0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan49 halaman

Skripsi

Skripsi ini menganalisis pengaruh akuntabilitas, transparansi, dan partisipasi masyarakat terhadap potensi korupsi dalam pengelolaan dana desa di Kecamatan Lamuru, Kabupaten Bone. Penelitian kuantitatif ini menunjukkan bahwa ketiga variabel tersebut secara signifikan mempengaruhi potensi korupsi, dengan akuntabilitas, transparansi, dan partisipasi masyarakat berkontribusi 72,4% terhadap variasi potensi korupsi. Hasil analisis menunjukkan bahwa semua variabel berpengaruh negatif dan signifikan terhadap potensi korupsi.

Diunggah oleh

yzw639752
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan49 halaman

Skripsi

Skripsi ini menganalisis pengaruh akuntabilitas, transparansi, dan partisipasi masyarakat terhadap potensi korupsi dalam pengelolaan dana desa di Kecamatan Lamuru, Kabupaten Bone. Penelitian kuantitatif ini menunjukkan bahwa ketiga variabel tersebut secara signifikan mempengaruhi potensi korupsi, dengan akuntabilitas, transparansi, dan partisipasi masyarakat berkontribusi 72,4% terhadap variasi potensi korupsi. Hasil analisis menunjukkan bahwa semua variabel berpengaruh negatif dan signifikan terhadap potensi korupsi.

Diunggah oleh

yzw639752
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

SKRIPSI

PENGARUH AKUNTABILITAS, TRANSPARANSI DAN


PARTISIPASI MASYARAKAT TERHADAP POTENSI
KORUPSI DALAM PENGELOLAAN DANA DESA DI
KECAMATAN LAMURU, KABUPATEN BONE

ANDI RIZAL EFENDI


A031171015

JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2024
PRAKATA

Puji syukur peneliti panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat
dan karunia-nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini, yang
merupakan tugas akhir untuk meraih gelar Sarjana Ekonomi (S.E) pada Jurusan
Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin. Penelitian yang
saya lakukan dapat terlaksana dengan sukses dan skripsi ini dapat terampungkan
atas bimbingan, diskusi dan arahan Bapak Dr. H. Amiruddin S.E., AK., [Link]., CA.,
CPA dan Ibu Dr. Aini Indrijawati S.E., [Link]., AK., CA sebagai dosen pembimbing.
Saya mengucapkan berlimpah terima kasih kepada mereka atas bimbingan,
bantuan dan diskusi-diskusi yang dilakukan selama ini.
Penghargaan yang tinggi juga saya sampaikan kepada Bapak Andi Aswat
[Link]., [Link] selaku Bapak Camat Lamuru dan Para Kepala Desa se-Kecamatan
Lamuru yang telah mengizinkan saya untuk melaksanakan penelitian di lapangan.
Hal yang sama saya ucapkan kepada seluruh masyarakat Kecamatan Lamuru
yang telah bersedia menjadi responden dalam penelitian ini. Semoga bantuan
yang diberikan oleh semua pihak mendapat balasan dari Tuhan Yang Maha Esa.
Ucapan terima kasih juga saya ucapkan kepada pimpinan Universitas
Hasanuddin dan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin yang telah
memfasilitasi saya menempuh program sarjana. Selain itu, saya sangat berterima
kasih kepada para dosen yang telah mengajar dan berbagi ilmunya kepada saya,
serta kepada seluruh staf FEB Unhas yang telah memberikan bantuan dan
dukungan selama masa studi saya di FEB Unhas.
Akhirnya, kepada kedua orang tua dan nenek tercinta saya mengucapkan
berlimpah terima kasih dan sembah sujud atas doa, pengorbanan dan motivasi
mereka selama saya menempuh pendidikan. Penghargaan yang besar juga saya
sampaikan kepada seluruh keluarga (Tante Wiwi, Tante Kiki, Puang Ilfa, Uni,
[Link], Om Semmang, Om Anto dan Etta Aco) atas motivasi dan dukungan yang
tak ternilai. Ucapan terima Kasih yang tulus juga saya sampaikan kepada teman-
teman UKM KPI Unhas (Zahra, Wilda, Fathir, Izha, Fajrul, Kak Zul, Kak Ila, dan
Kak Masli) yang juga telah memberikan dukungan, semangat, dan kebersamaan
yang sangat berarti selama masa studi saya. Terima kasih atas segala bantuan
dan inspirasi yang telah diberikan.

Makassar, …. Juli 2024

iii
ABSTRAK

Pengaruh Akuntabilitas, Transparansi dan Partisipasi Masyarakat Terhadap


Potensi Korupsi dalam Pengelolaan Dana Desa di Kecamatan Lamuru,
Kabupaten Bone

The Influence of Accountability, Transparency, and Community


Participation on the Potential for Corruption in the Management of Village
Funds in Lamuru District, Bone Regency

Andi Rizal Efendi


Amiruddin
Aini Indrijawati

Penelitian ini bertujuan untuk menguji dan menganalisis pengaruh akuntabilitas,


transparansi, dan partisipasi masyarakat terhadap potensi korupsi dalam pengelolaan
dana desa di Kecamatan Lamuru, kabupaten Bone, baik secara parsial maupun simultan.
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan korelasional, dimana
data dikumpulkan melalui survei dengan kuesioner terstruktur terhadap 110 responden,
dan dianalisis menggunakan regresi linear berganda, koefisien determinasi, uji f, dan uji t
dengan bantuan IBM SPSS. Berdasarkan pengujian atas hipotesis yang diajukan,
penelitian menunjukkan bahwa secara simultan, akuntabilitas, transparansi, dan partisipasi
masyarakat berpengaruh terhadap potensi korupsi dalam pengelolaan dana desa, dengan
nilai f-hitung sebesar 92,597 > f-tabel 2,46 dan tingkat signifikansi 0,000 < 0,05. Secara
parsial, variabel akuntabilitas, transparansi, dan partisipasi masyarakat berpengaruh
negatif dan signifikan terhadap potensi korupsi, dengan nilai t-hitung masing-masing
-4,006, -3,384, dan -3,386 < t-tabel -1,98238 dengan tingkat signifikansi 0,000 < 0,05.
Koefisien determinasi menunjukkan bahwa variabel akuntabilitas, transparansi, dan
partisipasi masyarakat menjelaskan sebesar 72,4% variasi dalam potensi korupsi dana
desa, dan sisanya 27,6% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti.

Kata kunci: akuntabilitas, transparansi, partisipasi masyarakat, korupsi, dana desa

This study aims to examine and analyze the influence of accountability, transparency, and
community participation on the potential for corruption in the management of village funds
in Lamuru District, Bone Regency, both partially and simultaneously. This research is a
quantitative study with a correlational approach, where data was collected through a survey
using structured questionnaires distributed to 110 respondents, and analyzed using
multiple linear regression, coefficient of determination, F-test, and T-test with the
assistance of IBM SPSS. Based on the hypothesis testing conducted, the study shows that
simultaneously, accountability, transparency, and community participation significantly
influence the potential for corruption in village fund management, with an F-value of 92.597
> F-table 2.46 and a significance level of 0.000 < 0.05. Partially, the variables of
accountability, transparency, and community participation have a negative and significant
impact on the potential for corruption, with T-values of -4.006, -3.384, and -3.386
respectively, all less than the T-table value of 1.98238, and a significance level of 0.000 <
0.05. The coefficient of determination indicates that the variables of accountability,
transparency, and community participation explain 72.4% of the variation in the potential
for corruption in village funds, with the remaining 27.6% influenced by other factors not
studied.

Keyword: accountability, transparency, community participation, corruption, village funds

iv
DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN /JUDUL ............................................................................................ .ii
HALAMAN PERSETUJUAN .............................................................................. iii
HALAMAN PENGESAHAN................................................................................ iv
PERNYATAAN KEASLIAN ................................................................................ v
PRAKATA .......................................................................................................... vi
ABSTRAK ........................................................................................................ vii
DAFTAR ISI ..................................................................................................... viii
DAFTAR TABEL .............................................................................................. ..x
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................ xi
DAFTAR LAMPIRAN ......................................................................................... xi
BAB I PENDAHULUAN ..................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah............................................................................ 8
1.3 Tujuan Penelitian .............................................................................. 9
1.4 Kegunaan Penelitian ........................................................................ 9
1.5. Sistematika Penulisan .................................................................... 10
BAB III TINJAUAN PUSTAKA ......................................................................... 11
2.1 Landasan Teori dan Konsep ........................................................... 11
2.1.1. Agensi Teori ......................................................................... 11
2.1.2. Korupsi ................................................................................. 14
2.1.3. Akuntabilitas ......................................................................... 19
2.1.4. Transparansi ......................................................................... 21
2.1.5. Partisipasi Masyarakat .......................................................... 23
2.2 Penelitian Terdahulu ...................................................................... 25
2.3 Kerangka Penelitian ....................................................................... 31
2.4 Hipotesis Penelitian ........................................................................ 33
BAB III METODE PENELITIAN........................................................................ 39
3.1 Rancangan Penelitian..................................................................... 39
3.2 Tempat dan Waktu ......................................................................... 40
3.3 Populasi dan Sampel ...................................................................... 40
3.4 Jenis dan Sumber Data .................................................................. 42
3.5 Teknik Pengumpulan Data ............................................................. 42

v
3.6 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional .................................. 43
3.7 Instrumen Penelitian ....................................................................... 46
3.8 Analisis Data .................................................................................. 46
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................................... 54
1.1. Hasil Penelitian ............................................................................... 54
1.2. Uji Kualitas Data ............................................................................. 62
1.3. Uji Asumsi Klasik ............................................................................ 65
1.4. Analisis Regresi Linear Berganda ................................................... 68
1.5. Uji Hipotesis ................................................................................... 70
1.6. Koefisien Determinasi ..................................................................... 73
1.7. Pembahasan .................................................................................. 73
BAB V PENUTUP ............................................................................................ 79
5.1. Kesimpulan..................................................................................... 79
1.1. Saran.............................................................................................. 80
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 83
LAMPIRAN....................................................................................................... 90

vi
DAFTAR TABEL

Tabel halaman
2.1. Penelitian Terdahulu ........................................................................... 25
3.1. Penduduk Kecamatan Lamuru Berdasarkan Desa .............................. 41
4.1. Distribusi Penyebaran Kuiseoner ........................................................ 54
4.2. Distribusi Responden Berdasarakan Jenis Kelamin ............................ 55
4.3. Distribusi Responden Berdasarakan Umur ......................................... 56
4.4. Distribusi Responden Berdasarakan Pendidikan ................................. 56
4.5. Distribusi Responden Berdasarakan Pekerjaan .................................. 57
4.6. Deskripsi Variabel Akuntabilitas .......................................................... 59
4.7. Deskripsi Variabel Transparansi.......................................................... 60
4.8. Deskripsi Variabel Partisipasi Masyarakat ........................................... 61
4.9. Deskripsi Variabel Potensi Korupsi ..................................................... 62
4.10. Hasil Uji Validitas ................................................................................ 63
4.11. Hasil Uji Reliabilitas............................................................................. 64
4.12. Hasil Uji Normalitas ............................................................................. 65
4.13. Hasil Uji Multikolinearitas .................................................................... 66
4.14. Hasil Uji Heterosdaskisitas .................................................................. 67
4.15. Hasil Analisis Regresi Linear Berganda .............................................. 69
4.16. Hasil Uji F ........................................................................................... 71
4.17. Hasil Uji T ........................................................................................... 72
4.18. Hasil Uji Koefisien Determinasi ........................................................... 73

vii
DAFTAR GAMBAR
Gambar halaman
1.1. Tren Korupsi Dana Desa (2016-2022)................................................. ..2
1.2. Kasus Korupsi di Indonesia Berdasarkan Sektor (2022) ..................... ..3
1.3. Potensi Kerugian Negara Akibat Korupsi Dana Desa .......................... ..3
1.4. Kerangka Pikir..................................................................................... 16
1.5. Kerangka Konseptual .......................................................................... 32
2.1. Triangle Fraud ..................................................................................... 33
4.1. Grafik Scatterplot ................................................................................ 16
4.2. Grafik Normal Probability Plot ............................................................. 32

viii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran halaman
1. Biodata .................................................................................................. 17
2. Kuiseoner Penelitian ............................................................................. 23
3. Data Penelitian ...................................................................................... 23

ix
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Undang-Undang No.6 Tahun 2014 tentang Desa menjadi awal baru yang

mengubah pandangan masyarakat mengenai peran desa dalam pembangunan.

Melalui UU ini, desa diberikan kewenangan yang lebih kuat dalam menjalankan

pemerintahan, melaksanakan pembangunan, serta melakukan pembinaan dan

pemberdayaan masyarakat. Sehingga, hadirnya UU ini mengubah kedudukan

desa yang dahulu dijadikan objek utama dalam pembangunan, kini menjadi subjek

dan titik nadir pembangunan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. UU

tersebut juga membawa konsep baru dalam pendanaan desa dengan

dihadirkannya konsep “Dana Desa” yang merupakan dana Anggaran Pendapatan

dan Belanja Negara (APBN) yang disalurkan pada pemerintah daerah dalam

bentuk Anggaran Pendapatan dan belanja Daerah (APBD) dan penggunaan

utamanya diperuntukkan mendukung proyek pembangunan juga pemberdayaan

masyarakat di pedesaan (Kementerian Keuangan Republik Indonesia, 2017).

Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan oleh Kemenkeu RI pada tahun

2017, dana desa dinilai terbukti membangun sarana/prasarana yang bermanfaat

bagi masyarakat setempat, memberikan kesempatan kepada desa dalam

mengembangkan perekonomian, dan meningkatkan taraf hidup masyarakat

pedesaan. Melalui dana desa, > 95.200 km jalan desa, 22.616 unit sumbangan air

bersih, 3.106 pasar desa, 2.201 pangkalan perahu, 14.957 Pendidikan Anak Usia

Dini (PAUD), 103.405 unit drainase dan irigasi serta 10.964 Posyandu telah

dibangun dalam rentang waktu 2015-2016 (Kemenkeu, 2017). Disamping itu,

penggunaan dana desa dapat dikatakan telah berhasil meningkatkan

1
2

kesejahteraan masyarakat pedesaan, terbukti dengan adanya penurunan rasio

kesejahteraan di wilayah pedesaan yang semula 0,34 di tahun 2014 menurun

hingga 0,32 di tahun 2017. Namun, terdapat pula tantangan serius yang dihadapi

dalam pengelolaan dana desa, yakni kasus korupsi yang terus meningkat.

Seiring dengan peningkatan alokasi dana desa, terdapat kenaikan kasus

korupsi dalam pengelolaan dana desa yang menyebabkan kerugian finansial bagi

negara dan dampak negatif bagi masyarakat. Sejak dialokasikan di tahun 2015

sebagai perwujudan dari “UU No.6 Tahun 2014 tentang Desa” terjadi kenaikan

kasus korupsi di desa yang cukup konsisten setiap tahunnya dengan potensi

kerugian negara yang meningkat pula. Pada tahun 2022, tercatat 155 kasus

korupsi terkait alokasi anggaran desa yang diproses oleh aparat penegak hukum

dan jumlah tersangka sebanyak 253 orang dengan potensi kerugian negara

mencapai 381 Miliar (Indonesian Corruption Watch (ICW), 2023). Meningkatnya

kasus korupsi dan penyalahgunaan dalam pengelolaan dana desa di berbagai

daerah menunjukkan rentannya korupsi dalam pengelolaan dana desa. Oleh

karena itu, dibutuhkan langkah-langkah konkret untuk menyelesaikan persoalan

tersebut guna mengurangi terjadinya korupsi, sehingga dapat mencapai tujuan

yang diharapkan.

Gambar 1. Tren korupsi dana desa (2016-2022)


Sumber: [Link] (2023)
3

Gambar 2. Kasus korupsi di Indonesia Berdasarkan Sektor (2022)


Sumber: [Link] (2023)

Gambar 3. Potensi kerugian negara akibat korupsi dana desa


Sumber: [Link] (2023)

Salah satu aspek krusial dalam konteks manajemen anggaran dana desa

adalah pemahaman mendalam terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi potensi

terjadinya korupsi/penyalahgunaan dana desa. Sejumlah penelitian dan

pengamatan telah menggambarkan kompleksitas dan tantangan dalam

pengelolaan dana desa yang berpotensi menyebabkan praktik korupsi. Misalnya,

Yulianto (2017) mengungkapkan bahwa “lemahnya pengawasan institusi,

rendahnya partisipasi masyarakat dalam mengawasi APBDes, serta tingkat

transparansi serta akuntabilitas yang masih terbilang minim dalam pengelolaan

dana desa merupakan faktor penyebab rentannya kasus korupsi di tingkat desa.”

Sementara itu, hampir senada dengan pandangan tersebut, ICW (2018)


4

mengungkapkan bahwa “korupsi dana desa seringkali dipicu oleh besarnya

anggaran yang tidak diimbangi oleh tingkat akuntabilitas, transparansi serta

partisipasi masyarakat dalam mengelola keuangan desa”.

Pendapat di atas juga didukung oleh Zakariya (2020) dalam penelitiannya

berjudul “Partisipasi Masyarakat dalam Pencegahan Korupsi Dana Desa:

Mengenali Modus Operandi” yang mengungkapkan bahwa kurangnya

akuntabilitas, kurangnya kejelasan transparansi dan tingkat partisipasi yang

rendah dalam mengelola dana desa dapat meningkatkan resiko terjadinya korupsi.

Akuntabilitas merujuk pada tanggung jawab pengelola dana desa untuk

menjalankan pengelolaan dana dengan jujur, teliti, dan sesuai dengan ketentuan

yang berlaku (Hasniati, 2016). Adapun, transparansi mengacu pada tingkat

keterbukaan dan keterjangkauan informasi terkait bagaimana dana desa dikelola

(Ritonga dan Syamsu, 2016). Sedangkan, partisipasi masyarakat mengacu pada

peran aktif masyarakat dalam mengawasi dan berpartisipasi dalam pengambilan

keputusan terkait dengan pengelolaan dana desa (Tembel, 2017).

Dalam konteks pengelolaan dana desa, akuntabilitas dapat menjadi faktor

kunci dalam mencegah praktik korupsi, karena ketidakjujuran dan pelanggaran

aturan menjadi jalan bagi pengelola dana desa untuk melakukan praktik korupsi.

Melalui akuntabilitas yang baik, pemerintah desa dapat melakukan

pertanggungjawaban yang memadai dalam memberikan laporan keuangan yang

andal, sehingga setiap aliran dana dapat dipertanggungjawabkan dan mengurangi

peluang terjadinya penyalahgunaan dana. Oleh karena itu, kecurangan dalam

pengelolaan dana desa dapat diminimalisir dengan menerapkan praktik

akuntabilitas yang baik (Eka, Sari, dan Taqwa, 2019). Penelitian oleh Adhivinna

dan Agustin (2021) menemukan bahwa perangkat desa di Kota Pariaman

melaksanakan akuntabilitas dengan baik dan tertib, sehingga mampu mengurangi

kecurangan terhadap dana desa, yang menyebabkan dana desa dapat dipakai
5

secara maksimal. Selain itu, penelitian Handayani (2021) menemukan bahwa

semakin tinggi akuntabilitas pemerintah desa, semakin rendah pula terjadinya

korupsi dana desa. Lebih lanjut, penelitian Masni dan Sari (2023) menemukan

bahwa akuntabilitas berpengaruh negatif terhadap potensi kecurangan dalam

pengelolaan dana desa, yang berarti bahwa semakin baik akuntabilitas

pengelolaan dana, semakin rendah pula potensi terjadinya korupsi.

Transparansi juga memiliki peranan penting dalam pengelolaan dana desa.

Tingkat transparansi yang tinggi memungkinkan semua pihak untuk mempunyai

akses yang lebih baik terhadap informasi pengelolaan dana desa, termasuk

pengeluaran proyek-proyek yang didanai, dan proses pengambilan keputusan

bagaimana dana desa dikelola (Ritonga dan Syamsu, 2016). Melalui transparansi

yang baik, masyarakat dapat memantau penggunaan dana desa, memberikan

umpan balik, dan turut serta dalam pengambilan keputusan, sehingga dapat

mengurangi peluang terjadinya kecurangan. Penelitian terdahulu telah

menunjukkan pentingnya trasnparansi dalam pengelolaan dana desa. Misalnya,

studi Egi Primayogha (2018) yang mengungkpakan bahwa penyebab maraknya

korupsi di tingkat desa adalah kurangnya transparansi yang menyebabkan akses

warga terhadap informasi terkait anggaran dana desa menjadi terbatas. Publikasi

terkait pengelolaan dana desa seringkali hanya menyampaikan jumlah

penerimaan dan pengeluaran tanpa menyertakan rincian penggunaan dana

secara berkala, bahkan beberapa desa tidak memberikan rincian tersebut sama

sekali. Lebih lanjut, Handayani (2020) dalam penelitiannya menemukan bahwa

transparansi berpengaruh signifikan terhadap potensi kecurangan dana desa dan

menyimpulkan bahwa “semakin tinggi transparansi yang dilakukan pemerintah

desa, maka semakin rendah potensi kecurangan dana desa dapat terjadi.

Tak kalah penting dengan akuntabilitas dan transparansi, partisipasi

masyarakat juga merupakan faktor krusial dalam pengelolaan dana desa.


6

Partisipasi masyarakat berfungsi sebagai kontol sosial guna memastikan bahwa

suara dan kebutuhan warga desa diperhitungkan dalam proses perencanaan,

pelaksanaan, dan evaluasi penggunaan dana desa. Dengan terlibat langsung

dalam proses pengelolaan dana desa, masyarakat dapat melakukan pengawasan

terhadap pelaksanaan program-program pembangunan, mengidentifikasi potensi

penyimpangan, dan melaporkan jika terdapat indikasi kecurangan atau

penyalahgunaan dana. Krisnawati, dkk. (2019) dalam penelitiannya melihat bahwa

partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan dan pelaksanaan pengelolaan

dana desa sangat berperan dalam mengurangi kecenderungan terjadinya

kecurangan. Dengan terlibat aktif dalam pengelolaan dana desa, masyarakat

dapat membantu mengidentifikasi potensi korupsi dan memastikan dana desa

digunakan untuk kepentingan mereka. Partisipasi masyarakat yang kuat dapat

mengurangi risiko praktik korupsi karena adanya tekanan dan pengawasan yang

kuat dari masyarakat. Selain itu, Rahmawati, dkk. (2023) menyimpulkan bahwa

semakin tinggi tingkat partisipasi masyarakat maka akan menurunkan kecurangan

dana desa. Sebaliknya, semakin rendah partisipasi masyarakat maka kecurangan

dana desa semakin tinggi pula.

Penelitian ini merupakan replikasi dari penelitian yang dilakukan oleh

Selvia dan Arsa (2023). Fokus kedua penelitian ini sama, yaitu meneliti faktor-

faktor yang mempengaruhi potensi korupsi dalam pengelolaan dana desa. Namun,

terdapat beberapa perbedaan penting antara penelitian ini dengan penelitian

sebelumnya, terutama pada variabel penelitian dan kelompok responden.

Penelitian sebelumnya menggunakan tiga variabel independen, yaitu

transparansi, asimetri informasi, dan partisipasi masyarakat. Sedangkan, pada

penelitian ini variabel independen asimetri informasi digantikan dengan

akuntabilitas. Penggantian ini dilakukan karena peneliti ingin menekankan asas

pengelolaan dana desa sebagai landasan utama penelitian. Asas-asas tersebut


7

mencakup transparansi, akuntabilitas, dan partisipasi masyarakat, yang

merupakan pilar dalam tata kelola keuangan yang baik. Dengan demikian,

penelitian ini berfokus pada konsep pertanggungjawaban yang konsisten dengan

asas-asas pengelolaan dana desa. Penelitian ini menegaskan pentingnya

transparansi, akuntabilitas, dan partisipasi aktif masyarakat dalam setiap langkah

pengelolaan dana desa. Oleh karena itu, replikasi penelitian ini mempertegas

landasan teoritis dengan mengeksplorasi peran akuntabilitas secara lebih

mendalam sebagai faktor kunci dalam mengurangi potensi kecurangan dana desa.

Hal ini juga mendukung visi tata kelola keuangan yang baik dalam pengelolaan

dana desa.

Penelitian sebelumnya menggunakan perangkat desa sebagai responden

penelitian, namun dalam penelitian ini, kelompok responden yang diikutsertakan

adalah masyarakat desa yang didasarkan pada beberapa pertimbangan dan saran

dari penelitian sebelumnya. Melalui hal tersebut, peneliti berharap dapat

memperoleh perspektif dari masyarakat sebagai pemangku kepentingan langsung

dalam pengelolaan dana desa, serta dapat memberikan pemahaman yang lebih

komprehensif dan mendalam terkait faktor-faktor yang mempengaruhi potensi

korupsi dalam pengelolaan dana desa. Penelitian ini akan menggunakan metode

kuantitatif untuk menguji pengaruh dari tiga faktor penting yaitu akuntabilitas,

transparansi dan partisipasi masyarakat, terhadap tingkat potensi korupsi dalam

pengelolaan dana desa. Pemilihan metode kuantitatif dipilih karena

memungkinkan peneliti untuk mengumpulkan data yang luas dan terstruktur untuk

menguji secara statistik hubungan antara variabel-variabel seperti akuntabilitas,

transparansi, partisipasi masyarakat, dengan potensi korupsi dalam pengelolaan

dana desa. Dengan pendekatan ini, diharapkan peneliti dapat menilai sejauh mana

faktor-faktor ini berkontribusi dalam mengurangi atau meningkatkan risiko

terjadinya korupsi dalam pengelolaan dana desa.


8

Berdasarkan konteks penelitian yang telah diuraikan sebelumnya,

Kabupaten Bone, khususnya Kecamatan Lamuru, menjadi fokus studi untuk

memahami dampak dan faktor-faktor yang mempengaruhi potensi korupsi dalam

pengelolaan dana desa. DI Kabupaten Bone, tercatat telah terjadi 11 Kasus

korupsi dana desa yang telah ditangani oleh aparat penegak hukum dari tahun

2015 hingga 2023 ([Link], 2022). Meskipun hingga saat ini, tidak terdapat

kepala desa di kecamatan Lamuru yang ditetapkan sebagai tersangka korupsi

dana desa. Pada tahun 2023, sebanyak 5 dari 11 desa di kecamatan tersebut

dilaporkan kepada Inspektorat dengan dugaan adanya korupsi dalam pengelolaan

dana desa ([Link], 2023). Hal ini menandakan adanya pergeseran dalam

dinamika pengelolaan dana desa di wilayah tersebut. Oleh karena itu, penelitian

ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang

pengaruh akuntabilitas, transparansi, dan partisipasi masyarakat terhadap potensi

korupsi dalam pengelolaan dana desa di Kecamatan Lamuru. Melalui pemahaman

ini, diharapkan dapat disusun rekomendasi kebijakan yang tepat untuk

mengurangi risiko korupsi dan meningkatkan efektivitas pengelolaan dana desa di

wilayah tersebut.

1.2 Rumusan Masalah

Sesuai dengan pemaparan pada konteks yang sudah dijelaskan

sebelumnya, peneliti menyusun pertanyaan-pertanyaan penelitian sebagai

berikut:

1. Apakah akuntabilitas berpengaruh terhadap potensi korupsi dalam

pengelolaan dana desa di Kecamatan Lamuru, Kabupaten Bone?

2. Apakah transparansi berpengaruh terhadap potensi korupsi dalam

pengelolaan dana desa di Kecamatan Lamuru, Kabupaten Bone?


9

3. Apakah partisipasi masyarakat berpengaruh terhadap potensi korupsi dalam

pengelolaan dana desa di Kecamatan Lamuru, Kabupaten Bone?

4. Apakah akuntabilitas, transparansi, dan partisipasi masyarakat secara

simultan berpengaruh terhadap potensi korupsi dalam pengelolaan dana desa

di Kecamatan Lamuru, Kabupaten Bone?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan dari diadakannya penelitian ini yakni untuk menguji:

1. Pengaruh akuntabilitas terhadap potensi korupsi dalam pengelolaan dana

desa di Kecamatan Lamuru, Kabupaten Bone.

2. Pengaruh transparansi terhadap potensi korupsi dalam pengelolaan dana

desa di Kecamatan Lamuru, Kabupaten Bone.

3. Pengaruh partisipasi masyarakat terhadap potensi korupsi dalam pengelolaan

dana desa di Kecamatan Lamuru, Kabupaten Bone.

4. Pengaruh akuntabilitas, transparansi, dan partisipasi masyarakat secara

simultan terhadap potensi korupsi dalam pengelolaan dana desa di

Kecamatan Lamuru, Kabupaten Bone.

1.4 Kegunanaan Penelitian

4. Kegunaan Teoritis

Secara teoritis, wawasan yang dihasilkan dari penelitian ini diharapkan

dapat memberikan kontribusi positif terhadap peningkatan pengetahuan serta

pemahaman mengenai pengelolaan dana desa serta upaya pencegahan

korupsi. Penelitian ini juga berfungsi untuk menunjang temuan penelitian lain

terkait dengan akuntabilitas, transparansi, dan partisipasi masyarakat, terutama

dalam konteks pengelolaan dana desa dan usaha pencegahan korupsi.


10

5. Kegunaan Praktis

Secara praktis, informasi yang ditemukan dalam penelitian ini dapat

menjadi pedoman berharga untuk pemerintah daerah, pemangku kebijakan,

instansi terkait dan masyarakat di Kecamatan Lamuru, Kabupaten Bone guna

meningkatkan efisiensi dalam pengelolaan dana desa. Informasi yang

dihasilkan dapat digunakan untuk merumuskan kebijakan yang lebih terarah,

termasuk strategi penguatan transparansi, akuntabilitas dan peningkatan

keterlibatan masyarakat dalam proses pengelolaan dana desa. Dengan

memahami pengaruh dari variabel-variabel tersebut, pemerintah daerah dapat

mengembangkan inisiatif dan program yang lebih efisien untuk mencegah

potensi korupsi, sekaligus memberdayakan masyarakat lokal untuk berperan

aktif dalam pengawasan pelaksanaan program pembangunan di tingkat desa.

1.5 SISTEMATIKA PENULISAN

Penyusunan skripsi ini disusun secara terstruktur dalam lima ba. BAB I

meliputi pendahuluan dengan uraian latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan

kegunaan penelitian serta sistematika penulisan. BAB II merupakan tinjauan

pustaka yang mencakup landasan teori, penelitian terdahulu, kerangka konseptual

dan hipotesis penelitian. BAB III menjelaskan metode penelitian yang melibatkan

rancangan penelitian, waktu dan lokasi penelitian, populasi dan sampel, jenis,

sumber dan teknik pengumpulan data, variabel penelitian beserta definisi

operasionalnya, instrumen penelitian dan analisis data. BAB IV berisi hasil dan

pembahasan penelitian, dan BAB V berisi kesimpulan.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tinjauan Teori dan Konsep

2.1.1. Teori Agensi

[Link]. Pengertian Teori Agensi

Teori keagenan atau agensi teori menggambarkan relasi keagenan dimana

satu pihak (prinsipal) melimpahkan wewenangnya pada pihak lain (agent) untuk

melaksanakan pekerjaan tersebut (Lisa, 2012). Jensen & Meckling (1976),

mengungkapkan bahwa “Relasi keagenan adalah hubungan yang memungkinkan

prinsipal mendelegasikan beberapa wewenang kepada agen dalam mengambil

keputusan yang terjadi melalui kontrak antara prinsipal dan agen”. Dengan

bertindak sebagai agen, seorang manajer memiliki tanggung jawab moral dalam

mengoptimalkan kepentingan pemiliknya (prinsipal), namun juga memiliki

kepentingan untuk mengoptimalkan kesejahteraannya (Halim, 2007).

Menurut Halim dan Abdullah (2009), “Teori keagenan menganalisis

perjanjian kontrak antara pihak-pihak yang terlibat baik itu dua atau lebih individu,

kelompok ataupun organisasi. Suatu pihak (principal) mengadakan ikatan dengan

agent dan berharap agen akan melaksanakan pekerjaannya demi kepentingan

prinsipal (terjadi pelimpahan wewenang) yang dilakukan baik itu secara simbolik

atau secara denotatif.” Lupia dan McCubbins (2000), mengungkapkan bahwa

“disaat individu ataupun sekumpulan individu (prinsipal) menunjuk seseorang

maupun tim lain (agen) agar bergerak demi kepentingan prinsipal maka hal

tersebut berati telah terjadi pendelegasian”.

11
12

[Link]. Agensi Teori dalam Sektor Publik

Hubungan keagenan dapat muncul di entitas apapun. Jensen dan Meckling

(1976), mengungkapkan “hubungan keagenan bisa muncul sebagai referensi

untuk tindakan keagenan yang terjadi dalam entitas manapun tergantung pada

bentuk ikatan yang ada (eskplisit atau implisit). Berdasarkan teori keagenan, ciri

utama hubungan keagenan adalah kontrak, yang mendelegasikan kekuasaan dan

tanggung jawab dari prinsipal kepada agen. Staryofe (2012), mengungkapkan

bahwa “Kontrak bisa berasal dari adat istiadat, kepentingan yang sama untuk

meraih tujuan serta ikatan aturan formal. Dalam kaitannya dengan aturan formal,

lembaga pemerintahan dilaksanakan dengan berpedoman pada serangkaian

aturan yang menjelaskan dengan detail terkait wewenang dan tugas serta

tanggung jawab antar partisipan”.

Staryofe (2012) mengungkapkan bahwa ”meskipun fungsi dan prosedur

ikatan tiap partisipan di instansi pemerintah memiliki perbedaan dengan sektor

bisnis, namun hubungan formal yang ada memperlihatkan bahwa terdapat ikatan

pada instansi pemerintahan di Indonesia menunjukkan adanya hubungan

keagenan. Sejalan dengan pandangan Lane (2003) menyimpulkan bahwa “agensi

teori bisa dijalankan pada sektor publik dan demokrasi saat ini dilandasi pada

seperangkat ikatan prinsipal-agen”.

Pada negara yang demokratis, terdapat ikatan keagenan antara warga

negara dan Pemerintah (Walikota/Bupati, Gubernur, dan Presiden) (Lane, 2003).

Mekanisme pemilihan pemerintah di negara demokratis dipilih oleh rakyat melalui

hak pilih universal menjadi tanda adanya peralihan kekuasaan dari rakyat kepada

pemerintah. Menurut Staryofe (2012), pemberian kekuasaan eksekutif dan

pendelegasian kekuasaan kepada Pemerintah menunjukkan bahwa Pemerintah


13

bertindak selaku agen serta masyarakat adalah prinsipal pada kerangka ikatan

keagenan.

Dalam konteks pengelolaan dana desa, ikatan keagenan terjadi antara

masyarakat desa dan Kepala Desa serta Pemerintah Pusat dan Pemerintah Desa.

Melalui pemilihan kepala desa, masyarakat (principal) akan memilih Kepala Desa

(agen) yang akan menjalankan fungsi-fungsi pemerintahan desa, terutama pada

konteks pengelolaan dana desa yang mana penanggung jawab utamanya adalah

kepala desa. Sementara itu, melalui “UU No.6 Tahun 2014” terjadi pendelegasian

oleh pemerintah pusat kepada pemerintah desa untuk melakukan pengelolaan

dana. Sehingga, pemerintah pusat merupakan principal dan pemerintah desa

merupakan agen dalam konteks pengelolaan dana desa.

Lane (2000), mengungkapkan “rerangka ikatan prinsipal-agen adalah

sebuah pendekatan yang amat penting dalam melakukan analisis terhadap

program pemerintah. Pembentukan dan implementasi tata kelola publik terkait

dengan permasalahan kontraktual, yaitu asymmetric information (informasi yang

tidak simetris), moral hazard (sifat moral), dan adverse selection (seleksi yang

merugikan).” Menurut Andvig dkk. (2001) “model principal-agent adalah kerangka

analitis yang amat bermanfaat dalam menerangkan permasalahan insentif di

lembaga publik melalui dua kondisi yang memungkinkan, yaitu: (1) ada beragam

prinsipal yang memiliki perbedaan dan kepentingan yang tidak sejalan, dan (2)

agen dapat mengutamakan kepentingannya yang bersifat lebih sempit daripada

kepentingan masyarakat.”

[Link]. Asumsi Teori Agensi

Eisenhardt (1989) mengungkapkan bahwa teori agensi memiliki tiga dasar

asumsi utama, yakni; asumsi kemanusiaan, asumsi keoorganisasi, serta asumsi

informasi.
14

Asumsi kemanusian dibagi ke dalam 3 kelompok, yaitu:

1) Kepentingan diri sendiri, merupakan sifat dari manusia yang

mengedepankan kepentingan pribadi,

2) Rasionalitas terbatas, ialah karakter manusia yang memiliki rasionalitas

terbatas, dan

3) Penghindaran risiko, ialah karakter manusia yang suka menghindari risiko.

Asumsi organisasi dibagi ke dalam 3 kelompok, yaitu:

1) Tiap peserta memiliki tujuan yaitu konflik,

2) Salah satu kriteria efektivitas ialah melalui efisiensi, serta

3) Ketimpangan informasi di antara pemilik dengan agen

Dugaan mengenai informasi merupakan anggapan yang menggambarkan

bahwa informasi adalah alat dagangan yang dapat diperdagangkan. Masalah

keagenan kemudian timbul akibat dari adanya perbedaan tujuan di antara prinsipal

dan agen. Permasalahan keagenan diatur oleh pemisahan fungsi administrasi dan

pengawasan pada sistem pengambilan keputusan (Fama dan Jensen, 1983).

Pemisahan fungsi ini kemudian dapat menyebabkan benturan kepentingan antar

pihak yang terlibat.

2.1.2. Korupsi Dana Desa

[Link]. Pengertian Korupsi

Korupsi adalah salah satu kecurangan/fraud. “Korupsi” muncul dari bahasa

latin, yakni “corruptio” atau “corruptus” yang artinya merusak atau menghancurkan.

Kata tersebut kemudian dikenal dengan berbagai istilah seperti corruptio atau

corruptive di Inggris, corruption dalam Bahasa Prancis serta corruptie atau

korruptie di Belanda. Istilah Korruptie dalam Bahasa Belanda kemudian diangkat


15

ke bahasa Indonesia dan memiliki arti identik dengan kejahatan, perilaku tidak

bermoral, kebejatan dan ketidakjujuran (Pusat Edukasi Antikorupsi, 2023).

KBBI mendefinisikan korupsi sebagai suatu bentuk penggelapan atau

penyalahgunaan dana pemerintah untuk kepentingan pribadi atau kepentingan

pihak lain. Sementara itu, Asian Development Bank (ADB) mendefinisikan korupsi

sebagai aktivitas yang tidak etis dan bertentangan dengan hukum yang dilakukan

pegawai negeri dan pegawai sektor swasta dalam memperkaya diri sendiri dan

orang sekitar. Orang-orang ini juga menyalahgunakan posisi mereka untuk merayu

orang lain agar melakukan tindakan-tindakan tersebut.

Definisi lain terkait korupsi dikeluarkan oleh Transparansi internasional

(2003) yang menyatakan korupsi sebagai perbuatan pejabat pemerintah (Aparutur

sipil negara ataupun politisi) yang melakukan perbuatan tidak wajar dan

menentang hukum guna mencari keuntungan pribadi atau untuk orang terdekat

melalui penyalahgunaan kekuasaan yang dipercayakan kepadanya. Di Indonesia

sendiri, pengertian korupsi dijelaskan dalam “UU No.20 Tahun 2001 tentang

Perubahan Atas UU No.31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana

Korupsi” yang mencakup keseluruhan isi pasal 1 hingga 13. Korupsi didefinisikan

sebagai perilaku menambah kekayaan pribadi atau kerabat atau sebuah

perusahaan yang menimbulkan kerugian pada keuangan pada suatu negara.

Berangkat dari definisi-definisi diatas, Korupsi dana desa dapat

digambarkan sebagai semua perilaku pemerintah desa yang merugikan keuangan

ataupun perekonomian negara dalam mengelola dana desa. Sama halnya dengan

tindak korupsi pada umumnya, hanya saja korupsi dana desa umumnya

melibatkan oknum yang secara langsung terlibat pada pengurusan dana desa,

mencakup Kepala Desa, Sekretaris Desa, Bendahara Desa, koordinator bagian

keuangan serta pihak lainnya.


16

[Link]. Faktor-Faktor Penyebab Korupsi

salah satu model yang sering digunakan untuk menjelaskan penyebab

seseorang melakukan Tindakan kecurangan adalah Triangle Fraud Theory (Teori

Segitiga Kecurangan) (Tauhid, 2013). Teori ini pertama kali diperkenalkan oleh

Cressey pada tahun 1950-an. Melalui disertasinya, Cressey meneliti individu-

individu yang melakukan penyelewengan dana dan menyebut mereka sebagai

“trust violators”, yaitu orang-orang yang melakukan penyalahgunaan kepercayaan

atau amanah yang diberikan kepada mereka. Hasil penelitiannya menemukan

bahwa, terdapat tiga faktor utama yang menyebabkan seseorang melakukan

kecurangan, yang kemudian disebut sebagai segitiga kecurangan. Adapun ketiga

faktor tersebut, yaitu tekanan (pressure), kesempatan (opportunity), dan

rasionalitas (rationalization).

Tekanan
(pressure)

Kesempatan Rasionalitas
(opportunity) (rationalization
)
Gambar 4. Segitiga Kecurangan
Sumber: Awaliah, 2023

1. Tekanan

Tekanan diartikan sebagai situasi yang mendorong seseorang melakukan

kecurangan. Hal ini mencakup berbagai kebutuhan mendesak atau tekanan

financial maupun emosional yang dialami oleh individu dan memaksa mereka

untuk mencari cara untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Tekanan ini tidak selalu

berupa tekanan nyata, tetapi lebih pada tekanan yang dirasakan individu, seperti

gaya hidup yang melebihi kemampuan finansial, masalah keuangan pribadi,

tuntutan pekerjaan atau tekanan dari lingkungan keluarga. Tekanan ini juga dapat
17

muncul karena adanya sifat buruk, seperti penjudi, pemabuk dan pecandu narkoba

(Nabila (2015), dan Awaliah (2023)).

2. Kesempatan

Kesempatan merujuk pada situasi atau kondisi yang memungkinkan individu untuk

melakukan kecurangan tanpa ketahuan atau hambatan yang signifikan. Faktor-

faktor seperti tidak adanya pengendalian internal yang efektif, kelemahan dalam

sistem pelaporan keuangan, atau kurangnya pengawasan dapat membuka

peluang bagi individu untuk melakukan kecurangan. Peluang ini memberikan jalan

bagi pelaku untuk memanipulasi sistem dan menyembunyikan aktivitas ilegal atau

tidak etis (Awaliah, 2023).

3. Rasionalitas

Rasionalitas merupakan proses mental di mana individu meyakinkan diri mereka

bahwa tindakan kecurangan yang mereka lakukan adalah wajar atau dapat

dibenarkan dalam situasi atau konteks tertentu. Rasionalisasi ini membantu

individu untuk melegitimasi perilaku kecurangan mereka, misalnya dengan berpikir

bahwa mereka hanya "meminjam" uang atau bahwa tindakan mereka diperlukan

untuk memenuhi kebutuhan mendesak (Awaliah, 2023).

[Link]. Jenis-Jenis Korupsi Dana Desa

ICW (2018) mengungkapkan bahwa modus korupsi dana desa yang

umumnya dilakukan oleh pemerintah desa, yaitu;

1) Manipulasi Anggaran: Modus ini menjadi salah satu bentuk korupsi yang

umum dilakukan, yakni dengan memanipulasi anggaran, khususnya dalam

pengadaan barang dan jasa dengan melakukan penambahan (mark up) yang

tidak sah.

2) Proyek/Kegiatan palsu: Pemerintah desa seringkali menciptakan

kegiatan/proyek yang seolah-olah ada, padahal kenyataanya tidak pernah


18

diimplementasikan. Proyek semacam itu dirancang semata-mata untuk

memperoleh pencairan dana desa demi keuntungan pribadi.

3) Pelaporan yang tidak benar: Pemerintah desa terlibat dalam pembuatan

laporan yang tidak sesuai dengan realitas pelaksanaan proyek/kegiatan yang

ada serta berbeda dengan RAB yang telah ditetapkan.

4) Penggelapan: Taktik ini mirip dengan penggelapan yang diatur dalam KUHP,

dimana barang atau keuntungan diperoleh secara tidak sah.

5) Penyalahgunaan Anggaran: Pemerintah desa kerap melakukan

penyalahgunaan dana dengan menggunakan anggaran untuk tujuan yang

tidak sejalan dengan perencanaan awal yang sudah dibuat.

Sahrir (2017) menjelaskan bahwa dalam konteks pengelolaan dana desa

di Indonesia, terdapat beberapa modus operandi yang sering digunakan dalam

kasus-kasus korupsi, yakni;

1. Sengaja menyusun RAB yang tidak sesuai dengan harga pasar, dimana RAB

disusun dengan harga yang lebih tinggi namun pembayaran dilakukan sesuai

dengan kesepakatan lain yang tidak sesuai dengan RAB.

2. Bangunan fisik yang didanai oleh sumber lain dilaporkan sebagai tanggung

jawab kepala desa dengan menggunakan dana desa.

3. Mengalihkan dana ke rekening pribadi dengan alasan mengambil pinjaman

sementara, namun dana tersebut tidak dikembalikan.

4. Individu melakukan pemotongan dana desa.

5. Melakukan pemalsuan tiket perjalanan/penginapan untuk membuat

perjalanan dinas yang seolah-olah ada.

6. Pembayaran honorarium untuk perangkat desa dilaporkan lebih besar dari

sebenarnya.

7. Melakukan pemungutan pajak tapi hasil pajak tersebut tidak dialokasikan ke

kantor pajak.
19

8. Menjalankan pemalsuan bukti pembayaran dengan menuliskan pembayaran

alat tulis kantor (ATK) yang tidak sesuai dengan harga sebenarnya

9. Menggunakan dana desa untuk membeli inventaris kantor yang kemudian

digunakan untuk kepentingan pribadi.

2.1.3. Akuntabilitas

Dalam KBBI, akuntabilitas terdefinisikan sebagai situasi dimana seseorang

harus bertanggungjawab dan dapat dimintai pertanggungjawaban. Dari definisi

tersebut, kata akuntabilitas akhirnya selalu dianggap sama dengan responsibilitas

yang berarti tanggung jawab. Walaupun demikian, sebenarnya keduanya bersifat

kontras. Responsibilitas mencakup kewajiban agar bertangung jawab, sementara

akuntabilitas merujuk pada kewajiban untuk mencapai pertanggungjawaban yang

ditetapkan (LAN), 2015).

Berangkat dari hal diatas, LAN (2015) mengungkapkan bahwa

akuntabilitas mengacu pada tanggung jawab individu, kelompok, atau institusi

untuk memenuhi kewajiban yang telah dipercayakan kepada mereka. Hal ini

merupakan bentuk pertanggungjawaban dari individu atau kelompok yang diberi

tugas khusus oleh pihak yang memberikan amanat, baik dalam hubungan vertikal

maupun horizontal (Rusdiana dan Nasihuddin, 2021).

Dalam konteks sektor publik, Kusumastuti (2014) mengartikan

“akuntabilitas sebagai kewajiban bagi pelaksana penyelenggaraan publik untuk

secara jelas menunjukkan dan memberikan respons terhadap segala aspek yang

terkait dengan langkah-langkah, keputusan, dan prosees yang diambil, serta

memberikan pertanggungjawaban terhadap hasil dari kinerjanya.” Adapun,

Mardiasmo (2018) menyebutkan bahwa dalam konteks sektor publik, akuntabilitas

dapat dijelaskan sebagai tanggung jawab pihak yang menerima amanah untuk

memberikan pertanggung jawaban. Ini melibatkan kewajiban untuk


20

mengungkapkan seluruh aktivitas dan tindakan yang menjadi bagian dari

tanggung jawabnya kepada pihak yang memberikan amanah. Pihak yang

memberikan amanah memiliki hak dan wewenang untuk meminta

pertanggungjawaban tersebut. Dengan demikian, akuntabilitas mencakup

keterbukaan dan kewajiban untuk memberikan informasi yang lengkap dan jelas

terkait dengan pelaksanaan tugas dan tanggung jawab yang diberikan.

Adapun dalam konteks dana desa, Hasniati (2016) mengungkapkan bahwa

“akuntabilitas dapat diartikan sebagai tanggung jawab yang harus diwujudkan oleh

Kepala Desa dalam memberikan pertanggungjawaban atas pengelolaan dana

desa yang telah diberikan kepadanya.” Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk

mencapai sasaran yang telah ditetapkan dan pertanggungjawaban tersebut

disampaikan secara berkala melalui media pertanggungjawaban. Secara konkret,

Yusri dan Chairina (2023) menjelaskan bahwa akuntabilitas dana desa merujuk

pada kewajiban tim pelaksana pengelolaan ADD untuk memberikan

pertanggungjawaban kepada masyarakat dengan kepala desa sebagai

penanggung jawab utama.

Berdasarkan beberapa definisi yang ada, kita dapat memaknai bahwa

dalam kaitannya dengan pengelolaan dana desa, akuntabilitas ialah tanggung

jawab Kepala Desa dan tim pengelola dana desa kepada masyarakat sebagai

bentuk kewajiban kepala desa dalam mempertanggung-jawabkan amanah yang

diberikan oleh masyarakat dalam mengelola dana desa untuk dapat memperoleh

hasil yang sudah tujuan yang telah ditetapkan dan dilakukan secara berkala.

Hadi (2020) dalam “Buku Saku Transparansi dan Akuntabilitas Realisasi

APBDes” mengungkapkan Kepala Desa memiliki kewajiban untuk melaksanakan

tiga bentuk pertanggungjawaban yang mencakup:


21

1. Akuntabilitas vertikal: ini melibatkan pertanggungjawaban pelaksanaan

APBDes kepada instansi di atasnya dalam hirarki administratif seperti

Bupati/Walikota melalui camat.

2. Akuntabilitas horizontal: ini mengharuskan Kepala Desa untuk

mempertanggungjawabkan pelaksanaan APBDesa kepada Badan

Permusyawaratan Desa (BPD), yang merupakan badan perwakilan

masyarakat di tingkat desa.

3. Akuntabilitas sosial: Kepala Desa juga harus mempertanggungjawabkan

pelaksanaan APBDes kepada masyarakat. ini menunjukkan tanggung jawab

Kepala Desa terhadap kepentingan dan aspirasi warga desa.

2.1.4. Transparansi

Pada KBBI, transparansi berarti keadaan yang nyata, jelas, dan jernih.

Kata tersebut berasal dari kata "transparan" yang berarti terbuka. Menurut

Kusumawati (2014) Transparansi merujuk pada kejelasan, keterbukaan, dan

tanggung jawab dalam tindakan atau perilaku yang diperlihatkan oleh individu

maupun kelompok kepada pihak-pihak terkait dalam aktivitas yang mereka

lakukan. Dengan kata lain, transparansi adalah upaya untuk memastikan bahwa

semua informasi terungkap dengan jelas dan mampu dipertanggungjawabkan

terhadap pihak yang memiliki kepentingan.

Hidayah (2023) mengungkapkan bahwa transparansi melibatkan

penyediaan informasi yang bersifat signifikan dan relevan karena dapat dijangkau

dan dimengerti oleh semua pihak berkepentingan. Sementara itu, Lalolo (2003)

sebagaimana yang dikutip dalam Bonaldy, dkk. (2018), mengungkapkan bahwa

dalam konteks pelayanan publik, transparansi merupakan suatu prinsip yang

menjamin ketersediaan akses dan kebebasan bagi setiap individu untuk

memperoleh informasi terkait dengan pelaksanaan pemerintahan. Ini mencakup


22

informasi mengenai kebijakan, proses pengambilan keputusan dan hasil yang

telah dicapai.

Dalam konteks pengelolaan dana desa, menurut Ritonga dan Syamsul

(2016) transparansi dapat dijelaskan sebagai bentuk keterbukaan pemerintah

desa selaku pengelola dana desa dalam menyampaikan informasi terkait dengan

penetapan kebijakan yang berkaitan dengan pengelolaannya, dari tahap

merencanakan anggaran sampai pada tahap pertanggungjawaban anggaran.

prinsip transparansi memastikan bahwa seluruh informasi terkait tersedia secara

luas untuk diakses masyarakat, maka dari itu informasi tersebut haruslah dapat

tersedia, dapat diakses, dan disajikan tepat waktu.

Nurlailah, dkk. pada tahun 2022 melakukan penelitian terkait transparansi

pengelolaan dana desa di desa-desa Kabupaten Sigi, menitikberatkan

transparansi pada tiga aspek utama yaitu perencanaan, pelaksanaan, serta

pelaporan dan pertanggungjawaban APBDes. Selanjutnya, tiap tahapan

pengelolaan dana desa diukur menggunakan empat kriteria evaluasi sebagai

berikut:

1. Ketersediaan: merujuk pada potensi bahwa informasi mengenai keuangan

desa dapat dijangkau atau diketahui oleh masyarakat, atau dipublikasikan

secara umum.

2. Aksesibilitas: mencerminkan kemampuan masyarakat untuk meminta

informasi terkait pengelolaan keuangan desa yang telah disediakan dan

mempermudah akses bagi semua pihak.

3. Ketepatan waktu: menandakan bahwa informasi terkait pengelolaan dana

desa tersedia dan dapat diakses oleh semua pihak dalam waktu kurang dari

30 hari setelah disahkan oleh Kepala Desa.


23

4. Umpan balik (Publik): menyiratkan bahwa pemerintah desa menyiapkan

saluran atau kontak yang jelas untuk menerima keluhan, saran, dan masukan

dari masyarakat terkait dengan pengelolaan dana desa.

2.1.5. Partisipasi Masyarakat

Partisipasi berasal dari kata partciipation, yang dalam KBBI diartikan

sebagai keadaan ikut serta dalam suatu kegiatan. Sunarto (2004) menyatakan

bahwa partisipasi masyarakat merupakan proses keterlibatan warga baik secara

individu maupun dalam kelompok sosial dan organisasi dalam merencanakan,

melaksanakan, dan memonitor kebijakan yang berpotensi mempengaruhi

kehidupan mereka secara langsung. Sementara itu, Heller dalam Gani (2015)

mengungkapkan bahwa partisipasi masyarakat adalah suatu proses dimana

individu secara aktif terlibat dalam pengambilan keputusan terkait lembaga,

program, dan lingkungan yang memiliki dampak pada mereka.

Berangkat dari definisi tersebut, dalam hubungan dengan pengelolaan

dana desa, partisipasi masyarakat dapat diartikan sebagai keterlibatan aktif

masyarakat dalam mengelola dana desa, mencakup perencanaan, pelaksanaan

serta pemantauan keputusan terkait dengan pengelolaan dana desa yang

dilakukan oleh pemerintah desa.

Cohen dan Uphoff (1977) mengelompokkan partisipasi masyarakat ke

dalam beberapa tahapan sebagai berikut:

a. Tahap pengambilan keputusan. Pada tahap ini, masyarakat terlibat dalam

rapat-rapat dan perencanaan kegiatan menjadi fokus utama. Hal ini

mencakup proses dimana masyarakat memberikan kontribusi dalam

merencanakan kegiatan.
24

b. Tahap [Link] ini menjadi inti dari pembangunan, dimana

pada tahap ini implementasi program terjadi. Partisipasi dalam tahap ini

dapat dibagi menjadi tiga aspek; kontribusi pemikiran, dukungan materi,

dan aktif terlibat menjadi anggota program.

c. Tahap menikmati hasil. Pada tahap ini, kesuksesan partisipasi masyarakat

dalam perencanaan dan pelaksanaan program tercermin dalam

kemampuan mereka untuk merasakan hasil dari pelaksanaan kegiatan

tersebut. Hal ini juga bisa digunakan sebagai parameter berhasilnya

sebuah program.

d. Tahap evaluasi. Pentingnya tahap ini dapat dijelaskan oleh fakta bahwa

keterlibatan masyarakat pada saat ini memberikan umpan balik yang

berharga. Umpan balik tersebut dapat digunakan untuk perbaikan

pelaksanaan program di masa depan.

Sementara itu, Ndraha (1990) menyatakan bahwa dalam proses

keterlibatan masyarakat dalam pembangunan, terdapat sejumlah tahapan

partisipasi sebagai berikut:

1) Terlibat dalam penerimaan dan penyampaian informasi.

2) Terlibat dalam memberikan respons dan saran terhadap informasi yang

diterima, baik itu berupa penolakan maupun penerimaan.

3) Terlibat dalam perencanaan pembangunan, termasuk dalam pengambilan

keputusan.

4) Terlibat dalam pelaksanaan operasional pembangunan.

5) Terlibat dalam menerima hasil pembangunan.

6) Terlibat dalam mengevaluasi hasil pembangunan.


25

2.2. Penelitian Terdahulu

Pada sebuah penelitian, dibutuhkan penelitian terdahulu yang dapat


menjadi acuan bagi penelitian dalam menggambarkan hubungan antar variabel
penelitian. Berkaitan dengan penelitian ini, terdapat beberapa penelitian terdahulu
yang terdapat dalam tabel 2.1.
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu
Judul
No Peneliti Variabel Hasil Penelitian
Penelitian
1. Braen Alfon Pengaruh 1. Akuntabilitas (X1) 1. akuntabilitas dan
Dangeubun, Akuntabilitas dan 2. Kompetensi SDM Sumber Daya
Yohanes Kompetensi (X2) manusia
Zefnath Sumber Daya 3. Kecurangan berpengaruh pada
Warkula Manusia dalam kecurangan dalam
(2022) Terhadap pengelolaan dana pengelolaan dana
Kecurangan desa (Y) desa.
Dalam
Pengelolaan
Dana Desa
2. Melisa Eka Pengaruh 1. Akuntabilitas (X1) 1. Akuntabilitas,
Sari, akuntabilitas, 2. Kesesuaian kesesuaian
Fefri Indra kesesuaian Kompensasi (X2) kompensasi dan
Arza, kompensasi dan 3. Pengendalian pengendalian
Salma Taqwa pengendalian Intern (X3) intern secara
(2019) intern terhadap 4. Potensi bersama-sama
potensi Kecurangan dana atau secara
kecurangan dana Desa (Y) simultan
desa. berpengaruh
signifikan terhadap
potensi
kecurangan
2. Akuntabilitas dan
kesesuaian
kompensasi
berpengaruh
signifikan negatif
terhadap potensi
kecurangan
26

3. Pengendalian
internal
berpengaruh
signifikan positif
Terhadap potensi
kecurangan.
3. Ida Ayu Alit Pengaruh 1. Akuntabilitas 1. Hasil penelitian
Oktaviani, Akuntabilitas, (X1) menunjukkan
Nyoman Conflict of 2. Conflict of bahwa variabel
Trisna Interest, dan interest (X2) akuntabilitas
Herawati, Penegakan 3. Penegakan berpengaruh
Anatawikrama Hukum terhadap Hukum (X3) negatif dan
Tungga Potensi Fraud 4. Potensi Fraud signifikan
Atmadja dalam dalam terhadap potensi
(2017) Pengelolaan dana pengelolaan fraud.
Desa Di dana desa (Y) 2. Conflict of
Kabupaten interest
Buleleng berpengaruh
positif dan
signifikan
terhadap potensi
fraud, variabel
penegakan
hukum
berpengaruh
positif dan
signifikan
terhadap potensi
fraud dalam
pengelolaan
keuangan desa.
4. Bintang Pengaruh 1. Akuntabilitas 1. Akuntabilitas
Pamungkas, Akuntabilitas, (X1) tidak
Nayang Conflict of Interest 2. Conflict Of berpengaruh
Helmayunita, dan Komitmen Interest (X2) terhadap Fraud
Fiola Finomia Organisasi 3. Komitmen Pengelolaan
Honesty Terhadap Fraud Organisasi (X3) Dana BLT pada
(2023) Pengelolaan
27

Dana BLT pada 4. Fraud Masa Pandemic


Masa Covid-19 Pengelolaan COVID-19
Dana BLT (Y) 2. Conflict of
Interest tidak
berpengaruh
terhadap Fraud
Pengelolaan
Dana BLT pada
Masa Pandemic
COVID-19
3. Komitmen
Organisasi
berpengaruh
terhadap Fraud
Pengelolaan
Dana BLT pada
masa pandemic
COVID-19
5. Lianita Puspita Pengaruh 1. Kompetensi 1. Kompetensi
Dewi, Kunti kompetensi Aparatur (X1) aparatur,
Sunaryo, aparatur, 2. Moralitas Individu moralitas
Retno Yulianti moralitas individu, (X2) individu, dan
(2022) budaya 3. Budaya praktik
organisasi, praktik Organisasi (X3) akuntabilitas
akuntabilitas, dan 4. Praktik berpengaruh
whistleblowing Akuntabilitas terhadap
terhadap (X4) pencegahan
pencegahan fraud 5. Whistleblowing kecurangan
dalam (X5) dalam
pengelolaan dana 6. Pencegahan pengelolaan
desa (studi Fraud (Y) dana desa.
empiris pada 2. Budaya
desa di organisasi dan
kecamatan whistleblowing
prambanan, tidak
klaten) berpengaruh
terhadap
pencegahan
28

fraud dalam
pengelolaan
dana desa.
6. Delvira Eka Pengaruh 1. Tranparansi (X1) 1. Transparansi
Selvia dan Transparansi, 2. Asimetri dan partisipasi
Fefri Indra Asimetri Informasi Informasi (X2) masyarakat tidak
Arza (2023) dan Partisipasi 3. Partisipasi berpengaruh
Masyarakat Masyarakat (X3) terhadap potensi
Terhadap potensi 4. Potensi kecurangan
Kecurangan Dana Kecurangan dana desa
Desa Dana Desa (Y) 2. Asimetri
informasi
berpengaruh
terhadap potensi
kecurangan
dana desa
7. Firda Aulia, Pengaruh Moral 1. Moral Sensitivity 1. Moral Sensitivity
Sofyan Sensitivity, (X1) tidak memiliki
Syamsuddin Transparansi dan 2. Transparansi pengaruh
dan Sahrir Akuntabilitas (X2) terhadap
(2023) Terhadap 3. Akuntabilitas pencegahan
Pencegahan (X3) fraud dalam
Fraud dalam 4. Pencegahan pengelolaan
Pengelolaan Fraud (Y) dana desa.
Alokasi Dana 2. Transparansi
Desa dan akuntabilitas
berpengaruh
terhadap
pencegahan
fraud dalam
pengelolaan
dana desa.
8. Vidya Vitta Pengaruh 1. Akuntabilitas 1. Akuntabilitas
Adhivinna dan Akuntabilitas, (X1) berpengaruh
Alfi Prastika Kesesuaian 2. Kesesuaian terhadap potensi
Agustin (2021) Kompensasi dan Kompensasi (X2) kecurangan
Pengendalian 3. Pengendalian dana desa.
Internal terhadap Internal (X3)
29

Potensi 4. Potensi 2. Kesesuain


Kecurangan Dana Kecurangan (Y) kompensasi dan
Desa pada pengendalian
Kelurahan/Desa internal tidak
di Kabupaten berpengaruh
Kulon Progo terhadap potensi
kecurangan
dana desa.
9. Ni Wayan Pengaruh 1. Kompetensi (X1) 1. Kompetensi
Sariwati dan Kompetensi, 2. Praktek tidak
Ni Komang Praktek Akuntabilitas berpengaruh
Sumadi (2021) Akuntabilitas dan (X2) terhadap
Moralitas Individu 3. Moralitas Individu pencegahan
Terhadap (X3) fraud
Pencegahan 4. Pencegahan 2. Praktek
Fraud dalam Fraud (Y) Akuntabilitas
Pengelolaan berpengaruh
Dana Desa (Studi positif terhadap
Empiris di Desa pencegahan
Se-Kecamatan fraud
Ubud, Gianyar) 3. Moralitas
Individu
berpengaruh
negatif terhadap
pencegahan
fraud.
10. Andi Rahmina Pengaruh 1. Transparansi (X) Secara simultan
Pratami (2020) Transparansi 2. Fraud (Y) transparansi
Pengelolaan pengelolaan alokasi
Dana Desa dana desa
Terhadap Fraud berpengaruh
di Kecamatan terhadap kecurangan
Nagrak dengan nilai koefisien
Kabupaten sebesar 48%.
Sukabumi
11. Rana Haniyah Analisis Tingkat 1. Tingkat Tingkat efektivitas
Handayani Efektivitas Efektivitas anggaran,
(2021) Anggaran, Anggaran (X1) akuntabilitas dan
30

Akuntabilitas dan 2. Akuntabilitas transparansi


Transparansi (X2) berpengaruh secara
Terhadap Potensi 3. Transparansi signifikan terhadap
Kecurangan (X3) potensi kecurangan
Penggunaan 4. Potensi dana desa pada Desa
Dana Desa Kecurangan (Y) Harjatani, Kecamatan
Kramatwatu,
Kabupaten Serang,
Banten.
12. Elisa Putri Pengaruh 1. Akuntabilitas 1. Akuntabilitas
Masni dan Vita
Akuntabilitas, (X1) dan budaya
Fitria Sari
(2023) Kesesuaian 2. Kesesuaian organisasi
Kompensasi, Kompensasi (X2) berpengaruh
Pengendalian 3. Pengendalian negatif dan
Internal dan Internal (X3) signifikan
Budaya 4. Budaya terhadap
Organisasi Organisasi (X4) kecurangan
Terhadap 5. Kecurangan dana desa
Kecurangan Dana Dana Desa (Y) 2. Kesesuaian
Desa kompensasi dan
pengendalian
internal tidak
berpengaruh
terhadap
kecurangan
dana desa.
13. Nada Irma Pengaruh Sistem 1. Sistem Akuntansi 1. Sistem
Farida,
Akuntansi, (X1) akuntansi,
Nanang Agus
Suyono dan Kompetensi 2. Kompetensi kompetensi
Susanti (2021)
Akuntansi, Akuntansi (X2) akuntansi,
Supervision, 3. Supervision (X3) supervisi, dan
Accountability, 4. Accountability transparansi
dan Transparency (X4) berpengaruh
terhadap Potensi 5. Transparency terhadap potensi
Penyalahgunaan (X5 penyalahgunaan
Dana Desa 6. Potensi dana desa.
Penyalahgunaan 2. Akuntabilitas
dana Desa (Y) tidak
31

berpengaruh
terhadap potensi
penyalahgunaan
dana desa.

2.3. Kerangka Penelitian

2.3.1. Kerangka Pikir

Tahun 2014, Pemerintah mengesahkan “UU Nomor 6 Tentang Desa” yang

menghadirkan konsep pendanaan baru bagi desa dalam menjalankan

pemerintahan, melaksanakan pembangunan serta melakukan pembinaan dan

pemberdayaan masyarakat yang dikenal dengan “Dana Desa”. Hadirnya dana

desa memberikan kewenangan bagi Kepala Desa sebagai penaggung jawab

utama dalam mengelola dana desa guna mensejahterakan masyarakat di desa.

Disahkannya UU tersebut, menghadirkan suatu hubungan keagenan baru di luar

dari hubungan keagenan yang ada antara masyarakat dan pemerintah desa, yakni

hubungan keagenan antara pemerintah pusat dan pemerintah desa.

Lane (2003), mengungkapkan bahwa dalam konteks pemerintahan pada

negara demokratis terdapat hubungan keagenan antara pemerintah dan

masyarakat. Sehingga, dalam pelaksanaannya dapat terjadi konflik kepentingan,

dimana pemerintah dalam hal ini yang didelegasikan dalam membuat kebijakan

untuk mengoptimalkan keuntungan masyarakat sebagai principal (Publik), namun

dilain sisi juga berkepentingan mengoptimalkan kesejahteraannya (halim, 2007).

Bentuk dari adanya konflik kepentingan dalam pengelolaan dana desa dapat

terlihat dari banyaknya kasus korupsi yang berkaitan dengan dana desa.

Kepala Desa sebagai penanggung jawab utama dalam pengelolaan dana

desa, seharusnya menggunakan dana tersebut untuk menyejahterakan

masyarakat desa. Namun, ironisnya justru menggunakan dana tersebut untuk


32

memperkaya diri sendiri melalui berbagai cara, seperti pembuatan proyek fiktif,

laporan fiktif dan penggelembungan anggaran. Melihat besarnya potensi konflik

kepentingan dalam pengelolaan dana desa dan guna memastikan pengelolaan

dana desa digunakan untuk kesejahteraan masyarakat, maka pengelolaan dana

desa harus didasarkan pada praktik-praktik pemerintahan yang baik.

Permendagri No.113 tahun 2014 menyebutkan bahwa asas pengelolaan

dana desa yaitu, transparansi, akuntabel dan partisipatif dan dilakukan dengan

tertib dan disiplin anggaran. Melalui pengelolaan dana desa yang akuntabel,

transparan dan partisipatif, diharapkan dana desa digunakan demi kepentingan

masyarakat dan terhindar dari berbagai bentuk kecurangan yang dapat terjadi,

termasuk korupsi.

UU No.6 Tahun 2014

Dana Desa

Partisipasi
Akuntabilitas Transparansi
Masyarakat

Potensi Korupsi dalam


Pengelolaan Dana Desa

Gambar 2.1 Kerangka Pikir


33

2.3.2. Kerangka Konseptual

Akuntabilitas
(X1)

Potensi Korupsi dalam


Transparansi Pengelolaan Dana
(X2) Desa
(Y)

Partsipasi
Masyarakat
(X3)

Gambar 4. Kerangka konseptual

Keterangan:

3. : Parsial

4. : Simultan

2.4. HIPOTESIS PENELITIAN

2.4.1 Pengaruh Akuntabilitas Terhadap Potensi Korupsi Dalam Pengelolaan


Dana Desa
Dalam konteks pengelolaan dana desa, teori agensi menyoroti hubungan

yang kompleks antara principal (masyarakat atau pemerintah pusat) dan agen

(pemerintah desa), serta potensi korupsi yang dapat muncul dalam dinamika

tersebut. Teori agensi mengakui bahwa pemerintah desa sebagai agen dapat

terpengaruh oleh kepentingan pribadi, terutama saat dihadapkan pada tekanan

untuk mencapai target keuangan atau politik tertentu. Dalam perspektif Triangle

Fraud Theory, tekanan ini menjadi salah satu elemen penting yang memicu

potensi korupsi, menciptakan motivasi atau dorongan untuk melakukan tindakan

tidak jujur dalam pengelolaan dana desa. Oleh karena itu, dalam pengelolaan
34

pemerintahan yang baik, akuntabilitas memainkan peran kunci dalam mengatasi

potensi korupsi dalam pengelolaan dana desa. Akuntabilitas merujuk pada

tanggung jawab pengelola dana desa untuk menjalankan tugas dengan jujur, teliti,

dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Dengan adanya akuntabilitas yang

kuat, pemerintah desa lebih cenderung untuk bertanggung jawab dan

menggunakan dana desa sesuai dengan kepentingan masyarakat.

Penelitian telah menunjukkan bahwa tingkat akuntabilitas yang tinggi

berkorelasi dengan penurunan potensi korupsi dalam pengelolaan dana desa.

Studi yang dilakukan oleh Adhivinna dan Agustin (2021) menemukan bahwa

akuntabilitas berpengaruh terhadap potensi kecurangan dana desa. Lebih lanjut,

Masni dan Sari (2023) mengungkapkan bahwa akuntabilitas berpengaruh negatif

terhadap potensi kecurangan dalam pengelolaan dana desa. Temuan ini sejalan

dengan pendapat Prodjotaruno, dkk. (2021) yang menunjukkan bahwa kurangnya

akuntabilitas dalam pengelolaan dana desa menjadi salah satu faktor utama

penyebab maraknya kasus korupsi di tingkat desa. Dengan demikian, akuntabilitas

tidak hanya bertindak sebagai pembatas terhadap tekanan yang dapat memicu

potensi korupsi, tetapi juga membentuk bagian penting dalam meminimalkan risiko

penyalahgunaan kekuasaan. Oleh karena itu, hipotesis dari penelitian ini adalah:

H1: Akuntabilitas berpengaruh negatif terhadap potensi korupsi dalam

pengelolaan dana desa.

2.4.2. Pengaruh Transparansi terhadap Potensi Korupsi dalam Pengelolaan

Dana desa

Teori agensi memberikan wawasan yang penting dalam memahami

kompleksitas pengelolaan dana desa, khususnya terkait hubungan antara

prinsipal (masyarakat atau pemerintah pusat) dan agen (pemerintah desa).

Konsep Triangle Fraud Theory juga memberikan pemahaman tentang risiko-risiko


35

yang mungkin timbul dalam dinamika tersebut. Dalam konteks ini, masalah

keagenan menjadi fokus utama, di mana asimetri informasi dan perbedaan

kepentingan antara prinsipal dan agen dapat menyebabkan konflik yang berujung

pada potensi kecurangan. Salah satu aspek yang memperkuat pemahaman

tentang potensi kecurangan adalah kesempatan. Kesempatan menjadi salah satu

elemen kunci dalam Triangle Fraud Theory, yang menciptakan kondisi di mana

agen memiliki akses dan kontrol terhadap dana desa tanpa pengawasan yang

memadai. Dalam konteks ini, transparansi berperan penting karena mengurangi

kesempatan bagi agen untuk menyalahgunakan kepercayaan dan akses mereka.

Kurangnya transparansi meningkatkan risiko korupsi, karena pemerintah desa

dapat memanfaatkan ketidakjelasan informasi untuk kepentingan pribadi,

memperbesar kesempatan untuk melakukan tindakan korupsi (Yulianto, 2017).

Pratami (2020) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa transparansi

berpengaruh terhadap kecurangan dana desa. Sementara itu, Handayani (2021)

serta Farida, dkk. (2021) menyimpulkan bahwa tingkat transparansi secara

signifikan berpengaruh terhadap potensi kecurangan dana desa. Hasil penelitian

tersebut menunjukkan bahwa tingkat transparansi yang lebih rendah

memungkikan terjadinya kecurangan yang lebih tinggi. Namun, Selvia dan Arza

(2023) dalam penelitiannya menemukan bahwa transparansi tidak berpengaruh

terhadap potensi kecurangan dana desa. Berdasarkan pemaparan di atas, maka

disusun hipotesis sebagai berikut:

H2: Transparansi berpengaruh negatif terhadap potensi korupsi dalam

pengelolaan dana desa


36

2.4.3. Pengaruh Partisipasi Masyarakat terhadap Potensi Korupsi dalam

Pengelolaan Dana desa

Teori agensi menekankan dinamika hubungan antara prinsipal (pemerintah

atau masyarakat sebagai pemilik dana desa) dan agen (kepala desa atau

pemerintah desa sebagai pengelola dana desa), di mana terdapat insentif bagi

agen untuk mengoptimalkan kepentingan pribadinya, yang dapat meningkatkan

potensi korupsi. Sementara itu,dalam Triangle Fraud Theory telah diidentifikasi

tiga faktor utama yang mendasari terjadinya penipuan, yaitu tekanan, peluang, dan

rasionalisasi.. Dalam konteks ini, partisipasi masyarakat memiliki peran yang

signifikan. Pertama, partisipasi masyarakat dapat mengurangi tekanan pada agen

untuk bertindak secara tidak etis, karena adanya pengawasan dan perhatian yang

lebih besar dari masyarakat dapat menciptakan tekanan moral yang membatasi

peluang untuk melakukan tindakan korupsi. Kedua, partisipasi masyarakat juga

membuka peluang untuk mendeteksi tindakan korupsi, karena masyarakat yang

terlibat aktif dalam pengelolaan dana desa memiliki akses yang lebih besar

terhadap informasi dan proses pengambilan keputusan, sehingga dapat lebih

mudah mendeteksi dan melaporkan perilaku yang mencurigakan. Ketiga,

partisipasi masyarakat dapat mengurangi rasionalisasi untuk melakukan tindakan

korupsi, karena ekspektasi dan tuntutan transparansi dan akuntabilitas dari

masyarakat dapat menciptakan norma sosial yang menentang perilaku koruptif,

serta mengurangi legitimasi untuk bertindak secara tidak etis.

Zakariya (2020) menemukan bahwa, rendahnya partisipasi masyarakat

dalam pengelolaan dana desa menyebabkan terjadinya korupsi. Penelitian

Rahmawati, dkk. (2023), Irianto (2019), serta Kurniawan (2018) juga menemukan

bahwa partisipasi masyarakat memiliki pengaruh negatif terhadap kecurangan

dana desa. Hasil penelitian-penelitian tersebut, menyimpulkan bahwa semakin

tinggi partisipasi masyarakat dalam pengelolaan dana desa, maka semakin rendah
37

kecurangan dana desa yang terjadi. Sebaliknya, semakin rendah tingkat

partisipasi masyarakat maka semakin tinggi potensi kecurangan dapat terjadi.

Namun, Selvia dan Arza (2023) dalam penelitiannya menemukan bahwa

transparansi tidak berpengaruh terhadap potensi kecurangan dana desa.

Berdasarkan hal tersebut, maka hipotesis dalam penelitian ini, yaitu:

H3: Partisipasi Masyarakat berpengaruh negatif terhadap potensi korupsi dalam

pengelolaan dana desa

2.4.4. Pengaruh Akuntabilitas, Transparansi, dan partisipasi Masyarakat

Secara Simultan terhadap Potensi Korupsi dalam Pengelolaan Dana

desa

Teori agensi dan Triangle Fraud theory telah memberikan pemahaman

mendasar terkait dengan adanya potensi konflik kepentingan dan faktor-faktor

yang dapat menyebabkan terjadinya korupsi dalam pengelolaan dana desa. Untuk

mengamankan pengelolaan dana demi kesejahteraan masyarakat, pemerintah

mendorong praktik pemerintahan yang baik dengan menekankan akuntabilitas,

transparansi, dan partisipasi masyarakat. Akuntabilitas mendorong integritas

dalam pengelolaan dana, transparansi membuka akses informasi dan memberikan

kontrol yang lebih baik, sementara partisipasi masyarakat menciptakan

mekanisme pengawasan yang lebih efektif. Integrasi ketiga elemen tersebut dapat

mengurangi potensi korupsi dalam pengelolaan dana desa, seperti yang disoroti

oleh Yulianto (2017), Zakariya (2020), dan Projotaruno dkk. (2021).

Pertama, akuntabilitas akan menciptakan struktur yang jelas tentang siapa

yang bertanggung jawab atas pengelolaan dana desa, serta mengurangi peluang

bagi agen untuk melakukan tindakan korupsi karena mengetahui bahwa mereka

akan diminta pertanggungjawaban atas tindakan mereka. Kedua, transparansi


38

akan membuka akses informasi kepada masyarakat tentang penggunaan dana

desa, sehingga meningkatkan pengawasan dan mengurangi peluang bagi agen

untuk melakukan tindakan korupsi yang tidak terdeteksi. Ketiga, partisipasi

masyarakat yang aktif akan meningkatkan pengawasan dan tekanan moral

terhadap agen, serta memberikan lebih banyak peluang untuk mendeteksi dan

melaporkan tindakan korupsi. Berdasarkan hal tersebut, maka hipotesis dalam

penelitian ini yaitu:

H3: Akuntabilitas, Transparansi dan Partisipasi Masyarakat berpengaruh

terhadap potensi korupsi dalam pengelolaan dana desa

Anda mungkin juga menyukai