0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan17 halaman

Terapi ACT

Acceptance and Commitment Therapy (ACT) adalah bentuk psikoterapi yang membantu klien menerima pengalaman negatif dan berkomitmen untuk bertindak sesuai dengan nilai-nilai pribadi mereka. Terapi ini bertujuan untuk meningkatkan fleksibilitas psikologis dan mengurangi penderitaan dengan mengajarkan penerimaan, pemilihan arah hidup, dan tindakan yang berkomitmen. ACT efektif untuk berbagai gangguan psikologis dan melibatkan proses seperti penerimaan, defusi kognitif, dan klarifikasi nilai.

Diunggah oleh

Nurul Irhamna
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan17 halaman

Terapi ACT

Acceptance and Commitment Therapy (ACT) adalah bentuk psikoterapi yang membantu klien menerima pengalaman negatif dan berkomitmen untuk bertindak sesuai dengan nilai-nilai pribadi mereka. Terapi ini bertujuan untuk meningkatkan fleksibilitas psikologis dan mengurangi penderitaan dengan mengajarkan penerimaan, pemilihan arah hidup, dan tindakan yang berkomitmen. ACT efektif untuk berbagai gangguan psikologis dan melibatkan proses seperti penerimaan, defusi kognitif, dan klarifikasi nilai.

Diunggah oleh

Nurul Irhamna
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

C.

Konsep Acceptance and Commitment Therapy (ACT)


1. Definisi Acceptance and Commitment Therapy (ACT)
Acceptance and Commitment Therapy (ACT) merupakan salah satu bentuk
psikoterapi dari terapi perilaku, namun membawa pendekatan yang secara
fundamental berbeda dari generasi sebelumnya. ACT pertama kali dikembangkan
oleh Steven C. Hayes. Berbeda dengan terapi kognitif-perilaku (Cognitive
Behavioral Therapy/CBT) yang berfokus pada mengubah isi pikiran negatif,
terapi ACT bertujuan mengajak klien untuk menerima pengalaman yang tidak
menyenangkan sebagai bagian dari kehidupan, seiring tetap bergerak menuju
kehidupan yang bermakna dan selaras dengan nilai-nilai pribadi.
Hayes et al. (2012) mendefinisikan ACT sebagai suatu pendekatan terapi
berbasis contextual behavioral science yang bertujuan untuk meningkatkan
fleksibilitas psikologis melalui pengembangan kemampuan menerima
pengalaman batin apa adanya, serta berkomitmen untuk melakukan tindakan yang
sesuai dengan nilai-nilai hidup yang dipegang individu (Hayes, Strosahl, &
Wilson, 2012). Dalam perspektif ini, tujuan terapi bukan untuk menghilangkan
rasa sakit, melainkan untuk mengubah hubungan seseorang dengan rasa sakit itu
sendiri. Sementara Harris (2019) menjelaskan terapi ACT secara harfiah berarti
menerima apa yang berada di luar kendali dan berkomitmen untuk mengambil
tindakan yang dapat meningkatkan kehidupan. (Harris, 2019).
ACT merupakan terapi yang membantu menolong klien dengan menggunakan
penerimaan psikologi sebagai strategi koping dalam situasi stres baik internal
maupun eksternal yang tidak mudah untuk dapat diatasi. Klien dibantu untuk
menerima kejadian yang tidak diinginkan, mengidentifikasi dan fokus pada aksi
secara langsung sesuai dengan tujuan yang diinginkan.
Acceptance mengindikasikan bahwa seseorang mengerti dan setuju. Sehingga
disini ditekankan bahwa seseorang harus terlebih dahulu mengerti mengenai
keadaannya. Setelah itu barulah ia bisa menerima dengan kondisinya (Varcarolis,
2010). Supaya klien berkomitmen dengan apa yang sudah dipilih sesuai dengan
nilai yang dimiliki maka perawat harus bisa membantu klien agar mengerti dan
jelas dengan apa yang harus dilakukan melalui proses komunikasi yang terapeutik
dan klien harus bisa bertahan dengan apa yang dipilih karena sudah melakukan
komitmen (Stuart, 2009). Perawat berdiskusi dengan klien bagaimana cara untuk
mencapai hal tersebut. Salah satunya adalah melakukan perubahan pada perilaku
klien untuk merubah pola perilaku yang maladaptif.
ACT membantu individu dalam mengurangi penderitaan yang dialami dengan
meningkatkan kesadaran dan kemampuan individu tersebut terhadap apa yang
diinginkannya dalam hidup ini. Komponen yang digunakan dalam ACT antara
lain terdiri dari Accept, Choose direction, dan Take Action (Eifert & Forsyth,
2005) yang dijelaskan sebagai berikut :
a. Accept
Menerima pikiran dan perasaan termasuk didalamnya hal yang tidak
diinginkan/ tidak menyenangkan seperti rasa bersalah, rasa malu, rasa cemas
dan lainnya. Disini klien berusaha menerima apa yang mereka punya dan
miliki dengan maksud untuk mengakhiri penderitaan yang dialami selama ini
dalam menolak pikiran ataupun perasaan yang tidak diinginkan tersebut
tanpa merubah atau membuang mereka. Tetapi lebih kepada melalui berbagai
cara latihan mencapai mindfulness atau kesadaran, klien belajar untuk dapat
hidup dengan mengevaluasi dan mengkritisi pikiran mereka.
b. Choose Direction ( Memilih Arah)
Klien dibantu untuk memilih arah hidup mereka dengan cara
mengidentifikasi dan fokus pada apa yang mereka inginkan dan nilai apa
yang akan mereka pilih untuk hidup mereka. Terapis membantu klien
mengidentifikasi apa saja hal yang penting bagi klien dan kemudian
membuat urutan dari hal yang paling penting. Hal ini bertujuan agar klien
dapat menerima apa yang ada dalam diri mereka, apa yang datang bersama
mereka, dan apa saja yang menemani mereka selama dalam perjalanan.
c. Take Action (Melakukan kegiatan/perilaku)
Pada proses ini terjadi komitmen terhadap kegiatan yang akan dipilih
termasuk langkah yang diambil untuk mencapai tujuan hidup yaitu ingin
dihargai. Terapis mendorong klien untuk memiliki jalan atau arah hidup
sesuai dengan nilai yang mereka inginkan sehingga mereka dapat bergerak
sesuai nilai tersebut. Disini klien belajar bahwa ada perbedaan antara mereka
dengan manusia yang lain yaitu antara pikiran dan perasaan mereka dan apa
yang akan mereka lakukan dalam hidup.
2. Tujuan Acceptance and Commitment Therapy (ACT)
ACT merupakan terapi yang digunakan pada berbagai macam situasi dan
gangguan psikologis. ACT memiliki dua tujuan utama yaitu
a. Mengajarkan penerimaan terhadap pikiran dan perasaan yang tidak
diinginkan yang tidak bisa dikontrol oleh klien membantu klien dalam
mencapai dan menjalani kehidupan yang lebih bermakna tanpa harus
menghilangkan pikiran-pikiran kurang menyenangkan yang terjadi.
b. Melatih klien untuk komitmen dan berperilaku dalam hidupnya berdasarkan
nilai yang dipilih oleh klien sendiri.
3. Indikasi Acceptance and Commitment Therapy (ACT)
Beberapa studi tentang ACT sudah banyak dilakukan seperti :
a. Gangguan mood
b. Gangguan ansietas
c. Penyalahgunaan zat
d. Skizofrenia
e. Gangguan ansietas seperti pengobatan pada PTSD
f. Perilaku marah
Sehingga ACT sangat disarankan untuk dilakukan sebagai intervensi
pada pasien masalah kejiwaan dan psikososial.
4. Prinsip Acceptance and Commitment Therapy (ACT)
ACT dikaitkan melalui enam proses psikologis yang saling berkaitan, yang
sering divisualisasikan dalam bentuk diagram heksagonal yang dikenal sebagai
model "Heksaflex" (Hayes, Strosahl & Wilson, 2005).
a. Acceptance
Acceptance dalam ACT bukan berarti pasrah atau menyerah,
melainkan menerima untuk mengalami perasaan, pikiran, sensasi tubuh, atau
kenangan yang tidak menyenangkan tanpa berusaha keras untuk mengubah
frekuensi atau bentuknya (Hayes et al., 2012). Penerimaan merupakan
alternatif yang lebih adaptif dibandingkan dengan experiential avoidance,
yaitu kecenderungan untuk menghindari atau menekan pengalaman batin
yang tidak nyaman.
Acceptance disini berarti menerima pengalaman-pengalaman yang
tidak menyenangkan/ pengalaman buruk tanpa berusaha untuk mengubahnya.
Acceptance merupakan salah satu strategi yang sangat penting dimana klien
membuka diri untuk mengalaminya secara emosi. Kesediaan/ penerimaan
dan keterbukaan merupakan kunci dalam tahap Acceptance, dimana
seseorang memilih tindakan sesuai dengan nilai yang dianutnya. Acceptance
ini membantu klien untuk belajar hidup dengan mengalami kejadian buruk
dan tidak berfokus pada menurunkan stressor tetapi lebih kepada untuk
menjadikan stressor menjadi bagian dari hidupnya dan bernilai. Tujuan dari
proses penerimaan ini adalah untuk meningkatkan kerelaan seseorang untuk
menghadapi pikiran, perasaan dan pengalaman yang selama ini mereka
hindari
Tugas perawat adalah membantu klien memahami bahwa perjuangan
melawan gejala justru sering memperburuk kondisi, sementara penerimaan
membuka ruang untuk kehidupan yang lebih bermakna (Luoma et al., 2017).
b. Cognitive Defusion
Cognitive defusion adalah proses menciptakan jarak antara diri dengan
pikiran, sehingga individu tidak lagi terjebak dalam isi pikirannya. Tujuan
defusi bukan untuk menghilangkan pikiran negatif, melainkan untuk
mengubah fungsinya sehingga pikiran tersebut tidak lagi mengendalikan
perilaku seseorang (Hayes et al., 2012).
Teknik ini bertujuan untuk mengurangi penolakan secara emosi
dimana dapat terjadi saat seseorang menolak untuk mengalami pengalaman
buruk. Hasil riset menunjukkan bahwa perilaku menghindar melalui pikiran,
perasaan dan perilaku dapat mempengaruhi mekanisme koping seseorang
dimana usaha menghindar untuk mengalami pengalaman yang buruk
memberikan efek yang bertentangan atau paradoxical. Teknik ini dilakukan
melalui latihan yang berulang dan terus menerus sampai akhirnya stressor
tidak memiliki makna bagi klien.
c. Present Moment
Proses ketiga adalah kemampuan untuk hadir secara penuh di momen
saat ini dengan sikap terbuka, penasaran, dan tanpa menghakimi. Hal ini
berkaitan erat dengan konsep mindfulness, namun dalam ACT dipahami
sebagai fondasi praktis yang memungkinkan proses-proses lainnya dapat
berjalan (Harris, 2019). Klien diajak untuk melepaskan diri dari keasyikan
dengan masa lalu atau kekhawatiran tentang masa depan, dan sebaliknya
melatih diri untuk hadir di sini dan kini.
Pada tahap ini klien diajarkan untuk mengalami kejadian seutuhnya
tanpa harus melawan ketika timbul kejadian tersebut. Klien bercerita tentang
pengalamannya, dan klien belajar untuk mengidentifikasi serta menjelaskan
pikiran/perasaan agar klien dapat mengerti dirinya. Tujuan ACT disini adalah
membantu klien menghadapi dunia secara lebih langsung sehingga perilaku
yang dihasilkan klien dapat lebih fleksibel dan konsisten terhadap nilai yang
telah dimiliki.
d. Self as Context
Tahap ini membantu klien melihat dirinya sendiri tanpa harus
menghakimi/ menghubungkan klien dengan nilai benar ataupun salah. ACT
membantu klien untuk menjadi lebih focus pada dirinya sendiri dengan cara
latihan pikiran, dan latihan pengalaman. Sebagai contoh, klien dianggap
sebagai papan catur, pikiran klien sebagai pion-pion. Sehingga ketika pion
bergerak, papan catur tetap ditempatnya. Artinya adalah ketika pikiran
buruk/tidak menyenangkan datang pada klien, hal itu tidak akan
mempengaruhi klien. Sehingga apapun yang dipikirkan ataupun dirasakan
tidak akan mempengaruhi klien.
Dalam keperawatan jiwa, perspektif diri sebagai konteks sangat
penting bagi klien yang memiliki identitas diri yang rapuh atau yang
mendefinisikan dirinya semata-mata berdasarkan diagnosisnya. Dengan
membantu klien menemukan "diri yang mengamati" ini, perawat membuka
kemungkinan bagi klien untuk melihat gejala, pikiran, dan perasaan mereka
sebagai sesuatu yang mereka "miliki" bukan sesuatu yang "mendefinisikan"
siapa mereka (Luoma et al., 2017).
e. Values
Teknik ini digunakan secara bersamaan atau bergantian untuk
membantu klien mengklarifikasi nilai yang ada dalam hidupnya dan
membantu klien untuk mengambil keputusan atau tindakan yang mendukung
nilai-niali hidup yang sudah ada. Klien dibantu untuk menggunakan nilai
yang sudah ada untuk mengatasi masalahnya saat ini. ACT membantu klien
mengembangkan langkah-langkah efektif yang lebih besar dan luas lagi yang
berhubungan dengan nilai yang dipilih melalui 9 area yaitu hubungan
keluarga. pernikahan, hubungan sosial, karir, pendidikan, rekreasi, spiritual,
kewarganegaraan, kesehatan. Dengan mengklarifikasi nilai-nilai tersebut,
akan membantu klien meningkatkan keinginan untuk melakukan perilaku
baru yang adaptif (Lawhan, 2008).
Klarifikasi nilai menjadi sangat penting dalam ACT karena nilai inilah
yang memberikan motivasi intrinsik untuk bertindak, bahkan di tengah
kehadiran pikiran dan perasaan yang menyakitkan. Dalam konteks klien
dengan gangguan jiwa, banyak yang telah kehilangan kontak dengan nilai-
nilai hidupnya akibat dominasi gejala dan pola penghindaran. Proses
klarifikasi nilai dalam sesi terapi membantu klien kembali menemukan
makna dan tujuan hidupnya, untuk perubahan perilaku yang berkelanjutan
(Hayes et al., 2012).
f. Commited Action
Proses terakhir adalah committed action, yaitu kemampuan untuk
mengambil tindakan nyata yang dipandu oleh nilai-nilai, bahkan ketika
pikiran dan perasaan yang tidak menyenangkan hadir. Teknik ini berbeda
dari sekadar niat baik karena menekankan pada tindakan konkret, terencana,
dan konsisten dengan nilai yang telah diklarifikasi (Luoma et al., 2017).
Tindakan berkomitmen sering kali melibatkan penetapan tujuan jangka
pendek dan jangka panjang, serta kemampuan untuk bangkit kembali ketika
mengalami hambatan atau kegagalan.
Dalam praktik, tindakan berkomitmen diwujudkan dalam bentuk
rencana aktivitas harian yang bermakna, latihan keterampilan sosial, atau
keterlibatan kembali dalam peran dan tanggung jawab yang pernah
ditinggalkan akibat gejala gangguan jiwa. Hal ini menghubungkan antara
proses terapeutik dalam sesi dengan kehidupan nyata klien di luar sesi terapi
(Harris, 2019).
5. Kriteria terapis
Hal-hal yang harus diperhatikan oleh terapis dalam melakukan proses terapi
ACT agar berlangsung terapeutik antara lain:
a. Selalu tertarik dengan apa yang diinginkan oleh klien
b. Selalu menghormati apapun pengalaman klien sebagai sumber informasi c.
c. Dukung klien dalam merasakan dan memikirkan apa yang mereka rasakan
dan pikirkan bahwa tidak semuanya itu benar dan kemudian menemukan apa
yang terbaik
d. Membantu klien untuk bergerak kearah yang lebih berharga baik dari cerita
maupun reaksi spontan
e. Membantu klien mendeteksi pikiran dan perasaan aneh kemudian
menerimanya, mengatasinya dan memindahkan kedalam arah yang lebih
bernilai sehingga dapat mengembangkan pola perilaku yang lebih efektif.
f. Mengulangi terus menerus sampai klien membudaya
6. Proses pelaksanaan Acceptance and Commitment Therapy (ACT)
a. Sesi 1 mengidentifikasi kejadian, pikiran, dan perasaan yang muncul serta
dampak perilaku yang muncul akibat pikiran dan perasaan
1. Tujuan
a) Klien mampu membina hubungan saling percaya dengan terapis.
b) Klien mampu mengidentifikasi kejadian buruk/tidak menyengkan
yang dialami sampai saat ini
c) Klien mampu mengidentifikasi pikiran yang muncul dari kejadian
tersebut
d) Klien mampu mengidentifikasi respon yang timbul dari kejadian
tersebut
e) Klien mampu mengidentifikasi upaya/perilaku yang muncul dari
pikiran dan perasaan yang ada terkait kejadian.
2. Setting
Klien duduk bersama terapis dalam suatu ruangan yang tenang dan
nyaman
3. Alat dan Bahan
Alat tulis, modul, buku kerja klien, dan buku evaluasi klien.
4. Metode
Diskusi, dan tanya jawab.
5. Langkah-langkah
a) Tahap Persiapan
1) Melakukan seleksi terhadap klien sesuai dengan masalah
keperawatannya.
2) Mengingatkan klien sehari sebelum pelaksanaan terapi
3) Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan yang kondusif
b) Tahap Orientasi
1) Salam terapeutik:
- Memperkenalkan nama dan nama panggilan terapis (pakai
papan nama).
- Menanyakan nama dan panggilan klien.
2) Evaluasi/validasi
- Menanyakan bagaimana perasaan klien saat ini.
- Menanyakan apakah ada kejadian yang mengganggu saat ini
- Bagaimana pikiran dan perasaan yang muncul terkait
kejadian tersebut dan apa yang dilakukan klien sehubungan
dengan pikiran dan perasaan tersebut yang terjadi?
3) Kontrak:
- Menjelaskan pengertian ACT dan tujuan terapi yaitu
membantu klien untuk dapat mengontrol perilaku
kekerasannya dengan cara mengubah pola pikir yaitu
berusaha untuk menerima pikiran atau perasaan yang tidak
menyenangkan yang terjadi.
- Menjelaskan tentang proses pelaksanaan, tugas yang harus
dikerjakan klien dan buku kerja yang akan digunakan klien
dalam melaksanakan tugas dan latihannya. Proses
pelaksanaan dari ACT terdiri atas 4 sesi dan setiap klien
akan melewati semua sesi. Klien akan dilatih cara berpikir,
mengontrol emosi dan berperilaku serta diminta untuk
menuliskan tugas dan hasil latihan ke dalam buku kerja
yang disediakan oleh terapis. Buku kerja akan diisi dan
dipegang oleh klien.
- Menjelaskan jumlah pertemuan dan sesi-sesi dalam terapi
ACT ini. Adapun sesi yang akan dilakukan terdiri atas 4
sesi, dan setiap sesinya dilakukan selama 30 – 45 menit.
Pada pelaksanaannya setiap sesi akan dilaksanakan setiap
hari sehingga jumlah sesi pertemuan kita 6 kali pertemuan.
- Menjelaskan peraturan dalam terapi yaitu klien diharapkan
berpartisipasi dan kerjasamanya dalam mengikuti kegiatan
dari sesi awal sampai selesai 15 semua sesinya.
- Pada pertemuan sesi 1 ini disepakati tujuannya adalah untuk
membina hubungan saling percaya dan mengidentifikasi
kejadian buruk atau tidak menyenangkan yang dialami,
pikiran yang dialami atau dirasakan dan respon perasaan
(emosi dan perilaku) akibat kejadian tersebut, dan perilaku
yang dilakukan berdasarkan pada pikiran dan perasaan yang
terjadi terkait kejadian. Sesi ini akan dilakukan selama 30-
45 menit di tempat yang disepakati bersama klien
c) Tahap Kerja
1) Terapis mendiskusikan bersama klien tentang kejadian buruk
/tidak menyenangkan yang dialami klien pada saat ini, pikiran
yang muncul serta respon perasaan klien terkait dengan
kejadian/ peristiwa yang terjadi, dan perilaku yang dilakukan
terkait dengan pikiran dan perasaan yang terjadi terkait
kejadian.
2) Meminta klien menuliskan kejadian/ peristiwa yang dialami,
pikiran, perasaan yang muncul akibat kejadian ke dalam buku
kerja.
3) Meminta klien untuk menuliskan perilaku yang dilakukan
terkait dengan kejadian dan pikiran yang dirasakan.
4) Memberikan reinforcement positif atas kemampuan klien
d) Tahap Terminasi
1) Evaluasi
- Menanyakan perasaan klien setelah selesai sesi I
- Meminta klien untuk menyebutkan kembali kejadian /
peristiwa yang dialami, pikiran yang muncul dan perasaan
yang timbul dari kejadian tersebut serta respon perilaku
yang dilakukan terkait pikiran dan perasaan yang dirasakan
oleh klien
- Memberikan reinforcement positif atas kerjasama dan
kemampuan klien dalam menyampaikan kejadian / peristiwa
yang dialami
2) Tindak lanjut
Menganjurkan klien untuk mengidentifikasi kejadian
buruk/tidak menyenangkan lainnya yang dialami saat ini,
pikiran yang timbul, respon perasaan yang muncul serta
perilaku yang dilakukan klien akibat pikiran dan perasaan
terkait kejadian tersebut dan menuliskannya ke dalam buku
kerja
3) Kontrak
- Menyepakati topik sesi 2 yaitu mengidentifikasi nilai klien
berdasarkan pada pengalaman klien
- Menyepakati waktu dan tempat untuk pertemuan sesi 2
6. Evaluasi dan dokumentasi
Evaluasi ketepatan waktu pelaksanaan terapi khususnya tahap kerja,
keaktifan klien, keterlibatan klien dan proses pelaksanaan kegiatan
secara keseluruhan.
b. Sesi 2 Mengidentifikasi nilai berdasarkan pengalaman klien
1. Tujuan
a) Klien mampu mengidentifikasi kejadian buruk/tidak menyenangkan
yang terjadi
b) Klien mampu menceritakan tentang upaya apa saja yang dilakukan
terkait dengan kejadian tersebut berdasarkan pada pengalaman klien
(contoh: hubungan keluarga, pekerjaan, hubungan social, spiritual
dan kesehatan) baik yang konstruktif maupun desktruktif.
2. Setting
Klien duduk bersama terapis dalam suatu ruangan yang tenang dan
nyaman
3. Alat dan Bahan
Alat tulis, modul, buku kerja klien, dan buku evaluasi klien.
4. Metode
Diskusi, dan tanya jawab.
5. Langkah-langkah
a) Tahap Persiapan
1) Mengingatkan klien minimal 1 hari sebelumnya b.
Mempersiapkan diri, tempat dan waktu.
b) Tahap Orientasi
1) Salam terapeutik:
- Salam dari terapis kepada klien.
2) Evaluasi/validasi
- Menanyakan bagaimana perasaan klien saat ini.
- Menanyakan apa saja upaya yang dilakukan terkait dengan
kejadian yang dialami berdasarkan pada pengalaman klien
(bisa hubungan keluarga, sosial, pekerjaan, kesehatan atau
spiritual) baik destruktif maupun konstruktif.
- Memberikan reinforcement positif atas kemampuan klien
mengidentifikasi kejadian / peristiwa yang dialami dan
perasaannya?
3) Kontrak:
- Menyepakati topik pertemuan pada sesi 2 yaitu
mengidentifikasi nilai klien berdasarkan pengalaman klien.
- Mengidentifikasi upaya yang dilakukan terkait dengan
kejadian yang dialami berdasarkan pada pengalaman klien
(bisa hubungan keluarga, sosial, pekerjaan, kesehatan atau
spiritual) baik destruktif maupun konstruktif.
- Lama waktu pertemuan 30 menit di ruangan yang dirasa
nyaman oleh klien dan terapis.
- Mengingatkan kembali peraturan terapi yaitu klien
diharapkan berpartisipasi dalam diskusi dan mengikuti sesi
dari awal sampai akhir.
c) Tahap Kerja
1) Klien mendiskusikan kejadian buruk/tidak menyenangkan yang
terjadi, menceritakan upaya yang dilakukan terkait dengan
kejadian yang dialami berdasarkan pada pengalaman klien (bisa
hubungan keluarga, sosial, pekerjaan, kesehatan atau spiritual)
baik destruktif maupun konstruktif kepada terapis.
2) Menentukan apakah yang dilakukan klien sudah sesuai dan
baik.
3) Memberikan reinforcement positif atas kemampuan klien
d) Tahap Terminasi
1) Evaluasi
- Menanyakan perasaan klien setelah selesai sesi II
- Mengevaluasi kemampuan klien dalam mengidentifikasi
upaya yang dilakukan terkait dengan kejadian yang dialami
berdasarkan pada pengalaman klien (bisa hubungan
keluarga, sosial, pekerjaan, kesehatan atau spiritual) baik
destruktif maupun konstruktif kepada terapis.
- Mengevaluasi perilaku klien
- Memberikan reinforcement positif atas kerjasama klien
yang baik dan kemampuan klien.
2) Tindak lanjut
Menuliskan upaya lain yang dilakukan terkait dengan
kejadian yang dialami berdasarkan pengalaman klien dicatatan
harianku.
3) Kontrak
- Menyepakati topik sesi 3 yaitu berlatih menerima kejadian
dengan nilai yang dipilih
- Menyepakati waktu dan tempat untuk pertemuan sesi 3
6. Evaluasi dan dokumentasi
Evaluasi ketepatan waktu pelaksanaan terapi khususnya tahap kerja,
keaktifan klien, keterlibatan klien dan proses pelaksanaan secara
keseluruhan.

c. Sesi 3 : Berlatih menerima kejadian dengan nilai yang dipilih


1. Tujuan
a) Klien mampu memilih salah satu perilaku yang dilakukan akibat
dari pikiran dan perasaan yang timbul terkait kejadian tidak
menyenangkan
b) Klien mampu berlatih cara untuk mengatasi perilaku yang kurang
baik yang sudah dipilih
c) Klien mampu memasukkan latihan kedalam jadwal kegiatan harian
harian klien.
2. Setting
Klien duduk bersama terapis dalam suatu ruangan yang tenang dan
nyaman
3. Alat dan Bahan
Alat tulis, modul, buku kerja klien, dan buku evaluasi klien.
4. Metode
Diskusi, dan tanya jawab.
5. Langkah-langkah
a) Tahap Persiapan
1) Mengingatkan klien minimal 1 hari sebelumnya
2) Mempersiapkan diri, tempat dan waktu.
b) Tahap Orientasi
1) Salam terapeutik:
- Salam dari terapis kepada klien.
2) Evaluasi/validasi
- Menanyakan bagaimana perasaan klien saat ini.
- Menanyakan apakah sudah menulis upaya yang dilakukan
berdasarkan pengalaman klien lainnya dicatatan harian
- Melihat buku kerja klien untuk mengetahui upaya lain yang
biasa dilakukan klien
- Memberikan reinforcement positif atas kemampuan klien
3) Kontrak:
- Menyepakati topik pertemuan pada sesi 3 yaitu berlatih
menerima kejadian dengan nilai yang dipilih klien
- Lama waktu pertemuan 30 menit di ruangan yang dirasa
nyaman oleh klien dan terapis.
- Mengingatkan kembali peraturan terapi yaitu klien
diharapkan berpartisipasi dalam diskusi dan mengikuti sesi
dari awal sampai akhir.
c) Tahap Kerja
1) Terapis meminta klien untuk menentukan salah satu perilaku
yang masih perlu ditingkatkan untuk dilatih bersama
2) Terapis meminta klien untuk mengikuti dan mengulang kembali
cara yang sudah dicontohkan oleh terapis
3) Terapis meminta klien untuk berlatih berperilaku sesuai dengan
nilai yang dipilih
4) Memasukkan kedalam jadwal kegiatan harian
5) Memberikan reinforcement positif atas kemampuan klien
d) Tahap Terminasi
1) Evaluasi
- Menanyakan perasaan klien setelah sesi III selesai
- Mengevaluasi kemampuan klien untuk berlatih berperilaku
yang baik dan mengevaluasi perasaan klien setelah berlatih.
- Memberikan reinforcement positif atas kerjasama klien
yang baik dan kemampuan klien..
2) Tindak lanjut
Menganjurkan klien untuk terus melakukan berlatih cara
yang sudah diajarkan terapis tentang berlatih berperilaku yang
baik dalam menerima kejadian dengan nilai yang dipilih klien.
3) Kontrak
- Menyepakati topik sesi 4 yaitu komitmen yaitu
berkomitmen melakukan tindakan sesuai dengan nilai yang
sudah dipilih klien dan cara mencegah kekambuhan
- Menyepakati waktu dan tempat untuk pertemuan sesi 4
6. Evaluasi dan dokumentasi
Evaluasi ketepatan waktu pelaksanaan terapi khususnya tahap kerja,
keaktifan klien, keterlibatan klien dan proses pelaksanaan secara
keseluruhan.

d. Sesi 4 : Komitmen dan mencegah kekambuhan


1. Tujuan
a) Klien mampu mendiskusikan tentang apa yang akan dilakukan
untuk menghindari berulangnya perilaku buruk yang terjadi
b) Klien mampu mengidentifikasi rencana yang akan dilakukan klien
untuk mempertahankan perilaku yang baik
c) Klien mampu mengidentifikasi apa yang akan dilakukan oleh klien
untuk meningkatkan kemampuan berperilaku baik
d) Klien mampu menyebutkan keuntungan memanfaatkan pelayanan
kesehatan
e) Klien mampu menyebutkan akibat jika stress tidak ditangani segera
f) Klien mampu menyebutkan manfaat pengobatan
g) Klien mampu menyebutkan manfaat terapi modalitas lain untuk
kesembuhan.
2. Setting
Klien duduk bersama terapis dalam suatu ruangan yang tenang dan
nyaman
3. Alat dan Bahan
Alat tulis, modul, buku kerja klien, dan buku evaluasi klien.
4. Metode
Diskusi, dan tanya jawab.
5. Langkah-langkah
a) Tahap Persiapan
1) Mengingatkan klien minimal 1 hari sebelumnya
2) Mempersiapkan diri, tempat dan waktu.
b) Tahap Orientasi
1) Salam terapeutik:
- Salam dari terapis kepada klien.
2) Evaluasi/validasi
- Menanyakan perasaan klien hari ini
- Menanyakan kemampuan klien untuk berlatih cara
menerima kejadian sesuai nilai yang dipilih
- Memberikan reinforcement positif atas kemampuan klien
3) Kontrak:
- Menyepakati topik pertemuan pada sesi 4 yaitu menentukan
komitmen dan mempertahankan kemampuan yang telah
dikuasai.
- Lama waktu pertemuan 20 menit di ruangan yang dirasa
nyaman oleh klien dan terapis.
- Mengingatkan kembali peraturan terapi yaitu klien
diharapkan berpartisipasi dalam diskusi dan mengikuti sesi
dari awal sampai akhir.
c) Tahap Kerja
1) Terapis menanyakan kepada klien tentang komitmen yang
dimiliki klien yaitu apa yang akan dilakukan untuk menghindari
berulangnya perilaku buruk yang terjadi
2) Terapis menganjurkan klien untuk mendiskusikan tentang apa
yang akan dilakukan untuk menghindari berulangnya perilaku
buruk yang terjadi
3) Terapis kemudian meminta klien untuk menuliskannya kedalam
buku kerja pada kolom ke 2
4) Terapis menanyakan apa yang akan dilakukan klien untuk
mempertahankan perilaku yang baik
5) Terapis kemudian meminta klien untuk menuliskannya kedalam
buku kerja pada kolom ke 3
6) Terapis menanyakan apa yang akan dilakukan oleh klien untuk
meningkatkan kemampuan berperilaku baik
7) Terapis kemudian meminta klien untuk menuliskannya kedalam
buku kerja pada kolom ke 4
8) Terapis menanyak kepada klien apa keuntungan memanfaatkan
pelayanan kesehatan
9) Terapis meminta klien untuk mengungkapkan akibat jika stress
tidak ditangani segera
10) Terapis meminta klien untuk mengungkapkan manfaat
pengobatan bagi klien
11) Terapis meminta klien untuk menyebutkan manfaat terapi
modalitas lain untuk kesembuhan
12) Memberikan reinforcement positif atas kemampuan klien
d) Tahap Terminasi
4) Evaluasi
- Menanyakan perasaan klien setelah sesi IV selesai
- Mengevaluasi kemampuan klien untuk berkomitmen untuk
menghindari terulangnya kejadian atau peristiwa tersebut.
- Mengevaluasi perilaku baru sesuai dengan nilai yang dianut
klien
- Memberikan reinforcement positif atas kerjasama klien
yang baik dan kemampuan klien.
5) Tindak lanjut
- Menganjurkan klien untuk mempertahankan komitmen
menjalani kegiatan sesuai nilai yang sudah dipilih oleh klien
- Menuliskan setiap pikiran, perasaan atau kejadian dan upaya
yang dilakukan klien dalam mengatasi hal tersebut.
6) Kontrak
- Mengakhiri pertemuan untuk ACT dan menyepakati bila
klien memerlukan pertemuan tambahan.
6. Evaluasi dan dokumentasi
Evaluasi ketepatan waktu pelaksanaan terapi khususnya tahap kerja,
keaktifan klien, keterlibatan klien dan proses pelaksanaan secara
keseluruhan.

Anda mungkin juga menyukai