PENINGKATAN KEAKTIFAN SISWA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA
MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAMS
GAMES TOURNAMENT (TGT)
Mohammad Rifal 1
1
Program Studi Pendidikan Profesi Guru, Universitas Negeri Makassar, Indonesia
* Corresponding author: ppg.mohammadrifal01728@[Link]
ARTICLE INFO ABSTRACT
Received: 12 Juli 2025 This study aims to improve student activeness in mathematics learning through the
Accepted: 21 Juli 2025 application of the cooperative learning model of the teams games tournament (TGT)
type in class [Link] of SMA Negeri 17 Makassar in the 2024/2025 academic year. This
study uses Classroom Action Research which is carried out in two cycles with 36
students as research subjects. Data collection methods include observation sheets and
student learning activity questionnaire sheets. Based on the results of the study, using
the TGT type learning model can increase student activeness in mathematics learning.
Based on data analysis, student learning activity increased by 42,9%, up from 60.2% in
cycle I to 80.1% in cycle II.
Keywords: Student Activity; Mathematics Learning; Cooperative Learning; Team
Games and Tournament.
PENDAHULUAN
Matematika merupakan cabang ilmu pengetahuan penting yang dapat diaplikasikan pada berbagai aspek
kehidupan sehari-hari. Teori-teori matematika yang ada memungkinkan semua aspek kehidupan manusia untuk maju
dengan cepat di dunia ini. Kemajuan ekonomi, teknologi, dan industri tidak luput dari intervensi matematika dalam
ranahnya. Karena pentingnya matematika, matematika diajarkan mulai dari sekolah dasar hingga sekolah menengah
atas. Karena pentingnya pendidikan matematika, kita tidak dapat mengajarkan matematika kepada generasi mendatang
dengan cara yang mudah. Orang-orang yang tidak meningkatkan kemampuan matematika mereka menjadi semakin
tidak mampu menangani masalah-masalah terkait disiplin ilmu yang mereka hadapi setiap hari. Namun, dalam
prosesnya, pembelajaran matematika tidak selalu efektif. Ini karena materi matematika tidak selalu mudah dipahami
siswa. (Al Husna et al., 2021) menyatakan siswa tidak memahami materi yang diajarkan oleh guru, guru hanya
menjelaskan materi dalam waktu singkat, guru tidak meminta siswa untuk mengerjakan latihan, guru tidak
menggunakan media pembelajaran yang baik, siswa tidak dapat berpikir matematis meskipun berada di kelas tinggi,
ide-ide siswa tetap terpendam dan tidak keluar, dan siswa yang tidak bertanya tentang materi yang dijelaskan oleh
guru. Siswa yang tidak terlibat akan menunjukkan berbagai aspek kepribadiannya sendiri, seperti rasa malas,
mengantuk, tidak ingin mengikuti kelas, sering meminta izin karena alasan pribadi, kesulitan fokus, berbicara dengan
teman, dan kesulitan menyelesaikan tugas.
Salah satu komponen penting dalam pembelajaran di kelas adalah aktif belajar. Pembelajaran dikatakan
berhasil dan berkualitas apabila semua siswa, atau setidaknya sebagian besar siswa, terlibat aktif dalam proses
pembelajaran secara fisik, mental, dan sosial (Mulyana, 2003). Keaktifan belajar bermanfaat bagi siswa. Pembelajaran
aktif menawarkan berbagai manfaat, seperti pengalaman belajar yang langsung, peningkatan aspek pribadi dan
keterampilan siswa, serta kesempatan untuk bekerja sesuai minat dan kemampuan. Selain itu, pembelajaran ini juga
mendorong interaksi sosial yang positif dan berpikir kritis melalui pengalaman nyata (Hamalik, 2007). Meskipun
memiliki banyak keuntungan, banyak siswa yang cenderung pasif dalam proses belajar, merasa malu untuk bertanya
atau menjawab pertanyaan guru. Hal ini mengakibatkan rendahnya partisipasi aktif di kelas, di mana hanya sedikit
siswa yang berani tampil dan berinteraksi selama pembelajaran berlangsung.
EDUCATION | 49
Peningkatan Keaktifan Siswa Dalam Pembelajaran Matematika Melalui Penerapan… (Mohammad Rifal)
Vol 2, No 1, 2025
Model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang digunakan untuk mengatasi masalah
kepasifan dan meningkatkan partisipasi siswa selama pembelajaran (Silva et al., 2021). Model pembelajaran kooperatif
merupakan model pembelajaran yang mengorganisasikan siswa untuk bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil
untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran terstruktur. Model pembelajaran adalah skema yang digunakan untuk
mengatur pembelajaran di kelas dan tutorial. Dengan demikian pembelajaran melalui model pembelajaran akan lebih
terencana dan sangat bermanfaat dalam proses pembelajaran. Saat ini model pembelajaran semakin berkembang.
Diskusi merupakan pendekatan yang digunakan dalam model pembelajaran kooperatif. Dalam model ini, siswa bekerja
dalam kelompok kecil yang mempunyai kemampuan berbeda-beda (heterogen) untuk menyelesaikan tugas atau
permasalahan sekolah. Pembelajaran kooperatif dapat mendorong siswa untuk aktif berbicara satu sama lain dan
mendukung satu sama lain untuk menyelesaikan masalah atau materi pelajaran.
Pembelajaran kooperatif merupakan metode pembelajaran yang efektif jika diterapkan dengan benar. Ada
lima faktor utama yang mempengaruhi keberhasilan dalam pembelajaran. Pertama, siswa harus mengalami
interdependensi, dimana setiap anggota merasa terhubung dan saling mendukung. Kedua, setiap anggota kelompok
bertanggung jawab atas perannya, sehingga setiap orang berkontribusi secara aktif. Ketiga, interaksi yang mendukung
sangat penting, di mana anggota kelompok saling memberikan umpan balik yang konstruktif, yang dapat meningkatkan
hasil belajar mereka. Keempat, soft skill seperti kepemimpinan, komunikasi, dan resolusi konflik harus dikuasai agar
pembelajaran kooperatif bisa efektif. Terakhir, anggota kelompok harus mendiskusikan dan mengevaluasi tindakan
mereka secara berkala untuk mencapai tujuan bersama. Dengan memahami dan menerapkan kelima faktor tersebut,
pembelajaran kooperatif dapat lebih efektif dan bermanfaat bagi seluruh siswa.
Hasil observasi di kelas X.2 SMA Negeri 17 Makassar ditemukan bahwa masih ada peserta didik yang sangat
tidak aktif dalam belajar matematika. Banyak siswa yang kurang aktif. Penyebab utamanya adalah rasa malu dan cemas
tentang kesalahan. Meskipun guru dapat memverifikasi jawaban siswa, beberapa siswa masih ragu untuk berbagi
pemikiran mereka secara tertulis atau lisan. Lebih jauh lagi, banyak siswa kesulitan untuk mengomunikasikan
pemikiran dan pertanyaan mereka dengan guru. Banyak siswa mengalami kesulitan mengartikulasikan pertanyaan
mereka dengan jelas ketika diminta untuk menjelaskan mengapa guru memberikan jawaban tertentu. Karena itu, guru
membutuhkan banyak waktu untuk memberikan bimbingan kepada siswa mereka. Siswa jarang bertanya ketika diberi
kesempatan untuk melakukannya. Lebih jauh lagi, guru kesulitan meminta siswa untuk memperbaiki pekerjaan rekan
mereka yang salah. Kadang-kadang, kesalahan dapat ditunjukkan oleh sesama siswa.
Banyak penelitian telah menunjukkan bahwa TGT mendukung penggunaan gim dan kompetisi dalam
matematika. Menurut beberapa penelitian, TGTdapat meningkatkan partisipasi siswa dalam belajar matematika
(Erlinda, 2017; Parhusip et al., 2023; Teranikha et al., 2024). Tujuan penelitian ini adalah untuk menggunakan model
pembelajaran kooperatif TGT untuk meningkatkan partisipasi siswa dalam pembelajaran matematika.
METODE
Penelitian ini dirancang sebagai penelitian tindakan kelas yang bersifat siklus. Sesuai desain penelitian,
terdapat dua siklus yang direncanakan. Apabila hasil dari siklus pertama belum mencapai tujuan yang diharapkan,
terutama terkait dengan peningkatan aktivitas siswa, maka penelitian akan dilanjutkan ke siklus kedua. Sebelum
memulai siklus kedua, akan dilakukan perbaikan-perbaikan terhadap tindakan yang telah dilakukan pada siklus
pertama. Secara umum, setiap siklus dalam penelitian tindakan kelas mencakup empat tahap utama, yaitu perencanaan,
pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi (Arikunto, 2008). Penelitian tindakan ini dilaksanakan pada tanggal 12 Agustus
2024 sampai dengan 24 Agustus 2024 di kelas SMA Negeri 17 Makassar. Penelitian ini melibatkan 36 siswa kelas
[Link], 9 laki-laki dan 27 perempuan. Model penelitian tindakan kelas di kelas dirancang oleh Kemmis & Mc. Taggart,
2014. Peneliti terlibat langsung dalam proses penelitian dari awal hingga akhir penelitian yang meliputi, perencanaan,
pelaksanaan, observasi dan refleksi sampai dengan pelaporan hasil penelitian. Penelitian yang dilakukan menggunakan
indikator keaktifan belajar peserta didik sesuai dengan indikator menurut Sardiman (2012), yang disajikan dalam Tabel
1.
Tabel 1. Indikator Keaktifan Belajar
Jenis Indikator
Oral Activities • Bertanya dengan teman dalam kelompok atau kepada guru jika ada sesuatu
yang tidak Anda pahami.
• Memberikan pendapat serta bekerja sama
Motor Activities • Menghadiri kelas tepat waktu
• Mengajak teman untuk diskusi bersama
EDUCATION | 50
Peningkatan Keaktifan Siswa Dalam Pembelajaran Matematika Melalui Penerapan… (Mohammad Rifal)
Vol 2, No 1, 2025
Jenis Indikator
• Bekerja sesuai instruksi
Mental Activities • Memecahkan masalah dalam kelompok
• Menemukan dan membagikan sumber belajar untuk menyelesaikan masalah
Emotional Activities • Bersemangat untuk memenangkan permainan
• Mengikuti permainan dengan antusias
Emotional Activities • Bersemangat untuk memenangkan permainan
• Mengikuti permainan dengan antusias
Data keaktifan peserta didik diperoleh dari kegiatan pembelajaran meliputi empat aktifitas belajar, yaitu
aktivitas lisan, aktivitas motorik, aktivitas mental, dan aktivitas emosional, disajikan dalam persentase. Data dari siklus
I dan siklus II dibandingkan. Untuk setiap jawaban, diberi skor 4 untuk jawaban yang sangat umum, skor 3 untuk
jawaban yang umum, skor 2 untuk jawaban yang jarang, dan skor 1 untuk jawaban yang sangat jarang. Setelah selesai,
data diubah menjadi persentase, dan kemudian dilakukan analisis dengan membandingkan persentasenya.
HASIL PENELITIAN
Studi ini dilakukan selama dua siklus, dengan dua pertemuan setiap siklus. Empat tahap utama membentuk
model pembelajaran kooperatif tipe TGT: (1) guru menyampaikan materi; (2) siswa mengerjakan soal yang diberikan
guru; (3) pertandingan atau turnamen, seperti permainan; dan (4) guru memberikan penghargaan. Pada siklus pertama,
36 siswa menghadiri dua pertemuan tatap muka pada tanggal 12 dan 15 Agustus 2024. Siklus pertama dirancang untuk
memenuhi dua tujuan pendidikan. Belajar menggambar grafik penyelesaian sistem pertidaksamaan linier dua variabel
dengan menggunakan alat manual dan teknologi. Pertama, siswa harus memahami bahwa himpunan penyelesaian
SPLDV memuat pasangan terurut apa pun yang membuat semua pertidaksamaan dalam sistem benar, yang
digambarkan sebagai daerah bebas bayangan. Siklus I ini memiliki pertemuan awal di TGT tahap 1 dan 2. Pertemuan
kedua dilakukan pada tahap 3 dan 4.
Pelajaran pertemuan pertama dimulai dengan mengingat materi yang diperlukan. Selanjutnya, konteks
pendapatan digunakan untuk mengajarkan siswa tentang pentingnya sistem pertidaksamaan linier dua variabel. Setelah
itu, pekerjaan dilakukan dengan memberikan tujuan. Kemudian dilakukan TGT tahap pertama. Guru memberikan
penjelasan tentang cara menemukan himpunan penyelesaian sistem pertidaksamaan linier dua variabel dan
menunjukkan himpunan tersebut dalam grafik pada bidang koordinat. Tahapan TGT kedua dilakukan setelah itu.
Metode ini dimulai dengan membagi siswa ke dalam enam kelompok, dengan masing-masing terdiri dari lima hingga
enam siswa. Guru kemudian memberi tahu siswa bahwa akan ada turnamen untuk membantu mereka bersiap sebaik
mungkin dan tetap fokus pada pelajaran. Guru kemudian memberikan masalah pada lembar kerja siswa dan meminta
siswa membahasnya di dalam kelompok masing-masing. Guru memantau proses LKPD hingga siswa selesai. Guru
mengakhiri pelajaran dengan meminta siswa menyimpulkan apa yang telah dipelajari dan memberi tahu mereka bahwa
turnamen adalah kegiatan pertemuan selanjutnya.
Pertemuan pembelajaran kedua diawali dengan pengumuman tujuan dan kegiatan pembelajaran. Guru
meminta siswa untuk berkumpul dalam kelompok yang sama seperti pada pertemuan pertama. Kemudian guru
menjelaskan peraturan permainan dan turnamen yang akan diadakan. Saat turnamen dimulai, guru memberikan
penjelasan tambahan dan mengoreksi jawaban yang salah sehingga siswa dapat melanjutkan pembelajaran. Guru dan
siswa menghitung skor setiap kelompok setelah turnamen berakhir. Untuk menghitung skor masing-masing kelompok,
skor rata-rata setiap anggota dihitung. Guru memberikan penghargaan kepada kelompok dengan skor tertinggi. Saat
pelajaran selesai, guru meminta siswa untuk melakukan refleksi. Siklus pertama menghadirkan banyak masalah,
termasuk pengelolaan kelas oleh guru dan tingkat keaktifan, kepercayaan diri, dan motivasi siswa.
Siklus kedua, seperti siklus pertama, diadakan secara tatap muka pada tanggal 19 dan 22 Agustus 2024.
Namun, dua peserta didik tidak hadir, sehingga hanya 34 siswa yang hadir. Siklus kedua memiliki dua tujuan
pembelajaran: (1) Setelah memperoleh grafik himpunan penyelesaian sistem, siswa harus mencari sistem
pertidaksamaan linier dua variabel; dan (2), Menggunakan sistem pertidaksamaan linier dua variabel, mereka harus
mensimulasikan masalah sehari-hari dan membuat grafik himpunan solusinya. Pada pertemuan pertama siklus ini, dua
tahap TGT, Tahap 1 dan 2, digunakan. Pada pertemuan kedua, Tahap 1 dan 2 diulang tetapi dengan fokus materi yang
berbeda. Selain itu, Tahap 3 dan 4 juga digunakan.
Pelajaran dimulai dengan penjelasan tujuan pembelajaran. Kemudian, guru berbicara tentang penentuan
SPLDV dari luas himpunan penyelesaiannya. Setelah itu, guru menyiapkan siswa untuk belajar dalam kelompok. Bagi
siswa menjadi enam kelompok, dengan lima sampai enam siswa masing-masing. Guru mengatakan bahwa turnamen
EDUCATION | 51
Peningkatan Keaktifan Siswa Dalam Pembelajaran Matematika Melalui Penerapan… (Mohammad Rifal)
Vol 2, No 1, 2025
akan diadakan untuk membantu siswa mempersiapkan pelajaran. Mereka akan membantu siswa memecahkan masalah
LKPD dan mengawasi mereka saat mereka berbicara. Setelah diskusi kelompok, guru mengakhiri pelajaran dengan
menarik kesimpulan tentang apa yang telah dipelajari dan menyatakan bahwa turnamen akan menjadi kegiatan
pertemuan berikutnya.
Pertemuan kedua menandai permulaan pelajaran yang memodelkan masalah program linear. Dilanjutkan
dengan mempersiapkan siswa untuk belajar dalam kelompok, guru meminta siswa duduk dalam kelompok yang sama
seperti saat pertemuan sebelumnya dan membantu mereka berbicara tentang LKPD. Setelah LKPD selesai, guru
memberikan peraturan turnamen. Setelah turnamen berakhir, guru dan siswa melihat papan poin kelompok mana yang
mendapatkan poin tertinggi. Kelompok yang memiliki poin tertinggi diberikan penghargaan. Pelajaran diakhiri dengan
refleksi guru.
Secara umum, pembelajaran di siklus kedua berjalan lancar. Fokus perbaikan siklus kedua adalah refleksi dari
siklus pertama. Kebijakan untuk menggantikan papan bernomor gim dengan Quizizz dianggap sebagai pilihan yang
tepat. Selama siklus pertama dan kedua, hasil observasi terhadap peningkatan keaktifan peserta didik ditunjukkan
dalam Tabel 2. Tabel tersebut menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam aktivitas jenis lisan dan mental. Secara
khusus, siswa lebih cenderung mengajukan pertanyaan jika mereka tidak memahami materi di siklus kedua. Siswa
lebih banyak menggunakan diskusi kelompok untuk mencari dan berbagi informasi selama penyelesaian masalah.
Secara umum, keaktifan siswa meningkat dari 42,9% pada siklus pertama menjadi 80,1% pada siklus kedua.
Tabel 2. Hasil Observasi Keaktifan Belajar Siswa
No Jenis Indikator Siklus I Siklus II Peningkatan
1 Oral • Bertanya dengan teman dalam kelompok atau 35,2% 66,7% 89,4%
Activities kepada guru jika ada sesuatu yang tidak Anda
pahami.
• Memberikan pendapat serta bekerja sama 48,4% 56,5% 16,7%
2 Motor • Hadir di kelas tepat waktu 92,2% 98,5% 6,8%
Activities • Mengajak teman untuk diskusi bersama 56,3% 72.6% 28,9%
• Menjalankan instruksi yang diberikan 56,9% 88,7% 55,8%
3 Mental • Menyelesaikan permasalahan secara 46,2% 80,3% 73,8%
Activities berkelompok
• Menemukan dan membagikan sumber belajar 34,2% 65,8% 92,4%
untuk menyelesaikan masalah
4 Emotional • Bersemangat untuk memenangkan permainan 85,8% 94,3% 9,9%
Activities • Mengikuti permainan dengan antusias 85,8% 96,7% 12,7%
Rata-rata 60,2% 80,1% 42,9%
PEMBAHASAN
Dalam penelitian yang dilakukan selama dua siklus dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe
TGT, dengan tujuan meningkatkan aktivitas belajar siswa, telah tercapai. Berdasarkan analisis hasil observasi dan
angket siswa, terlihat adanya peningkatan aktivitas belajar. Model pembelajaran kooperatif tipe TGT dalam penelitian
ini terdiri dari empat tahap: (1) guru mempresentasikan materi; (2) peserta didik menyelesaikan masalah; (3)
pertandingan atau turnamen, seperti permainan atau gim; dan (4) penghargaan. Siklus pertama dan kedua penerapan
TGT berbeda karena gim yang digunakan dan rentang tahapan TGT. Pada siklus pertama, papan bernomor berkorelasi
dengan pertanyaan yang harus dijawab siswa. Siklus kedua menggunakan Quizizz sebagai game untuk menjawab soal.
Indikator menanyakan kepada guru atau teman sekelompok apakah ada materi yang belum dipahami dengan
baik. Hasilnya, penggunaan TGT dalam pembelajaran aktif ini dapat membantu siswa meningkatkan keterampilan
bertanya mereka. Berbicara, kemampuan untuk menyampaikan ide atau konsep secara lisan dan membandingkannya
dengan orang lain, merupakan salah satu manfaat pembelajaran kolaboratif. Lebih jauh lagi, metrik terkait pendapatan
dan kinerja kelompok meningkat. Mengadakan diskusi kelompok sesuai petunjuk guru merupakan kegiatan lain yang
menunjukkan keberhasilan siswa (Sudjana, 2010). Pada awalnya siswa kesulitan melaksanakan instruksi guru, namun
setelah guru mulai menjelaskan instruksi diskusi, LKPD, dan turnamen, indikator pelaksanaan instruksi guru
meningkat.
Selain itu, akuntabilitas individu meningkat. Pada siklus pertama, banyak siswa hanya bergantung pada satu
siswa dalam kelompok untuk menjawab masalah. Namun, pada siklus kedua, pembelajaran kooperatif membantu siswa
meningkatkan indikator pemecahan masalah. Ada kemajuan meskipun banyak siswa tidak dapat menemukan dan
EDUCATION | 52
Peningkatan Keaktifan Siswa Dalam Pembelajaran Matematika Melalui Penerapan… (Mohammad Rifal)
Vol 2, No 1, 2025
berbagi apa yang mereka peroleh dari diskusi kelompok. Pembelajaran kooperatif membuat siswa lebih terlibat dan
ekspresif. Mereka merasa terbantu untuk berbagi pengetahuan dengan siswa lain dalam kelompok. Penggunaan
permainan dalam turnamen sangat dinantikan oleh siswa.
Model pembelajaran kooperatif tipe TGT sangat berdampak pada siklus I dan II karena siswa sering
mengalami periode harga diri rendah karena pembelajaran tim meningkatkan rasa percaya diri dan memungkinkan
semua orang bertanggung jawab satu sama lain. Metodologi ini juga mengajarkan siswa cara menangani masalah
dalam kelompok. Tipe TGT meningkatkan suasana kelas dengan manfaat permainan turnamen.
KESIMPULAN
Model pembelajaran kooperatif tipe TGT dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas [Link] SMAN 17 Makassar
sebesar 42,9% berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas ini. Dengan demikian, model pembelajaran kooperatif tipe
TGT dapat digunakan sebagai salah satu alternatif untuk menciptakan suasana kelas yang menyenangkan yang
mendorong peserta didik untuk berpartisipasi dalam pelajaran.
DAFTAR PUSTAKA
Al Husna, L., MZ, Z. A., & Rian Vebrianto. (2021). Studi Eksploratif Problematika Pembelajaran Matematika Di
Sekolah Dasar Di Tanah Datar. Mathline : Jurnal Matematika Dan Pendidikan Matematika, 6(1), 1–12.
[Link]
Arikunto, S. (2008). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Rineka Cipta.
Erlinda, N. (2017). Peningkatan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa Melalui Model Kooperatif Tipe Team Game
Tournament pada Mata Pelajaran Fisika Kelas X di SMK Dharma Bakti Lubuk Alung. Tadris: Jurnal Keguruan
Dan Ilmu Tarbiyah, 2(1), 49. [Link]
Hamalik, O. (2007). Proses Belajar Mengajar. PT Bumi Aksara.
Kemmis, S., & Mc. Taggart, R. (2014). The Action Research Planner: Doing Critical participatory Acton Researc.
Singapura: Springer Sience.
Mulyana, E. (2003). Kurikulum Berbasis Kompetensi, Konsep, Karakteristik dan Implementasi. Bandung : Remaja
Rosda Karya.
Parhusip, G. D., Kristanto, Y. D., & Partini, P. (2023). Meningkatkan Keaktifan Belajar Peserta Didik dengan Model
Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games Tournament (TGT). JIPM (Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika),
11(2), 293. [Link]
Sardiman, A. M. (2012). Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Raja Grafindo Persada.
Silva, R., Farias, C., & Mesquita, I. (2021). Cooperative learning contribution to student social learning and active role
in the class. Sustainability (Switzerland), 13(15). [Link]
Sudjana, N. (2010). Cara Belajar Siswa Aktif dalam Proses Belajar Mengajar. Sinar Baru Algensindo.
Teranikha, E., Fatonah, S., & Saputro, S. A. (2024). Penggunaan Model Teams Games Tournament untuk
meningkatkan Keaktifan Siswa pada Mata Pelajaran Matematika. Jurnal Inovasi, Evaluasi Dan Pengembangan
Pembelajaran (JIEPP), 4(1), 24–29. [Link]
EDUCATION | 53