BAB II
KONSEP DAN KRITERIA PENYUSUNAN RENCANA INDUK
A. PERIODE PERENCANAAN
Secara umum periode perencanaan yang akan direncanakan dalam
dokumen rencana induk ini akan mengikuti periode perencanana RPJPD yakni
tahun 2026-2046, dimana tahun pertama perencanaan adalah tahun 2026
dan diakhiri pada tahun 2045, yang terbagi atas perencanaan jangka pendek,
jangka menengah dan jangka panjang.
1. Perencanaan Jangka Pendek
Perencanaan jangka pendek merupakan tahap pelaksanaan yang
bersifat mendesak dan dapat dijadikan pondasi untuk pentahapan
selanjutnya. Perencanaan ini akan direncanakan untuk periode tahun ke-1
dimana tahun 2026 merupakan tahun pertama perencanaan, dalam
perencanaan ini juga tahun 2025 sebagai dasar untuk mendukung kegiatan
jangka pendek pada tahun 2026.
2. Perencanaan Jangka Menengah
Perencanaan jangka menengah yakni perencanaan pada tahun ke-2
sampah tahun ke-5 dalam perencanaan ini yakni untuk tahun 2026 s.d tahun
2029, setiap bagian perencanaan ini akan didasarkan pada hasil kajian
dengan mempertimbangkan tahap mendesak yang telah dilakukan.
3. Perencanaan Jangka Panjang
Perencanaan jangka panjang merupakan tahap pelaksanaan yang
bersifat menyeluruh dengan mempertimbangkan hasil pencapaian tahap
sebelumnya. Perencanaan jangka panjang ini akan dilakukan sampai dengan
akhir tahun perencanaan yang sejalan dengan RPJPD yakni tahun 2046
dimana dimulai dari tahun ke-6 perencanaan, dimana setiap lima tahun
sekali dapat dilakukan review terhadap keseluruhan perencanaan yang telah
dilakukan sebelumnya.
B. EVALUASI RENCANA INDUK
Pelaksanaan evaluasi rencana induk menunjukkan pentingnya
menjalankan evaluasi berkala terhadap rencana induk sistem pengelolaan
sampah dalam suatu wilayah. Evaluasi ini diperlukan untuk memastikan
bahwa rencana tersebut tetap relevan dan efektif menghadapi perubahan
lingkungan, tata ruang, serta strategi lingkungan yang terjadi seiring waktu,
maupun hasil rekomendasi audit lingkungan perkotaan yang terkait dengan
1
masalah pengelolaan persampahan. Berikut adalah beberapa langkah dan
pertimbangan yang dapat diambil dalam proses evaluasi tersebut:
a. Jadwal Evaluasi Berkala
Setiap 5 tahun adalah periode yang wajar untuk melakukanmevaluasi. Dalam
jangka waktu tersebut, banyak perkembangan dan perubahan yang mungkin
terjadi di berbagai bidang, termasuk sanitasi, tata ruang, dan strategi
lingkungan. Jadwal ini memungkinkan rencana induk sistem pengelolaan
sampah untuk diperbarui sesuai dengan informasi terbaru.
b. Koordinasi dengan Rencana Induk Lainnya
Penting untuk memastikan bahwa rencana induk sistem pengelolaan sampah
sejalan dengan rencana induk bidang sanitasi, tata ruang, dan rencana induk
SPAM (Sistem Penyediaan Air Minum). Koordinasi ini membantu menghindari
konflik dan memastikan sinergi antara berbagai rencana untuk
pengembangan kota yang berkelanjutan.
c. Perubahan Strategi Lingkungan
Dalam lingkungan yang selalu berubah, strategi lingkungan perlu diperbarui
agar tetap relevan dan efektif. Pemahaman yang baik tentang
perkembangan terkini dalam pengelolaan lingkungan sangat penting untuk
mengintegrasikan strategi ini ke dalam rencana induk sistem pengelolaan
sampah.
d. Hasil Rekomendasi Audit Lingkungan
Rekomendasi dari audit lingkungan perkotaan memberikan wawasan
berharga tentang kelemahan dan potensi perbaikan dalam pengelolaan
sampah. Mengincar rekomendasi ini dalam proses evaluasi membantu
mengidentifikasi area-area yang memerlukan perhatian lebih.
e. Partisipasi Pihak Terkait
Melibatkan para pemangku kepentingan, termasuk masyarakat, organisasi
lingkungan, pemerintah, dan sektor swasta, dalam proses evaluasi dapat
membantu mendapatkan berbagai pandangan dan masukan yang beragam.
Ini dapat memperkaya pemahaman tentang situasi saat ini dan membantu
mengidentifikasi solusi yang lebih holistik.
f. Analisis Data dan Kinerja
Evaluasi harus didasarkan pada data dan indikator kinerja yang relevan.
Analisis data tentang jumlah dan jenis sampah yang dihasilkan, efisiensi
sistem pengelolaan, dan dampak lingkungan dapat membantu mengukur
keberhasilan rencana yang ada dan mengidentifikasi area untuk perbaikan.
2
g. Penyesuaian Rencana
Hasil dari evaluasi harus digunakan sebagai dasar untuk memperbarui
rencana induk sistem pengelolaan sampah. Penyesuaian ini mungkin
termasuk perubahan strategi, tujuan, kebijakan, dan taktik operasional
sesuai dengan perubahan yang terjadi.
h. Evaluasi Berkelanjutan
Selain evaluasi lima tahunan, penting untuk memiliki mekanisme evaluasi
berkelanjutan yang memungkinkan penyesuaian lebih cepat jika perubahan
mendadak atau isu-isu mendesak muncul.
Mengintegrasikan semua faktor di atas dalam proses evaluasi
membantu memastikan bahwa rencana induk sistem pengelolaan sampah
tetap relevan, efektif, dan responsif terhadap perkembangan lingkungan dan
tuntutan masyarakat.
C. KRITERIA PERENCANAAN
1. Kriteria Umum
Rencana Induk Pengelolaan Persampahan paling sedikit harus meliputi
hal – hal sebagai berikut:
a. Rencana umum meliputi:
Evaluasi kondisi kota/kawasan dan rencana pengembangannya yang
bertujuan untuk mengetahui karakter, fungsi strategis dan konteks
regional nasional kota/kawasan yang bersangkutan.
Evaluasi kondisi eksisting penanganan sampah dari sumber sampai
TPA.
b. Rencana penanganan dan pengurangan sampah dengan
mengedepankan pengurangan sampah yang ditimbun di TPA,
pemanfaatan sampah sebagai sumber daya melalui kegiatan 3R,
pewadahan, pengumpulan, pengangkutan, pengolahan, dan
pemrosesan akhir sampah.
c. Rencana penyediaan sarana dan prasana sampah sesuai kebutuhan
pelayanan dengan mengedepankan pemanfaatan sampah dan
meningkatkan kualitas TPA melalui penerapan teknologi ramah
lingkungan lingkungan serta menyediakan kebutuah sarana dan
prasarana pengelolaan sampah/fasilitas pengolahan sampah seperti
TPS3R dan TPST.
d. Program dan kegiatan penanganan sampah disusun berdasarkan hasil
evaluasi terhadap permasalahan yang ada dan kebutuhan
pengembangan di masa depan dan tersedianya pelayanan
3
pengumpulan dan pengangkutan sampah bagimasyarakat di wilayah
pelayanan dnegan biaya (retribusi) yang terjangkau oleh masyarakat.
e. Kriteria mencakup kriteria teknis yang dapat diaplikasikan dalam
perencanaan yang sudah umum digunakan, tetapi jika ada data hasil
survei maka kriteria teknis menjadi bahan acuan.
f. Standar pelayanan ditentukan sejak awal seperti tingkat pelayanan dan
cakupan pelayanan yang diinginkan.
g. Rencana pembiayaan dan pola investasi berupa indikasi besar biaya
tingkat awal, sumber dan pola pembiayaan. Perhitungan biaya tingkat
awal mencakup seluruh komponen pekerjaan perencanaan, pekerjaan
konstruksi, pajak, pembebasan tanah dan perizinan.
h. Rencana pengembangan kelembagaan penyelenggara meliputi
struktur organisasi dan penempatan tenaga ahli sesuai dengan latar
belakang pendidikan yang mengacu pada peraturan perundangan yang
berlaku.
i. Tersedianya rencana pengembangan kapasitas masyarakat dalam
mengelolasampah melalui program kampanye dan edukasi secara
berkesinambungan untuk meningkatkan peran masyarakat dalam
kegiatan 3R.
2. Kriteria Teknis
Kiteria teknis meliputi:
a. Periode perencanaan minimal 10 (sepuluh) tahun
b. Sasaran dan prioritas penanganan: Sasaran pelayanan pada tahap
awal prioritas harus ditujukan pada daerah yang telah mendapatkan
pelayaan saat ini, daerah berkepadatan tinggi serta kawasan strategis.
Setelah itu prioritas pelayanan diarahkan pada daerah pengembangan
sesuai dengan arahan dalam perencanaan induk kota.
c. Strategi penanganan: Untuk mendapatkan perencanaan yang
optimum, perlu mempertimbangkan beberapa hal:
Kondisi pelayanan eksisting termasuk keberadaan TPA dan masalah
pencemaran yang ada;
Urgensi masalah penutupan dan rehabilitasi TPA eksisting serta
pemilihan lokasi TPA baru baik untuk skala kota maupun lintas
kabupaten/kota atau lintas provinsi (regional);
Komposisi dan karakteristik sampah;
Mengurangi jumlah sampah yang diangkut dan ditimbun di TPA
secara bertahap (hanya residu yang dibuang di TPA);
Potensi pemanfaatan sampah dengan kegiatan 3R yang melibatkan
masyakarat dalam penanganan sampah di sumber melalui
pemilahan sampah dan mengembangkan pola insentif melalui
4
”bank sampah”;
Potensi pemanfaatan gas bio dari sampah di TPA;
Pengembangan pelayanan penanganan sampah;
Penegakkan peraturan (law enforcement); dan
Peningkatan manajemen pengoperasian dan pemeliharaan.
d. Kebutuhan pelayanan: Kebutuhan pelayanan penanganan sampah
ditentukan berdasarkan:
Proyeksi penduduk: Proyeksi penduduk harus dilakukan untuk
interval 5 tahun selama periode perencanaan.
Proyeksi timbulan sampah: Timbulan sampah diproyeksikan setiap
interval 5 tahun. Asumsi yang digunakan dalam perhitungan
proyeksi timbulan sampah harus sesuai dengan Rencana Induk
penanganan sampah yang diuraikan di bagian sebelumnya.
Kebutuhan lahan TPA: Kebutuhan prasarana dan sarana
persampahan (pemilahan, pengangkutan, TPS, TPS3R, TPST, dan
TPA).
Dalam penyusunan rencana induk sistem pengelolaan sampah, sub
sistem teknis – teknologi menjadi tulang punggung dalam pengembangan
dan pelaksanaan pengelolaan persampahan Kabupaten/Kota. Pada
dasarnya sistem pengelolaan persampahan dapat digambarkan seperti
pada Gambar 2.
Gambar 2. Sistem Pengelolaan Sampah Perkotaan
3. Kriteria Standar Pelayanan Minimal (SPM)
SPM pengelolaan persampahan adalah jumlah penduduk yang terlayani
dalam sistem penanganan sampah terhadap total jumlah penduduk di
Kabupaten/Kota tersebut dan dinyatakan dalam bentuk persentase. Kriteria
SPM ini mempunyai pengertian bahwa pengurangan sampah meliputi
kegiatan pembatasan timbulan sampah, daur ulang sampah, dan
5
pemanfaatan kembali sampah. Setiap sampah dikumpulkan dari sumber ke
tempat pengolahan sampah perkotaan yang selanjutnya dipilah sesuai
jenisnya, digunakan kembali, didaur ulang dan diolah secara optimal,
sehingga pada akhirnya hanya residu yang dikirim ke Tempat Pemrosesan
Akhir (TPA).
Adapun kriteria SPM fasilitas penanganan sampah di perkotaan adalah
volume sampah di perkotaan yang melalui guna ulang, daur ulang,
pengolahan di tempat pengolahan sampah sebelum akhirnya masuk ke TPA
terhadap volume seluruh sampah kota yang dinyatakan dalam bentuk
persentase. Standar pelayanan minimal persampahan dilakukan melalui
pemilahan, pengumpulan, pengangkutan sampah rumah tangga ke TPA
secara berkala minimal 2 (dua) kali seminggu serta pengolahan dan
pemrosesan akhir sampah.
Target penanganan sampah juga dapat dilihat melalui target
pengagkutan sampah ke penyediaan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) yang
ramah lingkungan dan untuk target jangka panjang sesuai Visi Indonesia
Emas 2045, penanganan sampah akan berfokus pada pengolahan sampah
sebelum masuk ke TPA. Cara perhitungan Standar Pelayanan Minimal (SPM)
fasilitas pengolahan sampah adalah volume sampah terolah di fasilitas
pengolahan sampah dibagi dengan jumlah timbulan sampah yang kemudian
dinyatakan dalam bentuk persentase. Sampah terolah ini merupakan sampah
yang terkumpul melalui pengumpulan dan pengangkutan dikurangi dengan
residu sampah yang dihasilkan dari proses pengolahan sampah di fasilitas
pengolahan sampah. Jumlah sampah yang terkumpul ini merupakan timbulan
sampah yang telah dikurangi dengan pengurangan sampah di sumber
melalui guna ulang dan daur ulang baik di sumber rumah tangga maupun
melalui mekanisme bank sampah. Sampah yang terolah di tempat
pengolahan sampah tidak akan masuk ke TPA, hanya residu yang
selanjutnya masuk ke TPA sesuai target pelayanan pada RPJPN tahun 2025-
2045. Perhitungan yang dapat dilakukan sebagai perhitungan kinerja
pengolahan sampah sebagai standar pelayanan dalam pengelolaan sampah
sebagai berikut:
6
Untuk dapat menghitung pencapaian SPM bidang persampahan ini
diperlukan data meliputi:
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten/Kota
Data timbulan sampah dan komposisi sampah yang dikeluarkan oleh Dinas
yang membidangi pengelolaan persampahan di Kabupaten/Kota SPM
pengelolaan persampahan adalah jumlah penduduk yang terlayani dalam
sistem penanganan sampah terhadap total jumlah penduduk di
Kabupaten/Kota tersebut dan dinyatakan dalam bentuk persentase.
D. SURVEI PENYUSUNAN RENCANA INDUK
1. Survei dan Pengkajian Wilayah Studi dan Wilayah Pelayanan
Survei dan pengkajian wilayah studi dan wilayah pelayanan dilakukan
dengan mengumpulkan data sekunder dari Dinas – Dinas terkait. Data
sekunder yang dibutuhkan meliputi,
a. Gambaran umum Kabupaten Melawi
Gambaran umum yang menjelaskan posisi Kota atau Kabupaten secara
umum dengan dilengkapi peta tata ruang wilayah.
b. Kondisi fisik Kabupaten Melawi
Kondisi fisik suatu kota pada umumnya digambarkan dengan data yang
meliputi,
Geografi
Topografi
Klimatologi
c. Kondisi prasarana Kabupaten Melawi
Prasarana Kota perlu diidentifikasi untuk mengenali sumber dan
karakteristik sampah yang dihasilkan pada wilayah pelayanan. Kondisi
prasarana Kota dapat digambarkan dengan data yang meliputi,
Jaringan jalan, meliputi jalan arteri/protokol, kolektor, jalan
lingkungan (dilengkapi dengan peta jaringan jalan)
Perumahan, meliputi perumahan komplek dan non komplek baik
yang teratur, tidak teratur maupun perumahan kumuh
Fasilitas komersial, meliputi pertokoan, pasar, hotel, restoran, salon,
bioskop, kawasan wisata, kawasan industri dan lain – lain
Fasilitas umum, meliputi perkantoran, fasilitas pendidikan dan
7
fasilitas kesehatan
Fasilitas sosial, meliputi rumah ibadah, panti sosal dan lain – lain
Ruang terbuka hijau/hutan kota, meliputi taman kota, hutan kota,
perkebunan, persawahan dan lahan – lahan pertanian yang
dilengkapi dengan peta tata guna lahan
d. Kondisi pengelolaan persampahan Kabupaten Melawi
Data timbulan sampah (liter/orang/hari, m3/hari, ton/hari) serta
komposisi dan karakteristik sampah meliputi komposisi organik dan
anorganik (kertas, plastik, logam, kaca dan lainnya)
Pola penanganan sampah dari sumber sampai TPA untuk
mengetahui aliran sampah dari setiap sumber sampah yang menuju
ke TPS, TPS3R, SPA, FPSA, TPST dan TPA (ataupun ke TPA liar)
Pewadahan (jenis wadah yang umum digunakan)
Pemindahan skala kawasan (metode pemindahan baik TPS,
kontainer, TPS3R, jumlah prasarana pemindahan, lokasi dan lain –
lain) dan skala kota (FPSA atau SPA, jumlah lokasi SPA/FPSA)
Fasilitas 3R skala kawasan (lokasi, jumlah, metode 3R dan kondisi
operasi, jumlah pengurangan/pemanfaatan sampah dan lain – lain)
dan fasilitas 3R skala kota (lokasi, jumlah pengurangan/pemanfaatan
sampah, fasilitas dan kondisi operasi, dan lain – lain)
Pengangkutan (jumlah dan jenis kendaraan angkut, frekuensi atau
ritasi pengangkutan, rute angkutan, dan lain – lain)
Pemrosesan akhir (lokasi, luas, fasilitas TPA, kondisi operasi dan
pemanfaatan lahan)
Pengkajian bertujuan untuk mendapatkan batasan wilayah studi,
wilayah pekerjaan dan wilayah pelayanan serta menjelaskan komponen yang
terdapat di dalam wilayah studi dan wilayah pelayanan secara terinci baik
kondisi pada saat ini maupun kondisi pada masa datang. Data – data
tersebut kemudian akan digunakan sebagai dasar pertimbangan dalam
penyusunan dokumen Rencana Induk Pengelolaan Sampah Kabupaten
Melawi.
2. Survei dan Pengkajian Sumber Timbulan, Komposisi dan
Karakteristik Sampah
Survei dan pengkajian sumber timbulan, komposisi dan karakteristik
dilakukan sesuai dengan tata cara yang tertera pada SNI 19-3964-1995 dan
SNI M 36-1991-03 tentang Metode Pengambilan dan Pengukuran Contoh
Timbulan dan Komposisi Sampah Perkotaan atau SNI terbaru. Sampling
sampah dilakukan untuk mendapatkan data – data berikut ini,
b. Data timbulan sampah
8
Timbulan sampah merupakan kuantitas sampah yang dihasilkan dari
sumber sampah. Timbulan sampah dinyatakan dengan satuan volume
atau satuan berat. Dalam perhitungan timbulan sampah domestik,
sumber sampah terbagi dua yaitu sumber sampah rumah tangga dan
sumber sampah non rumah tangga. Satuan yang akan digunakan
untuk timbulan sampah dari sumber rumah tangga adalah
kg/orang/hari dan liter/orang/hari.
c. Data komposisi sampah
Komposisi sampah merupakan gambaran berbagai jenis sampah yang
dihasilkan oleh kegiatan manusia. Komposisi sampah umumnya
dinyatakan dalam persen berat atau persen volume dari sampah
organik dan berbagai jenis sampah anorganik. Perhitungan komposisi
sampah ini digunakan untuk menentukan pengolahan yang tepat dan
efisien untuk diterapkan dalam sistem pengelolaan sampah.
Dalam pekerjaan ini komposisi sampah dipilah berdasarkan jenis
sampah yang umum ditemukan di sumber sampah. Dalam pemilahan,
sampah akan dibagi ke dalam delapan kategori dan kemudian
digolongkan lagi secara spesifik. Kategori pemilahan komposisi sampah
didasarkan pada SNI 19-3964-1994 tentang metode pengambilan dan
pengukuran contoh timbulan dan komposisi sampah perkotaan dan
dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Kategori Komposisi Sampah
No. Kategori Jenis
1. Sampah organik Sampah makanan dan tanaman
Botol plastik (PET), kantong kresek, PP, PE,
2. Plastik OPP, sisa HDPE, PS, dan jenis plastik
lainnya
Kertas dan Koran, kertas HVS, tetrapack, kardus,
3.
kardus karton, bungkus makanan dan sejenisnya
4. Karet dan kulit Karet, kulit dan sejenisnya
5. Kain Kain bekas, perca dan sejenisnya
6. Logam Kaleng aluminium dan besi
Kaca, botol dari kaca, serpihan kaca,
Kaca dan
7. keramik, wadah dari keramik dan serpihan
keramik
keramik
Pampers berkas, pembalut wanita bekas,
Bahan bungkus bekas obat, sampah medis,
8. Berbahaya dan baterai
Beracun (B3) bekas, lampu bekas, sampah elektronik dan
sejenisnya
9. Residu Sampah – sampah yang tidak memiliki dan
9
sulit baik untuk dimanfaatkan maupun
didaur ulang
3. Survei dan Pengkajian Demografi dan Ketatakotaan
Survei dan pengkajian demografi dan ketatakotaan dilakukan untuk
memenuhi kebutuhan data terkait perencanaan proyeksi persampahan di
Kabupaten/Kota. Data yang akan digunakan dalam mengkaji hal ini
merupakan data – data sekunder yang meliputi,
a. Data kependudukan
Data kependudukan diperlukan untuk mengidentifikasi masyarakat
yang berada di wilayah pelayanan, menghitung tingkat pelayanan
dan lain – lain. Data kependudukan meliputi,
Jumlah penduduk
Kepadatan penduduk
Data kepadatan penduduk perlu dilengkapi dengan peta
kepadatan penduduk yang dapat dibedakan untuk daerah
dengan kepadatan > 100 jiwa/ha, 50 – 100 jiwa/ha dan daerah
dengan kepadatan < 50 jiwa/ha
Persebaran penduduk
Migrasi penduduk per tahun
Penduduk berdasarkan gender
Penduduk usia sekolah
b. Data kondisi sosial ekonomi masyarakat
Data kondisi sosial ekonomi masyarakat diperlukan untuk
menentukan kualitas pengelolaan sampah dan perhitungan tarif
retribusi yang diperoleh dari analisis terhadap kemampuan dan
kemauan membayar masyarakat. Data kondisi sosial ekonomi
masyarakat meliputi,
Mata pencaharian masyarakat
Penghasilan masyarakat yang dinyatakan dengan data
pendapatan/KK/bulan
Strata ekonomi yang dapat menggambarkan persentase
kelompok
masyarakat berpenghasilan tinggi, menengah dan rendah.
c. Data tingkat kesehatan masyarakat
Data tingkat kesehatan masyarakat diperlukan sebagai upaya untuk
meningkatkan kualitas pelayanan persampahan di kawasan rawan
sanitasi yang pada umumnya memiliki tingkat kesehatan yang
rendah. Data tingkat kesehatan masyarakat/ penyakit yang
diperlukan umumnya yang berkaitan dengan buruknya kondisi
10
sanitasi lingkungan dan air bersih seperti diare, tipes, disentri dan
ISPA (akibat proses pembakaran sampah secara terbuka).
d. Rencana Pembangunan/Pengembangan Kota/Ketatakotaan
Data rencana pengembangan kota diperlukan untuk memberikan
gambaran pengembangan kota dalam kurun waktu perencanaan
yang akan digunakan sebagai acuan dalam menganalisis
pengembangan kebutuhan pelayanan persampahan jangka panjang.
Data rencana pengembangan kota yang dibutuhkan meliputi,
Rencana pengembangan wilayah
Rencana pengembangan jaringan jalan
Rencana pengembangan fasilitas kota
Data – data tersebut perlu dilengkapi dengan peta pengembangan
wilayah, peta jaringan jalan dan peta lainnya yang termasuk dalam
rencana pengembangan kota.
4. Survei dan Pengkajian Biaya, Sumber Pendanaan dan Keuangan
Survei yang dilakukan untuk mengumpulkan data guna mengkaji biaya,
sumber pendanaan dan keuangan adalah melalui pengumpulan data
sekunder dengan cara melakukan Survei dengan mengunjungi instansi
terkait maupun dengan wawancara. Selain daripada itu berkenaan dengan
Willingness To Pay (kesediaan masyarakat untuk membayar) dan
affordability To Pay (kemampuan finansial untuk membayar) maka dilakukan
survei primer di beberapa Kecamatan di Kabupaten Melawi dengan cara
menyebarkan quesioner ke masyarakat, data yang akan diperoleh antara lain
:
Pendapatan masyarakat
Pendapatan tambahan masyarakat
Pengeluaran masyarakat
Sisa uang penghasilan bulanan
Kemampuan membayar iuran
Pengetahuan adanya petugas pengangkut sampah
Jasa Pengangkut sampah
Frekuensi pengangkutan sampah
Kepuasan terhadap layananan sampah
Kesediaan menjadi pelanggan
Cara pembayaran retribusi
Lokasi pembuangan sampah
Besaran iuran yang diharapkan
Adapun untuk data-data sekunder yang akan diperoleh dari instansi terkait
adalah sebagai berikut:
11
a. Survei Instansi Terkait
Data-data yang diperoleh dari Dinas dinas-dinas terkait diantaranya:
Pelanggan;
Retribusi;
Biaya timbulan sampah;
Data Personil;
Alternatif Sumber Pembiayaan;
Data laporan keuangan yang berupa Biaya pengelolaan sampah dan
perolehan Retribusi pelayanan persampahan;
Data Alternatif sumber pembiayaan diantaranya dari CSR , hibah dll.
Data-data yang diperoleh dari BAPPEDA dan BPS
Kemampuan Sumber Pendanaan Daerah berupa data APBD 5 tahun
terakhir;
Kemampuan/Kesejahteraan Masyarakat
b. Dokumentasi
Sebagai pendukung, dilakukan juga pencarian data melalui internet
sebagai data/informasi awal untuk diperdalam maupun dikonfirmasi
kepada penerima kerja maupun instansi yang berwenang. Hal tersebut
dilakukan untuk penajaman kualitas pekerjaan.
c. Tata cara survei :
Persiapan
Pelaksanaan survei
Analisis
Hasil Analisis
Cara Pengerjaan :
Persiapan: Yang harus dipersiapkan sebelum melakukan survei
lapangan adalah
Surat pengantar untuk melakukan survei;
Peta kota;
Tata cara survei dan manual peralatan yang dipakai;
Penyiapan questioner survei;
Jadwal Pelaksanaan survei;
Prosedur pelaksanaan survei
Pelaksanaan survei
Prosedur pelaksanaan survei :
Serahkan surat izin survei kepada setiap instansi yang dituju
Lakukan pengumpulan data
12
Data-data yang diperoleh dari Dinas Lingkungan Hidup diantaranya:
Pelanggan, Retribusi, Biaya timbulan sampah, Data Personil, Alternatif
Sumber Pembiayaan, Data laporan keuangan yang berupa Biaya
pengelolaan sampah dan perolehan Retribusi pelayanan persampahan,
Data Alternatif sumber pembiayaan diantaranya dari CSR , hibah dan
lainnya. Data-data yang diperoleh dari BAPPERIDA dan BPS:
Kemampuan Sumber Pendanaan Daerah berupa data APBD 5 tahun
terakhir, Kemampuan/Kesejahteraan Masyarakat.
Analisis
Prosedur analisis :
Analisis perkembangan kondisi APBD dan alokasi APBD untuk
pengelolaan sampah
Analisis perkembangan kondisi alokasi pendanaan pengadaan
prasarana dan sarana penanganan sampah (belanja modal)
Analisis perkembangan kondisi alokasi pendanaan untuk
operasional dan pemeliharaan (belanja rutin)
Analisis perkembangan besaran iuran,tarif, retribusi berdasarkan
perubahan yang terjadi;
Analisis kondisi mekanisme pemungutan retribusi oleh
perangkat daerah dalam kegiatan penanganan sampah ;
Analisis kondisi mekanisme pemungutan iuran untuk kegiatan
pengumpulan sampah
Analisis Kondisi efektifitas pemungutan (jumlah wajib bayar dan
jumlah wajib bayar membayar retribusi)
Perkembangan kondisi pendapatan retribusi
Pendapatan dari sumber potensial lain (bauran pendanaan)
Hasil Analisis
Rasio antara alokasi belanja untuk PS dengan APBD total
Kab./Kota;
Nilai APBD untuk pengelolaan sampah 5 tahun terakhir yang
dialokasikan untuk belanja modal (dari DPA DLH, DPA DPU);
Proyeksi kebutuhan belanja modal untuk peningkatan kinerja
PS selama tahun perencanaan RISPS;
Nilai APBD untuk pengelolaan sampah 5 tahun terakhir yang
digunakan ntuk belanja operasional dan pemeliharaan rutin;
Biaya satuan OP PS (Rp./ton) 5 tahun terakhir;
Gap antara alokasi dana APBD untuk belanja operasional dan
pemeliharaan dengan kebutuhan belanja untuk mencapai
target;
13
Proyeksi kebutuhan belanja operasional dan pemeliharaan
untuk peningkatan kinerja PS selama tahun perencanaan
RISPS;
Proyeksi biaya satuan penanganan sampah (Rp./ton) selama
tahun perencanaan RISPS;
mekanisme penarikan retribusi pelayanan sampah yang
dilakukan oleh perangkat daerah saat ini;
kebutuhan peningkatan sistem/mekanisme pemungutan
retribusi;
mekanisme penarikan iuran pelayanan pengumpulan sampah
yang dilakukan oleh diluar perangkat daerah saat ini;
kebutuhan peningkatan sistem/mekanisme terintegrasi antara
pemungutan iuran dan retribusi;
data jumlah wajib bayar retribusi;
data jumlah wajib bayar yang membayar retribusi;
efektifitas pemungutan (jumlah wajib bayar dan jumlah wajib
bayar membayar retribusi);
data pendapatan retribusi 5 tahun terakhir;
proyeksi besaran tarif retribusi dan pendapatan selama tahun
perencanaan RISPS;
potensi bauran pendanaan dalam pengelolaan sampah (dana
CSR, kerjasama dengan swasta/mitra/pengelola kawasan dan
masyarakat);
Perbandingan antara pendapatan asli daerah, bagian daerah
dari pajak bumi dan bangunan, penerimaan sumber daya alam
dan bagian daerah lainnya serta dana alokasi umum setelah
dikurangi belanja wajib, dengan penjumlahan angsuran pokok,
bunga dan biaya pinjaman lainnya.
14