0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan55 halaman

Revisi Proposal

Dokumen ini adalah proposal penelitian yang membahas pengaruh pemberian proprioceptive neuromuscular facilitation (PNF) terhadap aktivitas sehari-hari pada penderita hemiparese pasca stroke non-hemoragik di Rumah Sakit Sembiring Delitua tahun 2022. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien stroke melalui intervensi fisioterapi yang efektif. Penulis, Putra Hotmatua Sidabutar, menyusun proposal ini sebagai bagian dari program studi S1 fisioterapi di Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam.

Diunggah oleh

aade21735
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan55 halaman

Revisi Proposal

Dokumen ini adalah proposal penelitian yang membahas pengaruh pemberian proprioceptive neuromuscular facilitation (PNF) terhadap aktivitas sehari-hari pada penderita hemiparese pasca stroke non-hemoragik di Rumah Sakit Sembiring Delitua tahun 2022. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien stroke melalui intervensi fisioterapi yang efektif. Penulis, Putra Hotmatua Sidabutar, menyusun proposal ini sebagai bagian dari program studi S1 fisioterapi di Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam.

Diunggah oleh

aade21735
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENGARUH PEMBERIAN PROPIOCEPTIVE NEUROMUSCULAR

FASCILITATION TERHADAP ACTIVITY DAYLY LIVING PADA


PENDERITA HEMIPARESE POST STROKE NON
HEMORAGIK DI RUMAH SAKIT SEMBIRING
DELITUA TAHUN 2022

OLEH

PUTRA HOTMATUA SIDABUTAR

NIM: 1861035

PROGRAM STUDI S1 FISIOTERAPI FAKULTAS


KEPERAWATAN DAN FISIOTERAPI INSTITUT KESEHATAN
MEDISTRA LUBUK PAKAM 2022
LEMBAR PERSETUJUAN

Proposal penelitian ini dengan judul :

PENGARUH PEMBERIAN PROPIOCEPTIVE NEUROMUSCULAR


FASCILITATION TERHADAP ACTIVITY DAYLY LIVING PADA
PENDERITA HEMIPARESE POST STROKE NON
HEMORAGIK DI RUMAH SAKIT SEMBIRING
DELITUA TAHUN 2022

Yang Dipersiapkan dan Diseminarkan Oleh :

PUTRA HOTMATUA SIDABUTAR

NIM: 1861035

Proposal Ini Telah Diperiksa Dan Disetujui Untuk Diseminarkan Komisi Penguji
Proposal Pada Ujian Sidang Proposal Program Studi Ilmu Fisioterapi Fakultas
Keperawatan Dan Fisioterapi Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam.

Lubuk Pakam, Maret 2022

Pembimbing

Ns. Rahmad Gurusinga, [Link], [Link]

i
Lembar Pengesahan

Proposal dengan judul

PENGARUH PEMBERIAN PROPIOCEPTIVE NEUROMUSCULAR


FASCILITATION TERHADAP ACTIVITY DAYLY LIVING PADA
PENDERITA HEMIPARESE POST STROKE NON
HEMORAGIK DI RUMAH SAKIT SEMBIRING
DELITUA TAHUN 2022

OLEH:

PUTRA HOTMATUA SIDABUTAR

NIM: 1861035

Telah disetujui untuk diujikan dan dipertahankan dihadapan komisi penguji


proposal pada ujian sidang proposal Program Studi Keperawatan Program Sarjana
Fakultas Keperawatan dan Fisioterapi Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam

Lubuk Pakam, Maret 2022

Tim Penguji :

1. Penguji I Ftr. Miftahul Zannah, S,Tr, Ft, [Link]

2. Penguji II Bd. Novita Br Ginting Munthe, SST, [Link]

3. Penguji III Ns. Rahmat Gurusinga, [Link], [Link]

ii
LEMBAR PERNYATAAN

PENGARUH PEMBERIAN PROPIOCEPTIVE NEUROMUSCULAR


FASCILITATION TERHADAP ACTIVITY DAYLY LIVING PADA
PENDERITA HEMIPARESE POST STROKE NON
HEMORAGIK DI RUMAH SAKIT SEMBIRING
DELITUA TAHUN 2022

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam proposal ini tidak terdapat karya yang
pernah diajukan untuk memperoleh gelar sarjana kesehatan disuatu perguruan
tinggi, dan sepanjang sepengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat
yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis
diacu dalam naskah ini disebutkan dalam daftar pustaka.

Lubuk Pakam, Maret 2022

Peneliti,

PUTRA HOTMATUA SIDABUTAR

NIM: 1861035

iii
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas
berkat rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyusun dan
menyelesaikan proposal penelitian ini yang berjudul “ Apakah ada pengaruh
pemberian propioceptive neuromuscular fascilitation terhadap activity daily living
pada penderita hemiparese post stroke non-hemoragik di Rumah Sakit Sembiring
Delitua tahun 2022”

Dalam penyusunan dan penulisan proposal penelitian ini, penulis banyak


menghadapi kesulitan tetapi berkat bimbingan dari pembimbing saya, yakni: Ns.
Rahmad Gurusinga, [Link], [Link] yang senantiasa meluangkan waktu dari mulai
penyusunanan proposal penelitian ilmiah ini sampai dengan dapat diajukan dan
diuji dihadapan komisi penguji dan arahan dari semua pihak yang terlibat secara
langsung maupun tidak langsung, sehingga penulis dapat menyelesaikan proposal
penelitian ini, pada kesempatan ini saya juga menyampaikan ucapan terimakasih
kepada:

1. Drs. Johannes Sembiring, [Link], [Link] selaku Ketua Yayasan MEDISTRA


Lubuk Pakam.

2. Ns. Rahmad Gurusinga, [Link], [Link] selaku Rektor Institut Kesehatan


MEDISTRA Lubuk Pakam.

3 Ns. Tati Murni Karokaro, [Link], [Link] selaku Dekan Fakultas Fisioterapi
Institut MEDISTRA Lubuk Pakam.

4. Ftr. Sabirin Berampu, SST, [Link] selaku Ketua Program Studi Fisioterapi
Institut Kesehatan MEDISTRA Lubuk Pakam

5. Ns. Rahmad Gurusinga, [Link], [Link] selaku dosen pembimbing yang


senantiasa meluangkan waktu dan penuh kesabaran membimbing penulis
sehingga penulis dapat menyelesaikan proposal penelitian ini.

6. Seluruh staff dosen Institut Kesehatan MEDISTRA Lubuk pakam yang


senantiasa memberikan ilmu pengetahuan, bimbingan dan arahan yang sangat
bermanfaat bagi penulis selama menempuh pendidikan.

iv
7. Bukti tulus penulis kepada orangtua Ayahanda Martua Sidabutar beserta
keluarga yang telah memberikan motivasi, dukungan serta doa yang tidak
pernah putus kepada peneliti selama menjalani pendidikan.

8. Terlebih kepada saudara tercinta Ertison Sidabutar, AMF dan Susiana Sianipar,
AMF yang telah memberikan motivasi, pengajaran dan dukungan baik secara
moril maupun material selama penulis menjalani pendidikan

9. Kepada seluruh teman-teman fisioterapi angkatan 2018 yang telah memberikan


semangat dan kerjasama yang baik dalam penyelesaian proposal penelitian ini.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan proposal penelitian ini masih


jauh dari kesempurnaan, untuk itu penulis membutuhkan kritik dan saran yang
bersifat membangun demi kesempurnaan proposal penelitian ini. Akhir kata
penulis berharap proposal penelitian ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Lubuk Pakam, Maret 2022

Penulis,

PUTRA HOTMATUA SIDABUTAR

NIM : 1861035

v
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................... i

DAFTAR ISI .................................................................................................. ii

DAFTAR SKEMA ......................................................................................... iii

DAFTAR TABEL .......................................................................................... iv

DAFTAR GAMBAR ..................................................................................... v

DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. vi

BAB I PENDAHULUAN .............................................................................. 1

1.1 Latar Belakang ........................................................................................... 1

1.2 Rumusan Masalah .................................................................................... 2

1.3 Tujuan Penelitian ...................................................................................... 2

1.3.1 Tujuan Umum ...................................................................................... 2

1.3.2 Tujuan Khusus ..................................................................................... 2

1.4 Manfaat Penelitian ..................................................................................... 3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA .................................................................. 4

2.1 Konsep Stroke ......................................................................................... 4

2.1.1 Definisi .................................................................................................. 4

2.1.2 Klasifikasi .............................................................................................. 4

2.1.3 Etiologi .................................................................................................. 5

2.1.4 Fisiologi Stroke Non Hemoragik ......................................................... 6

2.1.5 Faktor Resiko ........................................................................................ 7

vi
2.1.6 Pemeriksaan Diagnostik ....................................................................... 8

2.1.7 Komplikasi ............................................................................................. 8

2.1.8 Penatalaksanaan .................................................................................... 8

2.2 Stroke Non Hemoragik .......................................................................... 9

2.2.1 Klasifikasi .............................................................................................. 9

2.2.2 Etiologi .................................................................................................. 10

2.2.3 Patologis ................................................................................................ 10

2.2.4 Manifestasi Klinis ................................................................................. 10

2.2.5 Penatalaksanaan .................................................................................... 10

2.3 Anatomi dan Fisiologi Otak .................................................................. 12

2.3.1 Sistem Saraf ........................................................................................... 12

2.3.2 Lapisan Kepala (Meningen) ................................................................. 14

2.3.3 Cairan Serebrospinal ............................................................................. 15

2.3.4 Vaskularisasi Otak ................................................................................ 16

2.3.5 Sistem Saraf Pusat ................................................................................. 17

2.3.6 Otak ........................................................................................................17

2.3.7 Sistem Saraf Tepi .................................................................................. 20

2.4 Activity Daily Living .............................................................................. 24

2.4.1 Defenisi .................................................................................................. 24

2.4.2 Jenis ........................................................................................................ 24

2.4.3 Faktor Yang Mempengaruhi ................................................................. 24

2.4.4 Alat Ukur Modifikasi............................................................................. 25

a. Indeks Barthel .......................................................................................... 25

b. Skala Pengukuran Indeks Barthel .......................................................... 27

2.5 Propioceptive Neuromuscular Fascilitation ....................................... 28

vii
2.5.1 Defenisi PNF ......................................................................................... 28

2.5.2 Mekanisme PNF .................................................................................... 30

2.5.3 Fungsi PNF ............................................................................................ 31

2.5.4 Teknik PNF ............................................................................................ 31

2.5.5 Tujuan PNF ............................................................................................ 31

BAB III METODE PENELITIAN ............................................................. 33

3.1 Desain Penelitian ...................................................................................... 33

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian .................................................................. 33

3.2.1 Tempat Penelitian .............................................................................. 33

3.2.2 Waktu Penelitian ................................................................................ 34

3.3 Populasi dan Sampling ............................................................................. 35

3.4 Defenisi Operasional ................................................................................ 36

3.5 Pengumpulan Data dan Analisis Data ..................................................... 37

3.6 Etika Penelitian ......................................................................................... 38

3.7 Pengolahan Data dan Analisis Data ........................................................ 39

3.7.1 Pengolahan Data ................................................................................ 39

3.7.2 Analisi Data ........................................................................................ 41

a) Analisa Univariat .................................................................................... 41

b) Analisa Bivariat ...................................................................................... 42

DAFTAR PUSTAKA..................................................................................... 46

viii
DAFTAR SKEMA

Skema Kerangka Konsep ................................................................................. 33

Skema Rancangan Penelitian ........................................................................... 35

ix
DAFTAR TABEL

Tabel Waktu Penelitian .................................................................................. 34

Tabel Defenisi Operasional ............................................................................ 36

x
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Salah satu penyakit pembunuh ke 3 di dunia adalah stroke, secara global


1,5 juta orang terserang stroke setiap tahunnya, satu pertiga meninggal dunia dan
sisanya mengalami kecacatan permanen (stroke forum, 2015). Menurut American
Heart Asoziation (AHA) 2015 kejadian kematian orang yang mengalami stroke
mencapai 23% dari jumlah penderita stroke rata-rata setiap 4 menit terjadi
kematian yang diakibatkan stroke. Stroke yang ada di Indonesia cukup jadi
perhatian karena diantara kalangan asia, Indonesia menjadi peringkat pertama
dengan jumlah kasus yang semakin meningkat, penyakit stroke merupakan
penyakit yang tidak menular menjadi permasalahan yang penting di negara
Indonesia, dimana penyakit stroke dapat berdampak negative pada ekonomi dan
produktifitas bangsa, karena pengobatan stroke ini membutuhkan biaya yang
besar dan waktu yang cukup lama (Kemenkes, 2014).

Prevalensi stroke menurut data World Stroke Organization menunjukkan


bahwa setiap tahunnya ada 13,7 juta kasus baru stroke, dan sekitar 5,5 juta
kematian terjadi akibat penyakit stroke. Sekitar 70% penyakit stroke dan 87%
kematian dan disabilitas akibat stroke terjadi pada negara berpendapatan rendah
dan menengah. Selama 15 tahun terakhir, rata-rata stroke terjadi dan
menyebabkan kematian lebih banyak pada negara berpendapatan rendah dan
menengah dibandingkan dengan negara berpendapatan tinggi. Prevalensi stroke
bervariasi di berbagai belahan dunia. Prevalensi stroke di Amerika Serikat adalah
sekitar 7 juta (3,0%), sedangkan di Cina prevalensi stroke berkisar antara (1,8%)
(pedesaan) dan (9,4%) (perkotaan). Di seluruh dunia, Cina merupakan negara
dengan tingkat kematian cukup tinggi akibat stroke (19,9% dari seluruh kematian
di Cina), bersama dengan Afrika dan Amerika Utara (Mutiarasari, 2019). Di
negara Indonesia sendiri berdasarkan hasil Rikesdas tahun 2018 prevalensi
penyakit stroke meningkat dibandingkan tahun 2013 yaitu dari (7%) menjadi
(10,9%). Secara nasional, prevalensi stroke di Indonesia tahun 2018 berdasarkan
diagnosis dokter pada penduduk umur ≥15 tahun sebesar (10,9%) atau
diperkirakan sebanyak 2.120.362 orang. Berdasarkan kelompok umur kejadian
penyakit stroke terjadi lebih banyak pada kelompok umur 55-64 tahun (33,3%)
dan proporsi penderita stroke paling sedikit adalah kelompok umur 15-24 tahun.
Laki-laki dan perempuan memiliki proporsi kejadian stroke yang hampir sama.
Sebagian besar penduduk yang terkena stroke memiliki pendidikan tamat SD
(29,5%). Prevalensi penyakit stroke yang tinggal di daerah perkotaan lebih besar

1
2

yaitu (63,9%) dibandingkan dengan yang tinggal di pedesaan sebesar (36,1%)


(Kemenkes RI, 2018).

Pada fase pemulihan stroke, fisioterapi memiliki peran penting dalam


mengembalikan gerak tubuh. Fisioterapi merupakan bentuk pelayanan kesehatan
individu atau kelompok yang bertujuan untuk mengembangkan, memelihara dan
memulihkan gerak dan fungsi tubuh sepanjang rentang kehidupan dengan
menggunakan penanganan secara manual, menggunakan alat, peningkatan gerak,
pelatihan fungsi dan komunikasi (IFI, 2016).

Berbagai intervensi diberikan pada fase pemulihan seperti latihan


keseimbangan, latihan bebicara, penguatan otot, latihan Range Of Motion (ROM)
dan latihan Activity Daily Living (ADL). Tujuan dari pemberian intervensi pada
penderita stroke yaitu untuk meningkatkan kualitas hidup yang menurun karena
efek dari suatu penyakit (Waghavkar & Ganvir, 2017). Salah satu latihan yang
efektif untuk meningkatkan ADL yaitu propioceptive neuromusculsr fascilitation
(PNF) (Ghatuverdi, 2017). PNF merupakan intervensi yang memanfaatkan
stretching technique untuk memperbaiki elastisitas otot dan menghasilkan efek
positif pada active and passive range of motion (Funk et al, 2013 dalam hindle,
2012). Propioceptive Neuromuscular Fascilitation bertujuan untuk merangsang
propioseptif sendi (Adler, 2014). Gerakan PNF dapat meningkatkan mekanisme
neuromuskuler yang akan memberikan respon aktifitas sehingga terjadi
peningkatan kemampuan aktifitas. PNF dapat meningkatkan aliran darah pada
motor cortex dan somatosensoris sisi yang berlawanan (Faizah, 2018).

Sengkey dan Pandeirot (2014) berpendapat bahwa pemberian intervensi


propioceptive neuromuscular fascilitation merupakan aspek yang baik untuk
mengembalikan fungsional pada pasien stroke (Ghatuverdi, 2017). PNF dapat
meningkatkan 60% mobilitas ekstremitas atas dan bawah, derajat kecacatan
pasien menurun 40% dan menigkatkan kemandirian dalam melakukan aktivitas
sehari-hari sebanyak 15,94% (Marlena & Joanna, 2018).

1.2 RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka rumusan masalah dalam


penelitian ini adalah “Apakah ada pengaruh pemberian propioceptive
neuromuscular fascilitation (PNF) terhadap activity daily living (ADL) pada
pasien hemiparese post stroke Non-Haemorage di RSU Sembiring Delitua”

1.3 TUJUAN PENELITIAN

1.3.1 Tujuan Umum


3

Mengetahui pengaruh pemberian propioceptive neuromuscular fascilitation


terhadap activity daily living pada pasien hemiparese post stroke di RSU
Sembiring Delitua.

1.3.2 Tujuan khusus

a. Mengetahui pengaruh ADL sebelum diberikan intervensi dengan PNF.

b. Mengetahui pengaruh ADL sesudah diberikan intervensi dengan PNF.

c. Menganalisa pengaruh ADL.

D MANFAAT PENELITIAN

1. Bagi Peneliti

a. Sebagai salah satu syarat kelulusan dalam menyelesaikan sarjana S1 Fisioterapi

b. Menambah pengetahuan mengenai propioceptive neuromuscular fascilitation


dalam pengaplikasiannya untuk meningkatkan activity daily living pada pasien
stroke

2. Bagi Rumah Sakit Sembiring Delitua

Memberikan pengetahuan bahwa intervensi propioceptive neuromuscular


fascilitation dapat dilakukan pada pasien stroke

3. Bagi Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam

Dengan adanya penelitian ini dapat menambah data hasil penelitian mengenai
Propioceptive Neuromuscular Fascilitation yang dapat mempengaruhi Activity
Daily Living pada pasien stroke. Serta dapat memberikan konstribusi dalam
perkembangan ilmu pengetahuan di dunia kesehatan yang berkaitan dengan
penyakit stroke beserta dengan intervensinya.

4. Bagi Peneliti Selanjutnya

Penelitian ini diharapkan berguna untuk pengalaman awal untuk melaksanakan


penelitian lebih lanjut dalam peningkatan activity daily living pada pasie stroke
Non-Haemorage.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Stroke

2.1.1. Defenisi

Stroke merupakan suatu kondisi yang terjadi ketika aliran darah ke


bagian otak mengalami gangguan, kurangnya aliran darah dan oksigen dalam
jaringan tersebut yang menyebabkan serangkaian reaksi biokimia yang dapat
merusak atau mematikan sel-sel otak (infarkserebral), kematian jaringan tersebut
dapat menyebabkan hilangnya fungsi yang dikendalikan oleh jaringan itu.
Organisasi kesehatan World Health Organization (WHO) mengaitkan bahwa
stroke adalah suatu tanda klinis yang berkembang cepat akibat gangguan otak
lokal atau global dengan gejala gejala yang berlangsung selama 24 jam atau lebih
yang disebabkan oklusi (sumbatan), embolisme serta pendarahan yang
mengakibatkan gangguan permanen atau sementara dan dapat menyebabkan
kematian (Islam et al, 2019).

Stroke adalah penyakit pembuluh darah otak. Definisi menurut WHO,


Stroke adalah suatu keadaan dimana ditemukan tanda-tanda klinis yang
berkembang cepat berupa defisit neurologik fokal dan global, yang dapat
memberat dan berlangsung lama selama 24 jam atau lebih dan atau dapat
menyebabkan kematian, tanpa adanya penyebab lain yang jelas selain vascular
(Kemenkes RI, 2018). Stroke terjadi apabila pembuluh darah otak mengalami
penyumbatan atau pecah. Akibatnya sebagian otak tidak mendapatkan pasokan
darah yang membawa oksigen yang diperlukan sehingga mengalami kematian
sel/jaringan (Kemenkes RI, 2018).

2.1.2 Klasifikasi

Stroke diklasifikasikan menjadi dua jenis, yaitu stroke haemorage dan


stroke non-haemorage. Untuk kasus stroke haemorage hampir 70% menyerang
pasien hipertensi, sedangkan untuk stroke non-haemorage sebuah prognosis hasil
penelitian di korea menyatakan bahwa 75,2% stroke non-haemorage di derita oleh
laki-laki dengan pravalensi berupa hipertensi, kebiasaan merokok dan
mengkonsumsi alkhohol (Artini, 2016).

a. Stroke Haemorage

Merupakan jenis stroke yang terjadi akibat adanya pendarahan pada otak
serebral atau subaraknoid sehingga terjadi pecah pembuluh darah otak. Biasanya

4
5

terjadi pada saat melakukan aktivitas aktif ataupun saat sedang beristirahat. Pada
umumnya stroke haemorage akan menyebabkan kesadaran penderita menurun.

b. Stroke Non-Haemorage

Merupakan stroke yang terjadi akibat adanya emboli atau trombus serebral,
tidak terjadi pendarahan namun terjadi iskhemia(kematian jaringan otak) sehingga
dapat menimbulkan hipoksia (kurang drah di otak) yang dapat memicu oedeme
sekunder namun pasien tidak mengalami penurunan kesadaran dan bisa dikatakan
kesadarannya baik.

2.1.3 Etiologi

Widagdo dkk pada tahun 2008 menyebutkan penyebab stroke ada 3 yaitu,

a. Trombus

1) Atherosklerosis dalam arteri intrakranial dan ekstrakranial

2) Keadaan yang berkaitan dengan pendarahan intraserebral

3) Artheritis yang disebabkan oleh penyakit kolagen (autoimun)atau arteritis


bakteri

4) Hiperkoagulasi seperti policythemia

5) Trombosis vena serebral

b. Emboli

1) Kerusakan katub karena jantung rematik

2) Infark miokardial

3) Fibrilasi arteri

4) Endokarditis bakteri dan endokarditis non bakteri yang menyebabkan bekuan


pada endokardium

c. Pendarahan

1) Pendarahan intraserebral karena hipertensi

2) Pendarahan subaraknoid

3) Ruptur anurisma

4) Arteri venous malformation


6

5) Hipokoagulansi

2.1.4 Patofisiologi Stroke Non Hemoragik

Stroke non hemoragik terjadi karena tersumbatnya pembuluh darah yang


menyebabkan aliran darah ke otak sebagian atau keseluruhan berhenti.
Penyumbatan dapat terjadi karena penumpukan timbunan lemak yang
mengandung kolestrol (plak) dalam pembuluh darah besar (arterikarotis) atau
pembuluh darah sedang (arteriserebri) atau pembuluh darah kecil. Plak
menyebabkan dinding pada arteri menebal dan kasar sehingga aliran darah tidak
lancar. Darah yang kental akan tertahan dan menggumpal (thrombosis), sehingga
alirannya menjadi semakin lambat. Akibatnya otak akan mengalami kekurangan
pasokan oksigen

Menurut Irfan (2010) Kemajuan peradaban manusia sudah semakin


berkembang pesat di sel. Jika kelambatan pasokan ini berlarut, sel-sel jaringan
otak akan mati (Muttaqin, 2009). gala bidang kehidupan. Ilmu pengetahuan dan
teknologi dewasa ini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan
masyarakat modern. Kesibukan yang luar biasa terutama di kota besar membuat
manusia terkadang lalai terhadap kesehatan tubuhnya. Pola makan tidak teratur,
kurang olahraga, jam kerja berlebihan serta konsumsi makanan cepat saji sudah
menjadi kebiasaan lazim yang berpotensi menimbulkan serangan stroke.
Gangguan pembuluh darah otak (GPDO).

Di Negara maju, meskipun angka kematian dari GPDO akhir-akhir ini


cenderung menurun oleh karena pencegahan terhadap penyakit ini telah dilakukan
sebaik mungkin. Di Negara berkembang kemajuan ekonomi serta ilmu
pengetahuan dan teknologi telah memperpanjang usia. Di samping itu, perbaikan
metode penanganan penderitaan GPDO yang akut, telah menekan angka kematian
penderita, akibat dari semua ini dapat diramalkan bahwa jumlah penderita yang
mempunyai gejala sisa akibat GPDO akan meningkat. Pada kondisi gangguan
pembuluh darah otak atau stroke, problem yang sering timbul pada pasien
biasanya:

a. Adanya kelemahan otot pada bagian anggota gerak tubuh yang terkena

b. Adanya gangguan keseimbangan

c. Adanya gangguan postur

d. Adanya gangguan pernafasan


7

e. Adanya atropi

f. Adanya gangguan kemampuan fungsional

2.1.5 Faktor Resiko

Beberapa faktor resiko pencetus stroke menurut Wijaya dan Mariza (2013) yaitu:

a. Hipertensi

Hipertensi atau yang biasa disebut tekanan darah tinggi merupakan


peningkatan tekanan darah sistolik di atas batas normal yaitu lebih dari 140
mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg (WHO, 2013; Ferri,
2017). Penyakit hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah salah satu jenis
penyakit yang mematikan di dunia dan faktor risiko paling utama terjadinya
hipertensi yaitu faktor usia sehingga tidak heran penyakit hipertensi sering
dijumpai pada usia senja/ usia lanjut (Fauzi, 2014), sedangkan menurut Setiati
(2015), hipertensi merupakan tanda klinis ketidakseimbangan hemodinamik suatu
sistem kardiovaskular, di mana penyebab terjadinya disebabkan oleh beberapa
faktor/ multi faktor sehingga tidak bisa terdiagnosis dengan hanya satu faktor
tunggal (Setiati, 2015).

b. Penyakit Kardiovaskuler

Adanya embolisme serebral kongesti jantung pada vibrilasi atrium (Denyut


jantung tidak teratur dan sering kali aliran darah tidak lancar)sehingga otak
kekurangan oksigen menyebabkan terjadinya stroke.

c. Aterosklerosis

d. Kontrasepsi

e. Riwayat kesehatan keluarga adanya stroke

f. Stress emosional

2.1.6 Pemeriksaaan diagnostik

a. Angiografi serebral

b. Elektro encefalografy

c. Sinar x tengkorak

d. Ultrasonograpy Doppler
8

e. CT-Scan

f. MRI

g. Pemeriksaan foto thorax

h. Pemeriksaan laboratoirum

2.1.7 Komplikasi

a. Berhubungan dengan imobilisasi

1. Infeksi pernapasan

2. Konstipasi

3. Tromboflebitis

4. Dislokasi sendi

b. Berhubungan dengan kerusakan otak

1. Epilepsi

2. Sakit kepala

3. Craniotomy

c. Hidrocefalus

2.1.8 Penatalaksanaan

Penatalaksaan stroke menurut ( Wijaya dan Mariza, 2013:38)

a. Penatalaksanaan Medis

1. Trombolitik (streptokinase)

2. Antikoagulan (heparin)

3. Hemoragik (pentoxyfilin)

4. Antagonis serotonin (nofty drofuryl)

5. Antagonis kalsium (nomodipin)

b. Pelaksanaan Khusus / Komplikasi


9

1. Atasi kejang (anti konvulsan)

2. Atasi dekompresi (kraniotomi)

c. Penatalaksanaan Faktor Resiko

1. Atasi hiperuresemia

2. Atasi hipertensi

3. Atasi hiperglikemia

2.2 Stroke Non-Haemorage

Adanya emboli dan trombosis serebral menimbulkan hipoksia yang dapat


memicu edema sekunder tetapi kesadaran umum pasien tidak mengalami
penurunan atau bisa dikatakan baik. Stroke iskemik biasanya terjadi karena adanya
penumpukan lemak di arteri karotis, arteri serebri sehingga mengakibatkan
sumbatan yang dapat mengakibatkan kematian jaringan otak (Wijaya dan Mariza,
2013).

2.2.1 Klasifikasi stroke non hemoragik

Pengobatan stroke non hemoragik atau infark menurut wijaya dan Mariza,(2013),
diklasifikasikan sebagai berikut:

1. TIA (Transient Ischemic Attack)

Gangguan neurologis setempat yang terjadi dalam waktu 24 jam, dimana gejala
ini akan hilang dan timbul dengan spontan

2. Stroke Komplit

Gejala neurologis fokal terus berkembang. Terlihat semakin berat dan memburuk
setelah 48 jam. Defisit neurologis yang timbul berlangsung secara bertahap
hingga menjadi berat.

2.2.2 Etiologi stroke non Hemoragik

Stroke disebabkan oleh beberapa faktor yaitu trombosis serebri, dan emboli
serebri. Pada umumnya aterosklerosis menyebabkan embolisme srebri yang dapat
memicu perwujutan penyakit jantung (Wijaya dan Miraza, 2013).

2.2.3 Patologis stroke Non-Hemoragik


10

Srtoke non hemoragik dapat terjadi karena trombus (terjadinya bekuan darah
pada arteri serebri) atau embolus (terjadinya bekuan darah yang berjalan menuju
otak dari tempat lain tubuh). Stroke trombolitik mengakibatkan oklusi pada aliran
darah yang disebabkan oleh arterosklerosis berat. Trans Ischemic Attack adalah
gangguan pada fungsi otak yang terjadi secara singkat bersifat reversibel akibat
hipoksia serebral. TIA dapat terjadi karena pembuluh darah mengalami
aterosklerosis yang menyebabkan spasme, sehingga kebutuhan oksigen
meningkat namun tidak dapat dipenuhi oleh karena aterosklerosis yang berat.
Stroke embolik berkembang setelah oklusi pada ateri yang terbentuk diluar otak
akibat embolus. Penyebab lain embolus yang mencetus terjadinya stroke adalah
jantung setelah miokardium atau fibrilasi atrium dam embolus yang merusak aorta
(Bakara dan Warsito,2016).

2.2.4 Manisfestasi Klinis

Terdapat emboli yang cukup besar, hilangnya sensabilitas, perubahan


mendadak status mental dan afasia. Gejala khusus pada pasien stroke adalah
kehilangan motorik yang dapat menyebabkan kehilangan volunter seperti
hemiplegia dan hemiparesis (Wijaya dan Mariza,(2013).

2.2.5 Penatalaksanaan Stroke non Hemoragik

Penatalaksanaan penderita stroke fase akut bila terjadi koma saat masuk
rumah sakit dapat dipertimbangkan memiliki prognosis yang buruk. Pada fase
akut yang menjadi prioritas adalah mempertahankan jalan nafas dan ventilasi yang
adekuat, biasanya fase akut berakhir selama 48 sampai 72 jam.

1. Penderita ditempatkan pada posisi lateral dengan posisi tempat tidur bagian
kepala agak ditinggikan sampai tekanan serebral berkurang

2. Intubasi endotrakea dan ventilasi mekanik perlu dilakukan untuk penderita


stroke massif, karena henti nafas menjadi faktor yang mengancam kehidupan pada
fase ini

3. Pantau adanya komplikasi pulmonal seperti aspirasi, atelektasis, pneumonia


yang berkaitan dengan ketidakefektifan jalan nafas, imobilitas atau hipoventilasi.

4. Pemeriksaan jantung untuk mengetahui ada tidaknya abnormalitas Antikoulan


diresepkan untuk mencegah pembentukan trombus dan emboli dalam sistem
jantung. Setelah fase akut dan kondisi pasien stroke stabil serta jalan nafas
adekuat pasien dapat diberikan tindakan rehabilitas diri atau terapi latihan untuk
mencegah terjadinya kekakuan pada sendi dan otot tujuannya untuk memperbaiki
11

fungsi motorik dan sensorik yang telah mengalami gangguan serta untuk
mencegah terjadinya komplikasi (Bakara dan Warsito, 2016).
12

2.3 Anatomi dan Fisiologi Otak

2.3.1. Sistem Saraf

Sistem saraf merupakan bagian yang paling kompleks, rumit dan salah satu
bagian terkecil dalam tubuh manusia. Sistem saraf manusia terbagi menjadi dua
yaitu sistem saraf pusat (SSP) dan sistem saraf tepi (SST) (Bahrudin, 2014).

a. Serabut Saraf

Secara mikroskopik serabut saraf mempunyai lapisan pelindung yang terdiri


dari endoneurium dengan fungsi untuk membungkus akson secara langsung,
perineurium sebagai pembungkus fesikel yang berupa kumpulan beberapa akson
beserta endoneuriumnya dan epineurium merupakan pembungkus beberapa
fesikel dan pembuluh durameter darah yang ada di sekitarnya. Epineurium akan
melanjutkan diri menjadi lapisan r di medulla spinalis (Bahrudin, 2014).

b. Neuron dan Sinaps

Neuron dan sinaps berperan pada proses informasi pada sistem saraf. Pada
sinaps, informasi dihantarkan dari satu neuron ke neuron berikutnya melalui zat
kimia yang disebut neurotransmiter. Struktur repetitif pada sel saraf disebut
dendrit, yaitu penonjolan yang bercabang dan melekat pada badan sel. Struktur
konduksi selanjutnya adalah akson yang panjangnya mencapai beberapa meter
(Bahrudin, 2014).

c. Klasifikasi Neuron

Bahrudin (2014) mengklasifikasi neuron berdasarkan struktural dan


fungsinya. Klasifikasi neuron berdasarkan struktural terdiri dari:

1) Anakson yaitu neuron kecil dan tidak ada tanda khusus dendrit dari akson.

2) Neuron bipolar yang mempunyai satu dendrit bagus yang membentuk dendrit
tunggal. Badan sel berada di antara dendrit dan aksonnya tidak bermielin.

3) Neuron pseudoniupolar yang memiliki dendrit lanjutan, proses aksonal dan


badan sel berada di satu sisi.

4) Neuron multipolar mempunyai beberapa dendrit dan akson tunggal yang


memiliki cabang satu atau lebih.
13

Klasifikasi neuron menurut Bahrudin (2014) berdasarkan fungsi neuron terdiri


dari:

1) Sensoric neuron

berfungsi untuk mengumpulkan informasi dari lingkungan eksternal dan


internal melalui reseptor exteroceptors yang memberikan informasi lingkungan
eksternal seperti suhu, sentuhan, sensasi tekanan, dan memberikan informasi
khusus pada penglihatan, penciuman, pendengaran. Reseptor proprioceptor yang
memantau posisi dan pergerakan otot rangka dan sendi. Reseptor interoceptors
yang memberikan informasi pada pencernaan, pernafasan dan sistem reproduksi
(Bahrudin, 2014).

2) Motoric neuron

merupakan multipolar neuron yang membentuk divisi efferent dari sebuah


sistem. Neuron motorik akan merangsang atau memodifikasi kegiatan di jaringan
periper, organ dan sistem organ (Bahrudin, 2014)

3) Interneuron terletak di antara neuron sensorik dan motorik.

Interneuron bertanggung jawab untuk menganalisis input sensoris dan


koordinasi motorik output (Bahrudin, 2014).
14

2.3.2 Lapisan Kepala (Meningen)

Gambar 2.3.2 Lapisan Kepala (Hedi Sasrawan, 2014)

Meningen merupakan lapisan otak yang terletak tepat di sebelah dalam


kranium. Lapisan kepala (meningen) berguna untuk melindungi otak, membetuk
framework penompang untuk arteri, vena, sinus venosus dan untuk menutupi
rongga yang terisi cairan dan spatium subarakhnoid. Jaringan ikat yang
melindungi lapisan kepala (meningen) terdiri dari dura matter, arakhnoid matter
dan pia matter (Moore, 2013).

a. Dura matter

Merupakan lapisan fibrosa terluar dari selaput otak yang tebal dan keras. Dura
matter terdiri dari dua lapisan fibrosa yaitu epidural space dan subdural space
(Moore, 2013 dan Bahrudin, 2014).

b. Arakhnoid matter

Merupakan lapisan intermedia tipis dan membran halus yang menutupi otak,
terletak di antara dura matter dan pia matter yang berdekatan dengan otak. Deep
arachoid matter adalah ruang 12 subarachnoid yang berisi meshwork dari serat
kolagen yang elastis dan menghubungkan arakhnoid matter dengan pia matter
(Moore, 2013 dan Bahrudin, 2014).

c. Pia matter

Merupakan lapisan yang melekat langsung pada permukaan otak. Pia matter
berfungsi sebagai bagian dasar pembuluh darah besar otak karena bercabang di
atas permukaan otak, memberikan aliran darah untuk memenuhi kebutuhan darah
pada daerah superfisial korteks (Bahrudin, 2014).
15

2.2.3. Cairan Serebrospinal

Gambar 2.2.3 Cairan Serebrospinal (E3ncloud, 2019)

Cairan serebrospinal merupakan cairan jernih yang dibentuk oleh plexus


chroideus ventrikel otak. Cairan tersebut meninggalkan sistem ventrikular menuju
spatium subarachnoid di antara arachnoid dan pia matter sebagai bantalan dan
memberi makan otak (Moore, 2013). Fungsi penting cairan serebrospinal yaitu
mencegah pergeseran langsung antara susunan saraf dengan kerangka otak (fossa
cranium), sebagai penyongkong otak, penyalur nutrisi dan pesan kimia lainnya
(Bahrudin, 2014).
16

2.3.4. Vaskularisasi Otak

Gambar 2.3.4 Vaskularisasi Otak (Hepikusumaningtyas, 2020)

Aliran darah ke otak berasal dari dua pembuluh darah besar yaitu arteri
karotis interna dan arteri vertebralis yang terletak di dalam spatium
subarachnoid. Darah vena mengalir ke sinus dura matris melalui vena encephali
dan vena cerebelli kemudian kembali ke jantung melalui vena jugularis (Moore,
2013 dan Bahrudin, 2014)

a. Arteri Karotis Interna

Arteri karotis interna berasal dari arteri carotis communins pada batas superior
cartilago thyroidea. Percabangan arteri karotis interna sering disebut sirkulasi
anterior otak (Moore, 2013). Arteri karotis interna membawa 80% darah untuk
mensuplai otak bagian depan, atas, lateral dan area supra tentorial yang berisi otak
besar (Bahrudin, 2014).

b. Arteri Vetebralis

Arteri vertebralis berasal dari arteri subclavia yang membawa darah untuk
mensuplai bagian lapisan otak (meningen) dan area infra tentorial yang berisi
cerebellum, batang otak, bagian belakang belakang dan bawah hemisfer otak
(Bahrudin, 2014 dan Moore, 2013)
17

2.3.5. Sistem Saraf Pusat (SSP)

Gambar 2.3.5 Sistem Saraf Pusat (Kelas pintar, 2020)

Sistem saraf pusat merupakan pusat perintah untuk sebagian besar atau
bahkan semua fungsi dalam tubuh (Barret et al, 2014). Sistem saraf pusat terdiri
dari otak (ensefalon) dan medula spinalis yang merupakan pusat kontrol dan pusat
integrasi dari seluruh tubuh manusia. Sistem saraf pusat terlindungi oleh tulang
kranium dan vertebrae, selaput otak (meningen) dan cairan serebrospinal yang
terletak pada ruang subaraknoid (Bahrudin, 2014).

2.3.6. Otak (Ensefalon)

Otak sebagai sistem pengatur tubuh terdiri dari 20 milyar neuron, setiap
neuron dapat menerima informasi melalui ribuan sinaps dalam satu waktu. Otak
banyak membutuhkan pasokan nutrisi yang konstan terutama oksigen dan glukosa
serta aliran darah yang cukup (Bahrudin, 2014). Otak terdiri dari otak besar
(cerebrum), batang otak (brainstem) dan otak kecil (cerebellum).

a. Otak Besar (Cerebrum)

Otak besar merupakan bagian terbesar dari otak yang terdiri dari hemisfer kanan
dan kiri yang di hubungkan oleh korpus kalosum. Kesadaran, intelektual,
penyimpanan memori, pengambilan informasi kembali dan pola motorik terletak
pada cerebrum (Bahrudin, 2014).

Menurut Bahrudin (2014) otak besar terdiri dari:

1) Telesefalon

Korteks Serebri, pada otak besar terdapat beberapa lobus yang di pisahkan
oleh beberapa fisura dan sulkus. Lobus pada otak besar yaitu lobus frontalis, lobus
parietalis, lobus temporalis dan lobus oksipitalis. Lesi destruktif pada korteks
18

serebri dapat mengakibatkan defisit neurologik (Bahrudin, 2014). Subkorteks,


pada bagian tengah hemisfer serebri berisi serabut-serabut transversal. Terdapat
kapsula interna berupa kumpulan serabut bermielin yang memisahkan nukleus
lentiformis dengan nukleus kaudatus dan talamus. Lesi pada subkorteks dan
talamus akan menyebabkan gangguan sensibilitas, hemiparesis (kelumpuhan pada
daerah konta lateral dari lesi) (Bahrudin, 2014).

Sistem Limbik terdapat pada perbatasan antara otak dengan diensefalon.


Sistem limbik merupakan kumpulan dari otak (cerebrum), diensefalon dan
mesenfalon. Sistem limbik berfungsi sebagai pembentuk perilaku dan emosional,
memfasilitasi penyimpanan dan pengambilan memori (Bahrudin, 2014). Ganglia
Basalis merupakan kumpulan inti di substansia abu abu pada bagian dalam
hemisfer otak dan nukleusnya terletak disetiap hemisfer inferior di pusat subtansia
putih. Ganglia basalis berfungsi sebagai pengontrol bawah kesadaran dan integrasi
otot rangka, pengatur pola koordinasi gerakan dan menyampaikan informasi dari
korteks serebral ke talamus. Lesi pada ganglia basalis akan menyebabkan dystonic
posture, lesi pada globus palidus dan substansia nigra akan mengakibatkan
akinesia, sedangkan lesi pada putamen dan nukleus kaudatus akan mengakibatkan
hiperkinesia (Bahrudin, 2014).

2) Diensefalon

Epitalamus merupakan membran bagian anterior yang membentang pada pleksus


koroid melalui foramina interventrikular ke dalam ventrikel lateral (Bahrudin,
2014).

Talamus berfungsi untuk memproses informasi sensorik dari medulla spinalis dan
saraf kranial sebelum disampaikan ke otak atau batang otak. Talamus bertindak
sebagai penyaring informasi dan menyampaikan sebagian kecil dari informasi
sensorik (Bahrudin, 2014).

Hipotalamus terletak di bawah dan depan talamus yang mempengaruhi pusat


emosi dan komponen batang otak. Hipotalamus berfungsi untuk mengatur
keinginan dan kebiasaan (lapar, haus, keinginan seksual), regulasi suhu tubuh,
mengontrol ritme sirkadian dan mengontrol sistem otonom (Bahrudin, 2014).

Subtalamus terletak di antara mesensefalon dan talamus bagian dorsal yang


berfungsi sebagai pengatur fungsi sensorik, motorik dan retikular (Bahrudin,
2014)

b. Batang Otak (Brainstem)

Batang otak terdiri dari:


19

1) Mesensefalon (Midbrain)

Midbrain terletak pada bagian rostral batang otak, fossa cranii media dan
posterior yang berisi nukleus untuk mengatur gerakan visual, mengaudit informasi
dan membangkitkan respon reflek untuk stimulus (Bahrudin, 2014 dan Moore,
2014).

2) Pons

Pons terletak di inferior mesensefalon di atas medulla oblongata yang membentuk


tonjolan pada permukaan anterior batang otak dan melekat pada cerebellum
(Bahrudin, 2014).

3) Medula Oblongata

Medula oblongata mengubungkan otak dengan medula spinalis yang berfungsi


sebagai penyampai informasi dari spinal cord (Bahrudin, 2014).2014).

c. Otak Kecil (Cerebellum)

Otak kecil merupakan pusat untuk mengontrol fungsi motorik. Otak kecil
membawa informasi dari sebagian traktus sensori (proprioceptic) dengan impuls
motorik pada area motorik di otak dan medula spinalis. Cerebellum berfungsi
sebagai koordinasi gerakan volunter, keseimbangan tubuh dan tonus otot
(Bahrudin, 2014).

d. Medulla Spinalis

Medulla spinalis mencapai panjang 45 cm terbentang dari vertebrae C1


sampai L1. Bentuk medulla spinalis tidak silinder sempurna, akan tetapi memiliki
dua bagian yang membesar pada level cervical dan lumbal. Area tersebut
merupakan pool motorik neuron yang mensuplai lengan dan tungkai dan tempat
ekspansi grey matter. Secara imaginer, medulla spinalis dibagi terdiri dari 31
segmen yaitu 8 segmen cervical, 12 segmen thorakal, 5 segmen lumbal, 5 segmen
sakral dan 1 atau beberapa segmen koksigeal (Bahrudin, 2014).

2.3.7. Sistem Saraf Tepi (SST)

Sistem saraf tepi merupakan penghantar data penting dari sistem saraf pusat
ke tubuh dan mengumpan balik data yang didapat dari tubuh kembali ke sistem
saraf pusat (Barret et al, 2014). Susunan saraf tepi terdiri dari saraf kranial dan
saraf spinalis yang merupakan garis komunikasi antara sistem saraf pusat dan
tubuh (Bahrudin, 2014).
20

a. Saraf Kranial

Gambar [Link] Saraf Kranial (SehatQ Feb, 2020)

Saraf kranial merupakan komponen sistem saraf perifer yang berhubungan dengan
otak (Bahrudin, 2014).

1) Saraf Olfactorius (Nervus I)

Saraf ini bertanggung jawab dalam membawa informasi sensorik pada hidung.

2) Saraf Optikus (Nervus II)

Saraf ini yang membawa informasi visual dari reseptor sensorik di mata.

3) Saraf Okulomotor (Nervus III)

Saraf yang menginervasi otot ekstraokular yang menggerakkan bola mata.

4) Saraf Trochlearis (Nervus IV)

Saraf ini merupakan saraf kranial terkecil otot mata bagian atas.

5) Saraf Trigeminalis (Nervus V)

Saraf ini merupakan saraf kranial terbesar, campuran dari opthalmikus, maxilaris,
dan mandibularis.

6) Saraf Abducens (Nervus VI)

Saraf ini menginervasi otot rektus lateralis.


21

7) Saraf Fasialis (Nervus VII)

Saraf ini mengontrol otot pada kulit kepala dan wajah. Saraf fasialis juga
menyediakan sensasi pada wajah dan menginervasi 2/3 bagian depan lidah.

8) Saraf Verstibulokochlearis (Nervus VIII)

Saraf yang terdiri dari saraf vestibular (sebagai monitor sensasi keseimbangan,
posisi dan gerakan), dan saraf kochlearis (sebagai monitor reseptor pendengaran).

9) Saraf Glossopharyngealis (Nervus IX)

Saraf ini merupakan saraf yang menginervasi 1/3 belakang lidah, faring, dan
mengontrol proses menelan.

10) Saraf Vagus (Nervus X)

Saraf ini merupakan saraf yang mengontrol fungsi otonom organ dalam dan
variasi komponen motorik.

11) Saraf Accessorius (Nervus XI)

Saraf ini yang menginervasi otot trapezius dan otot sternocleidomastoid

12) Saraf Hipoglosus (Nervus XII)

Saraf ini berfungsi untuk menggerakkan lidah (Bahrudi


22

b. Saraf Spinalis

Gambar 2.3.7(b) Saraf Spinalis (Serelicious, 2020)

Susunan saraf tepi terdiri dari susunan motorik dan sensorik. Terdiri dari tiga
bagian yaitu radiks spinalis, pleksus, dan saraf tepi (Bahrudin, 2014).

1) Susunan Saraf Tepi Motorik

Terdapat 31 pasang saraf spinalis, yakni terdiri dari 8 saraf cervicalis, 12 saraf
thoracalis, 5 saraf lumbalis, 5 saraf sacralis, dan 1 saraf koksigeal. Kemudian
terdapat dua sistem pleksus dalam tubuh manusia yaitu pleksus brachialis dan
pleksus lumbosacralis (Bahrudin, 2014). Satu saraf perifer dan satu saraf spinalis
dapat melayani beberapa otot. Satu otot tertentu dapat memperoleh peran dari
beberapa saraf spinalis yang berbeda (Bahrudin, 2014).

2) Susunan Saraf Tepi Sensorik

Seluruh modalitas rasa dari reseptor kulit dikirim ke pusat melalui saraf
perifer, saraf spinalis, pleksus, radiks posterior dan kemudian akan membentuk
ganglion dorsalis yang berada pada foramen intervetebralis, selanjutnya akan
menuju ke medula spinalis untuk diteruskan ke otak. Susunan saraf tepi sensoris
terdapat di sepanjang jalur sensoris antara reseptor pada kulit hingga sampai pada
ganglion dorsalis. Ganglion dorsalis merupakan neuron sensoris yang tidak berada
dalam medula spinalis seperti neuron motorik. Beberapa saraf tepi sensoris akan
mendapatkan inervasi dari beberapa saraf spinalis (Bahrudin, 2014).
23

[Link] Daily Living (ADL)

2.4.1. Definisi

Activity daily living (ADL) merupakan keterampilan dasar seseorang untuk


merawat diri sendiri dalam melakukan aktivitas pokok seperti ke toilet, makan,
mempercantik diri, mandi dan berpindah tempat (Dewi, 2014). Activity Daily
Living merupakan tingkat kemandirian seseorang dalam melakukan aktivitas
seharihari yang dilakukan secara rutin (Ediawati, 2012). Activity Daily Living
adalah kemampuan seseorang dalam melakukan aktivitas kegiatan sehari-hari
secara mandiri tanpa bantuan orang lain” (Aras, 2013).

2.4.2. Jenis Activity Daily Living

Menurut Primadayanti (2011) pemenuhan kebutuhan pokok dasar diperoleh


melalui aktivitas sehari-hari yang terbagi menjadi dua yaitu ADL standar dan
ADL instrumen.

a. ADL standar meliputi kemampuan untuk merawat dirinya sendiri seperti


mandi, makan, berpakaian, buang air kecil dan buang air besar.

b. ADL instrumen meliputi aktivitas lain atau penunjang kehidupan seharihari


seperti mencuci baju, memasak, menggunakan alat komunikasi dan transportasi
dan lain-lain.

2.4.3. Faktor yang Mempengaruhi ADL

Menurut Amalia (2017) faktor yang mempengaruhi kemampuan untuk melakukan


aktivitas sehari-hari yaitu:

a. Umur

Umur menunjukan kemampuan perkembangan seseorang dalam melaksanakan


activity daily living (Amalia, 2017).

b. Fungsi Kognitif

Fungsi kognitif dapat menunjukkan kemampuan seseorang dalam menerima,


mengkoordinasikan dan menerapkan stimulus yang diterima agar dapat
menyelesaikan masalahnya (Amalia, 2017).

c. Fungsi Psikososil
24

Fungsi psikososial ini berhubungan dengan perilaku intrapersonal dan


perilaku interpersonal. Perilaku intrapersonal seperti konsep diri sendiri yang
baik, kontrol emosi yang baik dapat mempengaruhi aktivias seharihari. Sedangkan
perilaku interpersonal seperti komunikasi dengan orang lain, interaksi dengan
sosial dan lingkungan sekitar. Apabila intrapersonal dan interpersonal mengalami
gangguan maka akan berpengaruh terhadap aktivitas sehari-hari (Amalia, 2017).

d. Rehabilitasi

Rehabilitasi dapat mempengaruhi aktivitas sehari-hari pasien. Apabila pasien


rutin melakukan rehabilitasi maka komplikasi yang ditimbulkan akan semakin
kecil, sebaliknya apabila pasien tidak menjalankan rehabilitasi dengan baik maka
kelumpuhan permanen akan terjadi pada anggota yang pernah mengalami
kelumpuhan (Amalia, 2017).

2.4.4 Alat Ukur Modifikasi

[Link] Barthel

Indeks Barthel adalah suatu indeks untuk mengukur kualitas hidup seseorang
dilihat dari kemampuan melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari (Activity of
Daily Living) secara mandiri (Shafi'i, Sukiandra, & Mukhyarjon, 2016). Indeks
Barthel umum digunakan karena sifat pengerjaannya yang sederhana dan tidak
memerlukan keahlian khusus karena hanya mengamati kemampuan pasien
melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari (Shafi'i, Sukiandra, & Mukhyarjon,
2016).

Indeks Barthel berfungsi mengukur kemandirian fungsional dalam hal


perawatan diri dan mobilitas serta dapat juga digunakan sebagai kriteria dalam
menilai kemampuan fungsional bagi pasien-pasien yang mengalami gangguan
keseimbangan. Tingkat kemandirian diklasifikasikan menjadi 10 indikator
(Hermansyah, Lina, & Aminoto, 2015).
25

2 Skala Pengukuran Indeks Barthel

NO Kegiatan Nilai Keterangan


1 Mengontrol BAB (Bladder) 0 Inkontenensia
1 Kadang-kadang inkontenensia
2 Kontinensia teratur
2 Mengontrol BAK (Bowel) 1 Inkontenensia
2 Kadang-kadang inkontenensia
3 Kontinensia teratur
3 Membersihkan diri (lap 0 Butuh pertolongan orang lain
muka, sisir rambut, sikat
gigi
1 Mandiri
4 Toileting 0 Tergantung pertolongan orang
lain
1 Perlu pertolongan pada
beberapa aktivitas, tapi masih
bisa dikerjakan
2 Mandiri
5 Makan (Feeding) 0 Tidak mampu
1 Butuh pertolongan orang lain
2 Butuh minimal 2 orang
3 Mandiri
6 Berpindah tempat dari kursi 0 Tidak mampu
ke tempat tidur
1 Butuh pertolongan orang lain
2 Butuh minimal 2 orang
3 Mandiri
7 Mobilisasi atau berjalan 0 Tidak mampu
1 Butuh pertolongan orang lain
2 Butuh minimal 2 orang
3 Mandiri
8 Berpakaian 0 Tergantung ke orang lain
1 Sebagian dibantu
2 Mandiri
9 Naik turun tangga 0 Tidak mampu
1 Butuh pertolongan
2 Mandiri
10 Mandi 0 Tergantung pertolongan orang
26

lain
1 Mandiri
Total Nilai
Tabel Pengukuran Indeks Barthel

Keterangan
0-4 : Ketergantungan total
5-8 : Ketergantungan berat
9-11 : Ketergantungan sedang
12-19 : Ketergantungan ringan
20 : Mandiri

2.5 Proprioceptive Neuromuscular Facilitation

2.5.1. Definisi

>> Proprioceptive
Receptor sensorik untuk deep sensasi, memberikan feedback terhadap
cerebellum dan cortex tentang tension otot, panjang otot dan posisi tubuh
Informasi proprioceptive dapat diperoleh/dicapai melalui kondisi-kondisi gravitasi
dan informasi tactile, dimana dapat diaplikasikan untuk memfasilitasi aktivitas
neuromuscular yang diperlukan.

>> Neuromuscular
Aktivitas neuromuscular yang diperlukan ditentukan oleh situasi biomekanik
dari setiap tugas, yaitu tugas spesifik dan bergantung pada kondisi-kondisi
lingkungan. Efisiensi sinaptik merupakan prasyarat untuk koordinasi
neuromuscular

>>Facilitation
Fasilitasi aktivitas sehari-hari merupakan tujuan akhir utama dari terapi.
([Link]/YantoPhysio, 2019)

PNF pertama kali dikembangkan oleh Dr. Herman Kabat pada tahun
[Link] tahun kemudian disebarkan oleh Margaret (Maggie) Knot. Pada tahun
1946, Herman Kabat dan Maggie Knot mengembangkan suatu Institute
27

[Link] tahun 1951, pertama kali diadakan PNF course di [Link]


tahun 1952, mereka bekerja sama dengan Dorothy Voss untuk memulai tour PNF
course. Pada tahun 1956, pertama kali Maggie Knott dan Voss mempublikasikan
buku PNF. Kemudian, pada tahun 1985 dibentuk group International PNF
Instructor dan tahun 1990 terbentuk IPNFA

Philosophy Propioceptive neuromuscular fascilitation terdiri atas


Positive approach > Functional approach > Mobilize reserve > Whole person >
Motor control and learning.([Link]/YantoPhysio, 2019)

a. Positive Approach
assessment dan pengobatan
Memulai dengan suatu aktivitas yang pasien dapat lakukan
Direct dan Indirect pengobatan

b. Functional approach
Pengobatan pada level struktural dan aktivitas berhubungan dengan penggunaan
klasifikasi ICF
Assessment dan diagnosa berorientasi pada fungsional
Mengoptimalkan level fungsional pasien

c. Mobilize reserves
Meningkatkan kesadaran pasien akan potensial yang dimiliki dan sumber yang
ada.
Intensif training repetition dan variasi (perubahan posisi, aktivitas dan
lingkungan) serta partisipasi aktif pasien sangat ditekankan dalam pengobatan
(terapi).
Supportive training-program (seperti home programe, keterlibatan keluarga).

d. Whole person
Whole person harus dipertimbangkan dalam assessment dan treatment (direct and
indirect)
Faktor lingkungan dan personal (fisik, intelektual dan emosional).

e. Penggunaan motor learning dan prinsip motor control


Belajar kembali aktivitas fungsional
ada 3 fase motor learning, yaitu:

1. Tahap kognitif
2. Tahap associative
28

3. Tahap automatic

Ada 4 tahap motor control:


1. Mobilitas
Kemampuan untuk mengawali suatu gerakan atau mencapai suatu posisi tubuh
tertentu sampai dapat menyelesaikan spesific goal.
Mobilitas dapat terbatas ketika jaringannya menjadi kaku (stiff), kelemahan otot,
hilangnya koordinasi, hilangnya deep sensasi, hilangnya kemampuan untuk
merencanakan dan/atau mengorganisir strategi gerakan, hilangnya kemampuan
kognitif, seperti agnosia dan apraxia atau jika nyeri muncul.

2. Stabilitas

Kemampuan mengorganisir sesuai dengan tuntutan dari tugas-tugasnya.


Diperlukan aktivitas agonist dan antagonist. Kontrol postural diorganisir secara
sadar dan dibutuhkan ketika bagian distal tubuh harus juga stabil dalam
gerakannya sehingga seringkali memerlukan kontrol eksentrik. Hal ini juga
diorganisir secara involunter.

3. Kontrol mobilitas (mobilitas diatas stabilitas)

Kemampuan untuk menstabilisasi suatu bagian tubuh sementara bagian tubuh


lainnya bergerak. Sebagai contoh, lower trunk harus stabil ketika bagian tubuh
lainnya bergerak seperti upper trunk. Contoh lain, ketika knee harus stabil selama
midstance dengan mobilitas kaki dan hip.

4. Skill

Didefinisikan sebagai kemampuan untuk melakukan tugas- tugas manipulatif


kearah distal dengan kondisi stabil pada bagian tubuh proksimal. Otot-otot distal
dikontrol secara kortikal pada SSP dan otot-otot proksimal secara sub-kortikal
pada SSP. Hal ini yang mendasari istilah penggunaan refleks-refleks postural,
dimana kontrol postural ini diorganisir dalam pola feed-forward.

Gerakan PNF dapat meningkatkan mekanisme neuromuskuler yang akan


memberikan respon aktifitas sehingga terjadi peningkatan kemampuan aktifitas
(Adler, 2014).
29

2.5.2. Mekanisme Propioceptive Neuromuscular Fascilitation

PNF dapat meningkatkan aliran darah pada motor cortex dan somatosensoris
sisi yang berlawanan. Motor cortex dapat menstimulasi perubahan aliran darah
pada daerah yang berlawanan, dapat terjadi karena adanya perubahan pada
akivitas astrocyte yang dapat meningkatkan aktivitas neural dan menghasilkan
nitric oxide (Faizah, 2018).

Menurut Alim (2017) mekanisme PNF ada tiga, yaitu:

a. Overflow principle

Yaitu motor impuls dapat diperkuat dengan motor impuls group otot lain yang
lebih kuat melalui kontraksi otot karena otot mempunyai fungsi yang sama atau
saling sinergis.

b. Innervatie reciprocal

Merupakan aktifitas sebuah refleks dari otot agonis yang dapat membuat relask
otot antagonis.

c. Inductie successive

Ketika otot antagonis berkontraksi maka otot agonis akan terfasilitasi, kontraksi
otot agonis dapat lebih mudah apabila sebelumnya otot antagonis dilakukan
rileksasi. Semakin kuat kontraksi otot antagonis semakin kuat efek fasilitasinya.

2.5.3. Fungsi Propioceptive Neuromuscular Fascilitation

Terapi dengan menggunakan PNF adalah terapi latihan dengan pendekatan


pola gerak diagonal berdasarkan teknik fasilitasi neuromuscular untuk
meningkatkan respon motorik dan meningkatkan kontrol dan fungsi
neuromuscular.

Dengan metode aplikasi isyarat sensoris dengan stimulasi sensoris,


proprioceptif, kutaneus, visual dan audiotori untuk membangkitkan fungsi motor
(Kisner dan Colby, 2014).
30

2.5.4. Teknik Propioceptive Neuromuscular Fascilitation

Menurut Adler (2014) salah satu teknik PNF untuk meningkatkan ADL
yaitu:

a. Dynamic Reversals

Mengubah gerakan active resisted dan concentric dari gerakan otot agonis ke
otot antagonis tanpa disertai rileksasi otot. Tujuan dari teknik ini yaitu untuk
meningkatkan active range of motion, meningkatkan kekuatan otot, membantu
koordinasi gerakan motorik halus, menurunkan tonus otot dan mencegah
terjadinya kelelahan otot (Adler, 2014).

b. Rhythmic Stabilization

Kontraksi isometrik yang dilakukan tanpa adanya suatu gerakan. Tujuan dari
teknik ini yaitu untuk meningkatkan passive and active range of motion,
meningkatkan kekuatan otot, mengurangi nyeri dan meningkatkan keseimbangan
(Adler, 2014).

c. Stabilizing Reversals

Kontraksi isotonik dengan pemberian tahanan minimal untuk mencegah suatu


tahanan yang berlebihan

Tujuan teknik ini yaitu untuk meningkatkan kekuatan otot, meningkatkan


keseimbangan dan meningkatkan koordinasi antara otot agonis dan otot antagonis
(Adler, 2014).

2.5.5. Tujuan Propioceptive Neuromuscular Fascilitation

1. Menimbulkan, menaikkan, memperbaiki tonus postural

2. Memperbaiki koordinasi gerak

3. Mengajarkan pola gerak yang benar


31

2.6 Kerangka Teori


Terapi dengan menggunakan PNF adalah terapi latihan dengan pendekatan
pola gerak diagonal berdasarkan teknik fasilitasi neuromuscular untuk
meningkatkan respon motorik dan meningkatkan kontrol dan fungsi
neuromuscular. Dengan metode aplikasi isyarat sensoris dengan stimulasi
sensoris, proprioceptif, kutaneus, visual dan audiotori untuk membangkitkan
fungsi motor (Kisner dan Colby, 2014).

Kerangka konseptual merupakan model konseptuan yang berkaitan dengan


bagaimana seorang peneliti menyusun teori atau menghubungkan secara logis
beberapa faktor yang dianggap penting untuk masalah (Aziz,2009).

2.6.1. Skema Rancangan Konsep Penelitian

Stroke

Hemoragik Non-Hemoragik

Defisit Neurologis

Sensorik Bicara Motorik Kognitif Emosional

Gangguan Fungsional Gangguan ADL

Propioceptive Neuromuscular Facilitation

Meningkatkan fungsi motorik dan sensorik

Meningkatkan ADL
Keterangan :

Diteliti

Tidak diteliti

2.6 Kerangka Konsep

Variabel Independent Variabel Dependent

Propioceptive Neuromuscular Mempengaruhi Activity Daily

Facilitatin
Mempengaruhi Living

2.7 Hipotesa Penelitian

Berdasarkan kerangka konsep penelitian, maka hipotesis penelitian sebagai


berikut:

Hipotesis Alternatif (Ha) : Ada pengaruh pemberian Propioceptive


Neuromuscular Facilitation terhadap peningkatan activity daily living pada pasien
stroke.

32
33

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian

Penelitian ini bersipat Quasi Eksperimental untuk mengetahui pengaruh


pemberian propioceptive neuromuscular fascilitation terhadap activity daily living
pada pasien hemiparese post stroke Non-Haemorage. Penelitian ini dilaksanakan
dengan cara melakukan (pre test) terhadap responden, kemudian responden yang
sesuai dengan kriteria inklusi diberi perlakuan, setelah diberikan perlakuan
kemudian dilakukan (post test), dari perlakuan tersebut diharapkan terjadi
perubahan atau pengaruh terhadap variabel yang lain. (Notoatmojo,2012).

Bentuk rancangan penelitian ini digambarkan dengan pola sebagai berikut

Pre test Perlakuan Post Test

01 X 02

3.1 Skema Rancangan Penelitian

Keterangan:

01 :Hasil pengukuran pertama kali sebelum dilakukan terapi latihan


Propioceptive Neuromuscular Fascilitation

X :Perlakuan terapi latihan Propioceptive Neuromuscular Fascilitation

02 :Hasil pengukuran setelah dilakukan terapi latihan Propioceptive


Neuromuscular Fascilitation
34

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian

3.2.1 Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan di poly fisioterapi Rumah Sakit Umum Sembiring Delitua
dengan responden yang akan diteliti adalah seluruh pasien stroke Non-Hemoragik
yang mengalami gangguan activity daily living.
35

3.2.2 Waktu Penelitian

Waktu penelitian ini direncanakan mulai dari bulan Januari 2022 – Juni 2022

N Uraian Bulan
O Kegiatan
Januari Februari Maret April Mei Juni
2022 2022 2022 2022 2022 2022
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 Pengajuan
Judul

2 Bimbinga
n
Penulisan
Proposal
3 Sidang
Proposal

4 Revisi
Bab I, II
dan III
5 Pengolaha
n Data

6 Analisis
Data
7 Penulisan
Hasil
Penelitian
8 Sidang
Hasil
9 Revisi
Bab IV, V
dan VI
1 Pengumpu
0 lan Skripsi

3.2.2 Tabel Waktu Penelitian


36

3.3 Popupasi dan Sampling

1. Populasi

Populasi dalam peneliian ini adalah seluruh pasien stroke non hemoragik
yang mengalami gangguan activity daily living di Poli Fisioterapi RSU
Sembiring Delitua yang berjumlah 17 orang

2. Teknik Penarikan Sampling

Peneliti ingin menggunakan teknik non probability sampling, Sugiyono (2014)


mengatakan bahwa teknik non probability sampling adalah teknik penarikan
sampel yang tidak memberikan peluang bagi setiap unsur atau anggota populasi
untuk dipilih untuk menjadi sampel. Dan peneliti akan menggunakan teknik total
sampling. Menurut Sugiyono (2014) mengatakan bahwa total sampling adalah
teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel.
Sampel ini digunakan jika jumlah populasi relatif kecil yaitu tidak lebih dari 30
orang, total sampling disebut juga sensus, di mana semua anggota populasi
dijadikan sebagai sampel.

Maka dari uraian di atas, teknik penarikan sampel yang digunakan sebagai
penelitian sebanyak 17 pasien stroke hemoragik di Rumah Sakit Sembiring
Delitua.
37

3.4 Defenisi Operasional

Tabel 3.4 Defenisi Operasional

N Variabel Defenisi Alat Skala


O Operasional Ukur data
1 Variabel Terapi latihan PNF - -
Independent dapat meningkatkan
Propioceptive mekanisme
Neuromuscular neuromuskuler yang
Fascilitation akan memberikan
respon aktifitas
sehingga terjadi
peningkatan
kemampuan
aktifitas
2 Variabel Merupakan Indeks R
Dependent keterampilan dasar Barthel a
Activity Daily seseorang untuk s
Living merawat diri sendiri i
dalam melakukan o
aktivitas sehari-hari
38

3.5 Pengumpulan Data dan Analisis Data

3.5.1 Bahan dan Alat

1. Lembar Observasi

2. Kusioner

3.5.2 Instrument (Alat Ukur)

Instrumen penelitian ini adalah alat yang digunakan oleh penelitian dalam
mengumpulkan data agar pekerjaanya lebih mudah dan hasilnya lebih baik
(cermat, lengkap dan sistematis). Lembar observasi digunakan untuk
mengobservasi suatu pristiwa dan prilaku dari subjek (Nursalam,2009) instrumen
yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi menurut Solleman
dan Ejeskar,(1995)

3.6 Etika Penelitian

Kode etik penelitian adalah suatu pedoman etika yang berlaku untuk setiap
kegiatan penelitian yang melibatkan antara pihak peneliti dan pihak yang di teliti.
Etika penelitian ini mencakup juga perilaku peneliti atau perlakuan penelitian
terhadap subjek penelitian serta sesuatu yang dihasilkan oleh [Link] garis
besar melaksanakan sebuah penelitian ada empat prinsip yang harus dipegang
teguh yaitu:

1. Menghormati harkat dan martabat manusia

Peneliti perlu mempertimbangkan hak-hak subjek penelitian untuk mendapatkan


informasi tentang tujuan penelitian melakukan penelitian tersebut.

2. Menghormati privasi dan kerahasiaan subjek peneliti

Memberikan setiap orang memiliki hak-hak dasar termasuk privasi dan kebebasan
individu dalam [Link] karena itu, peneliti tidak boleh menampilkan
informasi mengenai identitas dan kerahasiaan identitas subjek

3. Keadilan dan keterbukaan

Prinsip keterbukaan dan adil perlu dijaga oleh peneliti dengan kejujuran,
keterbukaan, kehati hatian, prinsip keadilan ini dijamin bahwa semua subjek
peneliti memperoleh perlakuan dan keuntungan yang sama tanpa membedakan
jeneral, agama, etnis dan sebagainya.
39

4. Memperhitungkan manfaat dan kerugian yang ditimbulkan

Seorang peneliti hendaknya memperoleh manfaat semaksimal mungkin bagi


masyarakat umumnya dan subjek penelitian pada [Link] hendanya
berusaha meminimalisasi dampak yang merugukan bagi subjek. Oleh karena itu
pelaksanaan penelitian harus dapat mencegah atau paling tidak mengurangi rasa
sakit, cedera, stres, maupun kematian subjek penelitian (Notoadmojo,2012).
Kemudian peneliti mintak izin pemakaian kuesioner untuk dimodifikasi setelah
itu peneliti akan menjelaskan pengumpulan data. Pada pelaksanaan penelitian
yang akan dilakukan diantara lain tujuan, manfaat dan cara pengisian peneliti serta
hak responden dalam penelitian. Jika responden bersedia untuk diteliti maka
responden terlebih dahulu menandatangani lembar persetujuan,jika responden
menolak untuk diteliti maka peneliti akan tetap menghormati hak responden.
Untuk menjaga kerahasiaan responden, peneliti tidak mencantumkan responden
(anamility) pada lembar pengumpulan data (kuesioner) yang diisi oleh responden.
Lembar tersebut hanya diberi nomor kode tertentu. Kerahasiaan informasi yang
diberikan oleh peneliti kepada responden dijamin oleh peneliti (Nursalam.2008)

3.7 Pengolahan Data dan Analisis Data

3.7.1 Pengolahan Data

1. Editing

Dilakukan pengecekan kelengkapan data yang telah dikumpulkan bila terdapat


kesalahan dan kekurangan dalam pengumpulan data

2. Coding

Pemberian kode pada responden untuk mempermudah pengolahan [Link]


kode yang diberikan pada responden adalah sebagai berikut:

a. Responden

R1 = untuk responden kelompok treatmen nomor 1

b. Jenis kelamin

Laki laki =1

Perempuan =2

c. Umur

U1 = 30-35 tahun
40

U2 = 36-40 tahun

U3 = 41-45 tahun

U4 = 46-50 tahun

U5 = 50 tahun 29

d. Hepertensi

H1 = Ada

H2 = Tidak ada

e. Merokok

M1 =Merokok

M2 = Tidak merokok

f. Riwayat DM

D1 = Tidak ada

D2 = Ada

g. Penyakit kardiovaskuler

K1 = Ada

K2 = Tidak ada

h. Penyakit lainnya

C1 = Ada

C2 = Tidak ada

i. Tingkat pendidikan

Tingkat tamat = 0

SD =1

SMP =2

SMA =3

PT =4
41

3. Scoring

Data variabel independen penelitian ini adalah menggunakan lembar observasi.


Masing masing kategori diberikan skor 1-3 dengan ketentuan kriteria penilaian
sebagai berikut:

Skore 3 : mampu menyelesaikan test dengan waktu 20 detik

Skore 2 : mampu menyelesaikan test dengan waktu 40-60 detik

Skore 1 : mampu menyelesaikan test dengan rentang waktu > 60 detik

4. Tabulating

Data tersebut diinterprestasikan menggunakan skala kumulatif: Tabulating adalah


mengelompokkan data dalam satu tabel tertentu menurut sifat sifat yang
[Link] data ini dianggap bahwa data telah diproses sehingga harus segera
disusun dalam suatu pola format yang telah dirancang.

Adapun hasil pengelolahan

100% = Seluruhnya

76%-99% = Hampir seluruhnya

51%-75% = Sebagian besar dari responden

50% = Setengah responden

26%-2229% = Hampir dari setengah

1%-25% = Sebagian kecil dari responden

0% = Tidak ada satupun dari responden

3.7.2 Analisis Data

a. Analisa univariat

Analisa univariat bertujuan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan karakteristik


setiap variabel penelitian. Data dari hasil pengisian lembar observasi dilakukan
analisis dengan tabel distribusi dan konfirmasikan dalam bentuk presentasi dan
narasi (Notoadmojo 2010)
42

Rumus analisa univariat sebagai berikut (Atikunto)

Keterangan:

P = presentasi

F = frekuensi kategori

n = jumlah responden

Kriteria hasil penilaian menurut ( Depkes RI 2005) adalah sebagai berikut:

Cukup Baik : ≥ 80%

Moderat : 60-80%

Kurang : ≤ 60%

b. Analisa bivariat

Analisa ini diperlukan untuk menjelaskan atau mengetahui apakah ada


pengaruh atau perbedaan yang signifikan antara variabel independen dengan
variabel dependen. Analisa bivariat dilakukan setelah karakteristik masing-masing
variabel diketahui.

Data di analisis untuk perhitungan bivariat pada peneliti ini menggunakan


paired sample t-test. Dengan derajat kepercayaan sebesar 0,05 jika data
berdistribusi normal dengan tingkat kepercayaan 95% (Pvalue ≤ 0,05). Jika data
tidak berdistribusi normal maka digunakan uji hipotesis pengaruh penambahan
pValue ≤ 0.05. Apabila nialai p ≤ 0.05 maka hipotesa dalam penelitian ini
diterima yaitu adanya pengaruh pemberian Propioceptive Neuromuscular
Facilitation dalam peningkatan activity daily living pada pasien stroke hemoragik
di RSU Sembiring Delitua.
43

DAFTAR PUSTAKA

American Heart Association (AHA). (2015). Let’s Talk About Stroke:Fact


Sheet. [Artikel]

Bakara,D.M dan Warsito,S. (2016) Latihan range of motion (ROM) pasif


terhadap rentang sendi pasien pasca stroke exercise range of motion (ROM)
passive to increase joint range of post-stroke patients idea nursing journal,VII(2)

Nursalam (2009) Konsep dan penerapan metodologi penelitian ilmu


keperawatan,edisi [Link] by [Link] [Link],Jakarta:Salemba Medika

Nursalam (2009) Konsep dan penerapan metodologi penelitian ilmu


keperawatan.2nd [Link] by Salemba [Link]:Salemba amedika

Widagda,I Made. 2008. Penilaian tingkat Ambulasi penderita Hemiparesis


pasca Stroke dengan functional Ambulation Category (FAC) Bagi yang mendapat
program rehabilitas Medik di Rs Dr Kariadi [Link]:Program Studi
Rehabilitas Medik,Fakultas Kedokteran,Universitas Diponegoro

Wijaya,A,saferi and Mariza,P. Yessie (2013) Keperawtan Medikal


[Link]:Nuha Medika

Notoadmodjo (2010) Metodologi penelitian Kesehatan Jakarta:PT RINEKA


CIPTA

Idris, D., & Estherine, P. (2016). ACTIVITY OF DAILY LIVING


PENDERITA KUSTA BERDASARKAN TINGKAT CACAT DENGAN INDEKS
BARTHEL. Jurnal STIKES Vol. 9 No. 1

Iqbal M, Frida M, Yaswir R. Perbedaan rerata kadar gula darah pada luaran
stroke iskemia berdasarkan indeks barthel. Jurnal Kesehatan
Andalas.2014;3(3):437-8. Tersedia dari : [Link]

Fadhia, Najiyatul., Ulfiana, Elida. & Ismono, Randani Sukna. (2012).


Hubungan Fungsi Kognitif dengan Kemandirian dalam melakukan ADL pada
Lansia di UPT PSLU [Link] Airlangga: Surabaya.

Kowalak, Welsh dan Mayer. 2011. Buku Ajar Patofisiologi: Proses Penyakit,
Tanda dan Gejala, Penatalaksanaan, Efek Pengobatan, Ilustrasi Berwarna.
Penerbit: CV. EGC Medical Books.
Asep Saepul Hamdi dan E. Baharuddin. 2014. Metode Penelitian Kualitatif.
Yogyakarta: Deepublish.
44

Arif W, 2008, “Pengaruh pemberian PNF terhadap kekuatan fungsi prehension


pada pasien stroke hemoragic dan non hemoragic”, Jurnal Fisioterapi Indonusa,
ISSN: 1858-4047 Vol. 8 No. 1 April 2008 hal 83 – 108.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Kematian mendadak. Available


at: [Link] iew/201410080002/lingkungan- sehat-
[Link]. [dikutip tanggal 12 Nopember 2018].

Kisner, Carolyn and Colby, Lynn Allen. 1996, “Therapeutic Exercise Founda-
tions and Techniques, Third Edition”, Philladelphia, FA Davis company.

Akin, A., & Yilmaz, İ. (2016). Drivers of Corporate Social Responsibility


Disclosures: Evidence from Turkish Banking Sector. Procedia Economics and
Finance 38.

Anda mungkin juga menyukai