PROPOSAL
PROPOSAL
PROPOSAL PENELITAN
OLEH :
AURA FRICILLYA
A1I121044
ii
konsep, merepresentasikan konsep dalam berbagai bentuk, mengembangkan
syarat perlu dan syarat cukup dari suatu konsep, memilih serta menerapkan
prosedur yang sesuai, serta menggunakan konsep atau algoritma dalam
penyelesaian masalah.
Pemahaman konsep merupakan keterampilan penting yang harus dimiliki
siswa dalam belajar matematika, karena matematika terdiri dari berbagai konsep
yang saling berkaitan dan berkelanjutan antara satu materi dengan materi lainnya.
Siswa yang memiliki pemahaman konsep yang baik akan lebih mudah dalam
mempelajari materi berikutnya yang lebih kompleks. Sebaliknya, jika terdapat
kesalahan dalam memahami suatu konsep, hal ini dapat berdampak pada
kesalahan pemahaman pada materi selanjutnya, yang akhirnya membuat siswa
mengalami kesulitan dalam belajar matematika. (Ntjalama dkk., 2020).
Berdasarkan survei The Trends Intenational and Science Study (TIMSS)
Tahun 2015, Indonesia menduduki urutan ke-44 dari 49 negara yang terdaftar
dengan rata-rata skor 397. Skor tersebut menunjukkan bahwa Indonesia berada di
bawah rerata internasional yang mencapai angka 500. Begitu pula pada hasil
Programme for International Student Assesment (PISA) tahun 2018, Indonesia
berada di urutan 73 dari 79 negara yang mengikuti survei dengan skor 379. Hasil
PISA ini dikatakan menurun jika dibanding tahun 2015 yang memperoleh skor
386. PISA sendiri adalah program studi internasional yang menguji prestasi
literasi membaca, kemampuan matematika, serta sains peserta didik yang berusia
15 tahun sampai mendekati akhir wajib belajar. Melihat hal tersebut, kemampuan
matematika siswa Indonesia masih rendah.
Rendahnya hasil TIMSS dan PISA disebabkan oleh beberapa faktor, salah
satunya adalah kurangnya kebiasaan siswa Indonesia dalam mengerjakan soal
dengan karakteristik seperti yang digunakan dalam TIMSS dan PISA. Soal-soal
tersebut bersifat kontekstual, menuntut penggunaan logika dan kreativitas, serta
memerlukan argumen dalam proses penyelesaiannya. Salah satu aspek yang
dinilai dalam TIMSS dan PISA adalah pemahaman matematis, di mana peserta
didik diharapkan mampu menggunakan serta menafsirkan konsep dalam berbagai
situasi (Munaji & Setiawahyu, 2020).
iii
Penelitian yang dilakukan oleh Medyasari dkk. (2020), juga menjelaskan
bahwa sebanyak 66% siswa mampu menyelesaikan masalah pada tahap
menyatakan ulang konsep, 53% siswa mampu menyelesaikan masalah pada tahap
mengklasifikasikan objek-objek menurut sifat-sifat tertentu, 50% siswa mampu
menyelesaikan masalah pada tahap menunjukkan konsep dalam berbagai bentuk
representasi matematis, dan 48% siswa mampu menyelesaikan masalah pada
tahap mengaplikasikan konsep, serta rata-rata kemampuan pemahaman konsep
matematis siswa adalah 54 , 4. Hal ini dapat terjadi disebabkan oleh metode
pembelajaran yang cenderung konvensional dan kurang melibatkan siswa secara
aktif dalam proses pembelajaran, sehingga siswa tidak terbiasa untuk berpikir
kritis dan kreatif dalam menyelesaikan masalah.
Fenomena serupa juga terjadi di SMP Negeri 1 Sampara, sebagaimana
terlihat dari hasil ulangan harian yang menunjukkan bahwa banyak siswa
mengalami kesulitan dalam memahami dan menyelesaikan soal matematika yang
menuntut pemikiran logis serta pemahaman konsep dalam penyelesaiannya.
Temuan ini diperkuat melalui wawancara dengan guru matematika kelas VIII,
yang mengungkapkan bahwa siswa cenderung hanya menerima dan menghafal
materi tanpa benar-benar memahami konsep yang diajarkan. Situasi ini
menunjukkan pentingnya penerapan model pembelajaran yang lebih inovatif dan
interaktif untuk membantu siswa meningkatkan pemahaman konsep matematis
mereka.
Selain itu, rendahnya kemampuan pemahaman konsep matematis siswa
SMP Negeri 1 Sampara juga dapat dilihat dari hasil tes awal yang diberikan
kepada siswa kelas VII.1, VII.2, dan VII.3, VII.4 yang menunjukkan skor rata-rata
yang diperoleh siswa yaitu 51,02, 50,80, 51.10 dan 50,07. Hasil tes awal
menunjukkan bahwa meskipun sebagian besar siswa mampu mencatatkan apa
yang diketahui dan apa yang ditanyakan, namun banyak siswa yang kesulitan
dalam menghubungkan dan mengungkapkan konsep secara jelas. Beberapa siswa
tidak dapat mengklasifikasikan informasi berdasarkan sifat atau karakteristik yang
relevan, serta tidak mampu mengaplikasikan konsep-konsep yang telah dipelajari
untuk menyelesaikan masalah matematika dengan tepat. Hal ini menunjukkan
iv
bahwa pemahaman konsep matematis siswa masih rendah, karena mereka belum
sepenuhnya dapat menginternalisasi dan menerapkan konsep-konsep tersebut
secara sistematis dan benar dalam konteks yang sesuai.
Pengembangan kemampuan pemahaman konsep matematis harus mampu
mengakomodasi keterampilan serta karakteristik peserta didik. Hal ini sejalan
dengan implementasi Kurikulum 2013 yang berfokus pada pendekatan student-
centered, di mana guru berperan sebagai fasilitator, sementara siswa didorong
untuk lebih aktif, kreatif, dan mandiri dalam proses pembelajaran. Partisipasi aktif
siswa selama pembelajaran sangat penting agar materi yang dipelajari menjadi
lebih bermakna dan dapat tertanam dengan baik dalam ingatan mereka
(Wahyuni, 2013)
.
Dalam praktiknya, banyak guru masih menerapkan metode pembelajaran
satu arah (teacher-centered) karena dianggap lebih praktis, efisien dalam hal
waktu, serta tidak menuntut terlalu banyak kreativitas dalam merancang proses
pembelajaran di kelas. Namun, pendekatan ini berdampak pada rendahnya
partisipasi siswa, yang cenderung pasif dan merasa bosan karena hanya
mendengarkan, mencatat, serta mengikuti alur pembelajaran tanpa dorongan
untuk mengembangkan kemampuannya secara mandiri
(Farhan & Retnawati, 2014)
.
Kondisi ini menunjukkn bahwa diperlukannya model pembelajaran yang
efektif untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami konsep
matematika. Model pembelajaran yang digunakan harus memberikan ruang bagi
siswa untuk mengungkapkan ide-ide matematis, mengembangkan kemampuan
berpikir, serta berperan aktif dalam mengolah permasalahan yang diberikan oleh
guru. Nursalam (2014) menyatakan bahwa siswa tidak hanya berusaha
menyelesaikan masalah, tetapi juga dapat mengembangkan sendiri permasalahan
tersebut. Salah satu model pembelajaran yang efektif dalam meningkatkan
pemahaman konsep matematika adalah Problem Based Learning (PBL).
Wulandari & Surjono (2013) , menyatakan bahwa pembelajaran dengan
model Problem Based Learning (PBL) menekankan peran aktif siswa dalam
menemukan pengetahuan penting, berfokus pada pemecahan masalah,
v
mengembangkan strategi pembelajaran sendiri, serta bekerja sama dalam
kelompok. PBL menggunakan pendekatan berbasis masalah nyata, sehingga siswa
dapat membangun pemahamannya sendiri, meningkatkan keterampilan berpikir
tingkat tinggi dan kemampuan inkuiri, serta menumbuhkan kepercayaan diri dan
kemandirian dalam belajar.
Selain model pembelajaran, diperlukan media yang dapat mendukung
proses belajar agar siswa lebih tertarik, termotivasi, dan tidak mudah merasa
bosan selama pembelajaran (Fatmawati, 2021). Dengan penggunaan media yang
tepat, siswa akan lebih mudah memahami konsep sehingga dapat menyelesaikan
permasalahan matematika dengan lebih baik. Pohan (2020) menyatakan dalam
pembelajaran daring, guru dituntut untuk menyajikan materi secara online melalui
berbagai platform seperti Moodle, Schoology, Google Classroom, Zoom, dan
Google Meet. Selain itu, terdapat media interaktif berbasis permainan kuis seperti
Quizizz dan Kahoot yang dapat meningkatkan keterlibatan siswa dalam
pembelajaran. Dalam konteks ini, media interaktif yang digunakan adalah Kahoot.
Kahoot merupakan aplikasi edukatif yang dikembangkan oleh Johan
Brand, Jamie Brooker, dan Morten Versvik sebagai bagian dari proyek bersama
dengan Norwegian University of Technology and Science pada Maret 2013.
Aplikasi ini berbasis permainan dan menyediakan berbagai fitur yang dapat
dimanfaatkan dalam pembelajaran, seperti kuis, diskusi, dan ulangan online.
Kahoot memiliki dua mode permainan, yaitu mode klasik yang memungkinkan
siswa bermain secara individu, serta mode kelompok yang memungkinkan
beberapa siswa bermain bersama menggunakan satu perangkat
(Ntjalama dkk., 2020)
.
Aplikasi Kahoot dapat digunakan pada pembelajaran jarak jauh atau
online. Guru dan siswa dapat terhubung meskipun tidak berada di kelas. Aplikasi
Kahoot ini berbasis website, sehingga peserta didik tidak perlu menginstall
aplikasinya terlebih dahulu Dengan menggunakan aplikasi ini, proses
pembelajaran menjadi tidak membosankan dan penuh tantangan
(Sagala dkk., 2021)
.
vi
Dalam kajian ini, model Problem Based Learning (PBL) yang didukung
oleh aplikasi Kahoot diterapkan dalam pembelajaran matematika. Proses
pembelajaran diawali dengan penyajian suatu permasalahan matematika kepada
siswa, kemudian di akhir sesi, mereka diberikan kuis yang dikerjakan melalui
aplikasi Kahoot. Melalui model PBL, siswa didorong untuk membangun
pemahaman mereka sendiri, khususnya dalam menyelesaikan masalah matematika
autentik. Pendekatan ini menggunakan permasalahan nyata dan terbuka untuk
mengembangkan keterampilan pemecahan masalah serta berpikir kritis.
Penggunaan Kahoot sebagai media pembelajaran juga berperan dalam
meningkatkan motivasi belajar siswa. (Sari, 2019).
Berdasarkan data dan permasalahan yang diuraikan sebelumnya, maka
peneliti tertarik untuk melakukan penelitian terkait Pengaruh Model Pembelajaran
Problem Based Learning Aplikasi Kahoot terhadap Kemampuan Pemahaman
Konsep Matematis Siswa kelas VIII di SMP Negeri 1 Sampara.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana kemampuan pemahaman konsep matematis siswa kelas VII SMP
Negeri 1 Sampara yang menggunakan model problem based learning berbantuan
kahoot?
2. Bagaimana kemampuan pemahaman konsep matematis siswa kelas VII SMP
Negeri 1 Sampara yang menggunakan model guided inquiry berbantuan kahoot?
3. Apakah ada pengaruh model pembelajaran problem based learning berbantuan
aplikasi kahoot terhadap kemampuan pemahaman konsep matematis siswa kelas
VIII di SMP Negeri 1 Sampara?
C. Tujuan Penelitian
1. Mengetahui bagaimana kemampuan pemahaman konsep matematis siswa kelas
VII SMP Negeri 1 Sampara yang menggunakan model problem based learning
berbantuan kahoot?
2. Mengetahui bagaimana kemampuan pemahaman konsep matematis siswa kelas
VII SMP Negeri 1 Sampara yang menggunakan model guided inquiry berbantuan
kahoot?
vii
3. Mengetahui apakah ada pengaruh model pembelajaran problem based learning
berbantuan aplikasi kahoot terhadap kemampuan pemahaman konsep matematis
siswa kelas VIII di SMP Negeri 1 Sampara?
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Siswa
Untuk menambah pengetahuan siswa dalam meningkatkan kemampuan
pemahaman konsep matematis melalui model pembelajaran problem based
learning.
2. Bagi Guru
Dapat menjadi masukan yang bermanfaat dalam proses pembelajaran agar
guru lebih memperhatikan kemampuan pemahaman konsep matematis siswa
sehingga tercapainya tujuan pembelajaran yang diinginkan.
3. Bagi Sekolah
Dapat menjadi masukan agar memperhatikan model pembelajaran yang
efektif terhadap kemampuan pemahaman konsep matematis siswa.
viii
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Teori
1. Pembelajaran Matematika
Pembelajaran matematika adalah suatu proses pendidikan yang bertujuan
untuk mengembangkan pemahaman dan keterampilan siswa dalam berbagai
konsep, prinsip, dan prosedur matematika. Proses ini melibatkan kegiatan yang
dirancang untuk membantu siswa membangun pengetahuan matematika mereka
melalui pengalaman belajar, baik secara teoritis maupun praktis, serta menerapkan
konsep-konsep tersebut dalam menyelesaikan masalah nyata.
Pembelajaran Matematika dapat dipandang sebagai usaha guru dalam
membantu siswa memahami atau terampil matematika. Oleh karena guru
bermaksud untuk membantu siswa belajar matematika maka guru perlu tahu
bagaimana sebenarnya jalan atau proses matematika itu bisa dipahami atau
dikuasai oleh siswa (Sutawidjaja & Afgani, 2011).
Pembelajaran matematika adalah suatu upaya membantu siswa [Link]
mengkonstruksi (membangun) konsep- konsep atau prinsip- prinsip matematika
dengan kemampuannya sendiri melalui proses internalisasi sehingga konsep atau
prinsip itu terbangun kembali (Ramdani, 2010).
Muliyardi (2002) menyatakan pembelajaran matematika adalah usaha
untuk membangun konsep atau prinsip dalam matematika dengan kemampuan
sendiri melalui proses internalisasi sehingga konsep atau prinsip tersebut
terbentuk kembali.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran
matematika adalah bahwa pembelajaran ini merupakan upaya guru untuk
membantu siswa memahami, menguasai, dan membangun konsep atau prinsip
matematika dengan kemampuan mereka sendiri melalui proses internalisasi.
Pembelajaran matematika dirancang untuk memungkinkan siswa secara aktif
mengkonstruksi konsep-konsep matematika, sehingga mereka dapat memahami
dan menerapkannya secara mandiri.
ix
2. Model Pembelajaran Problem Based Learning
Menurut Sofyan & Komariah (2010) Problem Based Learning (PBL)
adalah strategi pembelajaran yang menggerakan siswa belajar secara aktif
memecahkan masalah yang kompleks dalam situasi realistik. Sejalan dengan
Wulandari & Surjono (2014) PBL adalah pemberian masalah yang berhubungan
dengan kehidupan sehari-hari kepada siswa kemudian siswa secara berkelompok
mencari alternatif solusi dari permasalah tersebut. Selanjutnya menurut Bashith &
Amin (2017) PBL adalah model pembelajaran yang menggunakan masalah
otentik sebagai konteks bagi siswa dalam memecahkan masalah dan berpikir kritis
untuk mendapatkan penegtahuan dan belajar membuat keputusan.
Nuraini (2017) menyatakan PBL adalah pendekatan pembelajaran
menyajikan masalah kontekstual, dan pengembangan pemahaman tentang topik-
topik, siswa belajar bagaimana mengkontruksi kerangka masalah,
mengorganisasikan dan menginvestigasi masalah, mengumpulkan dan
menganalisa data, menyusun fakta, mengkonstruksi argument mengenai masalah,
bekerja secara individual atau berkolaborasi dalam pemecahan masalah.
Berdasarkan beberapa pengertian diatas maka dapat disimpulkan bahwa
model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) adalah suatu model
pembelajaran yang menyajikan masalah-masalah pada kehidupan nyata sebagai
pusat pembelajaran agar siswa dapat belajar memecahkan permasalahan tersebut
sehingga siswa dapat meningkatkan ketrampilan dan berpikir kritis dalam
menyelesaikan suatu masalah. masalah yang dijadikan pembelajatan berhubungan
dengan kenyataan yang dialami oleh siswa.
Menurut Sofyan & Komariah (2016) beberapa karakteristik pembelajaran
PBL antara lain :
1) Siswa harus peka terhadap lingkungan belajarnya.
2) Simulasi problem yang digunakan hendaknya berbentuk ill-structured dan
memancing penemuan bebas (free for inquiry).
3) Pembelajaran diintegrasikan dalam berbagai subjek.
4) Pentingnya kolaborasi.
x
5) Pembelajaran hendaknya menumbuhkan kemandirian siswa dalam memecahkan
masalah.
6) Aktivitas pemecahan masalah hendak mewakili pada situasi nyata.
7) Penilaian hendaknya mengungkapkan kemajuan siswa dalam mencapai tujuan
dalam pemecahan masalah.
8) PBL hendaknya merupakan dasar dari kurikulum bukan hanya pembelajaran.
Menurut Lismaya (2019) Terdapat 3 ciri utama dari PBL antara lain
1) PBL merupakan rangkaian aktivitas pembelajaran, artinya dalam implementasi
PBL ada sejumlah kegiatan yang harus dilakukan siswa. PBL tidak mengharapkan
siswa hanya sekedar mendengarkan, mencatat, kemudian menghafal materi
pelajaran, akan tetapi melalui PBL siswa aktif berpikir,berkomunikasi, mencari
dan mengolah data, dan akhirnya menyimpulkan.
2) Aktivitas pembelajaran diarahkan untuk menyelesaikan masalah. PBL
menempatkan masalah sebagai kata kunci dari proses pembelajaran.
3) Pemecahan masalah dilakukan dengan menggunakan pendekatan berpikir secara
ilmiah. Berpikir dengan menggunakan metode ilmiah adalah proses berpikir
deduktif dan induktif. Proses ini berpikir ini dilakukan secara sistematis dan
empiris. Sistematis artinya berpikir ilmiah dilakukan melalui tahapan-tahapan
tertentu sedangkan empiris artinya proses penyelesaian masalah didasarkan pada
data dan fakta yang jelas.
Menurut Sufairoh (2016), adapun langkah-langkah pembelajaran model
problem based learning sebagai berikut :
1) Mengorientasikan peserta didik pada masalah. Tahap ini untuk memfokuskan
peserta didik mengamati masalah yang menjadi objek pembelajaran.
2) Mengorganisasikan kegiatan pembelajaran. Pengorganisasian pembelajaan salah
satu kegiatan agar peserta didik menyampaikan berbagai pertanyaan (atau
menanya) terhadap masalah kajian.
3) Membimbing penyelidikan mandiri dan kelompok. Pada tahap ini peserta didik
melakukan percobaan (mencoba) untuk memperoleh data dalam rangka menjawab
atau menyelesaikan masalah yang dikaji.
xi
4) Mengembangkan dan menyajikan hasil karya. Peserta didik mengasosiasikan data
yang ditemukan dari percobaan dengan berbagai data lain dari berbagai sumber.
5) Analisis dan evaluasi proses pemecahan masalah. Setelah peserta didik mendapat
jawaban terhadap masalah yang ada, selanjutnya dianalisis dan dievaluasi
xii
5) Membantu siswa mengembangkan pengetahuannya dan membantu siswa untuk
bertangungjawab atas pembelajarannya sendiri.
6) Membantu siswa untuk memahami hakikat belajar sebagai cara berfikir bukan
hanya sekedar mengerti pembelajaran oleh guru berdasarkan buku teks.
7) PBL menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan dan disukai siswa.
8) Memungkinkan aplikasi dalam dunia nyata.
9) Merangsang siswa untuk belajar secara kontinu.
Adapun kekurangan menurut Nur, dkk., (2016) dari model pembelajaran
problem based learning :
1) Tidak banyak pendidik yang mampu mengantarkan peserta didik kepada
pemecahan masalah.
2) Seringkali memerlukan biaya mahal dan waktu yang panjang.
3) Aktivitas peserta didik yang dilaksanakan diluar kelas sulit dipantau oleh
pendidik.
3. Kahoot
Kahoot adalah sebuah aplikasi berbasis game yang digunakan pada proses
pembelajaran. Awal mulanya, aplikasi ini dikembangkan pada September 2013
oleh s Johan Brand, Jamie Brooker, dan Morten Versvik bekerja sama dengan
Universitas Teknonologi dan Sains Norwegia (Gündüz & Akkoyunlu, 2020) .
Kahoot adalah sebuah aplikasi yang memikat dalam ranah pendidikan,
menawarkan kemudahan aksesibilitas yang menjadi salah satu poin kuatnya.
Kemudahan ini terletak pada fungsionalitasnya yang dapat diakses melalui
aplikasi seluler maupun situs web, memungkinkan fleksibilitas bagi penggunanya
untuk terlibat dalam proses pembelajaran tanpa hambatan teknis yang berarti.
Kehandalan ini sangat penting dalam konteks kelas modern yang beragam,
memungkinkan guru dan siswa untuk terhubung ke dalam konten pendidikan
secara instan dan nyaman, tanpa terikat pada perangkat khusus atau lingkungan
pembelajaran tertentu (Chandra dkk., 2023).
Kahoot adalah sebuah platform pembelajaran yang interaktif dan sering
digunakan dalam lingkungan pendidikan. Platform ini memungkinkan pengguna,
terutama guru, untuk membuat kuis, polling, atau diskusi yang dapat diakses
xiii
secara daring oleh siswa melalui perangkat mereka seperti komputer, tablet, atau
ponsel pintar. Kahoot menyajikan pertanyaan atau tugas secara visual dengan
pilihan jawaban yang dapat dipilih oleh peserta, dan skor diberikan berdasarkan
kecepatan dan ketepatan jawaban mereka. Dengan fitur-fitur interaktifnya, Kahoot
tidak hanya memotivasi siswa dalam proses pembelajaran, tetapi juga dapat
digunakan sebagai alat untuk mengukur pemahaman mereka terhadap materi
pelajaran. Hal ini serupa dengan penelitian yang dilakukan oleh Cahya dkk,
bahwa game interaktif seperti Kahoot memberikan dampak positif dalam
meningkatkan pemahaman matematis siswa dibanding mengerjakan soal
menggunakan buku (Cahya dkk., 2019) . Aplikasi Kahoot sebagai platform
teknologi pembelajaran mengkombinasikan pengalaman evaluasi pembelajaran
dengan mengkombinasikan melalui game interaktif dan dilengkapi sistem
monitoring aktifitas para peserta didik.
Platform Kahoot memiliki dua alamat situs web yang berbeda, yaitu
[Link] yang ditujukan untuk guru, dan [Link] yang
ditujukan untuk peserta didik. Keberadaan platform ini memungkinkan beragam
jenis asesmen, seperti kuis daring, survei, dan diskusi, yang semuanya
menawarkan cara bermain yang unik. Salah satu keunggulan utamanya adalah
fokusnya pada evaluasi pembelajaran melalui pendekatan permainan, baik dalam
format kelompok maupun individu.
Kahoot membedakan diri dengan memberikan pengalaman belajar yang
interaktif, memanfaatkan fitur permainan untuk mengukur pemahaman siswa
terhadap materi pembelajaran. Siswa dapat terlibat dalam berbagai jenis kegiatan
evaluasi ini dengan cara yang menghibur namun tetap mendalam, memfasilitasi
pembelajaran yang aktif dan berkesan. Namun, untuk dapat menggunakan
Kahoot, setiap individu harus terhubung dengan jaringan internet agar dapat
mengaksesnya.
Menurut Cahyanti dkk., (2023) , terdapat kelebihan dan kekurangan
penggunaan aplikasi Kahoot di kelas. Untuk kelebihan aplikasi kahoot ini
diantaranya yaitu, (1) suasana kelas dapat lebih menyenangkan, (2) anak-anak
dilatih untuk menggunakan teknologi sebagai media untuk belajar, (3) anak-anak
xiv
di latih kemampuan motoriknya dalam pengoperasikan Kahoot!, (4) tidak Mudah
Disconnect, (5) sebagai evaluasi pembelajaran sejauh mana pemahaman siswa, (6)
semua orang bisa membuat quis baik itu guru ataupun orang tua, (7) bisa diakses
dimana saja dan kapan saja baik melalui handphone atau pun laptop, (8) menarik
untuk belajar, (9) banyak pilihan kategori, (10) dapat digunakan bersama-sama,
(11) mudah dalam pendaftaran.
Adapun kekurangan yang dimiliki oleh aplikasi ini adalah: (1) tidak semua
guru yang update dengan teknologi, (2) fasilitas sekolah yang kurang memadai,
(3) anak-anak gampang terkecoh untuk membuka hal lain, (4) terbatasnya jam
pertemuan di kelas, (5) tidak semua guru memiliki waktu untuk mengatur
menyusun rancangan pembelajaran dengan Kahoot!, (6) orang lain bisa melihat
jawaban pemain lain (mencontek), (7) harus diperlihatkan di infocus, (8) berbasis
online dan tidak ada yang ofline, (9) terdapat batasan kata saat membuat soal.
4. Model Pembelajaran Guided Inquiry
Hamalik (2013) menyatakan Pembelajaran inkuiri adalah strategi yang
berpusat pada siswa kelompok inkuiri untuk mencari jawaban pertanyaan melalui
prosedur secara jelas dan terstruktur. Model pembelajaran inkuiri berarti
pembelajaran di kelas guru hanya sebagai fasilitator dan berpusat pada siswa
dengan melibatkan mereka untuk terlibat langsung melakukan pembelajaran
inkuiri. Sedangkan menurut Fathurrohman (2017) inkuiri yang berarti ikut serta
atau terlibat dalam mengajukan pertanyaan, mencari informasi, dan melakukan
penyelidikan.
Pendekatan inkuiri adalah salah satu model pembelajaran yang berpusat
pada siswa dengan melibatkan siswa untuk terlibat langsung melakukan inkuiri,
yaitu merumuskan permasalahan, mengumpulkan data, berdiskusi, dan
berkomunikasi. Menurut Hamdayama (2014) Model pembelajaran inkuiri yang
berarti ikut serta atau terlibat, dalam mengajukan pertanyaan-pertanyaan, mencari
informasi, dan melakukan penyelidikan. Siswa juga dituntut aktif bertanya dan
mencari jawaban sendiri agar rasa ingin tahu mereka muncul dan kemampuan
berpikir kritis masing-masing individu. Sehingga memungkinkan bagi mereka
xv
untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis dari setiap siswa dan
mendalami potensi yang mereka miliki.
Menurut Suid dkk., (2017) tujuan dari inkuiri adalah mengembangkan
kemampuan berpikir kritis siswa dalam proses pembelajaran sehingga dapat
memberi peluang yang lebih besar terhadap mereka untuk meningkatkan hasil
belajar dengan mengarahkan siswa agar dapat menemukan jawaban dari masalah
yang telah dipelajari. Siswa juga dapat mempelajari potensi yang dimilki,
sehingga ketika mereka dapat menemukan jawaban dari masalah yang dicari, akan
timbul rasa puas dari diri siswa tersebut.
Tujuan model pembelajaran inkuiri adalah cara bagi para peserta didik
untuk menumbuhkan intelektual yang ada pada diri mereka terkait dengan proses
berpikir reflektif Oleh karena itu, guru di kelas hanya bersifat sebagai fasilitator
dan sepenuhnya siswa yang mencari dan menemukan jawaban yang mereka
tanyakan. Akan tetapi guru tetap mengawasi dan mendampingi proses belajar
mengajar agar tetap kondusif.
Menurut Sanjaya (2006) berpendapat bahwa pembelajaran inkuiri
mempunyai langkah-langkah sebagai berikut:
1) Orientasi Langkah untuk membina suasana atau iklim pembelajaran yang
responsif sehingga dapat merangsang dan mengajak untuk berpikir memecahkan
masalah.
2) Merumuskan masalah Merumuskan masalah merupakan langkah membawa siswa
pada suatu persoalan yang mengandung teka-teki.
3) Mengajukan hipotesis Suatu permasalahan yang sedang dikaji sebagai jawaban
sementara, hipotesis perlu di uji kebenarannya.
4) Mengumpulkan data Mendapatkan informasi yang dibutuhkan untuk menguji
hipotesis yang diajukan. Kegiatan mengumpulkan data meliputi percobaan atau
eksperimen.
5) Menguji hipotesis Proses menentukan jawaban yang dianggap diterima sesuai
dengan data atau informasi yang diperoleh berdasarkan pengumpulan data.
6) Merumuskan kesimpulan Proses mendeskripsikan temuan yang diperoleh
berdasarkan hasil pengujian hipotesis
xvi
Menurut Detagory dkk., (2017) berpendapat bahwa sintaks untuk model
pembelajaran Inkuiri adalah:
1) Menyelidiki sebuah fenomena Mengeksplorasi pengetahuan awal siswa dengan
mengungkapkan fenomena.
2) Memfokuskan pada pertanyaan Guru membimbing siswa untuk merumuskan
pertanyaan.
3) Merencanakan investigasi Memfasilitasi siswa dalam merancang investigasi untuk
mengumpulkan data.
4) Melaksanakan investigasi Memfasilitasi siswa untuk melaksanakan investigasi.
5) Menganalisis data dan bukti Membimbing siswa dalam menginterpretasi data dan
bukti.
6) Membangun pengetahuan baru Membimbing siswa untuk menghubungkan
pengetahuan baru dan awal siswa.
7) Mengomunikasikan pengetahuan baru Memfasilitasi diskusi hasil investigasi
dalam kelas.
Menurut Shoimi (2014) dalam pembelajaran inkuiri mempunyai kelebihan
dan kelemahan, diantaranya:
1) Kelebihan
a. Menekankan strategi pembelajaran melalui pengembangan dari beberapa
aspek kognitif, afektif, psikomotor sehingga dapat menghasilkan
pembelajaran yang bermakna,
b. Memberikan kesempatan siswa untuk belajar sesuai kemampuan dan gaya
mereka,
c. Strategi ini merupakan yang dianggap sesuai dengan perkembangan belajar
modern saat ini yang menganggap bahwa belajar adalah perubahan tingkah
laku yang dilakukan berkat adanya pengalaman, dan dapat diterapkan pada
siswa yang mempunyai kemampuan di atas rata-rata.
2) Kelemahan Pembelajaran inkuiri kurang efektif jika diterapkan pada siswa yang
tidak memiliki kecerdasan di atas rata-rata dan memerlukan perubahan cara
kebiasaan belajar yang menerima pembelajaran hanya dari guru, dan kelas yang
mempunyai banyak siswa akan sulit untuk mendapatkan pembelajaran inkuiri
xvii
karena tidak semua yang ada di kelas mempunyai pemikiran kritis, dan guru juga
dituntut untuk berperan aktif dalam proses pembelajaran yang berlangsung.
5. Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis Siswa
Pemahaman konsep merupakan suatu aspek yang sangat penting dalam
pembelajaran, karena dengan memahami konsep siswa sapat mengembangkan
kemampuannya dalam setiap materi pelajaran. Pemahaman dapat diartikan
menguasai sesuatu dengan pikiran. Pemahaman berasal dari kata paham yang
artinya mengerti benar. Meletakkan hal tersebut dalam hubungannya satu sama
lain secara benar dan menggunakannya secara tepat pada situasi.
Konsep menurut Hamalik (2008) adalah suatu kelas atau kategori stimuli
yang memiliki ciri-ciri umum. Konsep menunjuk pada pemahaman dasar. Siswa
mengembangkan suatu konsep ketika mereka mampu mengklasifikasikan atau
mengelompokkan benda-benda atau mengasosiasikan nama dalam suatu
kelompok tertentu. Konsep akan muncul dalam berbagai konteks, sehingga
pemahaman konsep akan terkait dalam berbagai situasi.
Jafar (2013) menyatakan bahwa pemahaman terhadap suatu konsep
merupakan hasil dari aktivitas berpikir seseorang dalam memahami konsep yang
dimaksud. Seorang siswa apat dikatakan paham dengan sebuah konsep apabila
siswa mampu menggambarkan sesuatu menggunakan bahasanya sendiri yang
berbeda dengan apa yang terdapat di dalam buku. Sirait (2017) mengemukakan
bahwa pemahaman konsep matematika merupakan kompetensi yang harus
dimiliki siswa dalam memahami suatu konsep matematika sehingga dapat
menguraikan konsep tersebut dengan kata-katanya sendiri.
Menurut Harefa (2020), pemahaman konsep adalah kemampuan siswa
dalam mengungkapkan kembali apa yang telah dikomunikasikan kepadanya,
menggunakan konsep pada berbagai situasi yang berbeda, dan mengembangkan
beberapa akibat dari adanya sebuah konsep. Dini dkk., (2018) mengemukakan
bahwa kemampuan pemahaman konsep matematis merupakan kemampuan yang
sangat penting untuk dikuasai supaya siswa dapat memahami suatu konsep dari
suatu materi secara fleksibel dan tepat dalam memahami langkah-langkah yang
berbeda dari materi serta dapat menggunakannya secara efisien.
xviii
Berdasarkan uraian di atas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa
pemahaman konsep matematis merupakan suatu kemampuan penguasaan materi
dan kemampuan siswa dalam memahami, menyerap, menguasai, hingga
mengaplikasikannya dalam pembelajaran matematika.
Badan Nasional Standar Pendidikan (2006) menyebutkan indikator yang
menunjukkan pemahaman konsep antara lain:
1) Menyatakan ulang sebuah konsep.
2) Mengklasifikasikan objek-objek menurut sifat-sifat tertentu (sesuai dengan
konsepnya).
3) Memberi contoh dan non-contoh dari konsep.
4) Menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematis.
5) Mengembangkan syarat perlu atau syarat cukup suatu konsep.
6) Menggunakan, memanfaatkan, dan memilih prosedur atau operasi tertentu.
7) Mengaplikasikan konsep atau algoritma pemecahan masalah.
B. Penelitian Terdahulu
1. Pengaruh Problem Based Learning terhadap Pemahaman Konsep Matematis
Siswa SMP di Kabupaten Malang.
Penulis: Ahmad Rizki, Universitas Negeri Malang, 2018.
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh model pembelajaran Problem
Based Learning (PBL) terhadap pemahaman konsep matematis siswa kelas VIII di
salah satu SMP di Kabupaten Malang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa
yang belajar dengan model PBL memiliki kemampuan pemahaman konsep
matematis yang lebih baik dibandingkan dengan siswa yang menggunakan
metode pembelajaran konvensional. Penelitian ini dilakukan pada 60 siswa
dengan menggunakan desain eksperimen quasi. Data diperoleh melalui tes
pemahaman konsep dan dianalisis menggunakan uji t. Penelitian ini
merekomendasikan implementasi PBL untuk meningkatkan keterampilan analitis
siswa dalam memahami konsep matematika.
2. Implementasi Model Problem Based Learning dalam Meningkatkan Pemahaman
Konsep Matematis pada Siswa SMP di Pekanbaru
Penulis: Nurhayati, Universitas Riau, 2019
xix
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas PBL terhadap
pemahaman konsep matematis siswa. Penelitian ini melibatkan 72 siswa yang
dibagi ke dalam kelompok eksperimen dan kontrol. Hasil analisis data
menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam kemampuan pemahaman
konsep matematis pada kelompok eksperimen. Penelitian ini juga menyoroti
bahwa siswa lebih aktif dalam berdiskusi dan menyelesaikan masalah matematis.
Selain itu, faktor pendukung keberhasilan model PBL adalah kesiapan guru dalam
memfasilitasi pembelajaran berbasis masalah.
3. Pengaruh Pembelajaran Berbasis Masalah terhadap Hasil Belajar dan Pemahaman
Konsep Matematis Siswa SMP di Surakarta
Penulis: Dewi Anggraini, Universitas Sebelas Maret, 2020
Penelitian ini menggunakan desain eksperimen dengan subjek 80 siswa
kelas VIII SMP di Surakarta. Penelitian ini mengukur efektivitas pembelajaran
berbasis masalah terhadap hasil belajar dan pemahaman konsep matematis. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis masalah tidak hanya
meningkatkan pemahaman konsep matematis, tetapi juga memotivasi siswa untuk
lebih kritis dalam memecahkan masalah. PBL terbukti lebih efektif dibandingkan
dengan metode ceramah dalam meningkatkan keterampilan berpikir tingkat tinggi
siswa.
C. Kerangka Berpikir
Pendidikan matematika merupakan salah satu bidang ilmu yang memiliki
peran penting dalam membangun kemampuan berpikir logis, analitis, dan kritis
siswa. Namun, berdasarkan observasi awal dan data hasil belajar siswa, ditemukan
bahwa kemampuan pemahaman konsep matematis siswa SMP Negeri 1 Sampara
masih tergolong rendah. Hal ini dapat terlihat dari ketidakmampuan siswa dalam
mengaitkan konsep-konsep matematika dengan situasi nyata serta kesulitan
mereka dalam menyelesaikan soal-soal yang membutuhkan analisis mendalam.
Salah satu faktor penyebabnya adalah penggunaan metode pembelajaran
konvensional yang cenderung berpusat pada guru dan kurang melibatkan siswa
dalam proses aktif pembelajaran.
xx
Model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) hadir sebagai
alternatif inovatif untuk mengatasi permasalahan ini. PBL adalah model
pembelajaran yang menekankan pada keterlibatan siswa dalam memecahkan
masalah nyata sebagai langkah awal dalam pembelajaran. Melalui PBL, siswa
diajak untuk mengidentifikasi masalah, mencari solusi, dan menerapkan konsep-
konsep matematika dalam konteks yang relevan. Proses ini diyakini mampu
meningkatkan kemampuan pemahaman konsep matematis siswa karena siswa
tidak hanya menghafal rumus, tetapi juga memahami logika dan keterkaitan antar-
konsep.
Kerangka berpikir ini didasarkan pada teori konstruktivisme yang
menyatakan bahwa siswa akan lebih mudah memahami konsep apabila mereka
dilibatkan secara aktif dalam pembelajaran. Dalam konteks PBL, siswa diberikan
kesempatan untuk mengeksplorasi permasalahan, berdiskusi dengan teman
sebaya, serta mempresentasikan solusi mereka. Hal ini tidak hanya meningkatkan
pemahaman matematis, tetapi juga keterampilan berpikir kritis dan kemampuan
memecahkan masalah.
Hubungan antara variabel bebas, yaitu model pembelajaran Problem Based
Learning, dan variabel terikat, yaitu kemampuan pemahaman konsep matematis
yaitu PBL memberikan pengalaman langsung kepada siswa untuk menghadapi
masalah kontekstual. Proses ini mengembangkan kemampuan siswa dalam
menganalisis masalah dan memahami konsep-konsep yang relevan. Dalam PBL,
diskusi kelompok memungkinkan siswa untuk bertukar ide dan memperbaiki
pemahaman mereka melalui kolaborasi. Setelah memahami masalah, siswa
dituntut untuk menerapkan konsep-konsep matematis yang telah mereka pelajari.
Langkah ini memperkuat pemahaman mereka terhadap konsep tersebut. Refleksi
pada akhir pembelajaran membantu siswa mengaitkan konsep matematis dengan
pengalaman belajar mereka, sehingga meningkatkan retensi dan pemahaman.
Dengan menerapkan PBL, diharapkan siswa SMP Negeri 1 Sampara
mampu meningkatkan kemampuan pemahaman konsep matematis mereka.
Peningkatan ini diukur melalui hasil tes pemahaman konsep yang melibatkan
xxi
indikator-indikator seperti kemampuan menganalisis, mengidentifikasi hubungan
antar-konsep, dan menerapkan konsep dalam situasi yang berbeda.
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi baik secara teoritis
maupun praktis dalam pengembangan strategi pembelajaran matematika di
sekolah, khususnya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan hasil belajar
siswa.
D. Hipotesis
Berdasarkan hasil kajian teori, kajian hasil penelitian sebelumnya dan
kerangka berpikir yang telah dipaparkan diatas, maka kemudian diajukan sebuah
hipotesis penelitian yang berbunyi model pembelajaran Problem Based Learning
berbantuan kahoot dapat memberi pengaruh yang lebih baik dalam meningkatkan
kemampuan pemahaman konsep matematis siswa SMP Negeri 1 Sampara. Secara
statistik, hipotesis tersebut dapat diwujudkan dalam simbol sebagai berikut.
xxii
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang dilakukan pada penelitian ini adalah penelitian jenis
eksperimen semu (quasi eksperimen). Eksperimen semu dilakukan untuk
membandingkan kelompok, dan dalam penelitian ini terdapat dua kelompok yang
digunakan, yaitu kelas kontrol dan kelas eksperimen. Pada kelas eksperimen
diberikan perlakuan model pembelajaran Problem Based Learning berbantuan
Kahoot dan kelas kontrol diberikan perlakukan model pembelajaran Guided
Inquiry berbantuan Kahoot.
B. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 1 Sampara yang beralamat di Jl.
Kendari – Unaaha, Rawua, Kec. Sampara, Kabupaten Konawe, Sulawesi
Tenggara, Kode Pos 93354. Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap
tahun ajaran 2024/2025 di kelas VII SMP Negeri 1 Sampara.
C. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi dari penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII SMP Negeri 1
Sampara tahun ajaran 2024/2025 yang tersebar pada 4 kelas, yakni kelas VII.1,
VII.2, VII.3,VII.4.
Gambaran populasi pada siswa kelas VII SMP Negeri 4 Kendari dapat
dilihat pada tabel 3.1.
Tabel 3. 1 Populasi Siswa Kelas VII SMP Negeri 4 Kendari
xxiii
dilakukan dengan menggunakan teknik simple random sampling yaitu dengan
melakukan undian dengan setiap kelas memiliki kesempatan yang sama untuk
terpilih. Diperoleh kelas VIII.1 dan kelas VIII.3 sebagai sampel pada penelitian
ini.
Untuk menentukan kelas kontrol dan kelas eksperimen digunakan teknik
simple random sampling dan dari hasil undian diperoleh kelas VIII.1 sebagai
kelas eksperimen dan kelas VIII.3 sebagai kelas kontrol.
D. Variabel Penelitian
Variabel yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari variabel bebas
dan variabel terikat.
1. Variabel bebas
Variabel bebas dalam penelitian ini merupakan perlakuan berupa model
pembelajaran Problem Based Learning berbantuan Kahoot (X1) untuk kelas
eksperimen. Sedangkan untuk kelas kontrol menggunakan model pembelajaran
Guided Inquiry Berbantuan Kahoot.
2. Variabel Terikat
Variabel terikat dalam penelitian ini adalah kemampuan pemahaman konsep
matematis siswa (Y1) setelah diberikan perlakukan model pembelajaran Problem
Based Learning berbantuan Kahoot dan adalah kemampuan pemahaman konsep
matematis siswa (Y2) setelah diberikan perlakukan model pembelajaran Guided
Inquiry berbantuan Kahoot.
E. Desain Penelitian
Desain penelitian merupakan pola pikir yang menunjukkan hubungan
antara variabel yang akan diteliti yang sekaligus mencerminkan jenis dan jumlah
rumusan masalah yang perlu dijawab melalui penelitian,teori yang digunakan
untuk merumuskan hipotesis,jenis dan jumlah hipotesis,dan teknik analissis
statistik yang akan digunakan (Sugiyono, 2013) . Penelitian ini mengadopsi
metode eksperimen dengan desain "posttest-only control design," di mana dua
kelompok dibandingkan. Desain penelitian digambarkan pada tabel 3.2.
xxiv
Tabel 3. 2 Desain Penelitian posttest-only control design
Keterangan:
VII.1 : Kelas Eksperimen
VII.3 : Kelas Kontrol
X1 : Perlakuan Model Pembelajaran Problem Based Learning berbantuan
Kahoot
X2 : Perlakuan Model Pembelajaran Guided Inquiry berbantuan Kahoot
Y1 : Hasil tes akhir (Posttest) dilakukan setelah diberikan perlakuan berupa
model Problem Based Learning berbantuan Kahoot
Y2 : Hasil tes akhir (Posttest) dilakukan setelah diberikan perlakuan berupa
model Pembelajaran Guided Inquiry berbantuan Kahoot
F. Instrumen Penelitian
Penelitian ini menggunakan dua instrumen, yaitu berupa lembar observasi dan
instrumen tes kemampuan pemahaman matematis siswa.
1. Lembar Observasi
Lembar observasi yang digunakan dalam penelitian ini berupa lembar
pengamatan dalam mengukur aktivitas belajar siswa dan guru pada proses
pelaksanaan kegiatan belajar mengar. Lembar observasi ini difokuskan guna
melihat ketercapaian rencana kegiatan yang menggambarkan peran guru dan
siswa selama pembelajaran dengan menggunakan Model Problem Based
Learning berbantuan Kahoot. Lembar observasi ini dibuat peneliti dengan
memperhatikkan Modul Ajar yang digunakan. Analisis lembar observasi
menggunakan analisis persentase. Pengisian format tersebut berdasarkan
terlaksana atau tidaknya item-item pada lembar aktivitas guru maupun siswa yang
diamati. Persentase tersebut kemudian diinterpretasikan berdasarkan tabel di
bawah ini dengan menggunakan rumus:
xxv
skor yang diperoleh
p= × 100 %
skor maksimum
xxvi
Dapat mengidentifikasi contoh dan 4
bukan contoh dengan benar, serta
memberikan penjelasan yang logis.
Menerjemahkan dan Tidak dapat menerjemahkan atau 1
menafsirkan makna menafsirkan representasi matematis
simbol, tabel, diagram, dengan benar.
gambar, grafik, serta Mampu menerjemahkan namun salah 2
kalimat matematis dalam menafsirkan sebagian
representasi matematis.
Dapat menerjemahkan dan menafsirkan 3
sebagian besar representasi matematis
dengan benar.
Dapat menerjemahkan dan menafsirkan 4
semua representasi matematis dengan
benar dan logis.
Memahami dan Tidak mampu memahami atau 1
menerapkan ide mengaplikasikan ide matematis dengan
matematis benar.
Mampu memahami ide matematis, 2
tetapi kesulitan dalam
mengaplikasikannya.
Mampu memahami ide matematis, 3
tetapi aplikasinya kurang tepat.
Mampu memahami ide matematis 4
dengan tepat dan mengaplikasikannya
secara benar dan relevan.
Membuat suatu Tidak mampu membuat eksplorasi atau 1
eksplorasi (perkiraan) eksplorasi tidak logis.
Membuat eksplorasi yang logis tetapi 2
tidak relevan dengan materi.
Mampu membuat eksplorasi yang logis, 3
tetapi kurang relevan atau
penjelasannya kurang lengkap.
Mampu membuat eksplorasi yang logis, 4
relevan, dan dapat
dipertanggungjawabkan.
xxvii
Tabel 3. 5 Kriteria Interpretasi Skor Kemampuan Pemahaman Matematis
N ∑ XY −( ∑ X )(∑ Y )
r xy =
√ {N ∑ X −(∑ X ) }{N ∑ Y −(∑ Y ) }
2 2 2 2
keterangan :
r xy: Validitas instrument
X : Skor item
Y : Skot total
∑x: jumlah skor angka butir yang dijawab peserta didik.
∑y: jumlah angka setiap skor soal
N : Banyaknya peserta tes
xxviii
Uji validitas instrumen dilakukan untuk membandingkan hasil perhitungan
rxy dengan rtabel pada taraf signifikan 5% (α = 0,05). Adapun kriteria pengujian
sebagai berikut:
a. Jika r xy ≥ r tabel dengan 𝛼 = 0,05 maka soal tersebut valid.
b. Jika r xy <r tabel dengan 𝛼 = 0,05 maka soal tersebut tidak valid.
2. Reliabilitas
Sudjana (2013: 148) mengungkapkan bahwa uji reliabilitas bertujuan untuk
mengukur ketepatan suatu tes. Suatu tes dianggap reliabel atau tepat jika, dalam
beberapa pengujian yang berulang, tes tersebut tetap menunjukkan hasil yang
serupa. Dalam pandangan Arikunto (2010), suatu tes dianggap reliabel jika
mampu memberikan hasil yang konsisten. . Untuk pengujian reliabilitas
digunakan rumus, sebagai berikut:
( )( S −∑ pq
)
2
n
r 11 = 2
n−1 S
Keterangan:
r 11: reliabilitas tes secara keseluruhan
p : proporsi subjek yang menjawab item benar
q : proporsi subjek yang menjawab item salah (q = p-1)
∑ pq : jumlah hasil perkalian antara p dan q
n : banyaknya item (butir pertanyaan)
S : varians total
Kriteria untuk menentukan tinggi rendahnya reliabilitas sebuah perangkat
tes, menurut Guilford (dalam Basri & Turmuzi, 2021)
, adalah sebagai berikut:
Tabel 3. 6 Klasifikasi Koefisien Reliabilitas
xxix
H. Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan dua metode utama untuk
mengumpulkan data. Pertama, dilakukan tes kemampuan pemahaman konsep
matematis setelah proses pembelajaran. Tes ini bertujuan untuk mengukur sejauh
mana siswa memahami materi yang telah diajarkan. Kedua, peneliti mengamati
secara langsung aktivitas guru dan siswa saat menggunakan media pembelajaran
Kahoot. Pengamatan ini dilakukan menggunakan lembar observasi khusus untuk
mencatat berbagai aktivitas yang terjadi selama proses pembelajaran.
Hasil tes kemampuan matematika dianalisis dengan memberikan skor pada
setiap jawaban siswa berdasarkan kriteria yang telah ditentukan. Kriteria penilaian
mencakup aspek-aspek seperti proses penyelesaian soal dan pemahaman
matematis. Selain itu, data yang diperoleh dari lembar observasi juga dianalisis
untuk mengetahui peran aktif guru dan siswa dalam proses pembelajaran
menggunakan Kahoot. Hasil analisis dari kedua metode ini kemudian digunakan
sebagai dasar untuk menarik kesimpulan dalam penelitian.
I. Teknik Analisis Data
Untuk menganalisis data yang telah terkumpul, diperlukan teknik analisis
data. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif
untuk menggambarkan data yang sudah dikumpulkan dan analisis inferensial
untuk menguji hipotesis.
1. Analisis Deskriptif
Analisis Deskriptif adalah analisis yang digunakan untuk mendeskripsikan
data penelitian berupa, mean ( x ), median (Me), modus (Mo), standar deviasi (s),
varians ( s2), nilai maksimum, dan nilai minimum. Analisis deskriptif juga
dimaksudkan untuk mendeskripsikan kemampuan pemahaman matematis siswa.
Data yang dianalisis yaitu data posttest kemampuan pemahaman matematis siswa
baik pada kelas eksperimen maupun kelas kontrol.
2. Analisis Inferensial
Analisis Inferensial digunakan untuk menguji hipotesis penelitian yang
dilakukan dengan diawali uji prasyarat yaitu uji normalitas dan uji homogenitas
sehingga dapat dilakukan pengujian hipotesis.
xxx
a. Uji Normalitas
Uji normalitas ditujukan untuk mengetahui apakah data sampel berdistribusi
normal atau tidak. Untuk keperluan ini maka, maka uji statistik yang digunakan
adalah Uji Kolmogorov-Smirnov. Adapun langkah-langkah dari uji Kolmogorov-
Smirnov menurut Usmadi (2020), adalah sebagai berikut:
1) Menentukan rata-rata dan standar deviasi data
2) Menyusun data dimulai dari yang terkecil diikuti dengan frekuensi masing-
masing, frekuensi kumultif (F) dari masing-masing skor. Nilai Z ditentukan
dengan rumus;
X −X
Z skor=
σ
Dimana:
X =rata−rata
σ =simpangan baku
σ=
√ ∑ ( x− x )2
n−1
3) Tentukan Probabilitas dibawah nilai Z yang dapat dilihat pada table Z (P ≤ Z)
4) Tentukan nilai selisih masing-masing baris F /n=Fz dengan P ≤ Z (nilai a2 ) dan
selisih masing-masing f /n dengan a2 ( nilai a1 )
5) Selanjutnya bandingkan nilai tertinggi dari a 1 dengan Tabel Kolmogorov Smirnov.
6) Selanjutnya Kriteria Pengujian adalah:
Terima H 0 jika a 1 maks ≤ Dtabel
Tolak H 0 jika a 1 maks> D tabel
b. Uji Homogenitas
Uji homogenitas diperlukan sebelum kita membandingkan kelompok data.
Uji ini bertujuan untuk memastikan data mempunyai variansi yang homogen atau
tidak. Uji homogenitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji F, dengan
rumus sebagai berikut:
2
Sk
F hitung = 2
Ss
Keterangan :
2
Sk = variansi terbesar
xxxi
2
S s = variansi terkecil
Hipotesis dalam uji homogenitas data adalah sebagai berikut:
H 0: tidak ada perbedaan varians antara kelas eksperimen dan kelas kontrol.
H 1: ada perbedaan varians antara kelas eksperimen dan kelas kontrol.
Rumus hipotesis yang diuji dirumuskan sebagai berikut :
2 2
H 0 :σ 1=σ 2
2 2
H 1: σ1 ≠ σ2
Keterangan :
2
σ 1 = varians data kelas eksperimen
2
σ 2 = varians data kelas kontrol
Kriteria pengujian untuk α =0 , 05 adalah terima H 0jika F hitung < F tabel dan tolak H 0
jika F hitung ≥ Ftabel .
c. Uji Hipotesis
Hipotesis statistiknya dirumuskan sebagai berikut :
H 0 : μ1 < μ2
H 1 : μ 1> μ 2
Keterangan :
μ1 : Rata – rata kemampuan pemahaman konsep matematis siswa yang diajar
dengan model pembelajaran model pembelaran Problem Based Learning
Berbantuan Kahoot.
μ2 : Rata – rata kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang diajar
dengan menggunakan model Guided Inquiry Berbantuan Kahoot.
H 0: Model pembelajaran Problem Based Learning Berbantuan Kahoot tidak
efektif dibandingkan model pembelajaran Guided Inquiry Berbantuan Kahoot di
SMP Negeri 1 Sampara.
H 1: Model pembelajaran Problem Based Learning Berbantuan Kahoot efektif
dibandingkan model pembelajaran Guided Inquiry Berbantuan Kahoot di SMP
Negeri 1 Sampara.
Setelah dilakukan uji prasayarat yaitu uji normalitas dan uji homogenitas,
maka analisis dilanjutkan dengan uji hipotesis. Uji hipotesis dalam penelitian ini
xxxii
menggunakan uji hipotesis dengan uji-t untuk menganalisis pengaruh penerapan
model Penemuan Terbimbing terhadap kemampuan pemahaman konsep
matematis siswa jika pada uji prasyarat sebelumnya ditemukan data berdistirbusi
normal dan varians homogen. Akan tetapi jika tidak terpenuhi persyaratan
tersebut, maka digunakan uji statistik non parametrik.
Rumus uji t menurut Lolombulan (2017) adalah sebagai berikut:
1) Bila ragam kedua kelompok sama atau σ 21=σ 22, rumus uji t yaitu
x 1−x 2
t hitung =
Dengan :
s
√ 1 1
+
n1 n2
√
2 2
S1 S2
+
n 1 n2
2 2 2
s 1 s2
( + )
n1 n2
db=
Statistic Uji t rumus (2) memiliki s21 2 s 22 2
( ) ( )
n1 n2
+
n 1−1 n2−1
Keterangan :
t hitung = Nilai hitung untuk uji-t
x 1 = Rata-rata skor untuk responden kelas eksperimen
x 2 = Rata-rata skor responden untuk kelas kontrol
n1 = Jumlah responden kelas eksperimen
n2 = Jumlah responden kelas kontrol
2
S1 = Varians data sampel kelas eksperimen
2
S2 = Varians data sampel kelas kontrol
Kriteria uji:
xxxiii
Jika t hitung ≤ t tabel maka H 0diterima. Dimana t tabel diperoleh dari daftar distribusi t
dengan dk = ( n 1+ n2−2 )dan α (0 , 05).
Jika t hitung > t tabel maka H 0ditolak. Dimana t tabel diperoleh dari daftar distribusi t
dengan dk = ( n 1+ n2−2 ) dan α (0 , 05).
xxxiv
DAFTAR PUSTAKA
xxxv
Kemampuan Pemecahan Masalah Fisika Siswa Kelas X MIPA 2 MAN
Buleleng Tahun Pelajaran 2017/2018. JPPF, 8(1).
Indah, N., Mania, S., & Nursalam. (2016). Peningkatan kemampuan literasi
matematika siswa melalui penerapan model pembelajaran Problem Based
Learning di kelas VII SMP Negeri 5 Palangga Kabupaten Gowa. Jurnal
Matematika Dan Pembelajaran, 4(2), 200.
[Link]
Jarwan. (2018). Pengaruh Discovery Learning Terhadap Kemampuan Pemecahan
Masalah dan Komunikasi Matematis Siswa. Jurnal Penelitian Matematika
Dan Pendidikan Matematika, 1(2), 77–89.
Kadri, M., & Rahmawati, M. (2015). Pengaruh Model Pembelajaran Discovery
Learning Terhadap Hasil Belajar Siswa pada Materi Pokok Suhu dan
Kalor. Jurnal Ikatan Alumni Fisika Universitas Negeri Medan, 1(1), 29–
33.
Kosasih, E. (2014). Strategi belajar dan pembelajaran: Implementasi Kurikulum
2013. Bandung: Yrama Widya.
Kusdinar, U., Sukestiyarno, Isnarto, & Istiandaru. (2017). Krulik and Rudnik
Model Heuristic Strategy in Mathematics Problem Solving. International
Journal on Emerging Mathematics Education (IJEME), 1(2), 205–210.
Lismaya, L. (2019). Berpikir Kritis & PBL (Problem Based Learning). Surabaya:
Penerbit Media Sahabat Cendekia.
Marwa. (2023,). Pengaruh Model Problem Based Learning Berbantuan Media
Digital Kahoot Terhadap Pemahaman Konsep Matematis Peserta Didik
Kelas V SD Mujahidin Pontianak. Journal on Education Volume 06, No.
01,, E-ISSN: 2654-5497, P-ISSN: 2655-1365.
Medriati, R. (2013). Upaya Peningkatan Hasil Belajar Fisika Siswa Pada Konsep
Cahaya Kelas VII6 Melalui Penerapan Model Pembelajaran Problem
Based Learning ( PBL ) Berbasis Laboratorium di SMPN 14 Kota
Bengkulu. Prosiding Semirata Fmipa Universitas Lampung, 131–139.
Munaji, & Setiawahyu, M. I. (2020). Profil kemampuan matematika siswa SMP di
Kota Cirebon berdasarkan standar TIMSS. Jurnal Teorema: Teori dan
Riset Matematika, 5(2), 250.
[Link]
National Council of Teachers of Mathematics (NCTM). (2020). Principles and
standards for school mathematics. Reston, VA: NCTM.
Ntjalama, K. M., Murdiyanto, T., & Meliasari. (2020). Pengaruh model
pembelajaran kooperatif tipe STAD berbantuan media Kahoot terhadap
kemampuan pemahaman konsep matematis siswa SMAN 4 Bekasi. Jurnal
Riset Pendidikan Matematika Jakarta, 2(2), 14-15.
[Link]
Nur, S., Pujiastuti, I. P., & Rahman, S. R. (2016). Efektivitas Model Problem
Based Learning ( Pbl ) terhadap Hasil Belajar Mahasiswa Prodi
Pendidikan Biologi Universitas Sulawesi Barat. Jurnal Saintifik, 2(2),
133– 141.
Nuraini, F. (2017). Penggunaan Model Problem Based Learning untuk
Meningkatkan Hasil Belajar IPA Siswa Kelas 5 SD. E-Jurnal Mitra
xxxvi
Pendidikan, 1(4), 369–379.
Pohan, A. E. (2020). Konsep pembelajaran daring berbasis pendekatan ilmiah.
Grobogan: CV Sarnu Untung.
Purwanto, E., Sunarno, W., & Aminah, N. S. (2015). Pembelajaran Fisika dengan
Contextual Teaching And Learning Menggunakan Media Animasi Flash
dan Video Ditinjau dari Kemampuan Berpikir Abstrak dan Kemampuan
Verbal Siswa. Jurnal Inkuiri, 4(4), 77–86.
Pusat Penelitian Pendidikan Balitbang Kemendikbud. (2019). Pendidikan di
Indonesia: Belajar dari hasil PISA 2018. Jakarta Pusat: Balitbang
Kemendikbud.
Rusman, T. (2015). Statistika penelitian: Aplikasinya dengan SPSS. Yogyakarta:
Graha Ilmu.
Sagala, A. U., dkk. (2021). Penggunaan aplikasi Kahoot sebagai media belajar
sambil bermain dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Prosiding
Seminar PBSI 2021, IV(2).
Sari, S. N., Shodiqin, A., & Buchori, A. (2019). Efektivitas model pembelajaran
Problem Based Learning (PBL) berbantu Kahoot terhadap hasil belajar
siswa kelas XI SMK pada materi persamaan lingkaran. Seminar Nasional
Matematika Dan Pendidikan Matematika Universitas PGRI Semarang.
Sofyan, H., & Komariah, K. (2016). Pembelajaran Problem Based Learning dalam
Implementasi Kurikulum 2013 di SMK. Jurnal Pendidikan Vokasi, 6(3),
260– 271.
Sutiarsi, S., & Wijaya, A. P. (2019). Pengaruh model Problem Based Learning
terhadap pemahaman konsep matematis siswa. Jurnal Pendidikan
Matematika Unila, 7, 146- 157.
[Link] rticle/view/17749
Sugiyono. (2014). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R & D. Bandung:
Alfabeta.
Sumarso. (2019). Pembimbingan guru membuat kuis online Kahoot dengan
Combro. Yogyakarta: Deepublish.
Wahyun, F. T. (2022.). Pengaruh Model Problem Based Learning Berbantuan
Kahoot Terhadap Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis Siswa
Kelas XI Ma Mu’allimat Nu Kudus. Jurnal Pendiidkan Indonesia: Teori,
Penelitian dan Inovasi Vol. 2, No. 2, , ISSN(Online): 2807-3878.
Wahyuni, F. T. (2013). Peningkatan kemandirian dan hasil belajar matematika
dengan strategi Realistic Mathematics Education bagi siswa SMP N 3
Polanharjo tahun 2012/2013. Skripsi Pendidikan Matematika. Surakarta:
Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Wulandari, & Surjono. (2013). Pengaruh Problem Based Learning terhadap hasil
belajar ditinjau dari motivasi belajar PLC di SMK. Jurnal Pendidikan
Vokasi, 3(2), 181.
xxxvii
LAMPIRAN
xxxviii
Lampiran 1. Daftar Peserta Didik Kelas VIII.1 (Eksperimen) dan kelas
VIII.3 (Kontrol) SMP Negeri 1 Sampara
KELAS
VIII.1 VIII.3
N Jenis Jenis
Nama No Nama
o kelamin kelamin
1 Aditiya Pratama Andeleu L 1 Ahad Muharam L
2 Aisyah Rezky Outri Wijaya P 2 Alfahira P
3 Al Fathir L 3 Alifian L
4 Al Ikhsan L 4 Andi Nur Afiat L
5 Anddini Putri Meydrih P 5 Aswin Novri Aditya L
6 Arul L 6 Cinta Kasih Astuti P
7 Az Zahra Putri Siddiq P 7 Dipaldo L
8 Bima Arya Pangestu L 8 Falentin Wahyunita P
9 Eriska Januarti Mahi P 9 Intan Permata Sari P
10 Fanni Azzahra P 10 Isam Fathurrahman L
11 Gloria Marsela Maabuat P 11 Karmel Mustamu L
12 Irfan Maulana L 12 Laode Rahmat L
13 La Ode Zainal Akbar L 13 Malik Musawir Firdaus L
Maharani Afiqah Nor
14 P 14 Muh Fadli Abdul Saputra L
Rachma
15 Mahel Kendris L 15 Muh Alief Alfa Risky L
16 Muh Adzan Syarif L 16 Muhammad Rizal Bakti L
17 Muh Asrafil Hidayat L 17 Naisya Aqilah Syifah P
18 Muh Fadlan Malik L 18 Najwa P
19 Muh Rifki L 19 Nur Hidayanti P
20 Muhammad Kafi Kan’an L 20 Olga Algani L
21 Muhammad Sarwansyah L 21 Putri Al Qoirah P
22 Nur Asmi Ramadhani P 22 Richzan Alfarul Hidayat L
23 Nurmina. M P 23 Ruci Kusumastuti P
24 Pelangi Indah L 24 Sayyid Aburasak Al Husain L
25 Refan Abdullah Setiawan L 25 Sri Hartati P
26 Riski Yulia Rosan P 26 Viska Duri Nur Aini Jusuf P
27 Salim L 27 Wartimah P
28 Selvi Seprianti P
29 Vaida Azmi P
30 Waode Azni Febriyani P
31 Zaza Nur Ditha Ahmad P
xxxix
Lampiran 2. Alur Tujuan Pembelajaran (ATP)
SKEMA MATERI
Capaian Pembelajaran Tujuan Pembelajaran (TP) Saran
Alokasi
Waktu
(JP)
Analisis Data dan Peluang Setelah mempelajari bab ini, peserta
Di akhir fase D, peserta didik dapat didik diharapkan dapat:
merumuskan pertanyaan, 1. Peserta didik mampu
mengumpulkan, menyajikan, dan memprediksi bagaimana dadu
menganalisis data untuk menjawab akan muncul dan melakukan
pertanyaan. Mereka dapat mengunakan beberapa kali percobaan untuk
proporsi untuk membuat dugaan terkait memastikannya.
suatu populasi berdasarkan sampel 2. Peserta didik dapat memahami
yang digunakan. Mereka dapat arti peluang berdasarkan hasil
menggunakan histogram dan diagram dari banyak eksperimen pada
lingkaran untuk menyajikan dan peristiwa yang tidak pasti.
menginterpretasi data. Mereka dapat 3. Peserta didik mampu memahami
menggunakan konsep sampel, rerata bagaimana menemukan
(mean), median, modus, dan jangkauan kemungkinan ketika semua
(range) untuk memaknai dan kemungkinan sama-sama
membandingkan beberapa himpunan terjadi, merupakan peluang.
data yang terkait dengan peserta didik 4. Peserta didik mampu memahami
dan lingkungannya. Mereka dapat kisaran nilai yang diambil
menginvestigasi kemungkinan adanya peluang dan peluang statistika
perubahan pengukuran pusat tersebut bahwa kejadian pelengkap akan
akibat perubahan data. Mereka dapat terjadi.
menyatakan rangkuman statistika 5. Peserta didik mampu mencari
dengan menggunakan boxplot (box- berbagai peluang dengan
and-whisker plots). Mereka dapat menghitung jumlah kasus
menjelaskan dan menggunakan menggunakan diagram pohon
pengertian peluang (probabilitas) dan atau tabel dua variabel.
proporsi (frekuensi relatif) untuk 6. Peserta didik mampu
memperkirakan terjadinya satu dan dua menjelaskan bahwa peluang
kejadian pada suatu percobaan dapat digunakan untuk
sederhana (semua hasil percobaan menangkap dan menjelaskan
dapat muncul secara merata). kejadian tidak pasti.
xl
Lampiran 3. Modul Ajar Kelas Eksperimen
1 Identitas Umum
Mata Pelajaran Matematika
Nama Penyusun Aura Fricillya
Nama Instansi SMP Negeri 1 Sampara
Fase / Kelas D / VIII
Alokasi Waktu 1 x Pertemuan (2 x 40 menit / 2 JP)
2 Kompetensi Awal
Capaian Pembelajaran Matematika Setiap Fase D
Pada akhir fase D, peserta didik dapat menyelesaikan masalah kontekstual peserta didik
dengan menggunakan konsep-konsep dan keterampilan matematika yang dpelajari pada
fase ini. Mereka mampu mengoperasikan secara efisien pecahan desimal dan bilangan
berpangkat serta akar pangkatnya, bilangan sangat besar dan bilangan sangat kecil;
melakukan pemfaktoran bilangan prima, menggunakan faktor skala, proporsi dan laju
perubahan, menggunakan pengertian himpunan dan melakukan operasi binier pada
himpunan. Peserta didik dapat menyajikan dan menyelesaikan persamaan dan
pertidaksamaan linier satu variabel dan sistem persamaan linier dengan dua variabel
dengan berbagai cara, mengerjakan operasi aritmatika pada pecahan aljabar, menyajikan
dan menyelesaikan persamaan kuadrat dengan berbagai cara. Peserta didik dapat
menerapkan faktor skala terhadap perubahan keliling, luas, dan volume pada prisma,
silinder, limas, kerucut, dan bola. Peserta didik dapat membuktikan dan menggunakan
teorema yang terkait dengan garis transversal, segitiga dan segiempat kongruen, serta
segitiga dan segiempat sebangun, serta teorema Phytagoras. Peserta didik dapat
melakukan transformasi geometri tunggal di bidang koordinat Kartesian. Peserta didik
juga dapat membuat dan menginterpretasi histogram dan grafik lingkaran, menggunakan
pengertian mean, median, modus, jangkauan, dan kuartil; menyajikan data dalam bentuk
boxplots untuk mengajukan dan menjawab pertanyaan. Mereka mampu memperkirakan
kemunculan suatu kejadian pada percobaan sederhana dengan menggunakan konsep
peluang. Peserta didik mampu memperkirakan kemunculan dua kejadian pada percobaan
sederhana dengan menggunakan konsep peluang, mengorganisasikan dan menyajikan
data dalam bentuk scatterplots untuk mengajukan dan menjawab pertanyaan.
Fase D Berdasarkan Elemen
Elemen Capaian Pembelajaran
Analisis Data Di akhir fase D, peserta didik dapat merumuskan
dan Peluang pertanyaan, mengumpulkan, menyajikan, dan
menganalisis data untuk menjawab pertanyaan. Mereka
dapat mengunakan proporsi untuk membuat dugaan
terkait suatu populasi berdasarkan sampel yang
digunakan. Mereka dapat menggunakan histogram dan
diagram lingkaran untuk menyajikan dan
menginterpretasi data. Mereka dapat menggunakan
konsep sampel, rerata (mean), median, modus, dan
jangkauan (range) untuk memaknai dan membandingkan
beberapa himpunan data yang terkait dengan peserta
xli
didik dan lingkungannya. Mereka dapat menginvestigasi
kemungkinan adanya perubahan pengukuran pusat
tersebut akibat perubahan data. Mereka dapat
menyatakan rangkuman statistika dengan menggunakan
boxplot (box-and-whisker plots). Mereka dapat
menjelaskan dan menggunakan pengertian peluang
(probabilitas) dan proporsi (frekuensi relatif) untuk
memperkirakan terjadinya satu dan dua kejadian pada
suatu percobaan sederhana (semua hasil percobaan dapat
muncul secara merata).
3 Profil Pelajar Pancasila yang Berkaitan
Profil Pelajar 1. Bergotong Royong
Pancasila Bekerjasama dalam kelompok melalui pemberian gagasan,
pandangan, atau pemikiran dan menerima serta melaksanakan
atas kesepakatan kelompok dalam mencapai penyelesaian
tugas yang diberikan.
2. Bernalar Kritis
Menyampaikan gagasan, pandangan, atau pemikiran, secara
logis dan kritis mengenai permasalahan sosial yang terjadi di
lingkungan sekitar.
3. Kreatif
Menuliskan hasil diskusi berdasarkan gagasan, pandangan,
atau pemikiran serta gagasan secara logis dan kritis mengenai
permasalahan sosial yang terjadi di lingkungan sekitar dalam
bentuk teks eksposisi.
4. Mandiri
Memiliki kesadaran akan diri dan situasi yang dihadapi serta
memiliki regulasi diri.
4 Sarana Prasarana
1. Buku ajar
2. Pulpen, penghapus, dan perlengkapan tulis lainnya
3. Laptop
4. Proyektor/LCD
5. PPT
6. LKPD
5 Target Siswa
Perangkat ini dapat digunakan guru untuk mengajar murid reguler
atau tipikal
6 Model Pembelajaran
Problem Based Learning Berbantuan Kahoot
7 Tujuan Pembeljaran
1. Peserta didik mampu memprediksi bagaimana dadu akan
muncul dan melakukan beberapa kali percobaan untuk
memastikannya.
2. Peserta didik dapat memahami arti peluang berdasarkan hasil
dari banyak eksperimen pada peristiwa yang tidak pasti.
xlii
3. Peserta didik mampu memahami bagaimana menemukan
kemungkinan ketika semua kemungkinan sama-sama terjadi,
merupakan peluang.
4. Peserta didik mampu memahami kisaran nilai yang diambil
peluang dan peluang statistika bahwa kejadian pelengkap
akan terjadi.
5. Peserta didik mampu mencari berbagai peluang dengan
menghitung jumlah kasus menggunakan diagram pohon atau
tabel dua variabel.
6. Peserta didik mampu menjelaskan bahwa peluang dapat
digunakan untuk menangkap dan menjelaskan kejadian tidak
pasti.
Elemen CP yang Analisis Data dan Peluang
dituju
8 Kegiatan Pembelajaran
Pertemuan 1
Pendahuluan Kegiatan Pendahuluan
(15 menit) Peserta didik melakukan do’a sebelum belajar (meminta
seorang peserta didik untuk memimpin do’a)
Guru mengecek kehadiran peserta didik dan meminta peserta
didik untuk mempersiapkan perlengkapan dan peralatan yang
diperlukan
Peserta didik menerima informasi tentang pembelajaran yang
akan dilaksanakan dengan materi yang memiliki keterkaitan
dengan materi sebelumnya.
Peserta didik menerima informasi tentang tujuan pembelajaran
Apersepsi
xliii
Fase 2: Membimbing Penyelidikan untuk merencanakan
pemecahan masalah
Guru memberi arahan bahwa permasalahan tersebut dapat
diselesaikan menggunakan materi yang akan dipelajari lalu
memberikan penjelasan singkat mengenai materi analisis data
dan peluang
Guru membagikan LKPD: pengamatan untuk menyelesaikan
relasi dan fungsi kepada masing-masing siswa untuk
menyelesaikan masalah. (Mengeksplorasi)
Guru mengarahkan siswa untuk menyelesaikan permasalahan
pada LKPD untuk memperoleh informasi-informasi mengenai
cara menyelesaikan relasi dan fungsi
Guru melakukan pengamatan selama diskusi berlangsung
xliv
pembelajaran hari ini
Guru mengingatkan peserta didik untuk mempelajari materi
yang telah diberikan, pertemuan berikutnya
Guru bersama peserta didik berdo’a untuk mengakhiri
pembelajaran
xlv
Lampiran 4. Modul Ajar Kelas Kontrol
1 Identitas Umum
Mata Pelajaran Matematika
Nama Penyusun Aura Fricillya
Nama Instansi SMP Negeri 1 Sampara
Fase / Kelas D / VIII
Alokasi Waktu 1 x Pertemuan (2 x 40 menit / 2 JP)
2 Kompetensi Awal
Capaian Pembelajaran Matematika Setiap Fase D
Pada akhir fase D, peserta didik dapat menyelesaikan masalah kontekstual peserta didik
dengan menggunakan konsep-konsep dan keterampilan matematika yang dpelajari pada
fase ini. Mereka mampu mengoperasikan secara efisien pecahan desimal dan bilangan
berpangkat serta akar pangkatnya, bilangan sangat besar dan bilangan sangat kecil;
melakukan pemfaktoran bilangan prima, menggunakan faktor skala, proporsi dan laju
perubahan, menggunakan pengertian himpunan dan melakukan operasi binier pada
himpunan. Peserta didik dapat menyajikan dan menyelesaikan persamaan dan
pertidaksamaan linier satu variabel dan sistem persamaan linier dengan dua variabel
dengan berbagai cara, mengerjakan operasi aritmatika pada pecahan aljabar, menyajikan
dan menyelesaikan persamaan kuadrat dengan berbagai cara. Peserta didik dapat
menerapkan faktor skala terhadap perubahan keliling, luas, dan volume pada prisma,
silinder, limas, kerucut, dan bola. Peserta didik dapat membuktikan dan menggunakan
teorema yang terkait dengan garis transversal, segitiga dan segiempat kongruen, serta
segitiga dan segiempat sebangun, serta teorema Phytagoras. Peserta didik dapat
melakukan transformasi geometri tunggal di bidang koordinat Kartesian. Peserta didik
juga dapat membuat dan menginterpretasi histogram dan grafik lingkaran, menggunakan
pengertian mean, median, modus, jangkauan, dan kuartil; menyajikan data dalam bentuk
boxplots untuk mengajukan dan menjawab pertanyaan. Mereka mampu memperkirakan
kemunculan suatu kejadian pada percobaan sederhana dengan menggunakan konsep
peluang. Peserta didik mampu memperkirakan kemunculan dua kejadian pada percobaan
sederhana dengan menggunakan konsep peluang, mengorganisasikan dan menyajikan
data dalam bentuk scatterplots untuk mengajukan dan menjawab pertanyaan.
Fase D Berdasarkan Elemen
Elemen Capaian Pembelajaran
Analisis Data Di akhir fase D, peserta didik dapat merumuskan
dan Peluang pertanyaan, mengumpulkan, menyajikan, dan
menganalisis data untuk menjawab pertanyaan. Mereka
dapat mengunakan proporsi untuk membuat dugaan
terkait suatu populasi berdasarkan sampel yang
digunakan. Mereka dapat menggunakan histogram dan
diagram lingkaran untuk menyajikan dan
menginterpretasi data. Mereka dapat menggunakan
konsep sampel, rerata (mean), median, modus, dan
jangkauan (range) untuk memaknai dan membandingkan
beberapa himpunan data yang terkait dengan peserta
xlvi
didik dan lingkungannya. Mereka dapat menginvestigasi
kemungkinan adanya perubahan pengukuran pusat
tersebut akibat perubahan data. Mereka dapat
menyatakan rangkuman statistika dengan menggunakan
boxplot (box-and-whisker plots). Mereka dapat
menjelaskan dan menggunakan pengertian peluang
(probabilitas) dan proporsi (frekuensi relatif) untuk
memperkirakan terjadinya satu dan dua kejadian pada
suatu percobaan sederhana (semua hasil percobaan dapat
muncul secara merata).
3 Profil Pelajar Pancasila yang Berkaitan
Profil Pelajar 1. Bergotong Royong
Pancasila Bekerjasama dalam kelompok melalui pemberian gagasan,
pandangan, atau pemikiran dan menerima serta melaksanakan atas
kesepakatan kelompok dalam mencapai penyelesaian tugas yang
diberikan.
[Link] Kritis
Menyampaikan gagasan, pandangan, atau pemikiran, secara logis dan
kritis mengenai permasalahan sosial yang terjadi di lingkungan
sekitar.
[Link]
Menuliskan hasil diskusi berdasarkan gagasan, pandangan, atau
pemikiran serta gagasan secara logis dan kritis mengenai
permasalahan sosial yang terjadi di lingkungan sekitar dalam bentuk
teks eksposisi.
[Link]
Memiliki kesadaran akan diri dan situasi yang dihadapi serta
memiliki regulasi diri.
4 Sarana Prasarana
7. Buku ajar
8. Pulpen, penghapus, dan perlengkapan tulis lainnya
9. Laptop
10. Proyektor/LCD
11. PPT
12. LKPD
5 Target Siswa
Perangkat ini dapat digunakan guru untuk mengajar murid reguler
atau tipikal
6 Model Pembelajaran
Guided Inquiry Berbantuan Kahoot
7 Tujuan Pembeljaran
xlvii
1. Peserta didik mampu memprediksi bagaimana dadu akan muncul
dan melakukan beberapa kali percobaan untuk memastikannya.
2. Peserta didik dapat memahami arti peluang berdasarkan hasil
dari banyak eksperimen pada peristiwa yang tidak pasti.
3. Peserta didik mampu memahami bagaimana menemukan
kemungkinan ketika semua kemungkinan sama-sama terjadi,
merupakan peluang.
4. Peserta didik mampu memahami kisaran nilai yang diambil
peluang dan peluang statistika bahwa kejadian pelengkap akan
terjadi.
5. Peserta didik mampu mencari berbagai peluang dengan
menghitung jumlah kasus menggunakan diagram pohon atau
tabel dua variabel.
6. Peserta didik mampu menjelaskan bahwa peluang dapat
digunakan untuk menangkap dan menjelaskan kejadian tidak
pasti.
Elemen CP yang Analisis Data dan Peluang
dituju
8 Kegiatan Pembelajaran
Pertemuan 1
Pendahuluan Kegiatan Pendahuluan
(15 menit) Peserta didik melakukan do’a sebelum belajar (meminta
seorang peserta didik untuk memimpin do’a)
Guru mengecek kehadiran peserta didik dan meminta peserta
didik untuk mempersiapkan perlengkapan dan peralatan yang
diperlukan
Peserta didik menerima informasi tentang pembelajaran yang
akan dilaksanakan dengan materi yang memiliki keterkaitan
dengan materi sebelumnya.
Peserta didik menerima informasi tentang tujuan pembelajaran
Apersepsi
Sebelum memulai pelajaran guru sebaiknya memberi motivasi
pentingnya analisis data dan peluang. Memberi informasi
tentang kompetensi yang akan dicapai.
Guru mengarahkan siswa untuk memperhatikan dan memahami
setiap kegiatan pembelajaran, kemudian menghimbau siswa
untuk memeperhatikan dengan cermat terkait dengan materi
peluang
xlviii
Inti Fase 1: Orientasi
(65 menit)
Guru mengevaluasi materi sebelumya
Guru melanjutkan materi selanjutnya yaitu Peluang
Guru mnyampaikan tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada
materi Peluang
Fase 2: Menyajikan permasalahan
Guru menyajikan permasalahan kepada siswa dengan
menjelaskan konsep peluang.
Guru mengajukan pertanyaan terkait materi peluang
Fase 3: Merumuskan hipotesis
Guru mengarahkan siswa untuk merumuskan hipotesis
mengenai pertanyaan pada menyajikan masalah di atas.
Guru meminta siswa untuk mencari jawaban dari rumusan
masalah tersebut.
Guru menerima semua gagasan siswa.
Guru melanjutkan materi yang selanjutnya mengenai peluang.
Fase 4: Mengumpulkan data
Guru menjelaskan mengenai materi peluang.
Guru meminta siswa untuk mengerjakan 5 contoh mengenai
penerapan peluang dalam kehidupan sehari-hari.
Guru meminta siswa untuk berdiskusi bersama teman
sebangku dalam mengerjakan soal sesuai dengan arahan guru.
(Mengumpulkan data).
Guru meminta siswa untuk mengerjakan soal tersebut dengan
memberikan satu contoh mengenai peluang tersebut.
(Menalar)
Guru memberikan dorongan kepada siswa-siswa yang
mengalami kesulitan.
Fase 5: Menguji hipotesis
Setelah mengerjakan soal-soal tersebut guru meminta untuk
membandingkan hipotesis yang telah semua siswa sampaikan
Setelah membandingkan dengan data tersebut guru meminta
untuk menganalisis persamaan maupun perbedaan antara data
dan hipotesis dari para siswa.
Fase 6: Merumuskan Kesimpulan
Setelah data dan hipotesis sudah sejalan maka guru meminta
para siswa membuat kesimpulan untuk pelajaran hari ini.
Salah satu siswa diminta untuk menyimpulkan pembelajaran
xlix
pada hari ini.
Guru menjelaskan mengenai materi tersebut sebagai penguat
dari data tersebut.
l
Lampiran 5. Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD)
li