Makalah Nikah
Makalah Nikah
NIKAH
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah fikih, Munakahat
Dosen Pengampu: Dr. Moh Ali Wafa, S.H. [Link]. [Link]
1
KATA PENGATAR
Puji syukur kehadirat Allah Swt. yang telah melimpahkan rahmat, taufik, dan
hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
“Nikah dalam Islam” dengan baik. Shalawat serta salam semoga tetap tercurah
limpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad Saw., kepada keluarga,
sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas dan sebagai sarana untuk
menambah pengetahuan serta pemahaman mengenai pengertian nikah, dasar
hukum nikah dalam Islam, tujuan nikah, hikmah nikah, serta pentingnya
pernikahan dalam kehidupan manusia. Penulis menyadari bahwa nikah merupakan
salah satu ajaran penting dalam Islam yang tidak hanya mengatur hubungan antara
laki-laki dan perempuan, tetapi juga mengandung nilai ibadah, tanggung jawab,
dan pembentukan keluarga yang harmonis.
Dalam penyusunan makalah ini, penulis menyadari bahwa masih terdapat
banyak kekurangan, baik dari segi isi, penyusunan, maupun bahasa yang
digunakan. Hal tersebut disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan dan
pengalaman penulis. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan
saran yang bersifat membangun demi perbaikan makalah ini di masa yang akan
datang.
Penulis berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi para
pembaca, khususnya dalam menambah wawasan dan pemahaman tentang nikah
dalam Islam. Semoga makalah ini dapat menjadi salah satu referensi sederhana
yang bermanfaat dalam proses pembelajaran.
Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang
telah membantu dalam penyusunan makalah ini, baik secara langsung maupun
tidak langsung. Semoga Allah Swt. senantiasa memberikan balasan yang terbaik
atas segala bantuan yang diberikan.
Penulis
2
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN.....................................................................................1
A. Latar Belakang............................................................................................1
B. Rumusan Masalah..........................................................................................5
C. Tujuan Penulisan............................................................................................6
BAB II PEMBAHASAN...................................................................................... 7
A. Pengertian Nikah...........................................................................................7
B. Dasar Hukum Nikah dalam Islam.............................................................12
C. Tujuan Nikah............................................................................................17
D. Hikmah Nikah.......................................................................................... 19
BAB III PENUTUP........................................................................................... 22
A. Kesimpulan...............................................................................................22
B. Saran............................................................................................................23
3
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Nikah merupakan salah satu ajaran yang sangat penting dalam Islam karena
melainkan sebuah ikatan suci yang dibangun atas dasar ibadah, tanggung jawab,
kasih sayang, dan komitmen untuk membentuk rumah tangga yang harmonis.
Melalui pernikahan, manusia diarahkan untuk hidup sesuai dengan fitrah yang
telah ditetapkan oleh Allah SWT. Setiap manusia pada dasarnya diciptakan
Oleh sebab itu, nikah memiliki kedudukan yang sangat mulia dalam Islam karena
menjadi jalan yang sah dan terhormat untuk membangun keluarga, menjaga
hukum, dan tidak sedikit pula yang menunda atau bahkan menghindari pernikahan
karena alasan ekonomi, karier, atau kekhawatiran terhadap tanggung jawab rumah
tangga. Di sisi lain, perkembangan zaman juga membawa tantangan moral yang
1
Suryantoro, D. D., & Rofiq, A. (2021). Nikah Dalam Pandangan Hukum Islam. Ahsana
Media: Jurnal Pemikiran, Pendidikan Dan Penelitian Ke-Islaman, 7(02), 38-45.
1
semakin kompleks, seperti pergaulan bebas, menurunnya nilai kesucian hubungan
pemahaman yang benar tentang makna nikah sangat dibutuhkan, khususnya bagi
generasi muda agar mereka tidak salah dalam memandang pernikahan dan mampu
mempersiapkan diri untuk menjalani kehidupan rumah tangga yang sesuai dengan
ajaran Islam.2
utama masyarakat. Apabila keluarga dibangun dengan baik, maka masyarakat pun
akan menjadi baik. Sebaliknya, jika keluarga rapuh, maka akan lahir berbagai
pernikahan sebagai pintu masuk untuk membentuk keluarga yang sah, terhormat,
dan penuh tanggung jawab. Dalam keluarga, suami dan istri bukan hanya hidup
anak, menjaga nilai-nilai agama, serta menciptakan suasana rumah tangga yang
2
َو ِم ْن ٰا ٰي ِت ٖٓه َا ْن َخ َل َق َل ُك ْم ِّم ْن َا ْن ُف ِس ُك ْم َا ْز َوا ًجا ِّل َت ْس ُك ُن ْٓوا ِا َل ْي َها َو َج َع َل َب ْي َن ُك ْم َّم َو َّد ًة َّو َر ْح َم ًۗة ِا َّن ِف ْي ٰذ ِل َك
cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-
Ayat ini menjelaskan bahwa pernikahan bukan sekadar hubungan antara dua
manusia, tetapi juga merupakan tanda kebesaran Allah SWT. Tujuan utama
sayang antara suami dan istri. Ketenteraman yang dimaksud bukan hanya
ketenangan lahir, tetapi juga ketenangan batin, yaitu perasaan aman, nyaman, dan
damai dalam menjalani kehidupan bersama. Kasih dan sayang menjadi landasan
penting dalam rumah tangga agar hubungan suami istri tidak hanya didasarkan
pada kebutuhan sesaat, tetapi juga pada keikhlasan, pengorbanan, dan perhatian
manusia memiliki naluri dan kebutuhan yang harus disalurkan dengan cara yang
benar. Islam tidak melarang adanya rasa cinta dan keinginan untuk hidup
4
Inayatillah, R. (2024). Status Keabsahan Wali Nikah Menurut Hukum Islam. Acta
Diurnal Jurnal Ilmu Hukum Kenotariatan, 8(1), 82-98.
3
pernikahan. Dengan nikah, hubungan antara laki-laki dan perempuan menjadi
halal dan terjaga dari perbuatan yang dilarang agama. Oleh karena itu, nikah dapat
kedewasaan, sebab seseorang yang menikah harus siap memikul amanah sebagai
suami atau istri, dan kelak sebagai ayah atau ibu bagi anak-anaknya.
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT. juga berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 1:
ٰٓي َا ُّي َها ال َّنا ُس ا َّت ُق ْوا َر َّب ُك ُم ا َّل ِذ ْي َخ َل َق ُك ْم ِّم ْن َّن ْف ٍس َّوا ِح َد ٍة َّو َخ َل َق ِم ْن َها َز ْو َج َها َو َب َّث ِم ْن ُه َما ِر َجا ًلا َك ِث ْي ًرا
١ َّو ِن َس ۤا ًۚء َوا َّت ُقوا ال ّٰل َه ا َّل ِذ ْي َت َس ۤا َء ُل ْو َن ِب ٖه َوا ْل َا ْر َحا َۗم ِا َّن ال ّٰل َه َكا َن َع َل ْي ُك ْم َر ِق ْي ًبا
menciptakanmu dari diri yang satu (Adam) dan Dia menciptakan darinya
laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan
adanya pasangan dan keturunan. Dengan kata lain, pernikahan merupakan salah
satu cara yang telah ditetapkan Allah untuk menjaga kelangsungan hidup manusia
di bumi. Keturunan yang lahir dari pernikahan memiliki kedudukan yang jelas,
baik secara agama maupun sosial. Hal ini sangat penting karena anak merupakan
amanah yang harus dijaga, dididik, dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga
4
yang baik. Dengan adanya pernikahan, anak memperoleh haknya secara utuh,
seperti kasih sayang orang tua, pendidikan, perlindungan, dan identitas keluarga
yang jelas.5
Di samping itu, nikah juga mempunyai dimensi sosial yang sangat besar.
Pernikahan bukan hanya menyatukan dua individu, tetapi juga menyatukan dua
memiliki makna sosial, budaya, dan keagamaan. Hal ini menunjukkan bahwa
harmonis akan melahirkan generasi yang baik, sedangkan keluarga yang penuh
karena itu, pemahaman tentang nikah sangat penting untuk membangun kesadaran
bahwa pernikahan bukan perkara ringan, melainkan perjanjian yang kuat dan
Makna nikah dalam Islam juga tidak dapat dipisahkan dari tujuan
membangun rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Sakinah berarti
ketenangan, mawaddah berarti cinta, dan rahmah berarti kasih sayang. Ketiga hal
ini menjadi cita-cita utama dalam kehidupan rumah tangga Islam. Rumah tangga
yang sakinah tidak terwujud hanya karena adanya akad, tetapi harus dibangun
5
Fahrol, M., & Haikal, M. (2025). Rukun Nikah Menurut 4 Imam Mazhab:(Studi
Pustaka). Akhlak: Jurnal Pendidikan Agama Islam Dan Filsafat, 2(2), 19-29.
6
Pakarti, M. H. A., & Fathiah, I. (2022). Itsbat Nikah Sebuah Upaya Mendapatkan
Mengakuan Negara (Studi Pengadilan Agama Garut). Tahkim (Jurnal Peradaban Dan
Hukum Islam), 5(2), 21-42.
5
Karena itu, pemahaman tentang nikah tidak cukup hanya mengetahui definisinya,
tetapi juga harus memahami tujuan, hikmah, serta tanggung jawab yang
cinta, tetapi karena kurang ilmu, kurang kesabaran, dan kurang pemahaman
institusi yang sangat penting dalam Islam dan kehidupan manusia. Nikah bukan
hanya persoalan hubungan pribadi antara laki-laki dan perempuan, tetapi juga
Oleh sebab itu, pembahasan mengenai apa itu nikah menjadi sangat relevan untuk
dikaji dalam sebuah makalah. Melalui pembahasan ini, diharapkan dapat tumbuh
Islam, serta pentingnya pernikahan sebagai jalan untuk membentuk keluarga yang
harmonis dan diridai Allah SWT. Dengan memahami hakikat nikah secara benar,
B. Rumusan Masalah
7
Oelangan, M. D. (2013). Isbat Nikah Dalam Hukum Islam Dan Perundang-Undangan
Di Indonesia. Pranata Hukum, 8(2), 26718.
6
C. Tujuan Penulisan
7
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Nikah
Nikah merupakan salah satu institusi yang sangat penting dalam ajaran
luas. Dalam kehidupan manusia, nikah dipandang sebagai jalan yang sah untuk
menyatukan laki-laki dan perempuan dalam sebuah ikatan yang suci dan penuh
tanggung jawab. Islam menempatkan nikah bukan hanya sebagai hubungan sosial
biasa, melainkan sebagai akad yang bernilai ibadah. Oleh karena itu, pembahasan
tentang pengertian nikah tidak cukup hanya dipahami dari segi bahasa, tetapi juga
harus dilihat dari segi istilah, hukum, tujuan, dan makna yang terkandung di
mengetahui bahwa pernikahan bukan hanya tentang hidup bersama, tetapi tentang
komitmen untuk membangun kehidupan rumah tangga yang diridai Allah SWT.8
Secara etimologis, kata nikah berasal dari bahasa Arab, yaitu an-nikah, yang
kata nikah juga sering dimaknai sebagai akad atau perjanjian yang mengikat dua
pihak. Dari pengertian bahasa ini dapat dipahami bahwa nikah mengandung
makna adanya penyatuan antara laki-laki dan perempuan dalam suatu hubungan
yang resmi dan sah.9 Pengertian secara bahasa ini menjadi dasar untuk memahami
bahwa pernikahan bukan sekadar hubungan fisik, tetapi juga hubungan batin,
8
Farid, M. (2018). Nikah Online Dalam Perspektif Hukum. Jurisprudentie: Jurusan
Ilmu Hukum Fakultas Syariah Dan Hukum, 5(1), 174-186.
9
Hasbi, R. (2011). Elastisitas Hukum Nikah Dalam Perspektif Hadits. Jurnal
Ushuluddin, 17(1), 23-37.
8
sosial, dan hukum yang mengikat kedua belah pihak dalam satu rumah tangga.
Dengan demikian, makna nikah dalam Islam sangat luas karena mencakup aspek
mengenai nikah, meskipun inti maknanya tetap sama. Menurut Imam Syafi’i,
nikah adalah akad yang dengannya menjadi halal hubungan seksual antara laki-
laki dan perempuan. Definisi ini menekankan bahwa akad nikah menjadi sebab
halal menurut syariat. Menurut Imam Hanafi, nikah adalah akad yang menjadikan
halal hubungan seksual antara seorang laki-laki dan seorang perempuan sebagai
suami istri. Sementara itu, Imam Malik mendefinisikan nikah sebagai akad yang
bersetubuh, bersenang-senang, dan menikmati apa yang ada pada diri seorang
bahwa nikah merupakan akad yang sangat penting dalam Islam karena menjadi
dasar sahnya hubungan suami istri, sekaligus sebagai awal munculnya hak dan
suami istri, pengertian nikah dalam Islam sesungguhnya lebih luas dari itu. Nikah
tidak hanya melegalkan hubungan biologis, tetapi juga menjadi ikatan moral,
spiritual, dan sosial antara laki-laki dan perempuan. Dalam Islam, pernikahan
dipandang sebagai mitsaqan ghalizhan, yaitu perjanjian yang kokoh atau sangat
10
Hidayat, S. (2017). Wali Nikah Dalam Perspektif Empat Madzhab. Inovatif: Jurnal
Penelitian Pendidikan, Agama, Dan Kebudayaan, 3(2), 98-124.
11
Hidayat, S. (2017).
9
kuat. Istilah ini menunjukkan bahwa nikah bukan perjanjian yang sederhana,
melainkan ikatan suci yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab. Oleh
sebab itu, setiap pasangan yang menikah dituntut untuk menjaga komitmen, saling
Dalam Kompilasi Hukum Islam, nikah diartikan sebagai akad yang sangat
Pengertian ini memperjelas bahwa pernikahan bukan hanya urusan duniawi, tetapi
juga bagian dari pengabdian kepada Allah SWT. Seseorang yang menikah dengan
niat yang benar berarti sedang menjalankan salah satu bentuk ibadah yang
perasaan atau keinginan pribadi, tetapi juga karena kesadaran untuk menjalankan
ajaran agama, menjaga kehormatan diri, dan membentuk keluarga yang baik. Oleh
karena itu, nikah dalam Islam memiliki dimensi ibadah yang sangat kuat,
seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk
keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Definisi
ini menegaskan bahwa perkawinan bukan hanya hubungan lahir, tetapi juga ikatan
12
Akbar, A. (2014). Nikah Sirri Menurut Perspektif Al-Quran. Jurnal Ushuluddin, 22(2),
213-223.
10
batin yang menghubungkan dua insan dalam kehidupan bersama. Ikatan lahir
menunjukkan adanya rasa cinta, kasih sayang, tanggung jawab, dan komitmen
untuk hidup bersama. Dengan demikian, baik dalam perspektif Islam maupun
dalam hukum negara, nikah dipahami sebagai ikatan yang serius dan bertujuan
mulia.13
pandang. Pertama, dari sudut pandang agama, nikah adalah ibadah dan perintah
Allah yang bertujuan menjaga manusia dari perbuatan maksiat serta membangun
keluarga yang diridai-Nya. Kedua, dari sudut pandang sosial, nikah adalah
institusi yang mengatur hubungan antara laki-laki dan perempuan agar tercipta
ketertiban dalam masyarakat. Dengan adanya pernikahan, status suami, istri, dan
anak menjadi jelas, sehingga kehidupan sosial dapat berjalan dengan tertib.
Ketiga, dari sudut pandang psikologis, nikah memberikan ketenangan jiwa, rasa
aman, dan dukungan emosional bagi pasangan. Keempat, dari sudut pandang
biologis, nikah menjadi sarana yang sah untuk memenuhi kebutuhan naluriah
manusia. Kelima, dari sudut pandang hukum, nikah menciptakan hak dan
kewajiban yang mengikat antara suami dan istri, seperti kewajiban memberi
nafkah, saling menjaga, mendidik anak, dan membina kehidupan rumah tangga.
Dalam Al-Qur’an, pengertian nikah juga dapat dipahami melalui tujuan dan
hikmah yang dijelaskan oleh Allah SWT. Salah satu ayat yang sering dijadikan
dasar adalah Surah Ar-Rum ayat 21 yang menjelaskan bahwa Allah menciptakan
13
Subarman, M. (2013). Nikah Di Bawah Tangan Perspektif Yuridis Dan
Sosiologis. Ijtihad: Jurnal Wacana Hukum Islam Dan Kemanusiaan, 13(1), 65-83.
11
pasangan agar manusia memperoleh ketenteraman, dan dijadikan di antara mereka
rasa kasih dan sayang. Ayat ini menunjukkan bahwa nikah bukan sekadar
dalam rumah tangga lahir dari hubungan yang dibangun atas dasar cinta,
menjelaskan bahwa manusia diciptakan dari satu jiwa dan darinya diciptakan
pasangannya, lalu dari keduanya berkembang biak laki-laki dan perempuan yang
banyak. Ayat ini menunjukkan bahwa nikah adalah bagian dari sunnatullah dalam
perempuan harus dijaga dalam batas-batas yang telah ditetapkan syariat. Dengan
bernilai ibadah. Dalam konteks ini, nikah berfungsi sebagai benteng moral yang
lainnya. Oleh sebab itu, nikah menjadi salah satu cara Islam dalam menjaga lima
tujuan pokok syariat, yaitu menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta.
Dalam hal ini, nikah sangat erat kaitannya dengan menjaga keturunan (hifz an-
nasl), karena melalui pernikahan, nasab anak menjadi jelas, hak-haknya terjamin,
dan pembinaan generasi dapat dilakukan dalam lingkungan keluarga yang sah.
Di samping itu, nikah juga mengandung unsur tanggung jawab yang besar.
Ketika seseorang menikah, ia tidak hanya mendapatkan hak, tetapi juga memikul
12
kewajiban. Seorang suami berkewajiban memberi nafkah, membimbing, dan
Keduanya harus saling bekerja sama dalam membina rumah tangga. Ini
Pernikahan bukan sekadar hubungan suka sama suka, melainkan ikatan yang
Karena itulah Islam sangat menekankan kesiapan dalam menikah, baik kesiapan
Teori tentang pengertian nikah menunjukkan bahwa nikah adalah akad suci
antara laki-laki dan perempuan yang dilakukan sesuai syariat Islam untuk
membentuk rumah tangga yang sah, terhormat, dan penuh tanggung jawab. Nikah
bukan hanya melegalkan hubungan suami istri, tetapi juga menjadi sarana untuk
yang luas ini menunjukkan bahwa pernikahan memiliki peran yang sangat penting
dalam kehidupan manusia. Oleh sebab itu, setiap muslim perlu memahami hakikat
nikah secara mendalam agar dapat memandang pernikahan sebagai ibadah dan
14
Malisi, A. S. (2022). Pernikahan Dalam Islam. Seikat: Jurnal Ilmu Sosial, Politik Dan
Hukum, 1(1), 22-28.
13
B. Dasar Hukum Nikah dalam Islam
Dasar hukum nikah dalam Islam bersumber dari Al-Qur’an, hadis, dan
ijma’ ulama. Pernikahan dalam Islam bukan hanya dipandang sebagai hubungan
antara laki-laki dan perempuan, tetapi juga sebagai ibadah yang memiliki nilai
suci dan aturan yang jelas. Oleh karena itu, hukum nikah memiliki landasan yang
kuat dalam ajaran Islam. Melalui dasar hukum tersebut, umat Islam diarahkan
untuk memahami bahwa pernikahan merupakan jalan yang sah untuk membangun
keluarga, menjaga kehormatan diri, serta melanjutkan keturunan dengan cara yang
pernikahan. Salah satunya adalah firman Allah SWT. dalam Surah Ar-Rum ayat
Ayat ini menegaskan bahwa pernikahan adalah bagian dari tanda kebesaran
Allah SWT. Tujuan pernikahan bukan sekadar hidup bersama, melainkan untuk
menciptakan ketenteraman, cinta, dan kasih sayang dalam rumah tangga. Dari
ayat ini dapat dipahami bahwa Islam memandang pernikahan sebagai sarana
15
Malisi, A. S. (2022). Pernikahan Dalam Islam. Seikat: Jurnal Ilmu Sosial, Politik Dan
Hukum, 1(1), 22-28.
14
Selain itu, dasar hukum nikah juga terdapat dalam Surah An-Nisa ayat 3,
atau empat. Tetapi jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil, maka
nikahilah seorang saja.” Ayat ini menunjukkan bahwa menikah adalah sesuatu
yang dibolehkan dan dianjurkan dalam Islam. Ayat tersebut juga sekaligus
adil. Jika tidak mampu, maka cukup menikah dengan satu orang istri. Dari ayat ini
Dasar hukum nikah juga dijelaskan dalam Surah An-Nur ayat 32, yang
orang-orang yang layak menikah dari hamba sahayamu yang laki-laki dan
mereka dengan karunia-Nya.” Ayat ini menjadi dorongan yang kuat bagi umat
Islam untuk menikah. Dalam ayat tersebut, Allah SWT. memerintahkan agar
Selain Al-Qur’an, dasar hukum nikah juga berasal dari hadis Rasulullah
Saw. Salah satu hadis yang sangat terkenal adalah sabda Nabi Muhammad Saw.:
“Wahai para pemuda, barang siapa di antara kalian telah mampu, maka
15
menikahlah. Karena sesungguhnya menikah itu lebih menundukkan pandangan
dan lebih menjaga kemaluan. Barang siapa belum mampu, maka hendaklah ia
berpuasa, sebab puasa itu menjadi perisai baginya.” Hadis ini menunjukkan
yang telah memiliki kemampuan lahir dan batin. Pernikahan menjadi cara yang
paling tepat untuk menjaga pandangan, kehormatan, dan kesucian diri dari
moral yang sangat penting. Dalam Islam, manusia memiliki naluri dan kebutuhan
yang harus disalurkan dengan cara yang benar. Pernikahan menjadi sarana yang
halal untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Oleh sebab itu, Islam menganjurkan
menjaga diri dengan berpuasa. Hal ini membuktikan bahwa Islam sangat
Di samping Al-Qur’an dan hadis, dasar hukum nikah juga diperkuat oleh
ijma’ ulama. Para ulama sepakat bahwa nikah adalah sesuatu yang disyariatkan
dalam Islam. Kesepakatan ini didasarkan pada banyaknya dalil yang menunjukkan
anjuran dan pentingnya pernikahan. Walaupun hukum nikah pada dasarnya adalah
mubah atau boleh, dalam pelaksanaannya hukum nikah dapat berubah sesuai
keadaan seseorang. Nikah bisa menjadi wajib bagi orang yang sudah mampu dan
takut terjerumus ke dalam zina jika tidak menikah. Nikah bisa menjadi sunnah
16
Adharsyah, M., Sidqi, M., & Rizki, M. A. (2024). Pernikahan Dalam Perspektif Hukum
Islam. Jurnal Syariah Dan Ekonomi Islam, 2(1), 44-53.
16
bagi orang yang mampu dan ingin menikah, tetapi masih dapat menjaga dirinya.
Nikah dapat menjadi makruh bagi orang yang belum siap menjalankan kewajiban
rumah tangga. Bahkan, nikah bisa menjadi haram jika seseorang yakin tidak akan
mampu berlaku adil atau akan menzalimi pasangannya. Ini menunjukkan bahwa
hukum nikah dalam Islam sangat memperhatikan kondisi dan kesiapan individu.17
ghalizhan, yaitu perjanjian yang kuat. Istilah ini menunjukkan bahwa pernikahan
bukan hubungan yang main-main, tetapi ikatan suci yang harus dijaga. Karena itu,
dasar hukum nikah dalam Islam tidak hanya bertujuan membolehkan hubungan
antara laki-laki dan perempuan, tetapi juga mengatur tanggung jawab, hak,
kewajiban, dan nilai-nilai moral dalam rumah tangga. Dengan adanya hukum
Dasar hukum nikah dalam Islam juga berkaitan erat dengan tujuan syariat
keturunan manusia terjaga dengan baik, nasab anak menjadi jelas, dan kehidupan
keluarga terbentuk secara sah. Pernikahan juga membantu menjaga agama dan
dalam Islam sangat kuat dan jelas. Al-Qur’an menganjurkan pernikahan sebagai
17
Wibisana, W. (2016). Pernikahan Dalam Islam. Jurnal Pendidikan Agama Islam-
Ta’lim, 14(2), 185-193.
18
Jahwa, E., Siregar, D. P., Harahap, M. R., Mubarak, I., & Akbar, A. (2024). Konsep
Perkawinan Dalam Hukum Islam Dan Hukum Nasional Di Indonesia. Innovative:
Journal Of Social Science Research, 4(1), 1692-1705.
17
jalan untuk membangun ketenteraman, kasih sayang, dan keluarga yang baik.
Hadis Rasulullah Saw. juga menegaskan pentingnya nikah sebagai cara menjaga
kehormatan dan kesucian diri. Sementara itu, ijma’ ulama memperkuat bahwa
tanggung jawab. Oleh karena itu, nikah dalam Islam bukan sekadar kebolehan,
C. Tujuan Nikah
Menurut Hasbi nikah dalam Islam bukan hanya sekadar ikatan antara laki-
laki dan perempuan, tetapi memiliki tujuan yang mulia dan menyentuh banyak
bermartabat, dan sesuai dengan ajaran Allah SWT. Adapun tujuan nikah dalam
Nikah merupakan salah satu bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Karena
Muhammad Saw. sangat menganjurkan umatnya untuk menikah bagi yang telah
19
Hasbi, R. (2011). Elastisitas Hukum Nikah Dalam Perspektif Hadits. Jurnal
Ushuluddin, 17(1), 23-37.
18
mampu. Dengan melaksanakan nikah, seseorang tidak hanya menjalankan ibadah,
Salah satu tujuan utama nikah adalah menjaga diri dari perbuatan maksiat,
seperti zina dan hubungan yang dilarang agama. Dengan adanya ikatan yang sah,
Tujuan nikah yang sangat penting adalah membangun rumah tangga yang
penuh ketenangan, cinta, dan kasih sayang. Dalam Islam, keluarga ideal adalah
keluarga yang sakinah (tenteram), mawaddah (penuh cinta), dan rahmah (penuh
kasih sayang). Kehidupan rumah tangga yang seperti ini menjadi pondasi
agama dan hukum. Anak yang lahir dari pernikahan memiliki nasab yang jelas,
hak-hak yang terjamin, serta tumbuh dalam lingkungan keluarga yang baik dan
terhormat.
dan bertanggung jawab. Suami memiliki tanggung jawab untuk memimpin dan
19
rumah tangga dengan baik. Keduanya saling bekerja sama demi terciptanya
yang hidup dalam ikatan pernikahan yang baik akan merasa lebih aman, nyaman,
dan memiliki teman hidup dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Hal
ini sesuai dengan ajaran Islam bahwa pasangan diciptakan agar manusia
memperoleh ketenteraman.
Dalam diri manusia terdapat naluri dan kebutuhan yang harus disalurkan
melalui jalan yang halal, yaitu pernikahan. Dengan demikian, nikah menjadi
masyarakat. Keluarga yang baik akan melahirkan generasi yang baik pula.
Dengan demikian, nikah bertujuan untuk menciptakan tatanan sosial yang lebih
Dalam Islam, nikah bukan hanya urusan duniawi, tetapi juga bernilai
ibadah. Sejak akad nikah berlangsung, kehidupan rumah tangga yang dijalani
dengan niat baik, tanggung jawab, dan saling menolong dalam kebaikan akan
20
D. Hikmah Nikah
Nikah menjadi jalan yang sah untuk menjaga kehormatan laki-laki dan
pernikahan, seseorang dapat terhindar dari zina, pergaulan bebas, dan hal-hal yang
Suami dan istri menjadi tempat berbagi, saling menguatkan, dan saling
yang harus disalurkan dengan cara yang benar. Nikah menjadi sarana yang halal,
keturunan secara sah. Anak yang lahir dari pernikahan memiliki kedudukan yang
jelas, baik dalam agama maupun dalam masyarakat. Hal ini penting untuk
21
5. Membangun Keluarga yang Sakinah, Mawaddah, dan Rahmah
Hikmah nikah yang sangat utama adalah terciptanya rumah tangga yang
penuh ketenangan, cinta, dan kasih sayang. Dalam keluarga, suami dan istri saling
dewasa. Setelah menikah, suami dan istri memiliki tugas, hak, dan kewajiban
masing-masing yang harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab. Hal ini
Nikah merupakan salah satu bentuk ibadah dalam Islam. Semua aktivitas
dalam rumah tangga, apabila dilakukan dengan niat baik dan sesuai ajaran agama,
akan bernilai pahala di sisi Allah SWT. Karena itu, menikah bukan hanya
masyarakat.
anak untuk belajar nilai-nilai kehidupan. Di dalam keluarga, anak mengenal kasih
22
sayang, sopan santun, tanggung jawab, dan ajaran agama. Oleh sebab itu, nikah
dan bermoral. Dengan adanya keluarga-keluarga yang baik, masyarakat pun akan
menjadi lebih baik. Sebaliknya, jika pernikahan diabaikan, maka akan muncul
23
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
nikah adalah akad atau ikatan suci antara laki-laki dan perempuan yang dilakukan
sesuai dengan ketentuan syariat Islam untuk membentuk rumah tangga yang sah,
harmonis, dan diridai Allah SWT. Dalam Islam, nikah bukan hanya sekadar
hubungan lahiriah, tetapi juga merupakan bentuk ibadah yang memiliki nilai
spiritual, moral, dan sosial. Pernikahan menjadi jalan yang halal untuk
Dasar hukum nikah dalam Islam bersumber dari Al-Qur’an, hadis, dan ijma’
penting dalam kehidupan manusia. Tujuan nikah tidak hanya untuk memenuhi
kebutuhan biologis secara halal, tetapi juga untuk menjaga kehormatan diri,
menciptakan ketenteraman dalam kehidupan rumah tangga. Selain itu, nikah juga
yang baik.
Dengan demikian, nikah merupakan salah satu ajaran Islam yang sangat
mulia dan harus dipahami dengan benar oleh setiap muslim. Pernikahan bukan
hanya dipandang sebagai kebutuhan hidup, tetapi juga sebagai amanah dan ibadah
24
yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab, kesungguhan, dan
keikhlasan agar tercipta keluarga yang bahagia di dunia dan mendapat keberkahan
B. Saran
1. Saran Akademis
lebih mendalam, baik dari sudut pandang hukum Islam, hukum positif, maupun
kehidupan sosial masyarakat. Kajian tentang nikah tidak hanya penting untuk
benar kepada peserta didik, mahasiswa, dan masyarakat luas mengenai makna,
tujuan, serta hikmah pernikahan dalam Islam. Oleh karena itu, diharapkan adanya
pernikahan agar materi ini tidak hanya dipahami secara teoritis, tetapi juga
2. Saran Praktis
mempersiapkan diri dengan baik sebelum memasuki jenjang pernikahan, baik dari
segi ilmu, mental, tanggung jawab, maupun ekonomi. Pernikahan sebaiknya tidak
hanya dipandang sebagai keinginan sesaat, tetapi sebagai ibadah dan amanah
bimbingan serta pemahaman yang benar tentang nikah agar tercipta keluarga yang
25
26
DAFTAR PUSTAKA
Suryantoro, D. D., & Rofiq, A. (2021). Nikah dalam pandangan hukum Islam.
Ahsana Media: Jurnal Pemikiran, Pendidikan dan Penelitian Ke-
Islaman, 7(02), 38–45.
Yunus, A. (2020). Hukum perkawinan dan itsbat nikah: Antara perlindungan dan
kepastian hukum. Humanities Genius.
Yunus, A. (2020).Inayatillah, R. (2024). Status keabsahan wali nikah menurut
hukum Islam. Acta Diurnal Jurnal Ilmu Hukum Kenotariatan, 8(1),
82–98.
Fahrol, M., & Haikal, M. (2025). Rukun nikah menurut 4 Imam Mazhab: (Studi
pustaka). Akhlak: Jurnal Pendidikan Agama Islam dan Filsafat, 2(2),
19–29.
Pakarti, M. H. A., & Fathiah, I. (2022). Itsbat nikah sebuah upaya mendapatkan
mengakuan negara (Studi Pengadilan Agama Garut). Tahkim (Jurnal
Peradaban dan Hukum Islam), 5(2), 21–42.
Oelangan, M. D. (2013). Isbat nikah dalam hukum Islam dan perundang-
undangan di Indonesia. Pranata Hukum, 8(2), 26718.
Farid, M. (2018). Nikah online dalam perspektif hukum. Jurisprudentie: Jurusan
Ilmu Hukum Fakultas Syariah dan Hukum, 5(1), 174–186.
Hasbi, R. (2011). Elastisitas hukum nikah dalam perspektif hadits. Jurnal
Ushuluddin, 17(1), 23–37.
Hidayat, S. (2017). Wali nikah dalam perspektif empat madzhab. Inovatif: Jurnal
Penelitian Pendidikan, Agama, dan Kebudayaan, 3(2), 98–124.
Akbar, A. (2014). Nikah sirri menurut perspektif Al-Quran. Jurnal Ushuluddin,
22(2), 213–223.
Subarman, M. (2013). Nikah di bawah tangan perspektif yuridis dan sosiologis.
Ijtihad: Jurnal Wacana Hukum Islam dan Kemanusiaan, 13(1), 65–83.
Malisi, A. S. (2022). Pernikahan dalam Islam. Seikat: Jurnal Ilmu Sosial, Politik
dan Hukum, 1(1), 22–28.
Malisi, A. S. (2022). Pernikahan dalam Islam. Seikat: Jurnal Ilmu Sosial, Politik
dan Hukum, 1(1), 22–28.
27
Adharsyah, M., Sidqi, M., & Rizki, M. A. (2024). Pernikahan dalam perspektif
hukum Islam. Jurnal Syariah dan Ekonomi Islam, 2(1), 44–53.
Wibisana, W. (2016). Pernikahan dalam Islam. Jurnal Pendidikan Agama Islam-
Ta’lim, 14(2), 185–193.
Jahwa, E., Siregar, D. P., Harahap, M. R., Mubarak, I., & Akbar, A. (2024).
Konsep perkawinan dalam hukum Islam dan hukum nasional di
Indonesia. Innovative: Journal of Social Science Research, 4(1),
1692–1705.
Hasbi, R. (2011). Elastisitas hukum nikah dalam perspektif hadits. Jurnal
Ushuluddin, 17(1), 23–37.
Rahayu, P., & Utami, F. N. Falsafah dan hikmah nikah.
28