BUPATI MELAWI
Plt. Kepala Dinas Lingkungan PROVINSI KALIMANTAN BARAT
Hidup
PERATURAN BUPATI MELAWI
NOMOR TAHUN 2026
Drs. OSLAN JUNAIDI
Pembina Utama Muda TENTANG
NIP. 19670630 199401 1 003
RENCANA INDUK PENGELOLAAN SAMPAH
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
diteliti/diperiksa oleh :
KABAG HUKUM
BUPATI MELAWI,
Menimbang : a. bahwa pengelolaan sampah bertujuan untuk
EKA CHANDRA,SH.,[Link]
Pembina Tk. I
menciptakan lingkungan yang bersih, sehat,
NIP. 19741109 200212 1 005 dan indah, sehingga tidak menimbulkan
dampak negatif terhadap kesehatan
masyarakat dan lingkungan, memberikan
diteliti kembali oleh :
manfaat ekonomi, serta dapat mengubah
ASISTEN II, perilaku masyarakat;
b. bahwa dalam rangka penyelenggaraan
Dr. P.R. BENIROBIN pengelolaan sampah, diperlukan suatu
Pembina Utama Muda
NIP. 19690919 199010 1 001 dokumen perencanaan pengelolaan sampah
sebagai pedoman untuk melaksanakan
pengelolaan sampah secara terpadu dan
disetujui oleh :
berkelanjutan;
SEKRETARIS DAERAH
c. bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 6
ayat (1) Peraturan Daerah Kabupaten Melawi
Drs. PAULUS
Pembina Utama Madya
Nomor 13 Tahun 2017 tentang Pengelolaan
NIP.19661017 199203 1 010 Sampah perlu menetapkan Peraturan Bupati
tentang Rencana Induk Pengelolaan Sampah;
d. bahwa berdasarkan pertimbangan
disahkan oleh :
sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf
BUPATI MELAWI, b, dan huruf c, perlu menetapkan Peraturan
Bupati tentang Rencana Induk Pengelolaan
Sampah Kabupaten Melawi;
H. DADI SUNARYA USFA YUSRA Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2003
tentang Pembentukkan Kabupaten Melawi
dan Kabupaten Sekadau di Provinsi
Kalimantan Barat (Lembaran Negara Tahun
2003 Nomor 149, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4344);
2. Undang-Undang...
2. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008
tentang Pengelolaan Sampah (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor
69, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4851);
3. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009
tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2009 Nomor 140, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
5059) sebagaimana telah beberapa kali diubah
terakhir dengan Undang-Undang Nomor 6
Tahun 2023 tentang Penetapan Peraturan
Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor
2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja Menjadi
Undang-Undang (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2023 Nomor 41, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
6856;
4. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014
tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor
244, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5587) sebagaimana telah
diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-
Undang Nomor 6 Tahun 2023 tentang
Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti
UndangUndang Nomor 2 Tahun 2022 tentang
Cipta Kerja Menjadi Undang-Undang
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2023 Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 6856);
5. Peraturan Pemerintah Nomor 81 Tahun 2012
tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga
dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2012 Nomor 188, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5347);
6. Peraturan Presiden Nomor 97 Tahun 2017
tentang Kebijakan dan Strategi Nasional
Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan
Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2017 Nomor 223);
7. Peraturan ...
7. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor
03/PRT/M/2013 tentang Penyelenggaraan
Prasarana dan Sarana Persampahan Dalam
Penanganan Sampah Rumah Tangga dan
Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga
(Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2013
Nomor 470);
8. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan
Kehutanan Nomor 14 Tahun 2021 tentang
Pengelolaan Sampah pada Bank Sampah
(Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2021
Nomor 752);
9. Peraturan Daerah Kabupaten Melawi Nomor 13
Tahun 2017 tentang Pengelolaan Sampah
(Lembaran Daerah Kabupaten Melawi Tahun
2017 Nomor 13, Tambahan Lembaran Daerah
Kabupaten Melawi Nomor 181);
10. Peraturan Bupati Melawi Nomor 14 Tahun 2019
tentang Kebijakan dan Strategi Kabupaten
Melawi Dalam Pengelolaan Sampah Rumah
Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah
Tangga (Berita Daerah Kabupaten Melawi
Tahun 2019 Nomor 14);
MEMUTUSKAN:
Menetapkan : PERATURAN BUPATI TENTANG RENCANA INDUK
PENGELOLAAN SAMPAH KABUPATEN MELAWI.
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan Bupati ini yang dimaksud dengan :
1. Daerah adalah Kabupaten Melawi;
2. Pemerintah Daerah adalah Bupati beserta perangkat
daerah sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan
Daerah;
3. Bupati adalah Bupati Melawi;
4. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang selanjutnya
disingkat DPRD adalah Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah Kabupaten Melawi;
5. Dinas Lingkungan Hidup yang selanjutnya disebut
adalah Dinas Lingkungan Hidup yang mempunyai
kewenangan dan tanggung jawab dibidang
Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan
Lingkungan Hidup dan Pengelolaan Limbah B3,
Bidang Tata Lingkungan dan Konservasi Sumber
Daya Alam dan bidang kebersihan, Pertamanan dan
perkuburan;
6. Satuan Kerja Perangkat Daerah yang selanjutnya
6. Satuan ...
disingkat SKPD adalah Perangkat Daerah sebagai
unsur pembantu Bupati dalam peyelenggaraan
Pemerintahan Daerah;
7. Rencana Induk Pengelolaan Sampah yang
selanjutnya disingkat RIPS adalah dokumen
perencanaan penyelenggaraan pengelolaan
persampahan dalam rangka pengelolaan sampah
secara terpadu dan berkelanjutan;
8. Sampah adalah sisa kegiatan sehari – hari manusia
dan/atau proses alam yang terbentuk padat yang
terdiri dari atas sampah rumah tangga maupun
sampah sejenis sampah rumah tangga;
9. Pengelolaan Sampah adalah kegiatan yang
sistematis, menyeluruh, dan berkesinambungan
yang meliputi pengurangan dan penanganan
Sampah;
10. Pengurangan Sampah adalah semua kegiatan yang
berdampak pada pengurangan angka timbulan
Sampah terangkut ke tempat pembuangan akhir
Sampah;
11. Penanganan Sampah adalah upaya untuk
menangani materi atau bahan yang telah menjadi
Sampah, yaitu pemilahan Sampah, pengumpulan,
dan pengolahan serta, pengangkutan Sampah;
12. Pemilahan adalah kegiatan pengelompokan dan
memisahkan sampah sesuai dengan jenis, jumlah
dan/atau sifat sampah;
13. Pengumpulan sampah adalah kegiatan mengambil
dan memindahkan ketempat penampungan
sementara atau tempat pengolahan sampah
terpadu;
14. Pengangkutan sampah adalah kegiatan membawa
sampah dari sumber dan/atau dari tempat
penampungan sementara atau dari tempat
pengolahan sampah terpadu menuju tempat
pemrosesan akhir;
15. Reduce, Reuse dan Recycle yang selanjutnya
disingkat dengan 3R, adalah kegiatan pengurangan
sampah dengan mengurangi, memakai atau
memanfaatkan kembali dan mendaur ulang;
16. Pendauran ulang sampah adalah kegiatan mengolah
sampah menjadi produk lain yang berbeda dari
bentuk asalnya, dan dimanfaatkan untuk keperluan
tertentu;
17. Sampah Rumah Tangga adalah sampah yang
berasal dari kegiatan sehari-hari dalam rumah
tangga yang sebagian besar terdiri dari sampah
organik, tidak termasuk tinja dan sampah spesifik;
18. Sampah sejenis sampah rumah tangga adalah
sampah yang tidak berasal dari rumah tangga dan
berasal dari kawasan permukiman, kawasan
komersial, kawasan industri, kawasan khusus,
fasilitas umum, fasilitas sosial, dan/atau fasilitas
lainnya;
19. Sampah Organik adalah sampah yang berasal dari
19. Sampah ...
benda hidup;
20. Sampah Anorganik adalah sampah yang berasal dari
benda mati;
21. Sampah Residu adalah sampah yang tidak dapat
diolah dengan pemadatan, pengomposan, daur
ulang materi dan/atau daur ulang energi;
22. Residu adalah sampah yang tidak dapat diolah
dengan pemadatan, pengomposan, dan daur ulang
materi dan/atau daur ulang energi;
23. Sampah spesifik adalah sampah yang karena sifat,
konsentrasi, dan/atau volumenya memerlukan
pengelolaan khusus;
24. Potensi timbulan sampah adalah estimasi sampah
yang akan ditimbulkan dari suatu aktivitas pada
suatu tempat tanpa adanya intervensi pengurangan
sampah;
25. Pembatasan timbulan sampah adalah
kegiatan/program yang dilakukan untuk mengurangi
timbulan sampah perkapita dengan cara penerapan
gaya hidup ramah lingkungan (green life style),
sehingga mencegah timbulnya sampah;
26. Pemanfaatan kembali sampah adalah kegiatan
memanfaatkan kembali suatu bahan/material
sebelum menjadi sampah;
27. Tempat Penampungan Sementara yang selanjutnya
disingkat TPS adalah tempat sebelum sampah
diangkut ke tempat Unit Pengolahan Sampah,
dan/atau tempat pembuangan akhir;
28. Unit Pengolahan Sampah, yang selanjutnya
disingkat UPS, adalah tempat dilaksankannya
pengolahan sampah organik menjadi kompos;
29. Tempat Pemrosesan Akhir, yang selanjutnya
disingkat TPA, adalah tempat untuk memroses dan
mengembalikan sampah ke media lingkungan
secara aman bagi manusia dan lingkungan;
30. Sumber sampah adalah asal timbulan sampah;
31. Penghasil sampah adalah setiap orang dan/atau
akibat proses alam yang menghasilkan timbulan
sampah;
32. Orang adalah orang perseorangan, kelompok orang,
dan/atau badan hukum;
33. Produsen adalah pelaku usaha yang memproduksi
barang yang menggunakan kemasan,
mendistribusikan barang yang menggunakan
kemasan dan berasal dari impor, atau menjual
barang dengan menggunakan wadah yang tidak
dapat atau sulit terurai oleh proses alam;
34. Badan ...
34. Badan Usaha adalah sekumpulan orang dan/atau
modal yang merupakan kesatuan, baik yang
melakukan usaha maupun yang tidak melakukan
usaha yang meliputi perseroan terbatas, perseroan
komanditer, perseroan lainnya, badan usaha milik
negara, atau badan usaha milik daerah dengan
nama dan dalam bentuk apapun, firma, kongsi,
koperasi dana pensiun persekutuan, perkumpulan,
yayasan, organisasi massa, organisasi sosial politik,
atau organisasi lainya, lembaga dan bentuk badan
lainnya termasuk kontrak investasi kolektif dan
bentuk usaha tetap;
35. Kawasan permukiman adalah kawasan hunian
dalam bentuk klaster apartemen, kondominium,
asrama, dan sejenisnya;
36. Kawasan komersial adalah kawasan tempat
pemusatan kegiatan usaha perdagangan dan/atau
jasa yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana
penunjang;
37. Kawasan industri adalah kawasan tempat
pemusatan kegiatan industri yang dilengkapi
dengan sarana dan prasarana penunjang;
38. Kawasan khusus adalah wilayah yang bersifat
khusus yang digunakan untuk kepentingan
nasional/berskala nasional;
39. Retribusi Daerah, yang selanjutnya disebut
Retribusi, adalah Pungutan Daerah sebagai
pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu
yang khusus disediakan dan/atau diberikan oleh
Pemerintah Daerah untuk kepentingan orang pribadi
atau badan.
Pasal 2
Rencana Induk Pengelolaan Sampah dimaksudkan
sebagai pedoman bagi Pemerintah Daerah dalam
meningkatkan kondisi pengelolaan persampahan guna
mendukung upaya peningkatan kualitas lingkungan di
Daerah.
Pasal 3
Rencana Induk Pengelolaan Sampah bertujuan untuk
meningkatkan kinerja sistemPengelolaan Sampah agar
dapat terstruktur dan sistematis serta menjadi panduan
dalam penyusunan program dan pembiayaan.
BAB II ...
BAB II
FUNGSI, KEDUDUKAN DAN WILAYAH PELAYANAN
Pasal 4
Rencana Induk Pengelolaan Sampah berfungsi sebagai:
a. pedoman bagi seluruh pemangku kepentingan di
Daerah untuk mengkoordinasikan program dan
kegiatan dalam pengelolaan persampahan guna
mengatasi permasalahan sampah di Daerah;
b. pedoman perencanaan anggaran untuk sub urusan
pengelolaan sampah; dan
c. pedoman perencanaan pengelolaan sampah untuk
menjalankan konsep pengurangan di sumber dan
pemanfaatan sampah sebagai sumber daya.
Pasal 5
Pasal 5 ...
Kedudukan Rencana Induk Pengelolaan Sampah adalah:
a. rencana tata kelola sampah dari hulu ke hilir dan
terintegrasi dari aspek teknis operasional,
kelembagaan, pembiayaan, regulasi dan partisipasi
masyarakat terhadap Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Daerah;
b. perwujudan keterpaduan, keterkaitan, dan
keseimbangan antar sektor dan antar lembaga
pemangku kepentingan terkait pengelolaan sampah;
c. pedoman penyediaan sarana dan prasarana
persampahan sesuai kebutuhan pelayanan; dan
d. perumusan program kerja pengelolaan sampah
terintegrasi dari aspek teknis operasional,
kelembagaan, pembiayaan, regulasi dan partisipasi
masyarakat.
Pasal 6
(1) Wilayah Pelayanan Pengelolaan Sampah dalam
Peraturan Bupati ini, meliputi seluruh wilayah
Kecamatan.
(2) Penyelenggaraan wilayah pelayanan pengelolaan
sampah sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilaksanakan oleh OPD yang menyelenggarakan
urusan pemerintahan bidang persampahan.
BAB III
RENCANA INDUK PENGELOLAAN SAMPAH
Pasal 7
(1)Rencana Induk Pengelolaan Sampah disusun dengan
sistematika sebagai berikut:
a. BAB I : PENDAHULUAN
memuat latar belakang pekerjaan,
maksud dan tujuan, ruang lingkup RIPS,
jenis Rencana Induk, kedudukan
rencana induk, landasan hukum,
standar teknis dan keluaran,
sistematika pelaporan;
b. BAB II ...
b. BAB II : KONSEP DAN KRITERIA PENYUSUNAN
RENCANA INDUK
memuat uraian periode perencanaan,
evaluasi Rencana Induk, kriteria
perencanaan, survei penyusunan
rencana induk, keterpaduan
perencanaan dengan sektor lain, dan
kontribusi sistem pengelolaan sampah
dalam program perubahan iklim;
c. BAB III : DESKRIPSI DAERAH PERENCANAAN
memuat uraian daerah rencana, kondisi
fisik wilayah, kondisi masyarakat yang
meliputi kondisi sosial ekonomi budaya
dan kesehatan masyarakat, kondisi
eksisting sistem pengelolaan sampah,
permasalahan sistem yang dihadapi,
analisis profil pelayanan sistem
pengelolaan sampah, kebijakan sistem
pengelolaan sampah yang ada;
d. BAB IV : STRATEGI PENGEMBANGAN SISTEM
PENGELOLAAN SAMPAH
memuat uraian kebijakan strategi
pengelolaan, tujuan dan target
penanganan, pengembangan daerah
pelayanan pembagian zona pelayanan,
penetapan zona prioritas, perhitungan
kebutuhan prasarana dan sarana
pengelolaan sampah, strategi
pengembangan sistem pengelolaan
sampah;
e. BAB V : RENCANA PROGRAM DAN TAHAPAN
PELAKSANAAN KEGIATAN
memuat uraian tentang rencana
program, rencana tahapan
pelaksanaan, rencana pembiayaan dan
indikasi investasi program, rencana
penagturan dan kelembagaan, rencana
edukasi dan peran masyarakat,
rencana sosialisasi dan dokumen
rencana induk, tahapan legalisasi
rencana induk; dan
f. BAB VI : KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
memuat uraian tentang kesimpulan
dan rekomendasi.
(2)Dokumen Rencana Induk Pengelolaan Sampah
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum
dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak
terpisahkan dari Peraturan Bupati ini.
BAB IV...
BAB IV
PENINJAUAN KEMBALI
Pasal 8
Peninjauan kembali dan/atau perubahan pada Rencana
Induk Pengelolaan Sampah dapat dilakukan paling
cepat setiap 5 (lima) tahun dan/atau apabila terjadi
perubahan kebijakan strategi pengelolaan sampah
Nasional, Daerah Provinsi dan/atau Daerah yang
mempengaruhi dinamika internal pengelolaan sampah
Daerah.
BAB V
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 9
Peraturan Bupati ini mulai berlaku pada tanggal
diundangkan. Agar setiap orang mengetahuinya,
memerintahkan pengundangan Peraturan Bupati ini
dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah
Kabupaten Melawi.
Ditetapkan di Nanga Pinoh
Pada tanggal 2026
BUPATI MELAWI,
DADI SUNARYA USFA YURSA