BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penyakit diare sampai saat ini masih menjadi salah satu penyebab
morbiditas dan mortalitas pada anak di bawah usia lima tahun (balita) di
seluruh dunia. World Health Organization (WHO) pada 2017 menyebutkan
bahwa setiap tahunnya terdapat 1,7 miliar kasus penyakit diare pada anak-
anak dan 525.000 anak balita meninggal karena diare1. United Nation’s
Children Fund (2018), menyebutkan bahwa pada tahun 2016 diare menjadi
penyebab kematian pada balita dengan lebih dari 1.300 anak setiap harinya
atau sekitar 480.000 anak per tahun2. Data pada tahun 2020 menunjukkan
bahwa dari semua jumlah penyebab kematian pada anak di bawah usia lima
tahun (balita) diare masih menjadi masalah utama penyebab kematian
dengan persentase sebesar 14,5%3.
Berdasarkan data dari WHO pada tahun 2018 menunjukkan bahwa
persentase kejadian diare pada balita di Indonesia mencapai 11% dengan
93.619 kasus2. Data dari Kemenkes RI pada tahun 2019 menunjukkan
bahwa pervalensi kejadian diare masih tinggi dan mengalami peningkatan
pada tahun 2019 menjadi 40% atau 1.591.944 kasus dari sebelumnya pada
tahun 2018 yaitu 37,88% atau sekitar 1.516.463 kasus3. Selain itu,
Riskesdas pada tahun 2018 melaporkan bahwa proporsi kejadian diare di
Indonesia paling banyak terjadi pada kelompok balita dengan umur 1-4
tahun (11,5%) dari semua kelompok umur yang ada4. Diare merupakan
penyakit endemis di Indonesia dan dapat berpotensi menimbulkan Kejadian
1
2
Luar Biasa (KLB) yang disertai dengan kematian pada balita. Menurut
Kemenkes RI pada tahun 2018, Angka kematian (CFR) pada saat terjadi
KLB karena penyakit diare pada tahun 2018 (CFR 4,76%) mengalami
peningkatan dibandingkan dengan tahun 2017 (CFR 1,97%). Pada tahun
2018 KLB karena penyakit diare terjadi 10 kali di Indonesia dengan jumlah
penderita 765 orang dan kematian sebanyak 36 orang (CFR 4,76%) yang
tersebar di 8 provinsi dan 8 kabupaten/kota. Angka kematian (CFR) saat
terjadi KLB karena penyakit diare masih cukup tinggi (>1%) dan belum
sesuai dengan harapan yaitu <1%5.
Diare dapat berdampak buruk bagi balita diantaranya adalah
mengakibatkan dehidrasi, masalah status gizi, rendahnya kadar gula darah
dalam tubuh, hipokalemia, dan masalah pernafasan 6. Penyebab utama
kematian balita akibat kejadian diare yaitu karena dehidrasi akibat
kehilangan banyak cairan dan elektrolit melalui tinja 7. Kebijakan yang
ditetapkan oleh pemerintah dalam upaya menurunkan angka kesakitan dan
kematian karena penyakit diare pada balita antara lain yaitu penggunaan
oralit sesuai dengan Lintas Diare (Lima Langkah Tuntaskan Diare) dan
penggunaan Zink selama 10 hari berturut-turut8.
Menurut H.L Bloom terdapat 4 faktor penyebab timbulnya penyakit
yang memengaruhi derajat kesehatan masyarakat yaitu lingkungan,
perilaku, pelayanan kesehatan, dan keturunan keluarga. Kejadian diare pada
balita salah satunya bergantung pada perilaku ibu9. Lawrence Green (1991)
dalam Notoatmodjo (2014) merumuskan bahwa perilaku dalam faktor
3
predisposisi salah satunya dipengaruhi oleh pengetahuan dan sikap.
Pengetahuan ibu tentang diare sangat berperan penting memengaruhi sikap
ibu dalam mengambil keputusan yang tepat ketika anak mengalami diare10.
Rendahnya tingkat pengetahuan ibu tentang diare dan penanganan
yang kurang baik dapat menyebabkan ibu tidak dapat melakukan upaya
pencegahan dan penanganan diare pada anak secara optimal11. Berdasarkan
penelitian Patria (2020) disimpulkan bahwa ada hubungan antara
pengetahuan dengan sikap ibu dalam penanganan diare pada anak balita usia
6 – 59 bulan, hal tersebut menunjukkan bahwa ibu dengan pengetahuan
yang baik cenderung mempunyai sikap yang mendukung dalam penanganan
diare pada anak12. Penelitian yang dilakukan Dewi (2018), menunjukkan
bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan ibu dengan
kejadian diare (ρ value = 0,001) dan sikap ibu dengan kejadian diare (ρ value
= 0,001)13.
Di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, diare termasuk ke dalam
10 besar penyakit yang paling banyak dijumpai kasusnya yang mana hal
tersebut ditunjukan dengan tingginya angka penderita diare setiap tahunnya
di wilayah Puskesmas Kabupaten/Kota. Penderita diare di DIY masih
tergolong tinggi, pada tahun 2019 terdapat 66.698 kejadian kasus atau
82,8% dengan kasus pada balita sebesar 28,3%, kemudian pada tahun 2020
kasus diare pada balita mengalami peningkatan menjadi 29,2%14.
Kota Yogyakarta merupakan salah satu kota di Provinsi DIY dengan
pervalensi diare yang cukup tinggi yang mana menurut profil kesehatan
4
Indonesia bahwa cakupan penderita diare adalah 10% dari jumlah balita.
Data Dinas Kota Yogyakarta pada tahun 2020 menyebutkan bahwa kasus
yang ditemukan di Kota Yogyakarta selama tahun 2020 sebanyak 5.288
kasus dari semua kelompok umur yang ada dengan persentase kasus diare
pada balita sebanyak 12,3% atau 864 kasus yang artinya masih belum
memenuhi target. Dilaporkan jumlah kasus diare balita tertinggi di Kota
Yogyakarta pada tahun 2020 terjadi di wilayah kerja Puskesmas
Mantrijeron yaitu sebanyak 21% atau 114 kasus15.
Berdasarkan hasil wawancara dan observasi yang dilakukan
terhadap 10 ibu yang mempunyai balita di wilayah kerja Puskesmas
Mantrijeron, mengatakan bahwa 70% ibu kurang mengetahui tentang diare
meliputi pengertian diare, penyebab diare, dampak diare, pencegahan diare,
dan penanganan diare pada anak. Dampak kurangnya pengetahuan ibu
tentang diare akan memengaruhi sikap yang akan dilakukan ibu ketika anak
mengalami diare. Berdasarkan data dan penjelasan di atas peneliti tertarik
untuk melakukan penelitian menegnai hubungan antara tingkat pengetahuan
dan sikap ibu balita tentang diare dengan kejadian diare pada balita di
wilayah kerja Puskesmas Mantrijeron.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan data yang terpapar di bagian pendahuluan
menunjukkan bahwa masih diare masih menjadi penyebab kematian pada
anak di bawah usia lima tahun di Indonesia. WHO menyebutkan setiap
tahunnya terdapat 1,7 miliar kasus kejadian diare pada anak dan 525.000
5
anak meninggal karena diare. Kemenkes RI dalam Profil Kesehatan
Indonesia tahun 2019, menyebutkan pervalensi kejadian diare di Indonesia
pada balita sebesar 40% dan pada tahun 2020 angka kejadian diare pada
balita di Provinsi DIY sebesar 29,2 %. Diare pada balita di sebabkan oleh
beberapa faktor, salah satu faktor yang paling dominan adalah faktor
pengetahuan ibu. Pengetahuan ibu tentang diare akan memengaruhi sikap
ibu dalam mengambil keputusan ketika anak mengalami diare. Berdasarkan
uraian diatas, perumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Adakah
hubungan antara tingkat pengetahuan dan sikap ibu balita tentang diare
dengan kejadian diare pada balita di wilayah kerja Puskesmas
Mantrijeron?”.
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Diketahuinya hubungan antara tingkat pengetahuan dan sikap ibu
balita tentang diare dengan kejadian diare pada balita di wilayah kerja
Puskesmas Mantrijeron.
2. Tujuan Khusus
a. Diketahuinya proporsi responden berdasarkan karakteristik umur
ibu dan tingkat pendidikan ibu balita di wilayah kerja Puskesmas
Mantrijeron.
b. Diketahuinya tingkat pengetahuan ibu balita tentang diare dengan
kejadian diare pada balita di wilayah kerja Puskesmas Mantrijeron.
6
c. Diketahuinya sikap ibu balita tentang diare dengan kejadian diare
pada balita di wilayah kerja Puskesmas Mantrijeron.
D. Ruang Lingkup
Ruang lingkup penelitian kebidanan ini dibatasi pada pembahasan
tingkat pengetahuan dan sikap ibu dengan kejadian diare pada balita.
E. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya bukti empiris
mengenai hubungan tingkat pengetahuan dan sikap ibu balita tentang
diare dengan kejadian diare pada balita.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi ibu dengan anak balita di wilayah kerja Puskesmas Mantrijeron
Informasi yang diperoleh diharapkan dapat meningkatkan
kesadaran ibu untuk memperdalam pengetahuan tentang diare
sebagai dasar pembentukan sikap yang baik dan tepat sebagai upaya
untuk meningkatkan derajat kesehatan anaknya.
b. Bagi kader kesehatan balita di wilayah kerja Puskesmas Mantrijeron
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai
tambahan informasi dan masukan dalam meningkatkan pengetahuan
ibu sebagai dasar pembentukan sikap positif ibu dengan melakukan
berbagai kegiatan promosi kesehatan sebagai upaya peningkatan
derajat kesehatan pada balita terutama terkait dengan masalah diare.
7
c. Bagi peneliti lain
Peneitian ini diharapkan dapat menjadi bahan literatur untuk
penelitian selanjutnya terhadap faktor risiko lain yang dapat
menyebabkan kejadian diare pada anak balita.
F. Keaslian Penelitian
Tabel 1. Keaslian Penelitian
No Judul Peneliti dan Metodelogi Hasil Persamaan/
Tahun Perbedaan
1 Hubungan Yonditera Penelitian ini Sebagian besar Persamaan:
Pengetahuan Ibu Wonda, bersifat responden Topik
Tentang Agnes Erida, kuantitatif berpengetahuan penelitian,
Pencegahan Diare & Heni menggunakan baik tentang desain
Dengan Kejadian Febriani rancangan pencegahan penelitian
Diare Pada Balita (2021) penelitian diare dengan
di Posyandu cross kejadian diare Perbedaan :
Serejo Desa sectional sebanyak 28 Variabel,
Pendowoharjo dengan teknik responden teknik
Sleman total (46,7%) dan pengambilan
Yogyakarta16 sampling dan kejadian diare sample, judul
jumlah sebanyak 37 penelitian
sampel responden
sebanyak 60 (61,7%) dengan
responden hasil ρ value =
0,000
2 Hubungan Agus Ramon, Jenis Terdapat Persamaan :
Pengetahuan dan Nopia Wati, penelitian ini hubungan Topik
Perilaku Ibu Eva menggunakan signifikan penelitian,
Dengan Kejadian Oktavidiati, & metode antara desain
Diare Pada Balita Nadia kuantitatif pengetahuan penelitian
di Wilayah Kerja Wulandari dengan ibu (ρ value =
Puskesmas Kelam (2021) pendekatan 0,000) dan Perbedaan :
cross
Tengah perilaku ibu (ρ Variabel,
sectional
Kabupaten Kaur17 value = 0,000) teknik
dengan teknik
dengan pengambilan
simple
random kejadian diare sample, judul
sampling dan penelitian
jumlah
sampel
8
sebanyak 92
responden
3 Hubungan Aryunita Jenis Ada hubungan Persamaan :
Pengetahuan dan (2022) penelitian ini pengetahuan (ρ Topik
Sikap Ibu dengan menggunakan value = 0,024) penelitian,
Kejadian Diare metode dan sikap ibu (ρ desain
Pada Balita di kuantitatif value = 0,000) penelitian
Ruanganak Rsud dengan dengan
pendekatan
Panyabungan18 kejadian diare Perbedaan :
cross
Teknik
sectional
pengambilan
dengan teknik
sample, judul
total
sampling dan penelitian
jumlah
sampel
sembanyak
48 responden