72 Pengaruh Suhu Reaksi ……………..
(Puguh Setyopratomo dkk)
Pengaruh Suhu Reaksi dan Rasio CPO/Metanol terhadap
Karakteristik Produk pada Pembuatan Biodisel dengan
Co-solvent Dietil Eter
Effect of Reaction Temperature and the CPO/Metanol Ratio
on the Product Characteristics in the Biodiesel Production
Using Diethyl Eter as Co-Solvent
Puguh Setyopratomo, Edy Purwanto, Rudy Hartanto, & J. Kristianto
Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Surabaya
ABSTRACT
In this research Crude Palm Oil (CPO) and methanol were reacted by applying 5 % basic catalyst (KOH) and
adding diethyl ether as co-solvent to produce methyl ester (biodiesel). Co-solvent was added in order to form
one-phase reaction mixture, and then higher reaction rate was expected compare with two-phase system.
Reaction was carried out batch wise in 1 litre glass reactor stirred continuously at 300 rpm. The objective of this
research is to obtain the characteristic of biodiesel product. The advantage using this methode was showed by
several characteristics of the biodiesel product. The density and viscosity had achieved the commercial
biodiesel standard, this biodiesel product has higher flash point of the product compared with solar, which means
lower risk factor during storage. The very low sulfur content and the pour point of product that was layed below
the maximum allowable limit, are environmentally favorable.
Keywords: Biodiesel, transesterification, methyl-ester
PENDAHULUAN 80% dari kandungan petroleum diesel),
mempunyai indek setan yang lebih tinggi
Pada tahun-tahun terakhir ini dunia dihadapkan daripada petroleum diesel, mudah dalam
pada dua masalah penting, yaitu krisis minyak penyimpanan karena mempunyai titik nyala
bumi sebagai sumber energi dan menurunnya yang relatif lebih tinggi, merupakan bahan
kualitas lingkungan (Carraretto et al. 2004). yang terbarui, merupakan bahan yang bersifat
Minyak bumi tergolong bahan yang tidak biodegradable, dan tidak beracun (Korbitz
terbarukan (unrenewable), sehingga produksi 1999).
dan pemakaiannya secara terus menerus akan Ada empat metode yang sudah banyak
mengakibatkan semakin menipisnya cadangan dikembangkan dalam memproduksi biodisel,
minyak bumi. Oleh karena itu usaha-usaha yaitu : penggunaan langsung (direct use) dan
untuk mencari sumber energi alternatif menjadi pencampuran (blending), mikroemulsi,
sangat penting. Salah satu sumber energi pyrolysis (thermal cracking), dan
alternatif yang menarik adalah biodisel (suatu transesterifikasi (alkoholisis) (Ma & Hanna
metil ester), yaitu bahan bakar yang dihasilkan 1999).
dari minyak nabati. Biodisel menjadi menarik Transesterifikasi yang juga disebut
karena merupakan bahan yang terbarukan alkoholisis adalah reaksi antara lemak atau
(renewable) dan lebih ramah lingkungan. minyak dengan alkohol sehingga dihasilkan
Beberapa keuntungan penggunaan biodisel ester dan gliserol. Sampai saat ini metode ini
sebagai bahan bakar adalah: tidak memerlukan dipandang sebagai metode yang paling
modifikasi mesin diesel yang telah ada, menguntungkan dalam memproduksi bahan
menghasilkan emisi CO2, SO2, jelaga, CO, dan bakar biodisel dari minyak nabati. Beberapa
hidrokarbon yang lebih rendah dibandingkan alkohol yang dapat digunakan dalaam reaksi
dengan emisi dari petroleum diesel, tidak transesterifikasi adalah metanol, etanol,
memperparah efek rumah kaca karena siklus propanol, butanol dan amil alkohol. Diantara
karbon yang terlibat pendek, mempunyai alkohol tersebut yang paling sering digunakan
kandungan energi yang hampir sama dengan adalah metanol dan etanol, terutama metanol,
kandungan energi petroleum diesel (sekitar
Jurnal ILMU DASAR, Vol. 9 No. 1, Januari 2008 : 72-77 73
karena murah dan rantai karbonnya lebih senyawa-senyawa organik. Beberapa co-
pendek. solvent yang berasal dari golongan cyclic
Transesterifikasi minyak nabati dengan ethers adalah tetrahydrofuran (THF), 1,4-
metanol dapat dilakukan dengan menggunakan dioxane, diethylether, methyltertiarybutylether,
katalis homogen (asam atau basa) maupun dan diisopropyl ether (Ma & Hanna 1999).
heterogen (asam, basa atau enzimatik) (Vicente Tujuan penelitian ini adalah mengetahui
et al. 1997). Transesterifikasi dengan katalis pengaruh suhu reaksi dan rasio CPO/metanol
basa umumnya jauh lebih cepat dibandingkan terhadap karakteristik biodisel yang dihasilkan.
dengan transesterifikasi dengan katalis asam,
sehingga katalis basa sering digunakan dalam METODE
skala komersial. Reaksi transesterifikasi
Sejumlah CPO dimasukkan ke dalam reaktor dan
tersusun dari tiga reaksi seri reversibel berikut dipanaskan sampai suhu yang diinginkan dalam
(Barnwal & Sharma 2004): water bath. Selanjutnya campuran metanol, katalis
KOH, dan co-solvent dietil eter dituangkan ke
trigliserida + ROH ⇔ digliserida + dalam reaktor tersebut. Katalis yang digunakan
R1COOR sebanyak 0,5 % berat, sedangkan co-solvent dietil
eter sebanyak 2 kali volume metanol yang
digliserida + ROH ⇔ digunakan. Reaksi dijalankan selama 1 jam pada
monogliserida + R2COOR suhu konstan dan dilakukan pengadukan dengan
kecepatan 300 rpm.
monogliserida + ROH ⇔ gliserol + Setelah reaksi dihentikan campuran reaksi
R3COOR dinetralkan dengan larutan HCl 4 N. Langkah
Karena jenis reaksinya adalah reaksi selanjutnya adalah memisahkan sisa metanol dan
dietil eter dengan distilasi. Residu dari proses
kesetimbangan maka alkohol yang berlebih
distilasi adalah berupa cairan 2 fasa, fasa atas adalah
diperlukan untuk menggeser kesetimbangan ke metil ester (biodisel) sedangkan fasa bawah adalah
arah produk, sehingga yield ester akan gliserol. Kedua fasa ini kemudian dipisahkan dengan
meningkat. Ada tiga parameter utama yang dekantasi. Biodisel yang terpisah kemudian dicuci
sangat berpengaruh terhadap transesterifikasi dengan aquades. Pada tahap akhir dilakukan
CPO, yaitu : rasio mol CPO/metanol, sifat dan pemisahan air pencuci yang masih tertinggal dalam
jumlah katalis, dan suhu reaksi (Crabbe et al. biodisel dengan cara memanaskan sampai suhu 120
o
2001). C. Percobaan dilakukan beberapa kali dengan
Reaksi transesterifikasi minyak nabati memvariasi suhu dan rasio CPO/metanol. Variasi
suhu yang digunakan adalah 30 oC, 45 oC, dan 60 oC
yang selama ini dilakukan memerlukan waktu
, sedangkan variasi rasio CPO/metanol adalah 1:3,
yang cukup lama, yaitu sekitar 1 jam untuk 1:6, 1:9, dan 1:12.
mendapatkan yield di atas 90 %. Waktu reaksi Karakteristik biodisel yang dihasilkan
yang lama tersebut salah satunya disebabkan ditentukan dengan mengukur besaran-besaran fisik
oleh reaksinya yang tergolong reaksi dua fasa, dengan metode berikut : densitas [hydrometer,
yaitu fasa minyak dan fasa alkohol. Salah satu ASTM D-1298], viskositas kinematik [cannon-
cara untuk mempercepat waktu reaksi adalah fenske routine viscometer, ASTM D-446 dan
dengan penambahan suatu bahan inert yang viscosity kinematic bath, ASTM D-445], titik nyala
bertindak sebagai co-solvent. Co-solvent akan (flash point) [semi automatic flash point tester,
ASTM D-93], titik tuang (pour point) [SETA
mengubah sistem reaksi dua fasa menjadi satu
CLOUD and POUR POINT refrigeration unit,
fasa, karena co-solvent mampu melarutkan ASTM D-97], kandungan sulfur [sulphur-in-Oil
dengan sempurna baik alkohol maupun analyzer, ASTM D-4294-01], titik didih [distilation
trigliserida. Co-solvent sebisa mungkin unit, ASTM D-86-01], nilai kalor [bomb
mempunyai titik didih yang dekat dengan titik calorimeter], dan warna ASTM [colour comparator,
didih alkohol, sehingga bisa dipisahkan ASTM D-1500]. Dari besaran-besaran fisik tersebut
bersama-sama alkohol setelah reaksi berakhir. dapat ditentukan indek setan (cetane index) dengan
Co-solvent yang lebih disukai berasal dari formula : indek setan = 454.74 – 1641.416D +
golongan cyclic ethers, karena mempunyai 774.74D2 – 0.554B + 97.803 (log B), dimana
D=densitas pada 15 oC (g/ml), B= titik didih (oC).
atom oksigen yang bersifat hydrophilic
sehingga mampu membentuk ikatan hydrogen
HASIL DAN PEMBAHASAN
dengan air dan alkohol dan juga mempunyai
gugus hidrokarbon yang bersifat hydrophobic Secara umum perbandingan sifat-sifat fisik dari
yang mempunyai kemampuan melarutakan
biodisel yang dihasilkan dari CPO, CPO,
74 Pengaruh Suhu Reaksi ……………..(Puguh Setyopratomo dkk)
sample minyak solar, standar spesifikasi masih diperbolehkan (yaitu: 0,86 – 0,90
biodisel, dan standar spesifikasi minyak solar gr/cm3), namun masih berada di atas range
ditunjukkan pada Tabel 1. spesifikasi densitas minyak solar yaitu: 0,815 –
Dari Tabel 1 tersebut terlihat bahwa sifat- 0,870 gr/cm3.
sifat fisik biodisel yang dihasilkan secara Densitas biodisel terendah yang didapat
umum sudah mendekati profil rentang standar adalah 0,8742 gr/cm3, diperoleh pada suhu
spesifikasi biodisel. Viskositas masih sedikit reaksi 30 oC dengan perbandingan mol
berada di atas standar biodisel namun sudah CPO/metanol 1:12. Sedangkan densitas
jauh lebih rendah dibandingkan dengan CPO. tertinggi adalah 0,8948 gr/cm3 , diperoleh pada
Indek setan, meskipun sudah mengalami suhu reaksi 30 oC dengan perbandingan mol
peningkatan dibandingkan dengan minyak CPO/metanol 1:3 seperti tampak pada Gambar 1.
kelapa sawit namun masih sedikit di bawah Semakin tinggi rasio mol metanol, semakin
rentang standar. rendah densitas biodisel yang dihasilkan. Hal
ini bisa disebabkan oleh meningkatnya tingkat
Densitas konversi akibat meningkatnya laju reaksi dan
Dari hasil pengujian diperoleh densitas CPO bergesernya kesetimbangan reaksi. Dengan
sebesar 0,9136 gr/cm3. Dengan mengkonversi semakin meningkatnya tingkat konversi
CPO menjadi biodisel melalui proses trigliserida menjadi metil ester, maka densitas
transesterifikasi, terjadi penurunan densitas biodisel akan semakin menurun karena densitas
menjadi 0,8742 – 0,8948 gr/cm3. Menurut metil ester lebih rendah daripada densitas
standart biodisel Amerika densitas tersebut trigliserida.
Tabel 1. Perbandingan sifat-sifat fisik biodisel.
Sifat-sifat Biodisel CPO Sample Spesifikasi Spesifikasi Metode
fisik hasil percob. solar *) biodisel **) solar ***)
Densitas 0,8742-0,8948 0,9136 0,8470 min 0,86 min 0,815 D-1296
pada 15oC,
max 0,90 max 0,870
gr/cm3
Viscositas 4,3916-9,8063 40,179 3,9199 min 1,9 min 1,6 D-445
Kinematik
max 6,0 max 5,8
pd 40oC, cSt
Titik nyala, 98-166 > 200 75 min 130 min 60 D-93
o
C
Titik tuang, 6-12 7 -1 - max 18 D-97
o
C
Indek setan 42,47- 49,14 42 ‡ 56,77 min 47 min 48 D-976
Nilai kalor, 9445-9500 9406 10860 N/A N/A bomb
kkal/kg calrmtr.
Sulfur , 0,0221-0,0315 0,02563 0,2721 0,0015 max 0,5 D-1552
% massa
Warna L1,5 – 2.0 L1,5 L2,0 - max 3,0 D-1500
ASTM
Keterangan:
*) Hasil pengujian sampel minyak solar (SS) yang diambil di SPBU Panjang Jiwo, Surabaya
(SPBU No. 54.602.64) tanggal 12 Mei 2005
**) Standar biodisel Amerika dari sumber www.Biodiselstandards_specification.htm
***) Spesifikasi karakteristik minyak solar berdasarkan Keputusan Direktur Jendral Minyak
dan Gas Bumi Nomor 113, K/72/DJM/1999
‡ Nilai Cetane Index dari sumber pustaka (Effendi Syarief, Melawan Ketergantungan Pada
Minyak Bumi)
Jurnal ILMU DASAR, Vol. 9 No. 1, Januari 2008 : 72-77 75
Densitas
o
(Suhu 15 C)
0.905
0.900
0.895
Densitas, gr/cm3
0.890 Suhu reaksi 60oC
0.885 Suhu reaksi 45oC
0.880 Suhu reaksi 30oC
0.875 min biodiesel spec.
0.870
max biodiesel spec.
0.865
0.860
0.855
0 50
Ratio mol CPO/metanol
Gambar 1. Pengaruh rasio mol CPO/metanol terhadap densitas biodisel.
Viskositas 60 oC dan rasio mol CPO/metanol 1:6 untuk
CPO memiliki viskositas kinematik yang suhu reaksi 60 oC memenuhi spesifikasi standar
sangat tinggi. Dengan proses transesterifikasi biodisel Amerika. Namun hanya rasio mol
CPO menjadi biodisel terjadi penurunan CPO/metanol 1:9 dan 1:12 yang menghasilkan
viskositas kinematik yang sangat signifikan. biodisel yang memenuhi standar spesifikasi
Viskositas kinematik CPO adalah 40,1790 cSt, minyak solar.
sedangkan viskositas kinematik biodisel yang Dari Gambar 2 dapat dilihat bahwa
dihasilkan berkisar antara 4,3916 – 9,8063 cSt. semakin kecil rasio mol CPO/metanol maka
Ini berarti terjadi penurunan viskositas sampai viskositas kinematik dari biodisel yang
1
hampir 10 kali viskositas CPO mula-mula. dihasilkan semakin menurun. Penurunan
Biodisel yang dihasilkan dengan kondisi viskositas ini disebabkan karena dengan
rasio mol CPO/metanol 1:9 dan 1:12 untuk semakin meningkatnya ekses metanol maka
semua suhu reaksi baik 30 oC, 45 oC, maupun akan meningkatkan konversi reaksi.
Viskositas Kinematik
O
(Suhu 40 C)
Suhu reaksi 60oC
10 Suhu reaksi 45oC
9 Suhu reaksi 30oC
Viskositas Kinematik, cSt
8
Series4
7
Series5
6
5
4
3
2
1
0 60
Ratio m ol CPO/ m etanol
Gambar 2. Pengaruh rasio mol CPO/metanol terhadap viskositas biodisel
76 Pengaruh Suhu Reaksi ……………..(Puguh Setyopratomo dkk)
Titik nyala pada suhu 15 oC dan suhu distilasi pada 50%
Dari hasil pengujian titik nyala menunjukkan recovery . Rendahnya indek setan dari biodisel
bahwa dari semua sampel biodisel mempunyai yang didapat lebih dikarenakan densitas dari
titik nyala antara 79 oC - 166 oC, yang berarti biodisel yang dihasilkan masih belum cukup
lebih tinggi dari standar titik nyala minyak rendah. Semakin rendah densitas maka
solar yaitu 60 oC. Hal ini tentunya sangat baik semakin tinggi indek setan, dan semakin tinggi
karena menunjukkan bahwa produk biodisel suhu distilasi untuk 50% recovery semakin
mempunyai kondisi yang lebih aman dari pada tinggi indek setan. Dari percobaan diperoleh
minyak solar dalam hal penyimpanan, karena bahwa semakin tinggi rasio mol CPO/metanol
lebih tidak mudah terbakar jika dibandingkan akan semakin tinggi indek setan biodisel yang
dengan minyak solar. dihasilkan, seperti ditunjukkan pada Gambar 3.
Titik tuang Nilai kalor
Dari hasil pengujian titik tuang menunjukkan CPO memiliki nilai kalor sebesar 9406 kkal/kg.
bahwa titik tuang biodisel antara 6 oC - 12 oC, Dengan proses transesterifikasi CPO menjadi
yang berarti berada di bawah batas maksimum biodisel, terjadi kenaikan nilai kalor menjadi
dari standar minyak solar yaitu 18 oC. Ini 9445–9500 kkal/kg. Sebagai pembanding
berarti biodisel yang dihasilkan dapat digunakan nilai kalor sampel minyak solar
digunakan sebagai bahan bakar untuk daerah yang bernilai 10860 kkal/kg. Nilai kalor
yang bersuhu udara di atas 12 oC. Untuk biodisel yang dihasilkan berharga 0,41 % - 1,00
Indonesia yang beriklim tropis dimana suhu % lebih tinggi dari nilai kalor CPO, tetapi
udara berkisar antara 25 oC – 35 oC, maka masih dibawah nilai kalor sampel minyak solar.
biodisel sangat cocok digunakan karena pada Ditinjau dari nilai kalor yang dihasilkan,
suhu itu pembekuan biodisel tidak akan terjadi. biodisel terbaik adalah biodisel yang diperoleh
dengan suhu reaksi 60 oC dan rasio mol
Indek setan CPO/metanol 1:3 dengan nilai kalor sebesar
Dari hasil perhitungan indek setan didapatkan 9500 kcal/kg, sedangkan biodisel yang
bahwa biodisel memiliki indek setan antara mempunyai nilai kalor terendah adalah biodisel
42,47 - 49,14. Indek setan ini didapat dari yang diperoleh dengan suhu reaksi 30 oC pada
perhitungan persamaan empiris (ASTM – rasio mol CPO/metanol 1:12.
D976) yang merupakan fungsi dari densitas
Cetane Indeks
50
49
48
Cetane Indeks
47
46
45
Suhu reaksi 60oC
44
Suhu reaksi 45oC
43 Suhu reaksi 30oC
42
0 50
Ratio m ol CPO/m etanol
Gambar 3. Pengaruh rasio mol CPO/metanol terhadap indek setan biodisel
Jurnal ILMU DASAR, Vol. 9 No. 1, Januari 2008 : 72-77 77
Kandungan sulfur sehingga memberikan faktor keamanan yang
Kandungan sulfur dari CPO maupun biodisel lebih selama penyimpanan, harga titik tuang
1
sangat rendah yaitu 20 dari kandungan yang di bawah batas maksimum sehingga
maksimum sulfur dalam minyak solar yang terhindar dari pembekuan saat digunakan, serta
diijinkan PERTAMINA. Hal ini merupakan kanndungan sulfur dari biodisel yang sangat
kelebihan biodisel dibandingkan minyak solar, rendah sehingga lebih ramah lingkungan.
karena tingkat gas emisi SO2 yang dihasilkan Hal-hal yang masih perlu diupayakan
lebih rendah. Akibatnya disamping lebih ramah perbaikan adalah masih agak rendahnya indek
lingkungan, ruang bakar dari suatu mesin akan setan akibat densitas yang masih agak tinggi
lebih terlindungi dari korosi dibanding kalau meskipun sudah masuk standar biodisel dan
menggunakan minyak solar. nilai kalor yang masih dibawah nilai kalor
sampel minyak solar.
Nilai warna ASTM
Nilai warna biodisel yang dihasilkan masuk DAFTAR PUSTAKA
kedalam spesifikasi minyak solar yang
diijinkan, yaitu maksimum 3,0. Semakin Carraretto C. 2004. Biodisel as Alternative Fuel :
rendah nilai warna menunjukkan biodisel yang Experimental Analysis and Energetic
Evaluations. Energy, 29:2195-2211.
diuji semakin jernih. Angka (L) yang tercantum Korbitz, W. 1999. Biodisel Production in Europe
pada nilai warna menandakan kurang dari nilai and North America, an Encourageing Prospect.
tersebut, contoh : L2,0 artinya nilai warna Renewable Energy, 16:1078-1083.
ASTM biodisel kurang dari 2,0 tetapi lebih dari Ma F & Hanna MA. 1999. Biodisel production : a
1,5. review. Bioresource Technology, 70:1-15.
Vicente G. 1997. Application of The Factorial
Design of Experiments and Response Surface
KESIMPULAN
Methodology to Optimize Biodisel Production.
Industrial Crops and Products, 8:29-35.
Dari beberapa alternatif metode pembuatan Barnwal BK & Sharma MP. 2004. Prospect of
biodisel dari CPO, transesterifikasi satu fasa Biodisel Production from Vegetable Oils in
adalah salah satu alternatif yang dapat dipilih. India. Renewable & Sustainable Energy
Beberapa keberhasilan dari metode ini telah Reviews. (XX), 1-16.
Crabbe E. 2001. Biodisel Production from Crude
ditunjukkan dari keunggulan produk biodisel
Palm Oil and Evaluation of Butanol Extraction
yang dihasilkan pada penelitian ini yaitu : and Fuel Properties. Process Biochemistry,
densitas dan viskositas yang sudah memenuhi 37:65-71.
standar biodisel komersial, harga titik nyala
yang lebih tinggi dari titik nyala minyak solar