LAMPIRAN PERATURAN BUPATI KABUPATEN
MELAWI
NOMOR
TENTANG RENCANA INDUK SISTEM PENGELOLAAN
SAMPAH KABUPATEN MELAWI
DOKUMEN RENCANA INDUK SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH
KABUPATEN MELAWI
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Pertambahan penduduk yang semakin meningkat, membawa
konsekuensi meningkatnya jumlah sampah serta menurunnya
kemampuan pengelolaan sampah dan kepedulian masyarakat dalam
menjaga kebersihan lingkungan telah menjadi salah satu penyumbang
terjadinya pencemaran lingkungan. Keterbatasan sarana dan prasarana,
rendahnya tingkat partisipasi masyarakat dalam pemilahan sampah dari
sumbernya menyebabkan tingginya jumlah sampah campuran yang sulit
untuk diolah kembali, serta koordinasi antar lembaga yang masih kurang
optimal turut memperumit permasalahan ini. Infrastruktur yang tersedia,
seperti Tempat Penampungan Sementara (TPS), fasilitas pengolahan
sampah, dan sistem transportasi sampah, masih belum mampu
mengimbangi laju produksi sampah yang tinggi.
Dengan latar belakang kondisi yang ada, diperlukan peningkatan
efektifitas dan efisiensi dalam penyelenggaraan sampah melalui
pengelolaan secara terpadu, dan terkoordinasi dalam satu sistem.
Diperlukan peningkatan kualitas dan perkuatan kapasitas kelembagaan
dan Sumber Daya Manusia (SDM) pengelola di daerah, partisipasi aktif
dari masyarakat, peningkatan dan pengembangan kinerja pengelolaan,
serta kerjasama antar lembaga pemerintah yang terkait.
Masih belum optimalnya angka cakupan pelayanan persampahan di
Kabupaten Melawi disertai dengan tingginya angka timbulan sampah
yang dihasilkan dan diperlukannya pengembangan prasarana dan sarana
persampahan menjadi perhatian khusus bagi seluruh sektor terutama
dari sektor Pemerintah, stakeholder maupun masyarakat. Melihat kondisi
tersebut di atas pengelolaan persampahan harus dilakukan secara
1
terencana dan terintegrasi. Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten
Melawi dipandang perlu untuk melakukan penyusunan dokumen Rencana
Induk Persampahan Kabupaten Melawi.
Rencana Induk Sistem Pengelolaan Persampahan (RISPS)
merupakan suatu dokumen perencanaan umum yang menyeluruh
mengenai penyelenggaraan dan pengembangan sarana dan prasarana
persampahan untuk periode 20 (dua puluh) tahun. RISPS tersebut
selanjutnya digunakan sebagai acuan oleh instansi yang berwenang
dalam penyusunan program pembangunan 5 (lima) tahun sistem
pengelolaan sampah.
Rencana Induk ini merupakan perencanaan yang memiliki
kedudukan yang terkait dengan peraturan-peraturan lain yang ada, baik
dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang maupun rencana jangka
menengah daerah dan pusat. Pengelolaan sampah daerah perlu dikawal
dari proses perencanaan pembangunan daerah periode jangka panjang /
RPJPD-jangka menengah / RPJMD – tahunan / RKPD yang memuat target
pengelolaan sampah daerah, pelaksanaan urusan sesuai dengan
kewenangan dan masuk menjadi Indikator Kinerja Utama (IKU)
pemerintah daerah serta Indikator Kinerja Kunci (IKK) SKPD/OPD/Dinas.
PP No. 81 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Pengelolaan
Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga
sebagai peraturan pelaksanaan dari UU No. 18 Tahun 2008
mengamanatkan penyusunan Rencana Induk Sistem Pengelolaan
Sampah (RISPS) di tingkat daerah kabupaten/kota. Kabupaten Melawi
belum memiliki dokumen RIPS yang telah ditetapkan melalui Peraturan
Bupati Melawi, sebagai dokumen resmi perencanaan pengelolaan
sampah. Dokumen yang ada saat ini berupa Dokumen Masterplan
Persampahan pada tahun 2013. Berdasarkan hal tersebut, maka pada
Tahun 2025 akan disusun Dokumen Rencana Induk Pengelolaan Sampah
di Kota Nanga Pinoh yang memenuhi persyaratan dengan target dan
capaian program pengelolaan sampah yang realistis yang akan
dilegalisasi dalam Peraturan Bupati.
B. MAKSUD DAN TUJUAN
1. Maksud
Maksud dari kegiatan Penyusunan Dokumen Rencana Induk
Pengelolaan Sampah di Kabupaten Melawi adalah:
a. Menyusun arahan kebijakan dan strategi dalam pengelolaan
persampahan di Kabupaten Melawi.
2
b. Memperoleh rumusan program dan kegiatan pengelolaan
persampahan baik dalam jangka pendek maupun jangka menengah
dan jangka panjang.
2. Tujuan
Tujuan Rencana Induk Pengelolaan Sampah Kabupaten Melawi ini
adalah:
a. Agar Kabupaten Melawi memiliki rencana induk persampahan yang
memiliki kualitas perencanaan yang memenuhi standar nasional.
b. Meningkatkan ketersediaan sarana dan prasarana pengelolaan
sampah.
c. Meningkatkan cakupan pelayanan sampah secara bertahap.
d. Meningkatnya pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
3. Sasaran
Sasaran kegiatan yang diharapkan dari pekerjaan ini adalah:
a. Teridentifikasinya kondisi eksisting sarana dan prasarana
persampahan di Kabupaten Melawi.
b. Teridentifikasinya kondisi eksisting manajemen sistem pengelolaan
persampahan di Kabupaten Melawi.
c. Teridentifikasinya potensi pengelolaan persampahan non pemerintah
di Kabupaten Melawi.
d. Teridentifikasinya potensi kerjasama antara pemerintah, masyarakat,
dan swasta dalam pengelolaan persampahan di Kabupaten Melawi.
e. Terumuskannya kebijakan regulasi pengelolaan persampahan di
Kabupaten Melawi.
f. Terumuskannya kebutuhan penambahan sarana dan prasarana
persampahan di Kabupaten Melawi.
g. Terumuskannya potensi pembiayaan pengelolaan persampahan di
Kabupaten Melawi.
h. Tersedianya alternatif teknologi tepat guna dalam sistem pengelolaan
persampahan di Kabupaten Melawi dari hulu hingga hilir;
i. Tersusunnya rencana program dan kegiatan, mekanisme retribusi,
serta pembiayaan dalam pengembangan pengelolaan persampahan
di Kabupaten Melawi.
C. RUANG LINGKUP RENCANA INDUK
1. Ruang Lingkup Wilayah
Ruang lingkup wilayah kajian dan wilayah perencanaan adalah
wilayah Kota Nanga Pinoh Kabupaten Melawi.
3
2. Ruang Lingkup Kegiatan
Ruang lingkup kegiatan pada kegiatan “Penyusunan Rencana Induk
Pengelolaan Sampah” adalah sebagai berikut:
a. Persiapan Penyusunan
Persiapan penyusunan terdiri atas:
Penyiapan personil dalam tim kerja (tenaga ahli dan tenaga
pendukung sesuai dengan tata laksana personil).
Penyiapan administrasi.
Studi literatur sebagai awal atau referensi untuk pelaksanaan
kegiatan. Mengadakan Pertemuan dengan Pemberi Kerja dan
sosialisasi dengan stakeholder terkait.
Penyusunan rencana kerja.
b. Pengumpulan Data untuk keperluan pengenalan karakteristik wilayah,
dilakukan pengumpulan data primer dan data sekunder.
Pengumpulan data primer dapat dilakukan melalui Pengenalan
kondisi fisik dan sosial ekonomi wilayah secara langsung melalui
pengamatan langsung di lapangan (field study).
Pengumpulan data sekunder berasal dari instansi pemerintah
daerah, lembaga formal dan informal, dan literatur.
c. Kegiatan Survei Lapangan
Kegiatan Survei lapangan yang dilakukan pada pekerjaan ini adalah
ground check berdasarkan kriteria yang digunakan.
d. Analisis Dokumen Rencana Induk Pengelolaan Sampah di Kabupaten
Melawi
Analisis pada Dokumen Rencana Induk Pengelolaan Sampah di
Kabupaten Melawi minimal harus melalui tahapan sebagai berikut:
Analisis penggunaan lahan eksisting sistem pengolahan sampah di
Kabupaten Melawi.
Analisis kesesuaian lahan berdasarkan fungsi kawasan di
Kabupaten Melawi.
Analisis kebutuhan sarana dan prasarana pengelolaan
persampahan.
Analisis sistem pengelolaan persampahan.
Analisis potensi kerjasama pengelolaan persampahan.
Analisis kelembagaan, pembiayaan dan sosial kemasyarakatan.
Analisis inovasi pengembangan teknologi pengelolaan
persampahan.
e. Mengidentifikasi permasalahan pada sistem pengelolaan sampah
untuk setiap aspek pengelolaan sampah.
4
f. Menyusun visi dan misi dalam penyusunan rencana induk sistem
pengelolaan sampah.
g. Menyiapkan kebijakan – kebijakan strategis dan kriteria perencanaan
dalam penyusunan rencana induk sistem pengelolaan sampah dengan
mengacu pada:
Kebijakan dan strategi nasional pengelolaan persampahan
Pedoman penataan ruang sekitar tempat pemrosesan akhir sampah
h. Menyusun kriteria standar pelayanan minimal dalam pengelolaan
sampah yang akan dilakukan.
i. Mengidentifikasi daerah pelayanan dan pemilihan zona prioritas.
j. Menghitung proyeksi timbulan sampah.
k. Menghitung jumlah sarana dan prasarana serta pengembangan
sarana dan prasarana pengelolaan sampah mulai dari pewadahan,
pengumpulan, pengangkutan, pengolahan dan pemrosesan akhir.
l. Menyusun rencana program umum dalam Rencana Induk Sistem
Pengelolaan Sampah yang melingkupi namun tidak terbatas pada:
Rencana umum, meliputi:
Evaluasi kondisi kota/kawasan dan rencana
pengembangannya, yang bertujuan untuk mengetahui karakter,
fungsi strategis dan konteks regional, nasional, kota/kawasan yang
bersangkutan. Evaluasi kondisi eksisting penanganan sampah dari
sumber sampai TPA. Evaluasi permasalahan pada sistem
pengelolaan sampah di daerah studi.
Rencana penanganan sampah dengan mengedepankan
pengurangan sampah yang ditimbun di TPST dan TPA, pengolahan
dan pemanfaatan sampah sebagai sumber daya melalui kegiatan
3R, pewadahan, pengumpulan, pengangkutan, pengolahan dan
pemrosesan akhir sampah.
Program dan kegiatan penanganan sampah disusun
berdasarkan hasil evaluasi terhadap permasalahan yang ada dan
kebutuhan pengembangan di masa depan.
Kriteria mencakup kriteria teknis yang dapat diaplikasikan dalam
perencanaan yang sudah umum digunakan. Namun jika ada data
hasil survei maka kriteria teknis menjadi bahan acuan.
Standar pelayanan ditentukan sejak awal seperti tingkat pelayanan
dan
cakupan pelayanan yang diinginkan.
Rencana tahapan pelaksanaan kegiatan pengelolaan sampah yang
meliputi rencana dan target jangka pendek, rencana dan target
jangka menengah serta rencana dan target jangka panjang.
Rencana teknis operasional berupa rencana pemilahan/pewadahan,
rencana pengumpulan, rencana pengangkutan, rencana
5
pengolahan dan rencana tempat pemrosesan akhir.
Rencana pembiayaan dan pola investasi berupa indikasi besar
biaya tingkat awal, sumber, dan pola pembiayaan. Perhitungan
biaya tingkat awal mencakup seluruh komponen pekerjaan
perencanaan, pekerjaan konstruksi, pajak, pembebasan tanah, dan
perizinan.
Rencana pengembangan kelembagaan penyelenggara pengelolaan
sampah meliputi pemisahan fungsi regulator dan operator, bentuk
kelembagaan termasuk kelembagaan yang menerapkan
fleksibilitas pengelolaan keuangan, struktur organisasi dan
penempatan tenaga ahli sesuai dengan latar belakang
pendidikannya mengacu pada peraturan perundangan yang
berlaku. Termasuk dalam rencana pengembangan kelembagaan
adalah penyelenggaraan pengelolaan sampah melalui mekanisme
kerjasama dengan pihak ke–3 (tiga), organisasi kemasyarakatan
dan mekanisme koordinasi yang akan digunakan kemasyarakatan
dan mekanisme koordinasi yang akan digunakan untuk
mengkoordinasikan kegiatan pengelolaan sampah.
Rencana pengembangan peran serta masyarakat yang meliputi
penyusunan program penyuluhan/kampanye,
pelaksanaanpenyuluhan/kampanye, rencana internalisasi
penanganan sampah ke dalam kurikulum sekolah, dan
pengembangan konsep pengurangan sampah di sumber. Selain itu,
perlu dikembangkan secara rencana penerapan program
pengarusutamaan gender di bidang pengelolaan sampah.
Rencana pengembangan pelibatan pihak swasta dalam pengelolaan
sampah yang meliputi identifikasi peranan yang telah dilakukan
pihak swasta dalam pengelolaan sampah, serta pengembangan
kemitraan dengan pihak swasta.
Rencana alokasi lahan TPST dan TPA untuk merencanakan
penanganan sampah dari sumber sampai dengan TPA diperlukan
ketetapan alokasi lahan TPST dan TPA.
3. Membentuk Peraturan Kepala Daerah tentang Rencana Induk
Pengelolaan Sampah
Lingkup dari kegiatan ini antara lain:
a. Adanya kesepakatan di antara pemangku kepentingan terhadap
dokumen Rencana Induk.
b. Menyusun Rancangan Perkada Rencana Induk Sistem Pengelolaan
Sampah (RISPS)
c. Melakukan fasilitasi pembahasan rancangan Peraturan Kepala
Daerah tentang RISPS dan fasilitasi penetapan Raperkada menjadi
6
Perkada dan pengundangannya.
d. Melakukan sosialisasi RIPS.
e. Melakukan fasilitasi kepada Pemerintah Daerah dalam rangka
Pengesahan Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah oleh
Kepala Daerah.
D. JENIS RENCANA INDUK
Jenis rencana induk berupa Rencana Induk Sistem Pengelolaan
Sampah (RISPS) di dalam satu wilayah administrasi Kabupaten Melawi.
Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah (RISPS) di dalam satu wilayah
administrasi Kabupaten Melawi meliputi rencana pengelolaan sampah
dalam perencanaan jangka pendek, jangka menengah dan perencanaan
jangka panjang.
E. KEDUDUKAN RENCANA INDUK
Kedudukan rencana induk adalah sebagai panduan atau pedoman
untuk memberikan arah perencanaan yang terpadu dan
berkesinambungan. Rencana Induk ini merupakan perencanaan yang
memiliki kedudukan yang terkait dengan peraturan-peraturan lain yang
ada baik dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang maupun
rencana jangka menengah daerah dan pusat. Pengelolaan sampah
daerah perlu dikawal dari proses perencanaan pembangunan daerah
periode jangka panjang / RPJPD – jangka menengah / RPJMD – tahunan /
RKPD yang memuat target pengelolaan sampah daerah, pelaksanaan
urusan sesuai dengan kewenangan dan masuk menjadi indikator kinerja
utama (IKU) pemerintah daerah serta indikator kinerja kunci (IKK) SKPD /
OPD / Dinas.
Kedudukan rencana induk pengelolaan sampah adalah sebagai
dokumen perencanaan strategis dan teknis yang menjadi acuan utama
dalam penyelenggaraan pengelolaan sampah di suatu wilayah
(kabupaten/kota/provinsi). Secara ringkas, kedudukan Rencana Induk
Sistem Pengelolaan Sampah (RISPS) dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Dokumen Perencanaan Jangka Panjang-Menengah
RIPS berfungsi sebagai:
Panduan arah kebijakan pengelolaan sampah dalam jangka
menengah hingga panjang (±10-20 tahun)
Dasar perencanaan sistem pengurangan dan penanganan
7
sampah dari hulu ke hilir
2. Acuan Penyusunan Dokumen Turunan
Jakstrada (Kebijakan Strategis Daerah) dalam pengelolaan
sampah
Rencana teknis TPA/TPST (sanitary landfill, penutupan open
dumping, RDF, dan lainnya)
Program dari kegiatan OPD (Dinas Lingkungan Hidup dan OPD
terkait)
Rencana Investasi dan penganggaran (RKPD, Renstra OPD,
RKA, dan DPA)
3. Kedudukannya bukan produk hukum seperti Perda, tetapi :
Dokumen teknis yang mendukung penetapan kebijakan
Digunakan sebagai bahan pengambilan keputusan kepala
daerah
Menjadi referensi dalam penyusunan regulasi daerah
(Perda/Perkada)
4. Alat Koordinasi dan Integrasi
RIPS menjadi:
Alat integrasi lintas sektor (lingkungan hidup, PU, perencanaan,
kesehatan dan desa)
Pedoman bagi kerja sama pemerintah, swasta, dan masyarakat
F. DASAR HUKUM
Dasar pertimbangan hukum yang menjadi acuan dalam pelaksanaan
kegiatan ini antara lain:
1. Undang - Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan
Sampah;
2. Undang - Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup;
3. Undang - Undang Nomor 1 Tahun 2022 tentang Hubungan
Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah;
4. Peraturan Pemerintah Nomor 81 Tahun 2012 tentang
Penyelenggaraan Pengelolaan Sampah Rumah Tanggah dan
Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga;
5. Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016 tentang Perangkat
Daerah yang telah mengalami perubahan melalui PP Nomor 72
Tahun 2019 tentang Perubahan atas PP Nomor 18 Tahun 2016
tentang Perangkat Daerah;
6. Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2019 tentang Pengelolaan
Keuangan Daerah;
8
7. Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan
Gender dalam Pembangunan Nasional;
8. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor
03/PRT/M/2013 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Prasarana
dan Sarana Persampahan dalam Penanganan Sampah Rumah
Tangga dan Sampah Sejenis Rumah Tangga;
9. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor
P.74/MENLHK/SETJEN/KUM.1/8/2016 tentang Pedoman
Nomenklatur Perangkat Daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota yang
Melaksanakan Urusan Pemerintahan Bidang Lingkungan Hidup dan
Urusan Pemerintahan Bidang Kehutanan;
10. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 80 Tahun 2015 tentang
Pembentukan Produk Hukum Daerah;
11. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 12 Tahun 2017 tentang
Pedoman Pembentukan dan Klasifikasi Cabang Dinas dan Unit
Pelaksana Teknis Daerah;
12. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 79 Tahun 2018 tentang
Badan Layanan Umum Daerah;
13. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 22 Tahun Tata Cara Kerja
Sama Daerah dengan Daerah Lain dan Kerja Sama Daerah dengan
Pihak Ketiga Instruksi Menteri Dalam Negeri nomor 1 Tahun 2024
Tentang Pedoman;
14. Penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah tahun
2025-2045.
G. SISTEMATIKA PELAPORAN
Laporan Antara pada pekerjaan Bantuan Teknis Penyusunan
Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah di Kabupaten Bekasi ini
disusun dan disajikan dengan sistematika
penulisan sebagai berikut,
Bab I Pendahuluan
Pada bagian ini berisikan uraian dan penjelasan latar belakang, maksud
dan tujuan, ruang lingkup perencanaan, jenis rencana induk, kedudukan
rencana induk, landasan hukum, standar teknis dan keluaran serta
sistematika pelaporan Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah.
Bab II Konsep dan Kriteria Penyusunan Rencana Induk
Pada bagian ini berisi tentang periode perencanaan, evaluasi rencana
induk, kriteria perencanaan, survei penyusunan rencana induk,
keterpaduan perencanaan dengan sektor lain, dan kontribusi pengelolaan
sampah dalam program perubahan iklim.
Bab III Deskripsi Daerah Perencanaan
Pada bagian ini berisi tentang daerah rencana, kondisi fisik
9
wilayah,kondisi sosial ekonomi, budaya dan kesehatan masyarakat,
kondisi eksisting pengelolaan sampah, permasalahan sistem yang
dihadapi saat ini dan kebijakan sistem pengelolaan sampah yang ada.
Bab IV Strategi Pengembangan Sistem Pengelolaan Sampah
Pada bagian ini berisi tentang kebijakan dan strategi pengembangan
sistem pengelolaan sampah, tujuan dan target penanganan,
pengembangan daerah pelayanan, pembagian zona pelayanan,
penetapan zona prioritas, perhitungan kebutuhan prasarana dan sarana
pengelolaan, dan strategi pengembangan sistem pengelolaan sampah.
Bab V Rencana Program dan Tahapan Pelaksanaan
Pada bagian ini berisi tentang uraian rencana program yang sedang
berjalan, program jangka pendek, program jangka menengah, dan
program jangka panjang. Indikasi program – program bidang
persampahan dijabarkan dari program – rogram prioritas yang telah
dirumuskan dalam rencana induk dan telah memenuhi kelayakan proyek.
Pengembangan sarana dan prasarana persampahan tidak hanya
berdasarkan aspek teknis namun juga termasuk pengembangan aspek
non teknis meliputi aspek kelembagaan, pembiayaan, peraturan, peran
masyarakat dan pengelolaan swasta.
Bab VI Kesimpulan dan Rekomendasi
Pada bagian ini berisi tentang cakupan kesimpulan dan rekomendasi
rencana induk sistem pengolahan sampah Kabupaten Melawi.
BAB II
KONSEP DAN KRITERIA PENYUSUNAN RENCANA INDUK
A. PERIODE PERENCANAAN
10
Secara umum periode perencanaan yang akan direncanakan dalam
dokumen rencana induk ini akan mengikuti periode perencanana RPJPD
yakni tahun 2026-2046, dimana tahun pertama perencanaan adalah
tahun 2026 dan diakhiri pada tahun 2045, yang terbagi atas perencanaan
jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang.
1. Perencanaan Jangka Pendek
Perencanaan jangka pendek merupakan tahap pelaksanaan yang
bersifat mendesak dan dapat dijadikan pondasi untuk pentahapan
selanjutnya. Perencanaan ini akan direncanakan untuk periode tahun ke-
1 dimana tahun 2026 merupakan tahun pertama perencanaan, dalam
perencanaan ini juga tahun 2025 sebagai dasar untuk mendukung
kegiatan jangka pendek pada tahun 2026.
2. Perencanaan Jangka Menengah
Perencanaan jangka menengah yakni perencanaan pada tahun ke-2
sampah tahun ke-5 dalam perencanaan ini yakni untuk tahun 2026 s.d
tahun 2029, setiap bagian perencanaan ini akan didasarkan pada hasil
kajian dengan mempertimbangkan tahap mendesak yang telah
dilakukan.
3. Perencanaan Jangka Panjang
Perencanaan jangka panjang merupakan tahap pelaksanaan yang
bersifat menyeluruh dengan mempertimbangkan hasil pencapaian tahap
sebelumnya. Perencanaan jangka panjang ini akan dilakukan sampai
dengan akhir tahun perencanaan yang sejalan dengan RPJPD yakni tahun
2046 dimana dimulai dari tahun ke-6 perencanaan, dimana setiap lima
tahun sekali dapat dilakukan review terhadap keseluruhan perencanaan
yang telah dilakukan sebelumnya.
B. EVALUASI RENCANA INDUK
Pelaksanaan evaluasi rencana induk menunjukkan pentingnya
menjalankan evaluasi berkala terhadap rencana induk sistem
pengelolaan sampah dalam suatu wilayah. Evaluasi ini diperlukan untuk
memastikan bahwa rencana tersebut tetap relevan dan efektif
menghadapi perubahan lingkungan, tata ruang, serta strategi lingkungan
yang terjadi seiring waktu, maupun hasil rekomendasi audit lingkungan
perkotaan yang terkait dengan masalah pengelolaan persampahan.
Berikut adalah beberapa langkah dan pertimbangan yang dapat diambil
dalam proses evaluasi tersebut:
a. Jadwal Evaluasi Berkala
11
Setiap 5 tahun adalah periode yang wajar untuk melakukanmevaluasi.
Dalam jangka waktu tersebut, banyak perkembangan dan perubahan
yang mungkin terjadi di berbagai bidang, termasuk sanitasi, tata ruang,
dan strategi lingkungan. Jadwal ini memungkinkan rencana induk sistem
pengelolaan sampah untuk diperbarui sesuai dengan informasi terbaru.
b. Koordinasi dengan Rencana Induk Lainnya
Penting untuk memastikan bahwa rencana induk sistem pengelolaan
sampah sejalan dengan rencana induk bidang sanitasi, tata ruang, dan
rencana induk SPAM (Sistem Penyediaan Air Minum). Koordinasi ini
membantu menghindari konflik dan memastikan sinergi antara berbagai
rencana untuk pengembangan kota yang berkelanjutan.
c. Perubahan Strategi Lingkungan
Dalam lingkungan yang selalu berubah, strategi lingkungan perlu
diperbarui agar tetap relevan dan efektif. Pemahaman yang baik tentang
perkembangan terkini dalam pengelolaan lingkungan sangat penting
untuk mengintegrasikan strategi ini ke dalam rencana induk sistem
pengelolaan sampah.
d. Hasil Rekomendasi Audit Lingkungan
Rekomendasi dari audit lingkungan perkotaan memberikan wawasan
berharga tentang kelemahan dan potensi perbaikan dalam pengelolaan
sampah. Mengincar rekomendasi ini dalam proses evaluasi membantu
mengidentifikasi area-area yang memerlukan perhatian lebih.
e. Partisipasi Pihak Terkait
Melibatkan para pemangku kepentingan, termasuk masyarakat,
organisasi lingkungan, pemerintah, dan sektor swasta, dalam proses
evaluasi dapat membantu mendapatkan berbagai pandangan dan
masukan yang beragam. Ini dapat memperkaya pemahaman tentang
situasi saat ini dan membantu mengidentifikasi solusi yang lebih holistik.
f. Analisis Data dan Kinerja
Evaluasi harus didasarkan pada data dan indikator kinerja yang relevan.
Analisis data tentang jumlah dan jenis sampah yang dihasilkan, efisiensi
sistem pengelolaan, dan dampak lingkungan dapat membantu mengukur
keberhasilan rencana yang ada dan mengidentifikasi area untuk
perbaikan.
g. Penyesuaian Rencana
Hasil dari evaluasi harus digunakan sebagai dasar untuk memperbarui
rencana induk sistem pengelolaan sampah. Penyesuaian ini mungkin
12
termasuk perubahan strategi, tujuan, kebijakan, dan taktik operasional
sesuai dengan perubahan yang terjadi.
h. Evaluasi Berkelanjutan
Selain evaluasi lima tahunan, penting untuk memiliki mekanisme evaluasi
berkelanjutan yang memungkinkan penyesuaian lebih cepat jika
perubahan mendadak atau isu-isu mendesak muncul.
Mengintegrasikan semua faktor di atas dalam proses evaluasi
membantu memastikan bahwa rencana induk sistem pengelolaan
sampah tetap relevan, efektif, dan responsif terhadap perkembangan
lingkungan dan tuntutan masyarakat.
C. KRITERIA PERENCANAAN
1. Kriteria Umum
Rencana Induk Pengelolaan Persampahan paling sedikit harus
meliputi hal – hal sebagai berikut:
a. Rencana umum meliputi:
Evaluasi kondisi kota/kawasan dan rencana pengembangannya
yang bertujuan untuk mengetahui karakter, fungsi strategis dan konteks
regional nasional kota/kawasan yang bersangkutan.
Evaluasi kondisi eksisting penanganan sampah dari sumber sampai
TPA.
b. Rencana penanganan dan pengurangan sampah dengan
mengedepankan pengurangan sampah yang ditimbun di TPA,
pemanfaatan sampah sebagai sumber daya melalui kegiatan 3R,
pewadahan, pengumpulan, pengangkutan, pengolahan, dan
pemrosesan akhir sampah.
c. Rencana penyediaan sarana dan prasana sampah sesuai kebutuhan
pelayanan dengan mengedepankan pemanfaatan sampah dan
meningkatkan kualitas TPA melalui penerapan teknologi ramah
lingkungan lingkungan serta menyediakan kebutuah sarana dan
prasarana pengelolaan sampah/fasilitas pengolahan sampah
seperti TPS3R dan TPST.
d. Program dan kegiatan penanganan sampah disusun berdasarkan
hasil evaluasi terhadap permasalahan yang ada dan kebutuhan
pengembangan di masa depan dan tersedianya pelayanan
pengumpulan dan pengangkutan sampah bagimasyarakat di
wilayah pelayanan dnegan biaya (retribusi) yang terjangkau oleh
masyarakat.
e. Kriteria mencakup kriteria teknis yang dapat diaplikasikan dalam
13
perencanaan yang sudah umum digunakan, tetapi jika ada data
hasil survei maka kriteria teknis menjadi bahan acuan.
f. Standar pelayanan ditentukan sejak awal seperti tingkat pelayanan
dan cakupan pelayanan yang diinginkan.
g. Rencana pembiayaan dan pola investasi berupa indikasi besar
biaya tingkat awal, sumber dan pola pembiayaan. Perhitungan
biaya tingkat awal mencakup seluruh komponen pekerjaan
perencanaan, pekerjaan konstruksi, pajak, pembebasan tanah dan
perizinan.
h. Rencana pengembangan kelembagaan penyelenggara meliputi
struktur organisasi dan penempatan tenaga ahli sesuai dengan
latar belakang pendidikan yang mengacu pada peraturan
perundangan yang berlaku.
i. Tersedianya rencana pengembangan kapasitas masyarakat dalam
mengelolasampah melalui program kampanye dan edukasi secara
berkesinambungan untuk meningkatkan peran masyarakat dalam
kegiatan 3R.
2. Kriteria Teknis
Kiteria teknis meliputi:
a. Periode perencanaan minimal 10 (sepuluh) tahun
b. Sasaran dan prioritas penanganan: Sasaran pelayanan pada tahap
awal prioritas harus ditujukan pada daerah yang telah
mendapatkan pelayaan saat ini, daerah berkepadatan tinggi serta
kawasan strategis. Setelah itu prioritas pelayanan diarahkan pada
daerah pengembangan sesuai dengan arahan dalam perencanaan
induk kota.
c. Strategi penanganan: Untuk mendapatkan perencanaan yang
optimum, perlu mempertimbangkan beberapa hal:
Kondisi pelayanan eksisting termasuk keberadaan TPA dan
masalah pencemaran yang ada;
Urgensi masalah penutupan dan rehabilitasi TPA eksisting serta
pemilihan lokasi TPA baru baik untuk skala kota maupun lintas
kabupaten/kota atau lintas provinsi (regional);
Komposisi dan karakteristik sampah;
Mengurangi jumlah sampah yang diangkut dan ditimbun di TPA
secara bertahap (hanya residu yang dibuang di TPA);
Potensi pemanfaatan sampah dengan kegiatan 3R yang
melibatkan masyakarat dalam penanganan sampah di sumber
melalui pemilahan sampah dan mengembangkan pola insentif
melalui ”bank sampah”;
14
Potensi pemanfaatan gas bio dari sampah di TPA;
Pengembangan pelayanan penanganan sampah;
Penegakkan peraturan (law enforcement); dan
Peningkatan manajemen pengoperasian dan pemeliharaan.
d. Kebutuhan pelayanan: Kebutuhan pelayanan penanganan sampah
ditentukan berdasarkan:
Proyeksi penduduk: Proyeksi penduduk harus dilakukan untuk
interval 5 tahun selama periode perencanaan.
Proyeksi timbulan sampah: Timbulan sampah diproyeksikan
setiap interval 5 tahun. Asumsi yang digunakan dalam
perhitungan proyeksi timbulan sampah harus sesuai dengan
Rencana Induk penanganan sampah yang diuraikan di bagian
sebelumnya.
Kebutuhan lahan TPA: Kebutuhan prasarana dan sarana
persampahan (pemilahan, pengangkutan, TPS, TPS3R, TPST,
dan TPA).
Dalam penyusunan rencana induk sistem pengelolaan sampah,
sub sistem teknis – teknologi menjadi tulang punggung dalam
pengembangan dan pelaksanaan pengelolaan persampahan
Kabupaten/Kota. Pada dasarnya sistem pengelolaan persampahan
dapat digambarkan seperti pada Gambar 2.
Gambar 2. Sistem Pengelolaan Sampah Perkotaan
3. Kriteria Standar Pelayanan Minimal (SPM)
SPM pengelolaan persampahan adalah jumlah penduduk yang
terlayani dalam sistem penanganan sampah terhadap total jumlah
penduduk di Kabupaten/Kota tersebut dan dinyatakan dalam bentuk
persentase. Kriteria SPM ini mempunyai pengertian bahwa pengurangan
sampah meliputi kegiatan pembatasan timbulan sampah, daur ulang
15
sampah, dan pemanfaatan kembali sampah. Setiap sampah dikumpulkan
dari sumber ke tempat pengolahan sampah perkotaan yang selanjutnya
dipilah sesuai jenisnya, digunakan kembali, didaur ulang dan diolah
secara optimal, sehingga pada akhirnya hanya residu yang dikirim ke
Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
Adapun kriteria SPM fasilitas penanganan sampah di perkotaan
adalah volume sampah di perkotaan yang melalui guna ulang, daur
ulang, pengolahan di tempat pengolahan sampah sebelum akhirnya
masuk ke TPA terhadap volume seluruh sampah kota yang dinyatakan
dalam bentuk persentase. Standar pelayanan minimal persampahan
dilakukan melalui pemilahan, pengumpulan, pengangkutan sampah
rumah tangga ke TPA secara berkala minimal 2 (dua) kali seminggu serta
pengolahan dan pemrosesan akhir sampah.
Target penanganan sampah juga dapat dilihat melalui target
pengagkutan sampah ke penyediaan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA)
yang ramah lingkungan dan untuk target jangka panjang sesuai Visi
Indonesia Emas 2045, penanganan sampah akan berfokus pada
pengolahan sampah sebelum masuk ke TPA. Cara perhitungan Standar
Pelayanan Minimal (SPM) fasilitas pengolahan sampah adalah volume
sampah terolah di fasilitas pengolahan sampah dibagi dengan jumlah
timbulan sampah yang kemudian dinyatakan dalam bentuk persentase.
Sampah terolah ini merupakan sampah yang terkumpul melalui
pengumpulan dan pengangkutan dikurangi dengan residu sampah yang
dihasilkan dari proses pengolahan sampah di fasilitas pengolahan
sampah. Jumlah sampah yang terkumpul ini merupakan timbulan sampah
yang telah dikurangi dengan pengurangan sampah di sumber melalui
guna ulang dan daur ulang baik di sumber rumah tangga maupun melalui
mekanisme bank sampah. Sampah yang terolah di tempat pengolahan
sampah tidak akan masuk ke TPA, hanya residu yang selanjutnya masuk
ke TPA sesuai target pelayanan pada RPJPN tahun 2025-2045.
Perhitungan yang dapat dilakukan sebagai perhitungan kinerja
pengolahan sampah sebagai standar pelayanan dalam pengelolaan
sampah sebagai berikut:
16
Untuk dapat menghitung pencapaian SPM bidang persampahan ini
diperlukan data meliputi:
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten/Kota
Data timbulan sampah dan komposisi sampah yang dikeluarkan oleh
Dinas yang membidangi pengelolaan persampahan di Kabupaten/Kota
SPM pengelolaan persampahan adalah jumlah penduduk yang terlayani
dalam sistem penanganan sampah terhadap total jumlah penduduk di
Kabupaten/Kota tersebut dan dinyatakan dalam bentuk persentase.
D. SURVEI PENYUSUNAN RENCANA INDUK
1. Survei dan Pengkajian Wilayah Studi dan Wilayah Pelayanan
Survei dan pengkajian wilayah studi dan wilayah pelayanan
dilakukan dengan mengumpulkan data sekunder dari Dinas – Dinas
terkait. Data sekunder yang dibutuhkan meliputi,
a. Gambaran umum Kabupaten Melawi
Gambaran umum yang menjelaskan posisi Kota atau Kabupaten
secara umum dengan dilengkapi peta tata ruang wilayah.
b. Kondisi fisik Kabupaten Melawi
Kondisi fisik suatu kota pada umumnya digambarkan dengan data
yang meliputi,
Geografi
Topografi
Klimatologi
c. Kondisi prasarana Kabupaten Melawi
Prasarana Kota perlu diidentifikasi untuk mengenali sumber dan
17
karakteristik sampah yang dihasilkan pada wilayah pelayanan.
Kondisi prasarana Kota dapat digambarkan dengan data yang
meliputi,
Jaringan jalan, meliputi jalan arteri/protokol, kolektor, jalan
lingkungan (dilengkapi dengan peta jaringan jalan)
Perumahan, meliputi perumahan komplek dan non komplek baik
yang teratur, tidak teratur maupun perumahan kumuh
Fasilitas komersial, meliputi pertokoan, pasar, hotel, restoran,
salon, bioskop, kawasan wisata, kawasan industri dan lain – lain
Fasilitas umum, meliputi perkantoran, fasilitas pendidikan dan
fasilitas kesehatan
Fasilitas sosial, meliputi rumah ibadah, panti sosal dan lain – lain
Ruang terbuka hijau/hutan kota, meliputi taman kota, hutan kota,
perkebunan, persawahan dan lahan – lahan pertanian yang
dilengkapi dengan peta tata guna lahan
d. Kondisi pengelolaan persampahan Kabupaten Melawi
Data timbulan sampah (liter/orang/hari, m3/hari, ton/hari) serta
komposisi dan karakteristik sampah meliputi komposisi organik
dan anorganik (kertas, plastik, logam, kaca dan lainnya)
Pola penanganan sampah dari sumber sampai TPA untuk
mengetahui aliran sampah dari setiap sumber sampah yang
menuju ke TPS, TPS3R, SPA, FPSA, TPST dan TPA (ataupun ke TPA
liar)
Pewadahan (jenis wadah yang umum digunakan)
Pemindahan skala kawasan (metode pemindahan baik TPS,
kontainer, TPS3R, jumlah prasarana pemindahan, lokasi dan lain
– lain) dan skala kota (FPSA atau SPA, jumlah lokasi SPA/FPSA)
Fasilitas 3R skala kawasan (lokasi, jumlah, metode 3R dan kondisi
operasi, jumlah pengurangan/pemanfaatan sampah dan lain –
lain) dan fasilitas 3R skala kota (lokasi, jumlah
pengurangan/pemanfaatan sampah, fasilitas dan kondisi operasi,
dan lain – lain)
Pengangkutan (jumlah dan jenis kendaraan angkut, frekuensi
atau ritasi pengangkutan, rute angkutan, dan lain – lain)
Pemrosesan akhir (lokasi, luas, fasilitas TPA, kondisi operasi dan
pemanfaatan lahan)
Pengkajian bertujuan untuk mendapatkan batasan wilayah studi,
wilayah pekerjaan dan wilayah pelayanan serta menjelaskan komponen
yang terdapat di dalam wilayah studi dan wilayah pelayanan secara
terinci baik kondisi pada saat ini maupun kondisi pada masa datang. Data
– data tersebut kemudian akan digunakan sebagai dasar pertimbangan
18
dalam penyusunan dokumen Rencana Induk Pengelolaan Sampah
Kabupaten Melawi.
2. Survei dan Pengkajian Sumber Timbulan, Komposisi dan
Karakteristik Sampah
Survei dan pengkajian sumber timbulan, komposisi dan
karakteristik dilakukan sesuai dengan tata cara yang tertera pada SNI 19-
3964-1995 dan SNI M 36-1991-03 tentang Metode Pengambilan dan
Pengukuran Contoh Timbulan dan Komposisi Sampah Perkotaan atau SNI
terbaru. Sampling sampah dilakukan untuk mendapatkan data – data
berikut ini,
b. Data timbulan sampah
Timbulan sampah merupakan kuantitas sampah yang dihasilkan
dari sumber sampah. Timbulan sampah dinyatakan dengan satuan
volume atau satuan berat. Dalam perhitungan timbulan sampah
domestik, sumber sampah terbagi dua yaitu sumber sampah rumah
tangga dan sumber sampah non rumah tangga. Satuan yang akan
digunakan untuk timbulan sampah dari sumber rumah tangga
adalah kg/orang/hari dan liter/orang/hari.
c. Data komposisi sampah
Komposisi sampah merupakan gambaran berbagai jenis sampah
yang dihasilkan oleh kegiatan manusia. Komposisi sampah
umumnya dinyatakan dalam persen berat atau persen volume dari
sampah organik dan berbagai jenis sampah anorganik. Perhitungan
komposisi sampah ini digunakan untuk menentukan pengolahan
yang tepat dan efisien untuk diterapkan dalam sistem pengelolaan
sampah.
Dalam pekerjaan ini komposisi sampah dipilah berdasarkan jenis
sampah yang umum ditemukan di sumber sampah. Dalam
pemilahan, sampah akan dibagi ke dalam delapan kategori dan
kemudian digolongkan lagi secara spesifik. Kategori pemilahan
komposisi sampah didasarkan pada SNI 19-3964-1994 tentang
metode pengambilan dan pengukuran contoh timbulan dan
komposisi sampah perkotaan dan dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Kategori Komposisi Sampah
No. Kategori Jenis
1. Sampah organik Sampah makanan dan tanaman
Botol plastik (PET), kantong kresek, PP, PE,
2. Plastik OPP, sisa HDPE, PS, dan jenis plastik
lainnya
3. Kertas dan Koran, kertas HVS, tetrapack, kardus,
19
kardus karton, bungkus makanan dan sejenisnya
4. Karet dan kulit Karet, kulit dan sejenisnya
5. Kain Kain bekas, perca dan sejenisnya
6. Logam Kaleng aluminium dan besi
Kaca, botol dari kaca, serpihan kaca,
Kaca dan
7. keramik, wadah dari keramik dan serpihan
keramik
keramik
Pampers berkas, pembalut wanita bekas,
Bahan bungkus bekas obat, sampah medis,
8. Berbahaya dan baterai
Beracun (B3) bekas, lampu bekas, sampah elektronik dan
sejenisnya
Sampah – sampah yang tidak memiliki dan
9. Residu sulit baik untuk dimanfaatkan maupun
didaur ulang
3. Survei dan Pengkajian Demografi dan Ketatakotaan
Survei dan pengkajian demografi dan ketatakotaan dilakukan untuk
memenuhi kebutuhan data terkait perencanaan proyeksi persampahan di
Kabupaten/Kota. Data yang akan digunakan dalam mengkaji hal ini
merupakan data – data sekunder yang meliputi,
a. Data kependudukan
Data kependudukan diperlukan untuk mengidentifikasi
masyarakat yang berada di wilayah pelayanan, menghitung
tingkat pelayanan dan lain – lain. Data kependudukan meliputi,
Jumlah penduduk
Kepadatan penduduk
Data kepadatan penduduk perlu dilengkapi dengan peta
kepadatan penduduk yang dapat dibedakan untuk daerah
dengan kepadatan > 100 jiwa/ha, 50 – 100 jiwa/ha dan
daerah dengan kepadatan < 50 jiwa/ha
Persebaran penduduk
Migrasi penduduk per tahun
Penduduk berdasarkan gender
Penduduk usia sekolah
b. Data kondisi sosial ekonomi masyarakat
Data kondisi sosial ekonomi masyarakat diperlukan untuk
menentukan kualitas pengelolaan sampah dan perhitungan tarif
retribusi yang diperoleh dari analisis terhadap kemampuan dan
kemauan membayar masyarakat. Data kondisi sosial ekonomi
20
masyarakat meliputi,
Mata pencaharian masyarakat
Penghasilan masyarakat yang dinyatakan dengan data
pendapatan/KK/bulan
Strata ekonomi yang dapat menggambarkan persentase
kelompok
masyarakat berpenghasilan tinggi, menengah dan rendah.
c. Data tingkat kesehatan masyarakat
Data tingkat kesehatan masyarakat diperlukan sebagai upaya
untuk meningkatkan kualitas pelayanan persampahan di
kawasan rawan sanitasi yang pada umumnya memiliki tingkat
kesehatan yang rendah. Data tingkat kesehatan masyarakat/
penyakit yang diperlukan umumnya yang berkaitan dengan
buruknya kondisi sanitasi lingkungan dan air bersih seperti diare,
tipes, disentri dan ISPA (akibat proses pembakaran sampah
secara terbuka).
d. Rencana Pembangunan/Pengembangan Kota/Ketatakotaan
Data rencana pengembangan kota diperlukan untuk
memberikan gambaran pengembangan kota dalam kurun waktu
perencanaan yang akan digunakan sebagai acuan dalam
menganalisis pengembangan kebutuhan pelayanan
persampahan jangka panjang. Data rencana pengembangan
kota yang dibutuhkan meliputi,
Rencana pengembangan wilayah
Rencana pengembangan jaringan jalan
Rencana pengembangan fasilitas kota
Data – data tersebut perlu dilengkapi dengan peta pengembangan
wilayah, peta jaringan jalan dan peta lainnya yang termasuk dalam
rencana pengembangan kota.
4. Survei dan Pengkajian Biaya, Sumber Pendanaan dan
Keuangan
Survei yang dilakukan untuk mengumpulkan data guna mengkaji
biaya, sumber pendanaan dan keuangan adalah melalui pengumpulan
data sekunder dengan cara melakukan Survei dengan mengunjungi
instansi terkait maupun dengan wawancara. Selain daripada itu
berkenaan dengan Willingness To Pay (kesediaan masyarakat untuk
membayar) dan affordability To Pay (kemampuan finansial untuk
membayar) maka dilakukan survei primer di beberapa Kecamatan di
Kabupaten Melawi dengan cara menyebarkan quesioner ke masyarakat,
data yang akan diperoleh antara lain :
21
Pendapatan masyarakat
Pendapatan tambahan masyarakat
Pengeluaran masyarakat
Sisa uang penghasilan bulanan
Kemampuan membayar iuran
Pengetahuan adanya petugas pengangkut sampah
Jasa Pengangkut sampah
Frekuensi pengangkutan sampah
Kepuasan terhadap layananan sampah
Kesediaan menjadi pelanggan
Cara pembayaran retribusi
Lokasi pembuangan sampah
Besaran iuran yang diharapkan
Adapun untuk data-data sekunder yang akan diperoleh dari instansi
terkait adalah sebagai berikut:
a. Survei Instansi Terkait
Data-data yang diperoleh dari Dinas dinas-dinas terkait
diantaranya:
Pelanggan;
Retribusi;
Biaya timbulan sampah;
Data Personil;
Alternatif Sumber Pembiayaan;
Data laporan keuangan yang berupa Biaya pengelolaan sampah
dan perolehan Retribusi pelayanan persampahan;
Data Alternatif sumber pembiayaan diantaranya dari CSR , hibah
dll.
Data-data yang diperoleh dari BAPPEDA dan BPS
Kemampuan Sumber Pendanaan Daerah berupa data APBD 5
tahun terakhir;
Kemampuan/Kesejahteraan Masyarakat
b. Dokumentasi
Sebagai pendukung, dilakukan juga pencarian data melalui internet
sebagai data/informasi awal untuk diperdalam maupun dikonfirmasi
kepada penerima kerja maupun instansi yang berwenang. Hal
tersebut dilakukan untuk penajaman kualitas pekerjaan.
c. Tata cara survei :
Persiapan
22
Pelaksanaan survei
Analisis
Hasil Analisis
Cara Pengerjaan :
Persiapan: Yang harus dipersiapkan sebelum melakukan survei
lapangan adalah
Surat pengantar untuk melakukan survei;
Peta kota;
Tata cara survei dan manual peralatan yang dipakai;
Penyiapan questioner survei;
Jadwal Pelaksanaan survei;
Prosedur pelaksanaan survei
Pelaksanaan survei
Prosedur pelaksanaan survei :
Serahkan surat izin survei kepada setiap instansi yang
dituju
Lakukan pengumpulan data
Data-data yang diperoleh dari Dinas Lingkungan Hidup diantaranya:
Pelanggan, Retribusi, Biaya timbulan sampah, Data Personil,
Alternatif Sumber Pembiayaan, Data laporan keuangan yang berupa
Biaya pengelolaan sampah dan perolehan Retribusi pelayanan
persampahan, Data Alternatif sumber pembiayaan diantaranya dari
CSR , hibah dan lainnya. Data-data yang diperoleh dari BAPPERIDA
dan BPS: Kemampuan Sumber Pendanaan Daerah berupa data
APBD 5 tahun terakhir, Kemampuan/Kesejahteraan Masyarakat.
Analisis
Prosedur analisis :
Analisis perkembangan kondisi APBD dan alokasi APBD untuk
pengelolaan sampah
Analisis perkembangan kondisi alokasi pendanaan
pengadaan prasarana dan sarana penanganan sampah
(belanja modal)
Analisis perkembangan kondisi alokasi pendanaan untuk
operasional dan pemeliharaan (belanja rutin)
Analisis perkembangan besaran iuran,tarif, retribusi
berdasarkan perubahan yang terjadi;
Analisis kondisi mekanisme pemungutan retribusi oleh
perangkat daerah dalam kegiatan penanganan sampah ;
Analisis kondisi mekanisme pemungutan iuran untuk
23
kegiatan pengumpulan sampah
Analisis Kondisi efektifitas pemungutan (jumlah wajib bayar
dan jumlah wajib bayar membayar retribusi)
Perkembangan kondisi pendapatan retribusi
Pendapatan dari sumber potensial lain (bauran pendanaan)
Hasil Analisis
Rasio antara alokasi belanja untuk PS dengan APBD total
Kab./Kota;
Nilai APBD untuk pengelolaan sampah 5 tahun terakhir
yang dialokasikan untuk belanja modal (dari DPA DLH, DPA
DPU);
Proyeksi kebutuhan belanja modal untuk peningkatan
kinerja PS selama tahun perencanaan RISPS;
Nilai APBD untuk pengelolaan sampah 5 tahun terakhir
yang digunakan ntuk belanja operasional dan pemeliharaan
rutin;
Biaya satuan OP PS (Rp./ton) 5 tahun terakhir;
Gap antara alokasi dana APBD untuk belanja operasional
dan pemeliharaan dengan kebutuhan belanja untuk
mencapai target;
Proyeksi kebutuhan belanja operasional dan pemeliharaan
untuk peningkatan kinerja PS selama tahun perencanaan
RISPS;
Proyeksi biaya satuan penanganan sampah (Rp./ton)
selama tahun perencanaan RISPS;
mekanisme penarikan retribusi pelayanan sampah yang
dilakukan oleh perangkat daerah saat ini;
kebutuhan peningkatan sistem/mekanisme pemungutan
retribusi;
mekanisme penarikan iuran pelayanan pengumpulan
sampah yang dilakukan oleh diluar perangkat daerah saat
ini;
kebutuhan peningkatan sistem/mekanisme terintegrasi
antara pemungutan iuran dan retribusi;
data jumlah wajib bayar retribusi;
data jumlah wajib bayar yang membayar retribusi;
efektifitas pemungutan (jumlah wajib bayar dan jumlah
wajib bayar membayar retribusi);
data pendapatan retribusi 5 tahun terakhir;
proyeksi besaran tarif retribusi dan pendapatan selama
tahun perencanaan RISPS;
24
potensi bauran pendanaan dalam pengelolaan sampah
(dana CSR, kerjasama dengan swasta/mitra/pengelola
kawasan dan masyarakat);
Perbandingan antara pendapatan asli daerah, bagian
daerah dari pajak bumi dan bangunan, penerimaan sumber
daya alam dan bagian daerah lainnya serta dana alokasi
umum setelah dikurangi belanja wajib, dengan
penjumlahan angsuran pokok, bunga dan biaya pinjaman
lainnya.
BAB III
DESKRIPSI DAERAH PERENCANAAN
A. DAERAH RENCANA
Daerah perencanaan pada pekerjaan penyusunan Rencana Induk
Pengelolaan Sampah (RIPS) adalah seluruh wilayah dalam lingkup
administratif Kabupaten Melawi terdiri atas 11 Kecamatan dengan 169
Desa.
Tabel 2. Lingkup Wilayah Kabupaten Melawi
No Kecamatan Jumlah
.
1. Sokan 18
2. Tanah Pinoh 12
3. Tanah Pinoh Barat 10
4. Sayan 18
5. Belimbing 17
6. Belimbing Hulu 8
7. Nanga Pinoh 17
8. Pinoh Selatan 12
25
9. Pinoh Utara 19
10. Ella Hilir 19
11. Menukung 19
Kabupaten Melawi 169
(Sumber: Kabupaten Melawi dalam Angka
2026, Badan Pusat Statistik)
B. KONDISI WILAYAH
Batas wilayah administratif Kabupaten Melawi berdasarkan
Peraturan Daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten
Melawi Tahun 2016 - 2036 adalah sebagai berikut:
Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Sintang;
Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Seruyan dan
Kabupaten Katingan Provinsi Kalimantan Tengah;
Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Sintang; dan
Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Ketapang dan
Kabupaten Sintang.
1. Letak Geografis
Kabupaten Melawi merupakan salah satu kabupaten yang terdapat
di provinsi Kalimantan Barat berjarak 400 km dari Ibukota Provinsi.
Secara astronomis, Kabupaten Melawi terletak antara 0 007’ Lintang
Selatan dan 1021’ Lintang Selatan, dan antara 111 007’ dan 112027’ Bujur
Timur. Kabupaten Melawi dengan luas daerah 10.640,80 km2 merupakan
kabupaten terluas ke-5 di Provinsi Kalimantan Barat atau menyumbang
sekitar 7,22% dari luas Provinsi Kalimantan Barat dengan kepadatan
penduduk rata-rata 23 jiwa per km2.
Tabel 3. Luas Daerah dan Kecamatan Kabupaten Melawi
Nama Ibu Kota Luas Persentase
No.
Kecamatan Kecamatan (km2) (%)
1. Sokan Nanga Sokan 1.577,2 14,80
2. Belimbing Pemuar 1.238 11,63
3. Pinoh Utara Tekelak 890 8,36
4. Tanah Pinoh Kota Baru 739,3 6,95
5. Belimbing Hulu Tiong Keranjik 454 4,27
6. Tanah Pinoh Barat Ulak Muid 829 7,79
7. Ella Hilir Ella Hilir 1.136,7 10,71
26
8. Nanga Pinoh Melawi 617,2 5,80
9. Menukung Menukung Kota 1.062,1 9,98
10. Sayan Nanga Sayan 1.166,3 10,96
11. Pinoh Selatan Manggala 931 8,75
Kabupaten Melawi 10.640,8 100
(Sumber: Kabupaten Melawi dalam Angka 2026, Badan Pusat
Statistik)
2. Topografi
Berdasarkan ketinggian wilayahnya, Kabupaten Melawi memiliki
tinggi wilayah antara 36 mdpl hingga 140 mdpl. Kecamatan dengan
ketinggian terendah adalah di Kecamatan Pinoh Utara dan kecamatan
dengan ketinggian tertinggi adalah Kecamatan Sokan. Untuk lebih
jelasnya lihat tabel berikut.
Tabel 4. Tinggi Wilayah per Kecamatan di Kabupaten Melawi, 2025
No Kecamatan Tinggi Wilayah
. (mdpl)
1. Sokan 95
2. Tanah Pinoh 89
3. Tanah Pinoh Barat 98
4. Sayan 76
5. Belimbing 40
6. Belimbing Hulu 51
7. Nanga Pinoh 38
8. Pinoh Selatan 40
9. Pinoh Utara 36
10. Ella Hilir 52
11. Menukung 48
(Sumber: Kabupaten Melawi dalam Angka 2026, Badan
Pusat Statistik)
3. Klimatologi
Hasil pengamatan unsur iklim menurut bulan menurut Badan Meteorologi
Klimatologi dan Geofisika Kabupaten Melawi dapat dilihat pada tabel
Melawi berikut ini.
Tabel 5. Suhu dan Kelembaban Wilayah di Kabupaten Melawi, 2025
No Bulan Suhu (0C) Kelembaban (%)
. Min Rata Maks Min Rata Maks
1. Januari 23,60 27,54 35,10 50,00 82,42 97,00
2. Februari 23,70 27,86 34,80 52,00 82,35 99,00
27
3. Maret 23,10 28,14 36,20 46,00 81,53 98,00
4. April 23,40 28,24 35,80 48,00 82,46 98,00
5. Mei 23,30 28,07 35,90 51,00 84,60 98,00
6. Juni 23,40 27,76 35,50 46,00 81,74 98,00
7. Juli 22,40 27,58 36,20 53,00 80,28 97,00
8. Agustus 22,60 27,38 35,60 73,00 81,19 90,75
9. September 22,40 28,02 37,50 65,75 76,44 88,75
10 Oktober 22,10 27,68 35,70 74,25 80,60 90,00
11. November 23,30 27,30 34,60 78,5 82,90 86,50
12 Desember 22,60 27,39 35,10 77,00 82,19 86,25
C. KONDISI SOSIAL EKONOMI, BUDAYA DAN KESEHATAN
MASYARAKAT
1. Kependudukan
Jumlah penduduk dan laju pertumbuhan Kabupaten Melawi pada masing –
masing kecamatan dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 6. Laju Pertumbuhan Penduduk per Tahun Menurut Kecamatan di
Kabupaten Melawi, 2025
Laju
Jumlah Pertumbuhan
No Kecamatan Penduduk (jiwa) Penduduk per
. Tahun 2024-
2025 (%)
1. Sokan 16.852 0,25
2. Tanah Pinoh 17.812 0,19
3. Tanah Pinoh Barat 13.510 0,35
4. Sayan 18.537 0,26
5. Belimbing 25.088 0,31
6. Belimbing Hulu 10.843 0,22
7. Nanga Pinoh 53.301 0,30
8. Pinoh Selatan 11.604 0,26
9. Pinoh Utara 14.489 0,29
10. Ella Hilir 18.888 0,23
11. Menukung 19.587 0,37
Kabupaten Melawi 220.511 0,28
Sumber : Kabupaten Melawi dalam Angka 2026
28
Persentase penduduk dan kepadatan penduduk per km 2 pada masing-
masing kecamatan Kabupaten Melawi dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 7. Kepadatan Penduduk per Kecamatandi Kabupaten Melawi, 2025
Kepadatan
Persentase Penduduk per
No Kecamatan Penduduk km2
.
1. Sokan 7,64 10,68
2. Tanah Pinoh 8,08 24,09
3. Tanah Pinoh Barat 6,13 16,30
4. Sayan 8,41 15,89
5. Belimbing 11,38 20,26
6. Belimbing Hulu 4,92 23,88
7. Nanga Pinoh 24,17 86,36
8. Pinoh Selatan 5,26 12,46
9. Pinoh Utara 6,57 16,28
10. Ella Hilir 8,57 16,62
11. Menukung 8,88 18,44
Kabupaten Melawi 100 20,72
Sumber : Kabupaten Melawi dalam Angka 2026
Jumlah penduduk berdasarkan kelompok umur dan gender di Kabupaten
Melawi dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 8. Jumlah Penduduk Berdasarkan Kelompok Umur dan Gender di
Kabupaten Melawi, 2025
No Kelompok Umur Jenis Kelamin
. Laki-Laki Perempuan Jumlah Total
1. 0-4 7.563 7.013 14.576
2. 5-9 9.723 9.213 18.936
3. 10-14 10.417 9.628 20.045
4. 15-19 9.809 9.231 19.040
5. 20-24 9.628 9.263 18.891
6. 25-29 9.411 8.798 18.209
7. 30-34 8.676 8.270 16.946
8. 35-39 9.087 8.932 18.019
9. 40-44 9.052 8.502 17.554
10. 45-49 8.314 7.578 15.892
11. 50-54 6.175 5.545 11.720
12. 55-59 5.325 4.993 10.318
13. 60-64 3.851 3.578 7.429
14. 65-69 3.007 2.873 5.880
15. 70-74 1.727 1.495 3.222
16. 75+ 2.046 1.788 3.834
29
Kabupaten Melawi 113.811 106.700 220.511
Sumber : Kabupaten Melawi dalam Angka 2026
Persentase penduduk berumur 15 tahun ke atas menurut jenis kegiatan
(status ketenagakerjaan) dan gender di Kabupaten Melawi dapat dilihat
pada tabel berikut.
Tabel 9. Persentase Penduduk Berumur 15 Tahun ke Atas menurut Jenis
Kegiatan (Status Ketenagakerjaan) dan Gender di Kabupaten Melawi,
2025
No Kegiatan Utama Jenis Kelamin
. Laki-Laki Perempuan Laki-Laki+Perempuan
I. Angkatan kerja 85.076 55.836 140.912
1. Bekerja 83.028 53.746 136.774
2. Pengangguran terbuka 2.048 2.090 4.138
II. Bukan angkatan kerja 12.130 35.977 48.107
1. Sekolah 5.846 6.770 12.616
2. Mengurus rumah tangga 3.310 27.843 31.153
3. Lainnya 2.974 1.364 4.338
Jumlah/Total 97.206 91.813 189.019
Sumber : Kabupaten Melawi dalam Angka 2026
BAB IV
STRATEGI PENGEMBANGAN SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH
A. Kebijakan dan Strategi Pengembangan Sistem Pengelolaan
Sampah
Pengembangan sistem pengelolaan sampah di Kabupaten Melawi
diarahkan untuk mewujudkan pelayanan persampahan yang efektif,
30
efisien, dan berkelanjutan melalui pendekatan terpadu dari hulu (sumber
sampah) hingga hilir (Tempat Pemrosesan Akhir/TPA).
Kebijakan dan strategi ini disusun dengan mempertimbangkan
kondisi eksisting persampahan, karakteristik wilayah, kemampuan
pendanaan daerah, serta peran masyarakat dan dunia usaha. Pendekatan
yang digunakan meliputi pengurangan sampah di sumber, peningkatan
penanganan sampah, serta penguatan kelembagaan dan pembiayaan.
1. Visi dan Misi
Visi:
Terwujudnya sistem pengelolaan persampahan Kabupaten Melawi yang
bersih, sehat, berkelanjutan, dan berbasis partisipasi masyarakat.
Misi:
Meningkatkan cakupan dan kualitas pelayanan persampahan.
Mengurangi timbulan sampah melalui penerapan prinsip 3R (Reduce,
Reuse, Recycle).
Mengembangkan sarana dan prasarana persampahan yang memadai.
Meningkatkan kapasitas kelembagaan dan sumber daya manusia.
Mendorong peran aktif masyarakat dan dunia usaha dalam
pengelolaan sampah.
2. Kebijakan
Kebijakan pengelolaan persampahan di Kabupaten Melawi meliputi:
a. Kebijakan Pengurangan Sampah
Mendorong pemilahan sampah dari sumber (rumah tangga, fasilitas
umum).
Pengembangan kegiatan 3R melalui bank sampah dan TPS 3R.
Pembatasan penggunaan bahan sekali pakai, khususnya plastik.
b. Kebijakan Penanganan Sampah
Peningkatan sistem pengumpulan dan pengangkutan sampah.
Pengembangan fasilitas pengolahan sampah.
Peningkatan pengelolaan TPA menuju sistem sanitary landfill.
31
c. Kebijakan Pengembangan Sarana dan Prasarana
Penyediaan sarana pewadahan sampah terpilah.
Penambahan TPS, TPS 3R, dan armada pengangkutan.
Pengembangan fasilitas pengolahan dan pemrosesan akhir.
d. Kebijakan Kelembagaan dan SDM
Penguatan peran organisasi perangkat daerah (DLH).
Peningkatan kapasitas SDM melalui pelatihan dan pembinaan.
Penguatan koordinasi antar instansi terkait.
e. Kebijakan Pembiayaan
Optimalisasi penggunaan APBD untuk sektor persampahan.
Pemanfaatan dana dari pemerintah pusat (APBN/DAK).
Pengembangan kerjasama dengan pihak swasta (KPBU).
Peningkatan retribusi pelayanan persampahan.
f. Kebijakan Partisipasi Masyarakat
Peningkatan kesadaran masyarakat melalui edukasi dan sosialisasi.
Pelibatan masyarakat dalam pengelolaan sampah berbasis komunitas.
Pengembangan bank sampah dan kelompok swadaya masyarakat.
g. Kebijakan Regulasi dan Pengawasan
Penyusunan dan penegakan peraturan daerah tentang persampahan.
Penyusunan standar operasional prosedur (SOP).
Pengawasan dan penegakan hukum terhadap pelanggaran
persampahan.
B. TUJUAN DAN TARGET PENANGANAN
Tujuan dan target penanganan persampahan di Kabupaten Melawi
disusun sebagai arah dan tolok ukur dalam pengembangan sistem
pengelolaan sampah yang efektif, efisien, dan berkelanjutan. Penetapan
target dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi
eksisting, kemampuan daerah, serta kebijakan nasional di bidang
persampahan.
1. Tujuan Penanganan Persampahan
32
Tujuan pengelolaan persampahan di Kabupaten Melawi adalah sebagai
berikut:
Meningkatkan cakupan pelayanan persampahan : Mewujudkan
pelayanan pengelolaan sampah yang merata, terutama pada kawasan
perkotaan dan permukiman padat.
Mengurangi timbulan sampah dari sumber : Mendorong penerapan
prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) guna mengurangi volume
sampah yang diangkut ke TPA.
Meningkatkan kualitas lingkungan hidup : Mengurangi pencemaran
lingkungan akibat sampah serta meningkatkan kebersihan dan
kesehatan masyarakat.
Meningkatkan efektivitas sistem pengelolaan sampah :
Mengoptimalkan sistem pengumpulan, pengangkutan, pengolahan,
dan pemrosesan akhir sampah.
Meningkatkan peran serta masyarakat : Mendorong keterlibatan aktif
masyarakat dalam pengelolaan sampah berbasis lingkungan.
2. Target Penanganan Persampahan
Target penanganan persampahan ditetapkan secara bertahap dalam
jangka waktu perencanaan, sebagai berikut:
a. Target Jangka Pendek (1–2 Tahun)
Fokus pada perbaikan sistem dasar pelayanan persampahan:
Cakupan pelayanan persampahan mencapai 40–50%
Penyediaan sarana dasar (TPS, tempat sampah, gerobak)
Peningkatan kesadaran masyarakat melalui sosialisasi
Pembentukan dan pengembangan bank sampah
b. Target Jangka Menengah (3–5 Tahun)
Fokus pada peningkatan kapasitas dan kualitas pelayanan:
Cakupan pelayanan meningkat menjadi 60–70%
Pengembangan TPS 3R di wilayah prioritas
Penambahan armada pengangkutan sampah
Pengurangan sampah melalui 3R mencapai 15–20%
Penurunan signifikan titik pembuangan sampah liar
33
c. Target Jangka Panjang (± 10-20 Tahun)
Fokus pada sistem pengelolaan yang berkelanjutan:
Cakupan pelayanan mencapai 70–80%
Pengurangan sampah melalui 3R mencapai 20–30%
Seluruh kawasan perkotaan terlayani secara optimal
Pengelolaan TPA dengan sistem ramah lingkungan (sanitary landfill)
3. Indikator Kinerja Penanganan Persampahan
Untuk mengukur pencapaian tujuan dan target, digunakan indikator
sebagai berikut:
Tabel 10. Indikator Kinerja Penanganan Sampah
No Indikator Satuan Target
.
1. Cakupan pelayanan % 80-100%
persampahan
2. Pengurangan sampah (3R) % 20-30%
3. Jumlah TPS 3R Unit Meningkat
4. Jumlah armada pengangkut Unit Bertambah
5. Titik sampah liar Lokasi Menurun
6. Partisipasi Masyarakat % >70%
C. PENGEMBANGAN DAERAH PELAYANAN
1. Gambaran Umum Wilayah Pelayanan
Kabupaten Kabupaten Melawi memiliki karakteristik wilayah yang
didominasi oleh kawasan perdesaan dengan sebaran penduduk yang
tidak merata serta aksesibilitas yang bervariasi. Pusat kegiatan berada di
Kecamatan Nanga Pinoh sebagai kawasan perkotaan, sementara
kecamatan lainnya didominasi oleh wilayah perdesaan.
Kondisi ini menyebabkan pelayanan persampahan belum menjangkau
seluruh wilayah, sehingga diperlukan strategi pengembangan daerah
pelayanan yang bertahap dan berbasis prioritas.
2. Arah Pengembangan Daerah Pelayanan
34
Arah pengembangan pelayanan persampahan di Kabupaten Melawi
adalah sebagai berikut:
a. Prioritas pelayanan di kawasan perkotaan
Kecamatan Nanga Pinoh sebagai pusat pemerintahan dan ekonomi
ditargetkan mencapai pelayanan 100%.
b. Perluasan pelayanan ke kawasan peri-urban
Kecamatan yang berbatasan atau dekat dengan pusat kota (misalnya
Pinoh Selatan, Pinoh Utara) menjadi prioritas tahap kedua.
c. Pengembangan sistem berbasis masyarakat di wilayah perdesaan
Kecamatan dengan akses terbatas diarahkan pada pengelolaan mandiri
(TPS 3R, komposting, bank sampah).
d. Pendekatan berbasis kawasan
Pengelolaan sampah dilakukan per desa/kelurahan dengan dukungan
sarana minimal.
3. Pembagian Zona Pelayanan
Pengembangan daerah pelayanan dibagi menjadi 3 zona utama:
a. Zona I (Perkotaan – Pelayanan Intensif)
Wilayah: Kecamatan Nanga Pinoh
Target pelayanan: 100%
Sistem:
- Pengumpulan harian
- Pengangkutan rutin ke TPS/TPA
- Penyediaan TPS 3R dan depo
b. Zona II (Peri-Urban – Pelayanan Menengah)
Wilayah:
- Kecamatan Pinoh Utara
- Kecamatan Pinoh Selatan
- Kecamatan Belimbing
- Target pelayanan: 70–90%
Sistem:
35
- Pengumpulan terjadwal
- TPS 3R berbasis kawasan
- Dukungan armada terbatas
c. Zona III (Perdesaan – Pelayanan Dasar)
Wilayah:
- Kecamatan Ella Hilir
- Kecamatan Menukung
- Kecamatan Sayan
- Kecamatan Tanah Pinoh
- Kecamatan Tanah Pinoh Barat
- Kecamatan Belimbing Hulu
Target pelayanan: 50–70%
Sistem:
- Pengelolaan mandiri oleh masyarakat
- Komposting dan pengurangan di sumber
- Pengangkutan periodik (jika memungkinkan)
4. Tahapan Pengembangan Pelayanan
a. Tahap I (Jangka Pendek: 1–2 Tahun)
- Optimalisasi pelayanan di Kecamatan Nanga Pinoh
- Penambahan armada pengangkut dan tenaga operasional
- Penyediaan tempat sampah terpilah di fasilitas umum
- Edukasi masyarakat terkait pemilahan sampah
b. Tahap II (Jangka Menengah: 3–5 Tahun)
- Perluasan pelayanan ke Kecamatan Pinoh Utara, Pinoh Selatan, dan
Belimbing
- Pembangunan TPS 3R di kecamatan prioritas
- Pembentukan bank sampah di desa/kelurahan
c. Tahap III (Jangka Panjang: ± 10-20 Tahun)
- Perluasan pelayanan ke seluruh kecamatan
36
- Penguatan sistem pengolahan sampah berbasis kawasan
- Integrasi sistem dari sumber hingga TPA
5. Strategi Pengembangan Daerah Pelayanan
a. Peningkatan Sarana dan Prasarana
- Penambahan armada (truk, motor sampah)
- Pembangunan TPS 3R di setiap kecamatan prioritas
- Penyediaan kontainer dan bak sampah
b. Optimalisasi Sistem Pengangkutan
- Penentuan rute efisien khususnya di kawasan Nanga Pinoh
- Penjadwalan layanan sesuai zona
c. Pemberdayaan Masyarakat
- Pengembangan bank sampah desa
- Edukasi 3R (Reduce, Reuse, Recycle)
- Pelibatan kelompok masyarakat dan sekolah
d. Penguatan Kelembagaan
- Pembentukan unit pengelola sampah di tingkat kecamatan/desa
- Peningkatan kapasitas SDM persampahan
e. Kemitraan dan Pembiayaan
- Kerjasama dengan swasta/CSR
- Dukungan dana dari APBD dan sumber lainnya
Tabel 11. Indikator Pengembangan Pelayanan
No. Indikator Satuan Target Akhir
1. Cakupan pelayanan % 80-100%
persampahan
2. Wilayah perkotaan terlayani % 100%
3. Wilayah peri-urban terlayani % 70-90%
4. Wilayah perdesaan terlayani % 50-70%
5. Jumlah TPS 3R Unit Meningkat
6. Bank sampah aktif Unit Meningkat
37
6. Peta/Zona Pelayanan (Narasi Spasial)
Secara spasial, pengembangan daerah pelayanan persampahan di
Kabupaten Kabupaten Melawi mengikuti pola konsentris dan koridor
sungai/jalan utama, dengan pusat pelayanan berada di kawasan
perkotaan dan menyebar ke wilayah pinggiran serta perdesaan.
a. Struktur Spasial Pelayanan
Struktur pelayanan persampahan dibentuk berdasarkan:
Pusat pelayanan utama (core area) di Kecamatan Nanga Pinoh
Koridor pengembangan mengikuti jaringan jalan utama dan aliran
sungai (khususnya Sungai Melawi)
Wilayah hinterland (pendukung) di kecamatan sekitar
Wilayah terpencil dengan akses terbatas
Pola ini mencerminkan kondisi geografis Melawi yang dipengaruhi oleh:
Sebaran permukiman yang memanjang mengikuti sungai
Keterbatasan infrastruktur jalan di beberapa wilayah
Jarak antar kecamatan yang relatif jauh
b. Zona Pelayanan Berdasarkan Spasial
Zona Inti (Urban Core)
Berpusat di Kecamatan Nanga Pinoh
Meliputi kawasan permukiman padat, pasar, perkantoran, dan fasilitas
umum
Memiliki akses jalan yang relatif baik
Karakteristik:
Timbulan sampah tinggi
Pelayanan intensif (harian)
Lokasi prioritas penempatan TPS/Depo
Zona Peri-Urban (Koridor Pengembangan)
Meliputi wilayah sepanjang:
- Nanga Pinoh – Pinoh Selatan
38
- Nanga Pinoh – Pinoh Utara
- Nanga Pinoh – Belimbing
Karakteristik:
Pertumbuhan permukiman baru
Akses jalan cukup memadai
Potensi pengembangan TPS 3R berbasis kawasan
Pendekatan spasial:
Sistem pelayanan berbasis koridor jalan utama
Titik kumpul sampah ditempatkan pada simpul permukiman
Zona Perdesaan (Hinterland dan Terpencil)
Meliputi kecamatan:
- Sayan
- Ella Hilir
- Menukung
- Tanah Pinoh
- Tanah Pinoh Barat
- Belimbing Hulu
Karakteristik:
Permukiman tersebar dan berjauhan
Akses terbatas (sebagian melalui sungai)
Timbulan sampah relatif rendah
Pendekatan spasial:
Pengelolaan berbasis desa (on-site)
Minim pengangkutan ke TPA
Pemanfaatan lahan lokal untuk pengolahan (komposting, dan lainnya)
c. Sistem Jaringan Pelayanan
Secara spasial, sistem pelayanan persampahan di Kabupaten Melawi
terbagi menjadi:
Sistem Pengumpulan
39
- Dilakukan dari sumber (rumah tangga, pasar, fasilitas umum)
- Menggunakan gerobak/motor sampah
- Pola:
Door to door (perkotaan)
Komunal (perdesaan)
Sistem Pengangkutan
- Dari TPS menuju TPA
- Menggunakan truk sampah
- Mengikuti:
Jalur utama jalan darat
Koridor dengan akses terbaik
Sistem Pengolahan
- TPS 3R ditempatkan pada:
Kawasan padat penduduk
Wilayah peri-urban
- Pengolahan skala kecil di desa
d. Lokasi Prioritas Pengembangan
Berdasarkan analisis spasial, lokasi prioritas meliputi:
Kawasan pusat kota Nanga Pinoh
Penambahan TPS/Depo
Optimalisasi pengangkutan
Koridor pengembangan (Pinoh Utara, Pinoh Selatan, Belimbing)
Pembangunan TPS 3R
Perluasan layanan
Kawasan rawan pencemaran (dekat sungai)
Edukasi dan intervensi pengurangan sampah
Penyediaan fasilitas pengumpulan
Wilayah perdesaan prioritas
40
Desa dengan jumlah penduduk tinggi
Desa yang dekat akses jalan utama
D. PEMBAGIAN ZONA PELAYANAN
1. Dasar Pembagian Zona Pelayanan
Pembagian zona pelayanan persampahan di Kabupaten Kabupaten
Melawi dilakukan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelayanan
dengan mempertimbangkan:
- Kepadatan penduduk
- Tingkat timbulan sampah
- Kondisi geografis dan aksesibilitas
- Ketersediaan sarana dan prasarana
- Jarak terhadap TPA
- Karakteristik wilayah (perkotaan, peri-urban, perdesaan)
Pendekatan zonasi ini bertujuan agar sistem pelayanan dapat disesuaikan
dengan kondisi masing-masing wilayah.
2. Pembagian Zona Pelayanan
Berdasarkan analisis wilayah, Kabupaten Melawi dibagi menjadi 3 (tiga)
zona pelayanan utama:
1. Zona I – Pelayanan Intensif (Perkotaan)
Wilayah:
- Kecamatan Nanga Pinoh
Karakteristik:
- Kepadatan penduduk tinggi
- Pusat pemerintahan, perdagangan, dan jasa
- Timbulan sampah tinggi
Sistem Pelayanan:
- Pengumpulan: setiap hari (door to door)
- Pengangkutan: rutin menggunakan truk sampah
- Pengolahan: TPS 3R
41
Pewadahan: tempat sampah terpilah
Target Pelayanan:
100% wilayah terlayani
2. Zona II – Pelayanan Menengah (Peri-Urban)
Wilayah:
- Kecamatan Pinoh Utara
- Kecamatan Pinoh Selatan
- Kecamatan Belimbing
Karakteristik:
- Kepadatan sedang
- Pertumbuhan permukiman
- Akses jalan cukup memadai
Sistem Pelayanan:
- Pengumpulan: terjadwal (2–3 kali/minggu)
- Pengangkutan: terbatas (sesuai kebutuhan)
- Pengolahan: TPS 3R berbasis kawasan
- Pewadahan: komunal dan rumah tangga
Target Pelayanan:
70–90% wilayah terlayani
3. Zona III – Pelayanan Dasar (Perdesaan)
Wilayah:
- Kecamatan Sayan
- Kecamatan Ella Hilir
- Kecamatan Menukung
- Kecamatan Tanah Pinoh
- Kecamatan Tanah Pinoh Barat
- Kecamatan Belimbing Hulu
Karakteristik:
42
- Kepadatan rendah
- Permukiman tersebar
- Akses terbatas (jalan dan/atau sungai)
Sistem Pelayanan:
- Pengelolaan mandiri berbasis masyarakat
- Komposting dan pengurangan di sumber
- Pengangkutan periodik (jika tersedia)
- Pemanfaatan TPS sederhana
Target Pelayanan:
50–70% wilayah terlayani
Tabel 12. Pendekatan Pelayanan per Zona
Zona Pendekatan Fokus
Utama
Zona I Sistem terpusat Pelayanan maksimal dan pengangkutan
rutin
Zona II Kombinasi Pengolahan kawasan + pengangkutan
terbatas
Zona III Desentralisasi Pengelolaan mandiri berbasis masyarakat
3. Strategi Pengembangan per Zona
Zona I:
- Penambahan armada dan TPS
- Optimalisasi rute pengangkutan
- Penguatan pemilahan sampah
Zona II:
- Pembangunan TPS 3R
- Pengembangan bank sampah
43
- Perluasan cakupan layanan
Zona III:
- Edukasi dan pemberdayaan masyarakat
- Pengembangan komposting rumah tangga
- Penyediaan sarana sederhana
4. Arah Pengembangan Zonasi
Pengembangan zona pelayanan dilakukan secara bertahap:
- Tahap awal: Optimalisasi Zona I
- Tahap menengah: Perluasan ke Zona II
- Tahap akhir: Penguatan Zona III berbasis masyarakat
Dengan pendekatan ini, diharapkan seluruh wilayah Kabupaten Melawi
dapat terlayani secara bertahap dan berkelanjutan.
Tabel 13. Indikator Keberhasilan Zonasi
No. Indikator Target
1. Cakupan pelayanan Zona I 100%
2. Cakupan pelayanan Zona II 70-90%
3. Cakupan pelayanan Zona III 50-70%
4. Penurunan sampah ke TPA 20-30%
5. Peningkatan partisipasi masyarakat ≥70%
E. PERHITUNGAN KEBUTUHAN PRASARANA DAN SARANA
PENGELOLAAN SAMPAH
1. Perhitungan Proyeksi Timbulan Sampah
Perhitungan proyeksi timbulan sampah di Kabupaten Melawi pada
umumnya didasarkan pada jumlah penduduk, laju pertumbuhan
penduduk, dan besaran timbulan sampah per kapita pada masing-masing
kecamatan. Semakin besar jumlah penduduk dan tingkat
pertumbuhannya, maka semakin besar pula volume sampah yang
dihasilkan.
44
Langkah pertama yang dilakukan adalah menghitung proyeksi
jumlah penduduk pada tahun rencana. Proyeksi penduduk dapat dihitung
menggunakan metode geometrik, yaitu dengan memperhatikan jumlah
penduduk awal dan rata-rata pertumbuhan penduduk setiap tahun. Hasil
proyeksi jumlah penduduk ini kemudian digunakan sebagai dasar dalam
menghitung jumlah timbulan sampah. Dalam rencana induk ini, proyeksi
penduduk selama 20 tahun mendatang. Kriteria proyeksi penduduk
metode geometri adalah sebagai berikut:
• Rasio pertambahan penduduk cenderung konstan
• Pertumbuhan penduduk menggunakan dasar bunga majemuk
• Kota tua dengan pertumbuhan penduduk yang lambat
Berikut ini merupakan rumus proyeksi jumlah penduduk metode geometri
:
( )
1
Pn n
r= -1
P0
Dimana :
Pn : jumlah penduduk pada tahun yang direncanakan
P0 : jumlah penduduk pada akhir tahun dasar
r : rata-rata laju pertumbuhan penduduk per tahun
n : jumlah tahun dari awal proyeksi
Mengacu pada data jumlah penduduk Kabupaten Melawi dari Data
Badan Pusat Statistik Kabupaten Melawi Dalam Angka 2026 dengan laju
pertumbuhan penduduk 0,28%, berikut merupakan hasil perhitungan
proyeksi jumlah penduduk yang ditampilkan secara ringkas pada tahun-
tahun yang menjadi target capaian.
Tabel 14. Proyeksi Pertumbuhan Penduduk Kabupaten Melawi
No Kecamatan 2025 2026 2030 2035 2040 2045
.
1. Sokan 16.852 16.899 17.089 17.330 17.574 17.821
2. Tanah Pinoh 17.812 17.862 18.063 18.317 18.575 18.836
3. Tanah Pinoh 13.510 13.548 13.700 13.893 14.089 14.287
45
Barat
4. Sayan 18.537 18.589 18.798 19.063 19.331 19.603
5. Belimbing 25.088 25.158 25.441 25.799 26.163 26.531
6. Belimbing 10.843 10.873 10.996 11.150 11.307 11.467
Hulu
7. Nanga Pinoh 53.301 53.450 54.051 54.812 55.584 56.367
8. Pinoh Selatan 11.604 11.636 11.767 11.933 12.101 12.271
9. Pinoh Utara 14.489 14.530 14.693 14.900 15.110 15.322
10. Ella Hilir 18.888 18.941 19.154 19.424 19.697 19.974
11. Menukung 19.587 19.642 19.863 20.142 20.426 20.714
Untuk pengembangan pengelolaan persampahan pada waktu yang
akan mendatang, proyeksi timbulan sampah yang sesuai dengan periode
perencanaan merupakan hal penting untuk proyeksi kebutuhan sarana
dan prasarana persampahan serta komponen lain dalam pengelolaan
sampah. Timbulan sampah pada waktu yang akan mendatang secara
teoritis dapat diestimasi melalui data kronologis tiap tahunnya, bahkan
semakin banyak datanya maka akan semakin dapat diprediksi (akurat).
Namun, dalam hal ini Kabupaten Melawi metode tersebut akan sulit
dilakukan, dikarenakan data kronologis yang ada tidak tersedia secara
lengkap dalam kurun waktu sebelumnya. Oleh karena itu, timbulan
sampah hanya dipengaruhi oleh jumlah penduduk pada wilayah tersebut
yang secara umum dianggap sebagai perubahan sumber sampah.
Proyeksi timbulan sampah dilakukan untuk mendapatkan besaran
timbulan sampah yang digunakan dalam perencanaan dan pengolahan
sampah. Besaran timbulan diambil dari lokasi pengambilan tepilih, untuk
diukur volumenya, ditimbang serta diukur komposisinya. Proyeksi
timbulan sampah diperoleh dari pertumbuhan penduduk dikali dengan
jumlah sampah per kapita per hari merujuk pada Standar Nasional
Indonesia (SNI) 19-3983-1995, atau: “Timbulan sampah = Pertumbuhan
Penduduk x Jumlah sampah per kapita per hari”. Adapun perhitungan
proyeksi timbulan sampah di Kabupaten Melawi seperti Tabel Berikut:
Tabel 15. Proyeksi Timbulan Sampah Kabupaten Melawi
Tahun Jumlah Timbulan Timbulan Timbulan
Penduduk Sampah Sampah Sampah
46
ton/hari ton/bulan ton/tahu
n
2025 220.511 88,20 2.646 32.195
2026 221.128 88,45 2.654 32.285
2027 221.748 88,70 2.661 32.375
2028 222.368 88,95 2.668 32.466
2029 222.991 89,20 2.676 32.557
2030 223.615 89,45 2.683 32.648
2031 224.242 89,70 2.691 32.739
2032 224.869 89,95 2.698 32.831
2033 225.499 90,20 2.706 32.923
2034 226.131 90,45 2.714 33.015
2035 226.764 90,71 2.721 33.107
2036 227.399 90,96 2.729 33.200
2037 228.035 91,21 2.736 33.293
2038 228.674 91,47 2.744 33.386
2039 229.314 91,73 2.752 33.480
2040 229.956 91,98 2.759 33.574
2041 230.600 92,24 2.767 33.668
2042 231.246 92,50 2.775 33.762
2043 231.893 92,76 2.783 33.856
2044 232.543 93,02 2.791 33.951
2045 233.194 93,28 2.798 34.046
Proyeksi timbulan sampah dapat diperoleh dengan mengalikan timbulan
sampah per kapita dengan jumlah penduduk yang telah diproyeksikan.
Timbulan sampah per kapita didapat dari hasil survei timbulan yaitu 0,4
kg/orang/hari. Selain timbulan harian, perlu juga dihitung timbulan
sampah tahunan. Perhitungan ini penting untuk mengetahui total volume
sampah yang harus dikelola selama satu tahun. Data timbulan tahunan
47
dapat digunakan untuk merencanakan kapasitas fasilitas pengolahan
sampah, kebutuhan armada, serta luas lahan tempat pemrosesan akhir.
2. Perhitungan Teknis Operasional
Perhitungan teknis operasional dilakukan untuk mengetahui
kebutuhan sarana dan prasarana pengelolaan sampah di Kabupaten
Melawi berdasarkan jumlah timbulan sampah yang diproyeksikan.
Perhitungan ini meliputi kebutuhan pewadahan, sarana pengumpulan,
tempat penampungan sementara, armada pengangkutan, tenaga
operasional, hingga kebutuhan lahan tempat pemrosesan akhir.
Kebutuhan pewadahan merupakan kebutuhan dasar dalam sistem
pengelolaan sampah. Wadah sampah diperlukan untuk menampung
sampah dari sumbernya, baik rumah tangga, fasilitas umum, kawasan
perdagangan, maupun perkantoran. Jumlah wadah yang dibutuhkan
biasanya disesuaikan dengan jumlah rumah tangga dan kapasitas
pelayanan masing-masing wadah.
Setelah tahap pewadahan, diperlukan sarana pengumpulan berupa
gerobak sampah, becak motor, atau kendaraan roda tiga. Sarana ini
digunakan untuk mengangkut sampah dari sumber menuju tempat
penampungan sementara. Kebutuhan jumlah gerobak atau sarana
pengumpulan lainnya dipengaruhi oleh besarnya volume sampah,
kapasitas angkut, dan jumlah ritasi pengangkutan setiap hari.
Tempat penampungan sementara (TPS) berfungsi sebagai lokasi
transit sampah sebelum diangkut ke tempat pemrosesan akhir. Dalam
konteks Kabupaten Melawi, kebutuhan TPS perlu mempertimbangkan
kondisi wilayah yang cukup luas, jarak antarkecamatan, dan
keterjangkauan akses jalan menuju lokasi pelayanan. Kebutuhan TPS
harus disesuaikan dengan jumlah sampah yang masuk setiap hari dan
kapasitas tampung tiap TPS. Penempatan TPS juga perlu
mempertimbangkan jangkauan pelayanan, kemudahan akses kendaraan
pengangkut, serta jarak terhadap permukiman.
Pada tahap pengangkutan, kebutuhan armada dihitung
berdasarkan jumlah sampah yang harus diangkut, kapasitas kendaraan,
serta jumlah perjalanan yang dapat dilakukan dalam satu hari. Armada
pengangkut dapat berupa dump truck, arm roll truck, pick up, maupun
kendaraan lain sesuai kondisi wilayah. Untuk Kabupaten Melawi,
kebutuhan armada juga harus mempertimbangkan kondisi geografis,
keterbatasan infrastruktur jalan, dan jarak tempuh menuju TPA. Semakin
besar volume sampah yang dihasilkan, maka semakin banyak armada
yang dibutuhkan.
48
Selain sarana fisik, perhitungan teknis operasional juga harus
memperhatikan kebutuhan tenaga kerja. Tenaga operasional meliputi
petugas pengumpulan, sopir, kernet, operator alat berat, dan petugas
pengolahan sampah. Jumlah tenaga kerja harus disesuaikan dengan
jumlah sarana yang dioperasikan agar pelayanan dapat berjalan secara
optimal.
Target pelayanan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Melawi pada
dasarnya ditetapkan berdasarkan kesanggupan Pemerintah dalam
mengalokasikan anggaran dalam setiap tahunnya. Mengingat, besar
kecilnya pelayanan yang akan diberikan akan berkonsekuensi terhadap
biaya yang harus disediakan oleh Pemerintah Kabupaten.
Secara keseluruhan pengelolaan persampahan di Kabupaten
Melawi dilaksanakan dengan sistem berikut ini :
Pengumpulan sampah dan penyapuan. Kegiatan ini dilakukan oleh
petugas kebersihan dari pihak ketiga yang menjemput sampah rumah
tangga dan pelaku usaha, fasilitas umum, perkantoran, pasar, serta
masyarakat masing-masing penghasil sampah ke tempat
penampungan sampah komunal, kemudian petugas mengambil
sampah dari tempat pengumpulan komunal tersebut untuk dibawa ke
TPS atau Depo yang selanjutnya dibawa ke TPA
Pengangkutan sampah. Dilakukan dari TPS menuju TPA
Sistem operasional pengelolaan sampah yang direncanakan dalam RISPS
kabupaten Melawi adalah sebagai berikut :
a. Pemilahan/Pewadahan
Pemilahan dan pewadahan merupakan tahapan paling awal dalam sistem
pengelolaan sampah. Tahapan ini dilakukan langsung pada sumber
sampah sebelum sampah dikumpulkan dan diangkut ke TPS maupun TPA.
Pelaksanaan pemilahan sejak dari sumber sangat penting karena dapat
mengurangi jumlah sampah yang dibuang ke TPA, meningkatkan potensi
daur ulang, serta mempermudah proses pengolahan sampah.
UU No 18 Tahun 2008 dan peraturan turunannya yaitu PP No 81 Tahun
2012 dan Permen PU 03 Tahun 2013, bahwa pewadahan sudah harus
terpilah. Saat ini sebagian besar Kabupaten Melawi belum diterapkan
pewadahan dengan sistem pemilahan antara sampah organik dan
anorganik, semua sampah masih tercampur termasuk sampah Bahan
Beracun dan Berbahaya (B3) dari rumah tangga.
49
Pemilahan sampah dilakukan berdasarkan jenis dan karakteristik
sampah. Secara umum, sampah dibedakan menjadi tiga kelompok
utama, yaitu sampah organik, sampah anorganik, dan sampah B3 dan
sampah residu.
Sampah organik merupakan sampah yang mudah terurai secara alami,
seperti sisa makanan, sayuran, buah-buahan, daun, ranting, dan limbah
kebun. Sampah organik dapat dimanfaatkan kembali melalui proses
pengomposan atau pengolahan menjadi pakan ternak.
Sampah anorganik merupakan sampah yang sulit terurai namun masih
memiliki nilai ekonomi apabila dipilah dan dikumpulkan dengan baik.
Sampah jenis ini meliputi plastik, kertas, kardus, logam, kaleng, botol
kaca, dan bahan lainnya yang dapat didaur ulang. Pemilahan sampah
anorganik dapat mendukung kegiatan bank sampah dan meningkatkan
partisipasi masyarakat dalam pengurangan sampah.
Sampah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) rumah tangga yaitu sampah
yang mengandung bahan berbahaya dan beracun serta limbah bahan
berbahaya dan beracun antara lain kemasan obat serangga, kemasan oli,
kemasan obat-obatan, obat-obatan kadaluarsa, peralatan listrik, dan
peralatan elektronik rumah tangga.
Sementara itu, sampah residu adalah sampah yang tidak dapat
dimanfaatkan kembali maupun didaur ulang, seperti popok sekali pakai,
tisu bekas, puntung rokok, dan sampah tercampur lainnya. Sampah
residu inilah yang pada akhirnya harus diangkut menuju TPA.
Konsep yang dikembangkan untuk sistem pewadahan di Kabupaten
Melawi dikembangkan dengan konsep pewadahan terpilah akan
dikembangkan secara bertahap sebagai berikut:
Jangka pendek (2026) dilakukan dengan konsep terpilah 2 (dua) yaitu
organik dan anorganik.
Edukasi pemilahan sampah bagi masyarakat di Kabupaten Melawi akan
dikaitkan dengan program pembangunan dan pengaktifan kembali TPS
3R, Bank Sampah di tingkat Desa, Kawasan dan skala Kecamatan. Secara
umum edukasi dilakukan lebih intensif di daerah pelayanan zona
prioritas.
Jangka menengah (2027-2030) ditargetkan pewadahan terpilah 3
(tiga) jenis yaitu organik, sampah anorganik dan sampah B3 rumah
tangga dan/atau sampah residu
50
Jangka Panjang (2031-2045) merupakan masa penguatan
pelaksanaan
Pemilahan menjadi 3 (tiga) jenis sebagaimana dalam jangka memengah.
Pada masa ini Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Melawi harus
memperluas kawasan sosialisasi mulai dari daerah zona prioritas sampai
keseluruhan daerah pelayanan.
Dalam mendukung kegiatan pemilahan, diperlukan sistem pewadahan
yang sesuai dengan jenis sampah yang dihasilkan. Pewadahan dapat
berupa tong sampah individual rumah tangga, bak sampah komunal,
kontainer, maupun tempat sampah permanen pada fasilitas umum.
Setiap wadah sebaiknya dibedakan berdasarkan warna, simbol, atau label
tertentu agar masyarakat lebih mudah mengenali jenis sampah yang
harus dibuang.
Kebutuhan pewadahan di Kabupaten Melawi disesuaikan dengan jumlah
rumah tangga, jumlah penduduk, tingkat pelayanan, dan karakteristik
wilayah. Pada kawasan permukiman, setiap rumah tangga minimal
memiliki satu wadah sampah rumah tangga. Namun untuk mendukung
sistem pemilahan, idealnya setiap rumah tangga memiliki dua hingga tiga
wadah terpisah sesuai jenis sampah.
Dalam perencanaan kebutuhan pewadahan, kapasitas wadah juga perlu
diperhatikan. Kapasitas wadah rumah tangga umumnya berkisar antara
20–60 liter, sedangkan kapasitas wadah komunal dapat mencapai 120–
240 liter atau lebih. Untuk kawasan pasar dan fasilitas umum yang
menghasilkan sampah dalam jumlah besar, dapat digunakan kontainer
berkapasitas 1–8 m3.
Penyediaan sarana pemilahan dan pewadahan yang memadai di
Kabupaten Melawi diharapkan dapat meningkatkan partisipasi
masyarakat dalam pengelolaan sampah, mengurangi timbulan sampah
yang masuk ke TPA, serta mendukung terciptanya lingkungan yang
bersih, sehat, dan berkelanjutan.
b. Pengumpulan
Pengumpulan sampah merupakan kegiatan mengambil dan
memindahkan sampah dari sumber sampah menuju tempat
penampungan sementara (TPS), TPS 3R, atau lokasi pengolahan terdekat.
Tahap pengumpulan menjadi salah satu komponen penting dalam sistem
pengelolaan sampah karena berpengaruh langsung terhadap kebersihan
lingkungan, tingkat pelayanan, dan efektivitas pengangkutan.
51
Di Kabupaten Melawi, sistem pengumpulan sampah perlu
mempertimbangkan kondisi wilayah yang cukup luas, kepadatan
penduduk yang berbeda antarwilayah, serta keterbatasan akses jalan di
beberapa kecamatan. Oleh karena itu, pola pengumpulan sampah dapat
dibedakan antara kawasan perkotaan, kawasan permukiman padat,
kawasan perdesaan, kawasan pasar, dan fasilitas umum.
Pada kawasan perkotaan dan permukiman padat, pengumpulan sampah
dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung. Sistem
pengumpulan langsung dilakukan dengan mengambil sampah dari
sumber dan langsung diangkut ke TPS atau TPA menggunakan kendaraan
pengangkut. Sedangkan sistem pengumpulan tidak langsung dilakukan
melalui tahap pengumpulan terlebih dahulu menggunakan gerobak atau
kendaraan roda tiga menuju TPS, kemudian diangkut kembali oleh
armada yang lebih besar menuju TPA.
Pada kawasan perdesaan dan permukiman yang berjauhan, sistem
pengumpulan dapat dilakukan secara komunal dengan memanfaatkan
titik kumpul sampah tertentu yang mudah dijangkau masyarakat. Titik
kumpul ini kemudian dilayani oleh petugas pengangkut sesuai jadwal
yang telah ditentukan.
Sarana pengumpulan sampah di Kabupaten Melawi dapat berupa gerobak
sampah, kendaraan roda tiga, maupundump truck sesuai kondisi wilayah
dan akses jalan. Pada kawasan dengan jalan sempit atau belum beraspal,
penggunaan kendaraan roda tiga dan gerobak lebih efektif dibandingkan
kendaraan besar.
Kebutuhan sarana pengumpulan dihitung berdasarkan volume sampah
harian, kapasitas sarana, dan jumlah ritasi pengumpulan per hari.
Kebutuhan sarana pengumpulan dihitung sebagai berikut:
Jumlah sarana pengumpulan = Volume Sampah Harian ÷ (Kapasitas
sarana pengumpulan × Ritasi)
Jumlah Sarana Pengumpulan = 88,20 ÷ (1 × 3)
= 29,40 unit
Dengan demikian, kebutuhan dibulatkan menjadi 30 unit.
Selain sarana pengumpulan, diperlukan pula tenaga operasional untuk
menjalankan kegiatan pengumpulan sampah. Umumnya, satu unit
dioperasikan oleh dua sampai tiga orang petugas. Oleh karena itu,
apabila diperlukan 30 unit gerobak, maka jumlah petugas pengumpulan
yang dibutuhkan adalah sebanyak 90 orang.
52
Pelaksanaan pengumpulan sampah harus dilakukan secara rutin dan
terjadwal agar tidak terjadi penumpukan sampah pada sumber maupun
TPS. Frekuensi pengumpulan dapat dilakukan setiap hari pada kawasan
padat penduduk, pasar, dan pusat kegiatan ekonomi, sedangkan pada
kawasan perdesaan dapat dilakukan dua hingga tiga kali dalam seminggu
sesuai kebutuhan.
Sistem pengumpulan yang baik di Kabupaten Melawi diharapkan dapat
meningkatkan tingkat pelayanan persampahan, mengurangi potensi
pencemaran lingkungan, serta menciptakan kondisi wilayah yang lebih
bersih dan sehat.
Tempat penampungan sementara (TPS) berfungsi sebagai lokasi transit
sampah sebelum diangkut ke tempat pemrosesan akhir. Dalam konteks
Kabupaten Melawi, kebutuhan TPS perlu mempertimbangkan kondisi
wilayah yang cukup luas, jarak antarkecamatan, dan keterjangkauan
akses jalan menuju lokasi pelayanan. Kebutuhan TPS harus disesuaikan
dengan jumlah sampah yang masuk setiap hari dan kapasitas tampung
tiap TPS. Penempatan TPS juga perlu mempertimbangkan jangkauan
pelayanan, kemudahan akses kendaraan pengangkut, serta jarak
terhadap permukiman.
c. Pengangkutan
Pada tahap pengangkutan, kebutuhan armada dihitung berdasarkan
jumlah sampah yang harus diangkut, kapasitas kendaraan, serta jumlah
perjalanan yang dapat dilakukan dalam satu hari. Armada pengangkut
dapat berupa dump truck, arm roll truck, maupun kendaraan lain sesuai
kondisi wilayah. Untuk Kabupaten Melawi, kebutuhan armada juga harus
mempertimbangkan kondisi geografis, keterbatasan infrastruktur jalan,
dan jarak tempuh menuju TPA. Semakin besar volume sampah yang
dihasilkan, maka semakin banyak armada yang dibutuhkan.
Pengangkutan sampah pada jangka pendek dan menengah dilakukan
dengan Arm Roll dan Dump Truck. Dalam periode perencanaan 20 tahun
mendatang, jenis sarana pemindahan yang dikembangkan berupa TPS
Kontainer dengan sarana pengangkutan menggunakan Arm Roll Truck,
model pemindahan dan pengangkutan yang dikembangkan diharapkan
mampu meningkatan kinerja sehingga tercapai efisiensi yang tinggi.
Untuk lokasi pelayanan yang jauh dari TPA maka akan turut dilayani
dengan keberadaan compactor yang mulai disediakan pada jangka
menengah. Operasi pemindahan sampah di Kabupaten Melawi,
direncanakan dengan ketentuan umum sebagai berikut:
Untuk itu akan di tetapkan kriteria sebagai berikut :
53
• Jenis sarana : Dump Truck
• Kapasitas : 6 m3
• Jumlah unit per TPS : 1 (satu) unit
• Kontainer Pengganti di bawa Arm Roll : 1 (satu) unit
Dalam jangka panjang, Sampah yang dipindahkan dari TPS 3R ke
armada pengangkutan adalah sampah residu. Adapun kriteria teknis
sarana pemindahan sampah residu adalah sebagai berikut :
Jenis sarana : Arm Roll Truck (mengangkut sampah residu)
Pemindahan dilakukan dari TPS 3R menuju TPA, sebanyak 2 rit/hari.
Selain sarana fisik, perhitungan teknis operasional juga harus
memperhatikan kebutuhan tenaga kerja. Tenaga operasional meliputi
petugas pengumpulan, sopir, kernet, operator alat berat, dan petugas
pengolahan sampah. Jumlah tenaga kerja harus disesuaikan dengan
jumlah sarana yang dioperasikan agar pelayanan dapat berjalan secara
optimal.
Kebutuhan lahan tempat pemrosesan akhir (TPA) juga menjadi bagian
penting dalam perhitungan teknis operasional di Kabupaten Melawi. Luas
lahan TPA dipengaruhi oleh jumlah sampah yang masuk setiap hari, umur
rencana TPA, metode pengelolaan yang digunakan, serta kebutuhan
fasilitas pendukung seperti jalan operasional, kolam lindi, drainase,
kantor, dan zona penyangga.
Secara keseluruhan, perhitungan teknis operasional diperlukan untuk
memastikan bahwa seluruh sistem pengelolaan sampah dapat berjalan
secara efektif, efisien, dan berkelanjutan. Hasil perhitungan ini nantinya
menjadi dasar dalam penyusunan program, kebutuhan anggaran, serta
rencana pengadaan sarana dan prasarana persampahan.
d. Pengolahan Sampah
Pengolahan sampah di Kabupaten Melawi, pada dasarnya bertujuan
mengurangi beban pemrosesan akhir di TPA. Melihat karakteristik
timbulan sampah Kabupaten Melawi, timbulan sampah Kabupaten Melawi
masih didominasi oleh sampah organik pada angka >40%. Kehadiran
sampah organik diiringi dengan kehadiran sampah potensi daur ulang,
dari golongan plastik, kertas, logam dan gelas/kaca. Mangacu pada data
tersebut, maka dalam pengolahan sampah, berikut adalah hal penting
yang akan menjadi acuan dalam pemilihan teknologi pengolahan sampah
di Kabupaten Melawi:
54
Perlu penguatan pemilahan sampah di sumber, agar pengolahan
menjadi lebih efektif dan efisien;
Kehadiran sampah organik yang tinggi, dan dengan terlaksananya
pemilahan sampah di sumber, menjadi prioritas untuk
mengendepankan pengolahan sampah organik. Adapun sampah
organik, hanya disarankankan untuk diolah secara biologis. Teknologi
yang paling teruji adalah fermentasi aerobic (pengomposan) untuk
menghasilkan kompos dan fermentasi anaerobic (biodegester) untuk
menghasilkan biogas dan kompos, serta budidaya maggot;
Pengolahan sampah organik dapat meningkatkan proporsi sampah
potensi daur ualng, semakin menguatkan program Bank Sampah
untuk terus dikembangkan. Ketentuan bahwa setiap Pengelola
Sampah Kawasan harus menjadi Nasabah Bank Sampah, menjadi
sebuah mekanisme yang berpotensi besar keberhasilannya untuk
dijalankan di Kabupaten Melawi.
Dengan demikian, kebutuhan pengolahan sampah di Kabupaten Melawi
dalam 20 tahun mendatang, yaitu:
Pengolahan sampah organik, dengan fokus pada sumber sampah
organik yakni permukiman maupun pasar yang dapat dikelola
perseorangan, maupun TPS 3R.
Pengolahan sampah anorganik potensi daur ulang, dengan konsep
mengembangkan kinerja Bank Sampah pada bank sampah induk, di
dalam lingkup wilayah Kabupaten Melawi, maupun kawasan yang
lebih luas dari itu.
Adapun sampah residu dan B3 Rumah tangga, arahan pengolahan
yaitu pada skala kota, dimana residu dari kegiatan pengolahan
sampah baik organik maupun anorganik akan ditindaklanjuti untuk
dapat dikelola di TPA.
Kondisi eksisting fasilitas pengolahan sampah dapat dilihat pada tabel
berikut:
Tabel 19. Kondisi Eksisting Fasilitas Pengolahan Sampah Tahun 2025
Tahun TPS 3R TPST/Tempat Bank PDU/Pusat Jumlah
(unit) Pengolahan Sampah Sampah Daur Ulang (unit)
Terpadu (unit)
(Unit)
(Unit)
2025 7 0 1 0 8
55
Proyeksi Kebutuhan Fasilitas Pengolahan Sampah
Analisis kebutuhan Fasilitas Pengolahan Sampah dilakukan berdasarkan
kondisi eksisting, dan perhitungan proyeksi penduduk, serta proyeksi
timbulan sampah, sehingga dapat dilakukan perhitungan kebutuhan
fasilitas pengolahan sampah. Dalam proyeksi jumlah penduduk
ditentukan berdasarkan tiga metode yaitu metode aritmatika, metode
geometrik dan metode least square. Untuk perhitungan proyeksi timbulan
sampah akan diambil dari standar SNI 19-3983 1995 sehingga dapat
diproyeksikan. Sedangkan proyeksi kebutuhan fasilitasi pengolahan
sampah dihitung sesuai dengan kondisi eksisting fasilitas pengolahan
sampah dan kapasitas produksi fasilitas pengolahan sampah.
Kebutuhan fasilitas pengolahan dihitung berdasarkan jumlah timbulan
sampah yang dapat dikurangi atau diolah sebelum dibuang ke TPA.
Sebagai contoh, apabila target pengurangan sampah sebesar 30% dari
total timbulan sampah harian sebesar 43,09 ton per hari, maka jumlah
sampah yang harus diolah adalah:
Jumlah Sampah Diolah = Total Timbulan Sampah × Target Pengurangan
Jumlah Sampah Diolah = 88,20 ton/hari × 30%
= 26,46 ton/hari
Dengan demikian, diperlukan fasilitas pengolahan yang mampu
menangani minimal 26,46 ton sampah per hari.
Tabel 20. Proyeksi Kebutuhan Pengolahan Sampah
Tahun Timbulan Kebutuha
Sampah Target n
ton/hari Pengolaha Pengolaha
n (%) n
(ton/hari)
2025 88,20 30% 26,46
2026 88,45 32% 28,30
2027 88,70 34% 30,16
2028 88,95 36% 32,02
2029 89,20 38% 33,89
2030 89,45 40% 35,78
2031 89,70 42% 37,67
2032 89,95 44% 39,58
2033 90,20 46% 41,49
2034 90,45 48% 43,42
56
2035 90,71 50% 45,35
2036 90,96 52% 47,30
2037 91,21 54% 49,26
2038 91,47 56% 51,22
2039 91,73 58% 53,20
2040 91,98 60% 55,19
2041 92,24 62% 57,19
2042 92,50 64% 59,20
2043 92,76 66% 61,22
2044 93,02 68% 63,25
2045 93,28 70% 65,29
Berdasarkan tabel tersebut, kebutuhan pengolahan sampah di Kabupaten
Melawi diproyeksikan terus meningkat seiring bertambahnya jumlah
penduduk dan timbulan sampah. Pada tahun 2025, jumlah sampah yang
perlu diolah diperkirakan sebesar 26,46 ton per hari, sedangkan pada
tahun 2030 meningkat menjadi 35,78 ton per hari. Peningkatan target
pengolahan ini bertujuan untuk mengurangi jumlah sampah residu yang
dibuang ke TPA sehingga umur layanan TPA dapat lebih panjang dan
beban pengelolaan akhir menjadi lebih ringan.
Pengembangan pengolahan sampah di Kabupaten Melawi diharapkan
dapat mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPA, meningkatkan
partisipasi masyarakat, membuka peluang ekonomi, serta mendukung
terwujudnya sistem pengelolaan sampah yang ramah lingkungan.
Pengolahan sampah yang baik memerlukan dukungan sarana dan
prasarana, seperti mesin pencacah, komposter, tempat pemilahan,
gudang penyimpanan, alat angkut, dan fasilitas pendukung lainnya.
Selain itu, diperlukan pula tenaga operasional dan peningkatan kapasitas
masyarakat agar kegiatan pengolahan dapat berjalan secara
berkelanjutan.
Adapun proyeksi kebutuhan fasilitas pengolahan sampah seperti pada
Tabel berikut:
Tabel 21. Proyeksi Kebutuhan Fasilitas Pengolahan Sampah
57
Timbula Sampah Kebutuha Kebutuha Kebutuha
Kebutuha
n Diolah n Bank n Rumah n Mesin
Tahu n TPS 3R
Sampah (ton/hari Sampah Kompos Pencacah
n (Unit)
ton/hari ) (Unit) (Unit) (Unit)
2025 88,20 26,46 6 10 5 3
2026 88,45 28,30 6 12 6 4
2030 89,45 35,78 8 17 9 6
2035 90,71 45,35 10 22 12 8
2040 91,98 55,19 12 27 15 10
2045 93,28 65,29 13 32 18 12
e. Pemrosesan Akhir
Sistem pemrosesan akhir merupakan hilir dari pengelolaan sampah.
Sistem pemrosesan akhir di Kabupaten Melawi akan menggunakan
sistem penimbunan tanah urug. Kebutuhan TPA sampah sebagai sarana
pemrosesan akhir sampah akan melayani residu dari wilayah pelayanan
persampahan Kabupaten Melawi.
Indikator Pencapaian: Indikator yang ingin dicapaian pada tahap
pemrosesan; Tersedianya lahan TPA dengan kapasitas yang cukup,
Beroperasinya TPA dengan sistem sanitary landfill dan tersedianya
sarana penunjang guna menunjang terlaksananya sistem operasi di TPA.
Program Kegiatan:
Program peningkatan kualitas pengelolaan TPA Nanga Pinoh ke arah
sanitary landfill yang dilakukan dalam kegiatan berikut:
- Kegiatan Perencanaan Teknis Optimalisasi dan Sarana Penunjang di TPA
Nanga Pinoh, guna mendukung umur layanan TPA
Kegiatan peningkatan pembangunan optimalisasi sarana perlindungan
lingkungan di TPA Nanga Pinoh berupa:
- Penyempurnaan sistem IPL
- Landfill minning area
- Drainase
Kegiatan peningkatan pembangunan optimalisasi sarana Penunjang di
TPA Nanga Pinoh
Kegiatan pengadaan alat berat berupa excavator dan bulldozer serta
dump truck untuk pengangkutan tanah penutup sampah;
58
Kegiatan penambahan SDM pengelola TPA;
Kegiatan pelatihan tata cara operasional pemrosesan akhir sampah;
Kegiatan evaluasi dan monitoring kualitas lingkungan.
BAB V
RENCANA PROGRAM DAN TAHAPAN PELAKSANAAN KEGIATAN
A. RENCANA PROGRAM
Program pengelolaan persampahan disusun sebagai upaya
meningkatkan kualitas pelayanan persampahan secara efektif, efisien,
dan berkelanjutan. Program ini mencakup peningkatan sistem
pengurangan sampah, pengumpulan, pengangkutan, pengolahan, hingga
pemrosesan akhir sampah. Selain itu, program juga diarahkan untuk
meningkatkan partisipasi masyarakat serta memperkuat kelembagaan
pengelola persampahan. Pelaksanaan program dilakukan secara
bertahap dengan memperhatikan kondisi wilayah, ketersediaan sarana
prasarana, serta kemampuan pendanaan daerah.
1. Rencana Pengembangan Teknis
Rencana pengembangan pelayanan persampahan di Kabupaten
Melawi mengacu kepada Kebijakan dan Strategi Nasional Pengelolaan
Sampah Rumah Tangga Dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga.
Target presentase pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah
sejenis sampah rumah tangga.
Upaya peningkatan sistem pengelolaan sampah mulai dari sumber
sampah hingga ke tempat pemrosesan akhir. Pengembangan teknis ini
dilakukan untuk meningkatkan cakupan pelayanan, efisiensi pengelolaan,
serta pengurangan dampak lingkungan dari kegiatan persampahan.
Rencana pengembangan teknis pelayanan persampahan meliputi
beberapa aspek utama sebagai berikut:
a. Pengurangan Sampah di Sumber
Pengurangan sampah dilakukan melalui penerapan prinsip 3R (Reduce,
Reuse, Recycle) dengan cara:
Sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat mengenai pemilahan
sampah dari sumber.
59
Pengembangan bank sampah di tingkat masyarakat.
Peningkatan kegiatan komposting untuk sampah organik rumah
tangga dan tempat usaha.
Penguatan peran masyarakat dan kelompok pengelola sampah.
b. Sistem Pewadahan Sampah
Pewadahan sampah dilakukan dengan menyediakan tempat sampah
yang memadai di sumber timbulan sampah, seperti rumah tangga,
fasilitas umum, dan kawasan komersial. Pewadahan juga dilakukan
dengan sistem pemilahan sampah berdasarkan jenisnya, yaitu sampah
organik, anorganik, dan residu.
Indikator yang ingin dicapai yaitu ketersediaan fasilitas pewadahan dan
keterlibatan aktif masyarakat dalam praktik pemilahan sampah di
sumber.
c. Sistem Pengumpulan Sampah
Pengumpulan sampah dilakukan dari sumber sampah menuju tempat
penampungan sementara (TPS) dengan menggunakan sarana seperti
gerobak sampah atau kendaraan roda tiga. Pengumpulan dilakukan
secara terjadwal agar pelayanan persampahan dapat berjalan secara
teratur. Indikator yang ingin dicapai yaitu terpenuhinya ketersediaan
infrastruktur pengumpulan yang memadai sehingga dapat mengurangi
TPS Liar.
d. Sistem Pengangkutan Sampah
Pengangkutan sampah dilakukan dari TPS menuju tempat pengolahan
atau tempat pemrosesan akhir (TPA). Kegiatan ini dilakukan dengan
menggunakan armada pengangkut sampah seperti truk sampah dan
kontainer. Pengaturan rute pengangkutan dilakukan untuk meningkatkan
efisiensi pelayanan.
Indikator yang ingin dicapai yaitu setiap hari, sampah diangkut menuju ke
TPS dan Tempat Pemerosesan Akhir (TPA). Selain itu, efisiensi dalam pola
pengangkutan diharapkan dapat mengurangi atau mengminimalisir biaya
transportasi sampah.
e. Pengolahan Sampah
Pengolahan sampah dilakukan untuk mengurangi jumlah sampah yang
dibuang ke TPA. Pengolahan dapat dilakukan melalui:
Pengembangan TPS 3R.
Pengolahan sampah organik menjadi kompos.
Pemanfaatan kembali sampah yang masih memiliki nilai ekonomis.
60
Indikator yang ingin dicapai pada tahap pengolahan; Pengoperasian
fasilitas pengolahan seperti TPS 3R di beberapa kecamatan melibatkan
partisipasi masyarakat sebagai mitra, dengan tujuan menjadikan fasilitas
pengolahan sebagai kegiatan yang memberikan manfaat langsung bagi
mereka.
f. Pemrosesan Akhir Sampah
Sistem pemrosesan akhir merupakan hilir dari pengelolaan sampah.
Sampah yang tidak dapat dimanfaatkan kembali akan diproses di Tempat
Pemrosesan Akhir (TPA). Pengelolaan TPA dilakukan dengan metode yang
ramah lingkungan yaitu controlled landfill atau sanitary landfill
menggunakan sistem penimbunan tanah urug.
Indikator yang ingin dicapaian pada tahap pemrosesan; Tersedianya
lahan TPA dengan kapasitas yang cukup. Beroperasinya TPA dengan
sistem controlled landfill atau sanitary landfill dan tersedianya sarana
penunjang guna menunjang terlaksananya sistem operasi di TPA.
g. Peningkatan Sarana dan Prasarana Persampahan
Untuk mendukung pelayanan persampahan diperlukan peningkatan
sarana dan prasarana, antara lain:
- Penambahan armada pengangkut sampah.
- Penyediaan tempat penampungan sampah sementara (TPS).
- Pembangunan dan pengembangan fasilitas TPS 3R.
- Penyediaan tempat sampah terpilah di area publik.
Melalui pengembangan teknis pelayanan persampahan ini diharapkan
sistem pengelolaan sampah dapat berjalan secara lebih efektif,
meningkatkan cakupan pelayanan, serta mendukung terciptanya
lingkungan yang bersih dan sehat.
Rencana Pengembangan Pengelolaan Swasta
Pengembangan pengelolaan sampah oleh pihak swasta di
Kabupaten Melawi diperlukan untuk mendukung keterbatasan
kemampuan pemerintah daerah dalam menyediakan pelayanan
persampahan secara menyeluruh. Keterlibatan swasta dapat
dilakukan melalui kerja sama pengangkutan sampah,
pengelolaan TPS 3R, pengoperasian bank sampah, pengolahan
sampah organik dan anorganik, serta pengelolaan fasilitas daur
ulang.
61
Pemerintah Kabupaten Melawi dapat mendorong keterlibatan
swasta melalui skema kerja sama pemerintah dengan badan
usaha, pemberian insentif, kemudahan perizinan, dan
penyediaan lahan pendukung. Swasta juga dapat dilibatkan
dalam penyediaan sarana seperti kontainer sampah, armada
pengangkutan, mesin pencacah, rumah kompos, serta
pengembangan fasilitas pengolahan sampah berbasis teknologi.
Selain itu, perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Kabupaten
Melawi dapat diarahkan untuk mendukung program
persampahan melalui dana tanggung jawab sosial perusahaan
atau CSR. Dukungan CSR dapat berupa bantuan tempat sampah,
pembangunan bank sampah, bantuan armada pengangkutan,
pembangunan TPS 3R, serta kegiatan edukasi masyarakat terkait
pengurangan dan pemilahan sampah.
2. Rencana Pengembangan Kelembagaan Persampahan
Rencana pengembangan kelembagaan persampahan bertujuan
untuk memperkuat struktur organisasi, meningkatkan kapasitas sumber
daya manusia, serta memperjelas peran dan tanggung jawab dalam
pengelolaan persampahan.
Pengembangan kelembagaan dilakukan melalui beberapa strategi
sebagai berikut:
a. Penguatan Struktur Organisasi
Penataan organisasi perangkat daerah yang menangani
persampahan.
Penegasan tugas dan fungsi masing-masing unit kerja.
Peningkatan koordinasi antar instansi terkait.
b. Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM)
Pelatihan teknis pengelolaan persampahan bagi petugas.
Peningkatan kompetensi tenaga operasional dan manajerial.
Sertifikasi tenaga kerja di bidang persampahan.
c. Penguatan Peran Masyarakat dan Swasta
62
Pembentukan dan pembinaan kelompok pengelola sampah.
Pengembangan kemitraan dengan pihak swasta.
Peningkatan peran bank sampah dan komunitas lingkungan.
d. Penguatan Regulasi dan Kebijakan
Penyusunan dan penegakan peraturan daerah terkait persampahan.
Penyusunan standar operasional prosedur (SOP).
Peningkatan pengawasan dan penegakan hukum.
3. Rencana Pembiayaan Pengelolaan Persampahan
Rencana pembiayaan pengelolaan persampahan disusun untuk menjamin
keberlanjutan program melalui pengelolaan sumber pendanaan yang
optimal.
a. Sumber Pembiayaan
Pembiayaan kegiatan persampahan dapat berasal dari:
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Bantuan pemerintah pusat (APBN).
Kerjasama dengan pihak swasta (Public Private Partnership).
Retribusi pelayanan persampahan.
Bantuan hibah atau dana CSR.
b. Alokasi Pembiayaan
Pembiayaan dialokasikan untuk:
Pengadaan sarana dan prasarana persampahan.
Operasional pengumpulan dan pengangkutan sampah.
Pengolahan dan pemrosesan akhir sampah.
Kegiatan sosialisasi dan pemberdayaan masyarakat.
Peningkatan kapasitas SDM.
c. Strategi Efisiensi Pembiayaan
Optimalisasi penggunaan anggaran.
Peningkatan penerimaan dari retribusi sampah.
Pengurangan biaya melalui penerapan prinsip 3R.
63
Pemanfaatan teknologi tepat guna.
B. TAHAPAN PELAKSANAAN KEGIATAN
Tahapan pelaksanaan kegiatan persampahan dilakukan secara
sistematis dan berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas pelayanan
pengelolaan sampah di wilayah pelayanan. Tahapan pelaksanaan
kegiatan meliputi beberapa langkah sebagai berikut:
1. Tahap Perencanaan
Tahap perencanaan merupakan tahap awal yang meliputi:
Identifikasi kondisi eksisting pengelolaan persampahan.
Pendataan timbulan sampah dan cakupan pelayanan.
Penyusunan rencana kebutuhan sarana dan prasarana persampahan.
Penyusunan rencana program dan kegiatan pengelolaan
persampahan.
2. Tahap Persiapan
Pada tahap ini dilakukan kegiatan persiapan pelaksanaan program,
antara lain:
Penyusunan jadwal kegiatan.
Koordinasi dengan instansi terkait dan pemangku kepentingan.
Penyediaan anggaran dan sumber daya manusia.
Persiapan sarana dan prasarana pendukung.
3. Tahap Pelaksanaan
Tahap pelaksanaan merupakan tahap implementasi kegiatan yang
meliputi:
Pengurangan sampah melalui kegiatan 3R (Reduce, Reuse, Recycle).
Peningkatan pelayanan pengumpulan dan pengangkutan sampah.
Pengembangan TPS 3R dan fasilitas pengolahan sampah.
Peningkatan pengelolaan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
4. Tahap Monitoring dan Evaluasi
Monitoring dan evaluasi dilakukan untuk memastikan kegiatan berjalan
sesuai dengan rencana, meliputi:
64
Pemantauan pelaksanaan kegiatan secara berkala.
Evaluasi capaian program dan indikator kinerja.
Perbaikan dan penyesuaian program berdasarkan hasil evaluasi.
Rencana pelaksanaan kegiatan pengelolaan persampahan dibagi
menjadi tiga tahap berdasarkan jangka waktu pelaksanaan sebagai
berikut:
Tabel 22. Rencana Tahapan Pelaksanaan Kegiatan Pengelolaan
Persampahan Kabupaten Melawi
Tahun Program/Kegiatan Utama
Jangka Pendek (1 - 2 Tahun) Fokus pada perbaikan dasar sistem
pengelolaan persampahan:
Pendataan dan pemetaan
kondisi eksisting persampahan.
Sosialisasi dan edukasi kepada
masyarakat.
Penyediaan sarana dasar
(tempat sampah, gerobak, TPS).
Penataan sistem pengumpulan
dan pengangkutan sampah.
Pembentukan dan pembinaan
bank sampah.
Jangka Menengah (3 - 5 Tahun) Fokus pada penguatan sistem dan
peningkatan kapasitas pelayanan:
Pengembangan TPS 3R di
beberapa wilayah.
Penambahan armada
pengangkutan sampah.
Peningkatan cakupan pelayanan
persampahan.
Penguatan kelembagaan dan
SDM pengelola persampahan.
Peningkatan partisipasi
masyarakat.
65
Jangka Panjang ( 10 - 20 Tahun) Fokus pada keberlanjutan dan
inovasi pengelolaan persampahan:
Pengembangan sistem
pengolahan sampah terpadu.
Penerapan teknologi pengolahan
sampah modern.
Optimalisasi pengelolaan
Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
Pengurangan signifikan sampah
yang masuk ke TPA.
Terwujudnya sistem pengelolaan
sampah yang berkelanjutan.
C. INDIKATOR KEBERHASILAN PROGRAM
Indikator keberhasilan program digunakan untuk mengukur tingkat
keberhasilan pelaksanaan kegiatan pengelolaan persampahan. Indikator
tersebut meliputi:
1. Peningkatan Cakupan Pelayanan Persampahan
Persentase peningkatan wilayah yang mendapatkan pelayanan
persampahan.
Jumlah masyarakat yang terlayani oleh sistem pengelolaan sampah.
2. Pengurangan Timbulan Sampah
Persentase pengurangan sampah melalui kegiatan 3R.
Jumlah sampah yang berhasil dikelola melalui bank sampah dan TPS
3R.
3. Peningkatan Sarana dan Prasarana
Jumlah sarana persampahan yang tersedia (TPS, kontainer, armada
pengangkut).
Peningkatan kapasitas fasilitas pengolahan sampah.
4. Partisipasi Masyarakat
66
Jumlah kelompok masyarakat yang terlibat dalam pengelolaan
sampah.
Jumlah bank sampah yang aktif.
5. Peningkatan Kualitas Lingkungan
Berkurangnya titik-titik penumpukan sampah liar.
Meningkatnya kebersihan lingkungan permukiman dan fasilitas
umum.
D. RENCANA PEMBIAYAAN DAN INDIKASI INVESTASI PROGRAM
Rencana pembiayaan dan indikasi investasi program pengelolaan
persampahan disusun untuk memastikan ketersediaan pendanaan yang
memadai dalam mendukung pelaksanaan program secara berkelanjutan.
Pembiayaan mencakup kebutuhan operasional, pengembangan sarana
dan prasarana, serta peningkatan kapasitas kelembagaan.
1. Rencana Pembiayaan
Rencana pembiayaan disusun berdasarkan kebutuhan program dan
kegiatan pengelolaan persampahan dengan sumber pendanaan sebagai
berikut:
a. Sumber Pembiayaan
APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) sebagai sumber
utama pembiayaan.
APBN (Pemerintah Pusat) melalui program bantuan atau dana alokasi
khusus (DAK).
Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU).
Retribusi pelayanan persampahan dari masyarakat.
Dana CSR (Corporate Social Responsibility) dari perusahaan.
Hibah dan bantuan luar negeri (jika tersedia).
Sedangkan program untuk strategi kedua pada aspek pendanaan adalah
sebagai berikut:
Belanja Daerah melalui Dokumen Pelaksanaan Anggaran masing-
masing Perangkat
Pengaturan kerjasama pemerintah dengan badan usaha dalam
pengelolaan sampah.
67
Penetapan tipping fee sesuai dengan standar harga dalam
pengelolaan sampah.
Biaya yang diperlukan untuk pelaksanaan ini dibebankan pada Anggaran
Pendapatan Daerah/Unit Kerja pada Perangkat Daerah dan/ atau sumber
lain yang sah dan tidak mengikat sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang- undangan. Dengan memperhatikan :
Retribusi
Perhitungan retribusi perlu dibuat berdasarkan perkiraan biaya investasi
dan pengoperasian dan pemeliharaan (O/P) untuk jangka menengah dan
jangka panjang
Biaya Satuan
Diperlukan estimasi biaya satuan penanganan sampah berdasarkan
kebutuhan biaya investasi dan pengoperasian dan pemeliharaan, meliputi
Rp./kapita/tahun
Rp./m3 atau Rp./ton
Biaya pengumpulan/ton
Biaya pengangkutan/ton
Biaya pengolahan/tahun
Biaya TPA/ton
Data Dasar dan Asumsi
Jumlah dan dasar proyeksi penduduk
Volume Sampah yang Dihasilkan: 0,4 kg/orang/hari
Timbulan sampah penduduk: 88,20 Ton/hari
Jenis Sampah: Organik (60%), Anorganik (40%)
Aspek Pendanaan dengan Berbagai Skenario
Pendanaan pengelolaan sampah di Kabupaten Melawi perlu disusun
berdasarkan berbagai skenario agar pelaksanaan program dapat
disesuaikan dengan kemampuan fiskal daerah. Sumber pendanaan dapat
berasal dari APBD Kabupaten, APBD Provinsi, APBN, Dana Alokasi Khusus
(DAK), bantuan pemerintah pusat, kerja sama dengan pihak swasta, CSR
perusahaan, hingga partisipasi masyarakat.
Skenario pendanaan rendah digunakan apabila kemampuan anggaran
daerah terbatas. Pada skenario ini, prioritas diberikan pada kegiatan
68
dasar seperti pengadaan tempat sampah, gerobak pengumpulan,
peningkatan pelayanan pengangkutan, serta pembangunan TPS 3R
secara bertahap di wilayah perkotaan.
Skenario pendanaan sedang digunakan apabila terdapat dukungan
tambahan dari pemerintah provinsi, pemerintah pusat, atau dana CSR.
Pada skenario ini, selain penguatan sarana dasar, pemerintah daerah
dapat mulai mengembangkan bank sampah, rumah kompos, mesin
pencacah, serta peningkatan armada pengangkutan dan pembangunan
TPS 3R di kecamatan prioritas.
Skenario pendanaan tinggi digunakan apabila terdapat dukungan
anggaran yang lebih besar dan berkelanjutan. Dalam skenario ini,
pengembangan sistem persampahan dapat dilakukan secara
menyeluruh, meliputi pembangunan TPS 3R di seluruh kecamatan,
pengadaan armada yang memadai, pengembangan bank sampah induk,
rumah kompos skala besar, pembangunan fasilitas pengolahan modern,
serta peningkatan kapasitas TPA.
Tabel 23. Pendanaan Pengelolaan Sampah Kabupaten Melawi
Skenario Sumber Pendanaan Prioritas Kegiatan
Rendah APBD Kabupaten Pewadahan, gerobak
sampah, pengumpulan,
pengangkutan, TPS
sederhana
Sedang APBD Kabupaten, TPS 3R, bank sampah,
APBD Provinsi, DAK, rumah kompos, mesin
CSR pencacah, armada
pengangkutan
Tinggi APBD, APBN, DAK, TPS 3R di seluruh
CSR, kerja sama kecamatan, fasilitas
swasta pengolahan modern, bank
sampah induk, peningkatan
TPA
b. Kebutuhan Pembiayaan Program
Pembiayaan program dialokasikan untuk kegiatan berikut:
Pengadaan sarana dan prasarana persampahan (armada, TPS,
kontainer).
69
Operasional pengumpulan dan pengangkutan sampah.
Pengembangan TPS 3R dan fasilitas pengolahan sampah.
Pengelolaan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
Kegiatan sosialisasi, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat.
Peningkatan kapasitas SDM dan kelembagaan.
c. Strategi Pembiayaan
Optimalisasi penggunaan anggaran daerah.
Peningkatan penerimaan retribusi persampahan.
Efisiensi biaya operasional melalui pengelolaan yang efektif.
Mendorong keterlibatan swasta dalam investasi persampahan.
2. Indikasi Investasi Program
Indikasi investasi program merupakan gambaran kebutuhan
anggaran dalam jangka waktu pendek, menengah, dan panjang yang
dibutuhkan untuk mendukung pelaksanaan program pengelolaan
persampahan secara berkelanjutan di Kabupaten Melawi.
Indikasi investasi ini disusun berdasarkan prioritas kebutuhan
pengembangan sistem persampahan, meliputi aspek teknis,
kelembagaan, serta sarana dan prasarana, dengan mempertimbangkan
kemampuan pendanaan daerah dan potensi sumber pembiayaan lainnya.
70
No. Program/ Kegiatan Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun Sumber Dana
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1. Penyediaan tempat sampah
terpilah
2. Pengadaan gerobak sampah
3. Pembangunan/penambahan
TPS
4. Pengadaan armada
pengangkut
5. Pengembangan TPS 3R
6. Operasional persampahan
7. Penguatan kelembagaan &
SDM
8. Sosialisasi & edukasi
masyarakat
9. Pengelolaan & peningkatan
TPA
10. Pengembangan teknologi
pengolahan sampah
11. Pengembangan sistem
retribusi
12. Sistem informasi persampahan
Tabel 24. Indikasi Investasi (10 Tahun)
71
BAB VI
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
A. KESIMPULAN
Kesimpulan dalam Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah Kabupaten
Melawi untuk setiap aspek pengelolaan sampah adalah sebagai berikut:
1. Aspek Kelembagaan
Pengelola persampahan di Kabupaten Melawi oleh Dinas Lingkungan
Hidup sebagai Regulator Pengelola Persampahan
Terdapat Satgas sampah liar yang mendukung pengurangan sampah liar
namun belum optimal mengurangi sampah liar dan di sungai
Permasalahan kelembagaan pengelolan sampah salah satunya belum
adanya pilar kerjasama yang efektif antara dinas dan stakeholder terkait
pengelola sampah
Diperlukan pengembangan kelembagaan
- Peningkatan kapasitas sumber daya manusia pengelolaan persampahan
2. Aspek Teknis Operasional
Timbulan sampah Kabupaten Melawi 0,4 kg/orang/hari
TPA yang tersedia untuk melayani sampah adalah TPA Nanga Pinoh masih
menggunakan metode open dumping.
Terdapat masalah sampah liar yang menumpuk sebagai TPS ilegal dan
sampah yang masuk ke sungai akibat pembuangan sampah yang tidak
sesuai.
Terdapat hanya 1 fasilitas Bank Sampah unit yang dikelola masyarakat,
pengolahan sampah di masyarakat 7 unit TPS 3R
Tahun 2025 diketahui terdapat 8 truk pengangkut sampah yang dikelola
Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Melawi. Namun, hanya satu
kecamatan yang dikelola yaitu Kecamatan Nanga Pinoh, 10 kecamatan
lainnya sama sekali belum tersentuh pelayanan persampahan Dinas
Lingkungan Hidup. Diantara kecamatan yang sudah dilayani masih
terdapat desa-desa yang belum terlayani sepenuhnya dikarenakan
kekurangan alat angkut, pembiayaan operasional dan tenaga kerja.
Isu strategis pengelolaan sampah di Kabupaten Melawi adalah:
72
- TPA Nanga Pinoh telah melebihi kapasitas dan tidak sesuai standar
- Banyaknya TPS Liar
- Pelayanan sampah belum melayani seluruh wilayah administratif
- Tidak tercapainya target pengurangan sampah dalam Jakstrada
3. Aspek Regulasi
Daerah telah memiliki peraturan sebagai berikut:
- Peraturan Daerah Nomor 13 tahun 2017 mengenai Pengelolaan Sampah
Peraturan pengelolaan persampahan di Kabupaten Melawi dengan
Peraturan Daerah yang ada perlu ditindaklanjuti dengan peraturan teknis
berupa Peraturan Bupati termasuk mengenai penegakan sanksi.
Belum optimalnya Implementasi regulasi tentang pengelolaan sampah
dan juga belum adanya tindakan hukum yang tegas terhadap pelanggar
kewajiban pengelolaan sampah
4. Aspek Peran Serta Masyarakat
Peran serta masyarakat dalam pengelolaan sampah di Kabupaten Melawi
saat ini masih cukup rendah. Hanya beberapa lokasi pemukiman
melakukan sebatas pengumpulan sampah dari rumah.
Kabupaten Melawi di bawah koordinasi Dinas Lingkungan Hidup
melakukan upaya edukasi dan kampanye partisipasi pengelolaan sampah
yang meliputi pembatasan timbulan sampah, pendauran ulang sampah,
dan atau pemanfaatan kembali sampah.
5. Aspek Pendanaan
Pendanaan yang disiapkan oleh Kabupaten Melawi untuk mengelola
persampahan masih di bawah keperluan untuk dapat memenuhi tingkat
pelayanan di seluruh kabupaten.
Retribusi pelayanan sampah mengikuti aturan Peraturan Daerah
Kabupaten Melawi Nomor 1 Tahun 2024 tentang Pajak Daerah dan
Retribusi daerah. Retribusi dilayani oleh Dinas Lingkungan Hidup
Kabupaten Melawi.
B. REKOMENDASI
73
Rekomendasi dalam Rencana Induk Pengelolaan Sampah Kabupaten
Melawi untuk setiap aspek pengelolaan sampah adalah sebagai berikut:
1. Aspek Kelembagaan
Diperlukan pengembangan pengelola pesampahan dengan memisahkan
antara regulator dan operator terutama untuk pengelolaan sampah di
TPA.
Pengembangan SDM (Sumber Daya Manusia) sesuai dengan persyaratan
yang ada dibutuhkan untuk meningkatkan kapasitas pelayananan
persampahan
Peningkatan Kinerja melalui peningkatan kompetensi, kerjasama dengan
Instansi Kecamatan/Desa/Pengelola kawasan terkait penanganan sampah
dari sumbernya.
2. Aspek Teknis Operasional
Pengadaan sarana prasarana direncanakan untuk dapat meningkatkan
kapasitas pelayanan.
Optimalisasi penanganan sampah dilakukan dengan menekankan
kegiatan-kegiatan pengurangan dan penanganan sampah direncanakan
dalam neraca perencanaan.
Kegiatan yang termasuk pengurangan sampah:
Kegiatan yang dimasukan dalam penanganan sampah:
3. Aspek Regulasi
Menyempurnakan peraturan daerah mengenai pengelolaan sampah
antara lain dengan memuat ketentuan sanksi pidana di bidang
persampahan, dan ketentuan daerah mengenai
pembentukan/pengembangan institusi.
Melengkapi seluruh ketentuan pelaksana di bidang pengelolaan
persampahan dan memberikan sosialisasi produk hukum kepada para
stakeholder terutama masyarakat.
Menjalankan mekanisme pengawasan dan penegakan sanki hukum
secara konsisten dalam rangka pembinaan aparat, masyarakat dan
pemangku kepentingan lainnya.
4. Aspek Peran Serta Masyarakat
Peningkatan strategi komunikasi yang efektif.
74
Peningkatan sosialisasi peningkatan peran serta masyarakat.
Direkomendasikan kegiatan mendorong perempuan yang lebih aktif
dalam pengelolaan persampahan monitoring dan evaluasi pelakanaan
penggunaan anggaran pengelolaan sampah dan pemanfaatan dana desa
untuk pengelolaan sampah.
5. Aspek Pendanaan
Untuk mengembangkan pendanaan dengan menerapkan dan
mengembangkan skema investasi, dana operasional dan pemeliharaan
didalam pengelolaan sampah.
Mengalokasikan anggaran pengelolaan sampah sebesar minimal 2% dari
APBD Kabupaten/Kota.
Monitoring dan evaluasi pelaksanaan penggunaan anggaran pengelolaan
sampah.
Pemanfaatan dana desa yang cukup signifikan untuk pengelolaan
sampah.
Perolehan peran serta swasta dalam pengelolaan sampah, swasta dapat
berperan dalam pengelolaan sampah diantaranya melalui program CSR.
BUPATI MELAWI,
DADI SUNARYA USFA YURSA
75