11 +rini
11 +rini
ABSTRACT
This study was conducted with the aim of analyzing the income and efficiency of organic rice
production at the Ngudi Raharjo Farmer Group in Benyo Hamlet, Sendangsari Village, Pajangan
District with a sample of 30 farmers. Hypothesis testing used the methods (1) income analysis (2)
Coob-Douglass function analysis using the Data Envelopment Analysis (DEA) program. The results
showed that the average income from organic rice farming was IDR 16,969,582/farm. The total cost
of expenditure was IDR 3,193,584/farm. The income received was greater than the total cost of
expenditure. The profit was IDR 16,718,082/farm. Organic rice farming is feasible because the R/C
ratio value of 6.31 is greater than 1. The economic efficiency value for input of growth stimulants is
3.64; botanical pesticides 0.201. Technically, the use of production inputs of 1.086 > 1 has an
Increasing Return to Scale.
Key-words: feasibility, income, production efficiency
INTISARI
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menganalisis pendapatan dan efisiensi produksi
padi organik pada Kelompok Tani Ngudi Raharjo di Dusun Benyo, Kalurahan Sendangsari,
Kapanewon Pajangan dengan sampel sebanyak 30 petani. Pengujian hipotesis menggunakan metode
(1) analisis pendapatan (2) analisis fungsi Coob-Douglass menggunakan program Data Envelopment
Analysis (DEA). Hasil penelitian menunjukkan rata-rata pendapatan dari usaha tani padi organik
sebesar Rp 16.969.582/usaha tani. Total biaya pengeluaran sejumlah Rp3.193.584,00 per usaha tani.
Pendapatan yang diterima lebih besar daripada total biaya pengeluaran. Keuntungan
Rp16.718.082,00 per usaha tani. Usaha tani padi organik layak diusahakan karena nilai R/C ratio
6,31 lebih besar dari 1. Nilai efisiensi ekonomis untuk input zat perangsang tumbuh 3,64; pestisida
nabati 0,201. Secara teknis, penggunaan input produksi 1,086 > 1 terjadi Increasing Return to Scale.
1
Alamat penulis untuk korespondensi: Rini Anggraeni. Email: ri_nies@[Link]
Pertanian Bantul dan dalam budidaya pertanian Jika R/C < 1, maka usaha tersebut tidak layak
organik di lokasi Dusun Benyo, Kalurahan diusahakan.
Sendangsari selalu konsisten dan memiliki 2. Analisis Efisiensi Ekonomis dan Teknis
organisasi yang baik. Untuk menganalisis efisiensi ekonomis,
Populasi dalam penelitian ini berjumlah dilakukan terlebih dahulu faktor-faktor yang
30 petani. Menurut Arikunto (2004) dalam memengaruhi hasil poduksi padi organik untuk
(Rahmadi 2011), untuk populasi yang subjeknya mendapatkan nilai elastisitas atau nilai produk
kurang dari 100 responden, maka lebih baik marjinal variabel bebas. Model yang digunakan
diambil semua, sehingga sampel yang adalah fungsi Cobb-Douglas. serta alat bantu
digunakan berjumlah 30 petani. Data pada SPSS 21 dan program Data Envelopment
penelitian yaitu data primer dan sekunder, data Analysis (DEA)-Frontier.
penelitian dikumpulkan dengan cara observasi, a. Efisiensi ekonomis tercapai jika petani
wawancara, kuesioner, dan dokumentasi. mampu memaksimalkan keuntungan yaitu
Metode analisis pada penelitian yaitu: menyamakan nilai produksi marjinal setiap
1. Analisis pendapatan faktor produksi dengan harganya, untuk
Pd = TR − TC (Eksplisit) menghitung efisiensi ekonomis sebagai
berikut:
Keterangan: 𝑁𝑃𝑀𝑥 𝑃𝑦.𝑃𝑀𝑥
EH = = =1
Pd = Pendapatan (Rp) 𝑃𝑥 𝑃𝑥
TR = Total Penerimaan (Rp) Keterangan:
TC = Total Biaya Produksi (Rp) EH = Tingkat efisiensi harga
Keuntungan padi organik dapat dihitung dengan NPM = Nilai produk marginal
menggunakan rumus berikut: PMx = Produk Marginal input
π = TR − TC (Eksplisit) Py = Harga Padi Organik
Keterangan: Px = Harga Input
π = Keuntungan (Rp) Jika EH > 1; artinya penggunaan input X
TR = Total Penerimaan (Rp) belum efisien untuk mencapai efisien perlu
TC = Total Biaya (Rp) menambah input X.
Ekplisit = Seluruh input yang dibeli Jika EH < 1; artinya penggunaan input X
Implisit = Seluruh input milik petani yang tidak efisiensi dan harus dikurangi input X.
digunakan Jika EH = 1; artinya penggunaan input X
Rumus untuk menghitung kelayakan padi sudah efisien.
organik adalah sebagai berikut:
R Penerimaan Usaha tani b. Untuk menganalisis efisiensi teknik
ratio = dilakukan dengan menggunakan aplikasi
C Biaya Eksplisit
DEA-Frontier, kriteria efisiensi teknik
Keterangan :
adalah dengan menggunakan Return To
R = Penerimaan usaha tani
Scale (RTS):
C = Biaya Eksplisit
i. Increasing return to scale,{(b1+b2) > 1}
Kriteria analisis R/C yaitu:
ii. Constant return to scale,{(b1+b2) = 1}
Jika R/C > 1, maka usaha tersebut layak
iii. Decreasing return to scale,{(b1+b2) < 1}
diusahakan.
Jika R/C = 1, maka usaha tersebut bisa dikatakan
HASIL DAN PEMBAHASAN
impas.
270 Jurnal Pertanian Agros Vol.27 No.2, April 2025: 267 – 276
Identitas petani responden 66,7 persen luas penguasaan lahan (Harianto & Susila,
berada pada umur produktif, pendidikan 2009) menyatakan bahwa semakin luas lahan
tertinggi SLTA sebesar 10 persen, tidak tamat yang dimiliki oleh petani tersebut maka tenaga
sebesar 43,3 persen, tidak sekolah 26,7 persen. kerja yang diperlukan akan semakin banyak.
Rata-rata luas lahan yang dimiliki petani sebesar Selain itu, besarnya biaya tenaga kerja terjadi
0,148 hektar. karena hampir di semua kegiatan proses
Analisis Pendapatan Usaha tani Padi budidaya menggunakan tenaga kerja dari luar
Organik keluarga tani, mulai dari tenaga kerja yang
Nilai produksi usaha tani diperoleh dari digunakan dalam proses pengolahan sawah
rerata produksi padi organik pada petani di sampai dengan kegiatan panen.
Sendangsari Kapanewon Pajangan sebesar Berdasarkan Tabel 3, dapat dijelaskan
1.551 kg yang dikalikan dengan harga beras bahwa rerata pendapatan usaha tani padi organik
sehingga diperoleh nilai produksi padi sebesar di Sendangsari Kapanewon Pajangan adalah
Rp20.163.000,00. Rerata harga jual padi sebesar Rp16.969.582,00 per usaha tani.
organik yang telah diolah menjadi beras organik Pendapatan padi organik per luas lahan berasal
di tingkat petani seragam, kualitas padi yang dari penerimaan sebesar Rp20.163.000,00
dihasilkan petani pada umumnya sama dalam dikurangi dengan biaya usaha tani sebesar
satu kelompok yaitu sebesar Rp13.000,00 per Rp3.193,00. Pendapatan usaha tani padi organik
kg. di Sendangsari Kapanewon Pajangan lebih
Berdasarkan Tabel 2, dapat diketahui besar apabila dibandingkan dengan hasil
bahwa rerata biaya usaha tani padi organik di penelitian Saputro (2015) pada usaha tani padi
Sendangsari Kapanewon Pajangan sebesar non organik yang menghasilkan pendapatan
Rp3.193.584,00 per usaha tani. Proporsi biaya Rp13.461.027,84 per hektar lahan dan
usaha tani terbesar yaitu biaya tenaga kerja keuntungan usaha tani padi organik sebesar Rp
dengan persentase 54,96%. Biaya tenaga kerja 16.718.082,00.
menjadi besar salah satunya dipengaruhi oleh
Kelayakan usaha tani padi organik 0,889. Nilai ini menyesuaikan R² untuk jumlah
dihitung dengan menggunakan R/C ratio, variabel independen dalam model. Karena nilai
dimana R/C ratio didapatkan dari perhitungan ini masih tinggi (0,889), model masih dianggap
penerimaan usaha tani dibagi dengan biaya baik dalam menjelaskan variasi dalam variabel
Eksplisit. Dengan demikian didapatkan hasil dependen setelah mempertimbangkan jumlah
R/C ratio adalah Rp20.163.000,00 dibagi prediktor. RMSE (Root Mean Squared Error)
Rp3.193.584,00 menghasilkan R/C ratio mempunyai nilai 0,301, nilai yang lebih rendah
sebesar 6,31. Jadi usaha tersebut dikatakan menunjukkan bahwa data sesuai dengan model.
layak untuk diusahakan karena 6,31 > 1. Nilai Dalam kasus ini, RMSE adalah 0,301 pada skala
R/C ratio sebesar 6,31 memiliki arti bahwa logaritmik variabel Y, p < 0,001 Nilai p yang
setiap 1 Rupiah biaya yang dikeluarkan dalam sangat kecil ini menegaskan bahwa model
proses produksi maka akan memberikan regresi secara keseluruhan signifikan secara
penerimaan sebesar 6,31 kali dari biaya yang statistik, nilai F sebesar 47.440, yang menguji
telah dikeluarkan. Berdasarkan hasil tersebut signifikansi keseluruhan model regresi. Apabila
dapat disimpulkan bahwa usaha tani padi dilihat koefisien individualnya, hanya variabel
organik di Sendangsari Kapanewon Pajangan Ln X2 (ZPT) yang memiliki koefisien signifikan
layak untuk diusahakan. secara statistik (p < 0,001) dengan arah positif.
Analisis Efisiensi Ekonomis dan Teknis Hal tersebut berarti bahwa peningkatan dalam
Pada Tabel 4 dapat dijelaskan R² penggunaan zat perangsang tumbuh (ZPT)
(Koefisien Determinasi) nilainya 0,908 artinya secara signifikan akan meningkatkan produksi
bahwa sekitar 90.8% variasi dalam variabel padi [Link] bibit, POC, pestisida
dependen Ln Y (produksi) dapat dijelaskan oleh nabati, dan tenaga kerja tidak signifikan secara
variasi dalam variabel independen Ln X1 (bibit), statistik dalam model M₀ (nilai p > 0,05). Selain
Ln X2 (ZPT), Ln X3 (POC), Ln X4 (Pestisida itu, nilai Variance Inflation Factor (VIF) yang
Nabati), Ln X5 (Tenaga Kerja) secara bersama- sangat tinggi dan nilai Tolerance yang sangat
sama. Adjusted R² (R² yang disesuaikan) sebesar rendah untuk Ln X1, Ln X3, Ln X4, dan Ln X5
mengindikasikan adanya multikolinearitas yang
272 Jurnal Pertanian Agros Vol.27 No.2, April 2025: 267 – 276
Model regresi secara keseluruhan tetap sehingga dapat dilakukan pengurangan faktor
signifikan secara statistik (F = 120.316, p < produksi pestisida nabati untuk meningkatkan
0,001). Secara keseluruhan, serangkaian model produksi usaha tani padi organik.
ini menunjukkan upaya untuk mengidentifikasi Efisiensi Teknis
variabel prediktor yang paling berpengaruh Pada penelitian ini, untuk mengitung
secara signifikan terhadap variabel dependen nilai efisiensi teknis menggunakan program
(Ln Y) sambil mengatasi masalah Data Envelopment Analysis (DEA). Analisis
multikolinearitas. Model M₃, dengan hanya menurut DEA, sebuah unit kegiatan ekonomi
menggunakan 2 variabel Ln X2 dan Ln X4 dapat dikatakan efisien apabila secara teknis
sebagai prediktor, memiliki nilai R² yang sedikit rasio perbandingan output produksi dan input
lebih rendah namun menghilangkan masalah yang digunakan sama dengan satu, yang artinya
multikolinearitas yang signifikan di antara unit kegiatan ekonomi tersebut sudah tidak
variabel prediktor yang tersisa. Persamaan melakukan pemborosan input- input produksi
regresi dengan nilai koefisien 3 menjadi atau mampu memanfaatkan potensi kemampuan
Ln Y = β₀ + β₂ Ln X₂ + β₄ Ln X₄ + ε produksi yang dimiliki secara optimal untuk
Ln Y = -0.563 + 1.178 Ln X₂ - 0.092 Ln X₄ + ε menghasilkan output produksi yang tinggi.
Dari persamaan diatas, maka dapat diperoleh Pengukuran efisiensi teknis menggunakan
nilai efisiensi ekonomis pada setiap variabel kriteria DEA-Frontier. Dari data diatas dapat
bebas (EH) sama dengan 1. diperhatikan mengenai kriteria RTS yaitu
Efisiensi Ekonomis Penggunaan Input apabila terjadi Increasing return to scale
Produksi Fungisida {(b1+b2) > 1} dan Decreasing return to scale,
Tabel 8 menunjukkan bahwa rasio apabila {(b1+ b2) < 1} belum efisien, terjadi
antara NPM (nilai produk marginal) dengan efisien apabila data RTS berada di titik
biaya penggunaan fungisida sebesar 3,641 > 1. maksimum 1 yaitu Constant return to scale,{(b
Dapat disimpulkan bahwa penggunaan input +b2)=1}, penggunaan faktor produksi secara
produksi fungisida belum efisien sehingga perlu simultan sangat efisien dalam menghasilkan
dilakukan penambahan faktor fungisida untuk produksi. Fungsi produksi Cobb Douglas:
meningkatkan produksi usaha tani padi organik. Y = -0.563 X21,178 X4-0,092
Efisiensi Ekonomis Penggunaan Input Ln Y = -0,563 + 1,178 X2 - 0,092 X4
Produksi Pestisida Nabati Nilai Return of Scale produksi adalah
Tabel 8 menunjukkan bahwa rasio 1,086 yang diperoleh dari perhitungan sebagai
antara Nilai Produk Marginal (NPM) dengan berikut: b2 + b4 = 1,178 - 0,092 = 1,086. Nilai
biaya penggunaan pestisida nabati sebesar 0,201 1,086 > 1, berada dalam Increasing Return to
< 1. Hal ini dapat disimpulkan bahwa Scale. Hal tersebut berarti bahwa jika input
penggunaan input pestisida nabati tidak efisien, dinaikkan 2 kali lipat atau kenaikan 100 % maka
output meningkat sebesar 21,086.
Analisis Pendapatan dan Efisiensi Produksi Padi ([Link], [Link], & [Link]) 275
[Link]
6
Yuliana, Y., & Handayani, M. (2017). Efisiensi
alokasi penggunaan faktor produksi pada
usahatani padi di Kecamatan Wirosari
Kabupaten Grobogan. Agraris, 3(1), 39–
47. [Link]