BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS TINDAKAN
A. Landasan Teori
1. Pengertian Belajar
Pengertian belajar sudah banyak dikemukakan dalam kepustakaan.
Yang dimaksud belajar yaitu perbuatan murid dalam bidang material, formal
serta fungsional pada umumnya dan bidang intelektual pada khususnya. Jadi
belajar merupakan hal yang pokok. Belajar merupakan suatu perubahan pada
sikap dan tingkah laku yang lebih baik, tetapi kemungkinan mengarah pada
tingkah laku yang lebih buruk.
Untuk dapat disebut belajar, maka perubahan harus merupakan akhir
dari pada periode yang cukup panjang. Berapa lama waktu itu berlangsung
sulit ditentukan dengan pasti, tetapi perubahan itu hendaklah merupakan
akhir dari suatu periode yang mungkin berlangsung berhari-hari, berminggu-
minggu, berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Belajar merupakan suatu proses
yang tidak dapat dilihat dengan nyata proses itu terjadi dalam diri seserorang
yang sedang mengalami belajar.
Hamalik (2008) mengemukakan bahwa “Belajar adalah suatu proses
perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan”.
Selanjutnya Sanjaya (2008) berpendapat bahwa, “Belajar adalah sebagai
proses perubahan tingkah laku akibat dari pengalaman dan latihan”.
5
6
Belajar adalah proses perubahan pengetahuan, maupun perubahan
tingkah laku. Apabila setelah belajar tidak terjadi perubahan dalam diri
manusia, maka tidak dapat dikatakan bahwa padanya tidak berlangsung
proses belajar itu. Sehubungan dengan hal ini, Slameto (2003) mengatakan:
“belajar adalah suatu proses yang dilakukan individu untuk memperoleh
perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan”. Perubahan tingkah
laku itu akan didapat melalui berbagai hasil pengalaman individu itu sendiri
dalam interaksi dengan lingkungannya.
Jadi yang dimaksud dengan belajar bukan tingkah laku yang nampak,
tetapi prosesnya terjadi secara internal di dalam diri individu dalam
mengusahakan memperoleh hubungan-hubungan baru.
2. Pengertian Hasil Belajar
Perubahan tingkah laku yang dapat diamati dari penampilan orang
yang belajar adalah hasil belajar. Pada hakikatnya hasil belajar menunjukkan
tingkat kemampuan siswa dalam mengikuti suatu proses pembelajaran.
Tingkat kemampuan siswa dari hasil belajar ini dapat dilihat dari kemampuan
kognitif, afektik dan psikomotorik (Sutrisno, 2006). Senada dengan pendapat
di atas, Sutrisno (2006) menyatakan bahwa hasil belajar merupakan sesuatu
yang diperoleh dari dan sesudah kegiatan pembelajaran berlangsung. Hasil
belajar ini dinyatakan dalam bentuk angka, huruf atau kata-kata baik, sedang
dan kurang. Hasil belajar ini merupakan kemampuan aktual yang dapat
diukur langsung melalui tes yang sesuai dengan tujuan pembelajaran.
7
Reigeluth (dalam Sutrisno, 2006) menyatakan bahwa hasil belajar
dipengaruhi oleh interaksi antara metode pengajaran dan kondisi pengajaran.
Hal-hal yang termasuk metode pengajaran antara lain strategi
pengorganisasian, strategi pengelolaan pembelajaran dan penyampaian.
Selanjutnya hal-hal yang termasuk kondisi pengajaran adalah karakteristik
siswa, karakteristik isi pengajaran, kendala pengajaran dan berbagai kondisi
lain dalam proses pembelajaran. Secara umum ada tiga indikator keberhasilan
belajar siswa, yaitu: (1) efektifitas pembelajaran, yang biasanya diukur dari
tingkat keberhasilan siswa, (2) efisiensi pembelajaran, yang diukur dari waktu
belajar, dan (3) daya tarik pembelajaran, yang biasanya diukur dari tendensi
siswa yang ingin belajar terus menerus. Dari pernyataan ini dapat disebutkan
bahwa hasil belajar merupakan suatu kinerja (performance) yang
diindikasikan sebagai suatu kapabilitas (kemampuan) yang telah diperoleh.
Hasil belajar peserta didik dapat diklasifikasi ke dalam tiga ranah
(domain), yaitu: (1) domain kognitif (pengetahuan atau yang mencakup
kecerdasan bahasa dan kecerdasan logika – pendidikan agama islam), (2)
domain afektif (sikap dan nilai atau yang mencakup kecerdasan antarpribadi
dan kecerdasan intrapribadi, dengan kata lain kecerdasan emosional), dan (3)
domain psikomotor (keterampilan atau yang mencakup kecerdasan kinestetik,
kecerdasan visual-spasial, dan kecerdasan musikal).
8
3. Model Pembelajaran Berbasis Masalah
Pembelajaran berbasis masalah adalah salah satu strategi belajar-
mengajar yang menekankan aktivitas belajar pada penyelesaian suatu
masalah yang diberikan secara ilmiah. Ratnaningsih (dalam Trihardiayanti,
2008:32) mengatakan bahwa : “Pembelajaran berbasis masalah merupakan
suatu aktivitas mental siswa untuk memahami suatu konsep pembelajaran
melalui situasi dan masalah yang disajikan pada awal pembelajaran”. Lebih
lanjut Sanjaya (2008:214) menyatakan “Model Pembelajaran Berbasis
Masalah (MPBM) diartikan sebagai rangkaian aktivitas pembelajaran yang
menekankan pada proses penyelesaian masalah yang dihadapi secara ilmiah”.
Sejalan dengan pengertian yang ada, pembelajaran berbasis masalah
memiliki tiga ciri utama, yaitu (1) MPBM merupakan serangkaian aktivitas
pembelajaran, (2) Aktivitas pembelajaran diarahkan untuk menyelesaikan
masalah dan (3) Pemecahan masalah dilakukan dengan mengunakan
pendekatan berfikir secara ilmiah (Sanjaya, 2008:214).
Dalam ruang lingkup pembelajaran berbasis masalah, siswa berperan
sebagai seorang profesional dalam menghadapi permasalahan yang muncul.
Meskipun dengan informasi yang minimal, siswa dituntut untuk menentukan
solusi terbaik. Sanjaya (2008:215) menambahkan, guru dapat
menerapkan model pembelajaran berbasis masalah dengan alasan :
a. Guru menginginkan agar siswa tidak hanya sekedar dapat mengingat
materi pelajaran, akan tetapi menguasai dan memahaminya secara penuh.
9
b. Guru bermaksud untuk mengembangkan keterampilan berfikir rasional
siswa
c. Guru menginginkan kemampuan siswa untuk memecahkan masalah serta
membuat tantangan intelektual siswa
d. Guru ingin mendorong siswa untuk lebih bertangung jawab dalam
belajarnya.
e. Guru ingin agar siswa memahami hubungan antara apa yang dipelajari
dengan kenyataan dalam kehidupannya.
Oleh karena itu, dalam model pembelajaran berbasis masalah guru
berperan sebagai pemandu dan fasilitator dalam menyelesaikan masalah-
masalah yang disajikan.
4. Langkah-langkah Pemecahan Masalah Pendidikan Agama Islam
Suatu masalah biasanya memuat situasi yang mendorong seseorang
untuk menyelesaikannya namun belum tahu pasti cara menyelesaikan
masalah tersebut. Pemecahan masalah dalam pendidikan agama islam
melibatkan metode dan cara penyelesaian yang tidak standar dan tidak
diketahui terlebih dahulu. Oleh karena itu dibutuhkan langkah-langkah
pemecahan masalah yang tepat sehingga siswa lebih mudah mengembangkan
pengetahuannya untuk mencari penyelesaian masalah.
George Polya merupakan tokoh utama dalam pemecahan masalah.
Polya (dalam Tim MKPBM, 2001:91) mengatakan bahwa dalam pemecahan
suatu masalah terdapat empat langkah yang harus dilakukan yaitu : (1)
memahami masalah, (2) merencanakan pemecahannya, (3) menyelesaikan
10
masalah sesuai rencana langkah kedua, dan (4) memeriksa kembali hasil yan
diperoleh (looking back).
Lebih lanjut Saputra (2008:3) menjelaskan dengan rinci keempat
langkah pemecahan masalah di atas.
a. Memahami/mengerti permasalahan (memahami masalah)
Sebelum menyelesaikan suatu masalah, terlebih dahulu pastikan kita
mengerti makna dari permasalahannya, makna dari pertanyaanya, dan
kata-kata lain yang ada pada permasalahan tersebut, seperti faktor, angka,
diagonal dan lain-lain. Apakah masalah tersebut terlalu sedikit, cukup
atau terlalu banyak memberikan informasi. Dapatkah kita menuliskan
kembali masalah tersebut dengan kata-kata sendiri. Dan apakah kita dapat
menebak solusinya.
b. Merencanakan bagaimana memecahkan masalah (membuat model
pendidikan agama Islam)
Setelah mengerti permasalahannya, kita harus merencanakan tindakan
yang akan diambil untuk menyelesaikan pemecahan masalah
tersebut. Dalam menyelesaikan soal pemecahan masalah pendidikan
agama islam, dapat mengunakan lebih dari satu strategi.
c. Melaksanakan strategi (menyelesaikan masalah)
Menjalankan strategi biasanya lebih sulit dari membuat strategi. Dalam
menjalankan strategi kita harus sabar. Karena kebanyakan masalah tidak
dapat diselesaikan dalam satu kali percobaan. Jika satu strategi tidak
berhasil maka harus dicoba strategi lainnya.
11
d. Lihat kembali dan cek (menafsirkan solusinya)
Ketika mendapatkan jawaban dari masalah tersebut, baca kembali soal
yang ada kemudian perhatikan dengan jawaban, apakah jawaban masuk
akal (logis) dan sesuai dengan pertanyaan yang diajukan? Apabila belum
sesuai, maka coba gunakan strategi lain untuk mencari jawaban yang
paling tepat.
Keempat langkah pemecahan masalah Polya di atas dapat membantu
siswa dalam menyelesaikan masalah pendidikan agama islam dengan lebih
mudah dan sistematis, serta mampu meningkatkan daya kreatifitas siswa
dalam menyelesaikan suatu masalah.
B. Kerangka Berpikir
Proses belajar mengajar pada bidang studi pendidikan agama islam merupakan
transformasi pengetahuan yang memerlukan strategi khusus sehingga, proses
tranformasi pengetahuan bisa berhasil dengan baik. Pembelajaran bidang studi
pendidikan agama islam memerlukan analisis yang lebih di bandingkan dengan
bidang studi lain sehingga strategi pembelajarannya harus sesuai.
Berdasarkan logika seperti itu maka, sangatlah sesuai jika dalam
pembelajaran ini menggunakan model pembelajaran berbasis masalah. Secara
skematis uraian digambarkan kerangka pemikirannya sebagai berikut:
12
SISWA :
KONDISI GURU:
Nilai pendidikan agama
AWAL Pembelajaran
Islam rendah
Konvensional
SIKLUS I:
Penerapan model
Menerapkan Model pembelajaran berbasis
TINDAKA pembelajaran berbasis masalah
N masalah
SIKLUS II:
Penerapan model
pembelajaran berbasis
masalah
Dengan menerapkan model
pembelajaran berbasis masalah
dapat meningkatkan kemampuan
KONDIS
belajar pendidikan agama Islam
I AKHIR
materi Alqur`an dan Hadits
pedoman hidupku pada siswa
kelas X Akuntansi SMK Negeri
1 Sigli
Gambar 1. Diagram alir kerangka berpikir PTK
5. Hipotesis Tindakan
Adapun yang menjadi hipotesis pada Penelitian Tindakan Kelas ini
adalah : “Dengan menerapkan model pembelajaran berbasis masalah dapat
meningkatkan hasil belajar pendidikan agama Islam materi Alqur`an dan
Hadits pedoman hidupku pada siswa kelas X Akuntansi SMK Negeri 1
Sigli”.