Nama: Weny Fadila
NPM: 2251031032
Kelas: Topik Khusus dalam Akuntansi A
AKUNTANSI DANA DESA DAN BUMDES SERTA REVIEW JURNAL
Akuntansi Dana Desa
Akuntansi dana desa didefinisikan sebagai sebuah proses penyajian informasi
keuangan Desa berupa kekayaan desa yang dimiliki dan penggunaan sumber dana yang
berasal dari APBN, APBD, APBDesa, dan sumber lain.
Dasar Hukum Dana Desa
1. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa
2. Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014
3. Perubahan atas Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014
4. Peraturan Menteri Dalam Negeri
- Permendagri No. 111/2014 tentang Pedoman Teknis Peraturan di Desa
- Permendagri No. 112/2014 tentang Pemilihan Kepala Desa
- Permendagri No. 113/2014 tentang Pengelolaan Keuangan Desa
- Permendagri No. 114/2014 Tentang Pedoman Pembangunan Desa
5. Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi
- Permendes No.1/205 tentang Pedoman Kewenangan Lokal Berskala Desa
- Permendes No.2/2015 tentang Musyawarah Desa
- Permendes No.3/2015 tentang Pendampingan Desa
- Permendes No.4/2015 tentang Pendirian, Pengurusan, Pengelolaan, dan
Pembubaran BUMDes
- Permendes No.21/2015 jo. No. 8/2016 tentang Penetapan Prioritas Penggunaan
Dana Desa TA 2016
6. Peraturan Menteri Keuangan tentang Tata Cara Pengalokasian, Penyaluran,
Penggunaan, Pemantauan dan Evaluasi Dana Desa (PMK Nomor 49/PMK.07/2016)
Karakteristik Dana Desa
Dana desa mempunyai karaktersitik sebagai berikut:
1. Bersumber dari APBN, APBD, APBDesa, dan sumber lain
2. Digunakan untuk:
- pembangunan infrastruktur,
- program pengembangan sumberdaya desa, dan
- program pendukung lainnya
Sumber Dana Desa
Sumber dana desa berasal dari beberapa sumber, yaitu:
1. APBN
2. APBD
3. APBDesa
4. Sumber Lain
Sumber Pendapatan Desa menurut UU No.6 Tahun 2014 tentang Desa Pasal 72 ayat (1),
bersumber dari:
1. Pendapatan Asli Desa
2. Dana Desa dari APBN
3. Bagian dari hasil pajak daerah dan retribusi daerah Kab/ Kota
4. Alokasi Dana Desa (ADD)
5. Bantuan keuangan dari APBD Prov dan APBD Kab/ Kota
6. Hibah dan sumbangan dari pihak ketiga.
7. Lain-lain pendapatan Desa yang sah
Asas Pengelolaan Dana Desa
Dalam rangka mendukung terwujudnya tata kelola yang baik (good governace)
dalam penyelenggaraan desa, pengelolaan keuangan desa dilakukan berdasarkan prinsip
tata kelola yaitu transparan, akuntabel dan partisipatif serta dilakukan dengan tertib dan
disiplin anggaran. Pengelolaan keuangan desa, dikelola dalam masa 1 (satu) tahun
anggaran yakni mulai tanggal 1 januari sampai dengan tanggal 31 Desember (Pasal 2,
Permendagri No 37 Tahun 2007).
Siklus Akuntansi Dana Desa
Siklus akuntansi adalah proses pencatatan dalam akuntansi yang dimulai dengan
menganalisa serta menjurnal transaksi dan diakhiri dengan pengikhtisaran sampai dengan
penyusunan laporan keuangan. Tujuannya untuk menyajikan informasin ekonomi berupa
laporan keuangan kepada pihak-pihak yang berkepentingan.
Tahapan Siklus Akuntansi
1. Analisis Transaksi Tahap pertama adalah menganalisa setiap transaksi yang terjadi
pada sebuah entitas dalam satu periode yang dapat mempengaruhi posisi keuangan
sebuah entitas.
2. Pencatatan Transaksi Tahap kedua adalah mencatat transaksi yang sudah dianalisa ke
dalam jurnal secara berurutan sesuai dengan tanggal terjadinya transaksi.
3. Pembuatan Buku Besar Tahap ketiga adalah memindahkan transaksi yang sudah
dicatat di dalam jurnal ke dalam buku besar sesuai dengan daftar susunan-susunan
rekening buku besar.
4. Pembuatan Neraca Saldo Tahap keempat adalah membuat neraca saldo dengan
memindahkan saldo-saldo yang terdapat di buku besar sehingga bisa terlihat saldo
yang sama antara debet dan kredit.
5. Pembuatan Jurnal Penyesuaian Tahap kelima adalah membuat jurnal penyesuaian
apabila ada transaksi yang belum dicatat pada akhir periode akuntansi atau ada hal
lain yang perlu disesuaikan.
6. Pembuatan Neraca Saldo Setelah Penyesuaian Tahap keenam adalah membuat neraca
saldo setelah penyesuaian dengan memasukkan seluruh saldo yang telah disesuaikan.
7. Pembuatan Laporan Keuangan Tahap ketujuh adalah membuat laporan keuangan
seperti laporan laba rugi, laporan perubahan modal, laporan arus kas dan neraca sesuai
dengan data pada neraca saldo setelah penyesuaian.
8. Pembuatan Jurnal Penutup Tahap kedelapan adalah membuat jurnal penutup yang
berfungsi untuk menutup akun nominal seperti pendapatan, beban dan dividen
menjadi nol.
Transaksi Pada Siklus Akuntansi Dana Desa
Jurnal merupakan media pencatatan pertama bagi setiap transaksi perusahaan,
karena itu jurnal sering juga disebut dengan book-of-original-entry atau buku pencatatan
yang pertama. Namun, sebelum suatu transaksi dicatat ke dalam jurnal, transaksi tersebut
harus dianalisis.
Terdapat tiga langkah analisis transaksi:
1. menentukan akun-akun apa yang dipengaruhi oleh transaksi tersebut, aktiva,
kewajiban, ekuitas pemilik, pendapatan, atau beban.
2. menentukan apakah pengaruh transaksi terhadap masing-masing akun merupakan
penambahan atau pengurangan
3. menentukan apakah akun tersebut harus didebit atau dikredit.
Transaksi Pada Siklus Akuntansi Dana Desa
Proses pencatatan transaksi dalam jurnal dua kolom, mengikuti langkah-langkah
sebagai berikut:
1. Mencatat tahun, bulan, dan tanggal transaksi
2. Mencatat akun-akun yang di-debit, dan cantumkan angka-angka jumlah-nya pada
kolom debit
3. Mencatat akun-akun yang di-kredit dibawah (sedikit menjorok kekanan) dari akun-
akun yang didebit, dan cantumkan angkaangka jumlah nya pada kolom kredit
4. Tuliskan keterangan ringkas mengenai transaksi yang terjadi.
Laporan Keuangan Dana Desa
1. Laporan Aset Desa
Sesuai Undang-undang no. 6 tahun 2014 Aset Desa yaitu barang milik desa yang
berasal dari kekayaan asli milik desa, dibeli atau diperoleh atas beban anggaran
pendapatan dan belanja desa (APBDesa) atau perolehan hak lainya yang sah. Aset ini
dapat digunakan untuk memenuhi sumber ekonomi oleh sebuah instansi dan dapat
juga digunakan dalam waktu kala itu juga.
2. Anggaran Pendapatan Dan Belanja Desa
Sesuai dengan Permendagri No. 37 tahun 2007, Anggaran Pendapatan dan Belanja
Desa (APBDesa) adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan desa yang dibahas
dan disetujui bersama oleh Pemerintah Desa dan Badan Permusyawaratan Desa
(BPD), dan ditetapkan dengan peraturan desa
Jenis-jenis pendapatan terdiri dari:
- Pendapatan Asli Desa (PADesa).
- Pendapatan Alokasi Dana Desa dari APBN.
- Pendapatan bagi hasil pajak kabupaten atau kota.
- Pendapatan bagian dari retribusi kabupaten atau kota.
- Pendapatan Alokasi Dana Desa (ADD).
- Pendapatan bantuan keuangan dari pemerintah.
Jenis-jenis pengeluaran atau belanja terdiri dari:
- Belanja tidak langsung meliputi:
a. Belanja pegawai/penghasilan tetap.
b. Belanja kesejahteraan kepala desa dan perangkat desa.
c. Belanja tunjangan.
d. Belanja subsidi.
e. Belanja hibah.
f. Belanja bantuan sosial.
g. Belanja bantuan keuangan.
h. Belanja tidak terduga.
- Belanja langsung meliputi:
a. Belanja pegawai.
b. Belanja barang dan jasa.
c. Belanja modal.
Tujuan Pengelolaan Anggaran Meliputi:
- Kesejahteraan Masyarakat
- Membuka Kesempatan Kerja
- Mengurangi Pengangguran
- Pelayanan Masyarakat
3. Realisasi Pendapatan Dan Belanja Desa
Untuk mengelola belanja desa juga perlu direncanakan dengan sebaik-baiknya, baik
menyangkut dasar hukum, program atau kegiatan yang akan di laksanakan, jadwal
pelaksanaan, siapa yang menjadi pelaku aktifitas dalam melaksanakan program,
berapa besar anggaran yang dipergunakan, dan target apa yang harus dapat dicapai
dengan pelaksanaan program/kegiatan yang dimaksud.
Pengertian Akuntansi Pengelolaan BUMDES
Akuntansi pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) merupakan proses
pencatatan, pelaporan, dan analisis keuangan yang dilakukan untuk mengelola dan
memantau aktivitas keuangan BUMDes. Ini termasuk pencatatan pendapatan,
pengeluaran, aset, dan utang BUMDes serta memastikan kepatuhan terhadap regulasi dan
standar akuntansi yang berlaku.
Tujuan akuntansi pengelolaan Bumdes
Memantau Kinerja Keuangan
Pengambilan keputusan yang tepat
Kepatuhan terhadap regulasi
Transparansi dan akuntabilitas
Penciptaan Nilai Tambah
Dasar Hukum BUMDes
1. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa: UU ini memberikan landasan
hukum untuk pembentukan dan pengelolaan BUMDes sebagai badan usaha yang
dimiliki dan dikelola oleh desa untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.
2. Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 (terakhir diubah dengan PP No. 11
Tahun 2021): Peraturan ini mengatur tentang pelaksanaan UU Desa, termasuk
ketentuan tentang pendirian, pengelolaan, dan pengawasan BUMDes.
3. Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Nomor
4 Tahun 2015 tentang Pendirian, Pengurusan dan Pengelolaan, dan Pembubaran
Badan Usaha Milik Desa (BUMDes): Peraturan ini memberikan pedoman teknis
tentang bagaimana BUMDes harus didirikan, dikelola, dan apabila perlu, dibubarkan.
Penyusunan Laporan Keuangan BUMDES
1. Neraca
Neraca atau laporan posisi keuangan menyajikan aset, hutangdan ekuitas BUM Desa
pada suatu tanggal tertentu. Neraca minimal mencakup akunakun sebagai berikut:
- Kas dan bank;
- Piutang usaha dan piutang lainnya;
- Persediaan;
- Properti investasi;
- Aset tetap;
- Aset tidak berwujud;
- Utang usaha dan utang lainnya;
- Aset dan kewajiban pajak
- Kewajiban diestimasi;
- Ekuitas
2. Laporan Hasil usaha
Sesuai dengan Permen Desa dan PDTT Nomor: 4 Tahun 2015, Pasal 26, hasil usaha
BUM Desa merupakan pendapatan yang diperoleh dari hasil transaksi dikurangi
dengan pengeluaran biaya dan kewajiban pada pihak lain, serta penyusutan atas
barang-barang inventaris dalam 1 (satu) tahun buku. Laporan hasil usaha menyajikan
penghasilan dan beban selama satu periode akuntansi. Laba atau rugi merupakan
selisih aritmatika antara penghasilan dan beban. Laporan hasil usaha disajikan dalam
satu kolom (single step) disertai dengan analisis beban.
3. Arus Kas
Laporan arus kas menyajikan informasi perubahan historis atas kas dan setara kas
BUM Desa, yang menunjukkan secara terpisah perubahan yang terjadi selama satu
periode dari aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan.
4. Laporan Perubahan Ekuitas
Ekuitas adalah hak residual atas aset BUM Desa setelah dikurangi dengan hutang.
BUM Desa menyajikan laporan perubahan ekuitas yang menunjukkan:
- Laba atau rugi untuk suatu periode;
- Pendapatan dan beban yang diakui secara langsung dalam ekuitas untuk periode
tersebut
- Pengaruh perubahan kebijakan akuntansi dan koreksi kesalahan yang diakui
dalam periode tersebut;
- Jumlah kekayaan desa yang dipisahkan/penyertaan modal, pembagian hasil usaha
dan distribusi lain ke pemerintah/masyarakat desa selama periode tersebut.
5. Catatan Atas Laporan Keuangan (CALK)
Catatan laporan keuangan berisi informasi sebagai tambahan informasi yang disajikan
dalam laporan keuangan. Catatan laporan keuanganmemberikan penjelasan naratif
atau rincian jumlah yang disajikan dalamlaporan keuangan dan informasi akun-akun
yang tidak memenuhi kriteria pengakuan dalam laporan keuangan.
REVIEW JURNAL: VILLAGE FUND, VILLAGEOWNED-ENTERPRISES, AND
EMPLOYMENT: EVIDENCE FROM INDONESIA
INTRODUCTION
Studi ini membahas dampak program Dana Desa dan Badan Usaha Milik Desa
(BUMDes) di lebih dari seribu desa di Indonesia. Hasilnya menunjukkan bahwa desa
penerima dana desa lebih besar kemungkinannya untuk mendirikan BUMDes, namun
pemanfaatannya masih terbatas. Tidak ada bukti bahwa pendirian BUMDes setelah tahun
2015 mempengaruhi peluang kerja bagi masyarakat pedesaan. Perbaikan manajemen dan
partisipasi masyarakat yang lebih tinggi diharapkan untuk kemajuan BUMDes. Metode
penelitian menggunakan data primer dari Survei Dana Desa tahun 2018 dan data sekunder
dari berbagai sumber lainnya.
REVIEW OF RELEVANT LITERATURES
1. Review of Community Driven Development (CDD)
Pentingnya program publik untuk masyarakat pedesaan guna meningkatkan standar
hidup dan ketahanan saat krisis. Beberapa negara, termasuk Indonesia dengan
program Dana Desa, telah menerapkan program pembangunan berbasis komunitas
(CDD). Meskipun sebagian besar negara fokus pada infrastruktur seperti jalan raya,
pendidikan, dan kesehatan, efektivitas program bervariasi dengan beberapa tidak
mampu meningkatkan kualitas SDM di wilayah tersebut. Contohnya, meskipun
program kredit mikro di Thailand meningkatkan akses ke lembaga keuangan, tidak
mengurangi kemiskinan karena kesalahan alokasi penerima manfaat. Di Afghanistan,
peningkatan akses ke infrastruktur pendidikan dan kesehatan belum mengurangi
kemiskinan. Oleh karena itu, dampak CDD bervariasi antar negara dan jenis program.
2. Review of Community Based Enterprise (CBE)
Konsep BUMD memiliki kesamaan dengan social enterprise dan CBE. SE yaitu
organisasi yang menggabungkan karakteristik bisnis nirlaba dan organisasi sektor
masyarakat dengan fokus pada tujuan sosial dan pengaturan tata kelola yang luas.
Sedangkan CBE seperti koeperasi menekankan partisipasi warga dan memberikan
manfaat bagi anggota dan masyarakat secara luas. Meskipun demikian, BUMD
berbeda karena modalnya berasal dari penyertaan langsung sebagai kekayaan desa,
membedakannya dari koperasi yang tidak bergantung pada pemerintah dan dimiliki
oleh anggota koperasi. Studi menunjukkan bahwa CBE, termasuk koperasi dapat
berperan penting dalam pembangunan ekonomi dan masyarakat sebagai alternatif
model bisnis tradisional.
INDONESIAN VILLAGE FUND BUMDes
Sumber Dana Desa
- Dana Desa adalah program yang sudah berjalan sejak tahun 2015 untuk
memberikan bantuan dana kepada desa-desa di seluruh Indonesia.
- Tujuan program ini adalah untuk meningkatkan partisipasi desa dan
memberdayakan masyarakat lokal.
- Dana dialokasikan berdasarkan formula yang mempertimbangkan faktor-faktor
seperti jumlah penduduk, tingkat kemiskinan, dan kesulitan geografis. Secara
keseluruhan, BUM Desa membahas tentang program yang dirancang untuk
meningkatkan kehidupan masyarakat di pedesaan Indonesia. Dana Desa
menyediakan sumber daya yang sangat dibutuhkan desa, dan BUM Desa dapat
membantu menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan perekonomian lokal.
Data
- Pada gambar 1 merupakan proses pengumpulan data dalam survei ini. Survei ini
dilaksanakan atas kerja sama antaraBadan Kebijakan Fiskal dan Politeknik
Keuangan Negara STAN (PKN STAN). Kami memanfaatkan mahasiswa PKN
STAN yang sedang pulang kampung halamannya pada masa liburan kuliah.
- Pada gambar 2 menunjukkan distribusi wilayah survei berdasarkan lokasi desa
dan kelurahan di Indonesia. Area yang diarsir lebih gelap menunjukkan provinsi
dengan jumlah sampel yang lebih banyak. Kami memperoleh 699 desa dan
kelurahan yang memiliki anggota rumah tangga berusia 15 tahun ke atas. Sampel
survei kami terdiri dari orang-orang yang lebih berpendidikan dan sebagian besar
bekerja di sektor jasa dibandingkan dengan rata-rata populasi Indonesia. Jika
orang yang lebih berpendidikan dianggap lebih mengetahui tentang program desa,
hasil penelitian dapat melebih-lebihkan dampak dari program dana desa
- Pada gambar 3 menunjukkan sampel desa dan kelurahan di Provinsi Jawa Tengah
karena sebagian besar sampel berasal dari provinsi ini. Titik-titik hitam adalah
sampel desa dan titik biru adalah sampel kelurahan. Gambar tersebut
menunjukkan bahwa sampel desa dan kelurahan tersebar secara merata di Jawa
Tengah. Desa dan kelurahan berdekatan satu sama lain. Hal ini menyiratkan
bahwa daerah perlakuan yang menerima intervensi berdekatan dengan daerah
kontrol.
- Pada gambar 4 di atas memberikan perbedaan topografi antara desa dan kelurahan
di sampel. Ini adalah variabel biner yang mengindikasikan apakah desa memiliki
kemiringan yang lebih curam dibandingkan dengan kelurahan terdekat. Kami
kemudian menghitung rata-rata data berdasarkan jaraknya. Gambar ini
menunjukkan topografi yang serupa dalam hal kemiringan antara desa dan
kelurahan dalam sampel. Hal ini mengindikasikan bahwa wilayah menerima
intervensi dan daerah kontrol memiliki karakteristik yang sama dalam hal dalam
hal lokasi geografis.
EMPIRICAL IDENTIFICATION STRATEGY
Strategi Identifikasi Empiris yang digunakan dalam jurnal ini adalah kombinasi
metode perbedaan pertama (first-difference) dan perbedaan perbedaan (difference-in-
difference) yang diadaptasi untuk perlakuan yang kontinu. Peneliti menggunakan
pemerintahan desa sebagai kelompok yang menerima dana desa dan kelurahan sebagai
kelompok kontrol yang tidak menerima dana desa. Dengan membandingkan kedua
kelompok ini, mereka mengevaluasi dampak dana desa pada Badan Usaha Milik Desa
(BUM Desa) dan kesempatan kerja.
RESULT AND DISCUSSION
1. Dampak Dana Desa terhadap Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa)
Program dana desa di Indonesia meningkatkan pendirian BUM Desa, terutama di desa
daripada kelurahan. Meskipun demikian, pengelolaan yang masih tradisional dapat
menghambat pemanfaatan optimal BUM Desa. Model analisis menunjukkan
peningkatan signifikan dalam BUM Desa setelah program ini diterapkan, terutama di
Pulau Jawa. Namun, dampaknya terhadap lapangan kerja tidak signifikan. Hasil ini
perlu diperlakukan hati-hati karena mayoritas sampel berasal dari Pulau Jawa, yang
memiliki pendidikan tinggi dan kesadaran lebih besar terhadap BUM Desa. Tes
kekuatan model menunjukkan hasil estimasi yang kuat, meskipun penghapusan
variabel kontrol tidak mengubah hasil secara signifikan. Kesimpulannya, diperlukan
perbaikan manajemen dan partisipasi masyarakat untuk meningkatkan kinerja BUM
Desa.
2. Kesadaran dan pemanfaatan BUM Desa
Program dana desa meningkatkan infrastruktur ekonomi di desa, namun dampaknya
terhadap perekonomian masyarakat tergantung pada faktor seperti tata kelola,
kepemilikan, dan distribusi informasi. Kesadaran masyarakat tentang Badan Usaha
Milik Desa (BUMDes) cenderung lebih tinggi di desa daripada di kelurahan.
Meskipun demikian, tingkat pemanfaatan BUMDes masih rendah di masyarakat, baik
di desa maupun kelurahan. Ini menunjukkan bahwa keberadaan BUMDes belum
optimal dalam memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Hal ini menjadi
tantangan bagi pemerintah desa untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam
memanfaatkan BUMDes secara efektif.
3. Program dana desa mendorong pendirian BUM Desa yang memberikan peluang
wirausaha dan lapangan kerja. Namun, pengelolaan tradisional dan rendahnya
partisipasi masyarakat dapat menghambat tujuan program ini. Meskipun mayoritas
sampel berasal dari Pulau Jawa yang memiliki pendidikan tinggi, rendahnya dana
desa per kapita di sana berdampak pada BUM Desa. Meskipun demikian, pemerintah
tetap mendorong pendirian BUM Desa untuk meningkatkan kesejahteraan di desa.
CONCLUSION
Program Dana Desa pemerintah Indonesia yang dilaksanakan pada tahun 2015 hingga
2019 dengan alokasi anggaran yang signifikan, bertujuan untuk mendorong
pembangunan desa dan pemberdayaan masyarakat.
Studi ini tidak menemukan bukti substansial bahwa Program Dana Desa dan
pendirian BUMDes mempunyai dampak signifikan terhadap peluang kerja bagi
masyarakat pedesaan.
Penelitian ini mendukung penilaian Kementerian mengenai rendahnya kinerja
keuangan BUMDes, dengan proporsi pendapatan asli terhadap modal yang minim.
Studi ini menyoroti kesenjangan regional, khususnya antara wilayah Jawa dan
nonJawa, dalam hal alokasi dana desa dan dampaknya terhadap BUMDes.
Untuk meningkatkan kinerja BUMDes dan memaksimalkan manfaat dana desa, studi
ini merekomendasikan fokus pada peningkatan manajemen, peningkatan partisipasi
masyarakat, dan peningkatan kesadaran akan program pengentasan kemiskinan