1 Pembangunan Bangunan Gedung
1 Pembangunan Bangunan Gedung
Perencanaan Untuk menjamin kepastian dan ketertiban hukum dalam penyelenggaraan bangunan
gedung, setiap bangunan gedung harus memenuhi persyaratan administratif dan teknis bangunan
gedung, serta harus diselenggarakan secara tertib.
Berdasarkan Undang-Undang No. 11 tahun 2020, tentang Cipta Kerja, yang dimaksud dengan:
1 Cipta Kerja adalah upaya penciptaan kerja melalui usaha kemudahan, perlindungan, dan
pemberdayaan koperasi dan usaha mikro, kecil, dan menengah, peningkatan ekosistem
investasi dan kemudahan berusaha, dan investasi Pemerintah Pusat dan percepatan proyek
strategis nasional.
2 Persetujuan Bangunan Gedung adalah perizinan yang diberikan kepada pemilik bangunan
gedung untuk membangun baru, mengubah, memperluas, mengurangi, dan/atau merawat
bangunan gedung seusai dengan standar teknis Bangunan Gedung.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 16 Tahun 2021, Penetapan Fungsi Bangunan Gedung
meliputi:
1. Pasal 7
1) Bangunan Gedung dengan fungsi campuran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3)
merupakan Bangunan Gedung yang dibangun dengan tujuan untuk menjalankan kegiatan
berusaha.
2) Bangunan Gedung dengan fungsi campuran sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
mengikuti seluruh Standar Teknis dari masing masing fungsi yang digabung.
2. Pasal 8
1) Bangunan Gedung dengan fungsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2) dan ayat
(3) harus didirikan pada lokasi yang sesuai dengan ketentuan RDTR.
2) Dalam hal RDTR sebagaimana dimaksud pada ayat (1) belum disusun dan/atau belum
tersedia maka fungsi Bangunan Gedung digunakan sesuai dengan peruntukan lokasi yang
diatur dalam rencana tata ruang.
2 PERSYARATAN TEKNIS PEMBANGUNAN
GEDUNG NEGARA
2.1 PERSYARATAN TEKNIS BANGUNAN GEDUNG SEDERHANA TAHAN GEMPA
Tujuan untuk mewujudkan bangunan gedung sederhana yang lebih aman terhadap dampak
kerusakan yang diakibatkan oleh bencana gempa bumi. Persyaratan pokok tahan gempa pada
bangunan Peraturan Menteri PUPR No. 22 tahun 2018, meliputi:
Berdasarkan Peratuan Menteri PUPR Nomor 22 Tahun 2018 tentang Pembangunan Gedung
Negara, persyaratan teknis pokok pada bangunan gedung sederhana dapat dilihat pada tabel
berikut ini:
NO URAIAN KLASIFIKASI
1. Spesifikasi Umum ini merupakan syarat-syarat atau ketentuan-ketentuan yang secara umum
berlaku untuk seluruh bagian pekerjaan dimana spesifikasi ini bisa diterapkan.
2. Spesifikasi Umum ini membentuk suatu kesatuan dengan Spesifikasi Teknis, dan secara
bersama- sama merupakan syarat-syarat atau ketentuan-ketentuan pelaksanaan bagi
seluruh bagian pekerjaan sebagaimana diungkapkan dalam satu atau lebih dari dokumen-
dokumen berikut ini :
2.1. Gambar-Gambar Pelaksanaan
2.2. Spesifikasi Umum/Teknis
2.3. Perincian Volume Pekerjaan/Perincian Penawaran
2.4. Dokumen-Dokumen Pelaksanaan yang lain.
PASAL 2 – REFERENSI
1. Atas seluruh bagian pekerjaan dalam Spesifikasi Umum ini, kecuali secara khusus
dipersyaratkan lain dalam satu atau lebih dari Dokumen Pelelangan/Pelaksanaan, berlaku :
1.1. Undang-undang/Keputusan Presiden
1.2. Peraturan/Surat Keputusan dari Departemen/Instansi yang berwenang
1.3. Ketentuan dari Badan Koordinasi Pekerjaan Jaringan Sistim Dibawah Tanah (BKJS) -
DKI Jakarta / Jawa Barat.
1.4. Peraturan yang dikeluarkan Direktorat Geologi Departemen Pertambangan.
1.5. Peraturan Dinas Keselamatan Kerja wilayah Jawa Barat.
1.6. Peraturan-peraturan lain yang dikeluarkan oleh Ditjen Bina lindung. Pemadam
Kebakaran dan lain-lain Lembaga Pemerintah yang berwenang.
1.7. Peraturan Daerah Kota Bogor
1.8. Petunjuk pemasangan dari Pabrik pembuat bahan dan peralatan yang bersangkutan.
1.9. Standard/Norma/Pedoman yang berlaku di Indonesia untuk bagian pekerjaan
yang bersangkutan, dalam mana termasuk, tapi tidak terbatas pada yang tersebut
berikut ini :
SUBYEK REFERENSI
Umum Permen PUPR No. 10 Tahun 2021
Pekerjaan Listrik Persyaratan Umum Instalasi Listrik
P.U.I.L Th 2011 (SNl 0225-2011)
Pekerjaan Plambing SNI 8153:2015 Sistem Plambing pada
Bangunan Gedung
Pekerjaan Pemadam Kebakaran SNI 3989, 6574, 1735, 1745, ISO 7010
Pekerjaan Ventilasi SNI 03-6572-2001 Tata Cara
Perancangan Sistem Ventilasi dan
Pengkondisian Udara pada Bangunan
Gedung
Pekerjaan Telepon SNI 2849:2015 Tata Cara Perancangan
Sistem Komunikasi dalam Bangunan
Gedung
Pekerjaan Beton SNI 2847:2019 – Tata Cara
Perencanaan Struktur Beton untuk
Bangunan Gedung
2. Dalam hal dimana ada bagian pekerjaan yang spesifikasinya tidak diatur dalam spesifikasi
teknis umum/khusus maupun salah satu dari ketentuan yang disebutkan dalam Pasal 2
(1) di atas, maka untuk bagian pekerjaan tersebut Pemborong harus mengajukan salah
satu dari spesifikasi berikut ini :
2.1. Standar/norma/kode/pedoman yang bisa diterapkan pada bagian pekerjaan
bersangkutan, yang diterbitkan oleh instansi/asosiasi profesi/asosiasi
produsen/lembaga pengujian ataupun badan- badan lain yang
berwenang/berkepentingan atau badan-badan yang bersifat internasional ataupun
nasional dari Negara lain, sejauh bahwa atas hal tersebut diperoleh kesepakatan
dari Konsultan Pengawas (MK) / Konsultan Perencana / Owner.
2.2. Brosur teknis dari produsen yang didukung oleh sertifikat dari lembaga pengujian
yang diakui secara nasional/internasional.
PASAL 3 – BAHAN
1. Baru/bekas
Kecuali ditetapkan lain secara khusus, maka semua bahan yang dipergunakan
dalam/untuk pekerjaan ini harus merupakan bahan yang baru, penggunaan bahan bekas
bisa diperkenankan dengan izin tertulis dari Konsultan Pengawas (MK) / Konsultan
Perencana / Owner
2. Tanda Pengenal
2.1. Dalam hal dimana pabrik/produsen bahan mengeluarkan tanda pengenal untuk
produk/bahan yang dihasilkannya, baik berupa cap/merk dagang pengenal
pabrik/produsen, ataupun sebagai pengenal kwalitas/kelas/kapasitas; maka semua
bahan dari pabrik/ produsen bersangkutan yang dipergunakan dalam pekerjaan ini
harus mengandung tanda pengenal tersebut.
2.2. Khususnya untuk bahan bagi pekerjaan instalasi (Daya, Penerangan, Komunikasi.
Alarm, Plambing, dan lain-lain. kecuali ditetapkan lain oleh Konsultan Pengawas
(MK) / Konsultan Perencana / Owner, bahan sejenis dengan fungsi yang berbeda
harus diberi tanda pengenal untuk membedakan satu bahan dari bahan yang lain.
Tanda pengenal ini bisa berupa warna atau tanda-tanda lain, yang mana harus sesuai
dengan referensi pada Pasal 2 Spesifikasi Umum ini kalau ada diatur disana; atau dalam
hal dimana
tidak/belum ada pengaturan yang jelas mengenai itu, hal ini harus dilaksanakan sesuai
petunjuk dari Konsultan Pengawas / MK / Owner.
3.1. Penyebutan sesuatu merk dagang bagi suatu bahan/produk di dalam spesifikasi,
secara umum harus dimengerti sebagai spesifikasi kesehatan, kualitas dan
penampilan (performance) dari bahan/produk tersebut, yang mana dinyatakan
dengan kata-kata: "atau yang setaraf”
3.2. Kecuali secara khusus dipersyaratkan lain, maka penggunaan bahan/produk lain yang
dapat dibuktikan mempunyai kualitas penampilan yang setaraf dengan bahan/produk
yang memakai merk dagang yang disebutkan, dapat diterima sejauh bahwa untuk itu
sebelumnya telah diperoleh persetujuan tertulis dari Konsultan Pengawas / MK /
Owner atas kesetarafan tersebut. Penggunaan bahan/produk yang disetujui sebagai
"setaraf tidak dianggap sebagai perubahan pekerjaan, dan karenanya perbedaan
harga dengan bahan/produk yang menyebutkan merk dagangnya akan diabaikan.
4. Penggantian (Substitusi)
5. Persetujuan Bahan
5.1. Untuk menghindarkan penolakan bahan di lapangan, dianjurkan dengan sangat agar
sebelum sesuatu bahan/produk akan dibeli/dipesan/diprodusir, terlebih dulu
dimintakan persetujuan dari Konsultan Pengawas / MK / Owner atas kesesuaian dari
bahan/produk tersebut pada spesifikasi, yang mana akan diberikan dalam bentuk
tertulis yang dilampirkan pada contoh/brosur dari bahan/produk yang bersangkutan
untuk diserahkan pada Pengawas di lapangan.
5.2. Penolakan bahan di lapangan karena diabaikannya prosedur diatas sepenuhnya
merupakan tanggung jawab Pemborong/Supplier dan tidak dapat diberikan
pertimbangan keringanan apapun.
5.3. Adanya persetujuan tertulis dengan disertai contoh/brosur seperti tersebut di atas
tidak melepaskan tanggung jawab Pemborong/Supplier dari kewajibannya dalam
Perjanjian Kerja (Kontrak) ini untuk mengadakan bahan/produk yang sesuai dengan
persyaratannya, serta tidak merupakan jaminan akan diterima/disetujuinya seluruh
bahan/produk tersebut di lapangan, sejauh tidak dapat dibuktikan bahwa seluruh
bahan/produk tersebut adalah sesuai dengan contoh/brosur yang telah disetujui.
6. Contoh
7. Penyimpanan Bahan
7.1. Persetujuan atas sesuatu bahan/produk harus dimengerti sebagai perizinan untuk
memasukkan bahan/produk tersebut kedalam lapangan: dan penggunaan
bahan/produk tersebut dalam pekerjaan sejauh bahwa keadaanya tidak berubah dari
kondisi waktu persetujuan diberikan.
7.2. Bahan/produk yang telah dimasukkan ke lapangan harus segera disimpan
▪ di tempat,
▪ dengan cara/peralatan,
▪ dalam susunan/tumpukan dan dengan pengkondisian lingkungan.,
▪ dengan pengamanan,
▪ dan dengan accesibilitas yang baik, sesuai ketetapan untuk masing-masing
bahan/ produk dalam Spesifikasi Teknis yang ditetapkan; atau dalam hal dimana
persyaratan ini tidak jelas, sesuai dengan petunjuk Konsultan Pengawas / MK /
Owner.
7.3. Pemborong yang akan memakai bahan/produk, bertanggung jawab bahwa selama
dalam penyimpanan, bahan/produk tersebut tetap berada dalam kondisi layak untuk
dipakai. Apabila selama waktu itu ternyata bahwa bahan/produk menjadi tidak lagi
layak untuk dipakai dalam pekerjaan, Konsultan Pengawas / MK / Owner berhak untuk
memerintahkan agar :
7.3.1 Bahan/produk tersebut segera diperbaiki sehingga kembali menjadi layak
untuk dipakai; atau
7.3.2 Dalam hal dimana perbaikan tidak lagi mungkin, supaya bahan/produk
tersebut segera dikeluarkan dari lapangan untuk diganti dengan yang
memenuhi persyaratan.
7.3.3 Untuk bahan/produk yang mempunyai umur pemakaian yang tertentu,
penyimpanannya harus dikelompokkan menurut umur pemakaian tersebut,
yang mana harus dinyatakan dengan tanda pengenal dengan ketentuan
sebagai berikut :
▪ Terbuat kaleng atau kertas karton yang tidak akan rusak selama penggunaan
ini.
▪ Berukuran minimal 40 cm x 60 cm
▪ Huruf berukuran minimum setinggi 10 cm, dengan warna merah.
▪ Diletakkan di tempat yang mudah terlihat.
7.3.4 Penyusunan bahan sejenis selama penyimpanan harus diatur sedemikian
rupa, sehingga bahan yang terlebih dulu masuk akan pula terlebih dulu
dikeluarkan untuk dipakai dalam pekerjaan.
PASAL 4 – PELAKSANAAN
1. Rencana Pelaksanaan
1.1. Dalam waktu 7 (tujuh) hari sejak ditandatanganinya SPK oleh kedua belah pihak,
Pemborong harus menyerahkan kepada Konsultan Pengawas / MK / Owner :
1.1.1 Program kerja yang terdiri dari :
■ Jadwal Pelaksanaan yang terinci dalam bentuk Network Planning & Bar Chart.
■ Jadwal Pengadaan Bahan.
■ Jadwal Ketenagaan.
■ Jadwal Peralatan
1.1.2. Metoda pelaksanaan yang terinci.
1.1.3. Tabel/Daftar Pay Item.
1.1.4. Kelengkapan administrasi lainnya yang akan ditentukan kemudian oleh
Konsultan Pengawas / MK / Owner.
Konsultan Pengawas / MK / Owner akan memeriksa rencana kerja pemborong
tersebut di atas dan memberikan tanggapan atas itu dalam waktu paling lama 2
(dua) minggu.
1.1.5. Pemborong harus memasukkan kembali perbaikan atas rencana kerja kalau
Konsultan Pengawas / MK / Owner meminta diadakannya
perbaikan/penyempurnaan atas rencana kerja tadi, paling lambat 2 (dua)
hari sebelum dimulainya waktu pelaksanaan.
3.1. Selambat-lambatnya setiap sore hari. Pemborong harus menyerahkan rencana kerja
harian, yang berisi Rencana pelaksanaan dari berbagai bagian pekerjaan yang akan
dilaksanakan pada keesokan harinya.
3.2. Selambat-lambatnya pada setiap hari Sabtu dalam masa dimana pelaksanaan
pekerjaan berlangsung. Pemborong berkewajiban untuk menyerahkan kepada
Pengawas suatu Rencana mingguan yang berisi rencana pelaksanaan dari berbagai
bagian pekerjaan yang akan dilaksanakan dalam minggu berikutnya.
3.3. Selambat-lambatnya pada minggu terakhir dari setiap bulan. Pemborong
berkewajiban menyerahkan kepada Pengawas suatu rencana bulanan yang
menggambarkan dalam garis besarnya, berbagai rencana pelaksanaan dari berbagai
bagian pekerjaan yang direncanakan untuk dilaksanakan dalam bulan berikutnya.
3.4. Kelalaian Pemborong untuk menyusun dan menyerahkan rencana harian, mingguan
maupun bulanan dinilai sama dengan kelalaian dalam melaksanakan perintah
Konsultan Pengawas / MK/ Owner dalam pelaksanaan pekerjaan.
3.5. Untuk memulai suatu bagian pekerjaan yang baru. Pemborong diwajibkan untuk
memberitahu Konsultan Pengawas / MK / Owner mengenai hal tersebut paling sedikit
2x24 jam sebelumnya, dengan format izin yang akan ditentukan oleh Konsultan
Pengawas / MK / Owner.
5. Kualitas Pekerjaan
Pekerjaan harus dikerjakan dengan kualitas pengerjaan yang terbaik untuk jenis
pekerjaan bersangkutan.
Hanya tenaga-tenaga kerja terbaik dalam tiap jenis pekerjaan diizinkan untuk
melaksanakan pekerjaan bersangkutan. Kualitas pengerjaan ataupun kualitas hasil
pekerjaan yang kurang memenuhi syarat akan ditolak atau harus diperbaiki. Tenaga
kerja yang kurang memenuhi syarat akan ditolak dan dilarang meneruskan kegiatannya.
Penilaian ini dapat dilakukan oleh Konsultan Pengawas / MK / Konsultan Perencana /
Owner.
6.1. Kecuali dipersyaratkan lain secara khusus, maka semua pekerjaan akan diuji dengan
cara dan tolak ukur pengujian yang dipersyaratkan dalam referensi yang ditetapkan
dalam pasal 2 Spesifikasi Umum ini.
6.2. Kecuali dipersyaratkan lain secara khusus, maka badan/lembaga yang akan melakukan
pengujian dipilih atas persetujuan Konsultan Pengawas / MK / Owner dari
lembaga/badan pengujian milik Pemerintah atau yang diakui Pemerintah, atau badan
lain yang oleh Konsultan Pengawas / MK / Owner dianggap memiliki obyektivitas dan
integritas yang meyakinkan. Atas hal yang terakhir ini, pemborong/Supplier tidak
berhak mengajukan sanggahan.
6.3. Semua biaya pengujian dalam jumlah seperti yang dipersyaratkan menjadi beban
Pemborong.
6.4. Dalam hal dimana salah satu pihak tidak dapat menyetujui hasil pengujian dari badan
penguji yang disetujui oleh Konsultan Pengawas / MK / Owner pihak tersebut berhak
mengadakan pengujian tambahan pada lembaga/badan lain yang memenuhi syarat-
syarat badan penguji seperti tersebut diatas.
6.5. Apabila ternyata bahwa kedua hasil pengujian dari kedua badan tersebut memberikan
kesimpulan yang sama, maka semua biaya untuk pengujian tambahan menjadi beban
pihak yang mengusulkannya.
6.6. Apabila ternyata bahwa kedua hasil pengujian dari kedua badan tersebut memberikan
kesimpulan yang berbeda maka dapat dipilih untuk :
6.6.1. Memilih badan/lembaga penguji ketiga atas kesepakatan bersama.
6.6.2. Melakukan pengujian ulang pada badan/lembaga penguji pertama atau kedua
dengan ketentuan tambahan berikut :
■ Pelaksanaan pengujian ulang harus disaksikan oleh Konsultan Pengawas /
6.6.3. Hasil dari pengujian ulang harus dianggap final, kecuali bilamana kedua belah
pihak sepakat untuk tidak menganggapnya demikian.
6.6.4. Apabila hasil pengujian ulang mengkonfirmasikan kesimpulan dari hasil
pengujian yang pertama, maka semua biaya untuk semua pengulangan
pengujian menjadi tanggungan pihak yang mengusulkan diadakannya
pengujian tambahan.
6.6.5. Apabila hasil pengujian ulang menunjukkan ketidak tepatan kesimpulan dan
hasil pengujian yang pertama dan membenarkan kesimpulan dari hasil
pengujian tambahan maka biaya untuk semua pengulangan pengujian bukan
menjadi tanggungan pihak yang mengusulkan diadakannya pengujian
tambahan.
6.6.6. Bilamana ternyata pihak Konsultan Pengawas / MK / Owner yang mempunyai
pendapat salah, maka atas segala penundaan pekerjaan akan diberikan
tambahan waktu pelaksanaan pada bagian pekerjaan bersangkutan dan
bagian-bagian lain yang terkena akibatnya, penambahan mana besarnya
adalah sesuai dengan penundaan yang terjadi.
7.1. Sebelum menutup suatu bagian pekerjaan dengan bagian pekerjaan yang lain, yang
mana akan secara visual menghalangi Konsultan Pengawas / MK / Owner untuk
memeriksa bagian pekerjaan yang terdahulu. Pemborong wajib melaporkan secara
tertulis kepada Konsultan Pengawas / MK / Owner mengenai rencananya untuk
melaksanakan bagian pekerjaan yang akan menutupi bagian pekerjaan yang pertama
tersebut, sedemikian rupa sehingga Konsultan Pengawas / MK / Owner
berkesempatan secara wajar melakukan pemeriksaan pada bagian yang bersangkutan
untuk dapat disetujui kelanjutan pengerjaannya.
7.2. Kelalaian Pemborong untuk menyampaikan laporan di atas, memberikan hak kepada
Konsultan Pengawas / MK / Owner untuk dibelakang hari memerintahkan
pembongkaran kembali bagian pekerjaan yang menutupi tersebut, guna memeriksa
hasil pekerjaan yang terdahulu, yang mana akibat sepenuhnya akan ditanggung oleh
Pemborong.
7.3. Dalam hal dimana laporan telah disampaikan, dan Konsultan Pengawas / MK / Owner
tidak mengambil langkah-langkah untuk menyelesaikan pemeriksaan yang
dimaksudkan, maka setelah lewat dari 2 (dua) hari kerja sejak laporan disampaikan.
Pemborong berhak melanjutkan pelaksanaan pekerjaan dan menganggap bahwa
Konsultan Pengawas / MK / Owner telah menyetujui bagian pekerjaan yang ditutup
tersebut.
7.4. Pemeriksaan dan persetujuan oleh Konsultan Pengawas / MK / Owner atas suatu
pekerjaan tidak melepaskan Pemborong dari kewajibannya untuk melaksanakan
seluruh pekerjaan sesuai dengan perjanjian kerja.
7.5. Walaupun telah diperiksa dan disetujui, kepada Pemborong masih dapat
diperintahkan untuk membongkar kembali bagian pekerjaan yang menutupi bagian
pekerjaan yang lain guna pemeriksaan bagian pekerjaan yang tertutupi.
Apabila hasil pemeriksaan ini menunjukkan adanya bagian dari pekerjaan yang tidak
memenuhi persyaratan dalam perjanjian kerja, maka seluruh biaya pembongkaran
sepenuhnya ditanggung oleh Pemborong Apabila hasil pemeriksaan menunjukkan
bahwa bagian pekerjaan yang bersangkutan ternyata memenuhi semua persyaratan,
maka :
7.5.1. Semua biaya pembongkaran akan diperhitungkan sebagai pekerjaan tambah.
7.5.2. Atas bagian pekerjaan yang tertunda pengerjaannya sebagai akibat
pembongkaran tersebut, akan diberikan perpanjangan waktu pelaksanaan yang
jumlahnya sesuai dengan penundaan tersebut.
1. UMUM
1.1. Sebelum melaksanakan pekerjaan, Kontraktor harus mempelajari dengan
benar dan berpedoman kepada ketentuan – ketentuan yang tertulis pada
Gambar – Gambar Kerja dan RKS ini beserta lampiran perubahannya.
1.2. Kontraktor diwajibkan melapor kepada Konsultan Pengawas / Konsultan
Perencana / Owner setiap akan melakukan kegiatan pekerjaan di lapangan.
1.3. Apabila terdapat perbedaan ukuran, kelainan – kelainan antara Gambar Kerja
dan RKS serta kesesuaiannya di lapangan maka Kontraktor diharuskan melapor
kepada Konsultan Pengawas / Konsultan Perencana / Owner untuk segera
mendapatkan keputusan. Kontraktor tidak dibenarkan memperbaiki sendiri
perbedaan dan kelainan tersebut. Akibat dari kelalaian Kontraktor dalam hal
ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Kontraktor.
1.4. Daerah Kerja (Construction Area) akan diserahkan kepada Kontraktor selama
waktu pelaksanaan pekerjaan dalam keadaan seperti pada saat Penjelasan
Pekerjaan (Aanwijzing) dan dianggap bahwa Kontraktor telah benar-benar
mengetahui tentang :
1.4.1. Letak Bangunan yang akan dibangun.
1.4.2. Batas Persil/Lahan maupun kondisi pada saat itu.
1.5. Kontraktor wajib menyediakan sekurang-kurangnya 3 (tiga) set lengkap
Gambar – gambar Kerja ukuran kertas A3 dan RKS di tempat pelaksanaan
pekerjaan untuk dapat dipergunakan setiap saat oleh Konsultan Pengawas /
Konsultan Perencana / Owner.
Atas perintah Konsultan Pengawas / Konsultan Perencana / Owner, Kontraktor
diminta untuk membuat Gambar – gambar penjelasan (Shop Drawing) berikut
perincian bagian-bagian khusus (Detail) yang biaya pembuatan gambarnya
menjadi tanggung jawab Kontraktor. Gambar tersebut setelah disetujui Konsultan
Pengawas / Konsultan Perencana / Owner secara tertulis akhirnya menjadi
Gambar Pelengkap dari gambar gambar Kerja yang ada.
2. JADWAL PELAKSANAAN
Dalam waktu paling lambat 2 (dua) minggu setelah Kontraktor dinyatakan sebagai
pemenang Lelang, atau dengan lain cara ditunjuk oleh Pemberi Tugas sebagai pelaksana
pembangunan, Kontraktor harus segera membuat : Jadwal waktu (Time Schedule), yang
diketahui dan disetujui bersama antara Konsultan Pengawas (MK) / Konsultan Perencana /
Owner.
3. GAMBAR KERJA
4.1. Semua instruksi dari Konsultan Pengawas (MK) / Konsultan Perencana / Owner
harus dilaksanakan secara baik oleh Kontraktor, jika Kontraktor berkeberatan
menerima petunjuk/Instruksi Konsultan Pengawas (MK) / Konsultan Perencana
/ Owner tersebut, maka harus mengajukan secara tertulis kepada Konsultan
Pengawas (MK) / Konsultan Perencana / Owner dalam waktu 7 (tujuh) hari.
Apabila dalam batas waktu tersebut diatas Kontraktor tidak mengajukan
keberatan maka dianggap telah menyetujui dan menerima petunjuk Konsultan
Pengawas (MK) / Konsultan Perencana / Owner untuk segera dilaksanakan.
Kontraktor diharuskan merekam atau dengan kata lain mencatat setiap
Petunjuk / Instruksi Konsultan Pengawas (MK) / Konsultan Perencana / Owner
dalam buku harian lapangan/ pelaksanaan dan memintakan tanda tangan atau
sepengetahuan Konsultan Pengawas (MK) / Konsultan Perencana / Owner.
5. PENETAPAN UKURAN
5.1. Kontraktor bertanggung jawab atas tepatnya pelaksanaan pekerjaan ini dan
tidak boleh merubah ukuran tanpa seijin Konsultan Pengawas (MK) / Konsultan
Perencana / Owner. Setiap ada perbedaan dengan ukuran-ukuran yang ada
harus segera memberitahukan kepada Konsultan Pengawas (MK) / Konsultan
Perencana / Owner untuk segera ditetapkan sebagaimana mestinya.
5.2. Sebelum memulai pekerjaan, Kontraktor wajib memberitahu Konsultan
Pengawas (MK) / Konsultan Perencana / Owner, bagian pekerjaan yang akan
dimulai untuk diperiksa terlebih dahulu ketepatan ukuran – ukurannya terhadap
hal ini tidak dapat diterima dan Konsultan Pengawas (MK) / Konsultan
Perencana / Owner berhak untuk membongkar pekerjaan dan memerintahkan
untuk menepati ukuran sesuai ketentuan.
5.3. Kontraktor diwajibkan senantiasa mencocokkan ukuran satu dengan yang lain
dalam setiap bagian pekerjaan dan segera melapor kepada Konsultan Pengawas
(MK) / Konsultan Perencana / Owner setiap terdapat selisih/perbedaan ukuran
untuk diberikan keputusan pembetulannya.
5.4. Mengingat setiap kesalahan ukuran akan selalu mempengaruhi bagian-bagian
pekerjaan yang lainnya, maka ketetapan akan ukuran tersebut mutlak perlu
diperhatikan sungguh – sungguh.
6.1. Kontraktor diwajibkan menyediakan dan mengisi Buku Harian Lapangan yang
berisi laporan tentang jumlah tenaga/pekerja, bahan – bangunan dan pekerjaan
yang dilaksanakan, keadaan cuaca, peralatan yang dipakai serta lain – lain hal
yang dianggap perlu atas petunjuk dan persetujuan Konsultan Pengawas (MK) /
Konsultan Perencana / Owner.
6.2. Buku Harian Lapangan harus disediakan oleh Kontraktor sesuai jangka waktu
pelaksanaan pekerjaan dan harus selalu berada ditempat pekerjaan, diisi oleh
Kontraktor dan diketahui Konsultan Pengawas (MK) / Konsultan Perencana /
Owner.
6.3. Konsultan Pengawas (MK) mencatat Instruksi – instruksi dan petunjuk
pelaksanaan yang dianggap perlu pada Buku Harian Lapangan dan merupakan
petunjuk yang harus diperhatikan Kontraktor dan dibuat masing masing 4
(empat) rangkap.
8. ALAT KERJA
10.1. Kontraktor bertanggung jawab penuh atas segala sesuatu yang ada dan
terjadi di daerah kerjanya terutama mengenai :
- Kerusakan – kerusakan yang timbul akibat kelalaian/kecerobohan baik
11.1. Bila dalam RKS ini disebutkan nama dan pabrik pembuat Bahan/material,
maka hal ini dimaksudkan menunjukkan standard minimal mutu/kualitas
bahan yang digunakan dalam pekerjaan ini.
11.2. Setiap bahan/material yang akan digunakan harus disampaikan kepada
Konsultan Pengawas (MK) / Konsultan Perencana / Owner untuk mendapat
persetujuan.
11.3. Contoh atau brosur Bahan Material yang akan digunakan harus diadakan
atas tanggungan Kontraktor, setelah disetujui oleh Konsultan Pengawas
(MK) / Konsultan Perencana / Owner maka bahan/material tersebut harus
ditandai dan diadakan untuk dipakai dalam pekerjaan nantinya.
11.4. Contoh bahan/material tersebut selanjutnya disimpan oleh Konsultan
Pengawas (MK) / Konsultan Perencana / Owner untuk dijadikan dasar
penolakan bila ternyata bahan/material yang dipakai tidak sesuai dengan
contoh.
12.1. Pada akhir pekerjaan menjelang Penyerahan Hasil Pekerjaan tahap pertama :
12.1.1. Semua bangunan sementara harus dibongkar dan dibersihkan bekas-
bekasnya.
12.1.2. Tiap bagian pekerjaan harus dalam keadaan baik, bersih, utuh tanpa
cacat.
12.1.3. Kontraktor diwajibkan menyerahkan kepada Konsultan Pengawas
(MK) / Konsultan Perencana / Owner berupa :
a. 2 (dua) set Gambar sesuai Terlaksana (As Build Drawing) dari
seluruh pekerjaan yang dilaksanakannya termasuk Gambar
Perubahannya, berwarna ukuran A3 dijilid spiral.
b. 2 (dua) Album Photo Proyek, berwarna ukuran A3 dijilid spiral
B. LINGKUP PEKERJAAN
1. PEKERJAAN PENDAHULUAN
Sebelum pekerjaan persiapan dimulai, lahan yang akan dikerjakan harus dibersihkan
sesuai dengan yang dipersyaratkan dalam gambar. Pekerjaan yang akan dilaksanakan
tidak boleh dimulai sampai lapangan yang bersangkutan sudah dipersiapkan
sedemikian sehingga pekerjaan dapat dilakukan secara efisien tanpa terhenti.
Persiapan lapangan harus cukup sebelum pekerjaan dimulai untuk menghindari
terjadinya gangguan pada saat pelaksanaan.
Jika bagian pekerjaan yang ada perlu dihentikan, kontraktor harus memberikan fasilitas
sementara yang akan mencegah kerusakan pada kepentingan umum dan
perseorangan dan pada kelancaran pekerjaan serta harus mengembalikan lagi ke
keadaan semula jika keadaan pekerjaan sudah memungkinkan. Penelitian halaman dan
lingkup pekerjaan tanah sesuai dengan syarat-syarat permulaan pekerjaan, maka
Kontraktor harus mengunjungi site dan mengamati kondisi-kondisi yang ada serta
bahan-bahan yang akan digunakan.
▪ Foto Kegiatan pada setiap tahap tersebut dibuat sebanyak 2 (dua) set berwarna
dan dilampirkan bersama dengan laporan bulanan sesuai pencapaian bobot
pekerjaan.
▪ Pengambilan titik pandang harus diusahakan tetap dari setiap tahap dan sesuai
5) Kantor Kontraktor, Gudang bahan, Los-los kerja dan Los lainnya yang dibuat dan dibiayai
Mobilisasi adalah pengiriman atau pengangkutan tenaga kerja, material dan alat serta
prasarana yang akan digunakan dalam proses pembangunan proyek ini. Mobilisasi
tenaga kerja dilakukan berangsur- angsur sesuai dengan kebutuhan dan schedule
yang telah disepakati.
Segala resiko yang diakibatkan oleh pekerjaan mobilisasi dan demobilisasi menjadi
tanggung jawab kontraktor. Segala pungutan dan retribusi yang timbul akibat mob
demob ini menjadi tanggung jawab kontraktor pelaksana.
5 URAIAN DAN SYARAT-SYARAT PELAKSANAAN
PEKERJAAN STRUKTUR
A. TEKNIS PELAKSANAAN
1. LINGKUP PEKERJAAN
Lingkup pekerjaan struktur meliputi :
• Pekerjaan Tanah
• Pekerjaan Struktur bawah
Penentuan level bangunan pada level ± 0.00 harus dilakukan oleh kontraktor dan
disampaikan ke Konsultan Pengawas (MK) / Konsultan Perencana / Owner untuk
mendapatkan persetujuan.
Apabila ternyata dijumpai perbedaan-perbedaan di lapangan, kontraktor harus segera
melaporkannya kepada Konsultan Pengawas. Pemakaian ukuran-ukuran yang keliru
sebelum dan selama pelaksanaan pekerjaan menjadi tanggung jawab Kontraktor.
Kontraktor diharuskan menggunakan alat-alat (instrumen) pengukuran yang akurat untuk
mendapat ukuran, sudut-sudut serta ukuran tegak secara tepat dan dapat dipertanggung
jawabkan. Seluruh pengukuran harus dilakukan dengan alat ukur digital, pengukuran
berdasarkan penglihatan / manual biasa harus dihindari.
3. KUALITAS MATERIAL
Seluruh material yang digunakan harus memiliki kualitas yang baik, memenuhi
ketentuan-ketentuan berdasarkan peraturan yang ada di Indonesia, juga memenuhi
kriteria yang harus dicapai dalam spesifikasi ini. Apabila dianggap perlu Konsultan
Pengawas berhak meminta test material. Segala biaya yang berhubungan dengan
pengetesan ini sudah harus diperhitungkan dalam penawaran dan menjadi tanggung
jawab kontraktor pelaksana.
B. LINGKUP PEKERJAAN
1. UMUM
a. Pekerjaan yang dimaksud meliputi penyediaan Tenaga, bahan-bahan, peralatan dan alat
bantu lainnya yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan pembangunan yang
meliputi :
- Pekerjaan Persiapan dan Biaya SMK3
- Pekerjaan Struktur
- Pekerjaan Arsitektur
- Pekerjaan Mekanikal Elektrikal dan Plumbing
Semua penjelasan mengenai Pekerjaan tersebut diatas akan dijelaskan dalam point–point
penjelasan termasuk segala jenis peralatan, bahan dan teknis pekerjaan .
Semua pekerjaan yang termasuk dalam ruang lingkup Pekerjaan yang tidak dijelaskan
dalam RKS akan dijelaskan kemudian dalam Risalah aanwijzing dan pihak Kontraktor
harus melaksanakannya sesuai gambar kerja. Penjelasan mengenai Pekerjaan
tersebut diatas akan dijelaskan dalam point–point penjelasan termasuk segala jenis
peralatan, bahan dan teknis pekerjaan.
b. Persiapan Pelaksanaan
Sebelum pelaksanaan pekerjaan, Kontraktor harus mempelajari dengan seksama Gambar
Kerja. Kontraktor harus sudah memperhitungkan segala kondisi di lapangan yang meliputi
semua bangunan dan tidak terbatas pada bangunan existing.
Kontraktor harus mengamankan/melindungi hasil paket pekerjaan sebelumnya maupun
yang sedang berjalan, bahan/komponen/instalasi existing yang dipertahankan; agar tidak
rusak atau cacat.
Rencana pengamanan, baik berupa penyangga, penopang, atau konstruksi khusus
sebagai penahan atau pelindung bagian yang tidak dibongkar, harus dilaporkan
kepada Konsultan Pengawas terlebih dahulu untuk mendapat persetujuan.
1) SYARAT PELAKSANAAN
a. Semua galian harus dilaksanakan sesuai dengan gambar dan syarat- syarat yang
tidak longsor dengan memberikan suatu dinding penahan atau penunjang sementara
atau lereng yang cukup.
e. Juga kepada Kontraktor diwajibkan mengambil langkah-langkah pengamanan
terhadap bangunan lain yang berada dekat sekali dengan lubang galian yaitu
dengan memberikan penunjang sementara pada bangunan tersebut sehingga dapat
dijamin bangunan tersebut tidak akan mengalami kerusakan.
f. Semua tanah kelebihan yang berasal dari pekerjaan galian, setelah mencapai jumlah
tertentu harus segera disingkirkan dari halaman pekerjaan pada setiap saat yang
dianggap perlu dan atas petunjuk Pengawas/MK.
g. Bagian-bagian yang akan diurug kembali harus diurug dengan tanah yang bersih
bebas dari segala kotoran dan memenuhi syarat-syarat sebagai tanah urug.
Pelaksanaannya secara berlapis-lapis dengan penimbrisan lubang- lubang galian yang
terletak di dalam garis bangunan harus diisi kembali dengan tanah urug yang
diratakan serta dipadatkan sampai mencapai 100% kepadatan kering maksimum
yang dibuktikan dengan test laboratorium.
h. Perlindungan terhadap benda-benda berfaedah. Kecuali ditunjukkan untuk
dipindahkan, seluruh barang-barang berharga yang mungkin ditemui di lapangan
harus dilindungi dari kerusakan, dan bila sampai menderita kerusakan harus
direparasi/diganti oleh Kontraktor atas tanggungannya sendiri.
i. Bila suatu alat atau pelayanan dinas yang sedang bekerja ditemui di lapangan dan hal
tersebut tidak tertera pada gambar atau dengan cara lain yang dapat diketahui oleh
Kontraktor dan ternyata diperlukan perlindungan atau pemindahan, Kontraktor harus
bertanggung jawab untuk mengambil setiap langkah apapun untuk menjamin bahwa
pekerjaan yang sedang berlangsung tersebut tidak [Link] pekerjaan
pelayanan umum terganggu sebagai akibat pekerjaan Kontraktor, Kontraktor harus
segera mengganti kerugian yang terjadi yang dapat berupa perbaikan dari barang
yang rusak akibat pekerjaan [Link] yang sudah tidak bekerja lagi yang
mungkin ditemukan di bawah tanah dan terletak di dalam lapangan pekerjaan harus
dipindahkan keluar lapangan ke tempat yang disetujui oleh Pengawas/MK atas
tanggungan Kontraktor.
1) LINGKUP PEKERJAAN
a. Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan,
metode kerja dan alat-alat bantu yang dibutuhkan demi terlaksananya
pekerjaan ini dengan baik.
b. Seluruh sisa penggalian yang tidak terpakai untuk penimbunan dan penimbunan
kembali, juga seluruh sisa-sisa, puing-puing, sampah- sampah harus disingkirkan
dari lapangan pekerjaan. Seluruh biaya untuk ini adalah tanggung jawab
Kontraktor.
2) BAHAN – BAHAN
a. Ukuran pasir diberi 5 cm urugan pasir padat (setelah disirami, diratakan dan
dipadatkan) di bagian atas dari urugan dibawah plat-plat beton bertulang, beton
rabat dan pondasi dangkal.
b. Urugan yang dipakai di bawah lapisan pasir padat tersebut adalah dari jenis tanah
silty clay yang bersih tanpa potongan-potongan bahan-bahan yang bisa lapuk serta
bahan batuan yang telah dipecah- pecah dimana ukuran dari batu pecah tersebut
tidak boleh lebih besar dari 15 cm.
3) SYARAT PELAKSANAAN
a. Semua bagian/daerah urugan dan timbunan harus diatur berlapis sedemikian,
sehingga dicapai suatu lapisan setebal 5 cm dalam keadaan padat.
b. Daerah urugan atau daerah yang terganggu harus dipadatkan dengan alat pemadat /
compactor vibrator type yang telah disetujui oleh Pengawas / MK.
c. Kepadatan maksimum terhadap kadar air optimum dari percobaan
d. Proctor : Kontraktor harus melaksanakan penelitian kepadatan maksimum terhadap
kadar air optimum, minimal satu kali untuk setiap jenis tanah yang dijumpai di
lapangan. Contoh tanah tersebut harus disimpan dalam tabung gelas atau plastik
untuk bukti penunjukkan/referensi dan diberi label yang berisikan nomor contoh,
kepadatan kering maksimum dan kadar air optimumnya. Penelitian harus mengikuti
prosedur yang umum dipakai yaitu ASTM D-1557-70.
e. Pengeringan/pengaliran air harus diperhatikan selama pekerjaan tanah supaya
daerah yang dikerjakan terjamin pengaliran airnya.
f. Apabila material urugan mengandung batu-batu, tidak dibenarkan batu-batu yang
besar bersarang menjadi satu, dan semua pori-pori harus diisi dengan batu-batu kecil
dan tanah yang dipadatkan.
g. Kelebihan material galian harus dibuang oleh Kontraktor ke tempat pembuangan
6. PEKERJAAN BETON
6.1. LINGKUP PEKERJAAN
Yang termasuk lingkup pekerjaan ini meliputi :
Pekerjaan Pondasi, Pekerjaan Sloof, Pekerjaan Kolom, Pekerjaan Balok, Pekejaan
Tangga, Pekerjaan Pelat Beton dan pekerjaan beton lainnya seperti tercantum dalam
gambar kerja.
PEKERJAAN PONDASI
Mutu
Nama Pekerjaan Ukuran Tulangan
Beton
STRUKTUR LANTAI 1
Pek. Pond Pilecap P1 Uk. 1,5 x 1,5 x 0,5
- Utama S16 BJTS 420 K-300
m
Pek. Pond Pilecap P2 Uk. 0,9 x 0,9 x 0,4
- Utama S13 BJTS 420 K-300
m
- Sengkang S10 BJTS 280
Pek. Sloof (TB1) Uk. 20x30 cm K-300
- Utama S13 BJTS 420
- Sengkang P8 BJTS 280
Pek. Sloof (TB2) Uk. 20x15 cm K-300
- Utama S13 BJTS 420
- Sengkang S10 BJTS 280
Pek. Kolom (K1) Uk. 30x35 cm K-300
- Utama S16 BJTS 420
- Sengkang S10 BJTS 280
Pek. Kolom (K2) Uk. 20x25 cm K-300
- Utama S13 BJTS 420
- Sengkang P8 BJTS 280
Pek. Kolom Praktis (K3) Uk. 15x15 cm K-175
- Utama P12 BJTS 420
- Sengkang S10 BJTS 280
Pek. Balok (B1) Uk. 30x60 cm - Utama S16 BJTS 420 K-300
- Ekstra S13 BJTS 280
Pekerjaan lainnya yang termasuk dalam lingkup pekerjaan beton struktur tercantum
dalam gambar kerja.
- Mutu baja tulangan s/d diameter P6, P8, P10, P12 mm adalah BJTP 280
Beton Ready mix yang digunakan harus sesuai dengan standardisasi Nasional
Indonesia, baik dari tatacara pengujian nilai slump, nilai slump test, serta mutu harus
rencana harus tercapai pada umur 28 hari.
b. Pemeriksaan
- Besi tulangan beton sebelum dipasang, harus bersih dari serpih-serpih, karat,
minyak, gemuk dan zat kimia lainnya yang dapat merusak atau mengurangi daya
lekat antara besi tulangan dengan beton.
• Untuk pekerjaan Pondasi Tapak digunakan besi dia. S13 mm, S16 mm
• Untuk pekerjaan Sloof menggunakan besi utama dia. S13 mm dan untuk
sengkang menggunakan dia. S10 mm, P8 mm.
• Untuk pekerjaan Kolom menggunakan besi utama S16 mm, S13 mm, P12 dan
untuk sengkang menggunakan S10, dan P8
Dan penggunaan besi tulangan yang lain harus sesuai dengan gambar rencana, dan
tidak diperkenankan adanya toleransi bentuk ukuran. Diameter besi ulir adalah
diameter dalam.
d. Pengujian Konsistensi Beton dan Benda Uji Beton.
Setiap melakukan pengecoran untuk, pondasi, kolom, tie beam, sloof, balok, pelat
harus ada seminal 3 buah benda uji yang akan dilakukan pengujian tekan pada umur
28 hari. Semua pengujian uji kuat tekan harus sesuai dengan SNI 1974-2011.
Konsultan pengawas berhak menuntut hasil uji kuat tekan beton sesuai dengan mutu
rencana. Kekuatan tekan beton harus ditetapkan oleh konsultan pengawas melalui
pengujian biasa dengan silinder ukuran 15 cm x 30 cm dibuat benda uji sebanyak 3
buah sesuai dengan SNI yang telah di tentukan diatas.
e. Baja Tulangan
Baja beton harus dipasang dengan teliti sesuai dengan gambar rencana. Untuk
menempatkan tulangan tetap tepat ditempatnya maka tulangan harus diikat kuat
dengan kawat beton (bendraat) dengan bantalan blok-blok beton cetak (beton
decking) atau kursi-kursi besi/cakar ayam perenggang. Jarak bersih terkecil antara
batang yang paralel apabila tidak ditentukan dalam gambar rencana, minimal harus
1,2 kali ukuran terbesar dari agregat kasar dan harus memberikan kesempatan
masuknya alat penggetar beton.
f. Selimut Beton
Penempatan besi beton di dalam cetakan tidak boleh menyinggung dinding atau
dasar cetakan, serta harus mempunyai jarak tetap untuk setiap bagian-bagian
konstruksi.
Apabila tidak ditentukan di dalam gambar rencana, maka tebal selimut beton
mengacu pada SNI 2847 : 2019.
g. Sambungan Besi Tulangan
Jika diperlukan untuk menyambung tulangan pada tempat-tempat lain dari yang
ditunjukan pada gambar-gambar, bentuk dari sambungan harus disetujui oleh
Konsultan Pengawas. Overlap pada sambungan-sambungan tulangan harus minimal
1/4 panjang bentangan , kecuali jika ditetapkan secara pasti di dalam gambar rencana
dan harus mendapat persetujuan Konsultan Pengawas.
h. Mengaduk
Bahan-bahan untuk adukan beton site mix mutu beton K-175 harus dicampur dan
diaduk dalam mesin pengaduk beton yaitu ‘batch mixer’.
Konsultan Pengawas berwenang untuk menambah waktu pengadukan jika
pemasukan bahan dan cara pengadukan gagal untuk mendapatkan hasil adukan
dengan susunan kekentalan dan warna yang merata/seragam dalam komposisi dan
konsistensi dari adukan ke adukan, kecuali bila diminta adanya perubahan dalam
komposisi atau konsisitensi. Air harus dituang lebih dahulu selama pekerjaan
penyempurnaan.
i. Suhu
Suhu beton sewaktu dituang tidak boleh dari 320 C dan tidak kurang dari 4,50 C. Bila
suhu dari beton yang dituang berada antara 270 C dan 320 C, beton harus diaduk
ditempat pekerjaan untuk kemudian langsung dicor.
j. Rencana Cetakan
Cetakan harus sesuai dengan bentuk, dan ukuran yang ditentukan dalam gambar
rencana.
Bahan yang dipakai untuk cetakan harus mendapatkan persetujuan dari Konsultan
Pengawas sebelum pembuatan cetakan dimulai, tetapi persetujuan yang demikian
tidak akan mengurangi tanggung jawab Kontraktor terhadap keserasian bentuk
maupun terhadap perlunya perbaikan kerusakan-kerusakan, yang mungkin dapat
timbul waktu pemakaian.
Sewaktu-waktu Konsultan Pengawas dapat mengafkir sesuatu bagian dari bentuk
yang tidak dapat diterima dalam segi apapun dan Kontraktor harus dengan segera
mengambil bentuk yang diafkir dan menggantinya atas bebannya sendiri.
k. Kontruksi Cetakan
- Semua cetakan harus betul-betul diteliti, kuat dan aman pada kedudukannya
sehingga dapat dicegah pengembangan atau terjadi perubahan bentuk selama dan
sesudah pengecoran beton.
- Semua cetakan beton harus kokoh. Alat-alat dan teknis pelaksanaan yang digunakan
harus sesuai dan tepat untuk membuka cetakan-cetakan tanpa merusak
permukaan beton yang telah selesai dicor dan memenuhi usia beton untuk
dibongkar. Sebelum beton dicor, permukaan dari cetakan-cetakan harus dilaburi
minyak yang biasa dipergunakan untuk pekerjaan itu, yang mencegah secara efektif
lekatnya beton pada cetakan dan akan memudahkan melepas cetakan beton.
Minyak tersebut dipakai hanya setelah disetujui Konsultan Pengawas. Penggunaan
minyak cetakan harus hati-hati untuk mencegah kontak dengan besi beton dan
mengakibatkan kurangnya daya lekat.
- Penyangga cetakan (steiger) harus bertumpu pada pondasi yang baik dan kuat
sehingga tidak akan ada kemungkinan penurunan cetakan selama pelaksanaan.
l. Pengecoran
Walaupun demikian sebagai pedoman dalam keadaan cuaca normal adalah sebagai
berikut :
Struktur
Pengerasan Normal :
Balok: 28 hari
n. Perawatan (Curing)
- Semua beton harus dirawat (cured) dengan air seperti ditentukan di bawah ini atau
disemprot dengan Curing Agent ANTISOLS merek SIKA bila dimungkinkan .
Konsultan Pengawas berhak menentukan cara perawatan bagaimana yang harus
digunakan pada bagian-bagian pekerjaan.
- Permukaan beton yang terbuka harus dilindungi terhadap sinar matahari yang
langsung minimal selama 3 hari sesudah pengecoran. Perlindungan semacam itu
dilakukan dengan menutupi permukaan beton dengan deklit atau karung bekas
yang dibasahi dan harus dilaksanakan segera setelah pengecoran dilaksanakan.
- Perawatan beton setelah tiga hari, yaitu dengan melakukan penggenangan dengan
air pada permukaan beton paling sedikit selama 14 hari terus menerus. Perawatan
semacam ini bisa dilakukan dengan penyiraman secara mekanis atau dengan pipa
yang berlubang-lubang atau dengancara lain yang disetujui Konsultan Pengawas
sehingga selama masa tersebut permukaan beton selalu dalam keadaan basah. Air
yang digunakan dalam perawatan (curing) harus memenuhi persyaratan spesifikasi
air untuk campuran beton.
o. Perlindungan (Protection)
Kontraktor harus melindungi semua beton terhadap kerusakan-kerusakan sebelum
penerimaan terakhir oleh Konsultan Pengawas.
p. Perbaikan Permukaan Beton
- Jika sesudah pembukaan cetakan ada permukaan beton yang tidak sesuai dengan
yang direncanakan, atau tidak tercetak menurut gambar atau diluar garis
permukaan, atau ternyata ada permukaan yang rusak, hal itu dianggap sebagai tidak
sesuai dengan spesifikasi ini dan harus dibuang dan diganti oleh Kontraktor atas
bebannya sendiri. Kecuali bila Konsultan Pengawas memberikan izinnya untuk
menambal tempat yang rusak, dalam hal mana penambalan harus dikerjakan
seperti yang telah tercantum dalam pasal-pasal berikut.
- Kerusakan yang memerlukan pembongkaran dan perbaikan ialah yang terdiri dari
sarang kerikil, kerusakan-kerusakan karena cetakan, lobang-lobang karena keropos,
tidak rata dan bengkak harus dibuang dengan pemahatan atau dengan batu
gerinda.
- Jika menurut pendapat Konsultan Pengawas hal-hal tidak sempurna pada bagian
bangunan yang akan terlihat jika dengan penambalan saja akan menghasilkan
sebidang dinding, yang tidak memuaskan kelihatannya, kontraktor diwajibkan untuk
menutupi seluruh dinding (dengan spesi plesteran 1pc : 3ps) dengan ketebalan yang
tidak melebihi 1 cm demikian juga pada dinding yang berbatasan, (yang
bersambungan) sesuai dengan instruksi dari Konsultan Pengawas.
Perlu diperhatikan untuk permukaan yang datar batas toleransi kelurusan
(pencekungan atau pencembungan) bidang tidak boleh melebihi dari L/1000 untuk
semua komponen.
q. Tenaga Kerja
7. PEKERJAAN ATAP
Pekerjaan Pek. Rangka Atap Baja Ringan C75 tb.1 mm dan Pas. Penutup jadi Atap Bitumen
c. Ukuran baut yang digunakan sesuai dengan yang disyaratkan untuk pasangan jenis
Penutup Atap.
a. Persyaratan Umum
- Semua peralatan dan perlengkapannya dalam keadaan lengkap, rapi, utuh dan tanpa cacat /
kerusakan daripabrik maupun pada waktu pengiriman, apabila terdapat kerusakan Penyedia
Jasa segera menggantidengan merk dari jenis yang sama.
- Pengadaan bahan dilengkapi brosur dari pabrik untuk mengetahui spesifikasi teknisnya.
- Semua peralatan dan perlengkapannya harus sesuai menurut
- nomor ukuran yang dipergunakan
- Untuk benda-benda/bahan-bahan dengan komponen, tapi dari bahan yang sama, harus
mempunyai warna yang sama.
- Semua peralatan dan perlengkapannya harus terpasang kokoh, rapi dan kuat.
- Semua peralatan/bahan-bahan tersebut harus sepengetahuan dan mendapat persetujuan dari
Pengawas Lapangan/MK/Direksi.
- Pengiriman bahan di lapangan diterima dengan Berita Acara Serah terima antara Penyedia Jasa
danPetugas Lapangan (Pengawas Lapangan/Direksi
- Pemasangan harus kokoh, kuat, rapi dan dikerjakan oleh tenaga ahli yang sudah berpengalaman.
- Semua bahan, peralatan dan perlengkapan harus terpasang sesuai dengan tata
letak/tempatnya, ketinggianatau sesuai dengan lay out gambar rencana.
- Bahan yang dipergunakan kualitas baik, yang tahan terhadap bahan-bahan kimia dan tekanan,
pemasangandilengkapi dengan angkur besi. Rencana pemasangan harus sepengetahuan
Pengawas Lapangan.
- Semua kerusakan yang terjadi akibat pemasangan harus dikembalikan seperti semula.
b. Bahan Material
- Material merupakan produksi pabrik dengan standar SNI dengan spesifikasi sebagai berikut :
1) Komposisi material :
-Aluminium (AL) = 55 %
- Zinc (Zn) = 43.5 %
-Silicon (Si) = 1.5 %
2) Baja mutu tinggi G550
3) Kekuatan leleh minimum 550 Mpa
4) Tegangan maksimum > 550 Mpa
5) Modulus elastisitas 200.000 Mpa
6) Modulus Geser 80.000 Mp
- Profil Material
Profil Truss baja ringan : C.75.1.00 (tinggi profil 75 mm dan ketebalan berikut lapisan pelindung
/ coating TCT 1,00 mm) dengan ketebalan profil 1 mm
Profil reng baja ringan : Profil material reng baja ringan yang digunakan adalah profil U terbalik
(Top – hat)
Tinggi profil 37 mm dan ketebalan berikut lapisan pelindung / coating TCT 0,45 mm
Jarak reng disesuaikan dengan jarak genteng yang digunakan
- Cara Sambung Baja Ringan dan Ring Balok
1. Baut Kuda-Kuda 12 mm x 20 mm
2. Baut Reng 10 mm x 16 mm
3. Dynabolt 10 mm x 77 mm
4. L-Bracket : Baja Ringan
- Persyaratan Pelaksanaan
1. Kontraktor wajib memberikan pemaparan produk sebelum pelaksanaan pemasangan
rangka atap baja ringan, sesuai dengan RKS (Rencana Kerja dan Syarat) seperti pada pasal
diatas. Produk yangdipaparkan sesuai dengan surat dukungan dan brosur yang
dilampirkan pada dokumen tender.
2. Kontraktor wajib menyerahkan gambar kerja yang lengkap berserta detail dan
bertanggung jawabterhadap semua ukuran-ukuran yang tercantum dalam gambar kerja.
Dalam hal ini meliputi dimensiprofil, panjang profil dan jumlah alat sambung pada setiap
titik buhul.
3. Perubahan bahan/detail karena alasan apapun harus diajukan ke Konsultan Pengawas,
KonsultanPerencana dan Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) untuk mendapatkan
persetujuan secara tertulis.
4. Kontraktor wajib menyediakan surat keterangan keahlian tenaga dari Fabrikan penyedia
jasa Rangka Atap Baja Ringan.
5. Kontraktor wajib menyertakan hasil uji lab dari bahan baja ringan dari badan akreditasi
nasional(instansi yang berwenang sesuai dengan kompetensinya).
6. Produk yang digunakan sudah berpengalaman minimal 10 (sepuluh) tahun.
7. Perhitungan alat Struktur atau software harus digunakan untuk 1 (satu) produk, itu
menunjukkanbahwa software yang digunakan khusus (ter-registrasi) untuk rangka atap
baja ringan tersebut danharus bisa mengeluarkan perhitungan struktur secara detail
- Jaminan Struktural
1. Jaminan yang dimaksud di sini adalah jika terjadi deformasi yang melebihi ketentuan
maupun keruntuhan yang terjadi pada struktur rangka atap Baja Ringan, meliputi
kudakuda, pengaku-pengaku dan reng.
2. Jaminan yang dikeluarkan adalah berupa sertifikat garansi struktur yang mengakomodasi
garansi strukturselama 10 (sepuluh) tahun dan merupakan garansi yang meliputi mutu
bahan dan pemasangan dan akandisyaratkan pada saat serah terima pekerjaan berlaku
secara nasional.
- Semen Instan
Semen yang digunakan harus semen Instant dari sumber yang disetujui dan
mempunyai persyaratan minimum. dari “Peraturan Semen Instan” Indonesia. Selain
itu, semen instan yang digunakan juga harus mempunyai dan memiliki sertifikat
Green Building, yang dikeluarkan oleh Green Building Indonesia (GBCI). Sertifikat
tersebut harus dilampirkan bersamaan dengan penawaran biaya, dan akan dihitung
sebagai syarat teknis pelelangan. Semen instan disini menggunakan merk setara
Mortar Utama, yang pada saat pelaksanaan harus dibuktikan dengan surat jalan dan
Purchasing Order.
- Pasir
Pasir untuk pekerjaan dinding harus memenuhi persyaratan P.U.B.B. –N.I.3
- Air
Air yang digunakan untuk pekerjaan dinding harus bersih bebas dari zat asam atau
kotoran yang dapat mempengaruhi daya ikat semen.
- Bata Merah
Bata yang digunakan adalah bata merah dan ukurannya seragam (berkode SNI).
Komposisi atau campuran adukan berikut akan digunakan sesuai dengan keterangan
pada gambar bestek atau spesifikasi.
8.3. CARA MENGADUK
Adukan harus dilaksanakan dengan mixer yang telah mendapat persetujuan Direksi
dan bila dilakukan tanpa peralatan khusus maka harus dilaksanakan pada suatu dasar
yang bersih dan kuat. Adukan yang mulai mengeras tidak boleh digunakan lagi.
8.4. PASANGAN BATA MERAH
- Pekerjaan dinding harus dipatok dan dilaksanakan sesuai dengan ukuran, ketebalan
dan ketinggian yang tercantum dalam gambar.
- Basahi bata merah terlebih dahulu (celup sebentar dalam air) untuk mencegah
penyerapan air dari adukan terlalu cepat.
- Semua pengakhiran dinding, pertemuan dinding dengan jendela alumunium dan
sudut-sudut dinding harus diperkuat dengan kolom praktis dengan penulangan.
- Permukaan dinding yang luas harus diperkuat dengan kolom praktis dan balok lintel
sehingga luas bidang dinding yang diperkuat. penulangan dan adukan beton balok
lintel adalah sama dengan kolom praktis.
- Buat lapisan adukan dasar setebal ±1,5–2 cm di atas pondasi atau sloof.
- Letakkan bata pertama, tekan perlahan agar rata dan stabil. Gunakan waterpass
untuk memastikan kedataran.
- Pasang bata berikutnya dengan pola ikatan bata (umumnya susunan berselang –
istilah: half brick bond).
- Setiap bata diberi adukan pada sisi samping dan bawahnya. Tekan agar tidak ada
rongga udara.
- Tebal nat/garis spesi antar bata ±1–2 cm.
- Setiap 3–5 lapis, cek kembali kelurusan vertikal dan horizontal dengan waterpass
dan benang tukang.
- Bersihkan sisa adukan yang berceceran agar tidak mengeras di permukaan dinding.
- Jenis Adukan
Komposisi atau campuran adukan untuk pasangan Bata Merah, Plesteran dan Acian
harus sesuai dengan SNI 03-0349-1989.
- Bata merah harus dalam kondisi kering udara (tidak terlalu basah atau terlalu kering),
tidak retak, dan berukuran seragam.
8.5. PLESTERAN
- Bahan
Untuk komposisi bahan harus sesuai dengan SNI 03-6861.1-2002 (P lesteran dan
Acian.
- Perbandingan Adukan
Semen Instant dan air aduk hingga rata untuk mendapat adukan semen yang sesuai
dengan kebutuhannya, ikuti petunjuk pemakaiannya.
- Persiapan Permukaan
Permukaan dinding pasangan dan beton harus diberi waktu cukup untuk mongering
dan semua pipa saluran harus sudah terpasang pada tempatnya. Siar pada blok beton
harus dikasarkan, bebas dari minyak dan segala kotoran, bagian-bagian yang lepas
dibersihkan dengan sikat kawat. Bagian-bagian yang cekung kedalam harus diratakan
dengan penambahan yang dibiarkan mongering sempurna, sebelum diberi plesteran.
Untuk mencegah pengeringan yang belum waktunya dari pada plesteran, permukaan
yang telah disiapkan harus dibasahi. Plesteran yang bergelombang dan retak-retak
harus segera diperbaiki. Untuk mencegah pengerasan plesteran sebelum waktunya
maka permukaan-permuakaan plesteran dinding yang telah selesai harus dijaga agar
tetap lembab selama beberapa hari setelah pengerjaan.
- Pelaksanaan
Tebal plester rata-rata 1,5 cm dan harus menghasilkan permukaan sesuai persetujuan
Direksi. Harus dipasang adukan-adukan patokan untuk mendapatkan permukaan
yang rata. Plester diratakan dengan menggunakan lat kayu lurus. Plester harus
dibasahi untuk minimum 7 hari setelah dipasang.
f. Sisi kaca yang tampak maupun yang tidak tampak akibat pemotongan,
harus digurinda / dihaluskan, hingga membentuk tembereng.
Kunci dan Pegangan Pintu yang digunakan :
Alumunium :
a. Sebelum memulai pelaksaan Kontraktor diwajibkan meneliti gambar-
gambar dan kondisi dilapangan (ukuran dan peil lubang dan membuat
contoh jadi untuk semua detail sambungan dan profil aluminium yang
berhubungan dengan sistem konstruksi bahan lain.
b. Prioritas proses fabrikasi, harus sudah siap sebelum pekerjaan dimulai,
dengan membuat lengkap dahulu shop drawing dengan petunjuk
Perencana/Konsultan Pengawas.
c. Semua frame/ kusen baik untuk dinding, jendela dan pintu dikerjakan
secara fabrikasi dengan teliti sesuai dengan ukuran dan kondisi lapangan
agar hasilnya dapat dipertanggungjawabkan.
d. Pemotongan aluminium hendaknya dijauhkan dari material besi untuk
menghindarkan penempelan debu besi pada permukaannya. Disarankan
untuk mengerjakannya pada tempat yang aman dengan hati-hati tanpa
menyebabkan kerusakan pada permukaannya.
e. Pengelasan dibenarkan menggunakan non –activated gas (argon) dari
arah bagian dalam agar sambungannya tidak tampak oleh mata.
f. Akhir bagian kusen harus disambung dengan kuat dan teliti dengan
sekrup, rivet, stap dan harus cocok. Pengelasan harus rapi untuk
memperoleh kualitas dan bentuk yang sesuai dengan gambar.
g. Angkur-angkur untuk rangka/kusen aluminium terbuat dari steel plate
setebal 2 - 3 mm dan ditempatkan pada interval 600 mm
h. Penyekrupan harus dipasang tidak terlih at dari luar dengan sekrup anti
karat/stainless steel, sedemikian rupa sehingga hair line dari tiap
sambungan harus kedap air dan memenuhi syarat kekuatan terhadap air
sebesar 1.000 kg/cm2 . Celah antara kaca dan sistem kusen aluminium
harus ditutup oleh sealant.
kusen aluminium dilengkapi oleh kemungkinan-kemungkinan sebagai berikut,
Dapat menjadi kusen untuk dinding kaca mati. Dapat cocok dengan jendela
geser, jendela putar, dan lain- lain.
a. Sistem kusen dapat menampung pintu kaca frameless.
b. Untuk sistem partisi, Harus mampu moveable dipasang tanpa harus
dimatikan secara penuh yang merusak baik lantai maupun langit- langit.
c. Mempunyai accessories yang mampu mendukung kemungkinan diatas.
d. Untuk fitting hard ware dan reinforcing materials yang mana kusen
aluminium akankontak dengan besi, tembaga atau lainnya maka
permukaan metal yang bersangkutan harus diberi lapisan chormium
untuk menghindari kontak korosi.
e. Toleransi pemasangan kusen aluminium disatu sisi dinding adalah 10 - 25
mm yang kemudian diisi dengan beton ringan/grout.
f. Khusus untuk pekerjaan jendela geser aluminium agar diperhatikan
sebelum rangka kusen terpasang . Permukaan bidang dinding horizontal
(pelubangan dinding) yang melekat pada ambang bawah dan atas harus
waterpass.
g. Untuk memperoleh kekedapan terhadap kebocoran udara terutama
pada ruang yang dikondisikan hendaknya ditempatkan mohair dan jika
perlu dapat digunakan synthetic rubber atau bahan dari synthetic resin.
h. Sekeliling tepi kusen yang terlihat berbatasan dengan dinding agar diberi
sealant supaya kedap air dan kedap suara.
i. Tepi bawah ambang kusen exterior agar dilengkapi flashing untuk
penahan air hujan.
Kaca :
a. Semua pekerjaan dilaksanakan dengan mengikuti petunjuk gambar,
uraian dan syarat pekerjaan dalam buku ini.
b. Pekerjaan ini memerlukan keahlian dan ketelitian.
c. Semua bahan yang telah terpasang harus disetujui oleh Pengawas /
Perencana.
d. Bahan yang telah terpasang harus dilindungi dari kerusakan dan
benturan, dan diberi tanda untuk mudah diketahui, tanda-tanda tidak
boleh menggunakan kapur. Tanda-tanda harus dibuat dari potongan
kertas yang direkatkan dengan menggunakan lem aci.
e. Pemotongan kaca harus rapi dan lurus, diharuskan menggunakan alat-
alat pemotong kaca khusus.
f. Pemotongan kaca harus disesuaikan ukuran rangka, minimal 10 mm
masuk ke dalam alur kaca pada kusen.
g. Pembersih akhir dari kaca harus menggunakan kain katun yang lunak
dengan menggunakan cairan pembersih kaca.
h. Hubungan kaca dengan kaca atau kaca dengan material lain tanpa
melalui kusen, harus diisi dengan lem [Link] transparant cara
pemasangan dan persiapan-persiapan pemasangan harus mengikuti
petunjuk yang dikeluarkan pabrik
Alat Penggantung dan Pengunci :
a. Engsel atas dipasang ± 28 cm (as) dari permukaan atas pintu. Engsel
bawah dipasang ± 32 cm (as) dari permukaan bawah pintu. Engsel tengah
dipasang ditengah-tengah antara kedua engsel tersebut.
b. Penarikan pintu (door pull) dipasang 90 cm (as) dari permukaan lantai.
c. Seluruh perangkat kunci harus bekerja dengan baik, untuk itu harus
dilakukan pengujian secara kasar dan halus.
d. Tanda pengenal anak kunci harus dipasang sesuai dengan pintunya.
e. Kontraktor wajib membuat shop drawing (gambar detail pelaksanaan)
berdasarkan Gambar Dokumen Kontrak yang telah disesuaikan dengan
keadaan di lapangan. Didalam shop drawing harus jelas dicantumkan
semua data yang diperlukan termasuk keterangan produk, cara
pemasangan atau detail-detail khusus yang belum tercakup secara
lengkap di dalam Gambar Dokumen Kontrak, sesuai dengan Standar
Spesifikasi pabrik.
f. Shop Drawing sebelum dilaksanakan harus disetujui dahulu oleh
Pengawas.
a. Rangka
b. Penutup langit-langit
Digunakan PVC yang bermutu baik. Plafond yang digunakan memiliki tebal 8 mm.
Jenis yang digunakan adalah Plafond PVC Glossy. Atau dapat berubah bila
pemberi tugas memberikan arahan untuk mengganti penggunaan bahan tersebut.
b. Plafond PVC yang dipasang adalah plafond yang telah dipilih baik bentuk dan
ukuran masing-masing unit sama, tidak ada bagian yang retak, gumpal, atau cacat-
cacat lainnya dan telah mendapat persetujuan Konsultan Pengawas.
b. Pengecatan lisplank
a. Cat Dulux
Bahan dari jenis acrylic emulsion kualitas utama, sek. Vinilex tahan terhadap
udara dan garam, produk lokal. mutu terbaik .
b. Cat Logam
Bahan dari jenis synthetic enamel super gloss sekualitas Avian atau Produk
lokal. mutu terbaik.
c. Plamur
Bahan dari kualitas utama, produk ex lokal mutu terbaik.
d. Kontraktor wajib membuktikan keaslian cat dari produk tersebut di mengenai
kemurnian cat yang akan dipergunakan, Pembuktian berupa :
segel kaleng
test BD
test laboratorium
hasil akhir pengecatan
e. Kontraktor harus menyiapkan contoh pengecatan tiap warna dan jenis cat pada
bidang-bidang transparan ukuran 30 x 30 cm2.
Pada bidang-bidang tersebut harus dicantumkan dengan jelas warna, formula
cat, jumlah lapisan, dan jenis lapisan (dari cat dasar sampai dengan lapisan
akhir.
f. Kontraktor harus menyerahkan kepada Direksi/Konsultan Pengawas, untuk
kemudian akan diteruskan ke Pejabat Pembuat Komitmen, minimal 5 Galon tiap
warna dan jenis cat yang dipakai.
Kaleng-kaleng cat tersebut harus tertutup rapat dan mencantumkan dengan
jelas identitas cat yang ada di [Link] ini akan dipakai sebagai cadangan
oleh Pejabat Pembuat Komitmen untuk Perawatan.
a. Pengecatan harus rata, tidak bertumpuk, tidak bercucuran atau ada bekas yang
menunjukkan tanda-tanda sapuan, roller maupun semprotan.
b. Sebelum Melaksanakan pekerjaan pengecatan, permukaan dinding kering dan
bersih, diamplas/dibersihkan terlebih dahulur hingga permukaan bidang yang
akan di cat terlihat bersih dan kering.
Apabila dari cat yang dipakai ada yang mengandung bahan dasar beracun atau
membahayakan keselamatan manusia, maka Kontraktor harus menyediakan
peralatan pelindung misalnya : masker, sarung tangan dan sebagainya yang
harus dipakai waktu pelaksanaan pekerjaan.
c. Khusus untuk semua cat dasar harus disapukan dengan roll cat.
d. Standar Pengerjaan ((“Mock-Up”).
Sebelum pengecatan dimulai, Kontraktor harus melakukan pengecatan pada
satu bidang untuk tiap warna dan jenis cat yang diperlukan. Bidang-bidang
tersebut akan dijadikan contoh pilihan warna, tekstur, material dan cara
pengerjaan.
Bidang-bidang yang akan dipakai sebagai “mock-up” ini akan ditentukan oleh
Direksi/Konsultan Pengawas. Jika masing-masing bidang tersebut telah
disetujui oleh Direksi/Konsultan Pengawas dan Perencana, maka bidang-bidang
ini akan dipakai sebagai standard minimal keseluruhan Pekerjaan Pengecatan.
e. Hasil pekerjaan yang tidak disetujui Direksi/Konsultan Pengawas harus diulang
dan diganti. Kontraktor harus melakukan pengecatan kembali bila ada cat dasar
atau cat finish yang kurang menutupi atau lepas sebagaimana ditunjukkan oleh
Direksi/ Konsultan Pengawas.
f. Pekerjaan Pengecatan Permukaan Dinding, Beton dan Langit-Langit
- Sebelum pelaksanaan :
Seluruh permukaan harus dibersihkan dari debu, lemak, kotoran atau noda lain,
bekas-bekas cat yang terkelupas bagi permukaan yang pernah dicat dan dalam
kondisi kering.
- Pelaksanaan pekerjaan dengan roller.
Pemakaian kuas hanya untuk permukaan dimana tidak memungkinkan untuk
menggunakan roller.
- Permukaan Interior.
Lapisan Pertama :
Ketebalan lapisan adalah 25 – 150 micron atau daya sebar per liter adalah 10
m2.
Permukaan Exterior.
Lapisan Pertama :
Ketebalan lapisan adalah 25 – 150 micron atau daya sebar per liter adalah 10
m2, Tunggu selama minimum 12 jam sebelum pelaksanaan pelapisan
berikutnya.
Jenis : Standar
Kualitas : Kelas I
a. Pada saat pemasangan keramik harus dalam keadaan baik, tidak retak, cacat atau
ternoda dan warna sesuai dengan yang disyaratkan.
b. Sebelum pemasangan granit/keramik, harus dilakukan pengukuran dengan
waterpas (selang atau alat lain) agar permukaannya merata.
c. ukuran/dimensi dan keramik harus presisi agar dihasilkan pemasangan yang rapi.
d. Sebelum dimulai pekerjaan Kontraktor diwajibkan membuat shop drawing
mengenai pola keramik.
e. Adukan pasangan / pengikat dengan aduk campuran 1 PC : 4 pasir pasang
dan ditambah bahan perekat seperti yang disyaratkan atau dapat pula
digunakan acian PC murni dan ditambah bahan perekat.
f. Bahan Keramik sebelum dipasang harus direndam dalam air bersih (tidak
mengandung asam alkali) sampai jenuh.
g. Hasil pemasangan lantai keramik harus merupakan bidang permukaan
yang benar-benar rata, tidak bergelombang, dengan memperhatikan
kemiringan di daerah basah dan teras.
h. Pola, arah dan awal pemasangan lantai Granit/Keramik harus sesuai
gambar detail atau sesuai petunjuk Perencana. Perhatikan lubang instalasi
dan drainase / bak control sebelum pekerjaan dimulai.
i. Jarak antara unit-unit pemasangan Keramik satu sama lain (siar-siar),
harus sama lebarnya, maksimum 3 mm, yang membentuk garis-garis
sejajar dan lurus yang sama lebar dan sama dalamnya, untuk siar-siar yang
berpotongan harus membentuk sudut sikut yang saling berpotongan tegak
lurus sesamanya.
j. Siar-siar diisi dengan bahan pengisi siar yang bermutu baik, dari bahan
seperti yang telah diisyaratkan di atas.
k. Pemotongan unit-unit Keramik harus menggunakan alat pemotong
keramik khusus sesuai persyaratan dari pabrik.
l. Keramik yang sudah terpasang harus dibersihkan dari segala macam noda
pada permukaan keramik, hingga betul-betul bersih.
m. Keramik yang terpasang harus dihindarkan dari sentuhan / bebanselama 3
x 24 jam dan dilindungi dari kemungkinan cacat akibat dari pekerjaan lain.
Bidang permukaan lantai harus rata, tidak terdapat retak-retak, tidak ada
lubang dan celah celah yang terjadi pada permukaan lantai, harus ditutup
dengan adukan semen pasir (tasram) sampai rata terhadap permukaan
sekelilingnya.
Persyaratan Pelaksanaan
a. Pada saat pemasangan keramik harus dalam keadaan baik, tidak retak, cacat atau
ternoda dan warna sesuai dengan yang disyaratkan. Sebelum pemasangan
dimulai, plesteran dasar,ubin, dan Keramik harus dibasahi. Pakai benang untuk
menentukan lay out, yang telah ditentukan dan pasang sebaris keramik guna jadi
patokan untuk pemasangan selanjutnya.
b. Kecuali ditentukan lain, pemasangan Keramik harus dimulai dari bawah dan
dilanjutkan ke bagian atas.
d. Jika keramik sudah terpasang, mortar yang berada di naad (joint) harus dibuang
/ dikeluarkan dengan sikat atau cara lain yang tidak merusakkan permukaan.
Mortar yang mengotori permukaan tile harus dibuang dengan kain lap basah.
e. Pemasangan tile grout (pengisian naad) harus sesuai dengan ketentuan pabrik.
a. Lingkup Pekerjaan
- Pengadaan, pemasangan dan pengujian secara sempurna unit-unit peralatan
utama yang diperlukan dalam sistim penyediaan air bersih yaitu instalansi
pemipaannya beserta alat bantunya.
- Pemasangan dan pengujian pipa-pipa distribusi kesetiap peralatan sanitasi dan
lainlain seperti yang tercantum dalam gambar.
- Pipa mengguakan jenis PVC tipe AW untuk yang bertekanan (air bersih) dan tipe
D untuk air kotor dll.
- Memperbaiki semua kerusakan, semua galian yang diakibatkan baik oleh
bobokanbobokan, galian-galian maupun oleh kecerobohan para pekerja.
- Pengujian terhadap kebocoran dan tekanan pada sistim plumbing air bersih
secara keseluruhan dan diamati sampai sistim berjalan baik sesuai yang
dikehendaki, yaitu suatu sistim instalasi yang sempurna dan terpadu.
- Pengadaan, pemasangan, pengujian mutu air dan iijin dari Instansi terkait.
- Desinfeksi
Sebelum sistim penyediaan air bersih atau bagian sistim ini dipakai
harusdilakukan cara disinfeksi yaitu: air yang ada dalam sistim dibuang lebih dulu.
a. Lingkup Pekerjaan
Pengadaan dan pemasangan kran-kran air untuk kamar mandi, dapur dan ruang
air bersih serta pemasangan kran-kran untuk closet, dan lain-lain.
c. Pengadaan dan Pemasangan Pompa-pompa Pengadaan dan pemasangan
pompa- pompa dan instalasinya, untuk pompa distribusi air bersih (Jet pump).
d. Pengadaan testing-testing dan commissioning
13.6. KRAN
a. Semua kran yang dipakai akan mengikuti SNI dan aturan yang telah ada dan
mudah didapatkan atau banyak beredar.
b. Ukuran disesuaikan keperlauan masing-masing sesuai gambar plumbing brosur
alat-alat sanitair.
c. Jetwasher yang digunakan adalah seleksi bahan yang ditentukan oleh Pengawas
sesuai dengan kebutuhan.
a. Floor drain dan clean out yang digunakan adalah floor drain sesuai dengan
kebutuhan yang dilengkapi dengan siphon dan penutup berengsel untuk floor
drain dandoperchroom dengan draad untuk clean out.
b. Floor drain yang dipasang telah diseleksi baik, tanpa cacat dan disetujui
Pengawas.
a. Tenaga
Pemasangan pekerjaan sanitair harus dilaksanakan oleh tenaga kerja yang
berpengalaman dan trampil dalam pekerjaannya dengan menunjukkan Surat
Keteranganyang pernah dikerjakan.
b. Persiapan
Sebelum mulai pemasangan pekerjaan sanitair, Kontraktor terlebih dahulu harus
memeriksa semua pekerjaan yang nantinya akan ditutup oleh pasangan
pekerjaan ini
Pekerjaan yang harus diperiksa diantaranya adalah :
▪ Pekerjaan pemasangan instalasi-instalasi
▪ Pekerjaan waterproofing
▪ Dan Iain - lain yang dianggap perlu
- Sebelum pemasangan pekerjaan sanitair, alas permukaannya harus dibuat
rata dan halus terlebih dahulu.
- Sesudah pekerjaan-pekerjaan tersebut selesai diperiksa, Kontraktor harus
meminta persetujuan Pengawas untuk melanjutkan pekerjaannya.
- Kontraktor wajib membuat gambar-gambar kerja (shop drawing) untuk
pelaksanaan yang dibuat berdasarkan gambar rencana. Ukuran-ukuran
berdasarkan dengan kondisi lapangan.
- Gambar kerja ini terlebih dahulu harus mendapat persetujuan Pengawas
c. Pelaksanaan
a. Setiap pekerjaan sanitair yang dipasang harus teliti padaposisinya dan rapat,
tidakbocor dan terjamin hubungan kerapihannya.
b. Setiap pekerjaan sanitair harus dipasang lengkap dengan accessories-nya dan
dapat berfungsi dengan sempurna, tanpa cacat.
14. PEKERJAAN MEKANIKAL ELEKTRIKAL
15.1. PERSIAPAN
atau Roll cat, biarkan primer mongering selama 3-4 jam, pastikan lapisan primer
coating telah dilakukan dengan teliti dan tidak ada yang terlewat.
d. Persiapan material: siapkan bahan membrane sesuai spesifikasi. Membrane
bakar tersedia dalam dua jenis, yaitu plan (polos) dengan ketebalan dan sanded
tebal 5 cm.
15.2. PELAKSANAAN
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16
III - III
V-V
IV-IV
ARS
ARS
ARS
A A
A'
II - II
ARS
PEMBERI TUGAS
KEGIATAN
C
C
D SUB. KEGIATAN
PEKERJAAN
E
LOKASI KEGIATAN
F
I-I
ARS
TAHUN ANGGARAN
G
DIBUAT OLEH
I
ADJI MUZIZATUL MAKBUL HASBULLAH, S.T
.........................................................
JUDUL GAMBAR :
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16
A A
A'
PEMBERI TUGAS
KEGIATAN
C C
DOWN
D SUB. KEGIATAN
PEKERJAAN
E
LOKASI KEGIATAN
TAHUN ANGGARAN
G
DIBUAT OLEH
I
ADJI MUZIZATUL MAKBUL HASBULLAH, S.T
.........................................................
JUDUL GAMBAR :
98.84
JL
98.67
JL
99.09
JL
99.16
JL
98.65 99.20
SL 99.10 JL
JL
98.67
99.16
SL
BTS
99.18
SL
99.50 99.63
BG 99.35 BTS
98.97 99.36 BTS
SL BTS 98.87 98.98 99.08
SL SL SL
99.25 99.28
99.50 99.49
SLS
SL SLS SLS 99.34
99.51 SLS
P3
99.38 99.36
BG BG
99.52 99.37
BG SLS
99.52
SLS
PEMBERI TUGAS
98.84
99.39
SL
BTS
99.51 99.50
99.45 SL BG
99.72 SL
BG
99.35
JL
99.31
98.86
SL
SL
99.29
JL
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH
DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN ANAK USIA DINI,
99.53
99.56
101.99
BGLSR
PENDIDIKAN DASAR, DAN PENDIDIKAN MENENGAH
BGBG
99.48
SL
99.48
SL
KEGIATAN
99.54
SLS
98.94 99.41 99.45
99.50 KOLOM 99.40 KOLOM SL
SLS SL 99.17
99.35 99.12 SL
99.50 SL SL
SL 99.51 99.16 99.38 99.41
SLS 99.35 SL SL SL
99.11 99.62
SL 99.36
SL SLS SL
99.36 99.38 99.39
SUB. KEGIATAN
TAMAN TAMAN TAMAN 99.54
99.50 TAMAN
SL
99.37
BG
100.03
BTS 99.51
BG
99.48 99.38
SLS TAMAN
99.65 99.37
BG TAMAN
99.36 99.37
BOX BOX
99.56
TAMAN
99.35
JL
PEKERJAAN
99.37 99.37 99.62
BOX BOX TAMAN 98.89
98.92
99.36 SL99.34
SL
SL SL 99.41
JL
99.63
BTS
99.47 99.61
99.62 99.45
C C JL JL
99.42
99.42
99.42
100.00
P1BS
P1C
P1BS
P1CEK
P1
LOKASI KEGIATAN
99.51
BTS
TAHUN ANGGARAN
99.53
99.51 JL
99.68 JL
JL 99.52
99.65
C 99.71 99.70 JL
99.68 BTS 99.68
99.21 SL
99.22
99.50 TAMAN SLSL SL
DIBUAT OLEH
99.84 99.64 C
BG BG
99.49 99.66
BG 99.44 BG
99.50 SLS
BG
99.64
BTS
99.64 99.64
99.59 99.56 SLS
99.46
BG
TB2 SLS
JL JL
99.17
99.51SL 99.51
SL SL
99.52
99.53
TB1
TB1C
99.52 99.52
99.51
BOX BOX
KOLOM
99.55
BOX
99.54
BOX
99.57
99.73 BTS
BG 99.60
BTS
BG TAMAN
99.55
BG
99.62
BTS
99.57
BTS
99.60
ADJI MUZIZATUL MAKBUL HASBULLAH, S.T
BTS
.........................................................
99.69 99.62
BTS JL
99.61
JL
99.23 99.80
99.27
100.14 SL SLSL
BTS
JUDUL GAMBAR :
DENAH TOPOGRAFI EKSISTING
SKALA
JL
100.10
99.46 99.47
SLSL 99.82
SL JL
CATATAN
N
PEMBERI TUGAS
KEGIATAN
SUB. KEGIATAN
PEKERJAAN
LOKASI KEGIATAN
TAHUN ANGGARAN
DIBUAT OLEH
JUDUL GAMBAR :
SITEPLAN EKSISTING
PEMBERI TUGAS
KEGIATAN
UP
SUB. KEGIATAN
PEKERJAAN
LOKASI KEGIATAN
TAHUN ANGGARAN
DIBUAT OLEH
JUDUL GAMBAR :
RENCANA PENGEMBANGAN LAHAN
PEMBERI TUGAS
KEGIATAN
SUB. KEGIATAN
PEKERJAAN
LOKASI KEGIATAN
TAHUN ANGGARAN
DIBUAT OLEH
JUDUL GAMBAR :
DENAH EKSISTING LANTAI 1
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16
III - III
V-V
IV-IV
ARS
ARS
ARS
A A
A'
II - II
ARS
PEMBERI TUGAS
KEGIATAN
C
C
D SUB. KEGIATAN
PEKERJAAN
E
LOKASI KEGIATAN
F
I-I
ARS
TAHUN ANGGARAN
G
DIBUAT OLEH
I
ADJI MUZIZATUL MAKBUL HASBULLAH, S.T
.........................................................
JUDUL GAMBAR :
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16
A A
A'
PEMBERI TUGAS
KEGIATAN
C C
DOWN
D SUB. KEGIATAN
PEKERJAAN
E
LOKASI KEGIATAN
TAHUN ANGGARAN
G
DIBUAT OLEH
I
ADJI MUZIZATUL MAKBUL HASBULLAH, S.T
.........................................................
JUDUL GAMBAR :
2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16
A A
A'
PEMBERI TUGAS
KEGIATAN
C C
D SUB. KEGIATAN
PEKERJAAN
E
LOKASI KEGIATAN
TAHUN ANGGARAN
G
DIBUAT OLEH
JUDUL GAMBAR :
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16
A A
III - III
ARS
I-I
ARS
II - II
ARS
A'
PEMBERI TUGAS
KEGIATAN
C
C
D SUB. KEGIATAN
PEKERJAAN
E
IV-IV
LOKASI KEGIATAN
ARS
TAHUN ANGGARAN
G
DIBUAT OLEH
I
ADJI MUZIZATUL MAKBUL HASBULLAH, S.T
.........................................................
JUDUL GAMBAR :
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16
A A
A'
PEMBERI TUGAS
KEGIATAN
C C
DOWN
D SUB. KEGIATAN
PEKERJAAN
E
TAHUN ANGGARAN
G
DIBUAT OLEH
I
ADJI MUZIZATUL MAKBUL HASBULLAH, S.T
.........................................................
JUDUL GAMBAR :
2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16
A A
A'
PEMBERI TUGAS
KEGIATAN
C C
D SUB. KEGIATAN
PEKERJAAN
E
LOKASI KEGIATAN
TAHUN ANGGARAN
G
DIBUAT OLEH
JUDUL GAMBAR :
1
ARS
2
ARS
3
ARS
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16
ARS
A 3 3
A
ARS ARS
ARS
ARS
ARS
3
3
3 3
ARS ARS
ARS
3
ARS ARS
1 3
A'
1
ARS
ARS
ARS
1
ARS
ARS
1
2
PEMBERI TUGAS
KEGIATAN
C
ARS
C
1
D
1
SUB. KEGIATAN
ARS
ARS
ARS
1
ARS ARS
PEKERJAAN
1 1
E
3 1 1
ARS ARS ARS
LOKASI KEGIATAN
TAHUN ANGGARAN
G
DIBUAT OLEH
ARS
ARS
1
H ARS
I
ADJI MUZIZATUL MAKBUL HASBULLAH, S.T
.........................................................
JUDUL GAMBAR :
1
ARS
2
ARS
3
ARS
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16
ARS
ARS ARS ARS ARS
1 1 1 1 1
A 3 3
A
1 1 1 1 ARS ARS
ARS
ARS
ARS
ARS
3
3
3 3
ARS ARS
ARS
3
ARS
1
ARS
A'
1
ARS
ARS
ARS
ARS
ARS
ARS
ARS
ARS
ARS
1
ARS
ARS
1
1
PEMBERI TUGAS
ARS
ARS
1
2
ARS
1
ARS
1
ARS
1
ARS
1
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH
B B DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN ANAK USIA DINI,
1
ARS
1
ARS
1
ARS
1
ARS PENDIDIKAN DASAR, DAN PENDIDIKAN MENENGAH
Jl. Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta 10270
ARS
ARS
1
1
ARS
1
ARS
1
ARS
1
ARS
1
ARS
1
ARS
1
ARS
1
ARS
1
ARS
1
KEGIATAN
C C
1 1 1 1 1 1 1 1 1
ARS ARS ARS ARS ARS ARS ARS ARS ARS
ARS
ARS
1
ARS ARS
1 1
D
1 1
SUB. KEGIATAN
ARS ARS
ARS
ARS
1
PEKERJAAN
E
LOKASI KEGIATAN
ARS
ARS
ARS
ARS
ARS
ARS
1
TAHUN ANGGARAN
ARS
ARS
1
ARS ARS
G
1 1
DIBUAT OLEH
1 1
ARS ARS
I
ADJI MUZIZATUL MAKBUL HASBULLAH, S.T
.........................................................
JUDUL GAMBAR :
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16
A A
A'
PEMBERI TUGAS
KEGIATAN
C
C
D SUB. KEGIATAN
PEKERJAAN
E
LOKASI KEGIATAN
TAHUN ANGGARAN
G
DIBUAT OLEH
I
ADJI MUZIZATUL MAKBUL HASBULLAH, S.T
.........................................................
JUDUL GAMBAR :
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16
A A
A'
PEMBERI TUGAS
KEGIATAN
C C
D SUB. KEGIATAN
PEKERJAAN
E
LOKASI KEGIATAN
TAHUN ANGGARAN
G
DIBUAT OLEH
I
ADJI MUZIZATUL MAKBUL HASBULLAH, S.T
.........................................................
JUDUL GAMBAR :
PEMBERI TUGAS
KEGIATAN
SUB. KEGIATAN
LOKASI KEGIATAN
TAHUN ANGGARAN
DIBUAT OLEH
JUDUL GAMBAR :
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16
II - II
ARS
A A
I-I
ARS
A'
PEMBERI TUGAS
KEGIATAN
C C
D SUB. KEGIATAN
PEKERJAAN
E
LOKASI KEGIATAN
TAHUN ANGGARAN
G
DIBUAT OLEH
I
ADJI MUZIZATUL MAKBUL HASBULLAH, S.T
.........................................................
JUDUL GAMBAR :
II - II
ARS
2 3 4 5
PEMBERI TUGAS
I-I
ARS
KEGIATAN
SUB. KEGIATAN
PEKERJAAN
ISOMETRI PASANGAN PLAFOND PVC
LOKASI KEGIATAN
TAHUN ANGGARAN
B
DIBUAT OLEH
DENAH DROP PLAFOND AS (A - C / 2 - 3)
JUDUL GAMBAR :
DETAIL POTONGAN II - II
DIGAMBAR NO. GAMBAR
DETAIL POTONGAN I - I DIPERIKSA
TANGGAL
SKALA