0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
22 tayangan31 halaman

Makalah Nikah

Makalah ini membahas tentang nikah dalam Islam, mencakup pengertian, dasar hukum, tujuan, dan hikmah pernikahan. Nikah dianggap sebagai ikatan suci yang penting untuk membangun keluarga harmonis dan menjaga kehormatan, serta sebagai bentuk ibadah dan tanggung jawab. Penulis berharap makalah ini dapat meningkatkan pemahaman tentang nikah dan perannya dalam kehidupan manusia.

Diunggah oleh

henrythekucing
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
22 tayangan31 halaman

Makalah Nikah

Makalah ini membahas tentang nikah dalam Islam, mencakup pengertian, dasar hukum, tujuan, dan hikmah pernikahan. Nikah dianggap sebagai ikatan suci yang penting untuk membangun keluarga harmonis dan menjaga kehormatan, serta sebagai bentuk ibadah dan tanggung jawab. Penulis berharap makalah ini dapat meningkatkan pemahaman tentang nikah dan perannya dalam kehidupan manusia.

Diunggah oleh

henrythekucing
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH

NIKAH

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah fikih, Munakahat
Dosen Pengampu: Dr. Moh Ali Wafa, S.H. [Link]. [Link]

Disusun oleh kelompok 1 HK-1A


Henry Akhyari 1251240049
Muhammad faturrohman hadi 1251240051
Muwahhid muhsin 12512400xx

PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA


FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM
UIN SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA

1
KATA PENGATAR

Puji syukur kehadirat Allah Swt. yang telah melimpahkan rahmat, taufik, dan
hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
“Nikah dalam Islam” dengan baik. Shalawat serta salam semoga tetap tercurah
limpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad Saw., kepada keluarga,
sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas dan sebagai sarana untuk
menambah pengetahuan serta pemahaman mengenai pengertian nikah, dasar
hukum nikah dalam Islam, tujuan nikah, hikmah nikah, serta pentingnya
pernikahan dalam kehidupan manusia. Penulis menyadari bahwa nikah merupakan
salah satu ajaran penting dalam Islam yang tidak hanya mengatur hubungan antara
laki-laki dan perempuan, tetapi juga mengandung nilai ibadah, tanggung jawab,
dan pembentukan keluarga yang harmonis.
Dalam penyusunan makalah ini, penulis menyadari bahwa masih terdapat
banyak kekurangan, baik dari segi isi, penyusunan, maupun bahasa yang
digunakan. Hal tersebut disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan dan
pengalaman penulis. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan
saran yang bersifat membangun demi perbaikan makalah ini di masa yang akan
datang.
Penulis berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi para
pembaca, khususnya dalam menambah wawasan dan pemahaman tentang nikah
dalam Islam. Semoga makalah ini dapat menjadi salah satu referensi sederhana
yang bermanfaat dalam proses pembelajaran.
Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang
telah membantu dalam penyusunan makalah ini, baik secara langsung maupun
tidak langsung. Semoga Allah Swt. senantiasa memberikan balasan yang terbaik
atas segala bantuan yang diberikan.

Penulis

2
DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN.....................................................................................1
A. Latar Belakang............................................................................................1
B. Rumusan Masalah..........................................................................................5
C. Tujuan Penulisan............................................................................................6
BAB II PEMBAHASAN...................................................................................... 7
A. Pengertian Nikah...........................................................................................7
B. Dasar Hukum Nikah dalam Islam.............................................................12
C. Tujuan Nikah............................................................................................17
D. Hikmah Nikah.......................................................................................... 19
BAB III PENUTUP........................................................................................... 22
A. Kesimpulan...............................................................................................22
B. Saran............................................................................................................23

3
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Nikah merupakan salah satu ajaran yang sangat penting dalam Islam karena

berkaitan langsung dengan kehidupan manusia, baik sebagai individu maupun

sebagai anggota masyarakat. Dalam pandangan Islam, nikah bukan sekadar

penyatuan antara laki-laki dan perempuan untuk memenuhi kebutuhan biologis,

melainkan sebuah ikatan suci yang dibangun atas dasar ibadah, tanggung jawab,

kasih sayang, dan komitmen untuk membentuk rumah tangga yang harmonis.

Melalui pernikahan, manusia diarahkan untuk hidup sesuai dengan fitrah yang

telah ditetapkan oleh Allah SWT. Setiap manusia pada dasarnya diciptakan

berpasang-pasangan, saling membutuhkan, dan saling melengkapi satu sama lain.

Oleh sebab itu, nikah memiliki kedudukan yang sangat mulia dalam Islam karena

menjadi jalan yang sah dan terhormat untuk membangun keluarga, menjaga

kehormatan diri, serta melanjutkan keturunan secara benar menurut syariat.1

Dalam kehidupan modern saat ini, pembahasan tentang nikah menjadi

semakin penting karena banyaknya perubahan sosial yang memengaruhi cara

pandang masyarakat terhadap pernikahan. Sebagian orang memandang nikah

hanya sebagai formalitas sosial, sebagian lagi menganggapnya sekadar ikatan

hukum, dan tidak sedikit pula yang menunda atau bahkan menghindari pernikahan

karena alasan ekonomi, karier, atau kekhawatiran terhadap tanggung jawab rumah

tangga. Di sisi lain, perkembangan zaman juga membawa tantangan moral yang

1
Suryantoro, D. D., & Rofiq, A. (2021). Nikah Dalam Pandangan Hukum Islam. Ahsana
Media: Jurnal Pemikiran, Pendidikan Dan Penelitian Ke-Islaman, 7(02), 38-45.

1
semakin kompleks, seperti pergaulan bebas, menurunnya nilai kesucian hubungan

antara laki-laki dan perempuan, serta melemahnya pemahaman generasi muda

tentang tujuan pernikahan itu sendiri. Keadaan ini menunjukkan bahwa

pemahaman yang benar tentang makna nikah sangat dibutuhkan, khususnya bagi

generasi muda agar mereka tidak salah dalam memandang pernikahan dan mampu

mempersiapkan diri untuk menjalani kehidupan rumah tangga yang sesuai dengan

ajaran Islam.2

Islam telah memberikan pedoman yang jelas mengenai pentingnya

pernikahan. Nikah dipandang sebagai sarana untuk menjaga kehormatan,

menenangkan jiwa, dan membangun ketenteraman hidup. Pernikahan juga

merupakan langkah penting dalam membentuk keluarga yang menjadi pondasi

utama masyarakat. Apabila keluarga dibangun dengan baik, maka masyarakat pun

akan menjadi baik. Sebaliknya, jika keluarga rapuh, maka akan lahir berbagai

persoalan sosial yang merugikan kehidupan bersama. Karena itulah, Islam

menempatkan keluarga sebagai lembaga yang sangat penting dan menjadikan

pernikahan sebagai pintu masuk untuk membentuk keluarga yang sah, terhormat,

dan penuh tanggung jawab. Dalam keluarga, suami dan istri bukan hanya hidup

bersama, tetapi juga saling membantu dalam menjalankan kewajiban, mendidik

anak, menjaga nilai-nilai agama, serta menciptakan suasana rumah tangga yang

damai dan penuh kasih sayang.3

Pentingnya nikah juga ditegaskan dalam Al-Qur’an. Allah SWT. berfirman

dalam Surah Ar-Rum ayat 21:


2
Yunus, A. (2020). Hukum Perkawinan Dan Itsbat Nikah: Antara Perlindungan Dan
Kepastian Hukum. Humanities Genius.
3
Yunus, A. (2020).

2
‫َو ِم ْن ٰا ٰي ِت ٖٓه َا ْن َخ َل َق َل ُك ْم ِّم ْن َا ْن ُف ِس ُك ْم َا ْز َوا ًجا ِّل َت ْس ُك ُن ْٓوا ِا َل ْي َها َو َج َع َل َب ْي َن ُك ْم َّم َو َّد ًة َّو َر ْح َم ًۗة ِا َّن ِف ْي ٰذ ِل َك‬

٢١ ‫َل ٰا ٰي ٍت ِّل َق ْو ٍم َّي َت َف َّك ُر ْو َن‬


‫۝‬

Artinya: Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah bahwa Dia

menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari (jenis) dirimu sendiri agar

kamu merasa tenteram kepadanya. Dia menjadikan di antaramu rasa

cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-

benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.

Ayat ini menjelaskan bahwa pernikahan bukan sekadar hubungan antara dua

manusia, tetapi juga merupakan tanda kebesaran Allah SWT. Tujuan utama

pernikahan dalam ayat tersebut adalah terciptanya ketenteraman, kasih, dan

sayang antara suami dan istri. Ketenteraman yang dimaksud bukan hanya

ketenangan lahir, tetapi juga ketenangan batin, yaitu perasaan aman, nyaman, dan

damai dalam menjalani kehidupan bersama. Kasih dan sayang menjadi landasan

penting dalam rumah tangga agar hubungan suami istri tidak hanya didasarkan

pada kebutuhan sesaat, tetapi juga pada keikhlasan, pengorbanan, dan perhatian

yang tulus satu sama lain.4

Selain sebagai jalan untuk memperoleh ketenteraman hidup, nikah juga

berfungsi sebagai benteng moral bagi manusia. Dalam kehidupan sehari-hari,

manusia memiliki naluri dan kebutuhan yang harus disalurkan dengan cara yang

benar. Islam tidak melarang adanya rasa cinta dan keinginan untuk hidup

berpasangan, tetapi Islam mengaturnya dalam bingkai yang suci melalui

4
Inayatillah, R. (2024). Status Keabsahan Wali Nikah Menurut Hukum Islam. Acta
Diurnal Jurnal Ilmu Hukum Kenotariatan, 8(1), 82-98.

3
pernikahan. Dengan nikah, hubungan antara laki-laki dan perempuan menjadi

halal dan terjaga dari perbuatan yang dilarang agama. Oleh karena itu, nikah dapat

dipahami sebagai salah satu bentuk perlindungan terhadap kehormatan diri.

Melalui pernikahan, manusia diajarkan untuk bertanggung jawab atas perasaan,

tindakan, dan masa depan keluarganya. Pernikahan juga mengajarkan

kedewasaan, sebab seseorang yang menikah harus siap memikul amanah sebagai

suami atau istri, dan kelak sebagai ayah atau ibu bagi anak-anaknya.

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT. juga berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 1:

‫ٰٓي َا ُّي َها ال َّنا ُس ا َّت ُق ْوا َر َّب ُك ُم ا َّل ِذ ْي َخ َل َق ُك ْم ِّم ْن َّن ْف ٍس َّوا ِح َد ٍة َّو َخ َل َق ِم ْن َها َز ْو َج َها َو َب َّث ِم ْن ُه َما ِر َجا ًلا َك ِث ْي ًرا‬

‫۝‬١ ‫َّو ِن َس ۤا ًۚء َوا َّت ُقوا ال ّٰل َه ا َّل ِذ ْي َت َس ۤا َء ُل ْو َن ِب ٖه َوا ْل َا ْر َحا َۗم ِا َّن ال ّٰل َه َكا َن َع َل ْي ُك ْم َر ِق ْي ًبا‬

Artinya: “Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah

menciptakanmu dari diri yang satu (Adam) dan Dia menciptakan darinya

pasangannya (Hawa). Dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-

laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan

nama-Nya kamu saling meminta dan (peliharalah) hubungan

kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu”.

Ayat ini menunjukkan bahwa kehidupan manusia berkembang melalui

adanya pasangan dan keturunan. Dengan kata lain, pernikahan merupakan salah

satu cara yang telah ditetapkan Allah untuk menjaga kelangsungan hidup manusia

di bumi. Keturunan yang lahir dari pernikahan memiliki kedudukan yang jelas,

baik secara agama maupun sosial. Hal ini sangat penting karena anak merupakan

amanah yang harus dijaga, dididik, dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga

4
yang baik. Dengan adanya pernikahan, anak memperoleh haknya secara utuh,

seperti kasih sayang orang tua, pendidikan, perlindungan, dan identitas keluarga

yang jelas.5

Di samping itu, nikah juga mempunyai dimensi sosial yang sangat besar.

Pernikahan bukan hanya menyatukan dua individu, tetapi juga menyatukan dua

keluarga, bahkan dapat mempererat hubungan dalam masyarakat. Dalam tradisi

masyarakat Indonesia, pernikahan sering dipandang sebagai peristiwa besar yang

memiliki makna sosial, budaya, dan keagamaan. Hal ini menunjukkan bahwa

nikah memiliki pengaruh luas terhadap kehidupan masyarakat. Keluarga yang

harmonis akan melahirkan generasi yang baik, sedangkan keluarga yang penuh

konflik dapat memengaruhi perkembangan anak dan lingkungan sekitarnya. Oleh

karena itu, pemahaman tentang nikah sangat penting untuk membangun kesadaran

bahwa pernikahan bukan perkara ringan, melainkan perjanjian yang kuat dan

harus dijalani dengan penuh tanggung jawab.6

Makna nikah dalam Islam juga tidak dapat dipisahkan dari tujuan

membangun rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Sakinah berarti

ketenangan, mawaddah berarti cinta, dan rahmah berarti kasih sayang. Ketiga hal

ini menjadi cita-cita utama dalam kehidupan rumah tangga Islam. Rumah tangga

yang sakinah tidak terwujud hanya karena adanya akad, tetapi harus dibangun

melalui pemahaman agama, komunikasi yang baik, saling menghormati, saling

menolong, dan kesadaran untuk menjalankan hak dan kewajiban masing-masing.

5
Fahrol, M., & Haikal, M. (2025). Rukun Nikah Menurut 4 Imam Mazhab:(Studi
Pustaka). Akhlak: Jurnal Pendidikan Agama Islam Dan Filsafat, 2(2), 19-29.
6
Pakarti, M. H. A., & Fathiah, I. (2022). Itsbat Nikah Sebuah Upaya Mendapatkan
Mengakuan Negara (Studi Pengadilan Agama Garut). Tahkim (Jurnal Peradaban Dan
Hukum Islam), 5(2), 21-42.

5
Karena itu, pemahaman tentang nikah tidak cukup hanya mengetahui definisinya,

tetapi juga harus memahami tujuan, hikmah, serta tanggung jawab yang

menyertainya. Banyak rumah tangga mengalami masalah bukan karena kurang

cinta, tetapi karena kurang ilmu, kurang kesabaran, dan kurang pemahaman

terhadap makna pernikahan yang sesungguhnya.7

Berdasarkan uraian tersebut, dapat dipahami bahwa nikah merupakan

institusi yang sangat penting dalam Islam dan kehidupan manusia. Nikah bukan

hanya persoalan hubungan pribadi antara laki-laki dan perempuan, tetapi juga

menyangkut ibadah, moral, keturunan, pendidikan, dan tatanan sosial masyarakat.

Oleh sebab itu, pembahasan mengenai apa itu nikah menjadi sangat relevan untuk

dikaji dalam sebuah makalah. Melalui pembahasan ini, diharapkan dapat tumbuh

pemahaman yang lebih baik mengenai pengertian nikah, kedudukannya dalam

Islam, serta pentingnya pernikahan sebagai jalan untuk membentuk keluarga yang

harmonis dan diridai Allah SWT. Dengan memahami hakikat nikah secara benar,

setiap orang diharapkan mampu memandang pernikahan bukan sebagai beban,

melainkan sebagai amanah dan ibadah yang mulia dalam kehidupan.

B. Rumusan Masalah

1. Apa pengertian nikah?

2. Apa dasar hukum nikah dalam Islam?

3. Apa tujuan nikah dalam Islam?

4. Apa hikmah dari pernikahan?

7
Oelangan, M. D. (2013). Isbat Nikah Dalam Hukum Islam Dan Perundang-Undangan
Di Indonesia. Pranata Hukum, 8(2), 26718.

6
C. Tujuan Penulisan

1. Menjelaskan pengertian nikah.

2. Mengetahui dasar hukum nikah dalam Islam.

3. Menjelaskan tujuan nikah.

4. Mengetahui hikmah pernikahan dalam kehidupan manusia.

7
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Nikah

Nikah merupakan salah satu institusi yang sangat penting dalam ajaran

Islam karena menyangkut kehidupan pribadi, keluarga, dan masyarakat secara

luas. Dalam kehidupan manusia, nikah dipandang sebagai jalan yang sah untuk

menyatukan laki-laki dan perempuan dalam sebuah ikatan yang suci dan penuh

tanggung jawab. Islam menempatkan nikah bukan hanya sebagai hubungan sosial

biasa, melainkan sebagai akad yang bernilai ibadah. Oleh karena itu, pembahasan

tentang pengertian nikah tidak cukup hanya dipahami dari segi bahasa, tetapi juga

harus dilihat dari segi istilah, hukum, tujuan, dan makna yang terkandung di

dalamnya. Dengan memahami pengertian nikah secara benar, seseorang akan

mengetahui bahwa pernikahan bukan hanya tentang hidup bersama, tetapi tentang

komitmen untuk membangun kehidupan rumah tangga yang diridai Allah SWT.8

Secara etimologis, kata nikah berasal dari bahasa Arab, yaitu an-nikah, yang

memiliki arti berkumpul, bersatu, atau berhubungan. Dalam penggunaan bahasa,

kata nikah juga sering dimaknai sebagai akad atau perjanjian yang mengikat dua

pihak. Dari pengertian bahasa ini dapat dipahami bahwa nikah mengandung

makna adanya penyatuan antara laki-laki dan perempuan dalam suatu hubungan

yang resmi dan sah.9 Pengertian secara bahasa ini menjadi dasar untuk memahami

bahwa pernikahan bukan sekadar hubungan fisik, tetapi juga hubungan batin,

8
Farid, M. (2018). Nikah Online Dalam Perspektif Hukum. Jurisprudentie: Jurusan
Ilmu Hukum Fakultas Syariah Dan Hukum, 5(1), 174-186.
9
Hasbi, R. (2011). Elastisitas Hukum Nikah Dalam Perspektif Hadits. Jurnal
Ushuluddin, 17(1), 23-37.

8
sosial, dan hukum yang mengikat kedua belah pihak dalam satu rumah tangga.

Dengan demikian, makna nikah dalam Islam sangat luas karena mencakup aspek

lahiriah dan batiniah sekaligus.10

Secara terminologis, para ulama memberikan definisi yang beragam

mengenai nikah, meskipun inti maknanya tetap sama. Menurut Imam Syafi’i,

nikah adalah akad yang dengannya menjadi halal hubungan seksual antara laki-

laki dan perempuan. Definisi ini menekankan bahwa akad nikah menjadi sebab

diperbolehkannya hubungan antara dua orang yang sebelumnya haram menjadi

halal menurut syariat. Menurut Imam Hanafi, nikah adalah akad yang menjadikan

halal hubungan seksual antara seorang laki-laki dan seorang perempuan sebagai

suami istri. Sementara itu, Imam Malik mendefinisikan nikah sebagai akad yang

mengandung ketentuan hukum semata-mata untuk membolehkan wathi’ atau

bersetubuh, bersenang-senang, dan menikmati apa yang ada pada diri seorang

perempuan yang halal dinikahi. Pendapat para ulama tersebut menunjukkan

bahwa nikah merupakan akad yang sangat penting dalam Islam karena menjadi

dasar sahnya hubungan suami istri, sekaligus sebagai awal munculnya hak dan

kewajiban dalam rumah tangga.11

Walaupun para ulama menekankan aspek akad dan kehalalan hubungan

suami istri, pengertian nikah dalam Islam sesungguhnya lebih luas dari itu. Nikah

tidak hanya melegalkan hubungan biologis, tetapi juga menjadi ikatan moral,

spiritual, dan sosial antara laki-laki dan perempuan. Dalam Islam, pernikahan

dipandang sebagai mitsaqan ghalizhan, yaitu perjanjian yang kokoh atau sangat
10
Hidayat, S. (2017). Wali Nikah Dalam Perspektif Empat Madzhab. Inovatif: Jurnal
Penelitian Pendidikan, Agama, Dan Kebudayaan, 3(2), 98-124.
11
Hidayat, S. (2017).

9
kuat. Istilah ini menunjukkan bahwa nikah bukan perjanjian yang sederhana,

melainkan ikatan suci yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab. Oleh

sebab itu, setiap pasangan yang menikah dituntut untuk menjaga komitmen, saling

menghormati, saling menolong, dan bekerja sama dalam membangun kehidupan

rumah tangga yang harmonis.12

Dalam Kompilasi Hukum Islam, nikah diartikan sebagai akad yang sangat

kuat untuk menaati perintah Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah.

Pengertian ini memperjelas bahwa pernikahan bukan hanya urusan duniawi, tetapi

juga bagian dari pengabdian kepada Allah SWT. Seseorang yang menikah dengan

niat yang benar berarti sedang menjalankan salah satu bentuk ibadah yang

dianjurkan dalam Islam. Pernikahan dilakukan bukan hanya karena dorongan

perasaan atau keinginan pribadi, tetapi juga karena kesadaran untuk menjalankan

ajaran agama, menjaga kehormatan diri, dan membentuk keluarga yang baik. Oleh

karena itu, nikah dalam Islam memiliki dimensi ibadah yang sangat kuat,

sehingga pelaksanaannya harus didasarkan pada keimanan, tanggung jawab, dan

akhlak yang baik.

Selain menurut perspektif agama, pengertian nikah juga dijelaskan dalam

hukum positif di Indonesia. Dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang

Perkawinan, disebutkan bahwa perkawinan adalah ikatan lahir batin antara

seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk

keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Definisi

ini menegaskan bahwa perkawinan bukan hanya hubungan lahir, tetapi juga ikatan

12
Akbar, A. (2014). Nikah Sirri Menurut Perspektif Al-Quran. Jurnal Ushuluddin, 22(2),
213-223.

10
batin yang menghubungkan dua insan dalam kehidupan bersama. Ikatan lahir

menunjukkan adanya hubungan hukum yang sah, sedangkan ikatan batin

menunjukkan adanya rasa cinta, kasih sayang, tanggung jawab, dan komitmen

untuk hidup bersama. Dengan demikian, baik dalam perspektif Islam maupun

dalam hukum negara, nikah dipahami sebagai ikatan yang serius dan bertujuan

mulia.13

Secara teoritis, pengertian nikah dapat dipahami dari beberapa sudut

pandang. Pertama, dari sudut pandang agama, nikah adalah ibadah dan perintah

Allah yang bertujuan menjaga manusia dari perbuatan maksiat serta membangun

keluarga yang diridai-Nya. Kedua, dari sudut pandang sosial, nikah adalah

institusi yang mengatur hubungan antara laki-laki dan perempuan agar tercipta

ketertiban dalam masyarakat. Dengan adanya pernikahan, status suami, istri, dan

anak menjadi jelas, sehingga kehidupan sosial dapat berjalan dengan tertib.

Ketiga, dari sudut pandang psikologis, nikah memberikan ketenangan jiwa, rasa

aman, dan dukungan emosional bagi pasangan. Keempat, dari sudut pandang

biologis, nikah menjadi sarana yang sah untuk memenuhi kebutuhan naluriah

manusia. Kelima, dari sudut pandang hukum, nikah menciptakan hak dan

kewajiban yang mengikat antara suami dan istri, seperti kewajiban memberi

nafkah, saling menjaga, mendidik anak, dan membina kehidupan rumah tangga.

Dalam Al-Qur’an, pengertian nikah juga dapat dipahami melalui tujuan dan

hikmah yang dijelaskan oleh Allah SWT. Salah satu ayat yang sering dijadikan

dasar adalah Surah Ar-Rum ayat 21 yang menjelaskan bahwa Allah menciptakan

13
Subarman, M. (2013). Nikah Di Bawah Tangan Perspektif Yuridis Dan
Sosiologis. Ijtihad: Jurnal Wacana Hukum Islam Dan Kemanusiaan, 13(1), 65-83.

11
pasangan agar manusia memperoleh ketenteraman, dan dijadikan di antara mereka

rasa kasih dan sayang. Ayat ini menunjukkan bahwa nikah bukan sekadar

hubungan formal, tetapi sarana untuk mencapai ketenangan hidup. Ketenangan

dalam rumah tangga lahir dari hubungan yang dibangun atas dasar cinta,

kepercayaan, dan saling menghargai. Selain itu, Surah An-Nisa ayat 1

menjelaskan bahwa manusia diciptakan dari satu jiwa dan darinya diciptakan

pasangannya, lalu dari keduanya berkembang biak laki-laki dan perempuan yang

banyak. Ayat ini menunjukkan bahwa nikah adalah bagian dari sunnatullah dalam

kehidupan manusia, yaitu sebagai jalan untuk membentuk keluarga dan

melanjutkan keturunan secara sah.

Nikah juga memiliki kedudukan yang sangat penting dalam menjaga

kehormatan manusia. Islam mengajarkan bahwa hubungan antara laki-laki dan

perempuan harus dijaga dalam batas-batas yang telah ditetapkan syariat. Dengan

adanya pernikahan, maka hubungan tersebut menjadi halal, terhormat, dan

bernilai ibadah. Dalam konteks ini, nikah berfungsi sebagai benteng moral yang

melindungi manusia dari perbuatan zina, pergaulan bebas, dan penyimpangan

lainnya. Oleh sebab itu, nikah menjadi salah satu cara Islam dalam menjaga lima

tujuan pokok syariat, yaitu menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta.

Dalam hal ini, nikah sangat erat kaitannya dengan menjaga keturunan (hifz an-

nasl), karena melalui pernikahan, nasab anak menjadi jelas, hak-haknya terjamin,

dan pembinaan generasi dapat dilakukan dalam lingkungan keluarga yang sah.

Di samping itu, nikah juga mengandung unsur tanggung jawab yang besar.

Ketika seseorang menikah, ia tidak hanya mendapatkan hak, tetapi juga memikul

12
kewajiban. Seorang suami berkewajiban memberi nafkah, membimbing, dan

melindungi keluarganya, sedangkan seorang istri berkewajiban menjaga

kehormatan diri, rumah tangga, dan mendukung suaminya dalam kebaikan.

Keduanya harus saling bekerja sama dalam membina rumah tangga. Ini

menunjukkan bahwa pengertian nikah tidak dapat dipisahkan dari amanah.

Pernikahan bukan sekadar hubungan suka sama suka, melainkan ikatan yang

menuntut kedewasaan, kesabaran, pengorbanan, dan komitmen jangka panjang.

Karena itulah Islam sangat menekankan kesiapan dalam menikah, baik kesiapan

mental, spiritual, sosial, maupun ekonomi.14

Teori tentang pengertian nikah menunjukkan bahwa nikah adalah akad suci

antara laki-laki dan perempuan yang dilakukan sesuai syariat Islam untuk

membentuk rumah tangga yang sah, terhormat, dan penuh tanggung jawab. Nikah

bukan hanya melegalkan hubungan suami istri, tetapi juga menjadi sarana untuk

menjalankan ibadah, menjaga kehormatan, memperoleh ketenangan hidup,

melanjutkan keturunan, dan membangun masyarakat yang baik. Pengertian nikah

yang luas ini menunjukkan bahwa pernikahan memiliki peran yang sangat penting

dalam kehidupan manusia. Oleh sebab itu, setiap muslim perlu memahami hakikat

nikah secara mendalam agar dapat memandang pernikahan sebagai ibadah dan

amanah yang harus dijalankan dengan penuh kesungguhan. Dengan pemahaman

yang benar, pernikahan diharapkan mampu menjadi jalan menuju kehidupan

keluarga yang harmonis, sejahtera, dan diridai Allah SWT.

14
Malisi, A. S. (2022). Pernikahan Dalam Islam. Seikat: Jurnal Ilmu Sosial, Politik Dan
Hukum, 1(1), 22-28.

13
B. Dasar Hukum Nikah dalam Islam

Dasar hukum nikah dalam Islam bersumber dari Al-Qur’an, hadis, dan

ijma’ ulama. Pernikahan dalam Islam bukan hanya dipandang sebagai hubungan

antara laki-laki dan perempuan, tetapi juga sebagai ibadah yang memiliki nilai

suci dan aturan yang jelas. Oleh karena itu, hukum nikah memiliki landasan yang

kuat dalam ajaran Islam. Melalui dasar hukum tersebut, umat Islam diarahkan

untuk memahami bahwa pernikahan merupakan jalan yang sah untuk membangun

keluarga, menjaga kehormatan diri, serta melanjutkan keturunan dengan cara yang

diridai Allah SWT.15

Dalam Al-Qur’an, terdapat banyak ayat yang menjelaskan pentingnya

pernikahan. Salah satunya adalah firman Allah SWT. dalam Surah Ar-Rum ayat

21: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu

pasangan-pasangan dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa

tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi

kaum yang berpikir.”

Ayat ini menegaskan bahwa pernikahan adalah bagian dari tanda kebesaran

Allah SWT. Tujuan pernikahan bukan sekadar hidup bersama, melainkan untuk

menciptakan ketenteraman, cinta, dan kasih sayang dalam rumah tangga. Dari

ayat ini dapat dipahami bahwa Islam memandang pernikahan sebagai sarana

untuk mencapai kehidupan yang harmonis dan penuh kedamaian.

15
Malisi, A. S. (2022). Pernikahan Dalam Islam. Seikat: Jurnal Ilmu Sosial, Politik Dan
Hukum, 1(1), 22-28.

14
Selain itu, dasar hukum nikah juga terdapat dalam Surah An-Nisa ayat 3,

yaitu: “Maka nikahilah perempuan-perempuan yang kamu senangi: dua, tiga,

atau empat. Tetapi jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil, maka

nikahilah seorang saja.” Ayat ini menunjukkan bahwa menikah adalah sesuatu

yang dibolehkan dan dianjurkan dalam Islam. Ayat tersebut juga sekaligus

menjelaskan ketentuan mengenai poligami dengan syarat harus mampu berlaku

adil. Jika tidak mampu, maka cukup menikah dengan satu orang istri. Dari ayat ini

terlihat bahwa Islam sangat menekankan keadilan, tanggung jawab, dan

kemampuan dalam menjalani kehidupan pernikahan.

Dasar hukum nikah juga dijelaskan dalam Surah An-Nur ayat 32, yang

berbunyi: “Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan

orang-orang yang layak menikah dari hamba sahayamu yang laki-laki dan

perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberikan kemampuan kepada

mereka dengan karunia-Nya.” Ayat ini menjadi dorongan yang kuat bagi umat

Islam untuk menikah. Dalam ayat tersebut, Allah SWT. memerintahkan agar

orang-orang yang belum menikah dibantu untuk melangsungkan pernikahan. Ini

menunjukkan bahwa pernikahan dipandang sebagai kebaikan yang harus

didukung, bukan dipersulit. Bahkan, persoalan kemiskinan tidak boleh menjadi

alasan utama untuk menghindari pernikahan, karena Allah menjanjikan kecukupan

bagi mereka yang menikah dengan niat yang baik.

Selain Al-Qur’an, dasar hukum nikah juga berasal dari hadis Rasulullah

Saw. Salah satu hadis yang sangat terkenal adalah sabda Nabi Muhammad Saw.:

“Wahai para pemuda, barang siapa di antara kalian telah mampu, maka

15
menikahlah. Karena sesungguhnya menikah itu lebih menundukkan pandangan

dan lebih menjaga kemaluan. Barang siapa belum mampu, maka hendaklah ia

berpuasa, sebab puasa itu menjadi perisai baginya.” Hadis ini menunjukkan

bahwa Rasulullah Saw. sangat menganjurkan pernikahan, terutama bagi mereka

yang telah memiliki kemampuan lahir dan batin. Pernikahan menjadi cara yang

paling tepat untuk menjaga pandangan, kehormatan, dan kesucian diri dari

perbuatan yang dilarang agama.

Hadis tersebut juga memperlihatkan bahwa pernikahan memiliki fungsi

moral yang sangat penting. Dalam Islam, manusia memiliki naluri dan kebutuhan

yang harus disalurkan dengan cara yang benar. Pernikahan menjadi sarana yang

halal untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Oleh sebab itu, Islam menganjurkan

pernikahan sebagai bentuk perlindungan terhadap kehormatan manusia. Jika

seseorang belum mampu menikah, maka Rasulullah Saw. mengajarkan agar ia

menjaga diri dengan berpuasa. Hal ini membuktikan bahwa Islam sangat

memperhatikan kesucian dan pengendalian diri dalam kehidupan umatnya.16

Di samping Al-Qur’an dan hadis, dasar hukum nikah juga diperkuat oleh

ijma’ ulama. Para ulama sepakat bahwa nikah adalah sesuatu yang disyariatkan

dalam Islam. Kesepakatan ini didasarkan pada banyaknya dalil yang menunjukkan

anjuran dan pentingnya pernikahan. Walaupun hukum nikah pada dasarnya adalah

mubah atau boleh, dalam pelaksanaannya hukum nikah dapat berubah sesuai

keadaan seseorang. Nikah bisa menjadi wajib bagi orang yang sudah mampu dan

takut terjerumus ke dalam zina jika tidak menikah. Nikah bisa menjadi sunnah

16
Adharsyah, M., Sidqi, M., & Rizki, M. A. (2024). Pernikahan Dalam Perspektif Hukum
Islam. Jurnal Syariah Dan Ekonomi Islam, 2(1), 44-53.

16
bagi orang yang mampu dan ingin menikah, tetapi masih dapat menjaga dirinya.

Nikah dapat menjadi makruh bagi orang yang belum siap menjalankan kewajiban

rumah tangga. Bahkan, nikah bisa menjadi haram jika seseorang yakin tidak akan

mampu berlaku adil atau akan menzalimi pasangannya. Ini menunjukkan bahwa

hukum nikah dalam Islam sangat memperhatikan kondisi dan kesiapan individu.17

Dalam perspektif hukum Islam, nikah juga disebut sebagai mitsaqan

ghalizhan, yaitu perjanjian yang kuat. Istilah ini menunjukkan bahwa pernikahan

bukan hubungan yang main-main, tetapi ikatan suci yang harus dijaga. Karena itu,

dasar hukum nikah dalam Islam tidak hanya bertujuan membolehkan hubungan

antara laki-laki dan perempuan, tetapi juga mengatur tanggung jawab, hak,

kewajiban, dan nilai-nilai moral dalam rumah tangga. Dengan adanya hukum

pernikahan, Islam berusaha menciptakan keluarga yang kokoh, saling

menghormati, dan mampu menjadi tempat pendidikan pertama bagi anak-anak.

Dasar hukum nikah dalam Islam juga berkaitan erat dengan tujuan syariat

Islam, terutama dalam menjaga keturunan (hifz an-nasl). Melalui pernikahan,

keturunan manusia terjaga dengan baik, nasab anak menjadi jelas, dan kehidupan

keluarga terbentuk secara sah. Pernikahan juga membantu menjaga agama dan

akhlak, karena dengan menikah seseorang terhindar dari perbuatan zina,

perselingkuhan, dan kerusakan moral lainnya. 18

Berdasarkan uraian tersebut, dapat dipahami bahwa dasar hukum nikah

dalam Islam sangat kuat dan jelas. Al-Qur’an menganjurkan pernikahan sebagai

17
Wibisana, W. (2016). Pernikahan Dalam Islam. Jurnal Pendidikan Agama Islam-
Ta’lim, 14(2), 185-193.
18
Jahwa, E., Siregar, D. P., Harahap, M. R., Mubarak, I., & Akbar, A. (2024). Konsep
Perkawinan Dalam Hukum Islam Dan Hukum Nasional Di Indonesia. Innovative:
Journal Of Social Science Research, 4(1), 1692-1705.

17
jalan untuk membangun ketenteraman, kasih sayang, dan keluarga yang baik.

Hadis Rasulullah Saw. juga menegaskan pentingnya nikah sebagai cara menjaga

kehormatan dan kesucian diri. Sementara itu, ijma’ ulama memperkuat bahwa

pernikahan merupakan syariat yang harus dipahami dan dilaksanakan dengan

tanggung jawab. Oleh karena itu, nikah dalam Islam bukan sekadar kebolehan,

tetapi memiliki kedudukan mulia sebagai ibadah dan sarana membangun

kehidupan yang diridai Allah SWT.

C. Tujuan Nikah

Menurut Hasbi nikah dalam Islam bukan hanya sekadar ikatan antara laki-

laki dan perempuan, tetapi memiliki tujuan yang mulia dan menyentuh banyak

aspek kehidupan. Pernikahan diarahkan untuk membentuk kehidupan yang teratur,

bermartabat, dan sesuai dengan ajaran Allah SWT. Adapun tujuan nikah dalam

Islam adalah sebagai berikut:19

1. Menjalankan Perintah Allah SWT.

Nikah merupakan salah satu bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Karena

pernikahan telah disyariatkan dalam Islam, maka melaksanakannya termasuk

menjalankan perintah-Nya. Dengan menikah, seorang muslim berusaha

menempuh jalan hidup yang halal dan diridai Allah SWT.

2. Mengikuti Sunnah Rasulullah Saw.

Pernikahan juga bertujuan untuk mengikuti sunnah Rasulullah Saw. Nabi

Muhammad Saw. sangat menganjurkan umatnya untuk menikah bagi yang telah

19
Hasbi, R. (2011). Elastisitas Hukum Nikah Dalam Perspektif Hadits. Jurnal
Ushuluddin, 17(1), 23-37.

18
mampu. Dengan melaksanakan nikah, seseorang tidak hanya menjalankan ibadah,

tetapi juga meneladani kehidupan Rasulullah Saw.

3. Menjaga Kehormatan Diri

Salah satu tujuan utama nikah adalah menjaga diri dari perbuatan maksiat,

seperti zina dan hubungan yang dilarang agama. Dengan adanya ikatan yang sah,

hubungan antara laki-laki dan perempuan menjadi halal, terhormat, dan

terlindungi oleh syariat.

4. Mewujudkan Keluarga yang Sakinah, Mawaddah, dan Rahmah

Tujuan nikah yang sangat penting adalah membangun rumah tangga yang

penuh ketenangan, cinta, dan kasih sayang. Dalam Islam, keluarga ideal adalah

keluarga yang sakinah (tenteram), mawaddah (penuh cinta), dan rahmah (penuh

kasih sayang). Kehidupan rumah tangga yang seperti ini menjadi pondasi

kebahagiaan suami, istri, dan anak-anak.

5. Memperoleh Keturunan yang Sah

Pernikahan bertujuan untuk melanjutkan keturunan secara sah menurut

agama dan hukum. Anak yang lahir dari pernikahan memiliki nasab yang jelas,

hak-hak yang terjamin, serta tumbuh dalam lingkungan keluarga yang baik dan

terhormat.

6. Menumbuhkan Rasa Tanggung Jawab

Melalui pernikahan, seseorang belajar menjadi pribadi yang lebih dewasa

dan bertanggung jawab. Suami memiliki tanggung jawab untuk memimpin dan

menafkahi keluarga, sedangkan istri memiliki tanggung jawab untuk menjaga

19
rumah tangga dengan baik. Keduanya saling bekerja sama demi terciptanya

kehidupan yang harmonis.

7. Memberikan Ketenangan Jiwa

Nikah bertujuan untuk memberikan ketenangan lahir dan batin. Seseorang

yang hidup dalam ikatan pernikahan yang baik akan merasa lebih aman, nyaman,

dan memiliki teman hidup dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Hal

ini sesuai dengan ajaran Islam bahwa pasangan diciptakan agar manusia

memperoleh ketenteraman.

8. Memenuhi Kebutuhan Hidup Secara Halal

Dalam diri manusia terdapat naluri dan kebutuhan yang harus disalurkan

dengan benar. Islam mengajarkan bahwa kebutuhan tersebut harus dipenuhi

melalui jalan yang halal, yaitu pernikahan. Dengan demikian, nikah menjadi

sarana yang suci untuk memenuhi kebutuhan biologis secara terhormat.

9. Membangun Kehidupan Sosial yang Baik

Pernikahan tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada

masyarakat. Keluarga yang baik akan melahirkan generasi yang baik pula.

Dengan demikian, nikah bertujuan untuk menciptakan tatanan sosial yang lebih

tertib, bermoral, dan harmonis.

10. Menjadi Sarana Ibadah

Dalam Islam, nikah bukan hanya urusan duniawi, tetapi juga bernilai

ibadah. Sejak akad nikah berlangsung, kehidupan rumah tangga yang dijalani

dengan niat baik, tanggung jawab, dan saling menolong dalam kebaikan akan

bernilai pahala di sisi Allah SWT.

20
D. Hikmah Nikah

Menurut Rahayu hikmah nikah menunjukkan bahwa pernikahan adalah

ketentuan Allah SWT. yang membawa kebaikan, ketenteraman, dan keberkahan.

Adapun hikmah nikah adalah sebagai berikut:20

1. Menjaga Kehormatan Diri

Nikah menjadi jalan yang sah untuk menjaga kehormatan laki-laki dan

perempuan dari perbuatan yang dilarang agama. Dengan adanya ikatan

pernikahan, seseorang dapat terhindar dari zina, pergaulan bebas, dan hal-hal yang

merusak martabat diri.

2. Menenangkan Hati dan Jiwa

Salah satu hikmah nikah adalah memberikan ketenangan dalam hidup.

Suami dan istri menjadi tempat berbagi, saling menguatkan, dan saling

menenangkan dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Dengan

demikian, pernikahan dapat menghadirkan rasa aman, nyaman, dan tenteram.

3. Menyalurkan Kebutuhan Biologis Secara Halal

Islam mengajarkan bahwa kebutuhan biologis merupakan fitrah manusia

yang harus disalurkan dengan cara yang benar. Nikah menjadi sarana yang halal,

suci, dan terhormat untuk memenuhi kebutuhan tersebut sesuai syariat.

4. Memperoleh Keturunan yang Sah

Melalui pernikahan, manusia dapat memperoleh anak dan melanjutkan

keturunan secara sah. Anak yang lahir dari pernikahan memiliki kedudukan yang

jelas, baik dalam agama maupun dalam masyarakat. Hal ini penting untuk

menjaga nasab dan masa depan generasi berikutnya.


20
Rahayu, P., & Utami, F. N. Falsafah Dan Hikmah Nikah.

21
5. Membangun Keluarga yang Sakinah, Mawaddah, dan Rahmah

Hikmah nikah yang sangat utama adalah terciptanya rumah tangga yang

penuh ketenangan, cinta, dan kasih sayang. Dalam keluarga, suami dan istri saling

melengkapi, saling mendukung, dan saling menyayangi sehingga kehidupan

menjadi lebih harmonis.

6. Menumbuhkan Sikap Tanggung Jawab

Pernikahan mengajarkan seseorang untuk menjadi pribadi yang lebih

dewasa. Setelah menikah, suami dan istri memiliki tugas, hak, dan kewajiban

masing-masing yang harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab. Hal ini

melatih kedisiplinan, kesabaran, dan kepedulian.

7. Menjadi Sarana Ibadah

Nikah merupakan salah satu bentuk ibadah dalam Islam. Semua aktivitas

dalam rumah tangga, apabila dilakukan dengan niat baik dan sesuai ajaran agama,

akan bernilai pahala di sisi Allah SWT. Karena itu, menikah bukan hanya

hubungan duniawi, tetapi juga jalan mendekatkan diri kepada Allah.

8. Mempererat Hubungan Keluarga dan Sosial

Pernikahan bukan hanya menyatukan dua orang, tetapi juga menyatukan

dua keluarga. Dengan demikian, nikah dapat mempererat tali silaturahmi,

memperluas hubungan kekeluargaan, dan memperkuat hubungan sosial dalam

masyarakat.

9. Menjadi Tempat Pendidikan Pertama bagi Anak

Keluarga yang terbentuk melalui pernikahan menjadi tempat pertama bagi

anak untuk belajar nilai-nilai kehidupan. Di dalam keluarga, anak mengenal kasih

22
sayang, sopan santun, tanggung jawab, dan ajaran agama. Oleh sebab itu, nikah

juga memiliki hikmah besar dalam membentuk generasi yang baik.

10. Menciptakan Ketertiban dalam Masyarakat

Pernikahan membantu menciptakan kehidupan masyarakat yang lebih tertib

dan bermoral. Dengan adanya keluarga-keluarga yang baik, masyarakat pun akan

menjadi lebih baik. Sebaliknya, jika pernikahan diabaikan, maka akan muncul

berbagai masalah sosial yang merugikan banyak pihak.

23
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan, dapat disimpulkan bahwa

nikah adalah akad atau ikatan suci antara laki-laki dan perempuan yang dilakukan

sesuai dengan ketentuan syariat Islam untuk membentuk rumah tangga yang sah,

harmonis, dan diridai Allah SWT. Dalam Islam, nikah bukan hanya sekadar

hubungan lahiriah, tetapi juga merupakan bentuk ibadah yang memiliki nilai

spiritual, moral, dan sosial. Pernikahan menjadi jalan yang halal untuk

menyatukan dua insan dalam kehidupan bersama dengan tujuan membangun

keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah.

Dasar hukum nikah dalam Islam bersumber dari Al-Qur’an, hadis, dan ijma’

ulama yang menunjukkan bahwa pernikahan memiliki kedudukan yang sangat

penting dalam kehidupan manusia. Tujuan nikah tidak hanya untuk memenuhi

kebutuhan biologis secara halal, tetapi juga untuk menjaga kehormatan diri,

memperoleh keturunan yang sah, menumbuhkan tanggung jawab, serta

menciptakan ketenteraman dalam kehidupan rumah tangga. Selain itu, nikah juga

memiliki banyak hikmah, baik bagi individu, keluarga, maupun masyarakat,

seperti menjaga akhlak, mempererat hubungan sosial, dan membentuk generasi

yang baik.

Dengan demikian, nikah merupakan salah satu ajaran Islam yang sangat

mulia dan harus dipahami dengan benar oleh setiap muslim. Pernikahan bukan

hanya dipandang sebagai kebutuhan hidup, tetapi juga sebagai amanah dan ibadah

24
yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab, kesungguhan, dan

keikhlasan agar tercipta keluarga yang bahagia di dunia dan mendapat keberkahan

dari Allah SWT.

B. Saran

1. Saran Akademis

Secara akademis, pembahasan mengenai nikah perlu terus dikaji secara

lebih mendalam, baik dari sudut pandang hukum Islam, hukum positif, maupun

kehidupan sosial masyarakat. Kajian tentang nikah tidak hanya penting untuk

menambah wawasan keilmuan, tetapi juga untuk memberikan pemahaman yang

benar kepada peserta didik, mahasiswa, dan masyarakat luas mengenai makna,

tujuan, serta hikmah pernikahan dalam Islam. Oleh karena itu, diharapkan adanya

pengembangan referensi, penelitian, dan pembelajaran yang lebih luas tentang

pernikahan agar materi ini tidak hanya dipahami secara teoritis, tetapi juga

mampu memberikan kontribusi nyata dalam kehidupan.

2. Saran Praktis

Secara praktis, setiap individu, khususnya generasi muda, hendaknya

mempersiapkan diri dengan baik sebelum memasuki jenjang pernikahan, baik dari

segi ilmu, mental, tanggung jawab, maupun ekonomi. Pernikahan sebaiknya tidak

hanya dipandang sebagai keinginan sesaat, tetapi sebagai ibadah dan amanah

besar yang harus dijalankan dengan sungguh-sungguh. Selain itu, keluarga,

masyarakat, dan lembaga pendidikan juga diharapkan dapat memberikan

bimbingan serta pemahaman yang benar tentang nikah agar tercipta keluarga yang

harmonis, sakinah, mawaddah, dan rahmah.

25
26
DAFTAR PUSTAKA

Suryantoro, D. D., & Rofiq, A. (2021). Nikah dalam pandangan hukum Islam.
Ahsana Media: Jurnal Pemikiran, Pendidikan dan Penelitian Ke-
Islaman, 7(02), 38–45.
Yunus, A. (2020). Hukum perkawinan dan itsbat nikah: Antara perlindungan dan
kepastian hukum. Humanities Genius.
Yunus, A. (2020).Inayatillah, R. (2024). Status keabsahan wali nikah menurut
hukum Islam. Acta Diurnal Jurnal Ilmu Hukum Kenotariatan, 8(1),
82–98.
Fahrol, M., & Haikal, M. (2025). Rukun nikah menurut 4 Imam Mazhab: (Studi
pustaka). Akhlak: Jurnal Pendidikan Agama Islam dan Filsafat, 2(2),
19–29.
Pakarti, M. H. A., & Fathiah, I. (2022). Itsbat nikah sebuah upaya mendapatkan
mengakuan negara (Studi Pengadilan Agama Garut). Tahkim (Jurnal
Peradaban dan Hukum Islam), 5(2), 21–42.
Oelangan, M. D. (2013). Isbat nikah dalam hukum Islam dan perundang-
undangan di Indonesia. Pranata Hukum, 8(2), 26718.
Farid, M. (2018). Nikah online dalam perspektif hukum. Jurisprudentie: Jurusan
Ilmu Hukum Fakultas Syariah dan Hukum, 5(1), 174–186.
Hasbi, R. (2011). Elastisitas hukum nikah dalam perspektif hadits. Jurnal
Ushuluddin, 17(1), 23–37.
Hidayat, S. (2017). Wali nikah dalam perspektif empat madzhab. Inovatif: Jurnal
Penelitian Pendidikan, Agama, dan Kebudayaan, 3(2), 98–124.
Akbar, A. (2014). Nikah sirri menurut perspektif Al-Quran. Jurnal Ushuluddin,
22(2), 213–223.
Subarman, M. (2013). Nikah di bawah tangan perspektif yuridis dan sosiologis.
Ijtihad: Jurnal Wacana Hukum Islam dan Kemanusiaan, 13(1), 65–83.
Malisi, A. S. (2022). Pernikahan dalam Islam. Seikat: Jurnal Ilmu Sosial, Politik
dan Hukum, 1(1), 22–28.
Malisi, A. S. (2022). Pernikahan dalam Islam. Seikat: Jurnal Ilmu Sosial, Politik
dan Hukum, 1(1), 22–28.

27
Adharsyah, M., Sidqi, M., & Rizki, M. A. (2024). Pernikahan dalam perspektif
hukum Islam. Jurnal Syariah dan Ekonomi Islam, 2(1), 44–53.
Wibisana, W. (2016). Pernikahan dalam Islam. Jurnal Pendidikan Agama Islam-
Ta’lim, 14(2), 185–193.
Jahwa, E., Siregar, D. P., Harahap, M. R., Mubarak, I., & Akbar, A. (2024).
Konsep perkawinan dalam hukum Islam dan hukum nasional di
Indonesia. Innovative: Journal of Social Science Research, 4(1),
1692–1705.
Hasbi, R. (2011). Elastisitas hukum nikah dalam perspektif hadits. Jurnal
Ushuluddin, 17(1), 23–37.
Rahayu, P., & Utami, F. N. Falsafah dan hikmah nikah.

28

Anda mungkin juga menyukai