bangunan
gedung atau sesuai dengan
ketentuan peraturan daerah
setempat
b. aksesibiltas
b. tersedia sarana aksesibilitas
bagi penyandang disabilitas
Sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan dan
standar
c. drainase c. tersedia drainase sesuai
ketentuan peraturan
perundang-undangan dan
standar

B PERSYARATAN BAHAN BANGUNAN


1 Bahan Penutup Lantai 1. keramik, vinil, tegel PC,
homogeneous tile (HT)

2 Bahan Dinding Luar 2. bata, batako diplester dan dicat,


kaca
3 Bahan Dinding Dalam 3. bata, batako, bata ringan diplester
dan dicat tembok, kaca
4 Bahan Penutup Plafon 4. kayu-lapis dicat, gipsum
5 Bahan Penutup Atap 5. genteng tanah liat, genteng beton,
genteng metal, seng, sirap
6 Bahan Kosen 6. kayu dipelitur/dicat dan nodized

7 Bahan Daun Pintu/Jendela aluminium


7. Kaca, panel kayu, kayu lapis,
engineering wood, bambu
laminating, metal, aluminium, PVC
C PERSYARATAN STRUKTUR BANGUNAN
1 Pondasi 1. batu kali, kayu, rollag bata, beton-
bertulang K-200
2 Struktur Lantai (khusus untuk bangunan 2. beton bertulang K-200, baja anti
gedung bertingkat) karat, kayu klas kuat/awet II
3 Kolom 3. beton bertulang K-200, baja anti
karat, kayu klas kuat/awet II
4 Balok 4. beton bertulang K-200, baja anti
karat, kayu klas kuat/awet II
5 Rangka Atap 5. kayu klas kuat/awet II, baja
ringan, baja anti karat

6 Kemiringan Atap 6. genteng min. 30°, sirap min.22.5°,


seng/aluminium/metal min 15°
D PERSYARATAN UTILITAS dan PRASARANA DAN
SARANA DALAM BANGUNAN
1. Air Bersih 1. PAM, sumur pantek
2. Saluran air hujan 2. talang, saluran lingkungan
3. Pembuangan Air Kotor 3. bak penampung
4. Pembuangan Kotoran 4. bak penampung
5. Bak Septik/septictank & resapan 5. septictank, biopro dan
sejenisnya
6. Sarana Pengamanan terhadap Bahaya 6. sistem yang terdiri atas
Kebakaran peralatan, kelengkapan dan
sarana, baik yang terpasang
maupun terbangun pada
bangunan yang digunakan baik
untuk tujuan sistem proteksi
aktif, sistem proteksi pasif
maupun cara-cara pengelolaan
dalam rangka melindungi
bangunan dan lingkungannya
terhadap bahaya kebakaran
7. Sumber daya listrik *) 7. PLN, Generator (Penggunaan
daya listrik harus
memperhatikan prinsip hemat
energi), serta mengikuti
ketentuan dalam SNI PUIL.
8. 100-400 lux/m2, dihitung
berdasarkan kebutuhan dan
fungsi bangunan/fungsi ruang
8. Penerangan serta ketentuan peraturan
perundang-undangan dan
standar
9. 6-10% bukaan atau dengan tata
udara buatan (AC*)
10. Tangga
11. Ram di dalam bangunan
9. Tata Udara
gedung memiliki kemiringan
paling besar 6° (1:10) ram di
10. Sarana Transportasi Vertikal dan
luar bangunan gedung memiliki
Horizontal *)
kemiringan paling besar 5°
11. Aksesibilitas bagi
(1:12) Lebar efektif ram tidak
disabilitas/penyandang cacat*
boleh kurang dari 95 cm tanpa
tepi pengaman/kanstin (low
curb) dan 120 cm dengan tepi
pengaman/kanstin (low curb).
12. proteksi petir sesuai dengan
ketentuan ketentuan peraturan
perundang-undangan dan
standar tetang Sistem Proteksi
12. Proteksi petir
Petir

E PERSYARATAN SARANA KESELAMATAN


1. Tangga Penyelamatan (khusus untuk 1. lebar minimal = 1, 20 m, dan
bangunan bertingkat) bukan tangga putar
2. Tanda Penunjuk Arah 2. jelas, dasar putih huruf hijau
3. Pintu 3. lebar minimal 0,90 m
4. Koridor/selasar 4. lebar minimal 0,92 m (1 orang
pengguna kursi roda) / lebar
minimal 1,84 m (2 orang
pengguna kursi roda)
3 SPESIFIKASI UMUM
PASAL 1 – LINGKUP

1. Spesifikasi Umum ini merupakan syarat-syarat atau ketentuan-ketentuan yang secara umum
berlaku untuk seluruh bagian pekerjaan dimana spesifikasi ini bisa diterapkan.
2. Spesifikasi Umum ini membentuk suatu kesatuan dengan Spesifikasi Teknis, dan secara
bersama- sama merupakan syarat-syarat atau ketentuan-ketentuan pelaksanaan bagi
seluruh bagian pekerjaan sebagaimana diungkapkan dalam satu atau lebih dari dokumen-
dokumen berikut ini :
2.1. Gambar-Gambar Pelaksanaan
2.2. Spesifikasi Umum/Teknis
2.3. Perincian Volume Pekerjaan/Perincian Penawaran
2.4. Dokumen-Dokumen Pelaksanaan yang lain.

PASAL 2 – REFERENSI

1. Atas seluruh bagian pekerjaan dalam Spesifikasi Umum ini, kecuali secara khusus
dipersyaratkan lain dalam satu atau lebih dari Dokumen Pelelangan/Pelaksanaan, berlaku :
1.1. Undang-undang/Keputusan Presiden
1.2. Peraturan/Surat Keputusan dari Departemen/Instansi yang berwenang
1.3. Ketentuan dari Badan Koordinasi Pekerjaan Jaringan Sistim Dibawah Tanah (BKJS) -
DKI Jakarta / Jawa Barat.
1.4. Peraturan yang dikeluarkan Direktorat Geologi Departemen Pertambangan.
1.5. Peraturan Dinas Keselamatan Kerja wilayah Jawa Barat.
1.6. Peraturan-peraturan lain yang dikeluarkan oleh Ditjen Bina lindung. Pemadam
Kebakaran dan lain-lain Lembaga Pemerintah yang berwenang.
1.7. Peraturan Daerah Kota Bogor
1.8. Petunjuk pemasangan dari Pabrik pembuat bahan dan peralatan yang bersangkutan.
1.9. Standard/Norma/Pedoman yang berlaku di Indonesia untuk bagian pekerjaan
yang bersangkutan, dalam mana termasuk, tapi tidak terbatas pada yang tersebut
berikut ini :

SUBYEK REFERENSI
Umum Permen PUPR No. 10 Tahun 2021
Pekerjaan Listrik Persyaratan Umum Instalasi Listrik
P.U.I.L Th 2011 (SNl 0225-2011)
Pekerjaan Plambing SNI 8153:2015 Sistem Plambing pada
Bangunan Gedung
Pekerjaan Pemadam Kebakaran SNI 3989, 6574, 1735, 1745, ISO 7010
Pekerjaan Ventilasi SNI 03-6572-2001 Tata Cara
Perancangan Sistem Ventilasi dan
Pengkondisian Udara pada Bangunan
Gedung
Pekerjaan Telepon SNI 2849:2015 Tata Cara Perancangan
Sistem Komunikasi dalam Bangunan
Gedung
Pekerjaan Beton SNI 2847:2019 – Tata Cara
Perencanaan Struktur Beton untuk
Bangunan Gedung

Bahan-bahan Umum Peraturan Pemerintah No. 16 Tahun


2021
Pekerjaan Kayu SNI 7973:2013 – Kayu untuk Konstruksi
Bangunan

Bahan Bangunan SNI sesuai jenis bahan

2. Dalam hal dimana ada bagian pekerjaan yang spesifikasinya tidak diatur dalam spesifikasi
teknis umum/khusus maupun salah satu dari ketentuan yang disebutkan dalam Pasal 2
(1) di atas, maka untuk bagian pekerjaan tersebut Pemborong harus mengajukan salah
satu dari spesifikasi berikut ini :
2.1. Standar/norma/kode/pedoman yang bisa diterapkan pada bagian pekerjaan
bersangkutan, yang diterbitkan oleh instansi/asosiasi profesi/asosiasi
produsen/lembaga pengujian ataupun badan- badan lain yang
berwenang/berkepentingan atau badan-badan yang bersifat internasional ataupun
nasional dari Negara lain, sejauh bahwa atas hal tersebut diperoleh kesepakatan
dari Konsultan Pengawas (MK) / Konsultan Perencana / Owner.
2.2. Brosur teknis dari produsen yang didukung oleh sertifikat dari lembaga pengujian
yang diakui secara nasional/internasional.

PASAL 3 – BAHAN

1. Baru/bekas
Kecuali ditetapkan lain secara khusus, maka semua bahan yang dipergunakan
dalam/untuk pekerjaan ini harus merupakan bahan yang baru, penggunaan bahan bekas
bisa diperkenankan dengan izin tertulis dari Konsultan Pengawas (MK) / Konsultan
Perencana / Owner

2. Tanda Pengenal

2.1. Dalam hal dimana pabrik/produsen bahan mengeluarkan tanda pengenal untuk
produk/bahan yang dihasilkannya, baik berupa cap/merk dagang pengenal
pabrik/produsen, ataupun sebagai pengenal kwalitas/kelas/kapasitas; maka semua
bahan dari pabrik/ produsen bersangkutan yang dipergunakan dalam pekerjaan ini
harus mengandung tanda pengenal tersebut.
2.2. Khususnya untuk bahan bagi pekerjaan instalasi (Daya, Penerangan, Komunikasi.

Alarm, Plambing, dan lain-lain. kecuali ditetapkan lain oleh Konsultan Pengawas
(MK) / Konsultan Perencana / Owner, bahan sejenis dengan fungsi yang berbeda
harus diberi tanda pengenal untuk membedakan satu bahan dari bahan yang lain.
Tanda pengenal ini bisa berupa warna atau tanda-tanda lain, yang mana harus sesuai
dengan referensi pada Pasal 2 Spesifikasi Umum ini kalau ada diatur disana; atau dalam
hal dimana

tidak/belum ada pengaturan yang jelas mengenai itu, hal ini harus dilaksanakan sesuai
petunjuk dari Konsultan Pengawas / MK / Owner.

3. Merk Dagang Dan Kesetarafan

3.1. Penyebutan sesuatu merk dagang bagi suatu bahan/produk di dalam spesifikasi,
secara umum harus dimengerti sebagai spesifikasi kesehatan, kualitas dan
penampilan (performance) dari bahan/produk tersebut, yang mana dinyatakan
dengan kata-kata: "atau yang setaraf”
3.2. Kecuali secara khusus dipersyaratkan lain, maka penggunaan bahan/produk lain yang
dapat dibuktikan mempunyai kualitas penampilan yang setaraf dengan bahan/produk
yang memakai merk dagang yang disebutkan, dapat diterima sejauh bahwa untuk itu
sebelumnya telah diperoleh persetujuan tertulis dari Konsultan Pengawas / MK /
Owner atas kesetarafan tersebut. Penggunaan bahan/produk yang disetujui sebagai
"setaraf tidak dianggap sebagai perubahan pekerjaan, dan karenanya perbedaan
harga dengan bahan/produk yang menyebutkan merk dagangnya akan diabaikan.

4. Penggantian (Substitusi)

4.1. Atas persetujuan Konsultan Pengawas / MK / Owner, Pemborong/Supplier bisa


mengajukan usulan untuk menggantikan sesuatu bahan/produk dengan sesuatu
bahan/produk lain dengan penampilan yang berbeda dengan yang dipersyaratkan,
tetapi dengan taraf yang bersamaan.
4.2. Dalam persetujuan atas sesuatu penggantian (substitusi), perbedaan harga yang ada
dengan bahan/ produk yang dipersyaratkan akan diperhitungkan sebagai perubahan
pekerjaan, dengan ketentuan sebagai berikut :
4.2.1 Kecuali dapat dibuktikan bahwa Pemborong tidak bersalah/lalai, maka dalam
hal dimana penggantian disebabkan karena kegagalan Pemborong/Supplier
untuk mendapatkan bahan/produk seperti yang dipersyaratkan, maka
perubahan pekerjaan yang bersifat kerja tambah dianggap TIDAK ADA.
4.2.2 Dalam hal dimana penggantian dapat disepakati oleh Konsultan Pengawas / MK
/ Owner selaku wakil Pemberi Tugas sebagai masukkan (in-put) baru yang
menyangkut nilai-nilai tambah, maka perubahan pekerjaan berupa Kerja
tambah dapat diperkenankan.

5. Persetujuan Bahan

5.1. Untuk menghindarkan penolakan bahan di lapangan, dianjurkan dengan sangat agar
sebelum sesuatu bahan/produk akan dibeli/dipesan/diprodusir, terlebih dulu
dimintakan persetujuan dari Konsultan Pengawas / MK / Owner atas kesesuaian dari
bahan/produk tersebut pada spesifikasi, yang mana akan diberikan dalam bentuk
tertulis yang dilampirkan pada contoh/brosur dari bahan/produk yang bersangkutan
untuk diserahkan pada Pengawas di lapangan.
5.2. Penolakan bahan di lapangan karena diabaikannya prosedur diatas sepenuhnya
merupakan tanggung jawab Pemborong/Supplier dan tidak dapat diberikan
pertimbangan keringanan apapun.
5.3. Adanya persetujuan tertulis dengan disertai contoh/brosur seperti tersebut di atas
tidak melepaskan tanggung jawab Pemborong/Supplier dari kewajibannya dalam
Perjanjian Kerja (Kontrak) ini untuk mengadakan bahan/produk yang sesuai dengan
persyaratannya, serta tidak merupakan jaminan akan diterima/disetujuinya seluruh
bahan/produk tersebut di lapangan, sejauh tidak dapat dibuktikan bahwa seluruh
bahan/produk tersebut adalah sesuai dengan contoh/brosur yang telah disetujui.

6. Contoh

Pada waktu memintakan persetujuan atas bahan/produk, kepada Konsultan


Pengawas (MK) / Konsultan Perencana / Owner harus diserahkan contoh dari
bahan/produk tersebut, dengan ketentuan sebagai berikut :
6.1. Jumlah Contoh:
6.1.1 Untuk bahan/produk, atas mana tidak dapat diberikan sesuatu Sertifikat
Pengujian yang dapat disetujui/diterima oleh Konsultan Pengawas (MK) /
Konsultan Perencana / Owner, sehingga oleh karenanya perlu diadakan
pengujian, kepada Konsultan Pengawas (MK) / Konsultan Perencana / Owner
harus diserahkan sejumlah bahan/produk sesuai spesifikasi yang ditetapkan
dalam Standard prosedur pengujian, untuk dijadikan benda uji guna
diserahkan pada Badan/Lembaga Penguji yang ditunjuk oleh Konsultan
Pengawas (MK) / Konsultan Perencana / Owner.
6.1.2 Untuk bahan/produk, atas mana dapat ditunjukan Sertifikat Pengujian yang
dapat disetujui/diterima oleh Konsultan Pengawas (MK) / Konsultan
Perencana / Owner, kepada Konsultan Pengawas (MK) / Konsultan Perencana
/ Owner harus diserahkan 2 (dua) buah contoh, yang masing- masing disertai
dengan salinan Sertifikat Pengujian yang bersangkutan.
6.2. Contoh yang disetujui :
6.2.1 Dari contoh yang diserahkan kepada Konsultan Pengawas (MK) / Konsultan
Perencana
/ Owner, atas contoh yang telah memperoleh persetujuan, oleh PM/MK harus
dibuat suatu keterangan tertulis mengenai persetujuannya; dan disamping itu
oleh PM/MK harus dipasangkan tanda pengenal persetujuannya pada 2 (dua)
buah contoh, yang semuanya akan dipegang oleh Pengawas.
Bila dikehendaki, Pemborong/Supplier dapat memintakan sejumlah set
tambahan dari contoh berikut tanda pengenal persetujuan dan surat
keterangan persetujuan untuk kepentingan dokumentasinya sendiri. Dalam
hal yang demikian, jurnlah contoh yang harus diserahkan kepada PM/MK
harus ditambah seperlunya sesuai dengan kebutuhan tambahan tersebut.
6.2.2. Pada waktu PM/MK sudah tidak lagi membutuhkan contoh yang disetujui
tersebut untuk pemeriksaan bahan/produk bagi pekerjaan, pemborong
berhak meminta kembali contoh tersebut untuk dipasangkan pada pekerjaan.
6.3. Waktu persetujuan contoh
6.3.1 Adalah tanggung jawab dari Pemborong/Suplier untuk mengajukan contoh
pada waktunya, sedemikian sehingga pemberian persetujuan atas contoh
tersebut tidak akan menyebabkan keterlambatan pada jadwal pengadaan
bahan.
6.3.2 Untuk bahan/produk yang persyaratannya tidak dikaitkan dengan
kesetarafan pada sesuatu merk dagang tertentu, keputusan atas contoh akan
diberikan oleh Proyek Manajer dalam waktu tidak lebih dari 10 (sepuluh) hari
kalender.
Dalam hal dimana persetujuan tersebut akan melibatkan keputusan
tambahan diluar Spesifikasi (seperti penentuan model, warna dan
sebagainya), maka keseluruhan keputusan akan diberikan dalam waktu tidak
lebih dari 21 (duapuluh satu) hari kalender.
6.3.3 Untuk bahan/produk yang masih harus dibuktikan kesetarafannya dengan
sesuatu merk dagang yang disebutkan, keputusan atas contoh akan diberikan
oleh Konsultan Pengawas / MK / Owner dalam waktu 21 (dua puluh satu) hari
kalender sejak dilengkapinya kesetarafan.
6.3.4 Untuk bahan/produk yang bersifat pengganti (substitusi), keputusan
persetujuan akan diberikan oleh Konsultan Pengawas / MK / Owner dalam
jangka waktu 30 (tiga puluh) hari sejak diterimanya dengan lengkap seluruh
bahan-bahan pertimbangan.
6.3.5 Untuk bahan/produk yang bersifat peralatan/perlengkapan ataupun
produk lain yang karena sifat/jumlah/harga pengadaannya tidak
memungkinkan untuk diberikan contoh dalam bentuk bahan/produk jadi;
permintaan persetujuan bisa diajukan berdasarkan brosur produk tersebut,
yang mana harus dilengkapi dengan :
■ Spesifikasi teknis lengkap yang dikeluarkan oleh pabrik/produsen
■ Surat-surat seperlunya dari agen/importir, sesuai petunjuk Pengawas,
seperti : Surat keagenan, Surat Jaminan Suku Cadang dan Jasa Purna
Penjualan (After Sales Service), dll.
■ Katalog untuk warna, pekenaan penyelesaian (finishing) dll
■ Sertifikat-sertifikat pengujian/penetapan kelas dan dokumen-dokumen
laboratorium sesuai petunjuk PM/MK.
6.3.6 Apabila setelah melewati waktu yang ditetapkan diatas, keputusan atas
contoh dari bahan/produk yang diajukan belum diperoleh tanpa
pemberitahuan tertulis apapun dari

Konsultan Pengawas / MK / Owner maka dengan sendirinya dianggap bahwa


contoh yang diajukan telah disetujui oleh Konsultan Pengawas / MK / Owner.

7. Penyimpanan Bahan
7.1. Persetujuan atas sesuatu bahan/produk harus dimengerti sebagai perizinan untuk
memasukkan bahan/produk tersebut kedalam lapangan: dan penggunaan
bahan/produk tersebut dalam pekerjaan sejauh bahwa keadaanya tidak berubah dari
kondisi waktu persetujuan diberikan.
7.2. Bahan/produk yang telah dimasukkan ke lapangan harus segera disimpan
▪ di tempat,
▪ dengan cara/peralatan,
▪ dalam susunan/tumpukan dan dengan pengkondisian lingkungan.,
▪ dengan pengamanan,
▪ dan dengan accesibilitas yang baik, sesuai ketetapan untuk masing-masing
bahan/ produk dalam Spesifikasi Teknis yang ditetapkan; atau dalam hal dimana
persyaratan ini tidak jelas, sesuai dengan petunjuk Konsultan Pengawas / MK /
Owner.
7.3. Pemborong yang akan memakai bahan/produk, bertanggung jawab bahwa selama
dalam penyimpanan, bahan/produk tersebut tetap berada dalam kondisi layak untuk
dipakai. Apabila selama waktu itu ternyata bahwa bahan/produk menjadi tidak lagi
layak untuk dipakai dalam pekerjaan, Konsultan Pengawas / MK / Owner berhak untuk
memerintahkan agar :
7.3.1 Bahan/produk tersebut segera diperbaiki sehingga kembali menjadi layak
untuk dipakai; atau
7.3.2 Dalam hal dimana perbaikan tidak lagi mungkin, supaya bahan/produk
tersebut segera dikeluarkan dari lapangan untuk diganti dengan yang
memenuhi persyaratan.
7.3.3 Untuk bahan/produk yang mempunyai umur pemakaian yang tertentu,
penyimpanannya harus dikelompokkan menurut umur pemakaian tersebut,
yang mana harus dinyatakan dengan tanda pengenal dengan ketentuan
sebagai berikut :
▪ Terbuat kaleng atau kertas karton yang tidak akan rusak selama penggunaan
ini.
▪ Berukuran minimal 40 cm x 60 cm
▪ Huruf berukuran minimum setinggi 10 cm, dengan warna merah.
▪ Diletakkan di tempat yang mudah terlihat.
7.3.4 Penyusunan bahan sejenis selama penyimpanan harus diatur sedemikian
rupa, sehingga bahan yang terlebih dulu masuk akan pula terlebih dulu
dikeluarkan untuk dipakai dalam pekerjaan.

PASAL 4 – PELAKSANAAN

1. Rencana Pelaksanaan
1.1. Dalam waktu 7 (tujuh) hari sejak ditandatanganinya SPK oleh kedua belah pihak,
Pemborong harus menyerahkan kepada Konsultan Pengawas / MK / Owner :
1.1.1 Program kerja yang terdiri dari :
■ Jadwal Pelaksanaan yang terinci dalam bentuk Network Planning & Bar Chart.
■ Jadwal Pengadaan Bahan.
■ Jadwal Ketenagaan.
■ Jadwal Peralatan
1.1.2. Metoda pelaksanaan yang terinci.
1.1.3. Tabel/Daftar Pay Item.
1.1.4. Kelengkapan administrasi lainnya yang akan ditentukan kemudian oleh
Konsultan Pengawas / MK / Owner.
Konsultan Pengawas / MK / Owner akan memeriksa rencana kerja pemborong
tersebut di atas dan memberikan tanggapan atas itu dalam waktu paling lama 2
(dua) minggu.
1.1.5. Pemborong harus memasukkan kembali perbaikan atas rencana kerja kalau
Konsultan Pengawas / MK / Owner meminta diadakannya
perbaikan/penyempurnaan atas rencana kerja tadi, paling lambat 2 (dua)
hari sebelum dimulainya waktu pelaksanaan.

1.1.6. Pemborong tidak dibenarkan memulai sesuatu pelaksanaan pekerjaan


sebelum adanya persetujuan dari Konsultan Pengawas / MK / Owner atas
Rencana Kerja ini.
Kecuali dapat dibuktikan bahwa Konsultan Pengawas / MK / Owner telah
melalaikan kewajibannya untuk memeriksa rencana kerja pemborong pada
waktunya, maka kegagalan pemborong untuk memulai pekerjaan sehubungan
dengan belum adanya rencana Kerja yang disetujui Konsultan Pengawas / MK /
Owner sepenuhnya merupakan tanggung jawab dari Pemborong bersangkutan.

2. Gambar Kerja (Shop Drawing)


2.1. Format dari gambar kerja harus sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh
Konsultan Pengawas / MK / Owner.
2.2. Gambar kerja harus diajukan kepada Konsultan Pengawas / MK / Owner untuk
mendapatkan persetujuannya untuk mana gambar-gambar tersebut harus
diserahkan.

3. Rencana Harian. Mingguan dan Bulanan

3.1. Selambat-lambatnya setiap sore hari. Pemborong harus menyerahkan rencana kerja
harian, yang berisi Rencana pelaksanaan dari berbagai bagian pekerjaan yang akan
dilaksanakan pada keesokan harinya.
3.2. Selambat-lambatnya pada setiap hari Sabtu dalam masa dimana pelaksanaan
pekerjaan berlangsung. Pemborong berkewajiban untuk menyerahkan kepada
Pengawas suatu Rencana mingguan yang berisi rencana pelaksanaan dari berbagai
bagian pekerjaan yang akan dilaksanakan dalam minggu berikutnya.
3.3. Selambat-lambatnya pada minggu terakhir dari setiap bulan. Pemborong
berkewajiban menyerahkan kepada Pengawas suatu rencana bulanan yang
menggambarkan dalam garis besarnya, berbagai rencana pelaksanaan dari berbagai
bagian pekerjaan yang direncanakan untuk dilaksanakan dalam bulan berikutnya.
3.4. Kelalaian Pemborong untuk menyusun dan menyerahkan rencana harian, mingguan
maupun bulanan dinilai sama dengan kelalaian dalam melaksanakan perintah
Konsultan Pengawas / MK/ Owner dalam pelaksanaan pekerjaan.
3.5. Untuk memulai suatu bagian pekerjaan yang baru. Pemborong diwajibkan untuk
memberitahu Konsultan Pengawas / MK / Owner mengenai hal tersebut paling sedikit
2x24 jam sebelumnya, dengan format izin yang akan ditentukan oleh Konsultan
Pengawas / MK / Owner.

4. Laporan Harian, Mingguan & Bulanan


4.1. Selambat-lambatnya pada setiap sore hari. Pemborong harus menyerahkan laporan
harian, yang berisikan uraian lengkap dan terinci tentang pekerjaan-pekerjaan yang
telah dilaksanakan pada hari Itu.
4.2. Selambat-lambatnya pada setiap hari Senin, Pemborong harus menyerahkan laporan
mingguan, yang berisikan uraian tentang pekerjaan-pekerjaan yang telah
dilaksanakan pada minggu sebelumnya lengkap dengan prestasi dan bobot masing-
masing item pekerjaan.
4.3. Selambat-lambatnya pada akhir minggu pertama bulan berikutnya, Pemborong harus
menyerahkan laporan bulanan, yang berisikan uraian tentang pekerjaan-pekerjaan
yang telah dilaksanakan pada satu bulan sebelumnya, lengkap dengan komulatif
prestasi & bobot, serta dilengkapi pula dengan foto-foto dokumentasi.
4.4. Kelalaian Pemborong dalam membuat laporan harian, mingguan, maupun bulanan,
dinilai sama dengan kelalaian Pemborong dalam melaksanakan instruksi Konsultan
Pengawas / MK / Owner.

5. Kualitas Pekerjaan

Pekerjaan harus dikerjakan dengan kualitas pengerjaan yang terbaik untuk jenis
pekerjaan bersangkutan.
Hanya tenaga-tenaga kerja terbaik dalam tiap jenis pekerjaan diizinkan untuk
melaksanakan pekerjaan bersangkutan. Kualitas pengerjaan ataupun kualitas hasil
pekerjaan yang kurang memenuhi syarat akan ditolak atau harus diperbaiki. Tenaga
kerja yang kurang memenuhi syarat akan ditolak dan dilarang meneruskan kegiatannya.
Penilaian ini dapat dilakukan oleh Konsultan Pengawas / MK / Konsultan Perencana /
Owner.

6. Pengujian Hasil Pekeriaan

6.1. Kecuali dipersyaratkan lain secara khusus, maka semua pekerjaan akan diuji dengan
cara dan tolak ukur pengujian yang dipersyaratkan dalam referensi yang ditetapkan
dalam pasal 2 Spesifikasi Umum ini.
6.2. Kecuali dipersyaratkan lain secara khusus, maka badan/lembaga yang akan melakukan
pengujian dipilih atas persetujuan Konsultan Pengawas / MK / Owner dari
lembaga/badan pengujian milik Pemerintah atau yang diakui Pemerintah, atau badan
lain yang oleh Konsultan Pengawas / MK / Owner dianggap memiliki obyektivitas dan
integritas yang meyakinkan. Atas hal yang terakhir ini, pemborong/Supplier tidak
berhak mengajukan sanggahan.
6.3. Semua biaya pengujian dalam jumlah seperti yang dipersyaratkan menjadi beban
Pemborong.
6.4. Dalam hal dimana salah satu pihak tidak dapat menyetujui hasil pengujian dari badan
penguji yang disetujui oleh Konsultan Pengawas / MK / Owner pihak tersebut berhak
mengadakan pengujian tambahan pada lembaga/badan lain yang memenuhi syarat-
syarat badan penguji seperti tersebut diatas.
6.5. Apabila ternyata bahwa kedua hasil pengujian dari kedua badan tersebut memberikan
kesimpulan yang sama, maka semua biaya untuk pengujian tambahan menjadi beban
pihak yang mengusulkannya.
6.6. Apabila ternyata bahwa kedua hasil pengujian dari kedua badan tersebut memberikan
kesimpulan yang berbeda maka dapat dipilih untuk :
6.6.1. Memilih badan/lembaga penguji ketiga atas kesepakatan bersama.
6.6.2. Melakukan pengujian ulang pada badan/lembaga penguji pertama atau kedua
dengan ketentuan tambahan berikut :
■ Pelaksanaan pengujian ulang harus disaksikan oleh Konsultan Pengawas /

MK / Owner dan Pemborong/Supplier ataupun wakil-wakilnya.


■ Pada penguji ulang harus dikonfirmasikan penerapan dari alat-alat penguji.

6.6.3. Hasil dari pengujian ulang harus dianggap final, kecuali bilamana kedua belah
pihak sepakat untuk tidak menganggapnya demikian.
6.6.4. Apabila hasil pengujian ulang mengkonfirmasikan kesimpulan dari hasil
pengujian yang pertama, maka semua biaya untuk semua pengulangan
pengujian menjadi tanggungan pihak yang mengusulkan diadakannya
pengujian tambahan.
6.6.5. Apabila hasil pengujian ulang menunjukkan ketidak tepatan kesimpulan dan
hasil pengujian yang pertama dan membenarkan kesimpulan dari hasil
pengujian tambahan maka biaya untuk semua pengulangan pengujian bukan
menjadi tanggungan pihak yang mengusulkan diadakannya pengujian
tambahan.
6.6.6. Bilamana ternyata pihak Konsultan Pengawas / MK / Owner yang mempunyai
pendapat salah, maka atas segala penundaan pekerjaan akan diberikan
tambahan waktu pelaksanaan pada bagian pekerjaan bersangkutan dan
bagian-bagian lain yang terkena akibatnya, penambahan mana besarnya
adalah sesuai dengan penundaan yang terjadi.

7. Penutup Hasil Pelaksanaan Pekerjaan ,

7.1. Sebelum menutup suatu bagian pekerjaan dengan bagian pekerjaan yang lain, yang
mana akan secara visual menghalangi Konsultan Pengawas / MK / Owner untuk
memeriksa bagian pekerjaan yang terdahulu. Pemborong wajib melaporkan secara
tertulis kepada Konsultan Pengawas / MK / Owner mengenai rencananya untuk
melaksanakan bagian pekerjaan yang akan menutupi bagian pekerjaan yang pertama
tersebut, sedemikian rupa sehingga Konsultan Pengawas / MK / Owner
berkesempatan secara wajar melakukan pemeriksaan pada bagian yang bersangkutan
untuk dapat disetujui kelanjutan pengerjaannya.
7.2. Kelalaian Pemborong untuk menyampaikan laporan di atas, memberikan hak kepada
Konsultan Pengawas / MK / Owner untuk dibelakang hari memerintahkan
pembongkaran kembali bagian pekerjaan yang menutupi tersebut, guna memeriksa
hasil pekerjaan yang terdahulu, yang mana akibat sepenuhnya akan ditanggung oleh
Pemborong.
7.3. Dalam hal dimana laporan telah disampaikan, dan Konsultan Pengawas / MK / Owner
tidak mengambil langkah-langkah untuk menyelesaikan pemeriksaan yang
dimaksudkan, maka setelah lewat dari 2 (dua) hari kerja sejak laporan disampaikan.
Pemborong berhak melanjutkan pelaksanaan pekerjaan dan menganggap bahwa
Konsultan Pengawas / MK / Owner telah menyetujui bagian pekerjaan yang ditutup
tersebut.
7.4. Pemeriksaan dan persetujuan oleh Konsultan Pengawas / MK / Owner atas suatu
pekerjaan tidak melepaskan Pemborong dari kewajibannya untuk melaksanakan
seluruh pekerjaan sesuai dengan perjanjian kerja.
7.5. Walaupun telah diperiksa dan disetujui, kepada Pemborong masih dapat
diperintahkan untuk membongkar kembali bagian pekerjaan yang menutupi bagian
pekerjaan yang lain guna pemeriksaan bagian pekerjaan yang tertutupi.
Apabila hasil pemeriksaan ini menunjukkan adanya bagian dari pekerjaan yang tidak
memenuhi persyaratan dalam perjanjian kerja, maka seluruh biaya pembongkaran
sepenuhnya ditanggung oleh Pemborong Apabila hasil pemeriksaan menunjukkan
bahwa bagian pekerjaan yang bersangkutan ternyata memenuhi semua persyaratan,
maka :
7.5.1. Semua biaya pembongkaran akan diperhitungkan sebagai pekerjaan tambah.
7.5.2. Atas bagian pekerjaan yang tertunda pengerjaannya sebagai akibat
pembongkaran tersebut, akan diberikan perpanjangan waktu pelaksanaan yang
jumlahnya sesuai dengan penundaan tersebut.

PASAL 5 – PENYELESAIAN DAN PENYERAHAN

1. Dokumen Terlaksana (As Built Drawings)


1.1. Pada penyelesaian dari setiap pekerjaan, pemborong wajib menyusun Dokumen
Terlaksana yang terdiri dari :
1.1.1. Gambar-gambar Terlaksana (As Built Drawings).
1.1.2. Spesifikasi Teknis Terlaksana dari pekerjaan, sebagaimana yang telah
dilaksanakannya.
1.1.3. Dikecualikan dari kewajiban diatas adalah Pemborong untuk pekerjaan :
■ Finishing arsitektur
■ Pekerjaan persiapan
■ Supply bahan, perlengkapan/peralatan kerja
1.1.4. Dokumen Terlaksana bisa disusun dari :
■ Dokumen pelaksanaan
■ Gambar-gambar perubahan
■ Perubahan Spesifikasi Teknis
■ Brosur Teknis
yang diberi tanda pengenal khusus berupa cap sesuai petunjuk Pengawas.
1.1.5. Dokumen terlaksana ini harus diperiksa dan disetujui oleh Pengawas.
1.1.6. Khususnya untuk pekerjaan sarana komunikasi bersaluran banyak, dan
pekerjaan- pekerjaan lain dengan sistem jaringan bersaluran banyak yang
secara operasional membutuhkan identifikasi yang bersifat lokatif, dokumen
terlaksana ini harus dilengkapi dengan Daftar Pesawat/Instalasi/Peralatan/
Perlengkapan yang mengidentifikasikan lokasi dari masing-masing barang
tersebut.
1.1.7. Kecuali dengan izin khusus dari Pengawas dan Pemberi Tugas, Pemborong
harus membuat dokumen terlaksana hanya untuk diserahkan kepada
Pemberi Tugas. Pemborong tidak dibenarkan membuat/menyimpan salinan
ataupun copy dari dokumen terlaksana tanpa izin khusus tersebut.

4 PERSIAPAN DAN PENDAHULUAN


A. TEKNIS PELAKSANAAN

1. UMUM
1.1. Sebelum melaksanakan pekerjaan, Kontraktor harus mempelajari dengan
benar dan berpedoman kepada ketentuan – ketentuan yang tertulis pada
Gambar – Gambar Kerja dan RKS ini beserta lampiran perubahannya.
1.2. Kontraktor diwajibkan melapor kepada Konsultan Pengawas / Konsultan
Perencana / Owner setiap akan melakukan kegiatan pekerjaan di lapangan.
1.3. Apabila terdapat perbedaan ukuran, kelainan – kelainan antara Gambar Kerja
dan RKS serta kesesuaiannya di lapangan maka Kontraktor diharuskan melapor
kepada Konsultan Pengawas / Konsultan Perencana / Owner untuk segera
mendapatkan keputusan. Kontraktor tidak dibenarkan memperbaiki sendiri
perbedaan dan kelainan tersebut. Akibat dari kelalaian Kontraktor dalam hal
ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Kontraktor.
1.4. Daerah Kerja (Construction Area) akan diserahkan kepada Kontraktor selama
waktu pelaksanaan pekerjaan dalam keadaan seperti pada saat Penjelasan
Pekerjaan (Aanwijzing) dan dianggap bahwa Kontraktor telah benar-benar
mengetahui tentang :
1.4.1. Letak Bangunan yang akan dibangun.
1.4.2. Batas Persil/Lahan maupun kondisi pada saat itu.
1.5. Kontraktor wajib menyediakan sekurang-kurangnya 3 (tiga) set lengkap
Gambar – gambar Kerja ukuran kertas A3 dan RKS di tempat pelaksanaan
pekerjaan untuk dapat dipergunakan setiap saat oleh Konsultan Pengawas /
Konsultan Perencana / Owner.
Atas perintah Konsultan Pengawas / Konsultan Perencana / Owner, Kontraktor
diminta untuk membuat Gambar – gambar penjelasan (Shop Drawing) berikut
perincian bagian-bagian khusus (Detail) yang biaya pembuatan gambarnya
menjadi tanggung jawab Kontraktor. Gambar tersebut setelah disetujui Konsultan
Pengawas / Konsultan Perencana / Owner secara tertulis akhirnya menjadi
Gambar Pelengkap dari gambar gambar Kerja yang ada.

2. JADWAL PELAKSANAAN

Dalam waktu paling lambat 2 (dua) minggu setelah Kontraktor dinyatakan sebagai
pemenang Lelang, atau dengan lain cara ditunjuk oleh Pemberi Tugas sebagai pelaksana
pembangunan, Kontraktor harus segera membuat : Jadwal waktu (Time Schedule), yang
diketahui dan disetujui bersama antara Konsultan Pengawas (MK) / Konsultan Perencana /
Owner.

3. GAMBAR KERJA

Yang dimaksudkan dengan gambar – gambar kerja adalah:


3.1. Gambar – gambar meliputi gambar arsitektur, gambar konstruksi, gambar
instalasi listrik, gambar mekanikal perpipaan serta gambar – gambar
perubahannya yang telah disetujui oleh Konsultan Pengawas (MK) / Konsultan
Perencana / Owner . Gambar – gambar ini selain dari gambar – gambar yang
dibuat Konsultan Perencana juga gambar – gambar yang dibuat oleh Kontraktor
(Shop Drawing) yang telah disetujui Konsultan Pengawas (MK)/ Konsultan
Perencana / Owner.
3.2. Apabila terdapat perbedaan ukuran dan atau penjelasan atau ketidak sesuaian
antara gambar yang berlainan jenis dan lingkupnya maka yang dapat dipakai
pedoman secara fungsi yang dipakai pedoman adalah Gambar Arsitektur.
Kontraktor wajib memeriksa ulang dan bertanggungjawab terhadap pengukuran di
lapangan, dan harus memberitahukan setiap perubahan yang terjadi terhadap
gambar kerja (DED).
Kontraktor wajib memeriksa kesesuaian antara gambar kerja (DED) dan BQ yang ada.
Apabila di gambar ada, namun di BQ tidak ada, tetap dikerjakan. Begitu juga
sebaliknya, apabila di BQ ada, di gambar tidak ada, tetap dikerjakan dan tidak
dibebankan sebagai kerja tambah.
3.3. Gambar pelaksanaan (Shop Drawing) harus dibuat oleh Kontraktor dengan
ketentuan sebagai berikut :
3.3.1. Pembuatannya berdasar kepada Gambar Kerja dan disampaikan kepada

Konsultan Pengawas (MK) / Konsultan Perencana / Owner untuk


mendapat Persetujuan.
3.3.2. Pekerjaan Pelaksanaan belum dapat dimulai sebelum Gambar
Pelaksanaan tersebut disetujui oleh Konsultan Pengawas (MK) / Konsultan
Perencana / Owner.
3.3.3. Shop Drawing tersebut harus dibuat rangkap 3 (tiga) berikut
aslinya/kalkirnya dan semua biaya pembuatan menjadi tanggung jawab
Kontraktor
3.4. Perubahan Gambar Kerja/Perencanaan hanya dapat dilakukan atas dasar
perintah tertulis Direksi/Pemberi Tugas berdasar pertimbangan Konsultan
Pengawas dan Konsultan Perencana dengan ketentuan sebagai berikut :
3.4.1. Perubahan rancangan ini harus digambar sesuai dengan yang

diperintahkan Pemberi Tugas/Direksi dengan pengarahan Konsultan


Perencana dan jelas memperlihatkan perbedaan antara Gambar
Pelaksanaan dan Gambar Perubahan Rencananya.
3.4.2. Gambar Perubahan dibuat oleh Kontraktor atas pengarahan Konsultan

Perencana dan disetujui oleh Pemberi Tugas kemudian dilampirkan dalam


Berita Acara Pekerjaan Tambah Kurang kalau ada.
3.5. Gambar Sesuai Terlaksana (As Build Drawing), harus dibuat oleh Kontraktor
dengan ketentuan berikut :
3.5.1. Gambar Sesuai Terlaksana dibuat dan diserahkan pada akhir pekerjaan

dan harus sesuai dengan hasil pekerjaan terpasang


3.5.2. Gambar Sesuai Terlaksana harus disetujui oleh Konsultan Pengawas (MK)

/ Konsultan Perencana / Owner, dan diserahkan dalam rangkap 3(tiga)


berikut aslinya/kalkirnya dengan biaya keseluruhan ditanggung oleh
Kontraktor.

4. PETUNJUK-PETUNJUK / KONSULTAN PENGAWAS (MK) / KONSULTAN PERENCANA / OWNER

4.1. Semua instruksi dari Konsultan Pengawas (MK) / Konsultan Perencana / Owner
harus dilaksanakan secara baik oleh Kontraktor, jika Kontraktor berkeberatan
menerima petunjuk/Instruksi Konsultan Pengawas (MK) / Konsultan Perencana
/ Owner tersebut, maka harus mengajukan secara tertulis kepada Konsultan
Pengawas (MK) / Konsultan Perencana / Owner dalam waktu 7 (tujuh) hari.
Apabila dalam batas waktu tersebut diatas Kontraktor tidak mengajukan
keberatan maka dianggap telah menyetujui dan menerima petunjuk Konsultan
Pengawas (MK) / Konsultan Perencana / Owner untuk segera dilaksanakan.
Kontraktor diharuskan merekam atau dengan kata lain mencatat setiap
Petunjuk / Instruksi Konsultan Pengawas (MK) / Konsultan Perencana / Owner
dalam buku harian lapangan/ pelaksanaan dan memintakan tanda tangan atau
sepengetahuan Konsultan Pengawas (MK) / Konsultan Perencana / Owner.

5. PENETAPAN UKURAN

5.1. Kontraktor bertanggung jawab atas tepatnya pelaksanaan pekerjaan ini dan
tidak boleh merubah ukuran tanpa seijin Konsultan Pengawas (MK) / Konsultan
Perencana / Owner. Setiap ada perbedaan dengan ukuran-ukuran yang ada
harus segera memberitahukan kepada Konsultan Pengawas (MK) / Konsultan
Perencana / Owner untuk segera ditetapkan sebagaimana mestinya.
5.2. Sebelum memulai pekerjaan, Kontraktor wajib memberitahu Konsultan
Pengawas (MK) / Konsultan Perencana / Owner, bagian pekerjaan yang akan
dimulai untuk diperiksa terlebih dahulu ketepatan ukuran – ukurannya terhadap
hal ini tidak dapat diterima dan Konsultan Pengawas (MK) / Konsultan
Perencana / Owner berhak untuk membongkar pekerjaan dan memerintahkan
untuk menepati ukuran sesuai ketentuan.
5.3. Kontraktor diwajibkan senantiasa mencocokkan ukuran satu dengan yang lain
dalam setiap bagian pekerjaan dan segera melapor kepada Konsultan Pengawas
(MK) / Konsultan Perencana / Owner setiap terdapat selisih/perbedaan ukuran
untuk diberikan keputusan pembetulannya.
5.4. Mengingat setiap kesalahan ukuran akan selalu mempengaruhi bagian-bagian
pekerjaan yang lainnya, maka ketetapan akan ukuran tersebut mutlak perlu
diperhatikan sungguh – sungguh.

6. BUKU HARIAN LAPANGAN (BHL)

6.1. Kontraktor diwajibkan menyediakan dan mengisi Buku Harian Lapangan yang
berisi laporan tentang jumlah tenaga/pekerja, bahan – bangunan dan pekerjaan
yang dilaksanakan, keadaan cuaca, peralatan yang dipakai serta lain – lain hal
yang dianggap perlu atas petunjuk dan persetujuan Konsultan Pengawas (MK) /
Konsultan Perencana / Owner.
6.2. Buku Harian Lapangan harus disediakan oleh Kontraktor sesuai jangka waktu
pelaksanaan pekerjaan dan harus selalu berada ditempat pekerjaan, diisi oleh
Kontraktor dan diketahui Konsultan Pengawas (MK) / Konsultan Perencana /
Owner.
6.3. Konsultan Pengawas (MK) mencatat Instruksi – instruksi dan petunjuk
pelaksanaan yang dianggap perlu pada Buku Harian Lapangan dan merupakan
petunjuk yang harus diperhatikan Kontraktor dan dibuat masing masing 4
(empat) rangkap.

7. KETERTIBAN DAN KEBERSIHAN

7.1. Selama pelaksanaan pekerjaan pembangunan berlangsung, Kontraktor


harus memelihara kebersihan lokasi pembangunan maupun lingkungannya
terutama jalan – jalan disekitar Lokasi proyek, Direksi Keet, Gudang, Los
Kerja dan bagian dalam bangunan yang akan dikerjakan harus bebas dari
bahan bekas, tumpukan tanah dan lain – lain. Apabila terdapat kerusakan
jalan ataupun lingkungan selama proyek ini berlangsung, maka pemborong
wajib mengganti dan memperbaikinya seperti kondisi semula.
7.2. Untuk kebersihan lingkungan terutama jalan – jalan disekitar lokasi
pekerjaan yang harus dibersihkan.
7.3. Penimbunan bahan/material yang ada dalam gudang maupun di halaman
luar gudang harus diatur sedemikian rupa agar tidak mengganggu
kelancaran dan keamanan umum serta untuk memudahkan pemeriksaan
dan penelitian yang dilakukan oleh Konsultan Pengawas (MK) / Konsultan
Perencana / Owner
7.4. Pada Penyerahan Pekerjaan Pertama, situasi bangunan serta halamannya
harus bersih dari sisa – sisa kotoran kerja.

8. ALAT KERJA

8.1. Kontraktor harus menyediakan alat – alat yang diperlukan untuk


melaksanakan dan menyelesaikan pekerjaan secara sempurna
8.2. Bila sekiranya pekerjaan atau bagian pekerjaan telah selesai dan tidak lagi
memerlukan peralatan yang dimaksud, Kontraktor diwajibkan untuk
menyingkirkan alat – alat tersebut dan memperbaiki kerusakan – kerusakan
yang diakibatkan oleh pemakaian peralatan tersebut serta membersihkan
bekas– bekasnya.

9. KECELAKAAN DAN KESEHATAN

9.1. Kecelakaan yang terjadi selama pelaksanaan pekerjaan dan menimpa


pekerja maupun orang yang terlibat dalam pekerjaan tersebut menjadi
tanggung jawab Kontraktor. Para pekerja yang bekerja wajib dilindungi oleh
asuransi kesehatan sesuai dengan peraturan dan undang-undang yang
berlaku
9.2. Kontraktor diharuskan untuk menyediakan alat kesehatan/kotak PPPK yang
terisi penuh dengan obat – obatan yang sesuai dengan kebutuhan, lengkap
dengan petugas yang mengerti dalam soal-soal penyelamatan pertama dan
kesehatan.
9.3. Kontraktor diwajibkan menyediakan alat – alat pemadam kebakaran (untuk
segala jenis api), pasir dalam bak, galah – galah dan alat penyelamat
kebakaran yang lain. Selain itu, para pekerja juga diwajibkan memakai alat
pengaman kerja (APK).
9.4. Sejauh tidak disebutkan dalam RKS ini, maka Kontraktor harus mengikuti
semua ketentuan umum yang berlaku dan dikeluarkan oleh Instansi
Pemerintah terutama tentang Undang – undang Keselamatan Kerja
termasuk segala kelengkapan dan perubahannya.
10. KEAMANAN

10.1. Kontraktor bertanggung jawab penuh atas segala sesuatu yang ada dan
terjadi di daerah kerjanya terutama mengenai :
- Kerusakan – kerusakan yang timbul akibat kelalaian/kecerobohan baik

disengaja atau tidak disengaja.


- Penggunaan sesuatu bahan, peralatan yang keliru/salah.

- Kehilangan – kehilangan bahan, peralatan kerja.

- Gangguan-gangguan keamanan yang terjadi


10.2. Terhadap semua kejadian sebagaimana tersebut diatas, Kontraktor harus
melaporkan kepada Konsultan Pengawas (MK) / Konsultan Perencana /
Owner dalam waktu paling lambat 24 jam untuk diusut dan diselesaikan
persoalannya lebih lanjut.
10.3. Untuk mencegah kejadian – kejadian seperti tersebut diatas, Kontraktor
harus menyediakan pengamanan, antara lain Penjagaan, Penerangan yang
cukup di malam hari, pemagaran sementara lokasi kerja dan lain sebagainya.

11. PENYEDIAAN BAHAN/ MATERIAL BANGUNAN

11.1. Bila dalam RKS ini disebutkan nama dan pabrik pembuat Bahan/material,
maka hal ini dimaksudkan menunjukkan standard minimal mutu/kualitas
bahan yang digunakan dalam pekerjaan ini.
11.2. Setiap bahan/material yang akan digunakan harus disampaikan kepada
Konsultan Pengawas (MK) / Konsultan Perencana / Owner untuk mendapat
persetujuan.
11.3. Contoh atau brosur Bahan Material yang akan digunakan harus diadakan
atas tanggungan Kontraktor, setelah disetujui oleh Konsultan Pengawas
(MK) / Konsultan Perencana / Owner maka bahan/material tersebut harus
ditandai dan diadakan untuk dipakai dalam pekerjaan nantinya.
11.4. Contoh bahan/material tersebut selanjutnya disimpan oleh Konsultan
Pengawas (MK) / Konsultan Perencana / Owner untuk dijadikan dasar
penolakan bila ternyata bahan/material yang dipakai tidak sesuai dengan
contoh.

12. SERAH TERIMA HASIL PEKERJAAN

12.1. Pada akhir pekerjaan menjelang Penyerahan Hasil Pekerjaan tahap pertama :
12.1.1. Semua bangunan sementara harus dibongkar dan dibersihkan bekas-
bekasnya.
12.1.2. Tiap bagian pekerjaan harus dalam keadaan baik, bersih, utuh tanpa
cacat.
12.1.3. Kontraktor diwajibkan menyerahkan kepada Konsultan Pengawas
(MK) / Konsultan Perencana / Owner berupa :
a. 2 (dua) set Gambar sesuai Terlaksana (As Build Drawing) dari
seluruh pekerjaan yang dilaksanakannya termasuk Gambar
Perubahannya, berwarna ukuran A3 dijilid spiral.
b. 2 (dua) Album Photo Proyek, berwarna ukuran A3 dijilid spiral

12.1.4. Kontraktor harus membersihkan dan membuang sisa-sisa


bahan/material, sampah, kotoran bekas kerja dan barang lain yang tidak
berguna akibat dari pelaksanaan.

B. LINGKUP PEKERJAAN

Pekerjaan yang akan dilaksanakan adalah merupakan Pekerjaan pembangunan Rekontruksi


dan Rehabilitasi Gedung Sekolah SDN Cimahpar 5 lengkap sesuai yang tertera dalam
gambar pelaksanaan meliputi penyediaan Tenaga, bahan-bahan, peralatan dan alat bantu
lainnya yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan pembangunan, yaitu antara lain :

1. PEKERJAAN PENDAHULUAN

Sebelum pekerjaan persiapan dimulai, lahan yang akan dikerjakan harus dibersihkan
sesuai dengan yang dipersyaratkan dalam gambar. Pekerjaan yang akan dilaksanakan
tidak boleh dimulai sampai lapangan yang bersangkutan sudah dipersiapkan
sedemikian sehingga pekerjaan dapat dilakukan secara efisien tanpa terhenti.
Persiapan lapangan harus cukup sebelum pekerjaan dimulai untuk menghindari
terjadinya gangguan pada saat pelaksanaan.
Jika bagian pekerjaan yang ada perlu dihentikan, kontraktor harus memberikan fasilitas
sementara yang akan mencegah kerusakan pada kepentingan umum dan
perseorangan dan pada kelancaran pekerjaan serta harus mengembalikan lagi ke
keadaan semula jika keadaan pekerjaan sudah memungkinkan. Penelitian halaman dan
lingkup pekerjaan tanah sesuai dengan syarat-syarat permulaan pekerjaan, maka
Kontraktor harus mengunjungi site dan mengamati kondisi-kondisi yang ada serta
bahan-bahan yang akan digunakan.

1.1. Dokumentasi Foto Proyek 3 Phase


▪ Foto Kegiatan harus dibuat oleh Kontraktor sesuai pengarahan dari Konsultan

Pengawas (MK) / Konsultan Perencana / Owner Kegiatan dengan ketentuan


sebagai berikut :
− Tahap I pada saat bobot pekerjaan 0 % - 25 %

− Tahap II pada saat bobot pekerjaan 25 % -50 %


− Tahap III pada saat bobot pekerjaan 50 % -75 %
− Tahap IV pada saat bobot pekerjaan 75 %-100 %

▪ Foto Kegiatan pada setiap tahap tersebut dibuat sebanyak 2 (dua) set berwarna
dan dilampirkan bersama dengan laporan bulanan sesuai pencapaian bobot
pekerjaan.
▪ Pengambilan titik pandang harus diusahakan tetap dari setiap tahap dan sesuai

dengan pengarahan dari Konsultan Pengawas (MK) / Konsultan Perencana /


Owner.
▪ Foto setiap tahap ditempelkan pada album/map dengan keterangan singkat,

tanggal pemotretan dan penempatan dalam album serta teknis


penempelannya dalam album ditentukan oleh Konsultan Pengawas (MK) /
Konsultan Perencana / Owner.
▪ Untuk foto kondisi force majeure diambil sebanyak 3 (tiga) kali.

1.2. Pembersihan Lahan Selama Pelaksanaan


Pembersihan lahan adalah pekerjaan yang terdiri dari pembersihan lahan dari
pohon, halangan - halangan, semak – semak, sampah, dan bahan lainnya yang
tidak dikehendaki atau menggangu keberadaannya sesuai dengan yang
diperintahkan oleh Konsultan Pengawas (MK) / Konsultan Perencana / Owner.
Adapun Tahapan pekerjaan pembersihan lahan tersebut adalah sebagai berikut:
o Tahap Pertama yaitu melakukan Pekerjaan Survey pengukuran,
Pekerjaan Survey pengukuran dilakukan untuk menentukan batas-batas
daerah yang akan dibersihkan menggunakan peralatan survey seperti
theodolit atau GPS. Batas daerah yang akan dibersihkan dapat diberi tanda
dengan menggunakan patok dari kayu atau dengan menggunakan tali
pembatas, atau dengan cara lain yang disetujui Konsultan Pengawas (MK)
/ Konsultan Perencana / Owner. Jika pekerjaan pembersihan lahan tersebut
dalam skala yang lebih besar atau diperlukan pengupasan lapisan
permukaan tanah dasar maka ketersediaan data elevasi (ketinggian)
merupakan salah satu hal yang harus terpenuhi. Untuk dapat memperoleh
data ketinggian diperlukan survey pemetaan yang lebih detail menggunakan
peralatan survey seperti Total Station atau theodolite
o Tahap kedua yaitu pekerjaan Pembersihan
Tahap selanjutnya yaitu menutup dan meratakan lubang bekas pembongkaran
akar atau tunggul dengan bahan timbunan yang disetujui Konsultan Pengawas
(MK) / Konsultan Perencana / Owner dan kemudian dipadatkan dengan alat
pemadat yang memadai.

1.3. Listrik Kerja


Kontraktor harus menyediakan alat-alat instalasi air/listrik kerja atas biaya
sendiri. Alat-alat tersebut selain untuk keperluan pekerjaan juga untuk fasilitas
bagi para pekerja.

1.4. Air Kerja


Kontraktor harus menyediakan alat-alat instalasi air/listrik kerja atas biaya sendiri.
Alat-alat tersebut selain untuk keperluan pekerjaan juga untuk fasilitas bagi para
pekerja.

2. PEKERJAAN DIREKSI KIT, GUDANG DAN LOS PEKERJA

1) Direksikeet (Los Pengawas)


Sesuai Pasal 3 Mobilisasi dan Demobilisasi, Kontraktor harus menyediakan
DireksiKeet (Los Pengawas) untuk keperluan Pengawas Lapangan dan Personalia
Proyek dari bahan semipermanen seluas ± 9 m² atau sesuai rencana Pekerjaan.
Untuk tiap lokasi dengan menggunakan bahan-bahan sebagai berikut: lantai
diplester, dinding tripleks/papan/asbes, rangka bangunan dari bahan kayu kelas III,
atap dari bahan penutup atap, pintu dari bahan papan kayu kelas III, dilengkapi
dengan kursi, meja, serta alat-alat kantor yang diperlukan. Apabila diijinkan oleh
pemilik pekerjaan, Kontraktor dapat memanfaatkan sementara ruangan pada area
bangunan yang tidak digunakan bila ada, yang akan ditentukan oleh Konsultan
Pengawas dan Pejabat Pembuat Komitmen.
2) Kantor Kontraktor, Los Kerja, dan Gudang Bahan
Kontraktor/Pemborong berkewajiban membuat kantor Kontraktor di lapangan, los kerja
untuk para pekerja dan gudang bahan yang dapat dikunci untuk menyimpan barang-
barang, pada tempat yang akan ditentukan oleh Pengawas Lapangan/Personalia Proyek.
3) Pagar Proyek

Untuk keamanan lapangan kerja, bila dianggap perlu Direksi/Pemilik dapat


memerintahkan kepada Kontraktor, untuk memagari sekelilingnya sehingga aman. Biaya
untuk keperluan ini akan dimasukan didalam penawaran Kontraktor/Pemborong.
Tinggi Pagar Proyek minimum 1,80 m dari permukaan tanah dengan bahan dari seng
gelombang BJLS 32 dicat, kolom setempat dari rangka kayu Borneo ukuran 5/7,
memenuhi persyaratan kekuatan, atau sesuai dengan peraturan Pemerintah Daerah
setempat.
4) Kontraktor berkewajiban menjaga kebersihan los pengawas serta inventarisnya.

5) Kantor Kontraktor, Gudang bahan, Los-los kerja dan Los lainnya yang dibuat dan dibiayai

oleh Kontraktor, setelah selesai pelaksanaan pekerjaan, harus segera


dibongkar/dibersihkan oleh pihak kontraktor.
6) Hal-hal diatas dilakukan menyesuaikan kebutuhan kondisi atau keadaan di lapangan
kerja.
3. PEKERJAAN MOBILISASI DAN DEMOBILISASI

Mobilisasi adalah pengiriman atau pengangkutan tenaga kerja, material dan alat serta
prasarana yang akan digunakan dalam proses pembangunan proyek ini. Mobilisasi
tenaga kerja dilakukan berangsur- angsur sesuai dengan kebutuhan dan schedule
yang telah disepakati.

Mobilisasi dan demobilisasi proyek adalah kegiatan mendatangkan ke lokasi


(mobilisasi) dan mengembalikan (demobilisasi) alat-alat proyek sesuai spesifikasi yang
ditentukan dalam dokumen dengan menggunakan alat angkutan darat (trailer / truck
besar) atau alat angkut air (ponton).
Sebelum dilakukan mobilisasi, kontraktor harus memberitahukan dan meminta
persetujuan terhadap jenis / kapasitas alat berat yang akan digunakan kepada
konsultan pengawas lapangan.

Segala resiko yang diakibatkan oleh pekerjaan mobilisasi dan demobilisasi menjadi
tanggung jawab kontraktor. Segala pungutan dan retribusi yang timbul akibat mob
demob ini menjadi tanggung jawab kontraktor pelaksana.
5 URAIAN DAN SYARAT-SYARAT PELAKSANAAN
PEKERJAAN STRUKTUR
A. TEKNIS PELAKSANAAN

1. LINGKUP PEKERJAAN
Lingkup pekerjaan struktur meliputi :
• Pekerjaan Tanah
• Pekerjaan Struktur bawah

• Menentukan level bangunan dan memeriksa posisi/letak as bangunan sehubungan

dengan keadaan bangunan yang terdekat dengan lokasi (ditentukan kemudian)


• Monitoring peil bangunan selama pelaksanaan
• Pekerjaan Struktur atas

• Pekerjaan Struktur atap

2. PENENTUAN LEVEL DAN UKURAN

Penentuan level bangunan pada level ± 0.00 harus dilakukan oleh kontraktor dan
disampaikan ke Konsultan Pengawas (MK) / Konsultan Perencana / Owner untuk
mendapatkan persetujuan.
Apabila ternyata dijumpai perbedaan-perbedaan di lapangan, kontraktor harus segera
melaporkannya kepada Konsultan Pengawas. Pemakaian ukuran-ukuran yang keliru
sebelum dan selama pelaksanaan pekerjaan menjadi tanggung jawab Kontraktor.
Kontraktor diharuskan menggunakan alat-alat (instrumen) pengukuran yang akurat untuk
mendapat ukuran, sudut-sudut serta ukuran tegak secara tepat dan dapat dipertanggung
jawabkan. Seluruh pengukuran harus dilakukan dengan alat ukur digital, pengukuran
berdasarkan penglihatan / manual biasa harus dihindari.

3. KUALITAS MATERIAL

Seluruh material yang digunakan harus memiliki kualitas yang baik, memenuhi
ketentuan-ketentuan berdasarkan peraturan yang ada di Indonesia, juga memenuhi
kriteria yang harus dicapai dalam spesifikasi ini. Apabila dianggap perlu Konsultan
Pengawas berhak meminta test material. Segala biaya yang berhubungan dengan
pengetesan ini sudah harus diperhitungkan dalam penawaran dan menjadi tanggung
jawab kontraktor pelaksana.

B. LINGKUP PEKERJAAN

1. UMUM
a. Pekerjaan yang dimaksud meliputi penyediaan Tenaga, bahan-bahan, peralatan dan alat
bantu lainnya yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan pembangunan yang
meliputi :
- Pekerjaan Persiapan dan Biaya SMK3
- Pekerjaan Struktur
- Pekerjaan Arsitektur
- Pekerjaan Mekanikal Elektrikal dan Plumbing
Semua penjelasan mengenai Pekerjaan tersebut diatas akan dijelaskan dalam point–point
penjelasan termasuk segala jenis peralatan, bahan dan teknis pekerjaan .
Semua pekerjaan yang termasuk dalam ruang lingkup Pekerjaan yang tidak dijelaskan
dalam RKS akan dijelaskan kemudian dalam Risalah aanwijzing dan pihak Kontraktor
harus melaksanakannya sesuai gambar kerja. Penjelasan mengenai Pekerjaan
tersebut diatas akan dijelaskan dalam point–point penjelasan termasuk segala jenis
peralatan, bahan dan teknis pekerjaan.
b. Persiapan Pelaksanaan
Sebelum pelaksanaan pekerjaan, Kontraktor harus mempelajari dengan seksama Gambar
Kerja. Kontraktor harus sudah memperhitungkan segala kondisi di lapangan yang meliputi
semua bangunan dan tidak terbatas pada bangunan existing.
Kontraktor harus mengamankan/melindungi hasil paket pekerjaan sebelumnya maupun
yang sedang berjalan, bahan/komponen/instalasi existing yang dipertahankan; agar tidak
rusak atau cacat.
Rencana pengamanan, baik berupa penyangga, penopang, atau konstruksi khusus
sebagai penahan atau pelindung bagian yang tidak dibongkar, harus dilaporkan
kepada Konsultan Pengawas terlebih dahulu untuk mendapat persetujuan.

2. PEMBERSIHAN LOKASI PEKERJAAN


Sebelum pekerjaan dimulai lokasi yang akan dilaksanakan harus terlebih dahulu
dibersihkan dari berbagai macam kotoran , sampah, puing – puing dan segala sesuatu
yang akan mengganggu pelaksanaan pekerjaan .
Barang yang tidak digunakan lagi harus dikeluarkan dari lokasi Tapak/Site konstruksi
dan dikumpulkan di tempat/lokasi tertentu yang ditunjukkan Konsultan Pengawas/
Direksi.

3. PERLINDUNGAN BANGUNAN ATAU INSTALASI EKSISTING


Pekerjaan ini adalah perlindungan untuk semua instalasi existing yang berada di dalam
Tapak/Site konstruksi dan dinyatakan oleh Konsultan Perencana/Pengawas masih
berfungsi dan akan digunakan lagi. Untuk instalasi existing tersebut di atas, kontraktor
harus menjaga dan memeliharanya dari gangguan/cacat.
Apabila karena satu dan lain sebab sehingga jalur instalasi existing yang masih
berfungsi harus dipindah, maka Kontraktor harus melakukan pekerjaan ini sesuai
dengan petunjuk dari Konsultan Pengawas/Direksi.
4. PEKERJAAN PEMBONGKARAN
Pelaksanaan Bongkaran
Sebelum pekerjaan bongkaran dimulai, kontraktor terlebih dahulu meminta ijin kepada
pemilik bangunan saat/waktu yang tepat untuk melaksanakan pekerjaan :
1) Pelaksana tidak boleh mengganggu kegiatan aktivitas kerja di lingkungan proyek dan agar
dikoordinasikan dengan Pihak Sekolah maupun Konsultan Pengawas, untuk waktu yang
tepat kapan pelaksanaan pekerjaan bongkaran dimulai.
2) Bekas bongkaran yang akan dipergunakan kembali agar disimpan pada tempat yang aman.
3) Puing harus cepat dibuang dari lokasi pekerjaan kecuali bahan-bahan bekas bongkaran
yang masih bisa dipakai dan tidak dipergunakan menjadi milik Pemberi Tugas, adapun
tempat pembuangannya agar dikoordinasikan dengan Pemberi Tugas/Konsultan
Pengawas.
4) Dalam melaksanakan pembongkaran, Pelaksana harus hati-hati, kerusakan akibat
kelalaian sendiri menjadi tanggung jawabnya. Pembangunan sekolah ini berada pada
lokasi yang berdekatan dengan bangunan lain, sehingga pelaksana perlu berhati-hati pada
saat pembongkaran, dan harus bertanggung jawab bila terdapat kerusakan pada
bangunan sekitar.
5) Memperhatikan keselamatan lingkungan pekerjaan, dan keselamatan lingkungan sekitar.

5. PEKERJAAN GALIAN DAN URUGAN TANAH


5.1. PEKERJAAN GALIAN
Pekerjaan galian harus memenuhi syarat-syarat seperti yang ditentukan dalam gambar.
Kontraktor harus menjaga supaya tanah di bawah dasar elevasi seperti pada gambar
rencana atau ditentukan oleh Pengawas/MK, tidak terganggu. Jika terganggu Kontraktor
harus mengurug kembali lalu dipadatkan sesuai syarat yang tertera. Adapun syarat-syarat
:

1) SYARAT PELAKSANAAN
a. Semua galian harus dilaksanakan sesuai dengan gambar dan syarat- syarat yang

ditentukan menurut keperluan.


b. Dasar dari semua galian harus waterpas, bilamana pada dasar setiap galian masih
terdapat akar-akar tanaman atau bagian-bagian gembur, maka ini harus digali keluar
sedang lubang- lubang tadi diisi kembali dengan tanah merah, disiram dan
dipadatkan sehingga mendapatkan kembali dasar yang waterpas.
c. Terhadap kemungkinan adanya air di dasar galian, baik pada waktu penggalian
maupun pada waktu pekerjaan pondasi harus disediakan pompa air atau pompa
lumpur yang jika diperlukan dapat bekerja terus menerus, untuk menghindari
tergenangnya air pada dasar galian.
d. Kontraktor harus memperhatikan pengamanan terhadap dinding tepi galian agar

tidak longsor dengan memberikan suatu dinding penahan atau penunjang sementara
atau lereng yang cukup.
e. Juga kepada Kontraktor diwajibkan mengambil langkah-langkah pengamanan

terhadap bangunan lain yang berada dekat sekali dengan lubang galian yaitu
dengan memberikan penunjang sementara pada bangunan tersebut sehingga dapat
dijamin bangunan tersebut tidak akan mengalami kerusakan.
f. Semua tanah kelebihan yang berasal dari pekerjaan galian, setelah mencapai jumlah

tertentu harus segera disingkirkan dari halaman pekerjaan pada setiap saat yang
dianggap perlu dan atas petunjuk Pengawas/MK.
g. Bagian-bagian yang akan diurug kembali harus diurug dengan tanah yang bersih

bebas dari segala kotoran dan memenuhi syarat-syarat sebagai tanah urug.
Pelaksanaannya secara berlapis-lapis dengan penimbrisan lubang- lubang galian yang
terletak di dalam garis bangunan harus diisi kembali dengan tanah urug yang
diratakan serta dipadatkan sampai mencapai 100% kepadatan kering maksimum
yang dibuktikan dengan test laboratorium.
h. Perlindungan terhadap benda-benda berfaedah. Kecuali ditunjukkan untuk
dipindahkan, seluruh barang-barang berharga yang mungkin ditemui di lapangan
harus dilindungi dari kerusakan, dan bila sampai menderita kerusakan harus
direparasi/diganti oleh Kontraktor atas tanggungannya sendiri.
i. Bila suatu alat atau pelayanan dinas yang sedang bekerja ditemui di lapangan dan hal
tersebut tidak tertera pada gambar atau dengan cara lain yang dapat diketahui oleh
Kontraktor dan ternyata diperlukan perlindungan atau pemindahan, Kontraktor harus
bertanggung jawab untuk mengambil setiap langkah apapun untuk menjamin bahwa
pekerjaan yang sedang berlangsung tersebut tidak [Link] pekerjaan
pelayanan umum terganggu sebagai akibat pekerjaan Kontraktor, Kontraktor harus
segera mengganti kerugian yang terjadi yang dapat berupa perbaikan dari barang
yang rusak akibat pekerjaan [Link] yang sudah tidak bekerja lagi yang
mungkin ditemukan di bawah tanah dan terletak di dalam lapangan pekerjaan harus
dipindahkan keluar lapangan ke tempat yang disetujui oleh Pengawas/MK atas
tanggungan Kontraktor.

5.2. PEKERJAAN URUGAN


Yang dimaksudkan di sini adalah pekerjaan pengurugan dan pemadatan tanah
dengan syarat khusus dimana tanah hasil urugan ini akan dipergunakan sebagai
pemikul beban.

1) LINGKUP PEKERJAAN
a. Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan,
metode kerja dan alat-alat bantu yang dibutuhkan demi terlaksananya
pekerjaan ini dengan baik.
b. Seluruh sisa penggalian yang tidak terpakai untuk penimbunan dan penimbunan
kembali, juga seluruh sisa-sisa, puing-puing, sampah- sampah harus disingkirkan
dari lapangan pekerjaan. Seluruh biaya untuk ini adalah tanggung jawab
Kontraktor.

2) BAHAN – BAHAN
a. Ukuran pasir diberi 5 cm urugan pasir padat (setelah disirami, diratakan dan

dipadatkan) di bagian atas dari urugan dibawah plat-plat beton bertulang, beton
rabat dan pondasi dangkal.
b. Urugan yang dipakai di bawah lapisan pasir padat tersebut adalah dari jenis tanah

silty clay yang bersih tanpa potongan-potongan bahan-bahan yang bisa lapuk serta
bahan batuan yang telah dipecah- pecah dimana ukuran dari batu pecah tersebut
tidak boleh lebih besar dari 15 cm.

3) SYARAT PELAKSANAAN
a. Semua bagian/daerah urugan dan timbunan harus diatur berlapis sedemikian,
sehingga dicapai suatu lapisan setebal 5 cm dalam keadaan padat.
b. Daerah urugan atau daerah yang terganggu harus dipadatkan dengan alat pemadat /
compactor vibrator type yang telah disetujui oleh Pengawas / MK.
c. Kepadatan maksimum terhadap kadar air optimum dari percobaan
d. Proctor : Kontraktor harus melaksanakan penelitian kepadatan maksimum terhadap

kadar air optimum, minimal satu kali untuk setiap jenis tanah yang dijumpai di
lapangan. Contoh tanah tersebut harus disimpan dalam tabung gelas atau plastik
untuk bukti penunjukkan/referensi dan diberi label yang berisikan nomor contoh,
kepadatan kering maksimum dan kadar air optimumnya. Penelitian harus mengikuti
prosedur yang umum dipakai yaitu ASTM D-1557-70.
e. Pengeringan/pengaliran air harus diperhatikan selama pekerjaan tanah supaya
daerah yang dikerjakan terjamin pengaliran airnya.
f. Apabila material urugan mengandung batu-batu, tidak dibenarkan batu-batu yang

besar bersarang menjadi satu, dan semua pori-pori harus diisi dengan batu-batu kecil
dan tanah yang dipadatkan.
g. Kelebihan material galian harus dibuang oleh Kontraktor ke tempat pembuangan

yang ditentukan oleh Pengawas/MK.


h. Jika material galian tidak cukup, material tambahan harus didatangkan dari
tempat lain, tanpa tambahan biaya.

6. PEKERJAAN BETON
6.1. LINGKUP PEKERJAAN
Yang termasuk lingkup pekerjaan ini meliputi :
Pekerjaan Pondasi, Pekerjaan Sloof, Pekerjaan Kolom, Pekerjaan Balok, Pekejaan
Tangga, Pekerjaan Pelat Beton dan pekerjaan beton lainnya seperti tercantum dalam
gambar kerja.

6.2. UKURAN DAN MUTU BETON


Beton yang dipergunakan untuk seluruh struktur bangunan ini harus mempunyai
ukuran dan mutu karateristik sebagai berikut :

PEKERJAAN PONDASI
Mutu
Nama Pekerjaan Ukuran Tulangan
Beton
STRUKTUR LANTAI 1
Pek. Pond Pilecap P1 Uk. 1,5 x 1,5 x 0,5
- Utama S16 BJTS 420 K-300
m
Pek. Pond Pilecap P2 Uk. 0,9 x 0,9 x 0,4
- Utama S13 BJTS 420 K-300
m
- Sengkang S10 BJTS 280
Pek. Sloof (TB1) Uk. 20x30 cm K-300
- Utama S13 BJTS 420
- Sengkang P8 BJTS 280
Pek. Sloof (TB2) Uk. 20x15 cm K-300
- Utama S13 BJTS 420
- Sengkang S10 BJTS 280
Pek. Kolom (K1) Uk. 30x35 cm K-300
- Utama S16 BJTS 420
- Sengkang S10 BJTS 280
Pek. Kolom (K2) Uk. 20x25 cm K-300
- Utama S13 BJTS 420
- Sengkang P8 BJTS 280
Pek. Kolom Praktis (K3) Uk. 15x15 cm K-175
- Utama P12 BJTS 420
- Sengkang S10 BJTS 280
Pek. Balok (B1) Uk. 30x60 cm - Utama S16 BJTS 420 K-300
- Ekstra S13 BJTS 280

- Sengkang S10 BJTS 280


Pek. Balok (B2) Uk. 25x30 cm K-300
- Utama S16 BJTS 420

- Sengkang S10 BJTS 280


Pek. Balok (B3) Uk. 20x30 cm K-300
- Utama S13 BJTS 420
- Utama P10 BJTS 280
Pek. Balok Lintel (BL) Uk. 10x10 cm K-175
- Sengkang P6 BJTS 280
- Sengkang S10 BJTS 280
K-300
Pek. Balok Tangga Uk. 30x40 cm - Utama S16 BJTS 420B
- Ekstra P12 BJTS 280
Pek. Anak Tangga - Utama S12 BJTS 280 K-300
Pek. Plat Tangga - Utama S12 BJTS 280 K-300
Pek. Bordes Tangga - Utama S12 BJTS 280 K-300
Pek. Plat Lantai - Utama S10 BJTS 280 K-300
- Utama P10 BJTP 280
Pek. Lisplank Beton K-175
- Sengkang P6 BJTP 280
Pek. Topian Beton - Utama S10 BJTS 280 K-300
Struktur Lantai 2
- Sengkang S10 BJTS 280
Pek. Kolom (K2) Uk. 25x20 cm K-300
- Utama S13 BJTS 420
- Sengkang P8 BJTP 280
Pek. Kolom Praktis(K3) Uk. 15x15 cm K-175
- Utama P13 BJTS 420
- Sengkang P6 BJTP 280
Pek. Balok Lintel (BL) Uk. 10x10 cm K-175
- Utama P10 BJTP 280
Pek. Topian Beton - Utama S10 BJTS 280 K-300
- Sengkang S10 BJTS 280
Pek. Ring Balok (RB1) Uk. 20x40 cm - Utama S13 BJTS 420 K-300
- Ekstra P10 BJTP 280
- Sengkang S10 BJTS 280
Pek. Ring Balok (RB2) Uk. 20x30 cm K-300
- Utama S13 BJTS 420B
- Sengkang P8 BJTP 280
[Link] Balok (RB3) Uk. 15x20 cm K-300
- Utama P12 BJTP 280
- Sengkang S10 BJTS 280
Pek. Balok (B1) Uk. 30x30 cm - Utama S16 BJTS 420 K-300
- Ekstra S13 BJTS 420
- Utama P10 BJTP 280
Pek. Lisplank Beton K-300
- Sengkang P6 BJTP 280
Pek. Slab Beton (S1) Uk. 20x10 cm - Utama S10 BJTS 280 K-300

Pekerjaan lainnya yang termasuk dalam lingkup pekerjaan beton struktur tercantum
dalam gambar kerja.

6.3. BETON READY MIX


Beton yang digunakan adalah beton ready mix dengan mutu menyesuaikan
kebutuhan dilapangan kerja, sebelum dilakukan pengecoran maka beton dilakukan
pengujian slump test. Pengujian slump test harus sesuai dengan SNI, dan untuk nilai
slump test harus sesuai SNI yang ditentukan. Adapaun SNI yang digunakan adalah SNI
2847:2019.
Setelah nilai slump sesuai dengan SNI, maka beton dimasukan ke dalam silinder
sebanyak 3 buah untuk dilakukan uji tekan pada umur 28 Hari, pada saat melakukan
uji tekan harus di hadiri oleh kontraktor, dan konsultan pengawas. Apabila pada saat
melakukan uji tekan tidak tercapai mutu rencana maka kontraktor akan bertanggung
jawab.
a. Pemakaian adukan beton ready mix harus mendapatkan persetujuan Konsultan
Pengawas, demikian halnya dengan nama dan alamat supplier tersebut. Kecuali
disetujui oleh Direksi Lapangan, semua beton haruslah beton ready-mixed yang
didapatkan dari sumber yang disetujui Direksi Lapangan, dengan takaran, adukan
serta cara pengiriman/pengangkutannya harus memenuhi persyaratan di dalam
ASTM C94-78a, ACI 304-73, ACI Committee 304.
b. Kontraktor harus bertanggung jawab terhadap adukan yang disuply tersebut, dan
harus memenuhi spesifikasi ini, termasuk kontrol kualitas, kesinambungan
pengiriman dan pengecorannya. Apabila akan digunakan bacthing plan di site,
Kontraktor harus mendapat persetujuan terlebih dahulu dari Konsultan Pengawas,
terutama tentang letak dan kapasitasnya. Adukan beton harus dibuat sesuai dengan
perbandingan campuran yang sesuai dengan yang telah diuji di laboratorium, serta
secara konsisten harus dikontrol bersama-sama oleh kontraktor dan supplier
beton ready-mixed. Kekuatan beton minimum yang dapat diterima adalah
berdasarkan hasil pengujian yang diadakan di laboratorium.
c. Catatan penggunaan semen, agregat dan air harus disampaikan kepada Konsultan
Pengawas setiap hari. Untuk mengontrol kadar air dari agregat, test secara periodik
dapat dimintakan kepada Kontraktor, dan atas biaya Kontraktor. Bagi Direksi
Lapangan diadakan jalan masuk ke proyek dan ketempat pengantaran contoh atau
pemeriksaan yang dapat dilalui setiap waktu. Denah dan semua peralatan untuk
pengukuran, adukan dan pengantaran beton harus diperiksa oleh Direksi Lapangan
sebelum pengadukan beton.
d. Periksa areal dan kondisi pada mana pekerjaan di bawah bab ini yang akan
dilaksanakan. Perbaiki kondisi yang terusak oleh waktu dan
perlengkapan/penyelesaian pekerjaan. Jangan memproses sampai keadaan
perbaikan memuaskan. Jangan memulai pekerjaan beton sampai hasil percobaan,
adukan beton dan contoh-contoh benda uji disetujui oleh Direksi Lapangan.
Lagipula, jangan memulai pekerjaan beton sampai semua penyerahan disetujui
oleh Direksi Lapangan. Hal-hal yang timbul akibat dari pengiriman dan transportasi
beton, menjadi resiko dan tanggung jawab kontraktor.
e. Adukan beton harus didesain dan disesuaikan dengan pemeriksaan laboratorium
oleh kontraktor dan harus diperiksa teratur oleh kedua pihak, kontraktor dan
pemasok beton ready-mix. Kekuatan tercantum adalah kekuatan yang diijinkan
minimum dan hasil dari hasil test oleh percobaan laboratorium adalah dasar dari
yang diijinkan.
f. Temperatur Beton Ready-Mix. Batas temperatur untuk beton ready-mix sebelum

dicor disyaratkan tidak melampaui 38 o C.


g. Penambahan bahan additive dalam proses pembuatan beton ready- mix harus
sesuai dengan petunjuk pabrik additive tersebut. Bila diperlukan dua atau lebih
bahan additive maka pelaksanaannya harus dilaksanakan secara terpisah. Dalam
pelaksanaannya harus sesuai ACI 212-2R-71 dan ACI [Link]-63 dilakukan hanya
oleh teknisi in-charge dengan persetujuan Direksi Lapangan sebelumnya.
h. Kendaraan pengangkut beton ready-mix harus dilengkapi dengan peralatan
pengukur air yang tepat sedangkan pelaksanaan pengadukan dapat dimulai dalam
jangka waktu 30 menit setelah semen dan agregat dituangkan dalam alat pengaduk
i. Penuangan Beton
Proses pengeluaran beton ready-mix di lapangan proyek dari alat pengaduk di
kendaraan pengangkut harus sudah dilaksanakan dalam jangka waktu 1,5 jam atau
sebelum alat pengaduk mencapai 300 putaran. Dalam cuaca panas, batas waktu
tersebut di atas harus diperpendek sesuai petunjuk konsultan pengawas / MK.
Perpanjangan waktu dapat diijinkan sampai dengan 4 jam bila dipergunakan retarder
yang harus disetujui oleh Direksi Lapangan.
j. Keadaan Khusus
bila temperatur atau keadaan lainnya yang menyebabkan perubahan slump beton
maka Kontraktor harus segera meminta petunjuk atau keputusan Direksi Lapangan
dalam menentukan apakah adukan beton tersebut masih memenuhi kondisi normal
yang disyaratkan. Tidak dibenarkan untuk menambah air ke dalam adukan beton
dalam kondisi tersebut.
k. Penggetaran
Penggetaran beton agar diperoleh beton yang padat harus sesuai dengan ACI 309R-
87 (Recommended Practice for Consolidation of Concrete). Sedapat mungkin
penggetaran beton dilakukan dengan concrete-vibrator (engine/electric).

Hal-hal lain yang perlu dicatat adalah :


a. Waktu kedatangan truk.
b. Waktu dari pengadukan dan penambahan air.
c. Nomer registrasi truk dan depotnya.
d. Waktu pengecoran.
e. Kekuatan Karakteristik beton.
f. Ukuran agregat maksimum.
g. Bagian struktur yang di cor.
h. Identifikasi kubus beton yang diambil dari pengiriman tersebut.
i. Nilai slump.
j. Admixture yang digunakan.
Beton harus di cor, dipadatkan dan dibiarkan mengeras pada tempat
semestinya dalam waktu tidak lebih dari 1 jam sejak semen dimasukkan
kedalam mixer, kecuali bila dipakai bahan tambahan (retarder). Bahan
tambahan ini harus diajukan oleh Kontraktor untuk disetujui oleh Konsultan
Pengawas.
Noted: “Pada Saat pengecoran wajib menggunakan concrete pump, dan
vibrator sebagai alat pemadat”
Mutu baja tulangan yang dipergunakan untuk seluruh struktur bangunan ini
adalah sebagai berikut :
- Mutu baja tulangan s/d diameter S16, S13 mm adalah BJTS 420

- Mutu baja tulangan s/d diameter S10 mm te adalah BJTS 280

- Mutu baja tulangan s/d diameter P6, P8, P10, P12 mm adalah BJTP 280

Kode batik sesuai mutu harus tertera pada tulangan.

6.4. CEKATAN (BEKISTING)

Bekisting untuk seluruh struktur bangunan ini memakai Multipleks 9 mm pada


rencana cor plat lantai dan Multipleks 9 mm untuk bekisting pekerjaan lainnya,
sedangkan untuk pile cap menggunakan bata sebagai cetakan.
Pada pekerjaan Bekisting dari multiplex harus diperkuat dengan rangka kayu, untuk
mendapatkan kekuatan dan kekakuan yang sempurna, atau dari bahan lain yang
disetujui oleh Konsultan Pengawas.

6.5. PERSYARATAN BETON


a. Beton Ready Mix

Beton Ready mix yang digunakan harus sesuai dengan standardisasi Nasional
Indonesia, baik dari tatacara pengujian nilai slump, nilai slump test, serta mutu harus
rencana harus tercapai pada umur 28 hari.
b. Pemeriksaan

Konsultan Pengawas dapat memeriksa kualitas beton, sebelum melakukan


pengecoran Konsultan Pengawas wajib melakukan pengujian nilai slump test, dan
nilai slump harus dengan SNI 7656 : 2012, dan apabila nilai slump tidak sesuai dengan
SNI maka pengawas berhak melakukan penolakan terhadap beton ready mix dan
kontraktor wajib mendatangkan beton ready mix yang baru dan biaya ditanggung
oleh kontraktor.
c. Bahan Baja Tulangan
- Semua baja tulangan beton harus baru, mutu dan ukuran sesuai dengan standard
Indonesia untuk beton NI-2, PBI-1971 atau ASTM Designation A-15, dan harus
disetujui oleh Konsultan Pengawas.
Konsultan Pengawas berhak meminta kepada Kontraktor, surat keterangan
tentang pengujian oleh pabrik dari semua besi tulangan beton yang disediakan,
untuk persetujuan Konsultan Pengawas sesuai dengan persyaratan mutu untuk
setiap bagian konstruksi seperti tercantum di dalam gambar rencana.

- Besi tulangan beton sebelum dipasang, harus bersih dari serpih-serpih, karat,
minyak, gemuk dan zat kimia lainnya yang dapat merusak atau mengurangi daya
lekat antara besi tulangan dengan beton.

- Ukuran diameter baja tulangan yg digunakan antara lain :

• Untuk pekerjaan Pondasi Tapak digunakan besi dia. S13 mm, S16 mm

• Untuk pekerjaan Sloof menggunakan besi utama dia. S13 mm dan untuk
sengkang menggunakan dia. S10 mm, P8 mm.

• Untuk pekerjaan Kolom menggunakan besi utama S16 mm, S13 mm, P12 dan
untuk sengkang menggunakan S10, dan P8

Dan penggunaan besi tulangan yang lain harus sesuai dengan gambar rencana, dan
tidak diperkenankan adanya toleransi bentuk ukuran. Diameter besi ulir adalah
diameter dalam.
d. Pengujian Konsistensi Beton dan Benda Uji Beton.

Setiap melakukan pengecoran untuk, pondasi, kolom, tie beam, sloof, balok, pelat
harus ada seminal 3 buah benda uji yang akan dilakukan pengujian tekan pada umur
28 hari. Semua pengujian uji kuat tekan harus sesuai dengan SNI 1974-2011.
Konsultan pengawas berhak menuntut hasil uji kuat tekan beton sesuai dengan mutu
rencana. Kekuatan tekan beton harus ditetapkan oleh konsultan pengawas melalui
pengujian biasa dengan silinder ukuran 15 cm x 30 cm dibuat benda uji sebanyak 3
buah sesuai dengan SNI yang telah di tentukan diatas.
e. Baja Tulangan

Baja beton harus dipasang dengan teliti sesuai dengan gambar rencana. Untuk
menempatkan tulangan tetap tepat ditempatnya maka tulangan harus diikat kuat
dengan kawat beton (bendraat) dengan bantalan blok-blok beton cetak (beton
decking) atau kursi-kursi besi/cakar ayam perenggang. Jarak bersih terkecil antara
batang yang paralel apabila tidak ditentukan dalam gambar rencana, minimal harus
1,2 kali ukuran terbesar dari agregat kasar dan harus memberikan kesempatan
masuknya alat penggetar beton.

f. Selimut Beton
Penempatan besi beton di dalam cetakan tidak boleh menyinggung dinding atau
dasar cetakan, serta harus mempunyai jarak tetap untuk setiap bagian-bagian
konstruksi.
Apabila tidak ditentukan di dalam gambar rencana, maka tebal selimut beton
mengacu pada SNI 2847 : 2019.
g. Sambungan Besi Tulangan
Jika diperlukan untuk menyambung tulangan pada tempat-tempat lain dari yang
ditunjukan pada gambar-gambar, bentuk dari sambungan harus disetujui oleh
Konsultan Pengawas. Overlap pada sambungan-sambungan tulangan harus minimal
1/4 panjang bentangan , kecuali jika ditetapkan secara pasti di dalam gambar rencana
dan harus mendapat persetujuan Konsultan Pengawas.
h. Mengaduk

Bahan-bahan untuk adukan beton site mix mutu beton K-175 harus dicampur dan
diaduk dalam mesin pengaduk beton yaitu ‘batch mixer’.
Konsultan Pengawas berwenang untuk menambah waktu pengadukan jika
pemasukan bahan dan cara pengadukan gagal untuk mendapatkan hasil adukan
dengan susunan kekentalan dan warna yang merata/seragam dalam komposisi dan
konsistensi dari adukan ke adukan, kecuali bila diminta adanya perubahan dalam
komposisi atau konsisitensi. Air harus dituang lebih dahulu selama pekerjaan
penyempurnaan.
i. Suhu
Suhu beton sewaktu dituang tidak boleh dari 320 C dan tidak kurang dari 4,50 C. Bila
suhu dari beton yang dituang berada antara 270 C dan 320 C, beton harus diaduk
ditempat pekerjaan untuk kemudian langsung dicor.
j. Rencana Cetakan

Cetakan harus sesuai dengan bentuk, dan ukuran yang ditentukan dalam gambar
rencana.
Bahan yang dipakai untuk cetakan harus mendapatkan persetujuan dari Konsultan
Pengawas sebelum pembuatan cetakan dimulai, tetapi persetujuan yang demikian
tidak akan mengurangi tanggung jawab Kontraktor terhadap keserasian bentuk
maupun terhadap perlunya perbaikan kerusakan-kerusakan, yang mungkin dapat
timbul waktu pemakaian.
Sewaktu-waktu Konsultan Pengawas dapat mengafkir sesuatu bagian dari bentuk
yang tidak dapat diterima dalam segi apapun dan Kontraktor harus dengan segera
mengambil bentuk yang diafkir dan menggantinya atas bebannya sendiri.
k. Kontruksi Cetakan

- Semua cetakan harus betul-betul diteliti, kuat dan aman pada kedudukannya
sehingga dapat dicegah pengembangan atau terjadi perubahan bentuk selama dan
sesudah pengecoran beton.
- Semua cetakan beton harus kokoh. Alat-alat dan teknis pelaksanaan yang digunakan
harus sesuai dan tepat untuk membuka cetakan-cetakan tanpa merusak
permukaan beton yang telah selesai dicor dan memenuhi usia beton untuk
dibongkar. Sebelum beton dicor, permukaan dari cetakan-cetakan harus dilaburi
minyak yang biasa dipergunakan untuk pekerjaan itu, yang mencegah secara efektif
lekatnya beton pada cetakan dan akan memudahkan melepas cetakan beton.
Minyak tersebut dipakai hanya setelah disetujui Konsultan Pengawas. Penggunaan
minyak cetakan harus hati-hati untuk mencegah kontak dengan besi beton dan
mengakibatkan kurangnya daya lekat.
- Penyangga cetakan (steiger) harus bertumpu pada pondasi yang baik dan kuat
sehingga tidak akan ada kemungkinan penurunan cetakan selama pelaksanaan.
l. Pengecoran

- Sebelum dilaksanakan pengecoran pihak kontraktor harus terlebih dahulu


mengajukan surat permohonan pengecoran kepada Konsultan Pengawas 3 hari
sebelum dilaksanakan pengecoran.
- Beton tidak boleh dicor sebelum semua pekerjaan cetakan, ukuran dan letak baja
tulangan beton sesuai dengan gambar pelaksanaan, pemasangan sparing-sparing
instalasi, penyokong, pengikatan dan lain-lainnya selesai dikerjakan. Sebelum
pengecoran dimulai permukaan-permukaan yang berhubungan dengan
pengecoran harus sudah disetujui oleh Konsultan Pengawas.
- Permukaan-permukaan beton yang telah dicor lebih dahulu, dimana akan dicor
beton baru, harus bersih dan lembab ketika dicor dengan beton baru. Pada
sambungan pengecoran ini harus dipakai perekat beton yang disetujui oleh
Konsultan Pengawas. Pembersihan harus berupa pembuangan semua kotoran,
pembuangan beton-beton yang mengelupas atau rusak, atau bahan-bahan asing
yang menutupinya. Semua genangan air harus dibuang dari permukaan beton lama
tersebut sebelum beton baru dicor.
- Perlu diperhatikan letak/jarak/sudut untuk setiap penghentian pengecoran yang
akan masih berlanjut, terhadap sistem struktur/penulangan yang ada.
- Pengecoran beton tidak boleh dijatuhkan lebih tinggi dari 2 meter, semua
penuangan beton harus selalu lapis-perlapis horizontal dan tebalnya tidak lebih dari
dimensi yang sudah ditentukan. Konsultan Pengawas mempunyai hak untuk
mengurangi tebal tersebut apabila pengecoran tidak memenuhi spesifikasi ini yang
sudah ditentukan.
- Setiap lapisan beton harus dipadatkan sampai sepadat mungkin, sehingga bebas
dari kantong-kantong kerikil, dan menutup rapat-rapat semua permukaan dari
cetakan dan material yang diletakkan.
- Pengecoran dapat dilaksanakan apabila Konsultan Pengawas serta Pihak Kontraktor
ada di tempat kerja dan telah menyetujui pelaksanaan pengecoran serta persiapan
pengecoran betul-betul telah memadai.
- Dalam pemadatan setiap lapisan dari beton, kepala alat penggetar (vibrator) harus
dapat menembus dan menggetarkan kembali beton pada bagian atas dari lapisan
yang terletak di bawah. Lamanya penggetaran tidak boleh menyebabkan
terpisahnya bahan beton dengan airnya. Semua beton harus dipadatkan dengan
alat penggetar type immerson yang dioprasikan dengan kecepatan paling sedikit
3.000 putaran per menit ketika dibenamkan dalam beton.
- Konsultan Pengawas berhak menolak persiapan/mobilisasi alat berat yang telah ada
dilapangan apabila pekerjaan pengecoran belum disetujui dan segala biaya yang
telah dikeluarkan menjadi tanggungan pihak kontraktor.
m. Waktu dan Cara-cara Pembukaan Cetakan
- Waktu dan cara pembukaan dan pemindahan cetakan harus mengikuti petunjuk
Konsultan Pengawas. Pekerjaan ini harus dikerjakan dengan hati-hati untuk
menghindarkan kerusakan pada beton. Beton yang masih muda/lunak tidak
diijinkan untuk dibebani. Segera sesudah cetakan-cetakan dibuka, permukaan
beton harus diperiksa dengan teliti dan permukaan yang tidak beraturan harus
segera diperbaiki sampai disetujui Konsultan Pengawas.
- Umumnya, diperlukan waktu minimum dua hari sebelum cetakan-cetakan dibuka
untuk dinding-dinding yang tidak bermuatan dan cetakan-cetakan samping lainnya,
tujuh hari untuk dinding-dinding pemikul dan saluran-saluran, 28 hari untuk balok-
balok, plat lantai, plat atap, tangga dan kolom.

Walaupun demikian sebagai pedoman dalam keadaan cuaca normal adalah sebagai
berikut :

Struktur

Pengerasan Normal :

Kolom dan dinding: 4 hari

Pelat lantai atau atap: 28 hari

Balok: 28 hari

n. Perawatan (Curing)

- Semua beton harus dirawat (cured) dengan air seperti ditentukan di bawah ini atau
disemprot dengan Curing Agent ANTISOLS merek SIKA bila dimungkinkan .
Konsultan Pengawas berhak menentukan cara perawatan bagaimana yang harus
digunakan pada bagian-bagian pekerjaan.
- Permukaan beton yang terbuka harus dilindungi terhadap sinar matahari yang
langsung minimal selama 3 hari sesudah pengecoran. Perlindungan semacam itu
dilakukan dengan menutupi permukaan beton dengan deklit atau karung bekas
yang dibasahi dan harus dilaksanakan segera setelah pengecoran dilaksanakan.
- Perawatan beton setelah tiga hari, yaitu dengan melakukan penggenangan dengan
air pada permukaan beton paling sedikit selama 14 hari terus menerus. Perawatan
semacam ini bisa dilakukan dengan penyiraman secara mekanis atau dengan pipa
yang berlubang-lubang atau dengancara lain yang disetujui Konsultan Pengawas
sehingga selama masa tersebut permukaan beton selalu dalam keadaan basah. Air
yang digunakan dalam perawatan (curing) harus memenuhi persyaratan spesifikasi
air untuk campuran beton.
o. Perlindungan (Protection)
Kontraktor harus melindungi semua beton terhadap kerusakan-kerusakan sebelum
penerimaan terakhir oleh Konsultan Pengawas.
p. Perbaikan Permukaan Beton
- Jika sesudah pembukaan cetakan ada permukaan beton yang tidak sesuai dengan
yang direncanakan, atau tidak tercetak menurut gambar atau diluar garis
permukaan, atau ternyata ada permukaan yang rusak, hal itu dianggap sebagai tidak
sesuai dengan spesifikasi ini dan harus dibuang dan diganti oleh Kontraktor atas
bebannya sendiri. Kecuali bila Konsultan Pengawas memberikan izinnya untuk
menambal tempat yang rusak, dalam hal mana penambalan harus dikerjakan
seperti yang telah tercantum dalam pasal-pasal berikut.
- Kerusakan yang memerlukan pembongkaran dan perbaikan ialah yang terdiri dari
sarang kerikil, kerusakan-kerusakan karena cetakan, lobang-lobang karena keropos,
tidak rata dan bengkak harus dibuang dengan pemahatan atau dengan batu
gerinda.
- Jika menurut pendapat Konsultan Pengawas hal-hal tidak sempurna pada bagian
bangunan yang akan terlihat jika dengan penambalan saja akan menghasilkan
sebidang dinding, yang tidak memuaskan kelihatannya, kontraktor diwajibkan untuk
menutupi seluruh dinding (dengan spesi plesteran 1pc : 3ps) dengan ketebalan yang
tidak melebihi 1 cm demikian juga pada dinding yang berbatasan, (yang
bersambungan) sesuai dengan instruksi dari Konsultan Pengawas.
Perlu diperhatikan untuk permukaan yang datar batas toleransi kelurusan
(pencekungan atau pencembungan) bidang tidak boleh melebihi dari L/1000 untuk
semua komponen.
q. Tenaga Kerja

Menyediakan tenaga kerja, material, peralatan dan transportasi yang diperlukan


untuk menyelesaikan semua beton dan semua pekerjaan pada lingkup ini seperti
yang tercantum pada gambar rencana, atau yang disebut dalam spesifikasi, maupun
pada keduanya.
r. Persyaratan Umum
- Bekisting/cetakan harus dipasang dengan kuat dan pada posisi sesuai dengan
gambar pelaksanaan untuk pondasi.
- Pada balok sloof harus dipasang stek-stek untuk kolom-kolom praktis yang letaknya
sesuai dengan gambar pelaksanaan (dokumen lelang).
- Pelaksanaan pekerjaan beton selengkapnya harus mengikuti uraian pasal 1 di atas
(Persyaratan Pengerjaan Beton).
- Pekerjaan perubahan dan pekerjaan tambahan di lapangan pada waktu
pemasangan yang diakibatkan oleh kekurang telitian dan kelalaian Kontraktor,
harus dilaksanakan atas biaya Kontraktor.
- Kekurang tepatan pemasangan karena kesalahan pelaksanaan harus diperbaiki/
dibetulkan atau diganti dengan yang baru atas biaya Kontraktor.
- Pekerjaan perbaikan yang rusak atau tidak sempurna akibat pengangkutan di site
atau sebab lain, harus segera dilaksanakan.

7. PEKERJAAN ATAP

Pekerjaan Pek. Rangka Atap Baja Ringan C75 tb.1 mm dan Pas. Penutup jadi Atap Bitumen

7.1. LINGKUP PEKERJAAN


a. Bahan penutup atap adalah Atap Bitumen

b. Kontraktor wajib memberikan contoh bahan untuk disetujui dengan disertai


keterangan tertulis mengenai spesifikasi bahan, detail bentuk, ukuran serta petunjuk
cara pemasangan.

c. Ukuran baut yang digunakan sesuai dengan yang disyaratkan untuk pasangan jenis
Penutup Atap.

d. Untuk bahan material atap harap ada jaminan garansi

7.2. PEKERJAAN RANGKA ATAP BAJA RINGAN


Pekerjaan rangka atap baja ringan meliputi:
- Pengukuran bentang bangunan sebelum dilakukan fabrikasi
- Penyediaan tenaga kerja beserta alat/bahan lain yang diperlukan untuk pelaksanaan
pekerjaan
- Pekerjaan pemasangan seluruh rangka atap kuda-kuda meliputi struktur rangka kuda-
kuda (truss), balok tembok (top plate/murplat), reng, sekur overhang, ikatan angin dan
bracing (ikatan pengaku)
- Pemasangan jurai dalam (valley gutter)

a. Persyaratan Umum
- Semua peralatan dan perlengkapannya dalam keadaan lengkap, rapi, utuh dan tanpa cacat /
kerusakan daripabrik maupun pada waktu pengiriman, apabila terdapat kerusakan Penyedia
Jasa segera menggantidengan merk dari jenis yang sama.
- Pengadaan bahan dilengkapi brosur dari pabrik untuk mengetahui spesifikasi teknisnya.
- Semua peralatan dan perlengkapannya harus sesuai menurut
- nomor ukuran yang dipergunakan
- Untuk benda-benda/bahan-bahan dengan komponen, tapi dari bahan yang sama, harus
mempunyai warna yang sama.
- Semua peralatan dan perlengkapannya harus terpasang kokoh, rapi dan kuat.
- Semua peralatan/bahan-bahan tersebut harus sepengetahuan dan mendapat persetujuan dari
Pengawas Lapangan/MK/Direksi.
- Pengiriman bahan di lapangan diterima dengan Berita Acara Serah terima antara Penyedia Jasa
danPetugas Lapangan (Pengawas Lapangan/Direksi
- Pemasangan harus kokoh, kuat, rapi dan dikerjakan oleh tenaga ahli yang sudah berpengalaman.
- Semua bahan, peralatan dan perlengkapan harus terpasang sesuai dengan tata
letak/tempatnya, ketinggianatau sesuai dengan lay out gambar rencana.
- Bahan yang dipergunakan kualitas baik, yang tahan terhadap bahan-bahan kimia dan tekanan,
pemasangandilengkapi dengan angkur besi. Rencana pemasangan harus sepengetahuan
Pengawas Lapangan.
- Semua kerusakan yang terjadi akibat pemasangan harus dikembalikan seperti semula.

b. Bahan Material

- Material merupakan produksi pabrik dengan standar SNI dengan spesifikasi sebagai berikut :
1) Komposisi material :
-Aluminium (AL) = 55 %
- Zinc (Zn) = 43.5 %
-Silicon (Si) = 1.5 %
2) Baja mutu tinggi G550
3) Kekuatan leleh minimum 550 Mpa
4) Tegangan maksimum > 550 Mpa
5) Modulus elastisitas 200.000 Mpa
6) Modulus Geser 80.000 Mp
- Profil Material
Profil Truss baja ringan : C.75.1.00 (tinggi profil 75 mm dan ketebalan berikut lapisan pelindung
/ coating TCT 1,00 mm) dengan ketebalan profil 1 mm
Profil reng baja ringan : Profil material reng baja ringan yang digunakan adalah profil U terbalik
(Top – hat)
Tinggi profil 37 mm dan ketebalan berikut lapisan pelindung / coating TCT 0,45 mm
Jarak reng disesuaikan dengan jarak genteng yang digunakan
- Cara Sambung Baja Ringan dan Ring Balok
1. Baut Kuda-Kuda 12 mm x 20 mm
2. Baut Reng 10 mm x 16 mm
3. Dynabolt 10 mm x 77 mm
4. L-Bracket : Baja Ringan

- Brace System (Bracing)


1. Bottom Chord Bracing : Pengaku / Ikatan pada Tarik Bawah ( Bottom Chord ) Pada Kuda-
Kuda Baja Ringan
2. Top Chord Bracing : Pengaku / Ikatan pada Tarik Atas ( Top Chord ) Pada Kuda- Kuda Baja
Ringan
3. Lateral Tie Bracing : Pengaku / Bracing antara Web Pada Kuda-Kuda Baja Ringan, Sekaligus
Berfungsi untuk Mengurangi Tekuk Lokal Pada Batang Tekan
4. Diagonal Web Bracing : Pengaju / Bracing Diagonal Antara Web Pada Kuda-Kuda Baja
Ringan Dengan Bentuk Yang Sama dan Letak Berdampingan
5. Strap Brace

- Persyaratan Pelaksanaan
1. Kontraktor wajib memberikan pemaparan produk sebelum pelaksanaan pemasangan
rangka atap baja ringan, sesuai dengan RKS (Rencana Kerja dan Syarat) seperti pada pasal
diatas. Produk yangdipaparkan sesuai dengan surat dukungan dan brosur yang
dilampirkan pada dokumen tender.
2. Kontraktor wajib menyerahkan gambar kerja yang lengkap berserta detail dan
bertanggung jawabterhadap semua ukuran-ukuran yang tercantum dalam gambar kerja.
Dalam hal ini meliputi dimensiprofil, panjang profil dan jumlah alat sambung pada setiap
titik buhul.
3. Perubahan bahan/detail karena alasan apapun harus diajukan ke Konsultan Pengawas,
KonsultanPerencana dan Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) untuk mendapatkan
persetujuan secara tertulis.
4. Kontraktor wajib menyediakan surat keterangan keahlian tenaga dari Fabrikan penyedia
jasa Rangka Atap Baja Ringan.
5. Kontraktor wajib menyertakan hasil uji lab dari bahan baja ringan dari badan akreditasi
nasional(instansi yang berwenang sesuai dengan kompetensinya).
6. Produk yang digunakan sudah berpengalaman minimal 10 (sepuluh) tahun.
7. Perhitungan alat Struktur atau software harus digunakan untuk 1 (satu) produk, itu
menunjukkanbahwa software yang digunakan khusus (ter-registrasi) untuk rangka atap
baja ringan tersebut danharus bisa mengeluarkan perhitungan struktur secara detail
- Jaminan Struktural
1. Jaminan yang dimaksud di sini adalah jika terjadi deformasi yang melebihi ketentuan
maupun keruntuhan yang terjadi pada struktur rangka atap Baja Ringan, meliputi
kudakuda, pengaku-pengaku dan reng.
2. Jaminan yang dikeluarkan adalah berupa sertifikat garansi struktur yang mengakomodasi
garansi strukturselama 10 (sepuluh) tahun dan merupakan garansi yang meliputi mutu
bahan dan pemasangan dan akandisyaratkan pada saat serah terima pekerjaan berlaku
secara nasional.

7.3. PEKERJAAN PENUTUP ATAP


a. Jenis penutup atap gelombang dengan spesifikasi sebagai berikut
1. Deskripsi : Lembaran bitumen bergelombang monolayer yang terbuat dari serat
organik, diberi warna dengan pigmen mineral dan resin thermosetting pada kedua
sisi (atas dan bawah) dengan model genteng 6 gelombang.
2. Terbuat dari bahan dasar : Bitumen Selulosa
3. Dimensi/Ukuran : Panjang 400 mm (-0 s/d +20) ; Lebar 1070 mm (-20 s/d +
20); Tebal 2,9 mm (±0,3)
4. Korugasi/Gelombang : 6 korugasi + 5 bagian datar per lembar; Lebar 95 mm (±2);
Tinggi 38 mm (±2)
5. Berat : 1,34 Kilogram per Lembar ; 3,3 Kilogram per meter persegi
6. Warna : Merah 3D, Coklat 3D, Hijau 3D, Terracota 3D, Fiorentino 3D
dan Hitam
7. Kandungan bitumen : Lebih besar dari 40%.
8. Standar Spesifikasi Material : EN 534:2006 – Corrugated bitumen sheets. Product
specification and test methods – kategori R serta ETA 10-/0018.
9. Tata cara pemasangan mengacu kepada katalog atau brosur Onduvilla, dengan jarak
antar reng 32cm.
b. Bitumen memiliki garansi 10 tahun terhadap waterproofing dengan syarat dan

ketentuan pemasangan yaitu:


- Pemasangan dilakukan sesuai dengan rekomendasi dari pabrikan.
- Pemasangan dilakukan oleh tenaga terlatih disertai supervisi dari pihak Onduline atau
distributor secara berkala.
- Syarat dan ketentuan lain terdapat pada surat garansi
c. Tata cara pemasangan atap Bitumen

- Tata cara pemasangan atap Bitumen


1. Pastikan kemiringan kuda-kuda atap adalah minimal 15 derajat.
2. Pastikan reng harus rapat dan sejajar, jarak antar reng adalah 32-36 cm.
3. Selama pemasangan atap agar tidak menginjak atap yang telah terpasang kecuali
menggunakan tangga konstruksi, papan bidang kerja atau menginjak pada
bagian lembaran atap yang bersentuhan dengan reng. Dilarang menginjak pada
bidang lembaran diantara reng.
4. Pemasangan lembaran dimulai dari sisi paling bawah dari bidang atap, dengan
jarak overhang maksimal adalah 5 cm dari listplang.
5. Penyekrupan menggunakan sekrup Bitumen dengan warna yang sesuai dengan
lembar atap. Penyekrupan dilakukan pada setiap gelombang diantara dua
gelombang interlock pada lembaran atap.
6. Urutan penyekrupan dimulai dari gelombang sisi bawah pertama dan kelima,
dilanjutkan dengan gelombang kedua sampai dengan keempat. Gelombang
keenam digunakan untuk overlap dengan lembaran atap selanjutnya.
Gelombang sisi atas digunakan untuk overlap dengan lembaran atap diatasnya.
7. Pemasangan lembaran atap dengan pola pasangan bata. Baris pertama
pemasangan menggunakan lembaran atap utuh. Baris kedua dari bawah dimulai
dengan menggunakan lembaran atap yang dipotong menjadi dua. Baris ketiga,
kelima dan seterusnya seperti pemasangan pada baris pertama. Baris keempat,
8. keenam dan seterusnya seperti pemasangan pada baris kedua.
- Pemasangan Nok
1. Nok menggunakan aksesoris nok standar dari Bitumen.
2. Penyekrupan pada nok pada setiap gelombang yang bersentuhan dengan
gelombang Bitumen.

8. PEKERJAAN PASANGAN BATA RINGAN, PLESTERAN DAN ACIAN


8.1. BAHAN SEMEN INSTAN

- Semen Instan
Semen yang digunakan harus semen Instant dari sumber yang disetujui dan
mempunyai persyaratan minimum. dari “Peraturan Semen Instan” Indonesia. Selain
itu, semen instan yang digunakan juga harus mempunyai dan memiliki sertifikat
Green Building, yang dikeluarkan oleh Green Building Indonesia (GBCI). Sertifikat
tersebut harus dilampirkan bersamaan dengan penawaran biaya, dan akan dihitung
sebagai syarat teknis pelelangan. Semen instan disini menggunakan merk setara
Mortar Utama, yang pada saat pelaksanaan harus dibuktikan dengan surat jalan dan
Purchasing Order.

- Pasir
Pasir untuk pekerjaan dinding harus memenuhi persyaratan P.U.B.B. –N.I.3
- Air
Air yang digunakan untuk pekerjaan dinding harus bersih bebas dari zat asam atau
kotoran yang dapat mempengaruhi daya ikat semen.
- Bata Merah
Bata yang digunakan adalah bata merah dan ukurannya seragam (berkode SNI).

8.2. JENIS ADUKAN

Komposisi atau campuran adukan berikut akan digunakan sesuai dengan keterangan
pada gambar bestek atau spesifikasi.
8.3. CARA MENGADUK
Adukan harus dilaksanakan dengan mixer yang telah mendapat persetujuan Direksi
dan bila dilakukan tanpa peralatan khusus maka harus dilaksanakan pada suatu dasar
yang bersih dan kuat. Adukan yang mulai mengeras tidak boleh digunakan lagi.
8.4. PASANGAN BATA MERAH

- Pekerjaan dinding harus dipatok dan dilaksanakan sesuai dengan ukuran, ketebalan
dan ketinggian yang tercantum dalam gambar.
- Basahi bata merah terlebih dahulu (celup sebentar dalam air) untuk mencegah
penyerapan air dari adukan terlalu cepat.
- Semua pengakhiran dinding, pertemuan dinding dengan jendela alumunium dan
sudut-sudut dinding harus diperkuat dengan kolom praktis dengan penulangan.
- Permukaan dinding yang luas harus diperkuat dengan kolom praktis dan balok lintel
sehingga luas bidang dinding yang diperkuat. penulangan dan adukan beton balok
lintel adalah sama dengan kolom praktis.
- Buat lapisan adukan dasar setebal ±1,5–2 cm di atas pondasi atau sloof.
- Letakkan bata pertama, tekan perlahan agar rata dan stabil. Gunakan waterpass
untuk memastikan kedataran.
- Pasang bata berikutnya dengan pola ikatan bata (umumnya susunan berselang –
istilah: half brick bond).
- Setiap bata diberi adukan pada sisi samping dan bawahnya. Tekan agar tidak ada
rongga udara.
- Tebal nat/garis spesi antar bata ±1–2 cm.
- Setiap 3–5 lapis, cek kembali kelurusan vertikal dan horizontal dengan waterpass
dan benang tukang.
- Bersihkan sisa adukan yang berceceran agar tidak mengeras di permukaan dinding.
- Jenis Adukan
Komposisi atau campuran adukan untuk pasangan Bata Merah, Plesteran dan Acian
harus sesuai dengan SNI 03-0349-1989.
- Bata merah harus dalam kondisi kering udara (tidak terlalu basah atau terlalu kering),
tidak retak, dan berukuran seragam.
8.5. PLESTERAN
- Bahan
Untuk komposisi bahan harus sesuai dengan SNI 03-6861.1-2002 (P lesteran dan
Acian.

- Perbandingan Adukan
Semen Instant dan air aduk hingga rata untuk mendapat adukan semen yang sesuai
dengan kebutuhannya, ikuti petunjuk pemakaiannya.
- Persiapan Permukaan
Permukaan dinding pasangan dan beton harus diberi waktu cukup untuk mongering
dan semua pipa saluran harus sudah terpasang pada tempatnya. Siar pada blok beton
harus dikasarkan, bebas dari minyak dan segala kotoran, bagian-bagian yang lepas
dibersihkan dengan sikat kawat. Bagian-bagian yang cekung kedalam harus diratakan
dengan penambahan yang dibiarkan mongering sempurna, sebelum diberi plesteran.
Untuk mencegah pengeringan yang belum waktunya dari pada plesteran, permukaan
yang telah disiapkan harus dibasahi. Plesteran yang bergelombang dan retak-retak
harus segera diperbaiki. Untuk mencegah pengerasan plesteran sebelum waktunya
maka permukaan-permuakaan plesteran dinding yang telah selesai harus dijaga agar
tetap lembab selama beberapa hari setelah pengerjaan.
- Pelaksanaan
Tebal plester rata-rata 1,5 cm dan harus menghasilkan permukaan sesuai persetujuan
Direksi. Harus dipasang adukan-adukan patokan untuk mendapatkan permukaan
yang rata. Plester diratakan dengan menggunakan lat kayu lurus. Plester harus
dibasahi untuk minimum 7 hari setelah dipasang.

9. PEKERJAAN KUSEN, PINTU, JENDELA DAN KACA


9.1. LINGKUP PEKERJAAN

- Meliputi pengadaan tenaga kerja, peralatan bahan, penyetelan dan pemasangan


kusen alumunium/kaca pada tempat-tempat sesuai dengan gambar rencana.
- Mengatur pekerjaan kusen alumunium dengan pekerjaan-pekerjaan bidang lain yang
bersangkutan terutama pekerjaan kaca.
- Membuat gambar-gambar kerja (serta perhitungan-perhitungan apabila diminta)
yang disesuaikan dengan gambar rencana dan RKS.
9.2. PERSYARATAN BAHAN

Kusen yang digunakan :


a. Bahan : Alumenium Framing Sesuai Standart SNI dengan bahan baku
aluminium menggunakan Alloy 6063 dengan T5 ukuran 1 x 4 inchi, tebal
1 mm.
b. Bentuk : Sesuai shop drawing yang disetujui Perencana/Konsultan
Pengawas.
c. Warna Profil : Ditentukan kemudian.
c. Nilai Deformasi Diijinkan Maksimal 2mm.
d. Produk : Produksi dalam negeri dengan TKDN Minimal 50%
e. Persyaratan bahan yang digunakan harus memenuhi uraian dan syarat
syarat dari pekerjaan aluminium serta memenuhi ketentuan-ketentuan
dari pabrik yang bersangkutan.
f. Konstruksi kusen aluminium yang dikerjakan seperti yang ditunjukkan
dalam detail gambar termasuk bentuk dan ukurannya.
g. Bahan yang akan diproses fabrikasi harus diseleksi terlebih dahulu sesuai
dengan bentuk toleransi ukuran, ketebalan, kesikuan, kelengkungan dan
pewarnaan yang dipersyaratkan.
i. Untuk keseragaman warna disyaratkan, sebelum proses fabrikasi warna
profil-profil harus diseleksi secermat mungkin. Kemudian pada waktu
fabrikasi unit-unit, jendela, pintu partisi dan lain- lain, profil harus
diseleksi lagi warnanya sehingga dalam tiap unit didapatkan warna yang
sama.
j. Pekerjaan memotong, punch dan drill, dengan mesin harus sedemikian
rupa sehingga diperoleh hasil yang telah dirangkai untuk jendela, dinding
dan pintu mempunyai toleransi ukuran sebagai berikut :
untuk tinggi dan lebar 1mm
Untuk diagonal 2mm
Kaca yang digunakan :
a. Kaca adalah benda terbuat dari bahan glass yang pipih pada umumnya
mempunyai ketebalan yang sama, mempunyai sifat tembus cahaya, dapat
diperoleh dari proses-proses tarik tembus cahaya, dapat diperoleh dari
proses-proses tarik, gilas dan pengambangan (Float glass).
b. Toleransi lebar dan panjang : Ukuran panjang dan lebar tidak boleh
melampaui toleransi seperti yang ditentukan oleh pabrik.
c. Kaca lembaran yang berbentuk segi empat harus mempunyai sudut serta
tepi potongan yang rata dan lurus, toleransi kesikuan maximum yang
diperkenankan adalah 1,5 mm per meter.
d. Cacat-cacat.
- Cacat-cacat lembaran bening yang diperbolehkan harus sesuai ketentuan
dari pabrik.
- Kaca yang digunakan harus bebas dari gelembung (ruang-ruang yang
berisi gas yang terdapat pada kaca).
- Kaca yang digunakan harus bebas dari komposisi kimia yang dapat
mengganggu pemandangan.
- Kaca harus bebas dari keretakan (garis-garis pecah pada kaca, baik
sebagian atau seluruh tebal kaca).
- Kaca harus bebas dari gumpilan tepi (tonjolan pada sisi Panjang dan lebar
ke arah luar / masuk).
- Harus bebas dari benang (string) dan gelombang (wave) benang adalah
cacat garis timbul yang tembus pandangan, gelombang adalah
permukaan kaca yang berobah dan mengganggu pandangan.
- Harus bebas dari bintik-bintik (spots), awan (cloud) dan goresan (scratch).
- Bebas lengkungan (lembaran kaca yang bengkok).
- Mutu kaca lembaran yang digunakan AA.
- Ketebalan kaca lembaran yang digunakan tidak boleh melampaui
toleransi yang ditentukan oleh pabrik.
e. Bahan kaca

- Bahan kaca, harus sesuai SII 0189/78 dan PBVI 1982.


- Bahan untuk cermin menggunakan : Clear float glass, tebal sesuaikan
dengan gambar (t=5 mm)
- Di satu permukaannya dilapisi (Chemical Deposited Silver).
- Permukaan harus bebas noda dan cacat, bebas sulfida maupun bercak-
bercak lainnya.
- Produksi : ex. Asahimas, Mulia, Saint Gobain, or equal.

f. Sisi kaca yang tampak maupun yang tidak tampak akibat pemotongan,
harus digurinda / dihaluskan, hingga membentuk tembereng.
Kunci dan Pegangan Pintu yang digunakan :

g. Semua pintu menggunakan peralatan kunci kualitas baik, bahan stainless


steel / bebas dan anti karat.
h. Untuk pintu-pintu aluminium (unit hunian) dan pintu-pintu besi pada
ruang panel yang dipakai adalah kunci "mortise lock set" berbahan
stainless steel atau logam anti karat.
i. Semua kunci-kunci tanam terpasang dengan kuat pada rangka daun
pintu. Dipasang setinggi 90 cm dari lantai atau sesuai petunjuk Konsultan
Pengawas.

Engsel yang digunakan :

Untuk pintu-pintu aluminium pada umumnya menggunakan engsel pintu


kualitas baik, dipasang sekurang-kurangnya 2 buah untuk setiap daun dengan
menggunakan sekrup kembang dengan warna yang sama dengan warna
engsel. Jumlah engsel yang dipasang harus diperhitungkan menurut beban
berat daun pintu.

a. Untuk pintu-pintu aluminium serta pintu panel menggunakan engsel


lantai (floor hinge) double action, kualitas baik dipasang dengan baik
pada lantai sehingga terjamin kekuatan dan kerapihannya, dipasang
sesuai dengan gambar untuk itu.
b. Untuk jendela digunakan engsel kualitas baik
c. Untuk pintu-pintu aluminium menggunakan engsel kualitas baik disertai
pada posisi single action.
d. Untuk pintu-pintu besi dipakai engsel kupu dibuat khusus untuk
keperluan masing-masing pintu.

9.3. SYARAT-SYARAT METODE PELAKSANAAN

Alumunium :
a. Sebelum memulai pelaksaan Kontraktor diwajibkan meneliti gambar-
gambar dan kondisi dilapangan (ukuran dan peil lubang dan membuat
contoh jadi untuk semua detail sambungan dan profil aluminium yang
berhubungan dengan sistem konstruksi bahan lain.
b. Prioritas proses fabrikasi, harus sudah siap sebelum pekerjaan dimulai,
dengan membuat lengkap dahulu shop drawing dengan petunjuk
Perencana/Konsultan Pengawas.
c. Semua frame/ kusen baik untuk dinding, jendela dan pintu dikerjakan
secara fabrikasi dengan teliti sesuai dengan ukuran dan kondisi lapangan
agar hasilnya dapat dipertanggungjawabkan.
d. Pemotongan aluminium hendaknya dijauhkan dari material besi untuk
menghindarkan penempelan debu besi pada permukaannya. Disarankan
untuk mengerjakannya pada tempat yang aman dengan hati-hati tanpa
menyebabkan kerusakan pada permukaannya.
e. Pengelasan dibenarkan menggunakan non –activated gas (argon) dari
arah bagian dalam agar sambungannya tidak tampak oleh mata.
f. Akhir bagian kusen harus disambung dengan kuat dan teliti dengan
sekrup, rivet, stap dan harus cocok. Pengelasan harus rapi untuk
memperoleh kualitas dan bentuk yang sesuai dengan gambar.
g. Angkur-angkur untuk rangka/kusen aluminium terbuat dari steel plate
setebal 2 - 3 mm dan ditempatkan pada interval 600 mm
h. Penyekrupan harus dipasang tidak terlih at dari luar dengan sekrup anti
karat/stainless steel, sedemikian rupa sehingga hair line dari tiap
sambungan harus kedap air dan memenuhi syarat kekuatan terhadap air
sebesar 1.000 kg/cm2 . Celah antara kaca dan sistem kusen aluminium
harus ditutup oleh sealant.
kusen aluminium dilengkapi oleh kemungkinan-kemungkinan sebagai berikut,
Dapat menjadi kusen untuk dinding kaca mati. Dapat cocok dengan jendela
geser, jendela putar, dan lain- lain.
a. Sistem kusen dapat menampung pintu kaca frameless.
b. Untuk sistem partisi, Harus mampu moveable dipasang tanpa harus
dimatikan secara penuh yang merusak baik lantai maupun langit- langit.
c. Mempunyai accessories yang mampu mendukung kemungkinan diatas.
d. Untuk fitting hard ware dan reinforcing materials yang mana kusen
aluminium akankontak dengan besi, tembaga atau lainnya maka
permukaan metal yang bersangkutan harus diberi lapisan chormium
untuk menghindari kontak korosi.
e. Toleransi pemasangan kusen aluminium disatu sisi dinding adalah 10 - 25
mm yang kemudian diisi dengan beton ringan/grout.
f. Khusus untuk pekerjaan jendela geser aluminium agar diperhatikan
sebelum rangka kusen terpasang . Permukaan bidang dinding horizontal
(pelubangan dinding) yang melekat pada ambang bawah dan atas harus
waterpass.
g. Untuk memperoleh kekedapan terhadap kebocoran udara terutama
pada ruang yang dikondisikan hendaknya ditempatkan mohair dan jika
perlu dapat digunakan synthetic rubber atau bahan dari synthetic resin.
h. Sekeliling tepi kusen yang terlihat berbatasan dengan dinding agar diberi
sealant supaya kedap air dan kedap suara.
i. Tepi bawah ambang kusen exterior agar dilengkapi flashing untuk
penahan air hujan.

Kaca :
a. Semua pekerjaan dilaksanakan dengan mengikuti petunjuk gambar,
uraian dan syarat pekerjaan dalam buku ini.
b. Pekerjaan ini memerlukan keahlian dan ketelitian.
c. Semua bahan yang telah terpasang harus disetujui oleh Pengawas /
Perencana.
d. Bahan yang telah terpasang harus dilindungi dari kerusakan dan
benturan, dan diberi tanda untuk mudah diketahui, tanda-tanda tidak
boleh menggunakan kapur. Tanda-tanda harus dibuat dari potongan
kertas yang direkatkan dengan menggunakan lem aci.
e. Pemotongan kaca harus rapi dan lurus, diharuskan menggunakan alat-
alat pemotong kaca khusus.
f. Pemotongan kaca harus disesuaikan ukuran rangka, minimal 10 mm
masuk ke dalam alur kaca pada kusen.
g. Pembersih akhir dari kaca harus menggunakan kain katun yang lunak
dengan menggunakan cairan pembersih kaca.
h. Hubungan kaca dengan kaca atau kaca dengan material lain tanpa
melalui kusen, harus diisi dengan lem [Link] transparant cara
pemasangan dan persiapan-persiapan pemasangan harus mengikuti
petunjuk yang dikeluarkan pabrik
Alat Penggantung dan Pengunci :
a. Engsel atas dipasang ± 28 cm (as) dari permukaan atas pintu. Engsel
bawah dipasang ± 32 cm (as) dari permukaan bawah pintu. Engsel tengah
dipasang ditengah-tengah antara kedua engsel tersebut.
b. Penarikan pintu (door pull) dipasang 90 cm (as) dari permukaan lantai.
c. Seluruh perangkat kunci harus bekerja dengan baik, untuk itu harus
dilakukan pengujian secara kasar dan halus.
d. Tanda pengenal anak kunci harus dipasang sesuai dengan pintunya.
e. Kontraktor wajib membuat shop drawing (gambar detail pelaksanaan)
berdasarkan Gambar Dokumen Kontrak yang telah disesuaikan dengan
keadaan di lapangan. Didalam shop drawing harus jelas dicantumkan
semua data yang diperlukan termasuk keterangan produk, cara
pemasangan atau detail-detail khusus yang belum tercakup secara
lengkap di dalam Gambar Dokumen Kontrak, sesuai dengan Standar
Spesifikasi pabrik.
f. Shop Drawing sebelum dilaksanakan harus disetujui dahulu oleh
Pengawas.

10. PEKERJAAN PLAFOND


10.1. LINGKUP PEKERJAAN

Pekerjaan ini dilakukan meliputi pemasangan plafond, termasuk pemasangan rangka


sesuai yang disebutkan/ditunjukan dalam gambar, dan sesuai dengan petunjuk
Konsultan Pengawas.
10.2. PERSYARATAN BAHAN

a. Rangka

Rangka utama hollow 4 x 4 dengan modul 60 x 60 cm dan rangka sekunder 2


x 4 cm dengan modul 60 x 60 cm, tebal besi hollow yang digunakan adalah 0.35
mm.

b. Penutup langit-langit

Digunakan PVC yang bermutu baik. Plafond yang digunakan memiliki tebal 8 mm.
Jenis yang digunakan adalah Plafond PVC Glossy. Atau dapat berubah bila
pemberi tugas memberikan arahan untuk mengganti penggunaan bahan tersebut.

c. Bahan penutup sambungan plafond dan List Plafond

Menggunakan profil yang sesuai sudah di pabrikasi, untuk list plafond


menggunakan list plafond PVC 4 mm.
d. Semua bahan di atas harus disetujui oleh Konsultan Pengawas dan Pemberi
tugas.
Kontraktor Pelaksana dapat menyiapkan sampel atau mock-up material yang akan
dipasang.

10.3. SYARAT-SYARAT PELAKSANAAN

a. Sebelum melaksanakan pekerjaan, Kontraktor diwajibkan untuk meneliti gambar-


gambar yang ada dan kondisi di lapangan (ukuran), termasuk mempelajari bentuk,
pola, lay-out/penempatan, cara pemasangan, mekanisme dan detail-detail
sesuai gambar.

b. Plafond PVC yang dipasang adalah plafond yang telah dipilih baik bentuk dan
ukuran masing-masing unit sama, tidak ada bagian yang retak, gumpal, atau cacat-
cacat lainnya dan telah mendapat persetujuan Konsultan Pengawas.

c. Pemasangan rangka plafond besi hollow disesuaikan dengan kondisi ruangan


dengan pola yang ditunjukan/disebutkan dalam gambar dengan memperhatikan
modul pemasangan penutup langit-langit yang dipasangnya.

d. Modul pemasangan rangka hollow adalah 600 x 600 mm.

e. Rangka penggantung bisa menggunakan rood galvanized dengan adjuster dan


digantung ke plat/dak beton di fisher dan sekrup atau dengan paku tembak
dynabolt.
f. Bidang bagian ranga langit-langit harus rata, tidak cembung, kaku, dan kuat kecuali bila
dinyatakan lain, missal : permukaan merupakan bidang miring/tegak sesuai yang
ditunjukan dalam gambar.
g. Bahan penutup langit-langit adalah PVC dengan mutu bahan seperti yang telah
dipersyaratkan dengan pola pemasangan sesuai yang ditunjukan dalam gambar.
Plafond PVC dipasang dengan sekrup khusus dan setiap pemasangan masing-masing
sekrup sejajar minimal berjarak 300 mm.
h. Hasil pemasangan penutup langit-langit harus rata, tidak melendut.
i. Sambungan Plafond PVC diberi List PVC 8 mm.
j. Setelah Plafond PVC terpasang, bidang permukaan langit-langit harus rata, antara
unit-unit PVC tidak terlihat bergelombang sambungan.

11. PEKERJAAN PENGECATAN


11.1. LINGKUP PEKERJAAN

Pekerjaan yang dimaksud meliputi :


a. Pekerjaan pengecatan permukaan dinding pasangan batu bata, beton yang
ditampakkan, dan langit-langit dengan cat tembok.

b. Pengecatan lisplank

- Pekerjaan Pengecatan Permukaan Plesteran Dinding, Beton dan Langit-Langit.


Semua permukaan plesteran dinding, permukaan beton yang tampak/ exposed
dan langit-langit seperti tercantum dalam Gambar Kerja.
- Pekerjaan Pengecatan Kayu.
- Cat akhir (“finish”) untuk permukaan kayu yang ditampakkan, seperti : lisplank
atau tempat lainnya seperti tercantum dalam Gambar Kerja.
- Cat dasar/meni besi untuk pekerjaan pengecatan kayu seperti tercantum
dalam Gambar Kerja

11.2. PERSYARATAN BAHAN

a. Cat Dulux
Bahan dari jenis acrylic emulsion kualitas utama, sek. Vinilex tahan terhadap
udara dan garam, produk lokal. mutu terbaik .
b. Cat Logam
Bahan dari jenis synthetic enamel super gloss sekualitas Avian atau Produk
lokal. mutu terbaik.
c. Plamur
Bahan dari kualitas utama, produk ex lokal mutu terbaik.
d. Kontraktor wajib membuktikan keaslian cat dari produk tersebut di mengenai
kemurnian cat yang akan dipergunakan, Pembuktian berupa :
segel kaleng
test BD
test laboratorium
hasil akhir pengecatan

e. Kontraktor harus menyiapkan contoh pengecatan tiap warna dan jenis cat pada
bidang-bidang transparan ukuran 30 x 30 cm2.
Pada bidang-bidang tersebut harus dicantumkan dengan jelas warna, formula
cat, jumlah lapisan, dan jenis lapisan (dari cat dasar sampai dengan lapisan
akhir.
f. Kontraktor harus menyerahkan kepada Direksi/Konsultan Pengawas, untuk
kemudian akan diteruskan ke Pejabat Pembuat Komitmen, minimal 5 Galon tiap
warna dan jenis cat yang dipakai.
Kaleng-kaleng cat tersebut harus tertutup rapat dan mencantumkan dengan
jelas identitas cat yang ada di [Link] ini akan dipakai sebagai cadangan
oleh Pejabat Pembuat Komitmen untuk Perawatan.

11.3. PERSYARATAN PELAKSANAAN

a. Pengecatan harus rata, tidak bertumpuk, tidak bercucuran atau ada bekas yang
menunjukkan tanda-tanda sapuan, roller maupun semprotan.
b. Sebelum Melaksanakan pekerjaan pengecatan, permukaan dinding kering dan
bersih, diamplas/dibersihkan terlebih dahulur hingga permukaan bidang yang
akan di cat terlihat bersih dan kering.

Apabila dari cat yang dipakai ada yang mengandung bahan dasar beracun atau
membahayakan keselamatan manusia, maka Kontraktor harus menyediakan
peralatan pelindung misalnya : masker, sarung tangan dan sebagainya yang
harus dipakai waktu pelaksanaan pekerjaan.

c. Khusus untuk semua cat dasar harus disapukan dengan roll cat.
d. Standar Pengerjaan ((“Mock-Up”).
Sebelum pengecatan dimulai, Kontraktor harus melakukan pengecatan pada
satu bidang untuk tiap warna dan jenis cat yang diperlukan. Bidang-bidang
tersebut akan dijadikan contoh pilihan warna, tekstur, material dan cara
pengerjaan.
Bidang-bidang yang akan dipakai sebagai “mock-up” ini akan ditentukan oleh
Direksi/Konsultan Pengawas. Jika masing-masing bidang tersebut telah
disetujui oleh Direksi/Konsultan Pengawas dan Perencana, maka bidang-bidang
ini akan dipakai sebagai standard minimal keseluruhan Pekerjaan Pengecatan.
e. Hasil pekerjaan yang tidak disetujui Direksi/Konsultan Pengawas harus diulang
dan diganti. Kontraktor harus melakukan pengecatan kembali bila ada cat dasar
atau cat finish yang kurang menutupi atau lepas sebagaimana ditunjukkan oleh
Direksi/ Konsultan Pengawas.
f. Pekerjaan Pengecatan Permukaan Dinding, Beton dan Langit-Langit
- Sebelum pelaksanaan :
Seluruh permukaan harus dibersihkan dari debu, lemak, kotoran atau noda lain,
bekas-bekas cat yang terkelupas bagi permukaan yang pernah dicat dan dalam
kondisi kering.
- Pelaksanaan pekerjaan dengan roller.
Pemakaian kuas hanya untuk permukaan dimana tidak memungkinkan untuk
menggunakan roller.
- Permukaan Interior.

Lapisan Pertama :

Cat jenis Acrylic Wall Filler.

Pelaksanaan pekerjaan dengan kape.

Ketebalan lapisan adalah 25 – 150 micron atau daya sebar per liter adalah 10
m2.

Tunggu selama minimum 12 jam sebelum pelaksanaan pelapisan berikutnya.

Lapisan kedua dan Ketiga :

Cat jenis Vynil Acrylic Emulsion. Pelaksanaan pekerjaan dengan [Link]


lapisan adalah 25–40 micron atau daya sebar per liter adalah 11–17 m2.
Tenggang waktu antara pelapisan minimum 12 jam. Warna ditentukan
kemudian.

Permukaan Exterior.

Lapisan Pertama :

Cat jenis Acrylic Wall Filler.

Pelaksanaan pekerjaan dengan kape.

Ketebalan lapisan adalah 25 – 150 micron atau daya sebar per liter adalah 10
m2, Tunggu selama minimum 12 jam sebelum pelaksanaan pelapisan
berikutnya.

Lapisan kedua dan Ketiga :

Cat jenis Watershield.

Pelaksanaan pekerjaan dengan roller.


Ketebalan lapisan adalah 25–40 micron atau daya sebar per liter adalah 11–17
m2. Tenggang waktu antara pelapisan minimum 12 jam. Warna ditentukan
kemudian.

g. Pekerjaan Pengecatan logam Yang Ditampakkan.


Bersihkan seluruh permukaan besi dari bahan yang mengotori atau bahan lain
yang sekiranya akan mengganggu jalannya pekerjaan finishing.
Pekerjaan Pengecatan logam yang Tidak Ditampakkan.
h. Untuk semua permukaan logam yang tidak ditampakkan hanya cat dasar/menie
besi warna hijau 1 lapis Pelaksanaan dengan kuas.

12. PEKERJAAN LANTAI


12.1. LINGKUP PEKERJAAN

Pekerjaan yang dimaksud meliputi:


a. Pekerjaan Pemasangan Keramik Ukuran 40x40 cm
b. Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan
alat-alat bantu lainnya untuk keperluan Metode Pelaksanaan pekerjaan yang
bermutu baik
c. Pasangan ubin keramik ini dipasang pada seluruh detail yang disebutkan /
ditunjukkan dalam gambar.
12.2. STANDAR
a. Peraturan Menteri PUPR No. 22/2018

b. ANSI : American National Standard Institute

c. TCA : Tile Council of America, USA. TCA 137.1 - Recommended


Standard Spesification for Ceramik Tile.

12.3. PERSYARATAN BAHAN

a. Keramik Ukuran 40x40

Jenis : Standar

Permukaan : Ditentukan Kemudian

Warna : Ditentukan Kemudian

Ukuran : 40x40 untuk lantai

Kualitas : Kelas I

Produk : Ditentukan Kemudian

Bahan perekat : Spesi 1 pc : 4 Pasir


Bahan Pengisi : Semen khusus Nat warna senada granit tile

Bahan-bahan yang digunakan sebelum dipasang terlebih dahulu


harus diserahkan contoh-contohnya kepada PPK dan Pengawas,
disertai dokumen pengajuan material.

12.4. PERSYARATAN PELAKSANAAN

a. Pada saat pemasangan keramik harus dalam keadaan baik, tidak retak, cacat atau
ternoda dan warna sesuai dengan yang disyaratkan.
b. Sebelum pemasangan granit/keramik, harus dilakukan pengukuran dengan
waterpas (selang atau alat lain) agar permukaannya merata.
c. ukuran/dimensi dan keramik harus presisi agar dihasilkan pemasangan yang rapi.
d. Sebelum dimulai pekerjaan Kontraktor diwajibkan membuat shop drawing
mengenai pola keramik.
e. Adukan pasangan / pengikat dengan aduk campuran 1 PC : 4 pasir pasang
dan ditambah bahan perekat seperti yang disyaratkan atau dapat pula
digunakan acian PC murni dan ditambah bahan perekat.
f. Bahan Keramik sebelum dipasang harus direndam dalam air bersih (tidak
mengandung asam alkali) sampai jenuh.
g. Hasil pemasangan lantai keramik harus merupakan bidang permukaan
yang benar-benar rata, tidak bergelombang, dengan memperhatikan
kemiringan di daerah basah dan teras.
h. Pola, arah dan awal pemasangan lantai Granit/Keramik harus sesuai
gambar detail atau sesuai petunjuk Perencana. Perhatikan lubang instalasi
dan drainase / bak control sebelum pekerjaan dimulai.
i. Jarak antara unit-unit pemasangan Keramik satu sama lain (siar-siar),
harus sama lebarnya, maksimum 3 mm, yang membentuk garis-garis
sejajar dan lurus yang sama lebar dan sama dalamnya, untuk siar-siar yang
berpotongan harus membentuk sudut sikut yang saling berpotongan tegak
lurus sesamanya.
j. Siar-siar diisi dengan bahan pengisi siar yang bermutu baik, dari bahan
seperti yang telah diisyaratkan di atas.
k. Pemotongan unit-unit Keramik harus menggunakan alat pemotong
keramik khusus sesuai persyaratan dari pabrik.
l. Keramik yang sudah terpasang harus dibersihkan dari segala macam noda
pada permukaan keramik, hingga betul-betul bersih.
m. Keramik yang terpasang harus dihindarkan dari sentuhan / bebanselama 3
x 24 jam dan dilindungi dari kemungkinan cacat akibat dari pekerjaan lain.
Bidang permukaan lantai harus rata, tidak terdapat retak-retak, tidak ada
lubang dan celah celah yang terjadi pada permukaan lantai, harus ditutup
dengan adukan semen pasir (tasram) sampai rata terhadap permukaan
sekelilingnya.
Persyaratan Pelaksanaan

a. Pada saat pemasangan keramik harus dalam keadaan baik, tidak retak, cacat atau
ternoda dan warna sesuai dengan yang disyaratkan. Sebelum pemasangan
dimulai, plesteran dasar,ubin, dan Keramik harus dibasahi. Pakai benang untuk
menentukan lay out, yang telah ditentukan dan pasang sebaris keramik guna jadi
patokan untuk pemasangan selanjutnya.

b. Kecuali ditentukan lain, pemasangan Keramik harus dimulai dari bawah dan
dilanjutkan ke bagian atas.

c. Pada pemasangan keramik, tempelkan di bagian belakang keramik adukan dan


ratakan, kemudian keramik yang telah diberi adukan ini ditekankan ke plesteran
dasar. Kemudian permukaan keramik dipukul perlahan-lahan hingga mortar
perekat menutupi penuh bagian belakang ubin dan sebagian adukan tertekan
keluar dari tepi ubin.

d. Jika keramik sudah terpasang, mortar yang berada di naad (joint) harus dibuang
/ dikeluarkan dengan sikat atau cara lain yang tidak merusakkan permukaan.
Mortar yang mengotori permukaan tile harus dibuang dengan kain lap basah.

e. Pemasangan tile grout (pengisian naad) harus sesuai dengan ketentuan pabrik.

13. PEKERJAAN PLUMBING DAN SANITASI


Jenis pipa ditentukan kemudian
13.1. LINGKUP PEKERJAAN

a. Termasuk dalam pekerjaan pemasangan sanitair adalah penyediaan tenaga kerja,


bahan - bahan dan alat - alat bantu lainnya yang digunakan dalam pekerjaan ini
hingga tercapainya hasil pekerjaan yang bermutu dan sempurna dalam
pemakaiannya / operasinya.
b. Pekerjaan pemasangan sanitair ini sesuai yang dinyatakan / ditunjukkan dalam
detail gambar, uraian dan syarat - syarat dalam buku ini.

13.2. PEKERJAAN INSTALASI AIR BERSIH

a. Lingkup Pekerjaan
- Pengadaan, pemasangan dan pengujian secara sempurna unit-unit peralatan
utama yang diperlukan dalam sistim penyediaan air bersih yaitu instalansi
pemipaannya beserta alat bantunya.
- Pemasangan dan pengujian pipa-pipa distribusi kesetiap peralatan sanitasi dan
lainlain seperti yang tercantum dalam gambar.
- Pipa mengguakan jenis PVC tipe AW untuk yang bertekanan (air bersih) dan tipe
D untuk air kotor dll.
- Memperbaiki semua kerusakan, semua galian yang diakibatkan baik oleh
bobokanbobokan, galian-galian maupun oleh kecerobohan para pekerja.
- Pengujian terhadap kebocoran dan tekanan pada sistim plumbing air bersih
secara keseluruhan dan diamati sampai sistim berjalan baik sesuai yang
dikehendaki, yaitu suatu sistim instalasi yang sempurna dan terpadu.
- Pengadaan, pemasangan, pengujian mutu air dan iijin dari Instansi terkait.
- Desinfeksi
Sebelum sistim penyediaan air bersih atau bagian sistim ini dipakai
harusdilakukan cara disinfeksi yaitu: air yang ada dalam sistim dibuang lebih dulu.

13.3. PEKERJAAN INSTALASI AIR KOTOR

a. Lingkup Pekerjaan

- Pengadaan dan pemasangan pemipaan beserta perlengkapannya yang


diperlukan dalam sistim pembuangan, dari semua alat sanitasi yang ada sampai
ke Septiktank.
- Pengadaan dan pemasangan pemipaan dari alat sanitasi sampai keseluruh air
buangan (riol).
- Memperbaiki semua kerusakan, semua galian yang diakibatkan baik oleh adanya
bobokan-bobokan, galian-galian maupun oleh kecerobohan para pekerjanya.
- Pengujian sistim pemipaan terhadap kebocoran dan tekanan dari sistim
plumbing air kotor secara keseluruhan dan mengadakan pengamatan sampai
sistim bekerja baik sesuai yang dikehendaki yaitu suatu sistim yang sempurna
dan terpadu.
- Pengadaan dan pemasangan instalasi drainase dari talang atap sampai di riol.
b. Pengadaan dan Pemasangan Kran-kran:

Pengadaan dan pemasangan kran-kran air untuk kamar mandi, dapur dan ruang
air bersih serta pemasangan kran-kran untuk closet, dan lain-lain.
c. Pengadaan dan Pemasangan Pompa-pompa Pengadaan dan pemasangan
pompa- pompa dan instalasinya, untuk pompa distribusi air bersih (Jet pump).
d. Pengadaan testing-testing dan commissioning

Semua sistim pekerjaan yang terpasang mengadakan izin-izin yang diperlukan


dari instansi-instansi yang ada hubungannya untuk mendapat surat keterangan.
e. Pekerjaan Lain

Melaksanakan pekerjaan lain yang berhubungan dengan lingkup pekerjaan


plumbing ini antara lain :
- Pengadaan dan pemasangan semua hanger-hanger dan support untuk
pemipaan, peralatan dan lain-lain.
- Pekerjaan testing; cleaning; flushing dan desinfection termasuk perbaikan akibat
testing.
- Pekerjaan pembersihan tempat kerja.
- Pengecatan semua pipa-pipa yang kelihatan.
- Pengadaan dan pemasangan lapisan tahan karat dan goni untuk pipa yang
ditanam dalam tanah.

13.4. PERSYARATAN BAHAN-BAHAN


a. Semua material harus memenuhi ukuran, standard dan mudah didapatkan
dipasaran, kecuali bila ditentukan lain.
b. Semua peralatan dalam keadaan lengkap dengan segala perlengkapannya sesuai
denganyang telah disediakan oleh pabrik untuk masing-masing type yang dipilih.
c. Barang yang dipakai adalah dari produk yang telah disediakan oleh pabrik untuk
masing- masing type yang dipilih.
d. Barang yang dipakai adalah dari produk yang telah diisyaratkan dalam uraian dan
syarat- syarat dalam buku.
e. Sebelum mulai pemasangan pekerjaan sanitair, Kontraktor terlebih dahulu harus
menyerahkan contoh-contoh perlengkapan sanitair yang akan dipasang lengkap
dengan sertifikat / surat pernyataan dari produsennya yang menjelaskan bahwa
kwalitas produk tersebut benar - benar sesuai dengan persyaratan di atas.
f. Contoh-contoh tersebut apabila oleh Pengawas dianggap perlu, harus ditest di
aboratorium yang disetujui Pengawas, biaya pengujian di Laboratorium ini
menjadi tanggungan Kontraktor.

13.5. KLOSET DAN URINOIR

a. Kloset jongkok berikut segala kelengkapannya yang dipakai akan ditentukan


kemudian dengan mutu sesuai SNI dan mudah didapatkan dengan warna akan
ditentukan oleh Pengawas.
b. Kloset beserta kelengkapan terpasang adalah yang telah diseleksi, tidak ada
bagian yang gompal, retak, cacat-cacat lainnya dan telah disetujui Pengawas.

13.6. KRAN

a. Semua kran yang dipakai akan mengikuti SNI dan aturan yang telah ada dan
mudah didapatkan atau banyak beredar.
b. Ukuran disesuaikan keperlauan masing-masing sesuai gambar plumbing brosur
alat-alat sanitair.
c. Jetwasher yang digunakan adalah seleksi bahan yang ditentukan oleh Pengawas
sesuai dengan kebutuhan.

13.7. FLOOR DRAIN DAN CLEAN OUT

a. Floor drain dan clean out yang digunakan adalah floor drain sesuai dengan
kebutuhan yang dilengkapi dengan siphon dan penutup berengsel untuk floor
drain dandoperchroom dengan draad untuk clean out.
b. Floor drain yang dipasang telah diseleksi baik, tanpa cacat dan disetujui
Pengawas.

13.8. PELAKSANAAN PEKERJAAN

a. Semua bahan sebelum dipasang harus ditunjukkan kepada Pengawas beserta


persyaratan / ketentuan pabrik untuk mendapatkan persetujuan. Bahan yang
tidak disetujui harus diganti tanpa biaya tambahan.
b. Jika dipandang perlu diadakan penukaran / pengantian bahan, pengganti harus
disetujui Pengawas berdasarkan contoh yang dilakukan Kontraktor.
c. Sebelum pemasangan dimulai, Kontraktor harus meneliti gambar - gambar yang
ada dan kondisi di lapangan, termasuk mempelajari bentuk, pola, penempatan,
pemasangan sparing, cara pemasangan dan detail sesuai gambar.
d. Bila ada kelainan dalam hal ini apapun antara gambar dengan spesifikasi dan
sebagainya, maka Kontraktor harus segera melaporkan kepada Pengawas.
e. Kontraktor tidak dibenarkan memulai pekerjaan disatu tempat bila ada kelainan
f. perbedaan di tempat itu sebelum kelainan tersebut terselesaikan.
g. Selama pelaksanaan harus selalu diadakan pengujian / pemeriksaan untuk
kesempurnaan hasil pekerjaan dan fungsinya.
h. Kontraktor wajib memperbaiki / mengulangi / mengganti bila ada kerusakan yang
terjadi selama masa pelaksanaan dan masa garansi, atas biaya Kontraktor, selama
kerusakan bukan disebabkan oleh tindakan Pemilik.

13.9. SYARAT PEMASANGAN

a. Tenaga
Pemasangan pekerjaan sanitair harus dilaksanakan oleh tenaga kerja yang
berpengalaman dan trampil dalam pekerjaannya dengan menunjukkan Surat
Keteranganyang pernah dikerjakan.
b. Persiapan
Sebelum mulai pemasangan pekerjaan sanitair, Kontraktor terlebih dahulu harus
memeriksa semua pekerjaan yang nantinya akan ditutup oleh pasangan
pekerjaan ini
Pekerjaan yang harus diperiksa diantaranya adalah :
▪ Pekerjaan pemasangan instalasi-instalasi
▪ Pekerjaan waterproofing
▪ Dan Iain - lain yang dianggap perlu
- Sebelum pemasangan pekerjaan sanitair, alas permukaannya harus dibuat
rata dan halus terlebih dahulu.
- Sesudah pekerjaan-pekerjaan tersebut selesai diperiksa, Kontraktor harus
meminta persetujuan Pengawas untuk melanjutkan pekerjaannya.
- Kontraktor wajib membuat gambar-gambar kerja (shop drawing) untuk
pelaksanaan yang dibuat berdasarkan gambar rencana. Ukuran-ukuran
berdasarkan dengan kondisi lapangan.
- Gambar kerja ini terlebih dahulu harus mendapat persetujuan Pengawas
c. Pelaksanaan

- Setiap pemasangan pekerjaan sanitair pada dinding harus diperkuat dengan


angkur- angkur dan perlengkapan / accessories lainnya yang disyaratkan
oleh pabrik pembuatnya.
- Setiap pemasangan pekerjaan sanitair harus dilaksanakan dengan teliti,
tepat pada posisi pipa sanitasinya.

13.10. SYARAT PEMELIHARAAN


a. Setiap pasangan pekerjaan sanitair yang rusak harus diperbaiki dengan cara-
cara yang dianjurkan oleh pabriknya.
b. Perbaikan harus dilaksanakan sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu
pekerjaan finishing lainnya.
c. Apabila ada pekerjaan finishing yang rusak akibat perbaikan lantai tersebut,
maka kerusakan tersebut harus segera diperbaiki atas biaya Kontraktor.
d. Selama 3 x 24 jam sesudah pekerjaan sanitair selesai terpasang, harus dibiarkan
mengering dan selama itu tidak boleh dipergunakan.
e. Sesudah pekerjaan sanitair terpasang harus dijaga terhadap kemungkinan
terkena cairan-cairan dan benda-benda lain yang mungkin bisa menimbulkan
cacat, noda-noda dan sebagainya. Apabila hal ini terjadi Kontraktor.
f. harus memperbaiki cacat tersebut hingga pulih kembali seperti semula atas
biaya Kontraktor.

13.11. SYARAT PENERIMAAN

a. Setiap pekerjaan sanitair yang dipasang harus teliti padaposisinya dan rapat,
tidakbocor dan terjamin hubungan kerapihannya.
b. Setiap pekerjaan sanitair harus dipasang lengkap dengan accessories-nya dan
dapat berfungsi dengan sempurna, tanpa cacat.
14. PEKERJAAN MEKANIKAL ELEKTRIKAL

a. Pekerjaan listrik meliputi Instalasi dalam sampai dengan pemasangan armatur.


b. Pekerjaan harus dikerjakan dengan seksama dan harus dilakukan oleh Instalatur

yang diakui oleh PLN setempat.


c. Stop Kontak dan Sakelar serta rumah lampu outbouw dipakai sesuai SNI dan

yang mudah didapatkan.


d. Kabel yang dipakai jenis NYM ukuran minimal 3 x 2 1/2 mm dan mempunyai

standard SII & LMK.


e. Semua lampu menggunakan standar nya dan yang mudah didapatkan.

15. PEKERJAAN WATER PROFING

15.1. PERSIAPAN

a. Pembersihan Lokasi: Bersihkan lokasi dari segala kotoran dan debu


menggunakan sikat kawat.
b. Pemasangan camper: pasang camper pada setiap lantai.

c. Primer coating: Aplikasikan plincote primer secara merata menggunakan kuas

atau Roll cat, biarkan primer mongering selama 3-4 jam, pastikan lapisan primer
coating telah dilakukan dengan teliti dan tidak ada yang terlewat.
d. Persiapan material: siapkan bahan membrane sesuai spesifikasi. Membrane
bakar tersedia dalam dua jenis, yaitu plan (polos) dengan ketebalan dan sanded
tebal 5 cm.

15.2. PELAKSANAAN

Pemasangan membrane: Aplikasikan waterproofing membrane yang dipanasi


dengan alat torching, tekan-tekan membrane hingga rata pada permukaan yang
telah disiapkan, pasang material membrane bakar diatas seluruh permukaan
beton dan pastikan Kembali membrane terpasang sempurna dan tidak ada bagian
yang tidak merekat.

16. PEKERJAAN PEMBERSIHAN, PEMBONGKARAN DAN PENGAMANAN SETELAH


PEMBANGUNAN
Pembersihan tapak konstruksi dan pada semua pekerjaan yang termasuk dalam
Lingkup Pekerjaan yang tercantum di Gambar Kerja dan terurai dalam RKS ini dari
semua barang atau bahan bangunan lainnya yang dinyatakan tidak digunakan lagi
setelah pekerjaan yang menjadi tanggung jawab Kontraktor bersangkutan selesai.
Semua bekas bongkaran bangunan existing dan sebagainya harus dikeluarkan dari
tapak konstruksi.
Selama pembangunan berlangsung, Kontraktor harus menjaga keamanan
bahan/material, barang maupun bangunan yang dilaksanakannya sampai tahap
serah terima.
CATATAN

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16

III - III

V-V
IV-IV
ARS

ARS

ARS
A A

A'

II - II
ARS

PEMBERI TUGAS

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH


B B DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN ANAK USIA DINI,
UP
PENDIDIKAN DASAR, DAN PENDIDIKAN MENENGAH
Jl. Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta 10270
UP

KEGIATAN
C

C
D SUB. KEGIATAN

PEKERJAAN
E

LOKASI KEGIATAN

F
I-I
ARS

TAHUN ANGGARAN

G
DIBUAT OLEH

I
ADJI MUZIZATUL MAKBUL HASBULLAH, S.T
.........................................................

JUDUL GAMBAR :

1 1' 3' 5' 5"

DENAH RENCANA LANTAI 1


DIGAMBAR NO. GAMBAR
DIPERIKSA
TANGGAL
SKALA
CATATAN

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16

A A

A'

PEMBERI TUGAS

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH


B B DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN ANAK USIA DINI,
DN
PENDIDIKAN DASAR, DAN PENDIDIKAN MENENGAH
Jl. Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta 10270

KEGIATAN
C C
DOWN

D SUB. KEGIATAN

PEKERJAAN
E

LOKASI KEGIATAN

TAHUN ANGGARAN

G
DIBUAT OLEH

I
ADJI MUZIZATUL MAKBUL HASBULLAH, S.T
.........................................................

JUDUL GAMBAR :

1 1' 3' 5' 5"

DENAH RENCANA LANTAI 2


DIGAMBAR NO. GAMBAR
DIPERIKSA
TANGGAL
SKALA
98.52
JL
CATATAN
N
98.42
JL

98.84
JL

98.67
JL

99.09
JL

99.16
JL

98.65 99.20
SL 99.10 JL
JL
98.67
99.16
SL
BTS
99.18
SL

99.50 99.63
BG 99.35 BTS
98.97 99.36 BTS
SL BTS 98.87 98.98 99.08
SL SL SL
99.25 99.28
99.50 99.49
SLS
SL SLS SLS 99.34
99.51 SLS
P3

99.38 99.36
BG BG
99.52 99.37
BG SLS
99.52
SLS

PEMBERI TUGAS
98.84
99.39
SL
BTS

99.51 99.50
99.45 SL BG
99.72 SL
BG

99.35
JL

99.31
98.86
SL
SL
99.29
JL
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH
DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN ANAK USIA DINI,
99.53
99.56
101.99
BGLSR
PENDIDIKAN DASAR, DAN PENDIDIKAN MENENGAH
BGBG

Jl. Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta 10270


99.51
99.52 99.51
99.53
P2
P2C BGBG

99.48
SL
99.48
SL
KEGIATAN

99.54
SLS
98.94 99.41 99.45
99.50 KOLOM 99.40 KOLOM SL
SLS SL 99.17
99.35 99.12 SL
99.50 SL SL
SL 99.51 99.16 99.38 99.41
SLS 99.35 SL SL SL
99.11 99.62
SL 99.36
SL SLS SL
99.36 99.38 99.39

SUB. KEGIATAN
TAMAN TAMAN TAMAN 99.54
99.50 TAMAN
SL

99.37
BG

100.03
BTS 99.51
BG
99.48 99.38
SLS TAMAN
99.65 99.37
BG TAMAN

99.36 99.37
BOX BOX
99.56
TAMAN

99.35
JL
PEKERJAAN
99.37 99.37 99.62
BOX BOX TAMAN 98.89
98.92
99.36 SL99.34
SL
SL SL 99.41
JL

99.63
BTS
99.47 99.61
99.62 99.45
C C JL JL

99.42
99.42
99.42
100.00
P1BS
P1C
P1BS
P1CEK
P1
LOKASI KEGIATAN
99.51
BTS

TAHUN ANGGARAN

99.53
99.51 JL
99.68 JL
JL 99.52
99.65
C 99.71 99.70 JL
99.68 BTS 99.68
99.21 SL
99.22
99.50 TAMAN SLSL SL

DIBUAT OLEH
99.84 99.64 C
BG BG
99.49 99.66
BG 99.44 BG
99.50 SLS
BG

99.64
BTS

99.64 99.64
99.59 99.56 SLS
99.46
BG
TB2 SLS
JL JL

99.17
99.51SL 99.51
SL SL

99.52
99.53
TB1
TB1C

99.52 99.52
99.51
BOX BOX
KOLOM

99.55
BOX
99.54
BOX
99.57
99.73 BTS
BG 99.60
BTS
BG TAMAN
99.55
BG

99.62
BTS

99.57
BTS

99.60
ADJI MUZIZATUL MAKBUL HASBULLAH, S.T
BTS

.........................................................
99.69 99.62
BTS JL
99.61
JL
99.23 99.80
99.27
100.14 SL SLSL
BTS

JUDUL GAMBAR :
DENAH TOPOGRAFI EKSISTING

DIGAMBAR NO. GAMBAR


DIPERIKSA
TANGGAL
99.82

SKALA
JL
100.10
99.46 99.47
SLSL 99.82
SL JL
CATATAN
N

PEMBERI TUGAS

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH


DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN ANAK USIA DINI,
PENDIDIKAN DASAR, DAN PENDIDIKAN MENENGAH
Jl. Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta 10270

KEGIATAN

SUB. KEGIATAN

PEKERJAAN

LOKASI KEGIATAN

TAHUN ANGGARAN

DIBUAT OLEH

ADJI MUZIZATUL MAKBUL HASBULLAH, S.T


.........................................................

JUDUL GAMBAR :
SITEPLAN EKSISTING

DIGAMBAR NO. GAMBAR


DIPERIKSA
TANGGAL
SKALA
CATATAN
N

PEMBERI TUGAS

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH


DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN ANAK USIA DINI,
PENDIDIKAN DASAR, DAN PENDIDIKAN MENENGAH
Jl. Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta 10270
UP

KEGIATAN
UP

SUB. KEGIATAN

PEKERJAAN

LOKASI KEGIATAN

TAHUN ANGGARAN

DIBUAT OLEH

ADJI MUZIZATUL MAKBUL HASBULLAH, S.T


.........................................................

JUDUL GAMBAR :
RENCANA PENGEMBANGAN LAHAN

DIGAMBAR NO. GAMBAR


DIPERIKSA
TANGGAL
SKALA
CATATAN

PEMBERI TUGAS

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH


DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN ANAK USIA DINI,
PENDIDIKAN DASAR, DAN PENDIDIKAN MENENGAH
Jl. Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta 10270

KEGIATAN

SUB. KEGIATAN

PEKERJAAN

LOKASI KEGIATAN

TAHUN ANGGARAN

DIBUAT OLEH

ADJI MUZIZATUL MAKBUL HASBULLAH, S.T


.........................................................

JUDUL GAMBAR :
DENAH EKSISTING LANTAI 1

DIGAMBAR NO. GAMBAR


DIPERIKSA
TANGGAL
SKALA
CATATAN

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16

III - III

V-V
IV-IV
ARS

ARS

ARS
A A

A'

II - II
ARS

PEMBERI TUGAS

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH


B B DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN ANAK USIA DINI,
UP
PENDIDIKAN DASAR, DAN PENDIDIKAN MENENGAH
Jl. Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta 10270
UP

KEGIATAN
C

C
D SUB. KEGIATAN

PEKERJAAN
E

LOKASI KEGIATAN

F
I-I
ARS

TAHUN ANGGARAN

G
DIBUAT OLEH

I
ADJI MUZIZATUL MAKBUL HASBULLAH, S.T
.........................................................

JUDUL GAMBAR :

1 1' 3' 5' 5"

DENAH RENCANA LANTAI 1


DIGAMBAR NO. GAMBAR
DIPERIKSA
TANGGAL
SKALA
CATATAN

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16

A A

A'

PEMBERI TUGAS

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH


B B DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN ANAK USIA DINI,
DN
PENDIDIKAN DASAR, DAN PENDIDIKAN MENENGAH
Jl. Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta 10270

KEGIATAN
C C
DOWN

D SUB. KEGIATAN

PEKERJAAN
E

LOKASI KEGIATAN

TAHUN ANGGARAN

G
DIBUAT OLEH

I
ADJI MUZIZATUL MAKBUL HASBULLAH, S.T
.........................................................

JUDUL GAMBAR :

1 1' 3' 5' 5"

DENAH RENCANA LANTAI 2


DIGAMBAR NO. GAMBAR
DIPERIKSA
TANGGAL
SKALA
CATATAN

2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16

A A

A'

PEMBERI TUGAS

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH


B B DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN ANAK USIA DINI,
PENDIDIKAN DASAR, DAN PENDIDIKAN MENENGAH
Jl. Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta 10270

KEGIATAN
C C

D SUB. KEGIATAN

PEKERJAAN
E

LOKASI KEGIATAN

TAHUN ANGGARAN

G
DIBUAT OLEH

Luas area 527,96 m2


Kemiringan 30°
Luas Atap 609,63 m2
DAK BETON
WATERPROOFING

ADJI MUZIZATUL MAKBUL HASBULLAH, S.T


.........................................................

JUDUL GAMBAR :

1' 3' 5' 5"

DENAH RENCANA ATAP


DIGAMBAR NO. GAMBAR
DIPERIKSA
TANGGAL
SKALA
CATATAN

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16

A A

III - III
ARS

I-I
ARS
II - II
ARS
A'

PEMBERI TUGAS

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH


B B DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN ANAK USIA DINI,
UP
PENDIDIKAN DASAR, DAN PENDIDIKAN MENENGAH
Jl. Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta 10270
UP

KEGIATAN
C

C
D SUB. KEGIATAN

PEKERJAAN
E

IV-IV

LOKASI KEGIATAN
ARS

Luas keramik 40x40 selasar 121,6 m2


F Luas keramik 40x40 bongkaran 14 m2

TAHUN ANGGARAN

G
DIBUAT OLEH

I
ADJI MUZIZATUL MAKBUL HASBULLAH, S.T
.........................................................

JUDUL GAMBAR :

1 1' 3' 5' 5"

DENAH RENCANA POLA LANTAI LT. 1


DIGAMBAR NO. GAMBAR
DIPERIKSA
TANGGAL
SKALA
CATATAN

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16

A A

A'

PEMBERI TUGAS

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH


B B DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN ANAK USIA DINI,
DN
PENDIDIKAN DASAR, DAN PENDIDIKAN MENENGAH
Jl. Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta 10270

KEGIATAN
C C
DOWN

D SUB. KEGIATAN

PEKERJAAN
E

Luas keramik 40x40 selasar 72,7 m2


Luas keramik 40x40 kelas 217,56 m2 LOKASI KEGIATAN
Luas keramik 40x40 kelas 53,83 m2
Luas keramik 20x20 KM 12.70 m2

TAHUN ANGGARAN

G
DIBUAT OLEH

I
ADJI MUZIZATUL MAKBUL HASBULLAH, S.T
.........................................................
JUDUL GAMBAR :

1 1' 3' 5' 5"

DENAH RENCANA POLA LANTAI LT. 2


DIGAMBAR NO. GAMBAR
DIPERIKSA
TANGGAL
SKALA
CATATAN

2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16

A A

A'

PEMBERI TUGAS

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH


B B DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN ANAK USIA DINI,
PENDIDIKAN DASAR, DAN PENDIDIKAN MENENGAH
Jl. Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta 10270

KEGIATAN
C C

D SUB. KEGIATAN

PEKERJAAN
E

LOKASI KEGIATAN

TAHUN ANGGARAN

G
DIBUAT OLEH

ADJI MUZIZATUL MAKBUL HASBULLAH, S.T


.........................................................

JUDUL GAMBAR :

1' 3' 5' 5"

DENAH RENCANA POLA LANTAI LT. 3/ATAP


DIGAMBAR NO. GAMBAR
DIPERIKSA
TANGGAL
SKALA
CATATAN

1
ARS

2
ARS

3
ARS

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16

ARS

A 3 3
A
ARS ARS

ARS

ARS

ARS
3

3
3 3
ARS ARS

ARS
3
ARS ARS

1 3

A'
1
ARS

ARS

ARS
1

ARS

ARS
1

2
PEMBERI TUGAS

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH


B B DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN ANAK USIA DINI,
PENDIDIKAN DASAR, DAN PENDIDIKAN MENENGAH
Jl. Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta 10270

KEGIATAN
C

ARS
C
1

D
1
SUB. KEGIATAN
ARS
ARS

ARS
1

ARS ARS
PEKERJAAN
1 1

E
3 1 1
ARS ARS ARS

LOKASI KEGIATAN

TAHUN ANGGARAN

G
DIBUAT OLEH
ARS

ARS
1

H ARS

I
ADJI MUZIZATUL MAKBUL HASBULLAH, S.T
.........................................................

JUDUL GAMBAR :

1 1' 3' 5' 5"

DENAH FINNISHING DINDING LANTAI 1


DIGAMBAR NO. GAMBAR
DIPERIKSA
TANGGAL
SKALA
CATATAN

1
ARS

2
ARS

3
ARS

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16

ARS
ARS ARS ARS ARS

1 1 1 1 1

A 3 3
A
1 1 1 1 ARS ARS

ARS ARS ARS ARS

ARS

ARS

ARS

ARS
3

3
3 3
ARS ARS

ARS
3
ARS
1
ARS

A'
1
ARS
ARS

ARS

ARS

ARS

ARS

ARS

ARS

ARS
1

ARS

ARS
1

1
PEMBERI TUGAS

ARS

ARS
1

2
ARS

1
ARS

1
ARS

1
ARS

1
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH
B B DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN ANAK USIA DINI,
1
ARS
1
ARS
1
ARS
1
ARS PENDIDIKAN DASAR, DAN PENDIDIKAN MENENGAH
Jl. Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta 10270

ARS

ARS
1

1
ARS

1
ARS

1
ARS

1
ARS

1
ARS

1
ARS

1
ARS

1
ARS

1
ARS

1
KEGIATAN
C C
1 1 1 1 1 1 1 1 1
ARS ARS ARS ARS ARS ARS ARS ARS ARS
ARS

ARS
1

ARS ARS

1 1

D
1 1
SUB. KEGIATAN
ARS ARS
ARS

ARS
1

PEKERJAAN
E

LOKASI KEGIATAN
ARS

ARS

ARS

ARS

ARS

ARS
1

TAHUN ANGGARAN
ARS

ARS
1

ARS ARS

G
1 1
DIBUAT OLEH
1 1
ARS ARS

I
ADJI MUZIZATUL MAKBUL HASBULLAH, S.T
.........................................................

JUDUL GAMBAR :

1 1' 3' 5' 5"

DENAH FINNISHING DINDING LANTAI 2


DIGAMBAR NO. GAMBAR
DIPERIKSA
TANGGAL
SKALA
CATATAN

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16

A A

A'

PEMBERI TUGAS

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH


B B DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN ANAK USIA DINI,
PENDIDIKAN DASAR, DAN PENDIDIKAN MENENGAH
Jl. Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta 10270

KEGIATAN
C

C
D SUB. KEGIATAN

PEKERJAAN
E

LOKASI KEGIATAN

TAHUN ANGGARAN

G
DIBUAT OLEH

I
ADJI MUZIZATUL MAKBUL HASBULLAH, S.T
.........................................................

JUDUL GAMBAR :

1 1' 3' 5' 5"

RENCANA KUSEN LANTAI 1


DIGAMBAR NO. GAMBAR
DIPERIKSA
TANGGAL
SKALA
CATATAN

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16

A A

A'

PEMBERI TUGAS

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH


B B DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN ANAK USIA DINI,
PENDIDIKAN DASAR, DAN PENDIDIKAN MENENGAH
Jl. Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta 10270

KEGIATAN
C C

D SUB. KEGIATAN

PEKERJAAN
E

LOKASI KEGIATAN

TAHUN ANGGARAN

G
DIBUAT OLEH

I
ADJI MUZIZATUL MAKBUL HASBULLAH, S.T
.........................................................

JUDUL GAMBAR :

1 1' 3' 5' 5"

RENCANA KUSEN LANTAI 2


DIGAMBAR NO. GAMBAR
DIPERIKSA
TANGGAL
SKALA
CATATAN

DETAIL PENAMPANG KUSEN DETAIL PENAMPANG KUSEN DETAIL PENAMPANG KUSEN

PEMBERI TUGAS

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH


DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN ANAK USIA DINI,
PENDIDIKAN DASAR, DAN PENDIDIKAN MENENGAH
Jl. Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta 10270

KEGIATAN

SUB. KEGIATAN

DETAIL PENAMPANG KUSEN DETAIL PENAMPANG KUSEN DETAIL PENAMPANG KUSEN


PEKERJAAN

LOKASI KEGIATAN

TAHUN ANGGARAN

DIBUAT OLEH

ADJI MUZIZATUL MAKBUL HASBULLAH, S.T


.........................................................

JUDUL GAMBAR :

DIGAMBAR NO. GAMBAR


DIPERIKSA
TANGGAL
SKALA
CATATAN

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16

II - II
ARS

A A

I-I
ARS

A'

PEMBERI TUGAS

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH


B B DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN ANAK USIA DINI,
PENDIDIKAN DASAR, DAN PENDIDIKAN MENENGAH
Jl. Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta 10270

KEGIATAN
C C

D SUB. KEGIATAN

PEKERJAAN
E

LOKASI KEGIATAN

TAHUN ANGGARAN

G
DIBUAT OLEH

I
ADJI MUZIZATUL MAKBUL HASBULLAH, S.T
.........................................................

JUDUL GAMBAR :

1 1' 3' 5' 5"

DENAH RENCANA PLAFOND LT. 2

DIGAMBAR NO. GAMBAR


DIPERIKSA
TANGGAL
SKALA
CATATAN

II - II
ARS
2 3 4 5

PEMBERI TUGAS
I-I
ARS

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH


DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN ANAK USIA DINI,
PENDIDIKAN DASAR, DAN PENDIDIKAN MENENGAH
Jl. Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta 10270

KEGIATAN

SUB. KEGIATAN

PEKERJAAN
ISOMETRI PASANGAN PLAFOND PVC

LOKASI KEGIATAN

TAHUN ANGGARAN

B
DIBUAT OLEH
DENAH DROP PLAFOND AS (A - C / 2 - 3)

ADJI MUZIZATUL MAKBUL HASBULLAH, S.T


.........................................................

JUDUL GAMBAR :

DETAIL POTONGAN II - II
DIGAMBAR NO. GAMBAR
DETAIL POTONGAN I - I DIPERIKSA
TANGGAL
SKALA

Anda mungkin juga menyukai