0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan22 halaman

Problem Based Learning Model

Model Pembelajaran Pemecahan Masalah (Problem Based Learning) adalah pendekatan pembelajaran yang menekankan pada pemecahan masalah nyata untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan kemampuan siswa dalam belajar secara aktif. Model ini melibatkan siswa dalam proses penyelidikan dan kolaborasi untuk menemukan solusi, serta berfokus pada pengembangan pengetahuan yang dapat diterapkan dalam situasi kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, guru berperan sebagai fasilitator yang mendukung siswa dalam mengembangkan kemandirian dan keterampilan belajar mereka.

Diunggah oleh

Ega Tri Ramadhan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan22 halaman

Problem Based Learning Model

Model Pembelajaran Pemecahan Masalah (Problem Based Learning) adalah pendekatan pembelajaran yang menekankan pada pemecahan masalah nyata untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan kemampuan siswa dalam belajar secara aktif. Model ini melibatkan siswa dalam proses penyelidikan dan kolaborasi untuk menemukan solusi, serta berfokus pada pengembangan pengetahuan yang dapat diterapkan dalam situasi kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, guru berperan sebagai fasilitator yang mendukung siswa dalam mengembangkan kemandirian dan keterampilan belajar mereka.

Diunggah oleh

Ega Tri Ramadhan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

c

PROBLEM BASED LEARNING MODEL


11 (MODEL PEMBELAJARAN
PEMECAHAN MASALAH)

A. Pengertian Problem Based Learning Model (Model


Pembelaj aran Pemecahan Masalah)
Sejak manusia lahir ke dunia, manusia memiliki dorongan
untuk menemukan sendiri pengetahuannya. Rasa ingin tahu
tentang alam sekitar di sekelilingnya merupakan kodrat manusia
sejak ia lahir ke dunia. Sejak kecil manusia memiliki keinginan
untuk mengenal segala sesuatu melalui indera penglihatan,
pendengaran, pengecapan dan indera-indera lainnya. Hingga
dewasa keingintahuan manusia secara terus menerus
berkembang dengan menggunakan otak dan pikirannya.
Pengetahuan yang dimiliki manusia akan bermakna
(meaningfull) manakala didasari oleh keingintahuan itu. Salah
satu alternatif model pembelajaran yang mengembangkan
keterampilan berpikir manusia baik penalaran, komunikasi dan
koneksi dalam memecahkan masalah adalah Problem Based
Learning Model (Model Pembelajaran Pemecahan Masalah).
Problem Based Leaming Model (Model Pembelajaran
Pemecahan Masalah) merupakan salah satu model pembelajaran
yang dapat membantu siswa untuk meningkatkan keterampilan
yang dibutuhkan pada era globalisasi saat ini. Model
pembelajaran ini mempunyai esensi yaitu meyajikan suatu
masalah yang nyata bagi siswa sebagai awal pembelajaran
kemudian di selesaikan melalui penyelidikan dan diterapkan
dengan mengunakan pedekatan pemecahan masalah. Problem
Based Learning Model (Model Pembelajaran Pemecahan Masalah)
diartikan sebagai sebuah model pembelajaran yang didalamnya
melibatkan siswa untuk berusaha memecahkan masalah dengan
melalui beberapa tahap metode ilmiah sehingga siswa
diharapkan akan memiliki keterampilan dalam memecahan
mas alah.

Model-Model Pembelajaran Pendidikan Ega Trisna 1


Lebih lanjut hasil dari penelitian dari Batdi (2014)
problem based learning transforms leaners into active
independent leanes instead of passive information receivers. This is
anaproach whict aims at noticing the importance of problem
encountered in real life. Dari penjelasan tersebut dapat
diartikan bahwa pembelajaran berbasis masalah mengubah
pembelajaran aktif dan mandiri bukan menerima informasi
pasif. Ini adalah sebuah pendekatan yang bertujuan
memperhatikan penting nya masalah yang di hadapi dalam
situasi kehidupan nyata.
Berdasarkan penjelasan di para ahli di atas dapat di
simpulkan bahwa Problem Based Learning Model (Model
Pembelajaran Pemecahan Masalah) merupakan model
pembelajaran yang menghadapi siswa pada permasalahan pada
dunia nyata (Real World) untuk memulai pembelajaran dan
merupakan salah satu model pembelajaran inovatif yang dapat
memberikan kondisi belajar aktif kepada siswa. Problem Based
Learning Model (Model Pembelajaran Pemecahan Masalah)
adalah pengembangan kurikulum dalam proses pembelajaran.
Dalam kurikulumnya, di rancang masalah-masalah yang
mengarahkan siswa mendapatkan pengetahuan yang penting,
membuat meraka mahir dalam mememecahkan masalah, dan
memliki strategi belajar sendiri serta kecakapan berpastisipasi
dalam tim.
Menurut Egen dan Kauchak dalam Nafiah (2014) Problem
Based Learning Model (Model Pembelajaran Pemecahan Masalah)
adalah seperangkat model mengajar yang menggunakan
masalah sebagai fokus untuk mengembangkan keterampilan
pemecahan masalah, materi, dan pengaturan-diri. Problem Based
Learning Model (Model Pembelajaran Pemecahan Masalah)
merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang menggunakan
masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi peserta didik
untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan
pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan
konsep yang esensial dari materi pelajaran. Problem Based
Learning Model (Model Pembelajaran Pemecahan Masalah)
merupakan pembelajaran berdasarkan teori kognitif yang
didalamnya termasuk teori belajar konstruktivisme. Menurut

Model-Model Pembelajaran Pendidikan Ega Trisna 2


teori konstruktivisme, keterampilan berpikir dan memecahkan
masalah dapat dikembangkan jika peserta didik melakukan
sendiri, menemukan, dan memindahkan kekomplekan
pengetahuan yang ada. Anita Woolfolk dalam Setiawan (2017)
mengatakan: "The goals of problem based learning are to help
students develop flexible knowledge that can be applied in many
situations, in contrast to inert knowledge. Other goals of problem based
learning are to enhance intrinsic motivation and skills in problem
solving, collaboration, and self directed lifelong learning".
Menurut Arends dalam (Nafiah), langkah-langkah dalam
melaksanakan Problem Based Learning Model (Model
Pembelajaran Pemecahan Masalah) ada 5 fase yaitu (1)
mengorientasi siswa pada masalah; (2) mengorganisasi siswa
untuk meneliti; (3) membantu investigasi mandiri dan
berkelompok; (4) mengembangkan dan menyajikan hasil karya;
(5) menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.
Permasalahan yang digunakan dalam Problem Based Leaming
Model (Model Pembelajaran Pemecahan Masalah) adalah
permasalahan yang dihadapi di dunia nyata. Meskipun
kemampuan individual dituntut bagi setiap siswa, tetapi dalam
proses belajar dalam Problem Based Leaming Model (Model
Pembelajaran Pemecahan Masalah) siswa belajar dalam
kelompok untuk memahami persoalan yang dihadapi.
Kemudian siswa belajar secara individu untuk memperoleh
informasi tambahan yang berhubungan dengan pemecahan
masalah. Peran guru dalam Problem Based Leaming Model (Model
Pembelajaran Pemecahan Masalah) yaitu sebagai fasilitator
dalam proses pembelajaran.
Problem Based Leaming Model (Model Pembelajaran
Pemecahan Masalah) atau pembelajaran berbasis masalah pada
dasarnya merupakan model pembelajaran yang proses
pembelajaranya berpusat pada siswa, menuntut siswa untuk
selalu aktif dalam proses pembelajaran dan mengembangkan
kemampuan menyelesaikan permasalahan dari kehidupan
sehari-hari serta merangsang kemampuan berfikir siswa. Hal ini
sesuai dengan konsep Problem Based Learning Model (Model
Pembelajaran Pemecahan Masalah) menurut Kemendikbud

Model-Model Pembelajaran Pendidikan Ega Trisna 3


(2013) menyatakan bahwa pembelajaran berbasis masalah
merupakan suatu model pembelajaran yang menantang siswa
untuk "belajar bagaimana belajar", bekerja secara berkelompok
untuk mencari solusi dari permasalahan dunia nyata. Masalah
yang diberikan untuk meningkatkan siswa pada rasa ingin tahu
pada pembelajaran yang di maksud. Masalah diberikan kepada
siswa, sebelum siswa mempelajari konsep atau materi yang
berkenaan dengan masalah yang harus dipecahkan.
Problem Based Learning Model (Model Pembelajaran
Pemecahan Masalah) mengembangkan kemampuan berfikir
kritis siswa untuk menyelesaikan masalah dari kehidupan
sehari-harinya. Duch dalam Shoimin (2014) menjelaskan bahwa:
Problem Based Learning Model (Model Pembelajaran Pemecahan
Masalah) adalah model pengajaran yang bercirikan adanya
permasalahan nyata sebagai konteks untuk para siswa belajar
berfikir kritis dan keterampilan memecahkan masalah serta
memperoleh pengetahuan. Pemebelajaran berbasis masalah
berkembang menjadi model pembelajaran yang berbasis
masalah sebagai hal yang muncul pertama kali pada proses
pembelajaran. Selanjutnya Kemendikbud (2013) menjelaskan
lebih jauh tentang Problem Based Learning Model (Model
Pembelajaran Pemecahan Masalah) merupakan suatu model
pembelajaran yang menharahkan peserta didik untuk "belajar
bagaimana belajar" bekerja secara berkelompok untuk mencari
solusi dari permasalahan dunia nyata."
Problem Based Learning Model (Model Pembelajaran
Pemecahan Masalah) merupakan model pembelajaran yang
berdasarkan pada masalah-masalah yang dihadapi siswa terkait
dengan kompetensi dasar yang sedang dipelajari siswa. Dalam
proses belajar mengajar, kemampuan berfikir siswa betul-betul
dioptimalkan melalui proses kerja kelompok yang sistematis,
sehingga siswa dapat mengasah, menguji, dan mengembangkan
kemampuan berfikir secara berkesinambungan.
Pendapat lain yang menjelaskan Problem Based Learning
Model (Model Pembelajaran Pemecahan Masalah) menurut Chu,
dkk (2008) "PBL is a student centered pedagogical strategy that
process real world situation and povides resources,
guidance,

Model-Model Pembelajaran Pendidikan Ega Trisna 4


intruciion, and opportunities for reflection" maksudnya
Problem Based Learning Model (Model Pembelajaran Pemecahan
Masalah) merupakan proses pembelajaran yang berpusat
pada peserta didik dan guru pendidikan jasmani
berperan sebagai pembimbing atau instruktur. Jones dan
Turner (dalam Bethell dan Morgan, 2011) menjelaskan bahwa
"PBL is an approach to teaching which uses realistic, problematic
scenarios and subtle tutor questioning to facilitate in student
critical ways of thinking". Maksudnya adalah Problem
Based Learning Model (Model Pembelajaran Pemecahan
Masalah) mengarahkan peserta didik menjadi pembelajaran
yang mahir, model pembelajaran ini membantu peserta
didik untuk mengembangkan kreatifitas berpikir mereka
dalam mencari pemecahan masalah melalui pencarian data
secara mandiri, sehingga diperoleh solusi untuk masalah dengan
rasional dan autentik.
Berdasarkan beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan
bahwa Problem Based Learning Model (Model Pembelajaran
Pemecahan Masalah) adalah susunan dalam proses
pembelajaran yang diarahkan pada pemecahan suatu
permasalahan dalam kehidupan sehari-hari untuk menambah
keterampilan siswa dalam pencapain materi pembelajaran.

B. Konsep Problem Based Learning Model (Model


Pembelaj aran Pemecahan Masalah)
Problem. Based Learning Model (Model Pembelajaran
Pemecahan Masalah) dikembangkan untuk pertama kali oleh
Howard Barrows sekitar tahun 1970-an dalam pembelajaran
ilmu [Link] di Mc Master university Canada, kemudian
diadaptasi dalam bidang pendidikan oleh Gallagher (1995).
Problem Based Learning Model (Model Pembelajaran Pemecahan
Masalah) diseting dalam bentuk pembelajaran yang diawali
dengan sebuah masalah dengan menggunakan instruktur
sebagai pelatih metakognitif dan diakhiri dengan penyajian
analisis kerja siswa. Problem Based Learning Model (Model
Pembelajaran Pemecahan Masalah) berlandaskan pada psikologi
kognitif, sehingga fokus pengajaran tidak begitu banyak pada
apa yang sedang dilakukan siswa, melainkan kepada apa yang

Model-Model Pembelajaran Pendidikan Ega Trisna 5


sedang mereka pikirkan pada saat mereka melakukan kegiatan
itu. Pada Problem Based Learning Model (Model Pembelajaran
Pemecahan Masalah) peran guru pendidikan jasmani lebih
berperan sebagai pembimbing dan fasilitator sehingga siswa
belajar berpikir dan memecahkan masalah mereka sendiri.
Menurut Tan (2010) Problem Based Learning Model (Model
Pembelajaran Pemecahan Masalah) merupakan inovasi dalam
pembelajaran karena dalam Problem Based Learning Model (Model
Pembelajaran Pemecahan Masalah) kemampuan berpikir betul-
betul dioptimalisasikan melalui proses kerja kelompok atau tim
yang sistematis, sehingga siswa dapat memberdayakan,
mengasah, menguji, dan mengembangkan kemampuan
berpikirnya secara berkesinambungan.
Berdasarkan penjelasan para ahli di atas tersebut, Problem
Based Learning Model (Model Pembelajaran Pemecahan Masalah)
dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran yang
menghadapkan siswa pada masalah dunia nyata (real word)
untuk memulai pembelajaran dan merupakan salah satu model
pembelajaran inovatif yang dapat memberikan kondisi belajar
aktif kepada siswa. Problem Based Learning Model (Model
Pembelajaran Pemecahan Masalah) adalah pengembangan
kurikulum dan proses pembelajaran. Dalam kurikulumnya,
dirancang masalah-masalah yang menuntut siswa mendapatkan
pengetahuan yang penting, membuat mereka mahir dalam
memecahkan masalah, dan memiliki strategi belajar sendiri serta
kecakapan berpartisipasi tim.
Oleh karena itu, domain pembelajaran yang utama dalam
Problem Based Learning Model (Model Pembelajaran Pemecahan
Masalah) adalah sebagai berikut:
1. Keutamaan Pertama Ranah Kognitif
2. Keutamaan Kedua Ranah Psikomotor
3. Keutamaan Ketiga Ranah Afektif
Beberapa teori yang Melandasi Problem Based Learning
Model (Model Pembelajaran Pemecahan Masalah) dalam
perkembangannya. Problem Based Learning Model (Model
Pembelajaran Pemecahan Masalah) dilandasi oleh teori belajar

Model-Model Pembelajaran Pendidikan Ega Trisna 6


kontruktivisme, menyatakan bahwa siswa harus menemukan
sendiri dan mentransformasikan informasi kompleks, mengecek
informasi baru dengan aturan-aturan agar benar benar
memahami dan dapat menerapkan pengetahuan, mereka harus
bekerja memecahkan masalah, menemukan segala sesuatunya
sendiri, dan berusaha memaksimalkan ide-idenya sendiri.
Menurut teori kontruktivisme ini, satu prinsip yang paling
penting dalam psikologi pendidikan adalah bahwa guru
pendidikan jasmani tidak hanya sekedar memberikan
pengetahuan kepada siswa. Siswa harus membangun sendiri
pengetahuan didalam benaknya guru pendidikan jasmani dapat
memberikan kemudahan untuk proses ini dengan memberi
kesempatan siswa menemukan atau menerapkan ide-ide mereka
sendiri dan mengajar peserta didik menjadi sadar dan secara
sadar menggunakan strategi mereka sendiri untuk belajar.
Teori perkembangan kognitif atau teori belajar kognitif
pertama kali dikembangkan oleh Piaget. Menurutnya,
perkembangan kognitif sebagian besar ditentukan oleh
manipulasi dan interaksi aktif anak dengan lingkungannya.
Piaget yakin bahwa pengalaman- pengalaman fisik dan
manipulasi lingkungan penting bagi terjadi perubahan
perkembangan. Interaksi sosial dengan teman sebaya, khusunya
beragumentasi dan berdiskusi membantu memperielas
pemikiran yang akhirnya memuat pemikiran itu menjadi logis.
Termasuk teori perkembangan Piaget yang memandang
perkembangan kognitif sebagi suatu proses dimana siswa secara
aktif membangun sistem makna dan memahami realitas melalui
pengalaman-pengalaman dan interaksi-interaksi mereka.
Pada pandangan lain, Problem Based Leaming Model (Model
Pembelajaran Pemecahan Masalah) bukanlah suatu model
penyampaian pengetahuan dari guru kepada siswa, namun
siswa yang membangun dan mengembangkan pengetahuannya
sendiri serta mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan
kemampuan memecahkan masalah. Selain itu model
pembelajaran rm dimaksudkan agar siswa dapat
mengembangkan kemandirian belajar. Permendikbud nomor 81
tahun 2013 tentang implementasi kurikulum, menyebutkan

Model-Model Pembelajaran Pendidikan Ega Trisna 7


bahwa "pengetahuan tidak didapat dipindahkan begitu saja dari
guru ke siswa. Siswa adalah subjek yang memiliki kemampuan
untuk secara aktif mencari, mengolah, mengkontruksi, dan
menggunakan pengetahuan." Dalam Problem Based Learning
Model (Model Pembelajaran Pemecahan Masalah), pembelajaran
berpusat pada siswa (student centerd). Sementara peran guru
hanya sebagai fasilitator siswa untuk dapat menyelesaikan
permasalahan dalam pembelajaran secara aktif dan
meningkatkan pengetahuannya secara berkelompok.
Dalam Problem Based Learning Model (Model Pembelajaran
Pemecahan Masalah), guru pendidikan jasmani terus
merangsang siswa untuk terus berpikir dalam memecahkan
suatu permasalahan serta menjaga siswa untuk terus terlibat
dalam setiap kegiatan pada saat proses pembelajaran
berlangsung. Permasalahan yang diberikan kepada siswa
dirancang sedemikan rupa agar menarik untuk dipecahkan oleh
siswa. Dalam Problem Based Learning Model (Model Pembelajaran
Pemecahan Masalah), guru terus berpikir tentang beberapa hal,
yaitu: (1) Bagaimana dapat merancang dan menggunakan
permasalahan yang ada di dunia nyata, sehingga siswa dapat
menguasai hasil belajar; (2) bagaimana bisa menjadi pelatih
siswa dalam proses pemecahan masalah, pengarahan diri dan
belajar dengan teman sebaya; (3) dan bagaimana siswa
memandang diri mereka sendiri sebagai pemecahan masalah
yang aktif.
Peran-peran lainnya yang dapat dilakukan oleh guru
pendidikan jasmani dalam proses Problem Based Learning
Model (Model Pembelajaran Pemecahan Masalah), adalah:
1. Memfasilitasi lingkungan belajar yang kondusif sehingga
setiap siswa memiliki kesempatan untuk memahami
beragam informasi dan memperoleh data secara lengkap.
2. Menciptakan kebebasan dalam menuangkan pendapat-
pendapatnya, termasuk didalam menyatakan beragam
informasi ataupun fakta dengan sumber-sumber yang jelas
3. Membantu siswa dalam memperoleh akses informasi yang
seluas-Iuasnya dari berbagai sumber, baik melalui media
cetak ataupun elektronik.

Model-Model Pembelajaran Pendidikan Ega Trisna 8


4. Selalu mendorong siswa untuk selalu tampil percaya diri
dalam melakoni proses pembelajaran, bersikap kritis
terhadap beragam informasi dan pendapat yang diterimanya.
5. Memberikan sikap antusiasme, kepedulian, dan tanggun
jawab terhadap beragam masalah untuk terlibat didalam
usaha memecahkannya.

C. Karakteristik Problem Based Learning Model (Model


PembelajaranPemecahanMasalah
)
Ciri yang paling utama dari Problem Based Learning Model
(Model Pembelajaran Pemecahan Masalah) yaitu dimuculkannya
masalah pada awal pembelajaran. Karakteristik pada Problem
Based Leaming Model (Model Pembelajaran Pemecahan Masalah)
yang dikembangkan oleh Barrow dalam Shiomin (2014) adalah
sebagai berikut:
1. Learning Is Student-Centered. Proses pembelajaran dalam
Problem Based Learning Model (Model Pembelajaran Pemecahan
Masalah) lebih menitik beratkan kepada siswa sebagai orang
belajar. Oleh karena itu, Problem Based Learning Model (Model
Pembelajaran Pemecahan Masalah) didukung juga oleh teori
kontruktivisme dimana siswa mendorong untuk dapat
mengembangkan pengetahuan sendiri.
2. Authentik Problem Form The Organizing Fokus For Learning.
Masalah yang disajikan kepada siswa adalah masalah yang
otentik sehingga siswa mampu dengan mudah memahami
masalah tersebut serta dapat menerapkannya dalam
kehidupan profesionalnya nanti.
3. New Information Is Acquired Thorough Self-Directid Learning .
Dalam proses pemecahan masalah mungkin saja siswa belum
mengetahui dan memahami semua pengetahuan
prasyaratnya sehingga siswa berusaha untuk mencari sendiri
melalui sumbernya, baik dari buku atau insormasi lainnya.
4. Leaming Occurs In Small Groups. Agar terjadi interaksi ilmiah
dan tukar pemikiran dalam usaha membangun pengetahuan
secara kolaboratif, proses belajar mengajar dilaksanakan
dalam kelompok kecil. Kelompok yang dibuat menuntut
pembagian tugas yang jelas dan penetapan tujuan yang jelas.

Model-Model Pembelajaran Pendidikan Ega Trisna 9


5. Teacher Act As Facilitator. Pada pelaksanaan proses belajar
mengajar, guru hanya berperan sebagai pasilitator. Meskipun
begitu guru harus selalu memantau perkembangan aktivitas
siswa dan mendorong mereka agar mencapai target yang
hendak dicapai.
Karakteristik lain menurut Arends dalam Setiawan (2017)
karakteristik yang di miliki Problem Based Leaming Model (Model
Pembelajaran Pemecahan Masalah) sebagai berikut:
1. Pengajuan pertanyaan atau masalah
b. Autentik, yaitu masalah harus berakar pada kehidupan
dunia nyata siswa pada prinsip-prinsip disiplin ilmu
tertentu.
c. Jelas, yaitu masalah di rumuskan dengan jelas, dalam arti
tidak menimbulkan masalah baru bagi siswa yang pada
akhirnya menyulitkan penyelesaian yang dihadapi.
d. Mudah di pahami, yaitu masalah yang diberikan harusnya
mudah di pahami oleh siswa dan di sesuaikan dengan
tingkat perkembangan siswa.
e. Luas dan sesuai tujuan pembelajaran, luas artinya masalah
tersebut harus mencakup seluruh materi pelajaran yang
akan diajarkan sesuai dengan waktu,ruang dan sumber
yang tersedia. Bermanfaat, yaitu masalah tersebut
bermanfaat bagi siswa sebagai pemecah masalah dan guru
sebagai pembuat masalah.
2. Berfokus pada keterkaitan antara ilmu
Masalah yang diajukan hendaknya melibatkan berbagai
disiplin ilmu.
3. Penyelidikan Autentik (situasi nyata)
Dalam penyelidikan siswa menaganalisis dan merumuskan
masalah, mengembangkan dan meramalkan hipotesis,
mengumpulkan dan menganalisis informasi, melakukan
eksperimen, membuat kesimpulan, dan mengembangkan
hasil akhir.
4. Menghasikan produk dan memamerkannya
Siswa bertugas menyusun hasil belajarnya dalam bentuk
karya dan memamerkan pengembangan hasil akhir.
5. Kolaboratif

Model-Model Pembelajaran Pendidikan Ega Trisna 1


Model pembelajaran ini, tugas-tugas belajar merupakan
masalah diselesaikan bersama sama antar siswa.
Karkteristik lainnya Problem Based Learning Model
dari
(Model Pernbelajaran Pernecahan Masalah) adalah sebagai
berikut:
1. Perrnasalahan rnenjadi starting point dalarn belajar;
2. Perrnasalahan yang diangkat adalah perrnasalahan yang ada
didunia nyata yang tidak terstruktur;
3. Permasalahan mernbutuhkan perspeksi ganda (multiple
perspective);
4. Permasalahan, menantang pengetahuan yang dimiliki oleh
siswa, sikap, dan kornpetensi yang kernudian rnernbutuhkan
identifikasi kebutuhan belajar dan bidang baru dalarn
belajar;
5. Belajar pengarahan diri rnenjdi halyang utama;
6. Pernanfaatan surnber pengetahuan yang beragarn,
penggunaannya dan evaluasi surnber inforrnasi rnerupakan
proses esensial dalrn PMB;
7. Belajar adalah kolaboratif, kornunikasi, dan kooperatif;
8. Pengernbangan keterarnpilan 1nqu1n dan pernecahan
rnasalah sarna pentingnya dengan penguasaan 1s1
pengetahuan untuk mencari solusi dari sebuah
perrnasalahan;
9. Keterbukaan proses dalarn proses belajar rnengajar rneliputi
sintesis dan integrasi dari sebuah proses belajar; dan
10. Proses belajar rnengajar rnelibatkan evaluasi dan review
pengalaman siswa dan proses belajar.
Dari beberapa penjelasan rnengenai karakteristik proses
pernbelajaran dalam Problem Based Learning Model (Model
Pernbelajaran Pernecahan Masalah) dapat disirnpulkan bahwa
tiga unsur yang terdapat dalarn proses pernbelajaran Problem
Based Leaming Model (Model Pernbelajaran Pernecahan Masalah)
yaitu adanya suatu perrnasalahan, pernbelajaran berpusat pada
siswa yang rnernecahkan perrnasalahan yang di hadapi, dan
belajar dalarn kelornpok kecil.

Model-Model Pembelajaran Pendidikan Jasmani Ega Trisna Rahayu 11


D. Manfaat Problem Based Learning Model (Model
Pembelaj aran Pemecahan Masalah)
Untuk menjelaskan manfaat dari Problem Based Learning
Model (Model Pembelajaran Pemecahan Masalah) penelitian
mengutip pendapat Amir dalam Setiawan (2017)
menjelaskan Problem Based Leaming Model (Model Pembelajaran
Pemecahan Masalah) memiliki manfaat sebagai berikut:
1. Menjadi lebih ingat dan meningkatkan pemahaman atas
materi ajar
2. Mendorong agar berfikir keritis
3. Membangun keterampilan (soft skil)
4. Membangun kecakapan belajar
5. Memotivasi siswa dalam belajar

E. Tujuan Problem Based Learning Model (Model


Tujuan utama Problem Based Leaming Model (Model
Pembelajaran Pemecahan Masalah) adalah untuk mengarahkan
peserta didik mengembang kemampuan belajar kolaboratif,
kemampuan berpikir dan strategi-strategi belajarnya sehingga
peserta didik bisa belajar dengan kemampuan sendiri tanpa
bantuan orang lain atau pembelajar (selfdirected learning
strategies). Ada pun tujuan dan hasil dari Problem Based Learning
Model (Model Pembelajaran Pemecahan Masalah) ini adalah:
1. Keterampilan berpikir dan keterampilan memecahkan
masalah Pembelajaran berbasis masalah ini ditujukan untuk
mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi.
2. Menguasai 1s1 belajar dari disiplin heuristik dan
perkembangan keterampilan pemecah masalah. Hal ini
sesuai dengan karakteristik Problem Based Learning Model
(Model Pembelajaran Pemecahan Masalah) yaitu belajar
tentang kehidupan yang lebih luas, keterampilan memaknai
informasi, kolaboratif, dan belajar tim, serta kemampuan
berfikir reflektif dan evaluatif.
3. Pemodelan peranan orang dewasa. Bentuk pembelajaran
berbasis masalah penting menjembatan antara pembelajaran
sekolah formal dengan aktivitas mental yang lebih praktis
yang dijumpai di luar sekolah.

Model-Model Pembelajaran Pendidikan Ega Trisna 1


4. Belajar Pengarahan Sendiri(self directed learning) yaitu setiap
individu harus mampu mengembangkan hasil pemikiran
untuk mencapaiu suatu tujuan dalam meningkatkan prestasi
setiap pembelajaran.
5. Mengembangkan materi pembelajaran, karena punya variasi-
variasi dalam menyelesaikan permasalahan secara bersama.
Masing-masing pendapat individu digabungkan menjadi
suatu pemecahan masalah yang menjadi tanggungjawab
bersama dalam menjadi kesepakatan untuk mencari titik temu
permasalahan-permasalahan.

F. Prinsip Problem Based Learning Model (Model


PembelajaranPemecahanMasalah)
Menurut Baro (2003) prinsip Problem Based Learning Model
(Model Pembelajaran Pemecahan Masalah) adalah:
1. Menggunakan permasalahan dalam dunia nyata,
2. Pembelajaran dipusatkan pada penyelesaian masalah,
3. Tujuan pembelajaran di tentukan oleh siswa, dan
4. Guru berperan sebagai fasilitator. Kemudian masalah yang
digunakan menurutnya harus relevan dengan tujuan
pembelajaran, mutakhir dan menarik.
Dalam kelompok, siswa melakukan kegiatan-kegiatan:
1. Membaca kasus,
2. Menentukan masalah mana yang paling relevan dengan
tujuan pembelajaran,
3. Membuat rumusan masalah,
4. Membuat hipotesis,
5. Mengidentifikasi sumber informasi, diskusi, dan pembagian
tugas,
6. Melaporkan, mendiskusikan peyelesaian masalah yang
munkin, melaporkan kemajuan yang dicapai setiap anggota
kelompok, dan presentasi di kelas.
Kinerja yang efektif dari tugas belajar kelompok menurut
Barbara. Groh dan Deborah (2001)memerlukan pengembangan
keahlian baru pada siswa dan guru. Sebuah kelompok menjadi
fungsional, apabila seluruh anggotanya bekerja secara efektif

Model-Model Pembelajaran Pendidikan Ega Trisna 1


untuk meningkatkan pembelajaran diri sendiri dan anggota
kelompok lainnya.
Dari uraian diatas dapat dipahami bahwa pembelajaran
dengan Problem Based Leaming Model (Model Pembelajaran
Pemecahan Masalah) adalah strategi yang dimulai dengan:
1. Kegiatan kelompok yaitu membaca kasus, menentukan
masalah mana yang paling relevan dengan tujuan
pembelajaran, membuat rumusan masalah, membuat
hipotesis, mengidentifikasi sumber informasi, diskusi dan
pembagian tugas dan melaporkan kemajuan yang dicapai
setiap anggota kelompok, serta presentasi dikelas.
2. Kegiatan perorangan yaitu siswa melakukan kegiatan
membaca berbagai sumber, meneliti, dan penyampa1an
temuan.
3. Kegiatan dikelas yaitu mempresentasikan laporan dan
diskusi antar kelompok dibawah bimbingan guru. Dari tida
kegiatan kelompok perorangan maupun kelas yang
merupakan faktor utama dalam strategi pembelajaran
dengan PBLadalah pada rumusan masalah yang ada.

G. Keunggulan dan Kelemahan Problem Based Learning Model


(Model Pembelajaran Pemecahan
Masalah)
Berikut merupakan keunggulan dari Problem Based Leaming
Model (Model Pembelajaran Pemecahan Masalah):
1. Siswa didorong untuk memiliki kemampuan memecahkan
masalah dalam situasi nyata.
2. Siswa memiliki kemampuan membangun pengetahuannya
sendiri melalui aktivitas belajar.
3. Pembelajaran berfokus pad a masalah sehingga materi yang
tidak ada hubungannya tidak dipelajari oleh siswa. Hal ini
mengurangi beban siswa dengan menghapal atau menyimpan
informasi.
4. Terjadi aktivitas ilmiah pada siswa melalui kerja kelompok.
5. Siswa terbiasa menggunakan sumber-sumber pengetahuan,
baik dari perpustakaan, internet, wawancara, dan observasi.
6. Siswa memiliki kemampuan menilai kemajuan belajarnya
sendiri.

Model-Model Pembelajaran Pendidikan Ega Trisna 1


7. Siswa memiliki kemampuan untuk melakukan komunikasi
ilmiah dalam kegiatan diskusi/ presentasi hasil pekerjaannya.
8. Kesulitan belajar siswa secara individual dapat diatasi melalui
kerja kelompok dalam bentuk peer teaching.
Keunggulan model pembelajaran Problem Based Learning
Model (Model Pembelajaran Pemecahan Masalah) menurut Jones
dan Turner dalam Bethell dan Morgan (2011) adalah
"Deoeloping student's ability to make decision and solve problems,
raising awarenes of the complexity of real world issues, increased
integration of theory and practice." Artinya adalah meningkatkan
kemampuan peserta didik untuk membuat keputusan dan
pemecahan masalah meningkatkan kesadaran akan
kompleksitas masalah dunia nyata, peningkatan integrasi teori
dan praktek.
Selain pendapat diatas keunggulan-keunggulan dari
penggunaan Problem Based Learning Model (Model Pembelajaran
Pemecahan Masalah) juga diungkapkan oleh Kemendikbud
(2013) diantaranya:
1. Problem Based Learning Model (Model Pembelajaran Pemecahan
Masalah) mampu mengembangkan motivasi belajar siswa
2. Problem Based Learning Model (Model Pembelajaran Pemecahan
Masalah) mendorong siswa untuk berpikir tingkat tinggi
3. Problem Based Learning Model (Model Pembelajaran Pemecahan
Masalah) mendorong siswa mengoptimalkan kemampuan
metakognisinya
4. Problem Based Learning Model (Model Pembelajaran Pemecahan
Masalah) menjadi pembelajaran bermakna sehingga
mendorong siswa memiliki rasa percaya diri yang tinggi dan
mampu belajar secara mandiri
Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut, penulis dapat
mengambil kesimpulan tentang kelebihan model pembelajaran
Problem Based Learning Model (Model Pembelajaran Pemecahan
Masalah) dibandingkan dengan model pembelajaran yang lain
yaitu meningkatkatnya kemampuan peserta didik dalam
berpikir kritis, meningkatnya kemampuan peserta didik dalam
memecahkan masalah secara mandiri dan meningkatnnya
kemampuan untuk menerapkan pengetahuan dalam sebuah
keterampilan. gerak atau permainan.

Model-Model Pembelajaran Pendidikan Ega Trisna 1


Berikut merupakan kelemahan dari Problem Based Learning
Model (Model Pembelajaran Pemecahan Masalah) menurut
shoimin (2014, him. 132) yaitu:
1. Proses belajar mengajar tidak dapat diterapkan untuk setiap
materi pelajaran, ada bagian guru berperan aktif dalam
menyajikan materi. Proses belajar mengajar lebih cocok untuk
pembelajaran yang menuntut kemampuan tertentu yang
kaitannya dengan pemecahan masalah.
2. Dalam suatu kelas yang memiliki tingkat keragaman siswa
yang tinggi akan terjadi kesulitan dalam pembagian tugas.
3. Siswa lebih suka mempelajari pengetahuan dan mendapatkan
jawaban atas masalah yang dihadapinya dari guru atau dari
buku, siswa yang pengetahuannya rendah dan peserta didik
yang susah berkonsultasi dengan guru memecahkan masalah
secara mandiri perupakan sesuatu yang sulit.
4. Problem Based Learning Model (Model Pembelajaran Pemecahan
Masalah) tidak bisa diterapkan pada setiap proses
pembelajaran, karena ada saatnya guru memberikan materi
secara pen uh disesuaikan dengan tingka t keragaman siswa.

H. Langkah-Langkah Pelaksanaan Problem Based Learning


Model (Model Pembelajaran Pemecahan Masalah)
Terdapat beberapa langka dalam menerapkan Problem
Based Learning Model (Model Pembelajaran Pemecahan Masalah).
Menurut kemendikbud dalam Setiawan (2017) menjelaskan
langkah-langkah Problem Based Learning Model (Model
Pembelajaran Pemecahan Masalah) adalah sebagai berikut:

Tabel 10.1
Langkah - Langkah Problem Based Learning Model (Model
Pembelajaran Pemecahan Masalah)
FASE FASE PRILAKU GURU
Pase 1
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran,
melakukan orisentasi menjelaskan logistik yang di perlukan, dan
masalah kepada memotivasi siswa terlibat aktif dalam pemecahan
siswa. masalah.

Model-Model Pembelajaran Pendidikan Ega Trisna 1


FASE FASE PRILAKU GURU
Fase 2 Guru membantu mendefinisikan dan
siswa
Mengorganissasika mengorganisasikan tugas belajar yang
n siswa untuk berhubungan dengan masalah tesebut
belajar
Fase 3 Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan
Membimbing informasi yang sesuai,melaksanakan
penyelidikan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan
individu pemecahan masalah.
maupun
kelompok.
Fase 4 Guru membantu siswa dalam merencanakan
Mengembangka dan menyiapkan artefak yang sesuai seperti
n dan laporan,video,dan membantu siswa saling
menyajikan berbagi satu sama lain terkait hasil karyanya.
artefak dan
memamerkanny Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi
Fase 5
atau evaluasi terhadap materi yang telah di
Menganalisis dan
pelajari, meminta kelompok presentasi hasilkerja.
mengevaluasi
proses pemecahan
Sumber : kemendikbud, (2014:28)

Fase 1: Orientasi Siswa kepada Masalah


Pembelajaran dimulai dengan menjelaskan tujuan
pembelajaran dan aktivitas-aktivitas yang akan dilakukan.
Dalam penggunaan Problem Based Leaming Model (Model
Pembelajaran Pemecahan Masalah), tahap ini snagat penting
dimana guru pendidikan jasmani harus menjelaskan dengan
rinci apa yang harus dilakukan oleh siswa dan juga oleh guru.
Serta dijelaskan bagaimana guru akan mengevaluasi proses
pembelajaran. Hal ini sangat penting untuk memberikan
motivasi agar siswa dapat mengerti dalam pembelajaran yang
akan dilakukan.
Ada empat hal yang perlu dilakukan dalam proses ini yaitu:
1. Tujuan utama pengajaran tidak untuk mempelajari sejumlah
besar informasi baru, tetapi lebih kepada belajar bagaimana
menyelidi masalah-masalah penting dan bagaimana menjadi
siswa yang mandiri.

Model-Model Pembelajaran Pendidikan Ega Trisna 1


2. Permasalahan dan pernyataan yang diselidiki tidak
mempunyai jawaban mutlak "benar", sebuah masalah yang
rumit atau kompleks mempunyai banyak penyesalan dan
seringkali bertentangan.
3. Selama tahan penyelidikan (dalam pengajaran ini) siswa
didorong untuk mengajukan pertanyaan dan mencari
informasi. Guru pendidikan jasmani akan bertindak sebagai
pembimbing yang siap membantu, manun siswa harus
berusaha untuk bekerja mandiri atau dengan temannya, dan
4. Selama tahap analisis dan penjelasan, siswa akan didorong
untuk menyatakan ide-idenya secara terbuku dan penuh
kebebasan. Tidak ada ide yang akan ditertawakan oleh guru
atau teman sekelas. Semua siswa diberi peluang untuk
menyumbang kepada penyelidikan dan menyampaikan ide-
ide mereka.

Fase 2: Mengorganisasi siswa untuk belajar


Disamping mengembangkan keterampilan memecahkan
masalah, pembelajaran Problem Based Learning Model (Model
Pembelajaran Pemecahan Masalah) juga mendorong siswa
belajar berkolaborasi. Pemecahan suatu masalah sangat
membutuhkan kerjasama dan sharing antar anggota. Oleh sebab
itu, guru dapat memulai kegiatan pembelajaran dengan
membentuk kelompo-kelompok siswa dimana masing-masig
kelompok akan memilih dan memecahkan masalah yang
berbeda. Prinsip-prinsip pengelompokan siswa dalam
pembelajaran kooperatif dapat digunakan dalam kontek ini
seperti: kelompok harus heterogen, pentingnya interaksi antar
anggota, komunikasi yang efektif, adanya tutor sebaya, dan
sebagainya. Guru pendidikan jasmani sangat penting memonitor
dan mengeevaluasi kerja masing-masing kelompok untuk
menjaga kinerja dan dinamika kelompok selama pembelajaran.
Setelah siswa diorientasi pada suatu masalah dan telah
membentuk kelompok belajar selanjutnya guru dan peserta
didik menetapkan subtopik-subtopik yang spesipik, tugas-tugas
peyelidikan, dan jadwal. Tantangan utama bagi guru pada tahap
ini adalah guru mengupayakan agar semua siswa terlibat dalam

Model-Model Pembelajaran Pendidikan Ega Trisna 1


sejumlah kegiatan penyelidikan dan hasil-hasil penyelidikan ini
dapat menghasilkan penyelesaian terhadap permasalahan
tersebut.

Fase 3: Membimbing Penyelidikan Individu dan Kelompok


Penyelidikan adalah inti dari Problem Based Learning Model
(Model Pembelajaran Pemecahan Masalah). Meskipun setiap
situasi permasalahan memerlukan teknik penyelidikan yang
berbeda, namun pada umumnya tentu melibatkan karakter yang
identik, yakni pengumpulan data dan eksperimen, berhipotesis
dan penjelasan, dan memberikan pemecahan. Pengumpulan
data dan eksperimentasi merupakan aspek yang sangat penting.
Pada tahap nu, guru harus mendorong siswa untuk
mengumpulkan data dan melaksanakan eksperimen (mental
maupun aktual) sampai mereka betul-betul memahami dimensi
situasi permasalahan. Tujuannya adalah agar siswa
mengumpulkan cukup informasi untuk menciptakan dan
membangun ide mereka sendiri. Guru pendidikan jasmani
dalam Problem Based Leaming Model (Model Pembelajaran
Pemecahan Masalah) membantu siswa untuk mengumpulkan
informasi sebanyak-banyaknya dari berbagai sumber, dan ia
seharusnya mengajukan pertanyaan pada siswa untuk berpikir
tentang masalah dan ragam informasi yang dibutuhkan untuk
sampai pada pemecahan masalah yang dapat dipertahankan.
Setelah siswa mengumpulkan cukup data dan memberikan
permasalahan tentang fenomena yang mereka selidiki,
selanjutnya mereka memulai menawarkan penjelasan dalam
bentuk hipotesis, penjelasan, dan pemecahan. [Link]
pada fase ini, guru mendorong siswa untuk menyampaikan
semua ide-idenya dan menerima secara penuh ide tersebut.
Guru pendidikan jasmani dalam Problem Based Learning Model
(Model Pembelajaran Pemecahan Masalah) juga harus
mengajukan pertanyaan yang membuat siswa berpikir tentang
kelayakan hipotesis dan solusi yang mereka buat serta tentang
kualitas informasi yang dikumpulkan.

Model-Model Pembelajaran Pendidikan Ega Trisna 1


Fase 4 : Mengembangkan dan Menyajikan Hasil Karya dan
Mempamerkannya
Tahap penyelidikan diikuti dengan menciptakan artifak
(hasil karya), dimana dalam pembelajaran pendidikan jasmani
artifak disini adalah memperagaakan keterampilan gerak yang
sudah didiskusikan pada fase sebelumnya. Artifak lebih dari
sekedar laporan tertulis, namun bisa suatu demonstrasi
keterampilan gerak (menunjukan situasi masalah dan
pemecahan yang diusulkan), model (perwujudan secara fisik
dari situasi masalah dan pemecahannya), program komputer,
dan sajian multimedia. Tentunya kecanggihan artifak sangat
dipengaruhi tingkat berpikir siswa.

Fase 5: Menganalisis dan Mengevaluasi Proses Pemecahan


Masalah
Fase ini merupakan Problem Based Learning
akhir dalam
Model (Model Pembelajaran Pemecahan Masalah). Fase ini
dimaksudkan untuk membantu menganalisisdan mcngevaluasi
proses mereka sendiri dan keterampilan penyelidikan dan
intektual yang mereka gunakan. Selama fase ini guru meminta
siswa untuk merekonstruksi pemikiran dan aktivitas yang telah
dilakukan selama proses kegiatan belajarnya.

I. Contoh Skenario Problem Based Learning Model (Model


Pembelajaran Pemecahan Masalah)

Kegiatan Deskripsi Pembelajaran Waktu

Pendahuluan - Berbasis, berdoa, presensi, dan 15 Menit


apersepsi,dengan mengaitkan materi
pembelajaran sekarang dengan pengalarnan
peserta didik atau pernbelajaran sebelumnya.
- Pengkondisian fisik,mental,untuk
mengikuti pembelajaran.
- Mernberikan rnotivasi dan menjelaskan
tujuan pembelajaran.

Model-Model Pembelajaran Pendidikan Ega Trisna 2


Kegiatan Deskripsi Pembelajaran Waktu

Kegiatan Inti a. Mengorientasikan peserta didik 15 Menit


Fase 1 1. Guru memfasilitasi siswa untuk
mencermati masalah dan mengajukan
pertanyaan-pertanyaan terkait masalah
teknik Bounce pass dan chest pass
"apakah kalian mengetahui bagaimana
gerakan Bounce pass dan chest pass?"
2. Guru merninta siswa mengajukan dugaan
mengenai solusi strategi terbaik untuk
menyelesaikan masalah.
3. Siswa dalam rnenguatkan dugaan
tersebut dengan rnenggali surnber
belajar yang sesuai.
4. Guru menginformasikan tujuan
pernbelajaran teknik bounce pass dan
chest pass.

Fase 2 b. Mengorganisasikan peserta didik untuk 10 Menit


belajar
Guru rnengorganisasikan siswa untuk
mempelajari teknik bounce pass dan chest
pass

Fase 3 c. Membirnbing penyelidikan individual 25 Menit


rnaupun kelompok
Dengan birnbingan guru,siswa mwlakukan
penyelidikan dengan cara melakukan
eksperirnent maupun rnengeksplorisasi
surnber surnber belajar yang mendukung
dalarn rnempelajari teknik bounce pass dan
chest pass.

Fase4 d. Mengernbangkan dan rnenyajikan hasil 25 Menit


karya
Siswa dalam kelompok mengembangkan
laporan hasil penelitian tentang bounce
pass dan chest pass

Fase5 e. Menganalisis dan mengevaluasi proses


pemecahan masalah
- Guru bersama siswa menganalisis da 15 Menit

Model-Model Pembelajaran Pendidikan Jasmani Ega Trisna Rahayu 21


Kegiatan Deskripsi Pembelajaran Waktu

mengevaluasi terhadap pemecahan


masalah dalam teknik bounce pas dan
chest pass yang dipresentasikan setiap
kelompok maupun terhadap seluruh
aktivitas pembelajaran yang dilakukan 20 Menit
- Siswa melakukan permainan bola basket
sederhana dan peraturan yang
dimodifikasi dengan teknik bounce pass
dan chest pass secara berkelompok
Penutup Pendinginan lOMenit
- Guru memberikan penguatan konsep
tentang chest pass dan bounce pass
- Melakukan refleksi oleh guru dengan
melibatkan peserta didik tentang materi
passing
- Memberikan umpan balik dan penugasan
pada peserta didik Menarik kesimpulan
dari hasil pembelajaran,dan berdoa

Model-Model Pembelajaran Pendidikan Jasmani Ega Trisna Rahayu 22

Anda mungkin juga menyukai