BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam penelitian kuantitatif, peneliti akan menggunakan instrumen untuk
mengumpulkan data, sedangkan dalam penelitian kualitatif-naturalistik,
peneliti akan lebih banyak menjadi instrumen, karena dalam penelitian
kualitatif peneliti merupakan key instruments.
Instrumen penelitian digunakan untuk mengukur nilai variabel yang
diteliti. Dengan demikian jumlah instrumen yang akan digunakan untuk
penelitian akan tergantung pada jumlah variabel yang akan diteliti. Instrumen
Penelitian digunakan untuk melakukan pengukuran dengan tujuan
menghasilkan data kuantitatif yang akurat, maka setiap instrumen harus
mempunyai skala.
Ada tiga domain tujuan pembelajaran menurut Benjamin S.
Bloom,Krathwohl dan Masia yaitu domain kognitif, afektif dan psikomotor.
Mengingat untuk mengetahui ketercapaian tujuan tersebut adalah melalui
evaluasi, makaberarti evaluasi pun dilakukan untuk mengukur ketercapaian
ketiga domaintersebut. Dalam implementasinya, evaluasi tersebut memerlukan
yang namanyainstrumen. Dengan kata lain jika seorang guru/dosen akan
melakukan evaluasi,maka terlebih dahulu guru/dosen tersebut harus menyusun
instrumen [Link] dengan instrumen evaluasi domain kognitif dan
psikomotor, instrumenevaluasi domain afektif perlu dirancang sedemikian rupa
sehingga dapatmengukur kemampuan yang berkenaan dengan perasaan, emosi,
sikap/derajatpenerimaan atau penolakan suatu objek. Dilihat dari bentuk
instrumen danpernyataan yang dikembangkan dalam instrumen, maka kita
mengenal berbagai bentuk skala sikap yang dapat digunakan dalam pengukuran bidang
pendidikanyaitu: skala Likert, skala Guttman, skala Semantic
Differential, Rating scale, dan skala Thurstone.
1
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas dapat dirumuskan
masalah sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud skala sikap?
2. Apa saja bentuk-bentuk skala sikap?
C. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penulisan sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui tentang skala sikap.
2. Untuk mengetahui bentuk-bentuk skala sikap.
2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Skala Sikap
Skala pengukuran adalah kesepakatan yang digunakan sebagai acuan atau
tolak ukur untuk menentukan panjang pendeknya interval yang ada pada alat
ukur sehinga alat ukur tersebut bila digunakan dalam pengukuran akan
menghasilkan data.
Menurut Allen L. Eward sikap adalah afeksi positif atau negatif yang
berhubungan dengan beberapa objek psikologis. Sikap sebagai suatu kesatuan
kognisi yang mempunyai valensi dan akhirnya berintegrasi ke dalam pola yang
lebih luas. Dari sudut motivasi, sikap merupakan suatu keadaan kesediaan
untuk bangkitnya motif. Sikap belum merupakan tindakan/aktivitas, melainkan
berupa kecenderungan (tendency) atau predisposisi tingkah laku.
Sikap pada hakikatnya adalah kecenderungan seseorang berperilaku. Sikap
juga dapat diartikan rekasi seseorang terhadap stimulus yang datang pada
dirinya. Sikap secara umum didefinisikan sebagai pengaruh atau penolakan,
penilaian, suka atau tidak suka, atau kepositifan atau kenegatifan terhadap
suatu obyek psikologis. Sikap merupakan komponen penting dalam jiwa
manusia yang akan mempengaruhi perilaku seseorang. Sikap mempengaruhi
segala keputusan yang kita ambil maupun yang kita pilih. Sikap kita akan
mempengaruhi siapa teman hidup yang kita pilih, baju kita sukai, hobi yang
akan kita tekuni. Singkatnya, sikap mempengaruhi kehidupan kita sehari-hari.
Pengaruh sikap yang kuat dalam kehidupan sehari-hari manusia mendorong
banyak peneliti dan praktisi dalam pendidikan dan ilmu sosial meneliti tentang
sikap, baik pembentukan dan perubahannya maupun pengaruh sikap terhadap
perilaku manusia. Penelitian tentang sikap memang tidak mudah, karena sikap
merupakan variabel yang abstrak. Pengukuran sikap seseorang tentu berbeda
dengan pengukuran tekanan darah, di mana pengukuran tekanan darah dapat
secara obyektif diukur dan mudah dilakukan.
3
Menurut George J. Mouly (1967) sikap memiliki tiga komponen :
1. Komponen afektif --- kehidupan emosional individu, yakni perasaan tertentu
(positif atau negatif) yang mempengaruhi penerimaan atau penolakan
terhadap objek sikap, sehingga timbul rasa senang-tidak senang, takun-tidak
takut.
2. Komponen kognitif --- aspek intelektual yang berhubungan dengan bilief,
idea atau konsep terhadap objek sikap.
3. Komponen behavioral --- kecenderungan individu untuk bertingkah laku
tententu terhadap objek sikap.
Sikap dapat diukur dengan menggunakan metode dan teknik, salah satunya
yang akan dibahas yaitu menggunakan skala sikap. Skala sikap merupakan
metode atau teknik yang berupa sejumlah pertanyaan sikap tentang sesuatu
yang jawabanya dinyatakan secara berskala. Skala sikap digunakan untuk
mengukur sikap seseorang terhadap objek tertentu. Hasilnya berupa kategori
sikap, yakni mendukung, menolak atau netral.
B. Model-Model Skala Sikap
Dilihat dari bentuk instrumen dan pernyataan yang dikembangkan dalam
instrumen, maka kita mengenal berbagai bentuk skala sikap yang dapat
digunakan untuk menilai sikap seseorsang terhadap suatu objek yaitu:
1. Skala Linkert
Skala Linkert adalah skala yang dikembangakan oleh Linkert. Skala Linkert
memiliki empata atau lebih butir-butir pertanyaan yang dikombinasikan
sehingga memebentuk sebuah skor atau nilai yang mempresentasikan sifat
individu, misalkan pengetahuan, sikap, dan perilaku. Dalam proses analisis
data, komposit skor, biasanya jumlah atau rataan dari semua butir pertanyaan
dapat digunakan.
Skala Linkert adalah suatu skala psikometrik yang umum digunakan dalam
kuisoner, dan skala yang paling banyak digunakan dalam riset berupai survei.
Nama skala ini diambil dari nama Resis Linkert, yang menerbitkan suatu
laporan yang menjelaskan penggunaannya. Saat menjawab pertanyaan-
4
pertanyaan dalam skala Linkert, responden menentukan tingkat persetujuan
mereka terhadap suatu pertanyaan dengan memilih salah satu dari pilihan yang
[Link] disediakan lima pilihan skala dengan format sebagai berikut:
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak Setuju
e. Sangat Tidak Setuju
Skala Likert kerap digunakan sebagai skala penilaian karena memberi nilai
terhadap sesuatu. Instrumen penelitian yang menggunakan skala likert dapat
dibuat dalam bentuk checklist ataupun pilihan ganda. Untuk keperluan analisis
kuantitatif, skala jawaban pada skala likert dapat diberi skor misalnya:
a. Sangat Setuju (SS) diberi skor 5
b. Setuju (ST) diberi skor 4
c. Ragu-ragu (RG) diberi skor 3
d. Tidak Setuju (TS) diberi skor 2
e. Sangat Tidak Setuju (STS) skor 1
Prinsip pokok skala Linkert adalah menentukan lokasi kedudukan seseorang
dalam suatu kontinum sikap terhadap objek sikap, mulai dari sangat negatif
sampai dengan sangat positif. Penentuan lokasi itu dilakukan dengan
mengkuantifikasi pernyataan seseorang terhadap butir pernyataan yang
disediakan. Skala Linkert menggunakan skala dengan lima angka. Skala 1
(satu) berarti sangat negatif dan skala 5 (lima) berarti sangat positif.
Contoh bentuk centang :
Berilah jawaban atas pertanyaan berikut sesuai dengan pendapat Anda
dengan memberi tanda centang (√) pada kolom yang tersedia
5
Jawaban
No. Pertanyaan
SS ST RG TS STS
1. Sekolah ini akan menggunakan √
teknologi informasi dalam
pelayanan administrasi dan
akademik
2. .............................................
Keterangan : SS = Sangat Setuju, ST = Setuju, RG = Ragu-ragu, TS = Tidak
Setuju, STS = Sangat Tidak Setuju.
Contoh bentuk pilihan ganda :
Berilah jawaban atas pertanyaan berikut sesuai dengan pendapat Anda dengan
memberi tanda silang pada huruf jawaban yang tersedia.
1. Kurikulum baru itu akan segera diterapkan di lembaga pendidikan Anda?
a. Sangat tidak setuju
b. Tidak setuju
c. Ragu-ragu
d. Setuju
e. Sangat setuju
2. Skala Thurstone
Skala Thurstone adalah skala yang disusun dengan memilih butir yang
berbentuk skala interval. Setiap butir memiliki kunci skor dan jika diurut, kunci
skor menghasilkan nilai yang berjarak sama. Skala Thurstone dibuat dalam
bentuk sejumlah (40-50) pernyataan yang relevan dengan variable yang hendak
diukur kemudian sejumlah ahli (20-40) orang menilai relevansi pernyataan itu
dengan konten atau konstruk yang hendak diukur. Skala sikap ini merupakan
skala sikap yang pertama dikembangkan dalam pengukuran sikap. Adapun
contoh skala penilaian model Thurstone adalah seperti gambar di bawah ini.
6
Nilai 1 pada skala di atas menyatakan sangat tidak relevan, sedangkan nilai
11 menyatakan sangat relevan. Pembuatan skala Thurstone dapat dilakukan
dengan langkah-langkah seperti berikut:
a. Mengumpulkan sejumlah pernyataan misalnya 50-100 tingkatan yang mere-
presentasikan secara luas perbedaan tingkat, disenangi, netral, dan tidak
disenangi terhadap suatu objek atau subjek yang hendak diteliti.
b. Pernyataan ini diberikan pada sejumlah responden misal 50 orang atau lebih
yang cukup mengenal terhadap objek atau subjek agar dapat memilih ke
dalam 11 tingkatan kategori tersebut. Kategori A terdiri atas pernyataan
yang dianggap disenangi atau favorit, E F netral, dan J K merupakan
kategori tidak disenangi atautidak favorit.
c. Klasifikasi pernyataan ke dalam kategori, dengan pertimbangan penilaian
terhadap objek atau subjek secara psikologis, tetapi hanya merefleksikan
persepsi mereka terhadap kategori pernyataan yang disediakan.
d. Pernyataan yang nilainya menyebar dibuang, dan pernyataan yang
mempunyai nilai bersamaan digunakan untuk pembuatan skala. Skor tinggi
pada skala berarti mereka memiliki tingkat prasangka terhadap sifat yang
ingin diteliti. Skor terendah berarti responden mempunyai sifat favorit
terhadap sifat yang ingin diteliti.
Skala Thurstone tidak terlalu banyak digunakan sebagai instrumen di bidang
pendidikan karena model ini mempunyai beberapa kelemahan yang di
antaranya seperti berikut.
a Memerlukan terlalu banyak pekerjaan untuk membuat skala.
b Nilai pada skala yang telah dibuat memungkinkan pada skor sama
mempunyai sikap berbeda.
7
c Nilai yang dibuat dipengaruhi oleh sikap para juri atau penilai. d.
Memerlukan tim penilai yang objektif.
3. Skala Guttman
Skala Guttman sering pula disebut sebagai teknik kumulatif. Guttman
mengembangkan teknik ini guna mengatasi problem yang dihadapi oleh Likert
maupun Thurstone. Di samping itu, skala Guttman mempunyai asumsi bahwa
dasar dari fakta di mana beberapa item di bawah pertimbangan yang harus
dibuktikan menjadi petunjuk kuat satu variabel dibanding variabel lainnya.
Teknik tersebut dilihat dari sifat-sifatnya sebagai skala yang memiliki
dimensi tunggal. Tujuan utama pembuatan skala model ini pada prinsipnya
adalah untuk menentukan, jika sikap yang diteliti benar-benar mencakup satu
dimensi. Sikap dikatakan berdimensi tunggal bila sikap tersebut menghasilkan
skala kumulatif. Bila ia setuju dengan pernyataan pada nomor urut tertentu,
maka diasumsikan juga setuju dengan pernyataan sebelumnya dan tidak setuju
dengan pernyataan sesudahnya.
Sebagai contoh, jika seorang responden yang setuju terhadap item 2, maka
ia berarti juga setuju terhadap item nomor 1, sedangkan seorang responden
yang setuju dengan item 3 juga berarti ia setuju pada item nomor 2 dan 1 dan
seterusnya. Dengan kata lain, seseorang yang setuju pada item tertentu dalam
tipe skala akan mempunyai skor yang lebih tinggi pada skala total dari pada
seseorang yang tidak setuju pada item tersebut.
Contoh pertanyaannya:
1. Saya mengizinkan adik saya bermain ke tetangga.
2. Saya mengizinkan adik saya pergi ke mana ia mau.
3. Saya mengizinkan adik saya pergi kapan saja dan ke mana saja.
4. Adik saya bebas pergi ke mana saja tanpa minta izin terlebih dahulu.
Bila responden setuju dengan petnyataan nomor 3 misalnya, maka dianggap
setuju dengan pernyataan nomor 1 dan 2 serta tidak setuju dengan pernyataan
nomor 4.
8
Ketika membuat skala kumulatif, seorang peneliti harus menentukan,
pertama, apakah semua item membentuk skala berdimensi tunggal. Untuk
mencapai hal tersebut, perlu dapat menganalisis reproduksi jawaban, yaitu
proporsi prediksi kemudian dibuat dengan menggunakan jawaban item-item
utama. Kemudian bentuk jawaban yang sebenarnya dipelajari, dan pengukuran
dibuat dengan mempertim¬bangkan respons yang reproduktif terhadap skor
total. Skala Guttman mungkin merupakan teknik skala pengukuran yang paling
populer dan banyak digunakan pada penelitian sosial.
Skala pengukuran dengan tipe ini akan juga bisa didapat jawaban yang tegas
yaitu : benar-salah, pernah-tidak pernah, ya-tidak. Skala ini dapat dibuat
dengan bentuk centang maupun pilihan ganda. Skala ini dipakai bila ingin
mendapat jawaban yang tegas terhadap suatu permasalahan yang ditanyakan
Contoh :
1. Apakah Anda setuju bila si A menjadi ketua osis di sekolah ini
a. Ya
b. Tidak
4. Semantik Differensial
Teknik pengukuran ini diperkenalkan oleh Charles Osgood yang menekankan
pada aspek semantik sebuah kata. Skala semantic differential adalah skala untuk
mengukur sikap, tetapi bentuknya bukan pilihan ganda maupun checklist,
tetapi tersusun dalam satu garis kontinum di mana jawaban yang sangat positif
terletak dibagian kanan garis, dan jawaban yang sangat negatif terletak
dibagian kiri garis, atau sebaliknya. Data yang diperoleh melalui pengukuran
dengan skala semantic differential dalah data interval. Skala bentuk ini
biasanya digunakan untuk mengukursikap atau karakteristik tertentu yang
dimiliki seseorang. Teknik Semantic Differential merupakan penyempurnaan
dari skala Likert yang tidak mampu menjangkaurespon yang bersifat multi
dimensi, misalnya sikap terhadap standar nilai UAN. Instrument yang disusun
oleh Osgood ini mengukur konsep-konsep untuk tiga dimensi. Dimensi –
dimensi yang ada diukur dalam kategori : menyenangkan-membosankan, sulit-
9
mudah, baik-tidak baik, kuat-lemah, berguna-tidak berguna, dan sebagainya.
Contohnya sebagai berikut:
Bagaimana gaya kepemimpinan ketua tingkat Anda
Bersahabat 7 6 5 4 3 2 1 Bermusushan
Tepat waktu 7 6 5 4 3 2 1 Tidak tepat waktu
Jujur 7 6 5 4 3 2 1 Berbohong
Cerdas 7 6 5 4 3 2 1 Bodoh
Demokratis 7 6 5 4 3 2 1 Otoriter
Responden dapat memilih jawaban, dengan rentang jawaban yang positif
sampai negatif. Hal ini tergantung persepsi responden kepada yang dinilai.
Responden yang member penilaian angka 7, berarti persepsi terhadap gaya
kepemimpinan kepala sekolah adalah sangat positif; sedangkan responden yang
memberikan penilaian angka 1 persepsi kepemimpinan kepala sekolah adalah
sangat negative.
5. Rating Scale
Dalam rating Scale, data mentah yang diperoleh berupa angka kemudian
ditafsirkan dalam pengertian kualitatif. Responden menjawab, senang atau
tidak senang, setuju atau tidak setuju, pernah atau tidak pernah adalah
merupakan data kualitatif. Dalam skala model Rating Scale, responden tidak
akan menjawab salah satu dari jawaban kualitatif yang telah disediakan, tetapi
menjawab salah satu jawaban kuantitatif yang telah disediakan. Oleh karena itu
Rating Scale ini lebih fleksibel, tidak terbatas untuk pengukuran sikap saja
tetapi untuk mengukur persepsi responden terhadap fenomena lainnya, seperti
skala untuk mengukur status sosial ekonomi, pengetahuan, kemampuan, dan
[Link] penting dalam Rating Scale adalah harus dapat mengartikan
setiap angka yang diberikan pada alternatif jawaban pada setiap item
instrumen. Orang tertentu memilih jawaban angka 2, tetapi angka 2 oleh orang
tertentu belum tentu sama maknanya dengan orang lain yang juga memilih
10
jawaban dengan angka 2. Contoh “Beri tanda silang (x) pada angka yang sesuai
dengan penilaian Anda terhadap pelayanan PT. X !”
Sangat Sangat
buruk baik
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Rating Scale adalah alat pengumpul data yang digunakan dalam observasi
untuk menjelaskan, menggolongkan, menilai individu atau situasi. Rating
Scale merupakan sebuah daftar yang menyajikan sejumlah sifat atau sikap
sebagai butir-butir atau item. Dari beberapa pendapat tersebut, dapat
disimpulkan pengertian Rating Scale adalah salah satu alat untuk memperoleh
data yang berupa suatu daftar yang berisi tentang sifat/ciri-ciri tingkah laku
yang ingin diselidiki yang harus dicatat secara bertingkat.
Penilaian yang diberikan oleh observer berdasarkan observasi spontan
terhadap perilaku orang lain, yang berlangsung dalam bergaul dan
berkomunikasi sosial dengan orang itu selama periode waktu tertentu. Unsur
penilaian terdapat dalam pernyataan pandangan pribadi dari orang yang
menilai subyek tertentu pada masing-masing sifat atau sikap yang tercantum
dalam [Link] itu dituangkan dalam bentuk penentuan gradasi antara
sedikit sekali dan banyak sekali atau antara tidak ada dan sangat ada.
Karena penilaian yang diberikan merupakan pendapat pribadi dari pengamat
dan bersifat subyektif, skala penilaian yang diisi oleh satu pengamat saja tidak
berarti untuk mendapatkan gambaran yang agak obyektif tentang orang yang
dinilai. Untuk itu dibutuhkan beberapa skala penilaian yang diisi oleh beberapa
orang, yang kemudian dipelajari bersama-sama untuk mendapatkan suatu
diskripsi tentang kepribadian seseorang yang cukup terandalkan dan sesuai
dengan kenyataan.
a. Kegunaan Pemakaian Rating Scale
Hasil observasi dapat dikuantifikasikan beberapa pengamat menyatakan
penilaiannya atas seorang siswa terhadap sejumlah alat/sikap yang sama
11
sehingga penilaian-penilaian itu (ratings) dapat dikombinasikan untuk
mendapatkan gambaran yang cukup terandalkan.
b. Kesalahan-kesalahan dalam Rating Scale
1) Pengamat membuat generalisasi mengenai sikap atau sifat seseorang
karena bergaul akrab dengan siswa
2) Pengamat tidak berani untuk memberikan penilaian sangat baik atau
sangat kurang dan karena itu menilai suatu item dalam daftar pada
gradasi cukupan (error ofcentral tendency ).
3) Pengamat membiarkan dirinya terpengaruh oleh penilaiannya terhadap
satu dua sikap atau sifat yang dinilai sangat baik atau sangat kurang,
sehingga penilaiannya terhadap item lain cenderung jatuh pula pada
gradasi sangat baik atau sangat kurang (halloeffect ). Misalnya bila guru
sudah mempunyai kesan negatif terhadap seorang siswa A yang
penampilannya kurang menarik dan kemudian memilih gradasi kurang
pada item-item yang lain.
4) Pengamat tidak menangkap maksud dari butir-butir dalam daftar dan
kemudian mengartikannya menurut interprestasi sendiri ( logical error )
5) Pengamat kurang memisahkan jawaban terhadap butir yang satu dari
jawaban terhadap butir yang lain ( carry over effect ).
c. Bentuk-bentuk Rating Scale
Terdapat beberapa bentuk rating scale antara lain :
1) Skala Numerik/Kuantitatif
Skala ini menggunakan angka-angka ( skor-skor ) untuk menunjukan
gradasi-gradasi, disertai penjelasan singkat pada masing-masing angka.
2) Skala Penilaian Grafis
Skala menggunakan suatu garis sebagai [Link]-gradasi ditunjuk
pada garis itu dengan menyajikan deskripsi-deskripsi singkat di bawah
garisnya Pengamat memberikan tanda silang di garis pada tempat yang
sesuai dengan gradasi yang dipilih.
12
3) Daftar Cek
Skala ini mempunyai item dalam tes hasil belajar, bentuk obyektif dengan
type pilihan berganda ( multiple choice ). Pada masing-masing sifat atau
sikap yang harus dinilai, disajikan empat sampai lima pilihan dengan
deskripsi singkat pada masing-masing pilihan. Pengamat memberikan tanda
cek pada pilihan tertentu di ruang yang disediakan.
Contoh: Seberapa baik ruang kerja yang ada di perusahaan anda?
Beri jawaban angka :
4 bila tata ruang itu sangat baik
3 bila tata ruang itu cukup baik
2 bila tata ruang itu kurang baik
1 bila tata ruang itu sangat tidak baik
Jawablah dengan melingkari nomor jawaban yang tersedia :
No Pertanyaan tata ruang kantor Interval
item jawaban
1 Penataan meja kerja sehingga arus kerja menjadi 4 3 2 1
pendek,
.2 Pencahayaan alam tiap ruangan 4 3 2 1
3 ……………………….
13
14